<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>teluk-betung &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/teluk-betung/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "teluk-betung"</description>
	<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 06:26:25 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tsunami Lampung 1883]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2007/10/16/tugu-tsunami-lampung-1883/</link>
<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 03:22:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2007/10/16/tugu-tsunami-lampung-1883/</guid>
<description><![CDATA[
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
&nbsp;
Location]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p ALIGN="center"><img HEIGHT="480" ALT="Tsunami Krakatoa 1883" SRC="http://mimbarsaputro.wordpress.com/files/2007/10/s4100037.JPG" WIDTH="640" ALIGN="left" BORDER="0" /></p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<p ALIGN="left">&#160;</p>
<p ALIGN="left">&#160;</p>
<p ALIGN="left">&#160;</p>
<p ALIGN="left">&#160;</p>
<p ALIGN="left"><em>Location: Teluk Betung - Bandar Lampung Indonesia.<br />
This part of buoy was flushed ashore by Krakatoa Tsunami on August 1883. Beside the relief on monuments no explanation found here.  Poor maintenance</em></p>
<p>Bekas pelampung (buoy) ini terbawa gelombang Tsunami akibat letusan gunung Krakatau lama pada Agustus 1883. Tingginya sekitar 1,5 meter dengan diameter berkisar 2m.  Sebelum disemayamkan di tempatnya sekarang yaitu taman Dipangga (Dipangga's Park) lampu ini pernah berpindah tempat.</p>
<p>Taman Dipangga terletak di kawasan Kupang Kota, Teluk Betung. Ketika gemuruh dan ledakan kendaraan yang protes digeber habis kemampuannya untuk mengatasi tanjakan Kupang, maka sebuah taman rimbun membelah jalan seakan memberi peringatan kedahsyatan gemuruh dan ledakan fenomena alam bernama tsunami 1883- yang mampu mengangkat setinggi dan membawa buoy sampai berkilometer jauhnya ke daratan.</p>
<p>Pelampung besi yang sebagian dimakan karat ini menjadi saksi bisu kedahsyatan ledakan Krakatau yang diikuti dengan Tsunami saat kejadian pada Senin pagi 27 Agustus 1883.  Tidak ada prasasti, atau penjelasan lain yang menghidupkan monumen sehingga mampu bercerita kisah "<strong>hidupnya</strong>" - semua serba memprihatinkan.</p>
<p>Sebetulnya, kedatangan "buoy" atau  masih ada hubungannya dengan sisa rerongsokan kapal perang uap berbendera Belanda bernama <strong>Berouw</strong> yang terbawa jauh ke gunung di kawasan Tanjung Karang. Kapal ini berkekuatan 30 tenaga kuda       empat meriam merupakan kapal "besar" pada jamannya.</p>
<p>Menjelang ajal sang Kapal Berouw (remorse - Inggris) kapten sempat mengetuk <em>kawat</em> atau morse kepada rekannya kapal Loudon bahwa "<strong><em>arus terlalu luar biasa keras sehingga amat berbahaya merapat di pelabuhan Telok Betung</em></strong>" sehingga ia memutuskan tidak merapat dan turun jangkar.</p>
<p>Lalu kesaksian penumpang <strong><em>Loudon</em></strong> bahwa hari Senin jam 7:45 pagi 27 Agustus 1883,  kapal Bearouw terangkat gelombang dan terbanting keras sampai ratusan meter ke sungai Kuripan.  Ternyata bantingan tersebut belum berakhir. Pada jam 10:45 gelombang lebih dahsyat mampu mengangkat kapal setinggi 50 kaki (15m) dan sejauh dua mil (4km) dari awal terdampar.</p>
<p>Diduga semua awak kapal perang yang terdiri dari 4 Eropa dan 24 pribumi tewas.  Jasad kapal hebatpun sudah menyatu dengan tanah, lantaran dimakan karat yang dibawa tetesan air sungai Kauripan. Satu-satu peninggalannya adalah <strong>Monumen Tsunami Dipangga</strong>. Konon ada cerita tambahan yaitu lampu ini terdampar bersama sebuah jangkar. Namun setiap saya mencoba mencari tahu cerita ini selalu angkat bahu yang saya peroleh.</p>
<p>Seperti juga sikap kita menyikapi setiap bencana. Histeris, mengutuk, menyalahkan, meyuruh orang lain bertobat lalu lupa.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pempek Lampung]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/17/pempek-lampung/</link>
