<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>meditasi-dan-renungan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/meditasi-dan-renungan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "meditasi-dan-renungan"</description>
	<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 04:51:12 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Menjadi Guru Sekaligus Murid]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/menjadi-guru-sekaligus-murid/</link>
<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 08:49:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/menjadi-guru-sekaligus-murid/</guid>
<description><![CDATA[Fr Jonas Roka MSF
Aku dipercayakan komunitas untuk mendampingi PIA paroki Banteng selama setahun. Da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Fr Jonas Roka MSF</em></p>
<p>Aku dipercayakan komunitas untuk mendampingi PIA paroki Banteng selama setahun. Dalam rentang waktu yang cukup lama itu aku menjalaninya dengan segenap hatiku. Karena bagiku ini merupakan kesempatan emas, yang mungkin saja tidak akan terulang kembali. Kesempatan yang istimewa itu mendorong aku untuk belajar dan terus belajar baik untuk mengembangkan diri anak-anak maupun belajar mengembangkan diri sendiri. Prinsipku saat itu adalah aku mau belajar dari dan bersama anak-anak. Prinsip ini mengantar aku pada suatu keyakinan bahwa ada begitu banyak kekayaan rohani yang ada dalam diri mereka. Sebagai seorang frater pendamping aku dituntut untuk bisa menempatkan diriku dalam dunia anak-anak, yang kadang-kadang bertentangan dengan idealisme yang kumiliki.</p>
<p>Tidak mudah........ itulah yang aku alami ketika pertama kali memulai tugas ini. Aku harus mulai dari nol untuk belajar menggunakan bahasa dan mengerti perasaan anak-anak. Dalam pendampingan itu aku begitu gembira melihat anak-anak yang kreatif namun kadang aku stres sendiri melihat tingkah laku anak-anak yang nakal, setengah nakal, pendiam, begitu ekspresif maupun yang sangat pasif. Perasaan yang spontan muncul adalah jengkel, tetapi.... aku sadar itulah dunia anak-anak. Dunia yang harus disikapi secara bijaksana bukan emosi. Karena itu kegiatan bersama menjadi kesempatan bagi mereka untuk bermain, berbagi kegembiraan, berbagi kisah, berkisah dengan teman-teman, mengekspresikan diri dan mengungkapkan kekesalan yang mereka alami di rumah maupun di lingkungan.</p>
<p>Pengalaman yang aku dapatkan ini ternyata sungguh membantu dan menjadi titik awal untuk mengembangkan pendampinganku selanjutnya. Mengenal mereka secara pribadi bukanlah pekerjaan mudah. Aku harus masuk dalam dunia dan dalam kehidupan mereka yang walaupun masih kecil ternyata memiliki persoalan yang pelik. Kenyataan ini menumbuhkan rasa iba dan prihatin dalam diriku.</p>
<p>Cita-citaku tidak berbekas sama sekali bahkan hanya menjadi mimpi belaka yang tidak memberi makna. Cita-citaku ternyata belum optimal dan aku pun dituntut untuk berusaha dan menemukan metode yang baik untuk mendampingi mereka. Mulai saat itu, aku memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk berekspresi. Kubiarkan mereka berekspresi sesuai kemampuan dan bakat mereka masing-masing. Ada yang gembira, senang, marah dan bahkan sampai menangis dalam mengungkapkan diri mereka masing-masing. Ungkapan-ungkapan itu merupakan ungkapan isi hati mereka. Melalui ekspresi yang ditampilkan itu aku bisa melihat anak mana yang perlu diberi perhatian lebih dan mana yang tidak. Yang perlu didampingi dan diberi perhatian lebih biasanya anak-anak yang mengalami hambatan untuk berkomunikasi di rumah misalnya karena terlalu ditekan oleh orangtuanya. Mungkin mereka mendambahkan kebebasan untuk menikmati masa kanak-kanak namun impian untuk berekspresi dan berinteraksi dengan teman-teman dan lingkungannya biasanya dibatasi. Mereka terlalu banyak dijejali oleh bermacam-macam hal yang membuat mereka tidak leluasa dan tidak bisa menjadi diri mereka sendiri. Keinginan orangtualah yang mereka jalani, bukan keinginan mereka sendiri. Orangtua akan senang apabila mereka berprestasi. Aspek intelektual yang dijadikan skala prioritas sedangkan unsur afeksi dan kognitif diabaikan. Sungguh memprihatinkan... anak sekecil itu harus menderita di usia belianya. Ada nuansa lain yang muncul ketika aku berhadapan dengan anak-anak yang diberi kebebasan oleh orangtuanya. Mereka biasanya mempunyai kemampuan berekspresi yang luar biasa. Aku sangat mendukung mereka untuk terus mengembangkan dirinya. Kesempatan ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka untuk terus berkembang untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berguna bagi orangtua, bangsa dan Gereja.</p>
<p>Dalam PIA, aku bersama pendamping yang lain tidak mau menjejali mereka dengan berbagai materi yang membosankan dan tidak membebaskan. Aku lebih memberikan perhatian pada perkembangan kepribadian mereka, sedangkan pendamping yang lain pada hal-hal lain misalanya membuat doa dan memahami pesan kitab suci. Dengan metode yang diterapkan, ada titik sambung yang dijadikan pedoman sehingga anak-anak diharapkan dapat berkembang menjadi pribadi yang utuh dan berwawasan kristiani.</p>
<p>Aku senang melihat perkembangan anak-anak yang kudampingi. Aku sungguh merindukan saat-saat kebersamaan dengan mereka. Aku belajar banyak hal dari mereka. Mereka bisa tumbuh dan berkembang berkat kepolosan, kejujuran dan kesediaan untuk dibina dan dibentuk. Hal ini membawa dampak positif bagi diriku. Makna yang bisa kupetik adalah aku disadarkan untuk terbuka, sabar dan belajar menjadi anak kecil. Keutamaan-keutamaan ini membuat aku tumbuh</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Doa orang tua kepada anak-anaknya]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/doa-orang-tua-kepada-anak-anaknya/</link>
<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 08:42:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/doa-orang-tua-kepada-anak-anaknya/</guid>
<description><![CDATA[Bapa di surga,inilah putra-putri-Mu,
Kami serahkan mereka kepada-Mu. Raihlah mereka dan sentuhlah
de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>Bapa di surga,inilah putra-putri-Mu,<br />
Kami serahkan mereka kepada-Mu. Raihlah mereka dan sentuhlah<br />
dengan jemari-jemari cinta kasih-Mu,<br />
supaya mereka setiap kali berhenti di tempat,<br />
merasakan kehadiran-Mu dan berpaling kepada-Mu<br />
ambillah mereka dan buatlah mereka menjadi<br />
apa saja menurut kehendak-Mu, dan bukan menurut kehendakku.<br />
Panggillah mereka kepetualangan yang telah Engkau rencanakan<br />
bagi mereka masing-masing, bukan menurut apa yang kuinginkan bagi mereka.<br />
Bebaskanlah mereka dari dosa, tetapi jikalaupun mereka berdosa,<br />
tariklah mereka kembali ke pangkuan-Mu.<br />
Jauhkanlah mereka dari kekerdilan jiwa. Bantulah mereka agar<br />
Mampu menggunakan anugerah-anugerah mereka untuk mengabdi sesama.</p>
<p>Adapun bagi kami, tolonglah kami untuk mencintai mereka tanpa ingin mendekap memiliki.<br />
Bantulah kami agar teguh dan lindungilah mereka apabila kami harus melindungi.<br />
Bantulah kami agar sabar selagi mereka berusaha menumukan diri mereka.<br />
Bantulah kami agar dapat membimbing mereka dengan kebijaksanaan-Mu.<br />
Bantulah kami untuk mencintai dengan melepaskan mereka pergi.<br />
Dan apabila karya telah usai, mereka telah terbentuk, telah dibesarkan, dan<br />
Telah pergi meninggalkan kami, bantulah kami untuk menoleh lagi kepada-Mu,<br />
Tanpa anak-anak kami, dan meneruskan perjalanan dengan lebih bijaksana<br />
Dan  dengan lebih mengerti Engkau<br />
Serta jalan-jalan-Mu bagi kami, karena kami<br />
Telah melahirkan anak-anak kami.</p></blockquote>
