<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>psikologi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/psikologi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "psikologi"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 15:44:05 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sistem Pembelajaran dari Behaviouristik ke Konstruktivistik]]></title>
<link>http://lumansupra.wordpress.com/?p=227</link>
<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 08:42:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>lumansupra</dc:creator>
<guid>http://lumansupra.wordpress.com/?p=227</guid>
<description><![CDATA[seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa manusia di Indonesia (bahkan sampe saat ini) masih terjangki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa manusia di Indonesia (bahkan sampe saat ini) masih terjangkit sebuah penyakit 'keseragaman'. hal ini dibuktikan dengan budaya copy&#38;paste yang banyak dilakukan di berbagai aspek kehidupan. ciri2nya mungkin bisa dilihat dan dirasakan bahwa mempunyai pola pikir sentral monoton (tanpa kreatifitas), dan mengakibatkan keseragaman.</p>
<p>nah, kehidupan di Indonesia kebanyakan masih tidak bisa menerima keragaman, dan masih menjunjung tinggi keseragaman, padahal kita udah didoktrin untuk menghapalkan 'bhineka tunggal ika'. namun entah karena kebanyakan orang indonesia mempunyai otak mahal ato penjajah terdahulu sukses mencuci otak bangsa Indonesia sampai 9 turunan, sampai sekarang keseragaman masih sulit untuk diterima.</p>
<p>saya jadi ingat peribahasa jaman dulu (SD, SMP, mungkin SMK juga)<!--more--> bahwa ada yang mengatakan 'berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke tepian' ato 'gantungkan cita2mu setinggi langit'. sebagai kata mutiara mungkin itu adalah cocok. tapi jika kita menghadapi dunia sekarang hanya dengan mutiara tersebut, bisa jadi kita yang akan dianggap sebagai orang jaman pra-modern. trus yang modern itu apa? beberapa waktu lalu saya baru mengerti bahwa sistem modernisasi membuat kita menerima kenyataan dengan akal sehat dan jiwa yang sehat. seperti 'hidup ini adalah perjuangan', trus 'benar-salah saya adalah saya'.</p>
<p><strong>8 Kunci di Kehidupan ala Semrawut</strong></p>
<ol>
<li>Kejujuran</li>
<li>Kegagalan awal kesuksesan</li>
<li>Bicara dengan niat baik</li>
<li>Pola pikir kekinian</li>
<li>Komitmen</li>
<li>Tanggung jawab</li>
<li>Sikap luwes</li>
<li>Hidup seimbang</li>
</ol>
<p>baik, sekarang kita bicara tentan <strong>sistem pembelajaran</strong> di Indonesia (<em>kebanyakan</em>)</p>
<p>jika dikelompokkan sistem pembelajaran <strong>behaviouristik </strong>adalah yang:</p>
<blockquote><p>mempunyai pengetahuan yang bisa dibilang objektif, pasti, tetap dan yang itu2 saja<br />
sistem pembelajaran didasarkan atas kapasitas pengetahuan yang diperolah<br />
dan juga caranya seperti 'hanya' mentransfer pengetahuan kepada orang yang diajar<br />
diri sendiri difungsikan sebagai alat penjiplak struktur pengetahuan</p></blockquote>
<p>trus yang <strong>konstruktivistik </strong>bisa dikatakan seperti ini:</p>
<blockquote><p>pengetahuan yang didapat selalu berubah, entah itu penyampaian dan temporeritas<br />
pemaknaan atas pengetahuan lebih ditutamakan<br />
didasari oleh hal tersebut, kita akan menggali makna seluas dan sedalam mungkin<br />
Mind berfungsi sebagai alat menginterpretasi sehingga muncul makna yang unik</p></blockquote>
<p>oleh karena itu muncul perbedaan pada siswa yang sistem pembelajarannya behaviouristik dan tidak,</p>
<p>yang behaviouristik (si A, red) dihadapkan dengan masalah bahwa ia harus mempunyai pemahaman yang sama dengan apa yang diberikan oleh si pengajar, sedangkan yang tidak (sebut saja si B, red) bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih dan berbeda dari yang diajarkan.</p>
<p>si A juga di ajarkan bahwa di dunia ini sudah tersusun rapi, terstruktur secara sistematis, dan pengetahuannya juga tersusun rapi. sedangkan si B dapat memahami bahwa segala sesuatu bersifat temporary, berubah dan tidak tentu. dan manusialah yang memberi makna atas realitas.</p>
<p>mungkin juga si A pada waktu belajar dihadapkan pada aturan2 yang ditentukan lebih dulu dan ketat, dan pembiasaan disiplin adalah sebagai faktor utama. trus si B dihadapkan dengan lingkungan belajar yang bebas karena kebebasan adalah hal yang penting dalam pembelajaran.</p>
<p><strong>behaviouristik </strong>juga mempunyai ciri ciri sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Kegagalan atau ketidak-mampuan dalam menambah pengetahuan dikategorikan sebagai KESALAHAN, HARUS DIHUKUM</li>
<li>Keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas dipuji atau diberi HADIAH</li>
<li>Ketaatan kepada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh sistem di luar diri si-belajar</li>
<li>Tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan<br />
<em>'Seseorang dikatakan telah belajar apabila mampu mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari'</em></li>
</ul>
<p>sedangkan <strong>konstruktivistik</strong>:</p>
<ul>
<li>Memandang sebuah kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu DIHARGAI</li>
<li>Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh si-belajar</li>
<li>Tujuan pembelajaran menekankan pada penciptaan pemahaman, yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata</li>
</ul>
<p>trus,</p>
<p>Sosok manusia yang bagaimana yang akan dihasilkan oleh pembelajaran yang Behavioristik? trus Konstruktivistik?<br />
Akapah mereka mampu menghadapi tantangan Melinium baru? Kesemrawutan global?</p>
<p>si A mempunyai ketrampilan terisolasi, mengikuti urutan kurikulum ketat, dan segala aktivitas mengacu pada teks atau buku, penekanan kepada hasil, mempunyai respon pasif, menuntuk hanya satu jawaban, dan proses evaluasi adalah sebuah bagian yang terpisah dari pembelajaran.</p>
<p>sedangkan si B mempunyai penggunaan pengetahuan secara bermakna, mengikuti pandangan si-belajar, aktivitas belajar dalam konteks nyata, menekankan pada proses, penyusunan makna secara aktif,menuntut pemecahan ganda, dan menekankan proses evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar</p>
<p>sebuah proposisi yang berkaitan dengan pembelajaran bisa disebutkan di bawah ini:</p>
<p><strong>bahwa belajar adalah mempelajari sesuatu yang baru</strong></p>
<ul>
<li>Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari</li>
<li>Dorong munculnya berpikir divergent, bukan hanya satu jawaban benar</li>
<li>Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran/aktivitas</li>
<li>Tekankan pada keterampilan berpikir kritis</li>
<li>Gunakan informasi pada situasi baru</li>
</ul>
<p><strong>kebebasan merupakan unsur penting dalam belajar</strong></p>
<ul>
<li>Sediakan pilihan tugas</li>
<li>Sediakan pilihan cara memperlihatkan keberhasilan</li>
<li>Sediakan waktu yang cukup memikirkan dan mengerjakan tugas</li>
<li>Jangan terlalu banyak menggunakan tes yang telah ditetapkan waktunya</li>
<li>Sediakan kesempatan berpikir ulang</li>
<li>Libatkan pengalaman konkrit</li>
</ul>
<p><strong>Strategi belajar yang digunakan menentu-kan proses dan hasil belajarnya</strong></p>
<ul>
<li>Berikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya</li>
<li>Berdayakan melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, cara belajar, atau lainnya</li>
</ul>
<p><strong>Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar dan unjuk-kerja</strong></p>
<ul>
<li>Motivasilah dengan tugas-tugas riil dalam kehidupan sehari-hari dan kaitkan tugas dengan pengalaman pribadi</li>
<li>Dorong  untuk memahami kaitan antara usaha dan hasil</li>
</ul>
<p><strong>Belajar pada hakekatnya memiliki aspek sosial.</strong><br />
(Kerja kelompok sangat berharga)</p>
<ul>
<li>Beri kesempatan untuk melakukan kerja kelompok</li>
<li>Dorong untuk memainkan peran yang bervariasi</li>
<li>Perhitungkan proses dan hasil kerja kelompok</li>
</ul>
<p>sumber: <em>materi Universitas Negeri Malang</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HARI ULANG TAHUNKU YANG KONYOL !                             ]]></title>
<link>http://iwandahnial.wordpress.com/?p=542</link>
<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 23:54:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>iwandahnial</dc:creator>
<guid>http://iwandahnial.wordpress.com/?p=542</guid>
<description><![CDATA[HARI ULANG TAHUNKU YANG 
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;KONYOL !                ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-size:16pt;color:#800000;font-family:Arial;"><strong><span style="text-decoration:underline;">HARI ULANG TAHUNKU YANG </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-size:16pt;color:#800000;font-family:Arial;"><span style="color:#ffffff;">---------------</span><strong><span style="text-decoration:underline;">KONYOL</span> !</strong></span><span style="font-size:10pt;color:#0000ff;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">                          </span><span lang="IN"><br />
<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#ffffff;">-</span><strong></strong></span></span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;"><a href="http://iwandahnial.files.wordpress.com/2008/07/ualng-tahun.jpg"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-543" src="http://iwandahnial.wordpress.com/files/2008/07/ualng-tahun.jpg?w=96" alt="" width="96" height="96" /></a></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="color:#ffffff;font-family:Times New Roman;">-</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dua minggu yang lalu merupakan hari ulang  tahunku yang ke-35. Hal yang bisa membuatku berbahagia waktu itu apalagi kalau bukan datangnya ucapan dan pelukan selamat ulang tahun dari isteri dan anak-anakku yang tercinta beserta suguhan kueh dan<span>  </span>kado ulang tahun.<!--more--><span>   </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku turun untuk sarapan dengan harapan istriku akan mengucapkan dengan penuh mesra: "Selamat Ulang Tahun suamiku tersayang" dan ucapan sayang dari anak-anakku: “ Selamat Ulang tahun ya Pa !”, sambil mereka bergantian memelukku.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Waktu berlalu, namun tak ada ucapan ulang tahun sedikitpun dari isteriku, bahkan ia tidak  mengucapkan selamat pagi. Aku berpikir, ya, itulah istri, tapi  mungkin nanti anak-anakku akan mengingatkannya kalo hari ini adalah hari ulang tahunku. Anak-anak menyusul <span> </span>datang ke meja makan untuk sarapan,  namun mereka juga tidak  mengatakan satu patah katapun. Akhirnya aku berangkat ke kantor dengan </span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">perasaan penuh kecewa dan sedih.</span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><br />
</span></strong><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#ffffff;">-</span></strong><strong></strong></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ketika aku masuk ke ruangan kantor, sekretarisku, Janet, menyapaku : "Selamat pagi Boss, Selamat Ulang Tahun". Dan akhirnya aku merasa sedikit terobati mengetahui ada seseorang yang mengingat hari ulang tahunku.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku bekerja sampai tengah hari dan kemudian Janet mengetuk pintu ruanganku dan berkata: "Apakah Anda tidak menyadari bahwa hari ini begitu cerah diluar dan hari ini adalah hari ulang tahun Anda, mari kita pergi makan siang, hanya kita berdua".<span>  </span>Aku<span>  </span>menjawabnya<span>  </span>dengan<span>  </span>antusias : "Wow, <span> </span>itu adalah perkataan yang luar biasa yang </span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">saya dengar hari ini, oke mari kita pergi !"</span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><br />
</span></strong><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;">-</span></strong><strong></strong></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kami berdua pergi makan siang. Kami tidak pergi ke tempat dimana kami biasanya makan siang, tetapi kami pergi ke tempat yang sepi. Kami memesan 2 botol martini dan sangat menikmati makan siang kami. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;">Dalam perjalanan pulang ke kantor, dia berkata: "Anda tahu ini adalah hari yang begitu indah, kita tidak perlu kembali ke kantor kan ?" </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;">”<strong>Tidak perlu, saya pikir tidak perlu” jawabku spontan. Lalu dia mengajakku<span>  </span>untuk mampir ke apartemennya tanpa sedikitpun aku keberatan.</strong></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;">Setelah tiba di apartemennya, dia berkata: "Boss, jika Anda tidak keberatan, saya akan pergi ke ruang tidur dan melepaskan sesuatu agar lebih nyaman." “Tentu, tentu saja !“ sahutku dengan bergairah.</span></strong><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dia pergi kekamar tidur. Aku membayangkan bagaimana dia sedikit demi sedikit melepas busananya, menyisakan gaun dalamnya bahkan mungkin tanpa menyisakan sehelai benangpun di tubuhnya. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kira-kira enam menit kemudian dia keluar membawa kue ulang tahun yang besar diiringi oleh........ istri, anak-anakku dan sejumlah rekan kerja kami sambil  menyanyikan lagu “Happy Birthday”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:8pt;color:#ffffff;"><span style="font-family:Times New Roman;">-</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#000080;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku hanya duduk terpaku dan terpana disana. Di sebuah sofa panjang,....... telanjang tanpa sehelai benang !! - (NN)</span></span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[welcoming the uniquely of you ]]></title>
<link>http://psikologionline.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 08:06:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>titis</dc:creator>
<guid>http://psikologionline.wordpress.com/?p=3</guid>
<description><![CDATA[Hi.
