<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>fitrah-wanita &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/fitrah-wanita/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "fitrah-wanita"</description>
	<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 08:04:59 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga]]></title>
<link>http://wanita.wordpress.com/2007/12/18/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 03:23:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>adam</dc:creator>
<guid>http://wanita.wordpress.com/2007/12/18/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?</p>
<p>Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ’menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.<br />
<!--more--><br />
Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama ”Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk ”Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu ”sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan ”nasehat” dari bapak tercintanya: ”Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.</p>
<p><strong>Ibu Sebagai Seorang Pendidik</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al ’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:</p>
<p>”Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)</p>
<p>Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.</p>
<p><strong>Sebuah Tanggung Jawab</strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:</p>
<p>”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: ”Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.</p>
<p>Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu berkata, ”Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)</p>
<p>Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.</p>
<p>Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, ”Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)</p>
<p>Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.</p>
<p>Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:<br />
”dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)</p>
<p>Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), ”Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)</p>
<p>Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.</p>
<p><strong>Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih</strong></p>
<p>Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, ”Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab ”Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab ”Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, ”Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi ”pengen jadi Superman!”</p>
<p>Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. <em>Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?</em></p>
<p>Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.</p>
<p>Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka.<br />
<em>Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!</em></p>
<p>Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.</p>
<p>Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?</p>
<p>Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, <em>Siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?</em></p>
<p>Lalu…<br />
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ’cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?</p>
<p>Wallahu a’lam<br />
Sumber:  <a TITLE="Wanita Muslimah" TARGET="_blank" HREF="http://muslimah.or.id/2007/12/16/bangga-menjadi-ibu-rumah-tangga/">muslimah.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu!]]></title>
<link>http://wanita.wordpress.com/2007/11/01/saudariku-berjilbablah-sesuai-ajaran-nabimu/</link>
<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 02:54:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>adam</dc:creator>
<guid>http://wanita.wordpress.com/2007/11/01/saudariku-berjilbablah-sesuai-ajaran-nabimu/</guid>
<description><![CDATA[Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Alloh, Dz]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Alloh, Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek menurut Alloh. Alloh berfirman,</p>
<blockquote><p>Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allohlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216).</p></blockquote>
<p>Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.</p>
<p><!--more--><strong>Perintah dari Atas Langit</strong></p>
<p>Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at. Alloh berfirman,</p>
<blockquote><p>"Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59)</p></blockquote>
<p><strong>Ketentuan Jilbab Menurut Syari’at</strong></p>
<p>Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom) yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin.</p>
<p>1. Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (Lihat QS. Al Ahzab: 59, dan QS. An Nuur: 31). Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. (Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red).</p>
<p>2. Bukan busana perhiasan yang justeru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik!!!; ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin…</p>
<p>3. Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.</p>
<p>4. Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian.” (HR. Muslim). Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung ?! Wallohul musta’an.</p>
<p>5. Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori)</p>
<p>6. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.</p>
<p>7. Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini? Wallohul muwaffiq.</p>
<p>(Disarikan oleh Abu Mushlih dari Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wanita Ratu Rumah Tangga]]></title>
<link>http://wanita.wordpress.com/2007/11/01/wanita-ratu-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 02:51:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>adam</dc:creator>
<guid>http://wanita.wordpress.com/2007/11/01/wanita-ratu-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[ Penulis: Adika Abu Nu’man
Islam membelenggu wanita! Lihatlah, wanita tidak boleh keluar rumah! Ji]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> Penulis: Adika Abu Nu’man</p>
<blockquote><p>Islam membelenggu wanita! Lihatlah, wanita tidak boleh keluar rumah! Jika keluar, wanita harus menutup tubuhnya! Wanita pun hanya dinilai setengah laki-laki!</p></blockquote>
<p><strong>Benarkah Prasangka Tersebut ?</strong></p>
<p>Saat wanita dalam bencana, Islam datang mengangkat mereka. Ketika wanita tengah di penjara, Islam lah yang membebaskannya. Di saat wanita tidak dijamin hak-haknya, Islam memberikannya. Bahkan hak-hak wanita yang ditetapkan oleh Islam sangat banyak, lebih daripada kewajiban yang dibebankan kepadanya. Berbagai kewajiban yang berat-berat, telah dibebankan kepada laki-laki dan wanita telah dilepaskan dari beban yang berat ini. Meski demikian hak-hak yang diberikan Islam tidaklah mengorbankan fitroh wanita, melainkan dibingkai indah sehingga selaras dengan fitroh yang bersih. Sungguh, tiada aturan yang lebih baik dibandingkan aturan Islam.<br />
<!--more--><br />
<strong>Rumah Adalah Istana Kaum Wanita </strong></p>
