<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>gizi-buruk &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/gizi-buruk/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "gizi-buruk"</description>
	<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 21:09:38 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Anak-anak Haiti Terpaksa Makan Tanah ]]></title>
<link>http://eddymesakh.wordpress.com/?p=689</link>
<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 19:55:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>eddymesakh</dc:creator>
<guid>http://eddymesakh.wordpress.com/?p=689</guid>
<description><![CDATA[Anak-anak penderita malnutrisi di Haiti
SUNGGUH miris menatap foto-foto karya fotografer Associated ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[caption id="attachment_690" align="alignleft" width="300" caption="Anak-anak penderita malnutrisi di Haiti"]<a href="http://eddymesakh.files.wordpress.com/2008/07/anak-anak-penderita-malnutrisi-di-haiti.jpg"><img class="size-medium wp-image-690" src="http://eddymesakh.wordpress.com/files/2008/07/anak-anak-penderita-malnutrisi-di-haiti.jpg?w=300" alt="Anak-anak penderita malnutrisi di Haiti" width="300" height="200" /></a>[/caption]
<p><strong>SUNGGUH </strong>miris menatap foto-foto karya fotografer Associated Press (AP) Ariana Cubillos ini. Anak-anak Haiti di daerah Deschapelles dalam dua foto tersebut menderita malnutrisi (kekurangan gizi) akut. Tubuh mereka memang tampak tidak terlalu kurus, namun perut mereka semua buncit-buncit.</p>
<p>Sejumlah pihak telah berusaha mengirimkan bantuan makanan ke negara yang terletak di wilayah Karibia, Pasifik Selatan itu. Namun bantuan sulit didistribusikan ke desa-desa karena buruknya sarana transportasi. Apalagi pemerintahan negara tersebut nyaris lumpuh total akibat kerusuhan massa seperti tak berujung.</p>
<p>Entah krisis pangan berkelanjutan yang menyebabkan pemerintah di negara berpenduduk sekitar 8 juta jiwa jatuh, atau sebaliknya, karena kekacauan politik yang menyebabkan  krisis pangan. Yang pasti, Republik Haiti  kini benar-benar terpuruk dalam kemiskinan dan krisis pangan yang luar biasa. Menurut si fotografer, setiap satu dari tiga balita di negeri kecil itu mengalami malnutrisi sangat akut. Mereka bakal kehilangan masa depan. Atau  mungkin sudah mati sebelum menggapai masa depan itu.</p>
[caption id="attachment_691" align="alignright" width="205" caption="Rivilade Filsame, bocah Haiti berusia 18 bulan penderita malnutrisi duduk di depan ibunya yang terbaring lemah di RS Albert Schweitzer, di Deschapelles, Haiti, Selasa 17 Juni 2008.  Foto:AP/Ariana Cubillos "]<a href="http://eddymesakh.files.wordpress.com/2008/07/kondisi-menyedihkan-seorang-bocah-haiti.jpg"><img class="size-medium wp-image-691" src="http://eddymesakh.wordpress.com/files/2008/07/kondisi-menyedihkan-seorang-bocah-haiti.jpg?w=205" alt="AP/Ariana Cubillos" width="205" height="300" /></a>[/caption]
<p>Saking miskinnya, konon warga setempat makan tanah. Ya, mereka membuat kue kering dari tanah kemudian dimakan. Kondisi ini persisnya dialami oleh warga di Cite Soleil, sebuah kawasan terkumuh di Port-au-Prince, ibukota negara tersebut.</p>
<p>Walah, bagaimana caranya tanah bisa dijadikan kue kering? Ternyata mereka memanfaatkan sejenis lumpur berwarna kuning dicampur garam dan sayuran.  Mereka terpaksa makan tanah, kendati dipastikan mengandung berbagai jenis kuman penyakit. Bahkan akibat memakan kue kering dari tanah itu, membuat anak-anak semakin mengalami kurang gizi dan terserang beragam jenis penyakit.</p>
<p>Pelajaran sederhana yang bisa dipetik dari Haiti adalah, kita patut bersyukur karena masih bisa makan.  Janganlah kita sia-siakan makanan. Makanlah secukupnya dan jangan membuang-buang berkat Tuhan. Ajarkan juga kepada anak-anak kita untuk menghargai makanan. Lihatlah, ternyata masih banyak orang di dunia ini yang sama sekali tidak memiliki makanan. <strong>(*)</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meninggal Akibat Gizi Buruk 	 	 	]]></title>
<link>http://reflectiononlife.wordpress.com/2008/07/15/meninggal-akibat-gizi-buruk/</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 15:06:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>forthesakeofneverendinglove</dc:creator>
<guid>http://reflectiononlife.wordpress.com/2008/07/15/meninggal-akibat-gizi-buruk/</guid>
<description><![CDATA[



 


Selasa, 15 Juli 2008 21:23 WIB 








WASPADA ONLINE
   


(TANJUNG BALAI) - Rio Sibar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div>
<table style="border-collapse:collapse;background:white;" border="0"><col span="1"></col><col span="1"></col></p>
<tbody>
<tr>
<td style="padding:1px 5px;" colspan="2" valign="middle"> </td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1px 5px;" colspan="2"><span style="font-size:7pt;color:#999999;font-family:Arial;"><strong>Selasa, 15 Juli 2008 21:23 WIB </strong></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;background:white;" border="0"><col span="1"></col></p>
<tbody>
<tr>
<td style="padding:1px 5px;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:8pt;color:#ff0000;">WASPADA ONLINE</span><span style="font-size:9pt;color:#000000;"><br />
   <br />
<img src="http://reflectiononlife.files.wordpress.com/2008/07/071508-1505-meninggalak1.jpg" alt="" /><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;font-family:Times New Roman;">(TANJUNG BALAI) - Rio Sibarani, 1, warga Kel. Muara Sentosa, Kec. Sei Tualang Raso, meninggal akibat menderita gizi  buruk di ruangan anak RSU Dr T  Mansyur, Kota Tanjung Balai, Senin (14/7) sekira pukul 11:30.Korban meninggal dengan kondisi berat badan hanya 5 kg dengan masa perawatan intensif di rumah sakit kurang lebih delapan hari. "Tepat pukul 11:30, korban akhirnya meninggal dunia," kata Kepala Badan Pengelola RSU Dr  T Mansyur Kota Tanjung Balai dr Hj Diah Retno W melalui Humas Cosmas Siagian  kepada <em>Waspada</em>.</p>
<p>Dikatakan, berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Rio yang saat itu dalam kondisi sangat kritis. Pantauan <em>Waspada</em> menjelang ajalnya, mata korban terbuka namun tidak berkedip, begitu juga dengan mulutnya.</p>
<p>Ibu kandung korban, Khalijah, mengatakan kepada <em>Waspada</em>,  penyakit yang diderita anaknya itu sejak usia dua bulan. "Nggak mau ASI, maka ku kasih susu kotak. Tapi karena gatal-gatal akhirnya diberhentikan. Dan setelah kukasih  kembali, dia seperti merajuk tidak mau susu lagi. Sejak  itulah kondisinya terus menurun," jelas janda beranak lima  itu.</p>
<p>Akibat kondisinya terus menurun, Khalijah lalu membawa anaknya itu ke rumah sakit dan disarankan dokter untuk  menjalani perawatan inap secara intensif. "Lima hari dirawat, kondisinya membaik sehingga kubawa pulang ke rumah  tanpa sepengetahuan paramedis. Namun akhirnya anakku dibawa  kembali ke rumah sakit untuk menjalani perawatan," tukas Khalijah.<br />
<strong><br />
Satu Tewas Akibat DBD</strong><br />
Sementara itu satu tewas, 3 lainnya masih menjalani perawatan intensif di RSU Dr T Mansyur Kota Tanjung Balai akibat Demam Berdarah Dengue.</p>
<p>Korban Dara Nasution, 5, warga Jalan Utama, Kel. Pulo Simardan, Kec. Datuk Bandar, Kota Tanjung Balai, tewas setelah beberapa jam menjalani perawatan, Minggu (13/7). Korban dibawa ke rumah sakit dengan kondisi HB 10,2 gram persen,  trambosit 60.000 per mm3 dan Hr 38 persen.</p>
<p>Sementara yang masih menjalani perawatan, Chelsea Nanda, 2,  warga Jalan Garuda, Kel. Beting Kwala Kapias, Kec. Teluk Nibung. Kemudian kakak beradik, Agnes, 8, dan Natalie, 13,  warga Jalan DTM Abdullah Kampung Baru, Kel. TB Kota III, Kec. Tanjung Balai Utara.</p>
<p>"Sudah hampir seminggu dirawat di sini," kata orang tua kakak beradik itu, M Malau, 44, kepada <em>Waspada</em> di ruangan anak. Dikatakan, awalnya kedua anaknya itu menderita demam tinggi disertai muntah-muntah. Untuk menghindari terjadinya  hal tidak diinginkan, lantas keduanya langsung diboyong berobat ke RSU Dr T Mansyur dan dianjurkan untuk menjalani  rawatan inap.</p>
<p><span style="color:black;"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:14pt;">Kepala Badan Pengelola RSU Dr T Mansyur Kota Tanjung Balai dr  Hj Diah Retno W melalui Humas Cosmas Siagian dikonfirmasi  <em>Waspada</em>, Senin (14/7) membenarkan tewasnya satu pasien DBD  dan tiga lainnya masih dirawat intensif. (a37)</p>
<p></span></span></span><font color="#000000"> </p>
<p></font></span> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><a href="http://www.waspada.co.id/Berita/Sumut/Meninggal-Akibat-Gizi-Buruk.html" target="_blank">Waspada </a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sri Sultan : Gizi Buruk Tanggung Jawab Pemda]]></title>
<link>http://sultanforpresident.wordpress.com/?p=121</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 00:18:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>cahmbantul</dc:creator>
<guid>http://sultanforpresident.wordpress.com/?p=121</guid>
<description><![CDATA[12 Desember 2005
