<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>evaluasi-diri &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/evaluasi-diri/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "evaluasi-diri"</description>
	<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 18:22:04 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Syafaat dan Tanggungjawab Sosial]]></title>
<link>http://kylas.wordpress.com/?p=96</link>
<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 12:37:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ansori</dc:creator>
<guid>http://kylas.wordpress.com/?p=96</guid>
<description><![CDATA[Mendengar kata Syafaat, mungkin kita akan langsung ingat kepada Rosulullah SAW, yang katanya kelak d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar kata Syafaat, mungkin kita akan langsung ingat kepada Rosulullah SAW, yang katanya kelak dapat memberikan syafaat kepada umatnya sehingga diselamatkan dari siksa neraka. Sebegitu simpelnya kah?</p>
<p>Menurut <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_blank">Kamus Besar Bahasa Indonesia</a> Depdiknas, Syafaat  berarti :</p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.5in;"><strong>sya·fa·at</strong> <em>n</em> perantaraan (pertolongan) untuk menyampaikan permohonan (kpd Allah): <em>segala permintaannya telah dikabulkan oleh Allah Subhanahu wataala dng -- Nabi Muhammad saw. </em></p>
<p>Dalam bahasa asalnya, bahasa Arab, Syafaat berasal dari kata Syafa'a (شفع)  <a href="http://www.al-shia.com/html/id/books/Syafaat/02.htm" target="_blank">berarti</a> menggabungkan sesuatu dengan sesuatu lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. Dalam konteks muamalah/ibadah, dapatlah kita artikan sebagai segala perbuatan yang menyebabkan adanya hasil atau akibat, baik berupa perbuatan atau ekses lain.</p>
<p>Dalam QS Annisa ayat 85 disebutkan;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="493" align="center">
<tbody>
<tr>
<td align="justify">
<div><img src="http://www.dudung.net/images/quran/4/4_85.png" border="0" alt="" /></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="quranlatin"></td>
</tr>
<tr>
<td>
<div><strong>[4:85]</strong> Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>berangkat dari pengertian dan ayat di atas, tampaklah bahwa yg namanya syafaat adalah gabungan 2 hal yg berselaras; yang memberikan syafaat dan yang menerima syafaat. Dan kita diarahkan kepada 2 hal yaitu :</p>
<p><strong>1. Anjuran memberikan syafaat yg baik</strong></p>
<p>Ketika kita memberikan nasehat menuju kebaikan dan ketaatan, maka berarti kita telah memberikan syafaat yang baik. Orang akan tergerak untuk juga berbuat kebaikan dan kita akan mendapat balasan atas kebaikan yang terjadi. begitu juga ketika kita selalu membertikan teladan dan contoh yang baik di lingkungan, sehingga orang pun meniru kebaikan itu maka kita telah memberikan syafaat yg baik. Akibatnya lingkungan kita menjadi lingkungan yg baik, yang beradab, bersih, indah; itulah syafaat yg nyata yang dapat kita rasakan di dunia.</p>
<p><strong>2. Larangan memberikan syafaat yang buruk</strong></p>
<p>Ketika kita mengajak orang kepada keburukan, kemaksiatan atau menjadi peyebab terjerumusnya seseorang menuju keburukan maka kita telah memberikan syafaat yg buruk. Sesungguhnya kita akan memperoleh bagian, mendapat imbas dari keburukan yg terjadi, lantaran diri kita sendiri. Bagi kaum muslim hendaknya menutup aurat dengan sempurna, lebih2 kau hawa, kalau kita bersengaja tidak menutup aurat dan ternyata membuat orang yg melihatnya jatuh kedalam kemaksiatan, siap-siaplah kelak kita terperanjat oleh banyaknya dosa yang tak kita sadari. Setiap diri punya tanggung jawab sosial, bagaimana menjadikan masyarakat aman dengan berlandaskan nilai-nilai agama, karena nilai-nilai agama Islam adalah menyelamatkan umatnya.</p>
<p><em><strong>Syafaat Nabi Muhammad SAW</strong></em></p>
<p>Dalam berbagai hadits dan ayat al-quran disebutkan bahwa nabi kita Muhammad SAW kelak mampu memberikan syafaat kepada umatnya dengan izin Allah demi keselamatan umat Muhammad. Apakah yang dinamakan syafaat nabi itu? yaitu ketika kita mengamalkan ajaran yg disampaikan Nabi, meneladani akhlaqnya, mencintai apa yg dicintai beliau dan takmenyukai apa yang beliau tak sukai.</p>
<p>(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BERUBAHNYA NIAT]]></title>
<link>http://4heru.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 05:41:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>4heru</dc:creator>
<guid>http://4heru.wordpress.com/?p=15</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah, sungguh kita tetap wajib harus bersyukur kepada Allah ta’alla dengan apapun yang si]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;">Alhamdulillah, sungguh kita tetap wajib harus bersyukur kepada Allah ta’alla dengan apapun yang situasi dan keadaan kita, di awal kita memulai hidup kita “berjuang” untuk mendapatkan rezeki agar perut kita terpenuhi. Lambat laun kitapun mampu memenuhi hajat perut kita lebih dari sekedar lapar, karena yang masuk dalam perut kita sudah bukan makanan sekedar pengganjal perut, melainkan kemewahan yang berlebih. Namun kita terus berjuang karena kita tidak ingin kehujanan, maka kitapun berjuang membangun rumah, namun rumah yang kita bangun dan kita isi lebih dari sekedar tempat berteduh, karena kita mengisinya dengan kemewahan sebagai wujud kemuliaan diri. Kitapun berjuang untuk memiliki kendaraan sepeda motor karena kita tidak ingin berkeringat dan berdesakan di kendaraan umum, sehingga membuat penampilan kita lusuh, namun yang kita tuju lebih dari sekedar kendaraan, karena kita kejar dan kita raih adalah kendaraan mahal nan mewah sebagai wujud penghormatan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span>            </span>Demikian pula saat kita bekerja, saat belum bekerja kita berniat untuk mengabdikan diri demi kehormatan diri dan keluarga serta kebaikan umat. Namun saat orang lain memiliki kedudukan yang lebih baik, kitapun memupuk benih kedengkian dan melahirkan hasad dan hasud atas kekurangan orang yang mendapat kedudukan yang lebih baik dari kita, seolah kita adalah yang paling sempurna. Berbagai upaya dengan potensi, kapasitas dan kewenangan yang kita miliki kita berupaya menjatuhkan orang yang tidak kita sukai. Dan setelah kedudukannya kita raih, sejenak kitapun lupa dengan lisan kita sendiri tentang keburukan orang yang tidak kita sukai. Sebab kelakuan kita lambat launpun sama bahkan lebih buruk dari orang yang kita gantikan kedudukannya. Dan yang sangat menyedihkan kita tidak menyadari bahwa kita semakin jauh terjerumus memandang diri lebih mulia di hadapan orang lain, padahal sebaliknya di hadapan Yang Maha Berkehendak kita sesungguhnya lebih buruk dari kenyataan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span>            </span>Saudaraku yang dimuliakan oleh Allah, Kebenaran yang hak hanyalah milik Allah semata. Kebenaran yang disampaikan oleh seseorang siapapun dia sesungguhnya milik Allah. Kalau seseorang dimuliakan karena menyampaikan kebenaran hal itu disebabkan kebenaran Allah ta’alla yang dibawanya. Manakala ada keburukan maka sesungguhnya itu disebabkan karena si pembawanya tergoda oleh nafsu yang tak dikenalinya. Adakah si pembawanya dapat luput dari kesalahan ?, jawabannya TIDAK, karena siapapun dia, adalah tetap manusia biasa yang memiliki segudang kekhilafan. Yang membedakannya dengan yang lain adalah keinginan keras dalam dirinya untuk memperbaiki diri serta memohon kepada Sang Pencipta untuk dimudahkan senantiasa berbuat kebaikan dan menjadi perpanjangan tanganNYA di muka bumi untuk menebar keberkahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span>            </span>Beberapa hari yang lalu, kediaman seorang pimpinan majelis yang sangat sederhana dikunjungi oleh tiga orang wanita yang salah satunya adalah seorang Warga Negara Asing. Saat mereka bertiga masuk diteras kediamannya, mereka berjumpa dengan istri sang pimpinan majelis tersebut. Sudah jelas si Ummi walaupun berusia muda<span>  </span>terbiasa menggunakan pakaian muslimah kebanyakan. Tamu bertiga tersebut menyapa, “ Selamat siang Ibu….”