<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pinggiran &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/pinggiran/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pinggiran"</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 09:56:33 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[SIAPA MAU PEDULI?]]></title>
<link>http://dokasg.wordpress.com/2008/09/07/check-out-my-slide-show-2/</link>
<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 04:53:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>agussetyono</dc:creator>
<guid>http://dokasg.wordpress.com/2008/09/07/check-out-my-slide-show-2/</guid>
<description><![CDATA[ 
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>!!!<!--Slide.com error: provide id, w, h--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[NGOPI (NGOBROL di PINGGIRAN)]]></title>
<link>http://ingandaya.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Sun, 18 May 2008 01:10:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>bionderz</dc:creator>
<guid>http://ingandaya.wordpress.com/?p=14</guid>
<description><![CDATA[Tema NGOPI tentang Nilai Akademik dalam pandangan dunia industrI dengan tanpa maksud untuk untuk men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tema <a href="http://ingandaya.wordpress.com/">NGOPI</a> tentang Nilai Akademik dalam pandangan dunia industrI dengan tanpa maksud untuk untuk men-generalisir pendapat dari kalangan perusahaan, wawancara ini dilakukan dengan HDR Perusahan Multinasional yang ada diMalang</p>
<p><em><span style="color:#0000ff;">Menurut Pak Budi apakah nilai yang diperoleh mahasiswa atau siswa saat menempuh pendidikan akan menentukan kualitas bagi seorang ketika masuk dalam dunia kerja?</span></em></p>
<p>Nilai yang diperoleh seorang mahasiswa (Indeks Prestasi Komulatif) bukan menjadi fakator utama yang menentukan bagi seseorang untuk dapat diterima dalam suatu pekerjaan tertentu, nilai tersebut,dipandang sebagai pre request pada umumnya kalau IPK ya 2,75. Takaran tinggi rendahnya nilai akademik ini sudah tidak diperdebatkan lagi, dengan asumsi begini, jika seorang mahasiswa dengan IPK rendah itu kecenderungan malas nah bagaimana kalau nanti dia masuk dalam perusahaan apa bisa diandalkan ? tetapi IPK tinggi juga tidak menjamin seseorang ketika masuk dalam dunia pekerjaan akan akan menjadi lebih baik, oleh karena itu lah patokan nilai sudah tidak debatable lagi.<!--more--></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Lalu kualitas nilai seperti apa yang sebaiknya dimiliki seorang dalam dunia kerja?</em></span></p>
<p>IPK itu memang bukan faktor yang utama tapi perlu dicatat bahwa lulusan dari perguruan tinggi itu sudah harus dan dapat mengusai kemampuan-kemampuan dasar keilmuannya, seperti matematika dasar, logika, teknik-teknik dasar selain itu juga jebolan perguruan tinggi yang fresh graduate itu jarang dan hampir tidak ada yang mempunyai kualifikasi yang seperti yang diinginkan perusahaan, karena yang diharapkan itu tenaga yang memang siap pakai, seperti halnya lulusan SMK atau Politeknik yang lebih disukai karena ada focus bidang keilmuan yang memang dipersiapakan untuk kerja. . Maka untuk SMA atau sarjana perusahaan lebih melihat kandidat kariyawannya itu dari sisi potensi yang dimiliki oleh si kadidat tersebut. Ya kalau sudah ada potensi, memolesnya (traning-red) tidak akan memakan banyak waktu dan biaya dan hal ini akan lebih efisien.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dualisme Pinggiran Kota]]></title>
<link>http://talkingspaces.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 11:28:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>nien</dc:creator>
<guid>http://talkingspaces.wordpress.com/?p=3</guid>
<description><![CDATA[Suara garengpung* sudah mulai terdengar, tanda musim kemarau tiba. Dan rasanya sekarang jadi saat ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Suara <em>garengpung*</em> sudah mulai terdengar, tanda musim kemarau tiba. Dan rasanya sekarang jadi saat yang tepat untuk membenahi berbagai infrastruktur perkotaan.</p>
<p>Yogyakarta mungkin salah satu kota yang beruntung terkait kesiapan infrastuktur menghadapi hujan. Kota ini memiliki drainase warisan masa kolonial Belanda. Walau dibangun ketika jumlah penduduk masih pada kisaran puluhan ribu, kini saat penduduk sudah menginjak ratusan ribu, drainase produk "baheula" ini ternyata masih ampuh. Ditambah dengan kondisi topografi yang mendukung, kemiringan yang pas dari utara hingga ke selatan dan adanya 3 sungai membelah kota sebgai drainase alami. Sejauh ini hampir tak pernah terdengar banjir melanda Kota Yogyakarta (kecuali  banjir di pinggiran sungai Code, Winongo, atau Gajahwong).</p>
<p>Tapi mari kita melangkah ke daerah pinggiran kota dari Yogyakarta. Daerah sekitar Ring Road ataupun ke perumahan-perumahan di kecamatan-kecamatan di Bantul dan Sleman yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta. Ketika hujan datang, daerah-daerah ini dengan mudahnya mengalami genangan air yang berlangsung selama beberapa waktu. Belum sepenuhnya bisa disebut banjir tapi bisa saja demikian di waktu yang akan datang.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://talkingspaces.wordpress.com/files/2008/05/img_0015.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4" src="http://talkingspaces.wordpress.com/files/2008/05/img_0015.jpg?w=300" alt="Pinggiran Ring Road Yogyakarta" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><em>Kawasan tepi Ring Road Yogyakarta</em></p>
<p>Kawasan pinggiran memang serba "nanggung". Sawah dan kebun yang biasa meresapkan air sudah berkurang tapi dilain pihak, infrastukturnya masih minim dan belum sesiap kota inti. Kadang kemudian sekedar mengandalkan saluran irigasi persawahan yang sekaligus berfungsi ganda sebagai drainase terbuka. Karakter ruang terbangun yang tersebar dan meloncat-loncat (<a href="http://www.clarkfriends.org/issues/leapfrog.htm">leap frog</a>) menjadikan pembangunan infrastuktur tak bisa efektif dan efisien. Kawasan pinggiran kota telah menyelingkuhi desa, namun tak siap benar  menghadapi kota. Kawasan pinggiran pun menjadi lebih rawan terhadap ancaman banjir.</p>
<p>Tentu perlu ada kebijakan jangka panjang tentang alokasi ruang terbangun untuk menghadapi perkembangan kota. Kerjasama antar wilayah juga menjadi kunci utama dalam permasalahan ini. Untuk sementara waktu musim kemarau yang telah dekat ini rasanya perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.<br />
* Sejenis serangga yang mengeluarkan suara nyaring di musim kemarau</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyembah Pinggiran]]></title>
<link>http://pecintacahaya.wordpress.com/2007/12/26/penyembah-pinggiran/</link>
<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 03:25:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>kacho</dc:creator>
<guid>http://pecintacahaya.wordpress.com/2007/12/26/penyembah-pinggiran/</guid>
<description><![CDATA[dan diantara manusia ada yang menyembah Allah dipinggir-pinggir
maka jika dia memperolah kebaikan
di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><i>dan diantara manusia ada yang menyembah Allah dipinggir-pinggir</i></p>
<p class="MsoNormal"><i>maka jika dia memperolah kebaikan</i></p>
<p class="MsoNormal"><i>dia tenang dengannya</i></p>
<p class="MsoNormal"><i>dan jika dia ditimpa cobaan</i></p>
<p class="MsoNormal"><i>dia berbalik muka</i></p>
<p class="MsoNormal"><i>dia rugi di dunia dan di akhirat</i></p>
<p class="MsoNormal"><i>demikian itu adalah kerugian yang nyata</i></p>
<p class="MsoNormal">(22:11)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesaksian]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/05/29/kesaksian/</link>
<pubDate>Tue, 29 May 2007 04:29:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/05/29/kesaksian/</guid>
<description><![CDATA[
   
Rasus memungut sebuah batu cadas seukuran kepala. Lalu batu itu ia letakkan di atas sebuah to]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Rasus memungut sebuah batu cadas seukuran kepala. Lalu batu itu ia letakkan di atas sebuah tongkat kayu (yang ditancapkan ke tanah). Dengan pisau belati, batu cadas itu ia ukir. Ada gambar mata, hidung dan bibir. Dan Rasus tak lupa menggoreskan sebuah kumis panjang yang melintang. Kemudian, sehelai daun jati ia kenakan di atasnya. Sekarang, batu itu menyerupai kepala manusia dengan sebuah topi. Tongkat kayu adalah badannya.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sejenak Rasus menatap hasil rekaannya. Sudah tepat. Itulah replika dari mantri yang menculik Emaknya sewaktu ia masih kanak-kanak dulu. Menurut Neneknya, mantri itu memiliki kumis dan selalu memakai topi gabus.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Barangkali Anda tidak asing dengan potongan kisah di atas. Ya. Rasus adalah tokoh utama dalam novel <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em> karya Ahmad Tohari.</span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> Novel itu sendiri telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Cina, dan Jepang</span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">.</span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> Sementara penggalan kisah yang saya hadirkan di sini adalah bagian yang —menurut saya— berkisah tentang bangunan sebuah kesaksian.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sejak usia kanak-kanak, Rasus hanya menyaksikan mantri yang dibencinya itu dalam angan-angan. Mereka tak pernah bertemu. Dan Rasus hanya mengandalkan gambaran yang disuguhkan oleh Neneknya mengenai mantri itu. Neneknya bilang, mantri itu berkumis dan bertopi gabus. Itu saja.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Kita yang dimanjakan oleh perkembangan media audio-visual hari ini, mungkin lebih “beruntung” ketimbang Rasus. Kecanggihan multimedia telah memungkinkan kita untuk menyaksikan pelbagai peristiwa yang dulunya luput. Saya yakin bahwa Anda —demikian juga saya— tak pernah menyaksikan langsung pembantaian para Jenderal pada malam 01 Oktober 1965 itu —misalnya. Tapi melalui film yang pada masa Orde Baru diputar setiap tahun dan melalui diorama yang menampilkan peristiwa itu di museum Lubang Buaya, kita digiring untuk menyaksikannya; seolah ia nyata di depan mata kita.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi apa artinya “beruntung” ? Sungguh, saya meragukan makna kata itu di zaman ini. Saya sangsi terhadap keberuntungan yang diperoleh dari upaya menghadirkan kembali realitas dari masa lalu semacam itu. Sebab selalu ada kecenderungan untuk serta-merta menerima suatu cerminan realitas sebagai realitas itu sendiri, hanya karena ia terhadirkan dalam fakta visual yang tampak nyata dan logis. Selebihnya, kita lupa bahwa fakta visual semacam itu bukanlah representasi sempurna dari obyeknya. Bagi saya, kebenarannya hanya tentatif, sebab ada manipulasi yang sepenuhnya bersifat politis. Kita —yang dimanjakan oleh kecanggihan multimedia hari ini— saya katakan beruntung justru karena merasa puas dengan kebenaran yang manipulatif itu.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Rasus —sebagaimana dikisahkan Ahmad Tohari— juga memanipulasi mantri yang dibencinya itu. Oleh sebab itulah ia membangun sebuah replika. Tapi manipulasi yang direka Rasus adalah unik.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Rasus sadar betul bahwa ia tak akan pernah berjumpa dengan sang mantri, padahal ia perlu mendapatkan gambaran yang pasti mengenai Emaknya, agar tak lagi menghantui pikirannya. Ia juga ingin mengusir gambaran tak menentu mengenai kepergian Emaknya yang dikisahkan orang-orang Dukuh Paruk padanya. Maka Rasus memanipulasi mantri itu menjadi sebuah replika dari tongkat kayu, batu cadas yang diukir, dan ditambah dengan sehelai daun jati. Ada transformasi yang diupayakannya; dari hanya sekedar gambaran imajiner menjadi wujud konkret. Dengan memanipulasi gambaran mantri itu, Rasus mau menyaksikan rupanya yang terindra.