<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sesal &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/sesal/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sesal"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 11:47:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[rasa sesal yang absurd]]></title>
<link>http://pibel.wordpress.com/?p=211</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 03:33:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>pibel</dc:creator>
<guid>http://pibel.wordpress.com/2008/10/11/rasa-sesal-yang-absurd/</guid>
<description><![CDATA[seminggu sudah berlalu sejak gue kehilangan tamu istimewa. sesosok makhluk mungil yang nggak pernah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>seminggu sudah berlalu sejak gue kehilangan tamu istimewa. sesosok makhluk mungil yang nggak pernah gue harap kedatangannya namun kehadirannya yang hanya sekejap ternyata mampu membuat gue gelisah memikirkannya.</p>
<p>minggu lalu, sekitar pukul sembilan malam, gue dan misua berjalan pulang dari supermarket. tiba-tiba seekor anak kucing berlari getol dari seberang jalan ke arah kami. mulanya kami pikir dia akan berlalu begitu saja seperti kucing-kucing lainnya, rupanya tidak. anak kucing belang tiga itu membaui tas plastik kresek yang kami bawa dan berjalan di antara kaki-kaki kami sampai-sampai kami ngeri dia terinjak.</p>
<p>lucunya dia seperti mengerti protes kami. dia menjauh sejenak untuk kemudian mengikuti kami dan lama-lama malah mendahului kami dengan gaya sok tahu. tiap kali kami berhenti, dia ikut berhenti, menoleh lalu menghampiri kami sambil mengeong-ngeong seperti berujar, 'cepetan, udah malem nih. gue kan laper.' karena iba melihat kekerasan hatinya demi sesuap nasi, kami putuskan untuk membawanya pulang meski ragu. nyokap nggak suka kucing, dia paling sebal mendengar eongan kucing lapar dan bulu rontok di mana-mana. selain itu waktu kecil gue pernah diminta menjauhi segala hewan berbulu karena nyaris kena bronchitis.</p>
<p>setibanya di depan pagar rumah, dia tertegun mendengar dengkingan memelas anjing tetangga yang minta diajak jalan-jalan di luar karena sudah kebelet beol. dia juga tampak ciut melihat anjing lain di rumah sebelah yang reputasinya beken sebagai catkiller (korbannya sudah banyak dengan wujud sisa kucing berleher remuk dan mata melejit keluar) sedang mendelik mengincarnya. buru-buru kugiring dia masuk rumah.</p>
<p>ternyata benar si kecil kelaparan. perutnya sampai bunyi waktu makan nasi + udang goreng (karena kebetulan nggak punya lauk ikan) yang kami beri. makannya pelan-pelan dan sering berhenti. tubuh dekilnya tampak ringkih. setelah makan dia terlelap di atas meja teras, tapi beberapa saat kemudian waktu kami tengok, dia sudah menghilang. ya mungkin saja dia berhasil menerobos keluar pagar untuk menikmati kebebasan dengan perut kenyang. jadi kami nggak perlu lagi repot-repot mengusirnya keluar.</p>
<p>pagi harinya begitu bangun, gue yang masih penasaran langsung pergi ke teras memanggil-manggil puss dekil itu. mendadak terdengar eongan dan sebentuk kepala nongol dari balik pohon kembang soka kuning di dekat pagar. bujret! rupanya semalaman dia bobo di antara batang-batang pohon.</p>
<p><a href="http://pibel.files.wordpress.com/2008/10/10042008003.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-212" title="10042008003" src="http://pibel.wordpress.com/files/2008/10/10042008003.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://pibel.files.wordpress.com/2008/10/10042008.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-213" title="10042008" src="http://pibel.wordpress.com/files/2008/10/10042008.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://pibel.files.wordpress.com/2008/10/10042008002.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-214" title="10042008002" src="http://pibel.wordpress.com/files/2008/10/10042008002.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://pibel.files.wordpress.com/2008/10/10042008001.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-215" title="10042008001" src="http://pibel.wordpress.com/files/2008/10/10042008001.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>di luar dugaan, nyokap membuatkan susu bagi si kecil. lagi-lagi minumnya nggak habis dan malah memilih bercanda manja dengan gue. ndusel-ndusel di kaki gue dan matanya merem-melek bila kepalanya dielus-elus. tiba-tiba gue jadi sedih. kasian bener si puss kesepian ini, kenapa dia salah memilih manusia. tahukah dia kalau sebentar lagi gue akan 'menendangnya keluar'? apa dia mendekati kami hanya karena tas plastik kresek mengingat dia juga menyambut pembokat gue yang baru pulang dari pasar dengan cara yang sama? apa dia merasa kecewa saat pembokat gue menjinjing tengkuknya dan membuangnya ke luar?</p>
<p>sekarang gue menyesal <img style="vertical-align:middle;" src="http://www.bluefame.com/style_emoticons/yahoo/crying_anim02.gif" border="0" alt="crying_anim02.gif" /> . tiap keluar rumah selalu berharap ketemu lagi dengan si kecil dekil. namun hingga saat ini dia nggak menampakkan diri lagi. mungkin dia telanjur sakit hati. melihat kesedihan gue, misua bilang 'seandainya dia bukan anak kucing, tapi anak kecil, belum tentu lu akan segitu pedulinya ya.'</p>
<p>benar juga. kenapa gue lebih merasa tersentuh dengan anak kucing daripada anak manusia? tapi tetap saja sindiran lembut itu belum mampu menghapus rasa sesal ini. ditambah lagi setelah mendengar temen kantor bilang kalau kucing belang tiga adalah penjaga tuan yang setia dan persentase kucing jantan belang tiga adalah 1:1000. apa gue sudah membuang kesempatan langka yang bisa jadi akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan dalam hidup gue? <!--IBF.ATTACHMENT_185--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sayonara.. Ram]]></title>
<link>http://kerongkong.wordpress.com/?p=97</link>
<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 18:16:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>alanbest</dc:creator>
<guid>http://kerongkong.wordpress.com/2008/10/01/sayonara-ram/</guid>
<description><![CDATA[pedoman jalan yang lurus..
Datang mu kali ini,
Tidak ku sambut se ada nya,
Kau tak ku usir,
Kau tak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[caption id="attachment_98" align="aligncenter" width="225" caption="pedoman jalan yang lurus.."]<a href="http://kerongkong.files.wordpress.com/2008/10/dsc02238.jpg"><img class="size-medium wp-image-98" title="dsc02238" src="http://kerongkong.wordpress.com/files/2008/10/dsc02238.jpg?w=225" alt="pedoman jalan yang lurus.." width="225" height="300" /></a>[/caption]
<p>Datang mu kali ini,</p>
<p>Tidak ku sambut se ada nya,</p>
<p>Kau tak ku usir,</p>
<p>Kau tak ku halau,</p>
<p>Tidak untuk musim ini,</p>
<p>Tapi ku palit contengan hina,</p>
<p>Terhitam dalam episod,</p>
<p>Mencari Laila jauh sekali,</p>
<p>Dan hari ini kau pergi,</p>
<p>Tinggalkan aku dengan kenangan,</p>
<p>Kekesalan mungkin,</p>
<p>Harap kau sudi singgah lagi,</p>
<p>Dalam musim yang menyusul,</p>
<p>Dan ketika itu,</p>
<p>Moga aku bukan lah aku episod ini,</p>
<p>Buatmu,</p>
<p>Untuk kali ini,</p>
<p>Dariku,</p>
<p>Sayonara...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sebuah renungan untuk ibu tersayang]]></title>
<link>http://abadhy.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:13:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>abadhy</dc:creator>
<guid>http://abadhy.wordpress.com/2008/09/26/sebuah-renungan-untuk-ibu-tersayang/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu alaikum wr wb.