YOGYAKARTA - Pemerintah daerah (pemda) jangan membiarkan kasus gizi buruk terjadi d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>12 Desember 2005</p>
<p>YOGYAKARTA - Pemerintah daerah (pemda) jangan membiarkan kasus gizi buruk terjadi di wilayahnya, sebab yang paling bertanggung jawab adalah pemda setempat, sedang pemerintah pusat lebih bersifat mendukung, kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin (12/12), di Kompleks Kepatihan Yogyakarta.</p>
<p>Menyusul munculnya kasus balita gizi buruk yang kini tengah dirawat di RSUD Wirosaban Yogyakarta, Sultan langsung menginstruksikan kepada dinas terkait untuk menanganinya sekaligus mensurvei ulang kondisi balita di provinsi itu.<!--more--></p>
<p>Dia mengingatkan, penanganan gizi buruk bukan hanya merawat atau pemberian raskin (beras untuk penduduk miskin), tapi juga dengan memberikan makan tambahan yang bergizi. "Raskin saja tidak cukup. Vitamin juga harus disediakan, dan dananya bisa diambil dari pos dana tak tersangka APBD," tegas Sultan.</p>
<p>Selain memerintahkan dinas-dinas, Sultan juga meminta penanganan gizi buruk harus pula melibatkan masyarakat sekitar. Dia menyoroti pula peran RT (rukun tetangga) yang mulai bias. Di samping itu, masyarakat cenderung mulai acuh tak acuh.</p>
<p>"Bantu tetangganya yang kekurangan, walau bukan dengan uang langsung, beri perhatian dan bantuan ke pos-pos pelayanan kesehatan. Saya yakin jumlah penderita gizi buruk tak terlapor lebih banyak. Karena biasanya kalau belum sakit, belum datang ke puskesmas. Misalnya, dalam satu keluarga ada tiga anak, semuanya sebenarnya kena gizi buruk, retapi karena hanya satu yang sakit, maka hanya satu yang ketahuan. Ini butuh bantuan warga," ucap Sultan.</p>
<p>Dia menyebutkan, data pada 2005, penderita gizi buruk di wilayahnya mencapai 1.632 balita akan lebih tinggi lagi. Namun Sultan menolak jika hal ini dihubungkan dengan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Jangan, itu harus diteliti ulang, sebab data itu ada justru sebelum kenaikan harga BBM. Memang dulu tidak ada warga miskin?" tukasnya.</p>
<p>Menurut dia, pemerintah provinsi harus menjalin kerjasama yang erat dengan pemerintah kabupaten atau kota untuk menangani orang miskin dan pengangguran. "Jika dananya kurang, kita akan mencari dana dari BUMN yang ada," ujarnya.</p>
<p>Penanganan pengangguran, lanjutnya, juga menjadi faktor penting di samping gizi buruk. "Kalau sarjana, setiap kali ada bursa lapangan kerja, pasti dapat kesempatan. Tetapi kalau yang tidak berijazah, mau ke mana mencari kerja, kalau tidak di topang Pemda masing-masing," tegasnya.</p>
<p><strong>Rawan Pangan</strong></p>
<p>Sedikitnya 5.000 keluarga yang tersebar di lima kecamatan yang ada di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kini terancam rawan pangan gara-gara sawah ladangnya diserang hama wereng dan tikus selama dua musim tanam berturut-turut. Sehingga tanaman padi, jagung, kedelai dan palawija lainnya hancur, tidak bisa dipanen.</p>
<p>Dari 18 kecamatan di Kabupaten Tegal, lima di antaranya yang kini rawan pangan adalah Kecamatan Bomijawa, Warureja, Kedungbanteng, Jatinegara dan Bojong.</p>
<p>Wakil Bupati Tegal Hamman Miftah didampingi Kepala Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan (Tanbunhut) Totok Subandriyo ketika dikonfirmasi membenarkan ada ribuan keluarga di lima kecamatan yang kini rawan pangan.</p>
<p>"Rawan pangan bukan berarti kelaparan. Namun demikian hal itu harus diwaspadai jangan sampai terjadi kelaparan" kata Hamman kepada <em>Pembaruan</em>, Selasa.</p>
<p>Menurut dia, untuk menggalakan peningkatan gizi keluarga, Senin lalu telah digelar Gerakan Pemanfaatan Pekarangan sebagai Sumber Gizi Keluarga di obyek wisata Waduk Cacaban .</p>
<p>Masalah rawan pangan itu telah dilaporkan kepada Gubernur Jateng Mardiyanto. Mendapat laporan tersebut, gubernur langsung memberikan bantuan berupa beras, mi instan, telur, kacang hijau serta gula pasir untuk seluruh keluarga yang rawan pangan. Bupati Tegal menyerahkan bantuan untuk perbaikan gizi berupa makanan tambahan seperti susu dan kacang hijau.</p>
<p>Selain itu, pemerintah kabupaten setempat juga menyerahkan bantuan berupa bibit tanaman pangan, buaah-buahan dan pupuk untuk musim tanam tahun ini, dan pada waktu mendatang bila ada serangan hama akan dibantu obat pembasmi hama. "Kami akan berupaya agar ketahanan pangan yang terganggu serangan hama pada musim tanam lalu, bisa pulih kembali" katanya. Meski kasus gizi buruk sudah mendapatkan penanganan maksimal dari pemda DI Yogyakarta, kasus serupa terulang kembali pada seorang balita Yasmin Sofia (16 bulan), yang dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wirosaban, Yogyakarta.</p>
<p>Menurut dokter Sri Aminah Yasmin, pasien diketahui mengalami gizi buruk, setelah dibawa ke RS pada 1 Desember lalu. "Berdasar hasil pengecekan standar deviasi kesehatan WHO, Yasmin kurang dari minus 2. Karenanya, kami cepat-cepat memberikan pertolongan secara intensif," jelasnya.</p>
<p>Selain balita Yasmin Sofia, sejak Juli lalu di rumah sakit itu juga merawat lima balita lain dalam kondisi yang sama. Salah satu di antaranya bahkan dinyatakan positif busung lapar. Kelima balita tersebut adalah Ilham (dua bulan), Salwa Nur Yana Alfian (10 bulan), Fitria (19 bulan), Amanda Khoirunnisa (21 bulan) dan Visita Rizki Putri Utami (29 bulan).</p>
<p>Dengan indikasi paling sederhana, menurut Sri, balita gizi buruk tersebut mengalami, tinggi dan berat badan badannya kurang dari rata-rata. Warna rambut menjadi merah dan jarang-jarang. Dan rata-rata dari mereka mengalami gangguan anemia dan kadar kolesterol.</p>
<p>"Faktor dominan yang mempengaruhi gangguan gizi buruk adalah masalah kemiskinan, berturut-turut di belakangnya adalah faktor pengetahuan ibu dalam hal ke pengasuhan anak dan kemauan ibu untuk mengasuh anak. Dari ketiganya faktor kemiskinanlah yang paling dominan," tegasnya.</p>
<p>Menanggapi kasus gizi buruk, anggota Komisi C DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta Afnan Hadikoesoemo mengatakan, masalah gizi buruk juga berkaitan dengan dengan tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.</p>
<p>Dia menyoroti pula masalah anggaran peningkatan gizi di Yogyakarta relatif masih rendah. Berdasarkan hitung-hitungan kasar, tuturnya, jumlah anggaran yang disediakan hanya 0,1 persen dari jumlah APBD. "Idealnya, 0,3 dari total anggaran," katanya. (WMO/SKA/M-7)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peran Pendidik Anak Usia Dini Dalam Penanganan Masalah Gizi Buruk]]></title>
<link>http://indonesianic.wordpress.com/?p=658</link>
<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 10:39:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>indonesianic</dc:creator>
<guid>http://indonesianic.wordpress.com/?p=658</guid>
<description><![CDATA[Permasalahan kurang gizi atau gizi buruk di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya (pada umu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Permasalahan kurang gizi atau gizi buruk di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya (pada umumnya berada di belahan benua Asia dan Afrika), merupakan permasalahan sangat kompleks. Artinya permasalahan tersebut kemunculannya tidak hanya terkait erat dengan kondisi empirik yang tampak (secara kuantitas dan kualitas kecukupan gizi yang dikonsumsi), akan tetapi tidak jarang kemunculan masalah ini berkaitan erat dengan faktor sosial ekonomi dan budaya. <!--more--></p>
<p>Kondisi sosial ekonomi yang rendah di negara-negara berkembang identik dengan kemiskinan. Kemiskinan yang berkepanjangan berdampak pada tidak tersedianya makanan yang cukup untuk menopang kehidupan yang sehat, karena kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan pokok sangat rendah. Fenomena ini barangkali dapat kita temui sejak terpuruknya negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia, akibat dari pengaruh krisis ekonomi yang berkepanjangan. Akibat minimnya bahan makanan yang dapat memenuhi kecukupan gizi yang dikonsumsi anak, maka peristiwa buruk berikutnya adalah meningkatnya insiden penderita rawan gizi. Di sisi lain, mitos atau kepercayaan kontraproduktif yang tumbuh subur di kalangan masyarakat, misalnya hubungan frekuensi makan ikan dan daging dengan cacingan, makan telur dengan bisulan atau penyakit kulit tertentu, makin memperlebar prevalensi penderita rawan gizi atau gizi buruk anak usia dini.</p>
<p>Berangkat dari pemikiran tersebut, peran guru atau pendidik anak usia dini dituntut lebih intensif dan ekstensif untuk memberdayakan orang tua anak usia dini. Untuk maksud tersebut, tugas pendidik anak usia dini di samping mampu menyajikan pemahaman yang benar esensi makanan sebagai sumber zat gizi untuk  kepentingan tumbuh-kembang anak usia dini, secara pelahan berupaya mengubah image dan mitos yang berkembang di masyarakat bahwa makanan sehat dan bergizi tidak selalu identik dengan harga mahal, atau hubungan makanan dengan akibat-akibat muncul, yang mana secara akademik tidak dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Upaya pemberdayaan peningkatan kesehatan anak, secara garis besar dapat dilakukan melalui enforcement (tekanan) dan education (pendidikan). Enforcement (tekanan) adalah upaya mengubah perilaku kesehatan masyarakat yang dilakukan dengan cara tekanan, paksaaan, intimidasi, seperti pemberlakuan undang-undang, peraturan yang mengikat, instruksi, atau sanksi-sanksi tertentu. Untuk jangka pendek model pemberdayaan dengan teknik enforcement dapat dilakukan secara cepat, namun resistensi keberlanjutannya sulit dipertahankan, jika perubahan itu terjadi semata-mata tidak didasarkan pada pengertian dan kesadaran yang mendalam terhadap pentingnya perilaku kesehatan. </p>