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Ada sebuah film dokumenter mengenai ritual kremasi di Bali yang juga mengisahkan tentang bagaimana serangkai kesaksian dibangun. Salah seorang dari sanak keluarga yang dikisahkan dalam film tersebut telah meninggal dunia. Tapi mereka yang ditinggal, merasa dihantui, sebab jasad orang yang telah wafat itu belum dibakar sebagaimana lazimnya. Orang tersebut mati tanpa ditemukan mayatnya.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Lalu dibuatlah sebentuk orang-orangan dari koin Cina dalam ukuran mini. Orang-orangan itu dibungkus dengan daun-daunan, diperlakukan sebagaimana halnya sesosok mayat, dan diarak dengan sesajian dan iring-iringan. Sampai akhirnya orang-orangan itu dikremasi. Setelah menyaksikan sendiri asap orang-orangan yang dibakar itu terbang ke angkasa, barulah mereka yang ditinggal merasa yakin bahwa sanak yang meninggal itu telah sampai ke alam yang semestinya.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Uniknya, Rasus dan orang-orang dalam ritual kremasi di Bali itu sama-sama memvisualkan realitas yang abstrak (yang hanya ada dalam angan-angan dan pikiran mereka) menjadi sebentuk orang-orangan; sebuah replika; sebentuk realitas yang konkret dan kasat mata. Dan ketika menghadirkannya dalam wujud nyata, mereka sama-sama memanipulasi realitas tersebut. Tapi mereka sadar betul bahwa hal itu dilakukan demi menggapai suatu maksud —seuntai keyakinan.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dikisahkan bahwa setelah replika itu terbentuk, Rasus meraih sepucuk bedil yang tersandar di sebelahnya. Pikir Rasus, inilah saat yang tepat. Ia bisa menghancurkan replika mantri itu dengan bedil di tangannya. Lalu ia bayangkan dirinya sebagai seorang anggota regu tembak yang siap menembak mati seorang musuh. Bedil sudah terkokang, dan picunya siap ditarik. Rasus hanya perlu meredakan gemuruh dendam-kesumat di dadanya terhadap sang mantri. Dan... hanya sejurus setelah ia merasa mantap, replika mantri yang menjadi sasaran tembaknya itu hancur berkeping-keping. Topi gabusnya terbang entah ke mana.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Demikianlah Rasus yang tengah membangun sebuah kesaksian. Kini sang mantri telah mati. Kepalanya hancur. Rasus sendiri yang telah membidiknya. Ia telah membebaskan Emaknya dari genggaman mantri itu. Dan tidak mungkin bangkai dengan kepala hancur bisa membawa lari Emaknya. Maka kini, Rasus menyaksikan pudarnya bayang-bayang tak pasti mengenai Emaknya yang selama ini bermukim dalam pikirannya.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Justru di situlah letak kekuatan dari sebuah kesaksian. Meskipun manipulatif, ia mampu menghasilkan seuntai keyakinan.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Lantas apakah yang membedakan kesaksian yang dibangun Rasus dan orang-orang dalam ritual kremasi di Bali itu dengan kesaksian kita —yang dimanjakan oleh kecanggihan multimedia— hari ini ?</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sekali lagi, dalam hal kecanggihan media, mungkin kita lebih beruntung ketimbang Rasus dan orang-orang di Bali itu. Tapi justru keberuntungan itu pula yang nampaknya telah menjadikan kesaksian kita melayang-layang di ruang hampa. Berbeda dengan Rasus dan orang-orang di Bali, kita menyaksikan pelbagai realitas yang dihadirkan melalui kecanggihan multimedia tanpa posisi yang pasti. Bagi kita, kesaksian hanyalah sebuah tontonan. Kesaksian kita hanyalah kesaksian <em>akan</em> sesuatu; bukan kesaksian <em>dalam</em> sesuatu.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tentu saja, distingsi —yang saya pinjam dari Heidegger— ini tidak sepenuhnya kontradiktif. Melalui distingsi ini, saya hanya mau mengontraskan sebentuk kesaksian agar tak mengapung di awang-awang. Agar kita —yang hari ini disuguhi pelbagai fenomena karena kecanggihan multimedia— tidak mereduksi fenomena-fenomena itu menjadi sekadar tontonan, tetapi setidaknya menyadari bahwa kesaksian itu turut membentuk kesadaran kita. Sebab ketika menyaksikan sesuatu, sesungguhnya kita tengah berada <em>dalam</em> posisi dan situasi tertentu. Namun sayang sekali bahwa posisi dan situasi itu seringkali dibiarkan mengambang dan tak pasti.</span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
<p style="margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bima]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/05/24/bima/</link>
<pubDate>Thu, 24 May 2007 05:37:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/05/24/bima/</guid>
<description><![CDATA[
        
Bima adalah ksatria yang lurus hati, setia, sederhana dan jujur, tetapi sekaligus ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">       </span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> </span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bima adalah ksatria yang lurus hati, setia, sederhana dan jujur, tetapi sekaligus kasar, menakutkan, dan haus darah. Menjelang perang Baratayudha, para Kurawa berusaha menyingkirkan Bima dari barisan Pandawa. Upaya penyingkiran itu dilakukan melalui Durna —bekas guru Bima yang menjelang perang menjadi pembimbing rohani para Kurawa. Durna memerintahkan kepada Bima untuk mencari air hidup yang terdapat di dalam gua Condromuka; di sebuah hutan. Sejak semula, para Pandawa yang lain telah curiga atas perintah Durna itu. Akan tetapi Bima tetap berangkat untuk mencari air tersebut, tanpa menghiraukan kecurigaan saudara-saudaranya.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sampailah Bima di tempat yang dimaksud Durna. Di tempat itu, Bima merusak hutan dan membongkar pohon-pohonnya untuk menemukan air hidup. Tindakannya itu mengundang kemarahan dua raksasa yang tinggal di situ. Terjadilah perkelahian hebat antara mereka. Kiranya inilah yang dicurigai oleh para Pandawa, bahwa sesungguhnya Bima akan dijebak melalui perintah Durna di atas. Agaknya para Kurawa menginginkan Bima mati di tangan raksasa, sebelum perang Baratayuda terjadi.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tetapi Bima berhasil memenangkan perkelahian dan membunuh kedua raksasa itu. Kemenangan itu pula yang membebaskan kedua raksasa dari kutukan yang semula ditimpakan Batara Guru atas mereka. Keduanya kembali ke wujud asli mereka (Dewa Indra dan Bayu). Mereka berterima kasih kepada Bima dan memberitahukan bahwa air hidup yang dicarinya tidak terdapat di hutan itu.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bima kembali menemui Durna, yang pada kali kedua mengatakan bahwa air itu terdapat di dasar samudera. Bima mulai mencurigai Durna, bekas gurunya itu. Namun demikian, ia telah bertekad untuk mencari air tersebut, meskipun ia harus mati sebelum menemukannya. Saudara-saudaranya para Pandawa kembali mencegah kepergiannya, tetapi lagi-lagi Bima tidak menghiraukannya.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">B</span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">ima memulai pencariannya yang kedua. Kali ini perjalanannya lebih panjang. Ia melewati gunung-gunung dan daratan. Dan setibanya di pinggir samudera, ia menceburkan diri ke dalam gelombang yang berlapis-lapis dan bergemuruh. Di tengah samudera, ia diserang oleh naga raksasa Nemburnawa. Lagi-lagi, perkelahian hebat terjadi; dan lagi-lagi kecurigaan para Pandawa menemukan alasannya. Tapi Bima adalah ksatria yang tidak mudah dikalahkan. Ia berhasil mengalahkan naga raksasa dan menyobek-nyobek tubuhnya dengan kuku keramat <em>Pancanaka</em>.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Seusai perkelahian, Bima merasakan kelelahan yang amat sangat. Ia lalu membiarkan dirinya dipermainkan gelombang dan ombak samudera. Lambat-laun, Bima dibalut oleh keadaan yang begitu sepi.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Pada saat itulah muncul sesosok tubuh di hadapan Bima. Sosok itu sangat persis dengan dirinya, hanya saja bertubuh kecil. Sosok itu adalah Dewaruci, yakni penjelmaan Yang—Maha—Kuasa.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dewaruci mengajak Bima untuk masuk ke dalam tubuhnya yang kecil, guna menyelami batinnya. Meski diliputi keraguan, Bima melakukannya dengan patuh. Ia masuk melalui telinga kiri Dewaruci, sebagaimana diperintahkan. Berkat kesaktian yang dimilikinya, Bima tidak mengalami kesulitan untuk “memasukkan” tubuhnya yang besar ke dalam sosok Dewaruci yang kecil, dan kemudian menyelami batinnya.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">         </span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"><em>Apa yang ditemukan Bima di dalam sana ?</em></span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Semula Bima menemukan dirinya dalam kekosongan tanpa batas. Seolah ia kehilangan segala orientasi. Namun lambat-laun ia melihat matahari, tanah, gunung-gunung, dan laut. Ia mendapati bahwa di dalam tubuh Dewaruci yang kecil, seluruh alam termuat secara terbalik (<em>jagad walikan</em>). Ia menyaksikan warna-warna nafsu (kuning, merah, dan hitam) serta ketenangan hati (putih). Ia juga menyaksikan boneka gading kecil yang melambangkan <em>Pramana</em>, yakni prinsip hidup Ilahi sebagai perigi kehidupan. Singkatnya, dalam penyaksian yang dialami Bima ketika menyelami batin Dewaruci, ia menyadari bahwa hakikat dirinya yang paling mendasar dan mendalam adalah <em>manunggal</em> dengan Ilahi. Di dalam batin Dewaruci yang kecil, yang menjelma sebagai miniatur dirinya, Bima mencapai <em>manunggaling kawula-Gusti</em>.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bima kemudian pulang ke Amarta. Tapi sekarang, kesadaran dirinya sungguh berbeda dari sebelum dia berangkat. Kini, setelah kesaksiannya di dalam batin Dewaruci, pada diri Bima terkandung <em>kesakten</em> yang bersifat transenden yang berpadu secara serasi dengan kesaktian ragawi yang telah dimilikinya. Kelak, dengan <em>kesakten</em> itulah Bima akan menjadi penentu bagi kemenangan Pandawa dalam perang Baratayuda.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">    </span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Demikian kisah Dewaruci, yang memuat inti kebijaksanaan Jawa. Dalam konsepsi orang Jawa digambarkan bahwa jika manusia ingin mencapai kesempurnaan, maka ia harus sampai pada sumber air hidupnya sendiri. Perigi itu tidak berada di luar dirinya, melainkan di dalam dirinya sendiri. Dalam kisah di atas, ia disimbolkan oleh sosok Dewaruci yang merupakan miniatur diri Bima sendiri. Di sanalah bersemayam hakikat diri dan realitas kehidupan yang paling mendalam. Di sana pula tempat berlangsungnya kesatuan hamba dan Tuhan; alam transenden dan imanen, esensial dan eksistensial; <em>manunggaling kawula-Gusti</em>, sebagai kebenaran tertinggi orang Jawa.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Saya suka sekali berlama-lama membayangkan dan menarasikan perjalanan Bima ketika mencari air hidup yang diperintahkan Durna. Perjalanan itu panjang dan sulit. Dan barangkali kita bisa menemukan metamorfosis panjangnya perjalanan itu dalam sebuah cerita yang dikisahkan oleh </span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Leo Tolstoy berikut ini. Tentu saja, Leo Tolstoy bukanlah orang Jawa.