<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>katholik &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/katholik/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "katholik"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 02:48:04 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Artikel Rohani]]></title>
<link>http://menjelajahduniamaya.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 14:16:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>menjelajahduniamaya</dc:creator>
<guid>http://menjelajahduniamaya.wordpress.com/2008/10/07/artikel-rohani/</guid>
<description><![CDATA[ABAD YANG BODOH

oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG

Abad 20 ini saya sebut sebagai abad yang sangat bodoh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="background:#ffff66 none repeat scroll 0;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:20.5pt;font-family:Verdana;color:#663366;">ABAD YANG BODOH</span></strong><strong><span style="font-size:20.5pt;font-family:Verdana;color:#663366;"><br />
</span></strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:&#34;color:#881100;"><br />
</span><span style="font-size:15pt;font-family:Arial;color:#339999;">oleh : <strong><span style="font-family:Arial;">Pdt. DR. STEPHEN TONG</span></strong></span><span style="font-size:11.5pt;font-family:&#34;color:#881100;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#ffff66 none repeat scroll 0;margin-bottom:12pt;line-height:18pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&#34;color:#881100;"></p>
<p>Abad 20 ini saya sebut sebagai abad yang sangat bodoh, <em><span style="font-family:&#34;">a very stupid century</span></em>. Saya tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan ini sebelum menganalisa kepada paruh terakhir abad ini. Abad 20 dianggap oleh umum sebagai abad yang paling maju. Seperti yang kita lihat, perkembangan teknologi dan ilmu amat maju dengan pesat, lebih luas, lebih mendalam dan lebih konkrit dalam 94 tahun terakhir ini.</p>
<p>Di sepanjang sejarah sejak abad Masehi sampai akhir abad 19 perkembangan teknologi dan ilmu tidak bisa dibandingkan dengan 94 tahun terakhir ini. Kalau mata kita hanya tertuju kepada fenomena ini, kita akan tertipu dan tidak dapat melihat kepada esensi yang lebih dalam. Orang yang ditipu secara fenomena, hanya melihat lahiriah belaka. Orang yang bijak mau menembus ke dalam esensi yang sesungguhnya.</p>
<p>Abad 20 dimulai dengan optimisme yang naif dan diakhiri dengan optimisme yang naif pula. Pada awal abad 20 manusia sedang bermimpi dan membayangkan hari depan yang cerah dan kesuksesan yang mungkin dicapai manusia melalui potensi yang ada pada dirinya. Tetapi apa yang diimpikan itu di dalam beberapa belas tahun kemudian mulai disadari terlalu naif. Mengapa demikian? Sebab waktu itu manusia sedang menaruh pengharapan yang begitu besar terhadap ideologi-ideologi yang diajarkan pada abad 19.</p>
<p>Di dalam sejarah filsafat, abad 19 disebut sebagai the age of ideology dan abad 20 disebut the age of analyze. Abad iman, abad kepercayaan, abad rasio, abad pencerahan, abad ideologi dan abad analisa. Tapi saya lebih suka mengatakan abad di mana kita hidup sekarang ini bukan abad analisa, melainkan abad yang bodoh.</p>
<p>Pada permulaan abad 20 manusia begitu yakin yang ditemukan ideologi dan sistem pikiran abad 19. Lalu mereka menganggap itulah kebenaran. Apalagi Imanuel Kant telah mengatakan bahwa dunia mulai dewasa. Kalimat telah menjadi sumber inspirasi bagi Agust Comte (bapak Positivisme) yang mengatakan bahwa manusia yang sudah matang dan dewasa berada di dalam era scientific. Maka abad 20 manusia dengan optimis menuju kepada penemuan-penemuan scientific dan segala penguraian yang main kompleks, makin rumit dan makin sempurna dalam segala bidang. Jika kita melihat apa yang dicari dan dituntut oleh ilmuwan dan filsuf, politikus, dan sosiolog pada permulaan abad 20 semua mempunyai warna yang sama, mereka percaya dunia ini maju terus berdasarkan sodoran pikiran evolusi. Evolusi telah menjadi suatu induk pengaruh yang penetrasi ke dalam 4 bidang besar:<br />
1. Sejarah dan proses waktu.<br />
2. Teologi.<br />
Bahkan teolog-teolog yang tidak lagi beriman ketat kepada kitab suci berdasarkan Reformasi menganggap Allahlah yang memimpin proses evolusi, Allah memakai evolusi di dalam menciptakan dunia ini. Ini disebut Theistic Evolution.<br />
3. Sosiologi dan ekonomi.<br />
Menurut Hegel seluruh dunia ini berada di dalam metoda dialektik. Dialektikal materialisme yang dikemukakan oleh Hegel (guru besar Karl Marx), oleh Marx diadopsi menjadi suatu interpretasi bagaimana menjelaskan perkembangan ekonomi sepanjang sejarah.<br />
4. Politik.<br />
Penetrasi ini juga masuk ke dalam bidang politik dan kemiliteran. Sehingga di dalam sejarah kita melihat orang seperti Lenin dan Mao Tze Dong yang mau memakai pikiran Marx itu untuk memaksa orang menerima komunisme di dalam politik.</p>
<p>Permulaan abad 20 sedang di dalam pengetahuan ilmu biologi, ekonomi, filsafat, politik, sosiologi, semua telah mengambil evolusi sebagai pikiran apriori, yaitu pasti benar, lalu penetrasi ke dalam segala bidang kebudayaan manusia. Mereka mencoba menegakkan suatu mimpi yang besar untuk menyambut satu zaman yang agung akan tiba. Mimpi yang optimistik, dan optimisme yang naif ini lalu mulai dirusak oleh Perang Dunia I. Pada 1914-1918 kita melihat letusan Perang Dunia I menghanguskan begitu banyak hasil dari tumpukan kristalisasi kebanggaan kebudayaan di dalam bangunan, seni, dll. Bukan saja demikian, PD I juga membuat manusia yang terlalu optimistik itu akhirnya sadar siapa manusia itu sebenarnya. Kembali kepada pikiran yang asal, manusia kemudian berusaha menemukan identitas manusia di dalam alam semesta, what is human identity in the universe.</p>
<p>Evolusi memberikan apa? Evolusi memberikan suatu pikiran khayalan, bahwa manusia bukan pada mulanya peta dan teladan Allah sekarang jatuh menjadi orang berdosa, sebaliknya manusia dulu adalah binatang tapi sekarang sudah begitu berkembang sempurna sehingga tak perlu pesimis. Berarti masih ada hari depan yang begitu indah. Evolusi bukan hanya menginterpretasi, evolusi secara tidak sadar menjanjikan hari depan yang cerah. Evolusi di dalam kesinambungan proses sejarah ini memberikan suatu janji di bawah sadar akan hari depan yang paling indah akan tiba, sehingga seolah-olah mendorong manusia maju, seolah-olah memberikan optimisme yang kuat untuk futurologi, tetapi tidak mungkin evolusi yang keluar hanya berdasarkan otak manusia yang dicipta, yang terbatas dan terpolusi oleh dosa itu, mungkin terlepas oleh racun dosa yang berada di dalamnya, karena di dalam kemajuan terus menerus, bukan hanya sasaran yang diberikan tetapi satu metodologi yang harus dipakai, yaitu konsep seleksi alam. Seleksi alam mengatakan yang kuat berhak untuk bertahan, yang lemah harus digeser. Itu sudah menjadi racun yang mengakibatkan keberanian kaum imperialis, kaum kolonialis, dan orang-orang yang begitu kejam untuk membasmi, menghancurkan dan memusnahkan bangsa-bangsa yang lebih lemah atau yang kurang berpengetahuan. Evolusi telah memberikan racun kepada pemikir seperti Hitler, sehingga ia menganggap segala tindakannya untuk agresi kepada orang lain adalah berdasarkan suatu prinsip natural yang sah dan resmi: Jerman adalah bangsa yang tertinggi. Jermanlah yang berhak memerintah seluruh dunia dan yang lain harus dibasmi.</p>
<p>Percaya terhadap evolusi bukan hanya sekadar memilih percaya salah satu cara di antara beberapa macam teori-teori yang ada. Percaya terhadap evolusi berarti menerima racun yang membuat seluruh umat manusia menuju kepada kehancuran. (Harus ada teolog yang memberikan petunjuk semacam ini dan menggugah manusia untuk menyadari apa yang telah dipilihnya. Namun sayang, orang berbeban seperti ini tidak banyak muncul dari mimbar gereja. Itu sebabnya, Gereja tidak memimpin dunia. Kita dipanggil untuk menjadi terang. Namun masalahnya, menerangi siapa? Untuk apa kamu menjadi terang? Dengan cara apa? Dan mendapat cahaya darimana?)</p>
<p>Abad ini perlu peringatan demikian. Tetapi orang yang berintelek tinggi, hati nuraninya rendah, dan tidak mau sadar bahwa diri mereka telah diracun oleh paham yang berbahaya ini. Tetapi ada seorang yang ikut menjadi pendeta militer di dalam regu penyerang di tengah-tengah tentara Jerman bernama Paul Tillich (orang ini betul-betul tinggi inteleknya, karena sejarah mencatat ia memperoleh 15 gelar doktor). Meskipin Tillich tinggi inteleknya, sayangnya ia tidak terbentuk dalam struktur teologi yang benar. Namun dengan jujur Tillich menulis satu kalimat dalam buku hariannya "Yang aku lihat bukan reruntuhan jatuhnya bangunan yang indah. Yang aku lihat adalah hancurnya kebudayaan manusia karena kecongkakan filsafat yang salah." Waktu ia menulis kalimat itu, saya bisa mencium adanya hati nurani intelektual sebagian kecil yang masih berfungsi pada dirinya.</p>
<p>Optimisme yang naif mulai diguncang oleh PD I. Pada tahun 1919, setahun setelah PD I yang memusnahkan 7 juta manusia, dan mengakibatkan berjuta-juta istri menjadi janda dan anak menjadi yatim, yang mengakibatkan stress dan frustasi, kegagalan, loneliness, dan tidak tahu arti hidup, dunia makin sadar kebodohannya. Untuk itu maka di Paris diadakan suatu konferensi perdamaian mengangkat kembali makalah Imanuel Kant, yang berjudul "<em><span style="font-family:&#34;">TO WHAT THE ETERNAL PEACE</span></em>" (menuju kepada perdamaian kekal). Dalam konferensi ini mereka memutuskan untuk tidak ada perang lagi. Satu kali perang, hanya 4 tahun, harus menelan 7 juta jiwa. Daripada memakai senjata, lebih baik berunding. Pada waktu hal ini dibahas, mereka merayakan hasil konferensi dengan pawai dan mengatakan tidak akan ada lagi peperangan. Tapi 20 tahun persis setelah konferensi itu, pecahlah PD II, yang menghancurkan lebih banyak kota, membunuh lebih banyak jiwa, ± 35 juta jiwa. Tetapi baru 3 tahun yang lalu Yelstin mengatakan kalimat yang begitu mengejutkan saya, "Sebenarnya menurut statistik 35 juta jiwa itu adalah adalah angka yang palsu. Karena angka yang sesungguhnya harus ditambah dengan 35 juta kematian yang lain yang belum pernah diumumkan keluar di Rusia." Jadi paling sedikit 70 juta orang yang tewas dalam PD II.</p>
<p>Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi 2 kota di Kiev dan Minsk dan baru 3 minggu yang lalu saya melayani di Moskow dan Leningrad, saya menyaksikan Rusia adalah bangsa yang patut dikasihani sebagai korban dari segelintir pemimpinnya yang menaruh diri untuk menguji suatu teori. Waktu saya berkhotbah di Ukraina, saya tidak berani minum air yang sudah dicemarkan oleh radiasi Chernobyl, jadi saya pergi ke Dollar Shop (membayar harus hanya dengan dollar), di mana harga sebotol air US $3, karena diimpor dari Perancis ke Kiev. Bayangkan berapa mahal hidup di sana.</p>
<p>Waktu saya memikirkan kembali apa nasib manusia, saya menyimpulkan beberapa hal: Negara-negara yang mengidolakan Karl Marx (karena Marx adalah ekonom terbesar dalam sejarah. Tak ada seorang filsuf meneliti dan menganalisa dengan teori yang begitu rumit dan mendetail mengenai segala kemungkinan dan potensi ekonomi lebih tuntas daripada Marx), apa yang terjadi? Terbukti teori ekonom yang terbesar, kalau disetujui sepenuhnya oleh suatu negara, pasti ekonominya bangkrut. Komunisme menyodorkan keadilan yang paling tuntas kepada masyarakat untuk menyongsong hari depan yang indah, di mana komunisme berjanji meratakan kekayaan. Akhirnya terbukti mereka tak pernah meratakan kekayaan, hanya meratakan kemiskinan saja.</p>
<p>Lalu saya melihat, mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi? Tiga minggu yang lalu di Moskow, seorang profesor bertanya kepada saya mengapa kalau Allah memperbolehkan manusia diuji oleh teori yang salah, Allah tega memilih RRC yang mempunyai penduduk yang paling banyak untuk disiksa dan menderita puluhan tahun? Ini kalimat yang tajam. (Di Indonesia, kadang-kadang saya menerima pertanyaan dari otak yang tajam, tapi itu jarang sekali). Jikalau Allah memperbolehkan manusia dicobai oleh semacam filsafat yang salah, mengapa tidak memilih bangsa yang kecil, mungkin St. Marino, Vaticano, dan kerajaan Monaco yang penduduknya sedikit. Mengapa justru Allah memperbolehkan Tiongkok ada di bawah eksperimen komunisme yang mengakibatkan berpuluh-puluh juta manusia mati di situ? Saya tahu pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Saya hanya menjawab, Allah tidak pernah membuang siapapun. Sebenarnya, manusialah yang membuang Allah. RRC mencatat ratusan kali menganiaya orang Kristen, memenjarakan pendeta, melawan Tuhan, menolak misionari dan membunuh orang-orang yang mengabarkan Injil. Profesor itu mulai sadar, ini memang benar. Pada waktu manusia tidak lagi memperallahkan Allah sebagaimana seharusnya dihormati, maka Allah memperbolehkan manusia di dalam pilihan menolak Allah untuk secara tidak sadar ditolak oleh Allah. Yang arif menjadi pasif, yang berinisiatif menjadi yang dibuang. Inilah paradoks bijaksana Allah yang melampaui marifat manusia. Pada waktu manusia merasa tidak perlu Allah dan menganggap diri cukup pandai mengatur segala sesuatu dengan sikap otonom, Allah membiarkannya untuk menjadi eksperimen membuktikan kesalahannya.</p>
<p>Dan antara PD I dan PD II timbullah satu generasi yang disebut "<em><span style="font-family:&#34;">the Lost Generation</span></em>." Lost generation menjadi suatu pangkalan suburnya filsafat eksistensialisme, di mana suatu jalan telah terbuka bagi pemuda-pemudi untuk menuju atheisme tanpa mereka sadari dan munculnya topeng-topeng agama tapi di dalamnya ada kekosongan yang luar biasa. Akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun mereka baru sadar semuanya tidak seperti yang diimpikan. Saya menyimpulkan seluruh arus pikiran eksistensialisme yang pernah merajalela pikiran kaum intektual di seluruh dunia tahun 50-an sampai tahun 80-an dari Eropa ke Amerika dan akhirnya ke Asia ini, hanya dalam 2 kalimat, "Eksistensialisme selalu memperbincangkan kekosongan seperti kosong itu ada. Eksistensialisme selalu memperbincangkan keberadaan seperti ada itu tidak ada."</p>
