<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>oma-irama &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/oma-irama/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "oma-irama"</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 04:38:26 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Republik Dangdut]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=211</link>
<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 08:39:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.wordpress.com/?p=211</guid>
<description><![CDATA[ 
SEJAK Sabtu sampai Selasa 22-26 Maret 2008 ratusan orang, laki perempuan, dan hampir seluruhnya ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><a title="audisi_20080322aya01-071.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/audisi_20080322aya01-071.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/audisi_20080322aya01-071.jpg" alt="audisi_20080322aya01-071.jpg" width="446" height="273" /></a><a title="kdi-juri-20080325aya03-171.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi-juri-20080325aya03-171.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi-juri-20080325aya03-171.jpg" alt="kdi-juri-20080325aya03-171.jpg" width="210" height="162" /></a> <a title="kdi1.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi1.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi1.jpg" alt="kdi1.jpg" width="225" height="162" /></a></h3>
<h3><span style="color:#339966;"><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">SEJAK</span></strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;"> Sabtu sampai Selasa 22-26 Maret 2008 ratusan orang, laki perempuan, dan hampir seluruhnya kawula muda, antre mengikuti audisi Kontes Dangdut Indonesia (KDI). </span><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Heboh abis!! Suasana Hotel Victoria di tepi Sungai Martapura Banjarmasin, ibarat sedang terkena demam hebat. Demam dangdut.</span></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Konon di kota-kota lain juga terjadi hal serupa manakala berlangsung audisi KDI, sebagaimana pula gegap gempitanya audisi Indonesian Idol yang -- entah kenapa-- seolah-olah membuat Indonesia jadi bagian dari Amerika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dangdut memang sudah jadi arus musik "asli Indonesia" yang menjangkau hampir semua lapisan dan strata warga di tanah air. Itu sebabnya, meski dari segi mobilisasi massa sedikit berada di bawah Indonesian Idol, namun KDI --yang sudah memasuki tahun ke lima-- terasa lebih "mempribumi". </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dangdut nmusik pribumi? Ya, dangdut ‑‑bermula dari istilah sinis dan mengejek untuk irama musik Melayu yang menggelitik‑‑ kini bisa dibilang merajai musik di berbagai lapisan masyarakat di tanah air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dulu, "Dangdut itu musik tahi kucing!" pekik seorang rocker saat itu (pertengahan 1970‑an). Kalau tak salah, yang menghujat musik Oma itu adalah pentolan Giant Step, grup rock ternama dari Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Boleh jadi, Giant Step pun rocker sejati made‑in republik. Sebab grup inilah yang pertama kali berani manggung dengan lagu‑lagu rock gubahan sendiri ketika publik musik rock didemami Deep Purple, Led Zeppelin dan Rolling Stone.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Polemik yang disulut 'tahi kucing!' itu akhirnya berpuncak pada dialog yang memperhadapkan Benny Soebardja, pentolan Giant Step dengan Oma Irama, komandan Soneta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dan, polemik itu berpuncak di Senayan dalam sebuah duel sungguhan antara dua kelompok musik. Saat itu tahun 1979. Inilah sesengguhnya duel maut pertama dalam pentas musik kita, dan hingga kini mungkin belum tertandingi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Itu terjadi di Istana Olahraga (Istora) ‑‑kini Gelora Bung Karno‑‑ hampir 30 tahun silam. Berdiri di satu sisi adalah God Bless, dengan Achmad Albar sebagai komandan. Di kubu berlawanan, tegaklah Oma Irama memimpin pasukan Orkes Melayu‑nya, Soneta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Ini duel paling spektakuler di ujung dekade itu, sekaligus sebagai puncak perseteruan panas dan tajam lewat polemik yang meluas di antara para seniman. Di situ pula revolusi musik dangdut di tanah air mencapai titik ledak, dan virusnya menjalar serta mendemami hampir setiap orang hingga saat ini, (</span><a href="http://curahbebas.wordpress.com/">http://curahbebas.wordpress.com</a>).