<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pendidikan-anak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/pendidikan-anak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pendidikan-anak"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 12:32:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Melatih Anak Kebiasaan Mengelola Keuangan]]></title>
<link>http://farahikha.wordpress.com/?p=47</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 01:56:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>farahikha</dc:creator>
<guid>http://farahikha.wordpress.com/?p=47</guid>
<description><![CDATA[Banyak orang dewasa yang tidak tahu bagaimana cara mengelola
keuangan dengan benar, karena tidak dia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang dewasa yang tidak tahu bagaimana cara mengelola<br />
keuangan dengan benar, karena tidak diajarkan sejak kecil. Kebanyakan<br />
orang tua mengaturkan keuangan anaknya, sehingga sang anak tidak<br />
perlu tahu mengenai kebutuhan keuangannya. Padahal hampir semua<br />
aspek kehidupan berhubungan dengan keuangan.</p>
<p>Bila Anda ingin anak Anda matang secara finansial pada saat dewasa,<br />
Anda harus mulai membiarkan anak Anda untuk menangani sendiri<br />
masalah keuangannya. Yang perlu Anda lakukan akan mengajarkan dan<br />
memandu sang anak, agar terus menerapkan pengelolaan keuangan yang<br />
baik. Dalam kesempatan ini akan saya bahas beberapa kebiasaan<br />
keuangan yang sebaiknya diajarkan kepada anak Anda.</p>
<p>1. Membuat Anggaran Sederhana (Budgeting)</p>
<p>Budgeting adalah inti dari pengelolaan keuangan. Kebanyakan orang<br />
mengalami kesulitan keuangan karena tidak menguasai budgeting.<br />
Bagaimana cara mengajarkan budgeting kepada anak?<br />
<!--more--><br />
Kebutuhan anak lebih sederhana bila dibandingkan dengan orang dewasa.<br />
Karena itu budgeting yang kita ajarkan juga lebih sederhana, sehingga<br />
lebih gampang untuk dicerna oleh anak. Misalkan biasanya anak Anda<br />
mendapatkan uang jajan Rp. 10.000,- per hari. Nah, untuk mengajarkan<br />
anak Anda budgeting, Anda perlu memberikan uang jajan selama satu<br />
periode secara langsung kepada anak Anda. Mulailah dengan periode<br />
yang kecil, misalnya mingguan. Satu minggu terdiri dari 7 hari, jadi<br />
Anda langsung menyerahkan Rp. 70.000,- kepada anak Anda.</p>
<p>Tentunya anak Anda perlu dipandu dalam pemanfaatan uang jajan<br />
tersebut. Apalagi uang jajan yang Anda berikan langsung dalam jumlah<br />
besar. Berikan pengertian bahwa uang yang Anda berikan itu adalah<br />
untuk satu minggu. Ajarkan cara budgeting sederhana kepada anak<br />
Anda, bahwa sang anak harus memberikan jatah belanja sebanyak<br />
Rp. 10.000,- per hari. Bila pada hari tersebut sang anak sudah belanja<br />
lebih dari Rp. 10.000,-, maka dia harus berhenti berbelanja hingga<br />
keesokan harinya.</p>
<p>Anda juga perlu menjelaskan hukuman bila sang Anak menghabiskan uang<br />
jajan tersebut sebelum seminggu. Berikan penjelasan bahwa bila uang<br />
yang diberikan ternyata habis sebelum seminggu, maka Anda tidak akan<br />
memberikan uang tambahan. Akibatnya sang anak dalam minggu tersebut<br />
sudah tidak dapat berbelanja. Berikan penekanan bahwa sang anak harus<br />
disiplin dalam berbelanja, sehingga uang jajan yang dihabiskan tidak<br />
lebih dari Rp. 10.000,- per hari.</p>
<p>2. Kebiasaan Menabung untuk Mendapatkan Sesuatu</p>
<p>Apabila anak Anda meminta Anda untuk membelikan sesuatu yang cukup<br />
mahal, lebih baik Anda memberikan penjelasan kepada anak Anda bahwa<br />
barang tersebut cukup mahal sehingga sang anak perlu menabung<br />
terlebih dahulu sebelum dapat membelinya.</p>
<p>Kebiasaan menabung untuk mendapatkan sesuatu ini sangat baik untuk<br />
pendidikan finansial sang anak, sebab pada saat menabung sang anak<br />
harus menahan sebagian keinginan untuk berbelanjanya demi tujuan<br />
yang lebih besar.</p>
<p>Misalkan saja anak Anda meminta Anda untuk membelikan sebuah sepeda<br />
dengan harga Rp 500.000,-. Anda memberikan penjelasan kepada anak<br />
Anda bahwa harga Rp. 500.000,- itu cukup mahal, sehingga Anda tidak<br />
dapat langsung membeli sepeda tersebut. Lalu Anda dapat mengajarkan<br />
anak Anda bahwa bila sang anak bersedia menabungkan uang jajannya<br />
sebesar Rp. 50.000,- per bulan, maka sang anak bisa membeli sepeda<br />
tersebut dalam waktu 10 bulan.</p>
<p>Mintalah agar anak Anda menghemat uang jajannya demi tujuannya untuk<br />
membeli sepeda. Disini peran Anda adalah memberikan pengertian bahwa<br />
sang anak harus menahan keinginan berbelanjanya, sehingga berbelanja<br />
lebih sedikit dari biasanya agar dapat ditabung dan membeli sepeda.</p>
<p>Setelah sang anak bersusah payah menabung selama 10 bulan, mungkin<br />
saja ada beberapa faktor yang menyebabkan sang anak tidak bisa<br />
membeli sepeda yang diinginkan. Misalkan harga sepedanya naik, atau<br />
sebagian tabungan anak terpotong oleh biaya administrasi bank. Dalam<br />
hal ini, lebih baik Anda membantu anak Anda dengan cara menanggung<br />
biaya yang tidak berhasil dikumpulkan oleh anak Anda. Anggap saja<br />
hal ini adalah hadiah/reward atas kerja keras sang anak dalam<br />
menabung selama 10 bulan.</p>
<p>3. Mengenal perbankan</p>
<p>Di jaman sekarang, kehidupan finansial seseorang selalu berkaitan<br />
dengan perbankan. Mungkin gaji Anda ditransfer langsung ke rekening<br />
bank Anda. Bank juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan uang Anda.<br />
Bank juga memiliki beberapa fitur yang dapat Anda manfaatkan seperti<br />
pembayaran tagihan bulanan seperti telepon, listrik, air dan lain-<br />
lain.</p>
<p>Oleh karena itu, adalah penting untuk memperkenalkan anak ke dunia<br />
perbankan. Caranya adalah dengan membuka satu buah rekening khusus<br />
untuk anak Anda, dan membiarkan anak Anda melakukan sendiri transaksi<br />
keuangannya di bank. Anda perlu mengajarkan anak cara untuk mengisi<br />
slip penyimpanan atau pengambilan uang, bagaimana cara mengantri di<br />
teller. Yang terpenting adalah bagaimana cara sang anak berkomunikasi<br />
dengan teller pada saat ingin menyetor atau mengambil uang.</p>
<p>Mengenai ATM, lebih baik anak Anda tidak diberi kartu ATM hingga<br />
matang secara finansial. Sebab keberadaan kartu ATM menyebabkan uang<br />
tabungan menjadi sangat gampang untuk diambil, sehingga anak yang<br />
masih kurang matang secara finansial cenderung untuk menguras isi<br />
tabungannya. Hal ini akan merusak kebiasaan menabung sang anak. Lebih<br />
baik ATM diberikan setelah anak Anda lebih matang dalam hal finansial,<br />
mungkin setelah duduk di bangku SMP atau SMU.</p>
<p>(Sumber : www.keuanganpribadi.com)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jurus Jitu Memilih Sekolah]]></title>
<link>http://zainula.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 07:09:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>zainula</dc:creator>
<guid>http://zainula.wordpress.com/?p=33</guid>
<description><![CDATA[Mendekati bulan juni dan juli orang tua biasanya dipusingkan untuk memilih sekolah terbaik dan sesua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mendekati bulan juni dan juli orang tua biasanya dipusingkan untuk memilih sekolah terbaik dan sesuai kemampuan anak mereka. Memilih sekolah yang tepat adalah cara terbaik untuk memberikan fasilitas pendidikan bagi anak. Kebutuhan dan kemampuan anak dan orang tua sangat bervariasi sehinga dalam memilih sekolah juga akan sangat berpengaruh. Banyak kasus <span> </span>terutama SD, anak anak terkadang menjadi “korban” keinginan orang tua dalam memilih sekolah, bahkan anak – anak cenderung memilih sekolah menurut keinginan orang tua. Akibatnya selama proses pendidikan anak – anak cenderung kurang proaktif. <span> </span>Dalam memilih sekolah orang tua dituntut bijaksana antara keinginan anak dan otang tua dan sekolah yang cocok dengan kemampuan<span> </span>itelegensi anak dan kemampuan financial orang tua.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Saat ini, sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan usia dini banyak berdiri bak jamur di musim hujan. Masing-masing berlomba-lomba menawarkan kelebihan yang dimilikinya, ada yang memakai kurikulum lokal dan juga kurikulum campuran. <span lang="SV">Bahkan, tidak sedikit pula sekolah “impor” yang menawarkan kurikulum internasional. Tidak hanya praseklah, Sekolah sekolah lanjutan sekarang banya berdiri sekolah terpadu atau boarding school dan sekolah – sekolah sejenis yang menawarkan program. </span><span lang="FI">Untuk itu kita harus selektif untuk memilih sekolah, terutama pendidikan anak usia dini. </span><span lang="SV">Pendidikan usia dini merupakan langkah yang besar dan penting untuk tumbuh kembang anak Anda. Sebagai orang tua sebaiknya selalu berusaha untuk memilihkan sekolah yang baik dan sesuai dengan dirinya. Sebab, ini akan menentukan tak hanya bagi anak tetapi juga Anda sebagai orang tuanya. Bagi anak, pergi ke sekolah berarti merasakan kemandirian yang sesungguhnya untuk pertama kali. Bahkan, bisa jadi ini pertama kalinya si kecil terpisah dari orang tua atau pengasuhnya selama beberapa saat. Sebagai orang tua, Anda tentu ingin memberikan pendidikan yang terbaik dengan menempatkannya di sekolah yang terbaik pula. Dan tidak kalah penting adalah sekolah lanjutan setidak berkesinambungan antara pra sekolah, lanjutan atau perguruan tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#009900;">Bagaimana Memilih Sekolah Terbaik? </span></strong><!--more--></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong>Buatlah      sebuah daftar nama sekolah-sekolah</strong><strong></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span lang="SV"><span> </span>yang Anda inginkan untuk mempermudah observasi.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong>Lokasi      sekolah</strong>.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;">Pilihlah sekolah yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Anda. Selain Anda dan si kecil tidak bosan di jalan dan mengalami kelelahan, hal ini juga akan menghemat biaya yang Anda keluarkan untuk transportasi.</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong>Tenaga      pengajar</strong>.</li>
</ul>
<p style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dalam memilih sekolah tidak hanya yang favorit, tapi cari sekolah yang kreatif dalam mendidik anak. Biasanya sekolah seperti ini guru-gurunya pun kreatif. Pun sekolah yang bisa menyesuaikan dengan kemampuan anak. Maksudnya, jika ada murid yang daya tangkapnya kurang, sekolah akan memberikan waktu atau jam pelajaran tambahan bagi muridnya itu. Selain juga harus memperhatikan bangunan dan kelengkapan pendidikan di sekolah tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Nah, untuk itu, jauh-jauh hari orang tua harus sudah pasang mata dan telinga supaya tidak ketinggalan informasi aktual mengenai sekolah. Jadi rajin-rajinlah mencari tahu dengan cara membaca atau bertanya. Setelah itu, baru kita minta persetujuan anak. Biarkan anak memilih sekolah yang sesuai dengannya. Jadi, dalam memasukkan anak sekolah itu harus berdasarkan kesepakatan anak dan orang tua. </span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Biaya</span></strong><strong></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span lang="SV">Biaya pendidikan anak tidak sama di setiap sekolah. Pilihlah sekolah yang sesuai dengan kondisi keuangan Anda.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Program yang ditawarkan</span></strong><span lang="SV">. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span lang="SV">Jangan lupa, tanyakan pada sekolah tempat mendaftar<span> </span>bagaimana visi dan misi sekolah, apakah sesusai dengan visi dan misi pendidikan kita apa tidak. Sekolah yang kita Anak-anak membutuhkan lingkungan yang rileks dan longgar. Program sekolah yang baik menurut  seorang konsultan prasekolah Dr. Jennifer Hardacre, sebaiknya memberikan banyak waktu untuk setiap anak untuk mendorong minatnya. Misalnya, Anda melihat kegiatan yang melibatkan anak pada pagi hari.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong>Fasilitas</strong>.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:18pt;">Perhatikan apakah sekolah tersebut memilki fasilitas lengkap yang dibutuhkan si kecil.</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong>Rasio      guru dan murid</strong>.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:18pt;">Semakin kecil rasionya, anak-anak akan mendapat perhatian yang cukup dari guru sehingga kebutuhannya lebih mudah di mengerti dan dipahami.</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Cari referensi</span></strong><span lang="SV">. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span lang="SV">Jangan ragu dan malu untuk bertanya kepada orang lain tentang situasi dan kondisi sekolah tempat anaknya bersekolah.</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Bicarakan dengan anak</span></strong><span lang="SV">.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span lang="NO-BOK">Hal ini sering dilupakan orang tua. </span><span lang="SV">Perhatikan reaksi anak ketika Anda berbicara tentang sekolah. Pilihlah prasekolah yang sesuai dengan karakter anak dan minat serta bakat anak. Jika anda masih ragu anda bisa berkonsultasi dengan psikolog atau mencoba berbicara dari hati – kehati dengan anak kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Terakhir janganlah lupa memohon petunjuk kepada Allah SWT untuk menentukan pilihan sekolah. Tempat dan suasana yang tepatkan memberikan stimulan positif bagi anak untuk belajar.Selamat mencoba semoga menemukan sekolah terbaik untuk putra – putri kita, amin</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anakshalih.com]]></title>
<link>http://anakshalih.wordpress.com/?p=353</link>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 04:15:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>anakshalihcom</dc:creator>
<guid>http://anakshalih.wordpress.com/?p=353</guid>
<description><![CDATA[Website Anakshalih.wordpress.com
bisa anda nikmati pula di &#8230;
www.ANAKSHALIH.COM
Semoga lebih m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Website Anakshalih.wordpress.com<br />
bisa anda nikmati pula di ...<br />
<!--more--><strong>www.ANAK<a href="http://www.anakshalih.com">SHALIH.COM</a></strong><br />
Semoga lebih mudah untuk mengingatnya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Biasa - Biasa Aja !]]></title>
<link>http://helidda.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 23:06:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>helidda</dc:creator>
<guid>http://helidda.wordpress.com/?p=33</guid>