<p>Mengapa abad 20 ini saya sebut sebagai abad yang bodoh? Karena abad 20 adalah abad yang tidak menghasilkan pemikir yang penting. Saya tidak perlu setuju teori filsafat yang mengatakan "A man is what he thinks", karena sebagai teolog Kristen, saya mempunyai definisi "<em><strong><span style="font-family:&#34;">A man is what he reacts before God.</span></strong></em>" Kalau kita hanya berhenti pada kalimat "A man is what he thinks" seperti kaum idealist atau rasionalis, atau jika kita hanya berhenti pada "A man is what he eats" seperti materialisme, itu terlalu dangkal. Tetapi meskipun ada filsafat yang mengatakan, "A man is what he thinks", rasionalisme dan idealisme hanya memberitahukan kepada kita bahwa manusia selalu menjadikan diri pusat (<em><span style="font-family:&#34;">anthroposentric of life-style</span></em>), tanpa menghasilkan sesuatu dari pikirannya. Di mana pemikir-pemikir agung abad 20? Seolah tidak ada yang berpengaruh besar. Dan abad 20 sudah menjadi abad yang menjual diri. Abad 20 sudah menjadi abad yang berkompromi kepada abad 19. Abad 20 menjadi abad di mana kita tidak mempunyai otonomi atas diri kita sendiri. Abad 20 menjadi abad di mana kaum intelektual mengosongkan pikiran lalu diisi dengan apa yang disodorkan pemikir abad 19. Abad 20 tidak menghasilkan seorang pemikir yang bisa memberikan arah kepada umat manusia. Abad 20 hanya menghasilkan orang-orang yang mengosongkan otak lalu membuat Marx, Kierkegaard, Nietszche, dll. menjadi pemimpin pikiran mereka. Sehingga selama abad 20, kita hidup, bergerak, mencari segala langkah, dan menemukan segala teknologi, tapi apa yang kita temukan itu dibanding dengan abad 19 berlainan sekali. Pemikir-pemikir abad 20 hanya memikirkan wadah tidak memikirkan isi. Membuat kapal terbang, komputer, radio, satelit, roket, dan segala macam penemuan besar, hanya untuk menjadi wadah, bukan menjadi isi. Kapal terbang dibuat untuk mengangkut para pedagang yang pergi ke sana sini secepat mungkin, untuk mengangkut turis yang pergi ke sana kemari karena kebanyakan uang. Komputer untuk mengisi data-data yang berhubungan perdagangan komersil. Pemikiran-pemikiran yang berkembang pesat di abad 20 kebanyakan bersumber dari abad 19. Dan kita memakai seluruh abad ini menjadi tempat praktek para pemikir yang sudah mati. Selama 70 tahun Asia membuat diri menjadi budak abad 19. Dari 1919-1989 pemuda pemudi yang berada di Tien An Men berpawai dan berteriak. Apa yang mereka teriakkan persis sama. Akibatnya mereka digilas oleh tank. Darah, daging, dan tulangnya sampai remuk, lalu diangkut dan dibakar di Beijing. Itulah penindasan komunisme terhadap pemuda pemudi di sana. Yang diteriakkan tahun 1919 adalah "Kami menginginkan demokrasi, kebebasan" juga diteriakkan oleh pemuda di tahun 1989. Istilah yang sama, slogan yang sama, mimpi yang sama. Berarti selama 70 tahun apa yang diimpikan belum tercapai. Abad 20 menjanjikan apa? Abad 20 memimpikan apa? Abad 20 mendapatkan apa? Kita melihat dalam perkembangan seluruh umat manusia, betul kita perlu eksperimen, pengalaman. Tetapi pengalaman mengajar kepada kita bahwa pengalaman kita banyak kebodohan. Hegel mengatakan satu kalimat, "Sejarah mengajarkan satu pengajaran terbesar kepada umat manusia yaitu manusia tidak pernah pengerima pengajaran dari sejarah." Kita telah membuang 80-90 tahun untuk mempraktekkan komunisme, akhirnya baru kita sadar bahwa komunisme itu salah! Kita memakai 90 tahun mempraktekkan eksistensialisme akhirnya baru sadar bahwa itu salah! Kita memakai 90 tahun untuk mempraktekkan evolusi, akhirnya baru sadar bahwa evolusi salah! Kita memakai 90 tahun untuk mempraktekkan positivisme dan berkembang menjadi logical positivisme, akhirnya baru sadar kalau itu salah! Bukankah abad 20 ini abad yang bodoh? Bukankah abad 20 ini abad yang kita hamburkan dengan eksperimen yang membawa kita kembali kepada permulaan, belum tahu apa-apa?!</p>
<p>Sekarang hanya tersisa 6 tahun sebelum kita menutup abad 20, yang pernah menghasilkan banyak perkembangan teknologi ini. Kita mempunyai kapasitas, kita mempunyai instrumen, kita mempunyai segala bangunan yang hebat, tetapi isinya apa? Jikalau ada tape recorder tidak ada perkataan penting yang direkam, tape itu tetap kosong. Jikalau ada kapal terbang yang mempercepat lalu lintas, tapi tidak ada program yang bisa berguna bagi seluruh dunia, hanya mempercepat perkembangan kekayaan orang yang rakus tak habis-habis, itu tidak ada gunanya. Jika mimbar makin bagus, gedung gereja makin besar, tapi yang dikhotbahkan tidak menstimulir pikiran, tidak membawa otak manusia kembali kepada firman Tuhan, hanya mengumpulkan lebih banyak persembahan untuk pendeta, itu tidak berguna. Jikalau mimbar didirikan tapi bukan untuk menyampaikan firman, tapi tidak membawa keadilan dan kemajuan sungguh-sungguh untuk meningkatkan moral manusia, jikalau ilmu pengetahuan makin lama makin maju, kedokteran makin lama makin maju, bisa menyembuhkan banyak penyakit akibat hidup amoral, kedokteran menjadi wadah untuk menolong perkembangan imoralitas juga. Semua wadah itu perlu kembali dengan satu prinsip mengisi inti yang memuliakan Tuhan. Setelah dunia barat berkembang, sekarang mereka mulai sadar lagi bahwa perkembangan ini membawa manusia ke mana? Ada 4 hal yang berteriak kepada manusia: You are in danger, you are in danger, you are in danger and you are in danger. What kind of danger? Fusi, polusi, AIDS, immoralitas barat. Apa yang kita terima dari kerusakan lingkungan adalah akibat sains. Pada waktu kita mengembangkan sains, hanya ilmuwan Kristen yang mengerti dan memakai sains untuk memuliakan Allah.</p>
<p>Fusi dan polusi menyadarkan sebagian orang jika hanya ada sains dan kemajuan teknologi saja ini tidak berguna dan berbahaya. AIDS, imoralitas, kriminal yang presentasinya saat ini telah berkembang bersama dengan kemajuan suatu negara. Waktu berada di Leningrad (St. Petersburg) saya naik kapal di atas sebuah sungai yang begitu indah, ada museum Harmitage yang nomor 2 terbesar di seluruh dunia (adalah istana yang asli yang dipakai menyimpan koleksi seni sejumlah 2.947.000 buah karya seni. Ada tiang yang dilapis emas, marmer dan granit yang berbeda bentuknya). Namun pada sisi kota yang lain, nampak sebuah penjara. Waktu kapal lewat di sana, seorang penerjemah saya dalam bahasa Inggris ke Rusia berkata, "Stephen, inilah penjara terbesar di kota ini. Bisa menampung 100.000 orang. Saat ini isinya lebih dari 40% dari kapasitas, hingga berjejal-jejal. Jika ada narapidana baru masuk, terpaksa harus mengusir yang lama." Saya membaca sebuah surat kabar yang mengatakan negara yang memiliki tindak kriminal terbesar adalah Rusia, kedua Amerika. Di Rusia perbandingannya 100.000:574, tiap 100.000 orang Rusia, yang harus dipenjara adalah sejumlah 574 orang. Di Amerika tiap 100.000 orang, yang dipenjara 543 orang. Bagaimana dengan Indonesia? Puji Tuhan! Tiap 100.000 orang, hanya 22 yang dipenjara, lumayan!</p>
<p>Inilah manusia. Manusia maju, negara maju teknologinya sekaligus maju kriminalitasnya. Negara maju teknologinya, tindakan kriminalnya lebih canggih lagi. Kota New York setiap hari ±450 mobil hilang. Di kota London setiap hari 347 mobil yang hilang. Sepuluh tahun yang lalu di New York setiap tahun ±2.000 pembunuhan dan LA 970 orang dibunuh. Sekarang di Amerika ±190 juta senapan yang ada di tangan orang sipil. Negara itu berpenduduk 250 juta jiwa, tapi punya senjata api 190 juta orang. Jika 1% dari 190 juta orang pemilik senapan itu ada yang gila, berarti ada 1,9 juta manusia gila yang sementara waktu tidak menembakkan senjatanya dengan brutal. Saya tidak tahu abad 20 mau ke mana? Dan sekrang ini makin dekat habis, manusia terus mendapat ancaman: engkau dalam bahaya! Engkau dalam bahaya! Engkau dalam bahaya! Futurologis yang bukan Kristen seperti Alvin Toffler, Naisbitt semua menunjukkan ada hari depan yang indah, tanpa memberi peringatan dari firman Tuhan, itu yang saya kuatirkan. The world needs Christian prophetic ministry. This world needs young people who dedicated their lifes to God. This generation admitt your guidance. And if you want to guidance the world, you need to be guided by Holy Spirit with the Bible. Saya sedang menanti satu generasi yang otaknya tajam luar biasa, lalu takluk di bawah firman Tuhan dan berkata, "Tuhan pakailah saya untuk menjadi perabot-Mu, alat-Mu." Pada waktu saya melihat mahasiswa sekolah teologi yang mau cepat-cepat keluar untuk mendapat gelar S.Th. dan jadi pendeta dan mendapat gaji yang cukup besar tiap bulan, saya lihat itu tidak ada harapan. Waktu saya melihat mahasiswa yang belajar memakai uang orang tuanya yang bekerja membanting tulang, hanya supaya kepala yang bundar menjadi persegi, lalu pulang ke desa dan membanggakan diri, saya bilang no hope! Istri alm. Dr. Francis Schaeffer mengatakan, "Tiap tahun USA menghasilkan ribuan Ph.D., tapi di mana pahlawan yang berjuang untuk kerajaan Tuhan, untuk Kristus? Saya tidak lihat." Saya ingin mencucurkan air mata dan berdoa di hadapan Tuhan. Waktu saya lihat mimbar yang bagus dan mewah tapi diberikan khotbah yang tidak karuan dan tidak sesuai dengan Alkitab, saya begitu sedih. Biar seluruh dunia membenci saya, biar pendeta-pendeta membuat isu Stephen Tong tidak ada Roh Kudus, saya berkata kepada Saudara, yang membuat saya gigih berkhotbah, melayani berpuluh-puluh tahun itulah Roh Kudus, bukan roh saya. Tapi yang membuat orang-orang kelihatan ada Roh Kudus tapi hidup, keuangan, dan seks tidak karuan, tapi masih berani naik mimbar, berani menafsir Alkitab tidak karuan, itu pasti bukan dari Roh Kudus. Pemuda pemudi yang kritis dan betul-betul mau taat pada pimpinan Tuhan, mulai hari ini bangun, jangan tidur! Pada waktu seluruh dunia sedang menyambut zaman baru (new age), inilah pertama kali barat berkompromi dengan timur. Dulu barat menghina, menjajah, mengagresi, infasi timur, sekarang mulai berubah. Barat mulai datang ke timur, bertapa, bermeditasi.</p>
<p>Waktu saya melihat pemuda pemudi dari Asia belajar di Toronto dan sulit berbahasa Inggris, lalu mengikuti kuliah sambil merengut, lalu saya melihat di Borobudur ada seorang barat yang gundul sedang meditasi, saya membandingkan, yang satu buka matanya pakai pikiran dan yang satu tutup mata tanpa pikiran, inilah globalisasi. Timur mencari ilmu di barat, barat sedang mencari ketenangan di timur. Dunia sedang berglobalisasi. Yang timur sedang mengisi otak di barat, yang barat sedang mengisi hati di timur. Kita kembali mendengar Yesus Kristus berkata, "Barat, engkau mencari Jalan atau hanya ketenangan hidup? Timur, engkau Kebenaran atau hanya titel dan pengetahuan? Aku memberikan jawaban: Akulah Jalan, Akulah Kebenaran, dan Akulah hidup. Tidak ada seorangpun dapat kembali kepada Bapa kecuali melalui Aku." Saya tetap memegang Alkitab, <em><span style="font-family:&#34;">the answer is only in Jesus Christ. Except Christ, there is no answer</span></em>. Setelah kita mendapat isyarat you are in danger, manusia tidak mau belajar dari sejarah.</p>
<p>Sekarang kita akan menuju abad 21, seperti abad 20 dimulai dengan naif, menunggu lagi hari depan yang cerah. Sebagai seorang hamba Tuhan yang dilahirkan untuk menyaksikan berakhirnya abad 20, saya geleng kepala. Hai umat manusia, ke manakah engkau? Optimisme, hari depan cerah karena evolusi. Tuhan berkata, "Kembali kepada-Ku, di sinilah tempat pangkalan pengharapanmu. Di sini sasaran imanmu dan di sini ada cinta kasih yang memberi kepuasan pada jiwamu. Pada waktu Gramedia sudah mencetak ribuan buku mengenalkan <em><span style="font-family:&#34;">New Age Movement</span></em>, saya melihat pendeta-pendeta yang katanya pemimpin Gereja masih belum tahu apa arti istilah itu. Gerakan Zaman Baru sudah merupakan suatu air bah yang melanda seluruh pelosok kebudayaan, tetapi sedikit sekali pemimpin-pemimpin Kristen, khususnya kaum intelektual Kristen yang melihat berapa besar ancaman dan perbedaan antara arus itu dengan kekristenan tradisional.</p>
<p><em><span style="font-family:&#34;">New age movement</span></em> menjadi penipu baru untuk umat manusia. Pada waktu kita melihat buku-buku <em><span style="font-family:&#34;">new age movement</span></em> diterjemahkan ke dalam bentuk komik, novel, tulisan cerita, dan dalam bidang periklanan serta slogan TV, banyak orang yang tidak sadar. Selama 2 tahun terakhir apa yang menonjol di TV sudah banyak dipengaruhi oleh <em><span style="font-family:&#34;">new age movement</span></em>. Berapa besar bahayanya jika kita tidak sadar dan tidak mencegahnya? Siapakah yang menjamin kamu layak menjadi terang dunia? Jangan menipu diri, belajar, mengabdi dan serahkan hidupmu kembali kepada Tuhan.</p>
<p>Renungan ini ditranskrip dari seminar bagi mahasiswa di Universitas Gajah Mada (Yogyakarta) dan Universitas Sam Ratulangi (Manado), September 1994</p>
<p>Sumber: Majalah MOMENTUM No. 24 - Oktober 1994</p>
<p>Disarikan dari :<br />
<a href="http://www.geocities.com/reformed_movement">http://www.geocities.com/reformed_movement</a><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#ffff66 none repeat scroll 0;line-height:18pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&#34;color:#881100;"><br />
Profil Pdt. DR. STEPHEN TONG :<br />
<em><span style="font-family:&#34;">Pdt. DR. STEPHEN TONG</span></em> lahir di Fukien, Tiongkok pada tahun 1940. Beliau melayani Tuhan sejak tahun 1957, baik di dalam bidang penginjilan, teologi, maupun penggembalaan. Pelayanan beliau yang telah terbukti menjadi berkat bagi zaman ini telah menarik perhatian banyak pemimpin gereja, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Perhatian tersebut khususnya ditujukan kepada Reformed Theology yang senantiasa beliau tegaskan. Sejak tahun 1974, beliau mengadakan seminar-seminar di Surabaya. Pada tahun 1984, beliau mulai mengadakan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta, untuk menegakkan doktrin Reformed dan semangat Injili. SPIK dipimpin Tuhan untuk menjadi pendahuluan bagi berdirinya Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) pada tahun 1986, di mana Pdt. Dr. Stephen Tong mengajak Pdt. Dr. Yakub Susabda dan Pdt. Dr. Caleb Tong untuk menjadi pendiri bersama. Pada tahun 1995, beliau mendapat gelar <em><span style="font-family:&#34;">Honorary Doctor of Leadership in Christian Evangelism</span></em> (D.L.C.E.) dari La Madrid International Academy of Leadership, Filipina. Sebelumnya beliau telah menamatkan studi <em><span style="font-family:&#34;">Bachelor of Theology</span></em> (B.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang.</p>
<p>Selain memimpin Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK), Pdt. Dr. Stephen Tong juga mendirikan Sekolah Teologi Reformed Injili (STRI) Surabaya (1986), STRI Jakarta (1987), dan STRI Malang (1990). Beliau juga memperluas seminar-seminar pembinaan iman tersebut ke kota-kota besar lainnya di Indonesia dan kota-kota di luar negeri, yang pelaksanaannya diserahkan kepada <em><span style="font-family:&#34;">Stephen Tong Evangelical Ministries International</span></em> (STEMI). Sejak tahun 1991 hingga saat ini, Pdt. Dr. Stephen Tong menjabat sebagai Rektor STTRII dan sejak tahun 1998 sebagai Rektor Institut Reformed.</p>
