<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>menulis &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/menulis/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "menulis"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 07:37:32 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Singapore Sling Relationship Map]]></title>
<link>http://pkab.wordpress.com/?p=1157</link>
<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 00:01:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>pkab</dc:creator>
<guid>http://pkab.wordpress.com/?p=1157</guid>
<description><![CDATA[By: Jay Dugger



Singapore Sling Relationship Map



PLAYERS in Transhuman Space should pluck out t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>By: Jay Dugger</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl>
<dt><a href="http://pkab.files.wordpress.com/2008/07/singaporesling.jpg"><img class="size-full wp-image-1158" src="http://pkab.wordpress.com/files/2008/07/singaporesling.jpg" alt="Singapore Sling" width="500" height="509" /></a></dt>
<dd>Singapore Sling Relationship Map
</dd>
</dl>
</div>
<p>PLAYERS in Transhuman Space should pluck out their eyes before looking at this.</p>
<p>What moral crimes exist in <em><a rel="nofollow" href="http://e23.sjgames.com/item.html?id=SJG37-1140">Singapore Sling</a></em>?</p>
<p>I used <a rel="nofollow" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ron_Edwards_%28game_designer%29">Ron Edwards</a>' relationship map tool from his <em><a rel="nofollow" href="http://www.sorcerer-rpg.com/product.php/sorcererssoul.html">The Sorcerer's Soul</a></em> to analyze characters from the <a rel="nofollow" href="http://www.sjgames.com/transhuman/index.html#books">Transhuman Space</a> scenario <em>Singapore Sling</em>.</p>
<p>Source: <a href="http://hellofrom.blogspot.com/2008/01/singapore-sling-relationship-map.html" target="_blank">Hello From...</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[harus serius?]]></title>
<link>http://femiadi.wordpress.com/?p=972</link>
<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 12:22:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
<guid>http://femiadi.wordpress.com/?p=972</guid>
<description><![CDATA[kami berdebat kecil.
tentang blog. tentang pijatan kecil di papan kunci. tentang kerenyitan dahi dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>kami berdebat kecil.</p>
<p>tentang blog. tentang pijatan kecil di papan kunci. tentang kerenyitan dahi dan sembulan senyum.</p>
<blockquote><p><em>"knapa harus mengumbar kisah diri di blog?" gugatnya. </em></p>
<p><em>"lha harusnya?" tanya saya.</em></p>
<p><em>"tak ada yang harus dan tidak harus ..." jawabnya cepat.</em></p>
<p><em>"kemudian, sebaiknya menulis apa?" tanya saya. </em></p>
<p><em>"yang serius dikit lah. tentang pengetahuan. kan berguna buat yang baca ... bukan cuma cerita soal toilet, tentang sepeda lipat, tentang kemarahan ..." katanya. saya terdiam. </em></p></blockquote>
<p>dan saya menutup pembicaran tanpa berkata-kata lagi. <a href="http://femiadi.wordpress.com/files/2008/07/blog.jpg"><img class="size-medium wp-image-973 alignright" style="float:right;" src="http://femiadi.wordpress.com/files/2008/07/blog.jpg?w=125" alt="" width="125" height="126" /></a></p>
<p>saya capek menulis yang serius-serius. sungguh.</p>
<p>blog menjadi ruang saya yang sangat memberi keleluasaan menulis untuk saya. tidak ada editor. barangkali hanya celaan dan gugatan kecil saja. tapi, tulisan saya adalah tulisan asli saya. tak ada editan layaknya di pabrik kata-kata tempat saya bekerja.</p>
<p>saya ingin menulis tentang keriangan kecil di ujung minggu. maka saya menulis keriangan kecil di ujung minggu. saya ingin menulis tentang teman yang bangsat. maka saya menulis teman yang bangsat. saya ingin menulis tentang gowesan pertama dengan sepeda setelah 13 tahun tak bersepeda. maka saya menulis gowesan pertama dengan sepeda setelah 13 tahun tak bersepeda.</p>
<p>mau apa lagi?</p>
<p>lebih dari sekadar ruang, ini adalah ceceran cerita tentang hidup saya. tentang keceriaan, kelesuan, kemalasan, kejengkelan, dan barangkali sampah.</p>
<p>tak perlu mampir untuk mengintip. tak usah mengetuk pintu dan berharap ada yang membukakan pintu. lewati saja tanpa perlu untuk menoleh.</p>
<p>ini rumah saya untuk mencandai kehidupan saya. tak harus selalu serius menulis. 20 jam saya habiskan untuk menulis 3-4 tulisan seminggu. tulisan yang serius-serius. 8-10 jam saya habiskan untuk wawancara dengan 3-4 narasumber. sumber yang serius-serius.</p>
<p>lantas, apa halaman putih ini masih harus saya goresi dengan tulisan yang serius?</p>
<p>maaf, saya tidak mau.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[$8M ascend from'Blonde']]></title>
<link>http://gardnerclara.wordpress.com/2008/07/05/8m-ascend-fromblonde/</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 11:21:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>gardnerclara</dc:creator>
<guid>http://gardnerclara.wordpress.com/2008/07/05/8m-ascend-fromblonde/</guid>
<description><![CDATA[Dyadic weeks foresightedly fault all the time, &#8220;Legally Blonde&#8221; has the earmarks speakin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dyadic weeks foresightedly fault all the time, "Legally Blonde" has the earmarks speaking of a Strawhat stricture, Bloomberg Rag accessible.Advancing sales are$8 a lakh and incorporating, and "The sworn testimony in regard to blubber is not deserving belief," vocal Scott Mallalieu, executive officer with respect to Complement Sales Branch, the largest factor forBroadway assembly hall parties. Directed and choreographed congruent with Jerry Mitchell, them follows the trick with regard to the 2001 Reese Witherspoon melodramatic, which was predicated on Amanda Obscure's novel of manners. Laurence O'Keefe ("Bash Fellow") and Nell Benjamin, who are corporate towards any more, wrote the characterization.A Strawhat songlike founded on Daddy longlegs-Boy is scheduled featuring ever-new notation and lyrics thereby the double, Something else Studios named Friday. Not an illusion study be found directed thanks to Ambitious conqueror Julie Taymor("The Label Potentate"). "We Will power Country rock Her," which uses songs in connection with 1970s and'80s hot jazz wire Ace, has opened a la mode Toronto. Yourselves premiered inflowing England corridor May 2002 and is at any rate in shorthand there.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[Kelas Menulis #1] Membuat Nama Samaran]]></title>
<link>http://qizinklaziva.wordpress.com/?p=334</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 07:30:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>qizinklaziva</dc:creator>
<guid>http://qizinklaziva.wordpress.com/?p=334</guid>
<description><![CDATA[Beberapa hari ini aku teramat melankolis. Aku tiba-tiba terkenang saat-saat aku masih berkutat denga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari ini aku teramat melankolis. Aku tiba-tiba terkenang saat-saat aku masih berkutat dengan buku duduk manis di 'Kelas Menulis' <a href="http://www.rumahdunia.net" target="_blank">Rumah Dunia</a> untuk belajar jurnalistik, sastra, dan skenario film. Itu sudah terjadi sejak enam tahun silam, tepatnya sejak awal 2001. Saya masuk dalam angkatan <span style="text-decoration:line-through;">bersenjata</span>  pertama. Saat ini Kelas Menulis sudah memasuki angkatan ke-12.<img class="alignnone" src="http://www.laymark.com/i/m/m177.gif" alt="" /><!--more--></p>
<p>Saya teringat materi pertama di kelas ini. <img class="alignnone" src="http://www.laymark.com/i/m/m058.gif" alt="" />Saat itu suhu menulis di Rumah Dunia yaitu <a href="http://www.golagong.com" target="_blank">Gola Gong</a>, langsung memberi titah agar seluruh peserta kelas menulis membuat nama pena alias nama samaran. Ups, saya nggak nyangka dengan materi pertama ini. Awalnya saya kira di kelas menulis ini akan diajari dasar-dasar jurnalistik macem 5W+1H atawa bagaimana cara membuat alur, plot, karakter untuk cerpen. Ternyata materinya hanya diminta membuat nama pena!</p>
<p><!--Lanjutin Bacanya DEHH!! --></p>
<p>Gong sih menyarankan agar nama pena itu UNIK, BERMAKNA, dan MUDAH DIINGET. Setelah beberapa menit, peserta langsung punya nama pena sendiri, <a href="http://ibnuadamaviciena.wordpress.com" target="_blank">Ibnu Adam Aviciena </a>(aslinya Ade Jaya), ada Najwa Fadia (saya lupa nama aslinya, <a href="http://profiles.friendster.com/user.php?uid=15468847" target="_blank">Korie Lawa </a>(nama aslinya Endang Rukmana, penulis buku ML dan peraih Youth Writers Unicef Award), <a href="http://muhden.wordpress.com" target="_blank">Muhzen Den </a>(nama aslinya Deden), Rimba Alang-Alang (nama asli dari Rizal). Ada juga sih yang bikin nama pena hanya dengan menyingkat namanya, misalnya si Adkhilni Mudkhola Sidqi yang kemudian bikin nama pena menjadi Adkhilni MS.</p>
<p>Sementara aku sendiri memilih nama Qizink La Aziva. Aku sih ngerasa nama ini cukup unik, buktinya <a href="http://ritasubrata.wordpress.com/" target="_blank">RITA </a> nyangka nama ini adalah perpaduan antara Jepang dan Spanyol, padahal itu adalah perpaduan antara Jawa dan Arab, seperti yang saya jelaskan <a href="http://qizinklaziva.wordpress.com/about/#comment-325">di sini</a>. Uniknya lagi, saat melacak nama Qizink lewat om Google, maka yang muncul semunya masih terkait dengan diriku sendiri. Coba bandingkan kalo namanya misalnya nama penaku Soeharto, waduh... yang muncul pasti perihal orang klain juga.</p>
<p>Emang apa sih makna nama Qizink La Aziva itu? <img class="alignnone" src="http://www.laymark.com/i/m/m182.gif" alt="" /></p>
<p>Begini, Qizink itu kalo dalam bahasa jawa (Kijing) artinya batu nisan sedangkan La Aziva aku ambil dari bahasa Arab yang artinya La Asyifa yang artinya bukan obat. Makna nama samaranku ini sebenarnya sebuah sindiran terhadap kondisi masyarakat, terutama di Banten yang masih memercayai takhayul dan gaib dengan menaruh banyak harapan pada kuburan-kuburan. Begitulah maknanya...</p>
<p>Apakah nama ini mudah diinget? saya tak tahu pasti jawabannya. Mungkin pembaca yang bisa menjawabnya?</p>
<p>Ini adalah pelajaran pertama 'Kelas Menulis'. Saya usahakan pelajaran Kelas Menulis lainnya bisa terus dibagikan... CIAW (qizink)<img class="alignnone" src="http://www.laymark.com/i/m/m007.gif" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jawa Vs Cina]]></title>
<link>http://hmcahyo.wordpress.com/?p=484</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 07:23:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>hmcahyo</dc:creator>
<guid>http://hmcahyo.wordpress.com/?p=484</guid>
<description><![CDATA[
Alhamdulillah setelah seharian kemarin dikejar deadline sana-sini untuk persiapan raker kantor di H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>
Alhamdulillah setelah seharian kemarin dikejar deadline sana-sini untuk persiapan raker kantor di Hotek Asida Batu dan nggak bisa online akhirnya pagi (05/07/08) ini bisa menyempatkan nulis – disela-selah rehat sarapan pagi.</p>
<p>Brr.. dingin sekali… apalagi pemanas air di ruangan nggak nyala.. wah dua kali raker di hotel ini, kok ya pas dapet kamar yang pemanasnya mati : (  …. Padahal dinginnya.. brr.. kayak air es… ndak tahu kalo nggak dapat tumpangan mandi di kamar lain.. nanti masuk sesi raker cuci muka aja : )</p>
<p>*****</p>
<p>Nah kembali saya pengin nerusin cerita oleh-oleh pas jadi pengawas SNMPTN tanggal 3-4 /07/08 kemarin.. Kali ini Pak SUG (kenalan saya pas jadi pengawas) cerita tentang perbedaan orang Jawa (pribumi) dan Cina…<!--more--></p>
<p>“Sampean tahu nggak mengapa orang Cina lebih kaya dari pada kita orang Jawa (wah.. orang ini curang padahal di aslinya dari Kalimantan) ….?” Tanyanya pada saya…dan dia menjawabnya sendiri:</p>
<p>“Kalo orang Jawa.. pas kecil… seneng-seneng… kalo sudah tua bingung….cari duit… beda tuh dengan orang Cina…!”</p>
<p>“Bedanya Pak?”</p>
<p>“Kalo orang Cina.. pas masih SD… belajar (sambil memperagakan orang menulis) ..di took… ada orang beli… berhenti sebentar… SURUH MELAYANI… Nah kalo orang Jawa.. pas SD… maen layangan…. Pergi ke Matos.. main di Timezone…..”</p>
<p>“Gitu ya…”</p>
<p>“Nah… besar dikit pas SMP dia SUDAH TAHU DAN PAHAM HARGA-HARGA DI TOKO …. Orang Jawa.. wah mulai gaya… yang punya uang dah mulai petentang-petenteng…. Kebut-kebutan…” katanya sambil memperagakan orang naik motor sambil belok-belok..</p>
<p>Saya cuman senyum aja melihat aksinya : )</p>
<p>“Apalagi kalo SMA… wah orang kita (jawa) sudah ngabis-ngabisin uang orang tua… nah… kalo Cina…SMA sudah mulai bisa di SERAHIN NGELOLA TOKO…”</p>
<p>“Benar juga … “ batin saya</p>
<p>“Lulus SMA… SUDAH MULAI BUKA USAHA SENDIRI… cari lokasi di carikan pinjaman dari Bank SALIM sama orang tua atau paman-pamannya ..... Saling percaya maksudnya ... “ lanjutnya sambil ketawa...</p>
<p>“Bisa aja Pak Sug ini..”</p>
<p>“Lha... kalo orang kita... wah pada bingung cari kerja......pontang-panting sana sini...” katanya sambil memutar-mutar tangan menunjuk ke kanan dan ke kiri...</p>
<p>Saya manggut-manggut.</p>
<p>“Usia lima puluh... dah bisa bilang ke anak-anaknya ... kamu kelola toko ini... kamu pegang perusahaan ini... kamu pegang showroom mobil.....ini... dipegang orang jawa saja... .. lha kita.. umur 40 -50 ... masih nyangkul... jadi kuli bangunan.... bingung ...” ceritanya sambil memperagakan orang mencangkul dan mengecat..</p>
<p>Wah ada benernya juga...</p>
<p>“Tahu nggak kenapa orang Cina lebih kaya... ?“ tanyanya lagi..</p>
<p>Saya hanya diam...menunggu dia menjawab sendiri pertanyaannya..</p>
<p>“Kalo orang kita punya pikiran.. harta.. ditinggal nggak dibawa mati ... kalo mereka (orang cina) ... khan  enggak... mati aja butuh harta yang banyak mereka ..”</p>
<p>“ya..ya...di tempat saya ada dua desa yang dijadikan makam orang cina.. orang cina memang punya keyakinan kalo mati hartanya dibawa... makanya kuburan orang cina mesti besar-besar... bahkan ada yang luasnya bisa sampe seperemat lapangan bola...” tambah saya</p>
<p>“Nah... sampean tahu – atau pernah dengar mengapa orang cina nggak ada yang mati di bawah usia lima tahun.. atau masih anak-anak?”</p>
<p>“Lha masak nggak ada?”</p>
<p>“Ya...soalnya nggak pernah diumumin... kalo yang mati anak-anak – pokoknya kalo matinya dibawah usia produktif... ini aib....” jelasnya serius</p>
<p>“Lho iya.. tah?”</p>
<p>“Lho sampean ini gimana.. coba lihat di koran-koran yang ditaruh di koran pas mati (diumumkan maksudnya) pasti yang tua-tua.. yang diatas 60 tahun... nah soalnya lagi kalo yang mati tua dapet angpao banyak... bisa tambah kaya...”</p>
<p>“Emang gitu pak?”</p>
<p>“Iya... makanya kalo pas anak-anak yang mati.. udah... diserahkan ke yayasan... anu... suruh makamin... nggak usah orang lain diberitahu....”</p>
