<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>non-muslim &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/non-muslim/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "non-muslim"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 13:34:02 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Status of Dhimmi in Islam]]></title>
<link>http://islamfactor.wordpress.com/?p=69</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 09:15:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamfac</dc:creator>
<guid>http://islamfactor.wordpress.com/?p=69</guid>
<description><![CDATA[414. When the Prophet Mohammed settled down in Medina, he found there complete anarchy, the region h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>414. When the Prophet Mohammed settled down in Medina, he found there complete anarchy, the region having never known before either a State or a king to unite the tribes torn by internecine feuds.<!--coloro:#8b0000--><span style="color:#8b0000;"><!--/coloro--><strong> I</strong><strong>n just a few weeks, he succeeded in rallying all the inhabitants of the region into order. He constituted a city state, in which Muslims, Jews, pagan Arabs and also probably a small number of Christians, all entered into a statal organism by means of a social contract.</strong><!--colorc--></span><!--/colorc--></p>
<p>415. <!--coloro:#ff0000--><span style="color:#ff0000;"><!--/coloro--><strong>The constitutional law of this first 'Muslim' State - which was the confederacy as a sequence of the multiplicity of the population groups - has come down to us <em>in toto</em>, and we read therein not only in clause 25: "to Muslims their religion, and to Jews their religion," or, "that there would be benevolence and justice," but even the unexpected passage in the same clause 25: "the Jews . . . are a community (in alliance) <em>with</em> - according Ibn Hisham and in the version of Abu-'Ubaid, a community (forming part) <em>of </em>- the believers (i.e., Muslims)."</strong><!--colorc--></span><!--/colorc--></p>
<p>416. The very fact that, at the time of the constitution of this city-state, <!--coloro:#8b0000--><span style="color:#8b0000;"><!--/coloro--><strong>the autonomous Jewish villages acceded of their free will to the confederal State, and recognized Muhammad as their supreme political head, implies in our opinion that the non-Muslim subjects possessed the right of votes in the election of the head of the Muslim State</strong><!--colorc--></span><!--/colorc-->, at least in so far as the political life of the country was concerned.</p>
<p>Read more and post discussion or debate: <a href="http://islamfactor.org/index.php?showtopic=1152&#38;st=0#entry14100">Status of Dhimmi in Islam</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membongkar Jaringan AKKBB (Bagian 2)]]></title>
<link>http://subkioke.wordpress.com/?p=138</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 11:14:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>subkioke</dc:creator>
<guid>http://subkioke.wordpress.com/?p=138</guid>
<description><![CDATA[Bulan Mei lalu, ada dua isu panas di tengah masyarakat kita. Pertama soal rencana pemerintah menaikk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://eramuslim.com/fckfiles/image/gus-dur-wiesental-taylor.jpg" alt="" width="400" height="303" align="right" />Bulan Mei lalu, ada dua isu panas di tengah masyarakat kita. Pertama soal rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Yang kedua, soal kelompok sesat Ahmadiyah yang hendak dibubarkan namun mendapat dukungan dari koalisi liberal dan kelompok non-Muslim.</p>
<p class="MsoNormal">Di saat itulah, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan <em>Shimon Wiesenthal Center</em> (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Durahman juga menyatakan ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya.</p>
<p class="MsoNormal">Medali ini dianugerahkan kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal"><img src="http://eramuslim.com/fckfiles/image/gus-dur-wiesnthal.jpg" alt="" width="298" height="197" align="right" />Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (<em>The Bad Boys Movie</em>), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.</p>
<p class="MsoNormal">Lazimnya acara penganugerahan penghargaan, maka dalam acara ini pun selain medali, ada juga sejumlah dollar yang dihadiahkan Shimon Wiesenthal Center kepada sang penerima. Hanya saja, berapa besar jumlah hadiah berupa uang ini tidak disebutkan dalam situs resmi Wiesenthal Center tersebut (<em><a href="http://www.wiesenthal.com/">www.wiesenthal.com</a></em>).</p>
<p class="MsoNormal">Dalam acara dinner yang dihadiri tokoh-tokoh Zionis Amerika dan Israel, di antaranya C. Holland Taylor (CEO LibForAll), Rabbi Marvin Hier (Pendiri SWC, dinobatkan oleh <em>Newsweek Magazines</em> sebagai Rabbi paling berpengaruh nomor satu di AS tahun 2007-2008), Rabbi Abraham Cooper (menempati urutan ke-25 Rabbi paling berpengaruh di AS tahun 2008), CEO Sony Corporation, dan lainnya, antara penerima penghargaan dengan tuan rumah—para Zionis Amerika dan Israel tersebut—berlangsung obrolan santai namun serius.</p>
<p class="MsoNormal">Selain isu Ahmadiyah, topik kontroversi kenaikan harga BBM yang tengah hangat di dalam negeri (Indonesia) diduga kuat menjadi salah satu bahan pembicaraan mereka mengingat kebijakan pemerintahan SBY tersebut sesungguhnya mengikuti <em>Grandesign</em> Washington agar harga minyak di Indonesia bisa sama dengan harga minyak di New York, sesuai <em>Letter of Intent </em>(LOI) dengan IMF pada tahun 1999. DI tahun 2000, USAID pun telah mengucurkan dollar dalam jumlah besar kepada pemerintah RI untuk memuluskan liberalisasi sektor Migas (<em>silakan baca wawancara eramuslim dengan Revrisond Baswir dalam rubrik bincang-bincang</em>).</p>
<p class="MsoNormal">Target IMF untuk menyamakan harga BBM di New York dengan di Indonesia sebenarnya sudah harus tercapai pada tahun 2005, namun tersendat-sendat karena penolakan dari rakyat Indonesia sangat kuat. Sebab itu, di tahun 2008 ini Amerika agaknya tidak mau hal tersebut tersendat lagi. “Penyesuaian” harga BBM harus terus jalan. Zionis-Amerika sangat berkepentingan dengan hal ini, sebab itu mereka mendesak pemerintahan SBY yang memang sangat takut dan tunduk tanpa<em> reserve</em> pada AS agar segera menaikkan harga BBM. Bagaimana takutnya SBY terhadap AS bisa kita lihat sendiri saat Presiden Bush datang ke Bogor, 20 November 2006, di mana persiapan yang dilakukan pemerintah ini sangat keterlaluan berlebihan dan cenderung paranoid.</p>
<p class="MsoNormal">Pada tanggal 24 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga BBM. Abdurrahman Wahid sudah tiba di tanah air. Untuk menekan penolakan, pemerintah SBY (lagi-lagi) memberi ‘permen’ kepada sebagian rakyat miskin bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun <em>Social bumper</em> ini malah menjadi bulan-bulanan kecaman ke pemerintah. Gelombang unjuk rasa dilakukan mahasiswa dan elemen-elemen rakyat. Tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais dan Wiranto pun sudah terbuka menyatakan ‘perang’ terhadap sikap pemerintah menaikkan harga BBM. Banyak kalangan berfikir, demo-demo ini akan meningkat eskalasinya hingga jadi besar, bahkan bukan mustahil rusuh Mei 1998 terulang kembali. Teriakkan “Turunkan SBY-JK!” sudah terdengar di mana-mana. Pihak kepolisian menerapkan status Siaga Satu saat itu.</p>
<p class="MsoNormal">Sejak itu tiada hari tanpa demo. Istana merupakan tempat paling favorit para pendemo. Hari ahad, 1 Juni 2008, sejumlah elemen masyarakat termasuk massa dan anggota PDIP dan elemen umat Islam seperti FUI, HTI, dan FPI, sudah mengantungi izin untuk melakukan aksi unjuk rasa di Monas, Jakarta. Sedangkan AKKBB menurut laporan ke pihak kepolisian hanya melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI, sekitar tiga kilometer dari kawasan Silang Monas.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Jalur Demo dan Polisi Yang Aneh</strong></p>
<p class="MsoNormal">Dari Bundaran HI, tiba-tiba massa AKKBB bergerak <em>long-march</em> ke kawasan silang Monas yang sudah dipenuhi massa umat Islam yang tengah berdemo. Padahal pemberitahuannya hanya ke Bundaran HI. Aparat kepolisian berusaha mencegah massa AKKBB yang sebagiannya merupakan pendemo bayaran yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa menuju silang Monas di mana massa elemen umat Islam tengah melakukan demo, agar tidak terjadi bentrok.</p>
<p class="MsoNormal">Namun massa AKKBB membandel dan polisi (anehnya) tidak mampu menghalangi massa AKKBB mendekati massa umat Islam. Setelah berdekatan, orator dari massa AKKBB memprovokasi massa umat Islam yang banyak terdiri dari para laskar meneriakkan, “Laskar setan!” dan sebagainya. Terang, mendapat provokasi seperti ini anak-anak muda dari massa Islam marah. Apalagi di antara massa AKKBB yang berada di dekat massa Islam ada yang membawa-bawa spanduk besar berisi penolakan SKB Ahmadiyah. Ini jelas provokasi. Anak-anak Laskar Islam pun menyerbu massa AKKBB. Dan terjadilah rusuh Monas.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam tulisan ketiga, akan dipaparkan keanehan lainnya <em>ba’da</em> peristiwa Monas yaitu sikap SBY yang tiba-tiba cepat tanggap (biasanya peragu dan lamban), respon Kedubes AS dan pejabat Kedubes AS yang menjenguk korban, <em>plintiran</em> media massa baik itu cetak maupun teve, dan sebagainya.</p>
<p>Apa pun itu, semua ini telah berhasil membelokkan isu utama negeri ini dari yang tadinya menyoroti kenaikan BBM dan penolakan Ahmadiyah, menjadi isu sentral pembubaran FPI. Baik SBY maupun para liberalis dan non-Muslim yang tergabung dalam AKKBB (termasuk kelompok sesat Ahamdiyah) diuntungkan.</p>
<p>Sumber: <a href="http://eramuslim.com/berita/tha/8606092526-membongkar-jaringan-akkbb-bag.-2.htm?rel" target="_blank">www.eramuslim.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Non-Muslim Minorities in Bangladesh: Victim of Bloody Religious Persecution]]></title>
<link>http://islamoscope.wordpress.com/?p=103</link>
<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 08:15:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamoscope</dc:creator>
<guid>http://islamoscope.wordpress.com/?p=103</guid>
<description><![CDATA[by Dr Radhasyam Brahmachari
30 May, 2008
At last the Department of State of the Government of USA ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="byline">by Dr Radhasyam Brahmachari</p>
<p class="dateline">30 May, 2008</p>
<div class="ArticleText">At last the Department of State of the Government of USA has              admitted through a circular issued on September 14, 2007, that the              religious minorities, e.g. the Christians, Buddhists and the Hindus,              are being persecuted brutally in Bangladesh by the Muslims.              According to a press report appeared in the 17th September edition              of the Kolkata based Bengali daily Bartaman, the circular says that              the entire non-Muslim population, belonging to religious communities              of Hinduism, Buddhism etc are victims of violent religious              discrimination and torture by the Muslims, the majority religious              group. The circular also says that, though Dhaka speaks of religious              tolerance and freedom of religion, the attack on religious              minorities has recently assumed a extremely savage and fierce. These              unfortunate people are targeted for all kinds brutal and barbaric              atrocities.