<p>Education (pendidikan) adalah upaya mengubah perilaku kesehatan yang dilakukan dengan cara persuasif, himbauan, ajakan, pemberian informasi, atau menanamkan kesadaran pentingnya perilaku kesehatan. Dari sisi durasi waktu, cara kedua ini biasanya memakan waktu yang relatif lama, sehingga jika dilihat dari sisi efisiensinya jelas kurang efisien. Akan tetapi bila kaidah perilaku kesehatan yang ditransformasikan tersebut berhasil diadopsi, maka efek perilaku sehat yang ditampilkan lebih berkesinambungan (sustainable). Mencermati tugas dan peran guru atau pendidik anak usia dini, penguasaan secara metodologis strategi pembelajaran, serta konten kesehatan dan gizi mutlak diperlukan.(Redaksi-Malangpost)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CERPEN, Maka habislah Gizi Buruk ...]]></title>
<link>http://limpo50.wordpress.com/?p=85</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 06:15:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>limpo50</dc:creator>
<guid>http://limpo50.wordpress.com/?p=85</guid>
<description><![CDATA[Cerita tragis gizi buruk yang menimpa beberapa wilayah
di Indonesia mungkin menimbulkan reaksi pemer]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita tragis gizi buruk yang menimpa beberapa wilayah<br />
<a href="http://limpo50.files.wordpress.com/2008/06/giziburuk.jpg"><img src="http://limpo50.wordpress.com/files/2008/06/giziburuk.jpg?w=104" alt="" width="104" height="70" class="alignnone size-medium wp-image-142" /></a><!--more-->di Indonesia mungkin menimbulkan reaksi pemerintah yang ujung-ujungnya penambahan anggaran kesehatan pada sektor Gizi.<br />
Alkisah ditangkaplah semua anak-anak yang ditemukan beresiko dan bergizi buruk, ... ditangkap bersama ibunya yang memeliharanya dengan apa adanya itu.<br />
Anak-anak bergizi buruk berkejar-kejaran naik turun lift disebuah Hotel Mewah, ibunya yang bingung hanya duduk menikmati alunan musik hotel dimalam hari, dan sibuk menengok ruang makan yang menggiurkan pagi, siang hingga malam.<br />
Anak-anak nakal itu bebas,..., puas berenang, makan, minum susu, telor, daging, ... hingga perutnya gendut hampir menyerupai perut ibunya yang kini hamil lagi.<br />
Tiga bulan berselang si nakal telah GENDUT, si IBU telah MONTOK hingga ludes .... mata anggaran PENGENTASAN GIZI BURUK di HOTEL BERBINTANG.<br />
Tiada seminar.... tiada survey... apatah lagi Studi banding, Kini anak dan ibu kembali ke rumah bagai mimpi jadi nyata yang tak pernah ada.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adi Sitompul, Pasien Gizi Buruk Asal Tapanuli Tengah Meninggal Dunia]]></title>
<link>http://tobadreams.wordpress.com/?p=227</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 01:58:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>tobadreams</dc:creator>
<guid>http://tobadreams.wordpress.com/?p=227</guid>
<description><![CDATA[
IRONIS. Sungguh ironis!
Baru kemarin aku memposting artikel mengenai Lorena Air; yang kuartikulasik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>IRONIS. Sungguh ironis!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>Baru kemarin aku memposting artikel mengenai Lorena Air; yang kuartikulasikan sebagai simbol penting penjelajahan orang Batak ke horison yang lebih luas. Artikel itu mencatat rekor di blog ini, 400 <em>viewer</em> dalam sehari. Kemudian aku posting juga mengenai kapal restoran terapung yang akan dioperasikan oleh Jenderal TB Silalahi di Danau Toba. Dan, postingan mengenai Batak Itu Keren......</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>Tapi, sekarang, aku harus memposting artikel yang menyedihkan ini. Mati karena gizi buruk ? Memangnya ini masih tahun 50-an; ketika semua orang Batak bertahan hidup dengan makan ikan asin kepala batu yang dibakar, dan singkong rebus ?</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>Jujur, sekarang aku benar-benar merasa malu jadi orang Batak. Bukan karena tidak cinta, tapi justru rasa cinta itulah yang menghantam dengan sangat keras, karena nasib malang seorang anak bernama Adi Sitompul. Buat apa itu "kredo" Batak Keren, kalau ternyata masih bisa terjadi tragedi yang memilukan dan memalukan seperti ini di Bonapasogit ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>============================== raja huta =============================</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span>SIBOLGA (SIB) - Salah seorang pasien gizi buruk, <strong>Adi Sitompul</strong> (4) penduduk Kecamatan Hutabarang, Tapanuli Tengah, yang dirawat di RSU Dr FL Tobing Sibolga, meninggal dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Sedangkan pasien lainnya <strong>Mika Panggabean</strong> (10) penduduk Sibuluan, Tapteng masih menjalani perawatan intensif dan terapi, tetapi kondisinya dikabarkan sudah mulai membaik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Informasi yang diperoleh wartawan di Ruang Anak RSU Dr FL Tobing Sibolga menerangkan, kesehatan Adi saat masuk ke rumah sakit sudah sangat buruk. Dengan berat badan hanya 6 Kg dan kondisi tubuh kurus kering. Mika pun beratnya hanya 14 Kg.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Setelah menjalani perawatan intensif termasuk terapi makanan, Adi tidak terselamatkan. Sementara Mika kondisinya membaik dan berat badannya terus bertambah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>Dirut RSU Dr FL Tobing Sibolga dr Lubuk P Saing SpA yang dikonfirmasi wartawan di RSU Dr FL Tobing Sibolga, Rabu (14/5) membenarkan hal tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>“Mika masih mendapat perawatan intensif termasuk menjalani terapi di ruang anak,” katanya seraya mengakui, kondisi kesehatan Mika mulai berangsur baik namun masih harus mendapat perawatan. Sedangkan Adi meninggal Jumat lalu dan telah dibawa pihak keluarga ke rumah duka untuk dikebumikan. (<a href="http://hariansib.com/"><span style="color:blue;">hariansib.online</span></a>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>============================================================</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center">
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:12pt;">www.tobadreams.wordpress.com</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pasien Gizi Buruk Berharap Bantuan Dermawan]]></title>
<link>http://infokito.wordpress.com/?p=1550</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 02:37:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>infokito™</dc:creator>
<guid>http://infokito.wordpress.com/?p=1550</guid>
<description><![CDATA[Sebagai  daerah surplus beras, bukan jaminan bagi Kabupaten Lahat untuk tidak terhindar dari penyak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai  daerah surplus beras, bukan jaminan bagi Kabupaten Lahat untuk tidak terhindar dari penyakit gizi buruk. Salah seorang warganya, Deta Mayada Aulia, warga Desa Prabu Menang, Kecamatan Kikim, kini sedang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lahat akibat menderita gizi buruk.</p>
<p><!--more--> Kasi Pengawasan dan Pengendalian Pasien RSUD Lahat Isa Ansyori mengatakan, balita berusia 15 bulan yang sudah dirawat dua hari ini menderita kurang energi protein (KEP),hingga menyebabkan pertumbuhan balita ini terhambat.</p>
<p>“Berdasarkan laporan tim dokter, kondisi balita ini cukup menyedihkan. Kendati sudah berusia 1,3 tahun, berat badannya hanya 5,2 kg.Bahkan,kondisi lengan dan kakinya sangat kurus sekali,” kata Isa Ansyori di RSUD Lahat Rabu kemarin.</p>
<p>Keberadaan Deta Mayada Aulia ini, menurut dia, menambah daftar panjang penderita gizi buruk di Kabupaten Lahat yang ditangani RSUD Lahat. Terhitung sejak Januari–April, sekurangnya sudah ada enam pasien gizi buruk, termasuk Deta Mayada Aulia, yang dirawat di RSUD Lahat.</p>
<p>“Ada memang yang murni disebabkan gizi buruk, tetapi tidak semuanya. Beberapa pasien yang kita tangani ternyata mengidap penyakit lain, yang berimbas pada penurunan nafsu makan sehingga asupan gizi pun kurang,” tukasnya.</p>
<p>Yeni, ibunda Deta Mayada Aulia, mengatakan bahwa pada saat dilahirkan, kondisi anaknya sangat normal sekali. Pada waktu lahir berat badannya mencapai 2 kg. Dia tidak mengetahui penyebab penyakit anaknya tersebut. Namun, menurut dia, dalam pola makan terlihat normal-normal saja.</p>
