<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>leo-zagami &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/leo-zagami/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "leo-zagami"</description>
	<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 23:06:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Conspiratorial View Bukanlah Alternatif, Melainkan Kebutuhan]]></title>
<link>http://attestantofthetruth.wordpress.com/?p=153</link>
<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 06:13:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Agung</dc:creator>
<guid>http://attestantofthetruth.wordpress.com/?p=153</guid>
<description><![CDATA[Menanggapi respon beberapa teman ke email saya (karena malu komentarnya nampang di blog) yang ingin ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Menanggapi respon beberapa teman ke email saya (karena malu komentarnya nampang di blog) yang ingin tahu lebih jauh mengenai Conspiratorial View of History (selanjutnya akan saya sebut sebagai Conspiratorial View saja) dan Accidental View of History (selanjutnya akan saya sebut sebagai Accidental View saja) yang secara sangat ringkas sudah saya singgung di artikel terdahulu, KONSPIRASI: REFORMAT KURIKULUM PENDIDIKAN SEJARAH, kali ini saya akan menjelaskan mengenai pendekatan sejarah tersebut dengan lebih luas. Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa History bukanlah His story. Kalau mau ngomong sejarah harus memakai referensi, baik “valid” maupun “kurang valid” (disini teori relativitas berlaku, yaitu valid untuk siapa dan tujuan apa), jangan asal katanya aja. Sekurang-kurangnya ada 3 buku yang saya miliki yang memperkenalkan dikotomi pendekatan sejarah ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="margin:1px;" src="http://www.fossilizedcustoms.com/UnseenHand.jpg" alt="" width="150" height="200" />Yang pertama, tentu saja buku andalan saya yang berjudul THE UNSEEN HAND: AN INTRODUCTION TO THE CONSPIRATORIAL VIEW OF HISTORY, karya A. Ralph Epperson, yang dihadiahkan oleh Mr. Joe Jussac yang juga menjadi salah satu kontributor blog konspirasi ini. Buku ini mungkin bisa dikatakan paling komprehensif dalam mengulas Conspiratorial View, karena pengarangnya telah melakukan riset untuk Conspiratorial View of History ini selama 27 tahun lebih (umur saya sampai tulisan ini dipublish pun belum mencapai 24 tahun). Karena ini bukan biografi, maka data-data beliau – dan penulis-penulis lain – saya lewati dan langsung menuju ke bagian yang sejalan dengan judul tulisan ini saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Epperson mendefinisikan Conspiratorial View of History sebagai pandangan bahwa “<em>his</em><em>torical events occur by design for reasons that are not generally made known to the people</em>” (kejadian-kejadian historis terjadi karena sengaja direncanakan dengan alasan-alasan yang umumnya tidak untuk diketahui orang/publik), sebagai imbangan dari apa yang disebut sebagai Accidental View of History yang didefinisikan sebagai pandangan bahwa “<em>historical events occur by accident, for no apparent reason. Rulers are powerless to intervene</em>.” (kejadian-kejadian historis terjadi secara kebetulan, tanpa adanya alasan yang jelas. Para pemegang kekuasaan tidak berkuasa untuk terlibat didalamnya.)</p>
<p style="text-align:justify;">Dari dikotomi tersebut jelas kita bisa langsung mendapat gambaran betapa “taklid”nya para konsumen Accidental View terhadap sejarah. Kita tak perlu mempertanyakan sebab-sebab suatu peristiwa bisa terjadi, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sekarang, apalagi kehidupan nanti. Dengan istilah yang mudah, pembelajaran sejarah menjadi tak lebih sebagai pelajaran hafalan nama, tempat, waktu, suatu kejadian berlangsung dalam sejarah. Inilah yang terjadi pada pembelajaran sejarah kita (pantes ngga ya saya ngomong gini, soalnya saya bukan orang sejarah secara Akademis. Kalau ada mahasiswa atau dosen sejarah yang merasa saya kurang ajar harap dimaafkan) di Indonesia. Dari SD sampai SMA (saya kuliah Diploma III Jurusan Bahasa Inggris di salah