<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>kartini &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/kartini/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "kartini"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 10:33:33 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[WISATA SEJARAH KARTINI, KULINER DAN BUAH TANGAN LASEM]]></title>
<link>http://sudewi2000.wordpress.com/?p=353</link>
<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 13:41:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
<guid>http://sudewi2000.wordpress.com/2008/10/03/wisata-sejarah-kartini-kuliner-dan-buah-tangan-lasem/</guid>
<description><![CDATA[11 Juni 2007
Salah Satu Sudut Rembang (Foto: Swary Utami Dewi)
Salah satu kota impian yang sangat in]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>11 Juni 2007</p>
[caption id="attachment_354" align="alignright" width="300" caption="Salah Satu Sudut Rembang (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/p1130657.jpg"><img class="size-medium wp-image-354" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/p1130657.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p>Salah satu kota impian yang sangat ingin kukunjungi sejak masih di bangku SD adalah Rembang. Pesona Kartini-lah yang mendorongku begitu ingin menginjakkan kaki di kota pantai ini. Di sinilah, pejuang perempuan Indonesia tersebut dimakamkan.     Rembang sendiri terletak di pinggir pantai utara Jawa, masuk dalam wilayah Jawa Tengah. Pusat kota dilalui lalu lintas padat, terutama truk dan bis besar, baik siang dan malam hari. Tidaklah heran karena Rembang merupakan titik penting jalur pantura, singkatan dari pantai utara.</p>
<p><!--more-->Meski menjadi salah satu titik pantura, perkembangan Rembang tidaklah semaju dua kabupaten tetangganya, Kudus dan Pati. Dua kabupaten ini terkenal karena berbagai pabrik seperti rokok rokok dan kacang, menjadikan perputaran ekonomi di 2 kota ini berjalan sangat baik. Berbeda dengan Rembang, baru masuk kota sudah terasa suasana sepi. Lebih sepi jika saja seliweran lalu lintas tidak menjarahinya.</p>
<p>Kabupaten ini masuk dalam daftar daerah tertinggal. Tingkat kemiskinan tergolong tinggi. Hampir 38 % dari sekitar 650 ribu penduduk Rembang, menurut data BPS, dikategorikan miskin. Kemiskinan meningkat drastis menjadi sekitar 60% pada saat program Bantuan Langsung Tunai (BLT) diluncurkan pemerintah pusat.</p>
[caption id="attachment_355" align="alignleft" width="300" caption="Patung Kartini di Depan Kompleks Pemakaman Keluarga (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/p1020587.jpg"><img class="size-medium wp-image-355" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/p1020587.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p>Lantas, apa saja daya pikat Rembang yang kutemui dalam kunjungan dua hariku pada awal Juni 2007? Jawaban pertama sudah barang tentu makam Kartini. Kurang setengah jam perjalanan dari pusat kota Rembang, tempat peristirahatan pahlawan nasional ini sudah bisa ditemui. Makam perempuan kelahiran Jepara tersebut terletak di kompleks pemakaman keluarga besar Djojo Adiningrat. Djojo Adiningrat merupakan Bupati Rembang ke-6. Dialah yang menikah dengan Kartini dan menjadikannya sebagai istri kedua.</p>
<p>Kartini sendiri lahir pada 21 April 1879, saat sang ayah menjabat Wedono Mayong. Saat berusia dua tahun, RM Sosroningrat diangkat menjadi Bupati Jepara. Sedari kecil, Kartini sudah terlihat berkemauan keras dan cerdas. Karena kelincahan dan kegesitannya, sang ayah menggelarinya Trinil, sesuai dengan nama burung kecil yang terkenal lincah.     Kartini mencurahkan pikiran-pikirannya yang tergolong maju pada zaman itu melalui surat-surat kepada dua sahabat Belanda-nya, Stella dan Ny. Abendanon. Kumpulan surat Kartini kemudian dibukukan oleh Mr J.H. Abendanon pada 1911, 7 tahun sesudah dia wafat, dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Perempuan tangguh ini mangkat 4 hari sesudah melahirkan anaknya, R.M. Soesalit. Statusnya sebagai istri dari Bupati Rembang, menjadikan kota ini dipilih sebagai tempat peristirahatan akhir Kartini.</p>
[caption id="attachment_356" align="alignright" width="300" caption="Makam Kartini di Rembang (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/p1020572.jpg"><img class="size-medium wp-image-356" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/p1020572.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p>Di komplek pemakaman keluarga besar Djojo Adiningrat juga ditemui makam sang Bupati, istri pertama dan para turunannya. Semua tertata rapi di suatu tempat berpagar dan beratap, mirip rumah megah dan besar. Di dekatnya, ada sebuah bangunan baru dalam tahap pembangunan. Menurut keterangan penjaga makam, jika bangunan utama sudah penuh, maka turunan lainnya yang meninggal, bisa dikebumikan di bangunan baru tersebut.</p>
<p>Di luar pagar bangunan, ditemui patung besar Kartini, menggunakan kebaya sambil memegang sebuah buku. Dari samping, patung ini menampakkan kecantikan perempuan Jawa. “Cantik ya,” kataku sambil mengagumi tampilan anggun Kartini.</p>
[caption id="attachment_357" align="alignleft" width="300" caption="Salah Satu Penjual Lontong Tuyuhan (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/p1130658.jpg"><img class="size-medium wp-image-357" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/p1130658.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p>Magnet kedua kutemui dari wisata kuliner. Teman lamaku di kampus dulu, yang sekarang menjadi pejabat penting di Rembang mengajakku mencicipi lontong Tuyuhan. Sekitar 15 menit berkendaraan dari pusat kota , sampailah kami di Desa Tuyuhan. Nampak deretan warung-warung menyambut kedatangan para pencinta lontong. Tidak sabar aku mencicipi makanan ini dan rasanya, wow, betul-betul menggoyang lidah. Lontong yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk segitiga ini beraroma wangi. Lauknya bervariasi, bisa ayam kampung atau telur yang dimasak serupa gulai pedas dan opor. Saat menyentuh lindah, kelembutan dan rasa nikmat penganan inilah yang terasa. Selain lontong Tuyuhan, beberapa jenis masakan lain juga sempat dicicipi. Sebut saja nasi uduk khas Rembang dan nasi gandul. Semuanya memang membuat lidah berdecap nikmat.</p>
<p>Hal lain yang biasa kucari saat mengunjungi suatu tempat adalah kerajinan tangan yang bisa kubawa pulang. Temanku menyebut batik. Kontan aku tertarik ketika diajak berburu batik Lasem. Sekitar 15 menit dari Rembang, menjelang sore, sampailah kami ke Lasem, salah satu kecamatan yang ada di kabupaten ini. Tempat tersebut terkenal karena tradisi membatik penduduknya. Beberapa home industry bisa ditemui. Aku mengunjungi suatu industri rumah tangga P, yang cukup terkenal di sana . Di tempat tersebut, ada semacam toko kecil yang memajang mayoritas batik tulis khas Lasem. Kata temanku, kalau siang hari datang, aku bisa menjumpai para pembatik yang bekerja di bagian belakang toko.</p>
<p>Aku yang menggemari warna merah maron dan sejenisnya, dengan cepat mencomot dua batik bermotif merah bercampur coklat. Per potong batik yang memiliki panjang sekitar 3 meter berharga ratusan ribu. Harga yang lumayan ini memang layak untuk batik tulis, yang dibuat dengan penuh ketekunan oleh para pembatik yang rata-rata sudah berusia lanjut.     “Jika mau batik murah dan masal, memang bukan di sini tempatnya, Mbak,” jelas seorang bapak yang duduk denganku di pendopo rumah jabatan temanku. “Warna yang relatif cerah, merah dan biru, dipadukan dengan motif unik dengan garis tegas yang semua dilukis tangan, menjadikan batik Lasem istimewa. Kadang-kadang satu batik bisa diselesaikan berminggu-minggu,” jelas bapak tersebut, yang memperkenalkan diri sebagai pendamping para pembatik Lasem. “Karena itulah harganya lumayan mahal. Tapi puaskan Mbak, membelinya?” tanya si bapak yang kujawab dengan anggukan setuju.</p>
<p>Namun, ternyata, keunikan dan mahalnya batik Lasem per lembar, belum bisa menjadikan nasib para pekerja pembatik bernasib lebih baik. Per hari, mereka umumnya dibayar Rp 4 - 6 ribu. Jika batik yang dikerjakan tergolong rumit dan sulit dan sang pembatik sudah tergolong ahli, dalam seminggu mereka bisa mendapatkan Rp 150 ribu.</p>
<p>Selain itu, sekarang, seni kerajinan tangan tersebut lebih banyak digeluti oleh mereka yang berusia lanjut. Golongan muda nampaknya mulai menoleh pergi dari tradisi unik leluhur mereka ini.     Rembang yang panas di siang hari, mulai terasa senyap sesudah magrib, kecuali hiruk pikuk jalan utama yang dilalui banyak truk dan bis.</p>
<p>Namun apakah semua ini tetap menjadikan kabupaten Rembang diam dan tetap dalam posisi wilayah tertinggal? Beberapa kekuatan yang disebut di atas, jika tergarap dengan baik, bisa sedikit membantu dalam memulihkan citra Rembang. Usaha home industry seperti batik, ditambah berbagai jenis penganan lain, jika dikelola dengan tepat, bisa jadi cukup berperan dalam memutar roda perekonomian kabupaten. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus bisa melihat dengan jeli peluang yang bisa berfungsi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan tidak untuk keuntungan pihak-pihak tertentu saja. Semoga Rembang bisa segera bangun dari tidur seperti slogan yang kulihat di salah satu sudut kota : Rembang bangkit!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PUKAUAN JAWA TENGAH]]></title>
<link>http://sudewi2000.wordpress.com/?p=346</link>
<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 05:45:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
<guid>http://sudewi2000.wordpress.com/2008/10/03/pukauan-jawa-tengah/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis 11 Juni 2007
Suguhan Gamelan di Salah Satu Hotel di Yogyakarta (Foto: Swary Utami Dewi)
Rang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis 11 Juni 2007</p>
[caption id="attachment_348" align="alignright" width="300" caption="Suguhan Gamelan di Salah Satu Hotel di Yogyakarta (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/p1140495.jpg"><img class="size-medium wp-image-348" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/p1140495.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p>Rangkaian perjalanan di Yogyakarta dan Jawa Tengah dimulai dengan mendaratnya aku di Jogjakarta pada 29 Mei 2007. Pesawat yang membawaku agak terguncang tertiup angin selama sepuluh menit sebelum menyentuh landasan. Agak harap-harap cemas hatiku. Untunglah burung besi ini mencium bumi dengan selamat.</p>
<p><!--more-->Supir langgananku sudah siap menanti. Dia mengangguk paham ketika kujelaskan jadwalku kali ini. Menuju Wonosobo dari Yogyakarta , kemudian dari Wonosobo ke Semarang dan Rembang. Dari Rembang, seorang teman lain akan mengantarkanku ke bandara Semarang , untuk kembali ke Jakarta .</p>
<p>Target pertama, sebelum ke Wonosobo adalah mampir ke seorang sahabat. Dia kukenal tahun lalu di suatu training gender di Yogyakarta . Satu sama lain kemudian saling akrab dan tetap kontak melalui sms. Bahkan kemudian, aku mengenal keluarganya. Istri sahabatku ini dari negara benua di selatan Indonesia , tempatku menimba ilmu dahulu, sementara sang anak merupakan salah satu bocah favoritku.</p>
<p>Kangenku pada Fay, anak sahabatku yang belum genap berusia satu tahun, kupuaskan dengan bercanda dan bermain bersama. Walaupun mula-mula asing karena tidak melihatku selama beberapa bulan, pada akhirnya ia mau kugendong dan berinteraksi dengan berbagai cara. Dengan caranya sendiri, Fay menceritakan bagaimana ia bertemu dan takut melihat anjing, meniru aku menelfon dan menikmati duduk bersama di teras rumah.</p>
<p>Sang ayah, menunjukkan keahliannya memasak. Paling tidak ada 5 jenis masakan dihidangkan di siang itu. Dari semua yang lezat itu, sambal dengan irisan terong-lah yang begitu menggoyang lidah. Pujian pada akhirnya kuberikan kepada sang cook spesial ini.</p>
[caption id="attachment_349" align="alignright" width="420" caption="Telaga Warna Dieng di Kabupaten Wonosobo (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/telaga-warna-dieng-3-nov-07.jpg"><img class="size-full wp-image-349" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/telaga-warna-dieng-3-nov-07.jpg" alt="Swary Utami Dewi)" width="420" height="315" /></a>[/caption]
<p>Hari menjelang sore ketika aku mulai mengukur jalan ke Wonosobo. MP3 yang memuat lebih dari 90 lagu non-stop menemaniku sepanjang jalan. Sempat aku berhenti membeli beberapa jenis minuman dan 3 kg salak pondoh super. Liukan jalan menuju Wonosobo yang biasanya kutempuh dengan kepala pusing, kali ini terasa ringan. “Ajaib, aku gak pusing sama sekali,” komentarku kepada yang menyetir. “Mungkin karena sepanjang jalan aku menyanyi ya,” imbuhku. Satu-satunya keluhanku kali ini hanyalah perbaikan jalan yang terjadi di banyak titik --membuat mobil seringkali harus berjalan pelan, bahkan berhenti bergantian dengan kendaraan lain yang datang dari arah depan--. Selebihnya, menyenangkan.</p>
<p>Menjelang magrib, aku memasuki Wonosobo. Kabupaten yang terletak paling tinggi di Jawa Tengah ini berada di dataran tinggi Dieng. Ini menyebabkan Wonosobo begitu sejuk di malam hari dan terasa tidak terlalu panas di siang hari. Hotel tempatku menginap, walaupun bukan hotel terbesar tapi tetap menjadi pilihan favorit. Letaknya di tengah kota , bersih, nyaman dan relatif tidak terlalu menguras kantong.</p>
<p>Aku tidak bisa berlama-lama check-in dan harus melompat berpindah ke hotel terbesar di Wonosobo untuk mengikuti kegiatan pertemuan suatu departemen dan para pihak. Fokusnya membahas upaya bersama yang perlu dilakukan merespon kondisi yang sudah beberapa tahun terakhir menimpa dataran tinggi Dieng. Pesatnya pertumbuhan hutan kentang, juga tembakau, di banyak tempat di tempat tujuan wisata ini, menjadikan fungsi Dieng terganggu. Jika dulu hutan alam menjalankan fungsinya dengan baik, alih fungsi yang dilakukan menjadikan Dieng semakin gundul dan berubah wujud terutama menjadi hutan kentang. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor mulai terjadi. Ancaman tambahan di masa depanpun mengintai. Sebut saja rusaknya tempat cadangan air, kekeringan dan penggurunan. Bukan hanya kabupaten Wonosobo yang akan menghadapi, tapi juga banyak kabupaten di sekitar akan terkena dampak rusaknya Dieng. Pertemuan 2 hari di Wonosobo tersebut diharap membawa perhatian lebih pihak-pihak terkait terhadap masalah bersama ini.</p>
[caption id="attachment_350" align="alignleft" width="420" caption="Kuil Cheng Ho di Semarang (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/p1020554.jpg"><img class="size-full wp-image-350" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/p1020554.jpg" alt="Swary Utami Dewi)" width="420" height="315" /></a>[/caption]