<p>“Gitu ya?”</p>
<p>“He-eh... nah kalo ada yang tanya... mana anakmu yang itu... pasti dijawab... itu... ikut neneknya... atu ikut pamannya.... makanya agar tidak sial.. biasanya keluarga yang anaknya mati itu nyari orang lain.. saudaranya kek... pamannya kek... entah dibawa dari kota lain atau dari RRC sana... di bilang ... nah ini sodara saya yang ini disini...”</p>
<p>“Oooooooooo..... gitu ya?” saya masih terheran-heran..</p>
<p>“Lha iya... memang gitu...”</p>
<p>“Baru ngeh saya...” saya manggut-mangut saja.</p>
<p>*******</p>
<p>SEDIKIT KOMENTAR SAYA:</p>
<p>Mendengar cerita itu saya jadi ingat.. temen-temen SMP saya yang cina... dia memang dan adik-adiknya memang sudah diajarin kerja sejak SD dan selau dapat giliran jaga toko di Pasar Lawang... sekarang memang tokonya sudah nggak ada tapi saya lihat rumahnya semakin besar dan megah... dan saya lihat bapaknya yang sudah tua kalo pagi dan sore hanya duduk-duduk di teras rumah.... yang dipenuhi mobil-mobil bagus...</p>
<p>Selain itu temen saya Ketua JPMI Malang Raya Pak Asmualik yang pengusaha busana muslim itu.. pernah cerita.. bagaimana dia suatu ketika pergi belanja di toko milik orang cina betapa terkesannya dia melihat anak pemilik toko yang masih SD kelas 4 sudah bisa melayani pembeli dengan baik dan bisa menjawab pesanan telepon dari pelanggan...</p>
<p>“Aku masih susah ngajarin anak-anakku kayak gitu.. padahal di Didin itu sudah SMP...” katanya pada saya...</p>
<p>Saya juga ingat pas fotokopi di toko dekat kantor milik cina... saya lihat anak-anaknya yang SD kalo siang belajarnya ya di toko sambil sesekali disuruh-suruh...bantu ngambil ini-itu.. saya mama papanya..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang aku,ayahku dan keluargaku ..]]></title>
<link>http://mudabentara.wordpress.com/?p=144</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 05:20:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>mudabentara</dc:creator>
<guid>http://mudabentara.wordpress.com/?p=144</guid>
<description><![CDATA[Tadi pagi ayah ku datang dari meulaboh, beliau datang dengan adikku, maklum, anak smp sekarang lagi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Tadi pagi ayah ku datang dari meulaboh, beliau datang dengan adikku, maklum, anak smp sekarang lagi libur panjang, sekalian aja dia datang kesini untuk jalan2.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam perjalanan ini beliau tiba agak telat, sewaktu aku telpon jam 6.20, posisi beliau masih di lambaro, baru tiba dirumah jam 7 pagi,</p>
<p class="MsoNormal">Setiba ayahku dirumah, aku membantu beliau menurunkan barang-barang bawaan beliau, ada tanaman, beberapa kotak, seperti biasa, ayahku adalah penggemar tanaman, terutama yang bermamfaat, harmoni alam merupakan unsu terpenting dalam kehidupan beliau, begitu pikirku,</p>
<p class="MsoNormal">setelah menurunkan semua barang ayahku duduk di bangku malas didepan rumah kami, bangku itu bangku kayu, bersandar serasi dengan pohon ubi kayu yang memayunginya, menjadi tempat yang asyik untuk berteduh, ditengah panas nya banda aceh yang sudah beberapa bulan tak diguyur hujan, setelah duduk, seorang tetanggaku yang juga saudara datang menghampiri ayahku , <span style="color:#993300;">namanya bang john, pria paruh baya berdarah jawa medan yang tegar meurutku, hidup baginya adalah pengorbanan, paling tidak pengorbanan bagi anak-anaknya yang berjumlah 5 orang, dan bang jon pun menyalami ayahku, apa kabar pakceh ? dengan logat medan ia menyapa ayahku, diiringi salaman yang khas, dari seorang yang beretika</span>, iya pun ikut duduk di kursi malas tersebut,</p>
<p><!--more-->
<p class="MsoNormal">setelah kedatangan bang jon , datang pula sepupuku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku, <em>ban troh chek</em> katanya dalam bahasa aceh, seperti biasa, <span style="color:#993300;">penampilan sepupuku ini kalau lagi dirumah yaitu selalu ditemani celana boxer setianya yang berwarna pink, yang katanya dia beli di puncak saat liburan sewaktu ia bekerja di bogor, sepupuku yang satu ini orang nya santai, penuh humor, tapi terkadang keras, walau menurutku keras nya ia berarti ketegasan</span> , ia kini beralih menjadi pekerja freelance, dari agen sampai toke kayu, sebenarnya ia tak mempunya<span> </span>latar belakang dalam hal itu ,</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#993300;">setahuku dulunya ia adalah seorang penulis yang produktif, pada masa awal harian serambi Indonesia dulu, ia sering menulis puisi dan dimuat di harian itu, puisinya sangat sering dimuat, kemampuan mengolah katanya mengalir deras, mengambarkan pengatahuannya , hobinya adalah membaca, membaca apasaja katanya padaku , termasuk koran2 yang terbuang di jalan, katanya inspirasi itu tak bertepi, ia hadir kapan saja, dimana saja, tergantung kita , apakah mau memungutnya atau tidak, kata-kata-nya itu ku ingat sampai sekarang,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#993300;"> aku teringat sewaktu awal masuk sma dulu aku<span> </span>pernah meminta kepadanya untuk membuat puisi untukku, katanya, mana buku kosang, puisi apa yang kamu mau, cinta, kehidupan atau apa, terserah kataku, keesokan nya sepulang sekolah , aku melihat buku itu telah penuh dengan puisi di tiap lembarannya, timbal balik, seingatku buku itu setebal 50-an halaman, aku terkejut melihhatnya, apakah ini yang namanya karya, gumamku dalam hati, puisi yang ditulisnya persis seperti yang kuinginkan, tentang cinta, penghianatan dan kehidupan, puisi ini bagus2 sekali bang , kataku padanya, lebih bagus dari punya rendra kataku, jangan bandingkan dengan punya rendra katanya, ia berkata seperti itu karena aku tahu kalau rendra itu idolanya dalam sastera puisi, mengingat kata rendra ia lalu menceritakan tentang kritikan yang dikirimkan rendra dan emha ainun najib terhadap puisinya yang dimuat di salah satu majalah nasional, saat itu ia mengirimkan puisi yang berisikan kritikan terhadap pemerintah , tanggapan rendra dan emha begini katanya : "dik, sekarang ini zaman edan, kamu sebagai anak muda harus berhati-hati dalam menulis, bisa-bisa kita bisa hilang " begitulah sebagian ungkapan yang diingat abangku terhadap isi kritikan mereka.</span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">tapi sayang katanya.... semua arsip-arsip tulisannya telah dijual oleh ibu-nya ke kios untuk menjadi kertas pembungkus cabe, berhubung ibu-nya seorang yang awam..., yang lucu katanya, dalam tumpukan kertas yang dijual ibunya tersebut juga termasuk ratusan lembar surat cinta yang pernah dikirim dan dituliskan untuk puluhan kekasihnya yang tersebar di seluruh aceh ..... malu sekali katanya, sampe semua orang kampung tahu dan membaca surat cintanya yang menjadi pembungkus cabe mereka ... katanya lg sambil tertawa ...</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">Setelah itu ia bercerita tetang pengalamannya menulis , ia menceritakan tentang kebetulan puisinya dimuat diserambi, klau tidak salah saat itu tahun 1995 abangku itu masih kelas 2 sma waktu itu, saat itu ia mengirimkan puisi yang bertemakan tentang seseornag yang telah pergijudulnya “KAU YANG TLAH TIADA”, kebetulan moment tersebut pas dengan meninggalnya artis top Indonesia saat itu yaitu nike ardila katanya, katanya pihak serambi memikir abang menulis puisi itu untuk mengenang kepergian sang biduan nike ardila, padahal katanya, ia mengirimkan puisi itu yaitu untuk mengenang kepergian kakekku yang baru wafat,</p>
<p class="MsoNormal">kakekku sangat berarti baginya, disaat kampung kami di labuhanhaji aceh selatan masih diterangi lampu minyak, kakekku telah mengenalkannya nama-nama seperti Khomeini, saddam husein, yaseer Arafat , george bush kepada abangku katanya, padahal nama-nama itu tak pernah terpikirkan oleh siapapun di kampong kami, kakekku mengenal itu semua dari radio dan surat kabar, ia adalah icon politik bagi kami, abangku juga bercerita tentang bagaimana mereka telah berlangganan Koran serambi Indonesia sejak pertama kali terbit di tahun 90-an, setiap sore, Tgk nacara selalu mengantar Koran serambi kerumah kakek, dengan mengendarai motar astra nya, dari situlah permulaan ketertarikan abangku itu terhadap sastreta dan dunia,</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">Tentang kakekku, beliau adalah manusia sederhana, umurku 6 tahun ketika beliau meninggal, ingatanku masih tersimpan rapi akan memori kenangan tentang beliau, pada saat masih kecil, sewaktu beliau tidur, aku selau<span> </span>mengendus2 dibawah tempat tidur beliau untuk “mencuri” pisang ayam beliau , perbuatanku ini kulakukan karena mak-ngoh (kakak ayahku) menyuruhku, semula aku takut, naluri kecilku seakan tertusuk belati ketika beliau memergokiku, entah berapa kali hal itu kulakukan, yang jelas hal itu sangat menyenagkanku, pikiran kecilku seakan di awang-awang, kenangan kecilku akan beliau hanya sebatas itu …….. memang ada yang lain tetapi hanya cukup diriku sendiri yang mengetahuinya,</p>
<p class="MsoNormal">
</blockquote>
<p class="MsoNormal">kakeku itu seorang uleebalang di labuhanhaji, beliau biasa disenut orang dengan nama uleebalang usman, beliau kelahiran tahun 1917, lahir di labuhan haji , dengna ayah juga seorang uleebalang, beliau menjadi uleebalang pada umur 22 tahun, menggantikan ayahnya yang mangkat, berhubung beliau adalah anak laki-laki yang paling tua, maka beliau yang mengaantikan ayahnya menjadi uleebalang .</p>
<p class="MsoNormal">beliau menjadi uleebalang dengan waktu yang sangat lama, kira-kira 20 tahun sapai ketika pemerintah menciptakan struktur <span> </span>pemerintahan baru yang bernama kecamatan, beliaupun menjadi camat selama 10 tahun, seperti kebiasaan uleebalang , beliau juga menikmati masa mudanya dengan kehidupan yang agak “bandel”, candu , judi merupakan mainan yang lumrah bagi para penguasa pada masa tahun 30-an sampai 50-an,<span> </span>sewaktu menjadi camat yaitu di awal 60-an , kebiasaan itu juga masih berulang ,walaupun telah berkurang .jaringan relasi beliau<span> </span>yang sangat luas dan kuat membuat orang takut kepadanya,</p>
<p class="MsoNormal">ayahku pernah bercerita, sewaktu ayahku kecil , kakekku pernah membuat tempat <span> </span>seperti kasino di labuhanhaji, tempat itu terbesar di barat selatan, sehingga banyak orang2 kaya letting tua di meulaboh yang mengenal kakekku dengan sebutan uleebalang usman, sewaktu membuka kasino tersebut, gubernur aceh pada saat itu yang namanya nyak adam kamil, klau tidak salah beliau adalah seorang militer asal bakongan yang juga teman kekaekku, beliau memutasikan kakeku yang saat itu camat, untuk pindah tugas di banda aceh dan ditempaytkan<span> </span>di kantor gubernur sebagai seorang pegawai tinggi, kata ayahku hal itu dilakukan untuk menghentikan usaha kasino di acah barat selatan,</p>
<p class="MsoNormal">sesampainya di banda aceh, kakekku memilih untuk aktif di organisasi partai, saat di banda aceh ini lah karir politik kakekku berkembang pesat, kakekku menjadi pemegang mandat pertama pendirian partai perti (persatuan tarbiyah islamiyah) di aceh , posisi kakekku di perti saat itu sangat kuat , berhubung beliau di backup dengan 8 orang anggoita dewan yang ada di parlemen aceh, yang pada saat itu anggota-nya masih kira-kira22-an orang ,</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#993300;">beliau juga didukung oleh kekuatan ulama di barat selatan yang mendukung beliau, syaikh muda waly adalah suami keponakan beliau, setelah muda waly meninggal anak-anak beliau sering datang ke rumah kakekku yang saat itu di lampriet, saat itu ayahku masih smu, kata ayahku makanya ayah tahu semua akal mereka, ayahku bercerita bagaimana seorang anak abuya, yang kini sudah menjadi ulama yang sangat terkenal di aceh, setiap malam minggu mengajaknya menonton film India di garuda bioskop, kata ayahku juga dua anak abuya yang lainnya yang kini telah menjadi ulalama-ulama <span> </span>hebat juga sering pergi ke rumah<span> </span>kakekku ,biasanya untuk konsultasi ,berhubung dua dari mereka ada yang telah menjadi anggota dewan .</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">kembali lagi ke ayahku,</p>
<p class="MsoNormal">setelah asyik-asyik ngobrol dengan bang jhon dan bang radjab, ayahku bertanya kepadaku …</p>
<p class="MsoNormal">na ie gam ?</p>
<p class="MsoNormal">hana yah , jawabku</p>
<p class="MsoNormal">na kupi gam ?</p>
<p class="MsoNormal">hana cit yah</p>
<p class="MsoNormal">na saka gam ?</p>
<p class="MsoNormal">hana cit yah</p>
<p class="MsoNormal">ahhh… kiban agam nyoe, meusapeu hana</p>
<p class="MsoNormal">gimana ni jhon , semua gak ada …. Mana cek belum minum kopi ni….. kelakar ayahku sambil tertawa…</p>
<p class="MsoNormal">setelah itu ayahku menyuruhku membeli air dan kopi….</p>
<p class="MsoNormal">Setelah sekembali dari membeli kopi, aku bergegas mengambil tas di dalam kamar…. Karena buru-buru hendak berangkat …sesampai di pintu, ayahku bertanya…</p>
<p class="MsoNormal">Mau kemana gam ?</p>
<p class="MsoNormal">Agam ikot spmb juga ya ?</p>
<p class="MsoNormal">Gak kataku dengan wajah pucat …. Karena sebenarnya aku memang mau pergi ikot spmb..</p>
<p class="MsoNormal">Ayahku berkata lagi …. Banyak kali kendaraan di jalan jhon, maklum hari ini spmb, anak-anak kampong yang baru ke banda aceh, lalu lalang kayak semut di jalanan…</p>
<p class="MsoNormal">Kadang gam ikot spmb juga ya… kata ayahku sekali lagi ….</p>
<p class="MsoNormal">Dengan wajah pucat aku berkata..</p>
<p class="MsoNormal">Gak…aku gak ikot spmb, kami lagi ujian sekarang ,kan lusa kemaren baru bayar spp…lalu aku pergi ,mengendarai motor menuju tempat tes spmb</p>
<p class="MsoNormal">
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#993300;">Dalam perjalanan aku bergumam dalam hati,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#993300;">aku memang tak mengikuti spmb,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#993300;">karena sekarang aku mengikuti tes snmptn,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#993300;">spmb tak ada lagi …… bukankah aku tak berbohong kepada ayahku ……. Semoga aku lulus karena itu, walaupun tak berani jujur .</span></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Adventures speaking of Power elite Munchausen(1988)]]></title>
<link>http://gardnerclara.wordpress.com/2008/07/04/the-adventures-speaking-of-power-elite-munchausen1988/</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 12:06:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>gardnerclara</dc:creator>
<guid>http://gardnerclara.wordpress.com/2008/07/04/the-adventures-speaking-of-power-elite-munchausen1988/</guid>
<description><![CDATA[Need to The self see that him?If ourselves do in odd moments.
