<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>knowledge-economy &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/knowledge-economy/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "knowledge-economy"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 04:33:01 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Knowledge Economy and Industry Creative Campaign in Indonesia]]></title>
<link>http://bayuadhitya.wordpress.com/?p=130</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 11:41:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>bayu.an</dc:creator>
<guid>http://bayuadhitya.wordpress.com/?p=130</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Ilmu pengetahuan merupakan kunci dalam proses produksi sekaligus
menjadi the driving factor o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>"Ilmu pengetahuan merupakan kunci dalam proses produksi sekaligus<br />
menjadi the driving factor of the economic development. Jika pada abad-<br />
abad lampau tanah dan pabrik menjadi aset ekonomi paling berharga<br />
serta sumber utama kemakmuran dan kesejahteraan, maka sekarang ini<br />
ilmu pengetahuanlah yang menjadi aset ekonomi paling utama dan faktor<br />
determinan dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Ilmu<br />
pengetahuan merupakan komponen sangat vital untuk membangun<br />
kapasitas dan meningkatkan produktivitas, melampaui kekuatan modal dan<br />
tenaga kerja." -AmichAlhumami, Knowledge-Based Economy, 2006 </strong></p>
<p>llmu pengetahuan (knowledge) dalam perekonomian modern memegang peranan yang paling penting. Tentu saja, masyarakat yang berkembang, maju secara peradaban dan memiliki kesejahteraan yang baik adalah masyarakat yang memiliki dasar pengetahuan ekonomi yang baik. Hal ini mutlak diperlukan , khususnya di Indonesia, yang perekonomiannya belum bisa dikatakan maju. Penting bagi kita untuk memberi kemudahan akses belajar, penting bagi kita untuk membuka peluang seluas-luasnya bagi masyrakat untuk bisa berkembang dan menjadi bagian dari sistem produktif dalam lingkaran aktivitas perekonomian Indonesia dimasa yang akan datang.<br />
Dalam hal ini, pengetahuan akan menjadi komponen terpenting, bahkan mengalahkan kekuatan modal dan tenaga kerja sekalipun.<br />
Dengan pengetahuan yang baik, maka kita akan melihat setiap peluang menjadi sebuah alat ekonomi yang bisa menghasilkan value yang bisa dikonversikan kedalam nilai rupiah (ini bahasa sederhana saya ), tentu saja hal mendasar ini menjadi sangat luar biasa. Hal ini karena disekeliling kita terdapat banyak sekali peluang dan tantangan yang bisa memberikan dan menghasilkan nilai lebih dan menjadi sebuah industry baru, jika dikelola dengan dasar pengelolaan ekonomi yang baik dari mulai proses produksi -  inventory, sampai dengan distribusi - memasarkan.<br />
<!--more--><br />
<strong>Knowledge Economy sebagai dasar perkembangan Industry Kreatif</strong><br />
Pengetahuan yang baik tentang knowledge based economy akan membuat bangsa ini memiliki human capital yang sangat baik. Kembali, disini manusia menjadi peranan penting kemajuan perekonomian suatu bangsa. Berbicara tentang hal ini, saya merasa memiliki ketertarikan lebih tentang kampanye industry kreatif yang sedang digalakansaat ini. Industri kreatif tentu saja merupakan satu garapan yang memiliki potensi yang sangat besar bagi pertumbuhan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional">PDB (Produk Domestik Bruto)</a> Indonesia  untuk saat ini dan dimasa yang akan datang.</p>
<p><strong>Industri kreatif,  apakah itu ?</strong><br />
<strong>Definisi menurut UK Government (Departemen of Culture, Media &#38; Sport) industri kreatif merupakan : “ …those activity which have their origin in individual creativity, skill and talent and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property..” </strong>disini ditekankan bahwa kreativitas individu, skill, dan talenta mempuyai peranan dan potensi untuk menciptakan modal dan lahan kerja baru yang berguna untuk generasi yang akan datang dan akan menjadi kekayaan intelektual yang bisa dieksploitasi. Kalau dilihat poin penting dari penjelasan ini adalah : <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Human_capital" target="_blank">Human Capital</a>. Ya, industry kreatif sangat erat kaitannya dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Human_capital" target="_self">human capital</a>. Karena segala bentuk aktivitas yang terjadi bertumpu pada proses penciptaan satu “value” baik dalam bentuk product ataupun service/jasa yang bersifat original yang mampu menghasilkan profit, tumbuh menjadi satu <em>industry</em>, menyerap lapangan pekerjaan, hingga akhirnya bisa menghasilkan devisa bagi Negara. Inilah yang menjadi kekuatan utama dari <em>industry</em> kreatif. Dimana manusia menjadi sangat berperan penting dan menjadi modal utama untuk membuat aktivitas ekonomi untuk menghasilkan satu <em>industry</em> baru. Dari proses kreatifitas berpikir, kreatifitas bertindak, dan dilandasi pengetahuan ekonomi yang baik maka akan  lahir generasi kreatif yang bisa membuat dan menghasilkan produk/jasa kreatif yang memiliki <em>value</em> atau <em>benefit</em> untuk masyarakat.<br />
Kalau kita cermati, hal terpenting setelah proses terciptanya satu produk/jasa kreatif maka yang diperlukan adalah kemampuan memasarkan yang baik dengan membuat distribution channel , tentu saja sangat penting karena akan menjadi percuma jika setelah tercipta satu produk/jasa hasil proses kreatifitas, namun tidak mampu untuk memasarkannya. Jadi, industry kreatif, menurut saya tidak hanya berbicara tentang proses penciptaan produk/jasa kreatif tapi menyeluruh sampai dengan proses pemasaran – <em>selling, advertising</em>, dll yang harus kreatif (creative marketing).<br />
Bahkan dari beberapa hal tsb dapat menjadi <em>industry</em> kreatif baru. contoh nyata adalah dalam bidang <em>advertising</em> dimana disana ada peluang besar untuk menggarap konten desain <em>marketing</em>, visual desain, atau multimedia desain yang membutuhkan proses kreatif yang akan melibatkan satu individu/kelompok kreatif.</p>
<p style="text-align:center;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">[gallery]</p>
<p style="text-align:center;"><em> Bandung ; Industri Kreatif tumbuh dan berdenyut kencang di kota ini</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p>Seharusnya dalam <a href="http://www.budpar.go.id/indexprofil.php" target="_blank">keragaman budaya, kekayaan alam, dan kekhasan daerah-daerah di Indonesia</a>, disana terdapat potensi yang sangat besar untuk kemajuan industry kreatif untuk bisa menghasilkan satu pola gerak nyata bagi pertumbuhan perekonomian.<br />
Singkat saya ingin mencontohkan, ada berapa banyak lagu daerah Indonesia saat ini ? tentu saja jawabannya sangat banyak, tiap daerah memiliki banyak sekali lagu daerah…nah, coba sekarang pikirkan bagaimana lagu daerah tersebut dapat menjadi satu industry dalam arti memiliki value dan mendatangkan peluang bisnis  ? caranya gampang, jadikan lagu-lagu daerah tersebut ringtones atau ring back tones HP yang dengan cara itu maka – saya yakin- akan ada banyak masyrakat Indonesia yang bisa menikmati ringtones – ringbacktones dari berbagai daerah. Secara market tentu saja akan sangat luas, bisa saja disediakan portal khusus lagu-lagu daerah tersebut dan dikenakan biaya Rp xxxx bagi masyrakat yang tertarik untuk mendownload-nya. Nada dering lagu daerah tidak hanya akan menarik tapi akan menjadikan satu ciri atau kebanggaan seseorang yang berasal dari satu daerah tertentu di Indonesia. Dengan seperti ini maka kekayaan budaya kita akan lestari bahkan menjadi lahan bisnis baru yang menguntungkan.<br />
Dalam bidang pariwisata, setiap daerah di Indonesia memiliki daya tarik wisata yang tinggi, nah..pertanyaannya…bagaimana caranya agar potensi wisata yang ada dapat menjadi roda ekonomi yang bisa mensejahterakan masyrakat sekitar wisata ? tentu saja harus ada aktivitas “value creative creation” agar peluang yang ada mampu menjadi lahan bisnis baru. Misalnya membuat kios T-Shirt dengan gambar unik daerah tsb,membuat kios2 kerajinan-kerajinan daerah, membuat industry makanan daerah, dsb.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/460a19f9d2d91.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-139" src="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/460a19f9d2d91.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a><em>Beberapa Mahasiswa yang tergabung dalam Game Developer Sangkuriang, berhasil membuat Games Nusantara sebuah Games bermuatan lokal budaya Indonesia.</em></p>
<p style="text-align:left;"><em><br />
</em>Kalau dilihat, ada banyak bidang garapan yang menjadi lahannya industry kreatif misalnya : music, Games, film, performing art, software application, graphic design, games, recording music, etc<br />
Sebagai contoh di kota Bandung, hampir semua bidang garapan itu ada dan tumbuh berkembang. Dari mulai pesatnya kemajuan musisi-musisi di kota Bandung, entah itu dari yang sifatnya indie label maupun yang major, Bandung adalah kota penghasil musisi terbesar, terbanyak dan paling berkualitas di Indonesia. Begitupun bidang-bidang yang lainnya dari mulai graphic desain (merebaknya distro-distro di kota Bandung), rumah music, etc. Dari dalam kampus, di <a href="http://www.itb.ac.id/" target="_blank">ITB</a> contohnya, ada banyak penghasil software yang bisa diandalkan. Begitupun kampus-kampus lainnya di kota Bandung, denyut nadi industry kreatif di kota ini menjadi satu ciri dan bentuk yang bisa dicontoh oleh daerah lain di Indonesia.<br />
Dengan seperti ini, maka setiap peluang akan menjadi satu lahan usaha baru dan akan menjadi bagian dari roda gerak perekonomian.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:center;"><em><a href="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/changcuters.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-135" src="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/changcuters.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><em>The Changcuters, bukti kota Bandung merupakan gudang musisi kreatif Indonesia</em></em></p>
<p><em><em><a href="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/picture054_resize.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-136" src="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/picture054_resize.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
<em>Distro-Distro Kaos/T-Shirt, banyak bermunculan dan berkembang pesat di kota Bandung</em></em></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><em><em><a href="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/sl370683.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-134" src="http://bayuadhitya.wordpress.com/files/2008/06/sl370683.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
<em>Desi Hadiati (Tim Aksara ITB), Juara Imagine Cup 2007, Berhasil menciptakan Software ABC, Software aplikasi untuk membantu mereka yang buta aksara.<br />
</em></em></em></em></p>
<p><strong>Bandung dan Ekosistem Industri Kreatif di Indonesia</strong><br />
<a href="http://bandungcreativecityblog.wordpress.com/" target="_blank"> Bandung</a> merupakan kota yang paling maju dalam perkembangan industri kreatif di Indonesia, mengapa <a href="http://bandungcreativecityblog.wordpress.com/" target="_blank">Bandung</a> bisa menjadi kota yang paling maju dalam hal industri kreatif ? jawabannya adalah karena di <a href="http://bandungcreativecityblog.wordpress.com/" target="_blank">Bandung</a> telah tercipta satu lingkungan atau ekosistem yang kondusif dan mendukung untuk perkembangan industri kreatif. Untuk penjelasan lebih rinci tentang ekosistem industri kreatif ini silahkan nikmati sajian presentasi ini :</p>
<p style="text-align:center;">[slideshare id=178839&#38;doc=creative-industry-ecosystem-1196005918401697-2&#38;w=425]</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Peran Bahasa Inggris dalam Kampanye Industri Kreatif</strong></p>
<p style="text-align:left;">Bahasa Inggris memegang peranan penting dalam perkembangan perekonomian, karena dengan kemampuan bahasa yang baik maka proses komunikasi akan berjalan dengan baik. Ada banyak kisah yang mengatakan kalau tenaga kerja Indonesia diluar negeri itu tidak kalah hebat dengan tenaga asing, namun kebanyakan dari kita tidak terlalu dihargai karena kemampuan bahasa inggris-nya yang payah. Sehingga mengalami kesulitan dalam komunikasi. Tentu saja dalam kampanye Industri kreatif yang sedang digalakan di Indonesia ini, kemampuan bahasa Inggris dari setiap pelaku yang terlibat dalam bidang apapun akan sangat siginifikan terhadap perkembangan bisnis dan perluasan pasar yang bisa dilakukan. Karena, untuk menjual <em>products/services </em>kreatif yang telah dihasilkan sehingga menjadi <em>products/services</em> yang diakui di dunia internasional itu haruslah memakai bahasa Inggris yang baik. Kemampuan bahasa Inggris akan sangat menentukan dalam hal komunikasi bisnis atau komunikasi pemasaran yang dilakukan.</p>
<p><strong>Industri Kreatif di Indonesia; Hari ini dan Masa yang akan datang</strong></p>