This is my first post. So, you will not find any kind of material you wish to find or read.
Yeah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hi.</p>
<p>This is my first post. So, you will not find any kind of material you wish to find or read.</p>
<p>Yeah, it's, umm... Under Construction.</p>
<p>I'll be back soon. So, don't hesitate to visit this page next time.</p>
<p>Regards,</p>
<p>titis</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menggali Kreativitas Anak Bangsa]]></title>
<link>http://abihafiz.wordpress.com/?p=74</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:47:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>warmansaja</dc:creator>
<guid>http://abihafiz.wordpress.com/?p=74</guid>
<description><![CDATA[Siapa bilang bentuk fisik atau disain komputer harus selalu konvensional. Berbentuk kubus atau perse]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa bilang bentuk fisik atau disain komputer harus selalu konvensional. Berbentuk kubus atau persegi panjang dan menjemukan. Dari segi estetika pun tidak mampu rangsangan mata untuk menikmati bentuk fisiknya, selain hanya memanfaatkan kegunaannya sebagai bagian dari perkembangan teknologi.<br />
Sudah saatnya membuang jauh-jauh pandangan seperti itu. Perpaduan kolaborasi seni dan teknologi ternyata menjadikan bentuk komputer yang konvensional itu lebih artistic dan tentunya tentu tidak meninggalkan fungsionalitasnya.<!--more--><br />
Pernahkah terbayang dalam benak kita sebuah central processing unit (CPU) berbentuk kloset. Begitu dibuka penutupnya ternyata berisi rangakaian sirkuit komputer. Atau desain sebuah piano mini yang sungguh merangsang indra penglihatan. Atau sebuah aquarium yang isinya perangkat-perangkat komputer sebagai alat bermain ikan-ikan hias didalamnya.<br />
Jangan pula berpikir ini adalah ini adalah hasil kreativitas yang diimpor untuk menarik pengunjung dalam sebuah pameran. Semuanya itu tak lain adalah hasil kretifitas anak bangsa dan dapat disaksikan dalam pameran Indocomtech di Jakarta Convention Center yang berlangsung sejak 6 sampai 10 oktober mendatang.<br />
Tak mengherankan begitu pameran dibuka oleh Menteri Komunika dan Informasi, Syamsul Mu’arif, para pengunjung beramai-ramai menyaksikan keunikan-keunikan kretifitas anak bangsa tersebut. Adalah Intel Inside, produsen prosesor komputer yang punya gawe untuk menggali kreativitas mereka dalam bentuk kompetisi merakit atau mendesain CPU.</p>
<p>Menggali Potensi<br />
Hayina, dari agensi Intel kepada SH mengatakan, event-event seperti ini memang bertujuan untuk menggali potensi dan kreativitas sekaligus untuk lebih memperkenalkan komputer ke tengah-tengah masyarakat.<br />
Dimulai dengan sosialisasi ke masyarakat sejak bulan awal Agustus 2004 lalu dan September sudah tersaring finalis sebanyak 147 dan disaring lagi menjadi 20 kontestan dengan masing-masing 10 kontestan untuk dua kategori pelajar dan umum yang kemudian dipamerkan di JCC saat ini.<br />
Selain hadiah uang bagi pemenang, Hayina mengata-kan karya terbaik akan mendapat kesempatan karyanya dipinjang selama enam bulan untuk dipamerkan atau dievaluasi apakah dapat digunakan sebagai ide baru yang dapat dijual ke pasar. “Sebagai contoh salah satu pemenang kompetisi di Singapura yang dipamerkan disini,” kata Hayina.<br />
Sama seperti Hayina, para peserta menganggap ajang ini adalah sebuah kesempatan yang besar dimana mereka dapat lebih mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri.<br />
Yulianto, salah satu peserta asal Tulungagung misalnya. Meskipun ia mengaku perkembangan teknologi Informasi di kota kelahirannya terbilang lambat bahkan sangat ketinggalan, ternyata tidak membuat dirinya terlalu pesimistis dan buta oleh kondisi yang ada.<br />
Baginya ini adalah pengalaman pertama dan mengharapkan even-even sejenis terus dikembangkan pula, tidak hanya pada desainnya saja namun juga pada inovasi teknologi itu sendiri.<br />
“Pameran ini untuk masyarakat sebagai pengenalan alih teknologi. Sedang untuk saya mengakspresikan dan menggali kreativitas diri,” katanya.<br />
Demikian halnya Arif, mahasiswa ITB yang terpilih sebagai salah satu finalis memberikan komentar yang sama. Hanya saja, menurutnya peserta yang terlibat dalam kompetisi ini masih didominasi dari pulau jawa.<br />
Menurutnya, masih banyak masyarakat dari daerah lain yang mungkin belum tahu adanya even seperti ini namun punya ide brilian atau luar biasa untuk dituangkan membantu perkembangan teknologi informasi di negara kita.<br />
“Ajang ini menjadi semacam wawasan ke masyarakat ternyata desain itu memang perlu dan penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Tidak hanya barang-barang fungsional tapi juga dari fungsi itu bisa ditambah nilai-nilai khusus dengan menampilkan kretifitas,” kata arif.(fel)<br />
Menggali Bakat Musik Anak<br />
Televisi swasta yang membuat acara pencari bakat telah melahirkan banyak idola baru terutama di bidang musik. Fenomena itu mungkin telah menaikkan semangat Anda untuk mencoba mengasah bakat musik dari anak Anda. Akademi Fantasi Indosiar (AFI) Yunior, misalnya, telah melambungkan nama-nama penyanyi cilik. Samuel AFI, Albert AFI, misalnya, lebih banyak dikenal anak SD dibandingkan nama Diptarama sebagai siswa yang berprestasi dalam olimpiade sains baru-baru ini. Bila Anda juga tergerak untuk mengikuti langkah tersebut, "kenali" dulu potensi buah hati Anda.<br />
Kenali Bakat "Anak saya sangat berbakat di bidang musik. Ia berminat mendengarkan musik dan berjoget bila mendengar musik." Mungkin itu alasan Anda untuk menilai anak Anda berbakat bermusik atau menyanyi. Namun, Anda perlu menelusuri lebih jauh bakat anak Anda itu. Pada umumnya, bila anak Anda memiliki keistimewaan di bidang musik yang sangat menonjol dibandingkan anak seusianya, bisa jadi itulah bakatnya. Anak yang memiliki bakat istimewa acapkali telah menampakkannya sejak muda. Mozart misalnya, telah mampu memainkan harpsichord, sejenis keyboard yang dimainkan manual, pada usia tiga tahun. Ia juga sudah menggubah lagu pada usia lima tahun. Sesungguhnya, anak memiliki perasaan terhadap musik sejak dilahirkan. Perkembangan musikal anak pertama kali dimulai dari mendengar dan kemudian menggerak-gerakkan anggota tubuh sesuai dengan irama. Menjelang usia enam tahun, sebetulnya kemampuan anak menyelaraskan gerak dengan irama lagu semakin jelas terlihat.<br />
Bakat membutuhkan sarana pengembangan Tanpa latihan serius dan sarana memadai, bakat tetap tinggal sebagai potensi dan tidak menelurkan prestasi apa-apa. Seorang anak yang berbakat di bidang musik tidak akan dapat memperlihatkan kepandaiannya tanpa belajar musik secara serius. Sebaliknya, anak yang memiliki bakat musik tidak terlalu hebat, tetap akan menjadi pemain musik yang andal bila ia belajar musik secara serius. Karena itu, bakat musik seseorang akan lebih berkembang bila didukung dengan pengajaran dan lingkungan yang tepat. Anda tinggal menyediakan sarana dan latihan yang memadai untuk mengembangkan bakat itu. Salah satu langkah untuk mengasah bakat musik anak Anda itu adalah mengirimnya belajar musik lembaga kursus atau privat. Pengenalan berbagai jenis alat musik akan baik bagi pengembangan bakat anak. Hal itu penting karena para ahli pendidik musik di luar negeri belum dapat menemukan cara yang pasti untuk meramalkan keberhasilan seorang anak memainkan alat musik tertentu. Sebab, kenyataannya banyak sekali anak yang mulai dengan alat musik hanya untuk mengetahui bahwa itu bukan alat yang cocok untuknya.<br />
Minat cukup menentukan Thomas Alva Edison pernah menyatakan bahwa "dirinya tidak pernah bekerja sehari pun, seluruhnya adalah keasyikan". Karenanya, minat anak merupakan hal yang penting, dan perlu menjadi target pengembangan. Dr Sinichi Suzuki, seorang pendidik musik berkebangsaan Jepang telah membuktikan bahwa bakat musik seseorang tidak selalu dibawa semenjak lahir. Menurutnya, seorang anak dapat belajar musik seperti halnya ia belajar bahasa ibu meskipun tidak semua orang menjadi ahli bahasa. Ludwig van Beethoven, misalnya, memiliki ayah pemabuk dan kasar. Tetapi, ia hidup di lingkungan keilmuan dan seni yang menunjang pengembangan bakatnya. Gedung-gedung konser, musikus yang hidup di zamannya memberikan polesan suasana yang sangat kondusif bagi pengembangan bakatnya. (herita endriana)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berbagai Jurus Memimpin ]]></title>
<link>http://dennyhendrata.wordpress.com/?p=126</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 14:28:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>dennyhendrata</dc:creator>
<guid>http://dennyhendrata.wordpress.com/?p=126</guid>
<description><![CDATA[ sumber : e-psikologi.com
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 4/2/2008 
 Siapakah Pemimpin Itu?