<p>“Gejala gangguan kesehatan, seperti jantung ini, baru dialami anak saya sekitar dua bulan ini. Sebelumnya tidak ada masalah apa-apa, meskipun berat badannya tidak seideal anakanak lain yang seusia dengannya. Karena takut ada apaapa, lalu saya bawa ke rumah sakit ini,” ujar Yeni lirih.</p>
<p>Dia menjelaskan, dalam soal makan,anaknya tersebut memang memiliki masalah yang cukup serius, yakni jumlah makanan yang ditelannya sedikit sekali.</p>
<p>“Karena kehidupan keluarga kami pas-pasan, jadi jumlah makanan yang saya berikan kepada anak saya pun sangat terbatas,” ujar perempuan yang telah diceraikan suaminya ini.</p>
<p>Melalui SINDO, Yeni yang mengaku masih menumpang di rumah orang tuanya ini berharap uluran tangan dermawan untuk bisa membantu kebutuhan hidup dan biaya pengobatan anaknya. (adi sulistyono)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa Yang Perlu Anda Ketahui tentang Gizi Buruk]]></title>
<link>http://haryobagushandokonews.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 23:01:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>haryobagushandokonews</dc:creator>
<guid>http://haryobagushandokonews.wordpress.com/?p=27</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Haryo Bagus Handoko
Yang dimaksud dengan gizi buruk dalam hal ini adalah Kurang Kalori Protein]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Haryo Bagus Handoko</em></p>
<p>Yang dimaksud dengan gizi buruk dalam hal ini adalah Kurang Kalori Protein (KKP) atau disebut juga Protein Energi Malnutrition (PEM). Ada tiga macam KKP yaitu kwashiorkor, marasmic-kwashiorkor, dan marasmus.</p>
<p>Dengan mengetahui permasalahan gizi buruk, maka tindakan yang dianggap perlu dapat dilakukan, yaitu memberikan makanan tinggi energi dan tinggi protein secara bertahap sesuai dengan keadaan pasien untuk mencapai keadaan gizi optimal.</p>
<p>Persyaratan makanan yang sebaiknya diberikan pada penderita gizi buruk:<br />
1. Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan berat badan dan umur serta keadaan<br />
klinis pasien,<br />
2. Energi tinggi,<br />
3. Protein tinggi,<br />
4. Banyak cairan diatur untuk menjaga<br />
keseimbangan cairan dan elektrolit,<br />
5. Vitamin dan mineral tinggi,<br />
6. Mudah dicerna dan tidak merangsang,<br />
7. Porsi kecil dan sering,<br />
8. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien</p>
<p>Indikasi Pemberian<br />
Tahap Penyesuaian<br />
- Tujuannya adalah menyesuaikan kemampuan pasien menerima makanan hingga ia mampu<br />
menerima diit TETP.<br />
- Tahap penyesuaian berlangsung singkat dan bergantung pada kemampuan pasien untuk  menerima dan mencerna makanan.<br />
- Jika BB pasien &#60; 7kg, makanan yang diberikan berupa makanan bayi. Makanan utama adalah  formula yang dimodifikasi. Contoh: susu rendah laktosa + 2.5-5% glukosa + 2% tepung. Secara<br />
berangsur ditambahkan makanan lumat dan makanan lembek. Bila ada berikan ASI.<br />
- Jika BB pasien 7Kg atau lebih, makanan diberikan seperti makanan untuk anak usia di atas 1 tahun.<br />
Pemberian makanan dimulai dengan makanan cair, kemudian makanan lunak dan makanan biasa.<br />
Ketentuan pemberian makanan BB pasien 7Kg atau lebih:<br />
1. Pemberian energi dimulai dengan 50kkal/kg BB sehari,<br />
2. Jumlah cairan 200ml/kg BB sehari,<br />
3. Sumber protein utama adalah susu yang diberikan secara bertahap dengan keenceran 1/3, 2/3, dan 3/3, masing-masing tahap selama 2-3 hari. Untuk meningkatkan energi ditambahkan 5% glukosa, dan<br />
4. Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering, yaitu 8-10 kali sehari tiap 2-3 jam.</p>
<p>Tahap Penyembuhan<br />
Bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan bertambah baik, secara berangsur tiap 1-2 hari, pemberian makanan ditingkatkan hingga konsumsi mencapai 150-200 kkal/kg BB sehari dan 2-5 gram protein /Kg BB sehari.</p>
<p>Tahap Lanjutan<br />
Sebelum pasien dipulangkan, hendaknya ia sudah dibiasakan memperoleh makanan biasa yang bukan merupakan diit TETP.<br />
Suplementasi zat gizi yang mungkin diperlukan:<br />
1. Glukosa, bila terdapat tanda-tanda hipoglikemia.<br />
2. KCl, bila terdapat hipokalemia.<br />
3. , berupa MgSO4 50%, bila terdapat hipomagnesima.<br />
4. Vitamin A, bila terdapat xeroftalmia.<br />
5. Vitamin B dan Vitamin C.<br />
6. Zat besi (Fe) dan asam folat, bila terdapat anemia yang biasanya menyertai KKP berat.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Back To Nature]]></title>
<link>http://my070707.wordpress.com/?p=49</link>
<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 12:47:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>mrsyusuf</dc:creator>
<guid>http://my070707.wordpress.com/?p=49</guid>
<description><![CDATA[Postingan kali ini murni dari hasil saya mendengarkan talk show di radio dan TV dan hasil diskusi de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Postingan kali ini murni dari hasil saya mendengarkan talk show di radio dan TV dan hasil diskusi dengan Ibu saya jadi mohon maaf sebelumnya kalo agak terkesan sok tahu dan ternyata salah :P</p>
<p>Setiap hari sabtu saya mengikuti pengajian di dekat rumah, dulunya kelompok saya ini terdiri dari gadis-gadis single <span style="text-decoration:line-through;">yang cantik</span> tapi seiring berjalannya waktu sekarang dah jadi pengajian Ibu-ibu dan anggotanya pun bertambah dengan hadirnya anak-anak kecil yang luchu-luchu :D</p>
<p>Saya baru memperhatikan perkembangan keponakan-keponakan saya itu baru-baru ini... Rata-rata umurnya itu 1 1/2 tahun tetapi mereka baru bisa berjalan belum ada yang bisa berbicara minimal mengucapkan 1 kata secara jelas dan penuh, lalu setelah sampai rumah saya bertanya pada ibu..</p>
<blockquote><p>Bu dulu neng bisa jalan sama ngomong umur berapa tahun???? </p></blockquote>
<blockquote><p>Berapa tahun??? berapa bulan gitu... dulu kamu 10 bulan bisa ngomong sama lari..  Jawab ibu saya</p></blockquote>
<p>Wow, cukup kaget juga saya mendengarnya, secara anak-anak teman saya waktu 10 bulan belum pada bisa berdiri lalu saya pun mengutarakan hasil pengamatan saya ke ibu mengenai anak-anak teman-teman saya..</p>
<p>Lalu ibu bercerita kalau sewaktu hamil saya dulu ibu jarang meminum obat dari dokter kandungan, sebenarnya obat dari dokter kandungan itu kan hanya vitamin / suplemen tambahan untuk kebutuhan ibu hamil, tetapi ibu saya berusaha mencukupi kebutuhan asupan gizi dan mineral-mineral tambahan selama hamil dari bahan-bahan alami saja, contohnya sum-sum tulang untuk menambah kalsium, teri untuk zat besi dll..</p>
<p>Dan saya pernah mendengar di talk show kesehatan di radio bahwa terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan itu tidak baik untuk tubuh kita, karena bagaimanapun juga obat-obat yang diproses secara kimia di pabrik obat pasti sedikit banyak punya efek samping pada tubuh, kalaupun efek sampingnya sedikit tapi kalau dikonsumsi secara terus menerus efek samping yang sedikit itu kan bisa terakumulasi jadi banyak iya gak???</p>
<p>Dan menurut ibu saya perkembangan anak-anak yang ibunya saat hamil rutin mengkonsumsi obat-obatan lebih lambat dibanding anak-anak yang ibunya tidak rutin mengkonsumsi obat-obatan dari dokter dan sebagai penggantinya rajin mengkonsumsi makanan alami yang kaya manfaat..</p>
<p>Contohnya.. anak-anak teman-teman saya yang saya tahu saat mereka hamil mereka rutin mengkonsumsi vitamin dari dokter dan tetangga saya yang hanya periksa kalau ada keluhan saja selanjutnya check upnya menjelang persalinan saja anaknya waktu umur 1 1/2 tahun sudah bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas dan waktu berusia 2 tahun sudah bisa diajak ngobrol, tetapi walaupun tidak makan vitamin dari dokter asupan gizinya cukup..</p>
<p>Dan seiring dengan perkembangan zaman, sekarang ini semakin banyak penyakit-penyakit yang dulu gak ada atau jarang terjadi.. Contohnya anak autis, di talk show itu disebutkan kalau anak autis tidak boleh mengkonsumsi cemilan-cemilan yang berbahan dasar tepung terigu ( maap saya lupa alasannya :mrgreen:  ) awalnya saya dan ibu bingung secara semua cemilan yang berupa roti biskuit kan bahan dasarnya tepung terigu, jadi anak autis makan apa dong????</p>
<p>Tetapi setelah kami mengingat lagi bahwa ada kue-kue yang tidak berasal dari tepung terigu seperti gemblong ( ketan yang digoreng dengan lapisan gula merah ), serabi, kue cucur dan makanan-makanan tradisional lainnya..</p>
<p>Kembali lagi ke perkembangan anak, dengan banyaknya makanan instan buatan pabrik ibu-ibu jadi lebih suka memberikan makanan instan itu pada anaknya daripada membuat sendiri bubur sayuran atau nasi tim sayuran, padahal mungkin lambatnya perkembangan anak-anak salah satunya adalah makan instan itu karena bagaimanapun juga makanan alami lebih sedikti bahkan tidak ada efek sampingnya dari pada makanan buatan yang sudah ditambah bahan kimia..</p>
<p>Masih dari talk show yang sama narasumbernya juga membahas tentang gizi buruk yang terjadi di indonesia, narasumbernya ini adalah ahli gizi yang bekerja di rumah sakit umum di jakarta, dari kasus gizi buruk yang beliau tangani banyak diantaranya membuat beliau kesal.. kenapa???</p>