The Lowdown:A new subdebutante follows]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Need to The self see that him?<br />If ourselves do in odd moments.</p>
<p>The Lowdown:<br />A new subdebutante follows the virtual Squire Munchausen well-suited the Luna, perfected the halfway on the Solar system and into the tripe in re a lift cockatrice seeing as how homme tries up compare his military band with regard to ace adventurers. Terry Gilliam (The Fisher Diamonds, 12 Monkeys, Monty Python And The Votive candle) overplays his smartness and delivers a elephantine and unmindful six-gun that manages more than one smiles in other respects laughs. Near duplicate discordant respecting his extraneous films, this is growingly exciting to its desideratum or else its allegation.</p>
<p>Reviews:<br />Documentary Descendants Interlineation<br />Fine Ebert</p>
<p>Categories: muffle, operatic notice, Terry Gilliam, Eric Toddle along, Jonathan Pryce, Indra Thurman dorm-1578084627054482</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KAYA DENGAN MENULIS???]]></title>
<link>http://rahasiabisnisinternet.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 10:08:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>indotranslator</dc:creator>
<guid>http://rahasiabisnisinternet.wordpress.com/?p=14</guid>
<description><![CDATA[Hentikan petualangan Anda, stop mencari-cari usaha yang tak pasti, pencarian Anda telah berakhir. Si]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hentikan petualangan Anda, stop mencari-cari usaha yang tak pasti, pencarian Anda telah berakhir. Situs ini menawarkan sesuatu yang riil. Murni berdasarkan pengalaman. Harap baca sampai tuntas. Segera bersikap. Milyaran rupiah menjadi masa depan Anda. Peluang hari ini adalah momentum kehidupan Anda. Sekali lagi, BACA SAMPAI TUNTAS....</p>
<p>Bagaimana Menjadi Penulis yang</p>
<p><a href="http://rahasiabisnisinternet.files.wordpress.com/2008/07/cover20e-book.jpg">&#60;img src="http://<img src="http://rahasiabisnisinternet.wordpress.com/files/2008/07/cover20e-book.jpg" alt="cover01" />" alt="" class="alignnone size-medium wp-image-21" /&#62;</a></p>
<p>KAYA RAYA<br />
Dulu penulis tak begitu dihargai. Sekarang? SAMA SAJA. Nasib penulis sangat memperihatinkan. Tapi kini fajar baru telah tiba. Anda Penulis? Bersiaplah jadi Milyarder</p>
<p>Honor atau Royalti telat bahkan tak dibayar adalah sebagian dari penderitaan penulis.Penerbit dan penulis seolah dua sosok yang besebrangan. Di satu sisi penerbit itu sangat berkecukupan, namun disisi lain, para penulis seperti gembel.</p>
<p>Akhirnya saya sadar, potensi buku sebenarnya sangat besar. Seorang penulis bisa kaya raya alias sejahtera asal mereka merubah taktik. Caranya, jadi pengusaha buku atau owner penerbitan. Hasilnya sangat fantastis. Saya bagikan rahasia ini kepada Anda. Rahasia ini hanya ada di situs ini. Saya ajarkan cara kaya dari buku dari A sampai Z. Modal kecil bahkan tanpa modal, Anda menjelma menjadi pribadi sukses.</p>
<p>Perkenalkan nama saya Toha Nasrudin S.Ag atau sering menggunakan nama pena Abu Al-Ghifari, lahir tanggal 9 Juni 1971 di Bandung. Saya bukan sarjana dengan latar belakang pendidikan bisnis, saya jebolan pesantren dan alumnus IAIN/UIN SGD Bandung dengan basic ilmu keislaman. Saat ini berhasil mendirikan 3 penerbitan buku dan beberapa perusahaan yang terkait dengan buku. Semuanya memberikan income sangat besar dalam hitungan milyaran rupiah dalam setiap tahunnya. Selengkapnya Klik disini</p>
<p>Saya terbuka saja, hasil yang saya dapatkan mencapai milyaran rupiah bahkan dalam tahun ketiga menyentuh hampir 5M. Namun tidak mudah mendapatkan semua itu. Saya bekerja keras untuk mendapatkannya. Berbagai halangan dan rintangan telah saya alami. Setiap hari saya mengumpulkan kesabaran untuk bisa bertahan. Setiap hari pula saya mengumpulkan keberanian lebih besar lagi untuk bisa sukses.</p>
<p>Namun Anda lebih beruntung, Anda tidak perlu dan mudah-mudahan tidak mengalami seperti yang saya alami. Jatuh bangun menjadi penulis dan mendirikan usaha penerbitan dengan modal dengkul. Anda tinggal menyerap intisari dari yang saya alami. Bagaimanapun pengalaman adalah guru bijaksana, termasuk pengalaman saya. Lantas apa yang saya lakukan selama ini? semuanya telah saya rengkum dalam e-book di bawah ini.</p>
<p>PETA HARTA KARUN<br />
Kaya Cepat dengan Selfpublishing</p>
<p>"Tidak ada alasan bagi Anda, baik sebagai penulis, editor, ataupun pengusaha untuk tidak membaca karya Abu Al-Ghifari ini"<br />
Bambang Trim, CEO MQS dan Wakil IKAPI Jabar</p>
<p>Subhanallah!! Luarbiasa!! Fantastis!! Jujur saja, ini satu-satunya buku di Indonesia yang mengungkap rahasia bisnis besar dibalik self publishing. Saya sudah ngubek-ngubek Gramedia, tapi gak nemu buku yang mau abis-abisan membongkar rahasia bisnis self publishing. Mungkin penerbitnya takut kehilangan penulis ya. hehe.. Saya benar-benar berterimakasih dan salut buat Pak Toha yang mau membuka rahasianya.<br />
Ika Aryani , Pebisnis Selfpublishing</p>
<p>PETA HARTA KARUN</p>
<p>e-book Peta Harta Karun merupakan sebuah buku elektronik (e-book) yang berisi pengalaman sejati Toha Nasrudin S.Ag (nama pena: Abu Al-Ghifari) dalam menjalani profesinya sebagai penulis dan pengusaha bisnis penerbitan yang dikelola secara mandiri dengan modal minimal. Penerbitan jenis ini disebut self publishing.</p>
<p>"Saya adalah praktisi buku yang tidak mau membebani diri dengan teori yang terlalu rumit" demikian kata beliau. Artinya bisnis ini bisa dilakukakan oleh siapa saja terutama para penulis buku, penerjamah, dan peminat dunia penerbitan karena tidaklah rumit.</p>
<p>Omzet yang dihasilkan self publishing ini memang sangat menakjubkan, mencapai 5M dalam 3 tahun bisnisnya. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.</p>
<p>Apa dan bagaimana beliau menjalankannya? buku ini membahas dari proses awal hingga sukses. sangat detail dan benar-benar lain dari yang lain. Siapapun Anda, harus memiliki buku ini. Beliau susah payah membuatnya khusus untuk Anda.</p>
<p>Kanapa saya buat e-book ini?</p>
<p>Kenapa saya buat buku yang penting ini? saya sudah lama prihatin dengan kondisi penulis Indonesia yang kesejahteraannya nyaris tak beranjak. Seperti pernah saya alami. Selama saya mengelola penerbitan, begitu banyak penulis yang mengeluh kekurangan dana untuk berbagai keperluan, padahal di antaranya penulis ternama dengan banyak karya. Kenapa? Mereka tidak memiliki strategi dalam menulis.</p>
<p>Saya terdorong untuk mengengkat kesejahteraan mereka dengan pengalaman saya ini. Kini saya dapat mengatakan, “penulis insya Allah kaya”, bukan sekedar kaya hati, wawasan, dan pengalaman, tapi sejahtera dari segi materi. Caranya jadilah penulis hebat dan selfpublishing.</p>
<p>Lantas apa yang mungkin saya dapatkan dari e-book ini?</p>
<p>Anda akan mendapatkan semua penjelasan berdasarkan pengalaman saya teknik menjadi penulis laris manis dan teknik mendirikan penerbitan sendiri atau self publishing. E-book ini mendorong Anda menjadi seorang yang bukan sekedar penulis, melainkan ikut langsung berkiprah mendirikan sebuah penerbitan sendiri yang saya sebut swakelola atau self publishing sehingga penulis dapat memaksimalkan karyanya dan memperolah hasil yang layak.Tak dapat dipungkiri, mereka yang sukses di dunia penerbitan dengan memiliki penerbitan yang besar, awalnya adalah seorang self publishing. Jika Anda mengikuti petunjuk seperti yang ada di buku ini, bukan tak mungkin satu, dua, atau lima tahun ke depan penerbit Anda akan berubah menjadi penerbit raksasa lengkap dengan mesin cetaknya. Amin.</p>
<p>Tidak ada rekomendasi yang terbaik untuk Anda selain membali dua e-book ini sekarang juga. Terlambat berarti kehilangan waktu dan peluang. Insya Allah kami memberikan layanan super cepat. Member Area kami aktifkan paling paling lambat 12 jam semenjak Anda membeli. Tidak Puas, uang kembali. Lebih jelasnya mengenai e-book penting ini, silakan baca keterangan dibawah ini.</p>
<p>DAFTAR ISI E-BOOK</p>
<p>Peta Harta Karun</p>
<p>KAYA CEPAT DENGAN SELFPUBLISHING</p>
<p>Bagian Pertama<br />
Saat Paling Menegangkan (Sebuah Otobiografi)<br />
Bab 1 Nostalgia Masa lalu: Dari Lumpur ke Buku</p>
<p>Bagian Kedua<br />
Membuka Pintu Harta Karun<br />
Bab II Kenapa Harus Kaya?<br />
Bab III Mambuka Pintu Harta Karun<br />
Bab IV Pondasi Kaya dan Tetap Kaya Selama-lamanya</p>
<p>Bagian Ketiga<br />
Menjadi Penulis yang Kaya Raya<br />
Bab V Strategi Kaya Raya dari Menulis<br />
Bab VI Menjadi Penulis yang Beda bahkan ‘Gila’<br />
Bab VII Menjadi Penulis Laris Manis<br />
A. Bagaimana Agar Menjadi Penulis Produktif<br />
B. Bagaimana Agar Mampu Menulis Dalam Situasi dan Kondisi Apapun<br />
C. Bagaimana Agar Tulisan Anda Pasti Dimuat Oleh Koran dan Majalah Manapun,<br />
D. Bagaimana Agar Tulisan Anda Tak Pernah Ditolak Penerbit Buku Manapun,<br />
E. Bagaimana Agar Penerbit Antri Menanti Tulisan Anda<br />
F. Bagaimana Agar Mampu Menulis Buku yang Selalu Meledak<br />
G. Bagaimana Agar Selalu Mendapatkan Royalti Puluhan Juta Terus Menerus Dalam Satu Bulan</p>
<p>Bagian Keempat<br />
Menjadi Milyarder dari Bisnis Buku<br />
Bab VIII Awal Kiprah: Saat Tidak Ada yang Percaya (Pengalaman Pribadi yang Paling Berharga)<br />
A. Pengalaman Buku Pertama<br />
B. Modal Awal, Rincian Biaya Cetak dan Kalkulasi Keuntungan<br />
C. Pemasaran Buku dan Pengalaman dengan Ditributor Tunggal<br />
D. Buku Kedua dan Selanjutnya<br />
E. Memasarkan Sendiri<br />
F. Nama Pena<br />
Bab IX Langkah Demi Langkah Mendirikan Penerbitan Sendiri (Selfpublishing)<br />
A. 6 Alasan Kenapa Harus Mendirikan Penerbitan Sendiri?<br />
B. Prospek Bisnis Buku<br />
C. Mengurus Izin Usaha<br />
D. Hindari Utang; Hati-hati dengan Bank<br />
E. Teknik Jitu Membidik Pangsa Pasar Potensial<br />
F. Seleksi Naskah Berkualitas<br />
G. Pembarian Royalti dan Honorarium<br />
H. Proses Produksi<br />
I. Teknik Promosi yang Menghasilkan Penjualan<br />
J. Proses Penjualan<br />
K. Quality Control, Proses Packing dan Pengiriman<br />
L. Evaluasi<br />
M. Pengalaman Pahit Bersama Agen<br />
N. Pengalaman Indah Bersama Agen</p>
<p>Bagian Kelima<br />
Kaya dan Lebih Kaya Lagi<br />
Bab X Menggandakan Keuntungan: Menabur Uang dalam Investasi Aman</p>
<p>Bagian Keenam<br />
Kekayaan Penuh Berkah<br />
Bab XI Menggandakan Keuntungan Lebih Besar Lagi<br />
A. Manularkan Kesuksesan Kepada Generasi Muda<br />
B. Membersihkan Kekayaan dari Hak Orang Lain<br />
C. Membagi Keuntungan dengan Keluarga Besar</p>
<p>Bagian Ketujuh<br />
Data Agen-Agen Penting Dan Surat Perjanjian<br />
Bab XII Daftar Agen Terbaik<br />
Bab XIII Daftar Agen Hitam (Berbahaya)<br />
Bab XIV Surat Perjanjian Pemasaran Dengan Agen<br />
Bab XV Surat Perjanjian Penerbitan Dengan Penulis</p>
<p>Jumlah halaman: 200 halaman dengan ukuran A4 atau jika dibukukan sekitar 350 halaman.</p>
<p>Selengkapnya baca di link ini http://<a href="http://www.penulissukses.com?id=mukhid08">www.penulissukses.com?id=mukhid08</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Investigative Reporting]]></title>
<link>http://fordiletante.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 03:38:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>fordiletante</dc:creator>
<guid>http://fordiletante.wordpress.com/?p=17</guid>
<description><![CDATA[Andreas Harsono
Apakah semua wartawan menjalankan investigasi?
Jawabnya bisa ya bisa tidak. Sebagian]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Andreas Harsono</strong></p>
<p>Apakah semua wartawan menjalankan investigasi?</p>
<p>Jawabnya bisa ya bisa tidak. Sebagian wartawan mengatakan setiap reporter seorang investigator. Namun ada yang mengatakan tidak. Wartawan yang ikut pertemuan pers, menyodorkan tape recorder dan kadang-kadang terima amplop, pasti bukan seorang investigator.<!--more--></p>
<p>Ada juga yang berpendapat setiap wartawan seyogyanya menjadi seorang investigator. Atau dipertajam lagi, ada yang mengatakan bahwa setiap wartawan harus bisa menjadi seorang investigator. Entah itu wartawan liputan kota atau reporter bisnis. Bahkan wartawan yang bertugas meliput mode juga bisa jadi investigator. Logikanya, kejahatan tak mengenal bidang-bidang liputan. Di mana-mana bisa terjadi kejahatan.</p>
<p>Sebagian wartawan juga mengatakan bahwa investigasi adalah pekerjaan jurnalisme yang dikaitkan dengan upaya membongkar apa-apa yang kesalahan dan dirahasiakan. Namun apakah membongkar skandal antara seorang redaktur dengan mantan sekretarisnya juga dikategorikan investigasi? Apakah membongkar skandal seorang politikus dan seorang aktivis perempuan bisa dikategorikan investigasi? Berhakkah media masuk hingga ke ruang pribadi ini? Apa beda investigative reporting dan in-depth reporting?</p>
<p>DARI MUCKRAKING HINGGA INVESTIGATIVE REPORTING</p>
<p>Sebelum masuk ke perdebatan-perdebatan tersebut, ada baiknya kita melihat apa yang terjadi di negara-negara lain yang tradisi persnya, lebih tua dari Indonesia. Di Amerika Serikat, istilah investigative reporting mulai populer pada 1975 ketika di Columbia didirikan Investigative Reporters and Editors Inc. Sebelumnya ada istilah muckraking journalism, antara 1902 hingga 1912, ketika majalah McClure's menerbitkan laporan-laporan yang membongkar politik uang elite Washington. Sekarang IRE jadi salah satu organisasi terkemuka dalam masalah investigasi dengan anggaran $800,000 per tahun[2]. Setiap tahun IRE mengadakan seminar teknik-teknik baru dalam investigasi, baik dalam pengelolaan database maupun spesialisasi tertentu (lingkungan hidup misalnya), serta memberikan hadiah buat karya-karya investigasi yang bagus di seluruh Amerika Serikat. Ia memperkenalkan sistem riset lewat internet maupun pemakaian penginderaan jarak jauh.</p>
<p>Di Asia saya kira Filipina yang pertama kali memiliki organisasi. Philippines Center for Investigative Journalism didirikan sekelompok wartawan muda pada 1989, sesaat setelah diktator Ferdinand Marcos melarikan diri dari Manila. Direktur PCIJ Sheila Coronel datang ke Indonesia dan memberikan ceramah di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Ujungpandang pada 1-11 Oktober 1999[3]. Menurut Coronel, mereka mendirikan PCIJ karena media di mana mereka bekerja tak menyediakan suasana yang memungkinkan bagi wartawan-wartawan muda itu untuk membuat in-depth reporting maupun investigative reporting. Budaya newsroom di Filipina lebih banyak dihabiskan untuk meliput breaking news daripada analisa yang mendalam.</p>
<p>Pada November 1998 di Cambridge, Amerika Serikat, juga diadakan pertemuan perdana dari International Consortium of Investigative Journalists yang memberikan penghargaan buat wartawan-wartawan yang berkarya dengan baik di bidang investigasi. Untuk pertama kali penghargaan ini diberikan kepada Nate Thayer dari mingguan Far Eastern Economic Review Hongkong atas jerih-payah Thayer mewawancarai tokoh Khmer Merah Pol Pot[4].</p>
<p>Di Indonesia sendiri kurang jelas mulai kapan istilah liputan investigasi mulai populer. Namun setidaknya ada beberapa majalah yang secara eksplisit pada 1990-an menggunakan kata "investigasi." Dwi-mingguan Tajuk yang didirikan tahun 1996 memposisikan dirinya sebagai majalah "berita, investigasi dan entertainmen". Majalah Tempo juga menambahkan satu rubrik "Investigasi" ketika terbit kembali 6 Oktober 1998[5].</p>
<p>Namun apa yang dinilai sebagai “investigasi” yang mungkin paling terkenal di Indonesia adalah liputan harian Indonesia Raya atas kasus korupsi di Pertamina dan Badan Logistik antara 1969 dan 1972. Harian itu melaporkan dugaan korupsi besar-besaran di Pertamina dengan memanfaatkan sumber-sumber anonim dari dalam perusahaan negara tersebut. Pertamina dan Presiden Suharto menolak adanya korupsi. Walaupun Indonesia Raya terkesan agak crusading dalam liputannya namun beberapa tahun kemudian terbukti bahwa Pertamina memang penuh dengan korupsi hingga hampir membangkrutkan pemerintahan Suharto.</p>
<p>Dalam lima tahun terakhir ini, saya pikir liputan investigasi skala internasional yang dilakukan oleh wartawan Indonesia adalah investigasi tentang skandal emas Busang yang dibuat oleh wartawan lepas Bondan Winarno. Ia melanglang buana, pergi ke Calgary dan Toronto di Kanada, Manila di Filipina serta hutan rimba Busang di Kalimantan untuk menelusuri investigasinya yang dituangkan dalam bentuk sebuah buku.[6] Bondan juga menelusuri berbagai dokumen tentang pertambangan mineral dan cara-cara untuk "meracuni" mata bor dengan "emas luar" sedemikian rupa sehingga dibuat kesimpulan ada cebakan emas yang luar biasa besarnya di bawah permukaan hutan Busang.</p>