<pubDate>Fri, 17 Mar 2006 15:19:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/17/pempek-lampung/</guid>
<description><![CDATA[Date: Fri Oct 29, 2004  9:35 am
Jarang yang tahu bahwa Bandar Lampung juga tidak kalah &#8220;lidzat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Date: Fri Oct 29, 2004  9:35 am</p>
<p>Jarang yang tahu bahwa Bandar Lampung juga tidak kalah "lidzat zidan" dalam urusan makanan asal tepung tapioka yang di ramu dengan blenderan ikan air tawar ini. Tak urung Pempek pak Raden membuka cabang di jalan Kupang Teba (tanjakan yang memisahkan kota Tanjungkarang dengan TelukBetung).</p>
<p>Tidak tanggung-tanggung mereka mendiami bangunan 3 tingkat sehingga saya berolok lantai atas untuk pasien RSKP alias Rumah Sakit Ketergantungan Pempek.  Tapi lupakanlah pempek pak Raden, atau Dempo asal Palembang, bukan apa-apa, ada alternatif bagi pemudik Sumatra - Jawa p.p untuk menyobai masakan dengan rasa Lampung. Pasalnya, para pedagang pempek Lampung juga masih "pernah-pernah" alias keturunan dari Palembang.</p>
<p>Entah latahan dari Bakpia Yogya, atau karena sering membuat password baru internet yang terdiri dari hurup dan angka, maka pemilik empek-empek di Teluk Betung yang terkenal pada hobbi kasih nama tokonya seperti Pempek-75, Pempek-88 dan Pempek Mawar-88. Lokasi jajanan pempek adalah Jalan Salim Batubara - Teluk Betung. Dua kilometer dari garis pantai ketinggian 30 mdpl plus nanjak dikit.</p>
<p>Pempek 75, saya kerap berbelanja disini, namun baru dari KONTAN mengetahui bahwa pemiliknya bernama Ny. Aten 68 tahun, beda tipis dengan pempek Tempo Doeloe yang pakai ikan Air Tawar semacam Belida atau Gabus, maka Ny, Pempek 75 memilih Tenggiri, alasannya TelukBetung Kota Pantai, jauh dari juragan Ikan Air Tawar, jadi mending melakukan terobosan dengan ikan Tengiri. Ada tekwan, lenjeran, telur, pastel, kapal selam. Sehari mereka memblender sampai 5 kilo tengiri.</p>
<p>Berhubung puasa maka rasa cuka yang dibuat dari cuka putih, gula jawa, cabe,kecap dan bawang putih  untuk mencocol pempek hangat tidak saya ceritakan. Tapi yang jelas Yummy Yummy. Pempek 75 bisa disebut pempek legendaris, sebab masa kecil saya belum melihat warung ini secara pempekficant.</p>
<p>Pempek 88, tergolong yang "mahal punya" - bukan apa-apa, menurut Zaenuri dia bertahan dengan resep kuno Ikan Belida. Mana ada belida di Teluk Betung kecuali toko ikan hias. Mangkanya mereka mendatangkan bahan baku dari Riau, Kalimantan atau Jambi. Jadi sampai ditangan mereka belida sudah nangkring dengan harga Rp.60.000 per kilo. Pempek 88, yang paling saya favorit adalah pempek bulat seperti bakso. Ada lagi Tahu-Pempek, kenyal dan glek nyemnyem.</p>
<p>Pempek Mawar 88, sedikit berbau mengekor kesuksesan pempek 88, pasalnya mereka dulu pernah berdagang, tapi "ancur", baru dua tahun mencoba bangkit. Sehingga Rika pemiliknya  perlu numpang nama yang mirip-mirip beken. Dengan ikan tengiri, mereka sudah berani memblender 15 kilogram Tengiri perharinya. "Pempek kami sudah beken lama, sayang kalau hilang tidak dikenal kalau kami putus jualan GEH"</p>
<p>Orang Teluk berbahasa gaya Jakarta, yang membedakannya mereka suka sekali mengakhiri obrolan dengan GEH sebagai pengganti DONG, mungkin biar tampil beda. Iya Geh!, Boleh Geh!</p>
<p>PEMPEK AYUK..<br />
Ada lagi pempek Ayuk, penjual "ngampung" alias keliling kampung dengan tas anyaman rotan besar yang usang tapi mengkilat lantaran seringnya terkena lelehan minyak. Namanya ATEN, kelompok Hitachi, dia bukan keturunan Jepang sebab konon singkatan HITACHI adalah Hitam Tapi China (maaf teman-teman pembaca dari keturunan, just joke). Saya juga mendapatkan gurauan ini dari Afa, Akiong teman-teman se Grogol. Sekali lagi maaf. Setiap kali melihat kami ada di rumah Teluk Betung, sekalipun kami keluar rumah, dia akan menunggui sampai ketemu.</p>
<p>Adik saya pernah halus mengusirnya "Ayuk saya pergi", maksudnya mpok atau mbakyu, maksudnya lagi pasangan monogami saya, sedang keluar rumah. Tapi dia "keukeuh" bertahan sampai ketemu Ayuk (Erni) dan saya. Sebab biasanya dagangannya diborong. Sejak itu kami menamakannya pempek "AYUK" - padahal yang jualan namanya Aten.</p>