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tolstoy bercerita tentang seseorang yang sepanjang hidupnya terus-menerus membeli tanah. Orang itu seolah-olah tak pernah kenyang memperluas kekayaan. Pada sangkanya, dengan tanahnya yang luas, ia akan menemukan kebahagiaan dan kekuasaan. Hingga pada suatu hari, ia melakukan perjalanan untuk mengukur tanahnya yang sangat luas itu, yang telah menjadi wilayah kekuasaannya. Di tangannya tergenggam sebuah meteran. Ia lalu berjalan kaki menghitung petak demi petak. Perjalanannya jauh sekali, sebab tanah yang dimilikinya nyaris tanpa batas. Tepat di suatu titik, orang itu lelah. Ia lalu rubuh dan mati. Akhirnya, di petak terakhir yang berhasil diukurnya itulah ia dikuburkan.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Mungkin kisah Tolstoy adalah cerita tentang ksatria modern yang terbiasa mengukur ruang dengan angka, volume, dan rupiah. Tapi siapakah “ksaria modern” itu ?</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Yang pasti, ksatria modern dalam kisah Tolstoy adalah ksatria yang menyalahi laku Bima. Bisa jadi, ksatria modern itu adalah diri kita sendiri, yang terbiasa mengukur hakikat dan posisi diri dengan membandingkannya dengan posisi orang lain, atau dengan posisi diri sendiri sebelumnya. Sungguh, perbandingan yang semacam itu (akan) berlangsung tanpa habis-habisnya.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi, di situlah kekonyolan, yang menjauhkan ksatria modern dari meneladani Bima. Yang kelihatan adalah bagaimana ksatria modern memperbesar <em>kesakten</em> dan kekuasaannya, agar masih tersedia tempat yang cukup jika mereka hendak beranak-pinak seperti marmut.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bisa saja tempat dan tanah yang dimiliki oleh seorang ksatria modern memang sebanding luasnya dengan semesta yang terhampar di hadapan Bima ketika ia menyelam di dalam batin Dewaruci. Tapi makna dari kedua macam “keluasan” itu sungguh sangat berbeda. Di dalam batin Dewaruci, Bima tidak hanya menemukan tempat bagi dirinya untuk mencapai <em>manunggaling kawulo-Gusti</em>, tetapi ia juga mendapatkan <em>dunung</em>-nya. Sementara ksatria modern hanya memperoleh tempat; tanpa <em>dunung</em>.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Kata <em>dunung</em> berasal dari bahasa Jawa juga. Dalam kamus <em>Baoesastra Djawa</em> yang disusun Empu Bahasa W.J.S. Purwadarminta yang tersohor itu, <em>dunung</em> tak cuma berarti tempat (<em>enggon</em>), wilayah (<em>wewengkon</em>), tetapi juga posisi yang pas (<em>prenah</em>). <em>Dunung</em> adalah pengertian yang lahir dari kesadaran akan kefanaan, yakni </span><span style="font-size:10.5pt;color:black;font-family:'Lucida Sans Unicode';">pengetahuan tentang asal dan tujuan segala ciptaan. Orang Jawa menyebutnya <em>kawruh sangkan paraning dumadi</em>.</span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> Seseorang akan kehilangan <em>dunung</em>-nya ketika ia lebih mengutamakan <em>tempat</em>.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bagi seorang ksatria Jawa (dan orang Jawa pada umumnya), dunia yang terreduksi menjadi kavling-kavling yang terukur, betapa-pun luasnya, bukanlah jaminan untuk bisa sampai pada <em>kawruh sangkan paraning dumadi</em>, apalagi <em>manunggaling kawulo-Gusti</em>.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Meskipun perjalanan para ksatria modern sama-sama panjang dan sulitnya dengan perjalanan Bima dalam mendapatkan air hidup, tapi pengertian dan kesadaran yang berhasil dicapai oleh masing-masing sungguh berbeda.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Saya tak tahu apakah masih ada <em>dunung </em>itu, yang perlahan juga raib dari kosa-kata keseharian orang Jawa. Tapi saya masih mencoba berharap, meski para ksatria di Jogjakarta ini —dari hari ke hari— semakin mempertegas petak tanah mereka, sementara Dewaruci mereka sulap dan kurung di mall-mall, dan di tempat-tempat rekreasi dan hiburan yang super megah.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">       </span></p>
<p></span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sumber: Magnis (Etika Jawa) dan GM (Caping: Hujan)</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">      </span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span><span style="font-size:9pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">      </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jejak]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/27/jejak/</link>
<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 05:53:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/27/jejak/</guid>
<description><![CDATA[
     
      
Berhentilah sesaat. . . ! ! !
biarkan Ruh-mu memandumu pada jejak-langkahnya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">      </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Berhentilah sesaat. . . ! ! !</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">biarkan Ruh-mu memandumu pada jejak-langkahnya</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">tadi malam</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">sewaktu Jasad-mu terlelap</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">    </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">agar Engkau tak sendiri memulai pagi</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dokumentieren]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/dokumentieren/</link>
<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 06:05:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/dokumentieren/</guid>
<description><![CDATA[




Halaman ini menjadi semacam index. Berikut ini adalah judul-judul tulisan yang termuat di halam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;">Halaman ini menjadi semacam index. Berikut ini adalah judul-judul tulisan yang termuat di halaman utama. Tulisan-tulisan tersebut juga bisa diakses langsung melalui halaman ini . . . . . .</span></p>
<ol>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/05/29/kesaksian/">Kesaksian</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqba.wordpress.com/2007/05/24/bima/">Bima</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/27/jejak">Jejak</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/24/banjir/">Banjir</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/20/takdir/">Takdir</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/20/cours/">Cours</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/13/citra/">Citra</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/02/23/hujan/">Hujan</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/02/02/konstitusi/">Konstitusi</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/24/10/">Mati</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/23/adonis/">Adonis</a></span></li>
<li><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/16/rute-semut/">Barbar</a></span></li>
</ol>
<p><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Banjir]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/24/banjir/</link>
<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 05:13:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/24/banjir/</guid>
<description><![CDATA[






Banjir telah surut; kapal Nuh terdampar di puncak Jûdî (Ararat); di hamparan selatan Armeni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Banjir telah surut; kapal Nuh terdampar di puncak Jûdî (Ararat); di hamparan selatan Armenia yang berbatasan dengan Iran (Mesopotamia). Puncak itu tingginya 16.854 kaki. Lebih tinggi dari Jaya Wijaya di Papua, yang jadi puncak tertinggi di Indonesia. Saat itu, bukan hanya Jawa, tapi ribuan pulau yang sekarang kita sebut Indonesia, dan bahkan semesta dunia menyatu di bawah selimut air bah yang entah berwarna apa.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dalam epic kuno Babylonia —yang ditulis dalam 12 lembaran terbuat dari tanah liat dengan tulisan kuno berbentuk baji pada 2000 SM—, kita juga mendengar kisah tentang seorang bijak bestari bernama Utnapishtim yang selamat dari banjir besar, dan dianugerahi keabadian oleh para dewa. Utnapishtim ditemui oleh Gilgamesh —raja Uruk (Erech; al-Warqâ; Irak)— yang menanyakan kepadanya tentang rahasia keabadian, setelah Gilgamesh kehilangan sahabatnya; Enkidu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Ada lagi mitos Yunani kuno tentang banjir bandang yang dikirim oleh dewa Zeus, karena tingkah bejat manusia telah membuat sang dewa muntab sampai ke ubun-ubun. Sembilan hari siang-malam, bumi diguyur hujan —yang mungkin lebih dari 340 mm perhari. Syahdan, seluruh ras manusia binasa, kecuali Deucalion (raja Phthia di Thessaly), putra dari Prometheus dan istrinya; Pyrrha. Sebab hanya mereka berdua yang tabah di jalan para dewa; pemuja kebijaksaan dan pengikut kebaikan. Deucalion dan Phrrha terdampar di puncak Parnassus yang 8.061 kaki itu; puncak suci bagi Apollo dan Dionysus.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Banjir-banjir yang luar biasa besarnya pernah melanda dan meluluh-lantahkan bumi.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi tak pernah terdengar seorang ahli atau ilmuwan yang berteori tentang siklus ‘waktu’ sekian tahunan atau sekian abad-an yang mengundang datangnya banjir-banjir maha dahsyat itu. Kita pun tak menemukannya. Epic-epic kuno dan hikayat Kitab Suci itu justru mau mewartakan “siklus” kejahatan dan kebejatan manusia yang selalu berulang; kaum Nuh yang durhaka, manusia-manusia jahat di bumi Zeus, dan orang-orang bejat di Babylonia. Inilah yang membuat Tuhan Nuh murka, menjadikan Zeus muntab, dan membuncahkan amarah para dewa di Babylonia. Banjir maha dahsyat didatangkan, meski Deucalion telah bersimpuh di kuil suci di Delphi, dan Nuh bermohon di puncak Jûdî (Ararat).</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tiba-tiba teori “siklus waktu” itu muncul di negeri ini. Kabarnya, Jakarta dilanda banjir “lima tahunan”. Data-data dikumpulkan, fakta-fakta dibeberkan. Masyarakat Jakarta diberitahu sudah berapa kali mereka terkena banjir. Kiranya banjir yang datang nyaris setiap tahun itu telah menghanyutkan catatan dan ingatan mereka, nyaris setiap tahun pula —mereka tak lagi mencatatnya. Banjir-banjir yang telah berlalu diukur seberapa besarnya. Yang kecil dipisahkan dari yang besar, sehingga teori “siklus waktu lima tahunan” itu menjadi masuk akal.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sayangnya, saya tak tahu apa standar perumusan “teori” itu, sehingga ia terdengar ilmiah dan masuk akal. Anda sendiri boleh setuju atau tidak sependapat dengan keilmiahannya, menyangkal, meneguhkan, meng-amini, atau malah memunculkan teori baru bahwa banjir Jakarta adalah keniscayaan; takdir; kehendak alam; hukuman; atau hanya sekedar peringatan Tuhan. Anda bahkan boleh mencatatnya dalam buku sejarah Batavia.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi marilah melihat kisah lain dari kontroversi teori siklus banjir Jakarta; ia seolah memaksa kita untuk menatap buku-buku tangan kita sendiri.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Banjir Jakarta memang bukan datang dari Zeus, tak sama dengan banjir di Babylonia, dan tak sebanding dengan dahsyatnya banjir di masa Nuh. Hal ini sudah jelas. Memang, Indonesia bukan negara Tuhan; bukan negara Teokrasi. Jakarta tak punya <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Ka‘bah </span></em>; tak memiliki <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tanah Suci </span></em>; dan tak ber-<em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cathedra</span></em>. Jakarta bukan kota Tuhan; dan bukan pula tempat bersemayam singgasana para dewa. Di kota ini, Tuhannya Nuh, para dewa Babylonia, juga Zeus, tak punya kuasa. Mereka tak “mampu” membuka pintu-pintu air, atau menyediakan tanah-tanah resapan.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Jakarta “dikuasai” oleh manusia; yang menentukan dibangunnya taman-taman atau gedung-gedung; yang menggusur dan menyulap petak-petak sawah menjadi rumah-rumah susun; yang memegang kunci pintu-pintu air; —tapi juga— yang dipercaya akan menghapuskan kemungkinan banjir tahun depan. Nampaknya, manusia-lah yang pegang kendali atas banjir Jakarta; bukan (takdir) Tuhan atau dewa-dewa, dan bukan pula siklus lima tahunan —seperti yang diteorikan itu. Manusia-manusia —di Jakarta— lah yang punya “kuasa” untuk menyulap air hujan menjadi air bah.</span></p>