<p>(dikutip dari buku Menciptakan Keseimbangan, mengajarkan nilai dan kebebasana,<br />
Karya Christopher Gleeson, S.J.)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menuju Gereja yang Vital dan Mandiri]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/01/menuju-gereja-yang-vital-dan-mandiri/</link>
<pubDate>Sun, 01 Jul 2007 15:24:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/01/menuju-gereja-yang-vital-dan-mandiri/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Fr. Diakon Yohanes Kopong Tuan MSF
Merayakan hari ulang tahun merupakan kebahagiaan dan rasa s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Fr. Diakon Yohanes Kopong Tuan MSF</em></p>
<p>Merayakan hari ulang tahun merupakan kebahagiaan dan rasa syukur tersendiri bagi yang merayakannya karena masih diberi kesempatan hidup oleh Sang Sumber Kehidupan. Demikian juga dengan merayakan sebuah peristiwa bersejarah dalam arus perkembangan zaman.<!--more--></p>
<p>Pada tahun ini, bulan Juli 2007 Gereja Katolik Kalimantan Timur-Keuskupan Agung Samarinda merayakan napak tilas 100 tahun perjalanan dan pekembangan karya misi Gereja Katolik Samarinda di bumi Laham. Moment 100 tahun karya misi Gereja Katolik di Samarinda yang dimulai dalam serangkaian acara mulai tanggal 01-08 Juli 2007 tidak hanya merupakan kenangan terindah akan jejak langkah dan karya tangan para misionaris awal, melainkan lebih dari itu menghadirkan kembali karya misi yang sudah dirintis dalam sebuah sinergisasi karya pelayanan Gereja yang konkrit oleh seluruh umat beriman bersama hierarki Gereja di Keuskupan Agung Samarinda.</p>
<p>Sinergisasi karya pastoral menjadi vital dan menarik jika moment 100 tahun menjadi jalan untuk mengevaluasi kembali setiap gerak langkah karya pastoral yang telah dijalankan di bumi Kalimantan Timur. Evaluasi yang dapat dikatakan tepat guna, jika evaluasi itu didasarkan pada kondisi masyarakat dan Gereja setempat yang menjadi arah karya pastoral ke masa depan. Yang penting bukanlah sebuah perayaan yang agung dan meriah, tetapi bagaimana perayaan yang istimewa dan meriah menjadi inspirator karya pastoral Gereja Katolik Kalimantan Timur. Untuk itu di dalam merumuskan langkah pastoral Gereja Katolik Kalimantan Timur kiranya perlu memperhatikan tiga hal yaitu : <em>need-work-result</em> ( red: cara membacanya: <em>need, result, work</em>)</p>
<p>Untuk mendukung ketiga unsur ini dalam kerangka membangun Gereja Katolik Kalimantan Timur yang vital, sinergis dan menarik kita perlu memperhatikan lima (5) hal pokok sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Jan Hendriks dalam bukunya <strong>“Jemaat Yang Vital dan Menarik”</strong>. Kelima hal itu adalah sebagai berikut: <em>Pertama</em>, iklim, yaitu suasana atau keadaan yang memungkinkan pelaksaan karya pastoral. <em>Kedua</em>; identitas, di mana para pelaksana rekasa pastoral perlu mengenal dan mempelajari identitas dengan segala latar belakang umat dan masyarakat yang dilayani. <em>Ketiga;</em> Tujuan, artinya tujuan yang mau dicapai serta sasaran yang diwujudkan dalam karya pastoral. <em>Keempat</em>, pemimpin, dalam rangka melaksanakan karya pastoral dibutuhkan seorang pemimpin yang peka dengan ketiga unsur di atas dan mau bekerjasama dengan seluruh umat beriman. Karena itu perlu dibangun strukutur atau jaringan kerja sebagai sebuah tim dalam karya pastoral yang merupakan unsur <em>kelima</em>. Demikianlah beberapa hal yang bisa diperhatikan sebagai relaisasi konkret dan gerak langkah bersama Gereja Katolik Kalimantan Timur menuju Gereja yang vital, sinergis dan menarik di dalam menghadirkan kembali karya misi yang telah dirintis oleh para misionaris awal 100 tahun lalu di bumi Kalimantan Timur.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Refleksi Sebuah Keheningan]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/01/refleksi-sebuah-keheningan/</link>
<pubDate>Sun, 01 Jul 2007 15:16:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/01/refleksi-sebuah-keheningan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Br. Urbanus Teluma MSF
Ada saat dunia terasa gelap, ruang-ruang kehidupan sesak menghimpit, se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Br. Urbanus Teluma MSF</em></p>
<p>Ada saat dunia terasa gelap, ruang-ruang kehidupan sesak menghimpit, segala langkah jadi buntu dan sejauh mata memandang, hanyalah tembok tebal yang mengurung. Adakalanya manusia mengalami hal-hal yang tidak pernah dinginkan. Mau tidak mau ia harus melewati masa-masa yang suram, yang menghimpit batinnya dan menghadang setiap langkahnya. Bagaimana kita harus melewati masa-masa seperti itu? Kita harus berani keluar dari diri sendiri dan mundur sejenak dari kesibukan untuk menciptakan ruang hening, membuka diri untuk mendengarkan suara Tuhan. Marilah kita melihat dan merenungkan perjalanan hidup seorang nabi Elia. Elia menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dalam keheningan dan kesunyian hidup semata-mata hanya untuk Allah.<!--more--></p>
<p>Dengan mengenyam kemesraan dengan Allah dari hari ke hari, Elia ditarik dalam kehadirat Allah baik dalam doa maupun kesehariannya. Itulah sebabnya sebagai insane-insan yang telah ditangkap oleh Tuhan marilah kita hidup dalam hadirat-Nya. “<em>Vivit Dominus in cuius Conspec Sto</em>” (Allah hidup dan aku berdiri di nhadirat-Nya). Inilah semboyan yangb terkenal dari nabi Elia. Mampukah kita menjadi elia-elia kecil? Ciptakanlah sebuah keheningan dan di sana Anda akan mendapatkan jawabannya. Tahun-tahun berlalu, suka dan duka silih berganti, tawa dan tangis menjadi sejarah yang mewarnai perjalanan hidup kita. Namun sudah sejauh mana kita hidup dan tidak dalam selimut hadirat-Nya? Jiwa yang telah mengalami sentuhan Cinta Kasih Allah biasanya merasakan bahwa Allah bertakhta dalam keheningan dan mengkomunikasikan diri-Nya dengan bahasa yang jauh melampaui segala kata. Oleh karena itu, jiwa hanya menjumpaiNya jika kita dengan berani meninggalkan segala sesuatu yang dangkal dan menerobos masuk ke dalam keehningan yang suci. Di sanalah Tuhan dengan setia menantikan kita.</p>
<p>Dalam keheningan Allah menyapa hati yang telah siap menerima sabda-Nya. Dengan demikian keheningan merupakan sikap keetrbukaan, peresapan Sabda serta sembah sujud. Sabda Allah disimpan dalam lubuk keheningan yang terdalam. Saya mencoba mengutip tulisan Nicholas dari Perancis yang berjudul <em>Ignea Sagitta</em> (panah berapi) sebagai berikut:<br />
“Bukankah Tuhan Penyelamat kita telah memberikan rahmat khusus kepada kita dengan membawa kita ke dalam kesunyian, di mana Ia berbicara secara mesra kepada hati kita? Ia tidak menyatakan diri kepada sahabat-sahabat-Nya di muka umum, di jalan-jalan, dan di dalam kebisingan tetapi dalam keintiman, melalui rahmat sukacita rohani serta untuk menytakan  kepada mereka misteri-misteriNya yang tersembunyi”.</p>
<p>Kita kadangkala merasa agak sulit untuk menemukan Tuhan dalam diri kita karena kita disibukkan dengan segala kegiatan dan pekerjaan terl;ebih lagi dengan situasi yang serba ramai dengan kehadiran berbagai macam sarana komunikasi seperti handphone, internet dan lain sebagainya. Kita lupa diri bahwa sebenarnya keheningan  mempunyai daya tarik yang besar untuk menemukan kehendak Tuhan atas hidup hidup kita. Marilah kita berjuang untuk tinggal dalam kehangatan cinta-Nya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikon Maria Bunda Penolong Abadi]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/01/ikon-maria-bunda-penolong-abadi/</link>
<pubDate>Sun, 01 Jul 2007 14:49:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/01/ikon-maria-bunda-penolong-abadi/</guid>