<p>Selain menegakkan doktrin Reformed di Indonesia, beliau juga pernah menjadi dosen tamu pada seminari-seminari di luar negeri, termasuk di China Graduate School of Theology di Hong Kong (1975 dan 1979), China Evangelical Seminary di Taiwan (1976), Trinity College di Singapura (1980, dan memberikan ceramah-ceramah termasuk di Westminster Theological Seminary, Regent College dan lain-lain di Amerika Serikat.</p>
<p>Di samping itu, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menjabat sebagai dosen teologi dan filsafat di Seminari Alkitab Asia Tenggara (1964-1988), pendiri STEMI (1979), pendiri Jakarta Oratorio Society (1986), pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) pada tahun 1989, Gembala Sidang GRII Pusat, ketua Sinode GRII, pendiri Institute Reformed for Christianity and the 21st Century (1996) di Indonesia dan Amerika, Christian Drama Society (1999).</span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berdoa dalam kata dan tanda]]></title>
<link>http://roysrasta.wordpress.com/?p=20</link>
<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 05:41:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>roys1986</dc:creator>
<guid>http://roysrasta.wordpress.com/2008/10/02/berdoa-dalam-kata-dan-tanda/</guid>
<description><![CDATA[Berdoa dalam kata dan tanda:

TANDA SALIB

oleh: P. Victor Hoagland, C.P.

berdasarkan Katekismus Ge]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-size:medium;color:#990033;font-family:Tahoma;"><strong>Berdoa dalam kata dan tanda:</strong></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif" border="0" alt="" width="1" height="8" align="bottom" /></div>
<div style="margin-top:3px;text-align:center;"><span style="font-size:x-large;color:#990033;font-family:Tahoma;"><strong>TANDA SALIB</strong></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif" border="0" alt="" width="1" height="14" align="bottom" /></div>
<div style="margin-top:3px;text-align:center;"><span style="font-size:medium;color:#990033;font-family:Tahoma;"><em><strong>oleh: P. Victor Hoagland, C.P.</strong></em></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif" border="0" alt="" width="1" height="6" align="bottom" /></div>
<div style="margin-top:3px;text-align:center;"><span style="font-size:medium;color:#990033;font-family:Tahoma;"><em><strong>berdasarkan Katekismus Gereja Katolik 1077 - 1109</strong></em></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif" border="0" alt="" width="1" height="14" align="bottom" /></div>
<div style="margin-top:3px;text-align:center;"><span style="font-size:medium;color:#990033;font-family:Tahoma;"><em><strong><img src="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/723fa300.jpg" border="0" alt="Tanda Salib" width="250" height="304" align="bottom" /></strong></em></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif" border="0" alt="" width="1" height="14" align="bottom" /></div>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Doa Kristiani dilakukan seturut teladan doa Yesus sendiri. Sama seperti doa-Nya, doa kristiani harus berasal dari hati. Ketika sedang berdoa, Yesus menggunakan kata-kata, tanda dan kadang-kadang seruan, sebagai ungkapan hati-Nya. Demikian juga kita, ketika kita berdoa; kita juga mencari cara untuk mengungkapkan isi hati kita. </strong></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/1x1.gif" border="0" alt="" width="1" height="14" align="bottom" /></div>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kata-kata dan tanda-tanda yang Yesus gunakan ketika Ia berdoa sering kali berasal dari tradisi Yahudi, yang Ia pelajari dari keluarganya dan dari yang lain. Sementara kita, kita berpegang pada Tradisi Gereja sebagai pedoman dalam berdoa. Kita percaya bahwa Doa Kristiani adalah tradisi yang diilhami oleh Roh Kudus, yang juga merupakan perkembangan lebih lanjut dari tradisi doa Yahudi yang telah memberi santapan rohani bagi Yesus sendiri. </strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Tradisi Gereja mengenai doa memiliki kebijaksanaannya sendiri, dengan berbagai ragam bentuk dan ekspresi yang berbeda. Namun demikian, doa-doa dasar dari Tradisi Gereja mendapat tempat istimewa. Tanda Salib adalah salah satu contohnya. </strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Dalam gereja Katolik dan gereja-gereja Kristen lainnya, Tanda Salib merupakan bagian penting dalam doa pribadi maupun doa bersama. Tanda Salib berasal dari masa Gereja Kristen Perdana dan karenanya keberadaannya sudah berabad-abad lamanya.Tanda Salib adalah tanda pertama yang kita terima yaitu pada saat kita dibaptis dan tanda terakhir yang kita terima yaitu saat kita meninggalkan dunia ini menuju kehidupan abadi. Tanda Salib merupakan bagian yang amat penting dalam doa liturgis dan sakramen-sakramen. Dengan Tanda Salib kita mengawali serta mengakhiri doa kita.</strong></span></div>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:medium;color:#990033;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>BERKAT DARI ALLAH TRITUNGGAL</strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kita menyebutnya berkat. Kita mengatakan kita “memberkati diri kita.” Membubuhkan tanda salib dengan tangan kita di kening, di dada serta di pundak kita, kita memberkati diri kita: Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.</strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Tanda Salib menyatakan berkat. Tanda Salib melambangkan Tuhan memberkati kita, Tuhan melimpahi kita dengan berkat-berkat-Nya. Dan dengan tanda yang sama kita menyatakan kepercayaan kita kepada Tuhan, yang daripada-Nya semua berkat berasal. Dengan Tanda Salib kita memeluk Allah kita yang baik dengan segenap pikiran, hati serta kekuatan kita. </strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Tuhan memberkati. Kitab Suci Yahudi menggambarkan Tuhan sebagai, di atas segalanya, Dia yang memberkati. Tuhan memberkati Nuh dan menyelamatkan dunia dari air bah. Tuhan memberkati Abraham dan Sara dengan berkat yang lebih banyak dari bintang-bintang di langit. Tuhan memberkati bangsa Yahudi, membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Hidup itu sendiri dan segala ciptaan adalah karunia Tuhan.</strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Oleh karena itu, tradisi doa Yahudi selalu menyebut Tuhan sebagai Dia yang memberkati. </strong><em><strong>“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu,”</strong></em><strong> demikian kata pemazmur. Sama seperti kita diberkati oleh Tuhan, demikian kita hendak memuji Tuhan.</strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Tradisi Gereja mengikuti pola yang sama, tetapi sebagai tambahan, doa umat Kristiani memuji Dia yang mengaruniakan kepada kita suatu berkat lain yang tidak ada bandingnya: berkat Yesus Kristus. </strong><em><strong>“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Ef 1:3)</strong></em><strong> Ia adalah “Firman yang menjadikan segala sesuatu, Juruselamat yang diutus untuk menebus manusia.” Dalam diri Yesus Kristus, Tuhan datang kepada kita sebagai Sahabat dan Saudara. Bersama dengan Bapa, Ia mengutus Roh Kudus ke atas kita “untuk menggenapkan karya-Nya di bumi dan membawakan kepenuhan rahmat bagi kita.” Dalam diri Yesus, Allah telah menyatakan kepada kita sumber segala berkat.  </strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Saat kita memberkati diri kita dengan Tanda Salib, kita ingat akan Dia yang memberkati kita: Alah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus.</strong></span></div>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:medium;color:#990033;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>BERKAT SALIB</strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Dengan tanda Salib kita mengingat kembali secara istimewa hidup, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kita membubuhkan Tanda Salib pada diri kita, Salib Yesus. Wafat-Nya di kayu Salib adalah curahan kasih-Nya kepada kita. Tanda Salib mengingatkan kita akan cinta-Nya, cinta yang tidak hanya ditemukan di masa lampau, tetapi di sini dan di saat ini, sementara kita membubuhkan Tanda Salib di tubuh kita, karena cinta Yesus Kristus kekal abadi selamanya. </strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Tanda Salib adalah ungkapan sehari-hari yang mengagumkan akan hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan adalah Dia yang memberkati. Tanda Salib mengingatkan kita bahwa setiap hari, di saat suka maupun duka, dalam bahaya dan penderitaan, kasih setia Tuhan serta berkat-berkat-Nya tidak pernah jauh dari kita.</strong></span></div>
<p> </p>
<div style="margin-top:3px;"><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Dengan membubuhkan Tanda Salib di kening, dada dan pundak kita, kita ingat bahwa kita diberkati dalam pikiran, hati dan keberadaan diri kita sepenuhnya. Kita dapat menghadap Tuhan dengan penuh kepercayaan melalui Yesus Kristus yang kasih setia-Nya dinyatakan oleh tanda suci ini. “Datanglah kepadaku,” demikian kata Tuhan lewat Tanda Salib, “jangan takut. Sebelum engkau melakukan apa-apa, Aku telah menyongsong untuk memelukmu dengan limpahan berkat di tangan-K</strong></span></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membayar Kebahagiaan]]></title>
<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/membayar-kebahagiaan-2/</link>
<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 15:23:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>susiloari</dc:creator>
<guid>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/26/membayar-kebahagiaan-2/</guid>
<description><![CDATA[Adakah kebahagiaan tanpa kerja keras? Adakah jalan pintas untuk menjadi bahagia? Melalui alam semest]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Adakah kebahagiaan tanpa kerja keras? Adakah jalan pintas untuk menjadi bahagia? Melalui alam semesta kita belajar bahwa untuk menumbuhkan tanaman dan menghasilkan buah diperlukan ketekunan dan kesabaran. Dari orang-orang yang sukses mengejar prestasi dalam bidang apa pun, kita belajar bahwa kebahagiaan selalu diraih melalui perjuangan dan kerja keras.</p>
<p>Yesus berkata, "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."Hal ini berarti bahwa diri-Nya akan mengalami sengsara dan penderitaan untuk menuju kemuliaan-Nya. Sebagaimana perkataan-Nya yang pertama, kini pun Ia menegaskan hal itu. Yesus melihat penderitaan sebagai jalan untuk masuk ke dalam kemuliaan, bukan tanda orang yang tidak mendapat berkat dari Tuhan. Yesus menyadari bahwa itulah jalan yang harus ditempuh seorang yang dikasihi Allah. Ia belajar taat pada kehendak Allah.</p>
<p>Seorang yang mengasihi dan dikasihi dunia akan mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, Yesus mengajarkan dan menjalani hal yang berbeda. Ada harga yang harus dibayar bila orang ingin mendapatkan sesuatu. Ia ingin menyelamatkan manusia. Maka, harga yang harus Ia bayar adalah menebusnya dengan menumpahkan darah-Nya sendiri. Dengan demikian, kekerasan dan kejahatan dibalas dengan tindakan kasih-Nya, menyerahkan diri bagi manusia.</p>
<p>Tuhan Yesus, ajari aku untuk menyelami hati-Mu. Semoga pengorbanan-Mu bagiku tidak aku sia-siakan. Amin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yohana-Maria Magdalena-Susana]]></title>
<link>http://berkahdalem.wordpress.com/?p=126</link>
<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 18:04:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>susiloari</dc:creator>
<guid>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/19/yohana-maria-magdalena-susana/</guid>
<description><![CDATA[Jumat, 19 September 2008

Bacaan      I        : 1Kor 15:12-20
Bacaan Injil   : Luk      8:]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Jumat, 19 September 2008</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Bacaan      I        : 1Kor 15:12-20</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"></span></li>
<li class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Bacaan Injil   : Luk      8:1-3</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Renungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"> Adakah murid-murid perempuan yang mengikuti Yesus? Mengapa mereka tergerak untuk menjadi murid-Nya? Jawaban atas pertanyaan ini kita temukan dalam kutipan Injil hari ini. Secara khusus nama-nama mereka disebutkan. Artinya, mereka punya peran penting dalam pemberitaan Injil dan perkembangan kemuridan. Mereka itu adalah Maria Magdalena, Yohana, dan Susana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Mereka mengikuti Yesus bukan karena Yesus adalah laki-laki. Mereka menjadi murid Yesus karena mereka mengimani Dia. Mereka mengalami cinta dan belas kasih Allah dalam hidup mereka.  Mereka menyadari betapa Allah lebih berharga daripada segala kekayaan mereka. Mereka sadar bahwa segala milik mereka berasal dari Allah. Dengan demikian, siapa pun dapat menjadi murid Yesus; mereka yang mampu mengalami betapa Allah memberikan kehidupan, pengharapan, dan arah hidup ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Adakah yang membahagiakan hidup manusia selain mengalami cinta dan belas kasih Allah? Pengalaman itu menggerakkan para murid untuk selalu tinggal bersama Tuhan, ikut melayani bersama Dia, dan memberikan segenap milik dan kekayaan mereka. Semoga kita pun senantiasa tinggal bersama Dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Yesus, tariklah aku lebih dekat untuk mengikuti Engkau. Pakailah segenap daya tenaga dan apa yang aku miliki untuk melayani-Mu. Amin.</span></em></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"> </span></em></strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"> [Ziarah Batin 2008, Renungan dan Catatan Harian]</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rekrutmen Paulus – Transfer Window]]></title>
<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/rekrutmen-paulus-%e2%80%93-transfer-window/</link>
<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 04:01:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>susiloari</dc:creator>
<guid>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/rekrutmen-paulus-%e2%80%93-transfer-window/</guid>