<description><![CDATA[Dari milis, artikel yang sangat menarik, terutama bagi orang tua yang mempunyai anak kecil seperti s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://helidda.files.wordpress.com/2008/06/diantha.jpg"><img class="alignleft alignnone size-full wp-image-34" style="float:left;border:1px solid black;margin-left:3px;margin-right:3px;" src="http://helidda.wordpress.com/files/2008/06/diantha.jpg" alt="Diantha" width="164" height="194" /></a>Dari milis, artikel yang sangat menarik, terutama bagi orang tua yang mempunyai anak kecil seperti saya. Tentang pendekatan pola asuh dan <a title="pendidikan anak" href="http://bayikita.wordpress.com/2008/04/16/mengajari-anak-gosok-gigi/" target="_blank">pendidikan anak</a>. Artikel yang sangat mengena sekali, secara saya sebagaimana mungkin kita-kita yang lain dulu juga mendapatkan pola asuh dan pendidikan yang sama. Yaitu lebih mengutamakan <a title="optimalkan kecerdasan anak" href="http://indahdanlina.blogsome.com/2007/02/19/optimalkan-kecerdasan-anak/" target="_blank">kecerdasan</a> scholastic sebagai tolok ukur <a title="keberhasilan ujian sekolah" href="http://achoey.wordpress.com/2008/06/21/pengumuman-hasil-ujian-masuk-bersama-umb/" target="_blank">keberhasilan</a> dalam <a title="keberhasilan un" href="http://indonesianic.wordpress.com/2008/06/22/pengumuman-un-smp-3206-siswa-gagal-lulus/" target="_blank">pendidikan</a> dibandingkan dengan penguasaan akan <a title="nilai-nilai moral" href="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2008/06/22/pesan-moral/" target="_blank">nilai-nilai moral</a>.</p>
<p>Judul: <strong>Aku Biasa-Biasa Saja</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik). Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?</p>
<p>Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada penilaiannya di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.</p>
<p>Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya. "Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Menggambar....pokoknya pinter sekali....!" katanya santai. "Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya hafalannya banyaaak... sekali!"</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani pinter apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya,"Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja".</p>
<p>Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya Fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic. Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar. Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. "Sudah..! sudah, Dek ! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai ?", Adiknya saling tunjuk. "Hayo, jujur ...Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya... saling memaafkan".</p>
<p>Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya! "Wah bajunya bagus-bagus ya Bu ? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek  dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..." Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.</p>
<p>Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.</p>
<p>Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.</p>
<p>Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya menjawab"Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.</p>
<p>Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.</p>
<p>FKBP/1998</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak-anak dibelikan Mainan. Hati-hati !!!]]></title>
<link>http://limpo50.wordpress.com/?p=171</link>
<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 13:35:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>limpo50</dc:creator>
<guid>http://limpo50.wordpress.com/?p=171</guid>
<description><![CDATA[
Ini fenomena sayang anak. Tetapi membeli mainan untuk anak-anak banyak yang mengakibatkan kerdilnya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://limpo50.files.wordpress.com/2008/06/mainan-anak.jpg"><img src="http://limpo50.wordpress.com/files/2008/06/mainan-anak.jpg?w=103" alt="" width="103" height="120" class="alignnone size-medium wp-image-172" /></a><br />
Ini fenomena sayang anak. Tetapi membeli mainan untuk anak-anak <!--more-->banyak yang mengakibatkan kerdilnya kualitas pendidikan tahap awal yang diberikan kepada pelanjut generasi ini. Mungkin pertimbangan harga murah, sebatas memenuhi hasrat agar anak tidak rewel, mudah didapat, dan sejumlah alasan yang mudah dikatakan.<br />
Apapun bentuk alat permainan atau pengisi waktu bagi anak dimasa kecilnya atau sepanjang perjalanan hidupnya menjadi dewasa adalah sebuah proses yang tak dapat dipandang biasa-biasa atau asal-asalan.<br />
Sebagai seorang anak, masa-masa menyerap peristiwa lingkungan yang dilaluinya adalah sebuah proses pendidikan berkelanjutan yang harus dijaga dari kualitas dan elemen lain dalam tolok ukur pendidikan.<br />
Maka menurut saya, janganlah memberikan sebuah gitar mini yang asal-asalan, Bola plastik yang sebatas berbentuk bola, janganlah membuatkan baju tentara supaya nampak keren, atau stetoskop ala dokter yang tiada manfaat itu. Segudang kesalahan orang tua menyebabkan anak ini terdidik dalam sistem tanpa manfaat yang mebuang waktu dan mutu pendidikan.<br />
Lebih baik siapkan fisiknya, cukupi gizinya dan beri jangan yang asal-asalan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membiasakan Membaca]]></title>
<link>http://sailululum.wordpress.com/?p=64</link>
<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 11:11:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Administrator</dc:creator>
<guid>http://sailululum.wordpress.com/?p=64</guid>
<description><![CDATA[Membaca itu kebiasaan, Membaca itu hoby, Membaca itu Menyenangkan
Sepertinya hal yang sulit dilakuka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Membaca itu kebiasaan, Membaca itu hoby, Membaca itu Menyenangkan</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://i265.photobucket.com/albums/ii226/bastomi/AgarAnakAndatertularVirusMembaca.jpg" alt="" width="196" height="240" />Sepertinya hal yang sulit dilakukan oleh orang tuanya adalah bagaimana membuat anaknya mau memiliki hoby suka membaca, karena membaca merupakan suatu hal yang tidak dapat dipaksakan begitu saja oleh orang tua kepada anaknya. bagi saya, membaca itu adalah kebiasaan, yang kemudian kata kunci ini selanjutnya bisa digunakan oleh orang tua untuk bagaimana, agar supaya anaknya mau membaca tanpa harus ada perintah dan paksaan dari orang lain, karena jika membaca itu bukan merupakan keinginan yang timbul dari dalam diri si anak dan disebabkan oleh sebuah keterpaksaan, maka yang terjadi adalah akan sedikit sekali isi dari buku yang ia mampu serap.</p>
<p style="text-align:justify;">maka bagi orang tua yang ingin anaknya memiliki kebiasaan dan hoby membaca, tidak ada salahnya untuk membeli buku "Agar Anak Anda Tertular Virus Membaca" yang ditulis oleh Paul Jennings, yang diterbitkan oleh penerbit MLC, untuk versi e-Book nya, anda bisa download disini (<a href="http://www.ziddu.com/download.php?uid=crOamJiqabOhlJela%2FiblJStZqqfkZanbQ%3D%3D9" target="_blank">download),</a> dan untuk versi lengkapnya, anda bisa beli di toko-toko buku terdekat atau melakukan pemesanan Online di digibookgallery.com</p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips Menstimulasi Kecerdasan Bayi]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=101</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 05:49:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=101</guid>
<description><![CDATA[Tips Menstimulasi Kecerdasan Bayi
•	Menatap Mata
•	Mengajak bicara dengan mimik ekspresif
•	Me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tips Menstimulasi Kecerdasan Bayi</strong></p>
<p>•	Menatap Mata<br />
•	Mengajak bicara dengan mimik ekspresif<br />
•	Menyusui<br />
•	Menggelitik tubuh<br />
•	Bernarasi ketika beraktifitas<br />
•	Menyanyi bersama<br />
•	Mengenalkan berbagai tekstur<br />
•	Mengajak belanja<br />
•	Memberi kejutan<br />
•	Membacakan buku<br />
•	Main cilukba<br />
•	Mainan barang milik orang dewasa<br />
•	Bermain warna<br />
•	Rangsang untuk menjangkau suatu benda<br />
•	Bermain wajah lucu<br />
•	Memberi kesempatan untuk memilih<br />
•	Mengubah pemandangan<br />
•	Tanya kabarnya.</p>
<p>Endah Silawati,  Blog <a href="http://parentingislami.wordpress.com">Parenting Islami</a></p>
<p><a href="http://parentingislami.wordpress.com">http://parentingislami.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dasar-Dasar Pendidikan Bagi Anak]]></title>
<link>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 03:54:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>rumahbelajaribnuabbas</dc:creator>
<guid>http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/?p=33</guid>
<description><![CDATA[Abu Khaulah Zainal Abidin
Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Abu Khaulah Zainal Abidin</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan itu bukan sekolah, bukan pondok pesantren, bukan pula perguruan tinggi, apa lagi lembaga-lembaga kursus! Melembaganya pendidikan ke dalam bentuk-bentuk di atas di satu sisi memang tampak memudahkan, karena menimbulkan kepercayaan masyarakat bahwa ada pihak-pihak atau tempat-tempat tertentu yang diharapkan bisa mendidik (baca: mengajar) masyarakat di usia-usia belajar mereka, termasuk bisa juga disalahkan manakala timbul permasalahan di usia-usia belajar mereka. Dari sisi ini tampak sekali, bahwa "pendidikan sebagai produk masyarakat" lebih dominan ketimbang "masyarakat sebagai produk pendidikan". Masyarakat telah lebih dahulu mendifinisikan, bahwa: Pendidikan itu adalah lembaga pendidikan yang mendidik (-nyatanya hanya mengajar-) di usia-usia belajar mereka, 6-3-3-6 th dst. Masyarakat telah lebih dahulu mendisain masa depannya dan meciptakan sistim pendidikannya untuk itu.  Tepatnya, bisa dikatakan, bahwa pendidikan adalah cermin sistem sosial, di mana ia diselenggarakan di dalam sekaligus demi cita-cita sistem tersebut.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Padahal pendidikan  adalah sebuah proses mengambil, menyerap, dan mengamalkan ilmu. Cakupannya meliputi ketrampilan, penghayatan, dan penalaran. Dan karena kebutuhan manusia akan ilmu itu tidak terbatas, bahkan sebanyak tarikan nafasnya -kata Imam Ahmad-, maka tentu saja waktu dan tempat pendidikan pun tak terbatas. Dan karenanya proses tersebut tidak bisa semata menjadi tanggung jawab sekolah. Rumah tangga, tempat rekreasi, kantor, pabrik, bahkan pasar semua adalah lembaga pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tentu saja keluarga atau rumah tangga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama. Dari sanalah segalanya bermula. Oleh karenanya para orang tua harus bisa meletakkan landasan dari mana kelak anak-anaknya menatap dunia dan memasuki masa-masa pendidikan yang tiada ujungnya. Apa itu pendidikan bagi mereka, apa artinya bagi kehidupan, serta bagaimana mereka menyikapi dan menjalaninya, semua bermula di sini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Orang tua harus berupaya agar <strong><em>anak</em></strong> <strong><em>menyadari keutamaan ilmu, pendidikan</em>,</strong> dan perlunya belajar, serta dapat menghargai segala aspek yang bekaitan dengan ketiganya tadi. Rasa hormat dan penghargaan kepada ilmu akan memberikan dampak yang sangat luas di dalam kehidupan anak tersebut kelak. Dia akan bersungguh-sungguh belajar, dia akan terlatih mengakui dan menghormati orang-orang yang lebih pandai dari padanya. Dia tidak akan rela mengorbankan ilmunya demi kepentingan yang akan merusak kecintaan dan penghargaannya terhadap ilmu, dalam keadaan apapun. Mudahnya seseorang menyelewengkan pengetahuannya, antara lain disebabkan sikap moral yang tidak menghargai ilmu. Berbohong atau menghalalkan kebohongan demi mencapai maksud, antara lain juga bermula dari perkara ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ke-dua</strong>: Orang tua harus berupaya agar <strong><em>anak mampu menyadari dan mengembangkan kemampuan Keterampilan, Penghayatan dan Penalaran-nya sesuai dengan tingkat perkembangan umurnya</em></strong>. Keterampilan berkaitan dengan kemampuan motorik dan teratasinya hambatan-hambatan motorik di mana seorang anak mampu mengontrol secara sempurna gerakan anggota tubuhnya. Hambatan-hambatan motorik dapat menjadi sebab timbulnya rasa kurang percaya diri pada anak Penghayatan berkaitan dengan perasaan senang, cinta,  benci, takut, marah, dan kasihan. Penghayatan juga berkaitan dengan citarasa, selera, dan rasa keindahan. Melalui inilah tumbuh sikap, jujur, berani, bertanggungjawab, santun, sabar, simpati, serta ingin menolong dan ingin berbagi. Tumbuhnya sikap berpihak dan anti terhadap sesuatu atau seseorang juga datang dari sisi ini. Dan anak memerlukan bimbingan dan pengarahan agar dapat dengan tepat mengekspresikan perasaannya sesuai dengan situasi dan kondisi.  Penalaran berkaitan dengan kemampuan berpikir secara logis dan konsisten serta memahami sebab akibat Ketiga kemampuan ini (Keterampilan, Penghayatan, dan Penalaran) harus berkembang secara proposional sesuai dengan bertambahnya umur. Jika tidak, maka akan tumbuh pribadi yang tidak seimbang. Sebagai contoh; anak yang kelewat berani tanpa pertimbangan, anak yang kelewat penakut, atau anak yang kurang percaya diri, misalnya. Tahukah anda, bahwa sifat licik itu merupakan kombinasi cerdas dengan malas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ke-tiga</strong> : Orang Tua harus berupaya agar <strong>anak mampu melaksanakan perintah ALLAH dan menjadikan hal itu sebagai jalan untuk memahami Kehendak dan Ketentuan ALLAH SWT</strong>. Dan kemampuan melaksanakan perintah ALLAH ini dicapai melalui latihan dan pembiasaan. Kebiasaanlah yang kemudian akan membentuk pola berpikir, sehingga anak tahu untuk apa ALLAH menciptakannya, apa manfa'at dari perintah-larangan ALLAH bagi dirinya, serta apa yang harus didahulukan dan dibelakangkan di dalam menjalani kehidupan ini. Pendidikan ini berlangsung mengikuti ritme dan aktifitas kehidupannya sehari-hari. Wudlu, sholat, berdo'a, belajar membaca dan menghafal Al Qur'an, mendengarkan Hadits-Hadits, serta terbiasa mengenal perintah dan larangan atau  perkara halal-haram yang disampaikan secara tepat dan proporsionil sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.</p>
<p><a class="tr_authority_t_js" href="http://technorati.com/blogs/{URL}?sub=tr_authority_t_ns">View blog authority</a></p>
<p>var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www.");<br />
document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E"));</p>
<p>var pageTracker = _gat._getTracker("UA-4806037-1");<br />
pageTracker._initData();<br />
pageTracker._trackPageview();</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kedermawanan]]></title>
<link>http://anakmuslim.wordpress.com/2008/06/16/kedermawanan/</link>
<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 09:40:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