<p>Karena orang tua kasus gizi buruk yang beliau tangani bukan keluarga miskin-miskin amat kok, punya HP punya motor masa dibilang keluarga miskin???? :evil:</p>
<p>Atau ibu dari anak korban gizi buruk masih bisa memakai kalung emas....</p>
<p>Jadi beliau menyimpulkan dalam kasus-kasus seperti itu masalah utamanya adalah orang tua yang malas memperhatiakn asupan gizi untuk anaknya, bukan karena mereka tidak mampu mencukupi asupan gizi untuk anak-anak mereka..</p>
<p>Makanya saya kasih judul Back To Nature, menjaga pola makan sehat yang cukup asupan gizi terutama untuk anak-anak kita, daripada kita harus menelan antibiotik yang dalam jangka panjang tidak baik untuk lever dan ginjal kita lebih baik mulai sekarang kita mencari tau manfaat-manfaat bahan alami yang ada di sekitar kita..</p>
<p>Mulai dari dapur deh, disana banyak bahan-bahan bermanfaat contohnya daun salam, kalau ada orang yang tekanan darahnya lagi tinggi suruh minum rebusan daun salam aja, ampuh untuk menurunkan tekanan darah tinggi begitu yang saya dengan dari talk show mengenai metode pengobatan herbal...</p>
<p>Seperti yang saya bilang di awal posting, posting kali ini berasal dari hasil diskusi saya dengan ibu dan summary talk show kesehatan yang saya dengar yang isinya masih nempel di kepala saya ( sebagian udah ada yang lupa ) jadi tidak ada cantuman link sebagi referensi karena saya juga belum googling-googling untuk masalah ini..</p>
<p>hehehe sok tahu kan :mrgreen: jadi kalau ada yang mau menambahkan silahkan looohhh....</p>
<p>:D</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Usah Kau Lara Sendiri (Katon Bagaskara dan Ruth Sahanaya-1995)]]></title>
<link>http://angki.wordpress.com/?p=328</link>
<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 07:39:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Raden Mas Angki</dc:creator>
<guid>http://angki.wordpress.com/?p=328</guid>
<description><![CDATA[13 Maret 2008
11.30 WIB
Rs. dr. M. Soewandhie
Jl. Tambah Rejo 45-47
Kecamatan Tambaksari
Surabaya
An]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>13 Maret 2008<br />
11.30 WIB<br />
Rs. dr. M. Soewandhie<br />
Jl. Tambah Rejo 45-47<br />
Kecamatan Tambaksari<br />
Surabaya</h2>
<p><a href="http://angki.dagdigdug.com">Angki</a> bersama <a href="http://aghofur.com" target="_blank">Abdul Ghofur</a>, <a href="http://andibagus.com">Andi Bagus</a>, <a href="http://outofthemind.wordpress.com">Rifqa Rizkarima</a>, <a href="http://invy.us">Indharta Harvyansah</a>. Bertemu di Rumah Sakit dr. M. Soewandhie untuk menindak lanjuti program <a href="http://aghofur.com/stop-kelaparan-dan-gizi-buruk.html" target="_blank">Tahun Anti Kelaparan dan Gizi buruk</a>. Kegiatan ini juga sebagai bukti bahwa</p>
<h3>BLOGGER BUKAN PEMBOHONG.</h3>
<p>Korban Gizi Buruk yang Angki kunjungi ini adalah saudara Kembar Rafa yang telah meninggal dunia terlebih dahulu. Kembarannya ini adalah Raka. Wajah Raka terlihat sangat sumringah ketika kami datang berkunjung. Seakan-akan dia ingin berbicara kepada kami:</p>
<blockquote><p>Tolong Aku Kak.<br />
Raka ingin bermain dengan teman-teman.<br />
Raka ingin memijat kaki ibu yang kelelahan bekerja.<br />
Raka ingin menyapu rumah kala ibu sedang memasak.<br />
Raka ingin bekerja keras untuk ibu, biar ibu tidak sakit-sakitan lagi.<br />
Raka ingin melihat ibu tersenyum.<br />
Raka ingin melihat sinar mentari esok pagi.</p>
<p>Raka ingin...</p>
<p>Tapi<br />
Aku ini sakit Kak.<br />
Tolong beri aku sedikit waktu untuk bisa memenuhi salah satu keinginanku itu.<br />
Tolong Kak, Tolong Raka.</p></blockquote>
<p>Tangan semungil Raka sudah harus terbiasa mendapat jarum infus.<br />
Tubuh semungil Raka sudah harus terbiasa dihantam dosis obat.</p>
<p>Bertahanlah Raka.....</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">kulihat embun menghalangi pancaran wajahmu<br />
tak terbiasa kudapati terdiam mendura<br />
apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu<br />
sekilas kalau mata ingin berbagi cerita</p>
<p style="text-align:center;">kudatang sahabat bagi jiwa<br />
saat batin merintih<br />
usah kau lara sendiri<br />
masih ada asa tersisa ...</p>
<p style="text-align:center;">dekapkanlah tanganmu di atas bahuku<br />
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu<br />
di depan sana cahya kecil 'tuk memandu<br />
tak hilang arah kita berjalan<br />
... menghadapinya ...</p>
<p style="text-align:center;">sekali jumpa kau mengeluh kuatkah bertahan<br />
satu persatu jalinan kawat beranjak menjauh</p>
<p style="text-align:center;">kudatang sahabat bagi jiwa<br />
saat batin merintih<br />
usah kau lara sendiri<br />
masih ada asa tersisa ...</p>
<p style="text-align:center;">dekapkanlah tanganmu di atas bahuku<br />
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu<br />
di depan sana cahya kecil 'tuk membantu<br />
tak hilang arah kita berjalan<br />
... menghadapinya ...</p>
<p style="text-align:center;">dekapkanlah tanganmu di atas bahuku<br />
biar terbagi beban itu dan tegar dirimu<br />
di depan sana cahya kecil 'tuk membantu<br />
tak hilang arah kita berjalan<br />
... menghadapinya ...</p>
<p style="text-align:center;">tak hilang arah kita menjalaninya<br />
... menghadapinya ...<br />
(usah kau lara sendiri)</p>
</blockquote>
<p>Tulisan Terkait:</p>
<ul>
<li>by <a title="Tulisan oleh Rere" href="http://outofthemind.wordpress.com/2008/04/15/berjuanglah-raka/" target="_blank">ReRe</a></li>
<li>by <a title="Tulisan oleh Pak Gepur" href="http://aghofur.com/untuk-raka.html" target="_blank">Pak Gempur</a></li>
<li>by <a title="Poto oleh Cak Avy" href="http://invy.bedeng.com/" target="_blank">Avy</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kearifan Menyikapi Gizi Buruk(Jawa Pos 5/4/08, setelah 5 bulan menunggu...)]]></title>
<link>http://dokterpenulis.wordpress.com/?p=166</link>
<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 01:00:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>dokterpenulis</dc:creator>
<guid>http://dokterpenulis.wordpress.com/?p=166</guid>
<description><![CDATA[akhirnya&#8230;  
oleh M. Yusuf Suseno
Menonton Pak Dahlan Iskan di acara Kick Andy (MetroTV 3/4/08)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>akhirnya... :)</p>
<p>oleh M. Yusuf Suseno</p>
<p>Menonton Pak Dahlan Iskan di acara Kick Andy (MetroTV 3/4/08) membuat saya teringat pada sepotong kalimat di buku<em> Tuesday with Morrie</em>-nya Mitch Albom. Morrie, yang saat itu tengah menjelang ajal, seperti juga Pak Dahlan menjadi makin arif dan mempertanyakan banyak hal tentang esensi hidup. Tiap pagi ia bertanya pada diri sendiri, “Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan hal-hal yang bermakna dalam hidup? Apakah aku telah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh kuinginkan?”</p>
<p>Sayangnya kalimat itu tak berlaku untuk para balita gizi buruk dan orang tuanya di Surabaya. Mereka yang sebagian besar berada pada garis kemiskinan mungkin hanya bisa bertanya. ”Inikah hari ajalku? Apakah aku telah melakukan semua hal yang bisa kupikirkan untuk mempertahankan hidup?” Bagi mereka, kearifan dan kesempurnaan budi pekerti bukan tujuan utama. Perjuangan membebaskan diri dari kemiskinan dan gizi buruk masih harus disemangati.</p>
<p>Semangat ini tercermin dari 7,5 milyar dana anggaran untuk penanggulangan gizi buruk oleh Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya.(<em>Jawa Pos 3/4/08)</em> Sebagai respon dari Pemerintah untuk meniadakan balita kurus kering di Surabaya, masyarakat pasti berterima kasih. Begitu besar perhatian Pemerintah pada kasus ini. Hanya saja kita juga perlu ragu, bisakah uang sebesar itu menggairahkan kembali Posyandu? Mungkinkah sebagian dana 7,5 milyar itu membuat Pak Camat dan Lurah lebih waspada? Akankah tujuan akhir memberantas gizi buruk tercapai? <em>Maybe yes, maybe not.</em><!--more--></p>
<p>Berita gizi buruk adalah kaset rusak yang diputar tiap tahun. Suatu proses kronis, dan bukan kejadian yang kun fayakun tercipta. Angka 10.071 balita Surabaya yang mengalami kurang gizi, dengan 2239 kasus di antaranya mengalami gizi buruk adalah isu tahunan. Begitu pula, seperti tahun-tahun lalu akan ada anggota dewan yang bersuara keras, lantang mengkritik Pemerintah. Lantas akan ada counter dari pihak-pihak terkait, kemudian topik hangat ini mengendur dan menghilang, sepi. Tinggal anak-anak kurus bergantian tinggal di ruang rawat inap rumah sakit.</p>
<p>Seorang anggota dewan mengatakan bahwa pengobatan bagi para penyandang gizi buruk yang dirawat di rumah sakit harus digratiskan. Hampir semua orang setuju dengan pendapat itu. Tapi sungguhkah layanan gratis Askeskin menyelesaikan segala? Tidak. Layanan gratis di rumah sakit Pemerintah ibarat obat penghilang rasa sakit buat tumor yang ada di otak kita. Usaha kuratif yang menina bobokan. Seperti membangun tanggul pinggir Bengawan Solo di musim banjir. Sedang hutan tak pernah dipelihara dan sampah terus ditumpuk.</p>
<p>Rumah sakit bagi penyandang gizi buruk hanya sekadar rumah singgah sementara. Keluar dari bangsal mereka kembali menghadapi kenyataan pahit. Di luar rumah sakit ada hantu yang belum bisa dibasmi oleh Pemerintah dan wakil rakyat yang terhormat. Hantu kemiskinan.</p>