<p>Di antara keagungan syariat Islam adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk dalam dunia laki-laki dan wanita. Islam menngatur bahwa laki-laki lah yang bertugas ke luar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan hak para istri atas kalian (suami) agar kalian memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim). Di sisi lain, Islam menempatkan wanita di dalam rumah untuk mengurusi anak, mempersiapkan keperluan suami, serta urusan rumah tangga lainnya. Tugas ini adalah tugas yang sangat mulia. Dari hasil didikan para wanita yang sholihah inilah terlahir generasi Islam yang shalih, tangguh dan taat kepada Alloh. Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hal ini dalam sabdanya yang mulia,</p>
<blockquote><p>"Dan wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (mutaffaqun alaihi)."</p></blockquote>
<p>Demikian juga Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,</p>
<blockquote><p>"Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.“ (Al Ahzab: 33)"</p></blockquote>
<p>Namun hal di atas tidaklah melazimkan wanita dilarang keluar rumah kalau memang ada sebuah keperluan yang harus dikerjakan di luar rumah, tentunya dengan tetap menjaga aturan yang telah ditetapkan Islam ketika wanita keluar rumah.</p>
<p><strong>Islam Menjaga Kehormatan dan Martabat Wanita</strong></p>
<p>Hal ini sangatlah jelas kalau kita mau merenungkan ayat berikut yang artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita–wanita yang baik–baik berbuat zina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka yang menuduh itu delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur: 4). Demikian pula ajaran agama Islam yang lainnya seperti perintah untuk berjilbab, larangan berbicara dengan suara mendayu-dayu, larangan memakai parfum ketika melewati pria, dan sebagainya. Semuanya adalah untuk menjaga kehormatan dan martabat wanita.</p>
<p><strong>Nasehat Ulama Untuk Para Wanita</strong></p>
<p>Syaikh Bin Baaz rohimahulloh mengatakan,</p>
<blockquote><p>"Tinggalnya wanita di rumah untuk mengerjakan tugas kewanitaanya, setelah dia mengerjakan kewajibannya pada Alloh adalah suatu hal yang sesuai dengan fitroh dan kodratnya. Hal ini akan mewujudkan kebaikan bagi pribadinya sendiri, masyarakat maupun generasi yang akan datang. Jika masih punya waktu luang maka bisa digunakan untuk bekerja yang sesuai dengan kodrat kewanitaan seperti mengajar wanita, mengobati dan merawat mereka serta pekerjaan lain yang semisalnya. Ini semua sudah cukup menyibukkan bagi seorang wanita dan akan bisa membantu kaum laki-laki dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Jangan lupa peran Ummahatul Mu’minin, mereka mengajarkan kebaikan (baca: ilmu agama) pada umat ini namun tetap disertai dengan hijab dan tidak bercampur dengan laki-laki…“</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keluarnya Wanita Dari Rumahnya]]></title>
<link>http://wanita.wordpress.com/2007/08/08/test/</link>
<pubDate>Wed, 08 Aug 2007 10:14:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>adam</dc:creator>
<guid>http://wanita.wordpress.com/2007/08/08/test/</guid>
<description><![CDATA[Judul Asli: Keluarnya Wanita Dari Rumahnya Untuk Menuntut Ilmu dan Bekerja Menurut Perspektif Al Qu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Judul Asli: Keluarnya Wanita Dari Rumahnya Untuk Menuntut Ilmu dan Bekerja Menurut Perspektif Al Qur'an dan As Sunnah.<br />
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</strong></p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia. Amma ba'du (adapun sesudah itu).</p>
<p>Ada seorang muslimah yang ingin menjadi isteri dan anak yang shalihah akan tetapi kini dia tengah kebingungan, di satu sisi saat ini wanita sangat dibutuhkan di rumah, tapi di sisi lain mereka juga sangat dibutuhkan di luar rumah. Sebagai contoh, ustadzah yang diundang untuk mengisi kajian di suatu majelis, itu bagaimana? Bukankah itu juga keluar rumah? Lalu bagaimana dengan menuntut ilmu di bangku kuliah. Bukankah itu juga terjadi campur baur. Muslimah itu kini sedang menempuh studinya di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta. Dia ingin meneruskan cita-cita ayahnya yang tertunda untuk menjadi seorang enterpreneur, tanpa meninggalkan tugasnya sebagai isteri jika telah menikah kelak. Bagaimanakah solusinya? (disadur dari pertanyaan akhwat tersebut).<!--more--></p>
<p>Setelah membaca pertanyaan tersebut, seolah-olah beban yang sangat berat berada di pundak penulis. Hal ini disebabkan permasalahan yang ditanyakan merupakan musibah besar yang cukup pelik dan ironisnya hal itu melanda banyak kaum muslimah di negeri kita ini, wallaahul musta'aan (Allah lah tempat kita meminta pertolongan).</p>
<p>Maka dengan memohon pertolongan dari Allah Ta'ala yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, kami akan menguraikan permasalahan ini satu persatu menurut pandangan Al Qur'an dan As Sunnah dengan penjelasan para ulama', semoga Allah berkenan membukakan hati kita untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya.</p>
<p>Pembahasan ini terdiri dari beberapa bagian yang terkait satu sama lain, ada pembahasan lain yang kami angkat di sini meskipun hal itu tidak ditanyakan. Hal ini kami pandang perlu karena perkara tersebut telah banyak dilanggar oleh saudari-saudari kami -semoga Allah memberi taufiq kepada kita dan mereka-.</p>
<p><strong>Syari'at Allah Yang Mahabijaksana Penuh Dengan Kasih Sayang</strong></p>
<p>Sesungguhnya salah satu akidah Islam yang kita tidak boleh sedikitpun memendam keraguan tentangnya adalah bahwasanya syari'at yang diturunkan oleh Allah kepada ummat manusia adalah aturan yang telah sempurna yang akan menyelamatkan mereka dari kebinasaan dunia dan akhirat.</p>
<p>Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Ku cukupkan nikmat-Ku atasmu dan Aku telah ridha Islam menjadi agama bagimu." (Al Maa'idah: 3)</p>
<p>Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, "Tidaklah tersisa sesuatu pun yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah diterangkan kepada kalian." (HR. Ath Thabrani, sanadnya shahih, lihat ‘Ilmu Ushul Bida' karya Syaikh Ali Hasan hafizhahullah)</p>
<p>Dan merupakan keyakinan kita pula bahwa syari'at Islam bukan dibuat oleh manusia, akan tetapi dia bersumber dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui segala perkara yang bermanfaat dan yang membahayakan hamba-hamba-Nya. Syari'at yang diwahyukan-Nya kepada manusia terbaik sepanjang perjalanan hidup manusia, seorang Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, seorang Rasul yang berbicara dengan bimbingan wahyu dan tidak bersumber dari hawa nafsunya.</p>
<p>Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (An Najm: 1-4)</p>
<p>Sehingga meninggalkan bimbingan Allah dan Rasul-Nya merupakan tindakan membodohi diri yang akan melemparkannya ke lembah kesesatan dan kemudian menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran.</p>
<p>Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Dan tidaklah pantas bagi laki-laki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara lalu mereka memiliki pilihan lain. Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata." (Al Ahzab: 36)</p>
