<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>makalah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/makalah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "makalah"</description>
	<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 22:27:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[SIFAT-SIFAT  KIMIA KAYU]]></title>
<link>http://riily.wordpress.com/?p=40</link>
<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 07:48:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>riily</dc:creator>
<guid>http://riily.wordpress.com/?p=40</guid>
<description><![CDATA[A. Komponen Kimia Kayu
1. Komponen Primer
Komponen primer komponen yang terdiri dari zat-zat yang mo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>A. Komponen Kimia Kayu<br />
1. Komponen Primer<br />
Komponen primer komponen yang terdiri dari zat-zat yang molekulnya termasuk golongan molekul tinggi (BM tinggi) dan merupakan komponen yang menentukan sifat kimia dan sifat fisik dari dinding sel, karena komponen tersebut merupakan komponen terbesar dari dinding sel. Bagian terpenting dari komponen primer adalah selulosa, dimana selulosa inilah yang sangat menentukan sifat-sifat kayu. Sedangkan hemiselulosa dan lignin peranannya sekunder.<br />
	Komponen sekunder terdiri dari zat-zat dengan berat molekul rendah dan bukan penyusun utama kayu, jumlahnya sedikit didalam dinding sel. Meskipun demikian komponen sekunder turut memberi pengaruh terutama memberi pengaruh pada sifat fisik kayu dan sebagian sifat kimia kayu melalui modifikasi sifat-sifat komponen primer.	</p>
<p>B. Fraksi Polisakarida dalam Dinding Sel<br />
1.	Holoselulosa<br />
a.	Selulosa<br />
Selulosa adalah polisakarida alami dengan berat molekul tinggi yang sangat tahan terhadap perombakan, dimana satuan-satuan  - D- glukopiranosa dihubungkan satu dengan yang lainnya oleh ikatan glukosida antara atom C nomor 1 dengan atom C nomor 4 dari satuan yang berdekatan.</p>
<p>Di dalam kayu terdapat berkas-berkas selulosa yang berkumpul satu sama lain yang membentuk mikrofibril, beberapa mikrofibril membentuk fibril. Fibril dalam dinding sel membentuk lapisan primer dan sekunder (lapisan S1, S2, S3) dan akhirnya terbentuk sel. Pada mikrofibril ada daerah – daerah tertentu yang bentuknya teratur ( kristalin) dan bentuk tidak teratur (amorf), daerah kristalin sangat sulit ditembus oleh air.<br />
Yang dapat melarutkan selulosa adalah :<br />
	- Cuprammonium hidroksida<br />
	- Larutan garam ZnCL2 pekat<br />
	- H2So4 70%, dan<br />
	- HCl 40%<br />
Sifat stabilitas pada selulosa adalah penting sehubungan dengan tujuan pemakaian kayu dan serat selulosa, tetapi menyulitkan didalam memodufikasi sifat alaminya. Selulosa alami yang paling murah adalah serat kapas, terdiri dari 98% selulosa, 1 % protein, 0,45% lilin, 0,65% bahan pektin dan 0,15% mineral. Dengan teknik pemurnian yang semakin baik, selulosa yang diturunkan dari kayu dan sumber lain sama baiknya dengan selulosa kapas.<br />
Elemen dasar (elemen pengulang) dari selulosa adalah selobiosa, dimana panjang selobiosa adalah 10,3 A. Selebiosa terdiri dari dua monomer -D-glukopiranosa yang berdekatan. Selulosa kayu berbeda dengan selulosa kapas dimana selulosa kayu mempunyai hemiselulosa yang terikat erat pada selulosa sedangkan selulosa kapas tidak.<br />
Sumber selulosa dapat ditemui pada tumbuhan tingkat tinggi dan tingkat rendah.<br />
Jenis	Persentase<br />
Kapas	95-99<br />
Rami	80-90<br />
Bambu	40-50<br />
Kulit	20-30<br />
Lumut	25-30<br />
planton	25</p>
<p>b.	Hemiselulosa<br />
Istilah hemiselulosa dilontarkan untuk menunjukan polimer karbohidrat amorf yang berasosiasi dengan selulosa dan lignin. Hemiselulosa bukanlah zat antara dalam pembentuk selulosa. Hemiselulosa bersifat heteropolisakarida (selulosa bersifat homopolisakarida). Kadar hemiselulosa dalam kayu kering berkisar 20 – 30 %.<br />
Hemiselulusa kayu tersusun dari  lima jenis gula yaitu 3 heksosa (glukosa, manosa dan galaktosa), 2 pentosa ( xilosa dan arabinosa). Susunanan hemiselulosa berbeda antara kayu daun jarum dengan kayu daun lebar. Hemiselulosa penyusun kayu daun jarum adalah galaktoglukomanan,arabinoglukoronoksilan dan arabinogalaktan, sedangkan hemiselulosa penyusun kayu daun lebar adalah glukoronoksilan dan glukomanan.<br />
Berdasarkan sifat kimianya dapat didefinisikan sebagai bagian total dalam kayu yang sebagian besar larut dalam alkali encer. Bila dihidrolisa oleh asam encer membentuk berbagai jenis gula penyusunnya dan asam-asam uronat. Komponen (gula-gula) penyusun hemiselulosa terdiri dari : D-glukosa, D-Manosa, D-Xilosa, L-arabinosa, L-Ramnosa. Derajat polimerisasi hemiselulosa maksimum 200.</p>
<p>C. Lignin<br />
	Lignin dapat didefinisikan sebagai suatu bahan penyusun kayu yang tersisa setelah kayu diekstrak dan direaksikan dengan asam-asam pekat. Didalam kayu, satuan khas penyusun semua lignin adalah fenil-propana yang saling berhubungan dengan ikatan eter.  Lignin merupakan fraksi bahan dinding sel  yang khas untuk tumbuhan berkayu. Dijumpai pada kelompok spermathopyta. Protolignin bersifat sangat thermo-plastis, artinya akan lunak bila dipanaskan dalam suhu tinggi.<br />
Satuan fenil-propana dalam kayu ada dua macam, yaitu :<br />
1.Satuan guaiasil<br />
satuan yang mengalami penggantian salah satu hidrogennya dengan satu gugus metoksil.<br />
2.Satuan siringil<br />
Bila dua atom hidrogen pada rantai fenol aromatis diganti dengan 2 gugus metoksil.<br />
Peranan lignin terhadap sifat-siat kayu, antara lain :<br />
1.dapat meningkatkan sifat kekayuan dan kekerasan<br />
2.bersifat bulking agent (pemadat), sehingga meningkatkan kestabilan dimensi<br />
3.sebagai pengikat antar sel.<br />
Klasifikasi dan distribusi lignin<br />
1.Lignin guayasil : terdapat pada kayu daun jarum (26-32%)<br />
2.Lignin guayasil siringil : terdapat pada kayu daun lebar ( 20-28%)<br />
Distribusi lignin yang paling tinggi terdapat pada lamela tengah akan tetapi volume jaringan pada lapisan sekunder lebih tinggi maka secara total persentase lignin tetap terbanyak pada dinding sekunder.<br />
Dibandingkan selulosa lignin kurang higroskopis. Lignin termasuk zat-zat yang agak sulit dilarutkan. Menurut metoda pemisahannya lignin dapat dibedakan :<br />
1.Lignin Klason, dengan H2SO4 72% yang disebut juga lignin tak larut asam<br />
2.<a href="http://uangpanas.com/?id=270785">Lignin Byorkman dengan toluena dan diekstraksi dengan dioksan-air. Disebut juga lignin kayu giling.</p>
<p>           Gambar Satuan Fenil Propana, Guaiasil dan siringil</p>
<p>D. Bahan Organik (zat ekstraktif)<br />
	Zat ekstraktif bukan merupakan bagian yang penting dari dinding sel, bahkan  banyak jenis kayu yang tidak mengandumng zat ekstraktif. Umumnya dalam kayu terdiri dari campuran berbagai macam zat, masing-masing dengan jumlah yang minim.<br />
Umumnya kadar ekstraktif kayu hanya beberapa persen saja. Keistimewaan misalnya dijumpai pada kayu Schinopis lorentzii (Quebracho) 20 –25 %, pada kayu larix 26 – 30%, dan jenis Rhizopora sp 30%.<br />
Ekstraktif pada konifer umumnya terdapat dalam saluran damar disebut juga oleoresin. Terdiri dari 50% asam resin, 20-30% monoterpena atsiri dan sisanya berupa terpenoid ester asam lemak. Resin dalam parenkim terutama berupa ester asam lemak, lilin dan sterol.<br />
Ekstraktif pada kayu hardwood umumnya berada pada sel jari-jari. Selain resin ada juga lemak, lilin dan sterol. Ekstaktif lebih banyak dijumpai pada bagian teras. Walaupun dalam kayu jumlahnya minim, ekstraktif memberikan kontribusi yang besar pada banyak sifat kayu, misalnya :<br />
1.	Bau dan rasa, ketahanan terhadap pembusukan atau terhadap serangga<br />
2.	Permeabilitas kayu<br />
3.	Sifat fisik terutama berat jenis dan kekerasan<br />
4.	Membantu dalam mengidentifikasi jenis.<br />
Zat ekstraktif atau bahan organik dalam kayu berkisar 0,3 – 11,6% tergantung pada cara mengekstrak dan zat pengekstrak yang digunakan. Zat ekstraktif yang larut dalam air dingin 0,3 – 4,4 %, kadar ekstraktif yang larut air panas 1,2 – 11,6% dan kadar ekstraktif dalam alkohol benzena 1,1 –7,1%. Zat ekstraktif yang larut air dingin berupa pati, glukosa, fruktosa dan sukrosa. Yang larut air panas berupa pektin, tanin, zat warna dan gom. Yang larut dalam alkohol benzena, berbagai macam asam lemak, damar, lilin, minyak dan gom.</p>
<p>E. Senyawa An-Organik<br />
	Senyawa anorganik dinyatakan dalam kadar abu kayu. Biasanya kurang dari 1 %, namun beberapa jenis kayu ada juga yang mencapai 2,5 % dari berat kering kayu. Dengan analisis spektograf, diketahui elemen kimia utama penyusun abu adalah Ca, K, Mg dan Si disamping elemen lain dalam jumlah yang minim.<br />
	Bila kadar abu di atas normal, maka dapat diduga silika-lah yang merupakan komponen utamanya. Adanya Si kurang dari satu persen sudah menimbulkan laju pengurangan ketajaman mata pisau yang berarti. Antara kayu daun jarum dan kayu daun lebar dilihat dari kandungan kimia memiliki perbedaan, yaitu :<br />
1.	Selulosa lebih banyak pada kayu daun lebar<br />
2.	Lignin lebih banyak pada konifer<br />
3.	Hemiselulosa lebih banyak pada kayu daun lebar<br />
Tabel 6. Perbedaan kandungan zat kimia kayu Indonesia berdasarkan berat kering tanurnya (BKT) : </p>
<p>No.	Kandungan kimia	Hardwood %)	Konifer (%)<br />
1.	Selulosa	42 – 55	40 – 50<br />
2.	Hemiselulosa	20 – 35	20 – 35<br />
3.	Lignin	17 – 32	15 – 35<br />
4.	Kadar Abu	&#60;1 – 2,5	1<br />
5.	Akstraktif	&#60;1	1 – 3</p>
<p>C. Kegunaan bahan Kimia Kayu<br />
B.	Komponen Primer<br />
a.	Selulosa : penting dalam proses pembuatan pulp (bubur kayu)<br />
Kertas, papan serat, film<br />
Pulp<br />
				Serat sintetis, rayon, plastik<br />
b. Hemiselulosa : sebagai sumber etanol, bahan baku ragi<br />
c.	Lignin<br />
1. bahan mentah membuat vanili<br />
2. bahan bakar untuk energi<br />
3. sebagai perekat</p>
<p>II. Komponen Skunder<br />
a.	Yang diekstrak dengan air panas : Tanin : bahan penyamak kulit, perekat<br />
b.	Zat pewarna : makanan , tekstil dll<br />
c.  Yang diekstrak dengan alkohol : damar dan asam : bahan baku obat, cat, sabun<br />
d.  Bahan kimia alkaloid : obat, racun, pestisida dll<br />
e. Hasil destilasi (pengurasan) sempurna : sebagai bahan baku kimia industri penting, misalnya : terpentin, metanol, keton, ter, arang, dan berbagai macam gas untuk bahan bakar atau sebagai sumber energi. </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[EVALUASI SARANA TEMU KEMBALI PERPUSTAKAAN]]></title>
<link>http://tartojogja.wordpress.com/?p=48</link>
<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 02:15:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>tartojogja</dc:creator>
<guid>http://tartojogja.wordpress.com/?p=48</guid>
<description><![CDATA[1
Tugas Mata Kuliah Organisasi Informasi
EVALUASI SARANA TEMU KEMBALI PERPUSTAKAAN
SEKOLAH TINGGI EK]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Tugas Mata Kuliah Organisasi Informasi<br />
EVALUASI SARANA TEMU KEMBALI PERPUSTAKAAN<br />
SEKOLAH TINGGI EKONOMI ISLAM TAZKIA<br />
Oleh :<br />
Sofiyan Sauri<br />
NPM 0706307046<br />
Program Magister Ilmu Perpustakaan dan Informasi<br />
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia<br />
Depok 2008<br />
2<br />
DAFTAR ISI :<br />
Bab I : Pengelolaan sarana temu kembali<br />
1.1 Pendahuluan 3</p>
<p><!--more-->1.2 Pengelolaan sarana temu kembali buku teks 3<br />
1.3 Pengelolaan sarana temu kembali koleksi majalah 6<br />
1.4 Pengelolaan sarana temu kembali koleksi jurnal 7<br />
1.5 Pengelolaan sarana temu kembali koleksi digital 7<br />
1.6 Pengelolaan sarana temu kembali karya ilmiah 7<br />
Bab II : Analisis kinerja sarana temu kembali 9<br />
2.1 Pembuatan wakil ringkas dokumen 9<br />
2.2 Evaluasi kinerja sarana temu kembali 11<br />
2.2.1 Software Athenaeum Light 11<br />
2.2.2 Evaluasi sarana temu kembali untuk karya non-buku 14<br />
Daftar pustaka 16<br />
3<br />
BAB I<br />
PENGELOLAAN SARANA TEMU KEMBALI<br />
1.1 Pendahuluan<br />
Perpustakaan STEI Tazkia berdiri sejak tahun 2001 bersamaan dengan dimulainya<br />
perkuliahan untuk mahasiswa angkatan pertama STEI Tazkia. Perpustakaan STEI<br />
Tazkia merupakan unit informasi yang berada di bawah naungan STEI Tazkia. Sebagai<br />
perpustakaan akademik, koleksi perpustakaan STEI Tazkia didominasi oleh koleksi<br />
yang berhubungan dengan koleksi-koleksi yang bersifat akademis. Koleksi utama STEI<br />
Tazkia adalah koleksi yang berhubungan dengan ekonomi syariah (asuransi, perbankan,<br />
investasi, zakat,manajemen, pemasaran, kewirausahaan, dan akuntansi) yang memiliki<br />
proporsi 65 % dari total koleksi perpustakaan. Selain koleksi yang berhubungan dengan<br />
ekonomi syariah, koleksi perpustakaan STEI Tazkia juga berisi koleksi ekonomi<br />
konvensional, dan koleksi yang berhubungan dengan agama Islam.<br />
Skema koleksi yang ada di Perpustakaan STEI Tazkia adalah sebagai berikut :<br />
a. Buku teks berjumlah 3758 judul /4704 eksemplar<br />
b. Majalah berjumlah 25 judul/200 eksemplar<br />
c. Jurnal berjumlah 44 judul / 118 eksemplar<br />
d. Koleksi digital dan audio visual berjumlah 50 item<br />
e. Karya ilmiah yaitu skripsi, tesis, dan disertasi berjumlah 111 judul<br />
1.2 Pengelolaan sarana temu kembali koleksi buku teks<br />
Sistem penelusuran koleksi Perpustakaan STEI Tazkia adalah menggunakan<br />
katalog elektronik. Sistem katalog elektronik ini terintegrasi di dalam sebuah<br />
software perpustakaan yang bernama Athenaeum Light 8.5. Software ini dikeluarkan<br />
oleh UPT Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia dan diperoleh secara gratis<br />
melalui situs http://kali-indonesia.blogspot.com. Software ini dibangun oleh sebuah<br />
software retail bernama Filemaker Pro 8.5 dan berbasis web. Software Athenaem<br />
Light dipilih sebagai sarana temu kembali selain karena pengadaannya yang mudah<br />
(gratis, dan open source) software ini juga memiliki beberapa keunggulan, yaitu :<br />
a. Mampu menampung database hingga 8 Terrabyte (setara dengan 8000<br />
Gygabyte)<br />
4<br />
b. Menunjang kegiatan sirkulasi perpustakaan, yaitu peminjaman, pengembalian,<br />
dan perpanjangan.<br />
c. Software ini mampu dijalankan di dalam komputer dengan spesifikasi<br />
minim,yaitu Processor Intel P.II, RAM 64 MB, OS Windows / 95 / 98/ ME /<br />
2000 / XP, dan hardisk minimum 5 GB.<br />
d. Menunjang kegiatan pelaporan dan pembuatan formulir-formulir perpustakaan<br />
(label, barcode, surat denda, dan sebagainya)<br />
e. Menunjang dalam kelestarian data karena software ini dapat dibackup dengan<br />
mudah.<br />
Dalam implementasi di lapangan, software ini menyediakan tiga opsi<br />
pilihan login pengguna, yaitu administrator,librarian,dan user. Untuk pegawai<br />
perpustakaan, pilihan login yang digunakan adalah administrator dan librarian,<br />
sedangkan untuk pengunjung perpustakaan, menggunakan login user. Untuk<br />