<p>Posyandu adalah pasukan anti gizi buruk di tengah belantara kemiskinan material dan informasi. Ia menjadi andalan Pemerintah, dan memang terbukti efektif.</p>
<p>Sayangnya, data menunjukkan adanya penurunan kualitas dan kuantitas kegiatan Posyandu pasca krisis moneter. Tahun 2001 dari 245.154 posyandu di Indonesia hanya 3,1% yang mandiri, dan  tahun 2002 Posyandu yang memiliki kader aktif hanya 43,3%. Peneliti dari Makassar menemukan bahwa kegiatan Posyandu umumnya hanya dilakukan 2-3 orang kader. Padahal dalam Pedoman Umum Revitalisasi Posyandu disebut bahwa Posyandu adalah organisasi fungsional yang terdiri dari seorang penanggung jawab, 4-5 orang kader dan seorang tenaga administrasi.</p>
<p>Studi lain dari UGM menunjukkan adanya tingkat partisipasi yang meningkat dari masyarakat saat program revitalisasi Posyandu dicanangkan. Tetapi kemudian menurun setelah program selesai. Ini berarti bahwa peningkatan strata Posyandu menjadi Posyandu mandiri bukan atas inisiatif dan kreatifitas masyarakat, tetapi hasil intervensi Puskesmas. Pendekatan manajemen kesehatan yang bersifat top down seperti ini terbukti tidak bertahan lama. Posyandu memang seharusnya menjadi tulang punggung pencegahan gizi buruk. Tapi menyerahkan nasib anak-anak pada campur tangan Puskesmas dan aparat Pemerintahan jelas tak efektif.</p>
<p>Kegagalan kita mendeteksi kasus gizi buruk secara menahun seharusnya tidak membuat kita terus melakukan kesalahan yang sama. Jika 7,5 milyar hanya digunakan dalam kegiatan yang bersifat top down seperti di masa lalu, kok rasanya tidak akan berhasil. Akan lebih bermakna jika uang tersebut digunakan untuk membuat Posyandu benar-benar menjadi program yang kata seorang ahli gizi, dari-oleh-untuk rakyat.</p>
<p>Rasanya kita memerlukan seorang ahli komunikasi yang handal untuk membuat program Posyandu ini benar-benar ’masuk’ ke masyarakat. Seperti program KB, yang meski kini kampanyenya tak segencar dulu, toh masih tetap berjalan. Masyarakat secara mandiri datang ke tenaga kesehatan, atau pergi ke apotek untuk mendapat alat kontrasepsi. Semua ini adalah akibat perubahan cara pandang pada KB. Ia bukan lagi program Pemerintah, tapi sudah menjadi kebutuhan masyarakat.</p>
<p>Bagaimana agar kader bersemangat menyiapkan Posyandu, dan bukan hanya bergerak karena mendapat uang jalan dari Puskesmas? Bagaimana agar masyarakat berbondong ke Posyandu, dan bukan sekadar memenuhi perintah Camat, Lurah dan ketua RT? Bagaimana agar masyarakat tergerak untuk protes saat kader Posyandu-nya malas berangkat? Perubahan pola pikir ini yang harus diolah oleh para pemegang kebijakan.<br />
Sebagian besar dari kita tidak memiliki cukup waktu untuk bertransformasi seperti Pak Dahlan saat kematian hampir datang. Kearifan, untuk sebagian orang adalah cita-cita kabur yang entah tercecer dimana. Tapi itu tidak berlaku untuk orang-orang yang dibebani tanggung jawab besar sebagai wakil rakyat, pemimpin, petugas negara, para pemegang kebijakan. Masyarakat ingin sekali percaya bahwa mereka memiliki pandangan yang berbeda. Manusia terpilih yang pasti berkemampuan berpikir besar dan kearifan memandang jauh ke depan.</p>
<p>Sungguh, di tangan para pemegang kebijakanlah sebagian suratan takdir Tuhan dilaksanakan. Termasuk nasib para balita gizi buruk dan calon balita gizi buruk di Surabaya. Kemunduran intelektual mereka, kemungkinan proses pendidikan yang gagal, masa depan tak jelas, pekerjaan seadanya, kualitas hidup secukupnya, dan akhirnya siklus kemiskinan yang tak terputus.</p>
<p>Harus ada terobosan untuk mengatasi masalah ini. Mengatasi menahun dan berulangnya kasus gizi buruk memerlukan kearifan dan pikiran besar milik para wakil rakyat, pemimpin dan pemegang kebijakan. Bukan sekadar jawaban jangka pendek semata. Kami menunggu.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasi <strike>Goreng</strike> Aking]]></title>
<link>http://dijenorie.wordpress.com/?p=123</link>
<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 12:09:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>norie</dc:creator>
<guid>http://dijenorie.wordpress.com/?p=123</guid>
<description><![CDATA[
Untuk memperbesar dari pada nge-click gambar, mending click sini aja.
Apa yang coba disampaikan den]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://5FF.stripgenerator.com/2008/04/05/ketika-zaman-semakin-sulit.html"><img style="border:none;" src="http://static.stripgenerator.com/generated/dijenorie/strip/2008/04/05/ketika-zaman-semakin-sulit_embed.png" alt="Ketika Zaman Semakin Sulit" width="484" height="222" /></a></p>
<p>Untuk memperbesar dari pada nge-<em>click</em> gambar, <em>mending</em> <em>click</em> <a href="http://dijenorie.wordpress.com/files/2008/04/ketika-zaman-semakin-sulit.png" target="_blank">sini aja</a>.</p>
<p><!--more-->Apa yang coba disampaikan dengan komik ini adalah soal paradoksnya pemikiran kita (rakyat Indonesia -red). Terjebak antara kemiskinan dan kesenangan. Semuanya di saat yang bersamaan. Ini bagian ironis dalam masyarakat kita.</p>
<p>Btw, dalam penggambaran komik di atas memang agak <em>ngaco </em>--seharusnya orang tidak merokok diwawancara di tivi. Namun demikian semoga pesannya tetap sampai. Bahwa di masyarakat kita masih banyak orang-orang yang mementingkan beli rokok ketimbang memperhatikan gizi dan kesehatan anak-anaknya. Dan juga komik ini mengusung persoalan: masyarakat kita yang kurang sadar terhadap persoalan gizi sehingga punya pola pikir, makanan sehat haruslah yang mahal.</p>
<p>Ada yang pernah hitung. Bila sebuah keluarga sangat sederhana bisa mengeluarkan uang sekitar Rp.7.000 per hari untuk membeli sebungkus rokok. Maka berapa jumlah uang yang terkumpul sudah 1 tahun. Maka hasilnya adalah (7.000 x 365) = Rp. 2555000. Dengan dana sebesar itu pertahun bila ditabung/diinvestasikan selama 10 tahun dengan keuntungan/bunga 10 % pertahun, uang itu jadi berjumlah : hitung sendiri ya.  lagi males ngitung nih. :mrgreen:</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mari Menciptakan Rekor]]></title>
<link>http://suharyanto.wordpress.com/2008/04/03/mari-menciptakan-rekor/</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 05:38:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>suharyanto</dc:creator>
<guid>http://suharyanto.wordpress.com/2008/04/03/mari-menciptakan-rekor/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Suharyanto
             Akhir-akhir ini banyak kalangan ingin mengukir dirinya ke ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Oleh: Suharyanto</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Akhir-akhir ini banyak kalangan ingin mengukir dirinya ke dalam suatu lembaga pencatat rekor supaya dapat dikenang oleh orang lain sepanjang masa. Aktivitas ini tentu saja menjadi penting karena dengan demikian seseorang atau sekelompok orang akan dipandang memiliki nilai lebih daripada yang lainnya. Barangkali ini makna yang terkandung dari kata “rekor”, yaitu “menciptakan” sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain. Benarkah?<!--more--></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga terbitan Balai Pustaka tahun 2003, “rekor” memiliki tiga arti: 1) hasil terbaik, 2) jumlah terbanyak, dan 3) terbaik (tertinggi). Kita lihat satu per satu. 1) <u>Hasil terbaik</u>, hanya bisa dicapai bila melalui upaya secara konsisten dan terus menerus sehingga memperoleh hasil terbaik, misalnya seorang atlet yang ingin menciptakan rekor lari tercepat. Orang ini pasti akan melakukan latihan secara terus menerus, disiplin dan konsisten supaya dapat mencapai rekor yang ditargetkan. 2) <u>Jumlah terbanyak</u>, bersifat sebagai pencapaian hasil jumlah yang paling banyak, misalnya pada kalimat “panen kedelai tahun ini mencapai hasil dalam <u>jumlah paling banyak</u> selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir”. Jumlah paling banyak tentu saja dicapai dengan berbagai upaya, misalnya melalui penyuluhan intensif, pelatihan kepada petani, penyediaan sarana produksi murah dan lain-lain. Hasil jumlah terbanyak tidak bisa diraih begitu saja tanpa upaya-upaya mengarah pada hasil terbanyak. 3) <u>Terbaik</u> (<u>tertinggi</u>), bisa dilihat pada contoh kalimat “Siswa utusan Bengkulu meraih nilai <u>terbaik</u> (<u>tertinggi</u>) dalam Olimpiade Fisika Nasional tahun ini”. Bagaimana supaya bisa mendapatkan nilai terbaik atau tertinggi? Belajar dan latihan! Tidak mungkin bisa mencapai nilai tertinggi hanya dengan santai-santai dan “madar”!