<p>Maka kami mengajak diri kami pribadi dan segenap kaum muslimah yang bercita-cita untuk menjadi wanita shalihah untuk bersemangat dalam mempelajari ilmu syar'i dan mengamalkannya, mempelajari Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih (generasi pendahulu yang shalih) supaya bisa mengeluarkan diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita dari kegelapan syirik dan kekufuran menuju cahaya tauhid dan keimanan; dari kegelapan bid'ah dan kesesatan menuju cahaya sunnah dan hidayah; dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan. Percayalah wahai saudariku, tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari kesesatan di dunia dan siksa pedih api neraka kecuali kecuali dengan ketakwaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.</p>
<p>Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-Rasul-Nya, maka kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya." (Ath Thalaq: 8-11)</p>
<p><strong>Perintah Untuk Tetap di Rumah</strong></p>
<p>Saudariku, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada segenap wanita beriman untuk lebih banyak tinggal di rumah-rumah mereka, dan supaya tidak keluar kecuali ada kebutuhan yang memaksanya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Dan tinggallah kalian tetap di rumah dan jangan berhias dan bertingkahlaku (tabarruj) seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaaikanlah zakat dan tatilah Allah dan Rasul-Nya." (Al Ahzab: 33)</p>
<p>Syaikh As Sa'di rahimahullah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, "Hendaklah kamu tetap di rumahmu -artinya tetaplah di dalamnya, karena hal itu lebih menyelamatkan dan menjagamu- Dan jangan berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu -artinya janganlah kamu (wahai kaum wanita) memperbanyak keluar rumah dalam keadaan bersolek atau memakai harum-haruman seperti kebiasaan wanita-wanita jahiliyah dahulu yang sama sekali tidak berilmu dan tidak kenal agama, maka perintah ini semua turun dalam rangka menolak kejelekan dan penyebab-penyebabnya..." (Taisir Al Karim Ar Rahman cet. Muassasah Ar Risalah hlm. 668)</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah setelah membawakan ayat di atas beliau pun membawakan beberapa riwayat yang menerangkan maksud ayat ini, kami nukilkan sebagiannya. Beliau berkata: Hendaknya kamu tetap tinggal di rumahmu- artinya hendaknya kamu senantiasa tinggal di rumahmu, jangan keluar tanpa ada keperluan; di antara keperluan yang syar'i adalah (keluar rumah) untuk mengerjakan shalat di masjid asalkan syaratnya terpenuhi yaitu sebgaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Janganlah kamu larang hamba-hamba Allah (wanita) untuk mendatangi masjid-masjid Allah, akan tetapi hendaknya mereka keluar (rumah) dalam keadaan tidak memakai wewangian." (HR. Al Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain beliau bersabda, "Rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka"...</p>
<p>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, "Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaithan akan menghias-hiasinya dan wanita yang paling dekat dengan rahmat Rabbnya adalah yang berada di dalam rumahnya." (HR. Tiridzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jaami' 6690)... (lihat Tafsir Al Qur'an Al ‘Azhim cet. Maktabah Taufiqiyah hlm. 245-246).</p>
<p>Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:</p>
<p>1. Pada asalnya wanita memang harus lebih banyak beraktivitas di dalam rumahnya, sehingga dia tidak diperkenankan keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat, seperti untuk shalat berjama'ah di masjid, shalat Ied di lapangan, berobat, menuntut ilmu, berbelanja dan lain sebagainya.<br />
2. Apabila ada keperluan yang menuntut untuk keluar rumah maka ada adab-adab yang harus diperhatikan oleh muslimah (akan kami sebutkan hal itu sebentar lagi, insya Allah).<br />
3. Turunnya perintah ini semata-mata bertujuan untuk menjaga dan memelihara kehormatan, keselamatan dan kesucian kaum wanita serta membentengi mereka dari berbagai kejelekan serta menutup celah-celah yang menjurus ke sana. Maka ingatlah wahai saudariku, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya tinggalnya seorang wanita di rumahnya itu merupakan ibadah dan ketaatan kepada Allah yang engkau akan memperoleh pahala yang besar apabila engkau melaksanakannya ikhlash karena-Nya, betapa indahnya syari'at Islam ini sampai-sampai detik-detik yang kau lalui di rumahmu itu bernilai pahala bagimu... Subhaanallaah! Ingatlah wahai saudariku, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya tinggalnya wanita di rumahnya merupakan syari'at Rabbaniyah yag diturunkan dari sisi Dzat yang Mahabijaksana lagi Maha mengetahui yang nampak maupun yang tersembunyi...(disadur dari Nashihati li Nisaa' karya putri Syaikh Muqbil; Ummu ‘Abdillah Al Wadi'iyah cet. Daarul Haramain hlm. 101)</p>
<p><strong>Adab Wanita Keluar Rumah</strong></p>
<p>Berikut ini beberapa adab yang harus diperhatikan oleh kaum wanita apabila mereka keluar rumah agar langkah-langkah yang mereka ayunkan tidak membuahkan petaka dan murka Ar Rahman serta penyesalan di hari kemudian. Adab-adab ini dihimpun dari nash-nash Al Qur'an dan As Sunnah beserta keterangan atau kesimpulan para ulama':</p>
<p>1. Mengenakan jilbab sesuai tuntunan syari'at (penjelasannya akan disebutkan sebentar lagi insya Allah).<br />
2. Tidak memakai harum-haruman.<br />
3. Merendahkan suara langkah kakinya agar bunyi sandalnya tidak terdengar. (lihat QS. An Nuur: 31).<br />
4. Apabila seorang wanita pergi bersama saudarinya, sementara di sekitar itu terdapat beberapa orang lelaki maka jangan berbincang-bincang dengan saudarinya, ini bukan berarti suara wanita termasuk aurat, akan tetapi terkadang ketika kaum lelaki mendengar suara wanita hal itu dapat menimbulkan fitnah/godaan (di dalam hatinya).<br />
5. Apabila dia telah bersuami maka harus seizinnya.<br />
6. Apabila perjalanan yang ditempuhnya termasuk kategori safar maka harus ditemani oleh mahramnya (contoh: ayahnya, kakak kandungnya yang laki-laki, dsb).<br />
7. Tidak boleh berdesak-desakan dengan kaum lelaki.<br />
8. Senantiasa menghiasi diri dengan rasa malu.<br />
9. Menundukkan pandangan (terhadap lawan jenis).<br />
10. Tidak menanggalkan pakaian lapis luarnya selain di rumah suaminya apabila hal itu ditujukan untuk ber-tabarruj (bersolek), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya (lihat Nashihati li Nisaa' karya putri Syaikh Muqbil; Ummu ‘Abdillah Al Wadi'iyah cet. Daarul Haramain hlm. 99-100).</p>
<p>Maka perhatikanlah pakaianmu, pakaian saudari-saudarimu yang hampir setiap hari keluar rumah dengan tidak memperdulikan adab-adab islami ini, Subhaanallaah... <strong>demikiankah cara kalian berterimakasih terhadap Allah yang telah menciptakan kalian?</strong>, Rabb yang telah menganugerahkan rizki dari langit dan bumi untuk kalian?? Belum lagi tingkah laku mereka yang rela memajang kecantikannya di depan para lelaki yang bukan mahramnya, ditambah parfum yang melekat di badan mereka menusuk hidung dan diumbar dimana-mana... tanpa rasa malu! Innaa lillaahi wa innnaa ilaihi raaji'uun, Ya Rabbi ampunilah kami...</p>
<p><strong>Kini Saatnya Berjilbab Sesuai Syari'at</strong></p>
<p>Saudariku, mumpung pintu taubat masih terbuka lebar, maka marilah kita perbaiki diri kita untuk meraih keridhaan Allah dan menghindarkan diri dari murka-Nya. Ingatlah bahwa perintah berjilbab itu datang dari Dzat yang Mahabijaksana lagi Mengetahui segala maslahat dan bahaya yang akan menimpa seorang hamba. Marilah kita simak dengan seksama ayat yang diturunkan Allah untuk melindungi kesucian dan kehormatan kaum wanita.</p>
