<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>surat-dari-australia &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/surat-dari-australia/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "surat-dari-australia"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 23:36:56 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[BLT, solusi miskin untuk rakyat miskin]]></title>
<link>http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=287</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 06:07:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gilang</dc:creator>
<guid>http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=287</guid>
<description><![CDATA[
Langkah pemerintah Indonesia dalam menaikan harga BBM dikarenakan tingginya harga minyak dunia mele]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><img class="alignnone" src="http://img.photobucket.com/albums/v414/enggo_donk/Tsunami%20aceh/bbm.jpg" alt="antri BBM" width="269" height="174" /></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Langkah pemerintah Indonesia dalam menaikan harga BBM dikarenakan tingginya harga minyak dunia melebihi APBN 2008 menimbulkan pro serta kontra di antara masyarakat. Beberapa pihak yang sejalan dengan pemikiran pemerintah menganggap langkah yang diambil sudah merupakan keputusan terbaik untuk saat ini, mengingat efek jangka panjang atas pemberian subsidi BBM akan memperkeruh kondisi perekonomian bangsa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Namun tidak begitu dengan pihak yang menolak kenaikan BBM. Mereka menganggap seharusnya pemerintah bisa melihat kondisi rakyat yang terhimpit dengan kemiskinan yang akan semakin menderita atas dampak kenaikan BBM tersebut. Alhasil tak dapat dihindari berbagai aksi terjadi di dalam negeri. Mulai dari mahasiswa yang berdemo menolak kenaikan BBM, pengemudi angkutan umum yang mogok, hingga naiknya harga-harga kebutuhan pokok. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> Demi meredam dampak kenaikan harga-harga tersebut, pemerintah mengeluarkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) secara bertahap. Kebijakan ini menurut saya adalah solusi yang miskin makna untuk rakyat miskin. Pembgia BLT sebagai pengalihan kenaian BBM dapat digambarkan bagaikan menuangkan air kedalam plastik yang bolong. Walaupun dapat dibilang uang sebesar Rp 300,000 sangat bermakna bagi rakyat miskin namun hal ini melupakan efek buruk yaitu terciptanya mental pengemis bagi masyarakat bangsa ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Mungkin pengalihan subsidi tersebut akan lebih bermakna dalam jangka panjang apabila secara deklamasi pemerintah menunjukan komitmennya dengan meningkatkan peluang usaha bagi rakyat miskin, diantaranya dengan pemberdayaan sumber daya dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini harus didukung dengan menurunkan harga pada sektor-sektor strategis seperti biaya pendidikan disertai perangkat pendukungnya, meningkatkan kualitas transportasi publik, meningkatkan pemberadaan rumah murah bagi rakyat miskin yang tepat tujuan, dan keseriusan dalam mengembangkan produk dalam negeri demi mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang saat ini sudah terlupakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Sehingga bangsa ini lebih kaya solusi dalam mengambil keputusan.</span></p>
<p class="MsoNormal">Foto diambil dari <a href="http://img.photobucket.com/albums/v414/enggo_donk/Tsunami%20aceh/bbm.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berburu Menuju 100 Sekolah]]></title>
<link>http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=251</link>
<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 06:22:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>guebukanmonyet</dc:creator>
<guid>http://revolusibudaya.wordpress.com/?p=251</guid>
<description><![CDATA[
Pada tanggal 30 Juni 2008 nanti usia Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) akan genap setahun. Sebag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://revolusibudaya.wordpress.com/files/2008/03/ikon-terakhir.jpg" title="ikon-terakhir.jpg"><img src="http://revolusibudaya.wordpress.com/files/2008/03/ikon-terakhir.jpg" alt="ikon-terakhir.jpg" align="top" height="308" width="308" /></a><br />
Pada tanggal 30 Juni 2008 nanti usia Jakarta Butuh Revolusi Budaya (JBRB) akan genap setahun. Sebagai sebuah organisasi JBRB masih balita. Kalau untuk ukuran manusia, usia satu tahun belum ada apa-apanya. Ia masih merangkak dan selalu menangis. Begitu pula JBRB, masih muda dan belum banyak pengalaman. Tapi bukan berarti JBRB tidak boleh dan tidak bisa bermimpi.</p>
<p>Mimpi itu milik siapa saja.</p>
<p>Bagi sebagian orang mimpi itu lebih dari sekedar sebuah kata. Mimpi bagi mereka bukan saja sebuah nasehat dari orang tua tentang kehidupan. Mimpi bagi mereka adalah sebuah <i>way of life</i> atau jalan hidup. Bagi mereka mimpi itu bagaikan darah yang mengalir di sekujur tubuh dan membasahi setiap urat nadi. Mimpi adalah apa yang mereka pikirkan setiap detik dan setiap menit. Mimpi adalah nyawa.</p>
<p>Setelah berhasil menancapkan eksistensinya, JBRB akan mengejar mimpi-mimpi yang lebih besar di masa depan. Apabila di tahun pertama JBRB bermimpi untuk dapat diterima dengan baik oleh publik di Jakarta maka di tahun kedua nanti JBRB bermimpi untuk menggebrak publik Jakarta dengan dua kata: REVOLUSI BUDAYA!</p>
<p>Mimpi terjadinya sebuah Revolusi Budaya akan direalisasikan melalui program Berbudaya Itu Seru (Berburu) di 100 sekolah dasar di Jakarta dalam tiga tahun ke depan. Bukan satu, bukan dua, dan bukan juga tiga. Tapi 100 (SERATUS) sekolah.</p>
<p>Apabila generasi tua sudah lambat dan mulai keropos maka sudah saatnya generasi muda mengambil alih. Sudah saatnya yang muda dan yang bersemangat mengambil alih dan membentangkan layar selebar-lebarnya. Sudah saatnya kita berdiri tegak dan menatap ke depan!  Mari kita melakukannya bukan melalui darah dan pemberontakan tapi melalui REVOLUSI BUDAYA.</p>
<p>JBRB akan menghitung mundur mulai hari ini hingga 30 Juni 2008: Mimpi menjalankan Berburu di 100 sekolah secara resmi berlaku. Sudah saatnya kita berhenti memaki dan mulai bermimpi!</p>
<p>Salam REVOLUSI BUDAYA,</p>
<p>Jakarta Butuh Revolusi Budaya<br />
Team Washington, D.C.-Team Jakarta-Team Sydney<br />
revolusibudaya@gmail.com<br />
www.JakartaButuhRevolusiBudaya.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia/</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 16:11:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia/</guid>
<description><![CDATA[Pengantar :
Selama periode tanggal 30 Juli sampai 11 Agustus 2001 saya berkesempatan berada di sebua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>Pengantar :</h2>
<p>Selama periode tanggal 30 Juli sampai 11 Agustus 2001 saya berkesempatan berada di sebuah kota kecil di negara bagian New South Wales, Australia. Nama kotanya Parkes. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan dan studi lapangan di tambang tembaga bawah tanah Northparkes. Beberapa surat saya tulis, namun berhubung kesulitan mengakses internet dari kota ini di awal-awal kedatangan saya, maka surat ini terlambat saya kirimkan.</p>
<p>(1).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-13/">Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia</a><br />
(2).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-12/">Tambang Northparkes</a><br />
(3).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-11/">Terserang Flu Dan Pilek</a><br />
(4).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-10/">Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum</a><br />
(5).   <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-9/"> Menuju Ke Canberra</a><br />
(6).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-8/">Tiga Jam Di Canberra</a><br />
(7).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-7/">Melintasi Jalur Segitiga Parkes - Dubbo - Orange</a><br />
(8).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-6/">Tambang Northparkes Menuju <em>Mine Automation</em></a><br />
(9).    <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-5/">Perusahaan Tambang Tanpa Buruh</a><br />
(10).  <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-4/">Membaca Koran Dan Memburu Kanguru</a><br />
(11).  <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-3/">Malam Terakhir Di Parkes</a><br />
(12).  <a href="http://yiskandar.wordpress.com/2008/02/16/surat-dari-australia-2/">Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=120</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 16:03:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=120</guid>
<description><![CDATA[(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia
Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia</h2>
<p>Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di kota kecil Parkes, di wilayah New South Wales, Australia. Mata masih terasa agak ngantuk. Itu karena ada beda waktu maju 3 jam dibanding waktu di Yogya. Sedangkan perjalanan itu sendiri dilakukan pada malam hari sehingga kebutuhan tidur malam di perjalanan tidak dapat terpenuhi sepenuhnya sejak berangkat dari Yogyakarta hari Minggu sore, 29 Juli 2001, kemarin.</p>
<p>Perjalanan dari Yogyakarta menuju Parkes saya tempuh estafet dengan ganti pesawat di Denpasar dan di Sydney. Meskipun kota Parkes ini hanyalah sebuah kota kecil, namun setiap harinya ada transportasi udara yang melayani penerbangan dari Sydney ke Parkes dan sebaliknya. Paling tidak, sehari ada tiga kali penerbangan, kecuali di akhir pekan hanya ada dua kali penerbangan.</p>
<p>Seperti yang saya alami tadi pagi, perusahaan penerbangan Hazelton dibawah bendera Ansett Australia menerbangkan 12 orang penumpang dengan pesawat kecil berkapasitas 19 tempat duduk yang bersusun dua-dua masing-masing di kiri dan kanan lorong pesawat. Bahkan untuk masuk ke pesawat pun mesti menundukkan kepala karena atapnya yang rendah. Pesawat baling-baling jenis Metro 23 ini hanya disertai oleh dua awak penerbangnya dengan tanpa pramugari.</p>