<p>Gara-gara si Aten, saya seringkali urung beli Pempek Bakso ala Pempek 88.</p>
<p>Sruput..sruput..cocol.</p>
<p>Hasil Teluk Betung yang kesohor lainnya<br />
1. Kopi cap Bola Dunia (Klenteng)<br />
2. Manisan buah Yeyen<br />
3. Kalau mo nyoba Bakmi KOGA<br />
4. Kripik Pisang Suseno</p>
<p>Iya Geh, promosi...</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Anye(L) dan Jakarta]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/12/antara-anyel-dan-jakarta/</link>
<pubDate>Sun, 12 Mar 2006 14:13:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/12/antara-anyel-dan-jakarta/</guid>
<description><![CDATA[Mas Yusuf Iskandar dari Papua mengusulkan judul tulisan saya adalah antara ANYEL dan Jakarta sebab m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Yusuf Iskandar dari Papua mengusulkan judul tulisan saya adalah antara ANYEL dan Jakarta sebab menyiratkan keanyelan saya semasa menjadi arus mudik dan arus balik. Sekitar 100 meter (lebih dikit) dari rumah saya di kawasan Teluk Betung, terletak pasar Kangkung. Kalau malam sekitar kawasan ini dijadikan pusat jajan serba istimewa dan serba enak, kendati tidak serba murah.<br />
Jadi kalau mau makan bubur Acung, Sop Betawi, SeaFood memang lokasinya disini. Pas dan dekat. Siang hari, Erni minta diantarkan ke pasar Kangkung untuk belanja menjelang lebaran keesokan harinya. Ini memang tugasnya karena adik-adik saya yang males masak pada "mbombong" dengan bahasa klise tapi sakti "mbak Erni pinter masak.."</p>
<p>Pulang dari belanja dia cerita bahwa tadi dipasar harga sebutir pepaya muda (masih putih dagingnya), sudah menjadi 6000 rupiah, dan harga ini juga sama dengan pepaya penthil di pasar Grogol, Jakarta Barat. Saya yang biasanya cuma memasukkan gerutuannya dari kuping kiri lanjut ke kuping kanan, tiba-tiba menjadi tertarik. Lho emang harganya biasanya berapa?</p>
<p>Yang saya paham di kebun Citayam, ibu-ibu mengupas pepaya untuk diambil  getahnya yang konon  berkhasiat parut di telapak kaki yang pecah-pecah. Kadang pepaya muda diberikan kepada kambing lantaran saya lebih tertarik rebusan daun pepayanya.</p>
<p>"Serebu perak, biasanya," - di Jakarta kalau sudah mengucapkan kata seribu menjadi serebu, kesannya akrab dan tegas dan sedikit ngampung.</p>
<p>Woow bisa naik 6 kali lipat, luar biasa. Tapi ngomong-ngomong pepaya muda untuk apa kaitannya dengan masak.</p>
<p>"Buat campuran masak sayur ketupat.."</p>
<p>Tadinya saya pikir kuah ketupat itu campurannya selain daging ayam, empal adalah cacahan "labu siam" - dan puluhan tahun makan masakan yang sama baru "ngeh" kalau selama ini saya salah pikir. Tapi tentunya soal kebodohan ini saya cepat-cepat sembunyikan. Soalnya saya masih ingat salah-sambung dengan mengatakan bahwa sayur Gudeg dimasak pakai kluwak, hanya karena pernah melihatnya membawa Gula Merah dan Kluwak dari pasar Bringharjo, Yogya. Setibanya di Jakarta ia memasak Gudek (dan istimewa sekali rasanya..)</p>
<p>Lalu dia masih cerita lagi "dulu saya jatuh cinta dengan caranya bicara yang selalu menemukan topik baru," tapi sekarang kok setelah 25 tahun menikah lama kesannya jadi "cerewet"</p>
<p>"Kelapa untuk parut, lenyap dari pasar.."</p>
<p>Rupa-rupanya selama HAMINUS sekian, truk-truk pembawa bahan makanan memang dilarang masuk kota-kota besar sehingga beberapa pasokan kebutuhan pokok termasuki kelapa menipis persediaannya.</p>
<p>"Tapi saya tetap bisa dapatkan juga..." katanya bangga.</p>
<p>Ilmu sihir apa lagi yang dia lontarkan kepada penjual kelapa. Satu sifatnya adalah "never quit". Baginya dimana ada kemauan selalu ada ilmu semi "tipuan".</p>
<p>"Aku ngomong pakai bahasa Jawa mlipis, si penjual jadi tertarik secara emosional, lalu kelapa (yang mestinya pesanan orang lain) diberikan kepada saya. Harganya Rp. 3.500 per butir tidak saya tawar. Barang langka. Coba masak gulai tanpa santan apa jadinya."</p>
<p>Wah eluh hebat juga Er, (dalam hati).</p>
<p>Tapi tidak lama kemudian, seorang penjual lontong sayur teriak marah-marah kepada sang penjual Kelapa. Singkatnya jangan mentang-mentang kepada orang kota lalu pilih kasih.</p>