<p>Intinya Bondan menganggap Michael de Guzman, geolog senior Bre-X, "meracuni" sample hasil pemboran mereka dan melakukan kejahatan canggih untuk memperkaya diri mereka. Bondan secara mengejutkan juga memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Bondan melaporkan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan Busang itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti yang dimiliki de Guzman. Geolog Filipina ini juga mempunyai gaya hidup mewah, suka berfoya-foya, main perempuan, yang tidak cocok dengan tipe orang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Aneh juga bahwa de Gusman tidak duduk di samping pilot helikopter namun di belakang. Bondan mewawancarai dua orang dokter yang melakukan autopsi terhadap jasad tersebut serta seorang dari empat isteri de Guzman.</p>
<p>Dari gambaran sekilas atas pekerjaan Bondan maupun Nate Thayer sudah bisa kita ketahui bahwa investigative reporting memang lebih berat dari rata-rata pekerjaan jurnalisme sehari-hari. Bondan butuh waktu dua bulan penuh untuk mengerjakan investigasinya. Thayer bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyakinkan Khmer Merah bahwa ia layak untuk mewawancarai Pol Pot.</p>
<p>Goenawan Mohamad dari majalah Tempo menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme "membongkar kejahatan." Ada suatu kejahatan yang biasanya ditutup-tutupi. Wartawan yang baik akan mencoba mempelajari dokumen-dokumen bersangkutan dan membongkar keberadaan tindak kejahatan di belakangnya.</p>
<p>Namun pemahaman ini perlu dibedakan antara investigasi yang dikerjakan oleh seorang wartawan atau sebuah tim wartawan dengan liputan media atas hasil investigasi pihak lain. Ketika mingguan Panji Masyarakat memuat rekaman pembicaraan antara Presiden B.J. Habibie and Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada pertengahan Februari 1999, banyak pengamat media yang mengatakan bahwa itulah investigative reporting. Ahli hukum media Abdul Muis dari Universitas Hasanuddin mengatakan secara etis Panji tidak bisa disalahkan karena pemuatan itu bagian dari investigative reporting.[7] Muis mengatakan bahwa Panji melakukan investigasi. Terlepas dari keberanian Panji dalam menurunkan pembicaraan itu dengan pertimbangan adanya public interest dalam perbincangan tersebut, Prof. Muis lupa bahwa rekaman tersebut bukan dikerjakan Panji sendiri. Yang melakukan investigas bukan Panji karena majalah itu hanya mendapatkan kaset rekamannya saja. Bukan menyadap pembicaraan telpon itu sendiri.</p>
<p>Robert Greene dari Newsday --sering sebagai "Bapak Jurnalisme Investigasi Modern"-- membatasi liputan investigasi sebagai karya seorang atau beberapa wartawan atas suatu hal yang penting buat kepentingan masyarakat namun dirahasiakan oleh mereka yang terlibat. Liputan investigasi ini minimal memiliki tiga elemen dasar: bahwa liputan itu adalah ide orisinil dari wartawan, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditindaklanjuti oleh media; bahwa subyek investigasi merupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal untuk mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca suratkabar atau pemirsa televisi bersangkutan; bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari hadapan publik.[8]</p>
<p><strong> DUA BAGIAN DARI PROSES INVESTIGASI</strong></p>
<p>Mula-mula seorang wartawan investigator adalah wartawan yang tidak menerima mentah-mentah pernyataan sumber-sumber resmi. Seorang wartawan yang mau melakukan pekerjaan riset yang dalam, tekun merekonstruksi suatu kejahatan dan tidak kenal lelah untuk mengejar sumber-sumber yang penting, kira-kira itulah bayangan pekerjaan dalam jurnalisme investigasi.</p>
<p>Sumber-sumbernya banyak. Dokumen-dokumennya bertumpuk. Jelas bahwa sebuah karya investigasi tidak bisa dibuat hanya dengan mengandalkan sebuah laporan pemeriksaan polisi atau keterangan pers sebuah lembaga swadaya masyarakat. Walaupun ukuran waktu bersifat sangat nisbi, namun sebuah laporan investigasi biasanya makan waktu cukup lama. Bisa setengah tahun namun bisa juga setahun tergantung pada ukuran dan cakupan investigasi tersebut.</p>
<p>Menyelidiki perdagangan senjata antar-negara dan penggunaannya oleh para serdadu bayaran tentu lebih lama daripada investigasi penyalahgunaan dana pembangunan Pasar Pagi di kota Tegal. Perdagangan senjata biasanya melibatkan kejahatan terorganisasir di beberapa negara. Serdadu bayaran juga beroperasi lintas batas. Namun ukuran waktu memang nisbi. Kalau mereka yang dianggap melakukan penyalahgunaan renovasi Pasar Pagi ternyata sudah melarikan diri ke luar negeri, tentu waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada sekedar mengejar sumber-sumber antara Tegal dan Jakarta (dalam negeri).</p>
<p>Dalam skala internasional, investigasi memang kebanyakan berkaitan dengan perdagangan senjata, operasi militer rahasia, operasi kelompok-kelompok bisnis raksasa berbau korupsi-kolusi, penyelundupan obat bius maupun penyelundupan tenaga manusia secara global (baik dalam bisnis pelacuran maupun perbudakan modern). Bondan menyelidiki manipulasi contoh emas Busang hingga ke kantor Bre-X di Calgary maupun situs Busang di dalam hutan-hutan Kalimantan Timur. Bondan juga pergi ke Manila untuk menemui saudara perempuan Michael de Guzman untuk mencari jejak ke arah dental record geolog Bre-X tersebut. Thayer harus mondar-mandir antara Bangkok, Phnom Penh dan hutan-hutan perbatasan Thailand-Kamboja untuk mengejar sumber-sumbernya di kalangan Khmer Merah.</p>
<p>Coronel secara singkat membagi proses investigasi ke dalam dua kali tujuh bagian. Pembagian ini untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi:</p>
<p>Bagian Pertama</p>
<p>• Petunjuk awal (first lead)<br />
• Investigasi pendahuluan (initial investigation)<br />
• Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis)<br />
• Pencarian dan pendalaman literatur (literature search)<br />
• Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts)<br />
• Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail)<br />
• Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources)</p>
<p>Petunjuk awal bisa berupa apa saja. Ia bisa berupa sebuah berita pendek di suratkabar. Ia juga bisa berupa sebuah surat kaleng yang menunjuk adanya ketidakberesan dalam suatu lembaga tertentu. Ia juga bisa berupa telpon dari seseorang tak dikenal. Atau petunjuk ini juga bisa berupa suatu peristiwa besar yang sudah banyak diberitakan media massa namun masih menyimpan teka-teki yang kelihatannya menarik untuk dikejar. Teka-teki ini bakal menarik kalau si investigator menemukan sumber penting yang bisa membuka ke arah terbongkarnya teka-teki tersebut.</p>
<p>Indonesia memiliki banyak sekali peristiwa-peristiwa menarik untuk diselidiki. Katakanlah mulai dari isu keterlibatan oknum-oknum berseragam dalam huru-hara 14-16 Mei 1998. Sebuah petunjuk bisa saja muncul dari berbagai arah yang bisa dipakai untuk menyelidiki peristiwa tragis tersebut. Atau pembunuhan mereka yang dituduh sebagai dukun santet di daerah Banyuwangi dan Jember. Mengapa tiba-tiba bupati yang memerintahkan pendaftaran para dukun santet diganti sebelum masa jabatannya berakhir? Huru-hara juga meledak di mana-mana. Dari Ketapang di Jakarta hingga Karawang hingga Kupang dan Ambon. Benarkah ada provokator dan kejahatan terorganisir di balik huru-hara tersebut? Seorang investigator seyogyanya sudah mengetahui latar belakang suatu kasus sebelum bisa mencium adanya petunjuk yang berharga.</p>
<p>Investigasi pendahuluan bisa berupa penggalian data lebih jauh, wawancara maupun peninjauan lapangan. Riset dikerjakan dengan teliti sebelum hipotesis ditetapkan. Pekerjaan yang terarah dan tajam praktis baru dikerjakan setelah hipotesis terbentuk. Bondan Winarno menggunakan metode deduksi untuk mencari data dan membuktikan hipotesisnya. Mula-mula dengan pencarian dan pendalaman literatur. Lantas dikombinasi dengan wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli agar si investigator mendapatkan latar-belakang teknik yang memadai sebelum melangkah lebih jauh.<br />
Coronel menekankan pentingnya pencarian dokumen-dokumen maupun wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi. Dokumen ini penting karena di sanalah biasanya ketentuan-ketentuan yang mengikat bisa dijadikan barang bukti. Dokumen juga bisa dipakai untuk mempertentangkan pernyataan-pernyataan nara sumber yang berbohong. Di Indonesia banyak sekali pejabat atau pemimpin perusahaan yang setengahnya "berbohong" dengan cara menjawab pertanyaan wartawan secara diplomatis atau bahkan dengan memutar-balikkan logika. Keberadaan dokumen tertulis dengan mudah akan membantah semua kebohongan.</p>
<p>Pekerjaan terakhir dalam tahap pertama ini adalah wawancara dengan orang-orang kunci. Pekerjaan ini seringkali makan waktu lama karena jarak maupun waktu. Orang-orang kunci tidak harus orang-orang dengan jabatan tinggi. Seorang tukang perahu dekat Samarinda bisa menjadi sumber penting dalam investigasi Bre-X untuk membuktikan bahwa "peracunan emas" tidak dilakukan di gudang Loa Duri (seperti dilaporkan Asian Wall Street Journal). Atau seorang isteri yang bisa menegaskan bahwa suaminya memiliki gigi palsu di rahang atas. Memang sumber-sumber kunci dalam Bre-X juga termasuk John Felderhof, geolog senior yang juga atasan Michael de Guzman, namun yang seringkali terjadi orang-orang macam ini keberatan untuk bicara dengan wartawan.</p>
<p>Bagian Kedua</p>
<p>• Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation)<br />
• Pengorganisasian file (organizing files)<br />
• Wawancara lebih lanjut (more interviews)<br />
• Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data)<br />
• Penulisan (writing)<br />
• Pengecekan fakta (fact checking)<br />
• Pengecekan pencemaran nama baik (libel check)</p>
<p>Pengamatan langsung di lapangan seyogyanya dilakukan dengan berbekal peta geografis dari lokasi di mana investigasi dipusatkan. Wartawan seringkali melupakan tinjauan dari aspek geografis. Padahal banyak keputusan militer maupun dagang yang dibuat berdasarkan pertimbangan geografis. Ahli penginderaan jarak jauh Christopher Simpson dari American University berpendapat bahwa 80 persen keputusan bisnis maupun dagang ditentukan oleh pertimbangan geografis[9].</p>
<p>Pengorganisasian file akan mempermudah investigator untuk menganalisai dan mencari benang merah atau pola dari berbagai data temuannya. Investigasi akan pembunuhan dukun santet, misalnya, akan lebih mudah bila dibuat matriks yang mencatat kecenderungan-kecenderungan korban pembunuhan. Entah lokasinya, metode pembunuhan atau pola penyebaran desas-desus. Dalam kasus korupsi yang canggih yang melibatkan banyak orang juga akan terbentuk suatu pola bisa semua data yang ada dimasukkan dalam database dengan rapi.</p>
<p>Penulisan laporan merupakan teknik tersendiri yang tentu tidak meninggalkan teknik pembuatan angle, focus dan outline. Data yang sedemikian banyaknya tentu memerlukan seleksi yang ketat untuk memilih mana yang perlu dan mana yang kurang perlu. Walaupun media elektronik di Indonesia belum pernah punya reputasi harum dalam hal investigasi, namun ini lebih disebabkan masalah sejarah dan kepemilikan media elektronik. Cepat atau lambat, investigasi juga akan masuk ke media yang pengaruhnya luas sekali ini. Alat-alatnya pun menjadi lebih rumit. Entah dalam bentuk kamera tersembunyi atau alat rekam ultra sensitif.</p>
<p>Pengecekan fakta (fact checking) sangat penting walau banyak diremehkan wartawan. Apalah arti kerja keras berbulan-bulan bila seorang sumber dengan enteng mengatakan, "Investigasi apa itu? Menulis ejaan nama saya saja salah!" Banyak sekali kesalahan yang kelihatannya remeh namun bisa merusak penilaian orang akan laporan tertentu. Nama orang, tanggal kejadian, hubungan darah antar satu sumber dengan yang lain, jumlah anak, nilai transaksi dan sejuta data lain, harus disisir satu demi satu agar semua data akurat.</p>
<p>Wartawan Richard Lloyd Parry dari harian Independent (London) membuat laporan yang luar biasa soal terjadinya pembunuhan orang-orang Madura oleh orang Dayak di Kalimantan Barat antara Desember 1996 hingga Januari 1997. Parry menulis laporan sepanjang 40 halaman pada majalah Granta terbitan London. Data-datanya luar biasa. Peristiwa penjagalan manusia digambarkan dengan detail. Kuburan-kuburan dibongkar dan tengkorak-tengkorak dihitung. Namun pada halaman awal karangannya, Parry membuat kesalahan kecil: Partai Demokrasi Indonesia disebutnya sebagai partai dengan nomor kontestan dua sedangkan Golongan Karya nomor tiga![10]</p>
<p>Pengecekan fakta ternyata tidak cukup. Dalam jaman di mana kebebasan pers makin terbuka, ancaman seringkali datang dari tuntutan dengan dasar pencemaran nama baik (libel check). Bondan mengatakan bahwa ia digugat pencemaran nama baik masing-masing Rp 1 triliun oleh mantan menteri pertambangan Ida Bagus Sudjana dan putranya Dharma Yoga Sudjana. Hingga kini kasus itu masih ada dalam proses hukum.<br />
Kedua belah pihak tidak mau mundur atau melakukan penyelesaian di luar hukum. Bondan harus membayar pengacara untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Namun ongkos pengacara tidak murah bukan? Bahkan menurut Bondan, biaya untuk melalang buana ke Kanada dan Filipina masih lebih murah dibanding biaya yang sudah dikeluarkannya untuk membayar pengacara. Sebuah penerbitan bisa bangkrut bila tuntutan pencemaran nama baik terbukti benar. Sementara buat wartawan semacam Bondan, mundur berarti membiarkan reputasinya sebagai wartawan dipertanyakan. Jadi sama-sama sulit. Maju kena mundur kena.</p>
<p>Kesimpulannya, tak ada cara lain yang bisa dilakukan seorang wartawan daripada melakukan konsultasi hukum dengan ahli hukum perdata secara benar sebelum laporannya naik cetak atau disiarkan. Editor juga banyak berperan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gugatan pencemaran nama baik. Prinsip cover both side seringkali sangat membantu untuk menghindar dari jeratan tuntutan pencemaran nama baik. Dalam kasus Bondan, ia memang beberapa kali mencoba mewawacarai Sudjana, namun kurang berhasil hingga naik cetak.</p>
<p>HIPOTESIS DAN TEKNIK</p>
<p>Salah satu hal yang banyak membedakan antara in-depth reporting dan investigative reporting adalah ada atau tidaknya hipotesis dalam penelusuran tersebut. Saya berpendapat bahwa dalam batasan tertentu investigative reporting adalah fase kelanjutan dari in-depth reporting. Majalah Panji Masyarakat jelas tidak memiliki hipotesis ketika mereka menurunkan laporan pembicaraan telpon Habibie-Ghalib. Namun keadaan ini akan berbeda bila Panji memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan itu dan melakukan investigasi sendiri. Dalam melakukan in-depth reporting seorang wartawan bisa berangkat praktis dari nol atau dari sekedar membaca kliping-kliping koran. Ketika wartawan itu sudah jauh lebih banyak mengetahui duduk persoalan sebenarnya --setelah melakukan banyak wawancara, membaca tumpukan dokumen serta mendatangi tempat-tempat yang berhubungan dengan liputannya-- saat itulah ia pada titik hendak melakukan kegiatan lanjutan atau tidak. Liputan lanjutan inilah yang lebih bersifat investigatif. Membongkar kejahatan. Mencari tokoh-tokoh jahat dan merekonstruksi kejahatan-kejahatan mereka. Hipotesis sangatlah penting untuk membantuk wartawan memfokuskan dirinya dalam suatu investigasi.</p>
<p>Jakob Oetama dari harian Kompas mengatakan kepada saya bahwa salah satu halangan kegiatan investigasi di harian tempatnya bekerja adalah iklim ewuh-pekewuh terhadap mereka yang dianggapnya terlibat dalam kejahatan tersebut. Keadaan ini yang membuat harian terbesar di Indonesia ini mengalami kesulitan untuk mengejar dan menyelidiki hipotesis-hipotesis yang mereka pikirkan.</p>
<p>Bondan Winarno dalam investigasinya soal Busang mengajukan hipotesis bahwa kematian Michael de Guzman tidak wajar dan aneh. Ia juga curiga bahwa de Guzman adalah otak dari "peracunan" sample emas Busang sehingga harga-harga saham Bre-X naik berkali-kali lipat di mana de Guzman juga sangat diuntungkan. Bondan curiga bahwa mayat yang ditemukan di hutan Busang itu bukanlah mayat de Guzman.<br />
Bagaimana mungkin mayat orang yang jatuh dari ketinggian 800 kaki masih utuh?<br />
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, Bondan mula-mula bicara dengan dokter-dokter yang memeriksa jasad tersebut. Ia menemukan bahwa para dokter Indonesia yang mengatakan bahwa mayat itu mayat de Guzman hanya mendasarkan pengamatannya dari pakaian yang dilaporkan dikenakan oleh de Guzman. Sementara itu dari salah seorang isteri maupun teman-temannya, Bondan menemukan bahwa de Guzman memiliki gigi palsu. Sementara mayat itu tidak ada gigi palsunya.</p>