<p>Di Indonesia, kalau dilihat sumbangan sektor-sektor <a href="http://industrikreatif-depdag.blogspot.com/" target="_blank">industry kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB)</a> belum terlalu signifikan namun memiliki pertumbuhan yang tinggi beberapa tahun belakangan ini, yaitu <span class="entry">mencapai 7.28% - lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional (sumber dari <a href="http://industrikreatif-depdag.blogspot.com/" target="_blank">depdag</a>)</span>. Tapi bila dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang dan Inggris  misalnya kita masih kalah jauh. Padahal, potensi yang dimiliki sangat besar, bahkan bisa dikatakan lebih besar.  Oleh sebab itu sokongan semua aspek untuk membuat insdustri kreatif maju tentunya akan menjadi satu arah pasti untuk kemajuan perekonomian Indonesia dimasa yang akan datang. Jika semua lini : pemerintah, organisasi formal (universitas, sekolah, etc), dan komunitas (independent groups) dapat bekerjasama dengan baik dan satu arah untuk membuat satu pola gerak perekonomian berbasi industri kreatif secara bersama-sama. Tentunya kita bisa yakin dan  berharap banyak dimasa yang akan datang, industri kreatif akan menjadi salah satu faktor utama kemajuan perekonomian di Indonesia.<br />
Jadi, kalau kita ambil beberapa kesimpulan, hal terpenting untuk mengelola dan mengkampanyekan Industry kreatif sebagai roda perekonomian di Indonesia adalah :<br />
1. Edukasi knowledge based economy pada semua lapisan masyarakat Indonesia<br />
2. Membangun environment atau ekosistem industry kreatif disemua daerah di Indonesia<br />
3. Fokus pada manusia sebagai <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Human_capital" target="_blank">human capital</a> dan subjek pembangunan perekonomian<br />
4. Support total dari pemerintah<br />
5. Adanya kolaborasi dari institusi pendidikan, komunitas, dan pemerintah dalam upaya membangun industri kreatif.<br />
So...<br />
sepertinya cukup dulu ulasan tentang industri kreatif, sebenernya masih banyak yang ingin ditulis tentang industri kreatif...mungkin nanti dilain kesempatan. Okey...:)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.:: Pengetahuan, Investasi Termahal ::.]]></title>
<link>http://dewiyuhana.wordpress.com/?p=263</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 05:02:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewi</dc:creator>
<guid>http://dewiyuhana.wordpress.com/?p=263</guid>
<description><![CDATA[
Tren ekonomi global (global economy)  sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Know]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;">Tren ekonomi global (<em>global economy</em>)  sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Knowledge Economy (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, <span> </span>menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam.</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;">Tak salah jika ada yang mengatakan ilmu dan pengetahuan itu mahal. Orang berilmu, berpengetahuan, dan berwawasan memiliki investasi besar yang tak akan punah karena imbas krisis moneter. Krismon dapat mengurangi nilai investasi saham, atau bahkan menghilangkan nilainya dalam sekejap, namun tidak demikian halnya dengan investasi pengetahuan. Sama seperti pepatah Arab yang menganalogikan orang berilmu seperti pohon yang berbuah dan akan terus berbuah tanpa akhir bila si pemilik memanfaatkan dan membagi ilmunya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;">Meski I have to say sorry pada rendahnya kesadaran perusahaan yang seringkali masih berpikir ribuan kali untuk mengeluarkan dana demi me-mintarkan SDMnya. Padahal tren ekonomi global (<em>global economy</em>) sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju <em>Knowledge Economy</em> (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, <span> </span>menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam, seperti yang saya sebutkan sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"><span style="color:#33cccc;">Ehmmm....kayaknya perubahan ini tak terbendung, perlahan namun pasti mutlak terjadi, meski masih ada orang yang sangsi. Sama seperti tren perubahan ke masyarakat informasi saat ini, yang beberapa tahun lalu dicemooh sebagian besar masyarakat Indonesia (termasuk saya, huehehehehe..). <span lang="IT">Saya masih ingat kelahiran Metro TV yang menawarkan konsep acara berita sebagai produk andalannya. “HAH? Nggak salah tuh, bikin tipi diisi berita?. Iya kalo di LN, di Indonesia mana ada orang yang bakal ngeliat, seharian kok dicekokin berita, bosen!!”. Dan saya salah besar, Metro secara perlahan namun pasti dapat mencuri perhatian publik,bahkan jadi rujukan informasi terkini. </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"><span style="color:#33cccc;">Satu contoh saat musibah tsunami, masyarakat mengandalkan info dari stasiusn tipi ini untuk mengetahui perkembangan terbaru, terlepas dari gayanya yang suka mengulang berita berkali-kali –dan kadang bikin eneg-. Bahkan saya, yang dulu enggan memencet channel yang terkadang dimanfaatkan untuk kampanye Surya Paloh (ya iyaaalah!!, lha wong tipi-tipi dia ini!), menjadi channel utama tipi di kamar. Sebelum tidur, liat berita, bangun pun sarapan berita terlebih dulu (wkakakakakak, in case kalo lagi nggak ngantuk banget). Ya, informasi menjadi sedemikian penting. Menjadi bahan untuk memulai hari. </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;">Back to <em>Knowledge Economy</em>, konsep ini mempercayai bahwa pengetahuan memiliki nilai ekonomis. Pengetahuan merupakan ‘alat’ yang dapat digunakan untuk memproduksi atau menciptakan produk yang berharga jual tinggi, menggantikan prinsip ekonomi sebelumnya yang menyatakan produksi dipengaruhi dua factor, tenaga kerja dan modal.</span><a href="http://dewiyuhana.files.wordpress.com/2008/07/baju-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-275" src="http://dewiyuhana.wordpress.com/files/2008/07/baju-1.jpg?w=165" alt="" width="165" height="300" /></a><a href="http://dewiyuhana.files.wordpress.com/2008/07/baju-2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-276" src="http://dewiyuhana.wordpress.com/files/2008/07/baju-2.jpg?w=300" alt="" width="300" height="147" /></a></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;">Satu contoh, pengetahuan tentang desain busana dan menjahit membuat siswa SMKN 1 Batu Malang beberapa waktu lalu menciptakan busana pesta cantik dari bahan murah meriah, serut kayu dan batok kelapa, yang bagi sebagian besar orang dianggap sampah dan harus disingkirkan. Ya, c..? karena ‘pengetahuan’, limbah bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomis tinggi. </span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><!--more--><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"><span style="color:#33cccc;">Era <em>Knowledge Economy </em>menuntut setiap orang untuk terus berkreasi dan menciptakan karya. Maklum deh, saat ia mempublikasikan kreasi dan produknya ke publik, wussss….dalam waktu singkat akan muncul produk serupa. Mau marah dan mematenkan karyanya? Capeee deh!. Coba Anda liat kreasi kebaya modern Anne Avantie. Ia menciptakan model kerah unik atau kebaya “berekor” tanpa meninggalkan pakem kebaya tradisional. <span lang="IT">Konsep desainer langganan Putri Indonesia ini langsung dicontek desainer lainnya. </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"><span style="color:#33cccc;"><span lang="IT">Atau kelahiran Jilbab Munajah Cinta atau Jilbab Khumairo (karena tokoh sinetron di tipi bernama Khumairo), menjadikan penciptanya menjadi jutawan dalam waktu singkat. Kata temen saya yang nonton di TVRI, pencetus kreasi Jilbab Munajah Cinta mengawali usahanya dengan modal Rp 5 juta dan saat ini sudah mencapai omzet Rp 300 juta!!. Whew!, baru berapa bulan sinetron yang dibintangi Baim Wong, Rianti, dan Sazkia itu ditayangkan?.</span></span></span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"><a href="http://dewiyuhana.files.wordpress.com/2008/06/munajah.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-264" src="http://dewiyuhana.wordpress.com/files/2008/06/munajah.jpg?w=176" alt="" width="117" height="199" /></a><a href="http://dewiyuhana.files.wordpress.com/2008/06/munajah1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-265" src="http://dewiyuhana.wordpress.com/files/2008/06/munajah1.jpg?w=231" alt="" width="154" height="199" /></a></span></span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"><span style="color:#33cccc;">Saya termasuk orang yang berburu jilbab cantik itu. Selain untuk dipake sendiri, yaaa dijual lagi (maklum nich, ane juga pedagang). Dari blog yang dibuat oleh pencipta Jilbab Munajah Cinta, bukan saya saja yang kepincut dengan karyanya. Banyak muslimah dari Malaysia yang order jilbab ini. Dan tahukah Anda? jilbab berukuran besar tapi tetap terlihat chic itu memang gampang ditemui, tapi jangan salah, banyak jilbab yang beredar ternyata kreasi orang lain yang mengembangkan desain kreator asli. Kesuksesan pencipta jilbab ini semakin memotivasi saya untuk mengembangkan NyiruSavira boutiqe, ikut kursus ngejahit dan mulai ngeluarin desain sendiri he3...</span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"><span style="color:#33cccc;">Beberapa waktu lalu, saat menjelaskan konsep Nyiru Savira Consulting &#38; Training kepada salah satu rekan, seorang dirut PJTKI –maksudNa sponsor githu-, dia menceritakan kesuksesan temannya yang meraup miliaran rupiah dari bisnis batik. </span></span></span></span><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#33cccc;">Wah, juragan batik dunk? Eits, jangan salah sangka dulu. </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#33cccc;">Si teman temannya saya itu sama sekali ndak punya pabrik batik, bahkan ndak bisa membuat batik, tapi dia menguasai bahasa Inggris (yang ternyata dipelajari otodidak setelah sering surfing di internet) untuk berkomunikasi dengan konsumen dari berbagai negara, dia tahu internet marketing dan memahami kebutuhan pasar terhadap produk tradisional. And then, si kreatif ini menjadi ‘makelar’ batik yang mengambil produk dari berbagai daerah lalu menjualnya ke konsumen di LN. <span> </span></span></span></span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#33cccc;">Whew!!, zero capital tapi menghasilkan omzet miliaran rupiah. Betapa pengetahuan memiliki nilai tak terbatas. Itu juga salah satu pesan dari ayat pertama Alquran “Iqra”, bacalah, carilah ilmu, tambahlah wawasan dan pengetahuan!. :-)<br />
</span></span></span></span></p></blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IT"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;color:#33cccc;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Anggun, Piyu, Kua Etnika dan Mulan Jameela]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=646</link>
<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 18:48:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=646</guid>
<description><![CDATA[
Knowledge Economy
Ekonomi berbasis pengetahuan. Sumber penghidupan yang berasal dari kemampuan meng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-649" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/06/dsc01484.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Knowledge Economy</strong><br />
Ekonomi berbasis pengetahuan. Sumber penghidupan yang berasal dari kemampuan mengolah gagasan, kesadaran, keterampilan dan kreativitas, budaya suatu individu maupun komunitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejatinya, gagasan ekonomi sebagai suatu idea, sebagai satu sikap dan sebagai suatu gaya hidup adalah bukan hal baru bagi manusia Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Berangkat dari kelompok manusia proto melayu. Meluruh dan saling melengkapi ketika menetap di gugusan nusantara. Manusia-manusia tangguh yang hidup berburu. Perkakas-perkakas diciptakan. Lalu masa berburu tergantikan dengan kebiasaan menetap lebih lama. Bercocok tanam mulai dilakukan. Terciptalah berbagai alat rumah tangga hingga perhiasan yang tercipta di masa perundagian.</p>
<p style="text-align:justify;">Konon katanya baru di abad keempat salah satu kelompok kecil manusia nusantara sudah masuk dalam masa sejarah. Penandaan dari baca tulis. Engkau baca-engkau tulis. Aku baca dan aku tulis. Engkau baca kembali dan engkau tulis lagi. Maka menjelmalah kita menjadi manusia sejarah. Manusia segala zaman yang akan terus terkenang.<!--more--><br />
Sumbangan Sureq Galigo masyarakat Bugis. Serat dan kitab-kita Begawan dan Resi Jawa. Prasasti dengan berbagai pesan dan citra tinggi layaknya candi-candi.</p>
<p style="text-align:justify;">Komunikasi antara yang “lebih dulu datang” dengan “yang kemudian datang” terjalin komunikasi. Ada pertukaran kelebihan. Ada permintaan atas kebutuhan. Maka terjadilah interaksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah bumi nusantara yang penuh dengan “Sejarah (catatan masa lalu)”. Peradaban yang muncul dari berbagai alasan dan tujuan. Namun setidaknya akan selalu bermuara pada hidup yang kerasan (betah).<br />