<description><![CDATA[Hari Kamis malam yang lalu (4/9) Aku jadi pemandu pendalaman Kitab Suci (KS) di Lingkunganku, Lingku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/conversion_of_st_paul-400.jpg" target="_blank"><img class="size-medium wp-image-107 alignleft" style="border:2px solid black;margin-left:5px;margin-right:5px;" title="conversion_of_st_paul-400" src="http://berkahdalem.wordpress.com/files/2008/09/conversion_of_st_paul-400.jpg?w=300" alt="" width="300" height="222" /></a>Hari Kamis malam yang lalu (4/9) Aku jadi pemandu pendalaman Kitab Suci (KS) di Lingkunganku, Lingkungan St. Yohanes – Paroki Kebumen St. Yohanes Maria Vianney Kebumen. Seperti yang sudah kami (para menandu) siapkan, aku memakai metode metaplan dalam memetakan alur kisah pertobatan Saulus yang berujung pada 'lahirnya' Paulus. Tentang metode ini aku akan tulis di posting-an berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sesi mencari pesan dari perikop yang didalami, seorang bapak, sebut saja Pak Barto melontarkan pertanyaan.</p>
<p style="text-align:justify;">"Pak Arie, Tuhan Yesus kok milih Saulus jadi salah satu murid yang diberi peran besar, padahal dia kan justru yang mengejar-ngejar, menangkap para pengikutNya? Ini kan aneh?"</p>
<p style="text-align:justify;">Hehe. Kalau mau dilanjutin sih pasti muncul kalimat begini, "Nggak rela! Nggak rela!"</p>
<p style="text-align:justify;">Aku diam. Nggak langsung menjawab. Cuma sedikit mesem. Mesem karena pertanyaan Pak Barto itu mengingatkanku pada obrolanku dengan Romo Slamet (pastor parokiku) siang sebelumnya di tokoku.</p>
<p style="text-align:justify;">"Gusti Yesus ki ternyata manajer SDM sing top lho, Mo?</p>
<p style="text-align:justify;">"Kok bisa?"</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu aku mulai nyrocos. Ini dalam konteks rekrutmen dan deployment para murid. 12 rasul awal yang direkrut itu (Yudas Iskariot termasuk anomali-skenarionya begitu sih) punya karakter low-profile-sederhana, manutan, gak pinter-pinter amat, jujur, mau setia. SDM seperti itu nggak cukup. Maka dalam rangka 'marketing the church' yang memerlukan the right man on the right place, direkrutlah Stefanus yang lebih thas-thes, berani dan lebih diperhitungkan kaum farisi ahli taurat. Eh, debutan ini keburu dihabisi geng-nya Saulus (Kis.7:54-8:1a).</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, sampai di sini naluri manejerial-Nya bekerja. Saulus itu kan puinter-ter, orang sekolahan-ahli taurat, berani, berkemauan keras, bukan yahudi lokalan (Tarsus). High profile banget, deh! Butuh orang kayak gini untuk di-deploy, membuat keseimbangan antar lini para murid Yesus (wah, malah kayak komentator bola). Tapi masalahnya dia ada di pihak musuh. Piye iki?</p>
<p style="text-align:justify;">Maka terjadilah peristiwa penampakan (approachment) yang membutakan Saulus 3 hari lamanya itu (Kis.9:3-9). Peristiwa ini bagaikan 'transfer window' klub-klub bola Eropa. Dalam waktu mepet menggaet pemain unggulan milik lawan. Selanjutnya, setelah penumpangan tangan oleh Ananias kepada Saulus aka Paulus, komposisi murid-murid Yesus lebih menjanjikan. Keseimbangan antar lini terjaga. Dan faktor Paulus adalah kartu truf bagi 'marketing the church' di luar ranah Yahudi. Begitu.</p>
<p style="text-align:justify;">Romo Parokiku cuma mesam-mesem mendengar cerocosanku yang sangat awami ini. Maklum aku kan Cuma lulusan Bulaksumur, bukan lulusan Urbanum.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke laptop! Eh, pertanyaan Pak Barto.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja aku nggak bisa menjawab dengan cerocosanku itu. Aku hanya bisa bilang, ya Yesus memang maunya begitu. Coba lihat apa kata Yesus kepada Ananias yang male-malesan waktu disuruh menemui Saulus yang buta: ….orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (Kis.9:15). Pasti Yesus telah mempertimbangkan sebelum memilih dia. Begitu jawabanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Hehe. Nggak meyakinkan ya? OK deh. Kalau gitu, ada yang bisa bantu mencari jawaban yang meyakinkan?</p>
<p>Berkah Dalem</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum/Aturan/Berbuat Baik]]></title>
<link>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/renungan-harian-08-september-2008/</link>
<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 18:42:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>susiloari</dc:creator>
<guid>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/08/renungan-harian-08-september-2008/</guid>
<description><![CDATA[Senin, 08 September 2008
* Bacaan I             : 1Kor 5:1-8
* Bacaan Injil   : Luk 6:6-11
Renungan
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote cite="http://www.mirifica.net/harianDetail.php"><p>Senin, 08 September 2008</p>
<p>* Bacaan I             : 1Kor 5:1-8<br />
* Bacaan Injil   : Luk 6:6-11</p>
<p>Renungan</p>
<p>Semangat macam apa yang hendaknya kita miliki dalam menaati suatu hukum atau aturan? Adakah hukum yang melarang orang untuk berbuat baik? Hukum dan aturan dibuat demi kebaikan bersama. Kalau aturan itu membatasi orang untuk berbuat baik, sebaiknya aturan itu dibuang saja. Kalau kita membaca aturan secara harfiah, kita harus berani menyelami dan menggali maknanya, bukan mengikutinya begitu saja.</p>
<p>Aturan Sabat yang sebenarnya bertujuan agar umat Allah menjalin relasi yang mesra dengan Allah. Dalam rangka itu, umat diundang untuk mengambil bagian dalam karya-Nya. Ada hari yang dikhususkan untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Allah. Memuji dan bersyukur kepada Allah hendaknya tidak hanya dalam ungkapan, atau dalam ibadat, tetapi dalam perwujudan atau tindakan untuk berbuat kebaikan. Itulah yang Yesus lakukan dengan menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya. Tindakan-Nya itu mewujudkan Allah yang peduli dan penuh kasih.</p>
<p>Kita pun diundang untuk selalu berbuat baik di mana pun dan kapan pun. Berbuat baik berarti meringankan penderitaan orang lain, menolong orang yang kesusahan dan membantu orang yang membutuhkan bantuan. Apakah aku sudah berbuat baik hari ini? Apakah aku mendahulukan berbuat baik, atau sudah puas bila sudah beribadat? Tuhan Yesus, berilah aku semangat untuk mengamalkan hukum cinta kasih-Mu. Ajari aku untuk tidak puas diri bila belum berbuat baik kepada sesama. Amin.</p>
<p>[Ziarah Batin 2008, Renungan dan Catatan Harian] - dari Mirifica.net</p></blockquote>
<p><cite></cite></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[31 Tahun BKSN - Menantang Dunia]]></title>
<link>http://berkahdalem.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 10:45:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>susiloari</dc:creator>
<guid>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/01/31-tahun-bksn/</guid>
<description><![CDATA[ Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2008 mulai bergulir. Banyak orang dan lembaga yang sibuk menyambut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--><a href="http://berkahdalem.files.wordpress.com/2008/09/bible.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-97" style="border:2px solid black;margin:3px;" title="bible" src="http://berkahdalem.wordpress.com/files/2008/09/bible.jpg" alt="" width="106" height="132" /></a> Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2008 mulai bergulir. Banyak orang dan lembaga yang sibuk menyambut. Dari mulai tingkat lingkungan, stasi, paroki sampai keuskupan. Dari Penerbit Kanisius sampai PMKRI. Coba cari di google pakai kata kunci BKSN 2008, banyak halaman bisa ditemukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">BKSN tahun ini digulirkan dalam tahun Paulus yang dicanangkan Paus Benediktus XVI. Tapi saya nggak akan membahas masalah tema sekarang ini. Yang pertama-tama menarik perhatian saya adalah umur BKSN itu sendiri. Kegiatan tahunan ini sudah digulirkan sejak tahun 1977. Sampai sekarang berarti sudah 31 tahun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lha kok umur jadi poin menarik? Begini, biasanya kegiatan itu kan ada targetnya, ada tujuannya. Dalam kurun waktu tertentu, kalau tujuannya sudah tercapai, ya kegiatannya berhenti. Atau kalau masih mau berjalan ya berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selama 31 tahun BKSN punya tujuan yang masih sama; mendekatkan umat dengan kitab suci (KS). Ini sesuai dengan cita-cita gereja universal.<span> </span>Lha ini membuat saya bertanya-tanya dan berasumsi. Apakah selama 31 tahun Gereja Katolik di Indonesia belum berhasil mendekatkan umat dengan kitab suci? Bertahun-tahun kok tujuannya masih sama. Belum ada peningkatan. Apa memang ini proses yang tidak berkesudahan? Wah haiya lama-lama yang ngurus capek juga. Kerja keras tanpa peningkatan? Ada kesulitan apa sih?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terus-terang, ini agak mengganggu saya. Bukan karena saya sudah termasuk yang dekat dengan KS. Tapi ya itu tadi, dilaksanakan bertahun-tahun kok’ ra ono kacek-e’.<span> </span>Salahnya di mana?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya coba-coba membaca buku pedoman BKSN termasuk bahan pendalaman KS. Setelah sekian halaman saya lalap, saya sampai pada bagian ini: <span> </span><em>Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.</em> (Ibr.4:12).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">O…lha genah! Sudah jamaknya orang cari yang enak-enak, yang bikin nyaman, yang menyenangkan, yang cocok dengan ‘keinginan daging’, yang ‘pro-aku’. Maka ketika dihadapkan pada firman Allah yang lebih tajam dari pedang bermata dua, yang menusuk amat dalam, tajam, menyakitkan, yang menuntut pengosongan diri, yang berlawanan dengan ‘naluri daging’…..ya nehi-nehi. Simpen aja kitab sucinya. Aman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Kamu harus mengampuni sampai tuju puluh tuju kali tujuh…..”</em>. lha sekali saja uangelnya minta ampun!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Cukupkanlah dengan gajimu…”</em> Mana cukuuupp? Kalau bisa sih ngembat rejeki orang lain… oaran-orang lain juga begitu….</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>“Berbahagialah orang yang miskin…yang dianiaya…”</em> Waduh! Edan, po!?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di luar masalah metode, SDM dan sebagainya, BKSN itu memang proyek yang menentang dunia. Jadi yaw ajar kalau bertahun-tahun tujuannya masiiihh saja mendekatkan. Umat belum juga dekat-dekat dengan KS. Ini bukan bermaksud mengecilkan hati penggiat BKSN. Justru ini rahmat, yang membuat kita selalu berkesempatan bekerja untuk Tuhan. Don’t forget untuk selalu mohon kekuatan Roh Kudus menumbuhkan dan menggerakkan kerinduan umat terhadap Tuhan yang selalu setia menunggu untuk berjumpa dan berbicara dalam KS.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ha. Maka saya pun nggak akan komplain lagi kenapa tujuan BKSN kok masih itu-itu saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berkah Dalem</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mewartakan Injil - Teladan Hidup]]></title>
<link>http://berkahdalem.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 05:48:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>susiloari</dc:creator>
<guid>http://berkahdalem.wordpress.com/2008/09/01/mewartakan-injil-teladan-hidup/</guid>
<description><![CDATA[Senin, 01 September 2008

Bacaan I : 1Kor 2:1-5
Bacaan Injil : Luk 4:16-30

Renungan: Adakah pewarta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Senin, 01 September 2008</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Bacaan I : 1Kor 2:1-5</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Bacaan Injil : Luk 4:16-30</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Renungan: Adakah pewarta Injil yang tidak mengalami tantangan dan penolakan? Setiap pewarta Injil pasti akan mengalami penerimaan dan penolakan, keberhasilan dan kegagalan. Bahkan, pewarta Injil akan mengalami pergumulan mulai dari dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dalam masyarakat majemuk dan penuh dengan problem kemiskinan, pewarta Injil ditantang untuk setia pada panggilannya dan mensyukuri rahmat panggilan itu. Caranya tentu saja bukan dengan berteriak “Yesus, Yesus!” atau pergi ke rumah-rumah orang yang belum mengenal Yesus. Memberitakan Injil terutama adalah bagaimana selurus hidup kita membawa kegembiraan bagi yang bersedih, ketenteraman bagi yang gelisah, perlindungan bagi yang tak berdaya, kesejahteraan hidup bagi yang miskin. Dengan teladan hidup kita, diharapkan banyak orang semakin mengimani Allah.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Tuhan Yesus, utuslah Roh Kudus mendampingiku agar aku setia sebagai pewarta Injil dan bijaksana dalam mewartakan kabar gembira-Mu. Amin. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">(Ziarah Batin 2008, Renungan dan Catatan Harian)</span></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Heiliger Zorn]]></title>
<link>http://efeder.wordpress.com/?p=1322</link>
<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 09:31:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>katechon</dc:creator>
<guid>http://efeder.wordpress.com/2008/08/27/heiliger-zorn/</guid>
<description><![CDATA[Der designierte Vizepräsident der USA, Joe Biden, hat sich seit geraumer Zeit den Zorn der katholis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Der designierte Vizepräsident der USA, Joe Biden, hat sich seit geraumer Zeit den Zorn der katholischen Kirche zugezogen. Nun empfiehlt Erzbischof Charles Chaput sogar, Biden die Heilige Eucharistie zu verweigern.</p>
<blockquote><p>„Erzbischof Charles Chaput von Denver hat während des derzeit in Denver stattfindenden "National Convention" der Demokraten Kritik an Joe Biden, den demokratischen Vizepräsidentschafts-Kandidaten geübt und ihm mitgeteilt, dass er nicht die Hl. Eucharistie empfange sollte wie die "Washington Times" berichtet. Biden ist formell katholisch, widerspricht aber in Grundsatzfragen wie der Tötung ungeborener Kinder seit Jahren der Kirche und stimmte immer wieder für radikale Pro-Abtreibungs-Gesetze.“<br />
Quelle: Kath.net; Obama-Vize: <a href="http://www.kath.net/detail.php?id=20690" target="_blank">Keine Kommunion und Sprechverbot an katholischen Schulen</a></p></blockquote>
<p>Auch in seiner heimatlichen Diözese scheint Biden nicht sehr beliebt. Dort darf der Pro-Abtreibungsbefürworter nicht vor katholischen Schülern reden. <a href="http://efeder.wordpress.com/2008/08/21/verweigerte-kommunion/" target="_blank">Erst kürzlich stellte Erzbischof Raymond L. Burke, Präfekt der Apostolischen Signatur, nachdrücklich klar, dass Abtreibungsbefürworter keine Kommunion empfangen dürfen.</a></p>