<p>Dari Sydney ke Parkes yang jarak daratnya sekitar 365 km normalnya ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, akan tetapi pagi tadi ternyata mampu ditempuh oleh pesawat kecil ini selama kurang dari satu jam. Sekitar jam 09:30 pagi saya sudah mendarat di bandara kota Parkes.</p>
<p>Ini adalah kunjungan saya yang kedua di kota Parkes. Bulan Nopember tahun lalu saya pernah datang ke kota ini untuk mengunjungi tambang bawah tanah Northparkes. Waktu itu saya bersama rombongan hanya sempat tinggal di Parkes semalam saja. Kali ini untuk kedua kalinya saya akan berada di kota ini selam dua minggu.</p>
<p>Tujuan saya kali ini juga dalam rangka melakukan kunjungan tambang ke Northparkes Mine, namun kali ini lebih spesifik dalam rangka mempelajari banyak hal tentang penerapan metode penambangan bawah tanah "Block Caving", yang dalam terminologi birokrat sering disebut dengan studi banding.</p>
<p>***</p>
<p>Begitu tiba di Parkes, seorang pegawai perempuan tambang Northparkes sudah menjemput di bandara. Sebuah sedan Holden Commodore warna putih, entah produksi tahun kapan, sudah menunggu untuk selanjutnya akan saya gunakan sebagai sarana transportasi ke dan dari lokasi tambang Northparkes.</p>
<p>Pegawai perempuan itu lalu menunjukkan jalan menuju ke sebuah rumah di kota Parkes dimana saya akan menempatinya selama dua minggu. Jarak dari bandara ke kota Parkes sekitar 5 km. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menuju ke lokasi tambang Northparkes dengan diantar oleh pegawai perempuan itu. Jarak ke lokasi tambang sekitar 30 km.</p>
<p>Mula-mula saya agak kagok mengemudikan mobil di Australia yang sistem lalulintasnya berjalan di sisi kiri, sama seperti di Indonesia. Ini karena dua minggu sebelumnya saya masih mengemudi dengan sistem lalulintas di sisi kanan di Amerika. Namun ini tidak berlangsung lama, selanjutnya menjadi biasa.</p>
<p>***</p>
<p>Parkes hanyalah sebuah kota kecil yang populasinya hanya sekitar 10.000 jiwa atau jika dihitung beserta kawasan sekitarnya yang disebut dengan The Parkes Shire jumlah penduduknya hanya sekitar 15.000 jiwa.</p>
<p>Di perbatasan kota sebelum memasuki kota ini terpampang tulisan yang sangat jelas terbaca : "Parkes is the 50 km/h town", tentu maksudnya adalah bahwa semua jalan-jalan di dalam kota Parkes mempunyai batas kecepatan maksimum 50 km/jam. Perkecualian hanya di kawasan sekolah yang biasanya 40 km/jam.</p>
<p>Para pemakai jalan pun umumnya patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Hal ini membuat mengemudi menjadi enak dan mudah sepanjang saya juga patuh pada rambu-rambu yang ada. Rasanya selama dua minggu ini saya tidak akan mengalami kesulitan untuk berkendaraan sendiri di Parkes khususnya dan Australia umumnya.</p>
<p>Parkes, 30 Juli 2001.<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=121</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 16:02:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=121</guid>
<description><![CDATA[(2).    Tambang Northparkes
Saat ini matahari sedang beredar di bumi belahan utara, sehingga kala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(2).    Tambang Northparkes</h2>
<p>Saat ini matahari sedang beredar di bumi belahan utara, sehingga kalau Amerika utara dan Eropa sedang musim panas (summer) maka di Australia sedang musim dingin (winter). Namun kota Parkes bukanlah kawasan yang bersalju di saat musim dingin. Hanya saja cuaca cukup membuat saya kedinginan di bawah suhu udara sekitar 8-12 derajat Celcius.</p>
<p>Paling-paling kalau pagi hari kaca-kaca mobil tertutup lapisan es tipis, sehingga perlu memanaskan mesin agak lama sebelum mulai menjalankannya. Demikian halnya di lokasi tambang Northparkes suhu udara cukup dingin meskipun matahari bersinar cerah.</p>
<p>Tadi pagi, sekitar jam 07:30 saya berangkat menuju ke lokasi tambang. Kota Parkes masih terasa sangat lengang dan dingin karena matahari belum lama terbit. Jalan dua lajur dua arah yang menuju ke lokasi tambang pun sangat sepi. Jarak sekitar 30 km menuju tambang Northparkes dapat saya tempuh sekitar 20 menit, itu karena saya dapat melaju sedikit di atas batas kecepatan maksimum 100 km/jam.</p>
<p>Pemandangan di sepanjang rute yang saya lalui hanya berupa dataran terbuka yang sangat luas dengan di sana-sini terdapat pepohonan. Di kejauhan tambak bukit-bukit kecil seperti gundukan tanah yang sebagian besar merupakan ladang-ladang pertanian ribuan hektar luasnya. Yang perlu diwaspadai melaju di jalan ini adalah kalau ada rombongan ratusan ekor sapi-sapi yang sedang melintas jalan dalam perjalanannnya dari satu lokasi pertanian menuju ke lokasi pertanian lainnya. Entah siapa pemiliknya.  </p>
<p>***</p>
<p>Acara saya di hari kedua di tambang Northparkes ini adalah mengikuti "safety induction" sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang diterapkan oleh pihak perusahaan. Dengan kata lain, saya tidak diperbolehkan "ngeluyur" kemana-mana di lokasi tambang ini, apalagi di bawah tanah, sebelum saya menyelesaikan program keselamatan kerja ini meskipun saya hanya sebagai tamu.</p>
<p>Tambang Northparkes adalah perusahaan tambang tembaga yang sahamnya 80% dimiliki oleh Rio Tinto dan sisanya yang 20% dimiliki Sumotomo, Jepang. Selain menghasilkan tembaga, tambang ini juga menghasilkan emas dan perak. Saat ini produksi tambang Northparkes dipenuhi dari hasil tambang terbuka (open pit) dan tambang bawah tanah (underground) yang menerapkan metode "Block Caving".</p>
<p>Tingkat produksi dari tambang ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tahun ini mentargetkan akan menambang 5,3 juta ton bijih tembaga atau rata-rata sekitar 15.000 ton per hari. Namun tambang ini dikenal sebagai tambang yang mampu beroperasi secara effisien dengan biaya operasi yang rendah dan termasuk salah satu tambang yang unjuk kerja keselamatan kerjanya baik. Untuk mempelajari lebih jauh tentang hal itulah yang menjadi alasan dari tujuan kunjungan saya ke tambang Northparkes ini.   </p>
<p>Mulai besok saya baru akan terlibat lebih jauh dalam aktifitas tambang Northparkes terutama dari bidang operasi produksi tambang bawah tanah.</p>
<p>***</p>
<p>Tadi sekitar jam 19:00 malam saya menuju ke pusat kota guna mencari makan malam. Rupanya di kota kecil ini ada tiga restoran Cina. Dalam hati saya heran juga, kok bisa-bisanya imigran dari Cina ini membuka usahanya di kota yang sebenarnya tergolong kecil dan tidak padat penduduknya. Keheranan yang sama sering saya alami sewaktu "blusukan" di kota-kota kecil di Amerika. Kalau mau diambil benang merahnya, barangkali dalam darah masyarakat Cina pada umumnya memang mengalir naluri bisnis yang sukar ditandingi.</p>
<p>Suasana kota Parkes yang cukup dingin sudah tampak sangat sepi dan lengang, bahkan di pusat kotanya. Toko-toko umumnya buka hanya sampai jam 5 sore, itupun hanya Senin sampai Jum'at. Restoran pun tidak semuanya buka hingga malam. Untungnya ada pasar swalayan yang buka hingga jam 9 malam, sehingga masih memberi kesempatan saya untuk mencari sekedar "kletikan" (makanan kecil).</p>
<p>Clarinda Street adalah jalan utama di pusat kota Parkes. Selain itu ada sebuah jalan raya yang disebut Newell Highway. Hanya di penggalan kedua jalan itulah di kota yang tidak memiliki "traffic light" ini yang dilengkapi dengan lampu penerangan jalan seperti di kota-kota besar. Sebagian jalan-jalan lainnya hanya diterangi dengan lampu neon biasa sebagai penerangan jalan, sebagian sisanya gelap-gulita pada malam hari tanpa penerangan jalan. Oleh karena itu, jika malam tiba terasa sekali bahwa saya sedang berada di sebuah kota kecil yang sepi, di Australia.</p>
<p>Parkes, 31 Juli 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=122</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 16:02:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=122</guid>
<description><![CDATA[(3).    Terserang Flu Dan Pilek

Hari Kamis ini tiba-tiba badan saya terasa nggreges (tidak enak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(3).    Terserang Flu Dan Pilek</h2>
<p><b></b></p>
<p>Hari Kamis ini tiba-tiba badan saya terasa <em>nggreges</em> (tidak enak badan). Nampaknya gejala flu atau pilek sedang saya alami. Entah kenapa. Kalau di kampung saya orang suka menyebut sebagai akibat dari perubahan cuaca. Lha, padahal cuacanya ya dari dulu memang begitu. Hanya saya saja yang berpindah-pindah dari daerah yang sedang bermusim panas dua minggu yll. di Amerika, kemudian pindah ke musim kemarau seminggu yll. di Indonesia, dan kini pindah lagi ke musim dingin di Australia.</p>
<p>Sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa kondisi fisik saya memang sedang tidak prima. Yang pasti, akibat <em>nggreges</em> ini saya menjadi serba tidak enak untuk melakukan agenda kerja. Cuaca dingin di siang hari yang mestinya biasa-biasa saja, menjadi terasa sangat dingin di badan.Tapi ya tetap saya paksakan untuk dapat menyelesaikan agenda kerja saya. Termasuk observasi ke tambang bawah tanah bersama seorang Geotech Engineer. Dan dia adalah seorang wanita.</p>
<p>Rupanya di Australia ini sudah lazim kalau ada para insinyur wanita yang bekerja di tambang bawah tanah, juga di bagian lapangan. Seperti di tambang Northparkes ini, di bagian tambang bawah tanah (underground) ada insinyur wanita yang bekerja sebagai Geotech Engineer dan Draw Control Engineer yang tugasnya merangkap, ya pengumpulan data lapangan, ya pengolahan datanya dan penyajian laporannya.</p>
<p>Di bagian tambang terbuka (open pit) malah dipimpin oleh seorang Superintendent wanita yang bertanggung jawab kepada Mine Manager, selain ada juga Mine Engineer wanitanya. Belum lagi kalau masuk ke kantor tambang bawah tanah yang lokasinya memang berada di bawah tanah, di bagian pusat kontrol sistem tambangnya terdapat beberapa pegawai wanita.</p>