<p>"Sepuluh Ewu Tak Bayari..." - maksudnya harga Sepuluh Ribu Gue Bayar. Rupanya mbakyu yang satu tadi sudah berusaha merayu sang penjual kelapa dan gagal, lha kok kepada wong Jakarta mlipis Jawa malah dikasihkan. Yah dengan ilmu kasak-kusuknya maka lebaran ini jadi juga makan Kupat Sayur dengan santan kelapa dan pepaya muda yang bertuah. [embees]</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lampung]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/08/lampung/</link>
<pubDate>Wed, 08 Mar 2006 12:20:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/08/lampung/</guid>
<description><![CDATA[SMS saya terbaca, &#8220;Alzier Dianis Thabrani&#8221; terpilih jadi Gubernur Lampung.Jadi ingat bul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>SMS saya terbaca, "Alzier Dianis Thabrani" terpilih jadi Gubernur Lampung.Jadi ingat bulan Juli 2002, saya ada di Lobby Hotel di Bandar Lampung ketika melihat sesosok tubuh tinggi besar gagah dan handsome. Ah ini dia Alzier teman lama dari Yogya dulu.</p>
<p>Banyak wanita Yogya tergila-gila lihat penampilannya yang selalu perlente. Dulu waktu di Yogya setiap kali kami selesai merokok, tangannya selalu usil mengambil tissue untuk melap asbak dari ceceran abu rokok. Lama-lama jengah juga kami main kekamarnya, lha kelewatan sih pembersihnya.</p>
<p>Tapi nanti dulu, kenapa larut malam begini dia bawa map seperti orang mau minta sumbangan pengaspalan jalan desa. Oleh seorang rekan dari Lampung yang menemani saya malam itu lengan saya di gamit, "dia sedang cari dukungan pikiran, tenaga dan lebih penting lagi dukungan dana."</p>
<p>Oh itu....</p>
<p>Kemudian ketika proses pemilihan Gubernur di lampung, bukan main teknik menjualnya, salah satu spanduknya berbunyi "Putra Daerah, Rapatkan Barisan Untuk Memilih Putra Daerah Menjadi Gubernur Lampung". - Seperti diketahui, Gubernur sebelumnya adalah Oemarsono yang juga Putra Daerah --- dari Jawa.</p>
<p>Mendagri Hari Sabarno sempat menginterupsi Fit and Proper calon ini, tetapi entah bagaimana Alzier mulus melaju. Saya membayangkan alangkah tebal asap dupa dan menyan mengepul di rumahnya. Belum lagi orang pintar dari Banten dsb pasti mewarnai suasana hingar bingar pesta demokrasi plus demo-mistikasi</p>
<p>Ayah Alzier (TD) adalah dulu seorang guru SMA yang disegani. Kalau pidato memang pandai, rada-rada mengikuti Bung Karno. Fasih berbahasa Arab, Belanda   Lampung (tentu), Jawa dan Inggris. Kalau ada guru Inggris berhalangan, beliau jadi guru Inggris, kalau ada guru pelajaran bahasa Arab sakit, dia mengajar bahasa Arab. Kelas selalu berjalan tertib, karena memang beliau punya kharisma yang memukau.</p>
<p>Ketika pemilu (70-an), beliau ikut  partai NU, dan menang dalam pemilihan Walikota Lampung, sejak itu kehidupannya berubah dari naik sepeda reyot, mulai ber sepeda motor  Honda, mobil dst...  Ketika mencalonkan Walikota kedua kalinya, sekalipun dapat dukungan dari Amir Mahmud ia sempat keok karena Panglima ABRI waktu itu Pangabean, sudah punya calon, yaitu Sutiyoso (alm) dari Klaten.</p>
<p>Semula kami perkirakan yang tepat adalah kakaknya Iwan Sapta karena bocah ini dari waktu SMU (IIIB- Yogya) sudah dapat brevet leadirship sampai ke Jepang segala, lha saya heran kok malahan adiknya yang notabene rada badung. Tapi Alzier masih mendingan sehat, ada calon (maaf namanya tak kusebut), pekerjaannya setiap malam cuma menyisir satu klub ke klub di Lampung. Lantaran kedudukan dan gelarnya, maka botol Whisky biasanya dibawakan oleh sang adjudan. Untuk mengelabuhi pemandangan kadang botol minuman ringan yang sudah diganti isinya. Orang teler begini juga mencalonkan diri. Namanya juga reformasi.</p>
<p>Keluarga saya sampai menilpun malam-malam minta saya kasih selamat kepada Alzier, saya terpaksa menolak dan bilang " I am just stupid (bedon) mudlogger" - Nderek bingah (ikut senang) kan tidak harus mencoba ber KKN, emang aku siapa?"</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hotel berlantai tiga yang tertinggi lantai satu]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/07/lantai-3-ada-di-bawah-permukaan-tanah/</link>