Lalu dari dunia sana ada sebuah gagasan baru. Keterbukaan. Bukan lagi ketertutupan. Bukan jaman untuk bermata dan berpikiran gelap. Ada pencerahan. Ada sesuatu yang terbuka lebar, seperti parasut yang mengembang. Ilmu pengetahuan memajukan segala sisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Gagasan yang ingin mengalahkan waktu. Lebih cepat, lebih besar, lebih mudah. Suatu realisasi sebuah gagasan revolusioner yang dinamakan dengan revolusi industri. Ada pemilik dan ada yang dimiliki. Ada tenaga, ada yang kurang tenaga, maka ada pekerja. Namun sejatinya, revolusi industri adalah upaya komersialisasi lonjakan kemajuan ilmu pengetahuan. Ditemukannya mesin uap, alat tenun pabrik, dan berbagai hasil kemajuan teknologi dari jaman aufklarung, enlightment, jaman pencerahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Barang diproduksi dengan cepat dan menjadi komoditas. Banyak hal dimassalkan. Ada keuntungan. Ada harapan baru untuk terus maju, maju dan maju. Hasil pertanian menjadi yang namanya tekstil. Hasil bumi dijadikan bahan bakar transportasi. Asap kereta api membumbung tinggi. Gaya hidup berubah. Bila bisa lebih, mengapa berhenti. Hidup bukan lagi ala kadarnya. Hidup harus melebihi dewa-dewa Yunani. Pemodal harus terus menumpuk modalnya. Pekerja harus terus bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekayaan alam terus digerus, lalu di abad 20 peperangan tiba-tiba mengancam umat manusia. Semua bertempur. Kemajuan teknologi terus meningkat. Akseleresasi perkembangan teknologi terus meningkat. Transistor ditemukan, maka mulailah manusia mengenal dengan jaman kemajuan elektronika. Dunia menjadi datar. Dunia menjadi desa besoaaaar!</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-650" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/06/dsc01489.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;">Bioskop tersaingi televisi dan produk masal video rumahan. Manusia tidak lagi merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Manusia menjadi lebih kerasan dengan memenuhi kebutuhan tersier. Maka muncullah industri baru, jauh lebih revolusioner, jauh lebih intens dan berakselerasi secepat kilat. Revolusi industri konservatif yang mulai stagnan, memunculkan industri kreatif. Nusantara pun mau-tidak mau menyaksikan dan turut merasakan kemajuan industri ini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Udah deh gak usah berbuih-buih..contohnya orang kita sudah jago dan menunjukkan jati diri bangsa dalam pergaulan internasional bin global itu MAAAAAANNA, Bung…?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Wokeh..okeh..biar gampang, akan dijelaskan beberapa cabang industri kreatif yang telah menjadi lumbung dan sumber dapur mengepul bagi keluarga. Antara lain di bidang (sumber majalah SWA November 2007):</p>
<p style="text-align:justify;">• Arsitektur<br />
• Industri craft<br />
• Industri desain visual<br />
• Indonesia desain fashion<br />
• Penata rambut<br />
• Industri seni dan barang antik<br />
• Industri film dan fotografi<br />
• Industri televisi dan radio<br />
• Industri publishing<br />
• Musik<br />
• Periklanan<br />
Siap ya..denger baik-baik Dul…</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Arsitek.</strong><br />
Dalam dunia seni bangunan ini, maka ente seharusnya kenal sama Pak Ridwan Kamil. Beliau menang IYDEY 2006 yang diselenggarakan lembaga British Council dari seluruh penjuru dunia. Kalau ente pernah ke Dubai, Hongkong, Cina maka sebetulnya ente pernah liat hasil karyanya. Lewat URBANE, ia memasang tarif Rp200juta -2 milyar sekali gores. Hebat pan..?</p>
<p style="text-align:justify;">Juga masih ada Pak Dana. Kliennya gak main-main. Julio Iglesias, Luis Vuitton family, Raja Fadh family, Raja Maroko. Sekali berkarya ia mematok tarif US$ 100-600 ribu. Juga ada Pak Wawa, orang Cirebon, yang bikin Mal Pondok Indah hingga pusat perbelanjaan di Dubai dan Filipina, juga atrium TV Shanghai. Jasanya dipatok US$ 250-350 ribu untuk satu desain arsitektur.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Industri <em>craft</em></strong><img class="alignleft size-medium wp-image-648" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/06/dsc01420.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya ente pernah liat Dul patung tembikar dengan sosok nyonya berbibir dower dengan pose menantang dan centil, memakai kebaya? Ya, itu karya Pak Widayanto. Barangnya dianggap barang seni namun tanpa meninggalkan unsur fungsional. Harganya? Jangan ditanya. Muahaaal bo! Dikoleksi oleh para penyuka seni gerabah-tembikar dari dalam dan luar negeri. Tapi Cuma satu kelemahannya. “Apa, Mas..?”. Pak Wida belum kawin..<br />
:D</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Industri Design visual.</strong><br />
Kalau ente pernah tinggal di kota Jogja, pastinya ente akan ngerti Dul, kalau ada sebuah perusahaan anak muda yang kreatif banget dan mumpuni di bidangnya. Namanya Petakumpet. Pernah meraih penghargaan Agency of the Year (20 penghargaan), juga finalis Cakram award kategori agency of the year (billing di bawah Rp100 milyar).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Industri Desain Fashion</strong><br />
Aha, tentu saja kita harus tahu Mas Sebastian Gunawan. Tahun 2004 ia berhasil meraih IAF World Young Designer Award yang diadakan bertepatan dengan Konvensi IAF ke-20 di Barcelona, Spanyol.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Penata rambut</strong><br />
“Mas Kopdang berpangkat kopral..kok nata rambut aja dianggep industri?”. Ah, Dul Kisut bedul marundul, ente gak tahu sih..Konon katanya penata rambut top itu sekali mainin tangannya, bisa masang tarif Rp5 juta. Nilai pasarnya setahun Rp.360 miliar.</p>
<p style="text-align:justify;">Rudy Hadisuwarno itu sejak 1998 masuk dalam buku Who’s who in the world. Malah sejak tahun 1977, ia sudah mendapat pengakuan internasional ketika diangkat menjadi anggota Intercoiffure, sebuah organisasi tata rambut profesional dunia yang berpusat di Paris. Juga ada Pater Saerang yang menjadi penata rambut keluarga kerajaan Brunei sejak 1984. Pernah menata rambut PM Inggris M. Thatcer (1992) dan bintang Hollywood, Julia Roberts (1997).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Industri seni dan barang antik</strong><br />
Linda Gallery itu salah satu galeri kelas dunia, Dul. Punya cabang di Beijing dan Singgapur. Juga harus paham kalau dunia seni itu sungguh potensial dan menjanjikan di Indonesia. Lha, orang indonesia itu kan semenjak nyeprot lahir dari sononya sudah bawa gen nyeni dan kreatif. Coba deh inget-inget siapa itu Raden Saleh, Affandi dan Basoeki Abdullah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Industri Film dan fotografi</strong><br />
Setelah mati suri di era awal 1990-an, industri film mampu menunjukkan kebangkitannya. Hampir setiap minggu lahir film baru di Indonesia. Situasi ini membawa keuntungan bagi jaringan bioskop seperti Cineplex 21 dan Blitz megaplex.</p>
<blockquote><p>“Kalau dunia fotografi, siapa yang jago Mas..?”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nah…ente katanya udah baca masalah industri kreatif ini? Kok masih nanya terusss? Ente kenal kan sama nama Darwis Triadi. Nah, bapak ganteng berkumis ini sudah bikin jaringan bisnis dengan bikin cabang studio foto di kota besar di Indonesia. Malah ia bikin Darwis Triadi school of photography.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=249">Om Brotoseno itu</a>, gimana Mas..?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ya, beda-beda tipis lah..</p>
<p style="text-align:justify;">:P</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. Industri Televisi dan Radio</strong><br />
Estimasi pasar industri ini Rp19 Trilyun per tahun. Gila nggak? Tapi sebetulnya potensi yang lebih besar adalah pada televisi berbayar, karena rasio pelanggan baru kira-kira 1,5% dengan nilai pasar baru Rp43milyar. Bandingkan dengan negera tetangga yang rasionya sudah 11,3% dan Malaysia 30,5%. MNC dengan Indovision dan Astro dari Malaysia masih memimpin ceruk ini.</p>
<blockquote><p>“Kalau radio gimana, Mas..? Prambors ya jagonya..?”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ya. Bisa juga dikatakan begitu. Tapi berhubung segmennya terlalu sempit dengan sasaran anak muda, menurut ane sih Smart FM lebih kuat. Jaringannya lebih di 10 kota besar. Bahkan ada Smart FM online yang bikin proyek e-learning. Radio yang pendengarnya paling besar berasal dari kalangan eksekutif ini mempunya pangsa pasar 30,26% Juni 2007.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. Industri Publishing</strong><br />
Nah, kalau soal begini, maka yang paling menggiurkan karena adanya proyek buku yang selalu digelontorkan pemerintah. Bayangkan, tahun 2007 saja, dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sebesar Rp11,5 trilyun. Buku pelajaran masih didominasi oleh Tiga Serangkai, Erlangga, Yudhistira dan ceruk pasar untuk penerbit chiklit, novel dan buku ringan lainnya sepert gagasMedia dan Gramedia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. Industri musik</strong><br />
Anggun C Sasmi adalah salah satu contoh terbaik. Ia sudah merilis 7 album di Perancis dengan sasaran penggemar musik dunia. Tapi jangan lupakan Mas Piyu, gitaris Padi yang sekarang sedang asyik-asyiknya berbisnis konten lagu lewat Hape lewat perusahaan e-motion. Jualan RBT (ring back Tone) dan memanajeri beberapa artis seperti Tompi dan Drive. Juga masih ada si elegan-flamboyan Ahmad Dhani, yang gelagatnya sulit ditebak namun sukses menelurkan lagu hits bagi dirinya maupun band yang disokongnya. Dewi-dewi, The Rock Indonesia, Mulan Jameela, adalah deretan artis yang dilentingkan dengan jemari lirih Mas Dhani ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-651" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/06/dsc00479.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;">Jangan lupakan juga basis musik berdasarkan budaya yang begitu khas dan memiliki daya magis. Hl ini sangat diminati oleh masyarakat seni luar negeri. <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/06/28/apakah-emha-dapat-menjadi-sahabat-flash-gordon-2/">Kyai Kanjeng</a>, Kua Etnika adalah sederet nama grup musik dan budaya yang jauh lebih terkenal di daratan eropa dan skandinavia dibandingkan di negeri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">:P</p>
<p style="text-align:justify;">Foto di atas adalah salah satu acara yang menarik perhatian masayarakat dan pelaku industri musik <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/11/23/jakjazz-2007/">(Jak Jazz 2007)</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>11. Industri periklanan</strong><br />
Dari dalam negeri yang patut diacungi jempol adalah Matari Advertising. Didirikan oleh sosok hebat bernama Ken T Sudarto (alm) dan Paul Karmadi, merupakan biro iklan lokal terbesar dan papan atas. Bahkan juragan Maknyuss, Bondan Winarno, membikin buku berjudul Rumah Iklan, sebagai hasil liputan in depth news alias laporan investigatif dalam dunia iklan Indonesia, yang banyak mengambil sudut dalam sepak terjang periklanan modern yang digawangoi orang lokal yakni Pak Kenneth Tjahjady Sudarto ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana? Dilihat dari sekelumit cabang industri kreatif, dapat dikatakan dan ditarik kesimpulan, Indonesia sangat potensial dalam meningkatkan produktivitas dan memperkenalkan kepada pasar global.<br />
Padahal Dul, ane belum sempet bilang dan cerita siapa itu Ananda Sukarlan, pianis jempolan yang bermukim di Spanyol. Juga Riri Reza dan Garin Nugroho yang karya filmnya seringa banget dapat penghargaan dalam festival film internasional.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ente kan malah pernah bintangin filmnya Om Garin..?”.</p>
<blockquote><p>“Yang mana Mas..?”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Itu..anak seribu pulau…hahahaha..”<br />
:P<br />
Oh iya, ane juga belum cerita seorang Wira Winata, anak muda berusia 30 tahun yang karya kartunnya dipakai di Hollywood. Bahkan saat ini ia mendapat kontrak dari Cartoon Network.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lalu apa yang harus kita siapkan Mas..?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Ah, pertanyaan ente bagus banget, Dul..! Kita emang butuh kerjasama yang baik. Bukan Cuma tugas pemerintah, namun juga tugas kita semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita butuh sarana pendidikan yang baik di bidang kreatif ini. <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/11/08/sekolah-desain-sekolah-masa-depan/">Sekolah desain, sekolah seni</a>, dan sekolah keterampilan dibutuhkan untuk menumbuhkan sosok pelaku dalam bidang industri berbasis pengetahuan dan ketrampilan ini. JUga tentunya kesiapan pemerintah dalam mengatur sistem keuangan yang menjamin tersedianya permodalan. Di Amerika sono sih ada yang namanya Venture Capital. Mereka bukan bank, meraka adalah orang-orang kaya pemodal yang mau dan jeli menangkap peluang untuk berinvestasi pada industri baru yang menjanjikan di masa yang akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah di sisi pemerintah, perlu ada kebijakan yang terpadu dan kondusif. Terutama perlindungan hukum dalam Hak atas Kekayaan Intelektual, lalu ada pendidikan bisnis bagi pekerja seni, pelaku industri kreatif. Bagaimana caranya menjual karya, bagaimana membuat rencana anggaran dan proposal bisnis. Juga insentif pajak yang menjanjikan. Kemaren kan ane udah bahas masalah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Oh iya, jangan lupa untuk selalu belajar memasarkan langsung dalam pameran di luar negeri. Makanya para pelaku industri kreatif harus ditunjang kemampuan bahasa Internasional yang cukup, syukur-syukur fasih untuk<em> wasweswos</em>.</p>
<blockquote><p>“Wih..Mas Kopdang keren banget deh…tapi ente sendiri udah ngapain..masa cuman ngeblog doank..? Itu pun karena ada <a href="http://bcnow60.org/blogging-competition/">perlombaaan dari British Council</a>..!”<br />