<p>Sesudah Wonosobo, aku meluncur ke Semarang . Menjelang siang, kota ini terasa panas. Aku ngotot minta diantar ke suatu tempat dimana aku bisa mengetahui sedikit banyak tentang Laksamana Cheng Ho. Dia adalah pemimpin armada Cina yang telah berkeliling dunia sejak awal 1400-an, jauh sebelum para penjelajah Eropa mulai menancapkan kuku di banyak tempat di dunia. Tanya punya tanya, akhirnya aku dirujuk ke suatu kuil yang dibangun untuk menghormati Cheng Ho. Klenteng Agung Sam Poo Kong, ke situlah aku dirujuk. Ternyata Sam Poo Kong (bahasan Hokkian) merupakan nama asli Cheng Ho atau Zheng He. Walau tidak banyak yang kuperoleh, tapi beberapa keterangan tertulis di dinding batu klenteng beserta buku merah berjudul Klenteng Agung Sam Poo Kong, membuatku sedikit lebih paham tentang kehebatan Cheng Ho.</p>
[caption id="attachment_351" align="alignleft" width="300" caption="Dua Sahabatku Melepas Lelah di Depan Makam Kartini di Rembang (Foto: Swary Utami Dewi)"]<a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/10/p1020579.jpg"><img class="size-medium wp-image-351" title="image" src="http://sudewi2000.wordpress.com/files/2008/10/p1020579.jpg?w=300" alt="Swary Utami Dewi)" width="300" height="225" /></a>[/caption]
<p>Menjelang sore, dari Semarang , aku menuju Rembang. Tiba malam hari, tidak banyak yang kujumpai selain deru kendaraan di kabupaten yang menjadi salah satu titik jalur pantura tersebut. Tapi esok dan esoknya, aku terpesona pada beberapa hal di sana . Selain cita-cita masa kecilku tercapai: melongok makam RA Kartini, aku juga terpesona oleh kuliner dan batik Lasem Rembang. Dua hari tiga malam terasa kurang. Tapi hatiku berkata, suatu hari aku akan kembali lagi ke sana.</p>
<p>Walau tidak lama perjalananku kali ini, tapi beberapa hal yang belum pernah kutemui tetap memukau. Kota-kota sepanjang pantai utara Jawa Tengah khususnya, yang baru pertama kutelusuri, ternyata memang menyimpan sejarah dan pesona tersendiri. Layak memang menjadi atau dijadikan tempat wisata domestik.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saat Lomba Kartini-an Di CLC - My Little Island]]></title>
<link>http://akuhomeschooling.wordpress.com/?p=70</link>
<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 02:13:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fafa</dc:creator>
<guid>http://akuhomeschooling.wordpress.com/2008/10/02/saat-lomba-kartini-an-di-clc-my-liit/</guid>
<description><![CDATA[
 
 
 
 
 

21 April 2003 Juara I Menyanyi Berbahasa Inggris
Di Acara Hari Kartini di My Little]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-71" title="246" src="http://akuhomeschooling.wordpress.com/files/2008/10/246.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></p>
<p> </p>
<p> <a href="http://akuhomeschooling.files.wordpress.com/2008/10/33.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-72" title="33" src="http://akuhomeschooling.wordpress.com/files/2008/10/33.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p> </p>
<p><a href="http://akuhomeschooling.files.wordpress.com/2008/10/28.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-73" title="28" src="http://akuhomeschooling.wordpress.com/files/2008/10/28.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></a> </p>
<p> </p>
<p><a href="http://akuhomeschooling.files.wordpress.com/2008/10/29.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-74" title="29" src="http://akuhomeschooling.wordpress.com/files/2008/10/29.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p>21 April 2003 Juara I Menyanyi Berbahasa Inggris<br />
Di Acara Hari Kartini di My Little Island (C.L.C), Development Center Nursery, Playgroup and Kindergarten, Jl. Suropati No. 14, Malang</p>
<p><a href="//www.socialmarker.com/?link='+encodeURIComponent (location.href)+'&#38;title='+encodeURIComponent( document.title);"><img src="http://www.socialmarker.com/bookmark.gif" border="0" /></a><a href="http://www.socialmarker.com">Social Bookmarking</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[eman si pasi]]></title>
<link>http://amilus.wordpress.com/?p=78</link>
<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 05:27:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>amilus</dc:creator>
<guid>http://amilus.wordpress.com/2008/09/16/eman-si-pasi/</guid>
<description><![CDATA[Saya akan libur lebaran untuk waktu yang cukup lama, 10 hari. Sebelum menikmati surga kerja tersebut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya akan libur lebaran untuk waktu yang cukup lama, 10 hari. Sebelum menikmati surga kerja tersebut,saya sedikit terusik dengan suatu hal. Suatu hal yang sudah lama terlupa dan terkubur dalam benak saya. Emansipasi.<br />
Beberapa hari sebelum puasa, ketika makan siang di pantry saya ditanya oleh salah satu atasan saya beda divisi. "Standby lebaran nggak ,Mil?", saya jawab "Nggak pak, alhamdulillah dapet jatah libur", berikutnya beliau bertanya lagi "Loh, berarti cowok2 semua yang standby, kayaknya lebaran kmaren kan kamu juga sudah libur, waaah ini nggak bener nih, jangan gitu dong, cewek tuh gitu, klo emansipasi-nya yang enak2 aja mau, klo emansipasi yang suruh kerja kayak laki2 nggak mau"<br />
Saya menyadari, beliau mengatakan ini dengan setengah bercanda, yah setengah bercanda..saya yakin itu. Saya tidak akan menganggap itu sebagai suatu justifikasi serius keberadaan saya dalam team saya sebagai satu2nya wanita, yang menurut beliau cuma pengen enaknya, dan pengen diistimewakan.<br />
Yah, sekali lagi itu pasti bercanda karena beliau juga tahu gimana pontang-pantingnya saya, saya sebagai wanita, satu-satunya, ato nggak gitu berarti beliau belum mengenal seluk beluk team saya, yang memang sebenernya gak penting2 banget untuk diketahui orang lain. Jadi perkataan tersebut wajar dilontarkan (apalagi dengan secara bercanda..;)), dan sayapun tidak mempunyai kewajiban untuk menjawabnya, dan menjelaskan semua duduk permasalahnnya, dimana beberapa bulan terakhir saya sudah terlalu lelah, setelah semua peristiwa dan moment2 mengenaskan dalam pekerjaan yang harus terbebankan secara langsung kepada saya.<br />
Saya hanya menyesali, bahwa perkataan emansipasi itu terlontar lagi dengan tidak semestinya, seakan-akan saya rasakan Kartini turut mengutuk pernyataan itu. Bukan, bukan mengutuk beliau yang telah melontarkan ucapan itu, tapi mengutuk pada wanita-wanita yang seperti beliau utarakan. Wanita yang cuma mau ber-emansipasi untuk hal yang enak-enak saja, tapi mundur ketika emansipasi itu dikaitkan untuk hal yang menyebalkan.<br />
Jadi, harus seperti apa wanita itu (jika berada diantara para pria?). Kalau menurut saya, keberadaan minoritas wanita di antara pria,(yang saya maksudkan adalah diluar ranah profesionalisme) bisa membentuk pribadi wanita itu menjadi dua tipe yang berlawanan. Satu sisi wanita itu bisa menjadi pribadi lemah dan manja yang merasa selalu terlindungi, dan merasa berhak diistimewakan. Sisi lain, mungkin wanita tersebut bisa menjadi pribadi yang bisa diandalkan dan tidak tergantung dari pria, bahkan bisa mengadopt kelebihan2 pria yang tidak umum dimiliki wanita. Dua sisi itu adalah pilihan, dan dua sisi itu adalah rekaan saya.......huahaha, serious amit :D<br />
Ya sudahlah, ga usah lah pake pusing2 ini pria, ini wanita ato ini waria, kapan pria libur, kapan wanita libur, yang penting kan bisa kompak,bisa memanfaatkan kelebihan masing-masing, saya percaya masing2 pribadi entah itu wanita atau pria punya kelebihan masing-masing.</p>
<p>Btw, saya terinspirasi sekali dengan salah satu tulisan Kartini yang saya kutip berikut ini.<br />
"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan,<br />
bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya.</p>
<p>Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita,<br />
agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya,<br />
kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya:<br />
menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. “</p>
<p>[Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].</p>
<p>Yah, satujuh, itulah wanita.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Episode 10 : Kartini (2)]]></title>
<link>http://geknana.wordpress.com/?p=71</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 17:33:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>geknana</dc:creator>
<guid>http://geknana.wordpress.com/2008/09/07/episode-10-kartini-2/</guid>
<description><![CDATA[
sebuah komentar sangat menarik buat tulisanku yang berjudul &#8220;Episode 4 : Kartini&#8221; dan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/f/f9/Raden_Adjeng_Kartini.jpg/180px-Raden_Adjeng_Kartini.jpg" alt="" width="203" height="281" /></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;"><span style="color:#008000;">sebuah komentar sangat menarik buat tulisanku yang berjudul <a href="http://geknana.wordpress.com/2008/04/21/episode-4-kartini/" target="_blank">"Episode 4 : Kartini"</a> dan membuat semakin semangat menulis dan belajar. Terimakasih sebelumnya untuk saudari Nurul yang telah mengirimkan komentar ini </span>:</span></p>
<p><span style="color:#ffff00;"><em>"hari kartini?no way….sebelum kartini lahir banyak pahlawan yang berjuang melebihi kartini…perempuan berperang cut nya dien dll sudah ada, perempuan bukan hanya melahirkan sudah terhapus pada jaman pahlawan perempun islam…so jangan propaganda Indonesia kartini adalah sebagai titik peringatan majunya wanita indonesia..bullshit hanya tulis surat jadi pahlawan , kerjasama dan surat2an dengan orang asing yang notabene saat itu mungkin kartini dijadikan boneka dan dia saja yang tdk tau..dia itu wanita pejuang emansipasi..tapi liat dia diam saja ketika menikah dengan orang yang lebih ta..sehausnya dia bisa memilih pra gagah..yang pintar ..kalo memang dia pejuang&#62;&#62;&#62;???so, apanya yang harus diperingati???so anda jangan merasa betul atau salah dalam komentar..jangan setengah2 ..tegaskan mana yang harus diperingati cut nya dien atau kartini…jangan bisa..secara ga lansgn anda pro kartini..saya pro cut nya dien..saya tdk bodoh..yang memperingati kartini yang bodoh…ga ada hikmah dan nilai ibadahnya memperingati hari kartini..yang ada hanya perlombaan kebaya ..aurat masih keliatan neng…please..pikir kalo mau ibadah…"</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Dear Nurul,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Assalamu'alaikum, salam kenal. setelah membaca dengan seksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya (:P, hehe) ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan lagi denganmu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Pertama tentang CUT NYAK DIEN. apakah kamu tahu, membaca tulisanmu tentang perjuangan CUT NYAK DIEN versus KARTINI langsung membuat imaginasiku terdampar pada sebuah permainan "Street Figther" antara Kartini duel dengan Cut Nyak Dien, adu jotos memperebutkan gelar perjuangan siapa yang paling layak diakui secara Nasional. (fufufu maap, pikiran2ku memang suka ngelantur). Tapi coba deh kita pikirkan lagi, apa layak nama-nama besar mereka kita pertarungkan untuk mencapai sebuah penghargaan. Aku yakin, saat CUT NYAK DIEN berjuang dengan gagahnya melawan kumpeni... tak pernah terlintas di dalam benaknya bahwa suatu hari dia akan menjadi pahlawan dan perjuangannya akan selalu dikenang. Dia melakukannya dengan tekad dan ikhlas. Aku menghargai keberanian dan perjuangan CUT NYAK DIEN dalam peperangan melawan 'penjajahan'. Begitupun bangsa kita Indonesia. Bagiku, itulah mengapa kita memperingati HARI PAHLAWAN.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Lalu Kartini? Disini aku sedang tidak memposisikan diriku sebagai fans berat Kartini. Karena idolaku hanya satu, Rasulullah. Lagipula pengetahuanku belum cukup mendalam tentang biografi perempuan ini. Tulisan terakhir yang kubaca yang menyiratkan riwayat Kartini adalah "Jejak Langkah", serial ketiga dari tetralogi Buru milik Pram's. Dalam buku ini, Pram menyebut Kartini sebagai Gadis Jepara. Dan dalam buku itupun diceritakan tentang pergulatan-pergulatan pemikiran Kartini dan apa yang telah dilakukan dan belum sempat ia lakukan. Mungkin persangkaan Nurul, jika Kartini hanyalah boneka bagi orang-orang barat memang benar adanya, atau mungkin ada rekayasa 'bandit-politik' yang menggunakan isu-isu Kartini dan emansipasi perempuan untuk sebuah kepentingan, dan sampai sekarang belum ada jawaban pasti dan terpercaya mengapa hari Kartini kita peringati... bagaimanpun Nurul, yang kita bicarakan ini adalah sejarah. Cerita orang-orang tua di masa lalu. Permasalahannya adalah, ada berapa orang tua di masa lalu? dan bagaimana bila cerita mereka berbeda-beda?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Namun Nurul, andaikata hari Kartini tidak pernah ada dan aku tetap memiliki wawasan yang terbatas ini tentang Kartini, ada satu hal yang aku hargai sebagai hikmah dalam kehidupannya. Tentang <em>cultural discrimination</em>. Aku sepakat denganmu, bahwa nilai-nilai penghargaan atas kedudukan perempuan telah lama diajarkan dalam budaya Islam, ketika Rasulullah membimbing sahabat-sahabatnya untuk memperlakukan perempuan sesuai dengan fitrahnya. Memanusiakan Perempuan. Namun Nurul, kita tidak boleh lupa bahwa di tanah tempat kita berpijak ini ada budaya yang lain, budaya Jawa. Membaca literatur-literatur tentang budaya Jawa, kita bisa mengerti bahwa budaya Jawa selain dikenal dengan kelemahlembutan serta <em>toto kromo</em>-nya, juga dikenal dengan budaya kasta dengan pingitan bagi perempuan. Bagiku, budaya pingitan merupakan simbol dari penekanan kehendak perempuan. Aku bukannya tidak setuju jika perempuan menjadi Istri dan Ibu Rumah Tangga, tapi aku tidak setuju jika perempuan harus melakukannya dengan tidak ikhlas, terpaksa.Mungkin keterpaksaan inilah yang dilalui Kartini dalam hidupnya, sehingga dia harus menikah dengan Bupati Rembang dan melahirkan seorang yang anak yang juga menjemput kematiannya. Mungkin benar pernikahannya menjadi simbol padamnya pemikiran-pemikiran pembaharuan Kartini. Namun sebelum meninggal ada satu pesan yang ia sampaikan pada saudarinya (kira-kira) : "<span style="color:#ffffff;"><em>Tolong anakku dididik, supaya  ia bisa menghargai perempuan"</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Menurutmu Nurul, jika kamu menjadi Kartini, apa yang membuatmu mengutarakan pesan terakhir yang demikian? Akankah itu tentang penyesalan dan </span><span style="color:#00ff00;">wujud kepedihan mendalam karena prinsip : AKU MAU ,yang membuatnya memiliki banyak impian tentang perempuan, harus tertahan dengan terjangan diskriminasi budaya dan keterbatasan waktu yang membuatnya BELUM SEMPAT TERCAPAI?</span><span style="color:#00ff00;"> Atau malah sebuah ungkapan dendam terhadap semua keterpaksaan dan ketidakadilan yang ia alami dan harapan agar perempuan lain tidak mengalami hal yang sama? Atau<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Dan pemikiran inilah Nurul, yang menurutku seharusnya setiap perempuan bisa merenungkan. Apa selama ini aku yang menentukan jalan hidupku? Jika menikah nanti apakah aku akan menikah dengan orang yang aku mau? Atau bisakah aku tidak menikah selamanya jika memang aku tidak mau? Jika aku diposisi terhimpit seperti Kartini pilihan apa yang akan aku ambil? Apa aku mau memiliki pengalaman seperti Kartini? </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Menurutku, inilah sebenarnya esensi dari sebuah PERINGATAN . Aku juga kurang setuju jika peringatan hari Kartini dirayakan hanya dengan pameran kebaya saja. Karena sesuai dengan asal katanya; INGAT, peringatan seharusnya dilalui dengan meng-ingat tentang masa lalu, sejarah. Pameran kebaya membawa kita mengingat tentang lagak fisik Kartini, tapi sudahkah kita ingat tentang kehidupannya? tentang penderitaannya? pemikirannya? ceritanya? sejarahnya?dan mengambil hikmah dari semua itu? </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">Hal yang kupelajari dari Kartini adalah, berpacu sekaligus berdamai dengan bayang-bayang waktu yang tidak kita ketahui sampai kapan. Selain itu, aku semakin yakin jika kita bisa belajar tidak hanya dari pengalaman -pengalaman baik,heroik,bahagia,indah tapi juga dari pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan hati, mengundang rasa sesal dan getir ,sehingga membuat hati kita melantangkan keras;<br />