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;">Si Ummi pun menjawab, “ selamat siang, dari siapa ya….?’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;">“ Kami bertiga ingin bersilaturahmi Bu…, kami ingin menyampaikan kabar kebahagiaan .” demikian jawab tamu bertiga tersebut. Yang dilanjutkan dengan “…. Oh ya saya dari Jepang Bu…”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;">Tamu bertiga tadipun dipersilahkan menunggu, dan si Ummi melaporkan keberadaan tamu tadi kepada Abuya pimpinan majelis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;">Setelah mendegar penuturan si Ummi, abuya segera berganti pakaian dengan tetap menggunakan kain sarung yang melilit di pinggangnya segera menemui tamu bertiga tersebut. Abuya meminta Ummi menghidangkan sahi ( teh ) kehadapan para tamu tersebut. Di awal pembicaraan abuya memperkenalkan diri dengan menyampaikan pekerjaan sehari-hari yang dilakukannya. Kemudian abuyapun menyampaikan bahwa di Indonesia saat ini banyak orang yang membutuhkan penggembala yang tulus dalam membimbing umat dan bukan atas dasar kepentingan. Abuya sempat menyitir sepuluh perintah Tuhan kepada tamu bertiga tersebut. Karena sang tamu sebelumnya memang menyampaikan bahwa mereka ingin menunjukkan jalan menuju kebahagiaan. Ditambahkan pula oleh abuya bahwa di Indoensia telah ada titik temu dalam mensyi’arkan agama, dimana kegiatan syiar tidak diperkenankan diberikan kepada orang yang telah menganut agama tertentu. Sebab jika hal tersebut tetap dilakukan maka bisa mengundang polemik yang berujung pada keributan yang memecah persatuan dan keutuhan dalam masyarakat. Dan menjaga ketentraman dan kedamaian sebagaimana ditebarkannya kasih sayang Yang Maha Esa kepada seluruh makhluknya di muka bumi. Sesaat tamu bertiga tersebut terdiam…dan keheninganpun terpecahkan saat mereka bertiga menikmati teh atau sahi<span>  </span>yang disuguhkan oleh keluarga abuya. Dan tidak lama merekapun memohon izin untuk berpamitan dan berterima kasih atas jamuan dari keluarga abuya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;"><span>            </span>Beberapa waktu setelah tamu asing tersebut berlalu dari kediaman abuya, pihak keluarga sempat memperlihatkan ketidak sabaran atas kelancangan tamu tersebut yang tidak mengghormati keyakinan yang dimiliki oleh tuan rumah, bahkan cenderung memaksakan kehendak. Oleh abuya disampaikan, tidak mengapa bukankah mereka melakukan itu karena mereka tidak memiliki ilmu tentang Allah ta’alla dan Rasulullah SAW. Maka sebaiknya kita dapat menyampaikan pesan tentang damainya Rasulullah dalam menyampaikan firman Allah yang jauh dari paksaan dan kekerasan, bahkan beliau mendoakan pihak yang menyakitinya sebagaimana saat beliau diperlakukan dengan zholim oleh penduduk Tho’if, dengan harapan agar Allah membukakan pintu hidayah kepada yang menzholiminya, ataupun kepada turunan-turunan dari keluarga yang menzholiminya. Bukankah Allah ta’alla maha berkehendak kepada siapapun yang di inginkanNYA. Dan oleh abuya, kalau bukan kita yang memulai dengan menyampaikan akhlaknya Baginda Rasulullah SAW…lalu siapa yang harus menyampaikannya…? , Insya Allah kalau Allah sudah berkehendak’ “ Kun “ maka semua pasti terjadi……<span>  </span></span></p>
<p><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;">Lama saya merenung tentang pengalaman penuh hikmah dari abuya tersebut, dan ada kerinduan yang tumbuh ingin memiliki kelembutan sebagaimana yang abuya perlihatkan, dan akhirnya berbagai<span>  </span>pendalaman hikmah ketetapan Allahpun bergerilya di dalam hati, sehingga sampailah pada suatu kesimpulan bahwa untuk dapat mencapai kelembutan dan kejernihan sebagaimana abuya lakukan kita memang harus berjuang untuk lebih “banyak” memberi daripada menuntut hak. Sebagaimana ibadah sedeqah, maka ibadah tersebut harus diperjuangkan melebihi syarat minimal yang harus dipenuhi, sehingga hati kita pun akan dihujani oleh Allah dengan sifat Kasih Sayangnya dengan anugerah kelembutan dan datangnya cinta yang menuntun ke ikhlasan…Insya Allah. <a href="http://4heru.files.wordpress.com/2008/08/desert_egypt3_c-nova.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-16" src="http://4heru.wordpress.com/files/2008/08/desert_egypt3_c-nova.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ridho Allah]]></title>
<link>http://4heru.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 05:30:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>4heru</dc:creator>
<guid>http://4heru.wordpress.com/?p=8</guid>
<description><![CDATA[


“Ki, bisakah kita ‘mengetahui’ ridha tidaknya Allah dengan amal ibadah kita ki&#8230;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;"><a href="http://4heru.files.wordpress.com/2008/08/cau4klra.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-11" src="http://4heru.wordpress.com/files/2008/08/cau4klra.jpg?w=300" alt="" width="468" height="216" /></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“</span></strong><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">Ki, bisakah kita ‘mengetahui’ ridha tidaknya Allah dengan amal ibadah kita ki........?” Tanya Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Wallahu’alam Nak Mas, namun demikian, ada sebuah petuah bijak yang mengatakan ‘jika engkau ingin mengetahui seberapa ridha Allah terhadap amal ibadah kita, maka lihatlah seberapa ridha kita terhadap apa yang Allah berikan kepada kita............” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Maksudnya ki..........?” Tanya Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Jika kita ridha terhadap segala qadha dan qadhar Allah terhadap kita, betapapun hal itu tidak kita senangi, insha Allah, Allah-pun ridha terhadap amal ibadah kita yang masih banyak kurangnya ini....................”Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Astagfirullah.....ana jadi merasa malu kepada Allah ki............” Kata Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Kenapa Nak Mas...............?” Tanya Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Ya ki, kadang ana lebih banyak ‘menuntut’ kepada Allah untuk ridha dengan kekurangan amal ibadah yang ana lakukan, ana kerap merasa Allah akan maklum kalau sesekali ana tidak bersegera melaksanakan perintahnya, ana juga kadang berpikir ‘aah tidak apa-apa, kalau shalat dirumah, toh Allah Maha ridha..........., tapi justru karena hal itu, ana malah ‘lupa’ untuk bisa menerima ketentuan Allah terhadap ana ki...........” Kata Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Bukan hanya Nak Mas, tapi juga kebanyakan dari kita, kita lebih sibuk meminta kepada Allah dari pada berupaya meningkatkan rasa syukur kita terhadap apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita, karena kesibukan kita mengadu, kadang melalaikan kita untuk berserah diri dan bertawakal kepada Allah, kesibukan kita berprasangka kurang baik kepada Allah, lebih sering menyebabkan kita ‘lupa’ bahwa kitalah yang membutuhkan Allah, bukan Allah yang memerlukan kita...........” Kata Ki Bijak sambil mengutip sebuah ayat al qur’an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji “(Al Fathir).