<p>Di Indonesia, para tukang insinyur wanita agaknya masih harus menunggu entah sampai kapan untuk dapat memiliki kesempatan bekerja di tambang bawah tanah sebagaimana para tukang insinyur pria. Bukan soal diskriminasi dan bukan juga soal kemampuan, melainkan lebih disebabkan masih adanya kepercayaan sebagai hal yang tabu.</p>
<p>Sulit dipercaya, tapi kenyataannya keadaan semacam itu masih berlaku di beberapa tambang bawah tanah yang pernah ada di Indonesia. Akhirnya daripada membuat karyawan yang lain resah akibat pelanggaran terhadap hal yang ditabukan itu, maka biasanya lalu pihak perusahaan memutuskan untuk tidak menerima pegawai wanita untuk bekerja di tambang bawah tanah.</p>
<p>Mudah-mudahan dalam perkembangannya nanti akan ada perubahan. Sayang kalau ada Mine Engineer wanita yang berkemampuan tinggi di bidang tambang bawah tanah tetapi tidak terbuka kesempatan untuk mengembangkannya.</p>
<p>***</p>
<p>Sore tadi saya pulang dari lokasi tambang sedikit lebih awal karena terburu-buru hendak mencari obat flu. Beberapa rekan menyarankan untuk mencarinya ke apotik (pharmacy), tetapi apotik sudah tutup jam 5 sore. Akhirnya saya coba mencarinya ke Shopping Center yang buka hingga jam 9:00 malam. Saya dapatkan juga tabletnya yang menurut petunjuknya dapat digunakan untuk mengobati gejala flu dan pilek. Mudah-mudahan manjur.</p>
<p>Malam ini saya ingin tidur lebih awal dengan berselimut rapat karena memang udaranya cukup dingin.</p>
<p>Parkes, 2 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=123</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 16:00:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=123</guid>
<description><![CDATA[(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum
Obat flu yang saya beli kemarin agaknya cukup man]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum</h2>
<p>Obat flu yang saya beli kemarin agaknya cukup manjur, setidak-tidaknya hari ini kondisi badan saya terasa ada perbaikan. Belum sembuh benar memang, masih bolak-balik mesti buang ingus, tapi <em>nggreges</em>-nya sudah mereda.</p>
<p>Hari ini baru terpikir oleh saya untuk mencari dimana kira-kira saya bisa mengakses internet untuk membuka email, setelah beberapa malam ini saya tidak berhasil on-line dengan laptop saya dari rumah. Mau mengakses email pribadi dari kantor berlama-lama pinjam komputer orang kok ada perasaan tidak enak. Akibatnya beberapa catatan yang sudah saya siapkan menjadi tertunda pengirimannya.</p>
<p>Sebelum pulang ke rumah sore tadi saya coba untuk datang ke Perpustakaan Umum yang ada di kota Parkes. Kebetulan sekali, ternyata di sana tersedia komputer yang dapat disewa untuk mengakses internet. Biayanya A$ 2.50 (sekitar Rp 12.000,-) per setengah jam dan harus membayar di muka. Sewanya dapat diperpanjang hanya jika tidak ada pengguna lain yang menunggu.</p>
<p>Kebetulan lagi, ternyata selewat setengah jam memang tidak ada orang lain yang akan menggunakan internet. Barangkali karena sudah agak malam yang bagi kota ini selepas matahari terbenam sudah tampak sangat sepi dan sepertinya kehidupan hari itu sudah berhenti. Bahkan hingga lebih satu jam saya masih bisa melanjutkan menggunakan komputer. Ketika pulang, ternyata saya tidak diminta untuk membayar biaya  tambahannya. Ya syukur.</p>
<p>Akhirnya beberapa nomor lanjutan catatan "Perjalanan Pulang Kampung" yang tertunda untuk saya kirimkan, malam ini dapat saya <em>posting</em>. Akan tetapi justru catatan "Surat Dari Australia" ini malah tadi malam saya lupa untuk memindahkannya ke disket sehingga tadi tidak terikut saya kirimkan. Mudah-mudahan besok atau besoknya lagi saya akan dapat mengirimkannya.</p>
<p>Parkes, 3 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=124</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 16:00:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=124</guid>
<description><![CDATA[(5).    Menuju Ke Canberra
Sejak hari Jum&#8217;at saya sudah berangan-angan. Apa yang akan saya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(5).    Menuju Ke Canberra</h2>
<p>Sejak hari Jum'at saya sudah berangan-angan. Apa yang akan saya lakukan di libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu ini. Meskipun di luar cuaca cukup dingin, tapi tentu tidak akan saya pergunakan hanya untuk bermalas-malasan di rumah. Meskipun sebenarnya saya perlu menambah jam istirahat akiat gangguan flu dan pilek. Untuk sekedar putar-putar kota saja rasanya sayang, wong kalau hari Sabtu dan Minggu toko-toko pada tutup.</p>
<p>Akhirnya saya putuskan untuk melakukan perjalanan <em>traveling </em>ke luar kota. Hari Jum'at malam saya membeli peta wilayah negara bagian New South Wales di sebuah stasiun pompa bensin seharga A$7.50 (kira-kira Rp 30.000,-). Dari peta itu saya buat pilihan-pilihan. Ada beberapa kota besar dan agak besar yang layak untuk dikunjungi.</p>
<p>Untuk kota-kota besarnya ada Brisbane (ibukota negara bagian Queensland) di arah timur laut yang jauhnya 995 km. Lalu kota Sydney (ibukota negara bagian New South Wales) dan Wollongong di arah timur, masing-masing berjarak 365 km dan 403 km. Ke arah selatan ada kota Canberra (ibukota Australia) dan Melbourne (ibukota negara bagian Victoria) yang jaraknya masing-masing 306 km dan 721 km dari Parkes.</p>
<p>Canberra yang akhirnya menjadi pilihan saya. Selain karena saya belum pernah mengunjungi kota ini, jarak untuk mencapainya tidak terlalu jauh untuk perjalanan pulang-pergi dalam satu hari. Menilik jaraknya, maka untuk mencapai Canberra saya akan memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan atau rata-rata berkecepatan 100 km/jam.</p>
<p>Australia menerapkan sistem satuan metrik, sehingga lebih mudah bagi saya untuk membayangkan kuantitas sebuah angka seperti misalnya yang bersatuan meter, km, liter, dsb. Berbeda halnya di Amerika yang menggunakan satuan inch, mil atau gallon, yang terkadang mesti dua kali berpikir untuk membayangkan kuantitas sebuah angka.</p>
<p>***</p>
<p>Menjelang jam 09:00 pagi hari Sabtu kemarin saya sudah meninggalkan rumah dan langsung menuju ke jalan besar yang mengarah ke selatan. Seperti biasa, suasana kota Parkes masih sangat sepi seperti tidak berpenghuni saja. Berdasarkan peta, jarak sekitar 300 km menuju Canberra adalah jarak tersingkat yang akan melalui beberapa kota kecil dan melewati jalan-jalan raya maupun Highway.</p>
<p>Di Australia jalan-jalan ini disebut State Route dan National Route yang lalu disertai dengan nomor jalan. Sebagai pembanding, kalau di Amerika jalan-jalan ini disebut dengan State Road (biasa disingkat SR) dan Interstate (biasa disingkat I) lalu diikuti dengan nomor jalan. Hanya saja yang disebut National Route di Australia bisa berupa jalan Highway yang tidak selalu bebas hambatan  </p>
<p>Keluar dari Parkes saya langsung melaju ke arah tenggara menuju kota Eugowra. Jarak yang saya tempuh sekitar 39 km selama kurang lebih 20 menit. Jalanan masih sangat sepi, hanya sesekali saja saya berpapasan dengan kendaraan lain. Ini memang jalan kecil yang kondisinya cukup bagus sehingga saya dapat memacu kendaraan rata-rata sesuai dengan batas maksimum yang diperbolehkan, yaitu 100 km/jam.</p>
<p>Eugowra memang hanya sebuah kota kecil atau dapat saya sebut seperti kota Kecamatan di Indonesia. Populasinya hanya sekitar 1.400 jiwa. Dari Eugowra terus saja saya melanjutkan perjalanan ke arah tenggara sejauh 34 km hingga tiba di kota Canowindra. Kota ini agak lebih besar dibandingkan Parkes. Populasinya sekitar 12.000 jiwa.</p>
<p>Melewati tengah kota Canowindra, di sisi kiri dan kanan jalan banyak saya jumpai pertokoan. Namun di pagi hari menjelang jam 10:00 kota ini tampak sangat sepi. Meskipun saya lihat banyak kendaraan parkir di pinggiran jalan, namun hanya tampak satu-dua orang saja yang berseliweran di trotoarnya. Saya menjadi semakin terbiasa melihat pemandangan kota yang kelihatannya ramai tapi tampak lengang seperti ini.</p>
<p>Dari kota inipun saya terus saja melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju kota Cowra sejauh 33 km. Kali ini saya mulai mengikuti jalan State Route 81. Kondisi jalannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jalan sebelumnya, tetapi arus lalulintasnya sedikit agak ramai.</p>
<p>Kota Cowra tampak lebih besar dan ramai dibanding kota-kota lainnya. Saya tidak tahu berapa populasinya, namun pasti jauh lebih padat disbanding Canowindra maupun juga Parkes. Meskipun di luar kota batas maksimum kecepatan yang diperbolehkan adalah 100 km/jam, namun begitu masuk kota biasanya paling cepat hanya boleh 60 km/jam. Para pengemudi pun umumnya mematuhi rambu lalulintas ini.</p>
<p>Di luar kota-kota yang saya lalui sejak dari Parkes, pemandangan di sepanjang perjalanan nyaris membosankan. Sejauh mata memandang di kiri-kanan jalan hampir semuanya merupakan dataran terbuka yang banyak berupa ladang-ladang pertanian yang sangat luas dengan diselingi oleh pepohonan dan nyaris tidak saya jumpai pemukiman penduduk.</p>
<p>Oleh karena itu melaju dengan kecepatan maksimum 100 km/jam, dan seringkali saya mencuri kecepatan hingga 110-120 km/jam bahkan lebih, rasanya cukup percaya diri untuk tidak kepergok dengan penyeberang jalan, pengendara sepeda atau anak-anak bermain di pinggir jalan. Tetapi tetap perlu waspada mengingat kawasan sepi itu sering menjadi perlintasan kanguru. Hal ini terbukti dengan beberapa kali saya menjumpai bangkai kanguru tergeletak di pinggir jalan karena tersambar kendaraan.</p>
<p>Melewati kota Cowra saya terus melaju ke selatan menuju kota Boorowa yang berjarak 77 km dengan masih mengikuti jalan State Route 81. Dari kota ini jalan yang saya lalui mulai memasuki kawasan pegunungan meskipun tidak terlalu tinggi, namun cukup memberi suasana berbeda karena jalannya yang naik-turun dan agak berbelok-belok.</p>
<p>Dari Boorowa saya terus menuju ke arah selatan ke kota Yaas menempuh jarak 55 km. Sebelum masuk kota Yaas saya pindah ke jalan National Route 31 ke arah timur yang disebut Hume Highway. Tidak jauh kemudian pindah lagi ke jalan National Route 25 yang disebut Barton Highway. Jalan ini mengarah ke selatan langsung menuju ke kota Canberra sejauh 57 km.</p>