<p>Sollte Obama mit der Ernennung Bidens auf die katholische Karte  gesetzt haben, könnte sich diese Karte als eine „Karo sieben“, statt als „Kreuz Bube“ entpuppen.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(Ternyata) Bukan hanya yang uzur yang mengisi gereja di Edmonton..]]></title>
<link>http://erwinbaja.wordpress.com/?p=99</link>
<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 23:00:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>erwinbaja</dc:creator>
<guid>http://erwinbaja.wordpress.com/2008/08/18/ternyata-bukan-hanya-yang-uzur-yang-mengisi-gereja-di-edmonton/</guid>
<description><![CDATA[Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"><a href="http://erwinbaja.files.wordpress.com/2008/08/uzur1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-100" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" src="http://erwinbaja.wordpress.com/files/2008/08/uzur1.jpg?w=300" border="0" alt="" width="300" height="268" /></a>Saya masih ingat bahwa salah satu pesan ‘sponsor’ yang paling dominan dari saudara-saudara dan keluarga saya sesaat sebelum saya berangkat ke Kanada adalah : “selalu ingat Tuhan, segera cari gereja terdekat sesampainya di Kanada,dan jangan lupa ke gereja setiap minggu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Pesan sponsor ini sebagian besar dilandasi kekhawatiran mereka bahwa di negara-negara bule/Barat (termasuk Kanada), nilai-nilai Kristiani sudah mulaiberkurang, orang-orang terutama generasi muda sudah lebih memilih tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Yang Maha Kuasa. Apalagi seorang sepupu istri saya yang sedang menempuh S2 di Jerman beberapa kali bercerita bahwa gereja-gereja di Jerman setiap minggu isinya cuma orang-orang yang sudah uzur, jarang ada orang muda apalagi anak-anak muda. Anak-anak muda sudah tidak pengen lagi ke gereja dan <span> </span>umumnya tidak percaya kalau Tuhan itu ada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"><!--more-->Begitu sampai di Edmonton, saya segera sadar bahwa pesan sponsor tentang cari gereja bukan sesuatu yang sulit di lakukan. Di Edmonton, yang namanya gereja banyak sekali dan boleh dikata ada di mana-mana. Kalau istilah hiperbolanya, hampir setiap 100 meter ada gereja dan dari bermacam-macam denominasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Karena saya seorang Katholik, saya coba cari gereja Katholik terdekat. Ternyata tidak sulit juga dan dalam jarak kira-kira 12 menit jalan kaki, saya sudah ketemu gereja Katholik. Di dekat gereja Katholik itu saja saya temukan paling sedikit 3 gereja lainnya (ada Lutheran, Presbytarian, dsbnya). <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Yang menarik, fenomena seperti diceritakan sepupu istri saya yang di Jerman itu ternyata tidak saya temukan di kota ini. Paling tidak fenomena seperti itu tidak saya temukan di “ Good Shepperd Catholic Church” tempat saya rutin hadiri misa setiap minggunya.<span>  </span>Setiap minggu, gereja ini diisi berbagai ragam orang, dari segala jenis usia dan ras. Menyenangkan rasanya melihat misa di gereja ini juga dihadiri bayi, anak-anak kecil, remaja, pasangan suami istri dan keluarga muda, single available maupun not available (seperti saya misalnya) di usia setengah baya,<span>  </span>sampai mereka yang sudah sepuh dan uzur. Bicara soal ras, mulai ras yang berasal dari Afrika, Asia (terutama Philippinos, Cina dan India), Eropa, Australia, sampai orang2 kelahiran Kanada ada di gereja ini. Rata-rata orang di gereja ini mengira saya Philippino, jadi suka surprise juga mereka setelah tahu saya dari Indonesia.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dengan melihat keadaan di atas, saya diam-diam merasa bersyukur dan tumbuh semacam keyakinan dalam diri saya bahwa nilai-nilai Kristiani masih coba dipelihara di segala golongan usia, dan yang paling penting lagi masih coba dipelihara di dalam keluarga-keluarga. Mungkin keadaan di Kanada, terutama di kota Edmonton ini tidak (atau belum ??) separah kondisi yang ditemukan sepupu istri saya di Jerman.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Memang tidak ada jaminan bahwa rajinnya seseorang ke gereja membuktikan bahwa seseorang itu sudah jadi seorang Kristen yang baik. Saya pribadi percaya bahwa iman seseorang itu dinilai dari ‘buahnya’, dari perbuatan yang dilakukannya, terutama buat sesamanya. Hal yang sama saya yakin berlaku buat agama lain. Nilai keimanan mereka harusnya terlihat dari perbuatannya, terutama kepada sesamanya. Sejauh ini yang saya temukan di Edmonton, orang-orangnya baik, ramah dan sangat mau menolong terutama kepada orang-orang asing. Ini saya temukan bukan hanya pada yang bule-bule, tapi juga pada kawan-kawan dari Iran, India, Afrika dan berbagai negara lainnya. Saya rasa ini pertanda bahwa mereka semua orang yang beriman, terlepas dari apapun itu agama atau sesuatu yang dipercayainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Meskipun demikian,<span>  </span>dengan melihat bahwa anak-anak, remaja dan orang-orang muda di Edmonton juga rajin ke gereja, sedikit banyak ada indikasi bahwa mereka tetap percaya akan keberadaan Tuhan serta percaya akan nilai-nilai Kristiani yang diajarkan orangtuanya. Kalau gak percaya, pasti mereka tidak akan ikutan misa di gereja. Di negara yang sangat memandang tinggi HAM ini, jangankan memaksa pergi ke gereja, menjewer anak sendiri saja (katanya) orangtua tidak diperbolehkan. Jadi, kalo anak-anak remaja dan muda mudi ini pergi ke gereja, kemungkinan besar karena keinginan sendiri, bukan karena dipaksa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dua pesan sponsor sudah saya jalankan dan sejauh ini masih rajin ke gereja </span><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;"><span>J</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> Sementara pesan yang pertama (tentang selalu ingat Tuhan) buat saya selalu merupakan perjuangan iman yang tiada hentinya. Sebagai manusia sering kali alpa dan lupa akan Dia, dan bersyukurlah saya karena Dia Maha Rahim dan Pengampun terhadap hambaNya yang suka jatuh dalam dosa ini. Perjuangan iman untuk selalu ingat Tuhan saya yakin tidak akan pernah berhenti, sampai akhirnya kelak perjalanan saya di dunia ini berakhir…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shakespeare war Katholik]]></title>
<link>http://efeder.wordpress.com/?p=906</link>
<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 23:34:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>katechon</dc:creator>
<guid>http://efeder.wordpress.com/2008/08/09/shakespeare-war-katholik/</guid>
<description><![CDATA[„William Shakespeare und seine Familie waren gläubige Katholiken. Da dieses Bekenntnis im England]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>„William Shakespeare und seine Familie waren gläubige Katholiken. Da dieses Bekenntnis im England jener Zeit verboten war, hielt er es geheim. Zu dem Ergebnis kommt eine neue Studie , wie CathNews berichtet.“<br />
<strong>Quelle:</strong> Kath.net; <a href="http://www.kath.net/detail.php?id=20545" target="_blank">Shakespeare war Katholik</a></p></blockquote>
<p>Aha. Schön. Freut mich.</p>
<blockquote><p>„Shakespeares Tochter Susanna wurde 1606 als „recusant“ identifiziert. In seinen letzten Jahren kaufte Shakespeare in London ein Haus, das ein geheimer Treffpunkt für katholische Messen, die damals illegal waren, gewesen sein dürfte.“</p></blockquote>
<p>Ja gut. Harte Zeiten damals. Aber sie wurden nie verfolgt, ins Gefängnis gesperrt, gefoltert, hingerichtet. Also!?</p>
<blockquote><p>„Ich wurde überzeugt, dass Shakespeare wirklich Katholik war … und dass diese Tatsache radikale Konsequenzen für das Studium seiner Werke hat.“</p></blockquote>
<p>Nein! Jetzt! Radikale Konsequenzen? Was ist das denn? Bitte! Ich liebe Shakespeare. Auch Aristophanes war kein Katholik. Hat die „Revoluzzion“ jetzt auch kath.net erreicht? Grausige Vorstellung das.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berdakwah Dengan Jalan Debat]]></title>
<link>http://stainpress.wordpress.com/?p=60</link>
<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 03:51:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>stainpress</dc:creator>
<guid>http://stainpress.wordpress.com/2008/07/05/berdakwah-dengan-jalan-debat/</guid>
<description><![CDATA[


 
ISBN: 978-979-1277-71-6
Penulis: Siti Uswatun Khasanah
Dimensi: 14 × 21 cm
Tahun terbit: 2007
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<table style="height:241px;" border="0" width="400">
<tbody>
<tr>
<td><a href="http://stainpress.files.wordpress.com/2008/07/berdakwah-dengan-jalan-debat.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-72" src="http://stainpress.wordpress.com/files/2008/07/berdakwah-dengan-jalan-debat.jpg?w=142" alt="" width="142" height="205" /></a><a href="http://stainpress.files.wordpress.com/2008/07/manajemen-madrasah-kecil.jpg"> </a></td>
<td><strong>ISBN</strong>: 978-979-1277-71-6<strong></strong></p>
<p><strong>Penulis</strong>: Siti Uswatun Khasanah</p>
<p><strong>Dimensi</strong>: 14 × 21 cm</p>
<p><strong>Tahun terbit</strong>: 2007</p>
<p><strong> Harga: Rp.35.000,-</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Buku ini muncul dari rasa ingin tahu penulis akan kondisi riil, bagaimana strategi dakwah para pemeluk agama sisionaris (Islam-Kristen) dilakukan. Karena betapapun mereka saling menghormati, namun orang-orang kristen dan Muslim sebisa mungkin akan terus berdakwah menyebarkan keyakinan agama mereka; kedua-duanya merasa mempunyai sebuah misi untuk mengajak seluruh umat manusia. Karenanya, misi dan dakwah dalam berbagai bentuknya selalu dilakukan untuk memberitakan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Meskipun mereka saling berdampingan satu sama lain, namun masing-masing dari mereka sebetulnya menyatakan klaim yang absolut atas kebenaran. Klaim semacam itu, dengan sendirinya membuat mereka tidak mungkin mengakui kebenaran satu sama lain, dan itulah yang terjadi pada debat terbuka pertama kali di dunia yang disajikan secara elegan dan mencerahkan dengan langsung menghadirkan para muallaf dan murtadin sebagaimana telah diselenggarakan oleh forum Arimatea yang kemudian didokumentasikan dalam VCD ”Muallaf vs Murtadin”. Dari situlah kemudian penulis tertarik juga untuk memngetahui analisis wacaana yang ada pada dakwah mereka.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(25.04.2007) Friendship of the Civilizations - Dialog der Kulturen]]></title>
<link>http://misawatruth.wordpress.com/?p=101</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 12:47:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>misawatruth</dc:creator>
<guid>http://misawatruth.wordpress.com/2008/06/19/25042007-friendship-of-the-civilizations-dialog-der-kulturen/</guid>
<description><![CDATA[Dialog der Kulturen 
 
Friendship of the Civilizations 
 
In einem Zeitalter, in dem der Begriff „]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:16pt;">Dialog der Kulturen </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:16pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Friendship of the Civilizations </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">In einem Zeitalter, in dem der Begriff „Clash of the Civilizations” nicht mehr Theorie, sondern eher Medien-, Macht- und Werbemittel ist, ist der Dialog der Kulturen, den ich “Friendship of the Civilizations” nenne, wichtiger als den je. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Beginnen  möchte ich meine Ausführungen mit einem Spruch des IV. Kalifen Ali, der da  sagte: „Der Mensch mag das nicht, was er nicht kennt!“ Man könnte diesen Satz  als die Quelle des oben zitierten Clashs nehmen. Erst wenn sich die Menschen  kennenlernen, übereinander und voneinander Lernen und merken, dass sie  eigentlich gar nicht so verschieden sind, wie sie sich dachten, entsteht  Verständnis füreinander und der Untertitel meines Beitrags kommt zu Stande;  nämlich Friendship.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Auch der Soziologe Wolf Lepenies zweifelt am „Kampf der Kulturen“. Er glaubt nicht, dass ein unausweichlicher "Kampf der Kulturen" der Welt bevorsteht und setzt stattdessen auf ein "Hoffnungsbild kultureller Lerngemeinschaften". </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Ja, die multikulturelle Gesellschaft ist viel homogener als wir immer denken oder einige glauben möchten. „Das Unbekannte“ oder „der Fremde“ kommen einem öfters „anders“ vor. Erst das Aufeinanderzugehen, Sichkennenlernen eröffnet neue Sichtweisen und neue Perspektiven. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">So sind die Menschen laut einem Vers im Koran bewusst und absichtlich vom Schöpfer unterschiedlich erschaffen worden, damit sie sich aneinander kennenlernen. Diese Unterschiedlichkeit soll die Neugier zueinander erwecken; die Neugier, sich kennenzulernen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Dieser Vers ist der folgende: „O ihr Menschen, Wir haben euch von einem männlichen und einem weiblichen Wesen erschaffen, und Wir haben euch zu Verbänden und Stämmen gemacht, damit ihr einander kennenlernt. Der Angesehenste von euch bei Gott, das ist der Gottesfürchtigste von euch“ (Der Koran: 49,13). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Da ich kein Theologe bin, überlasse ich die Interpretation dieses Verses dem Islamgelehrten Said Nursi, der folgendes dazu sagt: „Damit ihr die Anlässe des gesellschaftlichen Lebens kennen lernt, euch dabei gegenseitig unterstützt und nicht euch gegenseitig verleugnet und miteinander im Streit liegt“ (Nursi, 2004, S.444). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Nursi war der Meinung, dass die Muslime nicht nur unter muslimischen Mitgläubigen zusammenhalten sollten, sondern auch mit den wahrhaft Frommen und mit den christlichen Geistlichen; sie sollten nicht auf die Meinungsverschiedenheiten eingehen und streiten. Damit meinte Nursi nicht, dass es zwischen Muslimen und Christen keine Unterschiede gibt oder diese unwichtig seien. Vielmehr meint er, dass die „ausschließliche Konzentration auf diese Unterschiede, sowohl die Moslems als auch die Christen von ihrer noch wichtigeren Aufgabe abhalten kann, der modernen Welt eine Lebens- und Gesellschaftsvision anzubieten, in dessen Zentrum der Glaube an Gott steht und dessen moralischer Wertmaßstab der Glaube und das Suchen des Gotteswillens ist“ (Michel, 2004, S.17). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;"> Die Unterschiede zwischen den Religionen sind also gegeben. Doch diese sollten nicht das Zentrum des Zusammenlebens bilden. Die Gemeinsamkeiten können mit einem aufrichtigen Dialog hergestellt werden, frei dem Motto: <strong>Dialog verbindet Menschen!</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Weiterhin heißt es im Koran: „Und streitet nicht mit dem Volk der Schrift“ (Der Koran: 29,46). „Gott verbietet euch nicht, denen, die nicht gegen euch der Religion wegen gekämpft haben und euch nicht aus euren Wohnstätten vertrieben haben, Pietät zu zeigen und Gerechtigkeit angedeihen zu lassen. Gott liebt ja die, die gerecht handeln<a name="9">“ (Der Koran: 60,8). Hier wird dem Muslim geraten gütig zu sein und billig zu verfahren. Die Leute der Schrift sind laute dem Koran die Juden, die Christen und die Sabäer. </a></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0.0001pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Vom Islam her sind also dem Dialog der Religionen und der Kulturen keine Schranken gesetzt. Wichtig ist nur, dass die Aufrichtigkeit betont wird. Ein Dialog kann nur geführt werden, wenn auf beiden Seiten Aufrichtigkeit gezeigt wird und keine „zweifelhaften Spielchen getrieben“ werden. So steht z.B. die Missionierung genau im Gegenteil des Dialogs. Eine gegenseitige Missionierung führt zu Zwietracht und Missverständnissen. <span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Dem „Friendship of Civilizations“ steht also nichts im Wege. Nur die Bereitschaft und die Aufrichtigkeit zum Dialoge muss gezeigt werden. Es steht also eine menge Arbeit vor uns! Packen wir es an! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Cemil Sahinöz </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;">Literatur: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="WerBistDumetin" style="text-indent:-18pt;line-height:normal;margin:4pt 0 0.0001pt 53.4pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;">·<span> </span></span><span style="font-size:12pt;">Der Koran. Übersetzung von: Khoury Adel Theodor. Unter Mitwirkung von Abdullah Muhammed Salim. Gütersloher Verlagshaus: Gütersloh, 1987 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:normal;margin:0 0 0.0001pt 53.4pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;">·<span> </span></span><span style="font-size:12pt;">Michel T.: Christlich-Islamischer Dialog und die Zusammenarbeit nach Bediüzzaman Said Nursi. Söz Basim: Istanbul, 2004 </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:normal;margin:0 0 0.0001pt 53.4pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;">·<span> </span></span><span style="font-size:12pt;">Nursi S.: Die Briefe. Sözler Verlag: Istanbul, 2004 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin-bottom:0.0001pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Erschienen in Ayasofya Nr.19, April 2007</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(15.02.2007) Die fantastische Anwendung der Logik]]></title>
<link>http://misawatruth.wordpress.com/?p=98</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 12:46:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>misawatruth</dc:creator>
<guid>http://misawatruth.wordpress.com/2008/06/19/15022007-die-fantastische-anwendung-der-logik/</guid>
<description><![CDATA[Die fantastische Anwendung der Logik
Ein kleines Erlebnis 

aus dem Buch: &#8220;Wer Bist Du? Die Re]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:110%;" align="center"><strong><span style="font-size:large;">Die fantastische Anwendung der Logik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:110%;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;">Ein kleines Erlebnis</span></strong><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;">aus dem Buch: "Wer Bist Du? Die Reise des Menschen" von Cemil Sahinöz.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">An einer Bildungsanstalt: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Ein Professor der Philosophie steht vor seiner Klasse und bittet einen seiner neuen Studenten aufzustehen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Du bist Muslim, nicht wahr?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja, Herr Professor." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Also glaubst du an Gott?"</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Absolut." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ist Gott gut?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Natürlich! Gott ist gut." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ist Gott allmächtig? Kann Gott alles tun?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor grinst wissentlich und überlegt für einen Moment. "Hier ist etwas für dich. Sagen wir, es ist eine kranke Person hier und du kannst sie heilen. Du kannst es. Würdest du ihr dann helfen? Würdest du es versuchen?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja Herr Professor, ich würde." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Also bist du gut...!" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Das würde ich nicht sagen." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Warum würdest du das denn nicht sagen? Du würdest einer kranken und verkrüppelten Person helfen, wenn du könntest, die meisten würden dies tun, wenn sie könnten... Gott tut es nicht.“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Er tut es nicht, oder doch? Mein Bruder war ein Muslim der an Krebs starb, obwohl er Gott darum bat ihn zu heilen. Wie ist dieser Gott gut? Hmmm? Kannst du das beantworten?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der ältere Mann ist verständnisvoll. "Nein, du kannst nicht, oder kannst du?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Er nimmt einen Schluck Wasser aus dem Glas auf seinem Schreibtisch, um dem Studenten Zeit zu geben, sich zu entspannen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„In der Philosophie, darf man nicht zu hart mit den Neuen umgehen. Lass uns nochmals beginnen, junger Freund." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ist Gott gut?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">" Äh.... Ja." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ist Satan gut?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Nein." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Wo kommt Satan her?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Student stockt. „Von... Gott...“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Das ist richtig. Gott erschuf Satan, nicht wahr?“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der ältere Mann fährt mit seinen knochigen Fingern durch sein dünnes Haar und wendet sich an die grinsenden Studenten. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ich denke wir werden viel Spaß haben dieses Semester, meine Damen und Herren." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Er dreht sich wieder zum Muslim. "Sag mir, gibt es Übel in dieser Welt?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja, Herr Professor." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Übel gibt es überall, wohin man nur sieht, nicht wahr? Hat Gott alles erschaffen?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Wer hat das Übel erschaffen? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Gibt es Krankheit auf dieser Welt? Unmoral? Hass? Hässlichkeit? All diese schrecklichen Dinge - existieren sie in dieser Welt?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Student dreht sich hin und her. "Ja." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Wer erschuf es?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor schreit seinen Studenten plötzlich an. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Wer erschuf es? Sag es mir, bitte!" </span><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor nähert sich bedrohlich und schaut in das Gesicht des Muslims. Mit einer leisen Stimme: "Gott erschuf all das Übel, nicht wahr?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Student versucht die Ruhe zu bewahren, starrt ihn an und scheitert. Plötzlich bricht der Lektor los um seine Klasse anzufallen, wie ein alternder Panther. Die Klasse saß wie gebannt. "Sagt mir" setzt er fort, "Wie kommt es, dass dieser Gott gut ist, wenn er das ganze Übel zu allen Zeiten erschuf?“ Der Professor schwenkt seinen Arm umher, um die Schlechtheit der Welt zu umfassen. „All der Hass, die Brutalität, all der Schmerz, all die Qualen, all der Tod und die Hässlichkeit und all diese Leiden geschaffen von diesem guten Gott ist alles in dieser Welt, nicht wahr, junger Mann?“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Siehst du es denn nicht überall, um dich herum? Huh? Pause. Siehst du es nicht?" Der Professor lehnt sich erneut an das Gesicht des Studenten und flüstert, „Ist Gott gut?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Glaubst du an Gott?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Die Stimme des Studenten enttäuscht ihn und bricht. "Ja, Herr Professor. Das tue ich." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor ist enttäuscht und sagt "Die Wissenschaft sagt, du hast fünf Sinne, die du verwendest um die Welt um dich zu identifizieren und zu beobachten. Du hast Gott nie gesehen, oder etwa doch? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Nein, Herr Professor. Ich habe ihn nie gesehen." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Dann sag uns, hast du deinen Gott jemals gehört?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Nein, Herr Professor. Das habe ich nicht." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Hast du deinen Gott jemals gefühlt, oder gekostet, oder gerochen...kurz, hattest du irgendeine sinnliche Erfassung deines Gottes, wie auch immer?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Keine Antwort] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Antworte mir bitte!" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Nein, Herr Professor, Ich fürchte das habe ich nicht." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Du fürchtest... du hast nicht?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Nein, Herr Professor." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Dennoch glaubst du an Ihn?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"...ja..." "Das verlangt Glauben!" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor lächelt weise bei dieser Unterstreichung. „Nach den Regeln vom empirischem, überprüfbarem, demonstrierbarem Protokoll, sagt die Wissenschaft dass dein Gott nicht existiert. Was sagst du dazu? Wo ist dein Gott jetzt?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">[Der Student antwortet nicht] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Setz dich bitte hin." Der Muslim setzt sich...Geschlagen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Ein anderer Muslim erhebt seine Hand. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Professor, darf ich mich an die Klasse wenden?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor dreht sich und lächelt. "Ah, noch ein Muslim! Komm, komm, junger Mann. Sprich ein paar weise Worte zu der Versammlung." Der Muslim sieht sich im Raum um. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Herr Professor. Jetzt habe ich einmal eine Frage an Sie. Gibt es etwas wie Wärme?“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Ja,“ antwortet der Professor, "es gibt Wärme." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Gibt es etwas wie Kälte?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja, es gibt auch Kälte." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Nein, Herr Professor, das gibt es nicht." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Das Lächeln des Professors erstarrt. Im Raum wird es plötzlich ganz kalt. Der zweite Muslim setzt fort. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Sie können verschiedene Arten von Hitze haben, mehr Hitze, Super-hitze, Mega-hitze, Weiße Hitze, ein wenig Hitze oder keine Hitze aber wir haben nichts was sich "Kälte" nennt. Wir können 458 Grad unter Null erreichen, was bedeutet, dass keine Hitze vorhanden ist, aber wir können nicht weiter gehen als das. Es gibt nichts, wie Kälte, andernfalls müssten wir imstande sein weiter in die Kälte zu gehen als -458. Sie sehen Herr Professor, Kälte ist lediglich ein Wort, dass wir verwenden um das nicht-vorhandensein von Hitze zu beschreiben. Wir können Kälte nicht messen. Wärme können wir in thermischen Einheiten messen, da Wärme Energie ist. Kälte ist nicht das Gegenteil von Wärme, sondern nur die Abwesenheit davon." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Stille..... Eine Nadel fällt, irgendwo im Klassenzimmer. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Gibt es etwas wie Dunkelheit, Herr Professor?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Dass ist eine dumme Frage. Was ist Nacht, wenn nicht Dunkelheit? Worauf willst du diesmal hinaus...?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Also Sie sagen es gibt etwas wie Dunkelheit?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja..." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Sie liegen wieder falsch. Dunkelheit ist nicht etwas, es ist nur die Abwesenheit von etwas. Sie können gedämpftes Licht haben, normales Licht, helles Licht, blitzendes Licht, aber wenn Sie durchgehend keines haben, dann nennen wir es Dunkelheit, nicht wahr. Das ist die Bedeutung die wir verwenden um dieses Wort zu definieren. In Wahrheit ist Dunkelheit nicht. Wenn es wäre, dann würden Sie jetzt fähig sein dünklere Dunkelheit zu machen und mir ein Glas davon zu geben. Können Sie .......... mir ein Glas dünklere Dunkelheit geben, Herr Professor?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Trotz allem, lächelt der Professor den jungen Unverschämten vor sich an. Das wird wahrhaftig ein gutes Semester. "Würde es dir etwas ausmachen uns zu sagen, worauf du hinaus willst, junger Mann?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ja, Herr Professor. Ich will darauf hinaus, dass ihre philosophischen Voraussetzungen fehlerhaft sind und daher muss auch ihre Schlussfolgerung falsch sein...." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor wird giftig. "Fehlerhaft...? Wie kannst du es wagen...!" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Darf ich erklären, was ich meine?" Die Klasse ist ganz Ohr. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Erkläre... erkläre nur..." Der Professor bemüht sich, seine Nerven zu behalten. Plötzlich ist er die Freundlichkeit selbst. Er schwenkt seine Hand, um die Klasse zur Ruhe zu bringen, damit der Student fortsetzen kann. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Sie arbeiten mit den Prinzipien der Dualität," erklärt der Muslim. „Dass es zum Beispiel Leben gibt und den Tod, einen guten Gott und einen bösen. Sie betrachten das Konzept von Gott als etwas Begrenztes, etwas, dass wir messen können. Die Wissenschaft, Herr Professor, kann nicht einmal einen Gedanken erklären. Sie verwendet Elektrizität und Magnetismus, aber hat sie nie gesehen, geschweige denn gänzlich verstanden. Den Tod als das Gegenteil von Leben zu betrachten, bedeutet die Tatsache zu verkennen, dass der Tod nicht als ein substantives Ding existieren kann. Der Tod ist nicht das Gegenteil von Leben, sondern lediglich die Abwesenheit vom körperlichem oder biologischem Leben." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der junge Mann hält eine Zeitung hoch, die er vom Tisch eines Sitznachbars nimmt, der gerade damit beschäftigt war, diese zu lesen "Hier ist eine der abscheulichsten Revolverblätter die dieses Land führt, Herr Professor. Gibt es etwas wie Unmoral?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Natürlich gibt es das, sieh nur..." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Sie liegen wieder falsch. Wie sie sehen, Unmoral ist lediglich die Abwesenheit von Moral. Gibt es etwas wie Ungerechtigkeit? Nein. Ungerechtigkeit ist die Abwesenheit von Gerechtigkeit. Gibt es etwas wie Bösartigkeit?" Der Muslim macht eine Pause. "Ist Bösartigkeit nicht die Abwesenheit von Güte?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Des Professors Gesicht hat eine warnende Farbe angenommen. Er ist so wütend, dass er vorübergehend sprachlos ist. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Muslim setzt fort. "Wenn es Übel auf dieser Welt gibt, Herr Professor und wir alle wissen, dass es so ist, dann muss Gott, wenn er existiert, ein Werk schaffen, um sich durch diese Agentur des Bösen durchzuarbeiten. Was ist dieses Werk, dass Gott schafft? Der Islam sagt uns, dass es jeder beachten soll was er wählt, wählt er gut oder böse." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor wehrt sich entrüstet. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Als ein philosophischer Wissenschaftler, betrachte ich diese Sache nicht, als etwas was mit einer Wahl zu tun hat, als ein Realist erkenne ich weder dieses Konzept von Gott, noch irgendeinen anderen theologischen Faktor, als Teil dieses weltlichen Gleichgewichtes an, den Gott ist nicht beobachtbar." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ich hätte gedacht, dass die Abwesenheit von Gottes Moralwerten in dieser Welt, wahrscheinlich das am leichtesten zu beobachtbare Phänomen ist," antwortet der Muslim. "Zeitungen machen Millionen von Umsätze damit, darüber zu berichten! Sagen Sie mir, Herr Professor. Bringen Sie Ihren Studenten bei, dass sie von einem Affen abstammen?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Wenn du Bezug zum natürlichen Evolutionsprozess nimmst, junger Mann, ja, natürlich tue ich das." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Haben Sie Evolution je mit Ihren eigenen Augen beobachtet, Herr Professor?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor macht ein schlürfendes Geräusch mit seinen Zähnen und schenkt dem Studenten einen ruhigen, starren Blick. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Herr Professor. Nachdem niemand jemals den Prozess der Evolution in Arbeit gesehen hat und niemand beweisen kann, dass dieser Prozess ein laufendes Bestreben ist, unterrichten Sie nicht Ihre Meinung? Sind Sie nun gar kein Wissenschaftler, sondern ein Priester?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ich will im Licht dieser philosophischen Diskussion, über deine Unverschämtheit hinwegsehen. Nun, hast du bald fertig gesprochen?" faucht der Professor. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Also akzeptieren Sie Gottes Moralwerte nicht, die Sie dazu auffordern, das zu tun, was recht ist?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ich glaube das was ist - dass ist die Wissenschaft!" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Ahh! Die Wissenschaft!“, das Gesicht des Studenten formt ein Grinsen. "Sie besagen, dass die Wissenschaft die Studie der beobachtbaren Phänomene ist. Auch die Voraussetzungen der Wissenschaft sind fehlerhaft..." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Wissenschaft ist fehlerhaft..?" zischt der Professor. Die Klasse ist in Aufruhr. Der Muslim bleibt stehen, bis die Aufregung sich wieder gelegt hat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">"Um bei dem Punkt fortzusetzen, den Sie vorhin bei dem anderen Studenten gebracht haben, darf ich Ihnen ein Beispiel dafür geben was ich meine?" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Professor schweigt klugerweise. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Muslim sieht sich im Raum um, "Gibt es irgendjemanden in dieser Klasse, der jemals Luft gesehen hat? Sauerstoff, Moleküle, Atome, den Verstand des Professors?" Die Klasse bricht in Gelächter aus. Der Muslim zeigt auf seinen älteren, zerbrechenden Lehrer. "Ist da jemand, der jemals den Verstand des Professors gesehen hat... den Verstand des Professors gefühlt hat, den Verstand des Professors berührt hat, oder den Verstand des Professors gerochen hat? Es scheint niemanden zu geben.“ Der Muslim schüttelt traurig seinen Kopf. „Es sieht so aus, dass niemand jemals irgendeine sinnliche Erfassung vom Verstand des Professors erfahren hat. Nun, nach den Regeln des empirischen, stabilen, demonstrierbaren Protokoll der Wissenschaft, erkläre ich, dass der Professor kein Verstand hat." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Nun ist es Jedermanns Gelegenheit mehr zu lernen; über Gott, über den Zweck der Existenz; Erschaffung und Leben; über die Propheten Gottes und über die heiligen Bücher.“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">„Es gibt keinen Zwang in der Religion. Der rechte Wandel unterscheidet sich nunmehr klar vom Irrweg. Wer also die Götzen verleugnet und an Gott glaubt, der hält sich an der festesten Handhabe, bei der es kein Reißen gibt. Und Gott hört und weiß alles. Gott ist der Freund derer, die glauben; Er führt sie aus den Finsternissen hinaus ins Licht. Diejenigen, die nicht glauben, haben die Götzen zu Freunden; sie führen sie aus dem Licht hinaus in die Finsternisse...“ (Der Koran, 2:256-257) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:110%;"><span style="font-size:11pt;">Der Muslim setzt sich... Denn dafür sind Sessel da! </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;">„Sprich: Er ist Gott, der Einzige, Gott, der Undurchdringliche. Er hat nicht gezeugt, und Er ist nicht gezeugt worden, und niemand ist Ihm ebenbürtig.“ (Der Koran 112:1-4)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(01.12.2006) Papst betet in Blauer Moschee]]></title>
<link>http://misawatruth.wordpress.com/?p=96</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 12:45:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>misawatruth</dc:creator>
<guid>http://misawatruth.wordpress.com/2008/06/19/01122006-papst-betet-in-blauer-moschee/</guid>
<description><![CDATA[Papst betet in Blauer Moschee
Papst Benedikt betete in Richtung Mekka
Papst Benedict besuchte am dri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="title_big">Papst betet in Blauer Moschee</div>
<p><strong>Papst Benedikt betete in Richtung Mekka</strong></p>
<div class="article">Papst Benedict besuchte am dritten Tag seiner Türkeireise die zwei großen   „Moscheen“ Istanbuls. Zunächst machte er einen Rundgang durch die   Altmoschee Hagia Sophia, die heute ein Museum ist. Danach betrat er ohne   Schuhe die berühmte Blaue Moschee.</p>
<p><strong>30 Sekunden Gebet</strong></p>
<p>In der Blauen Moschee führte ihn Istanbuls Großmufti Mustafa Cagrici durch   die Moschee. Cagrici zeigte ihm die verschiedenen Einrichtungen der Moschee   und zeigte ihm, wie Muslime beten.</p>
<p>Danach passierte etwas, was die Weltpresse in Sensation auslöste. Als der Großmufti   gerade die Bedeutung der Gebetsrichtung für die Muslime erklärte, schlug er   vor, zusammen eine halbe Minute in Richtung Mekka zu beten.</p>
<p><strong>Papst in der Kıyam-Stellung</strong></p>
<p>Der Papst und der Großmufti kreuzten die Arme wie beim muslimischen Gebet in   der Kıyam-Stellung und beteten 30 Sekunden. Diese Geste der beiden   Glaubensmänner wurde weltweit positiv anerkannt.</p>
<p><strong>„Skandal für die Welt“</strong></p>
<p>Auch zum gestrigen Treffen mit dem orthodoxen Patriarchen Bartholomaios sagte   der Papst heute einige Worte. Die Spaltung zwischen den Kirchen sei ein   „Skandal für die Welt“. So lud er die Kirchenführer der weltweit rund   300 Millionen orthodoxen Gläubigen zu einem Dialog ein.</p>
<p>Cemil Sahinöz &#124; KISMET 01.12.2006</p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(30.11.2006) Der Papst in Istanbul]]></title>
<link>http://misawatruth.wordpress.com/?p=95</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 12:44:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>misawatruth</dc:creator>
<guid>http://misawatruth.wordpress.com/2008/06/19/30112006-der-papst-in-istanbul/</guid>
<description><![CDATA[Der Papst in Istanbul
Benedikt der XVI. möchte Kirchen vereinen
Papst Benedikt der XVI. setzte sein]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="title_big">Der Papst in Istanbul</div>
<p><strong>Benedikt der XVI. möchte Kirchen vereinen</strong></p>
<div class="article">Papst Benedikt der XVI. setzte seine Reise durch die Türkei fort. Die erste   Station am Mittwoch war das „Marienhaus“ (Haus der Maria) in Ephesus. Die   Reise zum Hause der heiligen Maria gilt für Katholiken als Pilgerfahrt.   Ephesus wird als ein Wallfahrtsort gesehen.</p>
<p>So meinte der Papst bei der Messe in Ephesus, die für die kleine christliche   Gemeinde abgehalten wurde, er sei nun ein Pilger. Gleichzeitig war dies die   erste Messe des Papstes auf einem muslimischen Boden. Nach der Messe hielt   Papst Benedikt nicht die Fahne des Vatikans, sondern die Fahne der Türkei in   den Händen.</p>
<p><strong>Ausnahmezustand in Istanbul</strong></p>
<p>Die nächste Station des Papstes war die größte Stadt der Türkei, Istanbul.   80 Journalisten aus aller Welt begleiteten den Papst in Istanbul. Die   Innenstadt Istanbuls war weiträumig abgesperrt. Anwohner mussten sich   registrieren. Bestimmte Bereiche der Stadt konnten nur mit Berechtigung   betreten werden.</p>
<p><strong>Katholiken und Orthodoxen vereinen</strong></p>
<p>In Istanbul kam es zum eigentlichen Zweck der Türkeireise. Das Oberhaupt der   Katholiken traf sich im Istanbuler-Stadtteil Fener mit dem orthodoxen   Patriarchen Bartholomaios. Dieses Treffen galt als Aussöhnung zwischen der   katholischen und der orthodoxen Kirche. Im Gottesdient in Fener verkündete   der Papst seinen Willen, „die tausend Jahre alte Kirchenspaltung zu überwinden.“</p>
<p><strong>Gespräche mit weiteren Vertretern</strong></p>
<p>Auch für Donnerstag sind mehrere Treffen im Reiseprogramm des Papstes   eingeplant. Ein Treffen mit Vertretern der griechisch-orthodoxen Kirche und   mit Mitgliedern der armenischen Kirche ist vorgesehen. Auch mit der jüdischen   Gemeinde in Istanbul soll in den kommenden Tagen ein Gespräch stattfinden.   Unklar ist, ob der Papst Gespräche mit wichtigen islamischen Geistlichen   unternehmen wird.</p>
<p>Cemil Sahinöz &#124; KISMET 30.11.2006</p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(29.11.2006) Benedikt XVI. im türkischen Stress]]></title>
<link>http://misawatruth.wordpress.com/?p=94</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 12:44:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>misawatruth</dc:creator>
<guid>http://misawatruth.wordpress.com/2008/06/19/29112006-benedikt-xvi-im-turkischen-stress/</guid>
<description><![CDATA[Benedikt XVI. im türkischen Stress
Der Papst hat seine Reise begonnen
Das Oberhaupt der Katholiken ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="title_big">Benedikt XVI. im türkischen Stress</div>
<p><strong>Der Papst hat seine Reise begonnen</strong></p>
<div class="article">Das Oberhaupt der Katholiken Papst Benedict der XVI. ist am Dienstag in der Türkei   angekommen. Eine anstrengende Reise und einige Gespräche in Ankara waren   bereits an der Tagesordnung. Für den Papst wurde in der Türkei der   „Bush-Plan“ angewandt. Dieses Projekt der türkischen Polizei wurde   speziell für den letzten Besuch des amerikanischen Präsidenten George W.   Bush entworfen.<br />
<strong><br />
Türkischer Ausnahmezustand</strong></p>
<p>Nun wurde es auch beim Papst eingesetzt. Dies bedeutet im Konkreten: 3000   speziell ausgewählte Polizisten sind für den Papstbesuch im Einsatz. Die   Straßen, die der Papst durchfährt, werden rigide abgesperrt. Als Landungsort   des „Papst-Fliegers“ wurden drei verschiedene Flughäfen angegeben. Es   herrscht also Ausnahmezustand in der Türkei.</p>
<p>Der Ministerpräsident der Türkei, Recep Tayyip Erdogan, konnte der Kritik   nicht mehr standhalten und gab einen Tag vor der Ankunft des Papstes bekannt,   dass er sich doch 20 Minuten mit dem Papst treffen wird.<br />
<strong><br />
Harter Tagesplan</strong></p>
<p>Dieses Treffen fand direkt nach dem Eintreffen des Papstes im Flughafen statt.   Exakt 20 Minuten sprachen Erdogan und der Papst über den EU-Beitritt der Türkei   und die Friedensbotschaft des Islam.</p>
<p>Für den Papst ging es weiter nach Ankara, zur Grabstätte von Mustafa Kemal   Atatürk, der Gründer der laizistischen Republik Türkei. Danach kam es zu   einem Treffen mit Ahmet Necdet Sezer, dem Staatspräsidenten der Türkei. Ein   kurzes Gespräch gab es danach mit Mehmet Ali Sahin, einem Staatsminister.</p>
<p>Gleich nach den Politikern traf sich der Papst mit Ali Bardakoglu, dem Präsidenten   von Diyanet, der türkischen Religionsbehörde. Dies war die mit Spannung   erwartete Begegnung. Bardakoglu sagte im anschließenden gemeinsamen   Pressegespräch, dass der Islam „keine Religion des Schwertes ist. Der Islam   bedeutet Frieden. Muhammed hat Frieden gebracht.“</p>
<p>In den kommenden Tagen wird der Papst in Istanbul einige wichtige Besuche   abhalten. Kritik im Vorfeld gab es im Bezug auf eine Ankündigung von Benedikt   XVI., er wolle in der Hagia Sofia beten und die "alte Kirche"   heilige sprechen. Demonstrationen gibt es bereit seit Tagen im Umfeld der   einstigen Kirche, Moschee und heute Museum.</p>