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Iya ki.............” Kata Maula pendek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Ki, bagaimana caranya agar kita bisa lebih banyak bersyukur daripada mengeluh, agar kita lebih banyak berserah diri dan tawakal daripada mengadu, dan lebih banyak berprasangka baik kepada Allah daripada berburuk sangka pada Allah ki, sehingga kita menjadi orang yang dicintai Allah.............?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;"> “Tidak ada satupun cara terbaik untuk dicintai Allah, kecuali kita ‘mencintai’ Allah dengan sepenuh hati dan jiwa kita Nak Mas............” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;"> “Untuk menjadi orang yang dicintai Allah, kita harus mencintai Allah ki.......?” Tanya Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;"> “Benar Nak Mas, cintailah Allah, maka insya Allah, Allah akan lebih mencintai kita.........”Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;"> “Bagaimana caranya ki.........?” Tanya Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;"> “Ciri utama cinta adalah ikhlas melakukan sesuatu untuk siapapun yang dicintainya, kalau kita mengatakan kita mencintai Allah, maka ungkapan cinta itu tidak bisa sebatas kita mengatakan bahwa kita cinta kepada Allah.........” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Lalu ki.............?” Tanya Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Cinta memerlukan pembuktian, kalau kita memang benar cinta kepada Allah, tentu kita akan senang hati dan ikhlas untuk melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan dengan ikhlas pula meninggalkan apa yang dibenci dan dilarang-Nya..........”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Allah memerintahkan kita untuk hanya menyembah kepada-Nya saja, dan itu tidak boleh ditawar-tawar lagi, dengan penuh kesadaran, kita harus menjaga diri kita dari menyembah ilah lain selain Allah, kita harus dengan ikhlas dan sadar untuk tidak menyembah berhala-hala modern semisal harta, pangkat dan tahta.........”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Allah memerintahkan kita untuk shalat dengan khusyu, maka orang yang benar-benar mencintai Allah dengan ikhlas, tak akan banyak menawar dalam melaksanakan shalat, tidak menunda-nunda dengan alasan dan dalih apapun, dan berusaha sebisa mungkin untuk dapat ‘bertatap’ dengan Allah dalam shalatnya..............”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Allah memerintahkan kita untuk shaum, zakat, haji, itupun akan dilakukan dengan penuh keimaman dan keikhlasan jika benar kita mencintai Allah................” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Sepertinya kita harus segera memperbaharui cinta kita kepada Allah kalau kita masih berkutat seputar perlu tidaknya kita bertauhid, atau mempertanyakan syari’at shalat, menyangsikan shaum, zakat dan haji, karena sekali lagi cinta adalah sesuatu yang tulus tanpa pamrih.............” Kata Ki Bijak lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Berat juga ya ki............” Kata Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Tidak ada harga yang murah untuk sesuatu yang mahal Nak Mas, apa yang kita korbankan akan sebanding dengan apa yang akan kita peroleh............, jika kita menginginkan cinta Allah, maka itulah harga yang harus dibayar, lha wong ketika kita ingin dicintai orang lain saja sedemikian banyak syarat yang harus kita penuhi, terlebih untuk mendapatkan kecintaan Sang Pemilik Cinta hakiki, kita harusnya berupaya lebih dari sekedar mendapatkan cinta selain-Nya..............” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Iya ya ki, kalau kita berdoa, kita minta rezeki yang banyak, minta kedudukan yang tinggi, tapi ketika disuruh bangun tahajjud, kita malasnya minta ampun, kalau diperintah zakat, mikirnya ratusan kali, kalau diperintah shaum, dalilnya keluar semua, sementara shaumnya asal-asalan.............” Kata Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Itulah tidak adilnya kita Nak Mas, kita lebih sering berprasangka buruk kepada Allah kalau keinginan kita tidak segera dipenuhi Allah, kita jadi uring-uringan dan bahkan tidak jarang mencari tuhan alternatif untuk dapat segera memenuhi keinginan kita.................” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Tuhan alternatif ki..........?” Tanya Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Pergi ke orang pintar, pergi ketempat yang dianggap keramat dan sejenisnya adalah sebentuk ‘pelarian’ dari mereka yang tidak mempercayai keadilan Allah, sehingga mereka mencari-cari tuhan lain selain Allah yang mereka anggap bisa lebih cepat mengabulkan keinginan mereka, dan itu sebuah kedhaliman yang besar, itu syirik Nak Mas............” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Nak Mas hapal ayat al baqarah 186...? Tanya Ki  Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Ya ki.................” Kata Maula sambil membaca ayat yang dimaksud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">186.  Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Ayat itu adalah sebuah pesan yang sangat jelas dari Allah, bahwa Allah mengabulkan permohonan siapapun yang memohon kepada-Nya, dengan ketentuan ‘hendaklah kita memenuhi perintah-Nya, hendaknya kita ‘hanya’ beriman kepada_Nya, dan agar kita selalu berada dalam kebenaran.......”Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Dan kita, sekali lagi, karena kesibukan kita menuntut Allah, kita jadi kerap lupa untuk memenuhi syarat untuk terpenuhinya permohonan kita kepada Allah....”Sambung Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Iya ki, lalu kenapa tadi Aki bilang ‘hanya beriman kepada-Nya saja’ ki.........” Tanya Maula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Kadang keimanan kita ini masih campur aduk Nak Mas, kita mengatakan kita percaya bahwa Allah-lah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki kita, tapi disisi lain kita menyakini bahwa perusahaan tempat kita kerja, atau atasan kita-lah yang menentukan sedikit banyaknya rezeki kita, sehingga kita lebih takut kepada atasan dari pada kepada Allah, seyogyanya hal ini tidak terjadi jika keimanan kita sudah berada pada tingkatan yang benar.............” Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Iya ki, bahkan yang lebih lucu lagi, ada orang yang lebih takut kepada Jin dan Setan, sementara mereka sama sekali mengabaikan Allah yang notabene adalah Dzat yang menciptakan jin dan setan itu ya ki, sehingga mereka rutin memberikan sesajen atau sejenisnya dengan alasan agar jin dan setan tidak ‘marah’ kepada mereka..........” Kata Maula </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Iya, masih banyak yang harus kita benahi Nak Mas, mulai dari keimanan kita sendiri, kemudian pembuktian kecintaan kita kepada Allah, hingga tanggung jawab kolektif kita sebagai sesama muslim untuk saling menasehati dalam kebaikan...........,”Kata Ki Bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:120%;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><span style="font-size:9pt;color:#000000;line-height:120%;font-family:&#34;">“Ya Allah, tunjukilah hamba jalan kearah-Mu dan berikan kemampuan kepada hamba untuk dapat mencintai-Mu Allah..............” Guman Maula pelan, sambil menengadah kelangit, menyadari betapa selama ini ia belum bisa membalas cinta Allah kepadanya.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Melahirkan MUHAMMAD Dalam Diri]]></title>
<link>http://kylas.wordpress.com/?p=51</link>
<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 13:17:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ansori</dc:creator>
<guid>http://kylas.wordpress.com/?p=51</guid>
<description><![CDATA[siapakah yang mengaku umat Muhammad?