<dl>
<dt>The report says that, as a result of this inhuman religious                discrimination, minorities are losing their lives and properties.                After the formation of independent Bangladesh in 1971, the                Government grabbed Hindu land with the help of the so called                “Vested Property Act”. Though the said black Act was repealed                later on, the minorities did not get back their land snatched away                by the Government. By a verdict in 2001, the Bangladeshi Supreme                Court had directed the government to return the land, grabbed with                the help of the said black Act, to the real owner. In spite of                that, few Hindus could get back their land. According to a                Professor of the University of Dhaka, nearly 2 million Hindu                families have, so far, lost about 40,000 acres of agricultural                fertile land. Many are convinced that this is only a tiny tip of                an iceberg. In fact, land grabbing is a enshrined policy of jihad                against the kafirs as ordained by Allah in Koran. Prophet Mohammad                had taught this lesson in his life time by driving away the Jews                of Medina, belonging to the Beni Nazir and Beni Kanuika clan and                slaughtering the Jews of Beni Koreiza <em>en-masse</em> and                acquiring their land and property. </dt>
</dl>
<p>It is difficult for an ordinary individual to guess the social              condition of non-Muslim kafirs in an Islamic State. Koran does not              consider these kafirs as human beings. Allah has condemned them as              godless beasts and has empowered the Muslims to heap any kind of              atrocity and torture on them. Not only that, he is alluring such              oppressors of rewards in the Paradise. So, an Islamic court in an              Islamic Country does not consider such atrocities even a crime at              all. And the reality is that, in such a country, judiciary is              heavily influenced by the religion of Islam and cannot play neutral              in giving verdicts.</p>
<p>That is why the US circular has said that in Bangladesh, the              government and its machineries are heavily influenced by religion              and hence they cannot do much to stop all such religious              discriminations. Not to speak of Hindus and Buddhists, even the              Ahmadiyas, a sect of Islam, have declared non-Muslims and turning              victims of similar religious discriminations.</p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Muslim Opinion - Neutral Writer!]]></title>
<link>http://1islam.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Tue, 27 May 2008 18:28:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>techliveadmin</dc:creator>
<guid>http://1islam.wordpress.com/?p=27</guid>
<description><![CDATA[In the Name of God, Most Gracious, Most Merciful, I Begin:
I am Muslim and have had a strong biased ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>In the Name of God, Most Gracious, Most Merciful, I Begin:</p>
<p>I am Muslim and have had a strong biased in my writings as of late. I choose to be. Now I have decided to write a 3 part series of works on Islam, Terrorism and the fix for all of our disputes.</p>
<p>Starting from tonight. 1 part of the 3 part series will be posted each night hence forth. My opinions as Muslim will be left out and I intend to wander inside both sides of the Islamic - Non Islamic barrier.</p>
<p>It's very easy to put barriers up, than to break them down. But with support WE can do anything together. So join me, a Muslim, trying to bridge gaps that ought not to be there.</p>
<p>Salaams to all.</p>
<p>Ejaaz/Techliveadmin</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Christian Converts on Trial For Non-Muslim Prayer (Algeria)]]></title>
<link>http://islamoscope.wordpress.com/?p=89</link>
<pubDate>Fri, 23 May 2008 14:31:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamoscope</dc:creator>
<guid>http://islamoscope.wordpress.com/?p=89</guid>
<description><![CDATA[ALGIERS, MAY 21 - For the first time in Algeria a  trial against an Algerian woman converted to Chri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>ALGIERS, MAY 21 - For the first time in Algeria a  trial against an Algerian woman converted to Christianity was  launched yesterday in Tiaret (400 km west of Algiers). The woman  was accused of having "practised a non-Muslim prayer without  authorisation". In fact, the girl was not arrested while  praying, but on a bus and because of some gospels that she had  with her. "The charge however is not for proselytism, for the  first time," daily El Watan writes adding "the liberty to  practice freely the Christian faith is really brought into  question".    According to the daily, Habiba, under 30 and converted to  Christianity for four years, would not renounce her religion  just to avoid the court. "Either it is the mosque or the  court," Tiaret's prosecutor intimidated her during the first  conversation, as El Watan writes. "Did they make you drink from  the water which will carry you straight to paradise?", the  judge in court asked yesterday. Habiba was arrested on a bus  heading to Oran. The police discovered in her backpack twelve  religious books. The girl defended herself saying that these  were personal texts and were not intended for other people. The  Religious Affairs Ministry instituted a civil action and the  prosecutor demanded yesterday a three-year prison sentence. The  sentence will be pronounced on Tuesday. Together with the woman,  another six members of Tiaret's Christian community accused of  proselytism will stand trial. (ANSAmed).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cavorting Judge to be Stoned]]></title>
<link>http://cleansingdepartment.wordpress.com/?p=66</link>
<pubDate>Fri, 23 May 2008 01:05:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>saba7saba7</dc:creator>
<guid>http://cleansingdepartment.wordpress.com/?p=66</guid>
<description><![CDATA[ 

 
 News that ‘too ill to face charges’ immigration panel Judge Mohammed Ilyas Khan is to e]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a href="http://cleansingdepartment.wordpress.com/files/2008/05/mohammedilyaskhan.jpg"></a> </p>
<p style="text-align:center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-67 aligncenter" src="http://cleansingdepartment.wordpress.com/files/2008/05/mohammedilyaskhan.jpg?w=158" alt="Mohammed Ilyas Khan" width="158" height="300" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> <span>News that ‘too ill to face charges’ immigration panel Judge Mohammed Ilyas Khan is <a title="Chilli Hot Khan" href="http://www.dailymail.co.uk/news/article-1021149/Judge-chilli-hot-cleaner-scandal-job.html" target="_blank">to escape punishment</a> and keep his job, came as music to the ears of Britain’s new Islamic Shari’a law code enforcers.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span>Religious police noted for their hard-line stance on illegal sexual practices, such as fornication, rubbed their hands together in glee as it was announced that Khan, 62, would not face prosecution over his unIslamic conduct with his Brazilian illegal immigrant cleaner, </span>Roselane Driza, 38.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">This lack of censure under the UK Civil Code, which still governs all non-Muslims, left the way open for the application of the appropriate Islamic punishment after Mr Khan faces an informal hearing in front of a Qadi some time towards the end of this week.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Under Draconian Islamic penalties for illegal sexual activity such as fornication, Mr Khan looks set to be given 100 lashes in front of a crowd of his peers and be expelled from the UK for at least 12 months.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Shari’a enforcer IPC-Imam Muhammad Taqi-ud-Deen said that Mr Khan’s crimes would be punished under the fullest severity of the law, and his position as a judge would not provide mitigating circumstances.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">‘Clearly this man has breached Islamic law, which is now enforced on all Muslims living in the UK, and must be punished accordingly.’</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">When asked about where the flagellation would take place, IPC Taqi-ud-Deen<span> commented that he ‘hoped the punishment would take place somewhere sufficiently public, with good views available to spectators of the ceremony.’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span>The IPC, or Islamic Police Constable, gave us an insight into the workings of Islamic law when he revealed the fundamental precedents for the flogging and excommunication as they are laid out in the Qur’an:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span>‘Well, it’s all rather simple. <span> </span>You see, early on in the fourth chapter, there are a pair of verses outlining the punishment for both adultery and fornication. <span> </span>Naturally, as these stipulate the absolution of the deviants if they demonstrate sufficient remorse and repent for their sins, the Almighty, in His Infinite Wisdom, has rewarded us with a further revelation in chapter 24, verse 2, which prescribes the whipping and banishment.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:right;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:26pt;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic_bs';">وَاللَّذَانَ يَأْتِيَانِهَا مِنكُمْ فَآذُوهُمَا فَإِن تَابَا وَأَصْلَحَا</span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic_bs';">فَأَعْرِضُواْ عَنْهُمَا إِنَّ اللّهَ كَانَ تَوَّاباً رَّحِيماً</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"><strong>If<span> a man and a woman from</span> among you are guilty of lewdness, punish them both. If they repent and amend, leave them alone; for Allah is Oft-Returning, Most Merciful. (an-Nisa’ 4:16)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;line-height:150%;unicode-bidi:embed;text-align:right;margin:0;" dir="rtl"><span style="font-size:26pt;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic_bs';">الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ</span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic_bs';">وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ</span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic_bs';">بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ</span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:26pt;line-height:150%;font-family:'Traditional Arabic_bs';">الْمُؤْمِنِينَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"><strong>The woman and the man guilty of adultery or fornication, flog each of them with a hundred stripes: let not compassion move you in their case, in a matter prescribed by Allah, if ye believe in Allah and the Last Day: and let a party of the Believers witness their punishment. (an-Noor 24:2)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;">‘Naturally, as Muslims, we are overjoyed that scholars of our theological corpus have abrogated the pair of verses in chapter 4 in favour of the legislation in chapter 24.</p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;">‘Mr Khan can consider himself lucky: had he been married and committed the same illegal sexual act, then this would have been considered adultery. <span> </span>Logically, this is punishable by lapidation, or stoning as the penalty is more commonly known.’</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;">And there you have it: we can be reassured that recalcitrant and disobedient Muslims will be punished to the fullest extent of the Shari’a. <span> </span>Turned out nice again, ain’t it?</p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;text-align:justify;margin:0;"> <a href="http://cleansingdepartment.wordpress.com/files/2008/05/stoning2006_468x384.jpg"></a></p>
<p style="text-align:center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-68 aligncenter" src="http://cleansingdepartment.wordpress.com/files/2008/05/stoning2006_468x384.jpg?w=300" alt="Lapidation for Adultery" width="300" height="246" /></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemimpin bukan Islam]]></title>
<link>http://soaljawab.wordpress.com/?p=896</link>
<pubDate>Tue, 20 May 2008 22:56:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>mohd masri</dc:creator>
<guid>http://soaljawab.wordpress.com/?p=896</guid>
<description><![CDATA[ assalamualaikum ahli panel yang dirahmati Allah,
ana nak tny, pd zaman rasuluLlah, adakah org2 buka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><strong><strong><strong><strong> assalamualaikum ahli panel yang dirahmati Allah,</p>
<p>ana nak tny, pd zaman rasuluLlah, adakah org2 bukan Islam diberi apa jawatan atau kedudukan penting dalam kerajaan?</p>
<p>ada x ayat al-Qur'an yg mengharamkan mengambil org kafir sbg pemerintah, menteri dsb?</strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p>jawapan:<!--more--></p>
<p><strong><strong><strong><strong><strong><span style="font-weight:bold;">Bismillahi wal hamdulillah,</p>
<p>Al-Jawab :</span></p>
<p>Setakat maklumat dan pencarian yang kami lakukan , kami tidak menemukan contoh dizaman Rasulullah saw yang melantik orang bukan Islam sebagai orang yang berkedudukan penting dalam kerajaan.</p>
<p>Walaubagaimana pun kaum muslimin pada zaman dahulu ( zaman selepas kewafatan Rasulullah saw ) pernah melantik orang-orang Ahli Zimmah menjadi menteri atau penguatkuasa , terutama pada zaman khilafah Abbasiyyah dan tidak ada seorang pun alim ulama yang menginggkari perkara tersebut.Kecualilah jika para menteri / penguatkuasa non muslim itu bersikap sewenang-wenangnya terhadap kaum muslim. <span style="font-weight:bold;">( Fiqh al-Daulah , As-Syaikh Dr. Yusof al-Qaradhawi )</span></p>