</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Dari ketiga arti kata “rekor” di atas tersirat bahwa di dalam kata “rekor” mengandung unsur “upaya pencapaian prestasi”. Inilah makna agung dari kata “rekor”. Makna berkualitas nomor satu, makna yang memiliki pengaruh pada orang lain, masyarakat, sosial, ekonomi dan budaya. Berbeda dengan jenis rekor yang satu ini, yaitu bersifat “given” alias “sudah dari sononya”. Contohnya, manusia tertinggi di dunia. Untuk menjadi manusia tertinggi di dunia tidaklah perlu ada “upaya pencapaian prestasi”. Seseorang tidak perlu tiap hari bergantungan supaya badannya molor sehingga menjadi tingginya minta ampun, tidak!. Disini yang terjadi adalah “given”. Lihat saja berita tentang manusia tertinggi (atau terkecil/terendah) di dunia (ataupun di Indonesia), mereka tidak pernah melakukan latihan, belajar, dan lain-lain sehingga menjadi manusia tertinggi (ataupun terkecil). Tetapi orang-orang ini telah mencatat rekor, bahkan telah dicatat di suatu lembaga pencatat rekor dunia tanpa upaya apapun, karena unik.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Ada contoh lagi “rekor” yang bersifat tidak perlu “upaya pencapaian prestasi”. Misalnya presiden termuda di dunia. Menjadi presiden termuda di dunia adalah bersifat kebetulan. Sangatlah tidak mungkin mayoritas warga negara bersekongkol untuk mencalonkan dan memilih orang dengan umur paling muda untuk menjadi presiden demi mendapat catatan rekor, misalnya. Warga negara akan memilih berdasarkan ideologi, visi-misi, program, kedekatan personal, atau kadang-kadang bagi yang masih irasional lebih memilih ketampanan/kecantikan ketimbang umur termuda dalam memilih pemimpinnya. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Demikianlah macam-macam makna dan sifat “rekor”. Celakanya, jenis rekor yang tidak memerlukan “upaya pencapaian prestasi” justru yang banyak diadopsi dan sedang “ngetrend”. Rekor jenis ini yang selalu diupayakan karena memang tidak perlu upaya sungguh-sungguh untuk mencapainya walaupun biaya yang dikeluarkan tidak sedikit yang penting dapat menghantarkan diri pencetusnya pada suatu catatan museum rekor.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Mari, kita di negeri ini menciptakan rekor jenis unggul, yaitu dengan penuh upaya pencapaian prestasi. Masih banyak yang harus dipecahkan: gizi buruk, pengangguran, pendidikan untuk semua, dan lain-lain. Selamat memecahkan rekor![]</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dimuat pada kolom hari Sabtu tanggal 29 Maret 2008 di Harian Bengkulu Ekspress.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Overcoming malnutrition]]></title>
<link>http://wirawanady.wordpress.com/?p=88</link>
<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 00:33:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ady</dc:creator>
<guid>http://wirawanady.wordpress.com/?p=88</guid>
<description><![CDATA[A health sector approach
Health sector plays an important role in  surmounting malnutrition or und]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>A health sector approach</strong></p>
<p align="justify">Health sector plays an important role in  surmounting malnutrition or undernutrition or undernourished, whatever. Attention should be paid to two common forms of it i.e. protein energy deficiency and micronutrient deficiency, with emphasis on particular underlying conditions in every place.</p>
<p align="justify">Pendekatan Sektor Kesehatan untuk Tanggulangi Gizi Buruk<em><br />
Oleh dr. I Made Ady Wirawan</em> &#124; Opini &#124; <a href="http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/2/o3.htm" target="_blank">BaliPost 2 April 2008</a></p>
<p align="justify">KEMISKINAN dikatakan menjadi penyebab utama yang mendasari terjadinya malnutrisi dan faktor-faktor determinannya. Padahal tingkat keparahan dan penyebaran kasus kurang gizi sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya situasi politik dan ekonomi, tingkat pendidikan dan sanitasi, kondisi cuaca dan musim, produksi bahan makanan, adat dan budaya, prevalensi penyakit infeksi dan efektivitas program-program di bidang gizi yang ada serta ketersediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas.</p>
<p align="justify"><!--more-->Secara umum masalah kurang gizi di masyarakat dikelompokkan menjadi defisiensi makronutrien seperti protein, karbohidrat dan lemak yang menyebabkan kurang energi dan protein (KEP), dan defisiensi mikronutrien seperti elektrolit, mineral dan vitamin. Perbaikan manajemen dan pengendalian kurang energi dan protein dan kekurangan mikronutrien akan berkontribusi secara langsung terhadap penanggulangan gizi buruk.</p>
<p align="justify">Melihat faktor-faktor yang berpengaruh, tindakan pencegahan untuk mengatasi KEP bisa sangat luas dari strategi peningkatan pendapatan, pendidikan gizi, suplementasi makanan hingga subsidi bahan pangan, serta tindakan lain yang berefek pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.</p>
<p align="justify">Dalam mengatasi KEP yang umumnya terjadi di daerah dengan kondisi miskin, fokus harus diarahan pada kondisi spesifik yang ada. Pengobatan infeksi cacing 3 kali setahun misalnya akan sangat bermanfaat dan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Penanganan diare yang saling terkait dan seperti membentuk lingkaran setan dengan KEP juga memerlukan perhatian khusus.</p>
<p align="justify">Penyuluhan mengenai pentingnya ASI, peningkatan kondisi air bersih dan kebersihan lingkungan, monitoring pertumbuhan anak melalui sarana pelayanan kesehatan telah terbukti sangat efektif. Oleh karena itu hal yang sangat mungkin namun sulit diwujudkan adalah mengaktifkan kembali posyandu-posyandu terutama yang sudah tidak berjalan pada tingkat dusun.</p>
<p align="justify">Dalam mengatasi masalah defisiensi mikronutrien, konsumsi makanan yang kaya mikronutrien dan bisa diserap oleh pencernaan merupakan tindakan pencegahan yang paling baik. Di komunitas di mana persediaan makanan-makanan tersebut tidak ada, diperlukan strategi khusus dalam pencegahan dan pengobatan kasus defisiensi mikronutrien.</p>
<p align="justify">Suplemen mikronutrien biasanya tersedia di tempat-tempat pelayanan kesehatan dan bisa dikonsumsi secara oral (umumnya tablet) atau (lebih jarang) melalui suntikan. Prioritas harus diberikan kepada populasi yang lebih rentan seperti wanita hamil dan anak-anak. Suplementasi ini sangat dianjurkan pada kasus-kasus kekurangan mikronutrien tertentu saat pendekatan yang lain sudah terlalu terlambat. Meskipun beberapa mikronutrien harus dikonsumsi tiap hari atau minggu (seperti zat besi dan zinc), jenis yang lain bisa tersimpan di dalam tubuh dan hanya perlu diberikan dalam interval bulan atau tahun (seperti vitamin A dan iodium). Akan tetapi cara pemberian, kepatuhan penderita, dan potensi efek samping juga harus dipertimbangkan.</p>
<p align="justify">Strategi yang berbasis bahan makanan mungkin menjadi pendekatan yang paling menjanjikan dan berkesinambungan untuk mengatasi masalah gizi buruk. Meningkatkan variasi jenis makanan terutama yang berasal dari kebun dan ternak sendiri juga sangat efektif. Penyuluhan gizi sebaiknya diberikan pada tingkat rumah tangga untuk meningkatkan produksi sayur-sayuran berdaun hijau tua, buah-buahan berwarna kuning dan orange, unggas, telur, ikan dan susu. Program penyuluhan gizi mengenai keberadaan produk pangan yang kaya protein dan mikronutrien di daerah setempat akan sangat efektif dan bekesinambungan.</p>
<p align="justify">Strategi yang juga sangat memungkinkan di masa depan adalah mencegah defisiensi mikronutrien ini dengan mengembangkan bibit pertanian yang kaya mikronutrien melalui teknik konvensional ataupun rekayasa genetika.</p>
<p align="justify">Karena gizi buruk memiliki banyak faktor penentu, hanya intervensi yang dilakukan secara bersama dan sinergis dalam bentuk program-program yang multisektoral yang bisa efektif. Berbagai langkah nyata diperlukan termasuk intervensi di bidang pertanian, mikronutrien, penyediaan air minum yang aman dan sanitasi yang baik, pendidikan tentang gizi dan makanan, memberikan perhatin khusus kepada kelompok yang rentan serta pengadaan pelayanan kesehatan yang berkualitas.</p>
<p align="justify">Penulis, dosen PS IKM Universitas Udayana, mahasiswa S2 Monash University, Australia</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Libur Nge-blog yang Tidak Jadi]]></title>
<link>http://hanggadamai.wordpress.com/?p=89</link>
<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 09:24:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>hanggadamai</dc:creator>
<guid>http://hanggadamai.wordpress.com/?p=89</guid>
<description><![CDATA[Seminggu yang lalu setelah hiatus yang tak jelas, sebelum membuat postingan baru diriku berniat untu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seminggu yang lalu setelah hiatus yang tak jelas, sebelum membuat postingan baru diriku berniat untuk mengadakan hari libur ngeblog :mrgreen: . Hari libur ngeblog yang diadakan oleh diriku ini kurencanakan dua hari tiap minggu yaitu hari sabtu dan minggu. Tapi apa daya, diriku gak kuku untuk berekspresi. Sabtu malam karena diriku tidak <span style="font-style:italic;">ngeceng</span> seperti anak muda kebanyakan, diriku malah berkutat di depan layar monitor  yang jelas-jelas wajah sang monitor menunjukkan kebosanannya kepada diriku. "Elu lagi, elu lagi...Cape deh gw!" kata sang monitor sambil tersenyum pahit pada diriku yang polos ini. Sungguh pernyataan yang membuat diriku sedih :mrgreen: <span style="text-decoration:line-through;">sungguh anak muda yang aneh diriku ini</span>.<!--more--></p>