satu Akademi Bahasa Asing di Jogja yang tak terlalu terkenal), yang saya dapat dan catat hanyalah nama-nama pahlawan atau penjajah, tanggal dan tahun peperangan, atau tempat dimana suatu perjanjian diadakan. Ujiannya juga ngga jauh dari itu-itu juga. Saya malas membahas masalah ini panjang lebar karena siapapun yang sudah merasakan pendidikan dari SD sampai SMA di Indonesia sudah pernah merasakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu coba kita lihat Conspiratorial View, yah anda benar. Lebih rumit daripada Accidental View. Jika kita mau memakai Conspiratorial View, kita dituntut untuk menemukan rancangan, perancang, sebab-sebab dirancangnya, dan aspek-aspek lain dalam suatu kejadian historis. Kelihatan rumit, dan – sedikit keluar dari topik – saya  pernah melakukan survey tak resmi ke sejumlah mahasiswa sejarah yang bisa saya temui di Jogjakarta. Semua yang pernah saya temui beberapa tahun ini kebanyakan baru mengetahui ada dua pendekatan sejarah itu dari saya. Tapi mereka bisa menceritakan kejadian atau pelaku sejarah dengan kualitas spelling nama tempat atau orang yang mengagumkan, serta akurasi tahun-tahun hidup seseorang maupun berlangsungnya suatu kejadian dengan tepat. Namun mereka harus terdiam ketika saya tanyakan, apakah tujuan mereka mempelajari sejarah? Rata-rata menjawab kurang lebih, “agar bisa belajar dari masa lampau demi kehidupan sekarang dan masa depan yang lebih baik.”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tersenyum mendengar jawaban itu, lalu kembali saya tanyakan pada mereka, “apa yang bisa kita harapkan untuk kehidupan sekarang maupun mendatang dari hafalan nama, tempat, dan waktu saja?” Waktu mereka bingung disinilah peran saya sebagai pewarta (bagi para penginjil harap jangan tersinggung ya, karena saya memakai istilah ini sebagai euphemism terhadap kata propagandis yang konotasinya jelek) Conspiratorial View. Dimana-mana orang seperti saya ini selalu dikatakan paranoid, suka menghubung-hubungkan, bahkan orang yang sakit jiwa, capek deh (maaf malah jadi curhat). OK, kembali ke topik semula.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari definisi yang diberikan Ralph Epperson, saya melihat ada beberapa unsur (kalau ada yang mau nambah dipersilakan loh…) yang mendukung suatu kejadian dalam sejarah, diantaranya yaitu: 1. the conspirators alias para perancang konspirasi, 2. the reasons of a conspiracy alias sebab-sebab kenapa konspirasi itu dirancang, dan 3. the alibi alias cara-cara penghilangan jejak supaya konspirasi tidak dicurigai sebagai konspirasi. Keberhasilan unsur yang ketiga inilah yang membuat konspirasi sering menjadi misteri, spekulasi, bahkan terasi, eh salah, dianggap ba(ha)sa basi. Lalu, apakah konspirasi mustahil diungkap? O tunggu, jangan menyerah dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Epperson memberikan tiga alternatif untuk mengekspos konspirasi, yaitu: 1. Bagi seseorang yang terlibat dalam konspirasi tersebut agar memisah dari situ dan mengungkapkan keterlibatannya sendiri. Pengungkapan ini membutuhkan keberanian ekstrim dan tipe ini memang sangat jarang, namun mungkin orang-orang seperti Leo Zagami, atau Caroll Quigley bisa dimasukkan dalam kategori ini.; 2. Bagi mereka yang dengan ke”belum-tahuan”nya ikut berpartisipasi dalam perencanaan konspirasi, dan baru menyadarinya kemudian lalu melakukan pengungkapan seperti pada kelompok pertama sebelumnya. Tipe orang seperti ini juga sangat jarang dalam sejarah, tapi mampu mengekspos bagian tersembunyi dalam konspirasi, dengan resiko yang bisa membahayakan nyawanya. Orang-orang seperti John Robison penulis buku PROOFS OF A CONSPIRACY, William Morgan, atau Charles G. Finney mungkin bisa dimasukkan dalam kategori ini.; 3. Bagi mereka yang belum “dianugerahi” kesempatan untuk ditawari bergabung dan terlibat dalam konspirasi, yaitu dengan mengungkapkan design konspirasi pada kejadian-kejadian yang telah lalu. Epperson mengkategorikan dirinya sendiri dalam tipe ini, yang merupakan tipe ekspose yang paling banyak terjadi. Beberapa orang lain yang mungkin bisa saya masukkan dalam