<p>Mengenai dengan ayat al-Quran yang mengharamkan mengambil orang kafir sebagai pemerintah ialah seperti mana yang berikut :</p>
<p>1.   Surah an-Nisa , ayat 141 :</p>
<p><span style="font-size:18px;line-height:normal;">وَلَن يَجْعَلَ اللّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">“dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”</span></p>
<p>2.   Surah Ali Imran , ayat 28 :</p>
<p><span style="font-size:18px;line-height:normal;">لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ<br />
</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pelindung,teman,pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”<br />
</span></p>
<p>3.    Surah al-Mumtahanah , ayat 1 :</p>
<p><span style="font-size:18px;line-height:normal;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاء مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ<br />
</span><br />
<span style="font-weight:bold;">“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”</span></p>
<p>Walaubagaimana pun ayat tersebut tidaklah boleh dijadikan dalil mutlak untuk menolak terus kepimpinan masyarakat non-muslim dalam struktur pentadbiran sesebuah Negara Islam.Ini kerana pendapat kebanyakkan majoriti ulama ialah membenarkan pembabitan masyarakat non-muslim dalam pentadbiran selagi mana majoriti para pemimpin / perwakilan dalam sesebuah pentadbiran itu masih lagi dikuasai / dimonopoli oleh orang Islam.</p>
<p>Dalilnya ialah firman Allah swt dalam surah al-Mumtahanah , ayat : 8 :</p>
<p><span style="font-size:18px;line-height:normal;">لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”<br />
</span></p>
<p>WA</strong></strong></strong></strong></strong></p>
<p><a href="http://al-ahkam.net/home/modules.php?op=modload&#38;name=MDForum&#38;file=viewtopic&#38;p=123262#123262">al-ahkam</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bank dan Asuransi Syariah]]></title>
<link>http://merenung.wordpress.com/?p=55</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 14:28:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>merenung</dc:creator>
<guid>http://merenung.wordpress.com/?p=55</guid>
<description><![CDATA[Minggu lalu kawan lamaku mampir ke kantor. Sudah lama tidak berkesempatan ngobrol agak serius, kawan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Minggu lalu kawan lamaku mampir ke kantor. Sudah lama tidak berkesempatan ngobrol agak serius, kawanku mampir karena kebetulan ingin ke kantor iparnya yang lokasinya ada di daerah kantorku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia cerita kalau sekarang sedang menekuni profesi sebagai agen asuransi. Sambil membawa iklan di sebuah koran  oplah besar, dua halaman penuh dengan foto-foto para pelaku asuransi yang sedang mendapat bonus jalan-jalan ke Moscow. Kawanku bercerita tentang uang yang diterima oleh para agent berprestasi di setiap bulannya. Puluhan, ratusan juta, bahkan milyar rupiah jumlahnya. Terasa sekali nuansa ngiler bak bercerita tentang nikmatnya wisata kulinernya "mak nyus", seperti umumnya para agen, para penjual mempergunakan caranya untuk memikat. Kawanku ini (mungkin) sama sekali tidak dalam rangka merayu agar aku membeli produknya, melainkan sekedar menjelaskan apa dan mengapa dia bersemangat menekuni bidang barunya. Ada kalimat yang membuat aku memikirkannya berhari-hari tanpa jawaban;</p>
<p style="text-align:justify;">"Lu liat aja iklannya di iklan koran. Mereka jalan-jalan nih. Masa' mereka yang menjual produk syariah dan menikmati hasilnya. Mending kita-kita dong yang jualan"</p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya, foto-foto yang terpampang memang langsung dapat ditebak bahwa kebanyakan mereka bukanlah muslim-muslimah. Kawan ini mungkin tidak rela atau iri (secara positif) untuk dapat menyaingi prestasi mereka-mereka dalam mendapatkan keuntungan dari penjualan produk asuransi syariah. Sesuatu yang mungkin wajar-wajar saja, walaupun aku tidak terlalu tertarik menanggapinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hari kemudian di acara TVRI, <a title="Adiwarman Karim" href="http://www.karimconsulting.com/new/" target="_blank">Adiwarman Karim</a> juga menjelaskan, bahwa banyak praktisi perbankan dan asuransi syariah dari kalangan non-muslim.Pernyataan ini yang membuat aku jadi tertarik untuk sedikit merenungi masalah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau tidak keliru, syariah ini maksudnya hukum (mungkin beda-beda dikit dengan fiqih). Jadi mengikuti syariah Islam itu menurut pengertianku adalah mengikuti hukum yang ditetapkan di dalam Islam. Jual beli dibenarkan secara syariah selama sesuai dengan hukum Islam. Jual beli barang haram walaupun sama-sama ikhlas tidak bisa dibilang sesuai syariah. Transaksi perbankan dan asuransi sepertinya bukan transaksi jual beli, bagaimana akad dilakukan oleh pelaku-pelaku non-muslim yang tidak mempercayai syariah (hukum) Islam dapat dikatakan sesuai syariah? Saya terbayang pernikahan yang dikatakan sesuai syariah (hukum) Islam dilakukan oleh seorang penghulu yang non-muslim. Atau wali nikah yang non-muslim atau pengantin yang non-muslim. Bagaimana dapat disebut sesuai syariah Islam?</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pengen tanya sama yang lebih mengerti soal syariah, pasalnya sudah seminggu lebih nggak ketemu jawaban yang logis untuk bisa menerangkan pertanyaan itu.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Non-Muslims To Lose Citizenship Under New Constitution]]></title>
<link>http://islamoscope.wordpress.com/?p=83</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 07:18:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>islamoscope</dc:creator>
<guid>http://islamoscope.wordpress.com/?p=83</guid>
<description><![CDATA[Information minister Mohamed Nasheed has admitted on his personal blog that Maldivians who convert a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Information minister Mohamed Nasheed has admitted on his personal blog that Maldivians who convert away from Islam, or who are children of Maldivians married to non-Muslims, risk losing their citizenship of the country under the constitution in progress.</p>
<p>The issue is believed to have been raised with government by international diplomats visiting Maldives during the development of the constitution.</p>
<p>A prominent lawyer who wished to remain anonymous told Minivan News the clause was “not practical” and would “formally introduce asylum seekers from the Maldives”, doing “more harm than good in the international community”.</p>
<p>He also acknowledged “practical” issues with the clause, saying it would be difficult to implement.</p>
<p>But Nasheed says a last-minute change is unlikely, because “it will be very difficult for Maldives mentality to accept Maldives citizens may belong to a different faith...No Maldives leader would want to rock the boat.”</p>
<p>The anonymous lawyer agreed public pressure was likely to prevent parliamentarians from opposing the clause.</p>
<p>The constitution has still not been finalised, and the attorney general’s office (AGO) has now raised over 200 issues of consistency, wording and practicality, to be addressed by the constitutional drafting committee and Special Majlis (constitutional assembly) before ratification. However the citizenship question does not appear on the list.</p>
<p>And presidential candidates were reluctant to adopt a position on the issue ahead of the country’s first multi-party presidential elections, expected once the constitution comes into force.</p>
<p>Former attorney general Dr Hassan Saeed, now standing as an independent candidate, said the issue was of “very little relevance” as “we do not have a non-Muslim population”.</p>
<p>Mohamed Nasheed (Anni), contesting on the largest opposition Maldivian Democratic Party (MDP) ticket, said the MDP “can’t have a position outside the constitution”.</p>
<p>However another candidate, Umar Naseer of the Islamic Democratic Party (IDP), said to local newspaper Miadhu: “In my government there would be no chance [of] any other religion.”</p>
<p>And Sheikh Abdul Majeed Abdul Bari, head of the religious Adhaalath party scholars’ council, told Minivan News in a May 13 interview he personally supported the tightening of citizenship regulation.</p>
<p>Citizenship is dealt with in the existing constitution, in force since 1998, in clause 5, which reads as follows: “Persons mentioned herein below shall be citizens of the Maldives: (a) every person who is a citizen of the Maldives at the commencement of this Constitution; (b) every child born to a citizen of the Maldives; and (c) every foreigner who, in accordance with the law, becomes a citizen of the Maldives.”</p>
<p>But the constitution in progress adds additional subclauses which specify (in unofficial translation) that “citizenship cannot be wrested away from a citizen of the Maldives”, “Any person who wishes to relinquish his citizenship may do so in accordance with law,” and “despite [earlier] provisions...a non-Muslim may not become a citizen of the Maldives.”</p>
<p>Despite the wording specifying citizenship cannot be “wrested away”, lawyers and government interpret the clause as removing citizenship from those who leave Islam or are children of non-Muslims.</p>
<p>“No Maldives politician would want to take the case up,” said Nasheed on his blog. Yet, he contends, “they all would privately agree that citizenship of the country he is born in, or his parents belong to, is...a human right.”</p>
<p>The anonymous lawyer said that because parliament is televised and “they [MPs] want to get re-elected”, a change through parliament was unlikely, but also said it would be “difficult” to reduce the impact of the clause through legislation.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KENAPA SEMUA KAFIR DI SELURUH DUNIA MEMBENCI ISLAM]]></title>
<link>http://kebohongandariislam.wordpress.com/?p=70</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 06:09:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Islam Idiot</dc:creator>
<guid>http://kebohongandariislam.wordpress.com/?p=70</guid>
<description><![CDATA[          Kenapa Semua Kafir Di Seluruh Dunia Membenci Islam
 
 

]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">          <strong>Kenapa Semua Kafir Di Seluruh Dunia Membenci Islam</strong></p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p style="text-align:center;"><img style="vertical-align:middle;" src="http://80.190.202.79/pic/i/idiotyou/question_mark.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wanita Non Muslimah Memandang Wanita Muslimah]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=236</link>
<pubDate>Sun, 11 May 2008 22:02:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslimah</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.wordpress.com/?p=236</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Telah kita pahami dari pembahasan terdahu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah</em></p>
<p style="text-align:justify;">Telah kita pahami dari pembahasan terdahulu bahwa ulama berbeda pendapat tentang hukum wanita muslimah menampakkan sesuatu dari bagian tubuhnya di hadapan wanita non muslimah tanpa keperluan. Dan tidak mengapa sebagai tambahan faedah, kami memaparkan kembali permasalahan ini, dengan rujukan dari Kitab <strong>An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar bi Hassatil Bashar</strong>, karya Al-Imam Al-Hafidz Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Qaththan Al-Fasi dan kitab <strong>Fiqhun Nazhar</strong>, karya Mushthafa Abul Ghaith.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Kami dapati ahlul ilmi terbagi dua pendapat dalam masalah ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat pertama:</strong> Mereka memandang wajib bagi muslimah untuk berhijab di hadapan wanita non muslimah dan haram baginya untuk membuka sesuatu dari bagian tubuhnya di depan wanita Nasrani, Yahudi atau musyrikah, bila tidak ada keperluan yang darurat/mendesak. Sehingga dalam hal memandang ini, wanita kafirah sama dengan laki-laki <em>ajnabi</em> (bukan mahram) bagi seorang muslimah. Demikian pendapat madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan yang paling shahih dari madzhab Syafi'iyyah, serta satu riwayat dari Al-Imam Ahmad1. Mereka berdalil dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> dalam <strong>Surat An-Nur ayat 31</strong> yang artinya: <em>"Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka....</em> sampai pada firman-Nya: <em>... atau di hadapan wanita-wanita mereka....".</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kata wanita di dalam ayat disandarkan (di-<em>idhafah</em>-kan) kepada mereka, wanita-wanita mukminah. Hal ini menunjukkan pengkhususan. Ibnu Athiyyah berkata: "Seandainya wanita non muslimah boleh melihat ke tubuh muslimah, niscaya tidak tersisa faedah bagi pengkhususan tersebut."</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu mereka juga berdalil dengan atsar-atsar dari para shahabat dan ulama salaf, namun kebanyakan dari atsar-atsar ini lemah, <em>wallahu a'lam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat kedua:</strong> Mereka yang berpandangan bahwa dalam hal memandang, wanita non muslimah sama dengan wanita muslimah ketika memandang sesama muslimah, sehingga wanita non muslimah ini boleh melihat seluruh tubuhnya kecuali antara pusar dan lututnya. Pendapat ini ada dalam madzhab Syafi'iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad yang merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab pengikut beliau. Mereka yang memegang pendapat kedua ini berdalil dengan hadits Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq <em>radhiallahu 'anhuma</em>. Ia berkata "Ibuku datang menemuiku dalam keadaan ia musyrikah di masa Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em>. Maka aku pun minta fatwa kepada Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em>. "Ibuku datang dalam keadaan <em>raghibah</em>2, apakah boleh aku menyambung hubungan dengannya?", tanyaku. <em>"Iya, sambunglah hubungan dengan ibumu,"</em> jawab beliau <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em>." (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan <strong>Muslim</strong> no. 1003)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> mengizinkan Asma <em>radhiallahu 'anha</em> untuk menyambung hubungan dengan ibunya yang musyrikah, dan tidak dinukilkan adanya perintah ataupun berita bahwa Asma berhijab dari ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits lain yang menjadi dalil pendapat kedua ini adalah hadits Aisyah <em>radhiallahu 'anha</em>: Seorang wanita Yahudi pernah masuk menemui Aisyah lalu ia menyebutkan tentang azab kubur, ia berkata: <em>"Semoga Allah melindungimu dari azab kubur". Aisyah pun menanyakan tentang azab kubur kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. </em><em>"Ya, memang ada azab kubur," jawab beliau. Aisyah berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah </em><em>Shallallahu 'alaihi wa sallam selesai dari mengerjakan satu shalat pun melainkan beliau mesti berlindung dari azab kubur."