<p>Cemil Sahinöz &#124; KISMET 29.11.2006</p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(25.11.2006) Der Papst kommt]]></title>
<link>http://misawatruth.wordpress.com/?p=93</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 12:44:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>misawatruth</dc:creator>
<guid>http://misawatruth.wordpress.com/2008/06/19/25112006-der-papst-kommt/</guid>
<description><![CDATA[Der Papst kommt
Papst Benediktus XVI. besucht die Türkei
In der Türkei wird zurzeit nur ein Thema ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="title_big">Der Papst kommt</div>
<p><strong>Papst Benediktus XVI. besucht die Türkei</strong></p>
<p>In der Türkei wird zurzeit nur ein Thema diskutiert. Alle Zeitungen,   Nachrichtensender, Diskussionsrunden und Politiker fragen sich: Was passiert,   wenn der Papst kommt?</p>
<p>Am kommenden Dienstag besucht das Oberhaupt der Katholiken Papst Benedikt der   XVI. die Türkei. Die Menschen in der Türkei sind allerdings wegen der   islamfeindlichen Kommentare des Papstes angespannt.</p>
<p>Sie wissen nicht, wie sie mit dem Papst umgehen sollen. Die einen fordern   weiterhin eine Entschuldigung für die Papstrede, die anderen wollen „ihn   nicht beachten.“<br />
<strong><br />
Politiker oder Geistlicher?<br />
</strong><br />
Dabei ist unklar, in welcher Position der Papst die Türkei besucht. Er wird   als Staatsmann und als Geistlicher in Empfang genommen. Papst Benedikt wird   die Groß-Orthodoxe-Kirche im Istanbuler-Stadtteil Fener besuchen.</p>
<p>Dieser Besuch ist im Grunde eine Revolution für die katholische Welt. Der   Papst wird versuchen, eine Brücke zwischen den orthodoxen Kirchen in Asien   und der katholischen Kirche in Europa herzustellen.</p>
<p>Gleichzeitig wird der Papst einige Gespräche mit Politikern über die   EU-Aufnahme der Türkei sprechen. Wie schon aus früheren Stellungnahmen   bekannt, ist der Papst strikt gegen eine Aufnahme der Türkei in die EU.</p>
<p><strong>Muslime fordern Entschuldigung</strong></p>
<p>Die Muslime in der Türkei gehen bei diesem Besuch leer aus. Ein Gespräch   zwischen dem Papst und muslimischen Gelehrten ist nicht geplant. Auch hat der   Vatikan geäußert, dass der Papst zwar traurig ist, dass seine Worte die   muslimische Welt verletzten, er sich aber in der Türkei nicht entschuldigen   wird.</p>
<p><strong>96,5 Stunden über den Propheten</strong></p>
<p>In einem Gespräch mit KISMET, berichtete ein Moderator einer Radiostation in   Adana, dass sie 96,5 Stunden lang eine Sendung über den Propheten Muhammed   (Friede sei mit ihm) machen werden.</p>
<p>„Sobald der Flieger des Papstes landet, beginnt unsere Sendung und endet,   wenn der Papst wieder abreist.“ Der Titel der Sendung lautet „Was brachte   der Prophet Muhammed Neues?“ Also genau die Frage, die in der Papst-Rede im   September fiel.</p>
<p>Cemil Sahinöz &#124; KISMET 25.11.2006</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[(01.05.2006) Popetown - Stellungnahme]]></title>
<link>http://misawatruth.wordpress.com/?p=86</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 12:38:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>misawatruth</dc:creator>
<guid>http://misawatruth.wordpress.com/2008/06/19/01052006-popetown-stellungnahme/</guid>
<description><![CDATA[Popetown- Stellungnahme

Mit Entsetzen verfolgte ich die Sendung &#8220;Popetown&#8221; auf MTV. Wie]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle"><strong>Popetown- Stellungnahme</strong></p>
<p class="MsoNormal" align="left">
<p class="MsoBodyText">Mit Entsetzen verfolgte ich die Sendung "Popetown" auf MTV. Wieder einmal wurde unter dem Deckmantel der "Meinungsfreiheit" Religionsbeleidigung durchgeführt.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ich als Muslim bin gegen die Ausstrahlung dieses Trickfilms, welches die Kirche, den Papst und den Vatikan auf tiefste Weise verletzt.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">So darf Meinungsfreiheit nicht mit Beleidigungsfreiheit verwechselt werden. Meinungsfreiheit ist die Freiheit eines jeden Individuums seine eigene Meinung wiederzugeben, ohne dafür selber „bestraft“ zu werden oder die Gegenseite zu „bestrafen“. Doch in diesem Fall kann man wohl kaum von Meinungsfreiheit sprechen. Die Katholiken sind hart getroffen. Sie fühlen sich verletzt, da sie die Zielscheibe sind. Daher schlage ich vor hier das Wort „Beleidigungsfreiheit“ einzuführen. Denn dieses Trickfilm gibt eher Beleidigungen wieder als Meinungen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Es verletzt religiöse Gefühle einer Großteil dieser Gesellschaft. Interreligiöse oder intergesellschaftliche Dialoge sind auf dieser Basis nicht mehr möglich. Toleranz und Respekt sind mit die wichtigsten Faktoren für ein friedfertiges Zusammenleben in unserer<br />
Gesellschaft. In diesem Trickfilm sind die Grenzen klar beschritten.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Man muss also schauen, wo hört Meinung auf und wo beginnt Beleidigung. Der Islamgelehrte Said Nursi hat hierzu eine schöne Erklärung: Jeder Mensch hat seine eigene Freiheit. Aber da wo die Freiheit des Anderen beginnt, da schneiden sich die Freiheitskreise. Hier muss Toleranz auf beiden Seiten beginnen. Das heißt, auch wenn dieses Trickfilm „Meinungen“ sein sollten, hätte man auf diese Meinungen verzichten müssen. Denn sie haben nichts weiter ausgelöst als Chaos. <strong>Die Meinungsfreiheit gibt niemandem die Freiheit, einen Anderen zu beleidigen. Die Menschenrechte stehen über der Meinungsfreiheit!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">So wünsche ich, besonders meinen katholischen Glaubensbrüdern, viel Geduld.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p>Cemil Sahinöz</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jenazah Utuh Para Kudus]]></title>
<link>http://sarinum.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 17:06:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>sarinum</dc:creator>
<guid>http://sarinum.wordpress.com/2008/06/07/jenazah-utuh-para-kudus/</guid>
<description><![CDATA[
 

Apa kesan pertama Anda saat mengetahui adanya jenazah yang utuh?, takjub, skeptis, atau malah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img style="vertical-align:bottom;" src="http://yesaya.indocell.net/20732cc50.jpg" alt="St. Bernadette Soubirous (1844-1879)" width="363" height="183" /></p>
<p> </p>
<p><img style="vertical-align:bottom;" src="http://www.catholicpilgrims.com/lourdes/images/bernrosary.gif" alt="Rosario yang dikenakan St. Benadette Soubirous pada saat wafatnya" width="290" height="210" /></p>
<p style="text-align:left;">Apa kesan pertama Anda saat mengetahui adanya jenazah yang utuh?, takjub, skeptis, atau malah biasa saja? tapi apapun kesan itu, jenazah utuh tentunya telah mengarahkan perhatian manusia untuk memecahkan "misteri" tersebut atau malah mengarahkan ke sebuah teori baru tentang pembusukan, "menggeser" teori yang biasa kita ketahui bersama bahwa ketika tubuh mengalami kematian dan kemudian dimakamkan tentunya proses kerja bakteri akan mulai bekerja dan tentunya akan terjadi proses degradasi jaringan atau <em>autolisis</em>.</p>
<p style="text-align:left;"><img style="vertical-align:bottom;" src="http://yesaya.indocell.net/207e2ce10.jpg" alt="Beato Stefanus Bellesini (1774-1840)" width="211" height="168" /></p>
<p style="text-align:right;">Kasus-kasus ini uniknya banyak sekali kita temui dalam gereja Katholik, seperti yang disebutkan dalam situs <a title="Yesaya" href="http://www.indocell.net/yesaya/id923.htm" target="_blank">Yesaya</a> dimana banyak sekali peristiwa-peristiwa atau mungkin kita menyebutnya mujizat yang meliputi pribadi yang tubuhnya tidak mengalami proses pembusukan. Walau dari kalangan gereja Katholik sendiri mengklaim bahwa jenazah-jenazah para kudus tersebut tidak pernah mengalami pengawetan seperti yang dilakukan pada jenazah para firaun saat zaman Mesir kuno dulu, tapi toh juga peristiwa ini tidak menununjukkan adanya perlakuan seperti itu dan tetap saja ini dianggap sebagai peristiwa yang masih misteri hingga sekarang.</p>
<p style="text-align:right;"><img style="vertical-align:bottom;" src="http://yesaya.indocell.net/20752ce10.jpg" alt="St. Katarina Laboure (1806-1876)" width="216" height="183" /> </p>
<p style="text-align:right;">Misteri yang meliputi tubuh kudus itu telah mendorong manusia untuk mencari hal menarik yang dapat ditemukan darinya. Tak ayal, beberapa pandangan skeptispun bermunculan. Seperti halnya yang telah dijelaskan dalam salah satu halaman di forum <a title="Ekaristi dot Org" href="http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?p=55395&#38;highlight=incorrupted+bodies#55395" target="_blank">ekaristi</a>.</p>
<p style="text-align:right;"><img style="vertical-align:bottom;" src="http://yesaya.indocell.net/20782ce10.jpg" alt="St. Vinsentius de Paul (1580-1660)" width="216" height="185" />  </p>
<p style="text-align:right;">Yah, saya sebagai manusia yang memiliki rasa antusiasme yang tinggi, hanya memiliki perasaan yang takjub untuk peristiwa ini. Karena menurut teori umum pun hal ini belum dapat dijelaskan, yang walaupun berbagai pihak menyatakan masih perlu waktu untuk melakukan sebuah analisis untuk menghasilkan sebuah kesimpulan yang akurat dalam menjelaskan mengapa peristiwa semacam ini bisa terjadi.</p>
<p><img style="vertical-align:bottom;" src="http://yesaya.indocell.net/207a2ce10.jpg" alt="St. Yohanes Maria Vianney (1786-1859)" width="216" height="190" /> </p>
<p style="text-align:right;">Kalaupun sekiranya peristiwa tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah, saya sendiri masih takjub bahwa tubuh para Kudus itu pun, ketika masa peziarahannya berakhir dari dunia ini, masih memberikan sumbangsih tentang pengetahuan baru mengenai keutuhan jenazah bagi manusia yang masih berjuang di dunia ini.</p>
<p style="text-align:left;"><img style="vertical-align:middle;" src="http://yesaya.indocell.net/207c2ce10.jpg" alt="St. Anna Maria Taigi (1769-1837)" width="218" height="170" />  </p>
<p style="text-align:center;">Dari begitu banyaknya manusia di dunia ini, Allah telah mengaruniakan pengetahuan-pengetahuan baru dalam gerejaNya, lewat manusia pilihanNya untuk membuktikan kemahakuasaanNya yang Agung.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Die DDR verklärt und vergessen?]]></title>
<link>http://legasthenieistkeineschande.wordpress.com/?p=289</link>
<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 08:06:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lars Michael Lehmann</dc:creator>
<guid>http://legasthenieistkeineschande.wordpress.com/2008/04/08/die-ddr-verklart-und-vergessen/</guid>
<description><![CDATA[Gestern zu später Stunde, zappte ich durch das Fernsehprogramm,
und entdeckte die Sendung: &#8220;F]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Gestern zu später Stunde, zappte ich durch das Fernsehprogramm,<br />
und entdeckte die Sendung: "Fakt ist..!: "Verklärt und vergessen?" - neue Sehnsucht nach der DDR.<br />
Besonders die Aussagen vom ehemaligen Innenminister Heinz Eggert bestätigten meine Ansichten, über das Unrecht in DDR Regime, besonders auch in puncto Bildung. Denn ich selber aber es auch als politischer Gegner in meinem Leben erlebt, da kam dem kommunistischen System, natürlich meine Schwierigkeiten als Legastheniker, sehr wohl recht.</p>
<p><a href="http://legasthenieistkeineschande.wordpress.com/files/2008/04/ddr30-meinstaat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-290" src="http://legasthenieistkeineschande.wordpress.com/files/2008/04/ddr30-meinstaat.jpg" alt="die DDR mein Staat" width="334" height="480" /></a></p>
<p>Da ich selber aus einem katholischen Elternhaus stamme: " ich mir sehr bewusst, was die DDR für ein menschenfeindliche Regime war", meine Mutter erlebte selber das sie aufgrund ihrer politischen Gesinnung keine wirkliche Chance in der Berufsausbildung hatte. Denn sie wollte, aufgrund ihrer sprachlichen Begabung, Russisch Dolmetscherin werden, dies wurde ihr aber aufgrund ihrer christlichen Gesinnung sowie ihrer Eltern die keine SED Kader waren verwehrt. Meine Mutter erzählt mir immer, sie sagten ihr immer, Sie wissen ja sie könnten durchaus Dolmetscherin werden, aufgrund ihrer Begabungen für die Sprache, da aber ihre Eltern keine Mitglieder unserer Partei sind, können Sie dies vergessen.</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/avyhxxBtbAs'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/avyhxxBtbAs&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p>Aufgrund unserer christlichen Gesinnung in der DDR, setzte sich natürlich auch um mein Leben dieser ausgrenzende Spirale fort. Da kam dem kommunistischen Regime besser wohl recht, dass ich mit meinem Problem beim erlernen der Kulturtechniken, in eine Sonderschule abgeschoben wurde. Dass man in DDR Regime: " ein anderes menschliches Miteinander kannte, ist natürlich richtig", aber dies war aber nur unter den Gegnern, die Kader verfolgten uns, die Kirche gab uns halt und Zuflucht, die Kirche im Westen unterstützte uns, und dass wir unser Leben bestreiten konnte, und mit den geringen Geldern die wir in der DDR hatten, überhaupt einen Urlaub machen konnten. Der politische Gegner verdienten nicht viel. Gerade als Katholik, der Sonntag für Sonntag in die Kirche ging, hatte natürlich mit vielen argwöhnischen Blicken zu rechnen. Ich war damals in meiner DDR- Schulklasse, der eine Kiste der irgendwie christlich erzogen wurde.</p>
<p>Es waren kaum irgendwie politisch orientierte meiner Klasse. Ja manche gehörten zu den Jasagern, ich bin ohne zu zögern in den Religionsunterricht gegangen, aber auch das zugestandenen das sich katholisch bin, und natürlich kein Kommunist, auch meine Eltern. Politische Gegner, hat man in der DDR sehr wohl sämtliche Rechte verwehrt. Während meiner Teenagerzeit: " wurde mehr natürlich auch das DDR Unrecht immer klarer", da ich als Legastheniker immer einen hellen Verstand besaß, verstand ich natürlich auch die verschiedenen Zusammenhänge. Und ich kannte er so einige Probleme, die wir aus politischen Gründen hatten. Wir mussten immer aufpassen was wir sagten, und wer sich in unserer Nähe befand, überhaupt politisch zu äußern. Man musste eben einfach vorsichtig sein, ich durfte auch nie über meine Westverwandten reden. Ich kann mich zu noch se