<p>Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang." (Al Ahzab: 59)</p>
<p>Kata ‘jilbab' jamaknya ‘jalaabib', yaitu pakaian yang menutup seluruh tubuh dari kepala sampai kaki; atau menutup sebagian besar tubuh, dan dipakai di bagian luar sekali seperti halnya baju hujan. Jilbab mempunyai syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Mujaddid Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah dalam bukunya Jilbab Al Mar'ah Al Muslimah yaitu:</p>
<p>1. Menutup seluruh badan selain yang dikecualikan (yaitu muka dan telapak tangan, menurut pendapat yang lebih kuat/rajih).<br />
2. Tidak untuk berhias, atau tidak terdapat hiasan pada pakaian itu sendiri.<br />
3. Kainnya harus tebal, tidak boleh tipis.<br />
4. Kainnya harus longgar, tidak ketat.<br />
5. Tidak diberi wewangian atau parfum.<br />
6. Tidak menyerupai pakaian lelaki.<br />
7. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.<br />
8. Tidak untuk mencari popularitas/libas syuhrah.</p>
<p>Bagi yang hendak meneliti dan membaca lebih dalam tentang masalah ini maka kami sangat menganjurkan para muslimah agar membaca kitab beliau tersebut, dan kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh beberapa penerbit dengan judul Jilbab Wanita Muslimah atau judul yang senada. (Lihat juga Ensiklopedi Wanita Muslimah karya Haya binti Mubarak Al Barik, penerbit Darul Falah, hlm. 149-151)</p>
<p><strong>Menuntut Ilmu Adalah Wajib</strong></p>
<p>Setelah kita mengetahui bahwa apabila seorang muslimah keluar dari rumahnya harus memenuhi adab-adab islami dan menggunakan busana yang syar'i, maka ini bukan berarti menjadi penghalang bagi saudari-saudari kami yang rindu menjadi wanita shalihah untuk menuntut ilmu syar'i, ilmu Al Qur'an dan As Sunnah, sebab kewajiban menuntut ilmu adalah kewajiban pertama bagi setiap hamba -baik laki-laki maupun perempuan- yang harus didahulukan sebelum seseorang berkata dan beramal, bahkan sebelum berakidah!!</p>
<p>Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (yang haq) kecuali Allah, dan mohon ampunlah atas dosa-dosamu." (Muhammad: 19). Berdasarkan ayat ini Al Imam Al Bukhari rahimahullah membuat sebuab bab di dalam kitab Shahihnya dengan judul: Bab Al ‘Ilmu qablal Qaul wal ‘Amal (Ilmu itu harus didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan).</p>
<p>Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara atas dasar wahyu pun telah menegaskan kewajiban ini di dalam sabdanya, "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim." (diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam Musnad-nya no. 2837, dan para imam yang lain, dishahihkan Al Albani dalam Takhrij Ahaadits Musykilatul Faqr, lihat Hushulul Ma'mul karya Syaikh Abdullah Al Fauzan hlm. 13).</p>
<p>Ilmu yang wajib dituntut setiap individu adalah ilmu syar'i yang harus diketahui setiap muslim (yang hukumnya fardhu ‘ain) yaitu segala ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf (orang yang sudah terbebani aturan syari'at) dalam urusan agamanya, semacam dasar-dasar keimanan dan pokok-pokok syari'at Islam, dan (ilmu tentang) segala keharaman yang wajib dijauhinya, dan apa-apa yang dibutuhkannya dalam bermua'amalah dan semacamnya yang tergolong perkara yang menjadi sarana terwujudnya suatu kewajiban maka wajib pula hukumnya mempelajarinya.</p>
<p>Imam Ahmad mengatakan: "Wajib hukumnya (seorang hamba) menuntut ilmu yang bisa menegakkan agamanya", maka beliau pun ditanya: "Contohnya apa?" Beliau menjawab, "Yaitu perkara yang tidak boleh dia bodoh tentangnya: (seperti) shalatnya, puasanya dan sebagainya." Dan di antara ilmu yang paling wajib dipelajari oleh setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah ilmu mengenali Rabb Yang patut disembah olehnya, mengenal Nabinya dan mengenal agamanya sebab setiap orang akan ditanya tentangnya di alam kubur nanti.</p>
<p>Inilah yang mendorong Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah untuk menulis sebuah kitab yang sangat bagus berjudul Tsalatsatul Ushul (Tiga Landasan Utama) maka kami menghimbau kepada saudari-saudari kami yang rindu menjadi wanita shalihah untuk membaca dan mempelajari buku menarik yang sudah banyak terjemahannya ini...</p>
<p>Semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua untuk istiqamah menuntut ilmu syar'i, sambutlah surga wahai saudariku... karena Allah Jalla Jalaaluhu telah membentangkan jalan kemudahan bagimu untuk meraihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu (agama) niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim) (Disadur dengan penambahan, dari Hushulul Ma'mul karya Syaikh Abdullah Al Fauzan hlm. 12-13).</p>
<p>Saudariku, rasa malu merupakan bagian keimanan, karena orang yang tidak punya rasa malu niscaya akan berbuat semaunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya salah satu ajaran kenabian yang pertama yang didapatkan oleh manusia adalah, ‘Apabila kamu tidak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu'." (HR. Al Bukhari).</p>
<p>Akan tetapi rasa malu tidaklah menghalangi seorang muslimah untuk menuntut ilmu syar'i. Sebagaimana sebuah kisah teladan yang amat menarik yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya: Dari Ummu Salamah radhiyallahu'anha, beliau berkata, ‘Ummu Sulaim pernah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu menyampaikan kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila mimpi basah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, "Ya, apabila dia melihat air maninya" Maka Ummu Salamah menutupi wajahnya dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah perempuan juga mengalami mimpi basah (sehingga keluar mani)?" Beliau menjawab, "Ya, tentu saja, taribat yadaak (arti letterlux-nya: tanganmu penuh debu, maksud beliau ialah menyayangkan perkataan Ummu Salamah, Wallaahu a'lam), ...kalau tidak, lantas darimanakah asal kemiripan anak dengan ibunya?" (lihat Nashihati li Nisaa' hlm. 188).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: "Bolehkah bagi wanita untuk menghadiri majelis ta'lim dan pelajaran fikih yang diadakan di masjid-masjid?"</p>
<p>Beliau menjawab: Boleh bagi wanita untuk menghadiri majelis ta'lim, baik itu berupa pelajaran fikih hukum atau fikih akidah atau tauhid, dengan syarat tidak boleh menggunakan wewangian atau bersolek, dan harus berjauhan dari laki-laki dan tidak bercampurbaur dengan mereka, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sebaik-baik barisan wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling buruk adalah yang paling depan." (HR. Tirmidzi). Hal tersebut karena barisan yang paling depan paling dekat dengan laki-laki daripada barisan yang paling belakang, sehingga barisan paling akhir lebih baik daripada barisan depan. (Fatawal Mar'ah, 1/102, dinukil dari Fatwa-Fatwa Tentang Wanita jilid 3 hal. 275).</p>
<p><strong>Muslimah Duduk di Bangku Kuliah, Bolehkah?</strong></p>
<p>Kini jelaslah bagi kita bahwa ilmu yang dimaksud dalam dalil Al Qur'an maupun As Sunnah yang wajib kita tuntut adalah ilmu syar'i. Dan telah jelas pula bagi kita bahwa pada asalnya seorang wanita muslimah itu harus lebih banyak beraktifitas membina keluarga di rumah dan mempersiapkan dirinya agar bisa menjadi isteri yang shalihah dan menjadi ibu yang penuh kasih sayang yang mampu mendidik anak-anaknya agar bisa menjadi generasi penerus yang unggul, yang menjadi harapan ummat di masa depan.</p>