Siapakah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h5><span class="style3"> sumber : e-psikologi.com<br />
Oleh : Ubaydillah, AN<br />
Jakarta, 4/2/2008 </span></h5>
<hr /><span class="style4"> <strong><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Siapakah Pemimpin Itu?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Siapakah yang disebut pemimpin itu? Pemimpin adalah orang yang diikuti orang lain. Orang lain mau mengikuti si pemimpin karena punya alasan-alasan tertentu. Secara umum, alasan itu antara lain karena si pemimpin itu dipandang lebih mampu, lebih tahu, lebih senior, lebih berkuasa, lebih ahli, lebih bagus, lebih tinggi, dan seterusnya. Artinya, seseorang akan ditunjuk, diangkat, atau dipersilahkan untuk menjadi pemimpin karena dipandang punya nilai "plus".</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Ketika seseorang tidak sedang menjadi makhluk individual semata (baca: menjadi makhluk sosial juga), semua orang butuh pemimpin. Seluruh isi rumah tangga butuh pemimpin, <span style="font-style:italic;">teamwork</span> butuh pemimpin, kelompok butuh pemimpin, dan seterusnya. Bahkan ada pengarahan yang menyarankan seperti ini: "Jika engkau sedang menyelesaikan persoalan atau mengemban tugas bersama orang lain (minimalnya satu orang), maka sepakatilah untuk menunjuk seorang pemimpin di antara kamu."</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Kenapa ini penting? Dalam prakteknya, cara seperti inilah yang seringkali lebih efektif dan lebih efisien. Dengan menyepakati siapa yang menjadi pemimpin berarti akan lebih jelas siapa yang mengambil keputusan, siapa yang menjalankan keputusan, siapa yang bertanggungjawab atas keputusan itu, dan seterusnya. Tapi, coba bayangkan kalau pemimpinnya tidak ada? Yang sering terjadi adalah kericuhan, <em>gontok-gontokan</em>, debat, konflik, saling ingin mengalahkan, dan seterusnya. Karena itu ada semacam adagium bahwa lebih baik suatu kelompok atau masyarakat itu memiliki pemimpin meskipun pemimpinnya itu bukanlah orang yang serba "lebih" segala-galanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dalam prakteknya, istilah pemimpin ini diterapkan untuk beberapa pengertian. Ada pengertian yang mengarah pada peranan. Pemimpin adalah orang yang memerankan kepemimpinan (nilai-nilai <span style="font-style:italic;">leadership</span>). Menurut pengertian ini, semua orang (laki-laki atau perempuan) adalah pemimpin, minimalnya adalah pemimpin bagi dirinya dan keluarganya. Ada lagi pengertian yang mengarah pada jabatan atau posisi yang kemudian identik dengan istilah-istilah antara lain: atasan, bos, kepala, nahkoda, manajer, direktur, presiden, ketua, dan seterusnya. Ini semua adalah jabatan yang terkait dengan fungsi-fungsi kepemimpinan. Ada lagi istilah pemimpin formal dan pemimpin informal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Bahkan dalam prakteknya, kita mengenal istilah pemimpin dan pimpinan. Bedanya apa? Sebagian pendapat mengatakan, pemimpin itu tidak butuh SK, tidak butuh partai, tidak mesti butuh bawahan. Pemimpin di sini mengarah kepada kualitas peranan. Sedangkan pimpinan butuh SK, butuh pengangkatan, butuh dukungan, butuh suara, dan seterusnya. Banyak pimpinan yang tidak pemimpin dan banyak pemimpin yang tidak menduduki jabatan pimpinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Kalau mengacu pada ajaran agama, temuan sain,<span> </span>dan pengalaman sejumlah pemimpin, yang paling ditekankan adalah kepemimpinan dalam pengertian yang pertama, yakni memerankan nilai-nilai pokok <em>leadership</em>. Bentuknya apa nilai-nilai pokok itu? Bentuknya adalah mempelopori proses untuk mewujudkan keinginan bersama (visi). Suatu kelompok yang tidak ada pemimpinnya seringkali hanya berandai-andai, mengkhayal, <em>ngobrol ngalor-ngidul</em>, takut, sungkan, dan lain-lain. Dengan adanya pemimpin, maka pemimpin inilah yang akan menggerakkan atau mengaktivasikan energi orang banyak itu supaya menjadi kenyataan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Menurut ajaran leluhur kita, seorang pemimpin itu haruslah memainkan tiga peranan inti. Kalau dia kebetulan di depan, dia harus berperan untuk mengarahkan, menunjukkan jalan, atau menjadi penutan. Kalau dia pas kebetulan di belakang, dia harus berperan mendorong kemajuan, memunculkan inisiatif, atau memberikan tanggung jawab dan delegasi. Kalau pas dia di tengah, dia harus menjadi pendamai, penyeimbang, penyambung komunikasi yang terputus, berada di atas dan untuk semua golongan, dan seterusnya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Memainkan peranan ini jauh lebih dibutuhkan ketimbang memangku jabatan. Bahkan sampai ada yang menyimpulkan bahwa kepemimpinan itu sejatinya adalah tindakan, bukan jabatan. Lihat saja misalnya orang yang sudah diberi jabatan untuk memimpin tetapi tidak sanggup memainkan peranan sebagai pemimpin, apa yang terjadi? Pasti kepemimpinannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan mahkota jabatannya akan diambil lagi oleh si pemberi jabatan (orang banyak atau Tuhan) dengan cara yang beragam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:blue;">"Leadership is<span> </span>the way of<span> </span>transforming vision into reality."</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Berbagai Jurus Memimpin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dalam berbagai literatur kepemimpinan sering kita temukan istilah <em>art</em> dan<em> science</em>. Istilah ini mengandung pengertian bahwa memimpin orang lain itu butuh pengetahuan tentang teori-teori <em>leadership</em> (<em>science</em>) dan butuh seni dalam mempraktekkan teori-teori itu. Karena itu, pas juga kalau disebut jurus. Jurus ini bermacam-macam dan digunakan atas pertimbangan keadaan tertentu dan harus bisa berubah. Sebagian dari sekian Jurus yang bisa kita jadikan acuan adalah di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;width:545px;height:646px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;background:#365f91 none repeat scroll 0 50%;width:90.45pt;text-align:center;padding:0 5.4pt;" width="121" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:white;">Jurus Kepemimpinan</span></strong></p>
</td>
<td style="background:#365f91 none repeat scroll 0 50%;width:103.95pt;text-align:center;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="139" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:white;">Kompetensi Mental<br />
Yang   Dibutuhkan</span></strong></td>
<td style="background:#365f91 none repeat scroll 0 50%;width:59.1pt;text-align:center;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="79" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:white;">Iklim </span></strong></p>
</td>
<td style="background:#365f91 none repeat scroll 0 50%;width:75.9pt;text-align:center;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="101" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:white;">Tujuan </span></strong></p>
</td>
<td style="background:#365f91 none repeat scroll 0 50%;width:108pt;text-align:center;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="144" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:white;">Kapan Jurus Itu<br />
Tepat Diterapkan</span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:90.45pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Paksaan / Memaksa</span></p>
</td>
<td style="width:103.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="139">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Bisa menggerakkan, meng-inisiatif,   dan bisa mengontrol-diri</span></p>
</td>
<td style="width:59.1pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="79">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Strongy negative</span></em></p>
</td>
<td style="width:75.9pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="101">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Tanggapan yang cepat dan langsung   (<em>immediate action</em>)</span></p>
</td>
<td style="width:108pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="144">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Pada saat krisis atau keadaan   mendesak</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:90.45pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Menguasai orang lain (otoriter)</span></p>
</td>
<td style="width:103.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="139">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Punya kepercayaan-diri, empati,   kapasitas untuk mengubah orang lain</span></p>
</td>
<td style="width:59.1pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="79">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Most strongly positive</span></em></p>
</td>
<td style="width:75.9pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="101">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Memobilisasi orang lain supaya   mengikuti</span></p>
</td>
<td style="width:108pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="144">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Ketika perubahan baru diinginkan   atau butuh visi baru atau arahan baru</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:90.45pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Afiliatif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">(Menggabungkan)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;"> </span></p>
</td>
<td style="width:103.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="139">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Bisa menyatukan, manajemen   konflik,<span> </span>empati</span></p>
</td>
<td style="width:59.1pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="79">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Highly positive</span></em></p>
</td>
<td style="width:75.9pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="101">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Menciptakan keharmonisan</span></p>
</td>
<td style="width:108pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="144">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Ketika kerenggangan terjadi dalam   tim atau mencairkan ketegangan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:90.45pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Demokratik</span></p>
</td>
<td style="width:103.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="139">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Bisa mengkolaborasi, komunikasi   dan memimpin tim</span></p>
</td>
<td style="width:59.1pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="79">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Highly positive</span></em></p>
</td>
<td style="width:75.9pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="101">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Membangun komitmen bersama melalui   keterlibatan</span></p>
</td>
<td style="width:108pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="144">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Ketika butuh membangun kongsi,   kebersamaan, kesepakatan, atau untuk mendapatkan masukan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:90.45pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Merumuskan model (<em>pacesetter</em>)</span></p>
</td>
<td style="width:103.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="139">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Kesungguhan, bisa menggerakkan,   punya inisiatif</span></p>
</td>
<td style="width:59.1pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="79">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Highly negative</span></em></p>
</td>
<td style="width:75.9pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="101">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Melaksanakan tugas baru atau tugas   yang standarnya tinggi</span></p>
</td>
<td style="width:108pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="144">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Ketika dibutuhkan hasil yang cepat   dan bagus</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:90.45pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Membina (<em>coaching</em>)</span></p>
</td>
<td style="width:103.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="139">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Bisa mengembangkan orang lain,   empati, penguasaan emosi dan pengetahuan-diri</span></p>
</td>
<td style="width:59.1pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="79">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Highly positive</span></em></p>
</td>
<td style="width:75.9pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="101">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Membangun kekuatan di masa depan</span></p>
</td>