<guid>http://anakmuslim.wordpress.com/2008/06/16/kedermawanan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Al-Ustadzah Ummu &#8216;Abdirrahman Bintu &#8216;Imran
Kedermawanan bukanlah semata sikap yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Al-Ustadzah Ummu 'Abdirrahman Bintu 'Imran</em></p>
<p>Kedermawanan bukanlah semata sikap yang tumbuh dengan sendirinya pada diri seorang anak. Namun juga butuh pembiasaan sedari kecil. </p>
<p>Ketika anak mulai memasuki usia balita, biasanya ia mulai mengerti tentang apa itu ‘milik’. Dia mulai memahami, ada barang-barang miliknya, ada barang milik orang lain.<!--more--></p>
<p>Namun kesadaran tentang milik ini terkadang –atau malah seringnya– disertai berkembangnya sifat ‘pelit’. Ada rasa keberatan bila dia harus memberikan sebagian miliknya kepada orang lain atau barang miliknya sekadar dipegang, dipinjam atau digunakan oleh orang lain. Yang seperti ini kadangkala menjadi biang pertengkaran si anak dengan saudara atau teman sepermainannya. </p>
<p>Keadaan seperti ini tentu tak dapat dibiarkan, karena sifat buruk ini bisa jadi akan terus berkembang dan melekat pada pribadi anak. Tentu kita tak ingin anak kita menjadi anak yang bakhil, karena sifat ini jelas-jelas dicela oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Kitab-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى. وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى</p>
<p>”Adapun orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, serta membenarkan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya keadaan yang mudah. Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya tidak butuh kepada Allah, serta mendustakan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami mudahkan baginya keadaan yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)</p>
<p>Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا</p>
<p>”Orang-orang yang bakhil dan menyuruh orang lain untuk berbuat bakhil, serta menyembunyikan karunia yang telah Allah berikan kepada mereka, dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” (An Nisa`: 37) </p>
<p>Begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana beratnya seorang yang bakhil memberikan hartanya. Al-Imam Bukhari rahimahullahu meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَثَلُ الْبَخِيْلِ وَالْـمُنْفِقِ كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيْدٍ مِنْ ثَدْيِهِمَا إِلَى تَرَاقِيْهِمَا، فَأَمَّا الْـمُنْفِقُ فَلاَ يُنْفِقُ إِلاَّ سَبَغَتْ –أَوْ وَفَرَتْ– عَلَى جِلْدِهِ حَتَّى تُخْفِيَ بَنَانَهُ وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ، وَأَمَّا الْبَخِيْلُ فَلاَ يُرِيْدُ أَنْ يُنْفِقَ إِلاَّ لَزِقَتْ كُلُّ حَلْقٍ مَكَانَهُ، فَهُوَ يُوَسِّعُهَا وَلاَتَتَّسِعُ </p>
<p>”Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang suka berinfak seperti dua orang yang memakai jubah besi yang dia masukkan dari dada hingga kerongkongannya. Adapun orang yang suka berinfak, setiap kali dia berinfak jubahnya bertambah longgar dari kulitnya, sampai akhirnya menutupi jari-jemarinya dan menghapus jejak langkahnya (karena panjangnya, pen.). Adapun orang yang bakhil, setiap kali dia akan berinfak, maka menyempitlah baju besi itu, dia ingin melonggarkannya, tapi jubah itu tetap tidak bertambah longgar.” (HR. Al-Bukhari no. 1443)</p>
<p>Oleh karena itu, orangtua harus melatih anak-anak untuk menghilangkan sifat bakhil ini, disertai penanaman sifat dermawan. Anak-anak harus diajarkan, bahwa segala sesuatu yang dia miliki adalah rizki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberikannya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkan kita untuk bersedekah dan berbuat baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan yang lebih banyak bila kita mematuhi perintah-Nya untuk bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada saat itu tidak ada jual beli, tidak ada hubungan kasih sayang dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dzalim.” (Al-Baqarah: 254)</p>
<p>Di ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:</p>
<p>وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ</p>
<p>“Dan apa pun yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (Saba`: 39)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:</p>
<p>فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
<p>“Maka bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian, dengar dan taatlah kalian kepada-Nya, serta infakkanlah harta yang baik bagi diri kalian, dan barangsiapa dilindungi dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghabun: 16)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah memberikan hasungan kepada kita untuk senantiasa melapangkan diri untuk memberi. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا</p>
<p>“Tidak ada suatu hari yang dimasuki oleh seorang hamba, kecuali pada hari itu ada dua malaikat yang turun. Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, berikan ganti pada orang yang menginfakkan hartanya.’ Yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kemusnahan harta pada orang yang tidak mau memberi’.” (HR. Al-Bukhari no. 1442)</p>
<p>Benarlah berita yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Sehingga sudah semestinya kita hasung anak-anak untuk memiliki sifat dermawan, dengan mengingatkan mereka akan doa malaikat bagi orang-orang yang berinfak. </p>
<p>Selain itu, bisa pula kita ceritakan, bagaimana kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kita diperintah untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Tak pernah beliau menolak apabila diminta. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan:</p>
<p>مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا قَطُّ فَقَالَ: لاَ.</p>
<p>“Tak pernah sekalipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diminta sesuatu kemudian beliau mengatakan ‘tidak’.” (HR. Muslim no. 2311)</p>
<p>Kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sangat mengesankan siapa pun. Bahkan seseorang yang baru masuk Islam menjadi lunak hatinya dengan pemberian beliau ini, sehingga membuat dia mencintai Islam dan menjadi baik keislamannya. Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: </p>
<p>أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ: أَيْ قَوْمِ، أَسْلِمُوا، فَوَاللهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِي عَطَاءً مَا يَخَافُ الفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ: إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيْدُ إِلاَّ الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُوْنَ الْإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا</p>
<p>”Ada seseorang meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kambing sebanyak antara dua bukit. Beliau pun memenuhi permintaannya. Maka orang itu mendatangi kaumnya sambil berkata, ’Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad itu suka memberi dengan pemberian yang dia sendiri tidak khawatir akan fakir!’ Anas mengatakan, ’Tadinya orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia, sampai akhirnya setelah masuk Islam, Islam lebih dia cintai daripada dunia seisinya’.” (HR. Muslim no. 2312)</p>
<p>Sifat dermawan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tampak lebih menonjol saat tiba bulan Ramadhan. Karena itu, kita ajarkan pula anak-anak untuk banyak berbuat kebaikan dan banyak memberi saat bulan Ramadhan tiba. ’Abdullah bin ’Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ n حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ</p>
<p>”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam sepanjang bulan Ramadhan, lalu mengajari beliau Al-Qur’an. Maka ketika itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.” (HR. Al-Bukhari no. 3220 dan Muslim no. 2308)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan, hadits ini memiliki beberapa faedah, di antaranya penjelasan tentang besarnya kedermawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta disenanginya memperbanyak kedermawanan ini pada bulan Ramadhan. (Syarh Shahih Muslim, 15/68)</p>
<p>Biasanya, mengajarkan kebaikan pada anak bisa pula didukung dengan menyampaikan berbagai kisah yang benar. Mudah mereka mengingatnya dan membekas dalam hati. Demikian pula dalam hal mengajari mereka agar dermawan. Kisah-kisah tentang kedermawanan para sahabat radhiyallahu ‘anhumaperlu kita tuturkan pada mereka, seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang paling banyak menyerahkan harta dan persahabatannya untuk mendukung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga seperti ’Utsman bin ’Affan radhiyallahu ‘anhu yang membeli sumur Ruumah milik seorang Yahudi dengan hartanya agar bisa diambil airnya oleh kaum muslimin. Demikian pula para sahabat lain yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. </p>
<p>Dari kalangan wanita, ada Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu ‘anha yang sangat gemar bersedekah sampai-sampai lupa menyisakan sedikit pun hartanya untuk berbuka puasa. Juga Ummul Mukminin Zainab bintu Khuzaimah radhiyallahu ‘anha yang dijuluki Ummul Masakin, ibunda kaum miskin, karena senantiasa mengulurkan bantuan kepada orang-orang miskin. Begitu pula Ummul Mukminin Zainab bintu Jahsy yang paling banyak bersedekah di antara para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anha yang gemar membuat sesuatu kemudian hasilnya dia sedekahkan, dan masih banyak lagi. </p>
<p>Melalui biografi yang membeberkan kisah hidup para sahabat ini, mereka akan mengenal sosok mulia para sahabat radhiyallahu ’anhum. Di samping itu, mereka akan mendapatkan teladan dari kisah yang mereka baca. Diharapkan, mereka akan bisa meniru kedermawanan para sahabat radhiyallahu ’anhum.</p>
<p>Yang tak kalah pentingnya adalah teladan kita sebagai orangtua. Seorang anak yang melihat orangtuanya senantiasa memberikan kebaikan pada orang-orang yang ada di sekelilingnya, akan lebih mudah dibiasakan untuk bersifat dermawan. Diiringi pula doa kebaikan kita untuk mereka, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala jauhkan mereka dari sifat-sifat yang yang tercela dan menghiasi mereka dengan sifat-sifat yang mulia.</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Secercah Harapan dalam Sepenggal Pesan]]></title>
<link>http://anakmuslim.wordpress.com/?p=88</link>
<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 01:26:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
<guid>http://anakmuslim.wordpress.com/?p=88</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran
Anak berbeda dengan orang dewasa. Daya p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran</em></p>
<p>Anak berbeda dengan orang dewasa. Daya pikir dan imajinasinya yang masih sederhana terkadang menimbulkan kesulitan bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang sifatnya abstrak. Di antaranya, bagaimana mengajari anak untuk senang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejelekan. Namun sesulit apapun, di sana akan selalu ada jalan. Berikut ini bimbingan Islam dalam mengajari anak beramar ma’ruf nahi munkar.<!--more--></p>
<p>Anak-anak tumbuh dan berkembang. Tak bisa tidak, mereka pasti akan berhadapan dengan lingkungannya: lingkungan keluarga, lingkungan belajarnya, dan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Tak selamanya yang tampak dalam lingkungannya adalah kebaikan. Entah suatu saat, suatu kesalahan atau keburukan mungkin akan terjadi di hadapan mereka. Terlebih lagi bagi orang yang memiliki mata hati, kini tampak banyak kerusakan yang tersebar. </p>
<p>Tentu takkan ada yang berharap anak mereka turut jatuh dalam kerusakan itu. Bahkan mestinya setiap ayah dan ibu berharap anak mereka terjauh dari semua itu. Lebih dari itu, mestinya setiap ayah dan ibu berharap agar buah hati mereka mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan, sesuai kemampuan yang ada pada mereka.</p>
<p>Inilah pula yang diharapkan oleh Luqman ketika dia berpesan kepada anaknya:</p>
<p>وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ</p>
<p>“Dan perintahkanlah manusia untuk melakukan kebaikan dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar…”(Luqman: 17)</p>
<p>Demikianlah Luqman Al-Hakim mengajarkan kepada anaknya untuk memerintahkan manusia melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran sejauh kemampuan dan kesungguhannya. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/194). Demikian pula yang semestinya diajarkan kepada anak-anak. </p>
<p>Begitu pun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar tidak berdiam diri ketika melihat kemungkaran terjadi, sebagaimana perintah ini disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu 'anhu:</p>
<p>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِساَنِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْماَنِ</p>
<p>“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran, hendaknya dia mengubah dengan tangannya. Apabila dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila dia tidak mampu, hendaknya dia ingkari dengan hatinya, dan ini selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim no. 49)</p>
<p>Semestinya orang tua mengajarkan kepada anak-anak hal-hal yang berkenaan dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Juga diajarkan, apakah amar ma’ruf nahi mungkar yang dilakukan itu akan menggiring pada kemungkaran yang lebih besar daripada kemungkaran yang didapati tersebut ataukah tidak. Apabila ternyata akan terjadi kemungkaran yang lebih besar, maka semestinya amar ma’ruf nahi mungkar itu ditunda penunaiannya hingga suatu saat, ketika kebaikan akan terwujud tanpa ada madharat ataupun madharat yang ada lebih ringan. (Fiqh Tarbiyatil Abna, hal. 204)</p>
<p>Memerintahkan manusia pada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran akan senantiasa mendapatkan gangguan. Untuk itu, anak-anak didorong untuk bersabar dalam menghadapi segala ujian dan hal-hal yang memberatkan jiwa yang didapati ketika menunaikan kewajiban ini, sebagaimana dorongan Luqman. Dia menasihatkan kepada anaknya:</p>
<p>وَاصْبِرْ عَلَى ماَ أَصاَبَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُوْرِ</p>
<p>“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang dikokohkan dan harus diperhatikan.” (Luqman: 17)</p>
<p>Ini pula pengajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu 'anhuma:</p>
<p>الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخاَلِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لاَ يُخاَلِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ</p>
<p>“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 300: Shahih)</p>
<p>Dalam ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini tergambar keutamaan seseorang yang bergaul dengan manusia disertai menyuruh mereka untuk berbuat kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran serta bermuamalah dengan baik terhadap mereka. Orang seperti ini lebih mulia daripada orang yang mengasingkan diri dari manusia dan tidak mau bersabar dalam pergaulannya dengan mereka. (Subulus Salam, 4/320)</p>