:P</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Siapa bilang..lah, buktinya ane bikin situs ini, <a href="http://kopdang.com/">kopdang.com</a>, yang rencananya sebagai blog filantropi yang memajukan bisnis UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dan sarana jejaring bagi pelaku usaha, malah ane pinginnya diutamakan dalam pengembangan usaha kreatif.</p>
<blockquote><p>“Wah..hebat Mas..! Ane coba bikin usaha fotografi ah..lumayan, sembari jalan-jalan bisa nambah penghasilan…Tapi yang jelas ane salut deh sama engkau, wahai Mas Kopdang..tulisan ente menggugah sukma ane’..! Tengkyu banget, dah..!”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hahahaha…<br />
(*gak nyadar muji diri-sendiri*)<br />
:lol:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jakarta, 30 Juni 2008, 02.03 wib (saat Jerman melawan Spanyol dalam Piala Eropa 2008)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keterangan:</strong><br />
Tulisan ini sebagian besar berdasarkan informasi majalah SWA, BusinessWeek edisi Indonesia, MIX, dan sebagian besar dari informasi WOM (Word of Mouth alias dari mulut ke mulut…)<br />
:P</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#999999;">Ini adalah tulisan terakhir dari serangkaian tulisan sebelumnya dalam rangka mengikuti kompetisi blog yang diselenggrakan oleh British Council.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">tulisan terkait Industri Kreatif</span>:</p>
<p style="text-align:justify;">[+] Bahasa Inggris <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/28/bahasa-inggris-sebagai-semanggi-dunia/">seperti Semanggi lho...</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] Bedanya JK Inggris <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/22/jk-rowling-vs-jk-wapres/">dan JK Indonesia</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] Acaranya <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/20/festival-bataviase-nouvelles/">Ultah Jakarta</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] Kreatif itu <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/20/creativeindustry/">kere dan aktif..?</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] industri <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/19/industri-irrasional-nusantara/">paranormal..?</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] sekolah desain...<a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/11/08/sekolah-desain-sekolah-masa-depan/">sekolah masa depan..?</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">(foto: dokumen pribadi..)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Knowledge Economy dan Produk Budaya]]></title>
<link>http://dhartodar.wordpress.com/?p=50</link>
<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 10:54:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>dharto</dc:creator>
<guid>http://dhartodar.wordpress.com/?p=50</guid>
<description><![CDATA[Referensi wikipedia menyebutkan bahwa knowledge economy adalah sebuah istilah yang terkait pada ekon]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Referensi wikipedia menyebutkan bahwa<em> knowledge economy</em> adalah sebuah istilah yang terkait pada ekonomi yang bertumpu pada produksi dan manajemen yang masih dalam kerangka ekonomi yang berbasis pengetahuan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">"The knowledge economy is a vague term that refers either to an economy of knowledge focused on the production and management of knowledge in the frame of economic constraints, or to a knowledge-based economy."</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://pic50.picturetrail.com/VOL481/5919480/19978055/323281613.jpg" alt="" width="373" height="208" /></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Knowledge economy </em>sendiri tidak dapat dipisahkan dari <em>knowledge </em>sebagai suatu produk dan ekonomi sebagai pendukungnya, karena keduanya saling berhubungan. Dewasa ini banyak peneliti mendeskripsikan bahwa ekonomi global sedang mengarah pada <em>knowledge economy</em> sebagai perluasan dari <em>information society</em>. Transisi dari ekonomi global ke <em>knowledge economy </em>sendiri membutuhkan aturan dan praktek yang diarahkan pada kesuksesan industri ekonomi pada kebutuhan yang saling terkait satu sama lain serta globalisali ekonomi sumber-sumber yang bernilai ekonomi seperti sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Berdasarkan analisa para ahli <em>knowledge economy, </em>tata aturan harus ditekankan pada industri dalam hal <em>knowledge management</em> dan pada level kebijakan public sebagai <em>knowledge policy</em> atau keterkaitan antara <em>knowledge </em>dengan kebijakan <em>(policy)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter" src="http://pic50.picturetrail.com/VOL481/5919480/19293055/323278929.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Prambanan" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">" Prambanan, Wisata Budaya "</span><!--more--></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai sebuah bangsa yang berbudaya, tentunya Indonesia mempunyai beragam budaya beserta hasil yang berupa produk budaya. Apalagi jumlah suku yang mendiami Indonesia cukup banyak, yakni lebih dari 252 suku bangsa yang menggunakan bahasa yang berbeda sehingga hasil karya budaya yang dihasilkan  pun banyak sekali. Produk-produk budaya tersebut bisa berupa bahasa, kesenian tradisional, kerajinan dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja apabila hal dikelola dengan baik, hasil produk budaya tersebut tentu akan dapat mendatangkan manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat suku yang bersangkutan tetapi mlebih luas lagi masyarakat dunia pun dapat menikmatinya. Untuk mengelola itu semua tentunya tidak bisa sembarangan, tetapi harus dengan menggunakan pengetahuan. Inilah peran dari knowledge economy.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter" src="http://pic50.picturetrail.com/VOL481/5919480/19978055/323282312.jpg" alt="" width="266" height="339" /></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ondel-ondel" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">" Ondel-ondel Betawi "</span></a></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak sekali sumber budaya yang dapat membawa dampak bagi perkembangan ekonomi ke arah yang positif. Dengan banyaknya kunjungan wisata baik itu dari turis asing maupun turis domestik maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat sekitar dan pertumbuhan ekonomi pun akan sejalan dengan hal tersebut, tentunya hal ini dari sektor pariwisata. Selain dilihat dari segi ekonomi hal lain yang diuntungkan dari sektor ini adalah bertambahnya pengetahuan dari turis yang berkunjung untuk mengenali budaya-budaya yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Indonesia tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga kaya akan sumber daya alamnya baik berupa aneka hasil tambang ataupun pemandangan alamnya yang indah baik daratan maupun lautan. Sayangnya apabila sumber daya alam tersebut apabila tidak dikelola dengan bijaksana tentunya akan merugikan dengan terjadinya kerusakan alam ataupun bencana lainnya. Knowledge Economy yang disini berperan sebagai sebuah "produk" bila saja diterapkan dengan baik oleh sumber daya manusia Indonesia tentunya akan sangat bermanfaat bagi bangsa ini dan tidak mungkin tidak Indonesia akan sejajar dengan bangsa-bangsa yang sudah lebih maju.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Knowledge Economy" dan Dunia yang "Borderless"]]></title>
<link>http://binchoutan.wordpress.com/?p=277</link>
<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 05:12:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>binchoutan</dc:creator>
<guid>http://binchoutan.wordpress.com/?p=277</guid>
<description><![CDATA[Knowledge Economy??? Inilah tema yang diangkat untuk Blogging Competition British Council untuk peri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Knowledge Economy???</strong> Inilah tema yang diangkat untuk Blogging Competition British Council untuk periode ke 2.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin istilah ini masih asing, begitu pun untuk saya.  Sekilas bisa kita artikan dengan Pengetahuan yang memiliki nilai ekonomi. Setelah melakukan pencarian di Wikipedia, <em>Knowledge Economy</em> adalah ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Kurang lebih bisa diartikan demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana suatu ilmu pengetahuan bisa bernilai ekonomi dan memberikan keuntungan? Ilmu pengetahuan seperti apa yang bisa bernilai ekonomi?</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan ini mudah saja dijawab, karena banyak hal yang kita pelajari atau banyak ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan kita dapat, yang semuanya itu bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Saya ingin menghubungkannya dengan bidang studi saya yaitu hukum. Mari kita lihat bagaimana hukum bisa menjadi sesuatu yang penting dalam kegiatan ekonomi.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Berbicara tentang "Pasar Global" tidak lepas dari kegiatan perdagangan internasional, yaitu kegiatan jual beli barang dan jasa yang melintasi batas negara. Perdagangan antar bangsa saat ini semakin berkembang pesat, batas - batas suatu negara dan aturan hukum yang berlaku di negara tersebut bukan lagi menjadi halangan. Hadirnya organisasi perdagangan dunia WTO (<em>World Trade Organization</em>) dengan segala aturan - aturannya menjadikan dunia perdagangan dan aktivitas perekonomian dunia semakin "<em>Borderless</em>". Negara yang telah menjadi anggota organisasi ini otomatis harus tunduk pada aturan perdagangan internasional dan semua <em>agreement</em> yang telah disepakati.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah jelas tentunya bahwa semua <em>agreement</em> dalam WTO dibuat dalam bahasa Inggris. Disinilah pentingnya penguasaan bahasa Inggris bagi siapapun, baik pelaku kegiatan perdagangan maupun praktisi hukum dalam membuat kontrak, penguasaan bahasa Inggris "<em>is a must</em>". Dengan penguasaan bahasa internasional ini yang baik kita dapat dengan mudah melakukan kegiatan - kegiatan lintas batas negara. Bagi seorang praktisi hukum, "<em>knowledge</em>" yang paling utama adalah bagaimana ketentuan hukum internasional mengatur aktivitas perdagangan dan perekonomian internasional, bagaimana bentuk kontrak - kontrak yang mendasari aktivitas ini. Tentunya semua itu harus dibuat dalam bahasa yang dimengerti kedua belah pihak, sehingga yang dapat menjembataninya adalah dengan bahasa Inggris.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh Indonesia telah meratifikasi perjanjian - perjanjian internasional misalnya Agreement on Establishing The World Trade Organization, dengan General Agreement on Tariffs and Trade 1947 (GATT) sebagai aturannya, menjadi UU No 7 Tahun 1994 Tentang Persetujuan Pembentukan WTO. Lalu bagaimana isi dari undang - undang ratifikasi tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti undang - undang hasil ratifikasi konvensi internasional lainnya, UU No 7 Tahun 1994 ini hanya berisi 2 pasal penting. Pasal 1 menerangkan tentang pengesahan terhadap suatu agreement atau konvensi tersebut yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris adalah bagian yang tidak terpisahkan. Jadi apabila terdapat kekeliruan atau kesalahpahaman yang berlaku adalah naskah aslinya dalam bahasa Inggris.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak menjadi anggota WTO pada 1994, konsekuensinya adalah Indonesia harus membuka pasarnya seluas - luasnya agar pihak asing dapat masuk ke wilayah negara kita. Pihak asing berhak dan bebas menjual barangnya ke Indonesia. Pihak asing juga boleh menanamkan modalnya di wilayah Indonesia. Tentunya akan dibuat sebuah perjanjian antar kedua belah pihak agar masing - masing mendapat keuntungan dan mengurangi peluang terjadinya kerugian. Meskipun posisi Indonesia di pasar global masih tergolong Negara Sedang Berkembang, yang masih mendapat pengecualian atau perlakuan khusus untuk memudahkan negara seperti Indonesia dapat terlibat dalam pasar global yang tanpa batas. Tapi ada batas waktu tertentu yang diberikan oleh WTO kepada negara sedang berkembang untuk menata perekonomian dalam negerinya, hingga negara tersebut siap bersaing dalam pasar global tanpa ada perlakuan khusus lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan sampai karena kurang penguasaan dalam bahasa Inggris, lantas menghambat aktivitas bangsa Indonesia di pasar global. Jangan pula karena hal itu, bangsa Indonesia dibodohi oleh bangsa lain yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kita. Maka didalam kegiatan di pasar global, pengetahuan tentang Hukum dan Bahasa menjadi sesuatu yang penting untuk menunjang kekuatan "bargaining power" bangsa kita menghadapi aktivitas perdagangan dan perekonomian dunia yang semakin borderless.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bedanya JK Inggris dengan JK Indonesia]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=624</link>
<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 23:03:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.wordpress.com/?p=624</guid>
<description><![CDATA[Solitude di Pos Ronda
Malam meluruh, namun bau subuh belum bersimpuh. Dingin. Temaram. Hening. 