siapakah yang berharap berada di bawah panji Muhammad kelak di ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>siapakah yang mengaku umat Muhammad?<br />
siapakah yang berharap berada di bawah panji Muhammad kelak di Padang Mahsyar?<br />
siapakah yang mengaku cinta kepada Muhammad?<br />
sudahkah kau lahirkan Muhammad dalam diri kalian?<br />
sudahkah kau lahirkan sabarnya Muhammad, sopan santunnya Muhammad<br />
ketaqwaan Muhammad, kasih sayangnya Muhammad<br />
kalau belum, janganlah kau mengaku2 umat Muhammad.<br />
Muhammad bukanlah utk sekedar kau agung2kan<br />
Muhammad bukan sekedar untuk kau sebut2 namanya<br />
tapi peneladanan sifat2 Muhammad yg lebih diperlukan<br />
kemudian kau lahirkan dalam keseharian kalian<br />
kepada anak, istri, orang tua, mertua, tetangga, orang sakit, yang tertimpa musibah<br />
apa yang Muhammad sampaikan kau patuhi dan kau kerjakan<br />
cinta itu bukanlah sekedar di bibir, tapi butuh langkah nyata<br />
keimanan bukan sekedar dikata-kata, tapi berbuah dalam perbuatan<br />
ketaqwaan bukan sekedar dirasa, tapi mewarnai tingkah pola</p>
<p>sudahkan kau kenal Muhammad yg akan kau lahirkan sifatnya melalui diri kalian?<br />
kalau belum,, bersegeralah...<br />
bersamaan itu, kenalilah siapa Tuhan Muhammad<br />
setelah itu bersiaplah menuju kedamaian</p>
<p>(jumat, 15 rajab 1429H, 20.15) MK Lt.5</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Sebab Akibat dan Takdir Allah]]></title>
<link>http://kylas.wordpress.com/?p=81</link>
<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 12:46:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ansori</dc:creator>
<guid>http://kylas.wordpress.com/?p=81</guid>
<description><![CDATA[Tulisan ini diilhami pertanyaan temen satu kantor, apakah takdir itu dan bagaimanakah sikap kita ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini diilhami pertanyaan temen satu kantor, apakah takdir itu dan bagaimanakah sikap kita terhadap takdir ini. Mungkin kita semua tahu bahwa takdir adalah ketentuan/ketetapan Allah atas kejadian apapun yang menimpa makhluknya, termasuk manusia dan kita harus mengimaninya. Keberhasilan kita adalah ketetapan Allah, begitu pun kegagalan kita juga adalah ketetapan Allah. Dalam keterangan yang lain disebutkan bahwa semua yang terjadi di dunia ini, alam utk skala lebih besar, sudah <strong>tertulis </strong>di lauh mahfudz, katanya, semenjak dunia/alam diciptakan. Dalam <em>nash </em>yang lain disebutkan <strong>pena2 sudah diangkat dan tinta2 sudah kering</strong>. Hal ini menunjukkan bahwa ketetapan itu tak dapat dirubah.</p>
<p>Bagaimanakah kita menyikapi keterangan ini, percuma kita bersusah payah, rajin belajar, bekerja keras, toh semua sudah di atur. *sebelumnya mari kita senyum dulu..., tarik nafas..., jernihkan pikiran* :D</p>
<p>sebagai Muslim kita wajib percaya terhadap semua keterangan yang diberikan Allah, baik melalui Alquran, hadits qudsi, maupun hadits nabi. Pena2 sudah diangkat, benar....tinta sudah kering, benar.... hanya saja kita harus cermat dan sadar diri kalau kemampuan kita terbatas. kita seringkali hanya bisa melihat hasilnya saja dan kurang mampu melihat prosesnya. kita hanya tahu dia sukses, dia gagal, dia kecelakaan dll. Ada satu kata kunci yang perlu kita lihat juga, yaitu hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat adalah sunnatullah, ketetapan Allah juga. Dalam alquran diterangkan: <em>segala sesuatu ada sebab dan segala sesuatu akan mengikuti sebab itu</em>. dari sini perlu ada pertanyaan : <strong>mengapa </strong>dia sukses, <strong>mengapa </strong>dia gagal, <strong>mengapa </strong>dia kecelakaan dll.</p>
<p>Apakah hukum sebab akibat bertolak belakang dengan keterangan ttg pena2 yg sudah kering? jawabannya adalah TIDAK. Justru di sinilah-kalau kita mau cermat-betapa Maha Kuasanya Allah, <a href="http://kylas.wordpress.com/2008/05/19/mengenal-asma-allah-yaa-lathif-melalui-kisah-nabi-yusuf/">Maha LATHIF nya Allah</a>, Maha Tahu-nya Allah, Maha segala-galanya Allah. ketetapan Allah itu sedemikian detail dan sangat logis bagi manusia.<br />
Subhanallah...sungguh diri ini kecil Ya Allah,<br />
maafkan kebodohan kami hingga kami sering salah sangka padaMu Ya Allah<br />
sering berbuat sombong di muka bumi ini<br />
kami sombong hingga tidak menghiraukanMu<br />
kami sombong hingga berani melanggar laranganMu...tak peduli kepada saudara seiman, bahkan saling membunuh.<br />
Berikan kami hidayahMu Ya Allah...<br />
Islam agama yg kau ridloi adalah agama yg paling logis dan agama yg cinta damai</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Selalu Memikirkan Orang Lain]]></title>
<link>http://awan965.wordpress.com/?p=962</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 04:58:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>awan sundiawan</dc:creator>
<guid>http://awan965.wordpress.com/?p=962</guid>
<description><![CDATA[Aku selalu memikirkan:
1. kesalahan orang lain
2. kelemahan orang lain
3. bagaimana cara menjatuhkan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Aku selalu memikirkan:<br />
1. kesalahan orang lain<br />
2. kelemahan orang lain<br />
3. bagaimana cara menjatuhkan orang lain<br />
4. bagaimana cara mempermalukan orang lain<br />
5. bagaimana cara membohongi orang lain<br />
6. bagaimana supaya orang lain selalu gagal</p>
<p>[aku merenung: kapankan aku memikirkan diri sendiri untuk kebaikan orang lain?]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Paling Bisa....]]></title>
<link>http://awan965.wordpress.com/?p=961</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 04:51:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>awan sundiawan</dc:creator>
<guid>http://awan965.wordpress.com/?p=961</guid>
<description><![CDATA[Aku paling bisa:
1. menyalahkan orang lain
2. melecehkan orang lain
3. menghina orang lain
4. menyep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Aku paling bisa:<br />
1. menyalahkan orang lain<br />
2. melecehkan orang lain<br />
3. menghina orang lain<br />
4. menyepelekan orang lain<br />
5. merendahkan orang lain<br />
6. memerintah orang lain<br />
7. memarahi orang lain<br />
8. menagih (janji) orang lain<br />
9. mengkiritisi orang lain<br />
10. menghardik orang lain<br />
11. mencari kesalahan orang lain<br />
12. memusuhi orang lain<br />
13. tidak mau memaafkan orang lain<br />
14. menahan gengsi, keegoisan sendiri<br />
15. tidak mau bercampur (bekerja sama) dengan yang lebih rendah<br />
16. memandang orang mulia dari: harta, tahta, pangkat, jabatan<br />
17. sombong dan angkuh</p>
<p>[aku merenung: ternyata aku tidak bisa mencari kelemahan diri sendiri, mengapa ya?]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ternyata Aku ini Orang Paling Sombong]]></title>
<link>http://awan965.wordpress.com/?p=958</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 04:09:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>awan sundiawan</dc:creator>
<guid>http://awan965.wordpress.com/?p=958</guid>
<description><![CDATA[Aku ini orang angkuh
Aku ini orang sombong
Aku tidak mau menerima saran orang lain
karena aku merasa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Aku ini orang angkuh<br />
Aku ini orang sombong</p>
<p>Aku tidak mau menerima saran orang lain<br />
karena aku merasa paling tahu<br />
Aku tidak mau menerima kritikan orang lain<br />
karena aku tidak siap dikritik<br />
Aku tidak mau diajak kerja sama oleh orang lain<br />
karena aku merasa bisa sendiri tanpa orang lain<br />
Aku tidak mau menerima arahan orang lain<br />
karena aku lebih dari dari dia</p>
<p>Aku merasa paling benar, orang lain itu salah<br />
Aku merasa paling pertama, orang lain hanya mengikuti<br />
Aku merasa paling segalanya, orang lain banyak kelemahannya</p>
<p>Jika aku tidak berhasil, aku suka menyalahkan orang lain<br />
Jika aku gagal, aku suka menuduh orang lain yang bukan-bukan<br />
Jika aku berhasil, aku suka meremehkan orang lain</p>
<p>Aku adalah orang yang paling tahu dari orang lain</p>
<p>Aku adalah orang yang paling sombong dan paling angkuh</p>
<p>[aku merenung: jika aku tanpa orang lain, akan bisakah seperti hari ini?]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hidup dalam Pilihan]]></title>
<link>http://kylas.wordpress.com/?p=78</link>
<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 10:48:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ansori</dc:creator>
<guid>http://kylas.wordpress.com/?p=78</guid>