Apa yang saya tulis ini tak bermaksud untuk menggurui karena saya tidaklah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;">Assalamu alaikum wr wb.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Apa yang saya tulis ini tak bermaksud untuk menggurui karena saya tidaklah lebih pintar.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Apa yang saya tulis ini tidak bermaksud untuk memarahi, karena saya tak suka kemarahan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Saya menulis ini dalam ketidaksempurnaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Tulisan ini saya buat untuk berbagi denganmu. Agar kita, saya ataukah kamu sadar tentang siapa saya, kamu mereka.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Mungkin selama ini saya pendiam, saya penyabar, iya. Itu karena saya masih merenungi arti hidup ini, mencari jati diri siapa saya sebenarnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Mungkin saya akan berbagi sedikit hal yang telah saya temukan dalam pencarian yang telah lama dan belum berhenti ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">TENTANG ORANGTUA.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Cobalah katakan pada dirimu, cobalah renungkan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Katakanlah…</p>
<p style="margin-bottom:0;">Saya ada karena kehendak Allah SWT, saya dilahirkan oleh ibu saya, saya dididik agar menjadi anak yang berguna bagi keluarga, orang tua saya selalu mendidik saya dengan <strong>KASIH SAYANG</strong>.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Orang tua mencintai anaknya dengan sepenuh hati. Tak ada yang terlewatkan.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Marilah kita merenung…</p>
<p style="margin-bottom:0;">Beberapa tahun lalu saat kita dikandung oleh orang tua, betapa bahagia mereka, mengharap anak yang akan lahir adalah anak yang berbakti dan selalu sayang kepadanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Tapi coba renungkan, apakah kita begitu?</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saat melahirkan kita, orang tua kita merasakan sakit yang amat sangat, menangis kesakitan, antara hidup dan mati.bahkan mungkin jika diberi pilihan oleh tuhan antara menyelamatkan nyawanya atau nyawa bayinya, pastilah ia akan memilih menyelamatkan bayiny, ibu memberikan kita asi waktu bay, menahan derita menggendong kita seharian.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Tapi apa????apakah kita saat ini cuma melihat beliau dengan penderitaannya, mencaci makinya, melawannya, mengacuhkannya...</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Coba renungkan…</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Sekarang apa balasan kita?????</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Saya juga pernah berkata yang tidak baik pada orang tua saya, membentak, kata-kata kasar,ejekan.hampir semua anak pernah melakukannya..</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:medium;"><strong>RENUNGILAH SEJENAK</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Pernahkah kita tahu…</p>
<p style="margin-bottom:0;">Setiap malam orang tua kita, ibu kita terbangun tengah malam dan menangis di bantalnya, menangis oleh kata kata kita yang terlalu menyakitinya????</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sadarkah kita saat kita membentak ibu kita, ternyata mereka sangat sabar, namun di belakang mereka merasakan perih di hati mereka, tangisan lirih.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Saat kita pergi meninggalkan mereka karena marah… orang tua kkita sangatlah sedih.. mereka akan menyesali diri mereka, baikkah itu?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Coba renungkan anak mana yang mau melihat orang tua mereka menangis?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Mungkin kita tak pernah mau memikirkan kepedihan yang ddirasa oleh ibu kita.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Saat kita marah, saat kita meninggalkan rumah.. ibu kita akan menangis.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Baikkah itu?senangkah kalian?anak mana yang senang membuat orangtua mereka menangis, membuat orangtua merasa sangat tak berharga hanya karena kata – kata dank kelakuan anak mereka????</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong>RENUNGKANLAH!!!!</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Mungkin saat ini beliau masih ada, masih sehat. Dan saat ini mungkin kamu sedang menuntut pendidikan, jauh dari orangtua.baikkah membuatnya sedih?</p>
<p style="margin-bottom:0;">Cobalah perhatikan, tiap libur akademik saat bertemu orang tua kita, perhatikanlah… rambut mereka makin memutih… kulit mereka makin berkerut… sinar wajahnya makin meredup… masihkah kalian belum sadar??? Kata kata yang telah kita ucapkan yang kadang membuat mereka terbangun di tengah malam untuk menangisi kata kata kasar, bentajkan itu, namun mengapan kita tak pernah menyadari. Mengapa kita tak mau minta maaf????</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Ingatlah… tak ada yang menjamin bahwa ibu kita akan tetap ada mendampingi kita saat wisuda… mungkin tahun ini saat kita pulang kita masih bisa menemui ibu kita tersayang, meskipun mereka telah tua, keriput, ubanan,</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">tetapi rennungkanlah ketika kita pulang dan yang kita temui adalah sosok yang telah terbujur kaku, kita tak lagi merasakan kasih sayangnya, yang kita temui hanyalah sebuah nisan…</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">masihkah kita ingin menyakiti hati mereka, membuat mereka menangis karena anaknya yang selalu membentaknya, meninggalkannya dalam kemarahan??</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Mungkin saat ini kita sedang bahagia, jauh dari orang tua kita? Tapi pernahkah kita berpikir, apakah orang tua saya juga disana bahagia? Mungkin saat ini kita makan enak, kkuliah enak, tidur enak.. tapi tahukah kalian bahwa orangtua kalian rela tinggal dirumah kecil, makan tahu tempe seadanya hanya untuk melihat kalian bahagia, pernahkah?????????</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Demi tuhan, andai waktu bisa kuulang…</p>
<p style="margin-bottom:0;">Mungkin saya menulis semua ini dengan tetesan air mata penyesalan, begitu juga dengan kalian yang membacanya…</p>
<p style="margin-bottom:0;">Tapi saya menulis ini bukan mengharap air mata saja, orang tua kita telah mengeluarkan lebih banyak air mata karena kita.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Demi tuhan…</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ingin ku sujud di kaki ibuku.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Meminta maaf.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Ingin ku kembali bertemu mereka, memeluknya, menangis di pelukannya yang mendamaikan hatiku, hati orang yang telah seringkali menyakiti mereka.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Ya Allah, janganlah Engkau memanggil mereka sebelum aku meminta maaf. Aku orang yang sangat berdosa, anak yang sangat berdosa.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Ayah, ibu, maafkan aku.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Anakmu yang tak tahu diri.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>RENUNGKANLAH</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">abadi abdillah</p>
<p style="margin-bottom:0;">Sabtu dinihari, jam 3 kurang 5 menit. Menanti sahur.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Di kamar 6 1b.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Rumah sakit ibnu sina UMI makassar.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kau dan aku..]]></title>
<link>http://unekunekotak.wordpress.com/?p=210</link>
<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 05:28:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>unekunekotak</dc:creator>
<guid>http://unekunekotak.wordpress.com/2008/09/20/kau-dan-aku/</guid>
<description><![CDATA[Kau dan aku benar-benar tak bisa dimengerti..
Mencoba bertahan dengan perasaan yang tak perlu..