<description><![CDATA[Melihat sambil mendengar kisah ikon Maria Bunda Selalu Menolong, banyak orang menjadi kagum. Namun k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/07/ikon-maria.jpg" title="ikon-maria.jpg"><img align="left" src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/07/ikon-maria.thumbnail.jpg" alt="ikon-maria.jpg" /></a>Melihat sambil mendengar kisah ikon Maria Bunda Selalu Menolong, banyak orang menjadi kagum. Namun kekaguman akan berkembang menjadi kecintaan dan penghormatan yang benar kepada Maria Perawan dan Bunda Allah, setelah mengetahui makna dan arti yang terkandung di balik gambar yang kaya akan tanda dan simbol. Dalam ikon akan kita temukan tokoh-tokoh dalam sejarah penyelamatan.<!--more--></p>
<p><strong>Tokoh pertama adalah Malaikat.</strong></p>
<p>Malaikat di sebelah kanan Bunda Maria diindentifikasi sebagai "St. Mikael Malaikat Agung". Dia digambarkan sedang memegang tombak dan lembing dengan wadah cuka dan empedu dari sengsara Kristus. Malaikat di sebelah kiri diidentifikasi sebagai "St. Gabriel Malaikat Agung" yang sedang memegang kayu salib dan paku.</p>
<ul>
<li>Melalui Malaikat, kelahiran Yohanes Pembaptis diberitakan (Lukas 1:5-25),</li>
<li>Kabar sukacita kepada Maria disampaikan (Luk 1:31),</li>
<li>Santo Yosef dibebaskan dari keragu-raguan (Mat 1:19-24),</li>
<li>Warta kelahiran Yesus Juru Selamat dikumandangkan kepada para gembala (Luk 2:9-13),</li>
<li>Pengungsian ke Mesir ditunjukkan (Mat 2:13-14 dan 19-21) dan,</li>
<li>melalui malaikat pula berita kebangkitan disampaikan (Yoh 20:12-13).</li>
</ul>
<p><strong>Tokoh kedua adalah Maria</strong></p>
<p>Inisial yang terletak di samping mahkota Bunda Maria menyatakan beliau sebagai "Bunda Allah". Maria Theotokos (MP ΘY)</p>
<ul>
<li>Bunda Allah dan Bunda orang beriman yang rendah hati (Yoh 19:25-27)</li>
<li>Jubah warna merah (pakaian para perawan Palestina) menggambarkan keperawanan dan mantel biru tua kehitam-hitaman (pakaian ibu-ibu) menjadi gambaran Maria sebagai Bunda. (di gereja Ortodoks-Byzantin umumnya coklat!)</li>
<li>Kepala yang sedikit menunduk menyimbolkan Maria sebagai Perawan dan Bunda Allah yang berduka. Duka dan Susah:</li>
<li>Seorang ibu yang mencari dan menemukan anaknya setelah tiga hari dalam kecemasan (Luk 2:44b-50)</li>
<li>Yang berdiri dan melihat sengsara dan kematian Puteranya yang tersalib (Luk 19:25-27).</li>
<li>Namun semua itu tersimpan rapat dalam hatinya sebagai hamba yang senantiasa setia agar rencana dan kehendak Allah terjadi (Luk 1:38 dan :51b)<br />
Kita melihat, mulut mungil tak banyak bicara terlukis dalam wajahnya.</li>
<li>Mata Bunda menatap kita untuk memancarkan kasih dan menantikan kita dengan hati yang lembut.</li>
<li>Tangan kirinya menggendong ringan Yesus dan tangan kanannya terbuka keatas memuliakan Allah dan leluasa bergerak untuk menunjukkan dan membawa Yesus kepada semua orang.</li>
</ul>
<p>“Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku .... dan rahmatNya turun temurun atas orang yang takut kepadaNya.¨ (Luk 1:46-50).</p>
<p>Bintang yang terletak pada dahi adalah gambaran Maria yang senantiasa siap mendasar kan pikiran dan karyanya pada bimbingan Allah. Ketiga bintang menggambarkan Bunda Maria sebagai bunda tanpa noda dosa (sebelum, waktu dan sesudah kelahiran Yesus Juruselamat)</p>
<p><strong>Tokoh ketiga, tokoh kunci dalam Ikon ini adalah Yesus.</strong></p>
<p>Inisial yang terletak di samping kanak-kanak, IC XC adalah singkatan yang artinya”Yesus Kristus”</p>
<p>Melihat wajahnya, Yesus menatap salib yang dibawa Malaikat Agung Gabriel, namun mata-Nya menerawang jauh penuh misteri menyimbolkan bahwa di balik sengsara dan salib itu ada kemenangan dan kasih karunia hidup kekal.</p>
<p>".... demikian juga Anak manusia harus  ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal." (Yoh 3:13b-14)</p>
<p>Tangan Yesus terbuka dan diletakkan di atas tangan Maria seolah Yesus berkata:</p>
<p>"Bunda-Ku kemana aku harus pergi dan kepada siapa berkat-Ku dicurahkan?"</p>
<p>Tampak dalam gambar, satu sandal Yesus terlepas.</p>
<p>Arti pertama, dalam kemanusiaan-Nya, demi melihat salib, Yesus lari kedalam pelukan bunda-Nya sampai tidak perduli sandalNya terlepas. Dengan demikian kita diingatkan untuk segera mohon bantuan Maria bila kita menghadapi kesulitan.</p>
<p>Arti kedua, simbol ini menunjukkan bahwa Yesus mau menebus kita. Dengan memberikan satu sandalNya seperti layaknya upacara penebusan di Israel, ia menyatakan penebusan (Rut 4:7).</p>
<p>Jubah warna biru muda menunjuk keillahian Yesus sebagai Putera Allah dan mantel warna coklat tanah menggambarkan kodrat kemanusiaan yang disandang oleh Putera Allah.</p>
<p>Lukisan Maria Bunda Selalu Menolong belatar belakang warna kuning keemasan. Warna ini menyimbolkan bahwa Yesus Sang Penebus bersama Bunda Maria telah hidup abadi dalam kemuliaan surgawi dan siap menyalurkan berkat-Nya kepada kita yang datang menghadap dan mohon pertolongan-Nya.</p>
<p>Marilah, melalui Santa Perawan Maria Bunda Selalu Menolong, kita datang kepada Yesus Sang Penebus dan dalam pengantaraan Bunda Maria, kita sampaikan harapan-harapan kita. Semoga doa-doa dan harapan-harapan kita menjadi doa-doa dan harapan-harapan Bunda Maria.</p>
<p>Maria Bunda Selalu Menolong doakanlah kami.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Le Pain de Vie Pour Qui?]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/le-pain-de-vie-pour-qui/</link>
<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 08:58:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/le-pain-de-vie-pour-qui/</guid>
<description><![CDATA[(Roti hidup untuk siapa ?)
Banyak orang yang datang untuk mendengarkan Yesus. Mereka semua sangat se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>(Roti hidup untuk siapa ?)</em></p>
<p>Banyak orang yang datang untuk mendengarkan Yesus. Mereka semua sangat senang dan gembira mendengarkan apa yang diajarkan Yesus. Ada banyak orang tua, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan juga orang-orang Yahudi yang tinggal daerah itu, mereka merupakan orang yang setia untuk menjalankan hukum Taurat seperti yang dipesankan Musa.<!--more--></p>
<p><strong>Suatu teguran, petunjuk atau nasehat yang dirangkai dalam cerita.</strong></p>
<p>Semua sabda Yesus adalah berasal dari Bapa-Nya di surga. Sabda-sabda tersebut seringkali berbentuk teka-teki atau perumpamaan-perumpamaan yang membutuhkan refleksi atau perenungan dari setiap pendengar-Nya. Yesus tidak mengatakan langsung arti yang sebenarnya dari cerita-cerita-Nya tapi Ia membiarkan agar semua orang bisa merenungkannya sendiri. Ia mengatakan “umat manusia membutuhkan seorang gembala yang baik hati untuk membimbing mereka ke padang rumput yang hijau atau  tentang pengajaran Roti yang Hidup.....semuanya membutuhkan perenungan terus-menerus....</p>
<p>Ketika Ia bercerita atau berkotbah memang panjang, persis seperti dilakukan para nabi terdahulu sehingga tidak jarang para pendengarnya merasa lapar karena saking panjangnya. Yesus mampu mengorganisasi para murid-Nya untuk mengumpulkan roti dan beberapa ikan yang ada dan juga mengerakkan hati setiap orang untuk membuka persediaan mereka dan membaginya kepada yang lain. Semua orang bisa makan sampai kenyang bahkan banyak roti dan ikan yang tersisa.</p>
<p>Peristiwa ini harus kita refleksikan. Yesus sendiri yang telah mengatakan semuanya pada kita. Para penginjil menulis ada enam buah Cerita tentang hal ini. Ada beberap kata yang digunakan Yesus yang sungguh sangat bermakna “ Mengambil”  “diberkati” “Dipecahkan” dan “dibagikan” empat kata ini kemudian dimaklumkan kembali oleh Yesus saat perjamuan terakhir dengan tujuan untuk mengenangkan Dia. Sekarang kita kata-kata ini kita temui dalam perayaan Ekaristi .</p>
<p><strong>Roti hidup adalah untuk seluruh umat manusia.</strong></p>