<description><![CDATA[Kita dilahirkan ke dunia tak tau apa-apa, selain insting menangis dan menyusu. Karena kebesaran dan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kita dilahirkan ke dunia tak tau apa-apa, selain insting menangis dan menyusu. Karena kebesaran dan kasih sayang Allah lah, segala penopang kesempurnaan hidup kita kemudian Allah berikan kepada kita. Allah beri penglihatan, Allah beri pendengaran dan indera yang lain, Allah beri akal, Allah beri hati (sirr) dan masih banyak yang lain. Menginjak dewasa saat semua semakin matang, kita sudah bisa membedakan mana baik dan buruk, yang penting dan tak penting, serta hal-hal lain demi kelangsungan kehidupan kita. Di situlah "Challenge" kehidupan manusia. Setiap manusia menempuh pilihan, menjadi baik atau burukkah, menjadi bahagia atau susahkah, menjadi semakin dekat ataukah semakin jauhkah dari Allah.</p>
<p>Dalam surat Asy-Syams ayat 8 dan 9 dijelaskan : </p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="493" align="center">
<tbody>
<tr>
<td align="justify">
<div><img src="http://www.dudung.net/images/quran/91/91_8.png" border="0" alt="" /></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="quranlatin"> </td>
</tr>
<tr>
<td>
<div><strong>[91:8]</strong> maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
</tr>
<tr>
<td align="justify">
<div><img src="http://www.dudung.net/images/quran/91/91_9.png" border="0" alt="" /></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="quranlatin"> </td>
</tr>
<tr>
<td>
<div><strong>[91:9]</strong> sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
</tr>
<tr>
<td align="justify">
<div><img src="http://www.dudung.net/images/quran/91/91_10.png" border="0" alt="" /></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="quranlatin"> </td>
</tr>
<tr>
<td>
<div><strong>[91:10]</strong> dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Begitulah, pilihan bagi manusia adalah apakah ia akan menjadi orang yg menyucikan jiwanya sehingga dekat kepada Allah, atau malah mengotori jiwanya hingga jauh dari ridlo Allah. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : siapa yg mendekat kepadaku sejengkal maka Aku mendekat sehasta, jika ia mendekat sehasta maka Aku mendekat sejengkal dst...</p>
<p>Hadits qudsi, diatas mengisyaratkan adanya keselarasan usaha kita mendekat kepada Allah dengan welcome-nya Allah yang selalau Menyayangi, Mengasihi, dan selalu memberi yang terbaik bagi manusia itu sendiri. </p>
<p>Dalam hadits yang lain diterangkan bahwa Akal itu menunjukkan kepada hidayah. yaitu akal yang selalu dalam proses tafakkur, terhadap diri, kejadian dan seluruh ciptaanNya. Sehingga sadar dan merasakan akan kebesaran Tuhan dan mengakui akan betapa kecil diri ini. Maka iman semakin mantap, ketakwaan akhirnya berseri, derajat ihsan akan dicapai. Akhirnya tujuan Allah menciptakan manusia menjadi kholifah/kepanjangan tangan Tuhan di muka bumi terlaksana sudah.</p>
<p>Keputusan terakhirakan datangnya Hidayah adalah di Tangan Tuhan, Tuhan telah memberikan jalannya, tinggal bagaimana kita, mengikuti jalan Tuhan ataukah mennjauh dari Jalan Tuhan. Masing2 ada konsekuensi dan saya rasa kita semua tahu akan konsekuensi itu, Bagaimana? </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MUHASABAH DAN EVALUASI DIRI]]></title>
<link>http://suud83.wordpress.com/?p=36</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 02:20:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>suud83</dc:creator>
<guid>http://suud83.wordpress.com/?p=36</guid>
<description><![CDATA[Oleh: suud fuadi
Istilah Muhasabah mungkin sudah berulang kali kita dengar, namun meski acapkali kit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>Oleh: suud fuadi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Istilah Muhasabah mungkin sudah berulang kali kita dengar, namun meski acapkali kita dengar tetap saja tidak mau bermuhasabah. Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung. Praktek muhasabah hampir sama dengan praktek evaluasi dalam sebuah perusahaan, organisasi atau kegiatan lainnya. Namun tinjauan dalam praktek muhasabah tentu lebih dalam, karena ia berusaha mengevaluasi hidup di dunia dalam hubungannya dengan akhirat. Kehidupan manusia di dunia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan alam semesta selalu memiliki keterkaitan dengan kehidupan paska dunia, yakni akhirat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--more-->Fitrah manusia, ia dilahirkan dalam kesucian dan memikul tanggung jawab mulia sebagai abdi Tuhan. Tuhan dalam firmannya, menyatakan bahwa: “Tidak Aku (Tuhan) ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah kepadaku”. Dengan jelas Firman Allah ini menjadikan manusia bukan untuk yang lainnya namun hanya untuk menyembah kepadaNya. Tanggung jawab itu telah diterima manusia sejak ia dalam kandungan, yang pada saat itu Allah bertanya kepada manusia: “Tahukan siapa Tuhanmu?lalu manusia menjawab; ia,  saya bersaksi”. Kesaksian atau keimanan manusia atas Tuhan inilah yang menjadi tonggak awal dimulainya ibadah. Nah pertanyaannya, sudah benarkah kesaksian dan keimanan kita kepada Tuhan Allah?disinilah letak <strong><em>muhasabah untuk tahap pertama</em></strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sesudah evaluasi diri terhadap keimanan selesai, maka <strong><em>tahap kedua</em></strong> adalah sudahkah <strong><em>amaliah dan kompetensi</em></strong> kita mengarah kepada penghambaan terhadap Tuhan Allah SWT? Amal perbuatan kita di dunia terbangun atas tiga pola hubungan yang kesemuanya harus didasarkan pada penghambaan diri terhadapNya. <em>Pertama,</em> hubungan manusia dengan Allah (hablun minallah). Secara syar’i hubungan manusia dengan Allah dibangun melalui ibadah-ibadah mahdhoh.<span> </span>Ibadah mahdoh ini merupakan aktualisasi dan implementasi dari perintah syari’ah untuk menunaikan rukun islam, yakni perintah bersyahadat, perintah sholat, perintah zakat, perintah puasa dan perintah haji ke baitullah. Meskipun bentuknya berupa ibadah suci untuk mendekatkan diri pada Allah, namun kebanyakan dari kita lalai dalam sholatnya, lalai dalam zakatnya, lalai dalam puasanya dan lalai dalam berhajinya. Sholatnya, zakatnya, puasanya dan hajinya bukan murni karena Allah, namun karena pamrih. Ibadahnya hanya kerena orang tuanya, istrinya, bosnya, pacarnya atau bahkan karena muatan politis. Oleh karenanya mari kita mengevaluasi diri apakah ibadah kita kepada Allah sudah murni dari unsur-unsur selainNya?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Kedua</em>, hubungan sesama manusia (<em>hablun minannas</em>). Hubungan kita dengan sesama manusia harus didasarkan pada niat untuk memeproleh ridhoNya. Hubungan kita dengan yang lainnya harus tidak didasarkan atas eksploitasi dan subordinasi, namun diletakkan atas dasar persamaan sebagai hamba Tuhan dan proporsionalitas dalam menunaikan tugas dan menuntut hak. “Nah, sudahkan kita memperlakukan teman kita, pemimpin kita, rakyat kita, istri atau suami kita, pembantu kita, mahasiswa kita dan semua orang disekeliling kita sebagai manusia seutuhnya?” Rosulullah bersabda: <em>tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sesama manusia sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri</em>. Menghormati hak-hak orang lain sama halnya menghormati hak-hak kita sendiri, karena dengan begitu orang lain akan menghargai hak-hak kita dan tentu kesemuanya harus diletakkan hanya karena Allah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Ketiga</em>, hubungan manusia dengan alam (<em>hablun minal alam</em>). Alam diciptakan oleh Tuhan bukan untuk dieksploitasi dan manusia tidak diciptakan untuk mengeksploitasi alam, namun ia diciptakan untuk keseimbangan keseluruhan alam termasuk manusia. Allah sudah mempertimbangkan dengan masak-masak bahwa alam sangat cukup bila hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan manusia namun tidak bila untuk keserakahan manusia. Antara alam dengan manusia terjadi pola hubungan yang setimpal. Apabila manusia merusak alam, maka alam akan memberikan kerusakan pula bagi manusia, begitu juga sebaliknya alam akan memberikan kenyamanan bagi manusia jika ia dipelihara dengan baik oleh manusia. Dalam hubungan ini antara manusia dan alam adalah sejajar dan saling membutuhkan. Apabila pola hubungan ini diterapkan dengan baik maka sama halnya kita menciptakan kehidupan yang lebih lama dan ini sama dengan menjalankan perintah Tuhan untuk memberikan kehidupan dan bukan kerusakan atau kematian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tahap <strong><em>ketiga</em></strong>, <strong>Istiqomah</strong> <strong>(<em>konsistensi</em>). </strong>Keimanan dan amaliah kita harus dijalankan dengan penuh istiqomah (ajeg) atau konsisten. Allah berfirman: berimanlah kepada Allah kemudian beristiqomahlah. Kita tidak mungkin mendapatkan sesuatu dengan baik jika tidak istiqomah. Istiqomah tidak sama dengan statis, namun istiqomah akan memberikan dorongan kepada kita untuk hidup dinamis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tiga tahap itu pada dasarnya juga merupakan prasyarat untuk terwujudnya budaya ketuhanan (<em>robbaniyah</em>) dan keagamaan dalam hidup bermasyarakat. Tuhan tidak mungkin akan memberikan servis quality kepada kita jika kita tidak memberikan harga yang setimpal atas pemberian Tuhan, dengan bersyukur dan beribadah. Dengan melalui tiga tahap itulah muhasabah kita akan mudah kita lakukan dan terukur hasilnya. Akhir dari tulisan ini, mari kita mulai dari diri kita sendiri sebelum menyeru kepada orang lain, apakah kita sudah menjadi manusia seutuhnya sebagaimana fitrah kemanusiaan kita? Jawabannya adalah mari kita bermuhasabah diri saat ini dan disini juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat dan selamat bermuhasabah……!!!</p>