<pubDate>Tue, 07 Mar 2006 16:40:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/07/lantai-3-ada-di-bawah-permukaan-tanah/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang ada di benak anda ketika anda selesai melakukan proses check in di sebuah hotel lalu petuga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang ada di benak anda ketika anda selesai melakukan proses check in di sebuah hotel lalu petugas memberikan anak kunci dengan nomor(katakanlah) 333.</p>
<p>Pertama ini adalah nomor kamar yang mudah diingat karena merupakan kelipatan angka 3 sebanyak 3 kali. Lalu anda akan membayangkan sebuah kamar di lantai 3 dengan kamar yang ke-33 bukankah begitu. Cukup significant penjelasannya (seperti kata Harry Rusli walaupun nggak tahu artinya "significant", tapi biar keren ya dipakai saja.)</p>
<p>Tetapi disebuah hotel cukup kondang - sebut saja Marcopolo di Bandar Lampung saya sempat dibuat bingung oleh paradigma yang berbeda (sekali lagi saya nggak tahu artinya paradigma, biar dikira lulusan Master Administrasi).</p>
<p>Dari lobby hotel saya beranjak menaiki satu lantai diatas lobby yang semula saya anggap sebagai lantai 1, ternyata ujuk-ujuk saya sudah tiba di lantai dua, setidak-tidaknya yang terpampang di lorong hotel.</p>
<p>Cilakanya inilah lantai tertinggi di hotel ini sebab ada tangga menurun yang menuju lantai 1, lalu menurun lagi sampai di lantai 3.  Kok seperti filem Indiana Jones memutari lorong rahasia untuk menemukan harta karun.</p>
<p>Tapi itulah hotel Marco Polo ala Bandar Lampung. Kelak kalau hotel ini menyelesaikan tahap renovasinya dan dilengkapi dengan lift, bisa-bisa angka yang tertera pada lift dari lantai terbawah adalah 3,LOBBY, 1,2  mungkin ini adalah “wacana” terbaru diera batutulis ini.</p>
<p>Date: Wed Sep 4, 2002  1:12 am</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pulang Lampung]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/07/pulang-lampung/</link>
<pubDate>Tue, 07 Mar 2006 14:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/07/pulang-lampung/</guid>
<description><![CDATA[Nama Lampung atau lengkapnya Bandar Lampung hanya disebut-sebut ketika pesta akbar bangsa ini digela]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Nama Lampung atau lengkapnya Bandar Lampung hanya disebut-sebut ketika pesta akbar bangsa ini digelar, misalnya saat Lebaran yang ditandai dengan headline minor di massmedia seperti "Pelabuhan Bakauhuni Jammed, pemudik harus rela masuk kantong parkir." atau "Selat Sunda cuma dikotori Kapal Gaek   - Sedangkan yang agak berbau geologi, "Sesar Teluk Semangka Menggeliat, Jalanan Longsor, Sekian Desa Hancur digoyang Gempa." habis itu, propinsi yang motonya Sang Bhumi Ruwa Jurai (Rumah Besar untuk Masyarakat Pendatang dan Masyarakat Aseli), seakan sepi dari berita. Paling Gajah di Way Kambas. Atau makam Patih GajahMada.</p>
<p>Cuma 30 Menit</p>
<p>Selain menggunakan kapal ferry Merak _Bakauheni, tersedia kapal cepat Sukaraja(Panjang) - Pantai Marina Ancol. Kalau penerbangan dengan Merpati atau Bouraq ke Lampung cuma 30 Menit. Kalau anda dari Airport Radin Inten II (bukan Raden Intan itu difinisi lama) yang dulu namanya Beranti, ada tempat makan yang lumayan RM Padang Begadang III, tetapi RM yang paling aku kagumi ilmu nasinya ini justu belakangan membuat judeg (bingung) lantaran mereka selalu menyembunyikan randang daging.</p>
<p>Kelak kalau kita sudah opyak (ribut) tanya "mana randang buyuang" - lha baru petugas sibuk menyediakan permintaan kita.</p>
<p>Kalau mau RM Padang yang yahud betul, rekomen saya adalah RM Garuda cabang Medan. Konotasi Medan selalu dikaitkan dengan perangai temperamental dan kadang explosif.  Sekali sebut Cina Medan, misalnya wah orang Glodog paling ampun deh berurusan dengan mahluk ini.</p>
<p>Eh nggak taunya majalah Senior keluaran terbaru Kamis 1/8 ngebahas juga mengapa orang Medan itu karakterya demikian. Tapi kalau bicara soal makanan atau buah-buahan, Konotasi jadi plus plus plus.</p>