kategori ini diantaranya Gary Allen, Eustache Mullins, Jury Lina, Fritz Springmeier, Joe Jussac, Jim Marrs, Harun Yahya, Herry Nurdi, Rizki Ridyasmara, Firdaus A.N atau saya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="margin:1px;" src="http://pixhost.eu/avaxhome/avaxhome/2007-12-23/SecretSocieties.jpg" alt="" width="150" height="200" />Yang kedua, buku berjudul SECRET SOCIETIES AND THEIR POWER IN THE 20TH CENTURY karya seseorang dengan nama samaran Jan Van Helsing yang aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dengan judul GEHEIMGESELLSCHAFTEN UND IHRE MACHT IM 20 JAHRHUNDERT, yang merupakan hadiah dari bang Indra Adil penulis novel THE “LADY DI” CONSPIRACY terbitan Pustaka Al-Kautsar. Van Helsing menyebutkan dua dikotomi sejarah dengan istilah yang berbeda dari Ralph Epperson, yaitu “<em>two levels of historical reality</em>” (dua tingkatan realita sejarah). Tingkatan pertama adalah yang disebut sebagai so-called public opinion (opini publik) yang didefinisikan “<em>th</em><em>at is served to the average citizen by the mass media and will later, because of persons writing it down, become histo</em><em>ry</em>” (diperuntukan bagi masyarakat pada umumnya oleh media massa dan nantinya, karena sebagian orang meyakini kebenaran itu lalu menulisnya, berubah menjadi sejarah). Lalu “<em>the second one though is made up of the happenings that are not revealed to the public</em>.” (yang kedua, meski terbentuk dari hasil berbagai peristiwa yang tidak (pernah) dibeberkan ke publik). Ini merupakan <em>world of machinations</em> oleh loge-loge rahasia dan secret-societies yang menghubungkan modal, politik, ekonomi, dan agama. Pada tingkat ini negara didirikan, perang direncanakan, para presiden dan pemimpin ditugaskan di kantor, dan ketika mereka tidak “berfungsi”, dihabisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski dengan terminologi yang berbeda, namun van Helsing rupanya setuju dengan Epperson mengenai masalah konspirasi. Bahkan dalam mendefinisikan Accidental View, yang oleh van Helsing disebut sebagai public opinion, dia langsung mengarahkan telunjuknya pada media massa (koran, TV, Radio, Film, literatur umum dll) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembentukan ke”awam”an (ketidaktauan dan ketidakpedulian) publik terhadap masalah konspirasi. Pada tingkatan kedua, meskipun tidak memberikan teminologinya, namun dia memberi contoh yang sangat bagus (lihat kalimat terakhir paragraph sebelumnya). Buku ini sangat sulit didapatkan, bahkan di internet sekalipun. Salah satu edisi full online buku ini yang saya temukan di situs bibliotecapleyades (maaf kalau salah spellingnya) tidak menyertakan gambar-gambar pesawat mirip UFO yang dipakai Hitler. Membaca buku ini agak ngeri karena terkesan penulisnya merupakan salah satu partisipan konspirasi yang berkhianat, sehingga segala isinya hampir meyakinkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="margin:1px;" src="http://www.lust-for-life.org/Lust-For-Life/NoneDareCallItConspiracy/none-dare_files/nonedare-199ae4c4.jfif" alt="" width="150" height="200" />Yang ketiga, buku berjudul NONE DARE CALL IT CONSPIRACY karya Gary Allen, yang bisa dibilang hampir menjadi salah satu buku wajib bagi pembelajar konspirasi, dan menjadi salah satu referensi dalam Daftar Pustaka kedua buku yang disebut sebelumnya. Gary Allen memakai terminologi yang sangat mirip dengan Epperson (atau malah mungkin Epperson-lah yang terilhami untuk mengistilahkan Conspiratorial dan Accidental View dari buku Gary Allen ini) yaitu Conspiracy Theory of History dan Accidental Theory of History.</p>
<p style="text-align:justify;">Gary Allen tidak memberikan penjelasan yang eksplisit mengenai dikotomi tersebut, namun dia menjelaskannya dalam satu paragraph yang bagus sebagai berikut: (Maaf, saya malas menerjemahkannya, panjang sih…)<br />