<p>Anak-anak diajarkan pula untuk berlemah lembut di kala memerintahkan orang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Hal ini sebagaimana dikatakan, “Hendaklah perintahmu pada kebaikan dilakukan dengan kebaikan dan laranganmu dari kemungkaran bukan dengan kemungkaran.” (Makarimul Akhlaq, hal. 57)</p>
<p>Demikian selayaknya yang dilakukan seseorang yang menunaikan amar ma’ruf nahi mungkar, karena akan lebih mudah mencapai tujuan. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menasihatkan, “Siapa yang menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, berarti dia telah menasihati dan menghiasinya. Dan siapa yang menasihati secara terang-terangan, berarti dia telah membuka aibnya dan menjelek-jelekkannya.” (Syarh Shahih Muslim, 2/24)</p>
<p>Tentu saja, seseorang harus mengetahui hal-hal yang ma’ruf agar dia dapat menyuruh manusia melakukannya, dan harus pula mengetahui kemungkaran agar dia dapat mencegah mereka darinya (Taisirul Karimir Rahman, hal. 649). Hal ini ditempuh dengan mempelajari dan memahami agama. Barulah ia menegakkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar ini. (Wujubul Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar, Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, hal. 25)</p>
<p>Oleh karena itu, sudah semestinya orang tua mendorong anak-anak mereka untuk mempelajari dan memahami agama. Karena mempelajari dan memahami agama itu sendiri merupakan tanda di mana seseorang akan meraih kebahagiaan dan ini pun menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menghendaki kebaikan pada dirinya. Demikian dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan disampaikan oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu 'anhuma ketika berkhutbah di atas mimbar:</p>
<p>مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ</p>
<p>“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan memahamkannya terhadap agama.” (HR Muslim no. 1037)</p>
<p>Hendaknya orang tua membimbing anak-anaknya untuk mengikuti halaqah-halaqah ilmu dan memberikan semangat agar mereka bersungguh-sungguh menempuh jalan untuk menuntut ilmu, tanpa rasa bosan dan letih, karena jalan ini akan menyampaikan mereka pada ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berujung kepada jannah-Nya yang kekal abadi.</p>
<p>Benarlah janji Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disampaikan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:</p>
<p>مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ</p>
<p>“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim no. 2699)</p>
<p>Siapa kiranya yang tidak mendambakan kebaikan dan keberuntungan bagi anak-anak mereka, sebagaimana dikabarkan oleh Rabb semesta alam:</p>
<p>وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ</p>
<p>“Dan hendaklah di antara kalian ada suatu kaum yang menyeru pada kebaikan, memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari Ketujuh Detak Kehidupanmu]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=321</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 20:00:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslimah</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.wordpress.com/?p=321</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Ummu &#8216;Abdirrahman Anisah bintu &#8216;Imran
Memasuki umur tujuh hari, orang tua ditun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Penulis: Ummu 'Abdirrahman Anisah bintu 'Imran</em></p>
<p style="text-align:justify;">Memasuki umur tujuh hari, orang tua dituntunkan melakukan aqiqah bagi anaknya yang baru lahir. Bersamaan dengan itu, dicukurlah rambut si kecil dan diberi nama.</p>
<p style="text-align:justify;">Si kecil menikmati buaian bersama guliran waktu. Sosoknya masih begitu mungil tak berdaya, begitu mengharap segala kebaikan dan uluran tangan ayah dan ibunya. Kini, usianya telah mencapai hitungan tujuh hari.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak yang ingin dilakukan oleh orang tua untuk memperingati usia ketujuh buah hatinya. Bubur "dwi warna" pun diolah dan dibagi-bagikan ke tetangga kiri-kanan, atau membuat tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya untuk disajikan pada para tamu undangan, ataupun berbagai acara lainnya yang tabu bila tak diselenggarakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun tak boleh dilupa, itu semua bukanlah ajaran Islam. Syariat telah menentukan apa yang mestinya dilakukan oleh orang tua pada hari ketujuh kelahiran permata hatinya. Walaupun begitu, kadang justru tak terpikirkan untuk melaksanakannya. Andai ayah dan bunda mau menelaah kembali, apa yang dituntunkan oleh <em>Rasulullah Shallallhu 'alaihi wa sallam</em> pada saat bayi memasuki hari ketujuh kelahirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau <em>Shallallhu 'alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar pada hari itu dilaksanakan aqiqah. Aqiqah adalah nama sembelihan untuk seorang anak yang baru lahir. (<strong>Fathul Bari</strong>, 9/500)</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai hal ini, seorang shahabat yang mulia, Sulaiman bin ‘Amir <em>radhiallahu 'anhu</em> mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: مَعَ الغُلامِ عَقِيْقَتُهُ فَأَهْرِيْقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيْطُوا عَنْهُ الأَذَى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Saya mendengar Rasulullah Shallallhu 'alaihi wa sallam bersabda: Setiap anak bersama aqiqahnya, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah gangguan darinya."</em> (Shahih, <strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 5472)</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula Samurah bin Jundab <em>radhiallahu 'anhu</em> menyampaikan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">كُلُّ غُلامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur habis * rambutnya dan diberikan nama."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> no. 2838. Berkata Asy-Syaikh Muqbil <em>rahimahullah</em> dalam <strong>Al-Jami'ush Shahih</strong> (4/233): "Ini hadits shahih".)</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali akan timbul tanda tanya, apa maksud perkataan Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> bahwa setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Para ulama berselisih tentang makna sabda Rasulullah <em>Shallallalhu 'alaihi wa sallam</em> ini. Namun pendapat yang paling baik di antara pendapat yang ada, datang dari Al-Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>. Beliau menjelaskan bahwa ini berkenaan dengan syafaat. Apabila seorang anak meninggal semasa kanak-kanak dalam keadaan belum diaqiqahi, maka dia tidak dapat memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya. <strong>(‘Aunul Ma'bud</strong>, 8/27)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ucapan Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> ini pun didapati dalil bahwa waktu pelaksanaan aqiqah itu pada hari ketujuh kelahiran seorang anak, dan tidak disyariatkan pelaksanaan aqiqah sebelum ataupun setelah hari ketujuh ini. <strong>(‘Aunul Ma'bud</strong>, 8/28)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <strong>Nailul Authar</strong> (5/224) disebutkan bahwa aqiqah ini merupakan perkara yang sunnah. Demikian yang dipegangi oleh sekelompok besar para ulama. Hal ini berdasarkan riwayat dari ‘Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah <em>Shallallhu 'alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ عَنِ الغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Barangsiapa yang lahir anaknya dan ingin menyembelih untuk kelahiran anaknya, hendaknya dia laksanakan, dua ekor kambing yang setara untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> no. 2842, shahih dalam <strong>Shahih Sunan Abi Dawud</strong> no. 2467)</p>
<p style="text-align:justify;">Juga pada hadits ini didapati penjelasan bahwa pada pelaksanaan aqiqah disembelih dua ekor kambing untuk seorang anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Begitu pula yang disampaikan kepada para shahabat oleh Ummul Mu'minin ‘Aisyah <em>radhiallahu 'anha</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> memerintahkan kepada mereka:</p>
<p style="text-align:right;">عَنِ الغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Disembelih dua ekor kambing yang setara bagi seorang anak laki-laki dan seekor kambing untuk seorang anak perempuan."</em> (<strong>HR. At-Tirmidzi</strong> no. 1433, shahih dalam <strong>Irwa'ul Ghalil</strong> no. 1166)</p>
<p style="text-align:justify;">Pernah pula seorang shahabiyah, Ummu Kurz <em>radhiallahu 'anha</em>, mendengar <em>Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">عَنِ الغُلامِ شَاتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ لا يَضُرُّكُمْ أذُكْرَانًا كُنَّ أَوْ إِنَاثًا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Disembelih dua ekor kambing bagi seorang anak laki-laki dan seekor kambing untuk seorang anak perempuan, tidak mengapa kambing jantan ataupun kambing betina."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> no. 4835, shahih dalam <strong>Shahih Sunan Abi Dawud</strong> no. 2460, dan <strong>Al-Hakim</strong>, 4/237, dishahihkan oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam <strong>At-Talkhish</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Maksud dua kambing yang sama (شاتان مكافئتان) pernah dijelaskan oleh Zaid bin Aslam, yaitu dua kambing yang serupa (متشابهتان) yang disembelih bersamaan, tidak ditunda penyembelihan salah satu dari keduanya. Sedangkan Al-Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa maknanya dua kambing yang hampir sama (متقاربتان) dan Al-Imam Al-Khaththabi <em>rahimahullah</em> menjelaskan, yaitu setara umurnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits-hadits di atas didapati pula dalil yang dipegangi oleh sekelompok besar ulama tentang perbedaan banyaknya kambing yang disembelih dalam aqiqah ini bagi anak laki-laki dan anak perempuan. (<strong>Fathul Bari</strong>, 9/506)</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah penyembelihan dilaksanakan, disenangi untuk mengolah daging aqiqah itu terlebih dahulu sebelum diberikan, karena orang-orang miskin dan para tetangga yang menerimanya tidak merasa repot lagi memasaknya. Hal ini akan menambah kebaikan serta rasa syukur terhadap nikmat tersebut. Para tetangga, anak-anak serta orang-orang miskin dapat menikmati hidangan itu dengan gembira, karena orang yang menerima daging yang sudah dimasak, siap dimakan dan lezat rasanya tentu merasa lebih gembira dibandingkan pemberian daging mentah yang masih membutuhkan tenaga untuk mengolahnya. (<strong>Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud</strong> hal. 75-76)</p>
<p style="text-align:justify;">Selain penyembelihan hewan, Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> memerintahkan agar pada hari itu dicukur pula rambut bayi. Ini bisa disimak dari ucapan beliau <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> yang disampaikan oleh Samurah bin Jundab <em>radhiallahu 'anhu</em>:</p>
<p style="text-align:right;">كُلُّ غُلامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur habis rambutnya dan diberikan nama."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> no. 2838. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan shahih dalam <strong>Shahih Sunan Abu Dawud</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Juga dalam riwayat Sulaiman bin ‘Amir <em>radhiallahu 'anhu</em>:</p>
<p style="text-align:right;">مَعَ الغُلامِ عَقِيْقَتُهُ فَأَهْرِيْقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيْطُوا عَنْهُ الأَذَى</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Setiap anak bersama aqiqahnya, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah gangguan darinya."</em> (Shahih, <strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 5472)</p>
<p style="text-align:justify;">Menghilangkan gangguan (إمَاطة لأذى) yang ada dalam hadits ini mencakup mencukur rambut ataupun menghilangkan segala gangguan yang ada. (<strong>Fathul Bari</strong> 9/507)</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi perlu diperhatikan, rambut bayi harus dicukur habis pada keseluruhan bagian kepala, tidak boleh hanya mencukur habis pada sebagian kepala saja dan membiarkan bagian yang lainnya, yang diistilahkan dengan <em>qaza'</em>. Berkenaan dengan larangan ini ‘Abdullah ibnu ‘Umar <em>radhiallahu 'anhuma</em> mengatakan:</p>
<p style="text-align:right;">سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَى عَنِ القَزَعِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam</em><em></em><em>melarang dari qaza'.</em> (Shahih, <strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 5920 dan <strong>Muslim</strong> no. 2120)</p>
<p style="text-align:justify;">‘Ubaidullah bin Hafsh, salah seorang rawi hadits ini, menerangkan lebih lanjut tentang pengertian <em>qaza'</em>, rambut bayi dicukur lalu disisakan bagian ubun-ubun dan kedua samping kepala.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Qaza'</em> ada beberapa bentuk. Ada yang dicukur beberapa tempat saja, ada yang dicukur rambut bagian tengahnya dan disisakan bagian sampingnya sebagaimana yang dilakukan oleh para penjaga gereja di kalangan Nashara, ada yang dicukur rambut bagian sampingnya dan disisakan bagian tengahnya seperti orang-orang gembel dan orang rendahan, ada pula yang dicukur rambut bagian depannya dan disisakan bagian belakang kepala. Ini semua termasuk bentuk <em>qaza'</em>. (<strong>Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud</strong>, hal. 100)</p>
<p style="text-align:justify;">Selain hal-hal di atas, perlu diketahui bahwa tidak disyariatkan mengusapkan darah sembelihan pada kepala bayi setelah rambutnya dicukur. Bahkan ini adalah perbuatan jahiliyah yang telah dihapuskan setelah turunnya syariat Islam, seperti yang dikisahkan oleh Buraidah <em>radhiallahu 'anhu</em>:</p>
<p style="text-align:right;">كُنَّا فِي الجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلامٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللهُ بِالإِسْلامِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلَطِّخُهُ بِزَعْفَرَانِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Dulu ketika kami masih dalam masa jahiliyah, apabila lahir anak salah seorang di antara kami, maka dia menyembelih kambing dan mengoleskan darahnya ke kepala bayi itu. Maka ketika Allah datangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur rambut bayi dan mengolesi kepalanya dengan za'faran (jenis minyak wangi)."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> no. 2843. Asy-Syaikh Al-Albani berkata hadits ini hasan shahih dalam <strong>Shahih Sunan Abu Dawud</strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">Ini juga menunjukkan disenanginya mengoleskan <em>za'faran</em> atau jenis wewangian yang lain pada kepala bayi setelah dicukur. <strong>(‘Aunul Ma'bud</strong>, 8/33)</p>