<p>Sekitar jam 12:00 siang lebih sedikit, akhirnya saya tiba di kota Canberra. Kota besar ini tidak terlalu padat jika melihat posisinya sebagai ibukota negara Australia atau yang dikenal dengan sebutan Australian Capital Territory (ACT) yang mencakup beberapa kawasan di sebelah selatannya. Saya langsung menuju ke Visitor Information dan itu tidak sulit untuk menemukan lokasinya yang berada di jalan Northbourne Avenue.</p>
<p>Parkes, 5 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=125</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:59:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=125</guid>
<description><![CDATA[(6).    Tiga Jam Di Canberra
Di Visitor Information ini saya memperoleh peta kota Canberra yang m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(6).    Tiga Jam Di Canberra</h2>
<p>Di Visitor Information ini saya memperoleh peta kota Canberra yang mesti saya ganti dengan biaya A$2.00. Saya lalu berhitung dengan waktu karena saya tentu tidak dapat berlama-lama berada di kota ini. Hari Sabtu sore, 4 Agustus 2001, itu juga saya mesti kembali ke Parkes. Saya agak khawatir kalau kemalaman di jalan. Bukan khawatir karena jalan yang pasti lebih sepi dibanding siang hari, melainkan khawatir kalau saya menjadi kurang jeli melihat rambu-rambu petunjuk jalan di saat hari sudah gelap.</p>
<p>Meskipun saya akan kembali ke Parkes melewati rute yang sama dengan ketika berangkatnya, namun mengemudi di daerah yang belum saya kenal di saat malam hari di Australia ini tidak semudah dibandingkan kalau melakukan hal yang sama di Amerika.</p>
<p>Di Australia, petunjuk arah jalan biasanya terdapat di seputaran kota atau setelah persimpangan jalan. Jika saya lengah tidak melihat petunjuk jalan, maka selanjutnya saya tidak akan tahu berada di jalan dan arah yang benar atau salah hingga tiba di kota berikutnya atau persimpangan jalan besar berikutnya. Berbeda dengan di Amerika yang setiap jarak tertentu pada setiap jalan selalu terdapat tanda nomor jalan dan arahnya, sehingga kalaupun salah, maka belum terlalu jauh untuk kembali.</p>
<p>Hal yang sama seperti di Australia ini sebenarnya juga berlaku di Indonesia. Hanya bedanya kalau di Indonesia, sewaktu-waktu kita bisa tanya ke tukang becak, tukang ojek, tukang tambal ban, kios rokok, warung pinggir jalan atau siapa saja yang kita temui.</p>
<p>***</p>
<p>Oleh karena itu, saya rencanakan bahwa saya akan berada di Canberra sekitar tiga jam saja. Artinya pada jam 3:00 sore saya sudah harus meninggalkan Canberra untuk kembali ke Parkes, sehingga tiba di Parkes belum gelap benar. Tempat-tempat yang akan saya kunjungi siang itu pun lalu saya pilih.</p>
<p>Dari sekian obyek wisata di kota Canberra yang saya anggap menarik dan perlu dikunjungi serta cukup dalam tiga jam adalah Gedung Parlemen (Parliament House). Rasa-rasanya ini adalah bangunan termegah di Canberra. Tempat kedua adalah Gedung Australian War Memorial yang letaknya berada pada garis lurus arah timur laut terhadap Gedung Parlemen. Di depan Gedung War Memorial ini terdapat pelataran luas yang lantainya berwarna merah bata yang panjangnya sekitar 1 km dengan lebar sekitar 150 m. Tempat ini disebut dengan Anzac Parade.</p>
<p>Parliament House terletak di Capital Hill dan dikelilingi oleh dua jalan lingkar, yang di dalam disebut Capital Circle dan yang di luar disebut State Circle. Untuk mencapai gedung ini dari Visitor Invormation saya tinggal berjalan lurus saja ke selatan mengikuti jalan Northbourne Avenue lalu bersambung ke Commonwealth Avenue yang menyeberang danau Lake Burley Griffin.</p>
<p>Gedung Parlemen terletak di ujung jalan Commonwealth Avenue, karena itu tidak sulit untuk dicapai asal tidak salah mengambil lajur jalan. Sebab kalau salah akan berakibat berjalan mengelilingi jalan lingar luar ataupun dalam sebelum menemukan lajur jalan yang benar menuju ke Gedung Parlemen.</p>
<p>Danau Burley Griffin ini adalah danau buatan di tengah kota Canberra yang kalau dilihat dari arah mana-mana tampak memberi pemandangan kota yang indah. Namanya saja danau buatan, maka tentu keindahan yang diberikan adalah keindahan yang direncanakan. Namun tidak dapat disangkal bahwa karya seorang arsitek Amerika bernama Walter Burley Griffin dalam merancang kota Canberra adalah karya besar yang dibanggakan oleh masyarakat Canberra.</p>
<p>Pembangunan kota Canberra karya Griffin ini peletakan batu pertamanya pada tahun 1913. Terjadinya Depresi Ekonomi yang juga melanda Australia pada tahun 30-an serta adanya dua kali Perang Dunia telah menyebabkan rencana besar pembangunan kota Canberra terbengkalai. Baru pada tahun 1950-an karya Griffin dilanjutkan.</p>
<p>Tahun 1979 Gedung Parlemen mulai dirancang melalui sebuah kompetisi yang dimenangkan oleh tiga orang arsitek, Mitchell, Giurgola dan Thorp. Hingga akhirnya keseluruhan proyek raksasa ini selesai dengan ditandai diresmikannya Gedung Parlemen Australia oleh Ratu Elizabeth pada tanggal 9 Mei 1988.</p>
<p>Gedung Parlemen ini dapat dikatakan sebagai gedung terbesar di Australia. Juga tidak berlebihan kalau dikatakan gedung ini memang sangat megah dan kaya akan sentuhan seni ketika melihat masuk ke bagian dalamnya. Kemegahannya sudah tampak sejak berada di depan gedung ini. Terletak di area seluas 32 hektar, gedung ini memiliki 4.500 ruangan. Dari jauh gedung ini mudah dikenali dengan adanya menara baja antikarat yang tampak berkilap berdiri di bagian tengahnya, menjulang tinggi dengan bendera negara Australia berukuran panjang 12,8 m dan lebar 6,4 m berkibar tinggi di angkasa Canberra.</p>
<p>***</p>
<p>Tidak terasa saya berada di kompleks gedung ini selama lebih dua jam. Oleh karena itu saya lalu buru-buru meninggalkan gedung parkir yang berada di bawah tanah di depan kompleks gedung dan menuju ke Gedung Australian War Memorial yang terletak di seberang danau Griffin arah timur laut. Saat menjelang menyeberangi danau Griffin, tenyata saya salah mengambil lajur yang benar. Tetapi justru ini membawa saya untuk berjalan agak menyusuri tepian danau yang memang berpemandangan indah.</p>
<p>Sebelum tiba di Gedung War Memorial jalan yang saya lalui berada tepat di pinggir barat laut pelataran luas Anzac Parade. Gedung Australian War Memorial terletak tepat di ujung timur laut jalan Anzac Parade. Dari kejauhan sebenarnya gedung ini tidak tampak megah. Kemegahannya baru terasa ketika mulai masuk ke pelataran dalamnya.</p>
<p>Agaknya ini adalah gedung sebagai kenangan atas para pahlawan Australia yang tewas di medan peperangan sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB. Di dinding dalam bangunan ini tertulis ribuan nama para pahlawan Australia itu yang pernah bertugas di berbagai belahan dunia sebagai pasukan PBB. Hanya saja ketika saya mencoba memeriksa pasukan Interfet yang bertugas di Timor Timur kok tidak saya temukan.</p>
<p>Akhirnya sekitar jam 3:00 sore lebih sedikit saya meninggalkan Gedung Australian War Memorial ini dan kembali ke arah jalan dimana saya datang tadi pagi. Sialnya, saya kurang jeli melihat tanda petunjuk arah sehingga kebablasan. Sekalian saja berhenti membeli bensin agar selanjutnya dapat terus melaju memacu kecepatan agar tidak kemalaman tiba kembali ke Parkes.</p>
<p>Akibat salah jalan dan berhenti ini saya kehilangan waktu setengah jam lebih. Akhirnya baru menjelang jam 7:00 malam saya tiba kembali di Parkes. Untungnya tidak mengalami salah jalan ketika hari mulai gelap sebelum tiba di Parkes.</p>
<p>Parkes, 5 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=126</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:59:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=126</guid>
<description><![CDATA[(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes - Dubbo - Orange
Hari Minggu kemarin, 5 Agustus 2001, say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes - Dubbo - Orange</h2>
<p>Hari Minggu kemarin, 5 Agustus 2001, saya mempunyai rencana berbeda. Masih juga ingin melakukan perjalanan keluar kota, namun kali ini tidank menuju ke kota-kota yang jauh melainkan keliling ke beberapa kota yang ada disekitar kota Parkes. Jalur yang saya pilih adalah lintasan segitiga dari kota Parkes, lalu menuju kota Dubbo yang terletak di arah utara Parkes dan kota Orange yang terletak di arah timur Parkes. Saya sebut saja lintasan memutar ini sebagai segitiga Parkes - Dubbo - Orange.</p>
<p>Berangkat dari rumah agak siang, terlebih dahulu saya menuju ke Tourist Information yang ada di kota Parkes. Sekedar ingin tahu apa yang sekiranya dapat saya lihat di kawasan Parkes dan kota-kota di seputarannya. Yang saya sebut di seputaran adalah kota-kota terdekat yang jaraknya bisa hingga 100 km, akan tetapi masih dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan atau lebih sedikit. Segera saya meninggalkan Parkes menuju ke utara melewati Jalan Clarinda dan Newell Highway</p>
<p>***</p>
<p>Kota Parkes mula-mula terbentuk sejak pertama kali diketemukannya endapan emas pada tahun 1862. Perkembangannya menjadi semakin pesat ketika diketemukan lagi tambang emas Bushman's Gold Mine pada tahun 1871. Kota inipun lalu bernama Bushman. Pada tahun 1873 Perdana Menteri New South Wales, Sir Henry Parkes, berkunjung ke lokasi penggalian emas ini. Lalu pada tanggal 1 Desember 1873 nama kota ini pun berganti dari semula Bushman menjadi Parkes sebagai penghormatan atas Sir Henry Parkes. Kemudian pada tanggal 1 Agustus 1887, jalan utama di kota baru Parkes ini berganti nama menjadi Jalan Clarinda. Clarinda adalah nama baptis dari Nyonya Parkes.   </p>
<p>Kota Parkes yang bersaudara kembar (Sister City) dengan kota Coventry di Inggris ini terletak pada elevasi 339 m di atas permukaan laut. Meskipun terletak di daerah beriklim subtropics, suhu udara rata-ratanya relatif tidak berbeda jauh dengan umumnya di Indonesia, yaitu 30 derajat Celcius maksimum di musim panas dan 16 derajat Celcius maksimum di musim dingin. Pada saat musim dingin seperti bulan-bulan ini suhu udara di malam hari memang bisa turun menjadi sangat dingin.</p>