<p>Lalu bagaimanakah kalau ada di antara muslimah -bahkan realita sekarang ini banyak sekali jumlahnya- yang begitu berkeinginan menempuh studi di bangku kuliah-kuliah umum. Maka kami katakan, masuknya para muslimah berbondong-bondong ke berbagai perguruan tinggi umum baik negeri maupun swasta adalah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri pada masa ini. Yang apabila kita cermati ternyata banyak sekali kemunkaran yang kita jumpai di kebanyakan perguruan tinggi tersebut, sebutlah contoh di antaranya; ikhtilath (campur baur pria dan wanita).</p>
<p>Padahal bercampurbaurnya lelaki dan perempuan merupakan sumber fitnah (bencana), oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan berbagai upaya demi menutup pintu fitnah ini. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, "Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila sudah selesai mengucapkan salam (sesudah shalat) maka para wanita berdiri setelah beliau menyelesaikan salamnya, dan beliaupun berdiri sebentar di posisinya sebelum berdiri. Kami berpendapat hal itu beliau lakukan agar kaum wanita bisa pulang sebelum sempat ada seorang lelaki pun yang berpapasan dengan mereka." (lihat Nashihati li Nisa' hlm. 119-120).</p>
<p>Beliau juga bersabda, "Sebaik-baik shaf kaum lelaki adalah yang paling depan dan shaf yang paling buruk adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaf kaum perempuan adalah yang paling belakang dan shaf yang paling buruk adalah yang terdepan." (HR. Tirmidzi). Perhatikanlah, hal ini beliau lakukan di sebuah tempat suci yaitu masjid, yang orang tidak akan sembrono bertindak yang bukan-bukan, lalu bagaimana lagi di tempat-tempat umum yang diliputi suasana keduniaan, pikirkanlah...</p>
<p>Itu salah satu contoh. Dan kita memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita selama ini. Lantas bagaimana, apakah kita akan mengajak seluruh wanita muslimah yang kuliah di berbagai perguruan tinggi yang di situ terjadi ikhtilath untuk keluar dan menghentikan studi mereka? Sebelumnya kita harus berpikir dengan jernih dalam menyikapi permasalahan ini, agar tindakan yang diambil nantinya tidak justru membuahkan kemungkaran yang juga tidak kalah besarnya yaitu jauhnya kaum muslimah dari bimbingan ilmu syar'i karena aksi keluar kuliah. Kenapa demikian?</p>
<p>Mari kita cermati, bukankah banyak di antara kaum muslimah, saudari-saudari kita yang bisa mereguk ilmu syar'i dengan menghadiri kajian-kajian di sekitar kampus dan justru menjadi kesulitan dan menemui berbagai hambatan kalau harus keluar dan pulang ke rumahnya yang jauh dari ta'lim (pengajian -ed) dan bahkan jauh dari toko buku-buku Islam dan sarana menuntut ilmu yang lainnya. Oleh karena itu kami menasihatkan kepada diri kami pribadi dan para akhwat sekalian untuk bertakwa kepada Allah sepenuh kemampuan kita masing-masing. Allah Ta'ala berfirman, yang artinya "Maka bertakwalah kepada Allah sepenuh kemampuan kalian."</p>
<p>Sekali lagi di sini kami menghimbau kepada para akhwat sekalian agar berpikir jernih dan bertanya serta berkonsultasi langsung kepada ahli ilmu atau para ustadz dalam perincian masalah ini agar keputusan yang diambil merupakan keputusan terbaik yang akan mendatangkan manfaat bagi ukhti sekalian. Di sini perlu kami ingatkan bahwa kondisi perkuliahan di kampus itu berlainan, ada fakultas yang memang di situ kaum wanita sangat diperlukan, seperti di kedokteran, kebidanan dan keperawatan, yaitu dalam rangka menangani pasien-pasien wanita. Ada pula fakultas yang di situ kaum wanita (begitu pula pria) bahkan mendapatkan ancaman besar rusak agamanya, seperti kuliah di filsafat. Maka jawaban untuk permasalahan ini butuh perincian yang harus dibicarakan dengan pertimbangan yang matang. Wallaahu a'lam bish shawaab.</p>
<p><strong>Bolehkah Wanita Bekerja ?</strong></p>
<p>Sekarang kan zamannya emansipasi, kaum wanita boleh-boleh saja terjun di dunia kerja bersaing bersama kaum pria! Barangkali para pembaca yang budiman akan mendapati komentar semacam itu di tengah-tengah masyarakat. Bahkan lebih parah dari itu, ada sebagian kaum wanita yang sudah nekat menggeluti berbagai macam bidang yang sebenarnya tak pantas merka sentuh, seperti tinju, sepak bola, angkat besi, di sisi lain ada pula yang aktif terjun alam demonstrasi dan demokrasi menjadi ‘bintang jalanan' dan ikut berebut kursi di pemerintahan, dan yang lebih parah dari itu yang terjun dalam dunia entertainment/hiburan sebagai bintang film atau sinetron yang rajin mengobral kecantikan di layar kaca, ... yang dengan bangga mereka berkata ‘ini adalah ekspresi seni, inilah wujud kemajuan wanita modern' [?!] Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji'uun, ini adalah musibah besar bagi ummat Islam yang amat sedikit orang yang menangisi dan berkabung karenanya, ini bukan kemajuan tapi kemunduran bahkan kejatuhan kemuliaan ummat Islam!!!</p>
<p>Maka sebenarnya setiap orang muslim yang masih beres akidahnya tentu tidak akan mengatakan dan bersikap sebagaimana mereka yang sudah terbuai dengan mimpi-mimpi barat, sebab seruan yang mengajak para muslimah keluar dari rumahnya dan ikut terjun di lapangan kerja yang bercampurbaur antara lelaki dengan wanita adalah seruan orang-orang barat yang kafir, sebuah seruan yang dipoles sedemikian rupa agar merdu terdengar namun pada hakikatnya menjauhkan muslimah dari jati dirinya sebagai sosok wanita shalihah yang tekun dan sabar membina diri dan rumah tangganya. Ini bukan berarti kami menyatakan bahwa wanita dilarang bekerja, namun kenyataan yang sangat memprihatinkan di atas adalah satu hal yang harus kita perbaiki bersama-sama, Bukankah seorang putri jelita akan menjadi hina dan terancam kesuciannya apabila kita tempatkan di sebuah gubuk reyot di tengah hutan yang dikelilingi srigala dan binatang-biatang buas lainnya?? Renungkanlah wahai saudari-saudariku...</p>
<p>Berikut ini kami sampaikan kepada ukhti sekalian sebuah fatwa yang berkenaan dengan hal ini.</p>
<p>Pertanyaan 892:<br />
Lajnah Da'imah lil Ifta' (Komite tetap untuk fatwa di Saudi Arabia) ditanya: "Apa hukum wanita yang bekerja? Dan lapangan pekerjaan apa saja yang diperbolehkan bagi seorang wanita bekerja di dalamnya?"</p>
<p>Jawaban:<br />
Tidak seorang pun yang berselisih bahwa wanita berhak bekerja, akan tetapi pembicaraan hanya berkisar tentang lapangan pekerjaan apa yang layak bagi seorang wanita, dan penjelasannya sebagai berikut:</p>
<p>Ia berhak mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan oleh wanita biasa lainnya di rumah suaminya dan keluarganya seperti memasak, membuat adonan kue, membuat roti, menyapu, mencuci pakaian, dan bermacam-macam pelayanan lainnya serta pekerjaan bersama yang sesuai dengannya dalam berumah tangga. Ia juga berhak mengajar, berjual beli, menenun kain, membuat batik, memintal, menjahit dan semisalnya apabila tidak mendorong pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh syara' seperti berduaan dengan selain mahram atau bercampur dengan laki-laki lain, yang mengakibatkan fitnah atau menyebabkan ia meninggalkan hal-hal yang harus dilakukannya terhadap keluarganya, atau menyebabkan ia tidak mematuhi perintah orang yang harus dipatuhinya dan tanpa ridha mereka (Majallatul Buhuts Al Islamiyah 19/160, dinukil dari Fatwa-Fatwa Tentang Wanita Jilid 3 hlm. 168).</p>