<p></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Suatu ketika, Muhammad Iqbal bertutur tentang filosof kuno India, Bartari-Hari, yang tengah menasehati Zinda-Rud:</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 36pt;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dunia yang kau lihat ini bukanlah buatan Tuhan</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 36pt;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Kaulah penyebab jentera pemintalmu berputar</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 36pt;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Pun benang yang tergulung padanya</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 36pt;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tunduklah pada Hukum imbalan perbuatan</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 36pt;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Karena dari perbuatan terlahir Neraka, Pembersih Jiwa dan Surga</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dulu, tiap-tiap cemooh, kepongahan, dan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh tangan-tangan kaum Nuh, berbalik menjadi guratan-guratan ajaib yang mengundang semakin tingginya curah hujan. Ditambah dengan ketamakan dan pengingkaran, maka ‘bumi’-pun turut menutup pintu-pintu penyerapan airnya. Kaum Nuh-lah yang mengundang sendiri datangnya air bah yang meluluh-lantahkan mereka. Dan sekarang, tampaknya banjir Jakarta juga diundang dan didatangkan oleh kesombongan dan pengingkaran tangan-tangan yang sama.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Banjir-banjir yang luar biasa itu benar-benar berlaku. Ia jadi legenda. Deucalion harus menaburkan tulang-tulang ibunya untuk “menumbuhkan” bangsa-bangsa baru, sementara Nuh harus hidup ratusan tahun hingga lahir generasi-generasi baru. Tak heran jika riwayat beberapa suku-bangsa bermula setelah banjir Nuh mereda.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dan, banjir Jakarta. . . . ? ? ? ?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Takdir]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/20/takdir/</link>
<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:48:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/20/takdir/</guid>
<description><![CDATA[

    
Jika kau Muslim sejati,
takdirmu adalah meraih apa yang kau ingini.
Jika tak kau lepaskan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Berlin Sans FB';"></span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></span><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">    </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Jika kau Muslim sejati,</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">takdirmu adalah meraih apa yang kau ingini.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Jika tak kau lepaskan keimanan kepada Muhammad,</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Kami akan selalu bersamamu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">          Apa arti dunia yang menyedihkan ini ?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">          Kami menawarimu untuk <strong><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">menulisinya</span></strong> dengan pena dan buku sejarah</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></p>
<p></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
<p><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">=== Muhammad Iqbal ===</span></p>
<p><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cours]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/20/cours/</link>
<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 06:10:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/20/cours/</guid>
<description><![CDATA[  
Ferdinand de Saussure memusnahkan seluruh naskah kuliah linguistik umum yang pernah diajarkanny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Ferdinand de Saussure memusnahkan seluruh naskah kuliah linguistik umum yang pernah diajarkannya sepanjang tahun 1907 dan 1911. Tak sebaris-pun guratan kejeniusannya dibiarkan tersisa. Bapak Linguistik Modern itu wafat membawa-serta gadingnya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi para mahasiswanya hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk membangkitkan kembali tanda-tanda kedigdayaan Sang Guru. Catatan-catatan kuliah dikumpulkan, ingatan dikuras, dan memori dijernihkan; agar kado kenang-kenangan yang mereka hasilkan, benar-benar mengkristalkan betapa kejeniusan Sang Guru layak diperhitungkan.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cours de Linguistique Générale</span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> tersusun. Sebuah penanda berhasil dibangkitkan. Saussure tersohor di berbagai penjuru dunia, dikenal oleh berbagai bangsa, diperbincangkan dalam beragam bahasa, lebih dari banyaknya bahasa yang dikuasainya. Ia dirujuk sejauh sesuatu memiliki struktur.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Namun, karya monumental yang dinisbatkan kepada sang jenius —yang di usia 21 tahun telah berhasil menunjukkan adanya lima buah vokal dalam bahasa-bahasa Proto-Indo-Eropa— itu, tak kurang mengandung anomali.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Oktober 2002, Roy Harris, guru besar emiritus di Universitas Oxford mewartakan karyanya: <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Saussure and His Interpreters</span></em>. Harris —yang telah lama berkubang dengan teori bahasa Saussure— bertindak sebagai algojo yang —dengan seringai bengis— mengancingkan tali gantungan ke leher siapa saja yang dinilainya telah menyelewengkan dan mengkhianati kejeniusan Saussure selama satu abad terakhir. Tak hanya para mahasiswa yang “telah berjasa” menghasilkan kado kenang-kenangan itu saja yang dibidiknya, tapi nama-nama besar, seperti Noam Chomsky, Roman Jakobson, Claude Lévi-Strauss, Roland Barthes, dan Jacques Derrida, ikut diburu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Apakah ini anomali dari sebuah penandaan; ataukah perebutan autentisitas ?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Saya tak mampu pastikan. Tapi yang membuat saya bertanya, bagaimana sebuah monumen karya Saussure yang telah mempengaruhi perkembangan Linguistik dan Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora itu bisa ada, sementara —dengan sistematis dan terstruktur— reformulasi dan otoritas tafsir telah menundukkan dan mengkultuskannya di menara gading yang tak terjamah, semenara kejeniusannya diperebutkan sebagai legitimasi ?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Saya bergidik membayangkan karya-karya lain yang senasib dengan <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cours</span></em>; baik yang ditulis sendiri oleh tangan manusia, atau yang “disampaikan” Tuhan melalui manusia. Saya sungguh tak menghendaki bila <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cours </span></em>harus mengalami pentaqdisan sedemikian rupa oleh mereka yang tengah berebut itu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cours</span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> bukan kitab suci; dan Harris telah cukup bijak menunjukkan bagaimana rancu dan campur-aduknya “gagasan Saussure” dengan ide-ide yang “disandarkan pada Saussure”; sebagaimana rancunya “ide-ide dalam Kitab Suci” dengan “ide-ide yang disandarkan pada Kitab Suci”. Namun ia tak cukup kuat untuk melanggengkan kebijaksanaannya. Ia justru memvonis bahwa yang kedua tidak akan sampai mengatasi yang pertama. Ia mau mencuri gading Saussure untuk dirinya sendiri.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bulu tengkuk saya tambah meremang di titik ini. Terlintas bila kado dari Bally, Sechehaye dan Riedlinger itu harus dibakar dan dimusnahkan, karena milik Émile Constantin-lah yang dianggap paling benar; atau sebaliknya. Terlintas pula jika Lévi-Strauss harus menghapus konsep <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">mytheme</span></em>-nya, hanya karena dianggap tidak terlalu tunduk pada ketentuan <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">sign</span></em> Saussure. Tak terbayangkan jika Jakobson harus melumat lagi <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">fonem</span></em>-nya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cukuplah mushaf-mushaf yang menjadi korban di masa jahiliah dahulu . . . . .</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Siapakah yang berhak menentukan kuasa atas “gagasan Saussure” ? Saussure sendiri telah menunjukkan bagaimana “semena-mena”-nya ia tatkala dibangkitkan menjadi sebuah penanda. Ia teguh pada pendiriannya: <strong>Tak ada signifikasi yang tetap dan pasti</strong>. Dan ia diamini tidak hanya di linguistik, tetapi juga psikoanalisis, kritik sastra, dan bahkan antropologi.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi ada yang mencoba menundukkan kesemena-menaan itu. Memanfaatkan gading yang terkubur bersama sang jenius. Ada gelagat hendak menjadi algojo, dan bertingkah sebagai orang yang bicara tentang suatu hikmah dengan berkata: “Inilah yang sesungguhnya termaktub dalam kitab suci....”. Padahal tak sebaris-pun guratan “kitab suci” itu terbukukan ketika manusia yang dipercaya mengembannya wafat.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Yang tersedia hanya catatan-catatan para mahasiswa....</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Citra]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/13/citra/</link>
<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 04:45:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/04/13/citra/</guid>
<description><![CDATA[   
bila citra jiwa telah disempurnakan di dunia
melihat sesama adalah melihat Tuhan
manusia yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';">bila citra jiwa telah disempurnakan di dunia</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></em><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';">melihat sesama adalah melihat Tuhan</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></em><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';">manusia </span></em><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">yang</span></strong><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> </span></em><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">dirahmati</span></strong><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> adalah yang satu tarikan nafasnya</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></em><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';">menyebabkan sembilan langit mengitari dirinya</span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></em></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:10.5pt;font-style:normal;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">== Muhammad Iqbal ==</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hujan]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/02/23/hujan/</link>
<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 05:01:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/02/23/hujan/</guid>
<description><![CDATA[   
GM, “Hujan”; (Majalah Tempo, Edisi. 50/XXXV/05 – 11 Februari 2007).