login administrator dan librarian, pengguna dapat melakukan modifikasi<br />
terhadap data yang terdapat pada software, sedangkan untuk login user,<br />
pengguna hanya dapat melakukan penelusuran koleksi saja tanpa melakukan<br />
modifikasi data.<br />
Untuk dapat melakukan penelusuran data koleksi buku di perpustakaan,<br />
pengguna harus melakukan langkah-langkah berikut :<br />
1. Login<br />
Pengguna harus melakukan login ke software Athenaeum Light dengan<br />
mengetikkan password ”user” ke kotak yang tersedia.<br />
2. Pilihan menu<br />
Pengguna memilih menu ”pencarian” di sistem<br />
5<br />
3. Menu pencarian<br />
Di menu pencarian, pengguna dapat memilih tingkat pencarian, sesuai dengan<br />
tingkat relevansi yang diinginkan. Untuk pilihan pencarian yang sifatnya umum,<br />
pengguna dapat memilih menu pencarian ”easy”, sedangkan untuk pilihan pencarian<br />
yang sifatnya khusus, maka pengguna dapat memilih menu pencarian ”detail”.<br />
6<br />
Menu pencarian ”easy” adalah menu pencarian yang memungkinkan<br />
pengguna untuk menelusuri koleksi berdasarkan titik akses judul, nama<br />
penanggungjawab, subjek, dan nomor panggil. Menu pencarian ”detail” adalah<br />
menu pencarian yang memungkinkan pengguna menelusuri koleksi secara lebih<br />
khusus berdasarkan field yang tersedia di katalog, misalnya item Id, tipe item,<br />
cover type, judul seri, kota terbit, penerbit, dan sebagainya.<br />
1.3 Pengelolaan sarana temu kembali koleksi majalah<br />
Koleksi majalah yang ada saat ini di Perpustakaan STEI Tazkia sebagian besar<br />
merupakan koleksi yang erat kaitannya dengan ekonomi dan dunia Islam. Untuk<br />
mengolah koleksi majalah ini, pihak perpustakaan membuat indeks majalah yang<br />
berisi tanggal terbit, nama majalah, dan judul headline majalah. Hal ini dilakukan<br />
untuk melakukan identifikasi awal terhadap keberadaan majalah sehingga pengguna<br />
dapat melakukan pencarian.<br />
Selain dengan menggunakan indeks, pengguna juga biasa melakukan pencarian<br />
majalah dengan langsung menuju ke rak koleksi, karena rak koleksi khusus majalah<br />
disusun sesuai dengan jenis majalah. Ada 3 jenis klasifikasi majalah yang dibuat,<br />
yaitu majalah bidang ekonomi, majalah keislaman, dan majalah berbahasa asing.<br />
7<br />
Pembagian ini dilakukan karena masing-masing klasifikasi memiliki pembacanya<br />
sendiri.<br />
1.4 Pengelolaan sarana temu kembali koleksi jurnal<br />
Untuk saat ini, pengelolaan sarana temu kembali bagi koleksi jurnal di Perpustakaan<br />
STEI Tazkia masih belum rampung dilakukan. Hal ini disebabkan karena koleksi jurnal<br />
di Perpustakaan STEI Tazkia masih relatif sedikit dan cenderung statis, selain itu<br />
pengguna cenderung lebih memilih penelusuran koleksi jurnal langsung ke rak koleksi.<br />
Sebagai langkah awal implementasi penggunaan sarana temu kembali untuk koleksi<br />
jurnal, maka perpustakaan membuat daftar indeks jurnal yang berisi tanggal terbit, judul<br />
jurnal, dan nomor edisi.<br />
1.5 Pengelolaan sarana temu kembali koleksi digital<br />
Keberadaan koleksi digital di Perpustakaan STEI Tazkia merupakan sarana<br />
penunjang bagi pengguna dalam menelusuri informasi. Permintaan akan koleksi digital<br />
di Perpustakaan STEI Tazkia masih minim sehingga pengelolaan koleksi digital di<br />
lingkungan Perpustakaan STEI Tazkia saat ini masih bersifat tertutup. Untuk melakukan<br />
penelusuran koleksi digital, mahasiswa dapat bertanya secara langsung kepada petugas<br />
perpustakaan tentang suatu topik atau subjek, maka petugas akan langsung melakukan<br />
pencarian di database perpustakaan mengenai koleksi digital. Untuk mempermudah<br />
penelusuran koleksi digital, saat ini perpustakaan melakukan klasifikasi koleksi digital,<br />
yaitu koleksi digital yang merupakan software penunjang perkuliahan, dan koleksi<br />
digital yang berupa format tertentu, misalnya *pdf, *doc, *mp3, *wmv, *dat, maupun<br />
koleksi digital dalam format video betamax.<br />
1.6 Pengelolaan sarana temu kembali karya ilmiah<br />
Definisi karya ilmiah di Perpustakaan STEI Tazkia adalah koleksi yang diterbitkan<br />
di lingkungan akademis (skripsi,tesis, disertasi, laporan penelitian)dan koleksi yang<br />
bersifat data primer, yaitu koleksi yang diterbitkan dari hasil seminar, penelitian,<br />
simposium, workshop, dan sebagainya. Perpustakaan memandang perlu untuk memberi<br />
perlakuan khusus pada koleksi ini karena pengadaannya yang relatif sulit. Koleksi karya<br />
ilmiah di Perpustakaan STEI Tazkia seperti halnya dengan koleksi buku teks, juga<br />
mengalami proses pengolahan. Untuk membedakan antara koleksi buku teks dan<br />
koleksi karya ilmiah, maka perpustakaan memberikan kode ekstensi ”Ref.” di setiap<br />
nomor panggil koleksi karya ilmiah.<br />
8<br />
Untuk membantu pengguna dalam menelusuri koleksi karya ilmiah, pihak<br />
perpustakaan menggunakan dua sarana temu kembali, yaitu indeks karya ilmiah dan<br />
software Athenaeum Light. Indeks karya ilmiah secara spesifik hanya mencantumkan<br />
daftar judul skripsi, tesis, dan disertasi atas dasar permintaan pengguna yang<br />
menginginkan daftar judul skripsi dibuat dalam daftar khusus. Sedangkan untuk<br />
database karya ilmiah yang terdapat pada software Athenaeum Light berfungsi untuk<br />
memudahkan pengguna menelusuri koleksi karya ilmiah yang berada pada rumpun<br />
subjek tertentu (misalnya rumpun subjek perbankan, asuransi, pemasaran, dan<br />
sebagainya).<br />
9<br />
BAB II<br />
ANALISIS KINERJA SARANA TEMU KEMBALI<br />
2.1 Pembuatan wakil ringkas dokumen<br />
Sarana temu kembali di dalam sebuah unit informasi, dalam hal ini yaitu<br />
perpustakaan, merupakan sebuah perangkat yang disediakan oleh penyedia layanan<br />
untuk memberikan akses yang memadai pada penggunanya dalam menelusuri informasi<br />
yang diinginkan. Untuk mendukung kinerja sarana temu kembali, maka penyedia<br />
layanan harus membuat wakil ringkas dokumen dari setiap dokumen yang ada.<br />
Kegiatan yang dilakukan untuk membuat wakil ringkas dokumen disebut dengan proses<br />
pengindeksan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam membuat wakil ringkas<br />
dokumen adalah melalui tahap pengatalogan deskriptif dan pengindeksan subjek.<br />
Tahapan pengatalogan deskriptif meliputi kegiatan deskripsi bibliografi dan penentuan<br />
tajuk, sedangkan tahapan pengindeksan subjek meliputi kegiatan analisis subjek dan<br />
penerjemahan.<br />
Dalam membuat wakil ringkas dokumen, Perpustakaan STEI Tazkia<br />
menerapkan prosedur standar yang mengadopsi standar proses pengindeksan. prosedur<br />
standar pembuatan wakil ringkas dokumen di Perpustakaan STEI Tazkia adalah :<br />
10<br />
Flowchart<br />
Aktivitas Keterangan<br />
-sumber data<br />
-kegiatan<br />
-pedoman<br />
OUTPUT<br />
Keterangan :<br />
Proses pengindeksan dibagi dalam 2 kegiatan, yaitu pembuatan<br />
deskripsi dan analisis subjek. Pembuatan deskripsi bibliografi dilakukan<br />
dengan menggunakan halaman judul dokumen sebagai sumber data, atau KDT<br />
apabila unsur tersebut ada dalam dokumen. Kegiatan analisis subjek dilakukan<br />
dengan menggunakan KDT, daftar isi, dan isi dokumen sebagai sumber data.<br />
Halaman<br />
judul, KDT<br />
Dokumen<br />
KDT, daftar isi,<br />
isi dokumen<br />
Pembuatan<br />
deskripsi<br />
bibliografi<br />
Analisis subjek<br />
AACR2 Terjemahan DDC 21, bagan<br />
klasifikasi Departemen<br />
Agama, indeks relatif<br />
Buram katalog<br />
OPAC<br />
Desripsi<br />
bibiografi<br />
dokumen<br />
Nomor panggil<br />
11<br />
Dua jenis kegiatan ini dilakukan dengan mengacu pada buku AACR2<br />
untuk kegiatan deskripsi bibliografi dan DDC 21 untuk kegiatan analisis<br />
subjek. Hasil akhir dari dua kegiatan ini adalah deskripsi bibliografi dokumen<br />
dan nomor panggil.<br />
Tahapan berikutnya adalah penulisan buram katalog yang berisi<br />
deskripsi bibliografi dokumen dan nomor panggil. Buram katalog ini digunakan<br />
sebagai dokumen pencatat yang akan diinput ke dalam sarana temu kembali.<br />
Apabila mengacu pada standar pengindeksan, prosedur standar yang<br />
diterapkan dalam membuat wakil ringkas dokumen di Perpustakaan STEI<br />
Tazkia memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan :<br />
KELEBIHAN KELEMAHAN<br />
- proses pengindeksan praktis sehingga<br />
mempercepat penempatan koleksi di rak<br />
- wakil ringkas dokumen ditampilkan dalam<br />
bentuk OPAC sehingga lebih mudah diakses<br />
- bagan klasifikasi tidak kompleks karena<br />
menggunakan ringkasan DDC 21 versi<br />
Indonesia sehingga tidak mempersulit<br />
pengguna dalam menelusuri dokumen<br />
-proses pengindeksan tidak mencantumkan<br />
tahapan penentuan tajuk entri sehingga akan<br />
mempengaruhi proses temu kembali dokumen<br />
-wakil ringkas dokumen hanya ditampilkan<br />
dalam satu format saja<br />
-panduan pengklasifikasian dokumen masih<br />
sederhana, perpustakaan akan mengalami<br />
masalah apabila jumlah subjek dan koleksi<br />
bertambah banyak.<br />
2.2 Evaluasi kinerja sarana temu kembali<br />
2.2.1 Software Athenaeum Light<br />
Sebagai sebuah alat yang merupakan bagian terpenting dari sebuah unit<br />
informasi, sarana temu kembali harus dapat diuji dan dinilai kinerjanya. Sebuah sarana<br />
temu kembali tidak akan lepas dari permasalahan yang dihadapi, sehingga secara tidak<br />
langsung dapat mempengaruhi kinerja dan evaluasi yang akan dilakukan terhadap<br />
sarana temu kembali tersebut. Sebuah sarana temu kembali dituntut untuk mampu<br />
menunjukkan hasil pencarian yang merupakan bagian penting dari sebuah dokumen,<br />
dan mampu mengeliminir cantuman pencarian yang tidak relevan dengan dokumen<br />
yang diinginkan, contohnya pada logika Boolean (”AND”, ”OR”, ”NOT”).<br />
12<br />
Evaluasi terhadap sebuah sarana temu kembali juga dapat dilakukan dengan<br />
mengukur tingkat kepuasan pengguna terhadap hasil pencarian dokumen yang<br />
diinginkan. Indikator yang digunakan bisa dilihat dari efisiensi waktu, ketepatan,<br />
akumulasi pencarian, dan kemudahan penggunaan.<br />
Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap sebuah sarana temu kembali, perlu<br />
dilakukan pemetaan terhadap komponen-komponen yang ada dalams ebuah sistem<br />
informasi dan lingkungan yang mempengaruhinya. Salton (1984 : 159) memetakan<br />
komponen-komponen tersebut sebagai berikut :<br />
1. Pembelian dan kebijakan update pangkalan data.<br />
Komponen ini menjelaskan parameter yang berhubungan dengan kebijakan update<br />
pangkalan data dan waktu yang digunakan dalam memasukkan data koleksi dokumen<br />
terbaru ke dalam sistem.<br />
Software Athenaeum Light dalam parameter ini memiliki kemampuan update rekod<br />
yang cepat. Athenaeum Light dapat diupdate setiap saat dengan hanya menambahkan<br />
rekod baru satu per satu atau dengan melakukan migrasi data sekaligus untuk rekod<br />
dalam jumlah besar. Update rekod ini juga bersifat runtime, artinya rekod akan otomatis<br />
tersimpan tanpa harus menggunakan perintah ”save”.<br />
2. Format fisik dari dokumen yang diinput<br />
Komponen ini menjelaskan bahwa format dokumen seperti ukuran dan jenis kertas<br />
sangat berpengaruh dalam mengukur kinerja sarana temu kembali. Kelengkapan data<br />
yang ada pada dokumen juga sangat mempengaruhi hasil pencarian. Software<br />
Athenaeum Light mendukung proses penginputan dokumen berdasarkan field yang<br />
lebih spesifik. Misalnya, untuk dokumen yang tidak mencantumkan nama pengarang<br />
buku utama, maka tersedia field yang berfungsi menampilkan nama pengarang asli atau<br />
ilustrator.<br />
3. Pengorganisasian dalam pencarian dokumen<br />
Komponen ini menjelaskan pengaruh pengorganisasian dalam pencarian dokumen<br />
proses pencarian, yang meliputi waktu respon pada saat pencarian dokumen, usaha yang<br />
dibutuhkan oleh operator sistem, dan kemungkinan keefektifan sistem.<br />
Athenaeum Light memiliki kemampuan organisasi dokumen yang baik. Athenaeum<br />
Light mampu memisahkan dokumen dalam format tertentu dengan memaksimalkan<br />
field type of item. Dengan field ini, Athenaeum Light mampu menampilkan hasil<br />
pencarian secara cepat dan efektif.<br />
4. Bahasa Pengindeksan<br />
13<br />
Komponan bahasa pengindeksan terdiri dari susunan dari ketentuan-ketentuan yang<br />
ada dan peraturan yang digunakan terhadap dokumen dan permintaan pencarian. Di<br />
dalam proses pengindeksan, ketentuan-ketentuan yang digunakan dalam membuat wakil<br />
ringkas dokumen diambil berdasarkan bahasa pengindeksan dan peraturan<br />
pengindeksan yang berlaku. Parameter yang digunakan adalah ketuntasan dan<br />
kekhususan dalam bahasa pengindeksan. Ketuntasan dalam bahasa pengindeksan<br />
mengandung ketentuan yang mencakup seluruh area subjek yang disebutkan pada<br />
koleksi, sedangkan kekhususan bahasa pengindeksan menunjukkan tingkat ketepatan<br />
dan kedekatan makna dari subjek yang dicari.<br />
Athenaeum Light menyediakan field yang berisi subjek dari koleksi yang ada di<br />
perpustakaan. Athenaeum Light juga mampu mengklasifikasi dokumen berdasarkan<br />
subjek-subjek tertentu.<br />
5. Operasi Pengindeksan<br />
Kegiatan pengindeksan dalam sebuah perpustakaan sangat mempengaruhi kinerja<br />
sebuah sarana temu kembali. Diperlukan personil yang terlatih dalam mengoperasikan<br />
pedoman-pedoman pengindeksan sehingga proses pengindeksan dapat berjalan dengan<br />
konsisten.<br />
Tingkat ketepatan dalam pengklasifikasian subjek pada Athenaeum Light sangat<br />
dipengaruhi oleh ketaatasasan dari perpustakaan dalam menentukan pengawasan dan<br />
pengendalian tajuk subjek.<br />
6. Operasi Pencarian<br />
Komponen operasi pencarian merupakan parameter yang digunakan untuk<br />
mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan pengguna terhadap sarana temu kembali.<br />
Variabel yang ditanyakan adalah field-field apa yang harus ditambahkan pada sarana<br />
temu kembali, dan bagaimana pandangan pengguna terhadap respon sarana temu<br />
kembali ketika dilakukan pencarian dokumen.<br />
Untuk dapat memenuhi kebutuhan pengguna terhadap field-field baru yang ingin<br />
ditampilkan dari sebuah sarana temu kembali,maka harus dilakukan modifikasi terhadap<br />
sarana temu kembali. Athenaeum Light merupakan sebuah sarana temu kembali yang<br />
bersifat open script, artinya sarana ini dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dari<br />
unit informasi.<br />
7. Format Hasil Pencarian<br />
Format hasil pencarian dalam sebuah sarana temu kembali mempengaruhi jumlah<br />
keinginan pengguna terhadap hasil pencarian dan kepuasan sesaat terhadap hasil<br />
14<br />
pencarian. Semakin spesifik format hasil pencarian yang ditampilkan, semakin mudah<br />