Saya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>Solitude di Pos Ronda</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Malam meluruh, namun bau subuh belum bersimpuh. Dingin. Temaram. Hening. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya sendirian di gelap malam. Mau bagaimana lagi…? Siskamling di Kampung Ibukota tak banyak peminatnya. Hanya kami-kami yang semi-terpaksa dan dikira sukarela yang tabah menjalankannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Entah mengapa kok ya baru saya yang sedari tadi nongkrong gak karuan di pos ronda? Kemana ya si Dul Kisut, yang katanya mau bawa kupi dan djiesamsoe…? Bisa-bisa saya mati-jongkok-asmat kalau begini terus. Adem beneeeer..HAH! (*Jadi inget iklan sempaknya Tora*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>***AKHIRNYA DATANG JUGA***</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong></strong><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lamlikum…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Alaikum salam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ah ente dari mana aje? Mana kupi ama djiesamsoenya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sorry-dorry-morry, Bos.. Nih..(*sembari melempar sebungkus kotak kuning..*) Maap..gw ketiduran tadi, gara-gara baca buku ini nih! Punya adek ipar gw. Ternyata bagus juga. Keren..! (sambil menunjukkan sebuah buku yang tebalnya sekasur..).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nah..inih! Ya..ini nih..! Untung ente bawa buku ini. Buku ini bisa dijadiin contoh untuk diskusi kita ntar. Penulisnya pan terkenal banget.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Wah, masalah kreatip lagi..? Apa hubungannya Mas sama buku yang gw bawa..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ane’ pan kemaren uda bilang, kalau dalam knowledge economy alias ekonomi berbasis pengetahuan, salah satunya adalah industri kreatif yang berkaitan dengan media/penerbitan/perbukuan dan mengerucut pada novel ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ente bayangin aja..Nih Harry Potter siapa yang gak kenal? JK Rowling apa gak kaya? Mungkin dengan Bang Yos, orang terkaya se-Rawabelong, masih banyakkan die’… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-625" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/06/jk-row.jpg" alt="" width="130" height="86" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menurut majalah di Advertising Age, nilai keseluruhan dari Harry Potter ini sekitar 15 Milyar Dollar Amerika alias 135 trilyun rupiah..!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Waw..masa sih ?? Gile beneeerrr..! Emang gimana detilnya..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bayangin ajah, si JK..oh ya kalo ane bilang JK berarti maksudnye itu si JK Rowling lho ya..Bukan <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/05/29/jk/">JK Bapak Ucup</a> yang itu. Nah si JK ini dengan novelnya bisa membuat geliat bahkan gelombang industri lanjutan yang nilainya gede banget. Selain novel yang laris-manis-tanjung-kimpul, juga KHAS INDUSTRI KREATIF maka ada perluasan media konsumsi. Divergensi produk bermunculan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ah, Mas kok makin aneh aje’ bahasanya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gini Dul, gara-gara novelnya laris manis maka para orang kreatif memanfaatkan momen ini sebagai suatu kesempatan menambah nilai tambah yang ujung-ujungnya adalah keuntungan, kesempatan lapangan kerja, hingga adi karya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-626" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2008/06/300px-harry_potter_stamps.jpg" alt="" width="300" height="203" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Harry Potter dibuat filmnya sama Warner Bros, Electronic Art bikin video game-nyah. Anak ane mainin game-nya di PlayStation.<span> </span>Malah tahun 2007 di Florida, Warner itu bikin Taman Bermain kayak DisneyLand atau yah kayak Dufan deh di sini mah..Bahkan khusus dalam setiap plot film Harry Potter rencananya mau dibuat khusus sama orkestra dan bisa dipertunjukkan secara mandiri di Inggris sono.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">W…ooo..w…Waw..! Boljug nih..! Ane juga mau buat buku deh..! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ah ente mah anget-angetan doang! Baru denger cerita enak, keliatan gampang langsung punya khayalan macem-macem. Tapi ane sih setuju-setuju ajah.. Bukankah imajinasi itu jauh lebih penting dari sekadar pengetahuan..? makanya kreativitas itu penting dalam dunia industri ini. Makanya Knowledge Economy, bagi sebagian orang disebut sebagai Creative Industry. Yah, kalau bahasa ente ya jadi Kerjaan Orang Kreatif deh..!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">DI INDONESIA GIMANA DONK..?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tapi Mas..itu kan urusan di Luar Negeri. Di Inggris sono..Lha, ya apa kita mesti jadi konsumen terus..? Masak gak ada sih orang-orang kita yang jago..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lha, masak ente gak inget. Film ape yang bikin lu nangis sesenggukan kemaren? Pan film “Ayat-ayat Cinta..?” Itu adalah salah satu contoh industri kreatif kita udah lumayan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebelum film-nya sukses, novelnya udah jadi Best Seller. Coba deh kalo kita punya mental cepet puas, mungkin ente gak bakalan tau kisah si Fahry, Aisha dan kawan-kawan. Lha, ente kan gak tau kalo itu ada novelnya..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ho’oh. Begitu ya Mas..? Berarti dengan adanya media lain, maka kesempatan penyampaian isinya makin luas. Orang yang males baca malah enak ya bisa langsung nonton ajah. Wah…menarik nih..!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Iya.<span> </span>Makanya sebetulnya selain memperluas ilmu dan manfaat yang tersebar dari konten itu sendiri, juga bisa meningkatkan lapangan kerja. Tapi..,<span> </span>Industri Kreatif harus didukung oleh banyak hal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Contohnya, Mas..? Apa..? Modal? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bukan cuma itu. Coba deh, ente ngaku. Ngeliat film si Fahry di mana? Bioskop apa di rumah? Ente nonton di rumah kan, pake DVD bajakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lha emang hubungannya apa, Mas..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ya hubungannya mepet banget! Industri kreatif harus ditopang dengan Budaya Toleransi. Bukan sekadar Talenta yang oke dan teknologi. Jadi ente harus nyadar kalo pembajakan itu bukan sekadar ilegal, namun lebih jauh dari itu yaitu penistaan pada hasil kreasi halal dan peluh keringet orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jadi, aspek hukum , terutama Hak atas Kekayaan Intelektual ajah gak cukup. Budaya kita harus dirubah bahwa suatu karya itu sejatinya adalah sebuah jihad mulia dari seseorang, entah buat nafkah dia, entah buat para pekerja lainnya, juga yang terpenting itu ialah meneruskan sumbu harapan bahwa kreatifitas membuahkan hasil segala aspek. Jangan sampe yang bikin tuh film kapok bikin lagi, gara-gara capek buat tapi minim hasil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ah itu kan film. Untungnya uda gede Mas. Masak cuma dikopi ajah gak boleh. Ditiru ajah dilarang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Justru itulah uniknya industri kreatif!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk melakukan inovasi dan kreasi terbaru, tuh si pengusaha kreatif susah banget bikinnya. Contohnya bikin novel lah, bikin film lah, bikin sepatu lah… Nah, saat sudah diluncurkan ke pasar, justru pertarungan baru dimulai. Gampang banget kita untuk menduplikasinya dan menirunya. Udah neliti dan bikin trial error setahun, eh orang lain tinggal niru dan bikin cuma sehari-dua hari.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Coba deh ente buat program komputer, mana bisa? Tapi ente gampang banget copy-paste kan!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh karenanya supaya maju dan tidak menghentikan industri ini, aspek penegakan hukum kudu jalan dan itu belum cukup! Ente dan kita-kita kudu banyak mengenal, paham, merasakan, dan toleran dengan produk-produk tersebut hingga menghormatinya dan gak bakalan ngebajak! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keuntungan ekonomi seupil bagi pribadi tapi merugikan ekonomi yang lebih besar secara makro..!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Terus Mas, Indonesia itu unggul di mana aja? Khan tadi Inggris punya JK Rowling? Kita punya siapa? Bukannya JK-nya kita malah inginnya dan betahnya mainan pulitik?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hahahaha..!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ane’ dulu pas di Jogja seneng banget deh bisa kenal dengan anak-anak kreatif seperti DaGaDu! Gara-garanya mereka klien ane waktu ane masih <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/siapakah-kopidangdut/">magang di kantor pengacara</a>..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pengacara? Dagadu..?! Hah..<a href="http://www.dagadu.co.id/">DaGadu</a> pingin gugat cerai? Kok bisa..? ngapain pake pengacara..? Kayak Maia Estianti ajah..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hihihi..Dul Kisut…dul Kisut…Untung lu bukan adek gw. Soalnya Ane paling benci sama anak bedul, banyak lagu tapi wawasannya cuman sekitaran Condet doang..! Ane seneng banget semua jenis musik..semua jenis lagu..tapi kalo Lagu lu, gw empet banget..! Hahahaha..tapi kagak ape’ape..ane demen kalo lu mau banyak tanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jadi gini Dul.. mereka (dagadu) kewalahan banget sama yang namanya pembajakkan. Bayangin ajah, lu udah capek-capek bikin kaos dan desain sablonnya. Lucu, pake ditolak atasan dulu sebelum goal jadi produk, banyak desqain yang kebuang karena gak layak, eh..pas udah keluar, seminggu kemudian di jalanan Malioboro muncul. Ente gemes, marah, apa cekakak-cekikik kalo jadi orang dagadu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Wih, mencret gw kalo gitu mah… Bakalan Stress Mas! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nah itulah makanya mengapa mereka meminta jasa kami dulu. Dagadu itu sejatinya bukan jualan kaos, bukan jualan gantungan kunci, juga bukan jualan stiker yang ente tempel di gitar ane. Tapi mereka menjual “IDE”. Kedengerannya sih klise ya Dul. Tapi itu memang faktanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mereka bisa jual ide mengenai identitas perusahaan, seperti logonya apa, tag-line nya apa, warna baju seragam mereka sebaiknya apa, terus kalo ada kunjungan bagusnya perusahaan itu ngasih souvenir apa ke pada tamu..Nah itulah yang mereka kerjakan. Ide harus terus mengalir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh karenanya dalam industri kreatif, keliatannya nyantai. Orangnya pake celana jeans, bahkan pendek, isinya ketawa-ketiwi. Tapi bila kita bergelut secara langsung dalam dunia itu, maka sesungguhnya dibutuhkan keseriusan dan kesiapan menghadapi tekanan untuk terus dinamis menciptakan dan mengembangkan ide-ide segar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalo gitu mending jadi anak band ajah mas, kayak Samson, Letto, Peterpan..enak banget tuh, gak stress..pun bila stress tinggal nyanyi aja sekenceng-kencengnya, penongton mana tau..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Iya. Tapi kalau kaset dan CD-nya dibajak? Orang Brebes bilang mah “Paliyan Kunyuk”..! Bakalan miskin lu..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lha salah sendiri, kenapa harganya mahal? Gak membumi. Coba kalo murah, pan gak bakalan dibajak. Bajajakan laris kan karena murah Mas..! Ada disparitas harga yang mencolok..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Weisssss…! Ente kayaknya udah mulai ngeluarin bahasa canggih nih..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Emang situ aja yang boleh gaye’..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">:D</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hahaha..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Iya deh..Tapi ente kudu inget. Kalo yang resmi ya kita kudu bayar pajak! Nah, biaya ini tentunya udah masuk di harganya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nah itu masalahnya Mas. Kenapa sih kudu ada pajak segala? Bukannya pemerentah harusnya udah bersyukur dengan adanya keraan pengangguran berkurang, jadi jangan terlalu ngarep dari pajak deh..penduduknya dikasih kerjaan dulu aja semuah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Maksudnya gimana Dul..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lha, ya iyalah..masak ya iya donk..! Gimana industri mau INTENSIF kalau gak ada INSENTIF..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hah..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(*Bingung, si Dul Kisut Bedul tiba-tiba punya banyak kosakata canggih..*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">:shock:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kudunya pemerentah itu ngasih banyak kemudahan untuk industri tertentu yang masih “baru mau” berkembang. Lha daya beli ajah ancur-ancuran gara-gara BBM, masak masih nekat juga untuk barang konsumsi dipajakkin juga..? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nonton film dipajak, beli kaset dipajak, beli hape dipajak, beli buku dipajak, beli baju dipajak..yang gak dipajak apaan? Cuman ketawa doank jangan-jangan besok dipajak..! Jadi musuh pemain industri kreatif itu ya BAJAK dan PAJAK…!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">:shock:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(*masih terbelalak gak percaya..*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Udah deh Mas…kaliatannya hari ini gak ada maling, kuntilanak apalagi koruptor lewat dan nyatronin kampung kite..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mendingan kite pulang aja yuk.. Udah mau subuh nih.. mending besok ajah kita lanjut lagi Mas..<span> </span>Gw bakalan banyak baca buku, majalah, leaflet, poster, stensilan biar diskusi besok lebih rame.. Jangan kaget kalo gw bakal banyak tahu, Mas..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Emang situ ajah yang seneng ceramah dan nyerocos..? Besok kita bicara prospek Indonesia dalam Industri Kreatif ini..juga asal-usul industri ini ya Mas..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">:D</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hahaha…Sip lah..Ane seneng kalo ente semangat.</span></p>
<address><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oke deh Dul..</span></address>
<address><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ane juga pulang dulu..</span></address>
<address><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mau ngelonin <span style="text-decoration:line-through;">bini </span>bayi ane'. </span></address>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selamat pagi di hari minggu ini..!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">;)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">:D</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">sumber tulisan:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">wikipedia; harian kompas; pengalaman pribadi (*baik fiktif maupun <span style="text-decoration:line-through;">fakta </span>imajinatif*)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">:P</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">gambar diambil dari <strong>wikipedia</strong> dan <strong>pub.tv2.no</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em>Tulisan terkait sebelumnya:</em></strong></p>
<address>[+] Urusan yang <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/20/creativeindustry/">kere dan aktip</a></address>
<address>[+] Urusan paranormal yang <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/19/industri-irrasional-nusantara/">irrasional</a></address>
<address>[+] Urusan sekolah <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2007/11/08/sekolah-desain-sekolah-masa-depan/">desain yang makin ciamik</a><br />
</address>
<address></address>
<address></address>
<address></address>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">tulisan lanjutan (update 29 Juni 2008)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">tulisan terkait Industri Kreatif</span>:</p>
<p style="text-align:justify;">[+] Antara Mulan Jemela, Anggu<a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/30/antara-anggun-piyu-dan-kua-etnika/">n, Piyu..siapa lagi..? </a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] Bahasa Inggris <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/28/bahasa-inggris-sebagai-semanggi-dunia/">seperti Semanggi lho...</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] Bedanya JK Inggris <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/22/jk-rowling-vs-jk-wapres/">dan JK Indonesia</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] Acaranya <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/20/festival-bataviase-nouvelles/">Ultah Jakarta</a></p>
<p style="text-align:justify;">[+] Kreatif itu <a href="http://kopidangdut.wordpress.com/2008/06/20/creativeindustry/">kere dan aktif..?</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;">
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA['knowledge economy' dan pentingnya bahasa]]></title>
<link>http://wiryanto.wordpress.com/?p=1119</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 22:43:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>wir</dc:creator>
<guid>http://wiryanto.wordpress.com/?p=1119</guid>
<description><![CDATA[Meskipun judulnya berbahasa Inggris, tetapi isinya memakai bahasa Indonesia, itu berarti artikel ini]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun judulnya berbahasa Inggris, tetapi isinya memakai bahasa Indonesia, itu berarti artikel ini hanya disajikan bagi pembaca yang memahami bahasa tersebut. Apakah itu berarti bahwa artikel ini hanya bersifat terbatas (regional) atau bahkan tanpa batas (international) maka tentunya akan diketahui dari bahasa yang dipakainya tersebut.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Hal tentang pemakaian bahasa perlu saya ungkapkan pertama kali karena saya ingin membicarakan <em>knowledge</em> atau <em>pengetahuan</em> sebagai sarana untuk kesejahteraan (kata lain dari kegiatan ekonomi). Kenapa harus pertama, karena harus diakui bahwa untuk dapat menguasai pengetahuan (<em>knowledge</em>) maka langkah pertama adalah membekali diri dengan penguasaan bahasa. Semakin banyak bahasa yang dapat dikuasai maka semakin banyak pengetahuan yang dapat dikumpulkan (dimengerti dan dikuasai). Tanpa itu dilakukan , maka mustahil kita bisa bicara banyak tentang <em>knowledge</em> sebagai sarana memberdayakan diri.</p>
<p>Itu pula yang menyatakan mengapa bahasa dapat menjadi yang pertama harus dikuasai dibanding matematika, karena jika mulai dari bahasa maka kita dapat menguasai matematika, dan akan susah untuk mengatakan jika mulai dari matematika apakah juga bisa bahasa. Jadi <strong><span style="color:#0000ff;">belajar bahasa dan menguasainya</span></strong> adalah <span style="color:#ff0000;"><strong>pengetahuan pertama dan utama </strong></span><span style="color:#0000ff;">untuk bisa masuk dunia <em>knowledge-economy</em></span>.</p>
<p>Bayangkan saja, jika hanya berbekal bahasa Jawa (meskipun kromo inggil sekalipun) apakah layak untuk berbicara dan masuk era <em>knowledge economy</em> dunia ?</p>
<p>Ok untuk sementara ini dulu, sebagai pemanasan dalam era <em>knowledge-economy</em>. Nanti dilanjutkan.</p>
<p>Salam </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Blogging Knowledge Economy 4 British Council 2008]]></title>
<link>http://fisikarudy.wordpress.com/?p=100</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 07:06:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>rudyhilkya</dc:creator>
<guid>http://fisikarudy.wordpress.com/?p=100</guid>
<description><![CDATA[Mainstream idea Knowledge Economy what is it?