<p>Dalam keempat injil ada dua peristiwa yang sangat jelas menggambarkannya yakni perjamuan terakhir “Ekaristi” dan  penggadaan Roti.  Yesus mengingatkan kita bahwa “Roti Hidup” adalah untuk semua umat manusia. Tentunya, kata-kata Yesus ini harus kita perhatikan tidak hanya berteori tapi sungguh di praktekkan dalam tindakan kita sehari-hari khususnya kita yang mengaku selalu mencari Alla. Yesus telah mempraktekannya bukan hanya berteori. Saya menggarisbawahi hal ini karena zaman sekarang banyak dari kita berbondong-bondong datang untuk merayakan Ekaristi agar kita disebut orang yang beriman atau sekedar untuk dilihat orang lain. Banyak yang datang dari tempat yang cukup jauh  untuk berpartisipasi merayakan ekaristi di gereja-gereja Paroki. Hal ini sangat berbahaya bagi kita bila merayakan Ekaristi hanya karena aturan hukum, atau supaya dilihat orang lain. Hal ini sangat berbahaya untuk kehidupan religius umat jaman sekarang. Kita berdoa dan hafal kata-kata yang diucapkan Yesus tapi kita lupa melihat secara keseluruhan apa yang telah dilakukan Yesus yakni “kata-kata-Nya diterapkan-Nya dalam tindakan”</p>
<p><strong>Terbuka kepada semua orang yang mencari Allah.</strong></p>
<p>Kita sangat senang ketika kita menerima “Roti  Hidup” dan hal ini merupakan kesempatan yang sangat baik dan tidak dapat disanggah kebenarannya. Kita dibantu untuk merayakannya dengan semangat yang membara, dengan musik dan dengan keheningan yang sangat mendukung. Kekeluargaan yang sangat mesra. Para lektor membaca dengan sangat baik. Koor yang sangat menarik. Semuanya itu sungguh-sungguh membangkitkan iman kepercayaan kita.  Kita pantas maju menghadap “Sang Roti Kehidupan Abadi”. Roti Kehidupan ini akan memberikan anak-anak-Nya harapan seperti apa yang dibuatnya  di “Kana” atau kepada seluruh umat manusia yang ada dimuka bumi ini.</p>
<p>P. Ionday, MSF,</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Juang]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/juang/</link>
<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 08:53:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/juang/</guid>
<description><![CDATA[Menyusuri Lorong Juang
Ada Duka, Hitam, Pekat, Gelap
Ah&#8230; Aku Kuat, Harus
Ya&#8230; Untuk Benar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Menyusuri Lorong Juang<br />
Ada Duka, Hitam, Pekat, Gelap<br />
Ah... Aku Kuat, Harus<br />
Ya... Untuk Benar, Mesti</p>
<p>Ada Yang Diperas,Korban Ini<br />
Demi Sebuah Nilai<br />
Demi Benar Yang Benar-Benar<br />
Ada Hibur Lebur Nestapa</p>
<p>Walau Tertatih, Aku Tegar<br />
S’ Lalu Jaga Ada Mata Bengis<br />
Sorot Tajam, Siap Terkam, Cabik<br />
Namun Rela Demi Benar, Aku Menang Pasti</p>
<p>Di Ujung Ada Berjuta Harap<br />
Tapi Jangan Salah Kaprah<br />
Itu Bukan Akhir Juang,Tetapi<br />
Setetes Kemenangan Dalam Abadi</p>
<p>Ada Berjuta Harapan , Akhir Gulat<br />
Membias Menyusuri Sukma<br />
Bentang Ragam Harapan<br />
Asal Ada Setia ‘ Tuk Juang</p>
<p><em>BY: MAYOL TIRO</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pourquoi á la Salette?]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/pourquoi-a-la-salette-2/</link>
<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 08:51:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/pourquoi-a-la-salette-2/</guid>
<description><![CDATA[Pada hari Jumat, 3 Februari 2006, aku (Ionday) bersama Rm. Frans, P. Pablo, P. Scepan dan Diacre Fir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari Jumat, 3 Februari 2006, aku (Ionday) bersama Rm. Frans, P. Pablo, P. Scepan dan Diacre Firmino berangkat ke La Salette. Kami berangkat dari Lyon dengan naik kereta sampai Grenoble kemudian naik bus menuju La Salette. Mulai dari Grenoble hawa dingin sudah mulai menusuk tulang dan hampir seluruh kota dan pegunungan diselimuti salju yang cukup tebal. Sopir bus bilang perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 2 jam dan bus hanya sampai Village (desa) Corps.  Di Corps kami akan di jemput oleh Pastor dari La Salette.</p>
<p>Perjalanan dengan bus pun dimulai, saya mengambil tempat duduk didepan bukan karena takut mabuk melainkan ingin menikmati perjalanan dan bisa melihat pemandangan kota Grenoble yang sangat indah. Perlahan-lahan tapi pasti kami mulai meninggalkan kota Grenoble dan memasuki desa-desa yang jauh lebih indah lagi walau sebagian besar ditutupi salju yang tebal. Kiri-kanan jalan terlihat gunung-gunung indah yang berselimutkan salju dan di sana-sini terlihat orang bermain ski. Terlihat juga sungai dan danau yang membeku sehingga orang bisa bermain ski di atas danau atau sungai yang membeku tersebut. Tiba-tiba bus berhenti, ternyata kami sudah sampai di Corps. Perjalanan 2 jam tidak terasa karena aku terlalu asyik menikmati perjalannan serta indahnya pemandangan.<!--more--></p>
<p>Di Corps, sudah ada seorang Pastor menunggu kami dengan mobil dan siap membawa kami menuju La Salette. Kami berlima menyalami Pastor…… dan kemudian kami masuk mobil dan lagi-lagi aku mengambil tempat duduk di depan. Ternyata pilihan ku untuk duduk di depan tepat sekali karena aku bisa menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Ditambah jalan menuju La Salette sangat menantang karena  mengitari gunung, sangat licin, berkelok-kelok dan kiri-kanan penuh dengan salju bahkan dijalan-jalan masih ada salju walau sudah dibersihkan dan sudah ditaburi garam agar salju cepat mencair. Satu persatu desa kami lewati, namun belum juga sampai di La Salette dan mobil kami terasa semakin lama semakin miring karena terus mendaki dan saya melihat desa yang kami lewati ada jauh dibawah kami artinya La Salette ada di puncak gunung. Dan memang demikian, dari kejauhan di atas gunung terlihat ada bangunan megah dengan Basilik dan terlihat juga patung yang tidak asing lagi yakni Patung Bunda Maria La Salette dengan dua  patung kecil (patung Maximin dan Melanie) yang hanya telihat separuh badan karena tertutup salju.</p>
<p>Kami sekarang sudah sampai tujuan, dan aku tiada hentinya menikmati pemandangan disekeliling gunung dan terutama patung Bunda Maria La Salette yang selama ini hanya saya lihat melalui photo. Aku melempar pandangan lebih jauh lagi dan di puncak salah satu gunung terlihat ada Cimitière (kuburan) dimana Bapa kita Pater Berthier sang Fondatur kongregasi kita ; Missionaris Keluarga Kudus terbaring dengan tenang. Aku tertegun seakan tidak percaya bahwa aku sekarang benar-benar ada di La Salette. Lalu……muncullah pertanyaan ini ;  mengapa Maria memilih tempat tersebut ? Mengapa Maria menampakkan dirinya kepada anak kecil ? Mengapa Pater Berthier jauh-jauh dari Chatonay tertarik ke La Salette ? La Salette ada di puncak gunung, jauh dari tempat penduduk ditambah lagi kalau musim dingin selalu diselimuti salju. Saya membayangkan pada 19 septenber 1846, saat Maria menampakkan dirinya pada dua anak kecil (Maximin dan Melanie) daerah tersebut pasti sangat terasing dan sangat berbahaya karena dikelilingi gunung dan banyak jurang. Di puncak gunung La Salette aku mencoba merenungkan ketiga pertanyaan tersebut bersama dinginnya gunung La Salette karena seluruh gunung diselimuti salju yang tebal.</p>
<p>Mengapa Maria memilih tempat tersebut ?</p>
<p>Pertama  : Gunung merupakan lambang keteguhan dan kekokohan dimana juga sering digambarkan sebagai tempat yang baik untuk meditasi serta untuk menemui sang Pencipta. Dalam Perjanjian Lama nabi Musa menemui Allah dan menerima 10 perintah Allah di atas gunung Sinai. Dalam Perjanjian Baru, Yesus banyak mengajar para murid-Nya di atas bukit (gunung) yang terkenal dengan sabda Yesus di atas bukit. Berbicara mengenai gunung maka identik dengan batu tapi itu tidak seratus persen benar karena ada juga gunung pasir dan gunung es. Namun kembali pada Perjanjian Baru di mana Yesus menyerahkan tugas perutusan kepada Petrus yang berarti Batu Karang sebagai lambang kekokohan Iman..<br />