<td style="width:108pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="144">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#244061;">Ketika yang dibutuhkan adalah perbaikan   kinerja atau kualitas â€œSDMâ€ untuk jangka panjang</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">*) Sumber: <em>An EI-Based Theory of Performance, Daniel Goleman, The Consortium for Research on Emotional Intelligence in Organizations, 2004</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dengan kata lain, yang disebut jurus dalam memimpin itu adalah tindakan tertentu yang kita ambil berdasarkan kapasitas yang kita miliki, berdasarkan keadaan orang yang kita pimpin, dan berdasarkan tujuan utama yang hendak kita wujudkan. Efektivitas dan efisiensi kepemimpinan biasanya akan ditentukan oleh sejauhmana kita bisa menentukan jurus yang sesuai dengan tiga hal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Karena itu, dalam berbagai diskusi tentang <em>leadership</em>, saya kerap mendengar pernyataan atau pendapat bahwa tidak semua yang otoriter itu jelek. Otoriter terkadang dibutuhkan sejauh itu digunakan sebagai jurus (<em>the strategy</em>) pada saat keadaan menuntut perubahan yang cepat dan ketika orang-orang yang kita pimpin itu belum memiliki kesadaran moral yang diakarkan pada nilai-nilai abstrak (kebenaran universal).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Lain soal kalau itu kita terapkan sebagai bawaan (<em>trait</em>). Biasanya, jurus otoriter yang kita terapkan sebagai bawaan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak bagus bagi pemimpin dan bagi yang dipimpin. Otoriter yang mulus bisa menghasilkan kediktatoran. Otoriter yang mulus bisa menghasilkan ketakutan terpendam yang suatu saat nanti akan menghasilkan <em>euforia</em><span> </span>(luapan kegembiraan yang berlebihan) yang ekstrim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Jadi intinya, semua jurus di atas apabila diterapkan melebihi porsinya atau ekstrim atau berlebihan, biasanya akan menimbulkan deviasi (penyimpangan) yang umumnya negatif. Model kepemimpinan yang membina (<em>coaching</em>) itu baik, tetapi kalau keterlaluan, deviasinya adalah mendekte. Mendelegasikan itu baik, tetapi kalau keterlaluan, deviasinya adalah rentan kecolongan. Cerewet itu terkadang bagus, tetapi kalau berlebihan, deviasinya adalah bikin orang lain tidak nyaman dan kita pusing sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Syarat apa yang perlu kita penuhi supaya kita tidak berlebihan menerapkan jurus di atas? Syaratnya sebetulnya sederhana dan kita semua sudah tahu namun untuk menerapkannya butuh pembelajaran. Syarat itu adalah menomerduakan keinginan-diri (subyektivitas pribadi, hawa nafsu, egoisme, dll) dan menomersatukan nilai-nilai, dalil pengetahuan, dan petunjuk pengalaman.<span> </span>Jadi, kalau yang kita tunjukkan itu diri kita, deviasi sangat mungkin akan muncul. Tetapi jika yang kita tunjukkan itu adalah komitmen kita pada nilai-nilai yang kita perjuangkan, deviasi itu bisa dikurangi atau diantisipasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Karena itu, dalam ajaran agama ada istilah "marah karena Tuhan". Marah seperti ini dikatakan sebagai tanda keimanan. Marah seperti ini bukan artinya kita mengatakan bahwa marah kita gara-gara Tuhan. Kemarahan karena Tuhan adalah kemarahan yang tujuannya adalah tindakan perbaikan, ditujukan kepada orang yang pas, <strong>tidak dilandasi</strong> nafsu kebencian dan kita sadar kapan kemarahan itu dimulai dan kapan harus diakhiri.<span> </span>Marah karena Tuhan adalah kemarahan yang didasari perjuangan nilai-nilai, pengetahuan dan pengalaman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Untuk seorang pemimpin, baik itu peranan atau jabatan, marah karena Tuhan dengan pengertian yang sangat logis dan fair itu menjadi sangat dibutuhkan. Bayangkan kalau ada seorang pemimpin yang marahnya karena nafsu (amarah), apa yang terjadi? Tentu bisa merugikan dirinya sendiri dan orang-orag yang dipimpinnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:blue;">"<em>Amarah dan tidak toleran adalah musuh bagi pemahaman yang benar."<strong></strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:blue;">(Mohandas Karamchand Gandhi)</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:blue;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Syarat-syarat Memerankan Kepemimpinan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Kalau melihat hukum Tuhannya, kemampuan kita memerankan nilai-nilai kepemimpinan merupakan prinsip dasar kepemimpinan itu. Dikatakan prinsip dasar berarti tidak bisa disiasati atau tidak bisa ditinggalkan. Apa saja prinsip dasar itu? Berikut ini adalah prinsip dasar yang perlu kita jalankan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Pertama</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">, milikilah nilai-nilai yang kita perjuangkan menurut keadaan kita. Ada banyak kasus yang kerap terjadi dalam kepemimpinan rumah tangga. Kasus itu muncul karena lemahnya peranan kepemimpinan. Misalnya saja ada seorang menantu (suami / istri) yang punya hubungan kurang harmonis dengan mertua. Sepintas kita sepertinya dihadapkan pada dilema yang sulit. Kalau kita memihak ke pasangan, kita akan dicap sebagai orang yang tidak berbakti sama orangtua. Tapi kalau kita memihak ke orangtua, kita akan dicap sebagai orang yang mengorbankan pernikahan demi orangtua. Jadi bagaimana ini?<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Jika kita hanya berpikir untuk memihak manusia atau orangnya (mertua, suami-istri, orangtua, dst), maka dilema akan selalu muncul dan masalah serupa akan selalu terulang, pun juga tidak ada solusi yang akan mengangkat kita ke tingkat yang lebih bagus. Tetapi, jika kita berpihak pada nilai-nilai (apa yang baik, apa yang bermanfaat, dan apa yang benar menurut ukuran keluarga kita), maka lambat laun dilema seperti itu akan hilang. Suasana hubungan di keluarga kita pun akan semakin bagus dan pengaruh kepemimpinan kita pun semakin terasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Jadi, seorang pemimpin itu dituntut untuk memiliki "pegangan" berupa nilai-nilai yang ia perjuangkan berdasarkan keadaannya. Dengan berpegang teguh pada pegangan itu maka muncullah kharisma. Tentu saja berdasarkan kadar kita. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai itu, maka apapun yang akan kita lakukan, misalnya menegur, mengingatkan atau mendamaikan, itu semua akan di-<em>drive</em> oleh nilai-nilai itu atau "karena Tuhan".</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Kedua</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">, menjadi <em>role model</em> atas nilai-nilai yang kita perjuangkan. Seringkali manusia itu memiliki jarak antara apa yang diomongkan dengan dirinya, antara apa yang diopinikan dengan dirinya, antara apa yang ditulis dengan dirinya, antara apa yang pelajari dengan dirinya. Ini semua adalah contoh tidak adanya <em>role model</em> <em>(Integrity</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Seorang pemimpin dituntut untuk menjadi <em>role model</em> atas apa yang ia perjuangkan. Mengambil contoh kasus keluarga di atas, berarti kalau kita berpegang teguh pada nilai-nilai kehormonisan atau kesetaraan, maka kita pun harus menjadi contoh tentang hal ini atau kita sudah menjalankan nilai-nilai itu. Kalau kita berpegang teguh pada kesederhanaan, maka kita pun harus menjalankan kesederhanaan. Kalau kita berpegang teguh pada kasih sayang, maka kita pun harus menjalankan kasih sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Jangan sampai nilai-nilai kebenaran itu kita ucapkan tetapi itu semua kita alamatkan kepada orang lain semata. "Nilai-nilai itu <em>for you</em>, <em>not for me</em>." Jika ini yang terjadi, kepemimpinan kita akan lemah. Kepemimpinan yang lemah kurang bisa memberikan solusi dan kurang bisa menekan masalah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Ketiga</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">, mengembangkan kapasitas personal untuk menjadi yang lebih baik. Kapasitas personal yang perlu kita kembangkan itu antara lain adalah kapasitas intelektual (pengetahuan, pengalaman, keahlian, cara berpikir, dst), kapasitas emosional (memperlakukan orang, kontrol-diri, berkomunikasi, dst), kapasitas spiritual (ketaatan, kejelasan visi hidup, dorongan berubah ke arah yang lebih bagus, dst).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Kenapa pengembangan kapasitas personal ini menjadi prinsip? Ini terkait dengan orang-orang yang kita pimpin. Pemimpin yang disiplinnya lemah tidak bisa menggerakkan orang-orang malas. Pemimpin yang emosinya masih kacau kurang bisa mendamaikan orang-orang yang sedang bertengkar. Pemimpin yang masih punya keberpihakan besar pada manusia tidak bisa mengajak orang lain untuk berpihak pada nilai. Pemimpin yang tidak memiliki komitmen untuk belajar tidak bisa menggerakkan orang lain untuk belajar. Intinya, pengembangan kapasitas personal itu haruslah selalu kita lakukan. Tentu saja berdasarkan keadaan kita dan orang-orang yang kita pimpin. Tanpa ini, kepemimpinan kita akan lumpuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Keempat</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">, dahulukan pengaruh sebelum <em>power</em>. Pengaruh itu biasanya dihasilkan dari kualitas "SDM" kita. Pengaruh itu dihasilkan dari komitmen kita dalam menjalankan prinsip 1, 2, dan 3. Seringkali pengaruh itu tidak bisa diciptakan dengan rekayasa, tetapi tercipta sendiri karena proses. Sedangkan power itu adalah kekuatan yang biasanya diciptakan oleh sistem, kekuatan formal, atau hasil dari apa yang kita lakukan (misalnya <em>power,</em> jabatan, kekayaan, keahlian, dst).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Kenapa kita perlu mendahulukan penggunaan pengaruh (<em>influence</em>) sebelum power? Biasanya, ini lebih efektif, efisien, dan lebih "mendekatkan" atau lebih "menyadarkan". Misalnya saja kita ingin memotivasi seseorang agar lebih memperbaiki kinerjanya. Sebelum kita menggunakan jabatan, sangat disarankan kita menggunakan pendekatan personal. Tetapi jika tidak mempan juga, ya apa boleh buat? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Kelima</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">, mengetahui kapan mendengarkan, kapan berbicara, dan kapan mengambil keputusan. Ini sangat penting untuk mengatasi dinamika keadaan yang terus berubah. Kalau kita banyak bicara padahal yang dituntut adalah mendengarkan, ini juga kurang. Kalau kita lebih banyak mendengarkan padahal yang dituntut adalah berbicara, ini juga kurang. Kalau kita hanya bicara dan mendengarkan padahal yang dituntut adalah mengambil keputusan, ini juga kurang. Intinya, sebelum memimpin orang lain, entah peranan atau jabatan, syarat yang harus kita penuhi adalah memimpin diri sendiri. Tidak mungkin kita bisa menjalankan prinsip-prinsip dasar kepemimpinan itu tanpa kemampuan dalam memimpin diri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:blue;">"<em>Tidak ada orang yang bisa memimpin orang lain </em></span><br />
<em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:blue;">sebelum dapat memimpin dirinya."<strong> </strong></span></em><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:blue;">(William Penn)</span></strong></p>
<p><!-- Pre-filled textarea content --></p>
<div style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"></div>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rancangan Pembelajaran Kompetensi Emosi (TK, SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi)]]></title>
<link>http://fiqihsantoso.wordpress.com/?p=92</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 12:03:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>fiqihsantoso</dc:creator>
<guid>http://fiqihsantoso.wordpress.com/?p=92</guid>
<description><![CDATA[       
Tulisan ini adalah hasil pengerjaan tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Lanjutan. Di bawa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&#62;-->  <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  IN KO X-NONE               MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--><span class="mceItemObject"></span>  <!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]&#62;-->  <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Tulisan ini adalah hasil pengerjaan tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Lanjutan. Di bawah ini berisi beberapa rancangan pembelajaran Kompetensi Emosi yang dipilih berdasarkan fenomena kebutuhan belajar. Fenomena kebutuhan belajar diambil dari semua jenjang pendidikan, dari TK hingga Perguruan Tinggi. Kebutuhan belajar yang diangkat disini adalah tentang kecerdasan emosi yang dalam konsep "Emotional Intelligence" Daniel Goleman dirumuskan menjadi kompetensi emosi.<br />