For the last two hundred years, neo-classical economic]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mainstream idea Knowledge Economy what is it?</p>
<blockquote><p><a href="http://www.enterweb.org/know.htm">For the last two hundred years, neo-classical economics has recognised only two factors of production: labour and capital. This is now changing. Information and knowledge are replacing capital and energy as the primary wealth-creating assets, just as the latter two replaced land and labor 200 years ago. In addition, technological developments in the 20th century have transformed the majority of wealth-creating work from physically-based to "knowledge-based.". Technology and knowledge are now the key factors of production. With increased mobility of information and the global work force, knowledge and expertise can be transported instantaneously around the world, and any advantage gained by one company can be eliminated by competitive improvements overnight. The only comparative advantage a company will enjoy will be its process of innovation--combining market and technology know-how with the creative talents of knowledge workers to solve a constant stream of competitive problems--and its ability to derive value from information. We are now an information society in a knowledge economy where knowledge management is essential. This page lists and rates Internet resources related to the field of knowledge based economy and knowledge management in the new information society.</a></p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge_economy">Shortly speaking, in <em>knowledge economy</em>, knowledge is a product, in <em>knowledge-based economy</em>, knowledge is a tool, what makes the essential difference. This difference is not yet well distinguished in the subject matter literature. The both are strongly interdysciplinary, and involve together economists, computer scientists, software engineers, mathematiciens, as well as cognitivists, psychologists and sociologists.</a></p>
<p><a href="http://www.esrcsocietytoday.ac.uk/ESRCInfoCentre/facts/index4.aspx"><span><span>In today's global, information-driven society, economic success is increasingly based upon the effective utilisation of intangible assets such as knowledge, skills and innovative potential as the key resources for competitive advantage. The term ‘knowledge economy’ is used to describe this emerging economic structure and represents the marked departure in the economics of the ‘information age’ from those of the twentieth century industrial era.</span></span></a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Three Minutes ]]></title>
<link>http://relentlesspr.wordpress.com/?p=133</link>
<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 02:48:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>tparcell</dc:creator>
<guid>http://relentlesspr.wordpress.com/?p=133</guid>
<description><![CDATA[I found out today that I have maybe have three minutes of your attention before you leave.  I just ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://relentlesspr.wordpress.com/files/2008/06/tparcell.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-122" src="http://relentlesspr.wordpress.com/files/2008/06/tparcell.jpg?w=72" alt="" width="72" height="96" /></a>I found out today that I have maybe have three minutes of your attention before you leave.  I just I hope I make it worth your valuable time.</p>
<p>According to a <a href="http://www.businessweek.com/magazine/content/08_25/b4089055162244.htm">BusinessWeek article</a>, the average knowledge worker switches to a different task in that period of time, <a href="http://twitter.com/freescribbles">tweeting</a>, IMing, checking email, or maybe even doing some work (if their bosses are lucky). This swap in activity costs 28% of their time and cumulatively $650 billion dollars in productivity a year.</p>
<p>With the low switching cost and the sheer amount of information to be consumed how are you supposed to manage your consumption?  Stephen Davies, of <a href="http://www.prblogger.com/2008/06/information-overload-in-the-knowledge-economy/">prblogger</a>, recommends (with a tone of sarcasm) that we just stop, don't read the latest blog post and shut down IM.  But in the knowledge economy, that is a risky gamble, you're missing out on that which makes you valuable, knowledge.</p>
<p><a href="http://www.nytimes.com/2008/06/14/technology/14email.html?_r=2&#38;adxnnl=1&#38;oref=slogin&#38;partner=rssnyt&#38;emc=rss&#38;adxnnlx=1213614955-D0eAPd7Z5PTmR3JkNkjdxw">Hope may be on the way</a>, if you don't have self-discipline, as Google, Intel, and Microsoft, are working towards to building tools to help keep the distractions at bay, like Gmail's Email Addict which pauses email for 15 minutes.</p>
<p>But, for the clever PR practitioner, there may be interesting ways to break through the Attention Deficit Disorder.  Have you thought about the <a href="http://www.pr-squared.com/2008/06/introducing_the_twitrelease.html">twitrelease?</a> What can you say in 140 characters for your client?</p>
<p><em>(cross-posted with <a href="http://freescribbles.com">freescribbles</a>)<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yahoo+Google=Lack of Competition]]></title>
<link>http://adamsmith.wordpress.com/?p=1087</link>
<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 00:36:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>adamsmith1922</dc:creator>
<guid>http://adamsmith.wordpress.com/?p=1087</guid>
<description><![CDATA[ Scoopit!
Yahoo has done a deal with Google, to stave off falling into the clutches of Microsoft.
Ad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.scoopit.co.nz/submit.php?url=http://www.adamsmith.wordpress.com/2008/06/14/1087/"><img alt="" /> <strong>Scoopit!</strong></a></p>
<p>Yahoo has done a deal with Google, to stave off falling into the clutches of Microsoft.</p>
<p>Adam, who has no financial interest of any sort in any of the players, thinks this is a bad thing for a number of reasons including:-</p>
<ul>
<li>increased market domination by Google</li>
<li>loss of valueover time for Yahoo shareholders</li>
<li>smacking of an ego trip for Jerry Yang, Yahoo founder.</li>
</ul>
<p>Adam was therefore pleased to read this in an FT editorial:-</p>
<blockquote><p><em>The current saga began when Microsoft approached Yahoo about a takeover, with the goal of creating a stronger competitor to Google. The two sides, however, could not agree on price and, left stranded as an independent company, Yahoo has done a deal with Google to shore up its position. That deal will mean that Google advertisements appear alongside some of Yahoo’s search results in the US and Canada.</em></p>
<p><em>Why this is better for Yahoo shareholders than a sale to Microsoft at a generous premium is something that Jerry Yang, Yahoo’s chief executive, has failed to explain. He has, in effect, conceded that Yahoo needs a partner but failed to extract a price in return.</em></p></blockquote>
<p>Hear, hear. Yang should be ousted. he and Yahoo are not performing, let the boys from Redmond have a go! Adam has no love for either Microsoft or Google, but he thinks Google needs a major challenger and has had it all it's way for too long.</p>
<p>The FT concludes:-</p>
<blockquote><p><em>There is also an important distin­ction between the market for web searches and the market for advertisements alongside them. Google’s search advertising system becomes harder to challenge the more other sites adopt it. To allow Google to serve all the adverts, even if the search sites themselves remain competitive, would be like allowing one company to sell the advertisements in every newspaper. This deal brings that closer, it stifles competition and it should be stopped</em></p></blockquote>
<p>It is hard to avoid the conclusion that many allow Google to do things because they are against Microsoft. This is silly, both companies are behemoths which need watching.</p>
<p>The links below are from the editorial to other FT articles on this topic, some may require registration, and/or payment, for example the Lex item.</p>
<div id="floating-con">
<div class="nav-collection clearfix">
<h3 class="section" style="text-align:center;"><span>FT EDITOR’S CHOICE</span></h3>
<div class="clearfix">
<h4><a href="http://www.ft.com/cms/s/0/ac4c7718-3973-11dd-90d7-0000779fd2ac.html">Google-Yahoo ad deal faces intense scrutiny</a><span class="pub-date"> - Jun-13</span></h4>
</div>
<div class="clearfix">
<h4><a href="http://www.ft.com/cms/s/2/10ac814a-394b-11dd-90d7-0000779fd2ac.html">Lex: Yahoo and Microsoft</a><span class="pub-date"> - Jun-13</span></h4>
</div>
<div class="clearfix">
<h4><a href="http://www.ft.com/indepth/microsoftyahoo">In depth: Battle for Yahoo</a><span class="pub-date"> - Jun-13</span></h4>
</div>
<div class="clearfix">
<h4><a href="http://www.ft.com/cms/s/0/9c75e9b6-38b3-11dd-8aed-0000779fd2ac.html">Yahoo in search deal with Google </a><span class="pub-date"> - Jun-13</span></h4>
</div>
<div class="clearfix">
<h4><a href="http://blogs.ft.com/techblog/2008/06/google-a-wolf-in-sheeps-clothing/">Tech blog: Google, a wolf in sheep’s clothing?</a><span class="pub-date"> - Jun-13</span></h4>
</div>
<div class="clearfix">
<h4><a href="http://www.ft.com/cms/s/0/7b25bd08-38d7-11dd-8aed-0000779fd2ac.html">Yahoo put in tight position with Google deal </a><span class="pub-date"> - Jun-13</span></h4>
<p style="text-align:center;"><strong>***************************</strong></p>
<p style="text-align:center;">
</div>
</div>
</div>
<p><a href="http://www.scoopit.co.nz/submit.php?url=http://www.adamsmith.wordpress.com/2008/06/14/1087/"><img alt="" /> <strong>Scoopit!</strong></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Platform Takes Technology.  Check.]]></title>
<link>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=72</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 04:44:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>rfarnswo</dc:creator>
<guid>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=72</guid>
<description><![CDATA[Great post by Seth Godin this week on the network&#8217;s emergence as the platform for communicatio]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Great post by Seth Godin this week on the network's emergence as the platform for communication.  He discusses the platform issue in parable, <a title="Seth Godin - Do you own trees" href="http://sethgodin.typepad.com/seths_blog/2008/06/do-you-own-tree.html" target="_blank">talking about how some in the publishing industries are acting as if they own tree plantations or printing plants</a> instead of embracing the fastest growing and highest margin segments of the communication business.</p>
<p>You can always tell when a platform transition is progressing -- just look for the redistribution of profit centers within the ecosystem.  Seth talks about the shift from print to online media, or e-book, and highlights the industry's defense of the wholesale slaughter of trees to make a poignant point, but he then shines a light on the real transition:</p>
<blockquote><p>"Of course, there are trees in your business too. There are trees in the photography business (chemicals) and in the music business (plastic) and even in the personal computer business (computers). They may not be called trees, but they're there."</p></blockquote>
<p>In each case he cites, the network is redefining how the ecosystem creates wealth and satisfies markets.</p>
<p>When was the last time you handed out a paper print of your favorite digital photograph?  Or even copied it to a flash drive or CD for someone?</p>
<p>Right.  We use photo sharing applications and the <em>network</em> to distribute photos now, the <em>network</em> to distribute music and even the <em>network</em> to collaborate on application-based tasks.</p>
<p>After all, like my parents always said, money doesn't grow on trees.</p>
<p>Roger W. Farnsworth</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Changing higher education and the claimed educational paradigm shift – sobering up educational optimism with some sociological scepticism]]></title>
<link>http://globalhighered.wordpress.com/?p=653</link>
<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 18:15:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>edslr</dc:creator>
<guid>http://globalhighered.wordpress.com/?p=653</guid>
<description><![CDATA[If there is a consensus on the recognition that higher education governance and organization are bei]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>If there is a consensus on the recognition that higher education governance and organization are being transformed, the same does not occur with regard to the impact of that transformation on the 'educational' dimension of higher education.</p>
<p>Under the traveling influence of the diverse versions of New Public Management (NPM), European public sectors are being molded by market-like and client-driven perspectives. Continental higher education is no exception. Austria and Portugal, to mention only these two countries, have recently re-organized their higher education system explicitly under this perspective. The basic assumptions are that the more autonomous institutions are, the more responsive they are to changes in their organizational environment, and that academic collegial governance must be replaced by managerial expertise.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-656 aligncenter" src="http://globalhighered.wordpress.com/files/2008/06/europe-1.jpg?w=300" alt="" width="478" height="81" /></p>
<p>Simultaneously, the EU is enforcing discourses and <a href="http://www.bologna-bergen2005.no/Docs/02-EU/030205ROLS_UNIS.PDF">developing policies</a> based on the competitive advantages of a ‘Europe of knowledge’. ‘Knowledge societies’ appear as depending on the production of new knowledge, its transmission through education and training, its dissemination through ICT, and on its use through new industrial processes and services.</p>
<p>By means of ‘soft instruments’ [such as the <a href="http://ec.europa.eu/education/policies/educ/eqf/index_en.html">European Qualification Framework</a> (EQF) and the Tuning I and II projects (see <a href="http://www.tuning.unideusto.org/tuningeu/index.php?option=content&#38;task=view&#38;id=173&#38;Itemid=209">here</a> and <a href="http://tuning.unideusto.org/tuningeu/images/stories/archivos/TLA%20PARA%20LA%20PAGINA.pdf">here</a>),  the EU is inducing an educational turn or, as some argue, an emergent educational paradigm. The educational concepts of 'learning', 'knowledge', 'skills', 'competences', 'learning outcomes' and 'qualifications',  re-emerge in the framework of the EHEA this time as core educational perspectives. <a href="http://globalhighered.files.wordpress.com/2008/06/tuning-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-654" src="http://globalhighered.wordpress.com/files/2008/06/tuning-2.jpg?w=300" alt="" width="300" height="84" /></a></p>
<p>From the analysis of the documents of the European Commission and its diverse agencies and bodies, one can see that a central educational role is now attributed to the concept of ‘learning outcomes’ and to the 'competences' students are supposed to possess in the end of the learning process.</p>
<p>In this respect, the EQF is central to advancing the envisaged educational change. It claims to provide common reference levels on how to describe learning, from basic skills up to the PhD level. The 2007 European Parliament <a href="http://www.europarl.europa.eu/sides/getDoc.do?pubRef=-//EP//TEXT+TA+P6-TA-2007-0463+0+DOC+XML+V0//EN">recommendation</a> defines “competence” as the proven ability to use knowledge, skills and personal, social and/or methodological abilities, in work or study situations and in professional and personal development”.</p>
<p>The shift from 'knowledge content' as the organizer of learning to 'competences', with a focus on the capacity to use knowledge(s) to know and to act technically, socially and morally, moves the role of knowledge from one where it is a formative process based on ‘traditional’ approaches to subjects and mastery of content, to one where the primary interest is in the learner achieving as an outcome of the learning process. In this new model, knowledge content is mediated by competences and translated into learning outcomes, linking together ‘understanding’, ‘skills’ and ‘abilities’.  <a href="http://globalhighered.files.wordpress.com/2008/06/tuning-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-655" src="http://globalhighered.wordpress.com/files/2008/06/tuning-1.jpg?w=300" alt="" width="408" height="396" /></a></p>