Pagi itu, dewa Zeus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">GM, “Hujan”; (Majalah Tempo, Edisi. 50/XXXV/05 – 11 Februari 2007).</span></p>
<blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Pagi itu, dewa Zeus melihat putri dari Agenor —raja Tyre— yang bernama Eropa, sedang memetik bunga. Seketika ia tergoda pada keelokan Eropa. Dadanya sesak penuh cinta. Ia turun ke bumi dan berupaya memikat Eropa dengan segala daya. Zeus menjelma menjadi banteng liar, namun jinak di hadapan Eropa. Ia membujuk Eropa agar naik ke punggungnya. Eropa terpesona dan termakan bujukannya. Zeus —dengan segera— melarikan Eropa ke pulau Crete (Kriti). Ada samudera yang harus dilintasi; ada jarak yang harus dibentangkan, agar cintanya tidak menepuk ruang hampa.</span></em></p>
</blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Mitos ini pernah diurai-ulang oleh Lévi-Strauss, antropolog Prancis yang suatu kali hendak dinobatkan sebagai “pengganti” filosof eksistensialis terkemuka, Jean-Paul Sartre. Baginya, mitos dewa Zeus dan Eropa bukanlah dongeng biasa. Ia menyimpan logika para penuturnya; dan juga makna.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Di mata Lévi-Strauss, Eropa tidak boleh terpikat pada Zeus, dan Zeus pun tidak seharusnya terpikat pada gadis bumi. Ada jarak yang membuat keterpikatan itu menjadi terlarang.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tetapi ini adalah soal penafsiran, sebab di pihak lain, mitos ini juga menunjukkan perkenan Dewa pada manusia. Atas perkenan itu, keturunan Zeus dari Eropa; Minos, Rhadamanthus, dan Sarpedon, masing-masing menjadi raja; sementara Zeus tetap agung di kedudukannya. Betapa pula mitologi Jawa bercerita tentang harapan-harapan manusia akan perkenan yang serupa dari para dewa di langit sana.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Zeus, sang penguasa para dewa itu, memang misteri. Orang-orang termangu mengetahui “<em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">affair</span></em>”-nya dengan perempuan-perempuan bumi, tetapi kemurahan hatinya dengan cara yang tak biasa itu juga mencenungkan.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bagi saya, Zeus sama misteriusnya dengan misteri hujan yang akhir-akhir ini menyentak beberapa kota. Zeus turun ke bumi menemui Eropa untuk memautkan cintanya, sebagaimana hujan yang turun menghantarkan dirinya ke haribaan bumi. Persoalannya kemudian terletak pada para makhluk selain Eropa dan alam semesta. Saya katakan demikian, sebab mitos itu mengisahkan teks lain:</span></p>
<blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cadmus, saudara laki-laki Eropa, diperintahkan Agenor —sang ayah— untuk mencarinya. Cadmus harus menemukan Eropa, atau ia tidak boleh kembali. Dalam pencarian itu, Cadmus mempertaruhkan posisinya sebagai pangeran di Tyre.</span></em></p>
</blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cadmus adalah saksi di hadapan raibnya Eropa, sebagaimana anak-anak manusia yang juga bersaksi di bawah terpaan hujan. Zeus —dan hujan— turun dari langit tanpa ada yang mampu menolaknya. Bahkan Agenor dan Cadmus-pun tidak. Di hadapan turunnya Zeus —dan hujan—, anak-anak manusia hanyalah para saksi yang harus menentukan sikap.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tetapi sikap itu sendiri dibangun di atas suatu agunan yang dipertaruhkan. Cadmus akan kehilangan posisinya jika tidak mampu menemukan Eropa. Anak-anak manusia juga mempertaruhkan ‘sesuatu’ di hadapan hujan yang menderas. Harapan, tetapi sekaligus kekhawatiran, membungkus kesaksian mereka. Di sini teks itu berlanjut:</span></p>
<blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cadmus sampai pada ujung upayanya dalam menemukan Eropa. Ia gagal, dan ia pun enggan kembali ke Tyre. Karena kegagalan itu, Cadmus kehilangan posisinya. Sadar akan gambaran nasibnya, di Delphi, Cadmus memohon bimbingan para dewa. Oleh para dewa, Cadmus tidak diperintahkan menemukan Eropa, akan tetapi disuruh membangun sebuah kota. Ia harus mengikuti seekor lembu yang akan berhenti di suatu tempat tertentu. Di tempat itulah nantinya Cadmus akan membangun Thebes; kota bagi kerajaannya.</span></em></p>
</blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Agaknya Cadmus menyadari aral yang merintangi upayanya menemukan Eropa. Agaknya pula ia menyadari bahwa tidak mudah bagi manusia untuk mengetahui rahasia para dewa. Zeus telah membawa Eropa ke suatu tempat yang tak bisa dicapai. Tinggallah Cadmus yang jadi saksi bagi raibnya Eropa, dan kehilangan kedudukannya di Tyre.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dan siapa pula manusia yang sanggup merintangi pertemuan hujan dengan bumi? Kahlil Gibran pernah bersyair tentang nyanyian gelombang yang menghantarkan dirinya pada pantai; kekasihnya. Gelombang laut melumatkan diri di hamparan dada pantai; dan pertemuan keduanya membentuk buih-buih cinta. Di hadapan pertemuan itu, batu-batu karang yang kokoh itu-pun hanya jadi saksi.</span></p>
<blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><em><span style="font-size:9.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cadmus sampai di sebuah kolam suci yang dijaga seekor naga —yang keramat bagi Ares; dewa perang. Cadmus bertempur dan berhasil membunuh naga itu. Atas petunjuk dewi Athena, Cadmus menebar gigi-gigi naga tersebut, yang kemudian berubah menjadi orang-orang Spartoi. Orang-orang Spartoi ini saling bunuh. Mereka yang masih hidup kemudian membantu Cadmus mendirikan kota Thebes. Tapi, sebelum menjadi raja di Thebes, Cadmus harus menebus dosanya karena telah membunuh naga suci. Cadmus menjalani masa penebusan dosanya, hingga akhirnya Ares, dewa perang, mau berdamai dengannya. Cadmus menjadi raja di Thebes, dan mengawini Harmonia, putri Ares.</span></em></p>
</blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Cadmus mencapai ‘dunung’-nya, tapi tidak tanpa aral. Ada khilaf yang harus disadari; ada kearifan akan kuasa yang lebih besar yang mesti didakui, dan ada kedhaifan yang membutuhkan inayat. Cadmus tidak sendirian membangun Thebes.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi itu Cadmus yang raja di Thebes. Dia bukan para raja di Jakarta yang justru membuat saya mengerutkan kening. Di hadapan hujan yang tak terbendung, mereka (di Jakarta) malah semakin gigih memupuk kebakhilan dan ketamakan dengan memperbesar “tempat”-nya. Agaknya “Cadmus-Cadmus” yang sekarang di Jakarta itu tetap ‘ngotot’ menemukan Eropa, karena tak mau kehilangan kedudukannya di “Tyre”.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sebagai saksi, mereka khianat; bahkan lebih buruk lagi, mereka para penggecut yang tak hendak menampilkan diri sebagai manusia. Tidak seperti Cadmus yang —menurut tafsiran Lévi-Strauss— mempertaruhkan segalanya dan menghadapi naga keramat demi mengukuhkan keberadaannya sebagai manusia.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Di hadapan hujan yang tak tertolak itu, terhampar kemungkinan dan pilihan. Hujan tak harus disumpahi, sebab ada harapan yang mengiringinya, jika didahului oleh kesadaran akan kedhaifan dan kekhilafan.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Hujan justru menyentakkan suatu detik untuk berhenti, seperti ‘saat’ di mana Cadmus berhenti; bermohon di sebuah kuil suci di Delphi.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">  </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konstitusi]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/02/02/konstitusi/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 04:14:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/02/02/konstitusi/</guid>
<description><![CDATA[     
Sebaiknya baca dulu: Goenawan Muhamad, “Konstitusi”; atau dalam Majalah Tempo, Edisi. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">     </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Sebaiknya baca dulu: Goenawan Muhamad, “<a target="_blank" href="http://caping.wordpress.com/2007/01/29/konstitusi">Konstitusi</a>”; atau dalam Majalah Tempo, Edisi. 49/XXXV/29 Januari – 04 Februari 2007.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">“<em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Waktu adalah ibarat pedang</span></em>”, demikian salah satu “hikmah” yang dilantunkan sejak masa Arab Klasik. Di hadapan pedang, hanya tersedia dua kemungkinan: menggunakannya untuk ‘menebas’, atau justru ditebas olehnya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Lantas nada “tebas-menebas” dari “hikmah” tersebut menjadi lebih lunak di tangan Benjamin Franklin. “<em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Time is Money</span></em>”, demikian slogannya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Sayangnya, hikmah dan slogan itu kita terima nyaris tanpa daya kritis. Orang-orang besar dan super sibuk, akan terlihat bangga ketika berkata bahwa mereka “tidak punya waktu”. Mereka yang mulai bergelut dengan padatnya aktivitas, juga akan ikut-ikutan bangga jika mulai merasa “tidak punya waktu”. Diri menjadi hanyut dalam arus waktu yang sama sekali tak terbendung; ditekuk-tekuk oleh keperkasaannya; padahal pada satu titik tertentu, sang ‘waktu’ justru memaksa siapa pun yang mencoba mengikuti arusnya untuk berhenti. Tak ada yang luput dari tebasan (pedang) sang waktu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Saya bayangkan, para pendiri negara ini dihadapkan pada kenyataan ‘liar’ sang waktu menjelang UUD 1945 rampung dirumuskan. Sang waktu sudah membuka sarungnya. Kilatan mata (pedang)-nya menebarkan keketiran, dan siap menebas siapa pun yang tak mampu merengkuhnya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Ada beberapa indikator sejarah yang masyhur. <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Pertama</span></em>, Jepang sudah mengambil ancang-ancang bertekuk lutut pasca ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Kekalahan Jepang bukan tanpa implikasi apa-apa terhadap negeri ini. Jika Jepang jatuh, maka bukan hanya Jepang saja yang harus berlutut, tetapi juga tanah jajahannya. <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Kedua</span></em>, bukan rahasia umum lagi bahwa saat itu Belanda masih ingin kembali menguasai bekas jajahannya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Kekalahan Jepang dan kembalinya Belanda adalah setali tiga uang. Dua-duanya sama dengan “tebasan” (pedang) sang waktu. Maka para pendiri negara ini dihadapkan pada tuntutan untuk memilih; menebas atau ditebas.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">“Ditebas” berarti dijajah; resikonya nyata dan jelas. Akan tetapi, pilihan untuk “menebas”, bukanlah tanpa resiko. Di balik pilihan yang kedua ini bersembunyi “Belanda-Belanda” dan “Jepang-Jepang” baru dalam jubah feodalisme lama yang belum sepenuhnya musnah. Di baliknya bersembunyi pula paganisme dan mitos-mitos yang siap mengukuhkan kembali tahta raja-raja klasik di negeri yang baru kenal kemodernan ini.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Tapi mereka sadar akan resiko yang mungkin muncul dari tebasannya. Mereka lantas mencantumkan kalimat yang sederhana, rendah hati dan arif. Itulah “tebasan” atas sang waktu, yang sekaligus disertai kesadaran dan kearifan bahwa tidak selamanya luka harus tertoreh.