Untuk teman-teman yang sedang menghadapi skripsi<!--more-->, pada akhir tulisan ada rancangan pembelajaran yang bagus untuk teman-teman terapkan. Jika bisa secara pribadi diterapkan..sangat hebat anda!...Penulis sendiri belum pernah menerapkan, baru sampai tahap "memikirkan orang lain"...hehehe. Semoga bermanfaat..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><!--[if gte vml 1]&#62;                        &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong></strong><strong></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US">Taman</span></span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"> Kanak-Kanak</span></span></strong></li>
</ol>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Kebutuhan      Belajar</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Latar Belakang</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-US"><span> </span>Saya orang tua dari anak laki-laki yang berumur 5 tahun. Saat ini anak saya sedang bersekolah di taman kanak-kanak. Anak saya suka marah-marah dan melakukan tindakan yang berlebihan seperti melempar dan memecahkan barang-barang pecah belah, bahkan pernah sesekali melempar pintu jendela hingga retak. Anehnya, setelah itu anak saya kemudian bisa saja langsung menangis atau bahkan tertawa. Saya memperhatikan ekspresi anak saya mudah sekali berubah. Seperti yang saya jelaskan tadi, dalam suatu waktu ia bisa tertawa, tapi beberapa menit kemudian menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-US"><span> </span><em>Identifikasi Masalah</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-US"><span> </span>Pada kasus di atas, anak mengalami katidakstabilan emosi serta sulit untuk mengekspresikan emosinya sesuai dengan keadaan dirinya. Pada kasus di atas dapat diabstraksikan bahwa anak belum mampu mengenali emosinya dengan baik</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sasaran      Pembelajaran</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="IT">Tujuan utama dari intervensi ini adalah memberikan pemahaman mengenai jenis emosi anak serta bagaimana mengekspresikannya sesuai dengan emosi yang sedang dirasakan. Selain itu, intervensi ini juga bertujuan untuk membantu anak memahami konsekuensi dari emosi dan pengekspresiannya. Menurut Goleman (1995), mengenali emosi dan konsekuensinya (<em>emotional</em> <em>self awareness</em>) merupakan salah satu domain dari <em>self-awareness </em>yang berarti suatu kompetensi emosional dalam memahami emosi pada diri sendiri serta konsekuensi dari pengekspresiannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="IT"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="IT"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Proses Fasilitasi</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span lang="EN-US">PelampiasanVerbal</span></strong><span lang="EN-US"><br />
Ajari anak untuk mengenali perasaannya dan mengungkapkan secara verbal dengan bahasa yang dipahaminya sumber kemarahannya atau bad mood-nya. Misalnya, ''Putu rasanya ingin marah Bu Guru, kalau Kadek mengejek tulisan Putu seperti cakar ayam mencari cacing''. Atau, ''Desy rasanya ingin marah, sudah jelas-jelas Nina menghilangkan mainan yang...... tadi dipinjamnya, en dia tak mau mengakui apalagi menggantinya''. Untuk anak-anak yang lebih muda, mungkin Anda perlu membantunya untuk mengungkapkan rasa amarahnya dengan kata-kata Anda. Misalnya, ''Lusi sedang jengkel ya karena kotaknya sukar dibuka. Jangan dibanting dong, nanti jadi rusak dan tidak bisa dibuka. Bawa sini, Bu Guru ajarkan cara membukanya''. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span lang="EN-US">PermainanPeran</span></strong><span lang="EN-US"><br />
Ajarkan anak-anak permainan peran untuk mengungkapkan perasaan dan menyalurkan amarah yang sedang mereka rasakan. Misalnya, Doni sangat marah karena Wayan mengejeknya, sehingga sebagai pelampiasannya Wayan dipukul. Yang harus Anda lakukan, cobalah tenangkan anak dengan memintanya menceritakan apa yang terjadi dan ''mementaskan' setahap demi setahap peristiwa yang telah dialaminya. Secara tidak sadar setelah jadi 'aktor', anak akan merasa emosinya sudah mereda karena secara tidak langsung amarahnya sudah tersalurkan lewat 'permainan peran' tersebut. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span lang="EN-US">PemahamanKonsekuensi</span></strong><span lang="EN-US"><br />
Ajak anak melihat dan merasakan apa akibat yang terjadi terhadap subjek yang jadi korban kemarahannya. Misalnya, Wayan yang menangis akibat dipukul dan dijambaknya atau orang bisa tersinggung kalau dicaci-maki dengan bahasa yang kotor. Ajak anak membayangkan bagaimana kalau dia yang menjadi korban kemarahan. Bagaimana anak menjadi pintu atau meja yang dipukul dan ditendangnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span lang="EN-US">Relaksasi Napas dan Pendinginan</span></strong><span lang="EN-US"><br />
Latih dan ajarkan anak mengendalikan amarahnya dengan relaksasi pernapasan. Tariklah napas perut, tahan sebentar, kemudian keluarkan melalui mulut secara perlahan-lahan. Lakukan sekitar 3-5 kali, lalu minta anak berbicara sambil mengatur napas: Sa-ya-se-dang-me-nge-lu-ar-kan-ra-sa-ma-rah. Sa-ya-ti-dak-bo-leh-me-mu-kul. Sa-ya-se-ka-rang-te-nang-te-nang-te-nang. Pendinginan juga boleh Anda ajarkan, biarkan anak berjalan-jalan ke tempat yang agak tenang, ke kebun di belakang rumah misalnya, yang penting menghindari sumber rasa marahnya terlebih dulu. Mencuci mukanya atau melakukan wudhu bagi yang Muslim dapat pula dicobakan. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>D.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Sumber</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 72pt;"><span lang="EN-US"><a href="http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/12/12/ce2.html"><span style="color:#000000;">http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/12/12/ce2.html</span></a> (diakses pada tanggal 20 Juni 2007, pukul 00.03)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US">Sekolah Dasar</span></span></strong></li>
</ol>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Kebutuhan      Belajar</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Latar Belakang Masalah</span></em></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Kami, orang tua dari tiga orang anak yang kebetulan semuanya adalah putra. Persoalan yang sedang kami hadapi saat ini sehubungan dengan putra kami yang pertama, sekarang ia berusia 10 tahun dan duduk di bangku SD kelas empat. Kami sekeluarga sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghadapi kebandelannya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Sejak kecil anak kami tersebut memang senantiasa menjadi pusat perhatian bagi keluarga besar kami, dari pihak saya maupun suami merupakan cucu pertama. Namun, secara tidak langsung ternyata kami semua kurang memberikan pembelajaran padanya dalam hal menahan diri. Segala hal yang diinginkannya selalu terpenuhi dan tidak terbantahkan. Sejak usia TK sebetulnya perilaku menentangnya telah muncul, sekarang semakin menjadi. Sikapnya egois, sering kali berbohong, emosional, membangkang, bahkan beberapa kali ia "mencuri" hanya sekadar memenuhi keinginan yang memang sulit ia kendalikan. Prestasi akademis di sekolah pun kurang menggembirakan. Cenderung asal-asalan dan kurang bertanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah. Perilaku menentang bukan saja diperlihatkan kepada kami orang tuanya, tapi mulai ia lakukan kepada guru dan orang-orang di sekitarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Identifikasi Masalah</span></em><span lang="EN-US"> <em></em></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Anak tersebut menunjukkan hambatan tingkah laku, menampakkan suatu perilaku penentangan yang terus-menerus disertai adanya kegagalan di sekolah. Dia mengalami hambatan sosial disertai gangguan emosi. Hambatan yang terjadi akibat adanya intervensi berlebihan dari lingkungan, sehingga anak menjadi kurang terampil secara sosial dan kurang mampu menempatkan emosi secara tepat. Karena selama ini anak kurang merasakan antara ganjaran dan hukuman yang setimpal, sehingga dalam proses perkembangannya ia kurang memahami mengenai salah dan benar dalam konteks sosial, dan hanya terfokus pada sesuatu yang berdasarkan penilaian dirinya semata. Pada akhirnya anak tidak dapat mengendalikan dirinya dan cenderung impulsif dalam mengikuti keinginan-keinginan serta meluapkan emosinya secara berlebihan.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sasaran      Pembelajaran</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Sebagian ahli menyorot masalah ketunalarasan salah satunya bermuara dari keluarga. Keluarga memiliki pengaruh penting dalam membentuk kepribadian anak. Keluargalah peletak dasar perasaan aman (<em>emotional security</em>) pada anak. Dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="IT">Tujuan utama dari intervensi ini adalah meningkatkan kontrol diri (<em>self-control</em>) dari anak. Menurut Goleman (1995), pengendalian diri (<em>self-control</em>) merupakan salah satu domain dari <em>self-management </em>yang berarti suatu kompetensi emosional dalam mengendalikan emosi yang meledak seria mengontrol impuls-impuls.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Proses      Fasilitasi<strong></strong></span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Dalam kasus ini, maka diperlukan sebuah intervensi yang berbasis pada keluarga. Orang tua perlu melakukan intervensi langsung melalui panduan yang diberikan oleh ahli pedagogis. Secara umum intervensi dilakukan dengan memberikan respon objektif terhadap tingkah laku anak, sehingga anak akan dapat memahami perbedaan antara tingkah laku yang benar dengan yang salah.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Orang tua dapat menggunakan intervensi behavioral dengan perincian sebagai berikut:</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Meningkatkan tingkah laku yang positif. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span lang="EN-US">Strategi yang digunakan, yaitu:</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>a.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Membuat daftar kelakuan baik. Setiap perilaku anak yang positif kita catat pada sebuah “buku prestasi”. Pencatatan dilakukan bersama-sama dengan anak. Biarkan anak menceritakan perilakunya yang baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>b.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Memberi imbalan. Jika anak mampu bertingkah laku positif dalam beberapa waktu (sebaiknya jangka waktu sesuai dengan diskusi bersama anak), maka berilah sebuah hadiah yang edukatif namun disenangi anak.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>c.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Membuat perjanjian secara tertulis. Berikan kesempatan anak untuk merencanakan perbuatan baiknya selama beberapa hari. Buat suatu perjanjian tertulis dengan anak yang dipajang di kamar anak, sehingga dapat diingat setiap hari.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Mengurangi tingkah laku yang negatif </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span lang="EN-US">Strategi yang digunakan, yaitu:</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>a.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Pembasmian. Jika anak melakukan hal yang negatif, maka kurangi dengan memberikan pernyataan kecewa secara asertif sekaligus memberikan alasan rinci dan pemahaman tentang efek-efek dari tingkah laku negatif tersebut.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>b.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Denda. Perjanjian tertulis yang telah dibuat untuk merencanakan perbuatannya perlu dievaluasi sesegera mungkin. Perjanjian tersebut perlu juga mencantumkan konsekuensi yang akan diterima anak jika ia tidak melakukan hal yang direncanakannya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Intervensi behavioral seperti ini harus melibatkan semua elemen keluarga. Setiap anggota keluarga harus memiliki norma yang relatif sama mengenai suatu tingkah laku. Jangan samapi ada perbedaan norma, sehingga perubahan tingkah laku anak nantinya sulit untuk menjadi konsisten. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Intervensi behavioral ini merupakan suatu program perubahan tingkah laku untuk lebih memahami konsekuensi dari tingkah laku anak. Sehingga memerlukan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Pemahaman tentang konsekuensi dari tingkah laku tersebut akan membuat anak berusaha berperilaku sesuai dengan norma sekitar. Usaha seperi inilah yang akan menumbuhkan pengendalian diri (<em>self-control</em>) terhadap stimulus luar yang menggugah emosi anak.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sumber</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;line-height:150%;"><span lang="FI"><a href="http://www.pikiranrakyat.com/cetak/2006/102006/22/geulis/konsulpaedagogi.htm"><span style="color:#000000;">http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/22/geulis/konsulpaedagogi.htm</span></a> (diakses pada tanggal 18 Juni 2007, pukul 16.30)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:63pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US"><a href="http://www.uny.ac.id/refleksi_grup/default_refleksi.php?pageID=8&#38;kode=407&#38;nip=132318126&#38;nama_dosen=Aini%20Mahabbati"><span style="color:#000000;">http://www.uny.ac.id/refleksi_grup/default_refleksi.php?pageID=8&#38;kode=407&#38;nip=132318126&#38;nama_dosen=Aini%20Mahabbati</span></a></span><span lang="FI"> (diakses pada tanggal 18 Juni 2007, pukul 19.40)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="FI"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US">Sekolah Lanjutan Pertama</span></span></strong></li>