</span></p>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ffffff;">AKU MAU BISA MELAKUKAN YANG LEBIH BAIK DARI ITU</span></h3>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">aku yakin, kemauan menjadi lebih baik adalah salah satu modal dasar dari tumbuhnya  peradaban dan tentu saja kemajuan bagi umat manusia, laki-laki dan perempuan. Dan inilah hikmah yang bisa aku petik, dan bukankah belajar dan mencari hikmah kehidupan juga salah satu dari Ibadah kita pada ALLAH, karena sesuai dengan perintah pertamanya, IQRA! ??</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;">terima kasih Nurul, kali ini kau membantuku untuk membaca lebih dalam...aku tunggu pendapat-pendapat kritismu lagi, sering-sering main ke blog orang yang lagi belajar ini ya :P , btw ada blog juga ndak?? bagi links githu.... :)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#00ff00;"><span>Wassalamu'alaikum</span></span></p>
<p><span style="color:#00ff00;">Itu Sudah</span></p>
<p><span style="color:#00ff00;">(na)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rahasia Cewek....]]></title>
<link>http://dhianofie.wordpress.com/?p=391</link>
<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 14:24:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>dhianofie</dc:creator>
<guid>http://dhianofie.wordpress.com/2008/09/02/rahasia-cewek/</guid>
<description><![CDATA[


Cewek sesungguhnya tidak melihat cowok itu ganteng atau tidak, tapi mereka lebih cenderung meliha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="gmail_quote">
<ol>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek sesungguhnya tidak melihat cowok itu ganteng atau tidak, tapi mereka lebih cenderung melihat cowok yang baik dan rapi.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek gak suka sama yang genit dan matre.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Ketika cewek bilang dia tidak bisa ngerti kamu, secara gamblang itu berarti kamu gak berpikir seperti yang kamu pikir.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek mungkin saja bergenit-genit ria sepanjag hari, tapi sebelum tidur mereka selalu memikirkan cowok yang mereka sayang.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Ketika seorang cewek bener-bener menyayangimu, dia akan melupakan semua karakter jelekmu.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek tergila-gila sama yang namanya senyuman cowok.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek akan melakukan semaksimal mungkin tuk ngedapetin perhatian cowok yang mereka taksir tentunya.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek terlihat kuat dan tegar di hadapan cowok padahal didalam hatinya ia sangat lemah dan rapuh.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek mencintai ibunya.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Cewek sering memikirkan cowok yang menyukai mereka tapi ini bukan berarti mereka menyukai cowok tersebut.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Kamu gak akan pernah mengerti cewek kecuali kamu mendengarkan mereka.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Jika seorag cewek berkata dia mencintai kamu tuk seumur hidupnya, maka itulah kenyataannya.</em></span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em>Berhati-hatilah! Cewek bisa membuat gosip menyebar sampai separuh bumi lebih cepat dari cowok. Jadi cowok jangan macem-macem </em></span><span style="background-color:#006600;"><em></em></span></div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#ffffff;background-color:#006600;"><em><img class="aligncenter size-full wp-image-394" src="http://dhianofie.wordpress.com/files/2008/09/imagesca6a686o1.jpg" alt="" width="122" height="104" /></em></span><em></em></p>
<p style="text-align:left;"><em></em></p>
<p style="text-align:left;"> </p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perempuan,Parpol, &amp; Pemilu 2009]]></title>
<link>http://ijrsh.wordpress.com/?p=371</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 15:41:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>ijrsh</dc:creator>
<guid>http://ijrsh.wordpress.com/2008/08/25/perempuanparpol-pemilu-2009/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Indra JR, SH
Fakta Keterwakilan Perempuan dalam Bacaleg
Ketentuan Pemilu 2009 mensyaratkan ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : <span style="color:#ff0000;">I</span><span style="color:#008000;">ndra </span><span style="color:#ff0000;">JR, SH</span></strong></p>
<p><strong>Fakta Keterwakilan Perempuan dalam Bacaleg</strong></p>
<p>Ketentuan Pemilu 2009 mensyaratkan keterwakilan Perempuan sebanyak 30 %. Keterwakilan ini berbentuk: jumlah perempuan dalam kepengurusan Parpol (UU PArpol) haruslah 30 % dalam struktur kepengurusan, selanjutnya dalam UU Pemilu, ditegaskan juga, Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) setiap parpol harus memenuhi 30 % keterwakilan Perempuan.</p>
<p>Sampai dengan akhir pendaftaran bacaleg di KPU (19 Agustus 2008), terdapat parpol yang belum memenuhi 30 % keterwakilan tersebut. Di KPU Pusat tercatat 13 parpol belum memenuhi syarat <!--more-->tersebut. Bagaimana dengan KPU Provinsi maupu KPU di setiap Kabupaten/Kota ?, pastilah terdapat parpol yang belum memenuhi syarat 30 % keterwakilan Perempuan ini.</p>
<p><span style="color:#ff0000;">Berikut Daftar Parpol yang belum memenuhi 30 % keterwakilan Perempuan :</span></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-373" src="http://ijrsh.wordpress.com/files/2008/08/30p1.gif" alt="" width="476" height="287" /></p>
<p><strong>Perempuan dan Politik </strong></p>
<p>Kaum Perempuan kita selama ini termarjinal dalam dunia politik praktis. Sosialisasi maupun pendidikan politik kepada mereka selama ini (apalagi di rezim orba) tidak terpenuhi. Peran perempuan cenderung sebagai pendamping dalam aktivitas suaminya. Hal ini tercermin dari pola Darma Wanita gaya orba, sehingga kultur ini pun merambat keberbagai organisasi kemasyarakatan (baik yang formil maupun yang non formil), termasuk di parpol.</p>
<p><strong>Gerakan Gender</strong></p>
<p>Pasca Orba alias reformasi, banyak gerakan baru muncul, termasuk dalam hal ini Gerakan Gender. Gerakan Gender; sebuah upaya menghapus hegemoni bahwa perempuan adalah sub ordinat kaum pria dalam berbagai aspek kehidupan (sosial, politik, dlsb). Singkat cerita gerakan gender berhasil dengan baik dan mendapat respon berbagai kalangan termasuk pemerintah.  Masih segar diingatan kita tentang rekruitmen KPU Pusat, Parlemen memberi porsi banyak kepada perempuan untuk dipilih menjadi anggota KPU periode 2008-2013.</p>
<p><strong>Sultinya Mencari Caleg Perempuan</strong></p>
<p>Dengan fakta bahwa masih ada parpol yang belum memenuhi syarat 30 % keterwakilan perempuan dalam daftar bacalegnya menjadi cerminan bahwa kaum perempuan masih belum fasih (asing) berpolitik praktis. Padahal dinamika dan psikologi politik Indonesia beberapa tahun terakhir sangatlah pro perempuan. Dengan demikian Parpol-Parpol pastilah memperhatikan aspek ini, tetapi faktanya para perempuan Indonesia sangatlah sulit diajak menjadi caleg.</p>
<p>Terhadap Parpol yang memenuhi keterwakilan 30 % perempuan juga perlu dilihat, apakah hal ini keterpaksaan untuk memenuhi ketentuan UU semata. sampai-sampai istri maupun anak perempuan para pengurus parpol dijadikan bacaleg, demi terpenuhinya 30 % perempuan dalam daftar (Formulir Model BA) yang diserahkan ke KPU.</p>
<p><strong>Kedepan Perlu Kartini Politik</strong></p>
<p>Tidak ada figur perempuan Indonesia saat ini yang mampu menjadi icon dan pioner menjadi semacam "Kartini" yang berjuang menggerakkan, menyadarkan dan mendidik perempuan Indonesia untuk tertarik kepada dunia pemerintahan (kekuasaan). Hal ini menjadi pengharapan kita bersama, sehingga kedepan tidak ada kesan lagi bahwa kaum perempuan Indonesia harus dibujuk-bujuk berpolitik atau diistimewakan oleh UU untuk menjadi caleg, dlsb. HIDUP PEREMPUAN INDONESIA...</p>
<p style="text-align:right;">Salam Berbagi</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Butet: memoirs of a teacher]]></title>
<link>http://lekhikaa.wordpress.com/?p=213</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 13:31:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>lekhikaa</dc:creator>
<guid>http://lekhikaa.wordpress.com/2008/08/07/butet-memoirs-of-a-teacher/</guid>
<description><![CDATA[*published in Bali Advertiser, 13 Aug 2008

As the world flits by faster than bumblebee wings, the w]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;"><em>*published in <a href="http://www.baliadvertiser.biz" target="_self">Bali Advertiser</a>, 13 Aug 2008</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">As the world flits by faster than bumblebee wings, the written word present within the pages of a book is something tangible. Words we can touch and share with loved ones as a gift. “A book must be the axe for the frozen sea inside us,” wrote Kafka. The best of books open a world unknown to us while still tapping into our deepest fears and desires. The best of authors speaks to our hearts, makes us feel understood, less alone and opens another door to ourselves that we did not know before.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">It is writers such as these that the Ubud Writers and Readers Festival bring into our fold this year featuring critically acclaimed local authors whose works have affected and touched the nation. One that left an impression on me is Saur Marlina Manurung, or Butet as she is fondly called.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">Reading our newspapers, our emails, our novels, we take for granted the fact we are literate and that education was available and at hand. We forget that many Indonesians do not share the same fate. In her novel, Sokola Rimba, Butet carries her personal struggle to provide every forest dwelling child in Jambi with the ability to read with her alternative education method of teaching through play.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">The novel offers a slice of her life, depicting the challenges she faced as a teacher and the culture of the Kubu (Rimba) tribe of the Bukit Dua Belas region of Jambi. A tribe often negatively stereotyped as uncivilized, primitive, and ignorant. Penned with a straightforwardness and utter lack of sentimentalism, it provides powerful voice and a fresh perspective for the reader. A glimpse into undiscovered customs, traditions, and way of life. For although we are all part of this archipelago, we reside in our own individual bubbles, rarely seeking or aware of the people and events outside what is familiar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">In her memoir, Butet takes us into unmapped territories and dares us to embrace the unknown. To question our differences, our beliefs, and the meaning of civilization through her experience living with the Kubu tribe. Dubbed the modern day Kartini, her efforts were acknowledged by TIME Asia magazine, which named her one of Asia’s Heroes and she was awarded “Woman of the Year” by ANTEVE.  Following her book, she established the Yayasan Sokola in 2003 to provide alternative education for those communities living in remote regions throughout the country.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">Indonesia, with her immensely rich cultural heritage, is a nation steeped in history and brimming with tales longing to be told. Of tribes victimized by city dwellers, of solemn sugarcane farmers, of ancient village mystics, of fragmented childhoods. Dyah Merta and Andrea Hirata join Butet in this year’s Ubud’s festival that include a noteworthy Indonesian writer’s programme.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808080;">Saur Marlina Manurung will be appearing at the Ubud Writers and Readers Festival, running from 14 – 19 October 2008.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bule Berkebaya]]></title>
<link>http://orhiex.wordpress.com/?p=67</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 04:04:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>orhiex</dc:creator>
<guid>http://orhiex.wordpress.com/2008/08/07/bule-berkebaya/</guid>
<description><![CDATA[DRESSED TO THRILL
The Jakarta Post , 					Banyumas				  |  Thu, 08/07/2008 7:14 AM  |  Headlines

Du]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DRESSED TO THRILL</strong></p>
<p class="info"><a title="The Jakarta Post" href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/08/07/dressed-to-thrill.html" target="_blank"><strong>The Jakarta Post</strong></a> , 					Banyumas				  &#124;  Thu, 08/07/2008 7:14 AM  &#124;  Headlines</p>