<p><strong>Lahan Pekerjaan Yang Cocok Bagi Wanita</strong></p>
<p>Salah satu prinsip utama yang dipegang oleh Islam adalah keadilan dan hikmah, yaitu menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Begitu pula dalam masalah memilih lahan pekerjaan yang tepat bagi kaum wanita. Di sini kami nukilkan sebuah fatwa yang semoga bisa menjawabnya dan menjadi bahan pertimbangan bagi saudari-saudari kami yang rindu menjadi wanita shalihah.</p>
<p>Pertanyaan ke 891:<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya: "Apa lahan pekerjaan yang dibolehkan bagi perempuan muslimah yang mana ia bisa bekerja di dalamnya tanpa bertentangan dengan ajaran-ajaran agamanya?"</p>
<p>Jawaban:<br />
Lahan pekerjaan wanita adalah pekerjaan yang dikhususkan untuknya seperti pekerjaan mengajar anak-anak perempuan baik secara administratif maupun secara pribadi, pekerjaan menjahit pakaian wanita di rumahnya dan sebagainya. Adapun pekerjaan dalam lahan yang dikhususkan untuk orang laki-laki maka tidaklah diperbolehkan baginya untuk bekerja pada lahan tersebut yang akan mengundang ikhtilath sedangkan hal tersebut adalah fitnah yang besar yang harus dihindari. Perlu diketahui bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, "Saya tidaklah meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan." (Muttafaq ‘alaih). Maka seorang laki-laki harus menjauhkan keluarganya dari temat-tempat fitnah dan sebab-sebabnya dalam segala kondisi (Fatawa Al Mar'ah 1/103, dinukil dari Fatwa-Fatwa Tentang Wanita Jilid 3 hlm. 167, dengan sedikit perubahan).</p>
<p><strong>Hukum Wanita Bekerja di Luar Rumah</strong></p>
<p>Berikut ini kami nukilkan penjelasan seputar kendala yang harus dihadapi apabila wanita bekerja di luar rumah, dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bekerja di luar rumah itu pada dasarnya tidak boleh baginya, syarat apa saja yang harus dipenuhi apabila dia memang terpaksa harus bekerja di sana dan dampak yang muncul akibat wanita bekerja di luar rumahnya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.</p>
<p><strong>Kendala-Kendala Wanita Bekerja</strong></p>
<p>Pekerjaan wanita di luar rumah merupakan siksaan baginya, karena seorang wanita tidak bisa bekerja atau melakukan seperti yang dilakukan oleh kaum pria dalam banyak hal. Karena kondisi fisik wanita yang lemah, dan juga dia tidak memiliki kemampuan fisik seperti yang dimiliki seorang pria, bahkan dia di bawah seorang pria karena sebab-sebab sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Karena haid, pada waktu haid dia harus beristirahat, dan tidak boleh diberi beban berat agar tidak terjadi hal-hal yang menyangkut kesehatannya yang justru akan merusak dirinya dan mengganggu kelancarannya aktifitasnya.</li>
<li>  Karena hamil, pada waktu hamil seorang wanita merasakan berbagai kesulitan dan tubuhnya merasa lemah sehingga dia tidak mampu bekerja.</li>
<li>  Karena melahirkan dan nifas. Dalam kondisi tersebut, seorang wanita juga merasakan berbagai beban dan penderitaan, dia kehilangan darahnya. Oleh sebab itu pada saat demikian dia tidak boleh dibebani pekerjaan.</li>
<li>  Menyusui dan merawat anak. Selama dua tahun seorang ibu harus merawat anaknya (bayinya), selalu menyertainya, mengurusi segala kebutuhannya, dan mendidiknya, Dan disamping itu dia masih pula menangani banyak lagi pekerjaan ruumah demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup antara suami isteri serta anak-anaknya, dan jika hal ini dia tinggalkan, maka akan menjadi bencana bagi segenap keluarganya.</li>
<li>  Susunan tubuh. Tubuh seorang perempuan yang hamil, melahirkan anak, merawatnya serta menyusuinya, pastilah sangat berbeda dengan tubuh seorang lelaki yang tidak menanggung semua beban itu.</li>
</ol>
<p><strong>Beberapa Dalil Haramnya Wanita Bekerja di Luar Rumah</strong></p>
<ol>
<li>Kewajiban berhijab baginya seperti yang telah diterangkan di muka.</li>
<li> Haram ber-tabarruj dan menampakkan perhiasan dan bagian-bagian yang indah lainnya, sedangkan bekerja di luar rumah akan menyebabkan terjadinya tindakan seperti itu.</li>
<li> Haram baginya bercampur dengan lelaki yang bukan mahramnya, sedangkan bekerja di luar rumah sangat memungkinkan terjadinya hal itu.</li>
<li> Seorang perempuan adalah aurat dan intan permata yang indah yang harus dipelihara dan dijaga.</li>
<li> Seorang perempuan akan selalu disibukkan mengurus putra-putrinya, urusan rumahnya dan urusan suaminya, dan memang hal-hal demikian itulah yang sesuai dengan fitrah seorang wanita.</li>
</ol>
<p><strong>Syarat Wanita Bekerja di Luar Rumah</strong></p>
<p>Keterpaksaan (darurat) dilihat dari segi keurgensiannya. Oleh karena itu apabila seorang perempuan terpaksa harus bekerja di luar rumahnya, maka dia haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mendapatkan izin dari walinya, yaitu ayah atau suaminya untuk sebuah pekerjaan yang halal seperti menjadi tenaga pendidik para siswi, atau menjadi perawat khusus bagi pasien wanita.</li>
<li> Tidak bercampur dengan kaum laki-laki atau melakukan khalwat (berdua-duaan) dengan lelaki lain.</li>
<li> Tidak berlaku tabarruj dan menampakkan perhiasan yang dapat mengundang fitnah.</li>
<li> Tidak memakai wangi-wangian yang menyengat hidung atau parfum yang membangkitkan birahi seseorang.</li>
<li> Memakai hijab/jilbab menurut ketentuan syara'.</li>
</ol>
<p><strong>Dampak Wanita Bekerja di Luar Rumah</strong></p>
<ol>
<li>Menelantarkan putra-putrinya, mereka kurang mendapatkan kasih sayang, perawatan dan pendidikan langsung dari sang ibu.</li>
<li> Para wanita yang bekerja di luar rumah, pada umumnya sekarang ini berbaur dengan laki-laki, bahkan terkadang mereka ber-khalwat dengannya. Dan tindakan seperti itu sudah barang tentu haram hukumnya, mencoreng nama baiknya, meruntuhkan nilai moralnya dan sikap keagamaannya.</li>
<li> Para wanita yang bekerja di luar rumah, mereka pada umumnya melepas hijabnya, sering bepergian dan memakai parfum-parfum atau make-up yang dapat mengundang birahi kaum laki-laki atau menggoda mereka. Nabi bersabda, "Saya tidaklah meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan." (Muttafaq ‘alaih)</li>
<li> Perempuan yang bekerja di luar rumah, dapat kehilangan sifat dan naluri keperempuanannya, kehilangan kasih sayang kepada putranya disamping juga akan meruntuhkan sistem keluarga, tidak ada lagi keharmonisan dan saling tolong menolong di dalamnya.</li>
<li> Seorang wanita telah ditakdirkan mencintai perhiasan, memakai emas, pakaian-pakaian yang bagus dan lain sebaginya: maka jika dia keluar rumah untuk bekerja, ia akan bersikap boros karena banyaknya perhiasan dan pakaian serta asesoris lain yang dibelinya sehingga melebihi batas-batas keperluannya, maka ia pun termasuk orang yang berlaku israf (pemborosan) yang dilarang oleh agama. (Ensiklopedi Wanita Muslimah, Haya binti Mubarak Al Barik, Penerbit Darul Falah cet ke 12 Ramadhan 1424 H, hlm. 159-162, dengan sedikit perubahan).</li>
</ol>