Kedua : Gunung identik dengan keindahan dan merupakan tempat dimana kita bisa memandang dunia ini dengan lebih luas. Gunung selalu teguh berdiri dan setiap orang bisa melihatnya karena ia tidak pernah menyembunyikan dirinya. Di atas gunung, kita akan menyadari betapa agung Sang Pencipta dan betapa kecil kita sebagai ciptaan-Nya.</p>
<p>Jadi mengapa Maria memilih Gunung La Salette bisa dikatakan karena tempat tersebut memang sangat pas dengan kriteria di atas. Bunda Maria bisa melihat segala tingkah laku anak-anaknya dan mencoba menginngatkan mereka bila mereka mulai meninggalkan Puteranya. Maria La Salette ingin meletakkan pesan rekonsiliasi pada satu fondasi yang kokoh yakni dengan mengambil simbol gunung. Gunung tersebut bisa berarti Melanie, Maximin, Pater Berthier dan tentu juga kita semua yang sekarang berlindung di bawah perlindungan Bunda Maria La Salette.</p>
<p>Mengapa Maria menampakkan diri kepada kepada anak kecil ?</p>
<p>Seorang anak kecil identik dengan kepolosan dan kejujuran yang tidak dibuat-buat. Seorang anak kecil adalah lambang kesucian. Yesus menegaskan, bahwa bila kita ingin masuk surga kita harus seperti anak kecil tapi bukan dalam arti menjadi kekanak-kanakan melainkan dalam arti suci murni lahir-batin. Maka kalau  Maria memilih Maximin dan Melanie sebagai penyambung lidahnya, itu sangat bisa kita mengerti karena Maximin dan Melanie adalah dua pribadi yang masuk dalam kriteria di atas. Mereka berdua adalah dua anak yang polos, suci dan murni. Mengenai dua pribadi ini, para Pastor Missionaris La Salette banyak menulis dan saya sangat percaya bahwa mereka berdua adalah dua pribadi yang sangat baik.</p>
<p>Mengapa Pater Berthier jauh-jauh dari Chatonay tertarik ke La Salette ?</p>
<p>Pada jaman itu di Francis, devosi kepada Bunda Maria memang sangat kuat. Pater Berthier juga mempunyai devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria dan rupanya pesan Rekonsiliasi dari Bunda Maria La Salette sangat menyentuh hatinya sehingga beliau memutuskan untuk masuk Missionaris La Salette serta melayani para pejiarah di gunung La Salette. Gunung La Salette merupakan suatu tempat yang sangat indah (bahasa Francis : Très Joli). Menurut saya sangat cocok dengan pribadi Pater Berthier yang suka berdevosi kepada Bunda Maria dan juga mempunyai kemanpuan untuk berkotbah yang luar biasa sehingga sangat pas sebagai penyambung lidah Bunda Maria La Salette untuk menyampaikan pesan rekonsialiasi kepada seluruh umat manusia khususnya mereka yang berjiarah ke La Salette. Selain hal-hal di atas Pater Berthier sangat gemar menulis sehingga tak heran kalau buku hasil karyanya sangat banyak. Pada saat musim dingin dimana para pejiarah sangat sedikit dan untuk bekerja di luar rumah sungguh tidak memungkinkan karena semua gunung La Salette ditutupi salju. Maka, waktu untuk merenung dan menulis sangat banyak dan hal ini digunakan Pater Berthier untuk menulis tentang Maria La Salette dan Keluarga kudus. Maria La Salette dan Figur Keluarga Kudus sangat mewarnai hidup Pater Berthier sehingga sangat bisa dipahami jika beliau memilih Maria La Salette sebagai pelindung Kongregasi dan Keluarga Kudus sebagai Teladan Kongregasi kita (MSF).</p>
<p>Di dalam keheningan dan keindahan gunung La Salette, Pater Berthier menangkap keprihatinan Bunda Maria La Salette dan juga keprihatinan gereja saat itu melalui ensiklik Bapa Paus Leo XIII (Sancte Dei Civitas, 3 desembre 1880 dan Bref. Neminem Fugit) yang menginginkan misi ke seluruh dunia dan devosi kepada Keluarga Kudus. Pater Berthier bertekad untuk menjawab keprihatinan tersebut dengan mendirikan suatu institut yang khusus mendidik anak muda untuk menjadi tenaga misionaris handal yang siap dikirim ke tanah misi dan mempunyai devosi khusus kepada Keluarga Kudus. Institut inilah yang menjadi cikal bakal kongregasi kita (MSF) sekarang ini.</p>
<p>Maka, kalau saya mengatakan La Salette menjadi penting bagi perjalanan sejarah kongregasi kita, bukan semata-semata karena sekarang ini, kuburan Pater Berthier ada di La Salette tapi karena proses kearah terbentuknya kongregasi kita diawali dari La Salette. Kita juga  jangan lupa, Pater Berthier adalah anggota Missionaris La Salette. Pater Berthier untuk selamanya tetap anggota (MS), Saya hanya ingin mengingatkan kita semua, jangan sampai kata pepatah ini “seperti kacang lupa pada kulitnya” terjadi pada kongregasi kita.</p>
<p>Itulah oleh-oleh yang bisa saya bagikan dari puncak La Salette……..jangan juga lupa……Ion adalah orang yang tidak bisa diam……..alias tidak bisa hening……. Saya berharap kita semua lebih banyak lagi  bertanya mengapa dan mengapa serta menjawabnya sendiri……..Salam dari Pater Berthier dan beliau berjanji untuk selalu mendoakan kita semua….. dan kita diharapkan juga untuk tetap setia pada panggilan kita….. amin.</p>
<p>P. Ionday, MSF.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam; Siapakah Itu?]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/imam-siapakah-itu/</link>
<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 08:48:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/imam-siapakah-itu/</guid>
<description><![CDATA[Seseorang dikatakan telah menjadi imam bila ia telah diurapi sakramen imamat kudus dan telah menerim]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang dikatakan telah menjadi imam bila ia telah diurapi sakramen imamat kudus dan telah menerima berkat tabhisan dan perutusan dari seorang uskup sekaligus dilantik untuk melayani Kristus Guru, Imam dan Raja. Seorang imam turut menunaikan  pelayanan Kristus Sang Gembala Agung, yang rela mempertaruhkan nyawa-Nya demi keselamatan para domba-Nya.Oleh karena itu imam juga sering disebut“Pastor” ( dari kata bahasa Latin yang berarti gembala).</p>
<p>Untuk menjadi gembala yang baik, para imam harus selalu berada di tengah umat  untuk melayani, menghantar mereka di padang rumput yang hijau dan menghantar mereka ke sumber air yang berlimpah . Selain itu sang gembala juga harus rela dan berani mati jika harus membela mereka dari serangan musuh atau binatang buas. Seorang imam bila sungguh meneladani Kristus, ia akan dicari dan terus dicari oleh umat Allah.</p>
<p>Imam secara khas diterimakan melalui Sakramen Imamat yang melambangkan bahwa para imam berkat pengurapan Roh Kudus ditandai dengan materai istimewa dan dengan demikian dijadikan serupa dengan Kristus sang Imam Agung. Imam itu dikaruniai rahmat Allah untuk menjadi pelayan Kristus di tengah umat.Melalui pelayanan para imam, korban rohani kaum beriman mencapai kepenuhannya dalam persatuannya dengan korban Kristus. Adapun tujuan pelayanan dari imam yakni mencapai kemuliaan Allah Bapa dalam Kristus. Tujuan itu tercapai bila seorang imam harus mengetahui apa yang menjadi kebutuhan umat saat ini,apa yang menjadi keprihatinan umat pada umumnya dan umat Katolik pada khususnya. Untuk itulah, pendidikan calon imam yang panjang sangat menentukan sekaligus memastikan bahwa apakah calon imam itu layak menjadi imam atau tidak. Apakah calon imam itu sudah layak diurapi Sakramen Imamat untuk melayani Tuhan dalam diri umat-Nya.Bukan cuma itu.Umat juga harus secara sadar, bebas dan penuh syukur menerima karya Allah yang terlaksana dalam Kristus, dan menampakan itu melalui seluruh hidup para imam.</p>
<p>Maka seorang imam haruslah hidup seperti Kristus.Ia hendaknya memperhatikan kebutuhan umatnya dari pada kebutuhan pribadi ataupun tarekat.Ia harus melayani umat seperti halnya Kristus Sang Guru Ilahi.Dengan demikian,para imam ikut menambah kemuliaan Allah dan membantu umat berkembang dalam kehidupan Ilahi.</p>