<p>However, the issue of knowledge content is passed over and left aside, as if the educational goal of competence building can be assigned without discussion about the need to develop procedural competencies based more on content rather than on ‘learning styles’. Indeed it can be argued that the knowledge content carried out in the process of competence building is somehow neutralized in its educational role.</p>
<p>In higher education, “where learning outcomes are considered as essential elements of ongoing reforms” (<a href="http://www.tsu.ge/qa/doc/eqf.pdf">CEC: 8),</a> there are not many data sources available on the educational impact of the implementation of competence-based perspectives in higher education. And while it is too early to draw conclusions about the real impact on higher education students' experiences of the so called ‘paradigm shift’ in higher education brought by the implementation of the competence-based educational approach, the analysis of the educational concepts is, nonetheless,  an interesting starting point.</p>
<p>The founding educational idea of Western higher education was based on the transforming potential of knowledge both at the individual and social level. Educational categories (teaching, learning, students, professors, classes, etc.) were grounded in the formative role attributed to knowledge, and so were the curriculum and the teaching and learning processes. Reconfiguring the educational role of knowledge from its once formative role in mobilizing  the potential to act socially (in particular in the world of work), induces important changes in educational categories.</p>
<p>As higher education institutions are held to be sensitive and responsive to social and economic change, the need to design ‘learning outcomes’ on the ‘basis of internal and external stakeholders’ perceptions (as we see with Tuning: 1) grows in proportion. The ‘student’ appears simultaneously as an internal stakeholder, a client of educational services, a person moving from education to labor market and a ‘learner’ of competences. The professor, rather than vanishing, is being reinvented as a provider of learning opportunities. Illuminated by the new educational paradigm and pushed by the diktat of efficiency in a context of mass higher education, he/she is no more the ‘center’ of knowledge flux and delivery but the provider of learning opportunities for ‘learners’. Moreover, as an academic, he/she is giving up his/her ultimate responsibility to exercise quality judgments on teaching-learning processes in favor of managerial expertise on that.</p>
<p>As ‘learning outcomes’ are what a learner is expected to know, understand and/or be able to demonstrate on completion of learning, and given these can be represented by indicators, assessment of the educational process can move from inside to outside higher education institutions to assessment by evaluation technicians. With regard to the lecture theater as the educational locus par excellence, ICT instruments and ideographs de-localize classes to the ether of 'www', 'face-to-face' teaching-learning being a minor proportion of the ‘learner’ activities. E-learning is not the ‘death’ of the professor but his/her metamorphosis into a ‘learning monitor’. Additionally, the rise of virtual campuses introduce a new kind of academic life whose educational consequences are still to be identified.</p>
<p>The learner-centered model that is emerging has the educational potential foreseen by many educationalists (e.g. John Dewey, Paulo Freire, Ivan Illich, among others) to deal with the needs of post-industrial societies and with new forms of citizenship. The emerging educational paradigm promises a lot: the empowerment of the student, the enhancement of his/her capacity and responsibility to express his/her difference, the enhancement of team work, the mutual help, learning by doing, etc.</p>
<p>One might underline the emancipatory potential that this perspective assumes - and some educationalists are quite optimist about it. However, education does not occur in a social vacuum, as some sociologists rightly point out. In a context where HEIs are increasingly assuming the features of ‘complete organizations’ and where knowledge is indicated as the major competitive factor in the world-wide economy, educational optimism should/must be sobered up with some sociological scepticism.</p>
<p>In fact the risk is that knowledge, by evolving away from a central ‘formative’ input to a series of competencies, may simply pass – like money - through the individuals without transforming them (see the work of <a href="http://www.amazon.com/Pedagogy-Symbolic-Control-Identity-Bernstein/dp/084769576X/ref=pd_bbs_2?ie=UTF8&#38;s=books&#38;qid=1212344920&#38;sr=8-2">Basil Bernstein</a> for an elaboration of this idea). By easing the frontiers between the academic and work competencies,  and between education and training, higher education runs the risk of sacrificing too much to the gods of relevance, to (short term) labor market needs. Contemporary labor markets require competencies that are supposed to be easily recognized by the employers and with the potential of being continuously reformed. The educational risk is that of reducing the formation of the ‘critical self’ of the student to the ‘corporate self’ of the learner.</p>
<p>António M. Magalhães</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Knowledge Economy? Apaan Tuh ya?]]></title>
<link>http://tommybernadus.wordpress.com/?p=26</link>
<pubDate>Fri, 23 May 2008 14:42:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>tommybernadus</dc:creator>
<guid>http://tommybernadus.wordpress.com/?p=26</guid>
<description><![CDATA[Knowledge Economy ? Sesuatu istilah yang memang agak asing terdengar di telinga kita? Karena itu kem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Knowledge Economy ? Sesuatu istilah yang memang agak asing terdengar di telinga kita? Karena itu kemudia saya iseng mencari istilah tersebut di search engine seperti google dan yahoo. Hasil pencarian mengarahkan saya ke wikipedia.</p>
<p>Di wikipedia, tertera istilah ini adalah ekonomi yang berbasis pengetahuan. Lebih lanjut lagi, untuk sesuatu yang lebih familiar, istilah ini mengarah ke penggunaan pengetahuan untuk menghasilkan manfaat ekonomi.</p>
<p>Wow, sebuah pengetahuan yang baru bagi saya. Jujur saja, di negara kita, Indonesia, ekonomi memang dijalankan belum banyak menggunakan pengetahuan. Terutama bisnis atau dunia usaha yang berkaitan erat dengan dunia ekonomi, masih lebih banyak menggunakan "insting" dan parahnya lagi menggunakan "tren".</p>
<p>Tengok saja, ketika bisnis wartel booming, orang rame-rame mendirikan wartel. Sekarang ini, ketika bisnis jualan voucher ponsel sedang ramai-ramainya, hampir setiap pelosok di Jakarta atau dimana saja, ditemui kios penjualan Voucher. Minimarket seperti Alfamart, Indomaret juga tak kalah cendawan di musim penghujan. Dimana-mana ada.</p>
<p>Nah, kemudian saya berpikir, apakah mereka berbisnis, atau bikin usaha, menggunakan knowledge. Jawabannya bisa iya bisa tidak. Knowledge disini bisa melihat tren, bisa juga pengetahuan bahwa siapa saja butuh voucher HP, malas pergi jauh untuk belanja dan lain sebagainya. Tidak menggunakan pengetahuan, bisa juga iya karena sekedar ikut tren teman yang berhasil jualan voucher atau tren pasar yang ada.</p>
<p>Pengetahuan di dunia ekonomi sangatlah diperlukan. Apalagi strategi-strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Kita haruslah knowledge based, atau berbasis pengetahuan untuk berbisnis dan kalau perlu kreatif dong.</p>
<p>Tidak banyak yang bisa memasarkan barang atau produknya dengan memanfaatkan jalur internet yang menghubungkan berbagai belahan dunia tanpa batas jarak dan waktu. Banyak yang memilih menjual di pasar, lewat teman atau bagi-bagi brosur dan beriklan saja.</p>
<p>Knowledge atau pengetahuan mengenai dunia maya ini saja masih langka dan masih jarang. Hanya kalangan tertentu saja yang memanfaatkan dunia maya ini untuk berjualan.</p>
<p>Knowledge yang lain bisa juga seperti analisa pasar, atau misalnya ketika kita ingin bertani, kita bisa memanfaatkan informasi dari pasar bahwa produk atau komoditas apa yang sedang laku. Bukankah informasi ini juga diperlukan dan juga sebagai bagian dari pengetahuan?</p>
<p>Semoga saja nanti para pelaku bisnis baik skala mikro hingga besar akan menggunakan pengetahuan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Change! - Coming Soon to a Workplace Near You]]></title>
<link>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=59</link>
<pubDate>Wed, 21 May 2008 19:36:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>rfarnswo</dc:creator>
<guid>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=59</guid>
<description><![CDATA[Continuing the discussion on The Changing World of Work and What is a Knowledge Worker, I point you ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Continuing the discussion on <a title="The Changing World of Work" href="http://ciscoetl.wordpress.com/2008/05/05/the-changing-world-of-work/" target="_blank">The Changing World of Work</a> and <a title="What is a Knowledge Worker" href="http://ciscoetl.wordpress.com/2008/04/29/what-is-a-knowledge-worker/" target="_blank">What is a Knowledge Worker</a>, I point you to a presentation management consultants Ken Parekh and Mary Walker put together.  It's a nice overview of <a title="Tomorrow's Knowledge Workers" href="http://www.slideshare.net/MCW/tomorrows-knowledge-workers-the-evolving-workforce-and-the-challenge-to-us-businesses/" target="_blank">Tomorrow's Knowledge Workers: The Evolving Workforce and the Challenge to US Businesses</a>.</p>
<p>The overview does a good job of summarizing the cultural and technological trends that are driving change in the workplace, including these six:</p>
<ul>
<li>Changing family structures</li>
<li>Changing expectations of men</li>
<li>Evolving expectations of Gen X and Gen Y</li>
<li>Increasing number of women in paid work</li>
<li>Shrinking pool of skilled labor</li>
<li>Increasing impact of technology</li>
</ul>
<p>Thanks, Mary and Ken.</p>
<p>[slideshare id=416353&#38;doc=demographics-and-generations-parc-futures-workshop-30april2008-v11-1211234446975539-8&#38;w=425]</p>
<p>Roger W. Farnsworth</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Down under up top]]></title>
<link>http://macleans.wordpress.com/?p=1085</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 20:14:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Paul Wells</dc:creator>
<guid>http://macleans.wordpress.com/?p=1085</guid>
<description><![CDATA[(UPDATED: Good stuff in the comments. - pw)
Here&#8217;s a long-weekend assignment for the cruelly o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>(UPDATED: Good stuff in the comments. - pw)</p>
<p>Here's a long-weekend assignment for the cruelly overworked knowledge-economy branch of the Inkless Irregulars: I'd appreciate a comparison between <a href="http://chronicle.com/news/article/4497/australia-nearly-doubles-endowment-for-university-infrastructure" target="_blank">this</a> ambitious announcement from Australia and similar efforts in Canada over the past decade.</p>
<h3><span style="color:#800000;">Australia Nearly Doubles Endowment for University Infrastructure</span></h3>
<p><span style="color:#800000;">Australian universities received a windfall this week when the government announced that it would nearly double the higher-education infrastructure endowment, to $11-billion (Australian), the newspaper <a href="https://webmail.rci.rogers.com/exchweb/bin/redir.asp?URL=http://www.theaustralian.news.com.au/story/0,25197,23694952-12332,00.html" target="_blank"> <em>The Australian</em></a> reported. The amount equals about $10.5-billion (U.S.)</span></p>
<p><span style="color:#800000;">The increase fulfilled a campaign promise by Australia’s recently-elected prime minister, Kevin Rudd, to invest substantially in education. In making the announcement, Education Minister Julia Gillard said the fund was intended to help universities rebuild their campus infrastructure after 11 years “government neglect” under the previous prime minister.</span><!--more--></p>
<p><span style="color:#800000;">Academics have in the past complained that cutbacks in education spending were hurting Australia’s competitiveness.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">The government also announced several other changes that it hopes will encourage science research. New students entering math and science programs will pay practically no tuition. A thousand mid-career Australian and international researchers will be awarded fellowships. And the number of Commonwealth scholarships for undergraduates will double, to 88,000, over the next four years.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Carolyn Allport, president of the National Tertiary Education Union, said the amount allocated for higher education exceeded her expectations.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">“The education revolution has started,” she said.</span></p>
<p>Poignant final sentence, that.</p>
<p>Also: At <em>any</em> point over the next several months, if <em>any</em> researcher in any field develops concrete plans to leave Canada for Australia because of these policy changes, I'd love to hear from you.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Knowledge pull]]></title>
<link>http://decisiondriven.wordpress.com/?p=159</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 15:08:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>decisiondriven</dc:creator>
<guid>http://decisiondriven.wordpress.com/?p=159</guid>
<description><![CDATA[We live an increasingly knowledge-centric world.  Every year products get smarter; but those who us]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>We live an increasingly knowledge-centric world.  Every year products get smarter; but those who use them - <strong><em>NOT SO MUCH</em></strong>.</p>
<p>I think decision patterns will be the next great leap ahead in both smarter products and smarter users.   Once a decision pattern for any type of situation has been created and proven through a few learning cycles, it can be made available to users in a way that creates a knowledge pull.  There are plenty of resources available to help folks find information, but most individuals don't really have a big picture view of what information they need.  A proven decision pattern provides this in the form of well-framed decisions (fundamental questions that demand an answer or solution) and criteria (measures of effectiveness that should be considered when evaluating alternatives).  Those are the most stable and valuable bits of knowledge within any forward-looking (future-creating) situation.  All other knowledge fits into the context of this framework; just begs to be filled in and used to move ahead.</p>
<p>The possibilities are endless ...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Changing World of Work]]></title>
<link>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=53</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 14:07:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>ciscoetl</dc:creator>
<guid>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=53</guid>
<description><![CDATA[I spoke a bit about the changing complexion of the workplace in an online article on bMighty.com tha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I spoke a bit about the changing complexion of the workplace in an online article on bMighty.com that was highlighted in a <a title="Generation Collaboration" href="http://ciscoetl.wordpress.com/2008/03/17/generation-collaboration/" target="_blank">previous blog entry</a>.  The larger sense of connectedness that we are all experiencing as the network emerges as the platform is literally transforming the components of the personal/corporate/social equilibrium.</p>
<p>In his book, <em><a title="The Future of Work" href="http://ccs.mit.edu/futureofwork/" target="_blank">The Future of Work</a></em>, Tom Malone speaks to the drastic changes that are likely to effect the workplace of the future as the democratisation of information opens up new, market-based opportunities for individuals to contribute to organisations and more distributed decision making begins to take hold.  Despite the potential for some disruptive transformation, the overall message is positive -- workers in the future are likely to be much more participative in shaping business processes.</p>