</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kini, rasa‑rasanya tak satu pun orang Indonesia tak kenal dangdut. "Sejak rapat‑rapat raksasa di masa Demokrasi Terpimpin, acara panggung yang paling banyak dibanjiri massa adalah panggung dangdut Oma Irama," tulis William H Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS, yang pada 1980‑an meneliti Oma dan fenomenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Kemampuannya" mengundang massa itu pula yang kemudian membuat Oma jadi rebutan partai politik, sampai kemudian ia jadi anggota parlemen. Ia juga loncat dari PPP ke Golkar dan balik lagi ke PPP, ketika angin perubahan mulai terasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kini, rasa-rasanya tak pernah ada acara hiburan yang tanpa dangdut. Mulai dari perhelatan khitanan di lorong kampung, hingga acara kaum elit di hotel berbintang. Mulai dari kedai karaoke di tepi-tepi jalan sekitar kawasan pertambangan di pedalaman, hingga resepsi pergantian petinggi negeri di republik ini. </span><span style="letter-spacing:-0.15pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;"><a title="kdi.jpg" href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi.jpg"><img src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/03/kdi.jpg" alt="kdi.jpg" width="438" height="285" /></a></p>
<h2><span style="color:#33cccc;"><em><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Kayapa Habar Sabarataan?"</span></em></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">BAGI</span></strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;"> dangdut mania pasti tak asing lagi dengan artis dangdut pendatang baru, Lita Lia di gelaran KDI 4 lalu. Dengan dangdut keroncong dan seriosanya, dia berhasil memukau pedangdut senior yang jadi juri KDI. Bahkan bintang muda KDI duta Banjarmasin masuk di jajaran 6 besar KDI 4. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Sekian lama tak muncul ke Kota Seribu Sungai, tiba-tiba saja Lita memberikan <em>surprise</em> dengan mengunjungi redaksi <em>Banjarmasin Post</em> bersama dua staf Media Relation TPI, Suska dan Pipit. Tak ayal, ketiganya disambut antusias meriah awak redaksi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dengan senyum khasnya dibalut baju terusan abu-abu, Lita menyapa pimpinan redaksi <em>BPost</em>, <strong>Yusran Pare</strong>, Umi Sriwahyuni, Harry Prihanto dan lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Senang banget bisa ke Banjarmasin setelah setahun lebih di Jakarta dan Samarinda. <em>Kayapa habar pian sabarataan</em>, baik-baik <em>aja kalo</em>," sapanya kepada awak redaksi <em>BPost</em> dalam Bahasa Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Demikian halnya staf Media Relation TPI, Suska Dianingka. Menurutnya sagat terkesan dengan kerjasama bersama <em>BPost</em> sejak mulai digelar KDI di Banjarmasin, beberapa tahun lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Semoga kerjasama kita bisa berlanjut di masa mendatang," papar Suska sambil menikmati wadai Banjar yang katanya baru pertama kali ditemui di <em>BPost</em>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Di sela-sela acara, Lita dan Suska menerima cinderamata berupa boneka Bekantan dan Kamus Bahasa Banjar. Tak ketinggalan koran kecil berbingkai yang jadi cinderamata khusus <em>BPost</em>. "<em>Kok</em> korannya cepat sekali jadi <em>ya</em>? Bagus banget," kata Lita dengan seang bercampur kaget.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Lita yang juga penyanyi kelahiran Samarinda, April 1988 tak hanya piawai membawakan tembang dangdut dengan gaya keroncong dan seriosanya lho. Pengagum Rita Sugiarto ini juga piawai menyanyikan lagu-lagu Banjar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;" align="left"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Seperti ditunjukkanya saat bertandang di koran terbesar di Kalimantan ini, Lita menyanyikan lagu Rita Sugiarto dan lagu Banjar dengan hebohnya. Bahkan, kalam melantunkan Lagu Banjar, Lita duet dengan awak redaksi, Martini. </span><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">(ncu)</span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Begadang Rhoma Beneran?]]></title>
<link>http://piringanhitam.wordpress.com/2007/11/16/begadang-rhoma-beneran/</link>
<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 14:27:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>pabrikbunyi</dc:creator>
<guid>http://piringanhitam.wordpress.com/2007/11/16/begadang-rhoma-beneran/</guid>
<description><![CDATA[
Seorang kolektor kaset jadul dangdut pernah bilang kepada saya di Taman Puring Jakarta pada Novembe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp3.blogger.com/_OxzPxRk3iB8/R1KYCsmJwgI/AAAAAAAAACE/Myjw8rOAoAc/s1600-R/oma-begadang.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp3.blogger.com/_OxzPxRk3iB8/R1KYCsmJwgI/AAAAAAAAACE/2k1r-ct4ifw/s320/oma-begadang.jpg" border="0" alt="" /></a><br />
Seorang kolektor kaset jadul dangdut pernah bilang kepada saya di Taman Puring Jakarta pada November 2007 bahwa karya Rhoma Irama yang lama direkam oleh Yukawi Records. Tapi di pasar saya membeli album Begadang dari O.M. Soneta (Oma Irama - Elvy Sukaesih) produksi Iraco. Apa mungkin penyanyi pada masa itu bisa merekam karya mereka di lebih dari satu perusahaan rekaman? *</p>
<p>Koleksi:<br />
1. Kaset: Oma Irama, album Begadang, produksi Iraco (tanpa tahun). Isi album: Begadang; Sengaja; Sampai Pagi; Tung Keripit; Cinta Pertama; Kampungan; Yale le; Tak Tega; Sedingin Salju; Sya la la. Pada Side B: lagu-lagu O.M. Sagita karya Megi Z dan Anna B.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