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">UUD 1945 adalah “tebasan” para pendahulu terhadap sang waktu dan dalam horizonnya. Dengan “tebasan” itu, sang waktu “dijinakkan” guna membentuk gumpalan momentum yang sarat makna. Pada mereka ada kesadaran bahwa sang waktu tidak sepenuhnya bisa dijinakkan; bahwa ada yang selalu luput dari penjinakan terhadap waktu. Namun bukan lantas berarti ia sama sekali tidak bisa ditandai; tetapi sebaliknya, ia harus digayutkan dengan satu simbol. Maka mereka mengukuhkan “sukses” melalui rumusan ‘konstitusi’ yang hingga hari ini disebut UUD 1945.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Dengan demikian, konstitusi adalah penanda bagi “sukses” para pendahulu dalam menjinakkan waktu. Ia adalah kode, lambang, dan simbol yang arbitrair dan sarat makna. “Sukses” tak pernah ada tanpa ruang. Tetapi ia sekaligus monumen dan karya besar yang punya tuntutan untuk dikenang dan diabadikan, sebab padanya terkandung torehan luka sang waktu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Sebagai penanda, konstitusi tidak akan bermakna jika tidak ditempatkan dalam sistem relasi yang mengitarinya. Dalam hal ini, UUD 1945 menjadi bermakna karena ia berada di tengah peristiwa-peristiwa sejarah yang mengitari dan menjamin sistem relasinya. Ia terkait dengan kekalahan Jepang, hasrat Belanda untuk kembali menjajah, nasionalisme yang menggelinjang, kehendak untuk dihapuskannya penjajahan di muka bumi, dan seterusnya; yang seluruhnya terjalin dalam horizon waktu. Sebaliknya, UUD 1945 tak punya arti jika ia berdiri sendiri, lepas dari sistem relasi yang mengitari, atau tercerabut dari horizon waktu yang mewadahinya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Jika kecenderungan terakhir ini yang muncul, maka UUD 1945 hanya akan menjadi monumen yang ditaati, disembah, ditahbiskan, dan dimitoskan; ia mengelak dari kekayaan tafsir dan beralih pada kultus, pemaksaan ideologi, dan penjajahan simbolik, yang tidak lagi sarat makna, tetapi mampet dengan muatan dominasi, kepentingan, dan kekuasaan. Ia hanya akan menjadi instrumen untuk membedakan diri, atau sekedar menjadi legitimasi bagi kekuasaan tertentu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Tetapi, mengukuhkan ‘makna’ UUD 1945 tidak mesti berarti mengungkit-ungkit kembali peristiwa-peristiwa sejarah yang mengitarinya. Tidak ada peristiwa yang terulang dalam arus waktu. Mengungkit-ungkit dan (berupaya untuk) mengulang peristiwa-peristiwa tersebut, sama dengan romantisme historis yang tidak cerdas.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Saya bayangkan lagi para pendiri negara ini yang tidak berangan-angan untuk dikenang, dikultuskan atau dielu-elukan semacam itu. <em>Toh</em>, secara ragawi, mereka telah lumat ditebas (pedang) sang waktu; dan tak mungkin akan kembali. Sebaliknya, pada zamannya, mereka justru berkehendak untuk ‘mengenang’ sesuatu, —setidaknya— di hadapan sang waktu yang sudah menanggalkan sarungnya, siap menebas pada pertengahan Agustus 1945.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Maka lahirlah UUD 1945 sebagai penanda bagi kehendak untuk ‘mengenang’ yang aktif itu, yakni kehendak akan keadilan, kemerdekaan, kemanusiaan, keinginan jadi satu bangsa, hapusnya penjajahan, dan seterusnya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Mengukuhkan makna UUD 1945 berarti menyadari bahwa kapasitasnya sebagai penanda sangatlah sempit dan terbatas. Di baliknya tersimpan gumpalan kehendak yang —bahkan hingga hari ini— belum terpenuhi seluruhnya. Rentang waktu 60 tahun tidak cukup untuk memonumenkan (atau malah ‘memfosilkan’) kehendak para pendahulu yang belum terpenuhi itu. Masih ada teriakan yang sama; masih menggelegar kehendak yang senada; masih ditaburi ia dengan segumut marah, kepedihan, cita-cita, keringat, dan darah. </span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Artinya, monumen itu pun akan lekang di hadapan (pedang) sang waktu dan berlutut karena tebasannya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Namun demikian, ada sesuatu yang abadi, senantiasa menggelinjang, selalu luput dari tebasannya, dan tak akan pernah selesai; yakni kehendak untuk menorehkan selaksa nilai keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan idealisme. Inilah torehan yang menjadi satu-satunya cara untuk menghindar dari melayang-layang di ruang hampa.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Celaka sekali jika torehan itu kemudian dikukuhkan tanpa makna, sementara lima abad sebelum negara ini berdiri, di tanah Arabia sana, Ibn Taimiyah sudah berteriak-teriak terhadap polah yang sama: “<em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Fatwa bisa berubah, seiring dengan perubahan waktu, tempat, kondisi, dan adat-kebiasaan</span></em>”.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">Serinai teriakan yang hingga hari ini masih terus membalut (kilauan pedang) sang waktu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">     </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0 0 18pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';letter-spacing:0.5pt;">     </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mati]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/24/10/</link>
<pubDate>Wed, 24 Jan 2007 06:13:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/24/10/</guid>
<description><![CDATA[    
Tentang “Mati”, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. “Mati” juga dimuat dal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">    </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tentang “Mati”, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. “Mati” juga dimuat dalam Majalah Tempo, Edisi. 48/XXXV/22—28 Januari 2007</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sepagi tadi —matahari saja masih malu-malu menampakkan dirinya—, seseorang dengan pengeras suara menyampaikan ‘berita lelayu’; <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">“Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun....”</span></em>, demikian berita itu dimulai. Seterusnya bisa ditebak. Bahkan, sejak awal gemerisik pengeras suara itu terdengar pagi ini, pikiranku sudah menebak: “Pasti berita tentang kematian”! Tak ada pengumuman yang layak mengusik pagi mengiringi subuh, kecuali ‘berita lelayu’.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Berita itu tidak hanya terdengar dari masjid dekat kontrakanku saja. Selang beberapa menit setelah itu, sayup-sayup terdengar berita yang sama diumumkan dari arah timur. Kemudian, berita itu juga disampaikan dari masjid arah utara beberapa menit berikutnya. Dan akhirnya, masjid yang di arah barat juga menyuarakan berita lelayu itu juga: <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">“.......Telah berpulang ke rahmatullah, si fulan.... dst”</span></em>.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sepagi tadi, empat penjuru mata angin mengepungku dengan berita kematian. Dan sore ini, ia mengukung sendi-sendi pikiranku; meminta perhatian.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Pastilah seseorang telah bersusah-payah membawa berita itu untuk diumumkan di masing-masing masjid. Sepagi tadi ia harus sampaikan berita itu. Jika perlu, ke setiap pintu rumah. Berita tentang kematian ‘orang lain’, meski ‘orang lain’ itu adalah karibnya. Sepagi tadi pula berita itu sampai kepadaku; berita tentang kematian orang lain, dan bukan berita tentang kematianku.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">‘Berita tentang kematian’, tentu tidak sama dengan ‘kematian’ itu sendiri. Orang-orang merasa perlu untuk ikut tahu apa yang dikabarkan dalam ‘berita kematian’: siapa yang mati, kapan ia mati, bahkan —kalau perlu— bagaimana ia mati? Tetapi orang-orang sepertinya tak hendak tahu tentang ‘mati’ itu sendiri. “Setiap orang pasti mati..., hanya soal waktu”, demikian senandung sebuah lagu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Saya tidak tahu pasti apa yang membuat suara orang yang menyampaikan berita kematian tadi dari masjid sebelah selatan terdengar lunak. Sepertinya ada duka yang tertahan, atau memang demikian “etika”-nya mengumumkan berita kematian. Tidak seperti suara orang yang sama ketika ia mengumumkan kerja bakti atau pengajian RT. Juga tidak seceria suara anak-anak yang tiga kali seminggu memanggil teman-temannya untuk mengaji dari corong masjid itu. Apalagi, tidak selantang suara azan lima kali sehari.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">‘Berita tentang kematian’ justru disampaikan dengan bungkus duka.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sebuah foto perempuan yang sedang menitikkan air mata juga terpampang di halaman muka salah satu surat kabar terkemuka beberapa waktu lalu. Suaminya ikut hilang dalam kecelakaan pesawat terbang awal tahun ini. Kabarnya, kematian suaminya akan “disantuni” puluhan juta rupiah.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">‘Berita tentang kematian’ juga diiringi dengan ‘santunan’.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Gempa bumi 27 Mei 2006 silam di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga menyisakan potret-potret kematian. Tsunami di Aceh juga serupa. Potret-potret itu bahkan dikemas sedemikian rupa, sehingga setiap orang yang menyimaknya akan gentar terhadap jiwa-jiwa yang melayang dan kematian-kematian yang mengiringi bencana itu.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">‘Berita tentang kematian’ menggentarkan dan menakutkan, tetapi sekaligus menjadi komoditi yang diperjual-belikan.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bahkan ada surat kabar dan salah satu majalah ibukota yang mengkhususkan diri dengan ‘berita-berita tentang kriminalitas’, yang tak jarang berujung pada kematian; seolah-olah bermain-main dengannya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Semua itu menegaskan bahwa ‘berita tentang kematian’ tidak memiliki wajah yang sama seluruhnya. Setiap orang memiliki gambaran yang berbeda-beda tentang kematian. Demikian pula agama-agama, mitos-mitos purba, atau negara-negara modern. Kadang kematian digambarkan sebagai kepahlawanan, heroik, dan patriotis, dan kadang gambarnya terlalu suram untuk disimak.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Namun, itu semua hanyalah ‘berita dan gambaran tentang kematian’, yang bukan ‘kematian’ itu sendiri. Orang hanya bisa ‘memberitakan’ atau ‘menggambarkan’ kematian ‘orang lain’, tetapi tak mampu menggambarkan kematian dirinya sendiri. Maka ‘kematian’ akhirnya diwakili oleh simbol-simbol; Dewa Maut, Izrail, Yamadipa, Kiamat Kecil, dan seterusnya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Betapa pun berbedanya gambaran orang-orang tentang kematian, tetapi kematian tetap itu juga. Sekali ia datang, ia menjadi pemisah dua alam. Tidak peduli siapa yang disapanya. Sungguhpun kisah Ashabul-Kahfi terulang kembali, tapi di sana tetap ada perpisahan, meski sebentar.