bagi pengguna dalam menyelesaikan pencariannya.<br />
Athenaeum Light dalam komponen ini mampu menampilkan katalog dengan<br />
menampilkan cover koleksi yang dicari. Dengan adanya fasilitas ini, maka pengguna<br />
akan semakin mudah dalam menelusuri dokumen yang diinginkan.<br />
2.2.2 Evaluasi sarana temu kembali untuk karya non-buku<br />
Sarana temu kembali yang digunakan di Perpustakaan STEI Tazkia untuk karya<br />
non-buku dalam hal ini majalah, jurnal, koleksi digital dan audiovisual, dan karya<br />
ilmiah adalah berupa indeks. Indeks ini dibuat dengan menggunakan Microsoft Access.<br />
Untuk dapat mengukur keefektifan sarana temu kembali dengan indeks ini, dapat dilihat<br />
dari kelebihan dan kelemahannya :<br />
KELEBIHAN KELEMAHAN<br />
-Indeks ini dibangun dengan<br />
menggunakan aplikasi Microsoft Access<br />
dan bersifat run-time.<br />
-Aplikasi Microsoft Access sangat rentan<br />
dijadikan pangkalan data yang bersifat<br />
portable (dapat dipindah) karena beberapa<br />
sistem tidak kompatible dengan versi-versi<br />
15<br />
-Aplikasi dapat diekspor ke dalam<br />
berbagai format, seperti .xls, .csv, .dbf,<br />
dan sebagainya<br />
-Pengguna masih awam terhadap aplikasi<br />
Microsoft Access.<br />
tertentu.<br />
- Sarana pencarian masih sederhana,<br />
apabila koleksi bertambah banyak maka<br />
akan menyulitkan pengguna.<br />
-Field yang tersedia belum mencukupi<br />
untuk menampilkan hasil pencarian<br />
16<br />
DAFTAR PUSTAKA</p>
<p><!--more--><br />
• Salton, Gerrard; Michael J.Mc. Gill. Introduction to modern information<br />
retrieval. Singapore: Mc. Graw-Hill, 1984<br />
• Taylor, Arlene G. Wynar’s Introduction to cataloguing and classification.<br />
Englewood: Libraries Unlimited, 2004</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peranan Sastra dan Budaya dalam Pengembangan Bahasa]]></title>
<link>http://bahren1979.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 07:14:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>bahren1979</dc:creator>
<guid>http://bahren1979.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[Makalah ini tanpa abstrak dan daftar pustaka telah terbit di Harian Singgalang minggu 3 Agustus 200]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Makalah ini tanpa abstrak dan daftar pustaka telah terbit di Harian Singgalang minggu 3 Agustus 2008</p>
<p>Abstrak<br />
Makalah ini memaparkan hasil penelurusan dan pengamatan terhadap karya sastra dan beberapa hasil budaya popular yang ditampilkan di stasiun televisi yang menampilkan siaran-siaran yang memuat unsur-unsur sastra dan budaya. Kenyataan yang didapatkan bahwa sebagian besar tontonan yang disuguhkan oleh stasiun televisi itu memberikan berbagai efek terhadap pemirsanya, baik dalam aspek budaya dan berbahasa. Film dan sinetron kadangkala berasal dari sebuah novel atau roman yang menghadirkan konsep “dulce et utile”, indah dan bermanfaat, namun kenyataannya seringkali karya-karya malah meberikan efek yang buruk bagi penontonnya, sehingga terjadi berbagai penyeragaman dalam berbagai hal, misalnya cara berpakaian (baby doll, celana model pensil, rambut model Tow Ming See, dll). Dalam berbahasa pun mulai memperlihatkan keseragaman berbahasa yang hampir kejakarta-jakartaan bahasanya. Selain itu sinetron juga memberikan efek bagi psikologis dan psikis penontonnya. Padahal sastra sebagai sebuah karya memiliki tidak hanya aspek rasionalitas, juga memiliki aspek emosional dan aspek afektif dalam setiap pemakaian bahasanya baik secara lisan maupun lisan. Begitupun budaya sudah semestinya dalam salah satu unsurnya (sistem bahasa), mampu memberikan sumbangan dalam pengembangan bahasa itu sendiri. Untuk itu perlu kiranya dilihat sejauh mana peranan sastra dan budaya dalam pengembangan bahasa, khususnya dalam karya-karya sastra. Sehingga kita dapat gambaran yang jelas peranan dari kedua hal tersebut.<br />
Kata kunci, peranan, sastra, budaya.</p>
<p>Pendahuluan</p>
<p>Bahasa menunjukkkan bangsa, setidaknya itulah tamsil yang seringkali kita dengar. Dari tamsil itu bisa pahami bahwa bangsa yang baik, maju dan berperadaban terlihat dari bagaimana penduduknya berbahasa. Artinya dalam memahami sebuah bahasa tidak hanya aspek rasionalnya saja yang harus diketahui, namun lebih dari itu aspek emosi dan aspek afektif dari sebuah bahasa juga berpengaruh bagi penuturnya. Sebuah pepatah berbunyi “Nan Kuriak iyolah Kundi, Nan Merah Iyolah Sago”, “Nan Baiak Iyolah Budi, Nan Indah Iyolah Basa”. “ yang kurik adalah kendi, yang merah adalah saga, yang baik adalah budi, yang indah adalah basa (bahasa)”. Dalam pepatah ini juga terlihat bahwa budi dan bahasa seseorang menjadi ukuran baik buruknya seseorang. Namun apa yang terjadi saat ini, di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita bisa menyaksikan hampir setiap hari di media cetak dan elektronik, tontonan-tontonan yang kesemuannya itu tidak menampilkan bahasa yang baik.<br />
Indonesia pasca 1990 adalah era televisi multi kanal, sebuah era radio bergambar, sebuah era tradisi lisan kedua, tanpa sempat mengalami tradisi baca yang kuat. Era ini ditandai dengan merebaknya teknologi penyimpanan, peniruan serta pengelolaan bertutur. Hal ini menyebabkan spritualitas tradisi lisan pertama kehilangan kemampuan transformasi diri, baik secara formal lewat sistem pendidikan atau pun sistem kehidupan budaya (Nugroho, 2007). Spritualitas yang dimaksud antara lain kemampuan bertutur, kemampuan berbahasa, serta kepekaan yang humanis, sehingga mayoritas tradisi lisan yang dihidupkan oleh bahasa daerah kian mengalami penurunan peran.<br />
Padahal semuanya itu termasuk dalam hasil budaya popular, namun tidak semua hasil budaya popular tersebut menghasilkan perubahan yang banyak terhadap pengembangan bahasa. Barangkali di sinilah perlu dipikir ulang, apakah karya-karya sastra yang lahir dari analisis sosial itu akan menjadi sebuah hal yang berharga untuk pengembangan bahasa?, atau justru sebaliknya akan menghancurkan bahasa. Untuk itulah perlu sebuah kajian tentang dampak sastra dan budaya (sastra hadir dari analisis fenomena masyarakat yang berbudaya) dalam pengembangan bahasa.<br />
Masalah:<br />
Selama ini kita mendengar bahwa sastra dan budaya itu hanyalah sebagai bidang ilmu yang membicarakan soal realita dan masyarakat. Sastra dan budaya sepertinya belum mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam pengembangan pembangunan. Padahal kalau dilihat lebih jauh sastra dan budaya cukup memberikan kontribusi dalam pengembangan salah satu aspek pembangunan, aspek itu adalah aspek bahasa, karena bahasa menunjukkan bangsa, setidaknya itulah salah satu tamsil yang paling serinmg kita dengar. Maka dari itu perlu kiranya kita melihat:<br />
1. Apakah contoh peran sastra dalam pengembangan bahasa,<br />
2. Apakah contoh peran budaya dalam pengembangan bahasa,<br />
Tinjauan Pustaka<br />
Darwinsyah (2008) dalam waspada online ketika lomba debat antar mahasiswa yang diadakan oleh UHAMKA (Universitas Muhamadiyah Hamka) Jakarta. Dalam tulisannya disebutkan bahwa dua kelompok yang berlaga waktu itu menyatakan pro dan kontra seputar pembelajaran satra. Kelompok A misalnya menyatakan bahwa peranan sastra untuk pelajar sangat penting karena dapat menumbuhkan rasa nasionalisme sehingga kita dapat menangkis dampak buruk budaya global. Sementara itu kelompok B menyatakan bahwa sastra hanya diperlukan hanya untuk penambah wawasan saja.<br />
Mustakim (2003). Dalam abstrak tulisannya mengenai Peranan Unsur Sosial Budaya dalam Pengajaran BIPA, mengungkapkan, bahwa bahasa sebagai perilaku sosial yang digunakan sebgai sarana komunikasi, melibatkan berbagai berbagai faktor sosial dalam penggunaannya. Faktor itu antara lain; jenis kelamin, hubungan peran, tempat, tujuan, situasi sosial dan sebagainya. Untuk itu para pengajar bahasa tidak boleh hanya mengutakana aspek-aspek kebahasaan tanpa melibatkan aspek sosial. Karena hal itu hanya akan melahirkan siswa yang hanya paham materi dan teori tetapi tidak mampu berkomunikasi atau menggunakan bahasa dalam situasi yang sebenarnya.<br />
Purba (2008) dalam waspada Online, Beliau mengungkapkan bahwa pembejaran sastra dari dulu hingga sekarang selalu menjadi permasalahan. Walaupun permasalahannya bersifat klasik tetapi hangat atau up to date. Lebih jauh Purba menjelaskan bahwa karya sastra mempunyai relevansi dengan maslaha-masalah dunia pendidikan dan pengajaran. Sastra dapat memperhalus jiwa, dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk berpikir dan berbuat demi pengembangan dirinya dan masyarakat serta mendorong mendorong munculnya kepedulian, keterbukaan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.<br />
Ruskhan (2007), dalam makalahnya untuk Seminar Pengajaran Bahasa Indonesia Pertemuan asosiasi Jepang-Indonesia di Nanzan Gaken Training Centre, Nagoya Jepang, 10-11 November 2007, mengungkapkan betapa pentingnya pengajaran budaya bagi penutur asing, karena dengan memberikan pengajaran tentang kebudayaan bagi penutur asing diharapkan pelajar mampu menggunkan bahasa yang tepat untu situasi yang tepat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran dari sebuah kata dalam sebuah kebudayaan.<br />
Zakaria 2007 yang berjudul Budaya Mempengaruhi Bahasa dan Komunikasi dalam Waspada Online, Zakaria membahas tentang perseteruan yang terjadi antara dua Negara yang katanya serumpun (Indonesia dan Malaysia). Zakaria menulis bahwa pemukulan yang dilakukakn oleh kopolisian Negara Malaysia terhadap wasit Donal Luther terjadi karena ketidak saling memahami antara kepolisian Diraja Malaysia dan Donal Luther dalam penggunaan bahasa antara mereka. Sementara itu bahasa dalam komunikasi lisan bisa menciptakan kesalah pahaman atau salah mengerti, salah tanggap, Namun lebih dari itu bahwa bahasa manusia disusun berdasarkan sekumpulan aturan yang disepakati, seperti yang berkaitan dengan bunyi (fonologi), Morfologi (berkaitan dengan bentuk kata), sintaksis, semantik, serta apa yang dinamakan pragmatis (memandang sesuatu menurut kegunaan). Barangkali faktor terakhir inilah yang menyebabkan peristiwa pemukulan itu terjadi.<br />
Metodologi dan Pembahasan<br />
Penulisan makalah ini diawali dengan pengamatan terhadap beberapa stasiun televisi yang menayangkan sinetron-sinetron yang disiarkan secara nasional dan membaca beberapa karya sastra, setelah itu mulai dilihat gejala-gejala yang ditimbulkan dari sinetron tersebut, khusunya gejala kebahasaan. Pengamatan ini dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap awal yang dilakukan adalah pengumpunalan data. Data dikumpulkan dengan cara menonton dan mencari bahan-bahan yang terkait melalui internet dan sumber-sumber bacaan yang terkait dengan masalah yang akan dibahas, Setelah data terkumpul data-data tersebut dianalisis dan dideskripsian contoh-contoh yang terdapat di sinetron dan dalam beberapa karya sastra terkait dengan peran sastra dan budaya dalam pembelajaran bahasa.<br />
1. Peran Sastra dalam Pengembangan Bahasa<br />
Sastra sebagai sebuah karya yang menampilkan realitas yang ada dalam masyarakat menjadi penting artinya dalam pengembangan bahasa, beberapa arti penting sastra dalam pengembangan bahasa antara lain,<br />
a. Menambah wawasan kebahasaan<br />
Karya sastra sebagai sebuah karya kreatif memiliki ketiga aspek penting bahasa, yaitu aspek rasional, karya sastra menampilkan kenyataan masyarakatnya. Apek emosional, karya sastra menampilkan emosi-emosi dalam alur-alur cerita yang ditampilkan oleh pengarangnya, dan aspek afektif, sastra menampilkan tingkah laku tokoh-tokoh yang dibuat oleh pengarangnya.<br />
Secara pasif sastra memberikan pengajaran bahasa melalui membaca karya sastra, pembacaan karya sastra berupa novel dan cerpen akan menambah wawasan kebahasaan seseorang. Selain itu membaca karya sastra juga mampu menambah wawasan kebudayaan. Secara aktif sastra memberikan pengajaran bahasa melalui tindakan atau peragaan. Hal ini dapat kita lihat dalam penampilan drama dan puisi. Pembaca secara tidak langsung belajar artikulasi bunyi yang baik, intonasi yang diikuti dengan penghayatan.<br />
Lebih jauh sastra juga berpengaruh dalam proses penambahan atau masuknya kosakata-kosakata daerah ke kosakata Bahasa Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana masuknya kosakata Jawa dan Sunda ke dalam bahasa Indonesia melalui karya sastrawan jawa Linus Suryadi AG dalam karyanya “Pengakuan Pariyem”. Linus dengan sangat latar belakang budaya Jawanya mampu memberikan kata-kata dalam bahasa jawa yang lugas dalam Prosalirisnya ini. Contohnya dalam cuplikan berikut “Ya, Ya Pariyem saya “Iyem” panggilan sehari-harinya, saya bocah gunung, melarat pula, badan dan jiwa harta karun saya penghidupan anugerah Sang Hyang Wisesa Jagad”. Dari contoh tersebut terdapat beberapa kosakata jawa, selain itu budaya juga dapat dilihat bagaimana seorang wanita jawa memandang diri dan hidupnya sebagai harta benda pemberian yang maha kuasa. Selain itu kita juga bisa melihat ini pada karya-karya Ahmad Tohari dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Biang Lala. Dari judul karya-karyanya Ahmad Tohari secara tidak langsung memperlihatkan latar belakang budaya yang mempengaruhinya. Karya sastrawan Sumatra Barat pun ikut memberikan sumbangan dalam peristiwa bertambahnya kosakata itu. Karya-karya AA Navis, Gus TF Sakai dan Haris Efendi Tahar. Peristiwa masuknya kosa kata itu dalam Ilmu bahasa khususnya Sosiolinguistik dianggap sebagai interfensi bahasa.<br />
b. Menambah perbendaharaan kosakata,<br />
Pada karya-karya di atas mempelihatkan bagaimana kosakata-kosakata daerah masuk dalam ranah bahasa Indonesia. Namun ada juga karya sastra mampu menambah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia dengan kosakata asing, masuknya kosakata asing tersebut dapat kita lihat dalam Tetra Logi Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata. Andrea dengan ilmu yang dimilikinya mampu menampilkan kepada pembaca kata-kata latin yang sama sekali baru bagi khallayak pembaca sastra khususnya di Indonesia. Banyak sekali istilah-istilah latin dan istilah budaya, yang digunakannya sehingga mampu menambah perbendaharaan kosakata pembacanya. Artinya secara tidak langsung dengan membaca karya tersebut para pembaca telah mendapatkan berbagai istilah latin untuk berbagai kosa kata yang dalam bahasa ibu mereka tidak ada atau memiliki padanan.<br />
Contoh: Pada Buku I Laskar Pelangi kita menemui kata-kata<br />
1. Dul Muluk: Sandiwara rang melayu, dipentaskan sepertu ketoprak tapi pakemnya berbabak-babak.<br />
2. Filicium (Filicium decipien; fern tree) pohon kere/ kerai/ paying atau Ki Sabun, disebut Ki Sabun karena seluruh bagian tubuh pohon itu mengandung saponin atau zat kimia yang menjadi salah satu bahan untuk membuat sabun.<br />
3. Antudiluvium: Masa sebelum diluvium (zaman Pleistosen).<br />