<p class="info"><a href="http://orhiex.files.wordpress.com/2008/08/p01-a-1_431.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-68" src="http://orhiex.wordpress.com/files/2008/08/p01-a-1_431.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="info">Dutch tourists wear the traditional Indonesian kebaya blouse during a visit to an elementary school in Banyumas, Central Java, on Wednesday. The local government is giving tourists the opportunity to try on the local costume at several events under its culture and tourism promotion program. (<em>JP/Agus Maryono</em>)</p>
<p class="info">Inilah parade bule2 calon penerus Kartini. Gmn klo diadain Pemilihan Putri Kartini khusus bule, seru tu.. Abis itu kebaya nya dipatenin deh ma tu bule</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[YJP 13 Tahun: Awal Perjalanan Pendewasaan  ]]></title>
<link>http://tulisanperempuan.wordpress.com/?p=154</link>
<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 10:45:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>ratna ariani</dc:creator>
<guid>http://tulisanperempuan.wordpress.com/2008/08/02/yjp-13-tahun-awal-perjalanan-pendewasaan/</guid>
<description><![CDATA[Pada tanggal 25 Juli 2008, YJP akan berulang tahun yang ke-13.  Bagi beberapa orang angka ke-13 mena]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/pic/person/gadis-baru.jpg" alt="" width="134" height="175" />Pada tanggal 25 Juli 2008, YJP akan berulang tahun yang ke-13.  Bagi beberapa orang angka ke-13 menandakan suatu katastrophe, atau angka sial yang perlu dihindari.  Mungkin pendapat itu benar di kalangan perempuan yang hidup di zaman feodal, karena angka tersebut menandakan akhir dari lonceng kehidupan bebas, dipaksa kawin dan dibelenggu oleh mitos-mitos pembodohan.</p>
<p>Akan tetapi, bagi sebagian perempuan lainnya yang berpikiran maju, angka ke-13 adalah justeru angka buang sial, angka yang ditandai penuh gairah karena memasuki usia pendewasaan. Masa usia mengeksplorasi pemikiran, sikap menentukan identitas diri yang dibangun atas fondasi kebebasan berpikir dan berekspresi.  Usia ke-13 merupakan usia yang memasuki alam berpikir yang kritis yang menentukan plat form pilihan hidupnya kelak.</p>
<p>Tokoh perempuan seperti Kartini misalnya, menyadari konsekwensi hidup seorang perempuan yang menginjak masa akil balik.  Masa dimana perempuan tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, berpergian sendiri, menentukan pilihan-pilihan hidupnya sendiri.<br />
Surat Kartini tanggal 25Mei 1899, mengungkapkan kegelisahannya dan sekaligus keiriannya terhadap kakak-kakak laki-lakinya dan saudara-saudara sepupunya yang diberi kesempatan untuk melanjutkan<br />
sekolah tingkat HBS (sekolah lanjutan menengah atas), sedangkan ia menunggu untuk dikawinkan oleh pilihan ayahnya.<!--more--></p>
<p>Tokoh perempuan lainnya seperti Siti Roehana Koeddoes, menginjak usia remaja dengan melawan, karena ia sadar betul akan konsekwensi adat istiadat dan agama yang mengikat kebebasan perempuan.  Ia melawan<br />
dengan mengajarkan anak-anak, remaja dan perempuan dewasa membaca dan menulis di beranda rumahnya di Kotagadang.  Setiap ada laki-laki yang lewat, ia keraskan suaranya agar terdengar bahwa perempuan dapat membaca dan berpengetahuan luas.  Ia pun memberontak dengan memamerkan<br />
pakaian kebaya panjang yang cerah tanpa tutup kepala, payung matahari yang menari-nari saat ia berlenggak-lenggok.  Berbeda dengan Kartini, Siti Roehana menolak dijodohkan serta memilih pasangan hidupnya sendiri diusia 24 tahun, bukan  dengan seorang bangsawan tapi dengan seorang pemberontak yang melawan penjajahan Belanda.</p>
<p>Baik pikiran-pikiran Kartini maupun Siti Roehana, keduanya menghasilkan karya tulis luar biasa yang dibaca oleh generasi penerus, dijadikan contoh oleh banyak perempuan Indonesia.  Kumpulan tulisan<br />
Kartini diterbitkan dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang" sedangkan Siti Roehana menerbitkan koran perempuan pertama, "Soenting Melajoe" pada tanggal 10 Juli 1912.<br />
<strong><br />
Pekerjaan Masih Menumpuk</strong></p>
<p>Paling tidak dari kedua contoh tokoh perempuan Indonesia di atas, awal masa remaja merupakan awal pengelanaan pikiran, menentukan sikap dan meraih cita-cita kebebasan yang diidam-idamkan.  Tidak hanya berlaku bagi perempuan di tanah air tapi berlaku bagi perempuan di seluruh dunia.  Cita-cita suatu kebebasan sangat mahal harganya.  Sebagai contoh perempuan di negara dunia ke-3 seperti Indonesia masih<br />
tertinggal dalam meraih tingkat pendidikan atas, khususnya remaja perempuan (Youth Development Report,World Bank, 2007).</p>
<p>Selain itu, menurut laporan UNDP tahun 2007, perempuan masih juga terbelakang dalam partisipasi kerja bidang ekonomi (Laki-laki= 84.7%, Perempuan=48. 6%.  Buruh migran di Indonesia kini meningkat menjadi<br />
350.000 per tahun dimana 70% adalah perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang rentan terhadap kekerasan.<br />
Pada tingkat politik pun perempuan Indonesia masih lemah menduduki jabatan publik.  Pada tingkat legislatif hanya sebesar 11.6%, tingkat senat 19.8% dan pada tingkat eksekutif sebesar 13.3% (LaporanUNDP<br />
tahun 2007).</p>
<p>Jadi, masih banyak pekerjaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan, keadilan dan representasi perempuan. Tentu keadaaan sekarang jauh lebih baik dari keadaan 13 tahun yang lalu ketika Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) terbentuk, saat Orde Baru berkuasa.  Ketika itu masih sedikit LSM perempuan yang bekerja dan sebagian besar bekerja dalam diam karena suasana politik<br />
yang tidak kondusif.</p>
<p><strong> Produktifitas dan Kreatifitas</strong></p>
<p>Pada suasana seperti itulah YJP bertekad untuk bersuara dengan menerbitkan Jurnal Perempuan edisi pertama pada bulan Agustus 1996. YJP sangat sadar bahwa informasi adalah bekal pemberdayaan perempuan, oleh sebab itu, Jurnal Perempuan berusaha memberikan pencerahan dan kajian bermutu tentang status perempuan Indonesia.  Perjalanan awal memang tidak mudah, terbitan yang awalnya hanya hitungan jari menjadi puluhan, ratusan hingga kini 3000 eksemplar setiap dua bulan. Jurnal Perempuan kini telah mencapai edisi ke-58 dan telah mendiskusikan dan memperdebatkan berbagai macam isu perempuan mulai dari soal trafficking, akses kesehatan untuk perempuan, politik, ekonomi dan budaya perempuan serta masalah tubuh dan seksualitas perempuan.</p>
<p>YJP tak berhenti pada kajian yang dituliskan di Jurnal Perempuan, namun juga kreatif dalam mencapai perempuan yang berada di daerah dengan program Radio Jurnal Perempuan.  Hingga kini telah dihasilkan<br />
edisi RJP yang ke 445 dengan melibatkan lebih dari 200 stasiun radio di seluruh Indonesia.<br />
YJP selalu berusaha inovatif dengan menyediakan Video Jurnal Perempuan yang merekam masalah-masalah perempuan Indonesia.  Beberapa film dokumenter yang telah diproduksi oleh VJP antara lain adalah Perempuan di Wilayah Konflik (2002) dan Jual Beli Perempuan (2004).  Kedua film tersebut dipakai dalam berbagai training baik oleh LSM, pemerintahan dan juga oleh training kepolisian.  Film-film tersebut pun telah diputar hingga ke negara Singapura dan Australia.</p>
<p><strong> Filosofi Organisasi</strong></p>
<p>Penelitian, media dan penerbitan buku tentang perempuan telah menjadi nafas Yayasan Jurnal Perempuan.  Kini, penerbitan YJP berusaha merambah anak-anak perempuan muda (remaja) dengan mengeluarkan edisi<br />
majalah CHANGE secara gratis.  Persoalan rumit gender yang biasa dibahas dalam Jurnal Perempuan kini dapat ditemukan dalam bahasa sederhana anak-anak muda.  Pengelola majalah CHANGE pun adalah<br />
anak-anak muda yang memiliki semangat dan gairah baru.</p>
<p>Terus mencari dan mendengarkan dari satu cerita ke cerita lainnya mengenai perempuan di seluruh Indonesia adalah suasana yang kerap dijumpai di kantor kami di bilangan Tebet, Jakarta-Selatan.  Tak<br />
ubahnya seperti LSM lain, tempat bernaung kami dimulai dari satu ruangan 4x4 meter terintegrasi dengan rumah keluarga, pindah ke sebuah bilik di belakang rumah keluarga dan akhirnya mengontrak di berbagai<br />
tempat.</p>
<p>Suka duka menjalani sebuah organisasi sangat berliku dan menempuh perjalanan yang sulit.  Tak ada jalan pintas dalam membangun organisasi, selalu harus melewati jalan yang terjal sebelum akhirnya menikmati kemulusuan perjalanan berikutnya.  Jatuh dan bangun sebuah organisasi adalah sesuatu yang biasa. Apa yang membuat organisasitersebut bangkit kembali adalah kemauan hati yang kuat.</p>
<p>Banyak kenangan yang telah dilewati oleh YJP.  Kenangan yang berkesan seperti ketika YJP menggagas demonstrasi Suara Ibu Peduli di tahun 1998,  menselancarkan "politik susu" agar kebungkaman suara<br />
terpecahkan. Bekerjasama dengan para mahasiswa meruntuhkan sebuah rezim bukan dengan senjata api tapi dengan ribuan nasi bungkus.</p>
<p>Memori berpanas dan berkeringat di jalanan meneriakkan yel-yel anti-poligami, anti kekerasan terhadap perempuan serta protes terhadap kebijakan-kebijakan yang menindas seperti RUUAPP dengan membentuk<br />
Aliansi Mawar Putih.  Meskipun kadang pengalaman pahit harus ditelan seperti insiden di Monas 1 Juni 2008, saat ada kawan yang ditendang dan dipukul dan terkapar dalam kefrustrasian menghadapi kelompok yang<br />
brutal dan sewenang-wenang.</p>
<p>Semua kenangan pahit dan manis tak akan terhapus dari perjalanan YJP selama 13 tahun ini. Begitu banyak yang telah singgah di hati YJP, teman-teman tak pernah lelah membantu semampunya. Pelanggan-pelanggan yang dengan setia menunggu edisi Jurnal Perempuan, pendengar-pendengar<br />
yang rindu suara RJP, miliser yang gemar berdiskusi, semua telah berkontribusi memajukan YJP.  YJP telah membangun sikap voluntirisme dalam berorganisasi, menyumbangkan segala pikiran dan tenaga untuk<br />
sebuah cita-cita kesetaraan.</p>
<p>Jejak-jejak telah tercetak dalam perjalanan YJP, jejak-jejak baru akan diteruskan dengan tapak-tapak baru dan sepak terjang baru.<br />
Pada dasarnya sebuah organisasi adalah sebuah ide yang bermula dari suatu cita-cita dan akan dilanjutkan oleh cita-cita baru yang selalu bertumbuh.<br />
Selamat salin tahun YJP, semoga tahun ke-13 ini menjadi awal tahun yang bergairah mengekspresikan kematangan berorganisasi.</p>
<p>*Disampaikan dalam acara Ulang Tahun Yayasan Jurnal Perempuan ke-13<br />
di, Jumat 25 Juli 2008 di Le Meriden Hotel, Jakarta</p>
<p>**Gadis Arivia, Pendiri Yayasan Jurnal Perempuan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Harga Demokrasi: Semangat Kartini Tidak Murah]]></title>
<link>http://tulisanperempuan.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 12:46:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>ratna ariani</dc:creator>
<guid>http://tulisanperempuan.wordpress.com/2008/07/22/harga-demokrasi-semangat-kartini-butuh-kartini/</guid>
<description><![CDATA[Saya mencoba utak atik iseng menghitung persiapan caleg di pesta demokrasi tahun depan. Kalau ada 56]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mencoba utak atik iseng menghitung persiapan caleg di pesta demokrasi tahun depan. Kalau ada 560 kursi DPR yang diperebutkan 34 parpol, dan  aturan UU Pemilu no 10/2008 mengharuskan setiap parpol  memiliki 120 % caleg; maka tiap parpol harus menyerahkan 672 nama  dimana 30 % nya atau 224 orang adalah perempuan.  Jadi total akan ada 22,848 orang dengan 7,616 perempuan ikut bertarung memperebutkan 560 kursi. Kasarnya perbandingannya adalah satu kursi diperebutkan 40 orang, baik antara sesama caleg satu partai atau partai lainnya. Perbandingan ini bisa lebih besar bila di dapil (daerah pemilihan) nya termasuk yang 'gemuk' dan menjanjikan bakal suara dan kursi perolehan.<img class="alignleft" src="http://economy.okezone.com/images-data/content/2008/01/02/21/72327/4JssVJi1b7.jpg" alt="" width="253" height="175" /></p>
<p>Sudah pasti para caleg perempuan juga harus mempersiapkan amunisi, baik untuk sosialisasi program, membuat selebaran, kaos dan topi, menyelenggarakan berbagai pertemuan dan seminar. Itu semua butuh uang kan? Oke lah kita serahkan mekanisme penentuan nomor urut di masing-masing parpol, tentunya masing-masing ada aturan mainnya. Yang jelas masa kampanye kali ini gak main-main... 9 bulan bo ! Maka harus dipastikan strategi dan amunisi harus benar2 diperhitungkan. Anggap sejuta rupiah sebulan, bulatkan deh Rp 10 juta total, hhmm... bisa dapat apa ya?</p>
<p>Makin kecil nomor urut maka makin besar usaha untuk 'mengamankan' PW (Posisi Wuenak) tersebut. Disisi lain yang tidak dapat nomor kecil juga berusaha untuk mendapatkan suara di atas 30 % BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Nah rasanya hitungan saya 10 juta diatas tadi pasti gak akan dilirik, itu cuma cukup untuk biaya transport bensin para pemasang spanduk dan bagi-bagi brosur. Kalau misalnya 10 juta perbulan, maka terpaksa Rp 100 juta dicadangkan untuk 10 bulan, itu pun cuma cukup untuk beberapa kali tayang masuk  majalah. Masuk televisi? wah gaktau deh berapa besar lagi biayanya tuuh...<!--more--></p>
<p>Jeleknya  kalau rata-rata caleg punya simpanan amunisi 100 juta maka ada 2,284.800 juta atau lebih dari 2 Triliun dihabiskan untuk mengejar kursi DPR tadi. Eh angka ini belum selesai lho; masih ada ribuan kursi DPRD dan DPRD I yang belum selesai dihitung. Bisa dibayangkan berapa triliun dihabiskan para caleg untuk bertarung di pemilu 2009. Belum lagi yang akan maju ke pemilihan presidennya ... Jadi gak bener juga kalau Indonesia dibilang negara miskin, buktinya untuk peta demokrasi saja celengan para caleg bisa triliunan keluar dari simpanan.</p>
<p>Padahal disis lain dengan berjalannya waktu konstituen pun juga tambah 'pintar'. Saya pernah bertemu seorang ibu sederhana di desa sekitar Salatiga. Bisa dikatakan ia buruh batik biasa, SD pun tidak lulus, tapi ia mampu menjadi penggerak motor ekonomi para ibu disekitarnya dengan bantuan sebuah LSM. Ia menjadi wanita buruh teladan yang diundang untuk mendapat penghargaan dari ILO di bangkok. Ia bercerita bahwa sepulangnya dari bangkok ia didekati beberapa calon lurah yang akan maju pemilihan. Ia tahu bahwa mereka memanfaatkan 'ketokohan'nya diantara para wanita didesa. Tapi ia juga tahu bagaimana memanfaatkan 'ketokohan'nya tersebut. Maka saat ditanya oleh para calon lurah apa yang diperlukan, maka disebutkannya segala keperluan masyarakat seperti perbaikan jalan desa, penyediaan posyandu, perbaikan saluran listrik dsb. Saya tanya ibu dukung yang mana, kan semua  calon yang menolong masyarakat? Dengan ringan dia menjawab: ya itu terserah masing-masing lah, bebas aja tha??</p>