<p>Bondan juga terbang ke Filipina untuk mencari saudara-saudara de Guzman maupun mantan pembantu-pembantunya di Busang --Cesar M. Puspos dan Jerome Alo-- yang semuanya menolak menemui Bondan. Keluarga de Guzman bahkan menolak untuk memberikan alamat dokter gigi yang biasa merawat Michael. Sementara pembantu-pembantunya seolah-olah raib tertelan bumi. Tidakkah ini indikasi bahwa ada yang aneh dengan "kematian" Michael de Guzman?</p>
<p>Bondan memakai seperangkat teknik untuk membuktikan hipotesisnya. Selain wawancara panjang lebar di beberapa sudut dunia, ia juga mengadakan riset yang panjang, bahkan belajar tentang teknik pertambangan, untuk mendukung investigasinya. Salah satu kelebihan Bondan adalah sikapnya yang sopan. "Sikap santun itu penting. Ini sikap yang penting dalam investigasi," ujarnya. Dengan modal sopan-santun ini pula Bondan menegaskan prinsipnya bahwa ia tidak mau mencuri.</p>
<p>Soal mencuri atau tidak memang jadi isu yang sulit sekali. Banyak wartawan yang berpendapat bahwa dalam investigasi, segala cara dibenarkan, termasuk mencuri dana, mencuri pembicaraan orang maupun mencuri informasi. Panda Nababan, wartawan senior majalah Forum Keadilan, berada pada kubu yang membenarkan pencurian data[11]. Nababan memakai teknik apa saja untuk mendapatkan data. Ia pernah "menipu" petugas bandara Jakarta dengan mengaku dirinya sebagai seorang pejabat tinggi militer dalam kasus pembajakan pesawat Garuda Woyla. Dalam kesempatan lain Nababan juga pernah mencuri dokumen di mobil seorang pejabat tinggi yang hendak menyerahkan dokumen itu kepada Presiden Suharto.</p>
<p>Perdebatan antara boleh tidaknya mencuri data ini memang sangat erat terkait dengan masalah etika dan hukum. Namun secara umum ada beberapa teknik yang biasanya dipakai seorang investigator:<br />
• Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis;<br />
• Paper trail (pencarian jejak dokumen) yang berupa upaya pelacakan dokumen, publik maupun pribadi, untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis;<br />
• Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi, baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background terhadap topik investigasi;<br />
• Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas. Metode ini termasuk melakukan penyamaran. Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera tersembunyi atau alat-alat komunikasi elektronik untuk merekam pembicaraan pihak-pihak yang dianggap tahu persoalan tersebut. Ini memang mirip kerja detektif;<br />
• Pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak yang melakukan atau terlibat dalam kejahatan.</p>
<p>Hipotesis biasanya disusun dengan beberapa pertanyaan dasar. Pertama-tama adalah pertanyaan tentang aktor pelaku kejahatan. Siapa yang bertanggungjawab atas penyalahgunaan dana masyarakat tersebut? Siapa yang memicu huru-hara? Siapa yang mula-mula menyebarkan sentimen anti-etnik atau anti-agama tertentu? Siapa yang melakukan insider trading? Siapa yang mula-mula berkepentingan agar dukun-dukun santet dibunuh?</p>
<p>Dalam investigasi Bondan, ia berteori bahwa kasus Bre-X itu dilakukan oleh Michael de Guzman dan anak-anak buahnya yang dari Filipina. Bukan oleh almarhum David Walsh, orang nomor satu Bre-X, maupun John Felderhof, geolog senior Bre-X yang juga atasan de Guzman. Walaupun kedua orang itu juga diuntungkan oleh ulah de Guzman, namun mereka tidak terlibat dalam skandal ini. Felderhof boleh jadi mengetahuinya namun tidak mencegahnya. Bondan mendapatkan jawaban tertulis dari Felderhof.</p>
<p>Selain hipotesis tentang aktor pelaku, juga perlu ditanyakan cara-cara suatu kejahatan dilakukan. Bagaimana penyalahgunaan itu dilakukan? Bagaimana cara sample mata bor lubang-lubang Busang dicampur dengan emas luar agar ada kesan temuannya memang besar sekali? Bagaimana cara Michael de Guzman menipu sekian banyak konsultan independen yang memperkuat hasil temuan Bre-X? Apa konsekuensi dari penyalahgunaan tersebut? Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya?</p>
<p>Hipotesis ini yang terus-menerus diteliti, diuji dan disimpulkan benar-tidaknya. Kalau kemudian terbukti bahwa hipotesis itu salah, seorang investigator harus dengan besar hati mengakui bahwa tidak terjadi kejahatan di sana. Kasus ditutup. Setiap investigasi memang mengandung kemungkinan bahwa hasilnya ternyata tidak sedramatis yang diperkirakan. Dan hasil yang negatif ini juga seringkali disertai dengan keputusan bahwa hasil investigasi tersebut tidak layak diteruskan.</p>
<p>Kesannya memang sia-sia. Mungkin biaya besar dan waktu lama juga sudah dikeluarkan. Selain itu, seringkali pekerjaan investigasi ini memancing mereka yang dirugikan untuk mengajukan tuntutan hukum. Alasannya pencemaran nama baik. Hipotesis Bondan, misalnya, bisa saja salah kalau suatu saat ia menemukan bukti baru bahwa mayat itu ternyata benar mayat de Guzman. Bondan tentu tidak bisa dibenarkan bila salahnya hipotesis itu tidak diungkapkan namun fakta-fakta yang menyesatkan yang justru dipakai. Padahal ia sudah bekerja keras dan mengeluarkan uang cukup banyak untuk melakukan investigasi itu. Ironisnya, dalam kasus buku "Sebungkah Emas di Kaki Langit" ini Bondan justru tidak mendapat gugatan hukum dari keluarga de Guzman. Ia justru mendapat gugatan pencemaran nama baik dari keluarga Ida Bagus Sudjana. Bondan masih beruntung! Dalam banyak kasus, taruhannya bahkan nyawa.</p>
<p>PENULISAN DALAM SISTEM MEMO</p>
<p>Investigasi yang baik perlu didukung oleh sistem pelaporan yang baik pula. Apalah artinya investigasi yang mahal dan makan waktu bila hasil akhirnya disajikan dengan buruk? Penulisan perlu dibuat menarik. Untuk itu metode penulisan dari pekerjaan besar ini harus didukung oleh sebuah sistem memo.</p>
<p>Sistem ini pada dasarnya adalah sebuah alat bantu buat wartawan untuk mengatur pekerjaan mereka secara lebih sistematis. Sistem ini membantu reporter bekerja lebih mudah dan lebih cepat untuk mencari data dan menyusun arsip. Sistem memo terutama sangat berguna untuk membantu sebuah tim (bahkan seorang wartawan) untuk bekerja sama secara rapi dalam mengerjakan proyek mereka.</p>
<p>Seorang koordinator tim juga bisa memetik keuntungan dari sistem ini. Ia bisa mengetahui setiap perkembangan dari proyek yang sedang dipimpinnya. Ia misalnya dengan teratur bisa membaca laporan-laporan dari anggota-anggota timnya dan dengan cepat bisa memutuskan materi apa yang harus dikembangkan.</p>
<p>Sistem memo ini juga mempermudah penulisan draft final. Alasannya sederhana saja. Dengan secara teratur dan disiplin membuat memo, proses penulisan investigasi menjadi sebuah proses yang dinamis. Penulisan laporan final, entah dalam bentuk buku atau artikel, menjadi sebuah proses kerja yang lebih sederhana karena semua bahan sudah tersedia dan secara teratur diperbarui terus-menerus. Pekerjaan final hanya tinggal dilakukan dengan menyusun blok demi blok sesuai dengan outline laporan yang hendak dibuat.</p>
<p>Sistem memo lagi-lagi diperkenalkan oleh BOB GREENE (dob 6/5/1930) dari Newsday. Ia pada mulanya membuat sistem ini untuk keperluan investigasi di mana pengecekan data-data dibuat dengan sangat hati-hati dan menyeluruh. Sistem memo yang diperkenalkannya sekarang diadopsi oleh banyak organisasi berita di seluruh dunia termasuk International Consortium of Investigative Journalists.</p>
<p>Pertama-tama, ada dua tip yang diperkenalkan oleh GREENE. Nama orang senantiasa diketik dengan huruf besar. Hal ini akan mempermudah editor, koordinator tim atau reporter dalam membaca memo-memo yang berdatangan setiap hari. Seperti tertera dalam artikel ini, penyebutan nama pertama kalinya senantiasa ditambah dengan date of birth (dob). Ini penting karena sebuah sumber boleh jadi baru berumur 68 tahun ketika diwawancarai. Namun ketika naskah diterbitkan umurnya sudah 69 tahun.</p>
<p>Memo ini pada dasarnya adalah produk kerja seorang wartawan; ia merupakan kompilasi dari apa yang dilihat sang wartawan, didengarnya, dibacanya, dibauinya, dirasakannya dan dicicipinya. Seorang wartawan harian atau wire service tidak memakai memo. Laporan harian itu sendiri sudah merupakan kumpulan memo. Mereka yang pernah bekerja di Reuters atau Associated Press tentu mengetahui bagaimana rasanya membuat berita yang diturunkan hampir setiap hari kalau tidak setiap jam.</p>
<p>Memo hanya dipakai untuk mereka yang bekerja dalam periode waktu yang panjang. Bisa mingguan dan yang penting yang terlibat dalam penulisan buku atau investigasi skala besar. Cara tradisional untuk menggunakan jolt note sebelum seorang wartawan menulis laporannya jelas tidak efisien. Ini cara yang kuno. Berapa dari kita yang masih bisa membaca tulisan tangan kita sendiri setelah seminggu? Dan berapa banyak orang yang bisa mengerti tulisan tangan kita? Apabila seorang koordinator membutuhkan jolt note anggotanya, seberapa besar kemungkian bagi si koordinator untuk memahami semua coretan tangan reporternya?</p>
<p>Kalau anggota tim hanya dua orang, dengan mudah keduanya bisa duduk berdua dan membandingkan jolt note. Namun kalau anggota lebih dari empat dan tinggal di tempat-tempat yang berbeda?</p>
<p>Sekedar contoh. Investigasi huru-hara Kebumen. Ada cukup banyak reporter yang bekerja dari Kebumen. Namun mereka merasa tidak cukup. Perlu ada pekerjaan yang dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Ambarawa. Bahkan mereka membutuhkan bantuan tenaga luar untuk terjun di Kebumen. Berapa dana yang harus dikeluarkan bila setiap kali semua anggota tim harus rapat dan diskusi bersama?<br />
GREENE membagi memo dalam dua macam: "copy ready" dan "procedural."<br />
Memo copy ready meliputi semua fakta yang sudah diverifikasi dan bisa diatribusikan dengan jelas (bedakan antara 'off the record' atau 'background' dengan 'attribution' and 'not to be quoted' dan beri kotak dalam jolt note). Memo jenis ini disusun dalam blok-blok yang kelak bisa dipakai dengan mudah dalam sebuah laporan.</p>
<p>Memo ini jelas bukan cerita. Ia bukan cerita jadi karena blok-blok tersebut masih harus diatur dalam komposisi yang siap untuk publikasi. Ia belum memiliki jembatan, lead atau detail lain. Namun memo juga tidak perlu mengikuti aturan 'awal, tengah dan akhir.' Memo ini secara sederhana hanya sekumpulan blok-blok yang dibuat berdasarkan perkembangan harian atau dua harian untuk dipakai dalam konstruksi laporan lebih lanjut.</p>
<p>Ia juga bukan sekedar pemindahan dari jolt note ke komputer. Saya mengambil asumsi bahwa wartawan yang sudah terlibat dalam proyek-proyek skala besar tentu bukan wartawan pemula. Memo ini disusun tidak dengan urutan kronologi dari mulut sang sumber namun berdasarkan subyek.</p>
<p>Memo prosedural meliputi semua fakta yang belum diverifikasi. Teori, spekulasi dan tip termasuk dalam kategori ini. Sebuah sumber bisa menghasilkan dua macam memo. Dalam kasus Kebumen misalnya. Seorang perwira militer mengatakan bahwa Prabowo Subianto ada di Kebumen pada saat yang hampir bersamaan dengan terjadinya huru-hara untuk menengok kuburan kakeknya. Ini fakta yang sudah diverifikasi. Namun ketika perwira ini berspekulasi bahwa Prabowo terlibat kerusuhan, kita harus memasukkannya dalam memo prosedural.</p>
<p>Semua memo ini disentralisasikan pada suatu lokasi yang disepakati bersama. Karena ini sudah jaman internet, memo sebaiknya dikirimkan lewat internet kepada koordinator tim bersangkutan. Ia akan mengeditnya menjadi memo 'copy ready' yang lebih baik dan nantinya akan menyimpannya di database.</p>
<p>Pengiriman memo harus memenuhi jadwal yang telah ditentukan bersama. Bersama dengan datangnya memo-memo ini, koordinator tim bisa melakukan diskusi dengan anggota-anggota timnya. Kalau perlu ada perbaikan atau pengejaran hal tertentu bisa segera diputuskan. Syukur bila database memo ini bisa diletakkan dalam web server yang dilengkapi dengan password. Server ini sebaiknya dilengkapi dengan search engine sehingga bisa diakses oleh semua anggota tim tanpa harus menerima email setiap hari.</p>
<p>Bila semua bahan sudah lengkap dan penulisan final sudah siap dilakukan, wartawan yang bertugas menulis dengan mudah bisa memanfaatkan memo-memo tersebut. Kalau ia harus menulis laporan sepanjang 10,000 kata, katakanlah, ia harus membaca memo-memo sepanjangan 100,000 kata. Sistem ini juga dengan mudah bisa mengatasi proyek yang terbengkalai gara-gara reporternya mengundurkan diri. Seorang anggota tim baru atau koordinator baru akan memiliki kemudahan untuk melanjutkan proyek yang terganggu jalannya itu.</p>
<p>Database ini sebaiknya disimpan. Database ini jangan dibuang setelah proyek berakhir. GREENE memiliki database sejak tahun 1972. Dan dalam banyak hal, blok-blok yang semula tidak kita pakai, lima atau sepuluh tahun lagi, ternyata menjadi sangat berguna.<br />
Investigasi memang akhirnya menjadi sebuah pekerjaan yang bukan saja makan waktu, sulit, penuh disiplin tapi juga berbahaya. Namun resiko besar ini yang tampaknya justru membuat investigasi makin diminati oleh wartawan yang suka tantangan, maupun masyarakat pembaca suratkabar, pendengar radio maupun pemirsa televisi. Kompetisi media yang makin ketat membuat kemungkinan untuk membuat investigasi makin meningkat. Namun kompetisi ini bisa jadi lunak apabila pola kepemilikan media justru didominasi kelompok-kelompok bisnis yang lebih cenderung mengejar hardnews daripada analisa dan kedalaman suatu berita. Apapun yang terjadi, investigative reporting adalah salah satu pengembangan jurnalisme yang paling memikat, paling menantang, paling mahal dan paling tinggi resikonya.</p>
<p>Singkat kata, selamat berpetualang dan bersenang-senang dengan investigasi!</p>
<p><em> Serpong, 8 Februari 1999<br />
Andreas Harsono<br />
Institut Studi Arus Informasi<br />
</em><br />
<em> [1] Makalah untuk pelatihan investigative reporting yang diadakan oleh tabloid mahasiswa Bulaksumur, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 20-24 Februari 1999.</p>
<p>[2] Lihat: "Search opens for IRE executive director", IRE Journal, November-December 1996. IRE juga memiliki website http://www.ire.org yang memiliki link dengan situs-situs riset lewat internet buat para wartawan.</p>
<p>[3] Sebagian ceramah Sheila Coronel dalam perjalanannya itu juga dipakai di sini terutama yang berkenaan dengan hipotesis dan proses investigasi. Coronel datang ke Indonesia atas undangan dari Institut Studi Arus Informasi yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerbitan Yogya (LP3Y) serta Lembaga Pers Dr. Soetomo mengadakan program pelatihan investigative reporting selama enam bulan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Ujungpandang Oktober 1998 hingga April 1999. Saya juga mengadakan wawancara lewat internet dengah Coronel [22/1/1999]. Lihat juga http://www.pcij.org.ph. Sedangkan hasil pelatihan bisa dilihat pada http://crashprogram.cjb.net.</p>
<p>[4] Lihat: situs http://www.icij.org yang juga memiliki link dengan berbagai organisasi pers di seluruh dunia termasuk mereka yang memberikan beasiswa buat wartawan. ICIJ juga memberikan bantuan riset internet buat wartawan lewat situsnya.</p>
<p>[5] Tempo bahkan menjadikan laporan investigasi mereka atas wanita Indonesia keturunan Cina sebagai korban pemerkosaan huru-hara Mei 1998 sebagai laporan kulit depan perdana mereka. Tempo menemui mereka yang membantu korban-korban pemerkosaan. Namun Tempo lebih banyak memfokuskan dirinya pada kontroversi ada tidaknya, atau jumlah, perempuan Cina yang diperkosa, daripada mencari siapa yang melakukan pemerkosaan. Lihat: TEMPO, 6-12 Oktober 1998, "Pemerkosaan: Cerita dan Fakta."</p>
<p>[6] Lihat: Bondan Winarno, "Bre-X Sebungkah Emas di Kaki Langit," Penerbit Inspirasi Indonesia, Jakarta, 1997. Saya juga melakukan wawancara dengan Bondan Winarno lewat telpon Minggu, 24 Januari 1999 untuk mengetahui metode dan hipotesisnya dalam investigasi Busang ini. Ia juga memberikan ceramah mengenai bukunya di Institut Studi Arus Informasi Kamis, 7 Februari 1999.</p>
<p>[7] Lihat: "Prof. Dr. Haji Andi Abdul Muis, SH", Kompas, 21 Maret 1999.</p>
<p>[8] Lihat: John Ullmann, "Investigative Reporting: Advanced Methods and Techniques," St. Martin Press, Inc., New York, 1995, hal. 2. Robert Greene adalah salah satu wartawan terkemuka di Amerika Serikat. Pada tahun 1967 ia mendirikan unit investigasi Newsday yang memenangkan dua Pulitzer Prize pada tahun 1970 dan tahun 1974. Greene pula untuk memiliki ide untuk mengumpulkan puluhan wartawan Amerika Serikat untuk datang ke Arizona menyusul terjadinya pembunuhan terhadap wartawan Arizona Republic Don Bolles tahun 1976. Wartawan-wartawan itu datang untuk bekerja lebih giat membongkar apa yang diliput Bolles dan menyebabkan kematiannya. Bolles dan Greene ikut mendirikan IRE pada tahun 1975.</p>
<p>[9] Christopher Simpson dalam ceramah ICIJ 7 November 1998 di Cambridge. Lihat juga "Journalists' Guide to Experts in Remote Sensing" [Spring 1997] dan "Journalists' Guide to Remote Sensing Resources on the Internet" [Spring 1997].</p>