<p><!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Qonaah]]></title>
<link>http://kylas.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 03:29:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ansori</dc:creator>
<guid>http://kylas.wordpress.com/?p=77</guid>
<description><![CDATA[Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Secara maknawi, qonaah berarti menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi apapun yang dialami. Dalam bahasa jawanya : <em>"nrimo ing pandum"</em></p>
<p>Dalam sudut pandang tertentu, qonaah sering disalah artikan sehingga menjadi pemicu sebuah kemunduran, ganjalan dalam berkembangnya seseorang ke tingkatan yang lebih tinggi/baik dalam berbagai aspek kehidupan. </p>
<p>Memang tak salah kalau qonaah diartikan menerima apa adanya, tapi tidak berhenti hanya sampai disitu. Sikapa qonaah menuntut siapa saja untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas. Selanjutnya diperlukan adanya syukur, tasyakkur dan tafakkur. Syukur sebagai perwujudan menerima apa adanya, tasyakkur tercermin dari kelapangan hati dan kesabaran, tafakkur sebagai wujud evaluasi.</p>
<p>contoh kecil orang yang sedang usaha berjualan. suatu saat jualannya sepi. ketika ia menghadapi  itu, pertama ia ikhlas, kemudian bersyukur, "Alhamdulillah.... dengan kesempitan ini Ya Allah kau ingatkan aku, kau jadikan aku mendekat kepadaMu". Orang ini akan semakin memacu ibadahnya, sehingga semakin dekatlah ia kepada Allah, dengan ijin Allah tentunya. dengan semakin dekat kepada Allah maka semakin lapang hatinya menjalani kesempitan ini, yang ada adalah kelurusan berfikir. Langkah selanjutnya adalah tafakkur, evaluasi. Kenapa sih orang2 seakan menjauh dari tokoku, apakah karena tokoku kotor sehingga tak menarik keinginan pembeli, apakah harga jualku terlalu mahal, apakah pelayananku yg tidak disukai pembeli... evaluasi demi evaluasi dilakukan sehingga dari situ lahirlah perbaikan-perbaikan. 2 manfaat sekaligus, ibadah semakin lancar, urusan dunia semakin lancar.</p>
<p>Wallahu a'lam bishshowab.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Intropeksi Diri]]></title>
<link>http://senyumobile.wordpress.com/?p=81</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 08:20:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>senyumobile</dc:creator>
<guid>http://senyumobile.wordpress.com/?p=81</guid>
<description><![CDATA[Mari mengambil sedikit waktu untuk refleksi dan mencoba merenungkan
atau menjawab beberapa hal yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mari mengambil sedikit waktu untuk refleksi dan mencoba merenungkan<br />
atau menjawab beberapa hal yang akan disampaikan berikut ini. Yang ber-<br />
tujuan mengaktivasi pusat motivasi, rasa keyakinan dan sistem pencapaian<br />
tujuan dalam diri Anda.</p>
<p>1. Bila Anda diberitahu bahwa Anda tidak akan gagal dalam upaya apapun<br />
yang akan Anda lakukan, hal apakah yang pertama kali akan Anda lakukan?</p>
<p>2. Bila Anda diberi kekuasaan untuk mendapatkan apapun yang Anda<br />
inginkan, hal apa saja yang ingin Anda raih sesegera mungkin?</p>
<p>3. Bila Anda memiliki kemampuan untuk membantu siapa saja untuk dapat<br />
lebih baik lagi, hal apakah yang akan Anda lakukan, dan siapa sajakah yang<br />
akan anda bantu tersebut?</p>
<p>4. Bila Anda berkesempatan untuk menjadi seorang yang sangat ahli dalam<br />
sebuah bidang atau keahlian, bidang apakah yang Anda pilih, dan bagaimana<br />
Anda akan mengaplikasikan keahlian Anda?</p>
<p>5. Bila Anda telah mencapai seluruh angan-angan dan target dalam hidup,<br />
sikap (mental dan batin) seperti apakah yang akan Anda terapkan sehari-hari,<br />
dan bagaimanakah Anda akan menyikapi waktu?</p>
<p>Renungkanlah baik-baik, karena melalui point-point di atas Anda akan dapat<br />
mencapai sebuah kondisi mental dan internal yang biasanya dimiliki oleh<br />
orang-orang besar dan sukses. Sebagaimana telah sering disampaikan,<br />
dalam diri Anda (dan kita semua), memiliki potensi yang sangat besar dan<br />
hanya akan dapat berguna bila kita bersedia menyadari, merasakan dan<br />
mendayagunakannya. Selamat merenungkan dan merasakan intensitas<br />
positif yang muncul di benak Anda.</p>
<p>Sukses selalu untuk Anda!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERBAIKI DIRI SEBELUM SISTEM]]></title>
<link>http://triee.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 04:25:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>triee</dc:creator>
<guid>http://triee.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[Memperbaiki Diri Sebelum Memperbaiki Sistem 10.11.2007 by admin Category Fikratuna
Oleh: Dr. Yusuf Q]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;">Memperbaiki Diri Sebelum Memperbaiki Sistem </span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">10.11.2007 by admin Category Fikratuna<br />
Oleh: Dr. Yusuf QaradhawiDI ANTARA prioritas yang dianggap sangat penting dalam usaha perbaikan (ishlah) ialah memberikan perhatian terhadap pembinaan individu sebelum membangun masyarakat; atau memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem dan institusi. Yang paling tepat ialah apabila kita mempergunakan istilah yang dipakai oleh al-Qur’an yang berkaitan dengan perbaikan diri ini; yaitu:</p>
<p>    “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keaduan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)</p>
<p>Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi setiap usaha perbaikan, perubahan, dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang dimulai dari individu, yang menjadi fondasi bangunan secara menyeluruh. Karena kita tidak bisa berharap untuk mendirikan sebuah bangunan yang selamat dan kokoh kalau batu-batu fondasinya keropos dan rusak.</p>
<p>Individu manusia merupakan batu pertama dalam bangunan masyarakat. Oleh sebab itu, setiap usaha yang diupayakan untuk membentuk manusia Muslim yang benar dan mendidiknya –dengan pendidikan Islam yang sempurna– harus diberi prioritas atas usaha-usaha yang lain. Karena sesungguhnya usaha pembentukan manusia Muslim yang sejati sangat diperlukan bagi segala macam pembinaan dan perbaikan. Itulah pembinaan yang berkaitan dengan diri manusia.</p>
<p>Sesungguhnya pembinaan manusia secara individual untuk menjadi manusia yang salih merupakan tuga utama para nabi Allah, tugas para khalifah pengganti nabi, dan para pewaris setelah mereka.</p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"> </p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Pertama-tama yang harus dibina dalam diri manusia ialah iman. Yaitu menanamkan aqidah yang benar di dalam hatinya, yang meluruskan pandangannya terhadap dunia, manusia, kehidupan, dan tuhan alam semesta, Pencipta manusia, pemberi kehidupan. Aqidah yang mengenalkan kepada manusia mengenai prinsip, perjalanan dan tujuan hidupnya di dunia ini. Aqidah yang dapat menjawab pelbagai pertanyaan yang sangat membingungkan bagi orang yang tidak beragama: “Siapa saya? Dari manakah saya berasal? Akan kemanakah perjalan hidup saya? Mengapa saya ada di dunia ini? Apakah arti hidup dan mati? Apa yang terjadi sebelum adanya kehidupan? Dan apakah yang akan terjadi setelah kematian? Apakah misi saya di atas planet ini sejak saya masih di alam konsepsi hingga saya meninggal dunia?Iman –bukan yang lain– adalah yang memberikan jawaban memuaskan bagi manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan besar berkaitan dengan perjalanan hidup manusia itu. Ia memberikan tujuan, muatan makna, dan nilai bagi kehidupannya. Tanpa iman manusia akan menjadi debu-debu halus yang tidak berharga di alam wujud ini, dan sama sekali tidak bernilai jika dihadapkan kepada kumpulan benda di alam semesta yang sangat besar. Umur manusia tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan perjalanan geologis yang berkesinambungan pada alam semesta, dan yang akan terus berlangsung dan tidak akan berakhir. Kekuatan Manusia tidak akan ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan pelbagai kejadian di alam semesta yang mengancam keselamatannya; seperti: gempa bumi, gunung meletus, angin ribut, banjir, yang merusak dan membunuh manusia. Ketika berhadapan dengan pelbagai peristiwa alamiah itu, manusia tidak dapat berbuat apa-apa, walaupun dia mempunyai ilmu pengetahuan, kemauan, dan teknologi canggih.</p>