<p><em>Titus Tukan (Seminaris)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sapaan Bagi Kaum Muda]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/sapaan-bagi-kaum-muda/</link>
<pubDate>Sat, 21 Oct 2006 10:59:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/sapaan-bagi-kaum-muda/</guid>
<description><![CDATA[Mrk 10:17-22
Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mrk 10:17-22</em></p>
<p>Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Jawab Yesus: “mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorang pun baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” lalu kata orang itu kepadaNya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, kemudian datnglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa., lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.<!--more--></p>
<p>Pada suatu ketika ada seorang pemuda datang kepada Yesus. Dalam suasana persaudaraan dan keakraban sang pemuda ini kemudian curhat kepada Yesus, dan akhirnya pembicaraan sampai pada klimaksnya. Ketika sang pemuda bertanya kepada Yesus: “Guru yang baik apa yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup kekal”? mendengar pertanyaan demikian Yesus sontak terkejut, bagaimana engkau mengenal Aku sebagai orang baik? Yesus balik menjawab bahwa tidak ada seorangpun yang baik selain Allah sendiri. Namun tanggapan Yesus tidak berhenti di sini, Ia kemudian melanjutkannya dengan mengatakan, engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: “jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucap saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayah dan ibumu”. Dengan kata-kata ini Yesus mengingatkan si pemuda akan beberapa hukum utama yaitu kesepuluh perintah Allah.</p>
<p>Mendengar jawaban Yesus, si pemuda pun tidak tinggal diam. Dia merasa tertantang karena suasananya makin menarik, oleh karena itu ia berkata,” Guru semuanya itu khan telah kuturuti sejak masa mudaku”. Dialog berakhir di sini dan dilanjutkan oleh penulis injil; lalu Yesus memandang dia dengan kasih sayang dan berkata kepadanya, “Untukmu hanya satu yang masih kurang. Pergilah dan juallah apa yang kau miliki dan berikanlah uang itu kepada orang miskin, dan engkau akan beroleh harta di sorga. Sesudah itu datanglah dan ikutlah Aku”.</p>
<p>Sampai di sini suasana pertemuan yang semula penuh dengan keakraban berubah menjadi sedih. Si penginjil menulis: “Mendengar perkataan itu ia(si pemuda) menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya”.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa yang masih mengganjal hati sang pemuda itu untuk memperoleh hidup kekal adalah hartanya yang melimpah. Tetapi pemahaman harta di sini pun tidak hanya terbatas pada yang materil saja, tetapi harta yang dimaksudkan bisa juga adalah kemudaan itu sendiri. Pemuda ini merasa berat untuk meninggalkan masa mudanya. Masa muda sebagai masa yang paling indah, masa-masa penuh kenangan.</p>
<p>Jadi soalnya terletak pada kenyataan adanya masa muda itu senidiri (lepas dari harta benda mana pun) sudah merupakan suatu kekayaan manusia, baik pemuda atau pun pemudi dan seringkali dihayati sebagai kekayaan khusus oleh kaum muda. Kemudaan menjadi suatu kekayaan khusus yang dialami seseorang pada masa tertentu dalam hidupnya. Masa muda itu berbeda dari masa kanak-kanak dan berbeda dari masa dewasa penuh, pun pula berbeda dari masa tua. Masa muda merupakan masa ditemukannya “aku” manusiawi dan ditemukannya sifat-sifat.</p>
<p>Bicara soal harta kekayaan kaum muda memang terlalu banyak antara lain: kekayaan untuk berorganisasi, kekayaan untuk menentukan pilihan melihat ke masa depan dan mengambil keputusan pribadi, keputusan-keputusan penting untuk masa depan dalam dimensi kehidupan manusia yang bersifat khas dan pribadi. Itulah sebabnya bahwa kekayaan kaum muda tidak lain adalah kemudaan itu sendiri. Namun kita toh patut bertanya bagi teman-teman kaum muda apakah kekayaan itu justru mengasingkan kita dari Kristus? Mengasingkan kita dari kehidupan menggereja? Seperti yang diperlihatkan oleh sang pemuda tadi setelah mendengar jawaban Yesus: “ Mendengar perkataan itu, wajahnya menjadi kecewa, lalu ia pergi dengan sedih karena hartanya banyak”. Maka perjuangan bagi kita kaum muda saat ini adalah kesulitan untuk meninggalkan harta kita yakni kemudaan kita untuk ikut serta Yesus. Dan tentu tidak lazim lagi kalau kita mendengar  berbagai komentar dengan nada-nada minor tentang kehidupan kita sebagai anak muda. Tetapi akhirnya juga semua kembali kepada kita semua sebagai orang  muda, tidak adakah sesuatu yang baik dari kaum muda?, tentu ada banyak yang bisa kita sumbangkan bagi Gereja, masyarakat dan keluarga. Mari kita buktikan bahwa kita bisa,.sebab kita memiliki banyak harta yang bisa dibagikan bagi orang lain.<br />
<em>(Fr. Daniel Rusen, MSF)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ratapan Panjang Putra Linggang]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/ratapan-panjang-putra-linggang/</link>
<pubDate>Sat, 21 Oct 2006 10:42:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/ratapan-panjang-putra-linggang/</guid>
<description><![CDATA[Kepada: para sahabat
Karya: Yully Redzie
Sobat
Kau tentu tahu pasti,
Betap gelombang globalisasi
Tel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kepada: para sahabat<br />
Karya: Yully Redzie</em></p>
<p>Sobat<br />
Kau tentu tahu pasti,<br />
Betap gelombang globalisasi<br />
Telah melanda negeri ini<br />
Dari hari ke hari tiada henti<br />
Tak kan bisa dihindari, dibendung, dan ditawar-tawar lagi</p>
<p>Sobat,<br />
Kau lihat dengan mata kepal sendiri<br />
Betapa bumi negeri ini<br />
Telah dikeruk, dibor, dan digali sesuka hati<br />
Betapa hutan Kalimantan dan tanah adat di Kutai Barat<br />
Telah dibabat dan digunduli tanpa kompromi<br />
Tanpa peduli akan perbaikan nasib dan<br />
Ketentraman hidup yang langgeng lestari<br />
Bagi anak-cucu negeri ini di hari nanti<!--more--></p>
<p>Sobat,<br />
Kau saksikan sendiri,<br />
Betapa derapo pembangunan pengisi kemerdekaan<br />
Berjalan begitu simultan di sana-sini di santero negeri<br />
Di segala segi di segala lini<br />
Telah melalap dan melulur nilai-nilai nan luhur suci<br />
Menelan hakikat dan arti nan paling hakiki<br />
Dari misi dan karya penyelamatan manusi</p>
<p>Sobat,<br />
Kau tak perlu lagi sangsi<br />
Kau tak perlu termangu ragu<br />
Karena bukanlah misteri dan rahasia lagi<br />
Betap kini sikap aji mumpung begitu tinggi melambung<br />
Betapa modus operandi terjalin tertata begitu rapi<br />
Di segala segi di segala lini<br />
Demi monopoli dan ingin menang sendiri<br />
Demi komersialisasi, kolusi, dan korupsi</p>
<p>Sobat,<br />
Kaun telah mengerti pula<br />
Betapa emas, intan, dan tembaga,<br />
Batubara, timah, dan minyak bumi<br />
Telah disedot dan digali<br />
Betapa danau dan kali lumar tercemar polusi<br />
Ikan-ikan pada mati, Mahakam semakin legam,<br />
Betapa kayu besi, bengkirai dan meranti<br />
Gaharu dan tengkawang, dan masih banyak lagi<br />
Tak terhitung, tak terbilang yang telah ditebang<br />
Dan dipotong dengan gergaji bermata rantai<br />
Sementar reboisasi cenderung hanyalah sekedar janji basa-basi<br />
Realisasi minim dan lambat ssekali<br />
Betapa punai, tiung, dan enggang pada kegerahan<br />
Tak ada lagi pohon-pohon rindang untuk bernaung dan bersarang<br />
Betapa rusa dan kijang, singa dan beruang<br />
Harimau dan macan menggelinjang kehausan<br />
Bergelimpangan mati kelaparan</p>
<p>Sobat,<br />
Kau lihat<br />
Betapa tanah-tanah adapt milik masyarakat<br />
Hak ulayat warisan nenek moyang yang tak bersurat<br />