</ol>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Kebutuhan      Belajar</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Latar Belakang Masalah</span></em></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Saya<span> adalah seorang gadis berusia 13 tahun, bersekolah di sebuah SMP Negeri, mempunyai sifat yang ceria, senang bergaul, dan membaur. Prestasi akademik cukup baik dibandingkan teman-teman. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adik kedua perempuan dan yang bungsu laki-laki. Sering perasaan minder saya muncul bila pergi bersama adik. Adik perempuan saya memang berparas cukup cantik dan ia berpenampilan menarik serta pintar bergaul. Sedangkan saya sebaliknya, memiliki ukuran tubuh yang besar alias kegemukan dan menurut saya kurang menarik. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Saya tidak tahu mengapa kami lahir dari ibu dan bapak yang sama, dibesarkan dengan cara yang sama, tetapi mengapa kami berbeda. Sering dalam lamunan saya mengeluh mengapa Tuhan tidak adil, memberi saya tubuh yang besar. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Berbagai upaya untuk menurunkan berat badan telah dicoba, namun hasilnya selalu gagal. Semakin berupaya menekan kecemasan dan rasa tidak nyaman akibat kelebihan berat badan, semakin besar pula keinginan untuk makan. Terlebih bila ada yang mengejek atau membanding-bandingkan dengan adik. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Karena kondisi tersebut, tidak jarang saya melamun dan berkhayal mempunyai tubuh yang ramping dan banyak teman. Namun saya kembali kecewa bila kembali ke alam realita, bahwa sebenarnya saya gemuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Identifikasi Masalah</span></em><span lang="EN-US"> <em></em></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Kegemukan lebih sering menjadi keluhan pada kaum wanita, karena hal ini dirasakan sangat menganggu dalam penampilan dan estetika. Pada kasus di atas, anak mengalami <em>body image </em>yang negatif sehingga menimbulkan rasa percaya diri yang rendah. Dengan kepercayaan diri yang rendah, anak tersebut sulit untuk melihat kelebihannya, padahal ia memiliki prestasi yang cukup baik dibandingkan teman-temannya. Sehingga anak kurang dapat menilai dirinya secara akurat.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sasaran      Pembelajaran</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Untuk mengatasi permasalahan ini anak perlu mendapatkan penilaian yang objektif pada dirinya agar tidak mempengaruhi <em>self-esteem</em>-nya lebih jauh lagi. Tujuan pembelajaran adalah untuk meningkatkan <em>self-awarness </em>anak yang secara otomatis akan mengembangkan kompetensi emosi dalam hal penilaian diri yang akurat serta kepercayaan diri yang baik. Goleman (1995) mengatakan bahwa peilaian diri yang akurat (<em>accurate self-</em>assessment) dan kepercayaan diri (<em>self-</em>confidence) merupakan kompetensi emosional dalam bagian self<em>-awareness</em>. <span> </span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Proses      Fasilitasi</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Intervensi pada kasus ini menggunakan permainan Johari Window. Johari window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari <em>self-awareness</em>, yang berkaitan dengan perilaku, emosi, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Intervensi Johari Window ini perlu melibatkan teman-teman dekat (<em>peers</em>) dari si anak. Minta anak untuk membawa 5 orang temannya yang menurutnya paling mengenal dia (si anak). Berikan instruksi dengan perlahan sehingga 5 orang anak (teman) dapat mengerjakannya sesuai dengan instruksi dan tujuan yang dicapai. Instruksi harus diberikan setelah setiap anak mendapat selembar kertas permainan Johari Window tersebut.<strong></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Johari Awareness Model terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Setelah instruksi pembuka, maka mintalah 5 orang teman tersebut mengisi kuadran I, lalu II, dan seterusnya.<strong></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">- <strong>Kuadran 1 (Open)</strong> merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain.<br />
- <strong>Kuadran 2 (Blind)</strong> merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri.<br />
- <strong>Kuadran 3 (Hidden)</strong> merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.<br />
- <strong>Kuadran 4 (Unknown)</strong> merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US"><span> </span>Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota <em>peer </em>dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: <em>able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US">Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan <em>self-awareness</em> anak kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi area Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa <em>self-awareness</em> serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sumber</span></li>
</ol>
<p style="text-indent:-36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 72pt;"><span lang="EN-US"><a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/032006/19/hikmah/paedagogis.htm"><span style="color:#000000;">http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/032006/19/hikmah/paedagogis.htm</span></a> (diakses pada tanggal 19 Juni 2007, pukul 13.05)</span></p>
<p style="text-indent:-36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 72pt;"><span lang="EN-US"><a href="http://72.14.235.104/search?q=cache:1WWMetTJ8CUJ:www.workfriendly.net/browse/Office2003Blue/http/spss.wordpress.com//+permainan+johari+window+adalah&#38;hl=id&#38;ct=clnk&#38;cd=5&#38;gl=id"><span style="color:#000000;">http://72.14.235.104/search?q=cache:1WWMetTJ8CUJ:www.workfriendly.net/browse/Office2003Blue/http/spss.wordpress.com//+permainan+johari+window+adalah&#38;hl=id&#38;ct=clnk&#38;cd=5&#38;gl=id</span></a> (diakses pada tanggal 19 Juni 2007, pukul 14.15)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US">Sekolah Lanjutan Atas</span></span></strong></li>
</ol>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Kebutuhan      Belajar</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Latar Belakang Masalah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Saya adalah seorang pelajar di sebuah SMA Negeri kota Bandung. Saat ini saya memiliki sebuah organisasi ekstrakurikuler pecinta alam. Saat ini saya sedang duduk di bangku kelas dua. Dalam organisasi pecinta alam tersebut, saya dan teman-teman seangkatan merupakan angkatan 3 karena baru 4 tahun organisasi ini didirikan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Dalam alur kaderisasi organisasi saya, sebentar lagi saya dan teman-teman akan memegang amanah sebagai pengurus inti organisasi yang akan bekerja dengan angkatan di bawah kami. Namun saya agak khawatir, mengingat apa yang sering terjadi di antara angkatan kami. Satu sama lain belum bisa dibilang kompak, bahkan sering sekali terjadi konflik yang menimbulkan kebingungan dari angkatan atas kami dalam memberikan pendidikan kepada angkatan kami.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Identifikasi Masalah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Organisasi merupakan sekumpulan orang-orang yang memiliki tujuan bersama dan membangun sistem kerja di antara mereka. Salah satu hal penting yang harus ada dalam sebuah organisasi adalah kerja sama. Dalam kesehariannya, sebuah organisasi memiliki tantangan untuk menerapkan kerjasama dalam mencapai tujuan organisasi. Kasus di atas merupakan sebuah hambatan internal yang dialami oleh organisasi tersebut. Hambatan inilah yang disebut sebagai konflik. Konflik dapat mengganggu efektivitas dari sebuah organisasi karena mempengaruhi hubungan interpersonal yang melahirkan sebuah kerjasama.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sasaran      Pembelajaran</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Untuk mengatasi permasalahan ini setiap anggota organisasi perlu dibimbing untuk dapat menangani konflik dengan baik. Konflik yang ada tidak boleh dihindari, justru harus diolah agar tidak menjadi hal yang negatif bagi organisasi. Tujuan pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan <em>conflict management</em> setiap anggota organisasi tersebut. Goleman (1995) mengatakan bahwa menangani atau menyelesaikan konflik (<em>conflict management</em>) merupakan salah satu kompetensi emosional dalam <em>social skill</em>. </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Proses      Fasilitasi</span></li>
</ol>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span lang="EN-US">Waktu: </span></em><span lang="EN-US">2 jam </span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span lang="EN-US">Dasar Pemikiran:</span></em><span lang="EN-US"><br />
<span> </span>Pada setiap saat dan dalam setiap kelompok bisa terjadi konflik. Kebanyakan peserta mudah-mudahan sudah pernah mengalami hal tersebut. Namun sering kali konflik tidak diatasi dan ternyata bisa mempengaruhi semua kegiatan dan hubungan dalam kelompok sampai kelompok bubar. <em></em></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="EN-US"><span> </span>Konflik merupakan suatu masalah di antara beberapa pihak, misalnya antara anggota dan pengurus, di antara pengurus dan pengurus lain, di antara anggota dan anggota dan di antara kelompok dengan pihak luar, misalnya kepala desa, mitra kerja atau petugas lapang. Untuk memecahkan konflik, fasilitator, sebagai 'orang netral' yang tidak memihak, bisa mendampingi pihak-pihak yang terlibat. Peran fasilitator adalah untuk mendengarkan pendapat semua pihak terkait, mencoba untuk mengembangkan dialog yang terbuka di antar pihak yang terkait dan cari pemecahannya bersama pihak-pihak terkait. </span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span lang="EN-US">Metode:</span></em><span lang="EN-US"><br />
Diskusi kelompok, Bermain peran </span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span lang="EN-US">Bahan:</span></em><span lang="EN-US"><br />
Flipchart, isolasi, sipdol, kartu metaplan,<br />
Lampiran E4-1: Kartu-kartu kasus konflik </span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span lang="EN-US">Pengaturan:</span></em><span lang="EN-US"><br />
Tempat duduk ditempatkan dalam lingkaran dan disediakan kursi secukupnya untuk bermain peran (tergantung permain) </span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span lang="EN-US">Prosedur:</span></em><span lang="EN-US"> </span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><em><span lang="EN-US">Diskusi kelompok</span></em></strong><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Mintalah setiap peserta untuk menulis salah satu kasus tentang konflik kelompok (atau di kantor) yang mereka pernah alami (10 menit)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Bagilah peserta dalam kelompok (4 orang per kelompok)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Mintalah peserta untuk membahas konflik masing-masing dan cara pemecahannya yang telah dilakukan serta pencapaiannya (30 menit)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Mintalah masing-masing kelompok untuk menyiapkan suatu presentasi tentang cara pemecahan konflik sesuai hasil diskusi kelompok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Berikan kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menyampaikan presentasinya kepada forum pleno</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Berikan kesempatan kepada peserta untuk diskusi</span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><em><span lang="EN-US">Bermain peran</span></em></strong><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Mintalah 6 orang sukarelawan untuk bermain peran: </span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">1 orang sebagai ketua kelompok</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">3 orang sebagai anggota kelompok</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">1 orang kepala desa</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">1 orang fasilitator</span></li>