<p>Haha... bisa dibayangkan, lebih dari 10 T terbuang hanya akan dimanfaatkan konstituen. Mereka tahu yang butuh suara adalah 34 parpol, maka semua usulan dan sumbangan akan  diterima. Yang untung adalah bisnis percetakan dan konveksi seperti jas, kaos, spanduk dsb. Tapi pada akhirnya rakyat semakin cerdas hak memilih ada di setiap pribadi, tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa dibeli. Oh mahalnya demokrasi..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kartini Ngeblog (Dari Ventura Elisawati)]]></title>
<link>http://tulisanperempuan.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 11:48:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>ratna ariani</dc:creator>
<guid>http://tulisanperempuan.wordpress.com/2008/07/22/kartini-ngeblog-dari-ventura-elisawati/</guid>
<description><![CDATA[Tulisan yang juga dimuat di Kompas ini , menyatakan bahwa untuk memelihara semangat pembaharuan Kart]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div id="post-277" class="post"><em>Tulisan yang juga dimuat di Kompas ini , menyatakan bahwa untuk memelihara semangat pembaharuan Kartini memang kita harus ‘ahead’ pada jamannya. Artikel selengkapnya bisa diakses diblog <strong><a href="http://vlisa.com/2008/04/21/memaknai-kartini-di-era-informasi-tanpa-batas/">mbak Velisa</a></strong></em><strong><a href="http://vlisa.com/2008/04/21/memaknai-kartini-di-era-informasi-tanpa-batas/"> </a></strong></p>
<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p><img class="alignleft" src="http://www.indonesianembassy.org.uk/indonesianheroes..." alt="" /><img class="alignleft" src="http://www.indonesianembassy.org.uk/indonesianheroes..." alt="" /><img class="alignleft" src="http://www.indonesianembassy.org.uk/indonesianheroes/resize_heroes/pages/ra_kartini_jpg.htm" alt="" /><img class="alignleft" src="http://blog.yordan.web.id/wp-content/uploads/2008/04/kartini-1.jpg" alt="" width="125" height="83" />Menurut hemat saya, apa yang dilakukan Kartini saat itu — menuangkan pikiran, memanfaatkan TIK (Teknologi Informatika dan Komputer) untuk berinteraksi, melakukan transformasi dan memberikan inspirasi — sebenarnya tak jauh dari apa yang kini tengah populer di dunia TIK. Salah satunya, ngeblog.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://www.indonesianembassy.org.uk/indonesianheroes/resize_heroes/pages/ra_kartini_jpg.htm" alt="" /><em>Blogging</em> secara positif adalah menuangkan berbagai pemikiran, dalam <em>personal web site</em> (blog) untuk kemudian mendapatkan tanggapan dalam diskusi interaktif, yang positif tentunya, pada akhirnya bisa ditranformasikan dan bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang positif.</p>
<p>Karena itu, saya yakin bila Kartini hidup di zaman sekarang, dia pasti ngeblog, supaya lebih banyak orang berani berpendapat menyampaikan pikirannya. Dan buntutnya makin banyak orang pintar dan terjadi <em>social networking</em> yang positif.<!--more--></p>
<p>Data dari APJII menyebut sampai akhir 2007 pengguna Internet di Indonesia mencapai 25 juta dengan tingkat pertumbuhan diperkirakan sekitar 39 persen. Di tahun 2012, jumlah pengguna Internet di Indonesia akan sama besarnya dengan jumlah pengguna Internet di Asia Tenggara. Itu menggambarkan bahwa pengguna Internet Indonesia bertambah dengan sangat cepat.</p>
<p>Jumlah <em>blogger</em> Indonesia yang memiliki akun di Blogspot sekitar 247.000, di WordPress 125.000, layanan blog lainnya sekitar 75.000 (data Internet World Stats, Desember 2007 Report). Penambahan fitur bahasa Indonesia di WordPress dan Blogspot, menunjukkan bahwa potensi blog besar dan tumbuh terus.</p>
<p>Jika tarif internet maupun telekomunikasi makin murah, maka potensi pertumbuhannya akan makin tinggi, termasuk potensi pengguna <em>mobile blogging</em>, yang jumlahnya sebangun dengan penetrasi pengguna telepon seluler yang sudah mencapai lebih dari 100 juta.</p>
<p>Di era dunia tanpa batas dan kebebasan berpendapat yang dijamin undang-undang, mestinya Indonesia bisa memunculkan banyak Kartini yang sesuai kompetensinya. Inilah makna sesungguhnya dari peringatan hari Kartini di era digital, dan bukan sekadar lomba berkebaya.</p></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Demo Perempuan Anti Sinetron VS Demo Wanita Pro Sinetron]]></title>
<link>http://papario.wordpress.com/?p=35</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 14:08:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>papario</dc:creator>
<guid>http://papario.wordpress.com/2008/07/13/demo-perempuan-anti-sinetron-vs-demo-wanita-pro-sinetron/</guid>
<description><![CDATA[Metropolitan News.com
Demo Perempuan Anti Sinetron VS Demo Wanita Pro Sinetron
Jakarta, 21 April 201]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Metropolitan News.com</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Demo Perempuan Anti Sinetron VS Demo Wanita Pro Sinetron</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Jakarta, 21 April 2010</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Pagi yang biasanya cerah di Monas tiba tiba menjadi panas akibat bentrokan demo Perempuan Anti Sinetron dan demo Wanita Pro Sinetron. Untung Polisi dengan sigap dapat segera melerai pertikaian yang hampir memakan korban karena kelompok Waria Pro Sinetron pun mulai mendatangi Monas di siang harinya. Insiden ini cukup merusak hikmadnya peringatan Hari Kartini di Jakarta Pusat tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Demo para wanita ini dimulai ketika DPR dan Pemerintah melontarkan usul untuk menghentikan semua program siaran Sinetron di Televisi dengan alasan, Sinteron di Televisi telah membodohi para pemirsanya dan merusak moral dan etika para remaja, terutama remaja wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Lembaga Pemantau Media Elektronik (LPME) didampingi Pakar Psikologi DR. Tiwi S, dalam dengar pendapat di Gedung DPR dua minggu yang lalu menyampaikan bahwa tawuran, perkelahian dan kekerasan remaja wanita dan bangkitnya geng – geng perempuan yang sedang marak terjadi dikarenakan terlalu banyaknya konsumsi menonton sinetron televisi yang terlalu banyak menampilkan tokoh tokoh wanita antagonis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Tokoh – tokoh ini dapat ditemui di setiap sinetron yang sedang diputar di Indonesia. Tokoh tipikal yang selalu berperasaan iri pada kelebihan orang lain, berwajah sinis, berbibir manyun, pikiran pikiran licik, penyiksaan pada tokoh protagonis, kemalangan orang baik terlalu sering ditampilkan bertahun tahun di televisi sehingga mempengaruhi opini pemirsa yang kebanyakan ibu ibu dan remaja wanita bahwa beginilah potret sebenarnya para perempuan Indonesia. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"><em>Pakar Marketing Indonesia : <strong>Hermawan Kartajaya</strong></em>, pada salah satu presentasinya didepan alumni <strong>Sekolah Tinggi MarkPlus</strong>, mengatakan bahwa ketika dalam berpikir di era ini <em>para pria telah menjadi tipikal Venus</em>, maka para wanita merasa tergeser di dunianya sehingga <em>menjadi lebih peka dan sensitif dan mulai kehilangan nalar dan rasio</em>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Dari hasil dengar pendapat inilah, DPR kemudian merencanakan untuk membuat <em><strong>Rancangan Undang Undang Penertiban Penyiaran Sinetron (RUUPPS)</strong></em>. RUU akan ini mengatur tata cara<span> </span>pembuatan dan persyaratan penyiatran Sinetron. Salah satunya harus menyertakan Tim Ahli Psikologi sebagai tim kru penasehat. Lalu selain harus lolos sensor BSSF ( Badan Sensor Film dan Sinetron) juga harus lulus sensor BSEMM ( Badan<span> </span>Sensor Etika dan Moral Media).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Dalam hitungan hari, Tim Pembela Hak Asasi Wanita Indonesia (TPHAWI) mendatangi gedung DPR mengkritik RUU <span> </span>ini. Dalam orasi yang dibacakan selama satu jam, mereka menuntut untuk membatalkan pembuatan RUU ini atas nama hak asasi wanita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">(MN)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Baca Majalah Favorit Anda Secara Online]]></title>
<link>http://comel71.wordpress.com/?p=65</link>
<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 11:18:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>comel71</dc:creator>
<guid>http://comel71.wordpress.com/2008/06/28/baca-majalah-favorit-anda-secara-online/</guid>
<description><![CDATA[
Anda tinggal di luar negeri dan tidak mau ketinggalan membaca majalah kesayangan anda? Atau mungkin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://img1.cepeceng.com/FEMINA290508-S-C1.jpg" alt="" /></p>
<p>Anda tinggal di luar negeri dan tidak mau ketinggalan membaca majalah kesayangan anda? Atau mungkin anda tidak sempat membeli majalah kesayangan anda tapi edisi yang anda cari sudah tidak ada lagi di pasaran? Coba kunjungi <a href="http://www.cepeceng.com/"></a><a href="http://www.cepeceng.com/" target="_blank">Cepeceng</a>. Di sana keinginan membaca anda akan terpuaskan. Karena berbagai majalah terbitan dalam negeri tersedia mulai dari majalah wanita, pria, bisnis, masakan, sampai majalah tentang komputer bisa anda baca secara gratis.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kartini bukan Kartono]]></title>
<link>http://aliyahproyekunivamedan.wordpress.com/?p=40</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 11:54:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aliyah</dc:creator>
<guid>http://aliyahproyekunivamedan.wordpress.com/2008/06/12/kartini-bukan-kartono/</guid>
<description><![CDATA[Ketika kalender menunjukkan angka 21 di bulan April, pasti terlintas dalam benak kita sosok pejuang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;font-family:Arial;">Ketika kalender menunjukkan angka 21 di bulan April, pasti terlintas dalam benak kita sosok pejuang wanita, R.A. Kartini. Bahkan kalo kita lihat sekeliling kita, banyak digelar parade kartini yang memakai kebaya plus tak ketinggalan kondenya.<!--more--></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;font-family:Arial;">Bahkan, banyak aktivis perempuan yang katanya memperjuangkan hak wanita agar sama dengan pria, membawa-bawa nama Kartini sebagai simbol pejuang feminisme. Gerakan ini berusaha, bagaimana pun caranya, agar wanita bisa menduduki posisi yang biasanya didominasi pria, meskipun harus mengabaikan nilai budaya apalagi agama. Walhasil, bisa kita lihat sekarang, banyak sekali bertebaran wanita karier di perkantoran. Bahkan kini sedang diperjuangkan agar wanita bisa menduduki banyak kursi di dewan perwakilan, lebih kenceng lagi berusaha menjadi presiden. Kecerdasan dan penampilan menarik wanita pun dieksploitasi habis-habisan.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;font-family:Arial;">Gals, coba kita tengok, yang biasanya jadi sales promotion itu cewek apa cowok?, yang biasanya dimajukan ketika mengajukan lobi, atau memamerkan barang produksi itu cewek ato cowok? Bahkan bukan jadi rahasia lagi, jasmani wanita pun banyak dieksploitasi di berbagai tempat hiburan, yang dilindungi pemerintah demi pemasukan pajak pendapatan.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;font-family:Arial;">Gals, kalo kita tilik sejarah lagi, ternyata Kartini yang banyak bergaul dengan noni-noni Belanda memang pada awalnya menganggap budaya Eropa/Belanda sebagai budaya yang tinggi dan patut dicontoh. Namun semenjak dia mempelajari Islam melalui Al-Qur’an, dia menjadi sadar, dan menganggap ideologi kebebasan yang digembar-gemborkan Eropa tak layak disebut peradaban.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam salah satu suratnya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat, dia menulis, ”Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Qur’an yang isisnya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”. Subhanallah gals, hanya belajar satu surat saja, pemikiran Kartini langsung berubah, bagaimana ya kalau beliau sudah mempelajari Al-Qur’an sampai surat An-Nur dan Al-Ahzab. Mungkin gambar Kartini yang sekarang kita lihat bukan berkonde, tapi berkerudung dan berjilbab.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;font-family:Arial;">Gals, Kartini sebenarnya berjuang agar wanita Indonesia menjadi cerdas dalam mendidik anak dan mengolah rumah tangga. Bukan berlomba-lomba kerja kantoran dan melalaikan kewajibannya mengatur rumah tangga. Karena memang maju tidaknya sebuah negara ditentukan oleh bagaimana wanitanya, yang punya peranan penting dalam menyiapkan generasi bangsa.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;font-family:Arial;">Islam memang agama yang tock cer, Islam tidak memandang sebelah mata kaum wanita, seperti yang diisukan kaum feminis. Sebaliknya, Islam memposisikan peran wanita sejajar dengan laki-laki sesuai porsinya. Kalau laki-laki bisa berjihad di medan perang, maka kita bisa berjihad ketika melahirkan insan mungil. Bahkan Islam membolehkan (tidak mewajibkan) wanita bekancah di ranah publik, asalkan tidak meninggalkan kewajiban utamanya di rumah tangga. Misalnya, Khadijah yang menjadi pebisnis sukses di masanya, atau sahabat Shafiyyah Binti Abdul Muthalib yang berani menghadapi penyusup Yahudi seraya membunuhnya dengan tiang tenda. Yang perlu kita camkan gals, Allah SWT adil dalam mengatur peran wanita dan laki-laki. Yang membedakan hanya ketaqwaannya saja. Adil ga harus sama kan? Apa kamu yang SMA rela neh dikasih uang jajan 2000 rupiah, sama kayak adek kita yang masih TK? Ya engga dong!!</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kartini, perempuan, dan lelaki]]></title>
<link>http://printiasti.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Sat, 31 May 2008 21:40:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>printiasti</dc:creator>
<guid>http://printiasti.wordpress.com/2008/06/01/kartini-perempuan-dan-lelaki/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Akan lebih banyak lagi yang saya kerjakan untuk bangsa ini bila saya ada di samping seseorang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"Akan lebih banyak lagi yang saya kerjakan untuk bangsa ini bila saya ada di samping seseorang laki-laki yang cakap, yang saya hormati, yang mencintai rakyat rendah sebagai saya juga. Lebih banyak, kata saya, daripada yang dapat kami usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri. "</p>
<p>[RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, hlm. 187]</p>
<p>*dibelakang lelaki hebat selalu ada perempuan hebat*</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Budaya]]></title>
<link>http://mudamudi.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 06:00:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Albert Junius Lienardi</dc:creator>
<guid>http://mudamudi.wordpress.com/2008/05/13/budaya/</guid>
<description><![CDATA[Hmm&#8230;..