Telah dirambah dan dibabat tanpa mufakat<br />
Dirajang dan dicincang sewenang-wenang;<br />
Betapa rumah-rumah panjang bertiang<br />
Kian berkurang kian menghilang<br />
Kian usang kian lekang<br />
Tiang semakin goyang<br />
Dinding dan atap kita berlubang renggang<br />
Sedangka sirap, balok, reng, dan papan<br />
Senantiasa disita dan ditahan, terkatung-katung berkepanjangan<br />
So pasti,<br />
Tempat tinggal yang ideal, sehat, dan asri<br />
Hanyalah khayalan dan impian indah di siang hari<br />
Terwujud menjadi kenyataan entah kkapan<br />
Minyak kian melonjak<br />
Listrik kian mencekik<br />
Padam bermalam-malam<br />
Rumah dan desa gelap gulita<br />
Jalan-jalan desa hancur becek berlumpur<br />
Tidak terurus tidak teratur jalan-jalan dan halu tak pupus-pupus</p>
<p>Sobat<br />
Kau pun dengar<br />
Banjir, hutan dan semak belukar yang terbakar<br />
Lading berpindah dicap sah sumber masalah<br />
Dayak yang salah, bebal, dan Bengal<br />
Dituduh pangkal penyebab musibah<br />
Dituding menjadi tumbal.</p>
<p>Sobat<br />
Dengan suar serak dan hati yang terkoyak<br />
Aku berteriak</p>
<p>Wahai Bahau<br />
Mengapa kau masih saja nyalang terpukau<br />
Apakah memang kau tak hirau-hirau<br />
Apakah kau tidak merasa risau dan galau?</p>
<p>Wahai Benuaq,<br />
Mengapa kau tak tampak bergerak untuk kompak<br />
Apakah kau memang pekak-pekak badak dalam bertindak<br />
Adakah kau merasa taraf hidupmu sudah cukup layak?</p>
<p>Wahai Bentian,<br />
Mengapa kau masih saj berjalan sendirian,<br />
Apakah kau memang berkeberatan bergandengan tangan<br />
Dalam ikatan setia kawan senasib sepenanggungan<br />
Adakah kau sudah merasa mapan?</p>
<p>Wahai Bukat,<br />
Mengapa kau tetap saja berjalan di tempat<br />
Apakah kau memang sangat berat untuk terlibat,<br />
Dan ikut berbuat untuk mufakat tanpa syarat<br />
Adakah kau merasa sudah kuat dan terhormat?</p>
<p>Wahai Busang,<br />
Mengapa kau masih saja berjarak renggang,<br />
Apakah kau nemang panatang berhati lapang<br />
Mengapa kau masih saja tak tergoyang untuk saling menggalang<br />
Apakah kau memang merasa tak perlu ditunjang dan ditopang?</p>
<p>Wahai Kenyah,<br />
Mengapa kau masih saja ogah tak mau berubah untuk berkiprah<br />
Mengapa kau masih saja suka bertingkah,<br />
Apakah kau memang merasa tak gundah gelisah,<br />
Walau dikunyah-kunyah dan dimamah,<br />
Adakah kau telah  lesu darah dan pasrah?</p>
<p>Wahai Penihing,<br />
Mengapa kau tetap saja bergeming tak bersuara nyaring<br />
Apakah kau memang tak mau pusing-pusing<br />
Adakah kau merasa berjalan searah-seiring itu tak penting?</p>
<p>Wahai Punan,<br />
Mengapa kau masih saja berpangku tangan dan<br />
Berjalan terlalu pelan<br />
Apakah kau memang merasa tak berkepentingan<br />
Untuk ikut aktif ambil bagian?</p>
<p>Wahai Tunjung,<br />
Mengapa kau tetap saja sendirian mematung bingung<br />
Dan enggan tak mau bergabung<br />
Apakah kau masih saja hitung-hitung<br />
Lantaran takut bunting dalam untung<br />
Atau adakah kau memang cenderung hidup terkurung<br />
Laksan katak di bawah tempurung?</p>
<p>Sobat,<br />
Kini pilkada Kutai Barat sudah lewat<br />
Tanggal 29 February 2006<br />
Hari penentu hidup atau mati<br />
Timbul atau tenggelam<br />
Putih atau hitamnya masyarakat pedalaman<br />
Telah kita lalui dengan jalinan tata kerja yang rapi<br />
Hasil pilkadapun kita sudah tahu dengan pasti dan gamblang nyata</p>
<p>So pasati<br />
Karena tanggung jawab moril, kita terpanggil untuk memberi andail<br />
Dengan semangat sempekat dan mufakat bulat nan kokoh kuat<br />
Dengan jalinan kerjasama yang rapid an bermartabat<br />
Kita wajib terlibat untuk berbuat dengan syarat sebelum terlambat<br />
Agar Kutai Barat kian segar, kian mekar, kian berkibar,<br />
Demi masyarakat Kutai Barat yang adil, aman dan sehat segera terlihat<br />
Demi anak cucu yang serdas dan maju, bahagia dan sejahtera<br />
Seimbang dan merata di segala lini dan di segala segi tata dunia<br />
Segera tercipta dan terealisasi.<br />
Hasil pilkada haruslah diterima dengan jiwa kesatria<br />
Legwa, dan lapang dada<br />
Dan bukan dengan jiwa yang kerdil, pikiran picik, sempit dan dekil<br />
Nalar lumar, kotor, tak sehat,<br />
Sportivitas soal kualitas<br />
Dan bukan semata-mata puas atau soal tidak puas.<br />
Kiblat pada pilihan rakyat jangan tak kuat<br />
Jangan diperkosa,jangan dikebiri, jangan disunat<br />
Pilihan hati nurani rakyat yang suci dan tulus lurus<br />
Harus dihormati dan dijunjung tinggi-tinggi<br />
Jangan sangsi, jangan a priori, jangan emosi<br />
Karena,<br />
Selalu bersatu kita kan maju<br />
Selalu berbantah kita kan pecah, lemah dan goyah<br />
Selalu bentrok kita kan terperosok<br />
Selalu berselisih kita kan tersisih, tertindih pedih perih<br />
Selalu bersengketa kita kan menderita dan merana<br />
Selalu bertikai, mustahil damai kan tercapai<br />
Selalu dendam dan iri dengki<br />
Kita kan tenggelam, terbenam dalam di dasar Mahakam<br />
Di Sendawar, kita kan terdampar dan terkapar<br />
Menggelepar menanti-nanti</p>
<p>Sobat, apakah kau sadar<br />
Di luar di sekitar kita<br />
Tak terkira jumlahnya, beruang, macan, harimau dan singa lapar<br />
Berkeliaran mencari mangsa<br />
Di luar di sekitar kita<br />
Barisan panjang petualang jalang<br />
Mengelilingi memagari menghadang berteriak berkoar garang<br />
Mencri peluang</p>
<p>Sobat,<br />
Kau perlu was-was dan cemas,<br />
Di bawah Ismail Thomas, kita kan terbebas tuntas<br />
Di bawah didk Efendi kita tidak perlu ragu atau sangsi<br />
Segala idaman dan dambaan yang kita cari selam ini, kini dan nanti<br />
Pasti akan ada realisasi<br />
Niscaya akan ada solusi yang nyata dan terpuji<br />
Karena sesungguhnya, wahai sobat,<br />
Di Kutai Barat tiada tempat bagi yang bejat, lancung dan keji<br />
Di Sendawar tiada kamar dan bilik bagi yang licik, munafik dan<br />
Sok pintar, arogan kasar dan vulgar.<br />
Di sini, kini dan nanti<br />
Tiada layak bagi yang loba, serakah dan congkak<br />
Sluman-sluman,aji mumpung dan pekak-pekak badak.</p>
<p>Samarinda, 15 April 2006.<br />
 </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kau Goreskan Cintamu Dalam Telapak Tanganku ]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/08/12/kau-goreskan-cintamu-dalam-telapak-tanganku/</link>
<pubDate>Sat, 12 Aug 2006 02:59:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/08/12/kau-goreskan-cintamu-dalam-telapak-tanganku/</guid>
<description><![CDATA[“Karena engkau sangat dikasihi Sang Isa,
maka aku beranikan diri, mengajakmu untuk mengisi dan men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Karena engkau sangat dikasihi Sang Isa,<br />
maka aku beranikan diri, mengajakmu untuk mengisi dan mengakhiri hidupmu dengan Indah”. </em></p>
<p><strong>Refleksi Panggilan dari Skolastikat MSF</strong> <em>Oleh: Fr. Ama Gebby Maing, MSF</em></p>
<p><strong>Adikku yang sangat kucintai…..</strong><br />
Seiring dengan semilir angin dan senja kelabu, ijinkanlah aku berbisik di lubuk hatimu bahwa aku tengah dirundung kegelisahan yang tak kunjung pudar bahkan hadir dalam irama langkahku bagai kundur di atas dulang. Pada saat ini dengan kebulatan hati, kuberanikan diri untuk mengatakan sejujurnya kepadamu bahwa aku sedang merenungkan nasib dirimu. Aku tahu bahwa sikap ini tentu tak akan pernah membantu mengubah dirimu bahkan mungkin sebagai sesuatu yang sia-sia. Aku insaf bahwa aku mengalami kesulitan untuk mengubah sikap merenung menjadi tindakan nyata lantaran, aku semakin sadar bahwa cinta butuh pembuktian. Seandainya saat ini engkau meminta bukti maka aku hanya mengatakan; “<em>detik ini juga kusebut namamu dalam intimitasku dengan Sang Isa</em>”. Sesungguhnya hanya satu yang aku katakan padamu bahwa “<em>aku sangat mencintaimu</em>”. <!--more--></p>