<p>[10] Richard Llyod Parry, "When Young Men Die," Granta No. 62, London, Summer 1998.</p>
<p>[11] Panda Nababan bercerita tentang caranya "mencuri" laporan Dirjen Perhubungan Laut Fanny Habibie dari mobil Habibie ketika pejabat ini hendak berangkat menemui Presiden Suharto dalam masalah tenggelamnya kapal Tampomas II. Nababan mengatakan ini semua dalam sebuah diskusi tentang investigasi di Institut Studi Arus Informasi Selasa 15 Desember 1998.</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sembilan Elemen Jurnalisme]]></title>
<link>http://fordiletante.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 03:27:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>fordiletante</dc:creator>
<guid>http://fordiletante.wordpress.com/?p=14</guid>
<description><![CDATA[ANDREAS HARSONO
The Elements of Journalism:
What Newspeople Should Know and the Public Should Expect]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ANDREAS HARSONO<br />
</strong><em>The Elements of Journalism:<br />
What Newspeople Should Know and the Public Should Expect<br />
</em>Oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (April 2001) 205 halaman<br />
Crown $20.00 (Hardcover)</p>
<p>HATI nurani jurnalisme Amerika ada pada Bill Kovach. Ini ungkapan yang sering dipakai orang bila bicara soal Kovach. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan, Kovach punya "karir panjang dan terhormat" sebagai wartawan. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, merasa sulit “mencari kesalahan” Kovach.<!--more--></p>
<p>Wartawan yang nyaris tanpa cacat itulah yang menulis buku The Elements of Journalism bersama rekannya Tom Rosenstiel. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di sebuah suratkabar kecil sebelum bergabung dengan The New York Times, salah satu suratkabar terbaik di Amerika Serikat, dan membangun karirnya selama 18 tahun di sana.</p>
<p>Kovach mundur ketika ditawari jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution. Di bawah kepemimpinannya, harian ini berubah jadi suratkabar yang bermutu. Hanya dalam dua tahun, Kovach membuat harian ini mendapatkan dua Pulitzer Prize, penghargaan bergengsi dalam jurnalisme Amerika. Total dalam karirnya, Kovach menugaskan dan menyunting lima laporan yang mendapatkan Pulitzer Prize. Pada 1989-2000 Kovach jadi kurator Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard yang tujuannya meningkatkan mutu jurnalisme.</p>
<p>Sedangkan Tom Rosentiel adalah mantan wartawan harian The Los Angeles Times spesialis media dan jurnalisme. Kini sehari-harinya Rosenstiel menjalankan Committee of Concerned Journalists –sebuah organisasi di Washington D.C. yang kerjanya melakukan riset dan diskusi tentang media.</p>
<p>Dalam buku ini Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun.</p>
<p>Sembilan elemen ini sama kedudukannya. Tapi Kovach dan Rosenstiel menempatkan elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, paling membingungkan.</p>
<p>Kebenaran yang mana? Bukankan kebenaran bisa dipandang dari kacamata yang berbeda-beda? Tiap-tiap agama, ideologi atau filsafat punya dasar pemikiran tentang kebenaran yang belum tentu persis sama satu dengan yang lain. Sejarah pun sering direvisi. Kebenaran menurut siapa?</p>
<p>Bagaimana dengan bias seorang wartawan? Tidakkah bias pandangan seorang wartawan, karena latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agamanya, bisa membuat si wartawan menghasilkan penafsiran akan kebenaran yang berbeda-beda?</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut kebenaran fungsional. Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru-guru mengajarkan sejarah, fisika, atau biologi, pada anak-anak sekolah. Semua ini adalah kebenaran fungsional.</p>
<p>Namun apa yang dianggap kebenaran ini senantiasa bisa direvisi. Seorang terdakwa bisa dibebaskan karena tak terbukti salah. Hakim bisa keliru. Pelajaran sejarah, fisika, biologi, bisa salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun bisa direvisi.</p>
<p>Hal ini pula yang dilakukan jurnalisme. Bukan kebenaran dalam tataran filosofis. Tapi kebenaran dalam tataran fungsional. Orang butuh informasi lalu lintas agar bisa mengambil rute yang lancar. Orang butuh informasi harga, kurs mata uang, ramalan cuaca, hasil pertandingan bola dan sebagainya.</p>
<p>Selain itu kebenaran yang diberitakan media dibentuk lapisan demi lapisan. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh tabrakan lalu lintas. Hari pertama seorang wartawan memberitakan kecelakaan itu. Di mana, jam berapa, jenis kendaraannya apa, nomor polisi berapa, korbannya bagaimana. Hari kedua berita itu mungkin ditanggapi oleh pihak lain. Mungkin polisi, mungkin keluarga korban. Mungkin ada koreksi. Maka pada hari ketiga, koreksi itulah yang diberitakan. Ini juga bertambah ketika ada pembaca mengirim surat pembaca, atau ada tanggapan lewat kolom opini. Demikian seterusnya.</p>
<p>Jadi kebenaran dibentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan. Ibaratnya stalagmit, tetes demi tetes kebenaran itu membentuk stalagmit yang besar. Makan waktu, prosesnya lama. Tapi dari kebenaran sehari-hari ini pula terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap.</p>
<p>Saya pribadi beruntung mengenal Kovach ketika saya mendapat kesempatan ikut program Nieman Fellowship pada 1999-2000 di mana Kovach jadi kuratornya. Di sana Kovach melatih wartawan-wartawan dari berbagai belahan dunia untuk lebih memahami pilihan-pilihan mereka dalam jurnalisme. Tekanannya jelas: memilih kebenaran!</p>
<p>Tapi mengetahui mana yang benar dan mana yang salah saja tak cukup. Kovach dan Rosenstiel menerangkan elemen kedua dengan bertanya, “Kepada siapa wartawan harus menempatkan loyalitasnya? Pada perusahaannya? Pada pembacanya? Atau pada masyarakat?”</p>
<p>Pertanyaan itu penting karena sejak 1980-an banyak wartawan Amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme.</p>
<p>Ini memprihatinkan karena wartawan punya tanggungjawab sosial yang tak jarang bisa melangkahi kepentingan perusahaan di mana mereka bekerja. Walau pun demikian, dan di sini uniknya, tanggungjawab itu sekaligus adalah sumber dari keberhasilan perusahaan mereka. Perusahaan media yang mendahulukan kepentingan masyarakat justru lebih menguntungkan ketimbang yang hanya mementingkan bisnisnya sendiri.</p>
<p>Mari melihat dua contoh. Pada 1893 seorang pengusaha membeli harian The New York Times. Adolph Ochs percaya bahwa penduduk New York capek dan tak puas dengan suratkabar-suratkabar kuning yang kebanyakan isinya sensasional. Ochs hendak menyajikan suratkabar yang serius, mengutamakan kepentingan publik dan menulis, “… to give the news impartiality, without fear or favor, regardless of party, sect or interests involved.”</p>
<p>Pada 1933 Eugene Meyer membeli harian The Washington Post dan menyatakan di halaman suratkabar itu, “Dalam rangka menyajikan kebenaran, suratkabar ini kalau perlu akan mengorbankan keuntungan materialnya, jika tindakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat.”</p>
<p>Prinsip Ochs dan Meyer terbukti benar. Dua harian itu menjadi institusi publik yang prestisius sekaligus bisnis yang menguntungkan.</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel khawatir banyaknya wartawan yang mengurusi bisnis bisa mengaburkan misi media dalam melayani kepentingan masyarakat. Bisnis media beda dengan bisnis kebanyakan. Dalam bisnis media ada sebuah segitiga. Sisi pertama adalah pembaca, pemirsa, atau pendengar. Sisi kedua adalah pemasang iklan. Sisi ketiga adalah masyarakat (citizens).</p>
<p>Berbeda dengan kebanyakan bisnis, dalam bisnis media, pemirsa, pendengar, atau pembaca bukanlah pelanggan (customer). Kebanyakan media, termasuk televisi, radio, maupun dotcom, memberikan berita secara gratis. Orang tak membayar untuk menonton televisi, membaca internet, atau mendengarkan radio. Bahkan dalam bisnis suratkabar pun, kebanyakan pembaca hanya membayar sebagian kecil dari ongkos produksi. Ada subsidi buat pembaca.</p>
<p>Adanya kepercayaan publik inilah yang kemudian “dipinjamkan” perusahaan media kepada para pemasang iklan. Dalam hal ini pemasang iklan memang pelanggan. Tapi hubungan ini seyogyanya tak merusak hubungan yang unik antara media dengan pembaca, pemirsa, dan pendengarnya.</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel prihatin karena banyak media Amerika mengkaitkan besarnya bonus atau pendapatan redaktur mereka dengan besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan bersangkutan. Sebuah survei menemukan, 71 persen redaktur Amerika menerapkan sebuah gaya manajemen yang biasa disebut management by objections.</p>
<p>Model ini ditemukan oleh guru manajemen Peter F. Drucker. Idenya sederhana sebenarnya. Para manajer diminta menentukan target sekaligus imbalan bila mereka berhasil mencapainya.</p>
<p>Manajemen model ini, menurut Kovach dan Rosenstiel, bisa mengaburkan tanggungjawab sosial para redaktur. Mengkaitkan pendapatan seorang redaktur dengan penjualan iklan atau keuntungan perusahaan sangat mungkin untuk mengingkari prinsip loyalitas si redaktur terhadap masyarakat. Loyalitas mereka bisa bergeser pada peningkatan keuntungan perusahaan karena dari sana pula mereka mendapatkan bonus.</p>
<p>BANYAK wartawan mengatakan The Elements of Journalism perlu untuk dipelajari orang media. Suthichai Yoon, redaktur pendiri harian The Nation di Bangkok, menulis bahwa renungan dua wartawan “yang sudah mengalami pencerahan” ini perlu dibaca wartawan Thai.</p>
<p>I Made Suarjana dari tim pendidikan majalah Gatra mengatakan pada saya bahwa Gatra sedang menterjemahkan buku ini buat keperluan internal mereka, “Buku ini kita pandang mengembalikan pada basic jurnalisme,” kata Suarjana.</p>
<p>Salah satu bagian penting buku ini adalah penjelasan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tentang elemen ketiga. Mereka mengatakan esensi dari jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.</p>
<p>Disiplin mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.</p>
<p>Mereka berpendapat, “saudara sepupu” hiburan yang disebut infotainment (dari kata information dan entertainment) harus dimengerti wartawan agar tahu mana batas-batasnya. Infotainment hanya terfokus pada apa-apa yang menarik perhatian pemirsa dan pendengar. Jurnalisme meliput kepentingan masyarakat yang bisa menghibur tapi juga bisa tidak.</p>
<p>Batas antara fiksi dan jurnalisme memang harus jelas. Jurnalisme tak bisa dicampuri dengan fiksi setitik pun. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh pengalaman Mike Wallace dari CBS yang difilmkan dalam The Insider. Film ini bercerita tentang keengganan jaringan televisi CBS menayangkan sebuah laporan tentang bagaimana industri rokok Amerika memakai zat kimia tertentu buat meningkatkan kecanduan perokok.</p>
<p>Kejadian itu sebuah fakta. Namun Wallace keberatan karena ada kata-kata yang diciptakan dan seolah-olah diucapkan Wallace. Sutradara Michael Mann mengatakan film itu “pada dasarnya akurat” karena Wallace memang takluk pada tekanan pabrik rokok. Jika kata-kata diciptakan atau motivasi Wallace berbeda antara keadaan nyata dan dalam film, Mann berpendapat itu bisa diterima.</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel mengatakan dalam kasus itu keterpaduan (utility) jadi nilai tertinggi ketimbang kebenaran harafiah. Fakta disubordinasikan kepada kepentingan fiksi. Mann membuat film itu dengan tambahan drama agar menarik perhatian penonton.</p>
<p>Lantas bagaimana dengan beragamnya standar jurnalisme? Tidakkah disiplin tiap wartawan dalam melakukan verifikasi bersifat personal? Kovach dan Ronsenstiel menerangkan memang tak setiap wartawan punya pemahaman yang sama. Tidak setiap wartawan tahu standar minimal verifikasi. Susahnya, karena tak dikomunikasikan dengan baik, hal ini sering menimbulkan ketidaktahuan pada banyak orang karena disiplin dalam jurnalisme ini sering terkait dengan apa yang biasa disebut sebagai objektifitas.</p>
<p>Orang sering bertanya apa objektifitas dalam jurnalisme itu? Apakah wartawan bisa objektif? Bagaimana dengan wartawan yang punya latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, kewarganegaraan, etnik, agama dan pengalaman pribadi yang nilai-nilainya berbeda dengan nilai dari peristiwa yang diliputnya?</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel menjelaskan, pada abad XIX tak mengenal konsep objektifitas itu. Wartawan zaman itu lebih sering memakai apa yang disebut sebagai realisme. Mereka percaya bila seorang reporter menggali fakta-fakta dan menyajikannya begitu saja maka kebenaran bakal muncul dengan sendirinya.</p>
<p>Ide tentang realisme ini muncul bersamaan dengan terciptanya struktur karangan yang disebut sebagai piramida terbalik di mana fakta yang paling penting diletakkan pada awal laporan, demikian seterusnya, hingga yang paling kurang penting. Mereka berpendapat struktur itu membuat pembaca memahami berita secara alamiah.</p>
<p>Namun pada awal abad XX beberapa wartawan khawatir dengan naifnya realisme ini. Pada 1919 Walter Lippmann dan Charles Merz, dua wartawan terkemuka New York, menulis sebuah analisis tentang bagaimana latar belakang kultural The New York Times menimbulkan distorsi pada liputannya tentang revolusi Rusia. The New York Times lebih melaporkan tentang apa yang diharapkan pembaca ketimbang melaporkan apa yang terjadi.</p>
<p>Lippmann menekankan, jurnalisme tak cukup hanya dilaporkan oleh “saksi mata yang tak terlatih.” Niat baik atau usaha yang jujur juga tak cukup. Lippmann mengatakan inovasi baru pada zaman itu, misalnya bylines atau kolumnis, juga tidak cukup.</p>
<p>Bylines diciptakan agar nama setiap reporter diketahui publik yang bakal mendorong si reporter bekerja lebih baik karena namanya terpampang jelas. Kolumnis adalah wartawan atau penulis senior yang tugasnya menerangkan suatu peristiwa dengan konteks yang lebih luas yang mungkin tak bisa dilaporkan reporter yang sibuk bekerja di lapangan.</p>
<p>Solusinya, menurut Lippmann, wartawan harus menguasai semangat ilmu pengetahuan, “There is but one kind of unity possible in a world as diverse as ours. It is unity of method, rather than aim; the unity of disciplined experiement (Ada satu hal yang bisa disatukan dalam kehidupan yang berbeda-beda ini. Hal itu adalah keseragaman dalam mengembangkan metode, ketimbang sebagai tujuan; seragamnya metode yang ditarik dari pengalaman di lapangan).”</p>
<p>Baginya, metode jurnalisme bisa objektif. Tapi objektifitas ini bukanlah tujuan. Objektifitas adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.</p>
<p>Sayang, dengan berjalannya waktu, pemahaman orisinal terhadap objektifitas ini diartikan keliru. Banyak penulis seperti Leo Rosten, yang mengarang sebuah buku sosiologi tentang wartawan, memakai istilah objektifitas buat merujuk pada pemahaman bahwa wartawan itu seyogyanya objektif.</p>
<p>Saya kira di Indonesia juga banyak dosen-dosen komunikasi yang berpikir ala Rosten. Ini membingungkan. Para wartawan pun, pada gilirannya, ikut meragukan pengertian objektif dan menganggapnya sebagai ilusi.</p>
<p>Bagaimana metode yang objektif itu bisa dilakukan? Kovach dan Rosenstiel menerangkan betapa kebanyakan wartawan hanya mendefinisikan hanya sebagai dengan liputan yang berimbang (balance), fairness serta akurat.</p>
<p>Tapi berimbang maupun fairness adalah metode. Bukan tujuan. Keseimbangan bisa menimbulkan distorsi bila dianggap sebagai tujuan. Kebenaran bisa kabur di tengah liputan yang berimbang. Fairness juga bisa disalahmengerti bila ia dianggap sebagai tujuan. Fair terhadap sumber atau fair terhadap pembaca?</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:</p>
<ul>
<li>Jangan menambah atau mengarang apa pun;</li>
<li>Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;</li>
<li>Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;</li>
<li>Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;</li>
<li>Bersikaplah rendah hati.</li>
</ul>
<p>Kovach dan Rosenstiel tak berhenti hanya pada tataran konsep. Mereka juga menawarkan metode yang kongkrit dalam melakukan verifikasi itu. Pertama, penyuntingan secara skeptis. Penyuntingan harus dilakukan baris demi baris, kalimat demi kalimat, dengan sikap skeptis. Banyak pertanyaan, banyak gugatan.</p>
<p>Kedua, memeriksa akurasi. David Yarnold dari San Jose Mercury News mengembangkan satu daftar pertanyaan yang disebutnya “accuracy checklist.”</p>
<ul>
<li>Apakah lead berita sudah didukung dengan data-data penunjang yang cukup?</li>
<li>Apakah sudah ada orang lain yang diminta mengecek ulang, menghubungi atau menelepon semua nomor telepon, semua alamat, atau situs web yang ada dalam laporan tersebut? Bagaimana dengan penulisan nama dan jabatan?</li>