</ul>
</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Berikan waktu 5 menit kepada pemain untuk persiapan (per individu)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Mintalah kepada fasilitator untuk memikirkan tentang 'strategi pemecahan'</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Mintalah peserta lain untuk mengamati proses</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Bermain peran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Memberikan kesempatan kepada 'Fasilitator' untuk menerapkan 'strateginya'</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Tanyakan kepada peserta:<br />
Apa Anda saksikan dalam bermain peran ini?<br />
Apa konflik?<br />
Mengapa konflik itu bisa terjadi?<br />
Bagaimana peran fasilitator dalam pemecahan konflik ini?<br />
Ketrampilan apa diperlukan oleh fasilitator?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Berikan kesempatan kepada peserta untuk diskusi dan tulis hal-hal penting di atas flipchart agar peserta dapat baca kembali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>ü<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Cobalah merangkum hasil diskusi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span lang="EN-US">Berikan feedback</span></strong><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Suatu konflik biasanya muncul karena kekurangan keterbukaan di antara pihak-pihak terlibat. Pada awalnya, konflik sering tentang satu hal yang kecil, namun kalau tidak dipecahkan bisa menjadi masalah besar dan bisa membubarkan kelompok. Pemecahan konflik tidaklah gampang dan perlu fasilitator yang tidak memihak dan sangat sensitif. Peran fasilitator sebagai 'negosiator' dan 'penasehat' dalam pemecahan. Sangat penting lebih dahulu mendengarkan pendapat-pendapat dari semua yang terlibat serta orang netral lain. Kemudian fasilitator mencoba mengembangkan dialog yang terbuka di antara pihak-pihak tersebut untuk mencari solusi. Namun, ini tidak bisa dilakukan secara buru-buru dan perlu kesabaran dari fasilitator.<strong></strong></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sumber</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><a href="http://www.deliveri.org/guidelines/training/tm_8/tm_8_3_modulei.htm"><span style="color:#000000;">http://www.deliveri.org/guidelines/training/tm_8/tm_8_3_modulei.htm</span></a> </span></span></strong><span lang="EN-US">(diakses pada tanggal 19 Juni 2007, pukul 16.25)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="EN-US"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="EN-US"> </span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="EN-US">Perguruan Tinggi</span></strong></li>
</ol>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Kebutuhan      Belajar</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Latar Belakang Masalah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Saya memiliki seorang kakak yang saat ini sedang berkuliah di sebuah Universitas Negeri. Kakak saya saat ini sedang menjalani kuliah di tingkat 6. Pada tempat kakak saya berkuliah rata-rata seorang mahasiswa lulus 4 tahun. Namun kakak saya sudah melebihi 2 tahun dari sewajarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Ketika ibu dan bapak kami menanyakan kepada kakak, kakak hanya menjawab, “Tenang saja, yang penting nanti lulus…Buat apa lulus cepat-cepat?”. Saya sempat berbicara serius dengan kakak mengenai ini, dan memang ternyata kakak memiliki hambatan dalam mengerjakan skripsi. Selain kuliah sebenarnya kakak saya tidak memiliki kesibukan apa-apa, kecuali sering berpergian untuk sekadara keliling dengan sepeda motor atau ke diskotik bersama teman-temannya yang sebenarnya sebagian besar dari mereka sudah lulus meskipun menganggur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Kedua orang tua kami merupakan pekerja yang memiliki jabatan yang tinggi di masing-masing kantornya. Pola pendidikan keluarga memang cenderung permisif. Ditambah, tidak ada masalah finansial jika kakak saya lulus lama. Selain itu kakak saya kadang merasa bahwa ia sangat sulit untuk termotivasi karena sering merasa kesulitan ketika harus berhadapan dengan buku yang sebenarnya telah ia pelajari selama 6 tahun. Hal itu membuat kakak saya semakin tidak memiliki motivasi yang mendorongnya untuk menyelesaikan skripsi dengan segera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Identifikasi Masalah</span></em><span lang="EN-US"> <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Pada akhir perkuliahan, mahasiswa harus membuat skripsi. Menurut Poerwadarminta (1983), skripsi adalah karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Dalam membuat skripsi, mahasiswa harus mempunyai motivasi yang baik, yaitu agar skripsinya dapat diselesaikan dengan baik pula. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Sementara, motivasi didasari oleh adanya kebutuhan internal yang mendorong dan mengontrol tingkahlaku<span> </span>individu (Ariyanto, 1999). Jika mahasiswa mempunyai motivasi yang baik dalam mengerjakan skripsi maka semua tingkahlakunya harus dimaksudkan untuk dapat menyelesaikan skripsi tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Skripsi sering menjadi momok bagi mahasiswa, karena mahasiswa yang bersangkutan harus menyediakan waktu khusus untuk mengerjakannya sampai selesai. Bahkan, tidak sedikit dari para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi mengalami banyak kendala. Mahasiswa dalam kasus ini mangalami kesulitan dalam mengarahkan tindakannya untuk menyelesaikan skripsinya yang sudah tertunda hingga 2 tahun.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sasaran      Pembelajaran</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span lang="IT">Tujuan utama dari intervensi ini adalah meningkatkan dorongan atau orientasi berprestasi (<em>achievement-orientation</em>) dari mahasiswa tersebut. Menurut Goleman (1995), dorongan atau orientasi berprestasi (<em>achievement-orientation</em>) merupakan salah satu domain dari <em>self-management </em>yang berarti suatu kompetensi emosional dalam mengarahkan dorongan untuk mencapai tujuan yang merupakan standar invidu dalam hal kesempurnaan.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Proses      Fasilitasi</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Dalam memberikan solusi atau pemenuhan kebutuhan dari kasus di atas, diperlukan sebuah intervensi yang dapat meningkatkan <em>self-eficacy </em>dari subjek. Pemberian intervensi menggunakan sebuah pendekatan positif, <em>appreciative inquiry</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span lang="EN-US">Appreciative</span></em><span lang="EN-US"> berasal dari kata dasar <em>appreciate</em> yang berarti menghargai, suatu tindakan memahami sesuatu yang terbaik dalam individu atau dunia disekitarnya, memberi dukungan terhadap kelebihan, kesuksesan dan potensi di masa lalu maupun masa kini. Sementara, <em>inquiry</em> berasal dari kata dasar <em>inquire</em>, yang berarti tindakan mengeksplorasi dan menemukan; mengajukan pertanyaan untuk memperluas pandangan terhadap kemungkinan dan potensi baru (Cooperrider dan Whitney, 2001). Sementara, pengertian <em>Appreciative Inquiry </em>yang diajukan oleh pengembangnya, Cooperrinder (2000, dalam Watkins and Cooperrider, 2000) adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 1cm 0.0001pt;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;" lang="EN-US">…is a worldview, a paradigm of thought and understanding that holds organizations to be affirmative systems created by humankind as solutions to problems. It is a theory, a mindset, and an approach that leads to organizational learning and creativity’. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Langkah dasar <em>Appreciative Inquiry</em> adalah siklus 5-D yaitu <em>Definition</em>, <em>Discovery</em>, <em>Dream</em>, <em>Design</em> dan <em>Destiny</em> (Cooperrider dan Whitney, 2001 dan der Haar dan Hosking, 2004). Berikut ini adalah intervensi menggunakan bimbingan konsultasi yang apresiatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>a.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="EN-US">Definition</span></em><span lang="EN-US">. Langkah awal <em>Appreciative Inquiry</em> adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (<em>affirmative topic choice</em>). Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>è<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Topik dalam intervensi ini adalah motivasi dalam mengerjakan skripsi. Fasilitator dapat menggali lebih luar lagi arah tujuan mengenai pengerjaan skripsi dari mahasiswa tersebut. Selama proses ini merupakan juga proses membangun komitmen dari mahasiswa. Perkenalkan lebih dahulu paradigma apresiatif dan positif dalam konsultasi skripsi ini. Lakukan hal-hal yang dapat menggugah mahasiswa untuk menampilkan sikap yang apresiatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>b.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="EN-US">Discovery</span></em><span lang="EN-US">. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan organisasinya. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>è<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Pada tahap ini, mahasiswa berbagi cerita positif, mendiskusikan kondisi positif dari peluang pengerjaan skripsinya. Fasilitator harus terus menggali potensi-potensi positif mahasiswa yang saat ini belum terungkap oleh mahasiswa itu sendiri. Fasilitator harus bisa mengapresiasi dengan tepat apa yang menjadi nilai positif dari mahasiswa tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>c.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="EN-US">Dream</span></em><span lang="EN-US">. Tujuannya adalah bermimpi (<em>dream</em>) atau berimajinasi (<em>envision</em>) bagaimana idealnya pengerjaan skripsi di masa depan. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan mahasiswa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>è<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Tuntun mahasiswa untuk dapat memberikan spekulasi dengan mengimajinasikan kemungkinan terbaik bagi pengerjaan skripsi, baik dalam hal kualitas skripsi, tebal halamannya, bahkan kecepatan waktu dalam menyelesaikan skripsi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>d.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="EN-US">Design</span></em><span lang="EN-US">. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain perencanaan, proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang telah diartikulasikan pada tahap sebelumnya. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (<em>provocative propositions</em>) secara kolaboratif. Proposisi yang provokatif dapat dipandang sebagai mimpi yang realistis yang memberdayakan seseorang mencapai sesuatu yang lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>è<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Fasilitator memberikan <em>insight</em> untuk menciptkan perencanaan yang realistis. Pandu mahasiswa untuk menyusun langkah-langkah konkrit bagi penyelesaian skripsinya. Bantu mahasiswa untuk lukiskan tujuannya menjadi lebih terperinci dengan targetan yang terukur dan mudah untuk dipantau. Hal ini berkaitan dengan tahap-tahap atau langkah kerja beserta batas waktu yang diperlukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 1cm 0.0001pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>e.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span lang="EN-US">Destiny</span></em><span lang="EN-US">. Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan potensi seseorang untuk membangun harapan, dan menciptakan proses belajar, menyesuaikan dan berimprovisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 1cm 0.0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>è<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Fasilitator terus memfasilitasi pengerjaan skripsi dari mahasiswa tersebut. Berikan apresiasi dan pengingatan terhadap kesepakatan dan mimpi positif yang telah mahasiswa ciptakan. Berikan umpan balik secara apresiatif dari ‘prestasi pengerjaan skripsi’ yang telah diusahakan mahasiswa.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal"><span lang="EN-US">Sumber</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;margin:0 1cm 0.0001pt 72pt;"><span lang="EN-US">Watkins, Jane Magruder and David Cooperrider (2000), Appreciative inquiry: a transformative paradigm. <a href="http://www.odnetwork.org/odponline/vol31n1/transformative.html"><span style="color:#000000;">http://www.odnetwork.org/odponline/vol31n1/transformative.html</span></a> (diakses pada tanggal 18 Juni 2007, pada pukul 20.05)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;margin:0 1cm 0.0001pt 72pt;"><span lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 1cm 0.0001pt 36pt;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span lang="EN-US"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Perubahan pada Tubuh, Pikiran dan Jiwa,  (Body, Mind and Soul)]]></title>