<p>Demikianlah sekelumit penjelasan yang bisa kami nukilkan ke tengah para pembaca yang budiman, dan semoga bisa ini bisa menjadi acuan dalam mengatasi permasalahan serupa yang menimpa kaum muslimah di negeri kita, Ya Allah bimbinglah kami menuju surgamu yang indah dan peliharalah kami dari jalan-jalan yang akan mengantarkan kami ke dalam azab nerakamu yang amat pedih.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DUHAI PUTRIKU DENGARLAH NASEHAT AYAHMU…..]]></title>
<link>http://wanita.wordpress.com/2007/06/06/duhai-putriku-dengarlah-nasehat-ayahmu%e2%80%a6/</link>
<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 07:00:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>adam</dc:creator>
<guid>http://wanita.wordpress.com/2007/06/06/duhai-putriku-dengarlah-nasehat-ayahmu%e2%80%a6/</guid>
<description><![CDATA[Seorang ayah yang sangat peduli dengan kehormatan dan kesucian putri-putrinya juga kaum wanita musli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ayah yang sangat peduli dengan kehormatan dan kesucian putri-putrinya juga kaum wanita muslimah umumnya. Menulis untaian nasehat yang sarat dengan makna, nasehat dari seorang ayah yang tulus yang tidak menginginkan keburukan terjadi pada setiap putri muslimah, inilah dia nasehatnya…</p>
<p>Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri,dan berjumpa dengan banyak orang…Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari orang lain.<br />
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami tidak mengahasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.<br />
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.<br />
<!--more--><br />
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.<br />
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.<br />
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.<br />
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan! Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engkaulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.<br />
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.</p>
<p>Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial,kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.<br />
Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.<br />
Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.</p>
<p>Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?<br />
Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu?<br />
Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?</p>
<p>Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut di dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah. Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit. Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas,</p>
<p>Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong dilihat dari dua sebab :<br />
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.<br />
Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New york. Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?</p>
<p>Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.<br />
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisme, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.<br />
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan salain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.<br />
Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkan, persisnya seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.</p>
<p>Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun akan menjadi baik.(wallahul musta’an).<br />
Disarikan dari buku : Ya ibnati oleh Ali Thanthawi</p>
<p>Sumber: <a TITLE="pendidikanislam.or.id" TARGET="_blank" HREF="http://www.pendidikanislam.or.id">PendidikanISLAM.or.id </a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keistimewaan Wanita]]></title>
<link>http://wanita.wordpress.com/2006/02/09/keistimewaan-wanita/</link>
<pubDate>Thu, 09 Feb 2006 07:37:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>adam</dc:creator>
<guid>http://wanita.wordpress.com/2006/02/09/keistimewaan-wanita/</guid>
<description><![CDATA[Wanita dengan fitrahnya yang khas memiliki keistimewaan sebagai berikut:
1. Doa wanita lebih makbul ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita dengan fitrahnya yang khas memiliki keistimewaan sebagai berikut:<br />
1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki krn sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki.<br />
Ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda :<br />
"Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."</p>
<p>2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.</p>
<p>3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis kerana takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T.<br />
akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.</p>
<p>4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak<br />
perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S.</p>
<p>5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di<br />
dalam syurga.<!--more--></p>
<p>6. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka<br />
dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.</p>
<p>7. Daripada Aisyah r.a. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang<br />
baginya daripada api neraka.</p>
<p>8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.</p>
<p>9. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.</p>
<p>10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak<br />
dihisab.</p>
<p>11. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya<br />
dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).</p>
<p>12. Aisyah r.a. berkata "Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W., siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ? Jawab baginda, "Suaminya." "Siapa pula berhak terhadap lelaki ?" Jawab Rasulullah S.A.W. "Ibunya."</p>
<p>13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang<br />
dia kehendaki.</p>
<p>14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).</p>
<p>15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan<br />
menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.</p>
<p>16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.</p>
<p>17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.</p>
<p>18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.</p>
<p>19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas<br />
untuk membela agama Allah S.W.T.</p>
<p>20. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.</p>
<p>21. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk dari pada 1,000 lelaki yang jahat.</p>
<p>22. 2 rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang<br />
tidak hamil.</p>
<p>23. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (ASI)akan dapat satu<br />
pahala dari pada tiap-tiap tetes susu yang diberikannya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fungsi wanita bukan sekadar seorang isteri-ibu]]></title>
<link>http://wanita.wordpress.com/2006/02/09/fungsi-wanita-bukan-sekadar-seorang-isteri-ibu/</link>
<pubDate>Thu, 09 Feb 2006 07:24:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>adam</dc:creator>
<guid>http://wanita.wordpress.com/2006/02/09/fungsi-wanita-bukan-sekadar-seorang-isteri-ibu/</guid>