<em>Those who believe that major world events result from planning are laughed at for believing in the "conspiracy theory of history." Of course, no one in this modern day and age really believes in the conspiracy theory of history — except those who have taken the time to study the subject. When you think about it, there are really only two theories of history. Either things happen by accident neither planned nor caused by anybody, or they happen because they are planned and somebody causes them to happen. In reality, it is the accidental theory of history preached in the unhallowed Halls of Ivy which should be ridiculed. Otherwise, why does every recent administration make the same mistakes as the previous ones? Why do they repeat the errors of the past which produce inflation, depressions and war? Why does our State Department "stumble" from one Communist aiding "blunder" to another? If you believe it is all an accident or the result of mysterious and unexplainable tides of history, you will be regarded as an "intellectual" who understands that we live in a complex world. If you believe that something like 32,496 consecutive coincidences over the past forty years stretches the law of averages a bit, you are a kook!</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sekarang sudah mulai masuk akal bahwa kami* memberi judul artikel ini Conspiratorial View Bukanlah Alternatif, Melainkan Kebutuhan. Yah, kita sudah terlalu lama dicekoki hafalan-hafalan yang saya yakin tak akan berpengaruh banyak bagi kehidupan sekarang, apalagi yang akan datang. Apa yang sudah kita dapatkan dari sekedar hafal bahwa 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan bagi kehidupan kita yang tak juga semakin baik sekarang ini, dan entah mau sampai kapan?<br />
(Cerita) Sejarah standar [his story] kita tak pernah mengajari bahwa negeri ini hancur karena kemerdekaan yang diperjuangkan sebagian besar kaum muslimin tidak diproklamirkan dengan Bismillah. Sejarah standar tak pernah mengajarkan Freemasonry sudah masuk Indonesia tahun 1700an, sesuatu yang sangat parah sehingga sebagian besar kita saat ini masih menganggap Freemasonry hanya ada dalam novel atau dongeng. Sejarah standar tak pernah memberitahu atau menerangkan sudah menjadi Freemason berapa derajatkah Thomas Stanford Raffles, Snouck Hurgronje, dan penjajah lainnya. Sejarah standar tak pernah memberitahu bahwa Kapolri Pertama kita adalah seorang Grand Master. Sejarah standar mengabaikan peran tempat-tempat maupun bangunan-bangunan bernama Loji, dan jarang mengetahui apa yang dimaksud dengan Loji tersebut. Sejarah standar hanya mencekoki kita dengan segala hafalan yang tidak ada gunanya untuk kehidupan sekarang, apalagi nanti di akhirat. Di kuburan kita tak akan ditanyai siapa itu Snouck Hurgronje, kapan SUPERSEMAR dikeluarkan, atau di mana perjanjian Renville diadakan.
</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah saatnya kita buka mata masing-masing kita yang ingin melihat kehidupan yang lebih baik bagi anak cucu kita semua. Sudah saatnya kita desak departemen pendidikan nasional untuk memasukkan Conspiratorial View ke dalam kurikulum sejarah kita sebagai suatu keharusan, supaya anak-anak kita bisa menikmati dunia yang lebih baik dari kita sekarang. Sudah saatnya Indonesia bangkit dari keterpurukan akibat pemahaman sejarah standar cekokan tanpa bisa dikritisi seperti yang selama ini kita telan. Ingat, dengan memahami dan mengerti bagaimana konspirasi bekerja adalah modal terbesar dan ampuh (kemungkinan besar ditakuti para konspirator) untuk memulai agar tidak terjebak ke dalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya. Saatnya membangun kecerdasan, emosi, dan moral masyarakat Indonesia yang katanya negeri berpenduduk Muslim dengan jumlah terbesar di dunia ini agar tidak dibodohi terus, karena bagi orang Islam perintah pertama baginya adalah membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Mohon tanggapannya kalau masih ada hal-hal yang belum jelas. Terimakasih, semoga berguna.</p>
<p style="text-align:justify;">Pustaka Pilihan:</p>
<p style="text-align:justify;">A. Ralph Epperson, THE UNSEEN HAND<br />
Caroll Quigley, TRAGEDY AND HOPE (A)<br />
Gary Allen, NONE DARE CALL IT CONSPIRACY (A)<br />
Herry Nurdi, JEJAK FREEMASON &#38; ZIONIS<br />
Herry Nurdi, KEBANGKITAN FREEMASON &#38; ZIONIS