<link>http://triwidodo.wordpress.com/?p=247</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 05:29:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
<guid>http://triwidodo.wordpress.com/?p=247</guid>
<description><![CDATA[Perubahan pada tubuh
            Tubuh manusia bukan seperti patung yang relatif stabil d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perubahan pada tubuh</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Tubuh manusia bukan seperti patung yang relatif stabil dan relatif terpisah dengan alam semesta. Tubuh manusia adalah medan energi yang dinamis, yang terus menerus bertukar energi dengan medan energi yang luas dari alam semesta. Tubuh manusia selalu diperbaharui dan berganti setiap saat. Dalam satu tahun lebih kurang 98 % tubuh kita telah menjadi baru. Tulang manusia pun berubah setiap 3 bulan. Milyaran atom yang membentuk tubuh keluar masuk dengan bebas melalui dinding sel secara terus menerus. Atom-atom baru mengalir terus ke seluruh tubuh, sedangkan atom-atom lama keluar dari tubuh ada. Atom yang keluar lewat pernapasan dihirup manusia dan makhluk lainnya, sehingga sesungguhnya manusia telah bertukar atom dengan manusia dan makhluk lainnya. Otak kita pun, dimana sel-sel nya tidak mengalami regenerasi pada saat mati, terdapat karbon, hidrogen, nitrogen dan oksigen yang hampir semuanya terbaharui baru dalam waktu satu tahun.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pertukaran informasi dalam otak</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Jikalau pada tubuh kita terjadi pertukaran atom, kemudian didalam pernapasan kita terjadi pertukaran gas, maka dalam pikiran kita yang berpusat di otak juga terjadi pertukaran informasi. Otak adalah organ yang menerima, mencatat dan memproses informasi. Sebagaimana kualitas udara mempengaruhi kesehatan tubuh, maka kualitas informasi juga mempengaruhi kesehatan diri. Informasi ini masuk dan keluar lewat interaksi pikiran kita dengan pikiran orang lain, misalnya lewat kontak langsung atau lewat buku. Buku pada dasarnya adalah kumpulan informasi. Masalah yang paling krusial adalah bagaimana memilih informasi yang sehat bagi diri. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Manusia adalah kumpulan informasi yang dimulai sejak kecil, yang dianggap sebagai identitas dirinya. Manusia memilih informasi berdasarkan identitas dirinya. Padahal informasi itu selalu berkembang dan identitas diri kita pun selalu berkembang. Pada suatu saat akan datang suatu kesadaran bahwa diri itu bukan kumpulan informasi pikiran. Akulah pemilik kumpulan informasi itu. Beberapa orang mengatakan yang menyadari kepemilikan akan tubuh dan pikiran itulah jiwa. Jiwa itulah pengendali pikiran, pengendali informasi. Semakin meningkat kesadaran akan tiba saatnya suatu kesadaran baru bahwa diri itulah saksi dari tindakan berpikir, berbicara dan berbuat. Mungkin dari sudut pandang pikiran inilah jati diri manusia. Jati diri sesungguhnya menurut beberapa orang sudah berada diluar pikiran, sudah melampaui pikiran.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penciptaan, Pemeliharaan dan Pendaur-ulangan</span></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Seluruh sel dalam tubuh kita pada dasarnya tercipta atau lahir, kemudian hidup dan terpelihara sampai akhirnya mati dan didaur ulang oleh alam semesta. Kejadian ini merupakan suatu siklus kehidupan. Apabila pada waktu masih hidup terjadi perubahan, misalnya suatu tanaman atau hewan agar bertahan hidup harus menyesuaikan dengan keadaan, maka sel-selnya yang baru sudah menyesuaikan dengan perubahan tersebut. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Manusia mempunyai kemampuan yang luar biasa. Apabila dalam kehidupannya dapat merubah pola pemikirannya karena menyadari jati dirinya, maka akan terjadi perubahan sel-sel syaraf dalam tubuhnya menyesuaikan pola pemikiran yang baru tersebut. Pola pemikirannya akan berubah total dan dia seakan mengalami kelahiran baru, kelahiran Kristus di dalam diri. Pemacu dan pemandu kearah pengenalan jati diri dan perubahan pola hidup tersebut adalah seorang Guru, seorang Master. Terima kasih Guru.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Triwidodo</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Juli 2008.</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Survive Hadapi Masa Krisis]]></title>
<link>http://rahmadona.wordpress.com/?p=58</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 07:42:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>rahmadona</dc:creator>
<guid>http://rahmadona.wordpress.com/?p=58</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Rahmadona Fitria*
SEMARAK peringatan hari Kebangkitan Nasional baru saja berlalu. Virus seman]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Rahmadona Fitria*</p>
<p>SEMARAK peringatan hari Kebangkitan Nasional baru saja berlalu. Virus semangat untuk bangkit dan optimisme terhadap masa depan pun terasa menyentuh hati seluruh anak negeri. Akan tetapi rupanya spirit kebangkitan itu hanya bisa dinikmati sesaat, karena tiba-tiba kenaikan BBM menjadi mimpi buruk yang mampu menghapus secercah harapan yang ditiupkan dari semarak peringatan hari kebangkitan nasional.<br />
<!--more-->Maka tidak mengherankan jika kemudian di mana-mana diwarnai dengan aksi menentang kebijakan mengenai kenaikan BBM. Mereka  meneriakan rintihan rakyat kecil yang semakin menderita akibat kebijakan tersebut. Apa boleh buat, toh pemerintah sudah menyiapkan BLT  sebagai kompensasinya. Menurut pakar psikologi Sartono Mukadis, sebenarnya masyarakat sudah bisa memahami kebijakan pemerintah menaikkan BBM. Jadi menurutnya yang gelisah bukan rakyat tapi elit politik.<br />
Mengingat fakta bahwa sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri selama tiga tahun terakhir yang disebabkan  kemiskinan dan himpitan ekonomi, menuai kekhawatiran kalau kenaikan BBM akan memicu meningkatnya jumlah orang yang mengakhiri hidup dengan sengaja.<br />
Menurut Ketua LBH Kesehatan Iskandar Sitorus, pada tahun 2005 setelah harga BBM dinaikkan, dua bulan kemudian RS Jiwa menjadi overload. Riset Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan di Jakarta  menyebutkan, potensi kenaikan jumlah penderita gangguan jiwa bisa naik hingga 40 persen (angka ini diambil dari statistik November 2005). Selain itu, pada tahun 2007 LBH Kesehatan juga mengutip data kelompok Advokasi Kesehatan Jiwa Universitas Indonesia yang menyebutkan 12 persen dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Menurut Iskandar, penyebab gangguan jiwa terbesar karena keterbatasan ekonomi dan jika tidak tertangani secara baik akan berpotensi mengakibatkan penderita terdorong untuk bunuh diri.<br />
Beragam aksi menentang kenaikan BBM mungkin sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap penderitaan masyarakat. Tapi jika aksi-aksi tersebut diwarnai tindakan kekerasan dan merusak, bukan solusi yang didapat, justru akan menimbulkan konflik baru yang memperburuk keadaan. Tujuan untuk meringankan penderitaan masyarakat akhirnya tidak bisa dicapai, sebaliknya perhatian akan berbalik tertuju pada konflik baru.<br />
Setiap orang mempunyai naluri kemanusiaan yang terwujud dalam bentuk empati dan kepedulian terhadap sesama. Ada banyak cara yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai wujud kepedulian terhadap permasalahan yang terjadi. Kepedulian seperti apa yang kira-kira tepat sebagai solusi dan sesuai dengan kebutuhan ?<br />
Empati dan kepedulian dapat disalurkan melalui kegiatan sosial, sumbangan pemikiran melalui tulisan, bagi yang mampu dengan ilmu dapat mengajarkannya kepada masyarakat dengan memberikan pelatihan, mengadakan seminar atau kegiatan lainnya yang bermanfaat. Lakukanlah hal-hal yang mampu kita kerjakan untuk meringankan permasalahan yang terjadi disekitar kita demi kebaikan sesama manusia tanpa ada maksud-maksud tertentu dibalik itu. Biarlah Allah Swt saja yang memberikan imbalan atas perbuatan baik yang kita lakukan.<br />
Keterpurukan akibat krisis yang merambah ke segala aspek kehidupan, membuat kita harus selalu senantiasa siap menghadapinya (this is not the end of the world). Kesadaran bahwa apa yang sedang kita jalani saat ini adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah kehidupan. This is the starting point for the new hope, kita dilahirkan untuk berjuang (born to fight) dan setiap manusia dibekali kemampuan untuk survive (bertahan) dalam menjalani kehidupan. Sikap optimis dalam menghadapi apa pun yang terjadi menjadi modal penting untuk bangkit dan berprestasi. Kunci penting dalam menciptakan atmosfer yang kondusif bagi diri dan lingkungan untuk survive adalah motivasi positif yang ada pada masing-masing individu.<br />
Daripada setiap orang sibuk meramaikan  opini negatif tentang kenaikan BBM bukankah akan lebih bijaksana jika berbagai pihak berusaha menciptakan suatu solusi bagi permasalahan ini, bahkan dalam wujud yang sederhana ? Misalnya dengan berpenampilan bersahaja, berhemat (menghindari pemborosan), senang berbagi (dermawan) sebagai wujud nyata kepedulian dan empati terhadap permasalahan yang saat ini terjadi.***<br />
*) Konsultan remaja<br />
lembaga psikologi ‘Mitra solusi’ Banjarbaru, weblog: http://www.rahmadona.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tanda-Tanda Kecerdasan Ganda]]></title>
<link>http://radenharya.wordpress.com/?p=32</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 05:38:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>radenharya</dc:creator>
<guid>http://radenharya.wordpress.com/?p=32</guid>
<description><![CDATA[Secara umum, kecerdasan yang dimiliki oleh setiap manusia terbagi dalam sembilan jenis, yaitu: kecer]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Secara umum, kecerdasan yang dimiliki oleh setiap manusia terbagi dalam sembilan jenis, yaitu: <strong>kecerdasan linguistik</strong>, yang berhubungan dengan ketatabahasaan; <strong>kecerdasan logika-matematika</strong>, yang berhubungan dengan penalaran angka-angka; <strong>kecerdasan musikal</strong>, yang berhubungan dengan kemampuan musik; <strong>kecerdasan kinestetik</strong>, yang berhubungan dengan kemampuan fisik/ketangkasan; <strong>kecerdasan spasial-visual</strong>, yang berhubungan dengan kemampuan memanipulasi objek dimensi tiga; <strong>kecerdasan interpersonal</strong>, yang berhubungan dengan kemampuan bersosialisasi dan berhubungan dengan orang lain; <strong>kecerdasan intrapersonal</strong>, yang berhubungan dengan pemahaman diri sendiri; <strong>kecerdasan naturalis</strong>, yang menunjukkan keeratan hubungan dengan alam, dan; <strong>kecerdasan eksistensial</strong>, yang berhubungan dengan pengertian akan kehadiran dirinya di alam semesta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span>Dalam diri setiap orang ada kecerdasan tertentu yang lebih menonjol daripada yang lain. Untuk membantu kamu mengenali kecerdasan mana yang paling menonjol dalam diri kamu, berikut ini merupakan simpulan dari kuis yang diolah dari berbagai sumber berdasarkan Model Kecerdasan Ganda Howard Gardner, Mutiple Intelligences Inventory Walter McKenzie, dan Learning Strength Greg Gay yang dimuat di majalah Bahanan bulan Mei 2007.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Kamu memiliki kecerdasan linguistik yang kuat jika</span></strong><span>:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu gemar membaca buku, majalah, dsb</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu suka bercerita dan humor</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu menyukai permainan kata-kata seperti TTS, scrabble, dan puzzle</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu suka membicarakan dan menuliskan idemu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam kelompok kamu lebih suka menulis dan riset perpustakaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Kamu memiliki kecerdasan logika-matematika yang kuat jika:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu suka bermain catur, dam, atau monopoli</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu bekerja dengan baik bila memiliki jadwal atau rencana harian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam presentasi kelompok kamu lebih suka memakai bagan dan grafik</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu senang mempelajari bagaimana benda-benda bekerja</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kamu gemar hitung-menghitung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><s