<p style="text-align:justify;">Yang juga tak lepas dari pelaksanaan aqiqah ini adalah pemberian nama. Ini dapat dilihat dalam hadits Samurah bin Jundab <em>radhiallahu 'anhu</em> yang telah lalu. Demikianlah, seseorang yang hendak mengaqiqahi anaknya, hendaknya menangguhkan penamaannya hingga hari ketujuh. Apabila tidak hendak diaqiqahi, maka dia bisa memberikan nama pada anaknya pada hari kelahirannya. (<strong>Fathul Bari</strong>, 9/500)</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah rangkaian yang mestinya diselenggarakan pada hari ketujuh kelahiran si buah hati. Tentunya tak ada pilihan lain bagi ayah dan bunda kecuali memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan mempersembahkan seluruh perikehidupan di atas jalan Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu ta'ala a'lamu bish-shawab.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Footnote:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">* Yaitu digundul dengan menggunakan alat cukur. Lihat <strong>Asy-Syarhul Mumti'</strong> (7/540-541)</p>
<p style="text-align:right;"><em>(Sumber: Majalah Asy Syariah, Vol. I/No. 05/Agustus 2003/Jumadil Akhir 1424H, kategori: Permata Hati, hal. 64-66, dicopy dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=120)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pertimbangan dalam pilih Preschool dan sekolah untuk anak]]></title>
<link>http://fabianyafa.wordpress.com/?p=53</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 14:48:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>hsan6</dc:creator>
<guid>http://fabianyafa.wordpress.com/?p=53</guid>
<description><![CDATA[Ternyata memilih sekolah yang baik itu banyak sekali yang harus dipertimbangkan yach&#8230;Dari anak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata memilih sekolah yang baik itu banyak sekali yang harus dipertimbangkan yach...Dari anak saya menginjak usia 1 tahun, saya mulai memikirkan jalur sekolah mana yang akan diambil oleh Fabian.. Sejauh riset saya ada 3 jenis sekolah di indo, yaitu sekolah nasional (bisa swasta,dan negeri), sekolah national plus, dan sekolah international.</p>
<p>Terus terang saya tidak begitu menyukai preschool dan sekolah yang menggunakan kurikulum international. Hal ini didorong oleh hasil pengamatan saya terhadap beberapa anak di sekolah jenis tersebut yang memiliki sifat individualistis tinggi, suka menyombongkan kekayaan keluarganya dan tidak mau bergaul dengan anak lain yang tingkat ekonominya lebih rendah. Selain itu harganya juga sangat mahal dan bila suatu saat keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk anak meneruskan pendidikan dengan biaya yang tinggi, maka perpindahan dari kurikulum international ke nasional akan sulit baik dalam penyamaan nilai dan bagi anak sendiri(perlu adaptasi kembali)</p>
<p>Akan tetapi beberapa waktu belakangan ini, saya mulai melihat adanya pergeseran dari kualitas sumberdaya manusia yang akan dibutuhkan dimasa depan.</p>
<ol>
<li>kemajuan jaman mendorong orang untuk semakin kreatif dan inovatif.  kecenderungan ini sudah terlihat dari banyaknya perusahaan yang menekankan "inovasi" sebagai salah satu value mereka. Bila saya bercermin pada diri saya sendiri yang merasa kurang dalam hal ini, mungkin hal ini disebabkan dari pendidikan yang saya terima tidak mendorong saya untuk memiliki pola pikir yang kreatif.  Selama saya belajar, saya hanya menerima teori-teori yang diberikan kepada saya dan berusaha mengerti bagaimana cara menggunakannya tanpa mempertanyakan kembali kenapa teori itu yang dipakai, apakah ada cara lain untuk menuju kesana</li>
<p><!--more--></p>
<li>Kepercayaan diri dalam mengemukakan pendapat. Karena saya terbiasa didik untuk menerima apapun yang guru katakan sejak kecil, saya hilang kepercayaan diri untuk berinteraksi dikelas. Berbeda dengan anak2 international yang dengan mudahnya mengemukakan pendapat mereka didalam kelas. Kebiasaan ini menjadi cikal bakal ketidak percayaan terhadap diri sendiri dibidang lain termasuk pekerjaan. Padahal kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam mendukung sifat kreatif, sehingga bisa menyakinkan orang lain mengenai penemuan/ide yang telah ia miliki</li>
<li>Presentasi. Saat ini setiap pekerjaan pasti membutuhkan skill yang satu ini. Mungkin ini terlihat seperti suatu keterampilan yang dapat diasah setelah kita dewasa dengan mengikuti kursus/latihan. Akan tetapi kebiasaan untuk berbicara d idepan umum, menjelaskan pemikiran dalam bahasa yang dapat dimengerti orang lain, bukanlah keterampilan yang dapat dipelajari sebentar. Ada sedikit karakter yang harus dipenuhi untuk mendukungnya. Beberapa sekolah international membiasakan anak-anaknya untuk melakukan presentasi mereka sejak dini. Inilah yang dapat membentuk karakter mereka</li>
<li>Terlalu banyak pelajaran yang dipaksakan kepada anak dalam kurikulum nasional yang memaksa anak sampai harus kursus diluar sekolah. Banyak kasus yang saya temukan dimana anak tidak lagi mempunyai waktu yang cukup untuk bermain dan berkumpul dengan keluarga, karena jadwalnya yang sudah padat dari pagi sampai malam. Belum lagi apabila sebagian dari kursusnya adalah buah dari paksaan orang tua, seperti obsesi ortu untuk anaknya dapat menguasai kumon, piano, dll. Alhasil anak malah melihat sekolah sebagai beban, dan tidak ada ilmu yang benar2 melekat dikepalanya.</li>
<li>Metode pengajaran yang terlalu teoritis menyebabkan saya merasa sulit sekali menemukan sendiri rumus apa yang harus dipakai dalam kehidupan sehari2 bila belum ada yang memberikan contoh atau petunjuk. Kalau dikilas balik, dalam mata pelajaran yang saya terima, biasanya saya akan mempelajari contoh2 soal dan belajar bagaimana menyelesaikan soal dari jawaban yang sudah ada. Bukan mencari sendiri sebenarnya teori ini berlaku dibagian mana dari kehidupan</li>
</ol>
<p>Untuk saat ini saya masih belum dapat memutuskan apa yang terbaik untuk Fabian, tapi setidaknya 5 hal diatas perlu dipertimbangkan juga dalam milih sekolah anak.</p>
<p>Mungkin ada dari kalian yang ingin share pengalamannya? atau merekomendarikan preschool atau sekolah dari pengalaman anaknya.. silahkan berikan komentarnya..<!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cinta Tulus, Rumah Tangga Mulus]]></title>
<link>http://safuan.wordpress.com/?p=332</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 08:09:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://safuan.wordpress.com/?p=332</guid>
<description><![CDATA[ 
Siapa yang tidak menginginkan pernikahan yang langgeng? Siapa pula yang tidak mau mendapatkan pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Siapa yang tidak menginginkan pernikahan yang langgeng? Siapa pula yang tidak mau mendapatkan pendamping hidup yang shalih/shalihah nan setia. Tentu semua orang mendambakan pernikahan yang bahagia.<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Alangkah indahnya sebuah pernikahan yang dilandasi dengan sebuah ketulusan cinta dan persahabatan sejati. Adanya penerimaan dan penghargaan yang tulus dari masing-masing pasangan untuk menjadi pendamping setia pasangan hidupnya sungguh merupakan suatu pelajaran indah yang dapat kita petik, sebagaimana kisah dua insan di depan. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Kita semua menyadari bahwa permasalahan tidak dapat terelakkan dalam kehidupan rumah tangga. Inilah yang disebut dengan pernak-pernik dalam rumah tangga. Pasangan yang bahagia permasalahan dalam pernikahannya dengan akhir yang cantik. Sebaliknya, pasangan yang tidak bahagia lebih sering membuat pernak-pernik ini manjadi bongkahan batu yang siap menghantam pernikahan mereka dengan selalu hadirnya pikiran negative mereka akan pasangan hidup mereka. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Dalam kisah nyata ini, kita belajar bagaimana menyikapi permasalahan keluarga secara bijak. Inilah salah satu kunci kebahagiaan dalam suatu pernikahan. Adalah lebih menarik bagi kita untuk mengambil hikmah bagaimana suami istri ini manjadikan permasalahan rumah tangga sebagai cara mempererat persahabatan dan cinta dalam hidup mereka, daripada berputar-putar pada permasalahan mereka yang sebenarnya merupakan area pribadi mereka. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Baiklah, kita akan melihat bagaimana suami istri ini berupaya untuk melanggengkan pernikahan mereka. Beberapa hal dibawah ini adalah beberapa kunci yang dilakukan kedua pasangan tersebut mengatasi pernak-pernik permasalahan dalam rumahtangganya agar dapat berakhir cantik: </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong>Mengenali dan akrab dengan dunia pasangan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">  </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">“Masak sih ada orang yang menikah sampai tidak mengenali dengan akrab pasangannya apalagi dunianya?” Jawabannya, “Mengapa tidak” Inilah yang terjadi pada pernikahan yang ‘hambar’ dan tidak bahagia. Yang ada adalah sikap masa bodoh ketika bertemu setelah seharian tidak ketemu, ataupun lebih banyak bertengkar hal-hal kecil daripada sekedar mengobrol ringan seputar  hari-hari yang mereka lalui. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Pernikahan bahagia tumbuh dari persahabatan erat antara suami istri. Mereka saling menghargai dan menerima, tahu benar kesukaan, ketidaksukaan, kekhasan kepribadian dan harapan pasangannya. Mereka hampir selalu mempunyai pikiran yang positif  terhadap pasangannya sehingga ketika terjadi perselisihan maupun kekesalan, perasaan negative mereka terhadap pasangan cenderung tersingkir. Mereka selalu menjaga agar pikiran dan perasaan positif lebih mendominasi pandangan mereka terhadap pasangan hidupnya. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Sang istri dalam kisah diatas tidak akan dapat mengetahui bagaimana keadaan suaminya di luar jikalau sang suami tidak mau berbagi cerita dengannya. Ia tidak akan dapat mengetahui keinginan dan permasalahan sang suami jika tidak ada komunikasi intensif dan keakraban diantara mereka berdua. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong>Memiliki dan mempertahankan rasa suka dan kagum</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Rasa suka dan kagum adalah unsur-unsur penting untuk menggapai pernikahan yang memuaskan dan langgeng. Menurut seorang psikolog, jika kedua rasa ini sama sekali tidak ada atau sudah hilang dalam suatu pernikahan maka hubungan tak akan dapat dihidupkan lagi. Dengan adanya rasa ini, mereka masih merasa bahwa orang yang mereka cintai layak dihormati dan dihargai meskipun kadang-kadang suami istri merasa terganggu akibat adanya kekurangan dalam diri pasangannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">  </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Kita dapat melihat sang istri dalam kisah di depan tampak begitu mengagumi suaminya dengan untaian pujian akan keshalihan dan kesabaran sang suami yang menerima dirinya apa adanya. Suatu hal yang menurut sang istri merupakan bentuk kasih saying dan pengorbanan besar suami untuknya. Kita juga dapat melihat dari ungkapan kecintaannya yang mendalam terhadap sang suami dalam suratnya. Perasaan-perasaan dan ungkapan-ungkapan cinta, suka dan kagum semacam inilah yang bila dipertahankan dan senantiasa ditunjukkan kepada pasangan akan memberikan dampak yang luar biasa dalam kelanggengan sebuah pernikahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong>Menerima Pengaruh Pasangan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Pernikahan yang paling bahagia dan stabil dalam jangka panjang adalah pernikahan yang suami memperlakukan istrinya dengan hormat, tidak menolak berbagi kekuasaan, dan membuat keputusan bersama. Saat berselisih paham sang suami mencari jalan tengah daripada memaksakan jalannya sendiri. Sikap keterbukaan suami menerima pengaruh istri dapat berimbas pada kokohnya jalinan rumah tangga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Sebaliknya, tidak sedikit kita temui para suami yang menolak berbagi kekuasaan dengan istri, tidak mau belajar sesuatu dari istri. Bahkan untuk hal-hal kecil seperti berbagi urusan rumah tangga dan mengurus anak, semua keputusan di tangan suami tanpa ada peran istri sama sekali apalagi untuk mengambil keputusan bersama. Lalu apa peran istri di sini?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">  </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Dalam kasus di depan, sang suami begitu menghormati dan menghargai keinginan istri untuk pindah rumah demi kebaikan bersama walaupun harus menempuh perjalanan jauh ke tempat kerja. Inilah yang memberikan kesan mendalam dalam diri sang istri akan ketulusan cinta suaminya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Demikianlah hikmah yang dapat kita petik dari kisah diatas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Kami berdoa, semoga Anda berdua dapat mempertahankan kebahagiaan pernikahan Anda berdua walaupun badai menghadang dengan ketulusan cinta Anda berdua.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><em>Diketik ulang dari Majalah Nikah (Sisi Psikologi) Vol. 6, No. 10, Jan-Feb 2008 hal. 70 sd 71.</em></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Anak Saya Bermasalah]]></title>
<link>http://sailululum.wordpress.com/?p=62</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 02:06:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Administrator</dc:creator>
<guid>http://sailululum.wordpress.com/?p=62</guid>
<description><![CDATA[Kegelisahan Orang Tua