Kau ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kau dan aku benar-benar tak bisa dimengerti..</p>
<p>Mencoba bertahan dengan perasaan yang tak perlu..</p>
<p>Kau tahu aku masih mencintaimu..apapun itu..</p>
<p>Aku tahu kau pun masih merindukanku sejauh itu..</p>
<p>Satu-satunya hal yang membuat kita masih terpisah sekarang..</p>
<p>Adalah ego dan kepatutan akan kedewasaan..</p>
<p>Kau dan aku mungkin terlalu pintar menahan diri..</p>
<p>Tanpa sadari perasaan yang terus tertahan di hati,,</p>
<p>Jikalau kita masih saling menyayangi..saling mencintai..</p>
<p>Ego apa yang akan kita biarkan membunuh perasaan ini?</p>
<p>Kepatutan apa yang akan kita biarkan pisahkan jasad-jasad ini?</p>
<p>Kau dan aku mungkin sama-sama menunggu dalam harap..</p>
<p>Mungkinkah kita bisa memulainya lagi?</p>
<p>Kau dan aku mungkin sama-sama menyimpan rasa itu..</p>
<p>Mungkinkah kita akan menyesal lagi?</p>
<p>Dan biarkan waktu yang akan temukan sisa repihan itu?</p>
<p>Haruskah kita terima takdir yang tak seharusnya?</p>
<p>Haruskah kita larut dalam sesal yang tak berakhir?</p>
<p>Entahlah..</p>
<p>Kau dan aku..adalah rahasia..</p>
<p><strong>nb. Sekali lagi..cinta adalah rahasia..</strong></p>
<p><strong>Hanya hati yang tahu..</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[S E S A L]]></title>
<link>http://shepeank.wordpress.com/?p=320</link>
<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 03:18:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>se7en</dc:creator>
<guid>http://shepeank.wordpress.com/2008/09/15/s-e-s-a-l/</guid>
<description><![CDATA[pagiku hilang
ditutup langit kelam
siangku pudar
diterpa sinar mentari menyilaukan
malamku sunyi dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>pagiku hilang<br />
ditutup langit kelam<br />
siangku pudar<br />
diterpa sinar mentari menyilaukan<br />
malamku sunyi dan sepi<br />
oleh hembusan angin menusuk tulang</p>
<p>se7en<br />
tulis : diam<br />
Kyt. Okt ’97</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ratapan Seorang Hamba]]></title>
<link>http://ukhtisyarifah.wordpress.com/?p=127</link>
<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 09:12:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>ukhtisyarifah</dc:creator>
<guid>http://ukhtisyarifah.wordpress.com/2008/09/08/ratapan-seorang-hamba/</guid>
<description><![CDATA[ Menjadi bayang2 di kegelapan
menjadi onak dalam jalan kehidupan
membuatku takut untuk melangkah men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ukhtisyarifah.files.wordpress.com/2008/09/love.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-128" title="love" src="http://ukhtisyarifah.wordpress.com/files/2008/09/love.jpg" alt="" width="93" height="129" /></a> Menjadi bayang2 di kegelapan</p>
<p>menjadi onak dalam jalan kehidupan</p>
<p>membuatku takut untuk melangkah menapaki hariku</p>
<p>menjadikanku ragu melewati hidupku</p>
<p>hitam dan penuh noda dalam hidupku</p>
<p>ku tersesat dalam dunia yagn bergelimang kenikmatan sesaat</p>
<p>ku terus nikmati hidupku yang berhjlan di rel yang salah</p>
<p>yang kuinginkan hanya kesenangan....</p>
<p>tanpa beban</p>
<p>lepas bebas keranting2 yang belum tentu</p>
<p>kuat untuk menyanggahku</p>
<p>kini.....kurasakan berat menghimpit jiwaku</p>
<p><!--more--></p>
<p>tiada kesenangan, tiada ketentraman dan kedamaian</p>
<p>yang ada hanya ketakutan dan kegelisahan</p>
<p>akan datangnya sang maut, menjemputku</p>
<p>dan membawaku ke alam yang tak pernah kukenali</p>
<p>ya Rabb.....</p>
<p>masihkan Engkau menerima taubatku</p>
<p>ya Rabb.....</p>
<p>masihkan bisa hidupku berubah</p>
<p>ya Rabb.....</p>
<p>masihkan ada jalan dan cahaya untukku</p>
<p>tuk meraih ridho dan hidayah Mu......</p>
<p>setiap malam kuratapi hidupku</p>
<p>sesal yang kurasakan membawaku dalam</p>
<p>kesedihan yang tak bertepi</p>
<p>hanya satu yang kuharapkan</p>
<p>ingin kuraih cinta dan kasih Mu</p>
<p>di jalan yang Engkau ridhoi.......</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[didi ndut : sesal]]></title>
<link>http://divanyaziegita.wordpress.com/?p=86</link>
<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 09:22:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>didi ndut</dc:creator>
<guid>http://divanyaziegita.wordpress.com/2008/07/28/didi-ndut-sesal/</guid>
<description><![CDATA[SESAL
gumpalan kata ini sempat berjejal didadaku
menyesak kemudian mengendap..
akhirnya kecewa, kau ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>SESAL</strong></p>
<p style="text-align:center;">gumpalan kata ini sempat berjejal didadaku<br />
menyesak kemudian mengendap..<br />
akhirnya kecewa, kau melenggang pergi<br />
tanpa sedikitpun lambaian tangan untukku<br />
oh.. bodohnya aku yang tak piawai mengutarakan kata cinta untukmu</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Marnaria]]></title>
<link>http://rw07.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 19:13:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hikmat Surya Permana</dc:creator>
<guid>http://rw07.wordpress.com/2008/07/20/marnaria/</guid>
<description><![CDATA[Bila hati telah berkata
Rasa bimbang yang berbilang
Walau suara jiwa begitu kuat
Rendah diri membuat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bila hati telah berkata<br />
Rasa bimbang yang berbilang</p>
<p>Walau suara jiwa begitu kuat<br />
Rendah diri membuat lemah</p>
<p>Kala kenyataan telah terungkap<br />
Hanya penyesalanlah yang tersingkap</p>
<hr size="1">
<blockquote><p>Marnaria, sebuah suara hati yang diabaikan<br />
Kamis, 25 April 2002, 02:00 am</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasi jadi bubur...]]></title>
<link>http://tiadahenti.wordpress.com/?p=63</link>
<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 05:42:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>akulagi83</dc:creator>
<guid>http://tiadahenti.wordpress.com/2008/06/28/nasi-jadi-bubur/</guid>
<description><![CDATA[ 

&#8220;Maaaaddd&#8230;banguuunnn,&#8221; Kumim menjerit mengejutku dari muka pintu bilikku. Aku m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&#62; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   AR-SA &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62; &#60;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&#62; &#60;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://farm1.static.flickr.com/25/63267831_ab527aa0f4.jpg?v=0" alt="" width="500" height="400" /></p>
<p style="text-align:justify;">"Maaaaddd...banguuunnn," Kumim menjerit mengejutku dari muka pintu bilikku. Aku menggosok-gosok mataku yang tidak gatal itu sambil mengerling ke arah jam dinding yang terletak setentang dengan katilku. Pukul 7.30 pagi. "Aduss...buang tebiat ape si Kumim nih. Tak ada kerja lain ke nak kejut aku pagi-pagi buta ni...pak arab pon belom bangun lagi tau tak...," aku bermonolog sendirian.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Memang menjadi rutin harianku selama cuti final<em> sem </em>ini untuk bangun pada pukul 10.00 pagi. " Anta nak pegi kelas tak?...pukul 7.30 dah nih...kelas mule kol 8.." Kumim yang masih tercegat di muka pintu menyambung sisa-sisa katanya. " Aik..dah <em>start </em>kelas ke..rasenye baru berape hari je aku cuti..ke Kumim yang silap kalendar kot. Entah kalendar cina mane tah die tengok..," aku cuba membuat kesimpulan. Aku bergegas melihat aplikasi <em>Rainlander </em>yang tertera di bucu kanan skrin <em>laptop</em>ku. 10 November-kelas mula.</p>
<p style="text-align:justify;">" Betol ke kelas mule hari ni," aku melontarkan pertanyaan kepada Kumim yang baru hendak berganjak. " Abes tu bile?..tahun depan?.." Kumim memerliku. " Tu laaa...orang suruh rancang awal-awal cuti, tak naak. Dok pegi layan <em>PEStol </em>laa...<em>Wan litre Tears</em> laa...<em>Snow white prince</em> laa...tengok..sekarang dah jadi ape...sampai kelas mula bila pon dah lupa. Seronok sangat la tu cuti wat keje-keje tuh.." Kumim sempat berleter sebelum bergegas memakai stokin dan menyarung kasut <em>Lee </em>yang tersusun di atas rak kasut. Bunyi pintu ditutup menandakan Kumim sudah keluar menapak ke kuliah. <em>Ahli Beit </em>yang lain semuanya sudah keluar lebih awal. Aku terpinga-pinga keseorangan. Kepalaku ligat berputar memikirkan kembali aktiviti-aktiviti yang telah aku buat sepanjang cuti dua minggu yang lepas. Makan..tido...movie...game..makan..movie..game..tido. Perasaan menyesal menyerbu benak pemikiranku. Cuti dua bulan dibazirkan begitu sahaja tanpa diisi dengan perkara-perkara yang bermanfaat. Nasi sudah menjadi bubur.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mencapai tuala dan berus gigi untuk bersiap-siap sebelum memulakan sesi pembelajaran yang baru. Kata-kata Kumim aku ambil sebagai satu nasihat. Moga ianya tidak berulang lagi....</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA                           &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:8pt;">*Artikel ini diterbitkan semula ditambah beberapa pengubahsuaian dari gen6_mdcairo@yahoogroups.com dengan izin penulis.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<h5><!--[if gte mso 9]&#62; Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   AR-SA &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62; &#60;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&#62; &#60;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></h5>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(Jangan) sesali dan tangisi lagi]]></title>
<link>http://coffeeoriental.wordpress.com/?p=493</link>
<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 08:34:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deddy Huang</dc:creator>
<guid>http://coffeeoriental.wordpress.com/2008/06/03/jangan-sesali-dan-tangisi-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Apakah sesuatu yang telah terjadi harus disesalin dan ditangisin? Nasehat ayah sama anaknya: Nasi su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Apakah sesuatu yang telah terjadi harus disesalin dan ditangisin? Nasehat ayah sama anaknya: Nasi sudah jadi bubur.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua berawal dari pikiran, hal yang sudah terjadi tidak mungkin akan balik lagi (realistis dong). Sudah seminggu komputer saya masih terluntang lantung oleh virus, saya sudah coba cari bantuan dari teman-teman. Antivirus sudah saya coba, tapi hasilnya nihil dan seperti postingan kemarin kalau tinggal nunggu waktu yang kosong maka saya akan re-install.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya berharap lain waktu saya tidak ceroboh dan pemalas lagi.. hiks..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari itu..]]></title>
<link>http://rahakrist.wordpress.com/?p=157</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 16:01:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>rahakrist</dc:creator>
<guid>http://rahakrist.wordpress.com/2008/05/12/hari-itu/</guid>
<description><![CDATA[Seharian..