4. Thistle Crescent (Venessa cardui; painted lady; thistle butterfly): jenis kupu-kupu yang paling luas penyebarannya dan hampir bisa ditemui di seluruh dunia.<br />
5. Cassiopeia: Konstelasi bintang berbentuk seperti huru W dibelahan bumi utara, berada didekat Polaris<br />
6. Manekken pis (patung bocah yang sedang pipis) aikon pariwisata belgiayang dipahat Jerome duquesnoy tahun1619<br />
7. Juliette Balcony, sebuah tempat di Verona yang pernah menjadi rumah kosnya William Shakeepeare ketika menuliskan adegan Romeo memanjat kamar dengan gordijn yang dijulurkan Juliette.<br />
Dll.<br />
2. Peranan Budaya<br />
Budaya juga memiliki peranan dalam pengembangan bahasa, misalnya pada masyarakat Minangkabu. Dalam berbahasa mereka memiliki istilah kato nan ampek, istilah ini mengacu kepada penggunaan bahasa dan kepada siapa bahasa itu mestinya dituturkan. Kato nan ampek itu adalah: kato manurun (kata menurun), kato mandata (kato mendatar), Kato mandaki (kata mendaki), dan kato malereng (kata melereng). Kesemua kato (kata) itu haruslah tepat dalam penggunaannya. Kato manurun misalnya, biasa digunakan oleh orang-orang yang lebih besar usianya kepada orang yang lebih kecil. Kato mandata biasa dituturkan kepada orang-orang sebaya, kato mandaki biasa dituturkan kepada orang-orang yang lebih tua, sedangkan kato malereng (kata melereng) atau biasa juga kato bakieh (kata berkias) biasa diucapkan kepada ipar, menantu dan ninik mamak. Contoh lain dalam penggunaan kata sapaan dalam budaya minangkabau kita mengenal jenis kata sapaan untuk kerabat. Misalanya untuk kerabat laki-laki ibu, orang Minang menggunakan kata mamak dan untuk saudara laki-laki ayah menngunakan sapaan apak, Kata mamak dan apak memiliki arti lebih dibandingkan dengan kata om, namun dalam kenyataannnya orang-orang minang lebih banyak menggunakan kata om (paman) dalam menyebut saudara Ibu dan Bapaknya.<br />
Pada suku bangsa Jawa pun dikenal dua tingkatan bahasa, yaitu bahasa jawa Ngoko, Kromo Jadi bagaimana mungkin dalam pembelajaran bahasa kita tidak memberikan pembelajaran sastra dan budaya, karena sertiap pengajar tidak menginginkan para pelajarnya menjadi orang-orang yang hanya mampu menguasai materi dan teori namun juga mampu menguasai aspek sosial budaya yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Kesimpulan<br />
Dari paparan di atas dapat kita lihat bagaimana sinetron yang berasal dari sebuah proses kreatif memberikan berbagai aspek terhadap penikmatnya, efek itu juga terjadi pada proses kebahasaannya. Efek kebahasaan yang hadir lewat sinetron-sinetron tersebut cenderung kea rah negative, artinya bahasa yang hadir cenderung seragam atau kejakarta-jakartaan, Namun Sastra yang juga berasal dari sebuah proses kratif terhadap fenomena-fenomena budaya juga memberikan sebuah peran dalam pengembangan bahasa, sastra yang ditampilkan mampu memberikan pengaruh terhadap wawasan kebahasaan dan kebudayaan. Lebih dari itu sastra juga mampu memberikan sumbangan kosakata-kosakata daerah dan kosakata latin dalam perbendaharaan bahasa Indonesia.<br />
Daftar Pustaka<br />
Bahren, 2004. Basa-Basi dalam Masyarakat Bahasa Minangkabau di Pariaman Selatan (Tinjauan Sosiopragmatik). Skripsi pada Fakultas Sastra Universitas Andalas. Padang.<br />
Hirata, Andrea. 2007. Laskar Pelangi. Yokyakarta. Bentang.<br />
Hirata, Andrea. 2007. Sang Pemimpi. Yokyakarta. Bentang.<br />
Hirata, Andrea. 2008. Edensor. Yokyakarta. Bentang.<br />
Mustakim. 2003. “Peranan Unsur Sosial Budaya dalam Pengajara BIPA” Pusat Bahasa Jakarta<br />
Nugroho, Garin. 2007. “Pokok-Pokok Pikiran dalam Dialog Budaya dalam Rangka Lustrum V Fakultas Sastra Universitas Andalas. Padang<br />
Purba, Darwinsyah Mhd. 2008. Peranan Sastra Dalam Dunia Pendidikan dan Masyarakat. Waspada Online<br />
Purba, Darwinsyah Mhd. 2008.Peranan Sastra Terhadap Pelajar. Pentingkah?. Waspada Online<br />
Risman, Denni. 2007. Sinetron; Pembunuh yang berada di Tengah Ruang Keluarga. Seminar Sehari Dampak Sinetron bagi generasi muda. KPID Sumatra Barat. Padang<br />
Ruskhan, Abdul Gaffar. 2007. “Pemanfaatan Keberagaman Budaya Indonesia dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA). Makalah Seminar Pengajaran Bahasa Indonesia Pertemuan asosiasi Jepang-Indonesia di Nanzan gaken Training Centre, Nagoya Jepang, 10-11 November 2007<br />
Zakaria Kosky. 2007. Budaya Mempengaruhi Bahasa dan Komunikasi. Waspada Online<br />
Yusuf. M. 2007. Sinetron Indonesia Bebas, Merdeka, dan Keterlaluan…..nya. Seminar Sehari Dampak Sinetron bagi generasi muda. KPID Sumatra Barat. Padang</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Muhammad Saw; berpolitik di bawah bendera dakwah]]></title>
<link>http://haramain84.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 17:07:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>haramain84</dc:creator>
<guid>http://haramain84.wordpress.com/?p=18</guid>
<description><![CDATA[The Encyclopedia Brittanica says that ;
“Mohammad is the most successful of all Prophets and relig]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">The Encyclopedia Brittanica says that ;<br />
“Mohammad is the most successful of all Prophets and religious personalities”.<br />
The personality of Mohammad! It is most difficult to get into the truth of it.<br />
Only a glimpse of it I can catch. What a dramatic succession of picturesque scenes.<br />
There is Mohammad the Prophet, there is Mohammad the General; Mohammad the King;<br />
Mohammad the Warrior; Mohammad the Businessman; Mohammad the Preacher;<br />
Mohammad the Philosopher; Mohammad the Statesman; Mohammad the Orator;<br />
Mohammad the reformer; Mohammad the Refuge of orphans;<br />
Mohammad the Protector of slaves; Mohammad the Emancipator of women;<br />
Mohammad the Law-giver; Mohammad the Judge; Mohammad the Saint.<br />
<!--more--><br />
MUKADDIMAH<br />
Di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah ke dunia dari keluarga yang sederhana, di kota Mekah, seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi peradaban dunia. Bayi itu yatim, bapaknya yang bernama Abdullah meninggal ±7 bulan sebelum dia lahir. Kelahirannya disambut gembira oleh sang kakek, Abdul Muthallib. Dengan penuh kasih sayang, ia segera dibawa menuju Ka’bah. Di tempat suci inilah bayi itu diberi nama Muhammad, suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut penanggalan para ahli sejarah, kelahiran Muhammad itu pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah atau tanggal 20 April 571 M.<br />
Mekah, saat Muhammad lahir dan memulai garis kerasulan, adalah sebuah kota yang terletak jauh di pinggiran kekaisaran Romawi dan Persia. Sehingga menjadi medium yang sangat strategis bagi perkembangan agama dan politik. Sangat begitu berbeda dengan agama Kristen yang muncul 6 abad sebelumnya, yang menjadi ancaman serius bagi ‘struktur politik’ imperium Romawi. Sehingga Yesus hanya mampu menyebarkannya selama ± 3 tahun, lalu ia disalib. Perkembangan Islam begitu pesat, hingga risalah yang dibawa Muhammad, setelah mendapat gelar Rasul di gua Hira, dalam kurun waktu 23 tahun, mampu melingkupi jazirah Arab, baik secara kultural maupun struktur politik.</p>
<p>MUHAMMAD SAW MEMBENTUK KOMUNITAS UMAT.<br />
Kondisi jazirah Arab sebelum kelahiran Muhammad penuh dengan budaya jahiliyyah. Dapat dipahami bagaimana jazirah Arab masa itu tidak masuk dalam ‘hitungan’ dalam sejarah bangsa besar. Di samping keyakinan paganisme dan moralitas bangsa Arab yang amat bobrok, juga problematika budaya yang terpecah belah karena suku dan kabilah memunculkan perang saudara yang berkepanjangan.<br />
Dari sejarah Islam kita dapat melihat jejak risalah Nabi Muhammad, sifat dan kaitannya dengan ajaran para nabi terdahulu. Kehadiran Nabi Muhammad, dengan risalah yang tidak tersekat batas kebangsaan dan waktu tertentu, suatu kepercayaan yang tidak akan mungkin dihapus karena untuk kepentingan umat manusia sepanjang zaman<br />
Diutusnya Muhammad sebagai Rasul yang akan memberi perubahan bagi peradaban dunia, dilukiskan dalam al-Qur’an :<br />
!$¯RÎ) y7»oYù=yör&#38; Èd,ysø9$$Î/ #ZÏ±o0 #\ÉtRur<br />
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,… (QS. Al-Baqarah (2) : 119)<br />
Agenda besar ini diemban Muhammad ketika ia berumur 40 tahun, dengan kurun waktu 23 tahun, diantaranya 13 tahun peletakan dasar-dasar keimanan di Mekah dan 10 tahun penegakan kapasitas politik dan kemasyarakatan di Madinah. Sedangkan fase-fase risalah dakwah Rasulullah, menurut Al-Mubarakfuri yaitu Fase Mekah selama ± 13 tahun dan Fase Madinah selama 10 tahun. Fase Mekah dibagi menjadi 3 bagian : Pertama, Tahap dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Kedua, tahap proklamasi dakwah (terang-terangan), selama 10 tahun sejak tahun ke-4 kerasulan sampai akhir tahun ke-10. Ketiga, tahap dakwah di luar Mekah sampai dengan masa hijrah ke Madinah.<br />
Sejak belia, beliau yang buta huruf, menampakkan integritas dan pekerti yang mulia di kalangan masyarakat yang telah alpa tentang moralitas. Dengan bekal itu, beliau dipercaya membawa ekspedisi perdagangan bersama pamannya Abu Thalib, milik Khadijah. Kemudian kelak menjadi istrinya yang men-support visi risalah dan pembentukan ummat.<br />
Terdapat rentang waktu 15 tahun, sejak menikahi Khadijah hingga mendapat wahyu yang pertama, ketika beliau berumur 40 tahun. Fase pra penerimaan wahyu ini, dimanfaatkan beliau untuk penjajakan (assesment) terhadap kondisi sosio-antropologi masyarakat Arab. Satu per satu, beliau mengikat tali kekerabatan dengan sekelompok sahabat, yang di kemudian hari, menjadi pengikut yang paling setia.<br />
Setelah mendapat wahyu pertama, Khadijah adalah orang yang pertama beriman, selanjutnya sepupu beliau, Ali bin Abu Thalib. Zaid bin Haritsah, bekas budak beliau pun ikut menyusul.<br />
Setelah meng-islam-kan kerabat terdekat, dari kalangan sahabat mulai menganut Islam. Abu Bakarlah yang pertama, kemudian ia mengajak sahabat-sahabat yang dipercayai lainnya. Di antaranya, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqash dan Zubair bin Awwam. Selanjutnya mereka yang digelari al-sabiqun al-awwalun, mendapat pengajaran langsung dari Nabi.<br />
Mengetahui adanya permusuhan yang begitu keji dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar kultur, maka kaum Muslimin masih sangat protektif merahasiakan iman mereka. Apabila mereka akan melakukan shalat, mereka pergi ke celah-celah gunung di Mekah. Keadaan ini berjalan selama tiga tahun, sementara Islam tambah meluas juga di kalangan penduduk Mekah. Wahyu yang datang kepada Muhammad selama itu makin memperkuat iman kaum Muslimin.<br />
Tiga tahun setelah masa kerasulan, beliau diperintahkan berdakwah kepada keluarga terdekat. Sebagaimana firman Allah Swt :<br />
öÉRr&#38;ur y7s?uÏ±tã úüÎ/tø%F{$# ÇËÊÍÈ<br />
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (al-syu’ara’ (26) : 214)<br />
Muhammad mengadakan perjamuan, dengan mengundang keluarga-keluarga terdekat. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk menyampaikan dakwah. Namun, justru paman beliau Abu Thalib, yang pertama menyangkal. Sehingga sebagian besar keluarga ikut berpaling. Di kemudian hari, walau tidak beriman, Abu Thalib menjadi pelindung Muhammad dalam berdakwah.<br />
Beliau tidak menyerah. Dengan penuh keberanian, beliau berkhutbah di bukit Shafa, sebagai implementasi perintah dakwah secara terang-terangan.<br />
÷íyô¹$$sù $yJÎ/ ãtB÷sè? óÚÌôãr&#38;ur Ç`tã tûüÏ.Îô³ßJø9$# ÇÒÍÈ<br />
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (al-Hijr (15) : 94)<br />
Setelah berdakwah secara terang-terangan di Shafa, mayoritas penduduk Mekah berpaling. Namun seiring waktu, sedikit demi sedikit penduduk Mekah beriman. Hal ini menjadi mimpi buruk bagi kaum Quraisy Mekah. Selanjutnya Muhammad mendatangi satu per satu kabilah lain di luar Mekah. Beliau mulai berdakwah di Thaif, pada tahun ke-10 masa kerasulan. Selama 10 hari di sana, Nabi mendapat penolakan dan siksaan.<br />
Musim Haji tiba, berbondong-bondonglah kabilah-kabilah di Jazirah Arab menuju Mekah. Kesempatan itu dipergunakan Nabi untuk berdakwah kepada mereka. Diantaranya yaitu Banu Amir bin Sa’sa’ah, Muharib bin Khasfah, Fazarah, Ghassan, Murrah, Hanifah, Salim, Aus, Banu Nadhr, Banu al-Buka’, Kindah, Kalb, al-Harith bin Ka’ab, Uzrah dan al-Hadharimah, namun tak seorang pun dari mereka ini menyahut seruan Nabi. Di samping dakwah secara kolektif itu, Nabi berhasil meng-islam-kan beberapa orang yang penting di luar Mekah. Di kemudian hari, mereka menyebarkan Islam di tempat mereka, setelah pulang dari Mekah. Diantaranya yaitu Suwaid bin Somit, lyas bin Mu’az dan Abu Zar al-Ghaffari dari Yathrib. Sedangkan dari Yaman yaitu Hifail bin Amru al-Dausi pemuka bani Daus dan Dhamad al-Uzdi pemuka Bani Syanaw’ah.<br />
Dus, kabar gembira tentang kebangkitan Utusan Allah ini tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arab. Setahun selanjutnya, beberapa orang dari Yathrib datang ke Mekah pada musim haji, tahun ke-11 setelah kebangkitan Muhammad sebagai Rasulullah. Mereka adalah para pemuka Kabilah Khazraj dan ’Aus. Di Yathrib, di antara kabilah-kabilah yang menghuninya, terdapat 2 kabilah yaitu Khazraj dan ’Aus yang mengalami perang saudara berkepanjangan. Kehadiran Muhammad sebagai utusan Allah menggembirakan mereka, karena dari catatan kitab-kitab suci terdahulu, telah dideskripsikan kedatangan Utusan Tuhan yang akan membawa perubahan bagi kehidupan mereka dari bangsa Quraisy Mekah. Kemudian mereka masuk Islam, setelah dibaiat Muhammad. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat al-Aqabah pertama.<br />
Para Pemuka Kabilah Khazraj yang dibaiat ini berjumlah 6 orang, di antaranya Asa’d bin Zurarah, Auf bin al-Harith, Rafi’ bin Malik, Qatbah bin Amir, Aqabah bin Amir dan Jabir bin Abdillah. Selanjutnya ketika kembali ke Yathrib, mereka mengajak semua kerabat untuk memeluk Islam, hingga tak tersisa satupun yang tidak beriman di kabilah Khazraj, dan merindukan kedatangan Muhammad di kota mereka. Sebagai follow up, Nabi mengutus Mush’ab bin ’Umair sebagai delegasi dakwah ke Yathrib. Pendelegasian dakwah pertama ini bertujuan untuk memberikan pengajaran agama Islam di Yathrib.<br />
Pada musim Haji tahun ke-13 masa kerasulan, Mush’ab bin ’Umair bersama 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan dari masyarakat Madinah datang ke Mekah. Kemudian mereka dibaiat Rasulullah. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat al-’Aqabah kedua.<br />
Semakin bertambahnya jumlah kaum muslimin membuat para pemuka kafir Quraisy Mekah gerah. Tekanan dan kecaman terhadap mereka semakin diperketat. Lebih prestisius lagi, Rasulullah berhasil meng-islam-kan tokoh-tokoh kabilah di luar Arab. Hal ini sangat berpotensi dengan semakin tersebarnya Islam.<br />