Apakah anak saya bermasalah? Pertanyaan itu sering sekali terdengar diucapkan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kegelisahan Orang Tua</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apakah anak saya bermasalah? Pertanyaan itu sering sekali terdengar diucapkan oleh para orang tua, terutama para Ibu. <span lang="NO-BOK">Umumnya mereka khawatir karena anak-anak mereka dinilai “berbeda” dengan rekan-rekan mereka. Entah dari prestasinya, sikap dan perilakunya, sifatnya, sampai dengan fisiknya. Jeli sekali pengamatan para orang tua, jika sudah menyangkut perbedaan pada anak-anaknya. Selanjutnya, orang tua cenderung berpikir “anak saya<span> </span>membutuhkan terapi” Artikel ini, tidak mengajak pembaca untuk mengenal ciri-ciri anak bermasalah, namun mengajak pembaca untuk memahami, dari mana munculnya keresahan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--more--><span lang="NO-BOK">Fakta versus persepsi pribadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Tidak semua perbedaan yang kita lihat pada anak merupakan hal yang negatif, dan tidak semua juga positif. Orang tua seringkali lupa, bahwa ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi perbedaan setiap anak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">a. Faktor biologis &#38; genetika (keturunan)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">b. Faktor pola asuh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">c. Faktor lingkungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">d. Faktor pendidikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">e. Faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kondisi persis sama, bahkan kakak beradik<span> </span>atau anak kembar sekali pun, mengalami kondisi yang berbeda ketika mereka tumbuh dan dibesarkan. Intinya, tak ada satu manusia pun di dunia yang segala sesuatunya sama persis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Tidak setiap perbedaan berdampak destruktif, negatif atau pun patologis. Tergantung dari kaca mata yang melihatnya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">1. Orientasi fisiologis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Tuhan menciptakan manusia, dengan berbagai variasi dan keunikannya. Semua itu memperindah manusia itu sendiri. Namun, manusia sendiri lah yang seringkali terlalu ikut campur tangan dalam merekayasa dirinya. </span><span lang="FI">Misalnya, melakukan operasi plastik supaya wajahnya sama seperti artis penyanyi idolanya. Padahal, perbedaan itu dimaksudkan untuk menandai ke-khas-an setiap manusia. Tuhan sudah memikirkan jauh ke depan, agar manusia tidak membutuhkan kode, nomer urut atau pun abjad untuk membedakan diri mereka satu dengan yang lainnya. Manusia bukan produk pabrikan. Jadi, tidak heran jika anak punya tampang dan penampang yang berbeda-beda, hasil sintesa antara orang tua plus, karya seni &#38; rancangan rencana Tuhan – serta dipengaruhi proses tumbuh kembang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kelainan fisik – orang bilang “cacat”, sesungguhnya tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kekurangan sang manusia itu. Sebab, kepenuhan dan kesempurnaan manusia, tidak bisa hanya dilihat dari kesempurnaan fisik, melainkan dari totalitas sebagai manusia – lahir dan batin. Tiadanya satu unsur di dalam fisiknya, menandakan adanya elemen lain yang menyempurnakan totalitas kemanusiaannya. Hanya, sayangnya – orang sering berfokus pada kekurangan dan lupa akan elemen lain yang Tuhan sudah “tanamkan” untuk menyempurnakan manusia ciptaan yang dikasihiNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Demikian juga dengan perbedaan fisik anak-anak. Banyak kombinasi unsur yang mempengaruhi perbedaan itu, baik unsur keturunan, gizi maupun faktor “latihan” fisik selama tumbuh kembang anak. Jika orang tua menginginkan anaknya sama persis dengan anak lain yang dianggap “ideal”, maka segala sesuatunya (kondisi fisik dan psikologis calon orang tua, termasuk nenek kakek yang melahirkan orang tua, sifat dan karakter, ciri fisiologis, kondisi rumah tangga, makanan dan gizi, dsb) harus sama persis jauh sebelum masa konsepsi. Apakah mungkin ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Kita para orang tua yang sering kali terlalu panik ketika melihat kecepatan perkembangan anak kita berbeda dari yang lain. Bahkan, sangat cemas ketika melihat perbedaan fisik anak (anak kita lebih kurus atau lebih pendek dari temannya) dan lupa – bahwa perbedaan itu juga disebabkan oleh perbedaan kita, para orang tua. Orang tua sering mudah menyalahkan anak dan menganggap anaknya “tidak pandai”, malas, terlambat, terbelakang, lembek, lemah, jelek, dsb – dan akhirnya mendorong / menuntut anak untuk cepat-cepat menyaingi – minimal menjadi seperti ukuran ideal orang tua. Memang, dampak positifnya, bisa jadi ada perbaikan gizi dan perbaikan kegiatan untuk pengembangan fisik. Tapi, negatifnya, orang tua terlalu melihat pada hasil akhir dan lupa – luput melihat keajaiban kecil yang terjadi setiap saat di masa perkembangan anak, sesuai dengan proses kematangan (fisik-fisiologis) anak mereka sendiri. Orang tua jadi tidak menghargai upaya anak, dan tidak menghargai campur tangan Tuhan yang membantu tumbuh kembang anak karena orang tua terlampau ngotot dan fokus pada hasil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">2. Orientasi psikologis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Manusia senang sekali menilai dan membandingkan segala sesuatu, sepertinya tidak pernah menemukan titik temu antara kepuasan, keinginan ideal dengan kenyataan. Masalahnya, jika yang dinilai dan dibicarakan adalah “manusia” dan manusia itu adalah “anak”, persoalan sering jadi rumit. Anak adalah ibarat sebuah diamond – berlian, yang terdiri dari ratusan – bisa lebih – irisan, sudut, facets. Setiap sinar yang masuk, akan menghasilkan dimensi warna tersendiri. Dan, tidak ada diamond yang secara alami, memiliki irisan yang sama persis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Pribadi, identitas dan diri seorang anak, akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas (pola asuh, dsb) dan faktor di atas juga sangat bervariasi dan berbeda derajatnya satu sama lainnya. Contoh : pola asuh orang tua, mempengaruhi sifat, karakter kepribadian anak. Pola asuh orang tua, pada dasarnya merupakan sintesa – hasil dinamika dua pribadi (ayah dan ibu) dalam mengasuh, mendidik dan menghadapi anak. Jika hendak diperdalam lagi, pribadi ayah yang menghasilkan pola sikap tertentu terhadap anak – juga hasil dari pola asuh orang tua sang ayah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Jadi, ketika ada orang tua mempertanyakan : “kenapa ya kok sifat anak saya seperti itu?” sebenarnya, yang pertama kali harus dilakukan, adalah bercermin pada diri sendiri dan kilas balik ke belakang – bagaimana ayah dan ibu kita (dan kepribadian mereka) mempengaruhi pembentukan kepribadian kita para orang tua sehingga seringkali tanpa sadar kita lah yang mengarahkan anak untuk mengembangkan sifat-karakter-kebiasaan-perilaku dan segala sesuatu – seperti diri kita, bahkan, sedapat mungkin lebih sempurna dari diri kita. Kita lupa, bahwa anak – punya jalur, jalan hidup, panggilan hidup dan pribadi dan identitas nya sendiri, misi hidup yang berbeda dari orang tua, yang di-desain khusus sebelum dirinya menjelajah dunia. Orang tua, tanpa sadar menjadikan anaknya extended version.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Masalahnya kemudian, ketika anak tidak berkembang sesuai dengan “buku panduan”, orang tua lantas buru-buru mendiagnosa bahwa anaknya punya masalah, kelainan atau pun kelemahan yang harus segera di atasi dengan cara di - treatment. Padahal, orang tua sekali lagi lupa, bahwa mereka menggunakan acuan persepsi diri subyektif – plus ambisi pribadi, dalam menilai, mengukur perkembangan kejiwaan dan pribadi anak. Yang kasihan, ketika anak mengalami masalah, misalnya masalah emosional (resah, jadi pendiam, atau pemarah, mudah menangis, sulit mengendalikan emosi, dsb) – orang tua hanya melihatnya secara parsial, bahwa “anak saya bermasalah” dan “anak saya membutuhkan treatment”. Orang tua seringkali lupa, bahwa anak – dan reaksinya, antara lain merupakan hasil sintesa dari 2 kepribadian, pola sikap dan karakter orang tua yang berbeda, termasuk dan tersangkut pula di dalamnya masalah kejiwaan sang orang tua. </span>Jadi, jika anak kita terlihat memiliki masalah emosional, jangan tergesa-gesa untuk mendapatkan instant treatment buat anak. Karena, ibarat sehelai daun menguning, maka bukan daun itu sendiri yang menyebabkannya, melainkan kesatuan sistem pohon turut serta dalam proses “penguningan”. Artinya, periksa dulu diri kita masing-masing, dan kemudian periksa hubungan kita dengan pasangan dan dengan anak. Segala sesuatu berawal dari situ, khususnya untuk masalah emosional – non medis / physiologis (misal, kelainan otak).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pak – Bu, sebelum kita menganggap anak kita bermasalah, lebih baik kita evaluasi beberapa hal terlebih dahulu :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">a. Apa yang sedang terjadi di dalam keluarga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Apakah ada perubahan dalam keluarga sehingga merubah tatanan, kebiasaan atau pun<span> </span>stabilitas keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">b. Apakah yang sedang dialami anak di sekolah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Apakah ada masalah, tantangan atau kesulitan yang dihadapi anak di sekolah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">c. Bagaimakah pola komunikasi di rumah, antara orang tua dan antara anak dengan orang tua?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="NO-BOK">Pola komunikasi akan turut mempengaruhi kondisi kejiwaan anak, secara langsung dan tak langsung. Anak yang terbiasa mengekspresikan diri apa adanya, memiliki freedom to be and to fail environment, akan lebih rileks dalam menghadapi kesulitan karena dia bisa membicarakannya pada orang tua, tanpa dibayangi rasa takut, malu atau pun merasa bersalah karena dirinya tak mampu memenuhi harapan orang tua</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">d. Bagaimakah sifat kita masing-masing sebagai orang tua?<span lang="FI"> Dan bagaimana pola pemecahan masalah yang biasa kita lakukan ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Bercerminlah pada diri sendiri. Apakah ada kesamaan ciri, pola, elemen antara orang tua dengan anak – karena anak tanpa sadar juga belajar dari dan meniru orang tua</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">e. Apakah yang ingin diungkapkan anak melalui permasalahannya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Setiap masalah yang terjadi, mengajarkan kita sebuah nilai kehidupan. Kalau kita hanya terfokus pada dampaknya (seringkali dampaknya pada diri kita – para orang tua, yakni : rasa malu kalau anaknya “ketinggalan”, “bermasalah” dsb), kita jadi luput mengambil pelajaran dan “pesan” yang harusnya kita dapatkan dari masalah yang sedang menimpa anak maupun diri kita. Misalnya, anak resah, gelisah, sulit konsentrasi, mudah marah dan menangis, sulit kerja sama dengan temannya di kelas – alih-alih melihat apa yang ingin diungkapkannya melalui “unspoken language”, orang tua sering buru-buru mencari orang yang bisa “menyembuhkan” atau “mengembalikan” anak mereka ke kondisi “normal”. Tapi, ketika orang tua juga diminta untuk terlibat secara aktif, bahkan ikut “di-therapy”, kontan saja mereka menolak karena merasa “tidak bermasalah” dan hanya “anak saya yang bermasalah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"> Jika demikian, orang tua akan sulit memahami permasalahan yang sesungguhnya, bahkan mungkin sekali – tidak ingin tahu permasalahan yang sesungguhnya, jika mereka lah yang harus “dikutak katik”, harus self-healing. Siap-siap saja untuk menghadapi masalah demi masalah yang kurang lebih serupa dengan intensitas yang semakin tinggi – hanya karena tidak menangkap “pesan” kehidupan yang harus dipahami supaya memperoleh kehidupan yang lebih berkualitas dan anak-anak yang lebih sehat jasmani dan rohani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://www.e-psikologi.com/anak/060106.htm" target="_blank">Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fobia Sekolah]]></title>
<link>http://sailululum.wordpress.com/?p=60</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 01:50:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Administrator</dc:creator>
<guid>http://sailululum.wordpress.com/?p=60</guid>
<description><![CDATA[
Aku nggak mau sekolah&#8230;.pokoknya enggaaaaak !!! hari ini aku mau ikut Mama ke kantor aja..!
Pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku nggak mau sekolah....pokoknya enggaaaaak !!! hari ini aku mau ikut Mama ke kantor aja..!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Perutku sakit, Maaaa....aku nggak enak badan...jadi hari ini aku boleh nggak usah masuk sekolah, yaaaa..!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Adek mau main di rumah saja, Ma....please.....Adek takut sama Bu Guru...soalnya Bu Guru galak sekali, Adek takut dimarahi sama Bu Guru.....boleh ya Ma....boleh ya.....</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pokoknya aku nggak mau  ke sekolah...aku nggak suka sekolah....aku mau di rumah ajaaaa !!</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalimat-kalimat diatas mungkin tidak asing di telinga kita ketika menghadapi anak yang tiba-tiba mogok sekolah. Beberapa alasan tersebut memang seringkali dikemukakan oleh anak-anak ketika mereka tidak ingin pergi ke sekolah.  Tidak jarang orangtua hanya bisa terdiam dan termenung  bahkan bingung ketika mendengar kata-kata tersebut diucapkan oleh anak tercintanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Banyak orangtua yang bingung menghadapi perubahan sikap anaknya yang tiba-tiba mogok tidak mau sekolah dengan berbagai alasan, mulai dari sakit perut, sakit kepala, sakit kaki dan seribu alasan lainnya.  Bagi orangtua yang anaknya masih kecil, pemogokkan ini tentu bikin pusing karena menimbulkan kebingungan apakah alasan tersebut benar atau hanya dibuat-buat. Orangtua menjadi bingung: memaksa anak untuk tetap berangkat sekolah takut nanti anaknya menjadi stress;  atau kalau ternyata benar apa yang dikemukakan anak, lantas bagaimana harus bersikap? Sementara itu problem yang hampir sama dialami orangtua yang bingung menghadapi penolakan anaknya yang sudah waktunya bersekolah tapi masih saja belum mau masuk sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Menghadapi kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua agar  kendali pendidikan dan pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan datang. Dalam artikel ini saya mencoba untuk mengulas apa yang dimaksud dengan fobia sekolah (mogok atau tidak mau ke sekolah), apa faktor penyebabnya dan bagaimana orangtua harus menyiasati kondisi ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apakah Fobia Sekolah? </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat, atau hari Minggu / libur. Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapai suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tingkatan dan Jenis Penolakan Terhadap Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli menunjuk adanya beberapa tingkatan school refusal, mulai dari yang ringan hingga yang berat (fobia), yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">1.  <em>Initial school refusal behavior</em>: adalah sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (seketika/tiba-tiba) yang berakhir dengan sendirinya tanpa perlu penanganan.</p>
<p style="text-align:justify;">2.  <em>Substantial school refusal behavior</em>: adalah sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu.</p>
<p style="text-align:justify;">3.  <em>Acute school refusal behavior</em>: adalah sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah</p>
<p style="text-align:justify;">4.  <em>Chronic school refusal behavior</em>: adalah sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun, bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tanda-tanda Fobia Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa tanda yang dapat dijadikan sebagai kriteria fobia sekolah atau pun school refusal, yaitu:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Menolak untuk berangkat ke sekolah.</li>