Aku diam seribu bahasa
Aku pasang muka jutex n bete
Aku  cuek banget
Aku masih kesel
Aku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Seharian..</p>
<p style="text-align:center;">Aku diam seribu bahasa</p>
<p style="text-align:center;">Aku pasang muka jutex n bete</p>
<p style="text-align:center;">Aku  cuek banget</p>
<p style="text-align:center;">Aku masih kesel</p>
<p style="text-align:center;">Aku masih marah</p>
<p style="text-align:center;">Aku keras hati</p>
<p style="text-align:center;">Aku ketus</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Dan malamnya..</p>
<p style="text-align:center;">Dia pergi...</p>
<p style="text-align:center;">Tanpa pesan..</p>
<p style="text-align:center;">Tanpa jejak..</p>
<p style="text-align:center;">Tak bisa dihubungi..</p>
<p style="text-align:center;">Aku duduk sendiri</p>
<p style="text-align:center;">Melamun..</p>
<p style="text-align:center;">Pandangi setiap dinding kamar</p>
<p style="text-align:center;">Sepi..</p>
<p style="text-align:center;">Sedih...</p>
<p style="text-align:center;">Menyesal..</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Tak ku tanya mengapa?</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Aku tau sebabnya...</p>
<p style="text-align:center;">Karena HARI ITU</p>
<p style="text-align:center;"><strong>AKU  BEGITU MENYEBALKAN.....!!!</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hurairah Kucing Yang Setia]]></title>
<link>http://smzblog.wordpress.com/?p=307</link>
<pubDate>Sat, 03 May 2008 16:17:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muhd Afiq</dc:creator>
<guid>http://smzblog.wordpress.com/2008/05/03/hurairah-kucing-yang-setia/</guid>
<description><![CDATA[Malam itu gerimis turun. Angin pun bertiup sungguh sangat dingin. Tapi kedua suami isteri yang tingg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Malam itu gerimis turun. Angin pun bertiup sungguh sangat dingin. Tapi kedua suami isteri yang tinggal di sebuah rumah kecil itu berkeinginan betul hendak keluar juga. Kerana ibu si suami itu dalam keadaan sakit tenat, mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja. Hanya yang sangat merisaukan hati mereka, bagaimana dengan anaknya Harun, anak mereka yang baru saja berumur empat bulan. Kalau diajak pergi takut masuk angin dan dapat berakibat sakit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--more--><span>“Bagaimana Aminah, kita bawa saja Harun?” Tanya si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Jangan bang, angin kencang,” cegah isterinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Habis siapa yang akan menjaganya di rumah? Apakah mungkin akan kita tinggalkan dia sendirian? Aku tak sanggup, sebab rumah kita ini terlalu dekat dengan tanah perkuburan,” kata si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Ah, abang, janganlah berfikir yang bukan-bukan,” kata isterinya yang cantik dan manis itu. “kan ada Hurairah (kucing) di rumah. Dia saja kita suruh menjaga Harun.” Kata si isteri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Betul juga, mengapa aku tidak ingat pada si Hurairah.” Balas suaminya dengan gembira. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Meong....” teriaknya kemudian. Maka terdengarlah suara Hurairah membalas suara tuannya itu. Lalu dengan langkah-langkah kecil dia mendekati tuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Wahai Hurairah, malam ini engkau tidak usah menjaga lumbung padi dari dimakan oleh tikus-tikus, kami berdua mahu pergi, oleh kerana itu jagalah si Harun,” kata si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Kucing yang cantik itu mengeong sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Kalau boleh berkata dia akan menjawab: “Jangan bimbang tuan, saya akan menunggu dan menjaga si Harun supaya ia tertidur dengan nyenyak. Tidak akan saya izinkan seekor nyamuk pun hinggap di tubuhnya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setelah berpesan begitu, maka pasangan suami dan isteri itu pun berangkat dengan perasaan lega. Mereka tahu bahawa Hurairah akan melakukan pekerjaannya dengan baik, sebab dia adalah seekor kucing yang sangat setia dengan majikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setelah melihat majikannya sudah pergi, maka Hurairah dengan cepat dan diam-diam melompat ke atas tempat tidur. Ia duduk di sebelah si Harun yang tengah mendengkur dengan nyenyaknya. Ekornya dikibas-kibaskannya agar tidak seekor nyamuk pun yang berani mengganggunya. Matanya dengan tajam mengawasi sekelilingnya, sementara kedua kaki depannya siap mencakarkan kukunya kepada siapa saja yang berniat untuk mengusik ketenangan majikan kecilnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Menjelang pukul sepuluh malam, tiba-tiba kucing itu mendengar bunyi mendesis dari bawah tempat tidur. Dengan secepat mungkin Hurairah memasang kuda-kuda serta siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Matanya tiba-tiba terbeliak terkejut dan marah, ketika melihat sebuah mulut yang ternganga dengan taring dan lidah yang menjulur panjang. Rupanya dia adalah seekor ular besar yang sudah siap untuk menelan Harun yang masih kecil itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Dengan cepat Hurairah melompat, giginya langsung masuk menghunjam ke leher ular tersebut, dan cakarnya menyerang dengan buas. Ular itu murka kerana niatnya dihalang-halangi oleh makhluk lain. Matanya merah seperti besi terbakar. Dia membalas menyerang dengan hebat. Badan Hurairah dibelit dengan kuat, sambil mulutnya mematuk-matuk muka Hurairah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Hurairah hampir kehabisan tenaga, kerana dibelit oleh ular besar itu, manakala mukanya pun telah berlumuran darah. Namun dia tidak mahu binasa sebelum dapat membunuh ular tersebut. Dengan segala kemampuan dan kesakitannya, ia berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak tersayang kedua majikannya itu. Akhirnya ia berhasil melepaskan diri, lalu dengan cepat menerkam leher ular itu. Digigitnya batang leher makhluk jahat tersebut sekuat tenaga sehingga akhirnya matilah musuhnya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Begitu dilihatnya binatang pengganggu itu sudah tergolek kaku, barulah Hurairah dengan sisa-sisa tenaganya naik lagi ke atas tempat tidur si Harun dan duduk semula di samping si Harun. Anak kecil itu masih tertidur dengan nyenyak. Hurairah menjilat-jilat lukanya, sementara rasa pedih dan letih terasa sekujur badannya. Mulutnya masih penuh dengan darah ular tadi, sedangkan pada mukanya terdapat luka-luka yang menganga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Belum pulih lagi tenaganya, akan tetapi secara tiba-tiba dia mendengar suara majikannya di halaman rumah. Dengan gerakan yang lemah dan lunglai, Hurairah turun dari tempat tidur. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke pintu, menyambut kedatangan kedua majikannya yang sangat dicintainya itu. Dilihatnya ibu Harun berjalan menunduk sambil terisak-isak. Bapanya pula terlihat sangat sedih. Hurairah pun ikut berdukacita memperhatikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Mereka berbimbingan tangan memasuki halaman rumah. Ketika mereka tiba di depan pintu, Hurairah berbunyi lembut: “Ngeong...., ngeong...., sambil terhuyung-huyung mendekati majikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tiba-tiba saja ibu Harun menjerit, “Bang....! Harun bang....!” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Suaminya terperanjat tapi tidak mengerti, “Mengapa Harun Aminah?” Tanya suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Lihatlah si Hurairah, mulutnya berlumuran darah. Pasti anak kita telah diterkam dan dibunuhnya. Oh, Harun.... anak kita, bang. Bunuh Hurairah, bang! Ia telah memakan anak kita!” Kata si isteri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Si suami baru tahu apa yang dimaksudkan oleh isterinya. “Betul! Mulut Hurairah penuh dengan darah segar, pasti Harun telah diterkamnya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Tanpa berfikir panjang, si suami lalu mengambil besi. Dengan penuh kemurkaan lalu dipukulnya benda keras itu ke tubuh si Hurairah. Kucing itu menjerit; “ngeong....” Lelaki itu bertambah marahnya lagi, lalu diambilnya pula sebuah batu, ditimpakannya ke kepala Hurairah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Maka bercucuranlah darah dari kepala binatang yang tidak berdosa itu. Badannya terkejang-kejang. Dari matanya mengeluarkan air mata yang jernih satu-satu. Setelah mengeong untuk terakhir kalinya, kucing yang cantik itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Melihat korbannya sudah mati, maka pasangan suami isteri itu terburu-buru masuk ke bilik. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat suasana bilik itu. Yang nampak pertama kali di depan pintu adalah bangkai seekor ular besar yang hampir putus lehernya. Maka dengan hati berdebar-debar mereka berlari ke tempat tidur. Ternyata anaknya Harun masih tetap dalam keadaan tertidur nyenyak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Barulah mereka dapat meneka apa yang telah terjadi selama mereka tidak berada di rumah tadi. Bukan Hurairah yang bersalah, ternyata kucing itu telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan anak mereka. Seketika itu juga pucatlah wajah mereka. Mereka menyesal berkepanjangan. Ternyata Hurairah adalah kucing yang tetap setia. Dia tidak mempedulikan keselamatan dirinya asalkan tugas yang dipercayakan kepadanya ditunaikannya. Kalau perlu dirinya sendiri menjadi korban untuk menyelamatkan nyawa majikan kecilnya. Namun balasan yang diterimanya bukan belaian kasih sayang dan terima kasih, akan tetapi nyawanya dihabiskan dengan penuh kekejaman. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Suami isteri itu menangis tersedu-sedu menyesali kesalahannya, ia bertaubat kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak lagi berbuat semena-mena terhadap binatang yang tidak berdosa, tanpa periksa terlebih dahulu. Bangkai Hurairah diangkat dan diciumnya, tapi yang sudah pergi tidak akan kembali, dan penyesalan mereka juga sudah tidak bererti, kerana yang sudah mati itu tidak akan hidup lagi. Cuma sebagai pedoman atau pengajaran buat masa yang akan datang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Malam itu gerimis turun. Angin pun bertiup sungguh sangat dingin. Tapi kedua suami isteri yang tinggal di sebuah rumah kecil itu berkeinginan betul hendak keluar juga. Kerana ibu si suami itu dalam keadaan sakit tenat, mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja. Hanya yang sangat merisaukan hati mereka, bagaimana dengan anaknya Harun, anak mereka yang baru saja berumur empat bulan. Kalau diajak pergi takut masuk angin dan dapat berakibat sakit. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Bagaimana Aminah, kita bawa saja Harun?” Tanya si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Jangan bang, angin kencang,” cegah isterinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Habis siapa yang akan menjaganya di rumah? Apakah mungkin akan kita tinggalkan dia sendirian? Aku tak sanggup, sebab rumah kita ini terlalu dekat dengan tanah perkuburan,” kata si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Ah, abang, janganlah berfikir yang bukan-bukan,” kata isterinya yang cantik dan manis itu. “kan ada Hurairah (kucing) di rumah. Dia saja kita suruh menjaga Harun.” Kata si isteri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Betul juga, mengapa aku tidak ingat pada si Hurairah.” Balas suaminya dengan gembira. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Meong....” teriaknya kemudian. Maka terdengarlah suara Hurairah membalas suara tuannya itu. Lalu dengan langkah-langkah kecil dia mendekati tuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Wahai Hurairah, malam ini engkau tidak usah menjaga lumbung padi dari dimakan oleh tikus-tikus, kami berdua mahu pergi, oleh kerana itu jagalah si Harun,” kata si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Kucing yang cantik itu mengeong sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Kalau boleh berkata dia akan menjawab: “Jangan bimbang tuan, saya akan menunggu dan menjaga si Harun supaya ia tertidur dengan nyenyak. Tidak akan saya izinkan seekor nyamuk pun hinggap di tubuhnya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setelah berpesan begitu, maka pasangan suami dan isteri itu pun berangkat dengan perasaan lega. Mereka tahu bahawa Hurairah akan melakukan pekerjaannya dengan baik, sebab dia adalah seekor kucing yang sangat setia dengan majikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setelah melihat majikannya sudah pergi, maka Hurairah dengan cepat dan diam-diam melompat ke atas tempat tidur. Ia duduk di sebelah si Harun yang tengah mendengkur dengan nyenyaknya. Ekornya dikibas-kibaskannya agar tidak seekor nyamuk pun yang berani mengganggunya. Matanya dengan tajam mengawasi sekelilingnya, sementara kedua kaki depannya siap mencakarkan kukunya kepada siapa saja yang berniat untuk mengusik ketenangan majikan kecilnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Menjelang pukul sepuluh malam, tiba-tiba kucing itu mendengar bunyi mendesis dari bawah tempat tidur. Dengan secepat mungkin Hurairah memasang kuda-kuda serta siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Matanya tiba-tiba terbeliak terkejut dan marah, ketika melihat sebuah mulut yang ternganga dengan taring dan lidah yang menjulur panjang. Rupanya dia adalah seekor ular besar yang sudah siap untuk menelan Harun yang masih kecil itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Dengan cepat Hurairah melompat, giginya langsung masuk menghunjam ke leher ular tersebut, dan cakarnya menyerang dengan buas. Ular itu murka kerana niatnya dihalang-halangi oleh makhluk lain. Matanya merah seperti besi terbakar. Dia membalas menyerang dengan hebat. Badan Hurairah dibelit dengan kuat, sambil mulutnya mematuk-matuk muka Hurairah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Hurairah hampir kehabisan tenaga, kerana dibelit oleh ular besar itu, manakala mukanya pun telah berlumuran darah. Namun dia tidak mahu binasa sebelum dapat membunuh ular tersebut. Dengan segala kemampuan dan kesakitannya, ia berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak tersayang kedua majikannya itu. Akhirnya ia berhasil melepaskan diri, lalu dengan cepat menerkam leher ular itu. Digigitnya batang leher makhluk jahat tersebut sekuat tenaga sehingga akhirnya matilah musuhnya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Begitu dilihatnya binatang pengganggu itu sudah tergolek kaku, barulah Hurairah dengan sisa-sisa tenaganya naik lagi ke atas tempat tidur si Harun dan duduk semula di samping si Harun. Anak kecil itu masih tertidur dengan nyenyak. Hurairah menjilat-jilat lukanya, sementara rasa pedih dan letih terasa sekujur badannya. Mulutnya masih penuh dengan darah ular tadi, sedangkan pada mukanya terdapat luka-luka yang menganga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Belum pulih lagi tenaganya, akan tetapi secara tiba-tiba dia mendengar suara majikannya di halaman rumah. Dengan gerakan yang lemah dan lunglai, Hurairah turun dari tempat tidur. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke pintu, menyambut kedatangan kedua majikannya yang sangat dicintainya itu. Dilihatnya ibu Harun berjalan menunduk sambil terisak-isak. Bapanya pula terlihat sangat sedih. Hurairah pun ikut berdukacita memperhatikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Mereka berbimbingan tangan memasuki halaman rumah. Ketika mereka tiba di depan pintu, Hurairah berbunyi lembut: “Ngeong...., ngeong...., sambil terhuyung-huyung mendekati majikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tiba-tiba saja ibu Harun menjerit, “Bang....! Harun bang....!” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Suaminya terperanjat tapi tidak mengerti, “Mengapa Harun Aminah?” Tanya suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Lihatlah si Hurairah, mulutnya berlumuran darah. Pasti anak kita telah diterkam dan dibunuhnya. Oh, Harun.... anak kita, bang. Bunuh Hurairah, bang! Ia telah memakan anak kita!” Kata si isteri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Si suami baru tahu apa yang dimaksudkan oleh isterinya. “Betul! Mulut Hurairah penuh dengan darah segar, pasti Harun telah diterkamnya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Tanpa berfikir panjang, si suami lalu mengambil besi. Dengan penuh kemurkaan lalu dipukulnya benda keras itu ke tubuh si Hurairah. Kucing itu menjerit; “ngeong....” Lelaki itu bertambah marahnya lagi, lalu diambilnya pula sebuah batu, ditimpakannya ke kepala Hurairah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Maka bercucuranlah darah dari kepala binatang yang tidak berdosa itu. Badannya terkejang-kejang. Dari matanya mengeluarkan air mata yang jernih satu-satu. Setelah mengeong untuk terakhir kalinya, kucing yang cantik itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Melihat korbannya sudah mati, maka pasangan suami isteri itu terburu-buru masuk ke bilik. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat suasana bilik itu. Yang nampak pertama kali di depan pintu adalah bangkai seekor ular besar yang hampir putus lehernya. Maka dengan hati berdebar-debar mereka berlari ke tempat tidur. Ternyata anaknya Harun masih tetap dalam keadaan tertidur nyenyak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Barulah mereka dapat meneka apa yang telah terjadi selama mereka tidak berada di rumah tadi. Bukan Hurairah yang bersalah, ternyata kucing itu telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan anak mereka. Seketika itu juga pucatlah wajah mereka. Mereka menyesal berkepanjangan. Ternyata Hurairah adalah kucing yang tetap setia. Dia tidak mempedulikan keselamatan dirinya asalkan tugas yang dipercayakan kepadanya ditunaikannya. Kalau perlu dirinya sendiri menjadi korban untuk menyelamatkan nyawa majikan kecilnya. Namun balasan yang diterimanya bukan belaian kasih sayang dan terima kasih, akan tetapi nyawanya dihabiskan dengan penuh kekejaman. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Suami isteri itu menangis tersedu-sedu menyesali kesalahannya, ia bertaubat kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak lagi berbuat semena-mena terhadap binatang yang tidak berdosa, tanpa periksa terlebih dahulu. Bangkai Hurairah diangkat dan diciumnya, tapi yang sudah pergi tidak akan kembali, dan penyesalan mereka juga sudah tidak bererti, kerana yang sudah mati itu tidak akan hidup lagi. Cuma sebagai pedoman atau pengajaran buat masa yang akan datang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Malam itu gerimis turun. Angin pun bertiup sungguh sangat dingin. Tapi kedua suami isteri yang tinggal di sebuah rumah kecil itu berkeinginan betul hendak keluar juga. Kerana ibu si suami itu dalam keadaan sakit tenat, mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja. Hanya yang sangat merisaukan hati mereka, bagaimana dengan anaknya Harun, anak mereka yang baru saja berumur empat bulan. Kalau diajak pergi takut masuk angin dan dapat berakibat sakit. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Bagaimana Aminah, kita bawa saja Harun?” Tanya si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Jangan bang, angin kencang,” cegah isterinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Habis siapa yang akan menjaganya di rumah? Apakah mungkin akan kita tinggalkan dia sendirian? Aku tak sanggup, sebab rumah kita ini terlalu dekat dengan tanah perkuburan,” kata si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Ah, abang, janganlah berfikir yang bukan-bukan,” kata isterinya yang cantik dan manis itu. “kan ada Hurairah (kucing) di rumah. Dia saja kita suruh menjaga Harun.” Kata si isteri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Betul juga, mengapa aku tidak ingat pada si Hurairah.” Balas suaminya dengan gembira. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Meong....” teriaknya kemudian. Maka terdengarlah suara Hurairah membalas suara tuannya itu. Lalu dengan langkah-langkah kecil dia mendekati tuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Wahai Hurairah, malam ini engkau tidak usah menjaga lumbung padi dari dimakan oleh tikus-tikus, kami berdua mahu pergi, oleh kerana itu jagalah si Harun,” kata si suami. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Kucing yang cantik itu mengeong sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Kalau boleh berkata dia akan menjawab: “Jangan bimbang tuan, saya akan menunggu dan menjaga si Harun supaya ia tertidur dengan nyenyak. Tidak akan saya izinkan seekor nyamuk pun hinggap di tubuhnya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setelah berpesan begitu, maka pasangan suami dan isteri itu pun berangkat dengan perasaan lega. Mereka tahu bahawa Hurairah akan melakukan pekerjaannya dengan baik, sebab dia adalah seekor kucing yang sangat setia dengan majikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Setelah melihat majikannya sudah pergi, maka Hurairah dengan cepat dan diam-diam melompat ke atas tempat tidur. Ia duduk di sebelah si Harun yang tengah mendengkur dengan nyenyaknya. Ekornya dikibas-kibaskannya agar tidak seekor nyamuk pun yang berani mengganggunya. Matanya dengan tajam mengawasi sekelilingnya, sementara kedua kaki depannya siap mencakarkan kukunya kepada siapa saja yang berniat untuk mengusik ketenangan majikan kecilnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Menjelang pukul sepuluh malam, tiba-tiba kucing itu mendengar bunyi mendesis dari bawah tempat tidur. Dengan secepat mungkin Hurairah memasang kuda-kuda serta siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Matanya tiba-tiba terbeliak terkejut dan marah, ketika melihat sebuah mulut yang ternganga dengan taring dan lidah yang menjulur panjang. Rupanya dia adalah seekor ular besar yang sudah siap untuk menelan Harun yang masih kecil itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Dengan cepat Hurairah melompat, giginya langsung masuk menghunjam ke leher ular tersebut, dan cakarnya menyerang dengan buas. Ular itu murka kerana niatnya dihalang-halangi oleh makhluk lain. Matanya merah seperti besi terbakar. Dia membalas menyerang dengan hebat. Badan Hurairah dibelit dengan kuat, sambil mulutnya mematuk-matuk muka Hurairah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Hurairah hampir kehabisan tenaga, kerana dibelit oleh ular besar itu, manakala mukanya pun telah berlumuran darah. Namun dia tidak mahu binasa sebelum dapat membunuh ular tersebut. Dengan segala kemampuan dan kesakitannya, ia berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak tersayang kedua majikannya itu. Akhirnya ia berhasil melepaskan diri, lalu dengan cepat menerkam leher ular itu. Digigitnya batang leher makhluk jahat tersebut sekuat tenaga sehingga akhirnya matilah musuhnya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Begitu dilihatnya binatang pengganggu itu sudah tergolek kaku, barulah Hurairah dengan sisa-sisa tenaganya naik lagi ke atas tempat tidur si Harun dan duduk semula di samping si Harun. Anak kecil itu masih tertidur dengan nyenyak. Hurairah menjilat-jilat lukanya, sementara rasa pedih dan letih terasa sekujur badannya. Mulutnya masih penuh dengan darah ular tadi, sedangkan pada mukanya terdapat luka-luka yang menganga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Belum pulih lagi tenaganya, akan tetapi secara tiba-tiba dia mendengar suara majikannya di halaman rumah. Dengan gerakan yang lemah dan lunglai, Hurairah turun dari tempat tidur. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke pintu, menyambut kedatangan kedua majikannya yang sangat dicintainya itu. Dilihatnya ibu Harun berjalan menunduk sambil terisak-isak. Bapanya pula terlihat sangat sedih. Hurairah pun ikut berdukacita memperhatikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Mereka berbimbingan tangan memasuki halaman rumah. Ketika mereka tiba di depan pintu, Hurairah berbunyi lembut: “Ngeong...., ngeong...., sambil terhuyung-huyung mendekati majikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tiba-tiba saja ibu Harun menjerit, “Bang....! Harun bang....!” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Suaminya terperanjat tapi tidak mengerti, “Mengapa Harun Aminah?” Tanya suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>“Lihatlah si Hurairah, mulutnya berlumuran darah. Pasti anak kita telah diterkam dan dibunuhnya. Oh, Harun.... anak kita, bang. Bunuh Hurairah, bang! Ia telah memakan anak kita!” Kata si isteri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Si suami baru tahu apa yang dimaksudkan oleh isterinya. “Betul! Mulut Hurairah penuh dengan darah segar, pasti Harun telah diterkamnya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Tanpa berfikir panjang, si suami lalu mengambil besi. Dengan penuh kemurkaan lalu dipukulnya benda keras itu ke tubuh si Hurairah. Kucing itu menjerit; “ngeong....” Lelaki itu bertambah marahnya lagi, lalu diambilnya pula sebuah batu, ditimpakannya ke kepala Hurairah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Maka bercucuranlah darah dari kepala binatang yang tidak berdosa itu. Badannya terkejang-kejang. Dari matanya mengeluarkan air mata yang jernih satu-satu. Setelah mengeong untuk terakhir kalinya, kucing yang cantik itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Melihat korbannya sudah mati, maka pasangan suami isteri itu terburu-buru masuk ke bilik. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat suasana bilik itu. Yang nampak pertama kali di depan pintu adalah bangkai seekor ular besar yang hampir putus lehernya. Maka dengan hati berdebar-debar mereka berlari ke tempat tidur. Ternyata anaknya Harun masih tetap dalam keadaan tertidur nyenyak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Barulah mereka dapat meneka apa yang telah terjadi selama mereka tidak berada di rumah tadi. Bukan Hurairah yang bersalah, ternyata kucing itu telah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan anak mereka. Seketika itu juga pucatlah wajah mereka. Mereka menyesal berkepanjangan. Ternyata Hurairah adalah kucing yang tetap setia. Dia tidak mempedulikan keselamatan dirinya asalkan tugas yang dipercayakan kepadanya ditunaikannya. Kalau perlu dirinya sendiri menjadi korban untuk menyelamatkan nyawa majikan kecilnya. Namun balasan yang diterimanya bukan belaian kasih sayang dan terima kasih, akan tetapi nyawanya dihabiskan dengan penuh kekejaman. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> Suami isteri itu menangis tersedu-sedu menyesali kesalahannya, ia bertaubat kepada Allah SWT serta berjanji untuk tidak lagi berbuat semena-mena terhadap binatang yang tidak berdosa, tanpa periksa terlebih dahulu. Bangkai Hurairah diangkat dan diciumnya, tapi yang sudah pergi tidak akan kembali, dan penyesalan mereka juga sudah tidak bererti, kerana yang sudah mati itu tidak akan hidup lagi. Cuma sebagai pedoman atau pengajaran buat masa yang akan datang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Air Mata Sesalan - Dr. Harun Din]]></title>
<link>http://ceramahislam.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 14:43:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>hangtuah19</dc:creator>
<guid>http://ceramahislam.wordpress.com/2008/04/17/air-mata-sesalan-dr-harun-din/</guid>
<description><![CDATA[
Download link
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>[vodpod id=Groupvideo.1108736&#38;w=425&#38;h=250&#38;fv=]</p>
<p><a href="http://www.mediafire.com/?sharekey=c5d903fd5d0bcf218c9e7c56ba37815f4a7a78bb06ca1fcb">Download link</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Demo ]]></title>
<link>http://samadenganband.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 06:16:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>samadenganband</dc:creator>
<guid>http://samadenganband.wordpress.com/2008/04/12/demo/</guid>
<description><![CDATA[Demo lagu Samadengan Band dengan judul Sesal dan Aku Untuk Membencimu

Download Demo &#8220;Sesal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Demo lagu Samadengan Band dengan judul Sesal dan Aku Untuk Membencimu</p>
<ul>
<li><a href="http://www.modulindo.com/~dayat/music_demo/Sesal.wma">Download Demo "Sesal"</a></li>
<li><a href="http://www.modulindo.com/~dayat/music_demo/Aku_u_membencimu.wma">Download Demo "Aku Untuk Membencimu"</a></li>
</ul>
<p>Demo file dalam format WMA</p>
<p><em>(Untuk dapat men-download lagu, silahkan hubungi Fitri (08128107936) untuk mendapatkan <strong>user </strong>dan <strong>password</strong>)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[What is right it doesn't matter ; What's important is which decision you will not regret]]></title>
<link>http://khomeinimuj.wordpress.com/?p=72</link>
<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 12:34:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>khomeinimuj</dc:creator>
<guid>http://khomeinimuj.wordpress.com/2008/02/27/what-is-right-it-doesnt-matter-whats-important-is-which-decision-you-will-not-regret/</guid>
<description><![CDATA[i don&#8217;t know why i like this quotes so much..maybe because i&#8217;ve been thru so many choice]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>i don't know why i like this quotes so much..maybe because i've been thru so many choices in my life, or maybe too many wrong decision, or maybe i always regret the decision that i make... oooh, the hell with it..i dont wanna talk about me this time..just the quotes..</p>
<p>there was a time when when thought we made a right decision in life... and somehow we regret it in the end... why?! why we still do that? there is no such thing called right or wrong decision anymore...</p>
<p>what now is decision that you will not regret, no matter what that decision cost you scarification or how it breaks your heart it won't matter as long as you don't regret it... that is the consequences</p>
<p>in the other hand, even you think your decision is already right but then you regret it..it still you are not making a satisfy decision... so what we need here?!</p>
<p>we just need a better decision and never regret what you already decide... take it and live with it don't worry!! there's always a time when we face another decision.... and until that time comes try not to regret the decision you have made..</p>
<p>you know what will happen when you always regret your decision? you'll never have peace in your life, you'll be haunted by your own mistakes...haunted with your own past.... what already done is done..you cannot turn back time as you wish...</p>
<p>don't confuse to make decision..even you have to choose between life and death... choose the decision that you will not regret even you die in that moment...</p>
<p>i really don't know where this writing is heading, but  all i know is what happen in our life is a gift and always have meaning on it.... god always have message to our life, it's just a matter we can read it or not... when he tries us it means he loves us no matter that tries is makes you happy or suffer..</p>
<p>finally i just want to quotes other thing that i always hear on friday's prayer at mosque "oh god, please show us what right is right and lead us the way, and please show us what wrong is wrong and help us avoid it"</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Sesal dan Syukur]]></title>
<link>http://wiraprasetya.wordpress.com/2008/02/09/antara-sesal-dan-syukur/</link>
<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 16:49:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>tiyokpras</dc:creator>