</em> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> no. 1372 dan <strong>Muslim</strong> no. 586)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits di atas menunjukkan wanita-wanita kafir biasa masuk menemui Ummahatul Mukminin untuk suatu keperluan, bersamaan dengan itu Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> tidak memerintahkan istri-istri beliau untuk berhijab dari mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari perselisihan pendapat yang ada, <em>wallahu ta'ala a'lam bish-shawab</em>, yang rajih (kuat), dengan melihat dalil masing-masingnya, adalah pendapat kedua, sehingga tidak ada larangan bagi seorang muslimah untuk melepas hijabnya di hadapan wanita non muslimah3, yang demikian ini kita beralasan sebagaimana ucapan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi <em>rahimahullahu</em>:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Wanita berhijab dari lelaki disebabkan karena kekhawatiran munculnya syahwat dan fitnah. Sementara antara muslimah dan wanita non muslimah tidak didapati kekhawatiran yang demikian sehingga tidak ada keharusan bagi muslimah untuk mengenakan hijabnya di hadapan non muslimah.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Tidak ada dalil yang mewajibkan muslimah berhijab dari non muslimah dan juga dalam hal ini tidak dapat dikiaskan dengan perintah berhijab dari lelaki.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Muslimah dan non muslimah sama-sama berjenis wanita, maka sebagaimana lelaki boleh melihat sesama lelaki tanpa dibedakan apakah lelaki itu muslim atau kafir maka dibolehkan pula wanita memandang wanita tanpa dibedakan apakah dia muslimah atau non muslimah (<strong>Al-Mughni</strong>, 9/505)</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun ayat (أَوْ نِساَئِهِنَّ), di mana dhamirnya (kata ganti هُنَّ yang artinya mereka para wanita) kembali pada wanita-wanita mukminah yang menjadi sasaran pembicaraan di dalam ayat, tidaklah menunjukkan pengkhususan sehingga wanita selain mukminah dikeluarkan darinya. Namun sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar ibnul Arabi <em>rahimahullahu</em>: "Yang shahih menurutku, firman Allah ini boleh diarahkan kepada seluruh wanita. Adapun dhamir (هُنَّ) dalam ayat ini didatangkan dalam rangka <em>ittiba'</em> (pengikutan dengan lafadz sebelumnya bukan menunjukkan pengkhususan, pen.) karena ayat ini merupakan ayat <em>dhamir</em> di mana disebutkan di dalamnya 25 dhamir, tidak ada satu ayat pun dalam Al Qur'an yang menyamainya dalam hal ini." (<strong>Ahkamul Qur'an</strong>, 3/1359)</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk lebih memantapkan hati, berikut ini kami nukilkan fatwa dua ‘alim kabir dari kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mendukung pendapat kedua ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullahu</em> berkata: <strong>"Ayat أَوْ نِساَئِهِنَّ, mencakup seluruh wanita, mukminah ataupun non mukminah. Inilah pendapat yang paling shahih, sehingga tidak ada kewajiban bagi wanita mukminah untuk berhijab dari wanita kafir, berdasarkan keterangan yang <em>tsabit</em> (kokoh) tentang masuknya wanita-wanita Yahudi di Madinah di masa Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em>. Demikian pula wanita-wanita penyembah berhala menemui istri-istri beliau <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em>, sementara tidak disebutkan keterangan istri-istri Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> ini berhijab dari mereka. Seandainya berhijab dari non muslimah ini terjadi dari istri-istri Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> atau dari selain mereka (dari kalangan shahabiyyah), niscaya akan dinukilkan. Karena para shahabat <em>radhiallahu 'anhum</em> tidaklah meninggalkan sesuatu perkara melainkan mereka mesti menukilkannya. Inilah pendapat yang terpilih dan paling kuat."</strong> (<strong>Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah</strong>, 6/361).</p>
<p style="text-align:justify;">Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> ketika ditanya tentang permasalahan ini beliau menjawab: "Perkara ini dibangun di atas perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> dalam <strong>Surat An-Nur ayat 31</strong> tentang <em>dhamir</em> dalam أَوْ نِساَئِهِنَّ. Beliau menyebutkan perbedaan pendapat yang ada, kemudian beliau berkata: <strong>"Kami sendiri condong kepada pendapat pertama (mencakup seluruh wanita, termasuk non muslimah) dan pendapat inilah yang lebih dekat kepada kebenaran karena wanita memandang sesama wanita tidaklah dibedakan antara muslimah dengan non muslimah. Namun tentunya hal ini diperkenankan bila di sana tidak ada fitnah. Adapun bila dikhawatirkan terjadi fitnah seperti si wanita non muslimah itu akan menceritakan keberadaan si muslimah kepada kerabat-kerabatnya dari kalangan lelaki, maka ketika itu wajib untuk berhati-hati menjaga diri dari fitnah, sehingga si wanita muslimah tidak membuka sesuatu dari anggota tubuhnya seperti kedua kaki atau rambutnya di hadapan wanita lain, sama saja dalam hal ini (bila ada fitnah, <em>pen</em>.) apakah di hadapan wanita muslimah ataupun non muslimah."</strong> (<strong>Fatawa Al-Mar'ah</strong>, kumpulan dan susunan Muhammad Al-Musnad hal. 177).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Footnote:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1 Di antara ulama mutaakhirin yang berpegang dengan pendapat ini adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i <em>rahimahullah</em>. Beliau berkata: "Dzahir dari apa yang diinginkan dalam ayat ini adalah wanita-wanita dari kalangan muslimin karena wanita-wanita kafir bisa jadi ketika melihat seorang wanita muslimah, ia akan menceritakan/menggambarkan si muslimah kepada suaminya. Sementara Nabi <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> telah melarang seorang wanita ketika bergaul dengan wanita lain lalu ia menggambarkan wanita lain itu kepada suaminya...". (<strong>Ijabatus Sail ‘ala Ahammil Masail</strong>, hal. 557)</p>
<p style="text-align:justify;">2 Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani <em>rahimahullah</em> berkata: "Maknanya, ibu Asma' datang menemui putrinya meminta agar putrinya berbuat baik padanya dalam keadaan ia khawatir putrinya akan menolaknya sehingga ia pulang dengan kecewa, demikian penafsiran jumhur." (<strong>Fathul Bari</strong>, 5/286)</p>
<p style="text-align:justify;">3 Jika sekiranya aman dari fitnah, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> dalam fatwanya.</p>
<p style="text-align:right;"><em>(Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=259)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Blogging The Quran 2]]></title>
<link>http://innerreflectionstranscribed.wordpress.com/?p=307</link>
<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 18:56:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Sumera</dc:creator>
<guid>http://innerreflectionstranscribed.wordpress.com/?p=307</guid>
<description><![CDATA[I mentioned this Quran blogging venture hosted over at Guardian online a few months ago. I have been]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I mentioned this <a href="http://innerreflectionstranscribed.wordpress.com/2008/01/09/blogging-the-quran/">Quran blogging venture </a>hosted over at Guardian online a few months ago. I have been following it since it began and have to say I quite like it, particularly the discussions that offshoot from the blog itself in the comment space. I try to read it on a daily basis, but lapse somewhat depending on my weekly schedule.</p>
<p>From its inception there some concerns voiced, the predominant ones being alone the "how can he blog about the Quran if he hasn't even learnt Arabic; a mere person can't do this kind of a task" line. Have these concerns manifested themselves in Ziauddin's blogging venture? I have yet to come across it since not all of us are versed in Fusha (or lay Arabic) and so read the Quran as Ziauddin is reading it.</p>
<p>Do <a href="http://blogs.guardian.co.uk/quran/">check it out </a>if you haven't done so yet</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dutch elementary class trip to Mosque goes awry]]></title>
<link>http://theamericaninfidels.wordpress.com/?p=89</link>
<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 05:26:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>wolkingsworld</dc:creator>
<guid>http://theamericaninfidels.wordpress.com/?p=89</guid>
<description><![CDATA[Via Hot Air. What&#8217;s wrong with teaching the infidel children they are &#8220;dogs,&#8221; huh?]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Via <a href="http://hotair.com/archives/2008/04/09/awww-class-trip-to-mosque-teaches-10-year-olds-that-theyre-dogs/" target="_blank">Hot Air</a>. What's wrong with teaching the infidel children they are "<a href="http://wolkingsworld.wordpress.com/wp-admin/THE HAGUE, 09/04/08 - A primary school in Amsterdam wished to provide its pupils with an understanding for other cultures. But during a visit to a mosque, the children were told they were dogs." target="_blank">dogs</a>," huh?</p>
<blockquote><p>THE HAGUE, 09/04/08 - A primary school in Amsterdam wished to provide its pupils with an understanding for other cultures. But during a visit to a mosque, the children were told they were dogs.</p>
<p>With a view to developing understanding and respect for other cultures among children, primary school De Horizon regularly organises outings to various religious organisations. <strong>The chairman of the El Mouchidine mosque told the children from group 7 (aged 10) and their chaperones however that non-Muslims are dogs.</strong></p>
<p>In a letter to the children's parents, the school expresses its regret at the incident: "We are shocked that during the guided tour, the mosque's chairman told the children and chaperoning parents that non believers were dogs. We consider this statement as unacceptable since we allow our children to partake in this project to develop respect for freedom of religious choice".</p>
<p>In the meantime, the school's management has addressed the mosque on the undesirable behaviour of the chairman. Both parties will say nothing further on the matter. "We will resolve the matter amongst ourselves and I have no inclination whatsoever to discuss the matter with the media", as newspaper De Telegraaf quoted the school's spokesperson Mariet ten Berge. "We have been to the mosque before and it always went well".</p>
<p>Angry parents had sent the letter on to De Telegraaf but were reportedly rapped on the knuckles by the school's management. "The school wishes to play this down. That is precisely the problem", as one mother commented.</p></blockquote>
<p>Don't forget: this is the <em>chairman</em> of a mosque in Amsterdam, no doubt teaching his congregation that all non-Muslims are dogs. I wonder what other wonderfully peaceful things are spewed there when outsiders <em>aren't</em> present?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dutch elementary class trip to Mosque goes awry]]></title>
<link>http://wolkingsworld.wordpress.com/?p=166</link>
<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 05:19:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>wolkingsworld</dc:creator>
<guid>http://wolkingsworld.wordpress.com/?p=166</guid>
<description><![CDATA[Via Hot Air. What&#8217;s wrong with teaching the infidel children they are &#8220;dogs,&#8221; huh?]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Via <a href="http://hotair.com/archives/2008/04/09/awww-class-trip-to-mosque-teaches-10-year-olds-that-theyre-dogs/" target="_blank">Hot Air</a>. What's wrong with teaching the infidel children they are "<a href="http://wolkingsworld.wordpress.com/wp-admin/THE HAGUE, 09/04/08 - A primary school in Amsterdam wished to provide its pupils with an understanding for other cultures. But during a visit to a mosque, the children were told they were dogs." target="_blank">dogs</a>," huh?</p>
<blockquote><p>THE HAGUE, 09/04/08 - A primary school in Amsterdam wished to provide its pupils with an understanding for other cultures. But during a visit to a mosque, the children were told they were dogs.</p>
<p>With a view to developing understanding and respect for other cultures among children, primary school De Horizon regularly organises outings to various religious organisations. <strong>The chairman of the El Mouchidine mosque told the children from group 7 (aged 10) and their chaperones however that non-Muslims are dogs.</strong></p>
<p>In a letter to the children's parents, the school expresses its regret at the incident: "We are shocked that during the guided tour, the mosque's chairman told the children and chaperoning parents that non believers were dogs. We consider this statement as unacceptable since we allow our children to partake in this project to develop respect for freedom of religious choice".</p>