Tahapan ini merupakan checkpoint tersendiri bagi misi Rasulullah Saw yang pertama, yaitu pembentukan komunitas umat yang bertauhid. Islam mempersaudarakan kabilah-kabilah yang terpecah dalam sebuah keyakinan tauhid dan berbentuk komunitas umat muslimin. Sebuah komunitas umat inklusif, yang melingkupi segenap manusia yang beriman, baik bangsa Arab maupun ‘Ajamiyyah.<br />
MUHAMMAD SAW MENDIRIKAN NEGARA DAN MENEGAKKAN AGAMA ISLAM.</p>
<p>Momentum Hijrah sebagai strategi awal.<br />
Kaum muslimin mulai hijrah ke kota Yathrib. Nabi dan Abu Bakar berangkat kemudian setelah Allah mengizinkan beliau dengan turunnya ayat :<br />
yÏ$t7Ïè»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä ¨bÎ) ÓÅÌör&#38; ×pyèÅºur }»Î*sù Èbrßç7ôã$$sù ÇÎÏÈ<br />
Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, Sesungguhnya bumi-Ku luas, Maka sembahlah Aku saja. (QS. Al-Ankabut (29) : 56)<br />
Perintah ini merupakan kabar gembira bagi kaum muslimin. Sedangkan bagi kaum Quraisy Mekah merupakan sebuah kabar buruk. Mereka khawatir, bahwa legitimasi masyarakat Yathrib terhadap Islam dapat menghambat ekspedisi perdagangan mereka ke negeri Syam.<br />
Kedatangan Muhammad disambut gembira oleh masyarakat Yathrib. Kerinduan mereka pada sosok Rasulullah ini amat dalam. Sebelumnya, mereka menganut Islam dari informasi para sahabat Rasulullah yang datang lebih dahulu. Kedatangan beliau bertepatan dengan hari Jum’at. kemudian beliau mengajak kamu muslimin shalat Jum’at berjamaah di Wadi Ranuna, pinggiran kota Yathrib.</p>
<p>Pembangunan mesjid Nabawi dan political policies Muhammad di Madinah.<br />
Setelah menetap di rumah Abu Ayyub al-Anshari, salah satu kaum Anshar, beliau mengajak kaum muslimin membangun mesjid. Hal ini implementasi sikap gotong royong yang beliau ajarkan, semakin mempererat hubungan kaum muhajirin dan anshar.<br />
Mesjid itu merupakan sebuah ruangan terbuka yang luas, keempat temboknya dibuat daripada batu bata dan tanah. Atapnya sebagian terdiri dari daun kurma dan yang sebagian lagi dibiarkan terbuka, dengan salah satu bagian lagi digunakan tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak punya tempat-tinggal. Tidak ada penerangan dalam mesjid itu pada malam hari. Hanya pada waktu salat Isya diadakan penerangan dengan membakar jerami. Yang demikian ini berjalan selama 9 tahun. Sesudah itu kemudian baru mempergunakan lampu-lampu yang dipasang pada batang-batang kurma yang dijadikan penopang atapnya. Sebenarnya tempat tinggal Nabi sendiri tidak lebih mewah keadaannya daripada mesjid, meskipun memang sudah sepatutnya lebih tertutup.<br />
Mesjid itu menjadi pusat kegiatan keagamaan. Setiap urusan dan permasalahan kaum muslimin dipecahkan di sana.<br />
Setelah selesai Muhammad membangun mesjid dan tempat-tinggal, ia pindah dari rumah Abu Ayyub ke tempat ini. Selanjutnya Nabi memulai hidup baru, di tengah komunitas masyarakat plural Yathrib. Beliau melihat adanya kabilah-kabilah yang saling bermusuhan. Secara lahiriah, kabilah-kabilah merindukan adanya suatu kehidupan damai dan tenteram, jauh dari segala pertentangan dan kebencian, yang pada masa lampau telah memecah-belah mereka.<br />
Hijrah, sebagaimana visi Rasulullah bukanlah untuk kekayaan dan kehormatan. Melainkan memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut kepercayaan agama masing-masing. Baik bagi seorang Muslim, seorang Yahudi, atau seorang Kristen masing-masing mempunyai kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, menyatakan pendapat dan menjalankan propaganda agama.<br />
Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan yang integral dan terhormat. Setiap tindakan menentang kebebasan berarti memperkuat kebatilan, berarti menyebarkan kegelapan yang akhirnya akan mengikis habis percikan cahaya yang berkedip dalam hati nurani manusia. Dengan konsep pemikiran inilah Islam memiliki identitas dan integritas bagi penduduk Yathrib.<br />
Paradigma perdamaian global dan kebebasan ini sangat berpengaruh bagi penduduk Yathrib. Mereka menyambutnya dengan pikiran yang serupa, meskipun setiap golongan pertimbangannya saling bertentangan satu sama lain. Penduduk Yathrib pada waktu itu terdiri dari kaum Muslimin (Muhajirin dan Anshar), kaum pagan dari sisa-sisa Aus dan Khazraj, Kaum Yahudi Bani Qainuqa’ di sebelah tengah Yathrib, Bani Quraiza di Fadak, Bani Nadzir dan Yahudi Khaibar di utara Yathrib.<br />
Adapun kaum Muhajirin dan Anshar, karena solidaritas agama baru itu, mereka sudah erat sekali bersatu. Walaupun begitu, Muhammad tetap menjaga kesatuan kaum muslimin dari celah perpecahan. Sebaliknya golongan pagan dari sisa-sisa Aus dan Khazraj, akibat peperangan-peperangan masa lampau, mereka merasa lemah sekali di tengah kaum Muslimin dan Yahudi itu. Mereka mencari jalan supaya antara keduanya itu timbul insiden. Sedangkan golongan Yahudi dengan tiada ragu-ragu merekapun menyambut baik kedatangan Muhammad. Mereka menduga Muhammad akan dapat dibujuk dan dirangkul ke pihak mereka, sehingga dapat diminta bantuannya membentuk sebuah jazirah Arab. Dengan demikian mereka akan dapat pula membendung Kristen yang telah mengusir mereka.<br />
Di sinilah letak fase baru dalam hidup Muhammad dimulai, yang sebelumnya tiada seorang nabi atau rasul yang pernah mengalaminya. Di sini dimulainya suatu fase politik yang telah dan akan ditunjukkan Muhammad dengan segala kecakapan, kemampuan dan pengalamannya, yang akan mengukir sejarah besar dunia. Tujuan pokok menjadikan Yathrib, yang kemudian beliau namakan Madinah, ialah meletakkan dasar kesatuan politik dan organisasi, yang sebelum itu di seluruh wilayah Hijaz belum dikenal; walau jauh sebelumnya di Yaman memang sudah pernah ada.<br />
Berajak dari komitmen bersama itu, langkah politik Muhammad selanjutnya yaitu mengajak penduduk Madinah membuat sebuah perjanjian. Perjanjian yang dikenal dengan Piagam Madinah ini melingkupi segenap wilayah Yathrib. Inilah dokumen politik yang telah diletakkan Muhammad sejak ± 14 abad lalu. Diktum-diktum yang telah ditetapkan menjamin adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat; tentang keselamatan harta-benda dan larangan orang melakukan kejahatan. Nabi telah membuka pintu baru dalam kehidupan politik dan peradaban dunia masa itu. Dunia, yang sebelumnya hanya menjadi permainan tangan tirani, dikuasai oleh kekejaman dan otoritarinisme.<br />
Demikianlah, seluruh kota Madinah dan sekitarnya telah benar-benar jadi terhormat bagi seluruh penduduk. Mereka berkewajiban mempertahankan kota ini dan mengusir setiap serangan yang datang dari luar. Mereka harus bekerja sama antara sesama mereka guna menghormati segala hak dan segala macam kebebasan yang sudah disetujui bersama dalam dokumen ini.</p>
<p>Pembentukan hubungan diplomatik dengan para penguasa non Islam.<br />
Sebagai agama dakwah, Islam secara tadarruj diperkenalkan kepada semua manusia. Upaya-upaya tansformasi revolutif mulai dikembangkan. Menurut hemat penulis, terdapat 2 pola transformasi Islam klasik yaitu kultural dan struktural. Al-Qur’an sebagai dustur ilahi yang bersifat muntij tsaqafy (produsen budaya) merupakan pondasi misi cultural transformatif. Sedangkan structural transformatif dikembangkan melalui siyasah (politik). Pembentukan negara Madinah yang demokratis telah mendapat legitimasi penduduk Madinah. Legitimasi kerajaan-kerajaan non Islam di luar jazirah Arab terhadap negara Madinah mesti direalisasikan, disamping esensi tentang tauhid.<br />
Enam tahun setelah hijrah, Muhammad memutuskan untuk mengirim surat kepada para penguasa di dalam dan luar jazirah Arab. Beliau menganggap inisiatif ini sangat penting. Para delegasi dari sahabat yang berjumlah 6 orang diutus untuk membangun misi diplomatik dan dakwah kepada para penguasa Arab dan luar Arab. Para diplomat ini resmi diutus pada bulan Muharram 7 Hijriyah, beberapa hari sebelum perang Khaibar.<br />
Menurut Ibnu Hisyam, delegasi diplomatik yang ditujukan ke luar jazirah Arab diantaranya :<br />
1. Kaisar Heraklius Agung, penguasa Romawi.<br />
2. Raja Kisra, penguasa Persia<br />
3. Muqauqis Agung, penguasa Mesir.<br />
4. Raja Najasy, penguasa Habasyah (Ethiopia)<br />
Sedangkan untuk internal jazirah Arab, diantaranya ditujukan kepada :<br />
1. Jaifar bin al-jalandi, penguasa Yaman<br />
2. Harits bin Abi Shamir Al-Ghassani, Raja Damaskus di Syiria<br />
3. Tsamamah bin Al-Atsal, penguasa Yamamah<br />
4. Hauza bin Ali, Gubernur Yaman.<br />
5. Munzir bin Sawa, penguasa Bahrain</p>
<p>Bargaining Position Islam Terhadap Peradaban Dunia<br />
Sejarah telah mencatat sekian prestasi gemilang Muhammad. Bangsa Arab yang mula-mula hanya kabilah-kabilah yang saling memerangi satu sama lain, mudah dipecah-belah dan tidak menjadi ’subjek’ terhadap antroposentris sejarah bangsa-bangsa besar di dunia. Walhasil, ajaran-ajaran Islam menjadi titik tolak semangat eksplorasi dan kejayaan bangsa Arab.<br />
Sangat bijak kiranya Michael H. Hart memposisikan Muhammad sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya agama yang lain, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar tokoh yang paling berpengaruh?<br />
Ada dua alasan pokok, menurut Michael H. Hart. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari kitab Perjanjian Lama. Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Di samping itu pula dia “pencatat” Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu.<br />
Kedua, (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.<br />
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan agama Islam tapi juga dari sudut ‘bahasa Arabnya’, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, merupakan sebab yang sangat rasional mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantakan.<br />
Dus, setelah Muhammad wafat, ajaran-ajarannya senantiasa menjiwai dada kaum muslimin. Bangsa Arab memiliki tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia.<br />
Di sebelah timur laut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di barat laut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya. Dianalisa dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia ditaklukkan dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.</p>
<p>Invasi kota Mekah dan dampaknya<br />
Setelah kekuatan Islam berhasil dihimpun dalam sebuah barisan yang kokoh, maka Muhammad memerintahkan kaum muslimin untuk berangkat ke Mekah. Muhammad mengumumkan amnesti terbuka untuk kaum kafir Quraisy. Sebuah penaklukan yang sangat indah dalam sejarah. Tanpa ada sedikitpun darah tertumpah. Secara manusiawi, balas dendam adalah hal yang sangat mendasar. Namun, beliau mengumumkan amnesti. Hal ini menjadi catatan sejarah, bahwa Islam bukanlah agama ‘haus darah’.<br />
Di era media global dan komunikasi instan saat ini, bermunculan banyak statemen sensasional yang menyudutkan Islam. Islam yang dihadirkan media Barat sebagai teroris, pembunuh berdarah dingin, rasial dan lain-lain.Hal ini sebagai titik distorsi pemahaman Barat tentang Islam. Paradigma Islam yang dideskripsikan Nabi dalam periode penaklukan Mekah menjadi sanggahan untuk itu.</p>
<p>KHOTIMAH<br />
Seorang penulis biographi Nabi yang cukup dikenal, yaitu Muhammad Ahmad Djadil Maula Beik dalam bukunya Muhammad Al Matsalul Kamil mengemukakan tiga macam ‘kerja raksasa’ yang dibawanya. ‘Kerja raksasa’ itu telah dapat direalisasikan Nabi selama masa kerasulannya yang berlangsung selama 23 tahun, yaitu 13 tahun di kota Mekkah dan 10 tahun di kota Madinah.<br />
إنّه كوّن أمة واسّس دولة وأقام دينا<br />
Sesungguhnya dia (Muhammad Saw) telah membentuk suatu ummat, mendirikan suatu negara dan menegakkan suatu agama.</p>
<p>‘Ala kulli hal, makalah ini tak luput dari kekurangan dan kealpaan. Oleh karenanya, kritik dan saran amat penulis harapkan. Dengan itu, semoga setiap amal kebaikan kita diridlai Allah Swt. Amin.<br />
Jazakumullahu khairan katsira<br />
Wallah al-Muwaffiq wa al-Hadi ila sabili al-Rasyad</p>
<p>Makassar, 13 Ramadlan 1428 H.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tantangan ilmu keislaman di persimpangan modernitas]]></title>
<link>http://haramain84.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 16:49:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>haramain84</dc:creator>
<guid>http://haramain84.wordpress.com/?p=8</guid>
<description><![CDATA[ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن<br />
“Transformasi-kanlah mereka menuju jalan Tuhanmu,<br />
dengan penuh kebijaksanaan dan supermotivasi positif,<br />
dan sanggahlah mereka dengan jalan yang lebih metodologis…”<br />
(QS.al-Nahl (16):125)</p>
<p>a. Pendahuluan<br />
“… Why is the west coming to Islam?”<br />
Pertanyaan ini muncul mengawali abad 21, di luar konteks agresi invasi Barat ke Timur, tanpa disadari berimplikasi pada transformasi budaya timur ke barat dan sebaliknya. Masyarakat Islam yang selama ini masih bermimpi tentang kejayaan masa silam dan kemajuan ilmu pengetahuan oleh pakar-pakar Muslim abad pertengahan, harus mulai bangkit ditantang realitas ghazwah al-fikr (perang pemikiran)<!--more--><br />
Sejak zaman Renaisance di abad 17 lalu, manusia memasuki “dunia baru”, dunia yang begitu berbeda dengan tatanan dunia sebelumnya. Alfin Tovler, futurolog yang membagi tiga tahapan perkembangan peradaban manusia, menyatakan bahwa manusia saat ini hidup di tengah periode masyarakat komunikasi yang berlangsung sejak 1970 hingga sekarang. Dalam kehidupan di dunia baru ini manusia mengalami proses transformasi – untuk tidak mengatakan revolusi seperti yang diistilahkan oleh Franz Magnis – yang begitu cepat dan mencengangkan. Hasil olah sains dan teknologi canggih yang diciptakan manusia membuat sesuatu menjadi mudah, tidak berjarak dan tidak tersekat oleh waktu dan tempat. Semuanya dapat dilampaui oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Hikmat Budiman dengan sinis menyatakan, bahwa canggihnya kehidupan modern belum, bahkan tidak terjangkau oleh mimpi-mimpi paling liar sekalipun pada masyarakat primitif (Budiman,1997).<br />
Kecanggihan ilmu pengetahuan sekarang ini membuka ruang dan cakrawala baru dalam tatanan peradaban kehidupan manusia. Betapa tidak, sesuatu yang dahulunya dianggap tabu, misteri dan merupakan wilayah metafisis bahkan teologis, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi riil dan lumrah. Sebagai contoh, sebut saja tentang penjelajahan manusia ke semesta lain, seperti perjalanan ke bulan dengan hanya menggunakan pesawat ulang alik baik yang berawak maupun yang tidak; rekayasa genetika; teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Akan tetapi, betapapun manusia telah berhasil dan terus berhasrat melakukan eksplorasi dan menguak tabir misteri cosmic, termasuk dirinya, namun keberadaan manusia itu sendiri tetap saja menjadi misteri yang hingga kini, bahkan entah sampai kapan perlu diungkap.<br />