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">‘Gambaran tentang kematian’ dan ‘kematian’ itu sendiri. Ketidak-sanggupan orang-orang untuk menggambarkan kematiannya sendiri menyiratkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang terpisah dari diri. Tetapi mereka lari menjauh (Q.S. 50:19), gentar —seperti orang-orang yang menutup telinganya di bawah gemuruh dan kilatan halilintar (Q.S. 02:19)—, bahkan takut, sehingga kedua betisnya saling beradu (Q.S. 75:26-30). Semakin mereka menjauh, kematian semakin menari-nari mengibaskan gaunnya di pelupuk mata.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tentang kematian, seseorang pernah menyuratkan hikmah berikut: “Manusia ‘terlempar’ di dunia ini, terbenam dalam kesehariannya, dan akhirnya mati”. Itulah conditio humana yang tak terelakkan. Anda menanggapinya sebagai ketragisan atau menganggapnya naif, hasilnya sama saja. Anda sebenarnya mengarahkan setiap detik dan langkah anda menuju kematian; bergerak maupun tidak bergerak. Sejauh anda berlari, sejauh itu pula kematian menyusul anda. Hanya ‘berita tentang kematian’ yang bisa dihilangkan; sementara ‘kematian’ itu sendiri, tidak...!!!</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Lantas, apa gunanya hidup, jika ujung-ujungnya hanya mati? Apa gunanya berlari, jika kematian selalu menguntit?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bayangkanlah sejenak orang-orang yang setiap hari menjaga kebugaran tubuhnya. Mereka melakukan hal itu karena yakin bahwa kebugaran tubuh dibutuhkan untuk mendukung aktivitas yang padat. Pekerjaan akan terbengkalai jika sakit.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sekarang marilah kita lanjutkan argumen ini. Selain sakit, kondisi tubuh seperti apakah yang menghalangi dan membuat pekerjaan menjadi terbengkalai? Sebutlah dari renta (maka orang takut tua), cacat, loyo, tak bertenaga, dst. Semua itu menggambarkan keadaan tubuh yang kehilangan sebagian potensi gerak yang dimilikinya. Tetapi hanya sebagian. Potensi gerak itu akan sama sekali luruh jika sampai pada kematian. Jadi, jauh di balik ketakutan dan kekhawatiran akan sakit dan sebagainya tadi, alasan kematian ternyata berada di sisinya yang paling dalam. Kematian yang berupa raibnya potensi gerak pada tubuh.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tetapi dari kesadaran akan pentingnya potensi gerak tubuh itu, orang-orang berupaya menjaga kebugaran tubuhnya. Artinya, ketakutan-ketakutan yang terbangun menjadi alasan untuk membuat kehidupannya menjadi berharga. Jika kematian-lah yang berada di balik ketakutan-ketakutan itu, maka kematian menjadi penting, justru untuk kehidupan itu sendiri. Demikian pula, merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">    </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">    </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adonis]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/23/adonis/</link>
<pubDate>Tue, 23 Jan 2007 06:18:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/23/adonis/</guid>
<description><![CDATA[     
Tentang “Adonis”, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. “Adonis” juga dimu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tentang “Adonis”, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. “Adonis” juga dimuat dalam Majalah Tempo, Edisi. 47/XXXV/15—21 Januari 2007.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Imam besar Abu Hamid al-Ghazali, yang digelari Hujjah al-Islam, mengawali kesufiannya dari titik ‘keragu-raguan’. Ia sendiri mengatakan bahwa ‘keragu-raguan’ mulai menimpa dirinya setelah ia menyaksikan berbagai aliran pemikiran dan kelompok keagamaan —yang ada pada zamannya—, saling berbantahan tentang kebenaran; suatu perbantahan yang akhirnya berkembang menjadi klaim bahwa masing-masing telah mencapai Realitas. Bagi al-Ghazali, bagaimana mungkin pertentangan yang demikian bisa diterima? “Jika tidak semuanya keliru, maka hanya satu saja yang benar”, demikian al-Ghazali.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bagi sufi besar itu, pertentangan berbagai aliran dan kelompok tersebut ibarat lautan yang dalam, ganas, dan menenggelamkan. Tidak banyak yang mampu menyelamatkan diri dari amukannya. Lantas, bagaimana mungkin setiap orang menyatakan dirinya selamat, padahal pulau seberang pun belum lagi tampak?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Lalu al-Ghazali mengasingkan diri; sesaat setelah lidahnya kelu dan terkunci. Ia memanggul dirinya sendiri menuju negeri tanpa batas. Konon ada yang bilang, al-Ghazali menyusuri jalan para Nabi.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Berhasilkah ia?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Saya lebih suka mengatakan bahwa ia, al-Ghazali, tidak pergi ke mana-mana. Sejenak akan kita ikuti ilustrasinya tentang ‘lautan yang dalam, ganas, dan menenggelamkan’ di atas. Lautan ini adalah samudera maha luas tempat manusia hidup. Perbatasannya dengan daratan adalah kematian; sedangkan dengan udara adalah nafas segar kehidupan. Al-Ghazali menyadari bahwa ia berada di tengah samudera yang demikian. Tetapi ia justru memilih untuk menyelam ke dasarnya yang paling dalam, mencandra palung-palungnya, menyapa para penghuninya, dan merasakan tenang suasananya; kedalaman samudera yang menyimpan sejuta rahasia. Al-Ghazali menghamparkan dadanya; menantang daya karam yang dimiliki samudera.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tetapi ia tidak di sana selamanya. Ia juga naik ke atas, menapaki kepadatan air yang berlapis-lapis; menuju perbatasan air dan udara lepas. Ia mencuri kesempatan di saat samudera mulai tenang. Di sela-sela nafas penghuni kedalaman samudera yang menyisakan gelembung-gelembung. Tetapi di perbatasan, al-Ghazali tidak mengapungkan diri sepenuhnya. Ia hanya memunculkan sebatas tenggorokan; menyeka air di wajahnya —menjernihkan pandangan; dan memenuhi paru-parunya dengan menghirup udara dalam-dalam. Di kedalaman samudera seperti itu, udara bercampur dengan rasa asin.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Orang-orang mengatakan: “Al-Ghazali mengasingkan diri; menyendiri di menara-menara tinggi di Damaskus, al-Quds, Makkah, dan Madinah”.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">“Mengasingkan diri” adalah jedah, tetapi tetap dilakukan di tengah gelombang samudera keseharian. Muhammad Sang Nabi juga mendaki ke Hira’; tak jarang pulang dengan gemetar. Ia bahkan telah sampai di lapis langit yang tertinggi; tapi jasadnya tetap menanti di bumi. Ia kembali bukan karena apa-apa. Masih ada rentetan keterlemparan yang harus dipahami. Muhammad Sang Nabi dan al-Ghazali; sosok-sosok agung itu menemukan hamparan maha luas di ‘perbatasan’.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Adonis juga menemukan sesuatu yang lain di perbatasan; “bukan sebuah tembok atau ujung, melainkan sebuah jendela dan sebuah awal dari jalan lain, pengetahuan lain, pencarian lain, dan ikatan lain”….</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sepertinya perbatasan penuh sesak dengan simbol-simbol. Di sana, orang bisa memenuhi paru-parunya dengan udara dendam atau melapisi wajahnya dengan topeng keabadian. Banyak juga yang tak mau kembali. Katanya: “Meneladani Nabi dan al-Ghazali”. Bagi yang terakhir ini, mengawang di permukaan lebih mulia ketimbang mati busuk di kedalaman samudera; hanya berkubang rasa asin belaka.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tetapi, lebih banyak yang kembali, namun tentu saja dengan tekanan udara yang berbeda di masing-masing paru-parunya. Adonis kembali, sementara dadanya sesak dengan “sebuah rumah yang tanahnya ia bawa sepanjang kembara”. Ia hendak menundukkan kepalanya di sana. Al-Ghazali juga kembali; memenuhi panggilan fitrah yang dipilihkan untuknya. Tetapi, Malin Kundang juga kembali; mengukir patung dirinya sendiri dalam keabadian. Seseorang juga berkisah tentang Sanikem yang harus kembali dengan topeng Nyai di wajahnya, meski leluasa memberinya nama ‘Ontosoroh’, tapi dipilihkan untuknya. Bandung Bondowoso juga kembali; memahat sebuah patung untuk dikenang.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Setiap orang pernah sampai di perbatasan; ditundung maupun menundung diri sendiri. Setiap orang pernah menjadi eksil. Tapi tampaknya tidak setiap orang merengkuh simbol-simbol di hamparannya, sebab tidak setiap orang mendapatinya sebagai jendela.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Mencapai garis perbatasan bukanlah sebuah kemenangan, tetapi sekaligus juga bukan kekalahan. Tiada yang kembali darinya tanpa segores luka. Di sana para sufi memahatkan nyanyian rindu, seolah mengadu tentang kedalaman samudera yang terlampau tenang. Mengharap Sang Semesta sudi menutupi goresan luka yang tersisa. Mereka tak hendak kembali, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya pergi.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Di sana pula al-Ghazali menyembunyikan pengalaman-pengalaman kesufiannya sendiri. Dikubur rapat-rapat di balik kilauan cahaya akal budi. Seolah tak kuasa berterus-terang tentang keretakan, yang sinarannya tak bisa dipanggul ke kedalaman; menembus kepekatan samudera keseharian. Al-Ghazali mengatakan: “Pada waktu pikiran-pikiran yang demikian itu terenungkan olehku dan menghujam dalam jiwa, aku pun berupaya menyembuhkannya, tapi ternyata tidaklah gampang. Sebab hal ini memang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan dalil. Padahal dalil ini tidak mungkin diadakan kecuali jika tersusun dari pengetahuan-pengetahuan primer”.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Sayang sekali..., samudera keseharian manusia sepertinya tak sudi menyisakan celah, tanpa mengalirkan air padanya; demi membuatnya tampak penuh dan utuh. Atau barangkali manusia memang tak sabar menyongsong kepenuhan yang ada di seberang, dan kemudian menciptakan replikanya di sini dan saat ini; di palung-palung samudera keseharian dan di pojokan-pojokan bumi manusia...??!!</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></p>
<p><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"> </p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Barbar]]></title>
<link>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/16/rute-semut/</link>
<pubDate>Tue, 16 Jan 2007 07:25:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqbal @l_Imam</dc:creator>
<guid>http://imamiqbal.wordpress.com/2007/01/16/rute-semut/</guid>
<description><![CDATA[     
Tentang &#8220;Barbar&#8221;, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. Thanks, untuk ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tentang "Barbar", oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. Thanks, untuk sahabat yang menunjukkannya: <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">“Entahlah, hidup dalam semesta bahasa seakan kepala ditodong pistol dibarengi teriakan “harta atau nyawa !”. Sama-sama celaka (</span></em><a target="_blank" href="http://swanvri.wordpress.com"><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">swv</span></em></a><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">)”….</span></em></span></p>
<blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span></em></span><em><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">“Tubuh Saddam Hussein terayun ke bawah dan lehernya langsung tercekik tali gantungan—dan kita melihatnya di sebuah rekaman video yang melukiskan kembali saat dramatis itu, dan kita mungkin berbisik: seorang diktator mati di sebuah ruang pengap, sebuah demokrasi lahir”</span></em><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">, demikian GM memulai.</span></p>
</blockquote>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Bisakah keutuhan guratan itu diruntut dari rute lain, sembari sekali-sekali menemuinya di persimpangan; memastikan bahwa dia masih kukuh dalam napak tilasnya?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Barangkali ada beberapa persimpangan berikut yang bisa menjadi simpang pertemuan. <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Pertama</span></em>, eksekusi mati (hukum gantung) terhadap Saddam Hussein, mantan presiden Irak yang menggemparkan itu; seorang tokoh yang mati sebagai penjahat perang (versi Amerika), dan dicitrakan sebagai salah seorang diktator nomor wahid seantero dunia.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Kedua</span></em>, isu demokrasi yang didengungkan negara-negara Barat. Bukan rahasia umum bahwa masyarakat Indonesia pun mengidolakan demokrasi. Demokrasi dipuja karena dianggap lebih mampu menampung aspirasi semua golongan masyarakat. Demokrasi dielu-elukan karena menjamin kebebasan berpendapat. Demokrasi kita sanjung karena ia “dari rakjat, oleh rakjat, dan oentoek rakjat”. Tetapi benarkah demikian adanya?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Ketiga</span></em>, peradaban -yang demokratis- versus barbarianisme. Dalam scene hitam-putih, tentu orang akan segera memberikan penilaian bahwa yang baik adalah yang beradab. Barbarisme sama sekali tidak dikehendaki, dan justru harus didepak dari dini. Kita berusaha untuk menjadi “yang beradab” (kemanusiaan yang adil dan beradab, demikian ujar sila kedua Pancasila), dan sebaliknya, menjauhkan diri dari pola-pola barbarisme (<em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">barbaric over specialization</span></em>, demikian yang juga disunguti A.A.). Jarak peradaban dan barbarisme menjadi sangat jauh sekali, dan kita harus menempatkan diri pada yang pertama, dan bukan yang kedua.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tapi, bagaimanakah caranya “menjadi beradab” itu? <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Keempat</span></em>, GM bertanya: “lantas, bagaimanakah ingatan akan berperan selanjutnya?”</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tidak seperti GM, orang-orang mesti tidak akan melihat peristiwa terkulainya kepala Saddam di tiang gantungan sebagai <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">cost</span></em> yang harus dibayar demi tegaknya demokrasi di Irak. Tetapi GM justru melihatnya demikian. Saya yakin, terhadap peristiwa senada di Indonesia, ia mesti akan berpendapat bahwa pembangunan di Indonesia ditegakkan di atas pemasungan -bukan hanya satu, tetapi- puluhan ribu kepala rakjat yang -menurut James T. Siegel- dicap sebagai “kriminal”; PKI. “<em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">Kepala Saddam harus dipenggal, jika demokrasi ingin tegak di Irak</span></em>”, barangkali demikian fakta yang hendak diteriakkan GM.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tentang ini, saya setuju. Tetapi miris rasanya dengan kesimpulan yang seolah-olah berlaku saklek dan kita amini itu; bahwa tiada suatu peristiwa -meski yang paling sederhana sekalipun- terjadi tanpa “meminta korban” di-luar-dirinya (Lajur GM berbelok di sini, mengikuti jalan sempit ke-tak-terpisahan). Tapi, bau logika Cartesian sangat kental di sini, yakni logika yang memposisikan subjek selalu terpisah dengan objek. Eksistensi subjek hanya bisa tercapai jika ia memanipulasi dan “menggagahi” objek sedemikian rupa.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dalam kasus ini kita lihat bahwa logika semacam itulah yang diterapkan sebagai logika peradaban. Artinya, peradaban yang demokratis memposisikan dirinya sebagai subjek, yang kemudian memanipulasi, menggagahi dan menyingkirkan barbarianisme yang dianggap berada di-luar-dirinya. Untuk bisa tumbuh subur, peradaban yang demokratis terlebih dahulu harus mampu memposisikan barbarianisme sebagai objek yang harus ditundukkan dan -kalau perlu- disingkirkan.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Penggalan kepala Saddam yang terkulai merupakan simbol dari telah ditundukkan dan disingkirkannya “barbarianisme”, yang akan secara spontan disambut seringai kemenangan oleh “subjek” peradaban yang demokratis.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Akan tetapi, benarkah kepala Saddam betul-betul telah terkulai? Benarkah barbarianisme di Irak telah ikut terhapus dengan dibubuhinya cap merah tali gantungan di leher Saddam? Benarkah barbarianisme telah lenyap sepenuhnya, setidaknya dari Irak?</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Mari kita sama-sama memekik: “Belum, dan sama sekali tidak akan lenyap”.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Justru demokrasi harus waspada terhadap dirinya sendiri karena demokrasi (atau subjek yang demokratis) suatu saat pasti akan bercerita tentang dirinya, sebagai subjek yang telah menang, dan telah sukses menundukkan barbarianisme.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Taruhlah cerita itu diujarkan tepat sedetik setelah kepala Saddam terkulai. Maka artinya, pada detik itu juga demokrasi (atau subjek yang demokratis) telah memposisikan dirinya sebagai subjek yang bercerita tentang dirinya sendiri. Dan sebagai ‘objek yang diceritakan’ semacam ini, maka berarti hanya menunggu waktu bagi demokrasi (atau subjek yang demokratis) untuk memanipulasi, menggagahi, dan menyingkirkan dirinya sendiri.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Jadi, barbarianisme yang dianggap telah berhasil disingkirkan itu sebenarnya tidak benar-benar tersingkir. “Ruh”-nya merasuki demokrasi (atau subjek yang demokratis).</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Demokrasi sesungguhnya merupakan barbarianisme yang telah dipercantik.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Logika Cartesian yang memisahkan kutub subjek dan objek ini secara ekstrem, memang seringkali membuat hati miris. Namun, demikianlah prinsip demokrasi, ungkap GM, <em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">“yang selalu harus mencari cara bagaimana sebuah tubuh komunitas bisa bertahan tanpa sebuah kepala yang pada suatu hari akan copot”</span></em>.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Selama komunitas yang bersangkutan memiliki kepala, berarti potensi untuk menjadi subjek yang otonom dan merdeka, tetap dimilikinya. Inilah yang dikhawatirkan demokrasi, karena -sebagaimana diyakini bahwa- demokrasi adalah satu-satunya yang boleh eksis sebagai subjek peradaban. Untuk itulah, kepala subjek-subjek yang lain harus dipenggal.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Jika mengikuti rute GM, secara eksplisit dia katakan bahwa segala sesuatu selain demokrasi boleh eksis, tetapi harus tanpa kepala. Ini sama artinya dengan tidak eksis; atau eksis, tetapi hanya sebagai objek yang telah ditundukkan dan digagahi.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Maka sesungguhnya jarak antara demokrasi dan barbarianisme tidaklah sejauh yang disangka orang, demikian yang diungkap GM selanjutnya. Dengan kata lain, jarak antara subjek dan objek tidaklah seekstrem yang dikira dan diposisikan orang-orang.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Mereka menganggap keduanya terpisah dalam jarak yang jauh, dikarenakan mereka ‘lupa’ bahwa ada saatnya demokrasi memposisikan dirinya sendiri sebagai “objek yang diceritakan” oleh dirinya sendiri. Orang-orang ‘lupa’ bahwa “tak ada dokumen peradaban yang bukan merupakan sebuah dokumen barbarianisme sekaligus”. Ini karena kepala Saddam yang terpenggal telah membuat demokrasi bercerita tentang kemenangan yang -disangka- diraihnya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Namun waspadalah terhadap moment itu, karena ia menandai kesiapan demokrasi untuk memenggal kepalanya sendiri, entah karena “ruh” barbarianisme -yang dikira sudah lenyap- telah merasuki dirinya, atau karena dia harus mengeluarkan (meng-objek-kan) sisi dirinya yang dinilai sama barbariannya dengan barbarianisme yang sebelumnya –dikira- telah disingkirkan, untuk kemudian dipenggalnya sendiri.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">‘Kelupaan’ semacam ini merupakan sebuah ‘kelupaan’ yang secara fundamental terkandung dalam setiap manifestasi logika Cartesian.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Disebabkan ‘kelupaan’ inilah modernitas mengidap cacat internal yang tidak tersembuhkan.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Karena ‘kelupaan’ ini pula manusia modern secara membabi-buta menggunduli bukit-bukit hutan yang telah lestari selama berabad-abad sebelumnya.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dikarenakan ‘kelupaan’ yang sama, kolonolialisme dan imperialisme tetap subur dan bahkan semakin menjamur, meski dalam rupa yang telah dipercantik.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Dan disebabkan ‘kelupaan’ ini pula seseorang harus melangkah dengan kalungan parang di lehernya, yang setiap saat siap menjadikan dirinya tanpa kepala, mengikuti nasib Saddam.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"></span><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Namun, mengalihkan kelupaan dan menggantinya menjadi ingatan, tidak sama dengan dan bukanlah sekadar tindakan “mengingat-ingat”.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Ingatan hanya akan berperan jika ia <em>eling</em> terhadap puing-puing barbarianisme yang hanyut mengiringi arus yang juga dilewati demokrasi. Artinya, demokrasi dan barbarianisme mengalir dalam arus yang sama; kadang di belakang, kadang di depan, atau kadang di sampingnya (anda tentukan sendiri).</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';">Tugas mereka yang punya ingatan adalah menyusuri arus yang sama dan memunguti satu-persatu puing-puing barbarianisme yang disangka telah disingkirkan tadi, untuk kemudian mengungkap kepada demokrasi (yang kita agung-agungkan dan elu-elukan itu) bahwa barbarianisme masih tetap mengalir, mengikutinya dalam arus yang sama.</span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">“Ah, arus besar peradaban memang selalu menjadi kubangan tempat segala sesuatu timbul dan tenggelam; entah menimbulkan diri, atau ditenggelamkan. Sebuah pojokan kelabu bumi manusia”.</span></em></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">   </span></em></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:'Lucida Sans Unicode';"><em><span style="font-family:'Lucida Sans Unicode';">     </span></em></span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