Ngomongin masalah budaya pasti ga jau h deh dari yang namanya moral. Gue tahu kalo anak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm.....</p>
<p>Ngomongin masalah budaya pasti ga jau h deh dari yang namanya moral. Gue tahu kalo anak muda sekarang ini banyak yang ninggalin budaya daerahnya. Memang masih ada juga yang deket sama budaya daerahnya tapi sebagian besar orang udah cuek sama budaya daerahnya. Indonesia punya banyak budaya yang nanemin moral yang baik kepada penduduknya. Kita seringkali nyari alasan buat nutupin kesalahan kita saat ninggalin budaya lama yaitu efek globalisasi. Kata globalisasi sendiri ga bisa dipake buat alasan. Kita semua sebenarnya bisa tahan dari ancama globalisasi hanya kita saja yang ga mau berusaha.</p>
<p>Moral orang jadul memang lebih baik dari pada sekarang ini yang hancur banget. Budaya orang barat memang seperti itu dan kita hanya bisa menCONTOH budaya mereka. Kalau perlu kita buat budaya kita lebih terkenal lagi dan mereka yang mencontoh budaya kita. Indonesia hanya mentingin budaya pas ada event tertentu kayak Hari Kartini. Buat apa seperti itu kita sebagai anak muda harusnya memiliki inisiatif buat majuin budaya Indonesia. Hal ini ditulis untuk memperingati 100 Tahun HariKitNas</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kartini Abad Kini]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=239</link>
<pubDate>Sat, 03 May 2008 13:16:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.wordpress.com/2008/05/03/kartini-abad-kini/</guid>
<description><![CDATA[
 
PEREMPUAN itu melangkah dengan agak ragu sambil menyo­rong­kan tiket dan paspornya ke pramugar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/kartini-telur2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-242" src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/kartini-telur2.jpg?w=300" alt="" width="235" height="308" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"> </p>
<h3 style="text-align:left;"><span style="color:#008080;"><strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">PEREMPUAN </span></strong><span style="letter-spacing:-0.15pt;">itu melangkah dengan agak ragu sambil menyo­rong­kan tiket dan paspornya ke pramugari. Sang pramugari tersenyum, lalu memintanya menunjukkan <em>boarding pass</em> agar ia bisa atahu di kursi mana penumpang ini harus duduk. "Tiket dan paspornya di­simpan saja, <em>mbak</em>," katanya.</span></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Rambutnya lurus dengan ujung dibikin keriting, lipstiknya merah menyala, kacamata hitam menutup matanya sementara kabel <em>walkman</em> menjulur dari ku­ping kiri-kanannya. Ia mengenakan rok <em>over-all</em> dari bahan jins biru dengan kaos bulu tebal lengan pan­jang bermotif kulit macan. Sepatunya berhak sangat tebal, dengan kaos kaki warna hitam bergaris-garis merah setengah betis. Jam tangan dengan piringan tebal dan melotot beradu dengan gelang manik-manik warna warni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Begitu duduk --kebetulan di sebelah saya-- di dekat jendela, ditariknya dompet dari ransel kulit kecil, paspornya pun dicabut lagi dari saku ransel, dibukanya. "Aku dari luar negeri nih," mung­kin itu yang hendak dikatakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dari dompet panjang dica­butnya amplop, dan ia menarik isinya. Selembar cek bertulisan Huruf Arab dari sebuah bank di Riyadh. Dibolak-baliknya cek itu, se­­­akan ingin menunjukkan, "Urusan gua sudah pakai cek, <em>cing</em>!". Ia turun di Jakarta dan melanjutkan dengan penerbangan lain ke Surabaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Ini mungkin buruh yang baru mudik, pikir saya. Ternyata benar, dari perbincangan sekilas, ia menuturkan sudah setahun bekerja pada seorang saudagar di Riyadh. Ia dizinkan pulang untuk lebar­an, tapi tak akan kembali lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">"Kecuali kalau ada <em>ponsor</em>, 'ana' pasti berangkat lagi," katanya. Yang dimaksud <em>ponsor</em> itu, ternya­ta sponsor, penghubung alias calo tenaga kerja yang biasa datang ke desa-desa. Juga ke desanya, katanya sih, di Kediri sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Adegan itu teringat kembali ketika beberapa waktu lalu media mas­sa kita dihebohkan oleh kasus Kartini. Kartini yang kita kenal saat ini, tentu saja bukan Putri Je­para yang pikiran-pikirannya dilukiskan --oleh Belanda-- cemer­lang dan progresif namun tak berdaya melepaskan diri dari tin­dasan adat yang memberi kebebasan pada suaminya untuk mem­per­laku­kan dia seenak perut dan bawah perut. Lalu diharumkanlah namanya sebagai Putri Sejati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini abad-21 adalah Kartini dari kampung di Rengas­deng­klok Karawang yang --karena kemiskinan-- lantas membiarkan diri diekspor ke tanah seberang, dan terdamparlah ia di Fujairah Uni Emirat Arab. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini diekspor ke sana bersama ratusan, mungkin ribuan, perem­puan lain yang dibetot dari komunitasnya, keluarga, anak dan sua­minya, untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga, kata la­in untuk memperhalus istilah babu dan jongos. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini hamil, atau dihamili, seorang lelaki asal India, dan ia sendirian harus menanggung dosanya. Pengadilan setempat memper­­salahkannya atas kasus perzinaan, dan hukuman untuk tindak pidana itu adalah dirajam sampai mati, sesuai dengan undang-undang setem­pat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kerancuan proses penempatan, minimnya mutu dan perlindungan serta kerentanan posisi buruh merupakan titik lemah program penempatan buruh ke Timur Tengah. Terlebih lagi masih ada citra di sebagian masyarakat Arab bahwa pembantu adalah budak yang bisa diperlakukan layaknya sesuka majikan. Oleh karena budak itu sudah dianggap miliknya, mereka bisa melakukan apa saja terhadap budaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Sudah beberapa kali Departemen Tenaga Kerja mengusulkan ke­pada sejumlah negara Arab untuk menandatangani Nota Kesepahaman (MO­U) yang isinya antara lain menyatakan bahwa TKW itu adalah pekerja dan bukannya budak. Tapi negara‑negara Arab itu tidak mau me­nekennya. Artinya, kita tetap tunduk saja pada ketentuan yang mereka berlakukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Posisi tawar menawar kita dalam ekspor budak, eh ekspor buruh ini tetap lemah ketika dihadapkan pada kelangkaan kesem­pa­tan kerja di dalam negeri di satu pihak dan peningkatan devisa di pihak lain. Maka dengan penuh semangat kita kirim sebanyak mungkin orang, termasuk yang seperti Kartini, dan ketika kena kasus barulah ribut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kartini, dengan keterbatasan berbahasa dan pengetahuan hukum lokal, tentu tak bisa berbuat banyak saat diadili. Bisa jadi, dalam proses persidangan, ia tidak mengerti pertanyaan yang dia­juk­an jaksa karena saat itu ia tidak didampingi oleh penerjemah, dan ia manggut-manggut saja ketika dituding telah berzina. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Kita tentu sepakat, zina adalah perbuatan dosa, dan seorang pen­dosa harus dihukum. Namun kita masih belum mendapat kejelasan, apa­kah kehamilan Kartini me­mang merupakan buah dari perzinaan su­ka sama suka, atau oleh se­bab lain. Misalnya, Kartini tak kuasa menolak atau menghindar dari amuk birahi lelaki yang kemudian me­nye­babkannya hamil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Persoalannya kemudian adalah, haruskah Kartini mati de­ngan cara dirajam atas 'dosa' yang diperbuatnya bersama lawan mainnya itu? Apakah ke­hamilan saja sudah cukup membuktikan bahwa ia berzina dan harus ma­ti karena itu? Apakah orang yang turut me­lakukan perbuatan dosa itu boleh bebas berkeliaran dan lepas dari hukuman? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Dan, masih ba­nyak lagi pertanyaan yang mung­kin muncul, sebelum kita bisa mene­­rima atau menolak pelak­sanaan proses hukum bagi Kartini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Lepas dari dari legal atau tidaknya Kartini diekspor untuk bekerja di UEA, proses penempatan Kartini merupakan gambaran dari program penempatan buruh Indonesia di mancanegara, khususnya ke Timur Tengah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Ini juga menguak fakta yang sesungguhnya, bahwa meski zaman per­budakan sudah tinggal sejarah, pada prakteknya kita malah sedang melegalkan perbudakan model baru. Celakanya, sebagaian besar di antara 'budak-budak' itu justru berasal dari kaum Kartini, yang --maaf saja-- sebagian besar di antara mereka diposisikan sebagai jongos alias babu, atau istilah halusnya pembantu rumah tangga, lebih halus lagi pramuwisma. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Nah, ketika nasib buruk menimpa orang seperti Kartini dan juga Nasiroh, barulah kita tersentak. Pemerintah ribut seakan betul-betul ingin membela seluruh buruh kita yang dikemas dalam pa­ket-paket ekspor tenaga kerja. Namun persoalan sudah ter­lalu rumit sebab kita tidak menanganinya secara benar sejak awal. Ketika muncul kasus per kasus, barulah tindakan penanganan dilakukan sehingga terkesan pemerintah kita membela buruh yang tenaganya diperas untuk meningkatan devisa itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Hal yang agak menimbulkan pertanyaan adalah, mengapa pada saat-saat seperti ini para Kartini yang tergabung dalam berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti tidak tergerak untuk menun­jukkan peran dan pembelaannya terhadap sesama kaumnya. Ingat ketika kerusuhan Mei, betapa militan para Kartini ini berjuang bahkan bergerilya menolong dan membela, memberi advokasi, dan berdemonstrasi meneriakkan penderitaan para perempuan yang jadi korban kebiadaban amuk massa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Namun, ketika Kartini abad 21 terpojok di kursi pesakitan nun di negeri seberang sana, hanya sedikit orang di tanah air yang mau bersuara, apalagi memperjuangkannya. Atau ketika mengalami nasib sebagaimana yang menimpa Nirmala Bonat, (</span> <a href="http://curahbebas.wordpress.com/">http://curahbebas.wordpress.com</a><span style="letter-spacing:-0.15pt;">) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:left;"><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Padahal, bukan cuma Kartini, Nirmala, dan Nasiroh yang nasibnya tak menentu di tanah seberang (antara 30 - 40 persen perempuan pekerja di sana dilaporkan mengalami perundungan seksual!), sebab di tanah air sendiri masih banyak Kartini lain yang nasibnya harus diper­juangkan. <strong>***</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:12pt;text-align:right;"> <strong><span style="color:#ffcc00;">April 2000<span><span style="letter-spacing:-0.15pt;">Bandung</span></span><span style="letter-spacing:-0.15pt;"><span>, </span></span></span></strong></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[adorable Kartini]]></title>
<link>http://safura.wordpress.com/?p=24</link>
<pubDate>Sat, 03 May 2008 11:25:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>safura</dc:creator>
<guid>http://safura.wordpress.com/2008/05/03/adorable-kartini/</guid>
<description><![CDATA[ 
Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh. (115)
Tahulah kami sekarang ini, kami tiada dapat lagi mele]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Kami berhak untuk tidak menjadi bodoh. (115)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Tahulah kami sekarang ini, kami tiada dapat lagi melepaskannya, (cita-cita kami itu) sudah menjadi satu dan mesra dengan kehidupan kami. Kalau mereka hendak mengubah pikiran dan perasaan kami, haruslah diberikan kepada kami, hati yang baru, otak dan darah baru! Siapa yang telah pernah mengenal jiwanya, kodrat iradat Tuhan dalam diri manusia, siapa yang telah pernah mendengar teriakannya meminta cahaya dan telah paham akan katanya, maka orang itu tiada akan dapat lagi melupakannya. (112)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Kami disini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, <strong>bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini,</strong> melainkan karena kami—oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan, <strong>hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap menjadikan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya; menjadi ibu—pendidik manusia yang pertama-tama.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Bukankah dari perempuanlah manusia itu mula-mula sekali mendapat didikannya yang biasanya bukan tidak penting artinya bagi manusia selama hidupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Perempuanlah yang menaburkan bibit rasa kebaktian dan kejahatan yang pertama-tama sekali dalam hati sanubari manusia; rasa kebaktian dan kejahatan itu kebanyakannya tetaplah ada pada manusia itu selama hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Beberapa lamanya, pada pikir kami, orang pandai yang banyak pengetahuannya, mulia pulalah budi pekertinya. Sayang! Untunglah dengan lekas kami terjaga dari mimpi itu—lalu mulailah tampak oleh kami, bahwa berpengetahuan banyak itu belumlah sekali-kali, menjadi ijazah tanda mulia budi pekerti orang itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>..dan kami pun sampai pulalah ke hadapan pintu gerbang yang kedua: “Bukan sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, melainkan pergaulan di rumah terutama harus mendidik pula! Sekolah mencerdaskan pikiran sedang kehidupan di rumah tangga membentuk watak anak itu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span>Ibulah yang jadi pusat kehidupan rumah tangga</span></em><span>, dari ibu itulah dipertanggungkan kewajiban pendidikan anak-anak yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang membentuk budinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Berilah anak-anak gadis pendidikan yang sempurna, jagalah supaya ia cakap kelak memikul kewajiban yang berat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>O, tahulah kiranya sekalian ibu, apa yang sebenarnya diterimanya, bila ia dikaruniai bahagia perempuan yang sebesar-besarnya: kemewahan ibu! Bersama-sama dengan menerima anak itu diterimanyalah kewajiban untuk membentuk masa yang akan datang... Dia mendapat anak itu <em>bukanlah untuk dirinya sendiri, </em>anak itu wajib dididiknya untuk keperluan keluarga besar, yang anak itu menjadi anggotanya kelak, keluarga yang sangat besarnya itu yang dinamai masyarakat (peradaban) itu!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Karena itulah kami maka minta pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak gadis. (159-161)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Waw, beda banget yah, emansipasi perempuan sekarang sama emansipasi yang sebenar-benarnya diinginkan oleh Kartini. Gak kebayang aja kalo sekarang Kartini masih ada, tentu dia akan sedih dan hatinya terluka. Banyak orang salah kaprah mengatasnamakan “emansipasi Kartini” dengan bergiat-giat jadi wanita karier di kantor, tapi ‘pendidikan’ pertama bagi anaknya justru diserahkan pada bebi sitter!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Hiks.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Padahal Kartini sendiri jelas-jelas bilang, <em>Ibulah yang jadi pusat kehidupan rumah tangga</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Gimana ya, nasipku kelak. Mudah2an aja bisa jadi ibu yang baik tapi sekaligus juga bagus di karir. Hehehe.. maunya..!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Ada lagi yang menarik. Istrinya Arnold, Arnold yang artis holiwut dan jadi walikota tea, Nah dalam <em>Oprah Show </em>istrinya itu bilang kalo dia bangga jadi ibu rumah tangga. “Memangnya kenapa?” katanya. “Kenapa para ibu rumah tangga saat ditanya profesi, mereka menjawab ‘im <em>just</em> a house-mother’? just?? Hei, ini pekerjaan istimewa. Saat saya ditanya apa pekerjaan saya, akan saya jawab dengan penuh harga diri; saya seorang ibu rumah tangga. Without <em>just.</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Wooo... </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Over all, Kartini, she’s so adorable.  Di tangan Pram ("Panggil Aku Kartini Saja") karakter Kartini sebagai perempuan yang kuat dan modern makin nampak aja. Sayangnya ada hal-hal yang ga diungkapkan sama Pram. Misalnya tentang perubahan spiritual Kartini dari yang semula apatis sama agama jadi sangat religius itu. Di Panggil Aku, Pram hanya menjelaskan kalo Kartini memahami agama secara universal, bukan sebagai orang yang taat dalam beragama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Padahal kalo dalam Habis Gelap keliatan banget perubahan jiwa Kartini dan pemaknaannya terhadap Tuhan dan agama. Bahkan dalam sumber lain disebutkan, Kartini yang semula menganggap gila membaca Quran tanpa mengerti artinya itu, pada akhirnya sempat juga belajar AlQuran dengan salah seorang ustadz (Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar). Dari ustadz itu juga Kartini mendapatkan kado pernikahan Quran + terjemahnya dalam bahasa Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Pokoknya ga nyangka deh..ternyata cerita tentang Kartini bisa begitu bedanya dengan cerita guru2 kita semenjak SD sampe SMA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Untuk kartini]]></title>
<link>http://safura.wordpress.com/?p=23</link>
<pubDate>Sat, 03 May 2008 11:23:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>safura</dc:creator>
<guid>http://safura.wordpress.com/2008/05/03/untuk-kartini/</guid>
<description><![CDATA[21 April 2007 - 1879


Untuk kartini.