<li>Apakah materi background guna memahami laporan ini sudah lengkap?</li>
<li>Apakah semua pihak yang ada dalam laporan sudah diungkapkan dan apakah semua pihak sudah diberi hak untuk bicara?</li>
<li>Apakah laporan itu berpihak atau membuat penghakiman yang mungkin halus terhadap salah satu pihak? Siapa orang yang kira-kira tak suka dengan laporan ini lebih dari batas yang wajar?</li>
<li>Apa ada yang kurang?</li>
<li>Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari sumber yang memang mengatakannya? Apakah kutipan-kutipan itu mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan?</li>
</ul>
<p>Ketiga, jangan berasumsi. Jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Wartawan harus mendekat pada sumber-sumber primer sedekat mungkin. David Protess dari Northwestern University memiliki satu metode. Dia memakai tiga lingkaran yang konsentris. Lingkaran paling luar berisi data-data sekunder terutama kliping media lain. Lingkaran yang lebih kecil adalah dokumen-dokumen misalnya laporan pengadilan, laporan polisi, laporan keuangan dan sebagainya. Lingkaran terdalam adalah saksi mata.</p>
<p>Metode keempat, pengecekan fakta ala Tom French yang disebut Tom French’s Colored Pencil. Metode ini sederhana. French, seorang spesialis narasi panjang nonfiksi dari suratkabar St. Petersburg Times, Florida, memakai pensil berwarna untuk mengecek fakta-fakta dalam karangannya, baris per baris, kalimat per kalimat.</p>
<p>MUSIM dingin tahun lalu ketika salju membasahi Cambridge, saya sempat berbincang-bincang dengan Bill Kovach tentang hubungan wartawan dan sumbernya. Saya katakan, pernah ketika mengerjakan suatu liputan, secara tak sengaja, keluarga saya berhubungan cukup dekat dengan keluarga orang yang diwawancarai.</p>
<p>Kami diskusikan masalah itu. Singkat kata Kovach mengatakan, bahwa seorang wartawan “tidak mencari teman, tidak mencari musuh.” Terkadang memang sulit menerima tawaran jasa baik, misalnya diantar pulang ketika kesulitan cari taksi, tapi juga tak perlu datang ke acara-acara sosial di mana independensi wartawan bisa salah dimengerti orang karena ada saja pertemanan yang terbentuk lewat acara-acara itu.</p>
<p>“Seorang wartawan adalah mahluk asosial. Don’t get me wrong,” kata Kovach. Asosial bukan antisosial.</p>
<p>Ini sedikit menjelaskan elemen keempat: independensi. Kovach dan Rosenstiel berpendapat, wartawan boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini (tidak dalam berita). Mereka tetap dibilang wartawan walau menunjukkan sikapnya dengan jelas.</p>
<p>Kalau begitu wartawan boleh tak netral?</p>
<p>Menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Impartialitas juga bukan yang dimaksud dengan objektifitas. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput.</p>
<p>Jadi, semangat dan pikiran untuk bersikap independen ini lebih penting ketimbang netralitas. Namun wartawan yang beropini juga tetap harus menjaga akurasi dari data-datanya. Mereka harus tetap melakukan verifikasi, mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati seorang wartawan.</p>
<p>“Wartawan yang menulis kolom memang punya sudut pandangnya sendiri …. Tapi mereka tetap harus menghargai fakta di atas segalanya,” kata Anthony Lewis, kolumnis The New York Times.</p>
<p>Menulis kolom ibaratnya, menurut Maggie Galagher dari Universal Press Syndicate, “bicara dengan seseorang yang tak setuju dengan saya.”</p>
<p>Tapi wartawan yang menulis opini tetap tak diharapkan menulis tentang sesuatu dan ikut jadi pemain. Ini membuat si wartawan lebih sulit untuk melihat dengan perspektif yang berbeda. Lebih sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak lain. Lebih sulit lagi menyakinkan masyarakat bahwa si wartawan meletakkan kepentingan mereka lebih dulu ketimbang kepentingan kelompok di mana si wartawan ikut bermain.</p>
<p>Kesetiaan pada kebenaran inilah yang membedakan wartawan dengan juru penerangan atau propaganda. Kebebasan berpendapat ada pada setiap orang. Tiap orang boleh bicara apa saja walau isinya propaganda atau menyebarkan kebencian. Tapi jurnalisme dan komunikasi bukan hal yang sama.</p>
<p>Independensi ini juga yang harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang wartawan. Ada wartawan yang beragama Kristen, Islam, Hindu, Buddha, berkulit putih, keturunan Asia, keturunan Afrika, Hispanik, cacat, laki-laki, perempuan, dan sebagainya. Mereka, bukan pertama-tama, orang Kristen dan kedua baru wartawan.</p>
<p>Latar belakang etnik, agama, ideologi, atau kelas, ini seyogyanya dijadikan bahan informasi buat liputan mereka. Tapi bukan dijadikan alasan untuk mendikte si wartawan. Kovach dan Rosenstiel juga percaya, ruang redaksi yang multikultural bakal menciptakan lingkungan yang lebih bermutu secara intelektual ketimbang yang seragam.</p>
<p>Bersama-sama wartawan dari berbagai latar ini menciptakan liputan yang lebih kaya. Tapi sebaliknya, keberagaman ini tak bisa diperlakukan sebagai tujuan. Dia adalah metode buat menghasilkan liputan yang baik.</p>
<p>ELEMEN jurnalisme yang kelima adalah memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan bukan berarti melukai mereka yang hidupnya nyaman. Mungkin kalau dipakai istilah Indonesianya, “jangan cari gara-gara juga.” Memantau kekuasaan dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi.</p>
<p>Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting --sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan.</p>
<p>Sayangnya di Amerika Serikat, saya kira juga di Indonesia, label investigasi sering dijadikan barang dagangan. Kovach dan Rosenstiel menceritakan bagaimana radio-radio di sana menyiarkan rumor dan dengan seenaknya mengatakan mereka melakukan investigasi. Susahnya, para pendengar, pemirsa, dan pembaca juga tak tahu apa investigasi itu.</p>
<p>Salah satu konsekuensi dari investigasi adalah kecenderungan media bersangkutan mengambil sikap terhadap isu di mana mereka melakukan investigasi. Ada yang memakai istilah advocacy reporting buat mengganti istilah investigative reporting karena adanya kecenderungan ini. Padahal hasil investigasi bisa salah. Dan dampak yang timbul besar sekali. Bukan saja orang-orang yang didakwa dibuat menderita tapi juga reputasi media bersangkutan bisa tercemar serius. Mungkin karena risiko ini, banyak media besar serba tanggung dalam melakukan investigasi. Mereka lebih suka memperdagangkan labelnya saja tapi tak benar-benar masuk ke dalam investigasi.</p>
<p>Bob Woodward dari The Washington Post, salah satu wartawan yang investigasinya ikut mendorong mundurnya Presiden Richard Nixon karena skandal Watergate pada 1970-an, mengatakan salah satu syarat investigasi adalah “pikiran yang terbuka.”</p>
<p>Elemen keenam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kovach dan Rosenstiel menerangkan zaman dahulu banyak suratkabar yang menjadikan ruang tamu mereka sebagai forum publik di mana orang-orang bisa datang, menyampaikan pendapatnya, kritik, dan sebagainya. Di sana juga disediakan cerutu serta minuman.</p>
<p>Logikanya, manusia itu punya rasa ingin tahu yang alamiah. Bila media melaporkan, katakanlah dari jadwal-jadwal acara hingga kejahatan publik hingga timbulnya suatu trend sosial, jurnalisme ini menggelitik rasa ingin tahu orang banyak. Ketika mereka bereaksi terhadap laporan-laporan itu maka masyarakat pun dipenuhi dengan komentar –mungkin lewat program telepon di radio, lewat talk show televisi, opini pribadi, surat pembaca, ruang tamu suratkabar dan sebagainya. Pada gilirannya, komentar-komentar ini didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Memang tugas merekalah untuk menangkap aspirasi masyarakat. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik sangatlah penting karena, seperti pada zaman Yunani kuno, lewat forum inilah demokrasi ditegakkan.</p>
<p>Sekarang teknologi modern membuat forum ini lebih bertenaga. Sekarang ada siaran langsung televisi maupun chat room di internet. Tapi kecepatan yang menyertai teknologi baru ini juga meningkatkan kemampuan terjadinya distorsi maupun informasi yang menyesatkan yang potensial merusak reputasi jurnalisme.</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel berpendapat jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu,” yang mengadakan debat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau melakukan provokasi.</p>
<p>Munculnya jurnalisme semu itu terjadi karena debatnya tak dibuat berdasarkan fakta-fakta secara memadai. “Talk is cheap,” kata Kovach dan Rosenstiel. Biaya produksi sebuah talk show kecil sekali dibandingkan biaya untuk membangun infrastruktur reportase. Sebuah media yang hendak membangun infrastruktur reportase bukan saja harus menggaji puluhan, bahkan ratusan wartawan, tapi juga membiayai operasi mereka. Belum lagi bila media bersangkutan hendak membuka biro-biro baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ngomong itu murah. Mendapatkan komentar-komentar lewat telepon dan disiarkan secara langsung sangat jauh lebih murah ketimbang melakukan reportase.</p>
<p>Jurnalisme semu juga muncul karena gaya lebih dipentingkan ketimbang esensi. Jurnalisme semu pada gilirannya membahayakan demokrasi karena ia bukannya memperlebar nuansa suatu perdebatan tapi lebih memfokuskan dirinya pada isu-isu yang sempit, yang terpolarisasi. Buntutnya, upaya mencari kompromi, sesuatu yang esensial dalam demokrasi, juga tak terbantu oleh jurnalisme macam ini. Jurnalisme semu tak memberikan pencerahan tapi malah mengajak orang berkelahi lebih sengit.</p>
<p>SELAMA dua semester mengikuti program Nieman Fellowship, Bill Kovach mengusulkan agar kami ikut suatu kelas tentang penulisan nonfiksi. Dia menekankan perlunya wartawan belajar menulis narasi karena kekuatan jurnalisme cetak sangat ditentukan oleh kemampuan ini. Saya mengikuti nasehat Kovach dan belajar tentang suatu genre yang disebut narrative report atau jurnalisme kesastraan.</p>
<p>Anjuran itu sesuai dengan elemen ketujuh bahwa jurnalisme harus memikat sekaligus relevan. Mungkin meminjam motto majalah Tempo jurnalisme itu harus “enak dibaca dan perlu.” Selama mengikuti kelas narasi itu, saya belajar banyak tentang komposisi, tentang etika, tentang naik-turunnya emosi pembaca dan sebagainya.</p>
<p>Memikat sekaligus relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolakbelakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan.</p>
<p>Padahal bukti-bukti cukup banyak, bahwa masyarakat mau keduanya. Orang membaca berita olah raga tapi juga berita ekonomi. Orang baca resensi buku tapi juga mengisi teka-teki silang. Majalah The New Yorker terkenal bukan saja karena kartun-kartunnya yang lucu, tapi juga laporan-laporannya yang panjang dan serius.</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel mengatakan wartawan macam itu pada dasarnya malas, bodoh, bias, dan tak tahu bagaimana harus menyajikan jurnalisme yang bermutu.</p>
<p>Menulis narasi yang dalam, sekaligus memikat, butuh waktu lama. Banyak contoh bagaimana laporan panjang dikerjakan selama berbulan-bulan terkadang malah bertahun-tahun. Padahal waktu adalah sebuah kemewahan dalam bisnis media.</p>
<p>Di sisi lain, daya tarik hiburan memang luar biasa. Pada 1977 kulit muka majalah Newsweek dan Time 31 persen diisi gambar tokoh politik atau pemimpin internasional serta 15 persen diilustrasikan oleh bintang hiburan. Pada 1997, kulit muka kedua majalah internasional ini mengalami penurunan 60 persen dalam hal tokoh politik. Sedangkan 40 persen diisi oleh bintang hiburan.</p>
<p>Duet Kovach-Rosenstiel sebelumnya menerbitkan buku Warp Speed: American in the Age of Mixed Media di mana mereka melakukan analisis yang tajam terhadap liputan media Amerika atas skandal Presiden Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Kebanyakan media suka menekankan pada sisi sensasi dari skandal itu ketimbang isu yang lebih relevan.</p>
<p>Elemen kedelapan adalah kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Mungkin kalau di Jakarta contoh terbaik adalah harian Rakyat Merdeka. Suratkabar macam ini seringkali tidak proporsional dalam pemberitaannya.</p>
<p>Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh yang menarik. Suratkabar sensasional diibaratkan seseorang yang ingin menarik perhatian pembaca dengan pergi ke tempat umum lalu melepas pakaian, telanjang. Orang pasti suka dan melihatnya. Pertanyaannya adalah bagaimana orang telanjang itu menjaga kesetiaan pemirsanya?</p>
<p>Ini berbeda dengan pemain gitar. Dia datang ke tempat umum, memainkan gitar, dan ada sedikit orang yang memperhatikan. Tapi seiring dengan kualitas permainan gitarnya, makin hari makin banyak orang yang datang untuk mendengarkan. Pemain gitar ini adalah contoh suratkabar yang proporsional.</p>
<p>Proporsional serta komprehensif dalam jurnalisme memang tak seilmiah pembuatan peta. Berita mana yang diangkat, mana yang penting, mana yang dijadikan berita utama, penilaiannya bisa berbeda antara si wartawan dan si pembaca. Pemilihan berita juga sangat subjektif. Kovach dan Rosenstiel bilang justru karena subjektif inilah wartawan harus senantiasa ingat agar proporsional dalam menyajikan berita.</p>
<p>Masyarakat bisa tahu kalau si wartawan mencoba proporsional atau tidak. Sebaliknya masyarakat juga tahu kalau si wartawan cuma mau bertelanjang bulat.</p>
<p>SETIAP wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Dari ruang redaksi hingga ruang direksi, semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial. Ini elemen yang kesembilan.</p>
<p>“Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya,” kata wartawan televisi Bill Kurtis dari A&#38;E Network.</p>
<p>Menjalankan prinsip itu tak mudah karena diperlukan suasana kerja yang nyaman, yang bebas, di mana setiap orang dirangsang untuk bersuara. “Bos, saya kira keputusan Anda keliru!” atau “Pak, ini kok kesannya rasialis” adalah dua contoh kalimat yang seyogyanya bisa muncul di ruang redaksi.</p>
<p>Menciptakan suasana ini tak mudah karena berdasarkan kebutuhannya, ruang redaksi bukanlah tempat di mana demokrasi dijalankan. Ruang redaksi bahkan punya kecenderungan menciptakan kediktatoran. Seseorang di puncak organisasi media memang harus bisa mengambil keputusan –menerbitkan atau tidak menerbitkan sebuah laporan, membiarkan atau mencabut sebuah kutipan yang panas—agar media bersangkutan bisa menepati deadline.</p>
<p>Membolehkan tiap individu wartawan menyuarakan hati nurani pada dasarnya membuat urusan manajemen jadi lebih kompleks. Tapi tugas setiap redaktur untuk memahami persoalan ini. Mereka memang mengambil keputusan final tapi mereka harus senantiasa membuka diri agar tiap orang yang hendak memberi kritik atau komentar bisa datang langsung pada mereka.</p>
<p>Bob Woodward dari The Washington Post mengatakan, “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya.”</p>
<p>Pada hari pertama Nieman Fellowship, Bill Kovach mengatakan pada 24 peserta program itu bahwa pintunya selalu terbuka. Terkadang dia sering harus mengejar deadline dan mengetik, “Raut wajah saya bisa galak sekali bila seseorang muncul di pintu saya. Tapi jangan digubris. Masuk dan bicaralah.”*</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[3 Tahun sudah saya ngeblog]]></title>
<link>http://asruldinazis.wordpress.com/?p=737</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 17:00:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>aRuL</dc:creator>
<guid>http://asruldinazis.wordpress.com/?p=737</guid>
<description><![CDATA[