<p>Now, a recent report by the Chartered Management Institute entitled <a title="Management Futures - The World in 2018" href="http://www.managers.org.uk/listing_1.aspx?id=10:106&#38;id=10:9&#38;doc=10:5138" target="_blank"><em>Management Futures - The World in 2018</em></a> describes some colorful scenarios that we might see 10 years in the future.  Some of these results were covered in an article in the <a title="Say Goodbye to the 9 to 5" href="http://www.guardian.co.uk/money/2008/mar/14/workandcareers.worklifebalance" target="_blank">Guardian</a>:</p>
<blockquote><p>The institute put findings from the report to more than 1,000 senior executives. It found 74% expected "virtual teams of employees", working at a distance from each other, to become the norm by 2018.</p>
<p>About 64% thought talented people would become "multi-employed," 59% said job hopping would be commonplace and 56% said most routine tasks would be automated.</p>
<p>Two-thirds of the executives expected global corporations to exert more influence than governments. Almost as many forecast an increase in customer participation in business decisions and the creation of products with longer life cycles to meet environmental concerns.</p></blockquote>
<p>The report recognises the need for employees and employers to come to terms with the realities of a world under pressure for scarce resources, an aging population and the increasing visibility of their actions.  Changes in lifestyle, work habits and even the nature of employment itself is likely to evolve radically.</p>
<p>Clearly we're in for a world of changes.  What opportunities are you looking forward to seeing and what are you most concerned about?</p>
<p>Roger W. Farnsworth</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[What is a Knowledge Worker?]]></title>
<link>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=51</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 06:47:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>ciscoetl</dc:creator>
<guid>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=51</guid>
<description><![CDATA[Stephen Collins of acidlabs has put together a pretty sporty presentation that addresses the challen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Stephen Collins of acidlabs has put together a pretty sporty presentation that addresses the challenges facing knowledge workers as we transition to a networked knowledge economy. In it he calls for attention to <strong>people, tools and process</strong> to unlock the potential of the organisation.</p>
<p>[slideshare id=92049&#38;doc=knowledge-worker-20562&#38;w=425]</p>
<p>A couple of weeks ago, <a title="Ray Sims on KM" href="http://blog.simslearningconnections.com/wp-trackback.php?p=309" target="_blank">Ray Sims posted a presentation on knowledge management</a> that used understandable metaphors to stimulate my thinking.  It's interesting to think of knowledge as water and contemplate the way it flows; however, I  really like the knowledge as love metaphor.  It made me think of the .38 Special song from the 80s, <em>Hold On Loosely</em>.  It's only when sharing knowledge that we ultimately benefit from it.</p>
<p>He also boiled down the four greatest opportunities of this shift we're seeing:</p>
<ul>
<li>Increased social capital</li>
<li>Increased innovation</li>
<li>Improved decision making</li>
<li>Improved efficiency</li>
</ul>
<p>I've seen all of these items on corporate wish lists; it looks like we might be headed in the right direction.</p>
<p>Roger W. Farnsworth</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Typology of ICT Users: A Pew Center Survey]]></title>
<link>http://adamsmith.wordpress.com/?p=478</link>
<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 21:54:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>adamsmith1922</dc:creator>
<guid>http://adamsmith.wordpress.com/?p=478</guid>
<description><![CDATA[While doing some research on a project Adam came across this survey from the Pew Research Center in ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>While doing some research on a project Adam came across this survey from the Pew Research Center in the USA on Internet usage.  Out of curiosity he took it.</p>
<p>He thinks some of his readers might find it interesting to do the same.</p>
<p><a href="http://www.pewinternet.org/quiz/quiz.asp" target="_blank">The Link</a> is here'</p>
<p>As the introductory paragraph to the survey says:-</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Do you cringe when your cell phone rings? Do you suffer from withdrawal when you can't check your Blackberry? Do you rush to post your vacation video to your Web site? The questions below allow you to place yourself in one of the categories in the Pew Internet Project's Typology of Information and Communication Technology Users. To identify the typology group to which you belong, please answer the questions below. When you press the 'Calculate My Results' button, a new page will tell you in which group you fit, along with a description of the general characteristics of that group</em></p>
<p>Enjoy!</p>
<p>If nothing else it is a bit of fun.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Study in Canada. No, really. ]]></title>
<link>http://macleans.wordpress.com/?p=435</link>
<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 03:09:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Paul Wells</dc:creator>
<guid>http://macleans.wordpress.com/?p=435</guid>
<description><![CDATA[I don&#8217;t know how many RCMP officers Diane Finley had around her last week when she made it rad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I don't know how many RCMP officers Diane Finley had around her last week when she <a href="http://www.canadavisa.com/post-graduation-work-permit-program.html">made it radically easier for international students to work in Canada after they complete their studies</a>, but perhaps we could divert some of our attention from the police escort to the minister's announcement itself. The <em>Globe</em> paid <a href="http://www.theglobeandmail.com/servlet/story/RTGAM.20080422.wbcimmi22/BNStory/National/home">attention</a>,  as <a href="http://www.canada.com/windsorstar/news/story.html?id=a37701ca-6f03-4259-b4ff-22e9241ca090&#38;k=58516">did</a> the <em>Windsor Star</em>. Reactions in those articles were quite a bit more enthusiastic than most of the reviews we've read lately of the Harper government. "This will put Canada ahead every other country in the world," said the woman who looks after international students at UBC, while her counterpart at the University of Windsor said: "It is one of the biggest steps forward in immigration regulations in the last 10 years. All my students were jumping for joy as soon as they got the news."</p>
<p>Certainly, Finley's work-visa regime is <em>far</em> more ambitious than the one Joe Volpe <a href="http://www.mcgill.ca/reporter/37/16/international-students/">introduced</a> three years ago, which put most of its benefits out of the hands of students in Canada's three largest cities -- that is, out of the hands of most international students. In a hotly competitive global market for educational services to highly-mobile international students, where other countries are <a href="http://www.hindustantimes.com/StoryPage/StoryPage.aspx?id=ddc6c5ea-f741-4be4-bdb0-ca58efb921c4&#38;&#38;Headline=Indian+students+to+get+right+to+work+in+Australia">sweetening their policies</a> all the time to attract more immigrant students, Volpe's restrictions were boneheaded. Finley's relaxation of work-permit access has <a href="http://www.indiaedunews.net/In%2Dfocus/April%5F2008/Canada%5Fmoves%5Fin%5Fto%5Flure%5FIndian%5Fstudents%5F4106/">already</a> received <a href="http://economictimes.indiatimes.com/News_by_Industry/Canada_unveils_new_work_permit_scheme_to_lure_students/articleshow/2982116.cms">attention</a> in India.</p>
<p>We have said it before: bright kids can study anywhere in the world, and the most adventurous will. If they stay in Canada after their studies they become highly productive immigrants who already have begun to build the social networks and the familiarity with Canadian society that sometimes elude other newcomers. If they go back home, they will be Canada's goodwill ambassadors for life. Finley's other policies have come in for criticism, but this one is bold and smart.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Benefits of Slacking]]></title>
<link>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=47</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 16:15:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>ciscoetl</dc:creator>
<guid>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=47</guid>
<description><![CDATA[One of our research partners, Erik Brynjolfsson at The Center for Digital Business at MIT, has been ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>One of our research partners, <a title="Erik Bio" href="http://digital.mit.edu/erik/" target="_blank">Erik Brynjolfsson</a> at The <a title="CDB at MIT" href="http://digital.mit.edu/" target="_blank">Center for Digital Business at MIT</a>, has been working on some interesting research for the last few years, and his <a title="Measuring the Impact of Electronic Data Management on Information Worker Productivity" href="http://ebusiness.mit.edu/research/Briefs/Brynjolfsson_Measuing_Impact_Electronic_Data.pdf" target="_blank">latest published findings</a> continue to shed light on the role that information technology has in shaping knowledge worker productivity.</p>
<p>Erik and his team were able to empirically measure the impact of technology on task-level work in an information-centric work environment and really dig into the nuts and bolts of the productivity puzzle.</p>
<p>One finding that jumped out was their observation that information technology enhancements created “IT-enabled slack” as processes were improved. As a world-class slacker through most of school, I liked the sound of that.</p>
<p>The report says that as IT improvements were introduced in the study environments the researchers were able to measure small changes in the component processes of the workers tasks. The resulting process optimisation created "slack" that allowed information workers to spend more time on value-adding communication activities, which led directly to productivity and performance improvements, and also gave them more personal time relaxing and resting at work or at home.</p>
<p>More overall productivity <em>and</em> more downtime? Sign me up!</p>
<p>Roger W. Farnsworth</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A Vision for New Zealand:The beginnings of hope - John Key at the WRCC]]></title>
<link>http://adamsmith.wordpress.com/?p=447</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 08:00:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>adamsmith1922</dc:creator>
<guid>http://adamsmith.wordpress.com/?p=447</guid>
<description><![CDATA[Well now, eating for the blogosphere.  An interesting concept. Queen Bee seems to have her/his infor]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#333333;">Well now, <a href="http://wellingtonhive.blogspot.com/2008/04/nationals-broadband-policy.html" target="_blank">eating for the blogosphere</a>.  An interesting concept. Queen Bee seems to have her/his informants everywhere.  Adam could be slimmer, could not we all. Yes, Adam has a sense of humour.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Adam notes the postings, on this matter, by <a href="http://www.kiwiblog.co.nz/2008/04/nationals_15_billion_fibre_to_the_home_plan.html" target="_blank">David Farrar </a>and <a href="http://www.drury.net.nz/2008/04/22/nationals-broadband-plan/" target="_blank">Rod Drury</a>.  If you want to read John Key's speech you can get it<a href="http://www.scoop.co.nz/stories/PA0804/S00523.htm" target="_blank"> here</a>.  These were all referenced in this posting by <a href="http://wellingtonhive.blogspot.com/2008/04/nationals-broadband-policy.html" target="_blank">The Hive</a>.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Well, as the old-fashioned MSM used to say,  your faithful correspondent was at the WRCC lunch where John Key announced National's broadband policy.</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Valiantly, Adam ate his way through the food in order to listen to the big announcement.  Fortunately, it was not the traditional rubber chicken, but slightly tough lamb rump.  The wine was acceptable, but not great.  The waiters/waitresses at Icon at Te Papa could do better.</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Although organised by a business group, it was not a partisan event.  The WRCC, contrary to what many may think is not like that.</span></p>
<p>Adam had gone to this lunch with no great expectations. The WRCC had arranged the function at short notice.</p>
<p>Adam thought it was a good idea to listen to Key as Phil Goff is speaking to WRCC on Wednesday. If anything, Adam thought Key might be talking about trade.</p>
<p>To date, Adam was of the view that Key was likely to be a major player in the election, indeed he hoped Key would be the next PM, but he did not think Key had a vision for NZ.  He thought that both Clark and Key were politicians who did not do the <em>'vision thing'</em>.</p>
<p>Well, Adam admits to being very surprised. For an old cynic he was taken aback.</p>
<p>Others may see it differently, but to Adam, John Key came across as sincere and determined to ensure that New Zealand prospers and grows. In fact Adam thought he perceived that Key has a vision for New Zealand.</p>
<p>Now the nuts and bolts of the policy that Key announced need to be looked at. Further, we need to understand precisely what the amount of spend proposed will buy.  It will be essential that when delivered the access cost is small, so that maximum uptake is achieved. Maximum competition for providers across the utility that is the network should be a pre-requisite so as to enable a proliferation of services.</p>
<p>The concept of fibre to the home is visionary, indeed from a politician it might even be termed revolutionary in the context of what it means, in a New Zealand context.</p>
<p>It will enable us to focus on moving to the knowledge based, weightless economy to use David Skilling's concept.</p>
<p>Furthermore, it will enable NZ to move a long way to sustainability and reduced carbon  footprint as a nation.</p>
<p>For the first time, it was clear to Adam that Key is focussed on not just the aspiration of increasing our productivity and national wealth, but on actually providing the means to make it happen.</p>
<p><strong>Forget the precise content of what Key said, it was the vision that he set out and the underlying passion that he conveyed that took Adam by surprise and really made him determined to support Key, in his bid to win the election.</strong></p>
<p>Adam has included in this post the You Tube video posted by John Key, it will be interesting to see if people really have the ability to grasp the scale of the step change that is proposed.  This is not about just improving home entertainment options, but the entire way in which we approach the world.</p>
<p style="text-align:center;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/JRsyuW_if3c'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/JRsyuW_if3c&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Are You Passionate About the Future?]]></title>
<link>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=45</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 01:12:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>ciscoetl</dc:creator>
<guid>http://ciscoetl.wordpress.com/?p=45</guid>
<description><![CDATA[I continue to find reasons to be excited about the future.  Despite the challenges that face us as a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I continue to find reasons to be excited about the future.  Despite the challenges that face us as a planet, there is a lot to be optimistic about.</p>
<p><a title="Making the World A Billion Times Better" href="http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2008/04/11/AR2008041103326.html" target="_blank">Ray Kurzweil had a great column in the Washington Post</a> last week where he pointed to the famous and exponential progress that information technology has made since the late 1800s.  Through great periods of uncertainty, the inexorable march of technology has unlocked the solutions to each challenge we've faced.</p>
<p>In his article