<p>Misalnya Rambutan Binjai yang ngelotok kering dan tebal manis, Markisa Medan, Manisan Jambu Biji Medan, Salak Medan, BikaAmbon tapi  Medan, Kopi Medan, Teri Medan, Gulai Daun Singkong Medan sepertinya Tuhan agak mengistimewakan kawasan ini. Terbukti tanah yang subur dan warga yang memiliki keahlian khusus menyiapkan hidangan yang menggugah selera. Di jalan Kartini, Tanjung Karang, RM GARUDA cabang Medan akan mudah dijumpai   Pelayannya yang perempuan umumnya berjilbab.</p>
<p>Tapi (lagi-lagi) rendang harus ditanyakan agar keluar dari persembunyiannya. Disini baru anda bisa mengumbar nafsu ngegares sambil nggeragas. Sebut saja gulai daun singong, teri medan, cumi bakar (I love this), gulai Patin dsb. Ada satu minuman yang bikin saya gerah untuk tidak memotretnya yaitu Jus Terung Belanda - rasanya sepet-sepet lezat. Aneh kan? dasar pinter-pinternya orang Medan.</p>
<p>Waroeng Digger<br />
Kalau anda ingin naik minum Capucino atau Armagedon sembari menyaksikan deretan Bukit Barisan dan laut yang menjorok ke darat (Teluk), datang saja ke Waroeng Digger. Anak muda, ABG banyak cuma menikmati kabut menyapu lereng bukit Barisan sambil minum-minum disini. Ketika malam makin tua, lampu mercu suar, perahu nelayan tampak dari kejauhan. Kadang band Local juga beraksi disini. Menurut catatan saya, band Lampung dari dulu lebih senang gedubrak gedubruk asal keras kalau menyanyi. Mereka sering lupa dengan sound systemnya.</p>
<p>Gurami goreng ala Bukit Randu.<br />
Ada tempat makan diketinggian yaitu Bukit Randu, disini Gurame-nya lazat nian, dan masih dihibur dengan band Local juga.</p>
<p>Si Jendol yang Jago Organ.<br />
Kalau anda kebetulan menginap di Shearaton Hotel, jangan lewatkan menghabiskan malam di Lobby diiringi Organ si Jendol (orangnya Guanteng, kecuali namanya). Dia the best in town soal mengiringi penyanyi dari segala macam jenis tipe suara.</p>
<p>Lesehan Malioboro Van Pasar Kangkung.<br />
Yang senang lesehan, jangan keliru pilih, Pasar Kangkung di Teluk Betung adalah pusat jajan SeaFood sedangkan Jalan Kartini- Tanjung Karang  adalah pusat jajan lainnya seperti Ayam Bakar, Sop Kambing dsb.  Bandar Lampung itu terdiri dua kota kembar, Teluk Betung untuk pesisir, dan Tanjung Karang untuk yang tanah ketinggian.</p>
<p>Adapun di Teluk Betung anda bisa tanya Patung Gajah, sebuah taman bermain (waktu kecil) yang ditengah-tengahnya dipasang bekas lampu Suar. Ceritanya ketika gunung Krakatau meledug 27-28 Agustus 1883, yang katanya mampu menggelapkan separuh dari bulatan bumi selama 22 jam, maka banyak kapal termasuk jangkar yang terlempar sampai 10 kilometer. Maklum Tsunami yang ditimbulkan ada setinggi Borobudur yang 40 meter itu menyapu bersih hampir 300 desa dan menewaskan 36 000 jiwa. material yang dimuntahkan mencapai 80 km, dengan volume 18000 km kubik. Opo ora hebat. Apa tahun 2019 nanti kejadiannya serupa (kalau iya bener ramalan Astronom)</p>
<p>Salah satu sisanya adalah ya lampu suar di taman Patung Gajah tadi. Cuma jangkarnya ketinggalan dimana saya kurang tahu, apa di lebur jadi bahan baku bir?</p>
<p>Untuk oleh-oleh, anda bisa cari jalan Ikan Kakap di Teluk Betung. Kripik Pisang Cavendish merek Suseno konon sudah diekspor ke manca negara, atau bisa melihat pabriknya langsung. Manisan pepaya mentah, dan segala macam manisan ada disitu. Kalau penggemar Kopi, saya anjurkan beli Cap Bola Dunia.</p>
<p>Itulah sekilas Lampung yang berdiri sejak 13 feb 1964, menempati tanah seluas hampir 35000 kilometer persegi. Tanggal 29-30/7 saya baru dari sana, jadi datanya sedikit update.</p>
<p>Waroeng Diggers - jalan Way Sungkai, Komplek Besi Baja (0721) 472164<br />
Hotel Shearaton - jalan Wolter Monginsidi 175, Teluk Betung (0721) 486666</p>
<p>Date: Thu Aug 1, 2002  9:41 am</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lotere]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/05/lotere/</link>
<pubDate>Sun, 05 Mar 2006 15:17:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/05/lotere/</guid>
<description><![CDATA[Ketika berada di Bandar Lampung beberapa minggu yang lalu, saya ketemu teman lama, dan begitu ketemu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika berada di Bandar Lampung beberapa minggu yang lalu, saya ketemu teman lama, dan begitu ketemu langsung saya diajak ketempat yang agak sepi dari "kuping" dan berbicara dengan serius.</p>