<li>Mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang</li>
<li>Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan mama/papa atau pengasuhnya, atau menunjukkan “tantrum”-nya seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak lainnya (memukul, menggigit, dsb) atau pun menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang gurunya.</li>
<li>Menunjukkan ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang – dan ini berlangsung selama periode tertentu.</li>
<li>Tidak masuk sekolah selama beberapa hari.</li>
<li>Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau keluhan lainnya. Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah.</li>
<li>Mengemukakan keluhan lain (di luar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Waktu Berlangsungnya Fobia Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berapa lama waktu berlangsungnya fobia sekolah amat tergantung pada penanganan yang dilakukan oleh orangtua. Makin lama anak dibiarkan tidak masuk sekolah (tidak mendapat penanganan apapun), makin lama problem itu akan selesai dan makin sering / intens keluhan yang dilontarkan anak. Namun, makin cepat ditangani, problem biasanya akan berangsur-angsur pulih dalam waktu sekitar 1 atau 2 minggu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>FAKTOR PENYEBAB</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa penyebab yang membuat anak seringkali menjadi mogok sekolah. orangtua perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi sikap pemogokan itu, agar dapat memberikan penanganan yang benar-benar tepat. Alangkah baiknya, jika orangtua mau bersikap terbuka dalam mempelajari dan mencari semua kemungkinan yang bisa terjadi. Konsultasi dengan guru di sekolah, sharing dengan sesama orangtua murid, diskusi dengan anak, konsultasi dengan konselor/psikolog, (kalau perlu) memeriksakan anak ke paramedis/dokter sesuai keluhan yang dikemukakannya, hingga introspeksi diri – adalah metode yang tepat untuk mendapatkan gambaran penyebab dari fobia sekolah anak. Berhati-hatilah untuk membuat diagnosa secara subyektif, didasarkan pada pendapat pribadi diri sendiri atau keluhan anak semata. Di bawah ini ada beberapa penyebab fobia sekolah dan school refusal :</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>1.  Separation Anxiety</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Separation anxiety pada umumnya  dialami anak-anak kecil usia balita (18 – 24 bulan). Kecemasan itu sebenarnya adalah fenomena yang normal. Anak yang lebih besar pun (preschooler, TK hingga awal SD) tidak luput dari separation anxiety. Bagi mereka, sekolah berarti pergi dari rumah untuk jangka waktu yang cukup lama. Mereka tidak hanya akan merasa rindu terhadap orangtua, rumah, atau pun mainannya – tapi mereka pun cemas menghadapi tantangan, pengalaman baru dan tekanan-tekanan yang dijumpai di luar rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Separation anxiety bisa saja dialami anak-anak yang berasal dari keluarga harmonis, hangat dan akrab yang amat dekat hubungannya dengan orangtua – singkat kata, tidak ada masalah dengan orangtua. Orangtua mereka adalah orangtua yang baik dan peduli pada anak, dan mempunyai kelekatan yang baik. Namun tetap saja anak cemas pada saat sekolah tiba. Tanpa orangtua pahami, anak-anak sering mencemaskan orangtuanya. Mereka takut kalau-kalau orangtua mereka diculik, atau diserang monster atau mengalami kecelakaan sementara mereka tidak berada di dekat orangtua. Ketakutan itu tidak dibuat-buat, namun merupakan fenomena yang biasa hinggap pada anak-anak usia batita dan balita. Oleh sebab itu, mereka tidak ingin berpisah dari orangtua dan malah lengket-nempel terus pada mama-papanya. Peningkatan kecemasan menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh mereka, dan ini lah yang sering dikeluhkan (perut sakit, mual, pusing, dsb).  Sejalan dengan perkembangan kognisi anak, ketakutan dan kecemasan yang bersifat irrasional itu akan memudar dengan sendirinya karena anak mulai bisa berpikir logis dan realistis.</p>
<p style="text-align:justify;">Separation anxiety bisa muncul kala anak selesai menjalani masa liburan panjang atau pun mengalami sakit serius hingga tidak bisa masuk sekolah dalam jangka waktu yang panjang. Selama di rumah atau liburan, kuantitas kedekatan dan interaksi antara orangtua dengan anak tentu saja lebih tinggi dari pada ketika masa sekolah. Situasi demikian, sudah tentu membuat anak nyaman dan aman. Pada waktu sekolah tiba, anak harus menghadapi ketidakpastian yang menimbulkan rasa cemas dan takut. Namun, dengan berjalannya waktu, anak yang memiliki rasa percaya diri, dapat perlahan-lahan beradaptasi dengan situasi sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Peneliti berpendapat, anak yang mempunyai rasa percaya diri yang rendah, berpotensi menjadi anak yang anxiety prone-children (anak yang memiliki kecenderungan mudah cemas) dan cenderung mudah mengalami depresi. Banyak orangtua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan), rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran yang berlebihan. Contohnya, sikap orangtua yang overprotective terhadap anak hingga tidak menumbuhkan rasa percaya diri keberanian dan kemandirian. Anak tidak pernah diperbolehkan, dibiarkan atau didorong untuk berani mandiri. Orangtua takut kalau-kalau anaknya kelelahan, terluka, jatuh, tersesat, sakit, dan berbagai alasan lainnya. Anak selalu berada dalam proteksi, pelayanan dan pengawalan melekat dari orangtua. Akibatnya, anak akan tumbuh menjadi anak manja, selalu tergantung pada pelayanan dan bantuan orangtua, penakut, cengeng, dan tidak mampu memecahkan persoalannya sendiri. Banyak orangtua yang tanpa sadar membuat pola ketergantungan ini berlangsung terus-menerus agar mereka merasa selalu dibutuhkan (berarti, berguna) dan sekaligus menjadikan anak sebagai teman “abadi”. Padahal, dibalik ketergantungan sang anak terhadap orangtua, tersimpan kebutuhan dan ketergantungan orangtua pada “pengakuan” sang anak. Akibatnya, keduanya tidak dapat memisahkan diri saat anak harus mandiri dan sulit bertumbuh menjadi individu yang dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>2.  Pengalaman Negatif di Sekolah atau Lingkungan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin saja anak menolak ke sekolah karena dirinya kesal, takut dan malu setelah mendapat cemoohan, ejekan atau pun di”ganggu” teman-temannya di sekolah. Atau anak merasa malu karena tidak cantik, tidak kaya, gendut, kurus, hitam, atau takut gagal dan mendapat nilai buruk di sekolah. Di samping itu, persepsi terhadap keberadaan guru yang galak, pilih kasih, atau “seram” membuat anak jadi takut dan cemas menghadapi guru dan mata pelajarannya.  Atau, ada hal lain yang membuatnya cemas, seperti mobil jemputan yang tidak nyaman karena ngebut, perjalanan yang panjang dan melelahkan, takut pergi sendiri ke sekolah, takut sekolah setelah mendengar cerita seram di sekolah, takut menyeberang jalan, takut bertemu seseorang yang “menyeramkan” di perjalanan, takut diperas oleh kawanan anak nakal, atau takut melewati jalan yang sepi. Para ahli mengatakan, bahwa masalah-masalah tersebut sudah dapat menimbulkan stress dan kecemasan yang membuat anak menjadi moody, tegang, resah, dan mulai merengek tidak mau sekolah, ketika mulai mendekati waktu keberangkatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya, tidak semua anak bisa menceritakan ketakutannya itu karena mereka sendiri terkadang masih sulit memahami, mengekspresikan dan memformulasikan perasaannya. Belum lagi jika mereka takut dimarahi orangtua karena dianggap alasannya itu mengada-ada dan tidak masuk akal. Dengan sibuknya orangtua, sementara anak-anak lebih banyak diurus oleh baby sitter atau mbak, makin membuat anak sulit menyalurkan perasaannya; dan akhirnya yang tampak adalah mogok sekolah, agresif, pemurung, kehilangan nafsu makan, keluhan-keluhan fisik, dan tanda-tanda lain seperti yang telah disebutkan di atas</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>3.   Problem Dalam Keluarga</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Penolakan terhadap sekolah bisa disebabkan oleh problem yang sedang dialami oleh orangtua atau pun keluarga secara keseluruhan. Misalnya, anak sering mendengar atau bahkan melihat pertengkaran yang terjadi antara papa-mamanya, tentu menimbulkan tekanan emosional yang mengganggu konsentrasi belajar. Anak merasa ikut bertanggung jawab atas kesedihan yang dialami orangtuanya, dan ingin melindungi, entah mamanya – atau papanya. Sakitnya salah seorang anggota keluarga, entah orangtua atau kakak/adik, juga dapat membuat anak enggan pergi ke sekolah. Anak takut jika terjadi sesuatu dengan keluarganya yang sakit ketika ia tidak ada di rumah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENANGANAN<br />
</strong><br />
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua dalam menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>1.  Tetap menekankan pentingnya bersekolah</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli pendidikan dan psikolog berpendapat bahwa terapi terbaik untuk anak yang mengalami fobia sekolah adalah dengan mengharuskannya tetap bersekolah setiap hari (the best therapy for school phobia is to be in school every day). Karena rasa takut harus diatasi dengan cara menghadapinya secara langsung. Menurut para ahli tersebut, keharusan untuk mau tidak mau setiap hari masuk sekolah, malah menjadi obat yang paling cepat mengatasi masalah fobia sekolah, karena lambat laun keluhannya akan makin berkurang hari demi hari. Makin lama dia “diijinkan” tidak masuk sekolah, akan makin sulit mengembalikannya lagi ke sekolah, dan bahkan keluhannya akan makin intens dan meningkat. Selain itu, dengan mengijinkannya absen dari sekolah, anak akan makin ketinggalan pelajaran, serta makin sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemungkinan besar anak akan coba-coba bernegosiasi dengan orangtua, untuk menguji ketegasan dan konsistensi orangtua. Jika ternyata pada suatu hari orangtua akhirnya “luluh”, maka keesokkan harinya anak akan mengulang pola yang sama. Tetaplah bersikap hangat, penuh pengertian, namun tegas dan bijaksana sambil menenangkan anak bahwa semua akan lebih baik setibanya dia di sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>2.  Berusahalah untuk tegas dan konsisten dalam bereaksi terhadap keluhan, rengekan, tantrum atau pun rajukan anak yang tidak mau sekolah.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Entah karena pusing mendengar suara anak atau karena amat mengkhawatirkan kesehatan anak, orangtua seringkali meluluskan permintaan anak. Tindakan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Jika ketika bangun pagi anak segar bugar dan bisa berlari-lari keliling rumah atau pun sarapan pagi dengan baik, namun pada saat mau berangkat sekolah, tiba-tiba mogok – maka sebaiknya orangtua tidak melayani sikap “negosiasi” anak dan langsung mengantarnya ke sekolah. Satu hal penting untuk diingat adalah hindari sikap menjanjikan hadiah jika anak mau berangkat ke sekolah, karena hal ini akan menjadi pola kebiasaan yang tidak baik (hanya mau sekolah jika diberi hadiah). Anak tidak akan mempunyai kesadaran sendiri kenapa dirinya harus sekolah dan terbiasa memanipulasi orangtua/lingkungannya. Anak jadi tahu bagaimana taktik atau strategi yang jitu dalam mengupayakan agar keinginannya terlaksana.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika sampai terlambat, anak tetap harus berangkat ke sekolah – kalau perlu ditemani/ diantar orangtua. Demikian juga jika sesampai di sekolah anak minta pulang, maka orangtua harus tegas dan bekerja sama dengan pihak guru untuk menenangkan anak agar akhirnya anak merasa nyaman kembali. Jika anak menjerit, menangis, ngamuk, marah-marah atau bertingkah laku aneh-aneh lainnya, orangtua hendaknya sabar. Ajaklah anak ke tempat yang tenang dan bicaralah baik-baik hingga kecemasan dan ketakutannya berkurang/hilang; dan sesudah itu bawalah anak kembali ke kelasnya. Situasi ini dialami secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, tergantung dari kemampuan orangtua menenangkan dan mendekatkan diri pada anak. Namun jika orangtua mengalami kesulitan dalam menghadapi sikap anaknya, mintalah bantuan pada guru atau sesama orangtua murid lainnya yang dikenal cukup dekat oleh anak. Terkadang, keberadaan mereka justru membuat anak lebih bisa mengendalikan diri.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>3.  Konsultasikan masalah kesehatan anak pada dokter</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Jika orangtua tidak yakin akan kesehatan anak, bawalah segera ke dokter untuk mendapatkan kepastian tentang ada/tidaknya problem kesehatan anak. orangtua tentu lebih peka terhadap keadaan anaknya setiap hari; perubahan sekecil apapun biasanya akan mudah dideteksi orangtua. Jadi, ketika anak mengeluhkan sesuatu pada tubuhnya (pusing, mual, dsb), orangtua dapat membawanya ke dokter yang buka praktek di pagi hari agar setelah itu anak tetap dapat  kembali ke sekolah. Selain itu, dokter pun dapat membantu orangtua memberikan diagnosa, apakah keluhan anak merupakan pertanda dari adanya stress terhadap sekolah, atau kah karena penyakit lainnya yang perlu ditangani secara seksama</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>4.  Bekerjasama dengan guru kelas atau asisten lain di sekolah</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya para guru sudah biasa menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal (terutama guru-guru preschool hingga TK). Hampir setiap musim sekolah tiba, ada saja murid yang mogok sekolah atau menangis terus tidak mau ditinggal orangtuanya atau bahkan minta pulang. Orangtua bisa minta bantuan pihak guru atau pun school assistant untuk menenangkan anak dengan cara-cara seperti membawanya ke perpustakaan, mengajak anak beristirahat sejenak di tempat yang tenang, atau pada anak yang lebih besar, guru dapat mendiskusikan masalah yang sedang memberati anak. Guru yang bijaksana, tentu bersedia memberikan perhatian ekstra terhadap anak yang mogok untuk mengembalikan kestabilan emosi sambil membantu anak mengatasi persoalan yang dihadapi – yang membuatnya cemas, gelisah dan takut. Selain itu, berdiskusi dengan guru untuk meneliti faktor penyebab di sekolah (misalnya diejek teman, dipukul, dsb) adalah langkah yang bermanfaat dalam upaya memahami situasi yang biasa dihadapi anak setiap hari.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>5.  