Berbagai penemuan baru super canggih produk ratio telah mampu merubah tatanan dan pola hidup yang dilakonkan manusia, termasuk paradigma kehidupannya. Perubahan dimaksud sekaligus telah menjadi pertanda keberhasilan manusia mengganti peran alam yang awalnya hadir sebagai mitra dalam kehidupan di semeta ini kini menjadi objek eksploitasi hanya dengan mengedepankan dalih demi kelangsungan hidup manusia dan demi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.<br />
Seiring dengan perjalanan waktu, manusia semakin terpesona dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai produk kerja ratio. Bahkan ironisnya, hanya dikarenakan berbagai kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan sebagai tawaran dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian hari kian berkembang, manusia telah berani meniscayakan “ratio” yang terbukti telah berhasil menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tanpa disadari seiring dengan itu pula ia telah mereduksi keniscayaan realitas lainnya termasuk agama dengan berbagai elemen spiritual yang terkandung di dalamnya.<br />
Keterpesonaan akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berakhir pada peniscayaan terhadap ratio membuat manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai realitas yang sederhana. Oleh Yasraf Amir Pilliang dunia seperti itu diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat (Yasraf, 2004). Hal ini disebabkan oleh kenyataan betapa kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien.<br />
Dunia yang telah dilipat muncul sebagai konsekwensi dari kehadiran berbagai penemuan teknologi mutakhir terutama transportasi, telekomunikasi dan informasi, jarak-ruang semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya, inilah pelipatan ruang-waktu. Adalagi pelipatan waktu-tindakan, yakni pemadatan tindakan ke dalam satuan waktu tertentu dalam rangka memperpendek jarak dan durasi tindakan, dengan tujuan mencapai efisiensi waktu. Dahulu manusia melakukan satu hal dalam satu waktu tertentu, seperti memasak, menyetir, membaca, menelepon dan lain-lain. Kini, manusia dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu bersamaan, menyetir mobil sambil menelepon, mendengar musik, makan dan sambil bicara.<br />
Pada bagian lain ada pula miniaturisasi ruang-waktu, dimana sesuatu dikerdilkan dalam berbagai dimensi, aspek, sifat dan bentuk lainnya. Realitas ditampilkan melalui media gambar, fotografi, televisi, film, video, dan internet. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul Virilio yang dikutip Yasraf Amir Pilliang, bahwa ruang saat ini tidak lagi meluas, tetapi mengerut di dalam sebuah layar elektronik. Jika ingin mengetahui sesuatu yang riil, manusia dapat mencari dan menyaksikan melalui video, film, televisi. Ingin tahu mendetail tentang sang bintang idola, maka orang tinggal mengklik satu situs dalam internet, kemudian tampillah sang bintang dengan ragam tentang dirinya, dan seterusnya. Demikianlah di antara beberapa gambaran tentang pelipatan dunia oleh perkembangan teknologi mutakhir di bidang transportasi, komunikasi dan informasi.</p>
<p>b. Keniscayaan Modernitas<br />
Modernisasi adalah sebuah keniscayaan sejarah yang pasti ada menyambangi sebuah peradaban manusia, tak perduli apakah ia menghendakinya atau tidak. Menurut Franz Magnis, modernisasi adalah satu revolusi kebudayaan paling dahsyat yang dialami manusia sesudah belajar bercocok tanam dan membangun rumah. Modernitas bagaikan air bah yang terus menerjang benteng-benteng kokoh mitologis masyarakat primitif dan menggantinya dengan bangunan baru yang lebih rasional, kritis dan liberal. Modernisasi merupakan suatu proses raksasa menyeluruh dan global. Tak ada bangsa atau masyarakat yang dapat mengelak dari padanya.<br />
Zaman Modern sendiri, masih menurut Franz Magnis, diawali dengan ditemukannya 3 hal penting yaitu penemuan dan pemakaian bubuk mesiu, mesin cetak dan kompas pada abad ke-15 M di Eropa. Ketiga hal inilah yang menjadi pra-syarat terciptanya masyarakat modern berikutnya yang dimulai dari belahan dunia Eropa. Penemuan dan pemakain bubuk mesiu berarti titik akhir kekuasaan feodal yang dipusatkan dalam benteng-benteng feodalisme. Penemuan mesin cetak menandakan telah dimulainya proses transformasi ilmu pengetahuan sehingga dapat dikonsumsi oleh khalayak ramai, sehingga pengetahuan dan interpretasi kebenaran tidak lagi menjadi hak monopoli satu golongan tertentu. Dengan mesin cetak, pengetahuan baru yang ditemukan dari hasil eksplorasi para saintis dapat dipublikasikan secara lebih luas, dengan demikian pengetahuan menjadi inklusif karena dapat diakses oleh siapa saja. Kondisi ini memungkinkan percepatan perubahan dalam satu komunitas peradaban karena telah terjadi dinamisasi khususnya pada aspek peradaban intetektual. Di bagian lain, penemuan kompas mengisyaratkan bahwa navigasi mulai aman, sehingga dimungkinkan melakukan perjalanan jauh guna menemukan, membuka dan menjelajah dunia baru.<br />
Tiga penemuan inilah yang menjadi dasar bagi perkembangan peradaban manusia selanjutnya menjadi semakin dahsyat juga liar. Karena tiga penemuan ini jugalah kemudian lahir tiga gerakan yang menjadi landasan pembuka jalan ke dunia modern. Ketiga gerakan itu adalah gerakan kapitalisme dengan teknik modern yang memungkinkan industrialisasi, subjektivitas manusia modern dan rasionalisme.<br />
Dari ketiga gerakan di atas kemudian lahirlah modernisme sebagai anak dari karya intelektual manusia. Ia menggurita dalam tiap aspek kehidupan manusia. Banyak penemuan-penemuan ilmiah baru yang mencengangkan dan membelalakkan mata manusia awam. Dimulai dari penemuan Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang ilmuan yang mengumandangkan teori bahwa matahari sebagai pusat tata surya (helio sentris), Johanes Kepler (1571-1630) yang menemukan hukum gerak planet, Galileo Galilei (1564-1626), dan sederet nama-nama lainnya. Sejak abad ini, dimulailah satu proyek besar ambisius oleh masyarakat barat, yaitu apa yang mereka sebut dengan modernisasi.<br />
Menurut Lawrence, secara terminologi kemodernan dapat dipahami sebagai sebuah kondisi atau keadaan dimana muncul serangkaian perubahan dan peningkatan dalam kehidupan manusia, mulai dari sistem birokrasi, rasionalisasi, kemajuan dalam bidang teknis dan pertukaran global yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia era pra-modern. Lawrence berupaya mengambarkan modernisme sebagai “pencaharian otonomi individu, menekankan pada perubahan nilai secara kuantitas, efisiensi dalam produksi, dan kekuatan serta keuntungan di atas simpati terhadap nilai-nilai tradisional atau lapangan pekerjaan dalam ruang publik maupun pribadi. Keberhasilan tersebut –technical capacities dan global exchange—merupakan konsekuensi material dari ideologi modernisme, yang kemudian memarginalisasikan peran agama. Dari sini kemudian muncul perdebatan dimana orang banyak mendudukkan modernisasi vis-a-vis agama.</p>
<p>c. Anomali (keganjilan) Modernitas<br />
Adalah hal yang tak terbantahkan, bahwa sains dengan penemuan-penemuan spektakulernya membawa berkah bagi kehidupan manusia berupa kemudahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Saat ini kita dapat merasakan bahwa hampir semua pekerjaan dapat dikerjakan oleh mesin mulai dari yang paling berat, rumit dan sulit hingga yang paling sederhana, gampang dan mudah. Dalam tiap ritme kehidupan, kita selalu dikelilingi oleh mesin, seolah kita tidak bisa hidup tanpanya sebagaimana sebagai makhluk seorang makhluk sosial, kita tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya di sekeliling. Demikian adanya bahwa mesin memudahkan, membuai dan memanjakan kehidupan kita. Tetapi sekali lagi kita mesti ingat bahwa modernitas adalah produk ambigu manusia yang menghadirkan dua sisi berhadap-hadapan.<br />
Di satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias. Dampak paling krusial dari modernitas menurut Budi Munawar Rahman, adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi (Komarudin Hidayat &#38; Wahyu Nafis,1995). Menurutnya, manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya, terpinggirkan. Makanya, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan. Dengan mengutip Schumacher dalam bukunya “A Guide for the perplexed”, manusia kemudian disadarkan melalui wahana krisis lingkungan, bahan bakar, ancaman terhadap bahan pangan dan kemungkinan krisis kesehatan.<br />
Awal mula krisis eksistensial ini sebagaimana yang pernah ditulis oleh Huston Smith dalam bukunya “Kebenaran yang Terlupakan” adalah saat seorang filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650) mempublikasikan karyanya yang berjudul “Discourse on Method of Rightly Conducting the Reason and Seeking the Truth in the Science“. Dalam karyanya ini Descartes dengan jargon Cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) ingin mengungkapkan bahwa alam adalah sesuatu yang terpisah dari manusia sebagai subjek berpikir. Tidak ada yang tidak dapat diketahui manusia jika ia mau menggunakan pikirannya. Menurut Hikmat Budiman, filsafat Descartes ini dipandang sebagai penghulu terjadinya cara berpikir dualisme, dimana ia telah menghadirkan sebuah distinksi atau perbedaan atau pemisahan antara subjek (res cogitant) sebagai yang berpikir dan objek (res extensa) yang berada di luar. Di antara keduanya dijembatani dengan ilmu pengetahuan alam atau wacana (ergo). Hal ini berkonsekuensi pada terjadinya superioritas subjek terhadap objek, sesuatu dikatakan ada atau tidak ada, tergantung pada dipikirkan atau tidak dipikirkannya oleh subjek. Jika sebelumnya alam dikaitkan dengan eksistensi kekuasaan Yang Maha Agung (Tuhan) yang kemudian termanifestasi dalam figur totem, taboo, animisme, dinamisme bahkan agama, maka metodologi eklektis Cartesian kemudian menjadikan akal sebagai avant-garde eksistensi manusia di hadapan alamnya. Manusia dengan akalnya merasa mampu membedah alam, untuk kemudian menundukkannnya, sehingga alam hanya dijadikan sebagai objek yang dipikirkan (res extansa). Ini kemudiaan disebut oleh Imanuel Levinas, dijuluki sebagai egologi, yaitu ilmu pengetahuan yang berkutat dengan ego manusia.<br />
Kerangka filosofis tersebut yang kemudian mendudukkan alam (nature) sebagai subordinasi dari manusia atau inferior vis a vis manusia (res cogitant). Supremasi ilmu pengetahuan alam dan semangat aufklarung ini yang kemudian memunculkan semangat kapitalisme dan kemudian imperialisme. Hal tersebut dapat kita pahami melalui persfektif teori sistem dunia dan teori ketergantungan.<br />
Pada persoalan lain, secara ekstrem sebenarnya modernitas mengancam eksistensi kemanusiaan. Betapa tidak, dengan ditemukan dan dipakainya bubuk mesiu pada akhir abad ke-15 lalu di Eropa, maka bermunculan senjata-senjata canggih pemusnah massal. Beberapa tragedi dalam lintasan sejarah seperti pengeboman oleh tentara Amerika dengan bom atom di Nagashaki dan Hirosima, penggunaan gas sarin oleh sekte Aom Shinrikyu di stasiun kereta api bawah tanah yang menewaskan banyak orang, tragedi WTC dan masih banyak lagi peristiwa lainnya, ini adalah ciri peperangan pada abad modern yaitu memusnahkan secara massal. Mungkin kita juga masih diingatkan dengan peristiwa ledakan pabrik kimia di Bhopal, India, pada bulan September 1984, atau yang terjadi pada perusahaan nuklir di Chernobyl, di bekas Uni Soviet, pada bulan April 1986, semua menelan korban jiwa yang tidak sedikit.<br />
Pada aspek lingkungan, kita juga mencatat betapa teknologi sangat tidak bersahabat dan mempunyai konstribusi signifikan terhadap kerusakan lingkungan. Lapisan ozon yang telah menipis akibat efek dari banyaknya rumah kaca dan polusi udara yang dihasilkan oleh pabrik serta kendaraan bermotor, hutan yang gundul, pantai yang mengalami abrasi, air sungai yang terkontaminasi dan lain sebagainya adalah akibat logis dari modernitas. Pada ranah ini, tidak hanya eksistensi manusia yang terancam tetapi juga alam secara makro. Sederhananya bahwa alam telah terekploitasi sedemikian bejadnya oleh interest rakus para individu penjelajah harapan dengan mengatasnamakan kepentingan kemanusiaan. Eksploitasi yang tidak logis dan berimbangan ini sejatinya telah merusak relasi arif antara meta cosmic, makro cosmic dan mikro kosmic yang dahulunya saling berdialektika dalam satu relasi interdependensi.<br />
Lain lagi menurut Erich From dalam bukunya “The Revolution of Hope” bahwa dalam kehidupan manusia modern di tengah-tengahnya ada “hantu”. Terma hantu yang dipakai dan dimaksudkannya di sini adalah ilustrasi terhadap pola masyarakat yang dimesinkan secara total, manusia adalah mesin yang mekanis. Totalitas kehidupannya dicurahkan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi material, yang dalam prosesnya -lebih ironis- bahwa ia diarahkan oleh komputer-komputer (baca: mesin). Manusia tidak lagi berfungsi sebagai manusia yang utuh. Dalam proses sosial semacam ini manusia menjadi bagian dari mesin, diberi makan dan hiburan yang cukup, tetapi pasif, tidak hidup dan nyaris tanpa perasaan. Semua persoalan dalam konteks ini ditinjau dari perspektif material, padahal menurut Plato, seorang filosof Yunani, manusia adalah konfigurasi dari dua realitas tak terpisahkan yakni fisik yang mengambil bentuk material dan psikis yang mengambil bentuk jiwa atau spirit. Artinya, mengabaikan atau memprioritaskan salah satunya sama artinya dengan menjadikan manusia bukan manusia sebenarnya.<br />
Hal lain yang juga telah menjadi karakter manusia modern yang materialistik oriented adalah budaya pragmatisme dan hedonisme. Pragmatisme1 adalah cara pandang yang melihat sesuatu dari nilai manfaat yang dapat dihasil dari sesuatu. Jika ia bermanfaat secara praktis material, maka ia dianggap kebenaran yang bernilai. Demikian juga dengan budaya hedonisme2, totalitas kehidupan semuanya diorientasikan untuk sebuah kenikmatan. Kebahagiaan tertinggi adalah karena akumulasi yang banyak dari kenikmatan material, dan sebaliknya kesengsaraan adalah disebabkan manusia tidak menemukan kenikmatan. Motto yang paling terkenal dari kaum hedonis adalah “hidup untuk hari ini”. Dari sini dapat diasumsikan bahwa apa saja menjadi legal dan pantas demi sebuah kenikmatan. Pada proses selanjutnya dapat dipastikan bahwa akan terjadi peminggiran terhadap beberapa sisi dari kemanusian itu sendiri, terutama persoalan moralitas juga etika.<br />
Dalam ranah empiris kemudian dapat kita temukan betapa banyak hari ini penyakit-penyakit sosial yang terjadi di masyarakat, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan, pengkonsumsian obat-obat terlarang, minuman keras, aborsi, perilaku sadisme dan perilaku-perilaku kriminal lainnya yang kesemuanya menghiasi wajah gelap modernitas. Itulah di antara beberapa anomali yang include dalam modernitas itu sendiri dimana kesemuanya ternyata sangat potensial untuk memberangus sisi-sisi eksistensial kemanusiaan. Sebagai kesimpulan sementara dapat dikatakan, bahwa kemajuan secara kuantitatif material yang dicapai oleh modernitas, tidak diiringi dengan kemajuan kualitatif. Modernitas dengan sederet anomalinya tersebut sedikit banyak telah mengabsurdkan beberapa sisi sejati dari manusia pemujanya. Absurditas inilah yang selanjutnya menyebabkan manusia modern salah orientasi dalam memaknai hakikat hidup yang ia jalani.<br />