<p>Jalan Newell Highway sendiri adalah jalan utama yang membelah wilayah negara bagian New South Wales dari kota Tocumwal di selatan dekat dengan perbatasan negara bagian Victoria dan Goondiwindi di utara di perbatasan negara bagian Queensland. Oleh karena itu kota Parkes tergolong cukup sibuk disbanding kota-kota kecil lainnya karena berada di perlintasan ekonomi antar kawasan. Tidak heran kalau truk-truk pembawa kontainer-kontainer raksasa pun seringkali terlihat melintas di kota ini.</p>
<p>Sekitar 20 km di utara Parkes, saya keluar dari jalan raya membelok ke timur sejauh 6 km menuju ke sebuah area yang dikenal dengan nama Parkes Radio Telescope. Dari kejauhan sudah tampak sebuah piringan raksasa berdiameter 64 m berdiri di sebuah kawasan terbuka. Teleskop ini dikelola oleh CSIRO Australia Telescope Parkes Observatory. Ini adalah salah satu piranti riset astronomi terbesar yang berada di bumi belahan selatan. Sarana dimana benda-benda angkasa menjadi tampak dekat dan jelas untuk keperluan pengembangan ilmu dan teknologi di bidang astronomi.</p>
<p>Parkes Radio Telescope merupakan salah satu dari delapan antene (piringan) yang keberadaannya menyebar di tiga kawasan. Sebuah antene lainnya yang berdiameter 22 m terletak di Coonabarabran dan enam antene lainnya yang masing-masing juga berdiameter 22 m terletak di Narrabi. Kedelapan antene yang disebut The Australia Telescope ini diresmikan pada tahun 1988.</p>
<p>Ketiga kota Parkes, Coonabarabran dan Narrabi terletak di jalur lintasan Newell Highway. Bersama-sama dengan sarana riset dan observasi astronomi lainnya yang tersebar mulai kota Canberra di selatan hingga Narrabi di utara dan melintasi beberapa jalan Highway, maka jalur ini memperoleh julukan plesetan sebagai "Highway to the Star" menyerap sebuah judul lagunya kelompok Deep Purple.</p>
<p>***</p>
<p>Dari kawasan antene teleskop di Parkes ini saya melanjutkan perjalanan ke utara sekitar 100 km menuju ke kota Dubbo. Menjelang masuk ke dalam kota, saya membelok ke timur menuju ke kawasan kebun binatang yang disebut Western Plains Zoo. Mula-mula saya ragu untuk masuk, wong di kota kecil yang jauh dari mana-mana kok mempunyai kebun binatang. Paling-paling ya sesuai namanya, kebun yang ada binatangnya.</p>
<p>Setelah membayar tanda masuk seharga A$ 22.00 (sekitar Rp 100.000,-) dan diberi peta lokasi, saya baru tahu bahwa kawasan yang luasnya mencapai 300 hektar ini menyimpan lebih 1000 ekor binatang dari lebih 100 spesies yang berasal dari seluruh dunia.</p>
<p>Bedanya dengan kebun binatang umumnya adalah di tempat ini binatang-binatang tersebut dibiarkan lepas di alam terbuka. Untuk keperluan pengamanan biasanya diberi kolam air yang agak lebar dan pagar, sehingga pengunjung dapat melihat binatang-binatang tersebut seperti di alam aslinya.</p>
<p>Tempat ini rupanya menjadi semacam tempat penangkaran bagi binatang-binatang langka yang populasinya di dunia nyaris berkurang. Melalui rute sepanjang 6 km yang dapat dilewati kendaraan, saya dapat melihat bnatang-binatang langka antara lain badak hitam, badak putih, gajah Afrika, biri-biri Barbary, singa Asia, harimau Sumatra, kura-kura Galapagos, gibbon tangan putih, elang ekor baji, dsb.</p>
<p>Ada juga binatang-binatang yang jarang dijumpai atau namanya kedengaran aneh seperti unta, biri-biri Barbary, zebra Grants, eland, wapiti, rusa fallow dan rusa chital, antelope, bison, kuda Przewalski, dingo, koala, emu, kanguru merah dan abu-abu, wallaby, tapir, lemur, dsb. Di antara badak yang ada di situ salah satunya rupanya berasal dari Ragunan. Dari hasil penangkaran binatang-binatang itu kemudian di sebarkan ke kebun-kebun binatang di seluruh dunia.</p>
<p>Pendeknya, saya jadi lupa waktu berada di tempat itu. Sehingga hari sudah sore ketika akhirnya keluar dari kebun binatang dan menuju ke kota Dubbo. Tingkat kepadatan dan keramaian kota Dubbo sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Parkes. Suhu udara harian juga relatif sama. Saya memutuskan untuk tidak berhenti di kota ini.</p>
<p>Dari Dubbo saya berbelok arah ke selatan menuju kota Orange melalui jalan National Route 32 atau yang disebut dengan Mitchell Highway. Jarak yang harus saya tempuh menuju Orange adalah sekitar 150 km, melewati beberapa kota kecil di antaranya Wellington dan Molong. Pemandangan alam di sepanjang jalur ini cukup indah dinikmati karena melewati jalan-jalan di daerah dataran agak tinggi meskipun bukan kawasan pegunungan.</p>
<p>Hari sudah larut sore ketika memasuki kota Orange. Rencana untuk menjelajah kota ini saya batalkan karena hari sudah beranjak remang-remang dan suasana kota pun sudah sepi. Orange adalah kota di pegunungan yang populasinya lebih dari 36.000 jiwa, karena itu lebih besar dan lebih padat dibandingkan Parkes. Suhu udara kota ini di saat musim dingin dapat mencapai di bawah nol derajat Celcius. Oleh karena itu salju sering dijumpai di saat musim dingin seperti sekarang ini. Masyarakat Orange bangga dengan menyebut kotanya sebagai kota seratus taman karena banyaknya kawasan-kawasan hijau pepohonan melingkupi kota ini.</p>
<p>Dari Orange, saya berbelok ke barat untuk kembali menuju Parkes. Jalan yang saya lewati adalah jalan tembus menuju Parkes sejauh 100 km melalui beberapa kota kecil antara lain Boree dan Manildra. Akhirnya saya tiba kembali di Parkes sudah lewat jam 7:00 malam. Puas rasanya telah menjelajah kawasan kota-kota kecil di seputaran Parkes melalui jalur segitiga Parkes - Dubbo - Orange sepanjang 370 km di hari Minggu kemarin.   </p>
<p>Parkes, 6 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=127</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:58:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=127</guid>
<description><![CDATA[(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation
Hari Senin dan Selasa, 6 dan 7 Agustus 2001 ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(8).    Tambang Northparkes Menuju <em>Mine Automation</em></h2>
<p>Hari Senin dan Selasa, 6 dan 7 Agustus 2001 kemarin saya mempergunakan kesempatan untuk bergabung dengan para penambang (miner) di tambang bawah tanah Northparkes. Kali ini saya sengaja ikut dengan salah satu kru dengan maksud agar memperoleh gambaran lebih lengkap tentang bagaimana para pekerja tambang ini mengorganisasikan dan menyelesaikan pekerjaannya. Tentu saya berharap agar mereka tetap bekerja sebagaimana biasanya, dalam arti bukan lantaran diikuti orang lain lalu bekerjanya diproduktif-produktifkan.</p>
<p>Operasi tambang Northparkes yang berproduksi rata-rata 15.000 ton perhari ini dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari sembilan orang dalam setiap gilir kerja (shift) yang bekerja selama 12 jam. Oleh karena itu dalam satu hari ada dua gilir kerja. Jumlah sembilan orang ini sudah termasuk kepala timnya yang disebut <em>team leader</em>, 3 atau 4 orang operator alat muat (loader) yang disebut dengan alat LHD (load-haul-dum), seorang operator <em>control room</em> dan beberapa pekerja lainnya yang umumnya perkemampuan serba bisa.</p>
<p>Salah satu kru yang saya ikuti disebut dengan <em>secondary breaker</em>. Salah satu tugas dari kru ini adalah mengatasi bongkahan-bongkahan batuan besar (boulder) yang jika langsung dimuat, diangkut dan ditumpah ke dalam mesin pemecah batuan (crusher) maka dapat menggangu proses operasi mesin ini. Selain itu tim ini juga bertugas mengatasi <em>draw point</em> (tempat pengambilan bijih hasil penambangan) yang tersumbat, sehingga material bijih tidak mau turun atau keluar ke mulut <em>draw point</em>. Keadaan ini disebut dengan <em>hung-up</em>.</p>
<p>Untuk melakukan pekerjaannya, kru yang terdiri dari dua orang ini ternyata seringkali berpisah dengan masing-masing saling berbagi tugas. Kalaupun kemudian perlu melakukan pengeboran dan peledakan ulang, maka jika memungkinkan akan diselesaikan oleh salah seorang saja. Demikian halnya misalnya untuk pekerjaan perbaikan jaringan pipa, perbaikan lantai beton (concrete) yang rusak, penyanggaan batuan, dsb. jika memungkinkan mereka akan berbagi tugas dengan masing-masing menyelesaikan tugas yang berbeda.</p>
<p>Demikian seterusnya sehingga pekerjaan hari itu dapat dituntaskan. Seringkali dalam melakukan tugasnya mereka tanpa diawasi oleh <em>team leader</em>-nya, sepertinya sudah otomatis mereka tahu apa yang mesti dikerjakan. Padahal mereka juga menyelingi kegiatannya dengan berhenti untuk merokok, makan dan ngobrol sebagaimana lazimnya.</p>
<p>***</p>
<p>Di bagian ruang kontrol (control room) yang juga berlokasi di bawah tanah, seorang pekerja duduk di depan layar monitor sambil sesekali mengangkat tilpun dan ngomong di pesawat radio komunikasi. Di atas layar monitor utama terdapat enam layar monitor lainnya yang menayangkan hasil liputan kamera-kamera yang di pasang di banyak lokasi strategis sehingga sewaktu-waktu dapat dilihat apa yang sedang terjadi di lapangan dengan mengubah-ubah salurannya.</p>
<p>Semua sistem aliran bijih (ore flow) hasil penambangan mulai dari penumpahan batuan dari alat muat LHD, mesin pemecah batuan (crusher), pengangkutan dengan ban berjalan (belt conveyor) pengangkutan dengan alat pengerek (hoisting), hingga ban berjalan di permukaan tanah, dikendalikan dari ruang kontrol ini. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa perlu ada orang yang menjaga di tiap-tiap alat tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu banyak sekali jenis pekerjaan yang dapat dirangkap oleh seorang operator di <em>control room</em>. Kalau di tambang-tambang lain umumnya perlu beberapa operator khusus yang menjalankan dan mengawasi masing-masing bagian <em>crusher</em>, <em>conveyor</em>, <em>winder</em>, dsb. maka di tambang Northparkes para pekerja itu tidak diperlukan lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Saat ini operasi LHD masih dilakukan oleh seorang operator. Namun dalam rencana penambangan endapan bijih pada tahap pengembangan berikutnya, direncanakan operasi LHD juga akan dikendalikan dari ruang kontrol ini. Inilah yang kini disebut sebagai konsep otomatisasi tambang atau <em>mine automation.</em></p>