<p>Selamanya, iman merupakan pembawa keselamatan. Dengan iman kita dapat mengubah jati diri manusia, dan memperbaiki segi batiniahnya. Kita tidak dapat menggiring manusia seperti kita menggiring binatang ternak; dan kita tidak dapat membentuknya sebagaimana kita membentuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari besi, perak atau bijih tambang yang lainnya. Manusia harus digerakkan melalui akal dan hatinya. Ia harus diberi kepuasan sehingga dapat merasakan kepuasan itu. Ia harus diberi petunjuk agar dapat meniti jalan yang lurus; dan ia harus digembirakan dan diberi peringatan, agar dia dapat bergembira dan merasa takut dengan adanya peringatan tersebut. Imanlah yang menggerakkan dan mengarahkan manusia, serta melahirkan berbagai kekuatan yang dahsyat dalam dirinya. Manusia tidak akan memperoleh kejayaan tanpa iman. Karena sesungguhnya iman membuatnya menjadi makhluk baru, dengan semangat yang baru, akal baru, kehendak baru, dan filsafat hidup yang juga baru. Sebagaimana yang kita saksikan ketika para ahli sihir Fir’aun beriman kepada Tuhan nabi Musa dan Harun. Mereka menentang kesewenangan Fir’aun, sambil berkata kepadanya dengan penuh ketegasan dan kewibawaan:</p>
<p>    “… maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja… (Taha: 72)</p>
<p>Kita juga dapat melihat para sahabat Rasulullah saw yang keimanan mereka telah memindahkan kehidupan Jahiliyah mereka kepada kehidupan Islam; dari penyembahan berhala, dan penggembalaan kambing kepada pembinaan umat dan menuntun manusia kepada petunjuk Allah SWT, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.</p>
<p>Selama tiga belas tahun di Makkah al-Mukarramah, seluruh perhatian dan kerja-kerja Nabi saw –yang berbentuk tabligh dan da’wah– ditumpukan kepada pembinaan generasi pertama berdasarkan keimanan.</p>
<p>Pada tahun-tahun itu belum turun penetapan syariah yang mengatur kehidupan masyarakat, menetapkan hubungan keluarga dan hubungan sosial, serta menetapkan sanksi terhadap orang yang menyimpang dari undang-undang tersebut. Kerja yang dilakukan oleh al-Qur’an dan Rasulullah saw adalah membina manusia dan generasi sahabat Rasulullah saw, mendidik dan membentuk mereka, agar mereka dapat menjadi pendidik di dunia ini setelah kepergian baginda Rasul.</p>
<p>Dahulu, rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam memainkan peranan untuk itu. Kitab suci Allah SWT diturunkan kepada Rasul-Nya sedikit demi sedikit sesuai dengan kasus-kasus yang dihadapi pada saat itu; agar dia membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan, untuk memantapkan keyakinan hati mereka, dan orang-orang yang beriman kepadanya. Nabi saw menjawab berbagai pertanyaan orang musyrik pada waktu itu dengan mematahkan hujah-hujah mereka, sehingga hal ini sangat besar perannya dalam membina kelompok orang-orang beriman, memperbaiki dan mengarahkan perjalanan hidup mereka. Allah SWT berfirman:</p>
<p>    “Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (al-Isra,: 106)</p>
<p> </p>
<p>    “Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok. Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (al-Furqan: 32-33)</p>
<p> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Tugas terpenting yang mesti kita lakukan pada hari ini apabila kita hendak melakukan perbaikan terhadap keadaan umat kita ialah melakukan permulaan yang tepat, yaitu membina manusia dengan pembinaan yang hakiki dan bukan hanya dalam bentuk luarnya saja.</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Kita harus membina akal, ruh, tubuh, dan perilakunya secara seimbang. Kita membina akalnya dengan pendidikan; membina ruhnya dengan ibadah; membina jasmaninya dengan olahraga; dan membina perilakunya dengan sifat-sifat yang mulia. Kita dapat membina kemiliteran melalui disiplin; membina kemasyarakatannya melalui kerja sama; membina dunia politiknya dengan penyadaran. Kita harus mempersiapkan agama dan dunianya secara bersama-sama agar ia menjadi manusia yang baik, dan dapat mempengaruhi orang untuk berbuat baik, sehingga dia terhindar dari kerugian di dunia dan akhirat; sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat- menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-’Ashr: 1-3)</p>
<p>Usaha itu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali melaluipandangan yang menyeluruh terhadap wujud ini, dan juga dengan filsafat hidup yang jelas, proyek peradaban yang sempurna, yang dipercayai oleh umat, sehingga ia mendidik anak lelaki dan perempuannya dengan penuh keyakinan, bekerja sesuai dengan hukum yang telah ditentukan dan berjalan pada jalur yang telah digariskan. Bagaimanapun, semua institusi yang ada di dalam umat (masjid dan universitas, buku dan surat kabar, televisi dan radio) mesti melakukan kerja sama yang baik, sehingga tidak ada satu institusi yang naik sementara institusi yang lainnya tenggelam, atau ada satu perangkat yang dibangun dan pada saat yang sama perangkat lainnya dihancurkan. Pernyataan di atas dibenarkan oleh ucapan penyair terdahulu:</p>
<p>“Dapatkah sebuah bangunan diselesaikan; Apabila engkau<br />
membangunnya dan orang lain menghancurkannya?”</p>
<p> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">——————————————————<br />
Dikutip dari: “Fiqh Prioritas, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah”, Dr. Yusuf Al Qaradhawy, Robbani Press, Jakarta, 1996</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p> 
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;">Memprioritaskan Kualitas Atas Kuantitas </span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">10.11.2007 by admin Category Fikratuna<br />
Oleh : Dr. Yusuf Al QaradhawyDI ANTARA hal-hal terpenting yang perlu diprioritaskan menurut pandangan syariat ialah: Mendahulukan kualitas dan jenis urusan atas kuantitas dan volume pekerjaan. Yang perlu mendapat perhatian kita bukanlah banyak dan besarnya persoalan yang dihadapi, tetapi kualitas dan jenis pekerjaan yang kita hadapi.</p>
<p>Al-Qur’an sangat mencela terhadap golongan mayoritas apabila di dalamnya hanya diisi oleh orang-orang yang tidak berakal, tidak berilmu, tidak beriman dan tidak bersyukur; sebagaimana disebutkan dalam berbagai tempat di dalamnya:</p>
<p>“… akan tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.”(al-Ankabut: 63)</p>
<p>“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf:187)</p>
<p>“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Hud:17)</p>
<p>“… akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (al-Baqarah: 243)</p>
<p>“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (al-An’am: 116)</p>
<p>Pada masa yang sama, al-Qur’an memberikan pujian terhadap kelompok minoritas apabila mereka beriman, bekerja keras, dan bersyukur; sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:</p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini…”</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">(Shad: 24)“… dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba’:13)</p>
<p>“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi…” (al-Anfal: 26)</p>
<p>“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka…” (Hud: 116)</p>
<p>Oleh karena itu, tidaklah penting jumlah manusia yang banyak, akan tetapi yang paling penting ialah banyaknya jumlah orang Mu’min yang shaleh.</p>
<p>Hadits Nabi pernah menyebut jumlah manusia yang banyak:</p>
<p>“Menikahlah kamu, kemudian berketurunanlah, agar jumlah kamu menjadi banyak, karena sesungguhnya aku bangga dengan jumlahmu yang banyak atas umat-umat yang lain.”1</p>
<p>Akan tetapi, Rasulullah saw tidak membanggakan kebodohan, kefasikan, kemiskinan dan kezaliman umatnya atas umat-umat yang lain. Namun beliau membanggakan orang-orang yang baik, bekerja keras, dan memberikan manfaatnya kepada orang lain.</p>
<p>Rasulullah saw pernah bersabda,</p>