d. Relevansi Ilmu pengetahuan (spiritualitas) Agama; sebuah tantangan<br />
Modernitas senyatanya tidak hanya menghadirkan dampak positif, tapi juga dampak negatif. Terhadap dampak negatif ini, pertanyaan kita selanjutnya adalah apa yang seyogyanya kita lakukan, sementara modernitas dengan niscaya terus bergerak dengan tanpa memperdulikan apakah di balik gerakannya terdapat bias negatif. Modernitas yang merupakan kristalisasi budi daya manusia adalah keharusan sejarah yang tak terbantahkan, dengan demikian satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah menjadi partisipan aktif dalam arus perubahan modernitas, sekaligus membuat proteksi dari akses negatif yang akan dimunculkan. John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam “Megatrends 2000“ mengatakan bahwa dalam kondisi seperti ini, maka agama merupakan satu tawaran dalam kegersangan dan kehampaan spiritualitas manusia modern. Dalam tesisnya ia mengatakan bahwa era milenium seperti sekarang merupakan era kebangkitan agama dan nilai-nilai esoteric. Bagi manusia modern, akses-akses negatif yang ditimbulkan oleh modernisasi akan mampu di proteksi oleh kearifan esoteric sebuah relegiusitas. Tetapi yang menarik dari fenomena ini adalah bahwa kecendrungan sikap dan pilihan beragama kaum modernis adalah model beragama yang mengedepankan spirit relegiusitas ketimbang formalitas agama konvensional. Slogan mereka yang cukup terkenal itu adalah “Spirituality yes, organized relegion no” (Naisbitt,1990). Hal ini jika kita simak secara mendalam lebih disebabkan oleh adanya pengaruh dari karakteristik modernisasi yang mengedepankan rasio dan daya kritis terhadap sebuah kebenaran.<br />
Terdapat alasan ontologis-teologis mengapa sisi spiritualitas tetap menjadi kebutuhan perenial manusia; seprimitif dan semodern apapun dia. Ia menganalogikan kebutuhan perenial itu dengan memetaforakan seperti sebuah cerita film (Yasraf Amir Pilliang, 2004). Bila di dalam segala sesuatu telah diketahui sebelumnya, artinya tidak ada lagi misteri dan pertanyaan yang perlu dijawab, enigma yang harus diselesaikan dan lain-lain, maka tidak ada makna baru yang penting dicari karena semuanya telah terbuka dan tersibak. Apa yang menarik dari sebuah film tersebut untuk kita tonton hingga menghabiskan waktu berjam-jam, toh kita telah tahu semuanya, seperti apa ending dari ceritanya. Film baru akan menarik manakala ia menghadirkan rasa penasaran, karena ia menyimpan misteri, pertanyaan dan enigma sehingga ia akan menghadirkan pengalaman baru bagi penontonnya.<br />
Demikian pula kehidupan ini, manakala saat kita berada di atas dunia semuanya telah menjadi nyata, semua membentangkan realitas sebenarnya, tidak ada lagi ruang suci tak tersentuh yang kemudian menjadikan kita tidak lagi mempunyai pekerjaan untuk memimpikan, mengilusikan, menghayalkan, dan menafsirkan, sesungguhnya tidak ada lagi yang namanya kehidupan di dunia. Dunia akan hidup manakala masih ada realitas tak tersentuh yang kemudian menghadirkan energi bagi manusia untuk berikhtiar mengungkapnya baik melalui penalaran, perenungan, pengembaraan jiwa dan lain-lain. Yang jelas bahwa Realitas Tak Tersentuh ini sebagai sesuatu yang berada di luar kekuasaan manusia, di luar pengalaman manusia dan mungkin di luar kemampuan akal manusia pula. Oleh manusia, Ia disebut secara beragam: Penggerak yang Tak Tergerak (Un-moved mover), Transendental, Tuhan dan lain-lain. Maka, selama Realitas Tak Tersentuh Yang Tak Terbatas ini masih ada, maka masih ada kekuatan lain yang berada di atas kekuatan manusia dan di sinilah spiritualitas menemukan ruangnya.<br />
Dalam konteks ini, asumsi awal yang dapat kita berikan bahwa semodern apapun sebuah komunitas, agama tetap akan eksis, dibutuhkan dan tetap dapat menjadi tawaran solutif terhadap penyakit sebagai darivasi dari peradaban yang dimunculkan. Agama diperlukan guna menjelaskan makna dan tujuan hidup manusia. Agamalah yang mengisi sisi spiritual manusia yang tidak mungkin dipenuhi oleh rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Bahkan menurut William James, agama akan selalu ada selagi manusia memiliki rasa cemas.<br />
Robert N. Bellah di dalam Beyond Belief, menyatakan bahwa mayoritas masyarakat Amerika – masyarakat yang biasanya diidentikkan dengan masyarakat sekular – ternyata masih membutuhkan keyakinan akan Tuhan, agama atau spiritualitas, meskipun interpretasi dari Tuhan dan agama ini sangat berbeda dari pengertian Tuhan dan agama sebagaimana yang ada pada agama konvensional. Bellah mengistilahkan spiritualitas seperti ini dengan agama civil (civil relegion), karena para penganutnya memasukkan kesadaran spiritualitasnya ke dalam ruang yang lebih umum, konsep Tuhan digeneralisir, dalam pengertian bahwa meskipun orang berbeda agama, akan tetapi mereka dapat mempunyai konsep Tuhan yang sama.<br />
Dalam pengungkapan berbeda, George M. Marsden menyatakan bahwa agama bagi sebagian masyarakat modern telah kehilangan semangat komunalnya. Agama menjadi sangat pribadi dan individualistik. Kearifan nilai agama ditafsirkan secara subjektif sesuai dengan kepentingan masing-masing. Termasuk interpretasi tentang konsep ke-Tuhan-an, walau mereka yakin mempunyai Tuhan yang sama tetapi mereka ingin Tuhan yang mereka yakini itu adalah sebagaimana yang mereka interpretasikan.<br />
Namun demikian tidak semua agama dapat menjawab persoalan kemanusiaan. Hanya agama yang menjamin pemenuhan spritualitas dan tidak bertentangan dengan sains dan teknologilah yang dapat bertahan. Selain itu pendekatan beragama yang cenderung ekslusif juga tidaklah cocok untuk ditawarkan pada hari ini dan masa yang akan datang karena pada masyarakat yang terbuka semacam ini agama semacam itu cenderung menyulut konflik. Agama masa depan yang akan muncul adalah agama yang menekankan dan menghargai persamaan nilai-nilai luhur pada setiap agama. Teologi agama masa depan lebih concern pada persoalan lingkungan hidup, etika sosial, dan masa depan kemanusiaan, dengan mengandalkan pada kekuatan ilmu pengetahuan empiris dan kesadaran spiritual yang bersifat mistis (Komarudin Hidayat &#38; Nafis,1995).<br />
Secara epistemologis, agama masa depan menolak paham absolutisme dan akan memilih apa yang oleh Swidler disebut deabsolutizing truth atau yang oleh Seyyed Hossein Nasr diistilahkan sebagai relatively absolute. Dikatakan absolut karena setiap agama mempunyai klaim dan orientasi keilahian, tetapi semua itu relatif karena klaim dan keyakinan agama itu tumbuh dan terbentuk dalam sejarah. Tetapi tidak pula kita lantas sepakat dengan kecendrungan spiritualitas sekular dimana manusia menuhankan sesuatu yang mendunia (worldly), khususnya objek konkret maupun abstrak. Spiritualitas semacam ini adalah spiritualitas penuh paradoks, yang didalamnya manusia menuhankan sesuatu yang sama derajatnya dengan manusia itu sendiri. Karena objek-objek tersebut adalah ciptaannya sendiri atau setidaknya hasil proyeksi hayalnya, maka sangat tidak layak ia dituhankan. Sesuatu pantas dianggap Tuhan apabila sesuatu itu adalah yang benar-benar melampaui dirinya sebagai Yang Tak Terbatas, Tak Berhingga dan Tak Terjangkau.</p>
<p>e. Penutup<br />
Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis mencoba merefleksikan apa yang pernah ditawarkan oleh seorang filsuf berkebangsaan Swiss Jean Jacques Rousseau (1712-177  saat ia menjawab sebuah pertanyaan “Apakah kemajuan seni dan ilmu pengetahuan memberikan konstribusi terhadap pemurnian moralitas manusia?” Pertanyaan dalam sebuah sayembara ini ternyata bagi Rousseau membukakan kesadaran nalarnya bahwa terlalu banyak keganjilan yang terjadi dalam tata kehidupan masyarakat pada waktu itu. Hasil perenungannya di bawah pohon ternyata sangat mengejutkan banyak pihak. Ia katakan bahwa kemajuan dalam bidang seni juga ilmu pengetahuan sesungguhnya tidak membuat manusia semakin beradab alias tidak membuat moralitas manusia semakin murni (Russel, 2004). Justru sebaliknya, bahwa kemajuan peradaban akal budi semakin membuat kehidupan manusia tercerabut dari keharmonisan yang sungguh merupakan watak awalnya. Dalam tulisan panjangnya ia mengatakan, bahwa klaim kemajuan peradaban bangsa Prancis saat itu semu belaka karena hanya kemajuan pada ranah material kuantitatif yang terjadi, tetapi tidak pada ranah kualitatif. Di antara indikatornya adalah bahwa raja (penguasa) semakin ‘barbar’ melakukan eksploitasi pada rakyat dengan melakukan penarikan pajak secara semena-mena, sementara kalangan mereka sendiri terbebas dari beban tersebut. Wal hasil, kemajuan hanya dapat dinikmati segelintir kelompok saja yakni bagi mereka yang mempunyai akses kekuasaan juga kekayaan. Kesimpulannya bahwa kemajuan hanya membuat manusia semakin terperosok dalam keterasingan akan diri mereka yang sebenarnya.<br />
Menurutnya, sebelum manusia membentuk komunitas dengan perangkat-perangkat yang terlembaga, kehidupan manusia berjalan sangat harmoni. Terjadi relasi yang saling ketergantungan antara manusia, alam dan Yang Kuasa. Pada dasarnya watak manusia secara alamiah adalah baik. Ia mempunyai sifat-sifat yang lugu, jujur, toleran dan bersahaja sebagai sifat yang tidak dibuat-buat. Tetapi kemudian karena muncul pelembagaan, mulailah secara perlahan klaim-klaim. Klaim hak milik, klaim kelompok paling benar, paling superior dan seterusnya. Di sinilah kemajuan menjadi tersangka sebagai biangkerok tercerabutnya sifat alamiah manusia yang adi luhung. Sebagai tawarannya, Rousseau mengajak untuk kembali ke alam (retoyr a la nature).<br />
Dalam konteks kenestapaan manusia modern terhadap absurditas yang mereka rasakan, rasanya masih sangat relevan apa yang ditawarkan oleh Rousseau tersebut. Hanya saja, jika 258 tahun yang lalu Rousseau mengajak kembali ke alam, maka tawaran agar manusia berubah dalam rangka mengembalikan citra kemanusiaanya melalui kearifan nilai relegiusitas (spiritual) adalah konteks tawaran yang tepat terhadap masalah keterpinggiran manusia moderen dalam lingkaran eksistensinya. Kembali kepada spiritualitas di tengah kepongahan modernitas adalah mengembalikan rasa kehadiran Yang Suci di tengah-tengah moralitas manusia yang sejatinya memang telah dititipkan oleh Yang Suci pada tiap diri manusia. Spiritualitas adalah infinite idea yang inheren dalam totalitas kemanusiaan manusia. Mengingkarinya berarti mengingkari kedirian sebagai seorang manusia.<br />
Sejarah membuktikan tentang hal ini, bahwa manusia mustahil hidup tanpa nilai spiritual yang ia akui sebagai Yang Maha Agung, dan yang dapat memenuhi kebutuhan spiritual manusia itu hanya agama. Sistem ideologi apapun yang ditegakkan oleh manusia seraya menafikan kenyataan bahwa manusia tidak melulu materi pasti akan mengalami krisis bahkan kehancuran. Manusia mungkin dapat hidup dalam sistem yang baru, namun jiwanya tetap dikendalikan oleh fitrah-fitrah yang tidak dapat dijelaskan dan dipuaskan secara materialistik. Hanya agamalah yang dapat menjelaskan dan memuaskannya. Alih-alih berkehendak untuk tidak bertuhan dan tidak mengakui nilai-nilai metafisik, justru hal ini akan memunculkan satu sistem agama baru dimana sang penggagas menjadikan diri dan konsepnya sebagai tuhan. Tentu kita berpikir betapa primitif dan tidak jelasnnya ide ketuhan seperti ini. Tetapi seprimitif dan tidak jelas bagaimanapun ide tersebut, bahwa manusia tidak dapat menghindar dari ide tentang Tuhan.<br />
Namun tidak semua agama relevan untuk ditawarkan pada masyarakat modern, hal ini disebabkan karena manusia modern yang sangat mengagungkan hasil pengembaraan intelektual tidak akan mudah menerima begitu saja suatu sistem kepercayaan. Hanya agama yang tidak menafikan peran rasiolah yang akan bertahan disamping kemampuannya memenuhi kebutuhan spiritualitas yang tidak diberikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu watak masyarakat modern yang tanpa batas mengharuskan sebuah sistem ideologi – termasuk agama – yang dapat bertahan hanyalah yang dapat menghargai berbagai sistem ideologi lain yang berbeda. Inilah barangkali model keberagamaan masa akan datang yang menghadirkan sisi spiritualitas lebih dalam.<br />
Spiritualitas seperti inilah yang sejatinya memberikan bingkai secara idiologis kejatidirian manusia dari serangan kehampaan dan keterasingan yang ditawarkan oleh nilai modernitas. Tetapi manusia modern mesti hati-hati dan arif, karena tidak semua tawaran spiritualitas baru memuarakan pada puncak spiritualitas sebenarnya. Spiritualitas sekular misalnya, spiritualitas ini mengandung ke-salahkaprah-an karena menyandarkan rasa spiritual kepada sesuatu yang tidak pantas memberikan sandaran. Sesuatu yang Tak Terbatas, Tak Berhingga, Tak Terjangkau, Transenden, Wajah Suci dan lain sebagainya adalah beberapa simbol yang sebenarnya layak untuk itu.<br />
Dus, beranjak dari realitas tantangan ini, ilmu-ilmu keislaman secara metodologis diharapkan mampu melakukan breaktrough (terobosan). Aspek iptek yang ‘diislamkan’ selama ini oleh Harun Yahya perlu diacungi jempol, tanpa harus kembali ‘bertepuktangan’ akan kejayaan orang lain. Ilmu-ilmu tentang spiritualitas Islam seyogyanya ditampilkan penuh daya inklusifitas dan metodis, sebagai upaya menyediakan ‘oase’ bagi ‘kegersangan’ modernitas.Menghadirkan yang Transenden adalah kemestian di saat kenestapaan sedang kita alami. Persoalannya kemudian adalah apakah kita mau berusaha menghadirkan spirit yang Transenden tersebut, karena ia sungguh telah hadir dengan sendirinya disaat bersamaan kita menjadi manusia. Wallahu a’lam bi al-shawab.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Muslim]]></title>
<link>http://myhidayah.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 16:28:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>hieda</dc:creator>
<guid>http://myhidayah.wordpress.com/?p=13</guid>
<description><![CDATA[BAB I
PENDAHULUAN
Para ulama’ hadis, mulai kalangan sahabat nabi sampai kepada para ulama’ yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle" style="line-height:150%;text-align:center;"><strong>BAB I</strong></p>