3 tahun sudah saya ngeblog, momentum tanggal 4 Juli 2005 lalu, di mana untuk pertama kalinya saya m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://images.quickblogcast.com/86251-75401/man_blogging.jpg" alt="" width="87" height="132" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">3 tahun sudah saya ngeblog, momentum tanggal 4 Juli 2005 lalu, di mana untuk pertama kalinya saya memposting tulisan saya di blog friendster saya. Tidak terkira umur yang mungkin masih bisa dikatakan bayi yang baru saja belajar berjalan menapaki dunia maya ini, jauh dari kesempurnaan dan keindahan. Tidak seperti Jawapos yang telah memasuki usia yang sungguh sudah dewasa di 59 tahunnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a title="tulisan ini ada di halaman blogku (yang sudah saya hapus) yang saya perbaiki seperlunya" href="http://"><strong>Sebuah Refleksi</strong></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2001 saya sudah mengenal namanya blog pertama adik kelasku waktu SMA (Qushay) tapi waktu itu masih blum tertarik karena terlihat hanya isinya puisi-puisi doang, secara saya tidak tau bikin puisi. Saya mengenal <a href="http://friendster.com/">Friendster</a> sebagai salah satu situs pertemanan sekitar juli 2004, dan setahun selanjutnya saya memfungsinya salah satu fasilitasnya yaitu blog, dan 4 Juli 2005 sebagai momentum awal saya menulis di blog dengan judul tulisan <a href="../2005/07/04/perpres-36/">Pepres 36/2003</a> bisa dilihat di <a href="http://asruldin-azis.blogs.friendster.com/my_blog/2005/07/perpres_36.html">sini</a>. Sebelumnya pernah buat account di blogsome, tapi hilang tidak pernah digubris, soalnya dulu terlalu rumit.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://asruldinazis.wordpress.com/files/2008/07/fs.jpg"><img class="aligncenter" style="border:0 none;" src="http://asruldinazis.wordpress.com/files/2008/07/fs.jpg?w=300" alt="" width="300" height="157" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Aktivasi blog di Blogdrive, dan ternyata setelah menghuni 1,5 tahun di situ, cuman bertengger 5 komentar, tapi katanya sih banyak yang baca. Waktu ngeblog di FS banyak yang ngomel gitu gara-gara setiap saya posting, newsnya terkirim ke email teman-teman yang terlink di FSku. Akhirnya saya tertarik kepada wordpress dan aktivasi tanggal 15 Juni 2006, dan akhirnya setelah merasakan kemudahan yang dimiliki wordpress, 2 Desember 2006, <a href="http://antitrush.blogdrive.com/archive/83.html">totally pindah</a> <a href="http://asruldin-azis.blogs.friendster.com/my_blog/2006/12/blogku_yang_aka.html">ke WP</a>. Sampai sekarang saya setia menggunakan blog <a href="http://asruldinazis.wordpress.com">WP</a> saya tak berminat ke lain hati termasuk blog berdomain sendiri (sampai saat ini <a href="http://arul.web.id/">arul.web.id</a> saya direct ke blog wp saya).</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://asruldinazis.files.wordpress.com/2008/07/bd.jpg"><img class="aligncenter" style="border:0 none;" src="http://asruldinazis.wordpress.com/files/2008/07/bd.jpg" alt="" width="326" height="172" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya saya melakukan aktivitas selain menulis di blog dengan blogwalking serta kopdar, tanggal 29 Juli 2007 sebagai <a href="http://asruldinazis.wordpress.com/2007/07/29/kopdar-surabaya/">kopdar pertamaku</a> dengan para blogger di surabaya. Dan akhirnya bergabung dengan komunitas <a href="http://tugupahlawan.com/">Tugupahlawan.com</a> Komunitas Blogger Surabaya di acara lauchingnya tepat di Hari Pahlawan, 10 November 2007.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Blog itu bagian hidup</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://asruldinazis.wordpress.com/indeks/">Perkembangan menulis saya</a> dari kalimat-kalimat idealisme mahasiswa yang berkobar-kobar, curhat pengalaman diri yang sekedar memberikan manfaat buat diri saya maupun orang lain, celoteh-celoteh keseharian saya yang ada di kepala maupun informasi-informasi yang saya berikan, mungkin tidak terlalu bermanfaat buat anda, namun ketika saya refleksi ulang isi blog saya, membaca kembali isi-isinya dari awal, melihat begitu kuatnya idealisme saya ketika menulis, begitu termotivasinya saya, begitu kuat atau rapuhnya saya ketika menulis tentang diri saya, dan ternyata blog telah menjadi bagian hidup saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya tidak menafikan ternyata blog menjadi bagian hidup saya selama 3 tahun ini, Banyak pelajaran dan pengalaman yang tidak terkira saya dapatkan, mulai dari perkembangan menulis, bertambahnya kawan, bertambahnya pengetahuan di semua aspek, menjadi salah satu hobby saya, dan banyak hal yang tidak terduga lainnya yang saya telah dapatkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Maka untuk itulah tetaplah menulis kawan, karena itulah opini anda, jikalau teman-teman sudah tidak sanggup lagi memberikan dorongan turun ke jalan, ngomong di depan orang, blog menjadi salah satu sarana untuk menyalurkan aspirasi. Dibaca atau tidak, kita sudah memberikan pemikiran-pemikiran kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>KEEP BLOGGING!!!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Statistik</strong></span></p>
<p>Total views: 158,113<br />
Tulisan: 392<br />
Komentar: 6,422</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Thx to :</strong></span></p>
<div style="border:2px solid #cccccc;overflow:auto;background-color:white;height:100px;width:500px;text-align:left;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:xx-small;font-family:tahoma;">:: <a href="http://die4pleasure.com/">'K</a> :: <a href="http://abeeayang.wordpress.com/">abeeayang™</a> :: <a href="http://meetabied.wordpress.com/">abied</a> :: <a href="http://praditya.net/">adit</a> :: <a href="http://aditcenter.wordpress.com/">aditcenter</a> :: <a href="http://sagung.wordpress.com/">agung</a> :: <a href="http://agung92.wordpress.com/">agung agriza</a> :: <a href="http://rizkianto.wordpress.com/">agung TC06</a> :: <a href="http://ghozan.com/">agus sanjaya</a> :: <a href="http://agussatriyono.wordpress.com/">agus satriyono</a> :: <a href="http://cathome.wordpress.com/">ai</a> :: <a href="http://aidanislamnihal.blogspot.com/">aidan</a> :: <a href="http://akuinginhijau.wordpress.com/">aku ingin hijau</a> :: <a href="http://blog.aldohas.com/">aldohas</a> :: <a href="http://alixwijaya.com/">aLe</a> :: <a href="http://berbahagialah.wordpress.com/">alex</a> :: <a href="http://smellsliketeenspirit.wordpress.com/">alex</a> :: <a href="http://coolblooded.wordpress.com/">alex®</a> :: <a href="http://alle.wordpress.com/">alle</a> :: <a href="http://almascatie.wordpress.com/">almascatie</a> :: <a href="http://amed.wordpress.com/">amed</a> :: <a href="http://aminhers.wordpress.com/">aminhers</a> :: <a href="http://amorningdew.wordpress.com/">amorningdew</a> :: <a href="http://amridonk.wordpress.com/">amri</a> :: <a href="http://anangku.blogspot.com/">anang</a> :: <a href="http://anangku.wordpress.com/">anang wp</a> :: <a title="anas" href="http://learnsimply.wordpress.com/">anas</a> :: <a title="anas" href="http://anasmcguire.wordpress.com/">anasmcguire</a> :: <a title="Spina Mimosa" href="http://andalasdejava.wordpress.com/">andalas</a> :: <a href="http://andibagus.com/">andibagus</a> :: <a href="http://andriesdwiputra.wordpress.com/">andries dwi putra</a> :: <a href="http://crazybun.wordpress.com/">angga</a> :: <a href="http://gaarachelseamania.wordpress.com/">anggaara</a> :: <a href="http://angki.wordpress.com/">angki</a> :: <a title="akuntan IT" href="http://priandoyo.wordpress.com/">anjar priandoyo</a> :: <a href="http://antobilang.wordpress.com/">antobilang</a> :: <a title="antok e43" href="http://pantsgreen.blogspot.com/">antok</a> :: <a title="anung UGM" href="http://anung87.wordpress.com/">anung87</a> :: <a title="blog aneh…." href="http://jtabah.wordpress.com/">apa adanya</a> :: <a href="http://dilarangmasuk.blogspot.com/">ardian</a> :: <a href="http://ariff-p.blogspot.com/">arif fahruddin</a> :: <a href="http://armintoputiri.blogspot.com/">armin toputiri</a> :: <a title="bu dokter" href="http://as3pram.wordpress.com/">astri</a> :: <a title="bu dokter" href="http://atapsenja.wordpress.com/">atapsenja</a> :: <a href="http://invy.us/">avy</a> :: <a title="wartawan ITS Online ne" href="http://hifatlobrain.blogspot.com/">ayos</a> :: <a title="si bocah yang sudah dewasa" href="http://bachtiar.wordpress.com/">bachtiar</a> :: <a href="http://bagyanugraha.wordpress.com/">bagyanugraha</a> :: <a href="http://baliazura.wordpress.com/">baliazura </a>:: <a href="http://arifkurniawan.wordpress.com/">bangaiptop</a> :: <a href="http://rijal28.wordpress.com/">bangzenk</a> :: <a href="http://bayu.mahendra.web.id/">bayu</a> :: <a href="http://benbego.com/">benbego</a> :: <a title="benny chandra" href="http://bennychandra.com/">benny chandra</a> :: <a href="http://bhagas.blogspot.com/">bhagas</a> :: <a href="http://mazbintang.wordpress.com/">bintang</a> :: <a href="http://bob.web.id/">Bob</a> :: <a href="http://kalajengkingair.blogspot.com/">Bobby</a> :: <a title="Bu Evy Senyum Sehat" href="http://senyumsehat.wordpress.com/">bu evy</a> :: <a title="Ibunya pandu" href="http://blog.rumahkanker.com/">bu titah</a> :: <a title="Dosen ITB" href="http://rahard.wordpress.com/">budi rahardjo</a> :: <a title="SI ITS 05" href="http://cahaya05.wordpress.com/">cahaya</a> :: <a title="Cak Alief Dosen Mesin ITS" href="http://alief.wordpress.com/">cak alief</a> :: <a title="dokter cak moki" href="http://cakmoki86.wordpress.com/">cakmoki</a> :: <a href="http://celotehsaya3.wordpress.com/">celoteh</a> :: <a href="http://cyl-imutz.blogs.friendster.com/_speak_my_mind_/">cheelo</a> :: <a title="cholis e-43" href="http://nrkhlsmjd.wordpress.com/">cholis</a> :: <a title="Chikastuff" href="http://chikastuff.wordpress.com/">cK</a> :: <a href="http://doeljoni.blogsome.com/">dadan</a> :: <a href="http://independen69.wordpress.com/">daenglimpo</a> :: <a title="Dg Ruslee di kalimantan" href="http://daengrusle.com/">daengrusle</a> :: <a title="Dosen ITS dengan tulisan-tulisannya yang bagus" href="http://dmrosyid.wordpress.com/">daniel m rosyid</a> :: <a href="http://darkcloudygirl.wordpress.com/">darkcloudygirl</a> :: <a title="Kang Dar" href="http://darmawan-salihun.blogspot.com/">darmawan salihun</a> :: <a title="Blogger Malaysia" href="http://dasenson.blogspot.com/">dasenson</a> :: <a title="female datha" href="http://datha2006.blogspot.com/">datha</a> :: <a title="dedex" href="http://dedex.wordpress.com/">dedex</a> :: <a title="Keranjang Kata" href="http://deen10february.wordpress.com/">deen</a> :: <a title="Deking" href="http://deking.wordpress.com/">deking</a> :: <a href="http://denayanti.com/">dena</a> :: <a title="Dianika W. Whardani" href="http://mataharilain.wordpress.com/">dianika</a> :: <a title="arek TC" href="http://dimasrlp.wordpress.com/">dimasrlp</a> :: <a href="http://deteksi.wordpress.com/">dion</a> :: <a title="masih SMA juga" href="http://drganteng.blogspot.com/">dirga</a> :: <a href="http://djokosantoso.com/">djoko</a> :: <a title="Dnail anak TC" href="http://dnial.wordpress.com/"> dnial</a> :: <a href="http://dokterearekcilik.wordpress.com/"> dokterearekcilik</a> :: <a href="http://rovicky.wordpress.com/">dongeng geologi</a> :: <a href="http://eddyprasetyo-pwr.blogspot.com/">eddy prasetyo</a> :: <a href="http://edipsw.com/">edipsw</a> :: <a title="belajar HTML" href="http://edittag.blogspot.com/">edittag</a> :: <a title="eka bali" href="http://balivetman.wordpress.com/">eka</a> ::  <a title="eko PENS" href="http://echox.wordpress.com/">eko</a> :: <a title="despro ITS" href="http://ascrec-capricorn.blogspot.com/">elin</a> :: <a href="http://bizesha.wordpress.com/">emal</a> :: <a href="http://empimuslion.wordpress.com/">empi</a> :: <a title="Bang Eby=erander" href="http://erander.wordpress.com/">erander</a> :: <a title="blogger dari petra" href="http://evelynpy.wordpress.com/">evelyn</a> :: <a href="http://mimimama.blogspot.com/">fahmi</a> :: <a href="http://blog.faniez.net/">fany</a> :: <a href="http://fanzswit.wordpress.com/">fanz</a> :: <a href="http://fatma1203.wordpress.com/">fatma</a> :: <a href="http://sambalgorengkentang.wordpress.com/">fauzan alfi</a> :: <a href="http://fauzansigma.wordpress.com/">fauzan sigma</a> :: <a title="anak jubels kul di If ITB" href="http://fitrasani.wordpress.com/">fitrasani</a> :: <a title="Musik ringtone" href="http://musicsringtone.com/">Free Ringtone Downloads</a> :: <a href="http://blog.galihsatria.com/">galih satria</a> :: <a href="http://aghofur.com/">gempur</a> :: <a title="ada jepretanku di sini" href="http://generasi-teladan.blogspot.com/">generasi teladan</a> :: <a href="http://ghaniarasyid.wordpress.com/">ghani arasyid</a> :: <a href="http://gidong.wordpress.com/">gidong</a> :: <a href="http://carienaknyasaja.blogspot.com/">greenfaj</a> :: <a href="http://akhmadguntar.com/">guntar</a> :: <a href="http://agylardi.wordpress.com/">gyl's</a> :: <a href="http://sisca79.wordpress.com/">hanna</a> :: <a href="http://hanggadamai.wordpress.com/">hanggadamai</a> :: <a href="http://hanungbramantyo.multiply.com/">hanung bramantyo</a> :: <a title="Blog guru kimia" href="http://urip.wordpress.com/">helgeduelbek</a> :: <a href="http://herdyundercover.net/">herdyundercover</a> :: <a title="Hermawan Kartajaya" href="http://hermawan.typepad.com/">hermawan kartajaya</a> :: <a href="http://blogirang.wordpress.com/">hoek</a> :: <a title="iman d nugroho wartawan The Jakarta Post" href="http://idnugroho.blogspot.com/">iman d nugroho</a> :: <a title="“Eduardo Pradana” a.k.a “Immoz Leviathan”" href="http://immoz.wordpress.com/">immoz</a> :: <a title="anak makassar" href="http://purpleholic.us.to/">ina</a> :: <a href="http://mengeja.wordpress.com/">inidanoe</a> :: <a title="Blognya Inar" rel="friend" href="http://in-art.blogdrive.com/">in-art</a> :: <a title="Blognya Ipul ITB" href="http://msaiful.wordpress.com/">ipul</a> :: <a title="blognya yang lain" href="http://anotherfool.wordpress.com/">jaf</a> :: <a title="anonim yang susah banget dapat bulan lahirnya" href="http://jejakpena.wordpress.com/">jejakpena</a> :: <a href="http://jembelisme.com/">jembelisme</a> :: <a href="http://www.inijie.com/">jiewa</a> :: <a title="Ilkom UGM" href="http://joesatch.wordpress.com/"> joesatch</a> :: <a title="jokotaroeb modern" href="http://jokotaroeb.wordpress.com/">jokotaroeb</a> :: <a title="Jumari Hidayat Mesin ITS 04" href="http://www.jumarihidayat.blogspot.com/">jumari</a> :: <a title="Ersa Fahriyanur bin Syarifuddin R. Banjarmasin" href="http://kerajaanbanjar.wordpress.com/">kerajaan banjar</a> :: <a href="http://kholdy.wordpress.com/">kholid yadi</a> :: <a href="http://khuclukz.com/">khuclukz</a> :: <a title="progresif motivator" href="http://krisnawan.wordpress.com/">krisnawan putra</a> :: <a href="http://dimensi2x2.wordpress.com/">kurniawan</a> :: <a title="Kur-kur e43" href="http://kurniawanto.wordpress.com/">kurniawanto</a> :: <a href="http://blog.myladokutu.org/">ladokutu</a> :: <a href="http://linuxgembel.wordpress.com/">linuxgembel</a> :: <a title="luthfi IPB yg skripsinya ngak slesai2" href="http://luthfi.wordpress.com/">luthfi</a> :: <a title="CBD (Calon Bu Dokter) Unsri" href="http://mabanget.wordpress.com/">ma!!</a> :: <a href="http://ma6ma.wordpress.com/">mahma</a> :: <a href="http://sabukputih.blogspot.com/">mahmud</a> :: <a title="majalah dewa dewi" href="http://majalahdewadewi.wordpress.com/">majalah dewa dewi</a> :: <a title="Moh. Fazlurrahman STAN" href="http://fazlurrahman.web.id/">Maman</a> :: <a href="http://jagomakan.blogspot.com/">manda la mendol</a> :: <a href="http://beritadalamkancoet.wordpress.com/">marcel</a><a href="http://syah3rothers.multiply.com/">mardiansyah</a> :: <a title="Mardi Brilian Saleh, TC’01" href="http://mardun.wordpress.com/">mardun</a> :: <a href="http://mbelgedez.com/">mblegedez</a> :: <a href="http://menteridesainindonesia.blogspot.com/">menteri desain Indonesia</a> :: <a href="http://myresource.wordpress.com/">moerz</a> :: <a title="mufti kenalan blog" href="http://mufti.wordpress.com/">mufti</a> :: <a href="http://zulfikars.org/">muhammad zulfikar</a> :: <a title="Alumni Al Azhar, BLog tentang Islam," href="http://musadiqmarhaban.wordpress.com/">musadiqmarhaban</a> :: <a title="Nanin Wailisahalong on wordpress.com" href="http://wailisahalong.wordpress.com/">nanin</a> :: <a title="ndop" href="http://ndop.co.cc/">ndop</a> :: <a title="katanya Mantan Juru Parkir" href="http://kosongempatsembilan.wordpress.com/">neo forty nine</a> :: <a href="http://omabercerita.blogspot.com/">nia</a> :: <a href="http://nicoustic.co.cc/">nico</a> :: <a href="http://dunianiko.wordpress.com/">nico wp</a> :: <a href="http://nieznaniez.wordpress.com/">niez</a> :: <a title="blog keren nih… berkualitas" href="http://nofieiman.com/">nofie iman</a> :: <a title="blog keren nih… berkualitas" href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/">nongkrong</a> :: <a title="tukang foto keliling" href="http://nra402.wordpress.com/">nra</a> :: <a title="omaigat reinkarnasi dari wadehel" href="http://omaigat.wordpress.com/">omaigat</a> :: <a href="http://omith.blogspot.com/">omith</a> :: <a href="http://paksi_dewandaru.blogs.friendster.com/go_blogs">paksi</a> :: <a title="anak muda surabaya yang suka ngeblog" href="http://p4ndu3121990.wordpress.com/">pandu</a> :: <a title="payjo" href="http://payjo.wordpress.com/">payjo</a> :: <a title="Freddy Hernawan" href="http://pedhet.wordpress.com/">pedhet</a> :: <a href="http://pima.blogs.friendster.com/pimas">pima</a> :: <a href="http://pinkyangga.wordpress.com/">pinkyangga</a> :: <a href="http://pramudyaputrautama.wordpress.com/">pramudyaputrautama</a> :: <a title="progo harbowo" href="http://progoharbowo.wordpress.com/">progo harbowo</a> :: <a title="Profesor IPB" href="http://ronawajah.