Hai kartini,,,apa kabar? Tentunya sekarang kau sudah tenang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">21 April 2007 - 1879</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk kartini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Hai kartini,,,apa kabar? Tentunya sekarang kau sudah tenang dan damai disana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Syukurlah..aku ikut senang. Aduh, apaan sih ini, garing..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Aku ingat, dulu aku--kami anak-anak sekolah--selalu memanggilmu dengan kata ibu.<span> </span>Saat itu bagi kami, bagiku, sosokmu tergambar sebagai seorang ibu yang pengayom, bersahaja, namun sekaligus ’pendekar’ bagi kaummu seperti yang terlirik dalam lagu yang telah kami hafal—bahkan not lagunya—sejak kami masih TK. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lalu saat di awal bangku kuliah, tanpa sengaja aku menemukan ’Habis Gelap Terbitlah Terang’ di perpustakaan kos-ku. Buku itu sudah kumal dan lusuh. Tapi karena itulah aku amat tertarik untuk membacanya. Judul buku itu amat terkenalnya semenjak aku masih SD. Namun seingatku, tak pernah seorang gurupun di sepanjang perjalanan sekolah formalku, menyuruh muridnya—maksudku benar-benar menugaskan kami—untuk membeli buku itu dan membacanya sampai khatam, merangkum isinya, kemudian mendiskusikannya di depan kelas. Tidak pernah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Aku bahkan baru tahu kalau buku itu ternyata bukanlah tulisan yang sengaja kau karang untuk menjadi sebuah buku, melainkan kumpulan surat-surat yang kaukirimkan untuk para sahabatmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dan membacanya, aku merasa seperti sedang berkenalan langsung dengan seorang perempuan yang luar biasa. Pintar dan berani. Sangat humanis, tapi juga berhati lembut. Kartini. Sejak itu, namamu memiliki arti yang sangat besar bagiku. Citramu sebagai perempuan tua berkebaya (maaf ya..) serta-merta langsung runtuh. Entah mengapa, aku jadi merasa begitu sayang dan rindu padamu. Gila ya, kedengarannya. Tapi mungkin itulah..kalau dalam bahasa Tukul kristalisasi keringat, bagiku ini adalah kristalisasi kekaguman yang mengharu-biru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kau baru seumurku saat menggugat dunia. Lebih muda, bahkan. Surat pertama yang tercantum dalam buku Habis Gelap.. menunjukkan saat itu kau masih berumur 20! </span><span>Dan kau sudah fasih berbicara tentang cita-cita peradaban bagi bangsamu, pribumi. </span><span>What a girl..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dan betapa sejarah mendistorsinya dengan menyebutmu ”ibu”, memberi kesan tua dan tak lincah! Menyebalkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Padahal kau masih gadis muda belia! Gadis muda yang berani menantang dunia tentang ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ah, kalau saja para siswi SMP itu tahu bahwa <em>Ibu Kita Kartini </em>mereka hanya terpaut lima tahun dengan umur mereka, seusia kakak perempuan mereka, akankah mereka menganggap Hari Kartini sebagai seremonial jarik-sanggul-kebaya belaka?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ah, Kartini..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Masa yang kau sebutkan itu kini telah datang. Tiga generasi telah berlalu, dan seperti perkiraanmu, masa perempuan bisa bebas mengenyam pendidikan seperti laki-laki, terkabul sudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Masa perempuan bisa menentukan dengan siapa ia hendak menikah, masa perempuan<span> </span>memiliki hak dan martabat sebagai manusia merdeka, masa perempuan tak lagi dipingit di dalam rumah, semuanya telah terwujud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kau senang bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Itulah cita-citamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Meskipun tidak seluruhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Aku tahu dari tulisanmu, bahwa kau memimpikan tak hanya sekedar itu saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Satu hal yang paling menarik bagiku justru konsep emansipasimu itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Inilah hutang yang aku bisa bayarkan padamu. Baru ini. Sudah sekian lama aku ingin membuat artikel tentang 21 April dan mengirimkannya ke media massa, namun belum terlaksana juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Payah ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Maka itulah aku menuliskan ini. Akan kupasang di blog atau di milis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ok bye. See u ya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Ingin Menjadi Wanita, Citra Kartini Modern Di Mata “Mereka”]]></title>
<link>http://azwirdafrist.wordpress.com/?p=89</link>
<pubDate>Thu, 01 May 2008 12:14:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>azwirdafrist</dc:creator>
<guid>http://azwirdafrist.wordpress.com/2008/05/01/aku-ingin-menjadi-wanita-citra-kartini-modern-di-mata-%e2%80%9cmereka%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[ 
Perempuan, gadis, ladies, women, girl, perawan, janda, ♀, atau apalah istilah untuk makhluk inda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>!!!<!--Slide.com error: provide id, w, h--></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.59cm;">Perempuan, gadis, <em>ladies, women, girl</em>, perawan, janda, ♀, atau apalah istilah untuk makhluk indah dan lembut yang diciptakan Allah bernama wanita. <em>Subhanallah</em>, wanita ‘ada’ di dunia ini lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya untuk melengkapi tatanan kehidupan. Tapi tahu nggak, Ada istilah lama yang sengaja diistilahkan untuk posisi kaum wanita “<em>kasur, pupur, dapur”</em> atau istilah lain “<em>macak, masak, manak</em>”. Ehm…..Begitu sederhanakah peran wanita di dunia ini hanya sekedar untuk melayani suami di tempat tidur, melahirkan anaknya dan merias diri hanya untuk suaminya. Apakah wanita tidak boleh untuk mengembangkan diri dalah hal pendidikan dan karier pekerjaannya yang nantinya bisa menaikkan martabatnya. <!--more--></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.59cm;">Bicara mengenai ‘emansipasi’ pastilah tak lepas pemikiran kita dari perjuangan Kartini di masa lalu yang dengan pertaruhan nyawanya telah mengangkat derajat kaum wanita untuk sejajar dengan pria, terutama dalam bidang pendidikan. Berbicara mengenai emansipasi wanita memang bukanlah barang yang asing lagi karena sudah terlalu sering didengungkan lewat berbagai media dan berbagai forum. Perkembangan yang ada saat ini ‘emansipasi’ diartikan sebagai kemajuan dan kemuliaan wanita manakala telah mampu melampaui atau sama dengan yang dicapai kaum pria. Kemajuan dan kemuliaan wanita diidentikkan dengan jabatan, gelar, atau status social yang dicapai.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.59cm;text-align:center;">Sebagai seorang yang termasuk golongan wanita, sudah menjadi impian untuk bisa membangun diri dan keluarga menjadi teladan yang baik dan meraih kemuliaan wanita dengan <strong>ilmu serta keimanan</strong>. Semakin banyak ilmu yang mampu dipelajari tak hanya ilmu secara akademik, tapi juga ilmu untuk bersosialisasi maka hidup akan semakin bermanfaat jika ilmu yang didapat itu mampu diaplikasikan secara benar. Dan tentunya juga tetap mengokohkan keimanan agar penerapan ilmu itu tidak telalu kebablasan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semarak "Karnaval Pelangi Nusantara"]]></title>
<link>http://sdbanihasyim.wordpress.com/?p=100</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 05:47:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>sdbanihasyim</dc:creator>
<guid>http://sdbanihasyim.wordpress.com/2008/04/30/semarak-karnaval-pelangi-nusantara/</guid>
<description><![CDATA[Berita ITRC, 26 April 2008. Perjuangan Kartini sebagai pahlawan wanita bangsa Indonesia begitu membe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berita ITRC, 26 April 2008</strong>. Perjuangan Kartini sebagai pahlawan wanita bangsa Indonesia begitu membekas di hati sanubari seluruh warga Indonesia. Selain Kartini sebenarnya masih banyak pejuang wanita yang lain, misalnya Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Cut Mutia, dll.</p>
<p>Untuk membangun semangat juang serta semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesai KB, TK, SD Bertaraf Internasional Bani Hasyim menggelar acara pawai keliling yang bertajuk <strong>" Karnaval Pelangi Nusantara"</strong>. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan staf Masjidil 'Ilm Bani Hasyim dengan memakai busana adat dari berbagai daerah. Ada yang menggunakan baju adat dari Sumatra, Sulawesi, kalimantan, Jawa, dll sehingga atmosfer Bani HAsyim saat ini menjadi full colour, berbeda-beda tapi tetap satu jua.</p>
<p>Selain pawai keliling, peringatan Hari KArtini ini juga diramaikan dengan berbagai Lomba, yaitu:</p>
<ul>
<li>Lomba keserasian busana daerah bagi guru dan staf Masjidil 'Ilm Bani Hasim beserta santri-santri KB, TK, SD Bani Hasyim,</li>
<li>Lomba menyanyi lagu nasional atau lagu daerah untuk santri SD Bani Hasim kelas 1-kelas 5,</li>
<li>Lomba kuis berantai untuk santri SD Bani Hasim kelas 1-kelas 5,</li>
<li>Lomba memindahkan belut untuk guru dan staf wanita KB, TK, SD Bani Hasyim, serta</li>
<li>Lomba memasak mie untuk guru dan staf laki-laki KB, TK, SD Bani Hasyim.</li>
</ul>
<p>Kegiatan ini begitu semarak dengan dukungan seluruh wali-wali santri dan masyarakat sekitar yang menyaksikan kegiatan pawai karnaval Pelangi Nusantara.</p>
<p>!!!<!--Slide.com error: provide id, w, h--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sikat GIGI di halaman SMK 3 Jakarta]]></title>
<link>http://dedidwitagama.wordpress.com/?p=656</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:30:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>dedidwitagama</dc:creator>
<guid>http://dedidwitagama.wordpress.com/2008/04/30/sikat-gigi-di-halaman-smk-3-jakarta/</guid>
<description><![CDATA[Sekitar seratus anak perempuan berkumpul di lapangan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3, Kema]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="deskripsi">Sekitar seratus anak perempuan berkumpul di lapangan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3, Kemayoran, Jakarta Pusat. Sebelah tangan mereka masing-masing memegang sikat gigi yang sudah diolesi pasta gigi, sebelah tangan lainnya menggenggam gelas berisi air putih.</p>
<p>Setelah mendapatkan aba-aba, serentak teman-teman kalian -- anak-anak perempuan -- itu memasukkan sikat gigi ke dalam mulut. <em>Yup</em>, bersamaan mereka lalu menggosok gigi.</p>
<p><!--more-->Begitulah aksi sikat gigi <em>bareng</em> anak-anak perempuan yang bertempat tinggal di sekitar stasiun Kemayoran, Jakarta Pusat. Hari itu, Ahad (20/4), persis sehari menjelang Hari Kartini.</p>
<p>Karena itu, kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Yayasan Dana Sosial Al Falah (LAZNAS YDSF), bekerjasama dengan Bulan Sabit Merah, Jakarta Pusat, itu bertajuk <em>Kartiniku Sehat</em>.</p>
<p>Acara ini, kata Kak Wawan Kurniawan, selaku koordinator acara, dinamakan Aksi Sehat Indonesia (AkSI) dengan tema <em>Kartiniku Sehat</em>. Hal ini, kata dia, merupakan upaya memasukkan pencapaian target pemerintah untuk mencapai sekitar 50 persen anak Indonesia bebas gigi berlubang di tahun 2010.</p>
<p>Pernyataan Kak Wawan itu bukan tanpa alasan. Dia bilang, "Berdasarkan data yang kami peroleh, pada 2007 sekitar 90 persen anak Indonesia mengalami masalah gigi berlubang."</p>
<p>Jumlah itu sangat mengkhawatirkan mengingat kesehatan gigi anak dapat berimplikasi pada kesehatan tubuh. Masalah gigi berlubang, selain akibat malas sikat gigi, juga bisa diakibatkan oleh makanan yang sarat dengan gula dan coklat.</p>
<p>Lebih parah lagi, masalah yang sama tidak hanya dialami anak-anak. Kata Kak Wawan, sampai Agustus 2007, diperkirakan ada 77 persen orang Indonesia malas sikat gigi. Angka prosentasi ini bukan hanya di desa, tetapi juga di kota-kota besar. <em>Wouw</em>, seram, kan?</p>
<p><strong>Karies gigi</strong><br />
Sayangnya, belum banyak yang menyadari pentingnya kesehatan gigi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004 menunjukkan, penyakit gigi dan mulut masih menjadi persoalan di Indonesia. Tingkat prevalensi karies gigi mencapai 90,05 persen.</p>