<p>In the meantime, the school's management has addressed the mosque on the undesirable behaviour of the chairman. Both parties will say nothing further on the matter. "We will resolve the matter amongst ourselves and I have no inclination whatsoever to discuss the matter with the media", as newspaper De Telegraaf quoted the school's spokesperson Mariet ten Berge. "We have been to the mosque before and it always went well".</p>
<p>Angry parents had sent the letter on to De Telegraaf but were reportedly rapped on the knuckles by the school's management. "The school wishes to play this down. That is precisely the problem", as one mother commented.</p></blockquote>
<p>Don't forget: this is the <em>chairman</em> of a mosque in Amsterdam, no doubt teaching his congregation that all non-Muslims are dogs. I wonder what other wonderfully peaceful things are spewed there when outsiders <em>aren't</em> present?</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bolehkah orang kafir menyentuh al-Quran? Hantar Quran ke negara kafir?]]></title>
<link>http://soaljawab.wordpress.com/?p=865</link>
<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 06:32:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>mohd masri</dc:creator>
<guid>http://soaljawab.wordpress.com/?p=865</guid>
<description><![CDATA[HUKUM ORANG KAFIR MENYENTUH AL-QUR&#8217;AN TERJEMAH
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Per]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">HUKUM ORANG KAFIR MENYENTUH AL-QUR'AN TERJEMAH</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya memiliki Al-Qur'an dengan terjemahannya berbahasa Inggeris, bolehkah disentuh oleh orang kafir?</p>
<p>Jawapan<br />
Tidak mengapa terjemahan Al-Qur'an berbahasa Inggeris itu atau bahasa-bahasa lainnya disentuh oleh orang kafir, kerana terjemahan itu merupakan tafsiran makna-makna Al-Qur'an, jika disentuh oleh orang kafir, atau oleh orang yang tidak suci, maka itu tidak mengapa. Ini kerana terjemahan itu tidak ada hukumnya di dalam Al-Qur'an, hukumnya sama dengan buku tafsir, buku-buku tafsir boleh disentuh oleh orang kafir atau oleh orang yang tidak suci, demikian juga buku-buku hadits, fiqih, bahasa arab dan sebagainya. Wallahu waliyut taufiq.</p>
<p>(Majalah Al-Buhuts Al-Istamiyyah (45), Syaikh Ibnu Baz, hal. 115)<!--more--></p>
<p>BOLEHKAH MENGIRIM MUSHAF MELALUI POS KE NEGARA-NEGARA KAFIR</p>
<p>Oleh<br />
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Iifta ditanya :. Di negeri ini ada orang-orang asing dan juga lainnya yang datang ke pejabat pos dengan membawa bungkusan yang di dalamnya terdapat mushaf , mereka hendak mengirimkannya ke negara-negara bukan Arab, terutama negara-negara kafir. Apakah boleh mengirimkan Al-Qur'anul Karim ke negara-negara tersebut, sementara disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, riwayat dari Ibnu Umar bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bepergian dengan membawa Al-Qur'an ke negeri musuh (1)?</p>
<p>Jawapan.<br />
Alhamulillah, segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Wa ba'du.</p>
<p>Jika pengirim mushaf itu seorang muslim, maka tidak apa-apa dikirimkan, baik dikirimkan ke negara Arab ataupun lainnya, baik Negara itu berpenduduk muslim atau pun bukan muslim. Sebab pada dasarnya, sebagaimana disebutkan tidak disentuh oleh tangan orang-orang kafir, kerana mushaf itu tidak dikirimkan kepada mereka sehingga tidak dikhuatiri. Kecuali jika yang ditujunya itu seorang muslim yang berada di negeri perang, atau tidak terjaminnya mushaf dari perampasan orang-orang kafir dari tangan si penerima atau petugas pengiriman, maka mushaf itu tidak boleh dikirimkan kepadanya, hal ini sebagai pelaksanaan hadits yang disebutkan dalam pertanyaan.</p>
<p>Hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p>(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da' imah, fatwa nombor 3497)</p>
<p>MENEMPATKAN BUKU-BUKU YANG MENGANDUNG AYAT-AYAT AL-QUR'AN DI HADAPAN ORANG-ORANG NASHRANI</p>
<p>Oleh<br />
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal ifta ditanya : Apakah boleh saya menempatkan buku-buku yang mengandung ayat-ayat yang mulia yang mengupas tentang keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tertulis dengan bahasa Arab beserta terjemahannya berbahasa Inggeris di hadapan orang-orang Kristian?</p>
<p>Jawapan<br />
Ya, anda boleh menempatkan di hadapan mereka buku-buku yang mengandungi ayat-ayat Al-Qur'an untuk dijadikan dalil hukum-hukum, tauhid dan sebagainya, baik itu yang berbahasa Arab maupun terjemahannya. Bahkan anda wajar mendapat ucapan terima kasih kerana telah menempatkan itu di hadapan mereka atau meminjamkannya kepada mereka untuk dipelajari, kerana hal ini merupakan salah satu bentuk dakwah ke jalan Allah dan pelakunya mendapat pahala jika ia ikhlas dalam melakukannya.</p>
<p>(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah, juz. 2, hal. 75)</p>
<p>(Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq)<br />
__________<br />
Foote Note<br />
(1). HR. Al-Bukhari dalam Al-Jihad (2990), Muslim dalam Al-Imarah (1869). <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2406/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/2406/slash/0</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Report: Non-Muslims deserve to be punished says British mullah]]></title>
<link>http://theamericaninfidels.wordpress.com/?p=83</link>
<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 19:50:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>malabarcrusader</dc:creator>
<guid>http://theamericaninfidels.wordpress.com/?p=83</guid>
<description><![CDATA[A report posted on Islam Watch, a site run by Muslims who oppose intolerant teachings and hatred to]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>A report posted on <a target="_blank" href="http://www.islam-watch.org/AyeshaAhmed/London-Imam-Attempt-to-Carry-Out-Sunna.htm">Islam Watch</a>, a site run by Muslims who oppose intolerant teachings and hatred toward unbelievers, exposes a prominent Islamic cleric and lawyer who support extreme punishment for non-Muslims—including killing and rape.</p>
<p>A question and answer session with Imam Abdul Makin in an East London mosque asks why Allah would tell Muslims to kill and rape innocent non-Muslims, including their wives and daughters, according to Islam Watch. "Because non-Muslims are never innocent, they are guilty of denying Allah and his prophet," the Imam says, according to the report. "If you don't believe me, here is the legal authority, the top Muslim lawyer of Britain." The lawyer, Anjem Choudary, backs up the Imam's position, saying that all Muslims are innocent.</p>
<p>"You are innocent if you are a Muslim," Choudary tells the BBC. "Then you are innocent in the eyes of God. If you are not a Muslim, then you are guilty of not believing in God."Choudary said he would not condemn a Muslim for any action. "As a Muslim, I must support my Muslim brothers and sisters," Choudary said. "I must have hatred to everything that is not Muslim."</p>
<p>Here's the video:<br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/maHSOB2RFm4'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/maHSOB2RFm4&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p><img border="0" align="middle" width="413" src="http://a.abcnews.com/images/Blotter/dadullah_ms.jpg" alt="Another British Mullah's Violent Words" height="310" /></p>
<p>There you have it, folks. We hear the Left constantly defending Islam, saying that true Muslims denounce violence in the name of their religion. But here is hard evidence that even Muslim clerics in Western countries are are spewing this hate.  How then, are moderates not affected when their holy men preach this way?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Immigrant For Life]]></title>
<link>http://innerreflectionstranscribed.wordpress.com/?p=303</link>
<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 19:09:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Sumera</dc:creator>
<guid>http://innerreflectionstranscribed.wordpress.com/?p=303</guid>
<description><![CDATA[When do we stop being referred to as immigrants? When does this association end? The association its]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>When do we stop being referred to as immigrants? When does this association end? The association itself is not a negative portrayal, or at least it never used to be until as of late. However, when does one move from being an immigrant to being a native?</p>
<p>One would've thought after being born and bred in a particular country, being familiar with the culture, and mannerisms, speaking their language and obviously "sounding" through your accent as being from that country would render you a fully fledged citizen.</p>
<p>But it obviously doesn't.</p>
<p>Because despite all this, and despite of how "integrated" or "assimilated" you have become, you will be reminded sometime or another that you infact haven't. And probably never will.</p>
<p>You are referred to as either a 2nd or 3rd generation immigrant, belonging to the black and minority ethnic group, or a [insert ethnic origin or country of origin here] Scot even if you have never ever ventured to your parents or grandparents homeland and are only familiar with it through Bollywood or when war breaks out. Now of course they insert "Muslim" in so you could be a British-Pakistani-Muslim, or a Scottish-Muslim-Indian.</p>
<p> When does this end? Will our children be referred to as 5th/6th generation immigrants? Will they never be considered British or Irish or Welsh or Scottish, without having to express or add on the country of their descendent's origins?</p>
<p>When does this brand of categorising come to an end? This medium of alienation and being seen as "not really one of us" simply because due to our colour of skin we appear "different" is a major problem. It is racist.</p>
<p>Then again people complain we use the race card to the point of saturation.</p>
<p> Can't ever win, can we?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuduhan Non-Muslim bahawa Nabi Kemaruk Berkahwin]]></title>
<link>http://soaljawab.wordpress.com/2008/03/30/tuduhan-non-muslim-bahawa-nabi-kemaruk-berkahwin/</link>
<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 08:09:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>mohd masri</dc:creator>
<guid>http://soaljawab.wordpress.com/2008/03/30/tuduhan-non-muslim-bahawa-nabi-kemaruk-berkahwin/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan:
Assalamu&#8217;alaikum wr. wb saya berdiskusi dengan non muslim (isteri pendeta) bagaima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Assalamu'alaikum wr. wb saya berdiskusi dengan non muslim (isteri pendeta) bagaimana cara menjawab kalau ada pertanyaan yang bertanyakan tentang nabi Muhammad SAW di mana isterinya ramai. Dia berkata Nabi Muhammad "kemaruk berkahwin" saya sangat marah rasanya dan juga pertanyaannya menikahi aisyah yang ketika ituadalah anak dibawah umur mohon penjelasannya terima kasih Wassalamu'alaikum wr.wb</p>
<p><b>ELLYA FARDASAH</b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;">
<p><b>Jawapan:</b><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Assalamu `alaikum Wr. Wb.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Berbagai tuduhan dan pertanyaan yang tidak sedap sering kita terima dari kalangan yang membenci Islam dan tidak mengetahui Islam secara komprehensif. Penilaian mereka biasanya didasarkan kepada kedengkian dan atau kebodohan. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Padahal dalam catatan  sejarah dan bebarapa riwayat bahkan kitab suci mereka sendiri disebutkan betapa nabi-nabi mereka (seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman) memiliki jumlah isteri yang jauh lebih banyak daripada Nabi Muhammad saw. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sementara, pernikahan yang dilakukan oleh Rasulullah dengan sejumlah wanita adalah demi sebuah kemaslahatan besar yang hendak dicapai. Secara singkat isteri-isteri beliau adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">
1.<b> Khodijah binti Khuwailid RA</b>, beliau dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. Bayangkan andaikan Rasulullah gila wanita tentu dia akan memilih wanita yang sebaya atau lebih muda dari beliau yang ketika itu sangat ramai di daerah Mekkah. Namun, beliau justeru memilih wanita yang jauh lebih tua. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak lelaki dan perempuan. Akan tetapi semua anak lelaki beliau meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kaltsum dan Fatimah. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup. Baru sesudah Khadijah meninggal, yakni ketika beliau sudah tua, ketika itulah beliau menikah lagi. Yaitu dengan:</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>2. <b>Saudah binti Zam'ah RA</b>, dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah. Beliau adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amr.</p>
<p>3. <b>Aisyah binti Abu Bakar RA</b>, dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Beliau dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Beliau adalah seorang gadis dan Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah. Kita lihat betapa bahawa beliau hanyalah digauli dan tinggal serumah bersama Rasulullah SAW saat sudah baligh dan dewasa. Lalu, mengapa dia dinikahi?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus. Posisi Abu Bakar sendiri sangat penting di dalam dakwah Rasulullah SAW baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi terhapus.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Selain itu Aisyah ra adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.</p>
<p>4. <b>Hafsoh binti Umar bin Al-Khotob RA,</b> beliau ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khotob.</p>