<p>Aku tahu bahwa cinta memang tidak harus memiliki, cinta tidak harus selalu dekat secara fisik, cinta tidak selalu memberi waktu dan perhatian, cinta tidak selalu diukur dengan harta. Lantas dengan semuanya itu, engkau malah balik bertanya padaku, “ <em>seperti apakah cintaku itu</em>?”. Maaf adikku…, untuk membahasakan kata Cinta, rasanya aku mengalami kesulitan. Cinta bukan soal rumusan matematika atau fisika seperti yang pernah ku pelajari enam tahun silam di bangku SMA St. Darius-Larantuka.  Cinta adalah sesuatu yang dirasakan, dialami dan dihayati sendiri. Maka dari itu aku ingin menjawab pertanyaanmu di atas dengan cara mengajak engkau untuk mengingat saat pertama kita melukis cinta. “<em>ingatlah adikku bahwa disaat engkau menangis karena ditinggal-pergikan oleh orang tuamu, akulah yang pertama ada di sampingmu dan mengeringkan air matamu dengan lembut</em>”. Itulah sebuah ekspresi cinta yang paling sederhana.  Saat-saat di mana engkau kesepian, aku mencoba mengajakmu untuk ceria dan dalam keceriaan yang mungkin terpaksa, kita bisa bersendagurau, becerita tentang dunia sepak bola. Engkau dengan senyum mengatakan padaku bahwa pemain kesayanganmu ialah Ronaldo dan team favoritmu ialah Liverpool.</p>
<p><strong>Adik yang kucintai….</strong><br />
Bersamaan dengan suratku ini kukatakan padamu MAAF. Aku ingat betul kata “<em>pardon me</em>” yang pernah kau goreskan di telapak tanganku. Kini kuulangi lagi kata itu padamu karena aku pun telah menyakitimu. Inilah yang membuat aku begitu terbelit dalam pikiran dan perasaan. Dua persoalan yang membuatmu marah yaitu: <em>pertama</em>, ketika engkau mengatakan kerinduanmu agar aku dapat makan semeja denganmu dan aku tidak mengerti kerinduan hatimu; <em>kedua</em>: ketika engkau meminta alamat rumahku dan aku tidak bisa memberikannya karena aku tidak mengerti maksudmu. Adik…, aku tahu bahwa semuanya itu justru membuatmu marah sampai memukul dan meninju dadamu sendiri. Engkau benar-benar marah padaku hanya karena aku tidak mengerti isi hatimu. Namun itu semua tidak berarti bahwa aku egois kan…?. “Coba renungkan kembali! Saat-saat di mana aku menyendengkan telingaku pada kata serak yang keluar dari mulutmu, saat-saat di mana aku dengan serius melihat engkau membahasakan suatu bahasa dengan jari-jemarimu, saat itu pula engkau mengartikan maksud hati dan pikiran hanya dengan lirikan matamu, gerak bibir dan lidahmu”. Aduhh…kasihan, aku belum juga mengerti semuanya itu. Lantas engkau kehabisan cara, dan akhirnya engkau mendapatkan sebuah pena dan menuliskan pada telapak tanganmu bahwa “<em>engkau ingin agar aku memahamimu</em>”.</p>
<p><strong>Adikku yang ku cintai….<br />
</strong>Aku tahu tentang luka hatimu yang teriris menjadi kepingan-kepingan. Aku ingin berbagi dengan kepingan itu. Kata maafku adalah pembalut luka hatimu, walau kusadari bahwa kata maaf tidak pernah cukup. Luka tetap luka atau meskipun sembuh namun tetap meninggalakan bekas, andaikata engkau menolak maafku. Itulah tanda bahwa kita pernah saling mengisi dan berbagi. Aku tahu bahwa engkau sangat marah karena engkau berpikir; aku seharusnya lebih peka dengan dirimu karena aku adalah seseorang yang bisa mendengar dan bisa berbicara. Aku sadar mengerti bahasamu adalah perjuanganku. Maka baiklah aku mengajak engkau dan aku untuk berproses. Berproses untuk memahamimu adalah cita-citaku. Aku yakin bahwa ini tidak mudah, tetapi lebih bernilai jika kita saling menghargai proses melalui penerimaan, pemahaman, keterbukaan, komunikasi, penghargaan, rendah hati, kesabaran, pengampunan. Murid Sang Isa biasa mengistilahkannya dengan cinta kasih yang di dalamnya terkandung iman, harapan dan kasih.</p>
<p><strong>Adikku yang terkasih,…</strong><br />
Bertumbulah menjadi dewasa, aku adalah sahabat sejatimu, “sahabat bisu-tuli”.<br />
Aku ingin menegaskan kepadamu bahwa kendati engkau mengalami nasib sebagi sosok bisu-tuli, tokh “Engkau sangat diKasihi oleh Sang Isa. Hal ini kukatakan karena engkau adalah sosok bisu-tuli yang diberkati. Pernyataanku ini tentu tidak berfaedah apabila engkau sendiri tidak yakin bahwa engkau diberkati-Nya”. Sayang…, jangan sampai terlintas dalam benakmu, perasaanmu, dan hatimu bahwa engkau sebagai sosok terkutuk!.<br />
Hadapilah hidupmu dan polesilah dengan keceriaan dan saatnya nanti engkau harus mengakhiri pula dengan indah!.<br />
Aku tetap ingat saat aku mangatakan isi hatiku padamu via buku catatanmu bahwa “ setelah kita berpisah, aku akan menelponmu, dan engkau malah tertawa terbahak-bahak. Dengan senyum engkau membuka telapak tanganku dan menulis: “…. maaf aku anak bisu-tuli frater-aku sayang frater. Frater  SMS aku saja karena aku bisa mambaca dan mengoperasi HP. Aku jadi kaget, ternyata aku lupa bahwa engkau Bisu dan Tuli. Aku harus merenungkan kembali pengalaman ini, sebab jangan-jangan aku masih sibuk dengan diriku sendiri. Ma kasih sayang, kau telah mengajarkan banyak hal untukku. (<em>dari yang punya hati untukmu</em>).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dalam Tangan Siapa?]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/dalam-tangan-siapa/</link>
<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 07:40:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/dalam-tangan-siapa/</guid>
<description><![CDATA[Bola basket dalam tanganku berharga Rp.90.000,= .
Bola basket dalam tangan Michael Jordan berharga $]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Bola basket dalam tanganku berharga Rp.90.000,= .<br />
Bola basket dalam tangan Michael Jordan berharga $33 juta.<br />
Tergantung ada dalam tangan siapa.</p>
<p align="center">Baseball dalam tanganku berharga Rp. 60.000,=.<br />
Baseball dalam tangan Mark McGuire berharga $19 juta.<br />
Tergantung ada dalam tangan siapa.</p>
<p align="center">Raket tenis tak ada gunanya dalam tanganku.<br />
Raket tenis dalam tangan Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.<br />
Tergantung ada dalam tangan siapa.</p>
<p align="center">Tongkat dalam tanganku menghalau binatang buas.<br />
Tongkat dalam tangan Musa membelah lautan luas.<br />
Tergantung ada dalam tangan siapa.</p>
<p align="center">Ketapel dalam tanganku merupakan mainan anak-anak.<br />
Ketapel dalam tangan Daud merupakan senjata dahsyat.<br />
Tergantung ada dalam tangan siapa.</p>
<p align="center">Lima roti dan dua ikan dalam tanganku menjadi beberapa potong roti.<br />
Lima roti dan dua ikan dalam tangan Yesus memberi makan ribuan orang.<br />
Tergantung ada dalam tangan siapa.</p>
<p align="center">Paku-paku dalam tanganku menghasilkan sangkar burung.<br />
Paku-paku dalam tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi segenap umat manusia.<br />
Tergantung ada dalam tangan siapa.</p>
<p align="center">Kau lihat sekarang, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.<br />
Jadi serahkan segala masalahmu, kekhawatiranmu, ketakutanmu, harapan-harapanmu, impian-impianmu, keluargamu, kawan serta sahabat-sahabatmu dalam tangan Tuhan sebab... segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.<br />
Pesan ini sekarang ada dalam tanganmu.<br />
Apa yang hendak KAU lakukan dengannya?</p>
<p align="center">Tergantung ada dalam tangan siapa. <font size="2"><font face="Times New Roman"> </font></font></p>
<p align="right"><i><font size="2"><font face="Times New Roman">Wiro van Diemen OFMcap, Medan</font></font></i><font size="2"><font face="Times New Roman"> </font></font></p>
<p align="right"><!--more--></p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2006/07/dalamtangan.jpg" /></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