<p>Data di Departemen Kesehatan juga menunjukkan, angka keluhan sakit gigi cukup tinggi, yaitu 1,3 persen atau 2.620 penduduk perbulan. Namun, sebagian besar atau 87 persen penduduk yang mengeluh sakit gigi tidak berobat, 69,3 persen berupaya mengobati sendiri sakit giginya.</p>
<p>Padahal, kondisi kesehatan gigi dan mulut yang tak terawat dapat memicu terjadinya berbagai penyakit berbahaya lainnya. Itu karena gigi dan mulut merupakan tempat ideal bagi perkembangan bakteri.</p>
<p>Jika tidak dibersihkan dengan sempurna, maka racun, sisa kotoran, dan mikroorganisme yang tertinggal pada gigi bisa masuk ke dalam tubuh melalui aliran darah sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada mata, ginjal, bahkan jantung.</p>
<p><strong>Kartini</strong><br />
Lalu, kenapa hanya anak-anak perempuan yang mengikuti acara sikat gigi <em>bareng</em> di Kemayoran? Kata Kak Wawan, itu karena kegiatan diselenggarakan untuk menyambut Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Jadi, moment inilah yang diambil.</p>
<p>Toh, dia berharap para peserta nantinya akan dapat mengerti bagaimana merawat gigi dan mulut dengan baik, sehingga semuanya memiliki gigi yang sehat dan kuat.</p>
<p>Karena itu, dalam acara tersebut tidak hanya diadakan kegiatan sikat gigi <em>bareng</em>. Saat bersamaan, YDSF dan BSMI Jakarta Pusat juga menggelar penyuluhan kesehatan dan pengobatan gratis untuk 200 pasien, serta peluncuran Kartu Sehat YDSF.</p>
<p>Selain itu, diselenggarakan pula lomba ekspresi gigi sehat dan pemberian makanan tambahan bergizi berupa bubur kacang hijau dan susu. "Kami berharap para peserta nanti dapat mengerti bagaimana merawat gigi yang sehat dan kuat," tutur Wawan.</p>
<p>Kegiatan tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Untuk memonumenkan program tersebut, Herman Susilo selaku YDSF Regional Manager Jabodetabek, menjelaskan bahwa tahun 2008 YDSF akan melakukan program serupa secara berkala dan dipantau perkembangannya selama kurang lebih 5 bulan ke depan.</p>
<p>"Salah satu upaya ke arah tersebut, YDSF akan memberikan kartu sehat kepada keluarga yang membutuhkan," tuturnya.</p>
<p>Rencananya, kata dia, akan digelar 19 kali pengobatan lagi setelah ini. Kegiatan serupa akan rutin dilakukan, seperti penyuluhan gigi dan mulut, serta pengobatan gratis. "Kami berharap pada acara-acara berikutnya kami bisa bekerjasama dengan lebih banyak pihak, karena manfaatnya sangat terasa bagi masyarakat," ucapnya.</p>
<p>Tentu saja, kalian yang tidak ikut dalam kegiatan itu tidak perlu berkecil hati. Toh, kalian kan bisa melakukan sendiri di rumah masing-masing. Nah, untuk mendapatkan gigi yang sehat, lakukanlah langkah-langkah berikut:</p>
<p>- Sikat gigi pagi dan malam sebelum tidur.<br />
- Kurangi jajanan manis dan lengket.<br />
- Periksakan gigi 6 bulan sekali.<br />
- Mulai membiasakan berkunjung ke dokter gigi sedini mungkin.<br />
- Hentikan kebiasaan minum susu di botol sambil tidur.<br />
- Hindari ke dokter gigi pertama kali dalam keadaan sakit.<br />
- Hindari pemakaian bersama sikat gigi.<br />
- Ingat, jangan lupa menyikat gigi sebelum tidur malam!</p>
<p>Apabila kalian memperhatikan langkah-langkah tersebut, akan bisa mendapatkan gigi yang sehat. Selain itu, berbagai jenis penyakit pun bisa dicegah. Ayo, jadilah anak yang memiliki gigi sehat dan kuat.</p>
<p></span></p>
<p>(burhanuddin bella)</p>
<p>Judul berita di <a href="http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=331853&#38;kat_id=253" target="_blank">Republika</a> <span class="tgl">Minggu, 27 April 2008 </span>"<span class="judul">Mari Jadi Kartini Cilik Bergigi Sehat"</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gelap]]></title>
<link>http://airlambang.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 06:26:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Airlambang</dc:creator>
<guid>http://airlambang.wordpress.com/2008/05/05/gelap/</guid>
<description><![CDATA[Kabar paling tak sedap bagi pembaca koran/majalah dan pemirsa televisi/radio ialah berita yang memua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kabar paling tak sedap bagi pembaca koran/majalah dan pemirsa televisi/radio ialah berita yang memuat kata ‘gelap’. Misal: <em>Listrik Padam Bergiliran, Sebagian Besar Banda Aceh Gelap</em>. Contoh lain: <em>Ada Indikasi Aset BRR Digelapkan</em>.<!--more--></p>
<p>Keduanya menggunakan kata yang sama, namun berbeda pengertian. <em>Banda Aceh Gelap</em> menunjuk situasi kota tanpa cahaya lampu di malam hari. Supaya keadaan gelap lebih seram bisa ditambahkan menjadi gelap gulita.</p>
<p>Tapi untuk berita tentang BRR rasanya janggal bila ditulis “Aset BRR Digelapgulitakan”. Salah dan—tentu saja—tidak ada seram seramnya. Sebab <em>Aset BRR Digelapkan</em> berarti ada penyelewengan atau pemalsuan. Meminjam terminologi Dayah atau Sastra Melayu, bukan karena tiada cahaya lampu, melainkan ‘tiada cahaya hati’.</p>
<p>“Bersebab cahaya hati padam, aset BRR digelapkan,” kira kira begitu.</p>
<p>Berapa ampere, voltase dan <em>watt</em> daya yang menyalakan hati, tak pernah ada meteran pengukur. Namanya juga majas.</p>
<p>Gelap dalam pengertian keadaan tanpa cahaya dapat pula dimajaskan. Sebutlah <em>gelap mata, gelap hati</em>, dan <em>gelap pikir</em>. Maksudnya kalap, tega, dan edan. Entah mengapa pengertian gelap hati yang salah satunya berarti tega, kerap diimbuhi pangkat tinggi: raja tega. Mungkin untuk menunjukkan derajat maksimal ketegaan dan biar berkesan lebih seram. Bukan raja dengan derajat kemuliaan.</p>
<p>Contoh pertama, “Abang sudah bersusah payah menabung untuk membeli emas 30 mayam sesuai permintaan adik, mengapa adik masih <em>tega</em> meninggalkan Abang?”</p>
<p>Contoh kedua, “Benar benar <em>raja tega</em>, dana kemanusiaan yang dikumpulkan dari solidaritas orang sedunia dikorupsi.”</p>
<p>Pada kasus pertama, biarpun rinci menyebut jumlah emas yang dikumpulkan dengan susah payah, tapi sang pujaan hati tetap pergi—sendirian atau bersama dengan orang lain tak penting—derajatnya “hanya” tega. Sedangkan pada kasus kedua, tanpa perlu menyebut jumlah yang dikorupsi—seribu rupiah atau hanya sebatang paku—tetap dianggap raja tega.</p>
<p>Komisi B bidang Perekonomian DPR Aceh Darussalam punya curiga terhadap BRR. Maka, muncul pernyataan, “ada indikasi aset BRR digelapkan.” Menurut mereka ada bantuan alat berat dari negara donor yang digelapkan. Maksudnya, tidak dilaporkan atau dicatat ke dalam daftar inventaris, tapi dikuasai secara individu.</p>
<p>Ada pula organisasi kemanusiaan nasional yang mendapat bantuan mobil operasional. Beda dengan dugaan anggota DPR, mobil mobil ini didaftarkan, dicatat secara resmi. Tapi stiker logo organisasi penghibah telah dilepas. Tulisan “<em>donated by…</em>” yang menerakan asal organisasi pemberi juga sudah dikaburkan. Digelapkan dalam pengertian sesungguhnya, tulisan ditimpa cat yang sama gelap dengan warna mobil. Belum betul betul menjadi milik pribadi tapi boleh digunakan untuk keperluan pribadi dan “dikuasai” secara pribadi. Alasannya? “Kantor tak punya dana untuk beli minyak, jadi yang boleh menggunakan (mobil hibah) mereka yang menyanggupi mengongkosi minyaknya.”</p>
<p>Pujangga Melayu barangkali bakal berkomentar, “duhai malang nasib si bujang, sungguh cilaka bila hati hilang cahaya.”</p>
<p>Ulama Dayah bakal mengingatkan betapa sesungguhnya telah ditunjukkan jalan dari keadaan gelap kepada terang, <em>minazh zhulumaati ilan nuur</em> (Al Baqarah: 257).</p>
<p>Perempuan Jawa bernama Kartini, gemar mengutip ayat tersebut dalam surat surat kepada sahabat sahabat Belandanya sebagai <em>door Duisternis tot Licht</em> atau ‘dari Gelap kepada Cahaya’. Ketika surat surat Kartini kepada Nyonya RM Abendanon-Mandri dan Estelle Zeehandelaar (Stella) dibukukan dalam bahasa Melayu, Armijn Pane menerjemahkannya menjadi ‘Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran’ (1922).</p>
<p>Tapi, para pujangga dan ulama (barangkali juga Kartini) hidup di dunia lain. Mungkin di suatu dunia yang lebih ‘terang’, setidaknya telah beranjak atau menemukan tempat terang. Telah ber-<em>minazh zhulumaati ilan nuur</em>. Seperti terjadi pada atau diucapkan Kartini.</p>
<p>Lantaran diduga hidup di ‘dunia’ yang berbeda, seringkali muncul perasaan tidak patut bila mencampuri dunia lain. Apalagi kalau tak sanggup atau gagal “menerangi”. Pilihan yang dianggap paling baik ialah diam tanpa komentar. Cuma patut disangka bahwa diam itu bukan lantaran merasa ‘bukan wewenangnya’, melainkan karena kuatir ‘cahaya’ yang dimiliki bakal berkurang bila membagi ke mereka yang tinggal di tempat gelap. Pelit.</p>
<p>***</p>
<p>Ada lagi satu ‘gelap’ yang biasa ditunjuk sebagai tempat transaksi, yaitu pasar gelap. Lokasi pasar ini bisa sangat terang benderang, bisa betul betul gelap atau minimal remang remang. Terserah para pelaku menentukan tempat bertransaksi. Jenis barang pun sangat bebas.</p>
<p>Pada kasus ini kata ‘gelap’ mendapat pengertian baru, yakni ‘tak resmi’.</p>
<p>Satu pasar gelap yang kiranya betul betul miskin cahaya, sempat saya sambangi enam tahun lalu. Lokasinya di perbatasan Republik Timor Leste dengan Atambua, Nusa Tenggara Timur. Berada di dalam hutan, ditutupi pohon pohon tinggi dan besar, dengan jalan masuk tanah bergelombang. Sewaktu waktu bisa dibubarkan oleh pasukan internasional yang tengah bertugas di sana. Barang yang diperdagangkan mulai rokok kretek, beras, mie instan, jajanan anak anak, susu, sampai bensin. Satu mobil tanki berlogo Pertamina, pada kurun 2001-2002, sering nangkring dari siang sampai sore di dalam hutan gelap itu. Lampunya sengaja tidak dinyalakan sehingga suasana gelap tak tertolong.</p>
<p>Di pasar umum atau pasar resmi (pasar terang?) sering juga terjadi transaksi gelap. Di pasar telepon seluler Jakarta misalnya, banyak tipe dan merek diperdagangkan secara bebas dan resmi, tapi ada pula yang diperdagangkan secara gelap. Biasanya praktik itu berlaku terhadap barang yang didatangkan dengan mekanisme gelap (selundupan). Biasanya pula, harganya lebih miring ketimbang harga resmi di tempat asal atau pun pasar resmi.</p>
<p>Ada juga praktik pasar gelap yang kabur. Walah. Ambil misal pola pemasaran berjenjang (<em>multi level marketing</em>) barang barang produksi luarnegeri. Barang barang tersebut tak tercatat dalam daftar impor, perusahaan yang menjual di dalam negeri tak pernah mendaftar sebagai importir, dan tak dikenakan bea masuk di pabean alias gelap atau selundupan. Tapi pemasaran barang barang tersebut berbeda dengan—sebutlah—celana jins atau telepon seluler <em>black market</em>. Barang barang dalam pemasaran berjenjang didagangkan di forum seminar kepemimpinan dan motivasi yang biasanya digelar di hotel hotel berbintang empat atau lima. Harganya mahal dengan iming iming pembeli bisa mendapat keuntungan uang bila berhasil menggaet pembeli baru yang bakal diposisikan di bawah si pembeli pertama.</p>
<p>Sesungguhnya di hotel tersebut tengah berlangsung transaksi gelap atas barang barang yang digelapkan. Pendeknya, forum seminar itu sejatinya suatu pasar gelap.</p>
<p>Agaknya kita jadi sedikit paham mengapa berita tentang ‘gelap’ hampir selalu tak sedap, tapi praktik gelap (menggelapkan atau gelap gelapan) tiada berkurang. Salah satunya, karena di pasar gelap kita bisa mendapat barang bagus dengan harga lebih murah. Apalagi bila menggelapkan (barang), kemudian menguasai, bisa sama sekali tak keluar ongkos. Sedap. Main (di) gelap gelapan lebih sedap.</p>
<p>Bila si Adik batal meninggalkan si Abang yang telah menabung membeli 30 mayam emas, alias tidak gelap hati, si Abang pun suka andai kelak bergelapgelapan dengan si Adik. Amboi. Jauh lebih sedap. Bila sebaliknya, si Abang pun jadi gelap pikir malah dikuatirkan bergelap mata. Salah salah ia dijerat pasal kriminal.</p>
<p>Nah, yang kita tidak ingin ialah “korban korban” gelap hati akibat praktik penggelapan atau penyelewengan kekuasaan menjadi gelap pikir dan buntutnya gelap mata. Alih alih yang menggelapkan kena hukuman, malah berbalik korban didakwa ke pengadilan kriminal. Pada kasus semacam ini, siapa yang ‘tak bercahaya’? Dan siapa harus menabur cahaya guna menerangi gelap? Pastinya bukan mereka yang berada di pasar gelap. []</p>
<p>(<em>Rumoh PMI</em> Edisi Mei 2008 &#124; Kolom Ureung Gampong)</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