<p>Dengan menikahi Hafshah puteri Umar, maka hubungan emosional antara Rasulullah SAW dengan Umar menjadi sedemikian akrab, kuat dan tak tergoyahkan. Tidak hairan kerana Umar memiliki peranan sangant penting dalam dakwah baik ketika fajar Islam baru mulai merekah mahupun saat perluasan Islam ke tiga peradaban besar dunia. Di tangan Umar, Islam berhasil membuktikan hampir semua khabar gembira di masa Rasulullah SAW bahawa Islam akan mengalahkan semua agama di dunia.</p>
<p>5<b>. Zainab binti Khuzaimah RA,</b> dari Bani Hilal bin Amir bin Sho'sho'ah dan dikenal sebagai Ummul Masakin kerana dia sangat menyayangi orang-orang miskin. Sebelumnya dia bersuamikan Abdulloh bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah SAW menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah. Dia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW .</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><b>6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA</b>, sebelumnya menikah dengan Abu Salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jamadil Akhir tahun 4 Hijriyah dengan meninggalkan dua anak lelaki dan dua anak perempuan. Dia dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal di tahun yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><b>7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA,</b> dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah SAW. Sebelumnya dia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Dia dinikahi oleh Rasulullah SAW di bulan Dzul Qoidah tahun kelima dari Hijrah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Pernikahan tersebut adalah atas perintah Allah SWT untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><b>8. Juwairiyah binti Al-Harits RA</b>, pemimpin Bani Mustholiq dari Khuzaah. Dia merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya?ban tahun ke 6 Hijrah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormatinya dan meraih simpati dari kabilahnya (kerana dia adalah anak pemimpin kabilah tersebut) dan membebaskan tawanan perang.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><b>9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA</b>, sebelumnya dia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharrom tahun 7 Hijrah. Nabi meminang Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Sehingga alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah kerana mereka sebelumnya telah mengalami seksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.</p>
<p><b>10. Shofiyyah binti Huyay bin Akhtob RA</b>, dari Bani Israel, dia merupakan tawan perang Khoibar lalu Rasulullah SAW memilihnya dan dimerdekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khoibar tahun 7 Hijriyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Pernikahan tersebut bertujuan untuk menjaga kedudukan beliau sebagai anak dari pemuka kabilah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><b>11. Maimunah binti Al- Harits RA</b>, saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Dia adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa?dah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umroh Qadho.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Dari kesemua wanita yang dinikahi Rasulullah SAW, tak satupun dari mereka yang melahirkan anak hasil perkahwinan mereka dengan Rasulullah SAW, kecuali Khadijatul Kubra seperti yang disebutkan di atas. Namun Rasulullah SAW pernah memiliki anak lelaki selain dari Khadijah yaitu dari seorang hamba yang bernama Mariah Al-Qibthiyah yang merupakan hadiah dari Muqauqis pembesar Mesir. Anak itu bernama Ibrahim namun meninggal saat masih kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Demikianlah sekelumit data singkat para isteri Rasulullah SAW yang mulia, dimana secara khusus Rasulullah SAW diizinkan mengahwini mereka dan jumlah mereka lebih dari 4 orang, batas maksima poligami dalam Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Dari kesemuanya itu, umumnya Rasulullah SAW menikahi mereka kerana pertimbangan kemanusiaan dan kelancaran urusan dakwah.</p>
<p style="text-align:justify;">
Selain itu ada hikmah yang sangat mendalam di masa kini yaitu semakin banyaknya sumber-sumber ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan fiqih wanita, kerana memang dari sanalah umumnya pelajaran Rasulullah SAW tentang wanita itu berasal. Seandainya Rasulullah SAW hanya beristerikan satu orang saja, maka kajian fiqih wanita sekarang ini akan menjadi sangat sempit kerana sumbernya terbatas hanya dari satu orang. Namun alhamdillah atas tadbir ilahi, dengan beristeri sampai 11 orang, maka sumber itu menjadi cukup banyak. Dan sempurnalah Islam sebagai agama yang syamil mutakamil. </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu, kalau kita melihat masa muda beliau, maka sangat berbeza dengan para pemuda Arab pada umumnya. Beliau tumbuh menjadi pemuda yang bersih; tidak pernah melakukan maksiat dan pergaulan bebas; bahkan secara khusus dilindungi oleh Allah dari kehidupan bebas para pemuda lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Jadi, tuduhan non muslim bahawa Rasulullah SAW adalah tukang kahwin dan kemaruk dengan wanita adalah tuduhan yang sangat menjijikkan sekaligus menyesatkan, kerana semuanya hanya dipenuhi dengan kebencian dan kebodohan serta mencerminkan penuduhnya sebagai orang yang tidak pernah lengkap membaca sirah nabawiyah dengan sumber yang benar. Semoga Allah menghancurkan angkara murka musuh-musuhnya dan menghinakan orang-orang yang menghina nabi-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak, Amien Ya Rabbal `Alamien.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>Wallahu A`lam Bish-Showab,<br />
<b>Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. </b></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><a href="http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/33144">http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/33144</a></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menerima Darah Orang Bukan Islam]]></title>
<link>http://soaljawab.wordpress.com/2008/03/30/menerima-darah-orang-bukan-islam/</link>
<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 02:12:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>mohd masri</dc:creator>
<guid>http://soaljawab.wordpress.com/2008/03/30/menerima-darah-orang-bukan-islam/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu Alaikum Wr Wb
Ustad, bagaimanakah hukumnya apabila seorang muslim sakit kemudian terpaksa m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><i>Assalamu Alaikum Wr Wb</i></p>
<p style="text-align:justify;">Ustad, bagaimanakah hukumnya apabila seorang muslim sakit kemudian terpaksa menerima darah yang didermakan tetapi yang tersedia adalah darah dari orang selain muslim.</p>
<p style="text-align:justify;">Herman</p>
<h2>Jawapan<!--more--></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh </i></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama sepakat bahawa darah adala benda najis. Semua imam mazhab menyatakan hal yang sama dalam hal ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun mereka mengatakan bahawa darah yang najis itu adalah darah yang keluar dari dalam tubuh kita. Sedangkan darah yang ada di dalam tubuh dan sedang bekerja menyebarkan makanan, oksigen dan lainnya, tidak dikatakan sebagai najis.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab kalau darah di dalam tubuh kita dinyatakan najis, bererti tubuh kita pun najis juga jadinya. Dan kalau tubuh kita najis, bagaimana kita shalat, thawaf dan sebagainya?</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain, para ulama juga menyatakan bahawa tubuh manusia, kafir atau muslim, tidak termasuk benda najis. Kalau pun ada ungkapan di dalam Al-Quran tentang kenajisan orang kafir, maka para ulama sepakat bahawa yang dimaksud dengan najis di dalam ayat itu bukan najis secara hakiki, namun najis secara majazi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa para ulama mengatakan demikian?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini kerana melihat konteks ayat itu yang sedang menjelaskan keharaman orang kafir memasuki wilayah tanah haram di Makkah. Maka ketika orang-orang musyrik itu dikatakan najis, adalah makna majazi. Seolah-olah mereka itu benda najis yang tidak boleh memasuki wilayah yang suci.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi pada hakikatnya tubuh orang kafir bukan benda najis. Buktinya mereka tetap dibolehkan masuk ke dalam masjid-masjid mana pun di dunia ini, kecuali masjid di tanah haram.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau tubuh orang kafir dikatakan najis, maka tidak mungkin Abu Bakar minum dari satu gelas bersama dengan orang kafir. Kalau kita belajar fiqih thaharah, maka kita akan masuk ke dalam salah satu bab yang membahas hal ini, yaitu <i>Bab Su'ur</i>.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sana disebutkan bahawa <i>su'ur adami </i>(ludah manusia) hukumnya suci, termasuk su'ur orang kafir.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka hukum darah orang kafir yang dimasukkan ke dalam tubuh seorang muslim tentu bukan termasuk benda najis. Ketika darah itu baru dikeluarkan dari tubuh, saat itu darah itu memang najis. Dan bekas mengisi darah tentu tidak boleh dibawa untuk shalat, kerana bekas darah itu najis.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun begitu darah segar itu dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, maka darah itu sudah tidak najis lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan darah orang kafir yang sudah masuk ke dalam tubuh seorang muslim juga tidak najis.</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga hukumnya tetap boleh dan dibenarkan ketika seorang muslim menerima pemindahan darah dari penderma yang tidak beragama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh</i></p>
<p style="text-align:justify;"><b>Ahmad Sarwat, Lc</b></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://eramuslim.com/ustadz/thr/8315005012-hukum-menerima-transfusi-darah-non-muslim.htm">http://eramuslim.com/ustadz/thr/8315005012-hukum-menerima-transfusi-darah-non-muslim.htm</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Benarkah Nabi Isa disalib?]]></title>
<link>http://soaljawab.wordpress.com/?p=850</link>
<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 02:09:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>mohd masri</dc:creator>
<guid>http://soaljawab.wordpress.com/?p=850</guid>
<description><![CDATA[Assalamualaikum&#8230;.
Siapakah sebenarnya yang disalib, Nabi Isa atau muridnya. Mohon penjelasanny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><i>Assalamualaikum....</i></p>
<p style="text-align:justify;">Siapakah sebenarnya yang disalib, Nabi Isa atau muridnya. Mohon penjelasannya.Terima Kasih.</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Wasssalamualaikum</i></p>
<h2>Jawapan<!--more--></h2>
<p style="text-align:justify;"><i>Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, </i></p>
<p style="text-align:justify;"><i><br />
</i><br />
Kitab Al-Quran telah dengan tegas menyebutkan bahawa mereka tidak pernah membunuh nabi Isa, bahkan tidak pernah menyalibnya. Yang mereka bunuh atau mereka salib itu adalah orang yang lain yang diserupakan dengan wajah nabi Isa 'alaihissalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sebagai umat Qurani, kita wajib tersinggung dengan sikap yang dilakukan oleh saudara kita yang nasrani. Ini kerana mereka telah melakukan kebohongan yang teramat fatal, dengan mengatakan bahawa mereka telah membunuh atau menyalibnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi sampai ada cerita Nabi Isa berjalan di jalan dengan kawat berduri, memikul kayu salib, ditambahi dengan cerita penebusan dosa. Tentu saja semua cerita itu jelas bertentangan dengan kebenaran hakiki, baik menurut para ahli sejarah apalagi menurut Quran.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam Al-Quran, jelas-jelas disebutkan bahawa nabi Isa tidak pernah disalib oleh siapa pun. Dan juga beliau tidak pernah dibunuh.</p>
<p style="text-align:justify;"><i>dan kerana ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah ", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahawa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa</i>. (QS. An-Nisa': 157)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini mengisyaratkan dengan tanpa ditutupi, bahawa semua itu hanya merupakan kebohongan, khayalan, imaginasi dan cerita nenek moyang yang tidak jelas asal-usulnya. Setidaknya tidak pernah terdapat jalur riwayat sanad yang shahih yang boleh dijadikan sandaran tentang kisah-kisah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kita bandingkan dengan ilmu kritik hadits di dalam agama kita, riwayat tentang penyaliban nabi Isa itu ibarat hadits yang <i>dhaif jiddan </i>(lemah sangat), para perawinya bergelar <i>akdzabunnas</i> (manusia paling dusta) yang tidak akan pernah lulus di dalam pemilihan <i>al-jarhu watta'dil</i>. Bahkan sanadnya tidak nyambung, alian <i>munqathi' </i>atau pun juga mursal.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan menurut para ahli hadits lainnya sudah boleh dikategorikan hadits <i>maudhu' </i>(palsu). Dan dalam agama Islam, hadits palsu sudah pasti tertolak mentah-mentah, jangankan dipakai, ditengok pun tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi sayangnya, kerana saudara kita yang beragama nasrani itu memang tidak punya sistem kritik hadits seperti yang kita punya, makanya cerita-cerita dari berbagai versi habis memporak-porandakan sejarah agama mereka, bahkan sampai ke wilayah yang paling mendasar, yaitu masalah aqidah.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka setiap tahun ketika saudara-saudara kita memperingati hari wafat Isa almasih, kita sebagai muslim akan berbangga, kerana kita punya ilmu kritik hadits. Sehingga semua kisah, cerita atau periwayatan yang tidak jelas pertanggung-jawabnnya, tidak akan pernah boleh masuk ke dalam ajaran agama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ilmu kritik hadits ini sudah membuktikan kepiawaiannya selama 14 abad ini untuk menjaga kemurnian agama ini dari beragam cerita hayal yang tidak jelas hujung pangkalnya. Dan tragedi ketidak-jelasan sumber adalah tragedi terbesar yang menimpa dua agama samawi, nasrani dan yahudi.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun sebagai muslim, kita tetap wajib menghormati apa yang menjadi keyakinan mereka. Kita dilarang mengganggu apa lagi menghalagi apa yang mereka lakukan. Namun yang namanya diskusi, dialog dan studi sejarah bukan bererti harus berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya kita akan katakan bahawa silakan saja anda membuat beragam versi cerita, tapi saranana kami agar agama anda tidak ditinggalkan oleh pemeluknya, cubalah buat cerita yang punya pertanggung-jawapan ilmiyah. Sebab semakin jujur kita terhadap sejarah, maka akan semakin membuat orang yakin dengan kebenaran agama kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, semakin kita tidak punya perhatian terhadap keaslian sejarah, maka orang-orang akan semakin meninggalkan apa yang kita dakwahi.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Lalu Siapa Yang Disalib</b></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Quran tidak secara tegas menyebutkan siapa yang disalib. Yang ditegaskan Al-Quran adalah bahawa yang disalib itu bukan nabi Isa <i>'alaihissalam</i>. Al-Quran menegaskan bahawa beliau telah diangkat ke sisi-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Tetapi Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana</i>. (QS. An-Nisa': 158)</p>