<p>Pada saat ini tambang Northparkes sedang mempersiapkan rencana penambangan endapan yang ada tepat di bawah dari yang saat ini sedang ditambang yang disebut dengan <em>Lift 2</em>. Cadangan baru ini sebenarnya merupakan kelanjutan ke arah bawah dari endapan yang saat ini ditambang dan disebut sebagai <em>Lift 1.</em></p>
<p><em>Lift 2</em> kini menjadi proyek tersendiri yang ditangani oleh sebuah tim khusus yang melibatkan semua disiplin ilmu terkait. Tujuannya tentu agar proyek <em>Lift 2</em> tambang Northparkes ini dapat segera beroperasi secara tepat waktu pada saat tambang <em>Lift 1</em> yang ada saat ini habis cadangannya. Dan hal itu diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun 2003.</p>
<p>Parkes, 8 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=128</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:53:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=128</guid>
<description><![CDATA[(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh
Hari ini, kembali saya ngantor di kantor tambang bawah tan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh</h2>
<p>Hari ini, kembali saya <em>ngantor </em>di kantor tambang bawah tanah. Kali ini saya banyak bergabung dengan bagian perawatan dan pemeliharaan tambang dan peralatannya (maintenance). Hal ini berkaitan dengan agenda saya untuk memahami masalah pembiayaan dalam operasi tambang Northparkes, mengingat bahwa biaya pemeliharaan (maintenance cost) tambang ini merupakan porsi terbesar dari biaya operasi penambangannya.</p>
<p>Dari omong-omong dengan para pekerja, saya baru tahu bahwa di lingkungan perusahaan tambang Northparkes tidak dikenal adanya penggolongan antara karyawan staff dan non-staff. Dapat dikatakan bahwa semua karyawannya adalah staff yang diatur melalui peraturan kepegawaian yang tertuang dalam <em>Employee Handbook</em>, mulai dari General Manager hingga operator dan administrasi. Tidak ada karyawan yang statusnya non-staff. Dengan kata lain, di perusahaan tambang ini tidak ada tidak memiliki buruh yang biasanya identik dengan karyawan non-staff.</p>
<p>Oleh karena itu, semua karyawan mempunyai jam kerja pokok yang banyaknya sesuai dengan aturan minimal yang dipersyaratkan. Tidak dikenal adanya jam kerja lembur (overtime). Rata-rata karyawan bagian operasional tambangnya bekerja 42 jam per minggu. Semua karyawan menerima gaji (salary) yang sesuai dengan jenjang kepangkatannya yang secara umum nilainya di atas rata-rata.</p>
<p>Pertanyaan saya lalu : Bagaimana kalau ada pekerjaan yang menuntut karyawan untuk bekerja di luar jam kerja yang semestinya atau perlu tambahan jam kerja? Maka secara<em> guyon</em> jawabnya adalah : "Ya, nasib.......". Artinya, sebagai karyawan staff maka pada dasarnya siap untuk diminta atau tidak diminta bekerja kapan saja sepanjang memang dibutuhkan oleh perusahaan. Demikian kira-kira bunyi peraturan kerja karyawan staff.</p>
<p>***</p>
<p>Akibat dari tidak adanya karyawan non-staff, maka tidak pula dikenal adanya Serikat Buruh (Union) karena status kepegawaiannya menjadi tidak ada karyawan yang bersatus buruh.</p>
<p>Lalu bagaimana jika ada perselisihan perburuhan? Ya, tidak akan ada yang berselisih, <em>wong</em> tidak ada buruh. Semua karyawan diatur melalui peraturan kepegawaian karyawan sejak awal pertama kali mereka masuk kerja. Memang sulit untuk mengidentifikasi sisi untung-ruginya secara mendetail. Namun yang pasti sistem ini sudah berjalan sejak pertama kali perusahaan tambang ini berdiri pada tahun 1994.</p>
<p>***</p>
<p>Diterapkannya pola kepegawaian tambang tanpa buruh ini nampaknya ingin ditiru oleh perusahaan-perusahaan tambang lainnya. Barangkali karena melihat tidak pernah terjadinya perselisihan perburuhan (<em>lha, wong</em> memang tidak punya buruh...). Tapi kenyataannya memang tidak mudah untuk mengubah pola kepegawaian konvensional menjadi pola kepegawaian dengan tanpa buruh.</p>
<p>Sistem ini agaknya hanya mungkin untuk diterapkan pada perusahaan yang baru dibuka. Sehingga sejak pertama kali penerimaan karyawan memang sudah diatur dengan perjanjian kerja bahwa mereka semua akan diperlakukan sebagai karyawan layaknya karyawan staff.</p>
<p>Agaknya pola perusahaan tanpa buruh (non-staff) ini hanya pas untuk diterapkan di perusahaan yang jumlah karyawannya kecil, sebagaimana halnya di tambang Northparkes yang jumlah keseluruhan karyawannya hanya sekitar 170 orang dan itu sudah mencakup semua jenjang kepangkatan dan bidang kegiatan. Sedikitnya jumlah karyawan ini karena banyak bidang-bidang perkerjaan yang dikontrakkan atau diserahkan kepada pihak kontraktor.</p>
<p>Apakah mungkin pola kepegawaian semacam ini diterapkan di Indonesia?</p>
<p>Parkes, 9 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=129</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:53:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=129</guid>
<description><![CDATA[(10).   Membaca Koran Dan Memburu Kanguru
Hari Jum&#8217;at ini adalah hari terakhir saya masuk ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(10).   Membaca Koran Dan Memburu Kanguru</h2>
<p>Hari Jum'at ini adalah hari terakhir saya masuk kerja ke tambang Northparkes. Tadi pagi saya memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor di luar tambang dan tidak ke bawah tanah seperti beberapa hari terakhir ini. Memeriksa kembali catatan-catatan yang saya kumpulkan, mengkonfirmasi ulang data-data, menambah informasi yang kurang serta mendiskusikannya dengan beberapa rekan lain. Mengambil beberapa foto tambang juga tidak saya lewatkan dan tentu juga saya sempatkan membaca koran terbaru saat istirahat makan siang.</p>
<p>***</p>
<p>Dari koran The Australian yang baru terpilih sebagai "Newspaper of the Year" untuk kawasan Pacific, di halaman utama terbitan hari ini saya baca berita bahwa akhirnya Megawati berhasil membentuk kabinetnya. Salah seorang menteri yang menarik perhatian saya adalah ditunjuknya Pak Dorodjatun Kuntjoro-Jakti sebagai Menko Ekuin.</p>
<p>Akhirnya Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti jadi menteri juga. Saya sebut akhirnya, karena beberapa tahun yll. nama beliau pernah sempat menjadi rumor bakal menduduki posisi yang sama tapi tidak jadi. Dan, kini jadi.</p>
<p>Ingatan saya menuju ke tahun 1999 di Houston atau tepatnya di kantor Konsulat Jendral RI di Houston, Texas. Sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat waktu itu Pak Djatun hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar sehari tentang peranan industri minyak dan gas di Indonesia.</p>
<p>Saya masih menyimpan catatan-catatan kecil dari pemikiran-pemikiran beliau yang disampaikan secara berapi-api. Sayang catatan-catatan itu kini sedang dalam perjalanan pengiriman ke Indonesia ketika saya pindahan beberapa minggu yll. sehingga saya tidak dapat membuka-buka kembali selengkapnya.</p>
<p>Namun ada hal yang (saya anggap) penting yang saya ingat, yaitu kepedulian beliau berkaitan dengan peranan tenaga ahli Indonesia dalam mengembangkan industri tambang khususnya migas sebagai kekayaan alam yang tak terbarukan. Menurut pemikirannya -- seingat saya beliau mengatakan -- bahwa umumnya tenaga ahli kita kurang terkondisikan dan kurang berani untuk mengambil resiko menjadi petualang atau wirausaha (entrepreneur) dalam menerjuni dunia usaha atau industri.</p>
<p>Apakah kira-kira kini beliau masih ingat dengan pemikirannya itu? Dan lalu "membantu" membuat terobosan, paling tidak mengkondisikan, agar tenaga ahli Indonesia lebih berperan dalam industri pertambangan khususnya migas? Atau, barangkali malah "lupa" kalau Indonesia masih punya sumber daya alam antara lain migas yang saat ini masih didominasi oleh para "entrepreneur" asing.</p>
<p>***</p>
<p>Berita kedua yang menarik perhatian saya berada di halaman tengah koran yang sama. Berita itu adalah tentang ditangkap dan dihukumnya sepasang suami-istri pengusaha situs pornografi di Amerika karena situsnya mengeksploitasi tentang pornografi anak di bawah umur.</p>
<p>Di beberapa negara bagian di Amerika, pornografi untuk orang dewasa adalah legal, tapi tidak dan cenderung sangat ketat pengawasannya kalau itu menyangkut anak di bawah umur. Seperti halnya ketatnya pengawasan terhadap anak di bawah umur yang membeli produk tembakau dan minuman beralkohol.</p>
<p>Sebagai tambahan illustrasi, ketatnya pengawasan yang sama juga saya lihat di Australia, setidaknya di negara bagian New South Wales. Toko-toko yang menjual produk tembakau kepada mereka yang berusia di bawah 18 tahun adalah pelanggaran kriminal yang dendanya bisa mencapai A$5.500. Demikian halnya terhadap produk minuman beralkohol. Kalau ingat ini kok saya jadi bertanya-tanya tentang kondisi di Indonesia yang demikian bebas.</p>
<p>Tentang situs porno itu tadi, apanya yang menarik? Ternyata <em>supplier </em>dari situs (website) porno yang bermarkas di Dallas, Texas, itu berasal dari tiga negara, yaitu Amerika sendiri, Rusia dan Indonesia. <em>Lha</em>, saya kok jadi <em>miris</em> (merasa ngeri). Rupanya diam-diam (ya memang harus diam-diam) produk Indonesia mampu menempati tiga besar dalam "memasok" konsumsi dunia akan produk haram dan <em>nggegirisi</em> (membuat perasaan ngeri) ini.</p>
<p>Tercatat dari sekitar 300.000 pelanggan situs yang per bulannya membayar US$29.95, sebesar 60% dari hasil bersihnya adalah bagian keuntungan bagi <em>supplier</em> yang tentunya termasuk para webmaster dari Indonesia itu tadi.</p>
<p>Polisi Amerika pun kini sedang mengejar tiga orang <em>supplier</em> produk pornografi anak di bawah umur dari Indonesia itu. <em>Weh....., lha jebulnya</em> (ternyata) "hebat" juga para <em>webmaster</em> kita ini dalam memanfaatkan celah peluang pasar dunia.</p>
<p>***</p>