<guid>http://wiraprasetya.wordpress.com/2008/02/09/antara-sesal-dan-syukur/</guid>
<description><![CDATA[Kenapa aku ikut pramuka? Kenapa aku aktif di racana, sampai-sampai “nyaris” mengorbankan kuliah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa aku ikut pramuka? Kenapa aku aktif di racana, sampai-sampai “nyaris” mengorbankan kuliah (padahal sih enggak)?<br />
Kenapa?<br />
<!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Morning Sunshine]]></title>
<link>http://chibifish.wordpress.com/2008/01/24/morning-sunshine/</link>
<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 01:41:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>nFath</dc:creator>
<guid>http://chibifish.wordpress.com/2008/01/24/morning-sunshine/</guid>
<description><![CDATA[Hmh.. it looks like its been a long time. Dah sejak pertengahan Desember, rumahku (rumah Orang Tua k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hmh.. it looks like its been a long time. Dah sejak pertengahan Desember, rumahku (<i>rumah Orang Tua ku lebih tepatnya</i>) cuman aku jadiin tempat mampir doang, mampir makan, mampir mandi, mampir cuci-cuci dan bersih-bersih, duh, dah kek kos-kosan aja T.T (<i>I'm truly sorry Mom, Dad, Brothers..</i>). Egaktahu ini kenapa kok kemaren bisa betah ngendon dirumah, bahkan malemnya tidur dirumah, ya, dirumah! Seharian dirumah. Enjoying the gloomy feeling that distract me. Siyal™ capek ngeluh terus. Instead of that, I'll tell you something better.</p>
<p><!--more--><br />
Yup! It's all about the morning sunshine.</p>
<p>Biasanya aku masih terjaga sampai fajar, dan baru setelah sholat subuh aku mulai berhibernasi diatas tempat tidur. Tapi pagi ini, aku terbangun karena adzan subuh (<i>Ya iya lah secara musholanya cuman berjarak sekitar 50 meter dari rumah!</i>). Dan entah sudah berapa lama aku gak nikmatin yang namanya Matahari pagi.</p>
<p>So warm... and peaceful..</p>
<p><i>Subhanallah!</i> ... semalem aku bisa sekali lagi nikmatin bulan purnama diatas atap rumah sambil ditemani gitar butut milik saudaraku. Dan sekarang, dipagi harinya aku bisa nikmatin Matahari pagi. Dalam keadaan hidup, bernafas, dan InsyaAllah sehat. <i>Alhamdulillah...</i></p>
<p>What a pleasure...</p>
<p>Dan selama ini yang kulakukan hanya mengeluh?!? benar-benar gak berguna! Begitu banyak keindahan, dan aku mencari keindahan-keindahan lain, ditempat lain, sementara aku gak pernah nyadar keindahan-keindahan itu ada disekelilingku.</p>
<p>*<i>fath, kamu mau langsung berangkat? gak sarapan dulu?</i>*</p>
<p>*<i>kakak gak makan dulu tah?</i>*</p>
<p>Seketika aku terhenyak.</p>
<p>Bahkan meskipun aku jarang ada waktu buat mereka, mereka masih memperhatikanku. Anak macam apa aku ini? Adik macam apa aku ini? Kakak macam apa aku ini? Sepersekian detik, ingin rasanya aku sujud dikaki mereka, menangis dan meminta maaf. Tapi keegoisanku mengalahkan segalanya. Hanya salam dan ucapan terimakasih yang terujar sebelum aku berangkat. <i>Looser !</i></p>
<p>And I'm still thinking about her. I miss her. It looks like the gap between us going even further. Her voices, its fading away.</p>
<p><i>under the influence of "Avril Lavigne-I will be; Ten2Five-Perfect,You; Younha-Houki Boshi; Chantal Kreviazuk-Leaving In A Jet Plane; Letto-Permintaan Hati; Richard Marx-Right Here Waitin; Alicia Keys-If I Aint Got You; Blackstreet-In a rush; Aluto - Michi; Maliq n D'essentials-Untitled; Atomic Kitten-Craddle; Puddle Of Mudd-Blurry; Ono Masatoshi-You're The Only"</i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sesal]]></title>
<link>http://senasana.wordpress.com/2007/11/27/sesal/</link>
<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 03:34:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>mirws</dc:creator>
<guid>http://senasana.wordpress.com/2007/11/27/sesal/</guid>
<description><![CDATA[ Tersebutlah seorang tua yang sudah di ujung usianya, menunggu datangnya maut menjemput.

Dia tering]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> Tersebutlah seorang tua yang sudah di ujung usianya, menunggu datangnya maut menjemput.<br />
<span></span><br />
Dia teringat kembali sewaktu masih anak-anak. Saat itu dia ingin bisa mengubah dan mengatur dunia.</p>
<p>Begitu menginjak remaja, dia berpikir ulang bahwa ternyata mengatur dunia itu sangat sulit karena begitu banyak negara, begitu luas dan begitu beraneka ragam penduduk setiap negara. ”Ah …. jauh lebih mudah mengatur satu negara saja”, gumannya.</p>
<p>Dengan bertambah usianya menjadi dewasa, dia menyadari bahwa mengatur dan memiliki kekuasaan dalam satu negara juga tidak mudah. Banyak kompleksitas yang harus dihadapi. Berbagai suku dan agama, masalah ekonomi, politik, keamanan dan lain-lainnya akan menuntut banyak perhatian darinya. Akan melelahkan segala sesuatu bagi dirinya. ”Wah … kalo demikian, cukuplah bagiku mengatur lingkungan masyarakat saja”, demikian pikirnya.</p>
<p>Namun seiring dengan bertambahnya usia menjadi tua, dia kembali merasa bahwa lingkup satu lingkungan masyarakatpun terdiri dari banyak rumah dan keluarga sehingga cukup ruwet untuk mengatur dan mengubahnya. Oleh karena itu kemudian dia berpikir bahwa keluarganyalah yang seharusnya mematuhi apa yang dikatakan dan diinginkannya. Keluarga memiliki kaitan langsung dengan dirinya sehingga dia mempunyai kekuasaan (power) untuk membuat pasangan dan anggota keluarga mematuhinya.</p>
<p>Tetapi sekarang dimana dia sudah sangat tua dan di ujung kehidupannya, dia seakan tersadar bahwa jikalau dari dulu, semenjak masih anak-anak sampai menjadi remaja, dewasa, dan tua, bukannya mengatur dan mengharapkan orang lain yang berubah, tetapi dialah yang mulai mengatur dan merubah dirinya sendiri, dengan cara mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal tidak baik sebanyak mungkin, maka tidak akan ada penyesalan di usia senjanya.</p>
<p>Jangan berpikir mengubah keluarga, orang lain, dan lingkungan sebelum kita memastikan bahwa kita telah mengubah diri sendiri dan menjadi contoh yang baik dengan mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal yang tidak baik terlebih dahulu.</p>
<p>Selamat menjadi ’manusia baru’ mulai dari sekarang sehingga bisa terhindar dari sesal di usia senja.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyesalan selalu datang terlambat.]]></title>
<link>http://yudhawibawa.wordpress.com/2007/10/27/penyesalan-selalu-datang-terlambat/</link>
<pubDate>Sat, 27 Oct 2007 02:55:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>yudhawibawa</dc:creator>
<guid>http://yudhawibawa.wordpress.com/2007/10/27/penyesalan-selalu-datang-terlambat/</guid>
<description><![CDATA[Pernahkan anda berpikir bahwa tingkah laku anda menyakiti banyak orang, setelah sekian lama anda pik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkan anda berpikir bahwa tingkah laku anda menyakiti banyak orang, setelah sekian lama anda pikirkan kembali baru anda sadar tentang kesalahan yang telah anda buat. Kemudian anda akan menyesal telah melakukannya.</p>
<p>Memang seperti kata pepatah <strong>penyesalan selalu datang terlambat</strong>, tapi bukankah itu lebih baik dari pada anda tidak menyadarinya sama sekali. Jadilah manusia yang baik dengan menyesalinya.</p>
<p>bjm.27.10.2007.yudha.wibawa</p>
<p>Tapi berhati-hatilah bahwa sesal tanpa batasan akan membuat anda kehilangan nafas kehidupan. Jadi menyesal, bertobat dan berbuatlah untuk tidak mengulanginya, akhirnya anda akan selamat dan bertahan menjadi manusia yang baik.</p>
<p>Ada baiknya anda meminta maaf kepada  orang yang telah anda buat salah, bilamana dia belum bisa memaafkan berikanlah waktu. Waktu yang akan menghapus segalanya. Ulangilah lagi sehingga anda mendapatkan maaf itu.</p>
<p>Bagaimana bila anda tidak di maafkan ? bila anda sudah berusaha sekuat tenaga, ya sudah cukup di ingat dan jadikan pelajaran di kemudian hari, tapi jangan menjadikan penyesalan tiada berujung.</p>
<p>bjm.27.10.2007.yudha.wibawa</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