<p style="text-align:justify;">Maka ada berbagai riwayat tentang siapakah orang yang disalib itu. Sebahagian riwayat mengatakan bahawa yang disalib adalah murid nabi Isa yang paling mirip dengan beliau. Murid-murid beliau yang diriwayatkan berjumlah hanya 12 orang ini berebut untuk menjadi ganti, mengaku sebagai nabi Isa untuk melindungi guru mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi dalam riwayat yang lain, yang disalib adalah seorang yang bernama Yudas Eskariot, seorang yahudi yang diserupakan oleh Allah SWT menjadi mirip nabi Isa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ada sekian banyak versi lainnya. Tapi yang benar, yang pasti yang disalib atau dibunuh itu bukan nabi Isa <i>'alaihissalam</i>. Sehingga kepercayaan tentang penebusan dosa yang memang tidak dikenal dalam semua risalah agama samawi, jelas-jelas tidak menemukan relevannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepercayaan tentang penebusan dosa itu datang dari kepercayaan kuno bangsa Eropah, ketika agama ini kemudian dibawa ke sana. Atau dimasukkan oleh Paulus yang memang terlalu banyak mengubah agama ini menjadi sebuah agama baru, yang nyaris 100% terlepas dari agama aslinya yang Allah turunkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan seorang Micheal Hart yang bukan muslim sekali pun dengan tegas menyebutkan bahawa Paul (Paulus?) itulah sebenarnya pendiri agama Kristian dewasa ini, dan bukan nabi Isa. Kerana hal-hal mendasar dari agama itu di hari ini, sudah tidak ada lagi yang sama dengan yang dibawa oleh nabi Isa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bukunya <b>100: A Ranking of the Most Influental Person in History</b>, Michael Hart menuliskan:</p>
<p style="text-align:justify;">"Pengaruh Paul dalam perkembangan Agama Nasrani dapat diukur dari tiga hal. Pertama, kejayaan besarnya dalam penyebaran agama. Kedua, tulisan-tulisannya yang menyusun bahagian-bahagian penting Perjanjian Baru. Ketiga, peranannya dalam hal pengembangan teologi Kristian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari 27 buku Perjanjian Baru, tak kurang 14 dihubungkan dengan jasa Paul. Meskipun ilmuwan moden berpendapat 4 atau 5 buku dari 14 itu ditulis oleh orang lain, namun tak diragukan lagi bahawa Paul-lah orang terpenting secara peribadi menulis Perjanjian Baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengaruh Paul di bidang teologi Kristian betul-betul tak terperikan besarnya. Idea-idenya termasuk hal-hal sebagai berikut: Isa tidak cuma nabi tapi juga suci. <b>Isa wafat demi dosa-dosa kita dan penderitaannya dapat membebaskan kita</b>. Manusia tidak boleh melepaskan diri dari dosa-dosa hanya dengan mencuba melaksanakan perintah-perintah yang tertera dalam Injil, tapi hanya boleh dengan jalan menerima Isa sepenuh jiwa.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Sebaliknya, apabila manusia menerima dan percaya Isa, segala dosa-dosanya akan dimaafkan</b>. Paul juga menjelaskan doktrin-doktrinnya mengenai dosa (lihat Romans 5:  12:19)."</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam halaman lainnya, Micheal Hart menambahkan:</p>
<p style="text-align:justify;">"Paul, lebih dari orang-orang lainnya, bertanggung jawab terhadap peralihan Agama Nasrani dari puak Yahudi menjadi agama besar dunia. Idea sentralnya tentang kesucian Isa dan pengakuan berdasar kepercayaan semata tetap merupakan dasar pemikiran Kristian sepanjang abad-abad berikutnya."</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, mari kita bangun dialog dan diskusi yang lebih ilmiyah, bukan sekadar iman secara buta, tetapi iman yang melek dengan realitas sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;"><i>Wallahu 'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, </i></p>
<p style="text-align:justify;"><b>Ahmad Sarwat, Lc</b></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://eramuslim.com/ustadz/aqd/8322123920-siapakah-disalib.htm">http://eramuslim.com/ustadz/aqd/8322123920-siapakah-disalib.htm</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Muslim Conquests: Violent or Not?]]></title>
<link>http://innerreflectionstranscribed.wordpress.com/?p=302</link>
<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 14:35:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Sumera</dc:creator>
<guid>http://innerreflectionstranscribed.wordpress.com/?p=302</guid>
<description><![CDATA[I was briefly reading up the history of Muslim conquests and began to wonder how the entire process]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I was briefly reading up the history of Muslim conquests and began to wonder how the entire process of spreading Islam was done exactly. We have all heard of "Islam was spread by the sword" but how accurate is that statement? Where and has this statement been borne from? (Orientalists?)</p>
<p> I know during the Prophet's time he <em>(saw</em>) sent out letters inviting people to accept Islam, but I had not realised there was a clause relating to this as it was commonly portrayed to be an open invitation with no compulsion to accept. The following is an excerpt of such a letter sent to Persia (Iran):</p>
<blockquote><p>"In the name of God, the Beneficent, the Merciful. From Muhammad, the Messenger of God, to the great Kisra of Iran. Peace be upon him, who seeks truth and expresses belief in God and in His Prophet and testifies that there is no god but God and that He has no partner, and who believes that Muhammad is His servant and Prophet. Under the Command of God, I invite you to Him. He has sent me for the guidance of all people so that I may warn them all of His wrath and may present the unbelievers with an ultimatum. Embrace Islam so that you may remain safe. And if you refuse to accept Islam, you will be responsible for the sins of the Magi."[8]</p></blockquote>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_conquest_of_Persia">Source</a></p>
<p>Other sources speak of "accepting Islam or be subdued"</p>
<p>Now if Muslim conquests were indeed non-violent and were initially built on trade and export as is commonly proposed as the most effective and speedy method by which Islam spread, then on which occasions was it spread through battles and capturing other lands/cities/tribes/? I know vaugely of the Crusades, so I assume it to be the "norm" of past centuries and era's to create empires and let their influence  and allow them the opportunity to attain "salvation" by reigning over foreign lands, peoples and cultures. Coloniasm isn't any different. Some would say the same about globalisation.</p>
<p>When was it presumed to be necessary to let battle commence? Was it in refusal of the invitation letter? Direct or indirect misdealings and/or threat?</p>
<p>Books on this topic are usually incredibly biased (as are most historical books on any event) which is why whenever I have referred to it, it just confuses the issue further.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendoakan Orang Bukan Islam Yang Bersin]]></title>
<link>http://soaljawab.wordpress.com/2008/03/17/mendoakan-orang-bukan-islam-yang-bersin/</link>
<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 07:50:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>mohd masri</dc:creator>
<guid>http://soaljawab.wordpress.com/2008/03/17/mendoakan-orang-bukan-islam-yang-bersin/</guid>
<description><![CDATA[ Salam,
Apakah hukumnya kita menyebut: “Bless you!” tatkala kenalan non-muslim bersin. Bagaimana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> Salam,</p>
<p>Apakah hukumnya kita menyebut: “Bless you!” tatkala kenalan non-muslim <span><b>bersin</b></span>. Bagaimana kalau dilakukan hanya sekadar menurut kebiasaan tanpa niat berdo’a misalnya.</p>
<p>jawapan:<!--more--></p>
<p><font color="blue" size="+1"><br />
وعليكم السلام و رحمة الله وبركاته</font><font color="blue" size="+1">{ بسم الله الرحمن الرحيم }</font></p>
<p><font color="blue" size="+1">رب إشرح لي صدري و يسرلي أمري وأحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي</font></p>
<p><font color="blue" size="+1">***********************<br />
SJ – 2770 : MENJAWAB BERSIN GOLONGAN BUKAN ISLAM &#38; MENDOAKAN MEREKA<br />
</font></p>
<p>Alhamdulillah , Segala Puja – Puji hanyalah milik Allah Ta'ala semata-mata. Selawat dan salam ke atas Baginda Rasulullah s.a.w, ahli keluarga baginda yang suci, para sahabat yang kesemua mereka itu merupakan golongan yang amat mulia, para ulama' yang mukhlisin , para mujahidin di Jalan Allah Ta'ala dan seluruh muslimin. Amin.</p>
<p>Terima Kasih kepada Saudari Liyana99 di atas soalan yang diajukan .</p>
<p>Menjawab bersin daripada ORANG – ORANG ISLAM adalah salah-satu SUNNAH yang ditunjukkan dan diajar oleh Baginda Rasulullah s.a.w sendiri . Di antara dalil-dalilnya ialah :</p>
<p>{ 1 } ~ Sabda Baginda Rasulullah s.a.w :<br />
<font color="blue" size="+1"><br />
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ<br />
</font><br />
Ertinya : Daripada Saidina Abu Hurairah ra , daripada sabda Baginda Nabi s.a.w :  “ Apabila salah-seorang kamu bersin , maka hendaklah dia menyebut : “ ALHAMDULILLAH “ . Dan hendaklah pula saudara ataupun kawan ( di sisinya yang mendengar ucapan itu ) menyebut : “ YAR HAM KALLOH “ . Dan apabila dia menyebut “ YAR HAM KALLOH “ maka hendaklah ( yang bersin itu membalas ucapan itu pula dengan ) mengatakan : “ YAHDI KUMULLOH WA YUSLIHU BALAKUM “ Hadis Sahih diriwayatkan oleh Al-Imam al-Bukhari rh di dalam Kitab al-Adab .</p>
<p>{ الْحَمْدُ لِلَّهِ }  “ ALHAMDULILLAH “ : Ertinya : “ Segala Puja-Puji Hanyalah Untuk Allah “ .</p>
<p>{ يَرْحَمُكَ اللَّه }  “ YAR HAMU KALLOH “: Ertinya : “ Semoga Dirimu Dirahmati Allah “ .</p>
<p>{ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ } “ YAHDI KUMULLOH WA YUSLIHU BALAKUM : Ertinya : “ Semoga Dirimu Pula Diberikan Hidayah Oleh Allah Dan Diperbaiki Oleh-Nya Akan Hal Keadaan Kamu “ Sahih</p>
<p>{ 2 } ~ Sabda Baginda Rasulullah s.a.w :</p>
<p><font color="blue" size="+1"><br />
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ<br />
</font><br />
Ertinya : Sesungguhnya Saidina Abu Hurairah r.a pernah berkata : Saya pernah mendengar Baginda Rasulullah s.a.w bersabda :  “ Hak seseorang muslim terhadap muslim lain ada lima , iaitu : { 1 } ~ Menjawab salamnya , { 2 } ~ Menziarahinya ketika sakit , { 3 } ~ Mengikuti ( menguruskan ) jenazahnya , { 4 } ~ Memenuhi ( mendatangi ) undangannya ( kendurinya ) , dan { 5 } ~ Menjawab { mendoakannya } ketika dia bersin “ ~ [/color] Hadis Sahih diriwayatkan oleh Al-Imam al-Bukhari rh ( 3 / 1240 ) , Al-Imam Muslim rh ( 4 / 2162 ) , Al-Imam Ahmad rh ( 2 / 540 ) , Al-Imam Ibnu Hibban rh ( 1 / 321 Ihsan ) dan Al-Imam as-Suyuthi rh di dalam “ Al-Jamie’ as-Soghir “ ( 3735 ) .</p>
<p>Daripada kedua-dua hadis di atas , dapatlah kita ketahui bahawa yang dituntut ialah MENJAWAB ( MEMBERI RESPON ) kepada ORANG ISLAM yang bersin ( dan lalu diucapkan pula “ Alhamdulillah “ ) . Adapun terhadap ORANG-ORANG BUKAN ISLAM , maka itu TIDAKLAH DITUNTUT , malahan ia merupakan satu perbuatan bid’ah di dalam berdoa yang tidak pernah ditunjukkan oleh Baginda Rasulullah s.a.w ataupun salah – seorang daripada para sahabat r.a yang mulia itu .</p>
<p>Bagaimana pula jika seseorang itu mengucapkan “ BLESS YOU “ , dan bukannya dia mengucapkan doa “ YAR HAM KUMULLOH “ kepada seseorang bukan Islam yang bersin ? . Bukankah itu TIDAK MENGAPA kerana yang diucapkan itu bukanlah doa di dalam B. Arab , hanya macam ucapan “ SELAMAT SEJAHTERA “ kepada golongan bukan Islam ? .</p>
<p>Jawapannya :  Apabila diucapkan “ BLESS YOU “ maka sudah tentu timbul pula soalan :  “ Siapakah pula yang bless ( memberi rahmat / berkat ) itu ? “ . Sudah tentulah Tuhan ( Allah Ta’ala ) . Dan apakah ini sendiri bukan sebagai sebuah doa ? . Mendoakan rahmat dan berkat Allah Ta’ala kepada orang-orang bukan Islam adalah HARAM dan DITEGAH , dalilnya :</p>
<p><font color="blue" size="+1"><br />
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ<br />
</font><br />
Ertinya :  “ Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman itu berdoa memohon keampunan bagi golongan musyrikin walaupun mereka itu adalah kaum – kerabat , setelah jelas mereka itu adalah bakal penghuni neraka ( dengan matinya mereka di dalam kekafiran ) “ ~ Ayat 113 , Surah at-Taubah .</p>
<p>Walaupun ayat di atas menyatakan bahawa tidak dibenarkan kita memohon ( berdoa ) keampunan bagi golongan musyrikin , akan tetapi ia termasuklah juga dengan berdoa memohon rahmat ataupun keberkatan untuk mereka . Ini disebabkan keampunan itu sendiri akan melahirkan rahmat dan keberkatan Ilahi .</p>