</p>
<p style="text-align:justify;">Jim Marrs, RULE BY SECRECY<br />
John Robison, PROOFS OF A CONSPIRACY (A)<br />
Jan van Helsing, SECRET SOCIETIES IN THE 20TH CENTURY<br />
Paul W. van der Veur, FREEMASONRY IN INDONESIA (A)<br />
Th. Stevens, TAREKAT MASON BEBAS
</p>
<p style="text-align:justify;">* 	Terimakasih untuk seorang Gadis Manis Mungil yang “memaksa” saya untuk menulis lagi tentang Conspiratorial View ini sedikit lebih luas dan mengusulkan judulnya.</p>
<p style="text-align:justify;">(A)	AVAILABLE TO DOWNLOAD FROM THIS BLOG. Silakan menuju halaman E-books kalau mau mendownloadnya tanpa dipungut biaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditambahkan pada 3 Agustus 2008:<br />
<img class="alignleft" style="margin:1px;" src="http://www.wingtv.net/thorn2006/rulebysecrecy.jpg" alt="" width="150" height="200" />Jim Marrs dalam bukunya RULE BY SECRECY juga membahas dikotomi ini. Dikotomi tersebut yaitu sama pada dikotomi yang dikemukakan Epperson, yaitu Accidental dan Conspiratorial. Jim Marrs mendefinisikan Accidental View sebagai “<em>is that history is simply a series of accidents, or acts of God, which world leaders are powerless to alter or prevent</em>”, sama seperti yang dikemukakan Epperson. Sedangkan Conspiratorial View didefinisikan sebagai “<em>could more accurately be called the "cause and effect" view. Obviously, accidents occur. Planes, trains, and cars crash. Ships sink. But in history, it is clear that human planning most often precipitates events</em>.” Secara global masih sama dengan 3 dikotomi sebelumnya. (Terimakasih untuk seorang sahabat yang telah mengusulkan untuk memasukkan bukunya Jim Marrs berkaitan dengan dikotomi pandangan dalam sejarah.)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Leo Zagami es un elemento illuminati infiltrado y trabaja para la CIA]]></title>
<link>http://trinityatierra.wordpress.com/?p=1148</link>
<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 08:00:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>trinityatierra</dc:creator>
<guid>http://trinityatierra.wordpress.com/?p=1148</guid>
<description><![CDATA[Por los últimos extraños movimientos y declaraciones  de Leo Zagami parece claro que realiza una ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Por los últimos extraños movimientos y declaraciones  de Leo Zagami parece claro que realiza una doble labor. ¿Es Leo Zagami un elemento illuminati infiltrado? Parece que así es.</p>
<p style="text-align:justify;">Leo Zagami discute con el Proyecto Camelot su pasado y la información acerca del Vaticano y los illuminati. Se habla aquí sobre cómo las personas son entrenadas desde la infancia para hacer el trabajo que realizan. Habla también de su infiltración en  la Organización Musulmana.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Leo Zagami habla en esta entrevista de su trabajo como elemento infiltrado.</p>
<p style="text-align:justify;">El mismo Leo ha declarado que es un elemento infiltrado de los Illuminati y que siempre lo fue.</p>
<p style="text-align:justify;">Algunas personas piensan que fue arrestado y torturado por exponer la red illuminati. En la entrevista con Proyecto camelot del 18 de Mayo de 2008 Leo dijo que fue forzado a trabajar para la CIA y esa es la forma en la que entró a EE.UU.</p>
<p style="text-align:justify;">Parece ser que Leo ha estado engañando a todo el mundo, mezclando información falsa con verdadera durante mucho tiempo. Recordemos que una de las cosas que Leo ha negado siempre era la existencia de vida extraterrestre. Solía decir que eran "cuentos" para desviar la atención del Vaticano.</p>
<p style="text-align:justify;">Recordemos que esto pasa muy a menudo.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/tbcXGRZWCFc'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/tbcXGRZWCFc&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p> </p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/pkJb7a_CdKo'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/pkJb7a_CdKo&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