<p>Sore hari sebelum pulang kantor, saya mengajak seorang rekan untuk menemani keliling tambang guna mengambil gambar tentang tambang Northparkes dan lingkungannya. Di antara fakta yang menarik dari tambang ini adalah bahwa Northparkes tenyata menguasai sekitar 6.000 hektar kawasan tambang dan sekitarnya.</p>
<p>Dari areal seluas itu hanya sekitar 1.630 hektar saja yang dikerjakan sebagai lokasi penambangan. Selebihnya yang tiga-perempat bagian dikelola sebagai ladang pertanian sebagai kawasan penyangga yang mengelilingi lokasi penambangan, dan hasilnya termasuk sebagai pemasukan perusahaan. </p>
<p>Di kawasan ladang perusahaan ini sering dijumpai kanguru liar yang berkeliaran. Sore itu dengan berkendaraan, saya dan seorang rekan mencoba <em>blusukan</em> (menerobos masuk) ke areal semak-semak hingga ke luar kawasan perusahaan. Tujuannya adalah mencari kanguru. Ternyata kanguru memang ada di sana, maka acara berganti menjadi memburu kanguru yang berlari kian-kemari karena terganggu oleh bunyi kendaraan.</p>
<p>Sebenarnya ada jenis binatang lain yang menyerupai kanguru, yaitu <em>wallaby</em>. Secara sepintas, <em>prejengan</em> (profil binatang) ini adalah sama persis. Susah untuk dibedakan antara kanguru dan <em>wallaby</em>, bahkan orang Australia sekalipun akan kesulitan untuk melihat bedanya. Sama seperti susahnya membedakan antara buaya (crocodile) dengan <em>alligator</em>.</p>
<p>Memang tidak mudah untuk menjumpai kanguru atau wallaby di alam aslinya, karena biasanya mereka akan segera berloncatan lari menjauh kalau terusik. Namun setidak-tidaknya, saya sempat menjumpai sekelompok kanguru di habitat aslinya sore itu. Ya, sekedar ingin tahu dan merasakan pengalaman berbeda saja. </p>
<p>Parkes, 10 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=130</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:51:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=130</guid>
<description><![CDATA[(11).  Malam Terakhir Di Parkes
Sore hari sepulang kerja saya menyempatkan untuk mampir dulu ke seb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(11).  Malam Terakhir Di Parkes</h2>
<p>Sore hari sepulang kerja saya menyempatkan untuk mampir dulu ke sebuah tempat menarik di kota Parkes. Nama tempat itu adalah Memorial Hill, yaitu sebuah bukit di tengah kota Parkes di mana di atasnya dibangun sebuah tugu atau monumen kenangan. Kenangan bagi para pejuang Parkes yang tewas di medan tugas di Asia di tahun-tahun sekitar masa Perang Dunia.</p>
<p>Kota Parkes memang mempunyai topografi yang  agak berbukit-bukit, sehingga kalau kita berdiri di puncak permukaan bukit yang di atasnya berdiri tugu kenangan itu akan tampak pemandangan kota Parkes dari ketinggian. Itu sebabnya daerah puncak bukit ini disebut Outlook Memorial Hill. Sebuah tempat yang cocok buat rekreasi, terutama di saat matahari belum tinggi atau sudah agak lengser. Sebab kalau di siang bolong tentu akan terasa panas berada di areal terbuka di atas bukit.</p>
<p>Seperti halnya yang saya lakukan senja tadi. Matahari pas menjelang tenggelam, tampak bulatannya yang bergerak amblas bumi di horizon barat kota Parkes. Berkas cahaya merahnya nampak semakin lama semakin menghilang ditelan cakrawala. Sebenarnya pemandangan yang biasa saja, tapi jarang sekali dapat saya jumpai kalau tidak sedang berada di tempat ketinggian atau di pantai.</p>
<p>***</p>
<p>Malam ini adalah malam terakhir saya di kota Parkes. Atas saran seorang rekan, saya makan malam di sebuah restoran Italia. Begitu disuguhi roti, salad, <em>steak</em>, satu poci teh dan nambah, semuanya <em>bablass</em>. Sampai pelayannya berkomentar : "Sampeyan pasti sedang lapar sekali". Dan jawaban saya singkat saja : "Nyet...." (memang), sambil agak <em>nyengenges</em> (nyengir).</p>
<p><em>Wong</em> nyatanya memang saya sedang lapar berat. Tadi siang saya hanya berbekal sebuah apel hijau. Sedangkan makan siang yang disediakan perusahaan sudah terlanjur dikirim ke kantor tambang bawah tanah, sementara saya berada di kantor di luar tambang. Jadi ya hanya sekedar <em>ngemil</em> makanan kecil saja. Untungnya saat di kantor tadi perut terasa biasa-biasa saja, justru rasa lapar berat baru datang saat di restoran tadi.</p>
<p>Besok hari Sabtu pagi saya akan meninggalkan kota Parkes yang telah saya tinggali hampir dua minggu. Yang saya ingat sebenarnya bukan dua minggunya, melainkan dua Jum'at, karena berarti sudah dua kali Jum'at saya tidak ikut sholat Jum'atan. Lha, kemana mau Jum'atan wong di Parkes tidak ada masjid dan tidak ada komunitas muslim. Masjid terdekat tentunya di kota Sydney yang berjarak 365 km atau sekitar empat jam kendaraan darat atau satu jam lewat udara.</p>
<p>Sejauh ini saya belum tahu bagaimana caranya <em>ngakalin</em> kalau tiba saatnya sholat Jum'at tapi sedang berada di tempat yang jauh dari masjid atau komunitas muslim. Setidak-tidaknya cara <em>ngakalin</em> yang dibenarkan menurut syari'ah (hukum agama Islam).</p>
<p>Padahal menurut rencana sebelumnya saya akan berada di Parkes selama enam minggu untuk mengerjakan rencana kerja yang berskala lebih besar. Kalau benar jadi demikian apa ya saya mesti setiap 2-3 kali Jum'at terbang ke Sydney untuk sholat Jum'atan agar lepas dari tiga kali berturut-turut tidak Jum'atan. Wah, mesti ada anggaran tambahan. "Untungnya" akhirnya program enam minggu diperpendek menjaqdi dua minggu saja.</p>
<p>Omong-omong soal Jum'atan (dan yang sebangsa itu) memang kedengarannya kuno karena tidak ada yang pernah membicarakannya, sehingga topik semacam ini "ditinggalkan" orang. Kalau demikian, ya <em>nyuwun sewu...</em> (mohon maaf) biar saya bicarakan sendiri saja.</p>
<p>Parkes, 10 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surat Dari Australia]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=131</link>
<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 15:50:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/?p=131</guid>
<description><![CDATA[(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney
Hari ini, Sabtu, 11 Agustus 2001, saya meningg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney</h2>
<p>Hari ini, Sabtu, 11 Agustus 2001, saya meninggalkan kota Parkes dengan menggunakan pesawat Hazelton jurusan Sydney. Sebelum ke bandara saya menyempatkan untuk jalan-jalan sebentar di Jalan Clarinda, Parkes. Keluar-masuk toko melihat dan mencari kalau-kalau ada yang menarik untuk dibeli.</p>
<p>Di toko buku "Bookcase" saya menemukan sebuah buku kecil yang berisi kumpulan humor untuk anak-anak. Judulnya "What A Laugh", harganya A$12.95 (sekitar Rp 60.000,-). Saya pikir ini pasti cocok buat oleh-oleh anak perempuan saya yang berumur 9,5 tahun. Keluar dari toko buku saya segera meluncur ke bandara yang berjarak sekitar 5 km di luar kota Parkes.</p>
<p>Bandara kecil ini rupanya tidak menerapkan prosedur pengamanan yang rumit. Tidak ada <em>security check</em> dan juga tidak ada pemeriksaan sinar-X. Cukup dengan menukar karcis pesawat dengan <em>boarding pass</em>, lalu tinggal menunggu panggilan untuk naik pesawat. Sederhana, seperti naik bis atau kereta api saja. Di ruang tunggu bandara disediakan minuman kopi, teh atau air putih. Tinggal membuatnya sendiri kalau menginginkannya.</p>
<p>Sekitar jam 10:45, bersama 10 orang penumpang lainnya, pesawat kecil tipe Metro 23 berkapasitas 19 orang segera terbang. Pesawat ini sempat mampir berhenti 15 menit di kota Bathurst untuk narik penumpang tambahan. Akhirnya sekitar jam 12:15 siang tengah hari saya sudah berada di terminal domestik bandar udara Sydney. Untuk menuju ke terminal internasional ternyata mesti naik <em>shuttle bus</em> dengan biaya A$3.00. Tidak sebagaimana waktu datang dua minggu yll, di terminal internasional terdapat <em>counter</em> untuk penerbangan domestik sehingga mereka menyediakan angkutan gratis antar terminal.</p>
<p>***</p>
<p>Di Sydney saya harus menunggu cukup lama pesawat lanjutan untuk menyeberang ke Denpasar. Saya punya waktu hampir enam jam. Lalu mau ngapain?</p>
<p>Semula saya merencanakan untuk jalan-jalan ke pusat kota Sydney. Buku panduan wisata Sydney sudah saya buka-buka. Mau ke jembatan Harbour Bridge, gedung Opera House atau pelabuhan Darling Harbour, saya sudah pernah ke sana tahun lalu. Waktu itu saya ditemani oleh Mas Yusram Rantesalu, seorang alumni Jurusan Tambang yang sedang mengambil S2 di University of New South Wales (kini saya kehilangan jejaknya, beliau ada di mana). Tentang perjalanan saya ke Sydney ini malah saya belum sempat menuliskan catatan perjalanannya keburu catatan kecil saya <em>ketlingsut</em> (terselip).</p>
<p>Mau jalan-jalan ke pantai Bondi yang terkenal itu, atau ke Kings Cross tempat ngumpulnya kaum gay dan lesbian serta jenis-jenis <em>entertainment</em> yang sewarna dengan itu, pasti cuacanya sedang panas sekali. Dan lagi, kalau siang tengah hari begini terus apanya yang bisa dinikmati, selain keramaian berseliwerannya orang dan keluar-masuk toko saja.</p>
<p>Sempat saya putuskan untuk jalan-jalan ke Royal Botanic Garden yang terletak di seberang gedung Opera House, dengan harapan akan menikmati udara segar di sebuah taman di saat siang yang cukup panas. Padahal Sydney sedang musim dingin, suhu udara sekitar 22 derajat Celcius, tapi panasnya cukup menyengat di kulit.</p>
<p>Saya lalu menuju ke stasiun kereta api bawah tanah yang ada di bandara. Ternyata stasiunnya tutup. Tidak ada kereta yang akan lewat untuk hari itu. Entah rusak, libur, dalam perbaikan, atau entah kenapa saya tidak tahu. Lalu saya pindah ke terminal bis yang akan menuju ke kota. Eh, lha ditunggu-tunggu bis yang jurusan kota kok tidak datang-datang. Tiba-tiba saya ingat, bahwa saya belum makan siang. Lalu semakin ingat lagi bahwa di Sydney ada rumah makan Padang.</p>
<p>Ini dia! Saya lalu pindah menuju ke pangkalan taksi dan segera minta diantarkan ke bilangan Kensington menuju ke rumah makan "Pondok Buyung". Serta-merta nasi putih, gulai otak, gulai nangka muda dan ikan asin segera terhidang, dan segera pula terlahap habis.</p>