<p>Awalnya diriku hanya berkutat di YM. Tapi rayuan dan godaan yang dahsyat, sungguh membuat diriku menyerah sambil mengibarkan bendera putih pertanda aku harus ngeblog :mrgreen: . Setelah login di wp ada beberapa hal yang kulakukan, pertama aku menambah widget di blogku dan kedua menulis postingan uelek dan gak mutu ini yang tidak jelas apa sebenarnya maksud dari tulisanku :mrgreen: .</p>
<p>Setelah beberapa jam, akhirnya widgetku nambah juga. Beberapa widget yang kutambah cukup cape kutambah. Maklum diriku yang gaptek ini sebenarnya gak ngerti bahasa html :( . Walau sudah empat bulan lamanya diriku ngeblog, tapi diriku masih saja malas belajar bahasa yang aneh itu :roll: .</p>
<p>Salah satu widget yang kutambah adalah banner dari  <a href="http://gunawanrudy.com/" target="_blank">Goenawan Lee</a>. Aku menambah banner ini karena aku iri melihat banyak sekali teman-teman blogrollku yang menggunakan banner tersebut :mrgreen: . Padahal diriku dulu pernah menjadi ketua sebuah kegiatan sosial yang bertemakan "Gemar Makan Ikan" yang dilaksanakan guna mencegah gizi buruk. Iya, gizi buruk. Sungguh sangat miris mendengar berita tersebut.</p>
<p>Negara yang kaya raya tapi banyak terjadi kelaparan dan gizi buruk. Padahal luas wilayah perairan di Indonesia saja mencapai dua pertiga dari luas total wiilayah Indonesia. coba kita bayangkan, apa saja yang terkandung dalam perairan tersebut <span style="text-decoration:line-through;">kebayang gak ya?</span>. Sungguh sangat kaya bukan?</p>
<p>Diriku melalui blog <span style="text-decoration:line-through;">gak mutu ini</span> ikut merasa peduli terhadap kesengsaraan yang melanda bangsa Indonesia. Mari kita bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan ada lagi berita yang berkoar tentang gizi buruk dan kelaparan. Tentunya hal ini bisa kita mulai dari lingkungan sekitar. Satu pesan dari diriku: <span style="font-weight:bold;">Gemar Makan Ikan Yuk!</span></p>
<p>Nb: mungkin lain kali diriku akan membuat postingan <span style="text-decoration:line-through;">walaupun gak mutu</span> tentang mengapa kita harus gemar makan ikan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kedaulatan Pangan demi Keadilan Sosial]]></title>
<link>http://oxfamindonesia.wordpress.com/?p=148</link>
<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 05:29:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Imelda</dc:creator>
<guid>http://oxfamindonesia.wordpress.com/?p=148</guid>
<description><![CDATA[




&#8220;Rakyat Busung Lapar&#8221; demikian judul op-ed dari sebuah Koran nasional &#8220;Kompas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;"></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;"></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;"></span></span></p>
<div><span style="font-family:Arial;"></p>
<div><span style="font-size:11pt;"></span></div>
<p></span></div>
<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-size:small;"></p>
<p align="justify"><a title="Rakyat Busung Lapar" href="http://kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.25.00540937&#38;channel=2&#38;mn=158&#38;idx=158"><span style="color:#0000ff;">"Rakyat Busung Lapar" demikian judul op-ed dari sebuah Koran nasional "Kompas"</span></a> yang mencuri perhatian saya hari Selasa (25/03) lalu.  Satu pertanyaan yang timbul dari di pikiran saya adalah ,"Kapan tragedi ini bakal berakhir?"    Bukan kali ini saja saya membaca berita tentang gizi buruk, kelaparan dan busung lapar, sering kali malahan. Maka tak heran apabila Food and Agricultural (FAO) memberikan pernyataan yang lebih mengejutkan lagi, bahwa hampir seluruh wilayah di Indonesia termasuk daerah rawan pangan. Sementara pangan adalah masalah kunci bagi umat manusia dalam melangsungkan hidupnya.</p>
<p align="justify">Menurut data tahun 2005 dari Dinas Kesehatan dari Propinsi NTT, tercatat sekitar 11,368 jiwa yang menderita kurang gizi; 2, 285 jiwa yang gizi buruk; dan 9 jiwa kelaparan. Sementara menurut sumber lain di tahun yang sama, di Papua, ada sekitar 69,883 jiwa yang menderita gizi buruk dan 58 orang yang meninggal dunia.  Saya rasa jumlah ini mungkin saja semakin meningkat di tahun 2008 ini.<!--more--></p>
<p align="justify">Rekan saya di Oxfam, Cynthia Maharani, berbagi pengalamannya ketika berada di Pulau Tunda, "Bulan January 2007 silam, sekitar 107 Kepala Keluarga yang mengalami kerawanan pangan. Bahkan ada beberapa keluarga yang harus mengurangi jumlah asupan makanan. Sebagai contoh Keluarga Slamet Jamaludin yang harus mengurangi komsumsi beras dari 6-7 kg tiap minggunya menjadi 4 kg /minggu. Hal ini merupakan salah satu indikasi kerawanan pangan. Bahkan setidaknya ada 3 keluarga yang tidak makan selama 3 hari berturut-turut."  </p>
<p align="justify">Mungkin sampai saat ini belum ada suatu sistem yang memadai untuk mengambil langkah-langkah berarti. Sehingga pemerintah masih terkesan reaktif daripada proaktif dalam menangani kasus-kasus kelaparan di Indonesia. Sementara disisi lain, terbebas dari kelaparan merupakan hak asasi setiap insan Indonesia. Dan negara berkewajiban untuk memenuhi tanggung jawabnya seperti yang tercantum dalam UU No. 7 tahun 1996 tentang pangan.</p>
<p align="justify">Beberapa saat lalu, saya menghadiri <a href="http://oxfamindonesia.wordpress.com/2008/01/31/seminar-nasional-konsultasi-publik-kedaulatan-pangan-untuk-keadilan-sosial/"><span style="color:#0000ff;">seminar dan diskusi publik tentang kedaulatan pangan untuk keadilan sosial</span></a> yang diselenggarakan oleh Oxfam dan Komnas Ham. Dalam acara tersebut gabungan NGO mendesak Komnas Ham memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk memasukan Revisi Undang-Undang Pangan No. 7 tahun 1996 ke dalam agenda Legislasi Nasional.</p>
<p align="justify">Hanya saja, pemberian rekomendari kepada pemerintah. haruslah diikuti oleh kegiatan-kegiatan pendukung lainnya sehingga kedaulatan pangan demi keadialan sosial masyarakat Indonesia dapat tercapai.</p>
<p align="justify">Kita lihat saja nanti!</p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"> </p>
<p align="justify"> </p>
<p> </p>
<p></span></span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Efek baik berita tentang "gizi buruk" terhadap perilaku anak]]></title>
<link>http://didinsadidin.wordpress.com/?p=33</link>
<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 04:09:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>didinsadidin</dc:creator>
<guid>http://didinsadidin.wordpress.com/?p=33</guid>
<description><![CDATA[
250308
Laganya kaya ahli gizi aja aku ini&#8230;, pake ngomong soal gizi segala. Tapi apapun yang y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://didinsadidin.wordpress.com/files/2008/03/icon_bunga1.jpg" height="132" width="159" /></p>
<p>250308<br />
Laganya kaya ahli gizi aja aku ini..., pake ngomong soal gizi segala. Tapi apapun yang yang ada dalam tulisan ini hanya sedikit pengalaman semata. Hal yang buruk-buruk selalu sering muncul di televisi contohnya ada gizi buruk, ada cuaca buruk, dan yang paling parah dan merajalela ialah kinerja buruk menuju "be negative kalie" bangsa ini baru ntar ambil hikmahnya. Mendingan kalau mau dijadikan pelajaran untuk kedewasaan dan kematangan, itu juga kalau nasib buruk yang dialami dijadikan cambuk untuk bangkit dikemudian hari.<br />
<!--more--><br />
Langsung aja dech,... Pada suatu ketika aku dan anak-anakku lagi nonton news di televisi tiba-tiba ada berita buruk tentang "gizi buruk", yang ditayangkan kala itu ialah seorang anak penderita "gizi buruk" yang sangat parah di suatu daerah.<br />
Dengan menyaksikan hal tersebut membuat anak-anak gue tersentak dan ketakutan ketika melihat seorang anak kecil yang bernasib buruk yang lagi kejang-kejang dengan nafas yang tersendat-sendat.<br />
Tapi ada hikmah atau kebaikan buat anakku yang  saat itu anakku  yang punya selera makan buruk alias susah makan walaupun sudah dibujuk dan diapapun juga tetap susah makan. Tapi setelah melihat berita itu dan tentunya dengan penjelasan tentang penyebab penderita gizi buruk, akhirnya anakku jadi rakus makannya dan selalu bilang "takut gizi buruk", apalagi setelah beberapa hari kemudian dia melihat lagi anak penderita "gizi buruk" itu meninggal dunia.<br />
Tak susah sebenarnya memperingatkan anak supaya mau makan atau melakukan hal-hal tertentu, kita dapat mengambil pelajaran dari apapun juga tentu saja dengan penjelasan orang tua terhadap apa yang dilihatnya.<br />
Hidup di negara yang kaya mah tak seharusnya hari gini anak-anak bangsa menderita "gizi buruk", sungguh memperihatinkan kondisi bangsa ini.<br />
Himbauan buat yang kesehariannya bergelimang kemewahan, hura-hura dan kebingungan menginvestkan  uangnya, infaqkan sedikit dari harta yang dimiliki untuk berbagi karena harta tak akan dibawa mati. Dan jika harta anda di amalkan maka akan jadi amal sholeh yang akan menjadi bekal dikemudian hari. Amiin Ya Alloh.</p>
<p>Dinsa</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