Luangkan waktu untuk berdiskusi/berbicara dengan anak</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Luangkan waktu yang intensif dan tidak tergesa-gesa untuk dapat mendiskusikan apa yang membuat anak takut, cemas atau enggan pergi ke sekolah. Hindarkan sikap mendesak atau bahkan tidak mempercayai kata-kata anak. Cara ini hanya akan membuat anak makin tertutup pada orangtua hingga masalahnya tidak bisa terbuka dan tuntas. Orangtua perlu menyatakan kesediaan untuk mendampingi dan membantu anak mengatasi kecemasannya terhadap sesuatu, termasuk jika masalah bersumber dari dalam rumah tangga sendiri. Orangtua perlu introspeksi diri dan kalau perlu merubah sikap demi memperbaiki keadaan dalam rumah tangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Orangtua pun dapat mengajarkan cara-cara atau strategi yang bisa anak gunakan dalam menghadapi situasi yang menakutkannya. Lebih baik membekali anak dengan strategi pemecahan masalah daripada mendorongnya untuk menghindari problem, karena anak akan makin tergantung pada orangtua, makin tidak percaya diri, makin penakut, dan tidak termotivasi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>6. Lepaskan anak secara bertahap</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman pertama bersekolah tentu mendatangkan kecemasan bagi anak, terlebih karena ia harus berada di lingkungan baru yang masih asing baginya dan tidak dapat ia kendalikan sebagaimana di rumah. Tidak heran banyak anak menangis sampai menjerit-jerit ketika diantar mamanya ke sekolah. Pada kasus seperti ini, orangtua perlu memberikan kesempatan pada anak menyesuaikan diri dengan lingkungan baru-nya. Pada beberapa sekolah, orangtua/pengasuh diperbolehkan berada di dalam kelas hingga 1-2 minggu atau sampai batas waktu yang telah ditentukan pihak sekolah. Lepaskan anak secara bertahap, misalnya pada hari-hari pertama, orangtua berada di dalam kelas dan lama kelamaan bergeser sedikit-demi sedikit di luar kelas namun masih dalam jangkauan penglihatan anak. Jika anak sudah bisa merasa nyaman dengan lingkungan baru dan tampak “happy” dengan teman-temannya – maka sudah waktunya bagi orangtua untuk meninggalkannya di kelas dan sudah waktunya pula bagi orangtua untuk tidak lagi bersikap overprotective, demi menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan kemandirian.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>7.  Konsultasikan pada psikolog/konselor jika masalah terjadi berlarut-larut</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Jika anak tidak dapat mengatasi fobia sekolahnya hingga jangka waktu yang panjang, hal ini menandakan adanya problem psikologis yang perlu ditangani secara proporsional oleh ahlinya. Apalagi, jika fobia sekolah ini sampai mengakibatkan anak ketinggalan pelajaran, prestasinya menurun dan hambatan penyesuaian diri yang serius – maka secepat mungkin persoalan ini segera dituntaskan. Psikolog/konselor akan membantu menemukan pokok persoalan yang mendasari ketakutan, kecemasan anak, sekaligus menemukan elemen lain yang tidak terpikirkan oleh keluarga – namun justru timbul dari dalam keluarga sendiri (misalnya takut dapat nilai jelek karena takut dimarahi oleh papanya). Untuk itulah konselor/psikolog umumnya menghendaki keterlibatan secara aktif dari pihak orangtua dalam menangani masalah yang dihadapi anaknya. Jadi, orangtua pun harus belajar mengenali siapa dirinya dan menilai bagaimana perannya sebagai orangtua melalui masalah-masalah yang timbul dalam diri anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, persoalan mogok sekolah seyogyanya bukanlah masalah yang serius (kecuali ada masalah kesehatan serius). Namun jika dibiarkan berlarut-larut dapat benar-benar menjadi masalah serius. Semoga berguna. (jp)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengelola Liburan Anak]]></title>
<link>http://sailululum.wordpress.com/?p=58</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 19:19:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Administrator</dc:creator>
<guid>http://sailululum.wordpress.com/?p=58</guid>
<description><![CDATA[Setiap musim liburan tiba, kita sering melihat respon yang berbeda antara anak dengan orang tua. Ana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Setiap musim liburan tiba, kita sering melihat respon yang berbeda antara anak dengan orang tua. Anak-anak dengan gembira dan semangatnya menyambut liburan mereka, sedangkan orang tua malah pusing dan bingung karena mereka harus memikirkan aktivitas apa saja yang dapat mengisi liburan, sehingga kegiatan anak tetap terarah dan berkualitas. Kepusingan orang tua sering dialami oleh para orang tua yang bekerja, karena mereka tidak bisa sewaktu-waktu mengambil cuti dari kantor. Tuntutan pekerjaan membuat mereka tidak mudah meninggalkan tanggung jawab setengah jalan untuk urusan “liburan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Idealnya, antara orang tua dan anak, ada perencanaan yang baik dalam menentukan waktu “liburan bersama keluarga” sehingga tidak perlu ada yang mengorbankan kepentingan atau tanggung jawab. Namun, sudah tentu waktu libur anak yang relatif panjang sekali jika dibandingkan dengan libur orang kerja, tidak akan pernah “match” dengan orang tuanya. Bagaimana mengelola kegiatan terutama pada waktu orang tua tidak bisa extending waktu libur mereka bersama anak?</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--><strong>Liburan Murah Meriah</strong></p>
<p>Bisa dimengerti, bahwa dalam kesibukan para orang tua, dari pagi hingga malam, bekerja penuh waktu, segenap energi, pikiran dan ide-ide kita sering buntu – tidak lagi bisa memikirkan hal-hal lain selain dari pekerjaan hari ini dan pekerjaan esok hari yang sudah in-advance dipikirkan malam sebelumnya. Dalam keadaan seperti itu, kita para orang tua sering lupa, bahwa kita pun dulu pernah kecil, pernah melewati masa kanak-kanak yang amat sangat jauh berbeda dengan masa kanak-kanak anak-anak kita sekarang ini. Dulu, kita tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang amat sangat jauh lebih sederhana, tanpa kekurangan “media” bermain dan fasilitas permainan. Ada saja ruang dan bahan-bahan yang bisa kita jadikan permainan tanpa harus membayar mahal-mahal dan tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi yang mahal. Halaman belakang rumah, halaman tetangga, kebun nenek kakek atau pun, parit kecil di depan rumah – sering dipakai bermain, terutama di kala hujan.</p>
<p>Tidak bisa dipungkiri, jaman sudah berubah, tuntutan kian mengejar dan usia semakin menua, membuat kita para orang tua lupa bagaimana kita dulu mengelola liburan kita, tanpa harus selalu mengikutsertakan orang tua. Artikel kali ini, bertujuan untuk sekedar mengingatkan dan memberi alternatif – bagaimana cara mengisi liburan anak, tanpa harus bepergian jauh, apalagi dengan mengeluarkan biaya yang besar. Sebab, tidak semua keluarga mampu memiliki biaya atau budget yang memungkinkan untuk “liburan”...Kita bisa membuat liburan tetap menjadi moment istimewa, meskipun dengan biaya ringan atau pun bahkan tanpa biaya. Bagaimana menyiasatinya?</p>
<p><strong>1.      Liburan ilmiah</strong></p>
<p>Liburan ilmiah yang dimaksud di sini, adalah liburan sambil menimba ilmu. Bagaimana caranya supaya tidak bosan dan “menyebalkan”? Kita bisa membawa anak-anak berjalan-jalan ke musium yang ada di dekat tempat tinggal kita, entah musium zoologi yang ada di kota Bogor, Kebun Raya Bogor, musium geologi di Bandung, BOSCHA (tempat teropong bintang) di Lembang atau pun yang ada di seputar Taman Ismail Marzuki. Di Jakarta ada musium ABRI (Satria Mandala), di Yogyakarta ada musium sekaligus monumen perjuangan Yogya Kembali. Dan, masih banyak musium yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan membawa mereka ke musium, mereka belajar banyak tentang sejarah masa lalu, entah sejarah kehidupan manusia, kehidupan tumbuhan dan hewan, serta alam semesta. Biaya masuk ke musium relatif sangat murah ketimbang “shopping” di Mall.</p>
<p>Mengisi liburan ilmiah, tidak hanya dengan pergi ke musium; pergi ke pasar pun bisa menjadi ajang liburan ilmiah. Kalau kita tidak di”ganggu” oleh kekhawatiran kita yang sering kelewat batas kalau membawa anak ke pasar (takut becek, takut kotor, takut lelah, takut sakit, dsb) yang sesungguhnya sering ditunggangi oleh ke-egoisan kita (tidak mau repot bawa anak ke pasar). Di pasar, banyak sekali komoditas yang dijual dan ditampilkan dalam “etalase” terbuka. Ada bawang merah, cabe, sayur mayur, bumbu dapur, alat memasak, dsb. Pasar adalah pusat informasi yang menyimpan “data base” amat besar. Ribuan variable yang dapat kita temukan di pasar dan masing-masing “variabel” dapat kita jelaskan pada anak. Misalnya, kita tunjukkan pada anak, yang manakah bawang merah dan manakah bawang putih, bagaimana mereka tumbuh, mengapa kita perlu bawang merah, mengapa kita perlu bawang putih, apa kegunaan dan manfaatnya, dsb. Atau, mana kah yang namanya ikan mujair dengan ikan tongkol, cumi-cumi dan kepiting (dalam wujud yang utuh, bukan lagi dalam bentuk transformasi yang sudah tersaji di meja makan). Kalau informasi itu dikumpulkan, maka tidak cukup 12 ensiklopedi untuk menjelaskan semuanya. Kita bisa menjelaskan segala sesuatu secara panjang lebar di rumah, setelah kita menunjukkan pada anak benda-bendanya. Dan, pasti lebih menyenangkan jika anak melihat secara langsung “tumpukan” komiditas di pasar. Bagi anak-anak yang perkembangan intelektualnya masih membutuhkan benda-benda kongkrit untuk menunjang pengertian mereka, “study tour” adalah moment yang penting.</p>
<p><strong>2.      Liburan kreatif &#38; innovatif</strong></p>
<p>Kita bisa mengarahkan dan membangkitkan kreativitas anak dengan menstimulasi imajinasi mereka. Pada dasarnya, anak-anak itu sangat kreatif dan heavy-loaded by energy. Kita (atau pengasuh, atau siapapun yang bisa kita percaya) bisa bawa mereka ke tempat art &#38; craft center atau pun science club untuk anak-anak, dengan biaya relatif murah. Di sana, mereka akan disajikan banyak sekali hal-hal yang belum mereka ketahui, percobaan-percobaan ilmiah atau pun teknik-teknik seni yang akan menghasilkan karya yang membuat mereka bangga akan diri sendiri. Memang, ktia tidak selamanya bisa membawa mereka ke tempat-tempat tersebut. Kita pun bisa menciptakan liburan kreatif dan innovatif di rumah. Kalau kita tidak punya ide sama sekali tentang apa dan bagaiamana, kita bisa membeli buku yang menjabarkan tentang berbagai percobaan menarik yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Mulai dari percobaan unsur (yang sederhana saja, misalnya minyak dengan air), percobaan warna (memadukan warna) sampai dengan mencoba membuat sesuatu / constructing things – dari benda-benda yang ada di rumah, misalnya: kardus, karton tebal, tripleks bekas, koran bekas, akuarium bekas, stoples beling kosong, dsb yang bisa digunakan menjadi media atau pun alat eksperimentasi atau konstruksi. Nah, di sinilah peran ayah sangat penting untuk menemani dan men-supervisi anak laki-laki. Dan, peran ibu untuk mau “menyulap” benda-benda yang ada di rumah, menjadi bahan baku yang potensial untuk menciptakan sesuatu.</p>
<p>Di masa liburan ini pula, anak-anak bisa kita perkenalkan dengan kegiatan “baru”, misalnya : belajar memasak (membuat kue, dsb), belajar menjahit, menyulam, menari (kalau yang ini, mungkin harus kursus / jadi anggota sanggar), menukang, atau bertanam (tidak mesti harus punya halaman luas, karena bisa dengan menggunakan polybag (kantong khusus untuk menanam bibit) atau pot kecil. Jangan cemaskan hal-hal yang insignifikan, misalnya “bagaimana kalau anakku capek, bagaimana kalau rumah kotor, bagaimana kalau kaki kena tanah, bagaimana kalau bajunya basah, bagaimana kalau halaman jadi becek” dsb... Kalau kita mau jujur, bukankah semua kekhawatiran itu disebabkan karena kita tidak mau repot-repot atau capek-capek membereskan “perabotan” atau pun membersihkan kotoran?</p>
<p>Nah, sebenarnya kita bisa sekalian mengajarkan pada anak kita, bagaimana mengerjakan segala sesuatu dengan rapi. Kita pun bisa sekalian mengajarkan pada anak kita “tanggung jawab”, artinya, kalau sudah selesai mengerjakan, kita pun harus membereskannya kembali. Hati-hati, kekuatiran kita para orang tua, bisa menghalangi anak “mengenyam, mempelajari dan menginternalisasi” nilai-nilai luhur budi pekerti, seperti : tanggung jawab, kreativitas, konsekuensi (sebab akibat), kebanggaan yang positif pada diri sendiri (atas dasar kemampuan diri yang riil – bukan numpang kekuatan dan kejayaan orang tua), ketekunan, persistensi, konsentrasi, koordinasi (baik koordinasi tangan, pikiran dan perasaan – dengan koordinasi dengan pihak lain) serta satu hal yang nilainya tidak kalah tinggi, yakni: membentuk tangga identitas diri. Setiap aktivitas, merupakan sebuah ekspresi diri sekaligus konfirmasi akan kemampuan dirinya. Kalau anak merasa “mampu” dan berhasil mengatasi tantangan yang satu, maka dalam dirinya tertanam rasa percaya diri untuk melakukan eksplorasi demi eksplorasi ke bidang-bidang lainnya.</p>
<p><strong>3.      Liburan empatik &#38; sosial</strong></p>
<p>Ada lagi jenis kegiatan yang relatif murah untuk mengisi liburan anak dengan nilai yang tinggi. Kita bisa membawa anak-anak, pergi ke panti asuhan untuk melihat teman-teman mereka yang hidup di panti asuhan. Dengan begitu, anak-anak akan melihat bahwa di dalam hidup ini, ada banyak hal yang belum mereka ketahui, bahwa ada banyak anak-anak yang menjalani hidup sangat berbeda dari anak-anak kita – dan ternyata, banyak juga yang meskipun hidup susah, tapi tetap bahagia, tahu bersyukur, tidak cerewet, tidak mengeluh dan bahkan punya semangat belajar dan semangat juang yang tinggi.</p>
<p>Selain ke panti asuhan, kita juga bisa ajak anak-anak ke panti jompo. Di sana, kita bisa membuka pengertian anak dan menanamkan nilai moral, bahwa setiap orang akan menjadi tua, dan meskipun tua, mereka tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang, terutama setelah apa yang mereka berikan pada anak-anak selama ini. Kesempatan ini, dapat bermanfaat untuk menanamkan kebijaksanaan pada anak, akan pentingnya “orangtua” untuk anak-anaknya. Sebenarnya, dengan mengajak anak kita ke dua tempat: panti asuhan dan panti jompo, kita sekaligus menyampaikan sebuah fakta : bahwa setiap orang di dalam hidup ini saling membutuhkan dan saling memberikan. Tiadanya perhatian dan cinta, dapat membuat hidup menjadi sulit dan tidak bahagia; tapi, perhatian hanya dalam bentuk hadiah, barang, dan bentuk-bentuk materi lainnya – ternyata tidak dapat membuat orang benar-benar bahagia.<br />
<strong><br />
4.      Liburan petualangan</strong></p>
<p>Liburan petualangan, biasanya diasosiasikan dengan biaya yang mahal dan perjalanan yang jauh. Sebenarnya tidak harus demikian, karena di setiap tempat, disetiap kota, pasti punya sisi terpencil yang amat menarik untuk dijadikan ajang petualangan. Coba jika Anda ingat ketika masih kecil dahulu, bukankah mengejar layangan putus sambil menelusuri sungai kecil – sudah menjadi pengalaman yang luar biasa? Mungkin, saat ini sungai kecil itu sudah tidak ada lagi – tidaklah masalah. Kita bisa mengajak anak-anak, pergi berjalan-jal