<p>Di Sydney memang ada cukup banyak restoran Indonesia. Tapi bagi saya, yang satu ini lebih bersuasana Indoensia, mengingat untuk pesan makanan saya tinggal langsung menuju ke deretan menu yang berjajar di meja yang diatapi kaca (seperti rumah makan Padang di Indonesia), lalu tinggal tunjuk mau makan apa. "Paket standard" ala mahasiswa kost, nasi putih plus tiga macam lauk harganya A$6,50.</p>
<p>Rumah makan "Pondok Buyung" yang beralamat di 124 Anzac Parade, Kensington, ini saya kenal setahun yll. ketika saya sempat berkunjung ke Sydney. Pemiliknya seorang haji bernama H. Peter Syarief yang sudah belasan tahun merantau. Waktu itu sewaktu saya makan malah ditemani oleh Wak Haji Syarief yang kemudian "menuduh" saya sebagai wartawan karena sambil makan saya terus <em>ngajak</em> omong dan tanya ini-itu. Sayangnya siang tadi Wak haji sedang pulang istirahat di rumahnya.</p>
<p>Dengan makan siang di "Pondok Buyung" ini saya jadi merasa diuntungkan. Pasalnya saya sekalian bisa numpang sholat di sebuah ruangan yang berada di bagian belakang warungnya yang memang disediakan untuk itu. Hal yang sama juga saya lakukan ketika saya makan di situ tahun lalu.</p>
<p>***</p>
<p>Menjelang jam 4:00 sore saya sudah kembali berada di bandara Sydney. Bandara ini rupanya dilengkapi dengan fasilitas gratis untuk mengakses internet. Lumayan, saya lalu menyempatkan diri untuk membuka-buka email. Setelah itu saya baru <em>check-in</em>.</p>
<p>Sebentar lagi saya akan meninggalkan negeri kanguru, Australia. Ini adalah negara yang saya merasa "tidak perlu" untuk mengingat nama kalau ketemu Aussie (sebutan untuk orang Australia).</p>
<p>Lho? Ya, karena semua orang Australia mempunyai nama panggilan sama, yaitu "Mike". Di manapun jangan kaget kalau Anda dipanggil "Mike", meskipun nama Anda Bejo atau Muhammad atau Vincent atau Bonar. Atau sebaliknya, tanpa perlu tahu namanya, panggil saja dia dengan "Mike", pasti tidak keliru. Tentu saja ini berlaku untuk suasana yang tidak formal.</p>
<p>Jam 06:00 sore pesawat akan tinggal landas dari bandara Sydney dan menyeberang ke Denpasar. Tiba di Denpasar menjelang tengah malam, nginap semalam, lalu selanjutnya Insya Allah hari Minggu pagi sudah tiba di Yogya berkumpul kembali dengan anak-anak dan ibunya di sana.</p>
<p>Akhirnya, terima kasih dan wassalam.</p>
<p>Sydney, 11 Agustus 2001<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tanpa Kompromi, Ini Harga Mati]]></title>
<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/11/20/tanpa-kompromi-ini-harga-mati/</link>
<pubDate>Mon, 19 Nov 2007 19:11:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gilang</dc:creator>
<guid>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/11/20/tanpa-kompromi-ini-harga-mati/</guid>
<description><![CDATA[ 
Tiga ciri utama warga jakarta di masa mendatang: Yang pertama adalah suka mengalami sesak napas. H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/archive/2/28/20050910040813!Jakarta_farmers_protest45.jpg" alt="Kepadatan" align="right" height="186" width="186" /></p>
<p>Tiga ciri utama warga jakarta di masa mendatang: Yang pertama adalah suka mengalami <strong>sesak napas. </strong>Hal ini dikarenakan ruang gerak yang semakin terbatas sementara jumlah penduduk semakin meningkat. Hal ini secara statistik bisa dibuktikan dari penduduk Jakarta yang berjumlah sekitar 8,5 juta orang di malam hari dan 10 juta di siang hari pada tahun 2003. Jumlah tersebut mengalami peningkatan 41.18% hanya dalam dua tahun, hanya dalam dua tahun <span class="T-isi">angka itu meningkat menjadi 12 juta jiwa (data Pemda DKI Jakarta) pada malam hari dan 15 juta jiwa pada siang hari, karena arus penduduk ditambah dari area BoDeTaBek. Bayangkan angka yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, kurang lebih 95 juta jiwa penduduk. Langkah yang diperlukan untuk bisa mengatasi masalah ini adalah menciptakan peluang kerja dan pembangunan yang merata di kota-kota pendukung di luar Jakarta secara bertahap karena dengan demikian arus dan trans lintas penduduk bisa berkurang secara domisional, tanpa kompromi ini harga mati.</span><!--moreBaca lanjutannya, karena Ini Harga Mati Bung!--></p>
<p><span class="T-isi"></span> <img src="http://www.jakarta.go.id/v21/images/gambar/macet5.jpg" alt="Kemacetan" align="left" height="149" width="197" /></p>
<p>Yang kedua adalah <strong>Stres</strong>, sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah puluhan ribu mobil dan motor yang "parkir" di tengah jalan, itulah pemandangan yang harus selalu dilihat oleh warga Jakarta<strong> </strong>yang stres dan sakit disebabkan oleh tingkat kemacetan yang bisa dibilang stadium tiga. Sistem transportasi massal yang dimiliki Jakarta tampaknya tidak pernah membawa hasil yang menggembirakan melainkan justru meningkatkan kesemrawutan pola lalu lintas itu sendiri. Salah satunya hal ini terjadi karena sulitnya mengajak para pengendara mobil untuk menggunakan angkutan umum, minimal sesekali. Kampanye nasional "Bangga Berkendaraan Umum" bisa mulai dicanangkan sejalan dengan perbaikan fasilitas pendukung transportasi tersebut<span class="T-isi">, tanpa kompromi ini harga mati.</span></p>
<p><strong>Banyak omong,</strong> adalah ciri yang ketiga. Bingung kenapa? Karena saya yakin akan semakin banyak orang Jakarta yang cuma mengobral janji, solusi, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi semua masalah yang ada di Jakarta tanpa ada kesadaran untuk mulai memperbaiki dan merubah wilayah mereka sendiri, lingkungan mereka sendiri, bahkan diri mereka sendiri. Orang-orang seperti itu menganggap dirinya seakan-akan lebih penting dan bisa menyelesaikan semuanya semudah membalikkan telapak tangan dan berulang-ulang mengucapkan, "Saudara-saudara, kita harus berubah, tanpa kompromi ini harga mati."</p>
<p><span class="T-isi">  </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tidak Ada Orang Miskin di Jakarta Tahun 2050]]></title>
<link>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/30/tidak-ada-orang-miskin-di-jakarta-tahun-2050/</link>
<pubDate>Sat, 29 Sep 2007 18:15:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gilang</dc:creator>
<guid>http://jakartabutuhrevolusibudaya.com/2007/09/30/tidak-ada-orang-miskin-di-jakarta-tahun-2050/</guid>
<description><![CDATA[
The Seemingly Impossible is Possible, optimisme itulah yang diucapkan berkali-kali oleh Hans Roslin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/YpKbO6O3O3M'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/YpKbO6O3O3M&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p><strong>The Seemingly Impossible is Possible, </strong>optimisme itulah yang diucapkan berkali-kali oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hans_Rosling" target="_blank">Hans Rosling</a>, seorang peneliti dalam bidang kemiskinan dan perkembangan global, dalam presentasinya di <a href="http://www.ted.com/" target="_blank">TED</a> bulan Maret lalu di Monterey California. Menggunakan <em>software</em> statistik yang sangat canggih Hans Rosling mengungkapkan bahwa data statistik yang dikeluarkan oleh PBB tentang peningkatan kualitas hidup di negara-negara dunia menunjukkan bahwa negara-negara berkembang di Asia dan Afrika mengalami peningkatan ekonomi yang cukup signifikan dalam beberapa puluh tahun terakhir sehingga beberapa mampu menyamai kesejahteraan negara-negara maju di Barat. Ia menyimpulkan berdasarkan data tersebut bahwa tidak akan ada lagi kemiskinan di dunia pada tahun 2050.<!--more--></p>
<p><a href="http://revolusibudaya.wordpress.com/files/2007/09/jakarta_slum2.jpg" title="jakarta_slum2.jpg"><img src="http://revolusibudaya.wordpress.com/files/2007/09/jakarta_slum2.jpg" alt="jakarta_slum2.jpg" align="right" height="172" width="257" /></a>Apabila dikaitkan dengan angka kemiskinan penduduk di kota Jakarta, apakah mungkin teori Hans Rosling bisa dianggap tepat? Peran Pemerintah Daerah DKI (Pemda DKI) sangat diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengentasan kemiskinan di Jakarta. Namun melihat kinerja dan mental sumber daya manusia yang dimiliki Pemda DKI, masyarakat tampaknya harus pesimis terhadap teori tersebut. Bagaimana tidak, selama di Pemda DKI masih banyak terjadi <em>mark-up</em> anggaran yang masuk ke kantong sendiri, selama tender-tender proyek yang diadakan hanyalah sebuah sandiwara dan ilusi belaka, selama "jalan pintas" terhadap semua regulasi masih di halalkan untuk dilanggar, maka tentunya pengentasan kemiskinan bukan satu masalah yang menjadi prioritas utama.</p>
<p>Peraturan baru dari pemda DKI yang melarang masyarakatnya untuk memberikan uang kepada para pengemis karena dianggap menggangu ketertiban umum, menurut saya tidaklah serta merta menghapus jumlah pengemis atau bahkan orang miskin dari jalanan. Peraturan baru tersebut tampaknya malah dapat menimbulkan masalah sosial baru, para pengemis bisa saja menjadi geram kepada para pengguna kendaraan sehingga tingkat kriminalitas justru meningkat. Contoh lain dari <em>memblenya</em> peraturan yang dibuat Pemda DKI adalah regulasi akan larangan merokok di ruang publik yang mana sampai saat ini kita masih sering melihat orang dengan asyiknya merokok di tempat umum dengan mudahnya.</p>
<p>Kemiskinan di Jakarta memang bukan sepenuhnya tanggung jawab pemda DKI, dukungan dari seluruh masyarakat Jakarta mutlak dibutuhkan tapi peran dan tindakan aktif mereka sebagai pemerintah yang menjadi acuan dan pedoman bagi kita sebagai masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Harapan kita semua semoga apa yang diungkapkan Hans Rosling tentang <em>The Seemingly Imposible is Possible</em> bahwa ada kemungkinan kemiskinan terhapuskan di muka bumi ini benar-benar terbukti dan Indonesia khususnya Jakarta sebagai Ibukota mudah-mudahan menjadi bagian dari kondisi tersebut. Apakah mungkin?</p>
<p>Foto diambil dari <a href="http://www.menegpp.go.id/admin/upload/berita/artikel/gambar/1119333772/Jakarta_slum2.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