<description><![CDATA[WANITA kerap dikaitkan dengan pelbagai peranan penting dalam menjamin keharmonian rumah tangga, masy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><!--Entry List Generator (Head Script) End-->WANITA kerap dikaitkan dengan pelbagai peranan penting dalam menjamin keharmonian rumah tangga, masyarakat dan negara. Namun, hakikatnya, sama ada kita sadar atau tidak, peranan yang dikhususkan kepada wanita itu diselewengkan sehingga menimbulkan berbagai kesan buruk.Ini terbukti dengan bertambahnya jumlah wanita yang rusak akhlak, banyaknya kasus perceraian, serta berleluasanya perbuatan kriminal yang dilakukan oleh anak muda akibat daripada salah asuhan atau pengaruh lingkungan. Fenomena ini sewajarnya dipandang serius karena keutuhan masyarakat pada masa akan datang banyak bergantung kepada sejauh mana wanita menangani permasalahan ini secara bijaksana.</p>
<p><b>Peranan utama wanita</b></p>
<p>Firman Allah bermaksud: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Surah Adz-Dzaariyat, ayat 56).</p>
<p>Ayat di atas jelas menunjukkan bahawa peranan atau tanggungjawab utama wanita adalah sama dengan lelaki yaitu mengabdikan diri kepada Allah. Adalah menjadi kewajipan wanita Muslim untuk berusaha sebaik mungkin agar dapat menjadi seorang insan yang tunduk dan patuh kepada-Nya, semata-mata dengan melaksanakan segala perintah Allah dan rasul-Nya. Mereka juga hendaklah menjauhi segala perkara yang ditegah.<!--more--></p>
<p>Kekuatan iman yang jitu adalah aset terpenting bagi seorang wanita agar menjadi benteng bagi mengharungi sebarang bentuk cabaran.</p>
<p><b> Wanita dan keluarga/rumah tangga</b></p>
<p>Peranan wanita dalam keluarga atau rumah tangga adalah amanah yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya, yang bermaksud:</p>
<p>“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah an-Nisaa’, ayat 58)</p>
<p>Dalam sesebuah rumah tangga, dua peranan utama yang sewajarnya dimainkan oleh seseorang wanita iaitu sebagai isteri dan ibu. Seorang isteri sentiasa mendampingi suaminya sama ada dalam keadaan susah atau senang. Ibu pula terbabit secara langsung dalam memberi pendidikan kepada anak-anak serta menjaga hal ehwal rumah tangga dengan bantuan suami.</p>
<p><b>Wanita dan pekerjaan</b></p>
<p>Islam membenarkan wanita keluar bekerja berdasarkan kepada keperluan seperti ketika ketiadaan suami, ketidakupayaan suami atau bekerja dalam jawatan yang memerlukan khidmat wanita seperti doktor, tenaga pengajar kepada kaum wanita serta bidang lain yang bersesuaian.</p>
<p>Bagaimanapun menurut Islam, keharusan wanita untuk keluar bekerja mestilah mengikut batas syarak iaitu:</p>
<p>Kerja itu mesti bersesuaian dengan sifat kewanitaan.</p>
<p>Kerja itu tidak menjejaskan peranannya sebagai isteri dan ibu</p>
<p>Bertujuan murni sama ada untuk membantu keluarga atau menyampaikan kesedaran Islam kepada wanita lain</p>
<p>Sentiasa memelihara kehendak syarak seperti menutup aurat.</p>
<p>Sentiasa menjaga tata susila dan terhindar daripada berlakunya pergaulan bebas dengan lelaki.</p>
<p>Mendapat restu daripada penjaga, bapa atau suami.</p>
<p>Mengelak daripada melakukan perkara yang boleh membawa fitnah sama ada dari segi tindakan, cara berpakaian atau mengenakan perhiasan.</p>
<p>Apa yang pasti dengan keluarnya wanita bekerja tidak akan mengubah atau mengabaikan tanggungjawabnya utama sebagai serikandi dan bidadari dalam rumah tangga.</p>
<p><b>Wanita dan tanggungjawab sosial</b></p>
<p>Apabila memperkatakan peranan dan sumbangan wanita dalam pembangunan masyarakat dan negara, sejarah membuktikan bahawa sejak zaman Rasulullah, wanita secara aktif memainkan peranan mengikut batas ditetapkan. Misalnya, wanita bersama-sama lelaki mempelajari ilmu dan petunjuk Islam. Ada di antara mereka meriwayatkan hadis, bahkan Saidatina Aishah menunjukkan ketokohannya sebagai seorang yang mencapai kedudukan ilmu tinggi, sehingga sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Osman bertanya kepadanya mengenai ilmu faraid.</p>
<p>Wanita juga berperanan sama dengan lelaki dalam usaha membendung keburukan yang berlaku dalam masyarakat kerana ini adalah tanggungjawab setiap Islam.</p>
<p>Firman Allah bermaksud: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah daripada yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Surah Ali Imran, ayat 110).</p>
<p>Kepincangan dan kebejatan, terutama di kalangan muda-mudi hari ini sewajarnya menarik perhatian wanita untuk sama-sama berganding bahu mencari penawar paling mujarab.</p>
<p>Tugas ini berat dan memerlukan kesabaran, ibarat menarik rambut dalam tepung, rambut tak putus dan tepung tidak berselerak.</p>
<p><b> Menangani peranan wanita secara bijaksana</b></p>
<p>Keadaan semasa secara tidak langsung memaksa wanita memainkan peranan seimbang di antara alam rumah tangga dan dunia masyarakat luar. Hal ini sebenarnya cabaran besar kepada wanita dan meletakkan wanita di persimpangan.</p>
<p>Persoalannya ialah sejauh mana seseorang wanita itu mampu melaksanakan semua tanggungjawab di atas serentak atau wajarkah mereka mengabaikan salah satu daripadanya? Jawapannya, pasti terletak di tangan wanita.</p>
<p>Sesungguhnya wanita sentiasa memerlukan bantuan dan sokongan daripada semua pihak agar dapat menjalankan tanggungjawab dengan lebih berkesan.</p>
<p>Perkara berikut adalah di antara panduan yang boleh digunakan oleh wanita untuk membantu mereka menjalankan tanggungjawab itu:</p>
<p>Sentiasa memantapkan keimanan kepada Allah dan meyakini akan pertolongan-Nya. Keimanan mendalam akan dapat melahirkan wanita yang yakin pada dirinya sendiri dan mampu meneroka segala potensi anugerah Allah.</p>
<p><b>Melengkapkan diri dengan tiga ciri utama</b></p>
<p>Ilmiah iaitu mengetahui sebanyak mungkin ilmu agama dan ilmu lain, termasuk hak sebagai wanita menurut perspektif Islam.</p>
<p>Siasah iaitu cuba memahami perkembangan politik tempatan dan antarabangsa untuk meluaskan fikiran dan pandangan sebagai seorang wanita yang peka kepada isu semasa.</p>
<p>Amaliyyah iaitu mengamalkan apa yang dipelajari dan difahami secara ilmiah.</p>
<p>Mendapatkan sokongan dan pengiktirafan dari orang yang paling hampir sama ada suami, ibu bapa atau keluarga. Sokongan dan kebersamaan mereka ini menjadi penggerak utama kepada tugas seorang wanita.</p>
<p>Mempelajari secara bersungguh-sungguh bagaimana untuk menguruskan masa dengan lebih sistematik.</p>
<p>Perlu ada perancangan kerja dan melaksanakan kerja mengikut susunan keutamaan.</p>
<p>Sentiasa menjalin hubungan yang baik dengan keluarga mentua seperti menjaga hubungan baik dengan keluarganya sendiri.</p>
<p>Sentiasa menilai perlakuan diri sendiri atau memuhasabah untuk mengukur sejauh mana baik buruknya sesuatu tindakan atau perkara yang dilakukan.</p>
<p>Sentiasa beristighfar dan memohon keampunan kepada Allah di atas kesilapan yang dilakukan sama ada disedari atau tidak.</p>
<p>Berlapang dada di atas teguran-teguran membina yang diberi oleh sesiapa sahaja untuk memperbaiki diri.</p>
<p>Melakukan kerja kebajikan umum secara amal supaya pelaksanaannya menjadi lebih mudah dan tersusun.</p>
<p>Berbahagialah wanita yang dapat menjalankan tugas di atas dan memainkan peranannya sebagai seorang wanita cemerlang mengikut kaca mata Islam. Yakinlah dengan janji Allah sebagaimana firman-Nya bermaksud: “Sesiapa yang mengerjakan amal salih, sama ada lelaki atau wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang sudah mereka kerjakan.” (Surah an-Nahl, ayat 97).</p>
<p>Sumber: http://zalina.blogdrive.com/</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