<p>Sebetulnya saya kurang suka dengan cara berbicara sambil menarik lawan bicara berbisik-bisik seperti mau mengatakan bahwa "Osama ada di Depok," atau "Karcis Taksaka masih ada cuma harganya sedikit mahal!" - tetapi lantaran ini shohib, saya dengarkan saja ocehannya.</p>
<p>Beberapa malam ini aku mimpi ketemu kamu, kamu naik pesawat terbang besar sekali, saya pikir pesawatnya Foker Merpati, tetapi setelah saya renungkan ternyata Boeing-737.</p>
<p>Lha mana kutahu dia mimpi Boeing atau Foker. Wah terimakasih sekali saya dimimpiin orang, kata orang mimpi naik pesawat itu pertanda bagus. Dari rasa acuh dan pesimis langsung berubah menjadi optimis dan harap-harap cemas.</p>
<p>Trusss apa lagi mimpinya ? tanya saya mulai sangat tertarik.</p>
<p>"Lantaran Boeing 737, terus gue pasangin nomor 747,737,373 dst.... Gue dapet tu nomor, Alhamdulile"</p>
<p>Asem Kecuuuut, bathin saya geli. Tiwan dandan tiwas serius, larinya ke nomor lotere.</p>
<p>Sayang saya sekarang berada di Jakarta, kalau tidak pasti dia akan saya beritahu bahwa ledakan bom di Atrium Senin, salah satu korban kendaraan adalah Kijang B1643LW, padahal kijang saya cuma B1644LW - jadi masih kakak adik. Kalau saja dia tahu, pasti sudah sibuk dia juggling nomor yang okey.</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bakauheni]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/05/bakauheni/</link>
<pubDate>Sun, 05 Mar 2006 12:27:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/05/bakauheni/</guid>
<description><![CDATA[Pertama saya mencatat nama BAKAUHENI demikian nama pelabuhan diujung timur pulau Sumatera ini. Dulu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama saya mencatat nama BAKAUHENI demikian nama pelabuhan diujung timur pulau Sumatera ini. Dulu waktu saya kecil, kami menamakannya BAKAHUNI seperti layaknya logat orang Lampung menyebut namanya. Tapi belakangan ini saya binun sebab seperti sudah legitimasi dan konstitusi namanya menjadi BAKAUHENI.</p>
<p>Cara penulisan demikian lama-lama akan membingungkan, PEKANBARU atau PAKANBARU ? MANADO atau MENADO ? - selalu ditulis terbolak terbalik.</p>
<p>Ada sebulan ini pelabuhan Merak dan Bakahuni selalu mengalami congesti. Berjam-jam untuk masuk, berjam-jam untuk bisa keluar. Apa keracunan Viagra.</p>
<p>Jam 00 saya ada di Bakauheni terkepung dalam antrean kendaraan masuk menunggu giliran disebrangkan ke Merak. Karena sudah malam, saya buka jendela, angin laut yang semilir keras, dingin dan capek, sebentar saja saya tertidur. Dan malam itu kubermimpi.<br />
Tapi kok seperti ada yang menyanyikan lagu itu.<br />
"Semalam ku bermimpi, mimpi buruk sekali" - itu kata-kata yang memasuki mimpi saya.</p>
<p>Cuma kok suaranya sengau.</p>
<p>Lho kok Video klip NAIF (kalau kau mati ku juga mati) ada disini ?.</p>
<p>Disamping saya, kalau anda bilang jarak 10 cm sebagai samping, sedang berlenggak lenggok sesosok tubuh gemulai, mengenakan span kulit hitam dan berbaju putih. Ternyata bukan Mas Avi yang jadi modelnya NAIF melainkan Bencong Bakahuni eh BAKAUHENI</p>
<p>Terpaksa, kantong dirogoh untuk memberikan uang sekadarnya. Lawan banci, makin dibilang nggak ada, goyangnya makin ngegol MANG dan belum akan pergi sebelum diberi uang receh.</p>
<p>Setelah Naif jejadian tadi pergi, Saya berniat meneruskan tidur yang minus, sebab jadi supir tunggal dari Jakarta, Lampung, Muara Enim, Baturaja, Palembang yang memerlukan waktu lebih dari (8 jam Lampung-Muara Enim, 4 jam Muara Enim Palembang). Belum lagi tegangnya karena selain dihutan, katanya begalnya nekad-nekad.</p>
<p>Belum lama saya tertidur, NAIF jejaden datang lagi, OOM, ada tukar duit nggak ?, rupanya ada yang memberikan uang Rp. 5.000 sehingga perlu kembalian Rp. 4.500 - kali ini saya rada berang. Nggak ada! kata saya keras, maka banci tadi ngeloyor mengganggu penumpang lainnya, cari tukeran duit.</p>