<p>Soalan : “ Kalau begitu , mengapa pula kita DIBENARKAN berdoa agar orang-orang bukan Islam itu diberikan hidayah tetapi TIDAK PULA DIBENARKAN kita mendoakan keampunan untuk mereka . Tidakkah kesemuanya itu akan melahirkan rahmat dan keberkatan Allah ? “ .</p>
<p>Jawapannya :  Mendoakan orang-orang bukan Islam itu agar diberikan hidayah oleh Allah Ta’ala TIDAKLAH SAMA dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan keberkatan . Mendoakan agar mereka diberi hidayah ( petunjuk ) ada dalilnya daripada Baginda Rasulullah s.a.w kerana Baginda s.a.w sendiri pernah mendoakan agar Saidina Umar al-Khattab r.a memeluk Islam lalu menguatkan lagi umat islam di zaman awal kemunculan Islam di Makkah al-Mukarramah .</p>
<p>Adapun mendoakan rahmat dan keberkatan itu TIDAK ADA DALILNYA , malahan yang adalah adalah TEGAHAN dan LARANGANNYA ! .</p>
<p>Walaupun kita tidak boleh mendoakan agar mereka diberikan rahmat dan keberkatan Allah Ta’ala , namun ini TIDAKLAH BERMAKNA kita tidak boleh berbaik-baik ataupun menjalinkan persahabatan dengan mereka . Ada banyak lagi cara kita boleh menjalinkan hubungan yang baik dengan mereka , sekaligus sebagai satu cara dan usaha menarik mereka ( berdakwah ) memeluk ajaran Islam .</p>
<p>Contohnya , apabila kita mendengar seseorang kawan yang bukan Islam itu bersin , lalu kita pun ucapkan :<br />
“ THANKS GOD “ ( Syukur Pada Allah ) .</p>
<p>Kalau dia tanya : “ WHY DID YOU SAY LIKE THAT “ . ( Kenapa kau ucap begitu ? )</p>
<p>Maka jawablah : “ O.K , WHAT WILL HAPPEN IF YOU CAN’T SNEEZE ? “ ( O.K , apa akan terjadi jika engkau tak boleh bersin ? ) .</p>
<p>Kita sambung lagi : “ SURELY YOU WILL BE SICK ! “ ( Pasti engkau akan sakit ! ) .</p>
<p>Setelah dia mendengar , mudah-mudahan dia memberi responnya dengan berkata : “ WHAT A GOOD RELIGION YOU HAVE “ ( Alangkah baiknya ajaran agamamu ) . :yess</p>
<p># Dialog di atas hanyalah sekadar contoh bagaimana kita masih tetap boleh berbaik-baik dengan mereka walaupun tanpa mendoakan rahmat untuk mereka .<br />
Soalan : “ Apakah tidak boleh langsung kita mendoakan rahmat kepada golongan bukan Islam ? . Tidakkah Saidina Ibnu Abbas r.a sendiri mengucapkan “ ASSALAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH “ kepada golongan bukan Islam ? “ .</p>
<p>Jawapannya :  Ya , memang benar ada dinyatakan bahawa Saidina Ibnu ‘Abbas r.a pernah mengucapkan salam seperti itu kepada golongan bukan Islam . Dan apabila beliau ditanya :  “ Mengapakah engkau mengucapkan WA RAHMATULLAH ( dan dengan rahmat Allah ) kepada mereka ? “ . Lalu beliau r.a menjawab : “ Ya , bukankah mereka itu hidup pun dengan sebab adanya rahmat Allah ? “.</p>
<p>Perbuatan Saidina Ibnu ‘Abbas r.a ini adalah SEMATA-MATA PERBUATANNYA . Dan kalau mahu diterima sekalipun kisah tersebut , maka kemungkinan besar yang dimaksudkan oleh ucapan salam beliau r.a itu kepada mereka ialah mendoakan rahmat iaitu mendoakan agar mereka diberikan HIDAYAH dan PETUNJUK oleh Allah Ta’ala ke arah Islam . Itu pun kalau kita mahu menerima kisah di atas sebagai kisah yang sahih .</p>
<p>Dan tidak pula ditemui sebarang dalil daripada Baginda Rasulullah s.a.w yang memerintahkan kita mengucapkan salam seperti yang dilakukan oleh Saidina Ibnu ‘Abbas ra kepada golongan bukan Islam . Malahan yang ada , adalah ayat daripada Surah at-Taubah di atas yang MELARANG kita mendoakan rahmat dan keberkatan kepada golongan ini .</p>
<p>Sekian . Semoga ada manfaatnya bersama .<br />
Wallahu A'alam Bis Sowab<br />
Wahuwa Yahdi Ila Sabilir Rasyad</p>
<p><font color="blue" size="+1"><br />
و صلّى الله على سيّدنا محمّد و على آاله و صحبه و سلّم والحمد لله رّب العالمين<br />
</font>[color="green"] #~@~#~@~#~@~#~@~#~@~#~@~# [/color]</p>
<p><font color="blue" size="+1">RUJUKAN &#38; SARANAN PEMBACAAN  </font></p>
<p>[color=red] 1 ~ TAFSIR al-JALALAIN [/color]<br />
Oleh : Al-‘Allamah Imam Jalaluddin al-Mahalli rh &#38; Al-‘Allamah Imam al-Hafiz as-Suyuthi rh .<br />
ECS Software , Egypt</p>
<p>[color=red] 2 ~ AL-JAMIE’ as-SOGHIR [/color]<br />
Oleh : Al-‘Allamah Imam al-Hafiz as-Suyuthi rh<br />
Terbitan : Maktabah Nazar Mustafa al-Baz , Riyadh</p>
<p>[color=red] 3 ~ FAIDHUL QADIR SYARH al-JAMIE’ as-SOHIR [/color]<br />
Oleh : Al-‘Allamah Syeikh Muhammad Abdur Rauf al-Manawi rh<br />
Terbitan : Darul Kutub al-‘Ilmiyah</p>
<p>[color=red] 4 ~ Penerangan Lisan Daripada Syeikh Soleh Hamdi as-Sisi ha [/color]<br />
{ MA Hadis , Universiti al-Azhar &#38; Pendakwah Kem. Waqaf , Mesir }</p>
<p>Image</p>
<p><font color="blue" size="+1"><br />
و إلى اللقاء إن شاء الله تعالى<br />
والسلام علبكم و رحمة الله و بركاته<br />
01 / Jumadi Tsani / 1424 H<br />
31 / Julai / 2003 M</font></p>
<p><font color="blue" size="+1">KHAMIS~ Bandaraya Kaherah</font></p>
<p><a href="http://al-ahkam.net/home/index.php?name=MDForum&#38;file=viewtopic&#38;t=16326&#38;highlight=bersin&#38;sid=205c30edce8bcc1690af402e42f354c0">al-ahkam </a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Freedom House Data Consistent with Worldwide Islamist Movement]]></title>
<link>http://citizensagainstsharia.wordpress.com/2008/02/25/how-does-the-freedom-house-report-score-muslim-countries/</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 06:49:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Citizens Against Sharia</dc:creator>
<guid>http://citizensagainstsharia.wordpress.com/2008/02/25/how-does-the-freedom-house-report-score-muslim-countries/</guid>
<description><![CDATA[Freedom House puts out a Freedom in the World annual report, scoring each of 193 countries for polit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Freedom House puts out a <a href="http://www.freedomhouse.org/uploads/fiw08launch/FIW08Tables.pdf"><i>Freedom in the World</i> annual report</a>, scoring each of 193 countries for political rights and for civil liberties. Based on these scores, they categorize each country as “Free”, “Partly Free”, or “Not Free”. Their report is in for 2008, and the difference between Muslim countries and non-Muslim countries is stark.</p>
<p>Freedom House does not separate the countries into categories by their predominant religion, so I’ve done that. Here are the countries as I’ve classified them (I would be grateful for a heads-up in the event of any errors):</p>
<p><b>50 Muslim countries:</b> Afghanistan, Albania, Algeria, Azerbaijan, Bahrain, Bangladesh, Bosnia-Herzegovina, Brunei, Burkina Faso, Chad, Comoros, Cote d’Ivoire, Djibouti, Egypt, Eritrea, The Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Indonesia, Iran, Iraq, Jordan, Kazakhstan, Kuwait, Kyrgyzstan, Lebanon, Libya, Malaysia, Maldives, Mali, Mauritania, Morocco, Niger, Nigeria, Oman, Pakistan, Qatar, Saudi Arabia, Senegal, Sierra Leone, Somalia, Sudan, Syria, Tajikistan, Tunisia, Turkey, Turkmenistan, United Arab Emirates, Uzbekistan, Yemen.</p>
<p><b>143 non-Muslim countries:</b> Andorra, Angola, Antigua and Barbuda, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Bahamas, Barbados, Belarus, Belgium, Belize, Benin, Bhutan, Bolivia, Botswana, Brazil, Bulgaria, Burma, Burundi, Cambodia, Cameroon, Canada, Cape Verde, Central African Republic, Chile, China, Colombia, Congo (Brazzaville), Congo (Kinshasa), Costa Rica, Croatia, Cuba, Cyprus, Czech Republic, Denmark, Dominica, Dominican Republic, East Timor, Ecuador, El Salvador, Equatorial Guinea, Estonia, Ethiopia, Fiji, Finland, France, Gabon, Georgia, Germany, Ghana, Greece, Grenada, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Hungary, Iceland, India, Ireland, Israel, Italy, Jamaica, Japan, Kenya, Kiribati, Laos, Latvia, Lesotho, Liberia, Liechtenstein, Lithuania, Luxembourg, Macedonia, Madagascar, Malawi, Malta, Marshall Islands, Mauritius, Mexico, Micronesia, Moldova, Monaco, Mongolia, Montenegro, Mozambique, Namibia, Nauru, Nepal, Netherlands, New Zealand, Nicaragua, North Korea, Norway, Palau, Panama, Papua New Guinea, Paraguay, Peru, Philippines, Poland, Portugal, Romania, Russia, Rwanda, Saint Kitts and Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent and the Grenadines, Samoa, San Marino, Sao Tome and Principe, Serbia, Seychelles, Singapore, Slovakia, Slovenia, Solomon Islands, South Africa, South Korea, Spain, Sri Lanka, Suriname, Swaziland, Sweden, Switzerland, Taiwan, Tanzania, Thailand, Togo, Tonga, Trinidad and Tobago, Tuvalu, Uganda, Ukraine, United Kingdom, United States, Uruguay, Vanuatu, Venezuela, Vietnam, Zambia, Zimbabwe.</p>
<p><b>Comparison:</b> Of the Muslim countries, 25 of 50 (50%) were “Not Free”. 22 (44%) were “Partly Free”, and only 3 (6%) were “Free”. Looking at the extremes, 5 (10%) received the worst score, and none (0%) received the best score. Contrast that with the non-Muslim countries, of which 18 of 143 (13%) were “Not Free”, 38 (27%) were “Partly Free”, and 87 (61%) were “Free”. (That’s 101% due to rounding.)As for the extremes, only 3 (2%) received the worst score while <i>fully 48 (34%) received the very best possible score.</i> Perhaps a table format shows it best:</p>
<p><b>Categories</b></p>
<table border="1">
<tr>
<th>Religion</th>
<th>“Not Free”</th>
<th>NF %</th>
<th>”Partly Free”</th>
<th>PF %</th>
<th>”Free”</th>
<th>F %</th>
</tr>
<tr>
<td>Muslim</td>
<td>25</td>
<td>50%</td>
<td>22</td>
<td>44%</td>
<td>3</td>
<td>6%</td>
</tr>
<tr>
<td>Non-Muslim</td>
<td>18</td>
<td>13%</td>
<td>38</td>
<td>27%</td>
<td>87</td>
<td>61%</td>
</tr>
</table>
<p><b>Extremes</b></p>
<table border="1">
<tr>
<th>Religion</th>
<th>Worst Score</th>
<th>Worst Score Percent</th>
<th>Best Score</th>
<th>Best Score Percent</th>
</tr>
<tr>
<td>Muslim</td>
<td>5</td>
<td>10%</td>
<td>0</td>
<td>0%</td>
</tr>
<tr>
<td>Non-Muslim</td>
<td>3</td>
<td>2%</td>
<td>48</td>
<td>34%</td>
</tr>
</table>
<p><b>Number of Countries for Each Score</b></p>
<p>14 is the worst possible score, 2 is the best. Note that no Muslim countries scored 2, 3, or 4, which means that <b><i>78 out of 143 non-Muslim countries, which is 55% of the total number, are freer than any Muslim country.</b></i></p>
<table border="1">
<tr>
<th>Religion</th>
<th>14</th>
<th>13</th>
<th>12</th>
<th>11</th>
<th>10</th>
<th>9</th>
<th>8</th>
<th>7</th>
<th>6</th>
<th>5</th>
<th>4</th>
<th>3</th>
<th>2</th>
</tr>
<tr>
<td>Muslim</td>
<td>5</td>
<td>4</td>
<td>4</td>
<td>12</td>
<td>4</td>
<td>6</td>
<td>7</td>
<td>2</td>
<td>3</td>
<td>3</td>
<td>0</td>
<td>0</td>
<td>0</td>
</tr>
<tr>
<td>Non-Muslim</td>
<td>3</td>
<td>5</td>
<td>3</td>
<td>7</td>
<td>6</td>
<td>6</td>
<td>5</td>
<td>10</td>
<td>11</td>
<td>9</td>
<td>16</td>
<td>14</td>
<td>48</td>
</tr>
</table>
<p><b>Trends:</b> From 2007 to 2008, 8 Muslim countries became less free, and 3 became more free, for a net change of 5 countries out of 50 (10%) moving less free. In comparison, 6 non-Muslim countries became less free, and 3 became more free, for a net change of 3 countries out of 143 (2%) becoming less free. <b><i>The trend toward less freedom in Muslim countries is consistent with claims that the Muslim world is, in general, suffering the effects of a worldwide Islamic movement.</i></b></p>
<p>It is also worth mentioning that the three countries categorized as “Free” (Indonesia, Mali, and Senegal) are borderline. In Freedom House’s scoring system, the best possible score is 2, and these three countries scored a 5. 2-5 is “Free”, 6-10 is “Partly Free”, and 11-14 is “Not Free”. You can find many <a href="http://citizensagainstsharia.wordpress.com/2008/02/01/is-there-a-liberal-secular-tolerant-muslim-country/">examples</a> of religious intolerance in Indonesia. Less information is available about Mali and Senegal in West Africa, in part because they are quite small, with a population of about 12 million each. However, the little information I have found indicates they are <i>relatively</i> tolerant and quite unorthodox, with little Islamist activity at this time.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["DIALOG Non-Muslim; Tuan Guru Abdul Hadi Awang"]]></title>
<link>http://epemudapas.wordpress.com/?p=159</link>
<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 03:19:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>e Pemuda PAS</dc:creator>
<guid>http://epemudapas.wordpress.com/?p=159</guid>
<description><![CDATA[





**********************************************************************************************]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/ZT81-ON2ouw'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/ZT81-ON2ouw&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span><br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/ej0SynGPkfI'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/ej0SynGPkfI&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span><br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/ZDGgqbLsDBw'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/ZDGgqbLsDBw&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span><br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/djx39U_5k2o'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/djx39U_5k2o&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span><br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/e-bSfwVHmUY'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/e-bSfwVHmUY&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span><br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/2m2XzjQsWks'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/2m2XzjQsWks&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p>***********************************************************************************************<br />
"hmmm… agak-agaknya BA-PAS menang ke pilihan raya kali ni…"</p>
<p>A. menang besar.<br />
B. kalah!!!</p>
<p>*** sila klik pos bertajuk <a target="_blank" href="http://epemudapas.wordpress.com/2008/02/15/servey-pilihanraya-umum-ke-12/">"SERVEY Pilihanraya Ke-12"</a><br />
untuk lebih lanjut. ***<br />
***********************************************************************************************</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