<p class="MsoTitle" style="line-height:150%;text-align:center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3">Para ulama’ hadis, mulai kalangan sahabat nabi sampai kepada para ulama’ yang datang setelahnya, telah berhasil menghimpun dan mengkodifikasikan hadis nabi SAW, bahkan mereka juga telah melakukan penyeleksian haids antara yang shohih dan yang tidak shohih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Mereka semua telah berjasa besar dalam memelihara dan menyebarluaskan hadis-hadis nabi yang merupakan sumber utama setelah Al-Quran. Dalam istilah ilmu hadis, mereka disebut dengan para perowi hadis atau sanad hadis dan jumlahnya banyak sekali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dikalangan para sahabat sendiri, terkenal sejumlah nama yang menghafal dan meriwayatkan hadis dalam jumlah yang banyak. Mereka itu dalam istilah ilmu hadis,diberi gelar “<em>Al-Muktsirun Fi Al Hadis</em>”. Sementara itu, di kalangan<span> </span>para ulama’ hadis yang datang setelah sahabat, tercatat pula sederetan nama yang telah berjasa dalam mempelopori dan melakukan pengumpulan pengkodifikasian hadis, baik kegiatan kodifikasi dalam bentuk tahapan awal yang masih bersifat sangat sederhana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Demikian pula pada masa penyempurnaannya dengan melakukan pemusnahan antara yang hadis nabi SAW dengan yang bukan dan antara yang diterima dan yang ditolak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Para ulama’ hadis telah melakukan penyelidikan terhadap hadis dengan sangat teliti dan memakai urutan (sanad) yang tebal, berisi ratusan ribu hadis dan sunah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Ada sembilan kitab hadis yang merupakan kitab ternama yang menjadi pegangan umat islam. Sembilan kitab hadis atau biasa disebut dengan <em>Kutubut Tis’ah </em>itu adalah:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Shohih Bukhori, yang dikumpulkan oleh Imam Bukhori</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Shohih Muslim, yang dikumpulkan oleh Imam Muslim</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Sunan Tirmidzi, yang dikumpulkan oleh Imam Turmudzi</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Sunan Nasa’i, yang dikumpulkan oleh Imam An-Nasa’i</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Sunan Abi Daud, yang dikumpulkan oleh Imam Abu Daud</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>6.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Sunan Ibnu Majah, yang dikumpulkan oleh Imam Ibnu Majah</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>7.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal, yang dikumpulkan oleh Imam Ahmad Bin Hanbal</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>8.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Muwatho’ , yang dikumpulkan oleh Imam Malik</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:30pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>9.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Sunan Ad-Darimy, yang dikumpulkan oleh Imam Ad-Darimy.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dalam makalah ini akan dibahas salah satu perowi hadis yang terkenal yang terkenal yakni imam muslim dengan kitab shohihnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;"><strong>A. Imam Muslim</strong></p>
<h3><!--[if !supportLists]--><span></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Riwayat Imam Muslim</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Imam muslim nama lengkapnya adalah Abul Husain Muslim Ibnul Hajjaj Ibnu Muslim Al-Qusairy An-Nisaburi. Beliau lahir pada tahun 204 H (820 M) di Nisabur, sebuah kota terbesar ketika itu di propinsi Khurasan Iran.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ada juga yang mengatakan beliau lahir tahun 206 H.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Imam muslim berasal dari suku quraisy yang merupakan golongan suku arab di Nishapur (Iran). Imam muslim dinisbatkan kepada nenek moyangnya Qusair Bin Ka’ab Bin Robi’ah Bin Sha’sha’ah suatu keluarga bangsa besar. Imam muslim meninggal di Nishapur (Nisabur) pada hari ahad tahun 261 H (875 M) pada saat berusia 55 tahun dan dimakamkan di Nashar Abad (Nishapur).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Semenjak berusia kanak-kanak beliau telah rajin menutut ilmu, didukung dengan kecerdasan luar biasa, ingatan yang kuat, kemauan keras dan ketekunan yang mengagumkan. Pada usia 10 tahun beliau telah hafal Al-Quran seutuhnya serta ribuan hadis berikut sanadnya.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Ada juga yang mengatakan, bahwa tidak ditemukan literature yang dapat memberikan informasi tentang nenek moyang keluarga dan kehidupan masa kecilnya. Namun tidak diragukan bahwa dia memulai studinya dengan mempelajari Al-Quran dan bahasa arab, sebelum menuntut ilmunya. Beliau memulai mempelajari hadis sejak tahun 219 H, yaitu sekitar berusia 15 tahun.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Pada awalnya beliau mempelajari hadis dari guru-guru yang ada di negerinya, selanjutnya dia melakukan pelawatan keluar daerahnya. <em>Rihlah</em> (pengembaraan) untuk mencari hadis merupakan unsur yang penting. Imam Muslim mengunjungi hampir seluruh pusat-pusat pengajaran hadis dan hal ini beliau lakukan berkali-kali.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Perjalanan pertamanya adalah ke Makkah untuk melakukan ibadah haji pada tahun 220 H. dalam perjalanan ini beliau belajar pada Qa’nabi dan ulama’ lainnya, dan selanjutnya dia kembali ke daerahnya. Pada tahun 230 H, beliau kembali melakukan perjalanan keluar daerahnya, diantaranya Irak, Hijaz, Siria dan Mesir, terakhir pada tahun 259 H beliau pergi ke Bagdad.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dalam perjalanannya tersebut dia menjumpai sejumlah imam dan para hufadz hadis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Di kota khurasan beliau berguru pada Yahya An-Nisaburi dan Ishaq Bi Rahawaih, didatanginya kota Rey untuk belajar hadis pada Muhammad bin Mahran, Abu Hasan dan lain-lain, di Irak ditemuinya Ibnu Hanbal, Abdullah bin Maslahah dan lain-lainnya, di Hijaz ditemuinya Yazid Bin Mansur dan Abu Mas’ad, dan di Mesir beliau berguru kepada Amir Bin Sawad, Harmalah Bin Yahya dll.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Imam muslim memikul nama besar sebagai ulama’ dan ahli hadis yang sangat masyhur dan terkemuka denga predikat imam, tidak saja karena sifat-sifat pribadi yang dimilikinya sejak kecil, tetapi yang terutama adalah karena diri beliau selalu dihiasi dengan takwa, sholih dan waro’. Kemudian dengan karya-karya yang dihasilkannya, nama beliau semakin tinggi dan menimbulkan hormat bagi setiap ahli ilmu.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]--><span> </span>Guru dan Muridnya Imam Muslim.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Diantara para guru yang ditemui Muslim dalam perlawatan ilmiyahnya tersebut adalah Imam Bukhori, Ahmad Bin Hambal, Ishak Ib’n Rahawaih, Zuhair Bin Harb, Sa’ib Ibn Manshur, Qotadah Bin Said, Al- Qa’naby, Isma’il Bin Uwais, dan guru-guru lainnya yang jumlahnya mencapai ratusan orang.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Sedangkan murid yang sudah memperoleh ilmu pengetahuan dari Imam Muslim diantaranya adalah Imam Al Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Yahya Bin Said, Abu Hatim, Musa Bin Haran dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Karya Karyanya</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Imam Muslim adalah seorang muhadisin yang hafidz lagi terpercaya. Imam muslim mengatakan “ <em>aku telah menulis kitabku ini dari 300.000 hadis masmu’ah (yang didengar secara langsung dari perowinya)”.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[6]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Diantara karyanya tersebut, adalah Al-Asma’wa Al-Kuna, Ifrad Al-Shobah, Awham Al- Muhadditsin, Al-Tarikh, Al-Tamyiz, Al-Jami’, Hadis Amr Bin Syu’aib, Rijal Urwah, Sawalatun Ahmad Bin Hambal, Tabaqot, Ala-Ilal Al-Mukhadramin,Al-Musnad Al- Kabir, Masyayikh Al Tsawri, Masyayikh Syu’bah, Masyayikh Malik, Al-Wuhdan, Al-Shahih Al Masnad.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Menurut Ibrahim Bin Muhammad Bin Sufyan, yang telah dikutip oleh Mustofa Azami, bahwa Imam Muslim telah menyusun 3 kitab musnad, yaitu:</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:60pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Musnad yang beliau bacakan yang beliau bacakan kepada masyakat adalah shahih.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:60pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Musnad yang memuat hadis-hadis, walaupun dari perowi yang lemah.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:60pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Musnad yang berisi hadis-hadis, walaupun sebagian hadis-hadis itu berasal dari perowi yang lemah.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Dari beberapa karyanya yang berjumlah banyak, maka yang paling terkenal dan terpenting adalah karyanya <em>Al-Shahih, Al-Mukhtashar Min Al-Sunan, Bi Naql Al-‘Adl’an Al-‘Adl ‘An Rosul Allah.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[8]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em></p>
<p><strong>B. Kitab Shohih Muslim<br />
</strong></p>
<h1 style="margin-left:18pt;"><!--[if !supportLists]--><span></span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Karakteristik Kitab Shohih Muslim</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Imam muslim tidak banyak-banyak memberikan perhatian pada batas ektraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir bahasan. Perhatian difokuskan pada <em>Mutaba’at Dan Syawahad.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[9]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kitab shohih muslim dipersembahkan kepada Abu Zur’ah salah seorang kritikus hadis terbesar, yang mana Abu Zur’ah memberikan catatan beberapa cacat dalam hadis. Dan imam muslim kemudian mengoreksi cacat itu dengan membuangnya tanpa argumentasi. Mengingat bahwa beliau tidak mau membukukan hadis shahih yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, maka Imam Muslim hanya meriwayatkan hadis yang diterima oleh kalangan ulama’. Hal seperti itu tampak sekali dari ungkapan pribadi beliau tentang hadis shohihnya yang hanya membukukan hadis-hadis yang diterima sebagai hadis shohih secara merakyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Imam Muslim sebagai seorang yang pernah mendampingi dan belajar kepada Imam Bukhori, tidaklah mengherankan apabila dalam beberapa hal terlihat pengaruh Imam Bukhori pada karya-karya Imam Muslim. Bahkan hadis yang diterimanya dari bukhori terlihat dituangkan dalam kitabnya. Namun begitu, muslim bukanlah seorang penjiplak. Karena banyak pula yang terdapat didalam muslim tidak terdapat didalam bukhori. Disamping itu terdapat pula beberapa perbedaan yang mendasar (fundamental), seperti sistematika penyusunan bab, persyaratan mengenai perowi hadis, ruang lingkup keilmu-fiqh-an, dan sebagainya.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Salah satu karakteristik Kitab Shahih Muslim adalah kitab yang paling sedikitnya pengulangannya dan indahnya penyusunannya, Imam Muslim selalu memenuhi apa yang terkandung dalam maudhu’ (judul) dan setelah itu tidak mengulanginya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Jumlah Hadis dalam Shohih Muslim</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Berdasarkan perhitungan Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, kitab shohih muslim memuat 3.033 hadis. Metode penghitungan beliau tidak berdasarkan pada sistem <em>isnad</em>. Beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Seperti kita ketahui bahwa para <em>muhadditsin</em> biasa menghitung jumlah-jumlah hadis berdasarkan <em>isnad</em>. Oleh sebab itu, jika mengikuti metode mereka, maka jumlah hadis yang dimuat dalam shohih muslim bisa berjumlah dua kali lipat.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Sedangkan menurut Al-Nawawi, bahwa jumlah hadis yang terdapat dalam shohih muslim, tanpa menghitung berulang-ulang adalah sekitar 400 hadis. Hadis-hadis tersebut merupakan hasil dari penyaringan dari 300.000 hadis yang telah berhasil dikumpulkan oleh Imam Muslim.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Kandungan Kitab Shohih Muslim</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dalam kitab-kitabnya muslim memberikan corak dan pengaruh yang dalam bagi karangan-karangan dan pembahasan-pembahasan dalam berbagai bidang ilmu agama islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dalam kitab shahihnya muslim banyak sekali memuat hadis-hadis tentang fiqh mulai dari masalah ibadah, muamalah, munakahat dan bidang-bidang ilmu keislaman yang lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Metode Penghimpunan Hadis</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Imam muslim melakukan penyeleksian dan penyaringan hadis-hadis tersebut selama 15 tahun. Imam muslim sebagaimana halnya imam bukhori, juga adalah seorang yang sangat ketat dalam menilai dan menyeleksi hadis-hadis yang diperolehnya dari para gurunya kedalam kitab shohihnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dalam hal ini imam muslim mengatakan<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">”<em>Saya tidak meletakkan sesuatu kedalam kitab (shohih)-ku ini kecuali dengan menggunakan hujjah (dalil,argumen), dan aku tidak mengugurkan (membuang) sesuatu pun dari kitab itu kecuali dengan hujjah</em>”.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">(selanjutnya) Muslim berkata :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">” <em>Tidaklah setiap hadis yang shohih menurut penilaianku, aku masukkan kedalam kitab shohihku, sesungguhnya baru aku masukkan sesuatu hadis kedalamnya apabila telah disepakati oleh para ulama’ hadis atasnya.”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Yang dimaksud ijma’ oleh imam muslim diatas adalah syarat-syarat ke-shohih-an suatu hadis yang telah disepakati oleh para ulama’ hadis.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent">Beliau berhasil mengumpulkan sejumlah 300.000 hadis. Kemudian dengan sangat cermat dan teliti, hadis sebanyak itu diperiksanya satu persatu dengan suatu sistem yang amat ketat, yang sekarang dapat kita pelajari dalam ilmu mustholahah hadis. Dari hasil penelitiannya itu, hanya serbanyak 7275 hadis yang temasuk kategori shohih. Tetapi yang dituangkan dalam “shahih muslim” hanya ± 4000 hadis, karena 3000 diantaranya ternyata berulang. Imam Nawawi mengatakan, bahwa Imam Muslim telah mengambil cara yang sangat teliti dan cermat bagi kitab shahihnya.<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span><!--[endif]-->Persyaratan Ke-shohih-an Hadis Menurut Imam Muslim</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Tentang persyaratan keshohihan suatu hadis, Imam Muslim pada dasarnya sebagaimana Imam Bukhory, tidak menyebutkan secara jelas di dalam kitabnya, namun para ulama’ menyimpulkan dan merumuskan persyaratan yang dikehendaki oleh Imam Muslim berdasarkan metode dan cara dia menerima serta menyeleksi hadis-hadis yang diterima dari berbagai perowi dan selanjutnya memasukkannya ke dalam kitab shohih muslim. Persyaratan tersebut pada dasarnya tidak berbeda dari syarat-syarat ke-shohih-an suatu hadis yang telah disepakati oleh para ulama’, yaitu<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span clas