<p>Singkat cerita kami masuk kapal jam 01.00 dan sampai di Merak jam 05.00, sekarang di Merak suasananya juga jammed. Ada 1 satu jam mobil nggak beringsut.</p>
<p>Lalu sekelompok anak muda menawari jalan alternatif dengan imbalan sedikit uang info. Kalau sudah jalur alternatif biasanya jalur pemerasan. Tapi kali ini saya coba juga. Untuk bikin dongeng ya mesti cari jalan yang nggak umum. Gitu.<br />
Begitu masuk 5 meter, sekelompok pemuda menyetop, uang tunggu rel kereta api alasannya.</p>
<p>Sepuluh meter kemudian, uang jalan. Dan ketika mobil melintasi gunung gamping yang dibongkar sampai dasarnya, sekelompok pemuda menggelindingkan tong, menyetop kendaraan saya.</p>
<p>Saya turun dari mobil dan tanya apa maunya mereka.</p>
<p>Kali ini saya bilang, "ada apa ini ? saya sudah bayar 5 kali dalam 30 meter, kalian yang ke enam kalinya." Logika saya, kalau dengan kepala cepak orang keder, maka dengan modal kepala botak mestinya lebih mengerikan lagi garangnya (rencananya demikian).</p>
<p>"Nggak Oom, kalau nggak dikasih juga nggak apa-apa". [Tapi bagaimana dengan tong yang digelindingkan itu]. Ya akhirnya recehan lagi dikeluarkan untuk membuka Portal Tong tadi.</p>
<p>Damn You.... saya menyumpah, lho tadi katanya untuk cari berita. Kalau nanti jadi, jalan tanah dan batu yang saya lewati tadi adalah akses keluar dari pintu gerbang Merak langsung masuk ke Pelabuhan Merak. Jadi lebih dekat lagi kalau mau pulang ke Lampung. Cihuiii.</p>
<p>Dan memang jalan alternatif ini sekalipun sebagian besar tanah, lalu batu gunung, juga ada bagian (kecil) yang diaspal. Mestinya sebulan dua bulan sudah rampung itu.</p>
<p>Date: Thu Jul 12, 2001  11:41 pm</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Stopper Majalah Intisari]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/05/stopper-majalah-intisari/</link>
<pubDate>Sun, 05 Mar 2006 07:26:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/2006/03/05/stopper-majalah-intisari/</guid>
<description><![CDATA[Date: Fri Apr 6, 2001  10:49 am
Satu tulisan saya di muat di Majalah Intisari terbitan APRIL 2001 ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Date: Fri Apr 6, 2001  10:49 am</p>
<p>Satu tulisan saya di muat di Majalah Intisari terbitan APRIL 2001 halaman 29. masih berupa STOPPER, yaitu artikel ringan yang menjembatani perubahan dari satu Artikel Utama ke Artikel utama lainnya. Majalah Intisari sendiri sudah minta saya menulis lebih banyak lagi.<br />
Tokoh yang ditulis ini memang bener-bener ada. Mbak SUTO KARAK adalah pembuat kerupuk Karak dari desa WEDI Mbayat, Klaten yang ternyata Kakeknya Erni, istri saya. Nano kasus adalah Driver Perusahaan. Pak Suratman ya nama bapak saya sendiri.</p>
<p>---ooo000ooo---</p>
<p>Majalah Intisari April 2001</p>
<p>PAK DEPAN</p>
<p>Nama alias sering dipakai orang memanggil rekan akrabnya. Misalnya Suto Karak untuk pak Suto yang sampai usia lanjut masih menekuni usaha pembuatan kerupuk "karak" dari beras ketan.</p>
<p>Atau pula Nano Kasus, yang ternyata sering mengawali pembicaraan dengan ucapan, "Wah, ada kasus." Bahkan saat ditilang polisipun ia akan mengatakan, "Saya ada kasus dengan polisi."</p>
<p>Tapi, lain lagi dengan Pak Suratman (70), ayah saya, yang populer dengan nama Pak Depan. Setelah diusut-usut, semua bermula dari kegemaran Pak Suratman, yakni berolahraga.</p>
<p>Pak Suratman sering mengalami kesulitan dalam mengenakan pakaian olahraga. Ia bingung menentukan mana bagian depan pakaian yang umumnya terbuat dari kaus itu. Kesulitan makin menjadi bila ia harus mengenakan celana panjang Training yang tidak berkantung belakang dan tanpa label.</p>
<p>Untuk menyiasatinya, maka bagian depan pakaiannya diberi tulisan "DEPAN". Beliaupun lega bisa menjalani hobinya dengan mudah. Satu masalah hilang, tapi timbul masalah baru.</p>
<p>Di tempat berlatih olah raga, yakni disepanjang Trotoar di Teluk Betung, Bandar Lampung, kenalan barunya banyak mengira "DEPAN" adalah namanya. Mereka tidak salah. Bukankah pada umumnya orang selalu membubuhkan inisial ataupun namanya pada barang miliknya? [Mimbar Seputro]</p>
<div class="blogger-post-footer"></div>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