<p>“Manusia itu bagaikan unta, di antara seratus ekor unta itu engkau belum tentu menemukan seekor yang boleh dijadikan sebagai tunggangan.”2</p>
<p>Perbedaan yang terjadi di antara umat manusia sendiri adalah paling banyak dibandingkan dengan perbedaan yang terjadi pada semua jenis binatang dan lainnya. Dalam sebuah hadits pernah dikatakan,</p>
<p>“Tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada seribu yang semisalnya kecuali manusia.”3</p>
<p>Kita senang sekali dengan kuantitas dan jumlah yang banyak dalam segala sesuatu, dan suka menonjolkan angka beribu-ribu dan berjuta-juta; tetapi kita tidak banyak memperhatikan apa yang ada di balik jumlah yang banyak itu, dan apa yang terkandung di dalam angka-angka tersebut.</p>
<p>Salah seorang penyair pada zaman Arab Jahiliyah telah mengetahui pentingnya kualitas dibandingkan dengan kuantitas, ketika dia mengatakan,</p>
<p>    “Ia mencela kami karena jumlah kami sedikit.</p>
<p>    Maka kukatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang yang mulia itu sedikit.”</p>
<p>    “Apalah ruginya kami sedikit, kalau dengan jumlah yang sedikit itu kami mulia.</p>
<p>    Sedangkan orang-orang yang jumlahnya banyak itu terhina.”</p>
<p>Al-Qur’anpun menyebutkan kepada kita bagaimana tentara Thalut, yang jumlahnya sedikit dapat mengalahkan tentara Jalut, yang jumlahnya banyak:</p>
<p>“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberang sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir. ” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah…” (al-Baqarah: 249-251)</p>
<p>Al-Qur’an menyebutkan kepada kita bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya dapat memperoleh kemenangan pada Perang Badar, padahal jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah musuh mereka, kaum musyrik yang jumlahnya sangat banyak.</p>
<p>“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Ali ,Imran: 123)</p>
<p>“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Makkah), kamu takut orang-orang Makkah akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanrrya kamu kuat dengan pertolongan-Nya…” (al-Anfal: 26)</p>
<p>Pada saat yang lain, kaum Muslimin juga hampir menderita kekalahan pada Perang Hunain, karena mereka melihat kepada kuantitas dan bukan kualitas, sehingga mereka membanggakan diri dengan kuantitas, dan meremehkan kekuatan ruhaniah, serta kemahiran berperang. Kemudian pada awal peperangan mereka terkepung, sehingga mereka baru mengetahui dan menyadari, lalu bertobat; dan akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka, dengan memberikan bantuan kekuatan tentara yang tidak mereka lihat.</p>
<p>“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mu’min) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (at-Taubah:25-26)</p>
<p>Telah dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa apabila keimanan dan kemauan kuat atau kesabaran telah berkumpul dalam diri manusia, maka kekuatannya akan menjadi sepuluh kali lipat jumlah musuh-musuhnya, yang tidak memiliki keimanan dan kemauan. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Hai nabi, kobarkanlah semangat para Mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum Muslimin yang tidak mengerti.” (al-Anfal: 65)</p>
<p>Yang demikian ini ialah ketika keadaan mereka kuat. Sedangkan ketika mereka dalam keadaan lemah, maka kekuatan itu hanya menjadi dua kali lipat kekuatan musuh, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat ini:</p>
<p>“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua rarus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan izin Allah…” (al-Anfal: 66)</p>
<p>Oleh karena itu, yang paling penting ialah keimanan dan kemauan, dan bukan jumlah yang banyak. Barangsiapa mau membaca sirah Rasulullah saw maka dia akan mengetahui bahwa sesungguhnya perhatian beliau tertumpu kepada kualitas dan bukan kuantitas. Dan orang yang mau menyimak sirah para sahabat dan para khalifah rasyidin akan mendapati hal yang sama dengan jelas sekali.</p>
<p>Umar bin Khatab pernah mengutus Amr bin ‘Ash untuk menaklukkan Mesir, dengan membawa empat ribu orang tentara saja. Kemudian dia meminta tambahan personil tentara lagi, dan Umar memberi empat ribu orang tentara lagi, berikut empat orang komandannya. Umar berkata, “setiap orang komandan tambahan ini membawahkan seribu orang tentera; dan aku menilai jumlah mereka semuanya adalah dua belas ribu orang tentara. Dua belas ribu (tentara) tak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit.”</p>
<p>Umar sangat percaya bahwa yang paling penting ialah kualitas, kemampuan, dan kemauan mereka dan bukan jumlah dan besar mereka.</p>
<p>Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwasanya pada suatu hari beliau duduk bersama sebagian sahabatnya di sebuah rumah temannya, kemudian beliau berkata kepada mereka, “Tunjukkanlah cita-cita kamu.” Maka salah seorang di antara mereka berkata, “Aku bercita-cita ingin mempunyai dirham dari perak yang memenuhi rumah ini sehingga aku dapat menafkahkannya pada Jalan Allah.” Orang yang lain bercita-cita memiliki emas sepenuh rumah tersebut dan menafkahkannya di jalan Allah. Sementara Umar berkata, “Aku, ingin memiliki orang seperti Abu Ubaidah al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim Maula Abu Hudzaifah, sepenuh rumah ini agar aku dapat mempergunakannya untak berjuang di jalan Allah.”</p>
<p>Pada zaman kita sekarang ini, jumlah kaum Muslimin sedunia telah melebihi satu seperempat milyar jiwa. Akan tetapi sayang sekali jumlah sebesar itu kebanyakan memiliki sifat yang pernah diutarakan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban,</p>
<p>“Pada suatu hari kelak, umar-umat akan memusuhi kalian dari segala penjuru, seperti orang-orang lapar yang memperebutkan makanan.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada masa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Bahkan, jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi kalian hanya bagaikan buih yang terbawa arus air; dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada para musuh kalian; dan sungguh Allah akan menghujamkan wahn di dada kalian” Para sahabat bertanya kembali, “Apakah wahn itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (lihat al-Jami’ as-Shaghir: 8183).</p>
<p>Hadits ini menjelaskan bahwa jumlah yang banyak saja belum cukup, apabila jumlah ini hanya kelihatan megah dari luar, tetapi lemah dari dalam; sebagaimana periode ketika umat hanya bagaikan buih yang terseret arus air; di mana pada masa ini umat bagaikan buih, tidak memiliki identitas, kehilangan tujuan dan jalan yang benar; dan benar-benar seperti buih yang terbawa arus air.</p>
<p>Oleh karena itu, perhatian kita hendaknya ditujukan kepada kualitas dan jenis, bukan kepada sekadar kuantitas. Yang dimaksudkan dengan kuantitas di sini ialah jumlah sesuatu yang dilihat secara material, besarnya angka, luasnya jarak, besarnya isi, beratnya timbangan, panjangnya waktu, dan lain sebagainya yang serupa dengan itu.</p>
<p>Apa yang kami katakan tentang besarnya angka itu dapat dicontohkan dalam hal yang lain.</p>
<p>Manusia, misalnya, tidak diukur dari tinggi tubuhnya, kekuatan ototnya, besar tubuhnya, dan kecantikan wajahnya. Semua ini adalah hal-hal yang berada di luar inti dan hakikat kemanusiaan. Tubuh manusia –pada akhirnya– tidak lain hanyalah bungkus dan instrumennya, sedangkan hakikatnya ialah akal dan hatinya.</p>
<p>Allah SWT pernah memberikan penjelasan berkenaan dengan sifat-sifat orang munafik sebagai berikut:</p>
<p>“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum…” (al-Munafiqun: 4)</p>
<p>Dia juga pernah memberikan sifat kaum ‘Ad, melalui lidah nabi-Nya, Hud a.s.:</p>
<p>“… dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu…” (al-A’raf: 69)</p>
<p>Akan tetapi sesungguhnya kelebihan kekuatan tubuh itu menjadikan mereka terkecoh dan menyombongkan diri, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:</p>
<p>“Adapun kaum Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya daripada kami?…” (Fushshilat: 15)</p>
<p>Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:</p>
<p>“Sungguh akan datang pada hari Kiamat seorang laki-laki besar dan gemuk, maka di sisi Allah ia tidak akan seberat timbangan sayap nyamuk. Allah berfirman: ‘… dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.’” (al-Kahfi: 105)4</p>
<p>Pada suatu hari Ibn Mas’ud memanjat sebuah pohon, maka tampaklah kedua betisnya yang lembek dan kurus, maka sebagian sahabat tertawa karena melihatnya. Kemudian Rasulullah saw yang mulia bersabda, “Apakah kamu tertawa karena melihat kedua betisnya yang lembek? Sesungguhnya, kedua betis itu jika ditimbang kelak (beratnya) lebih beret daripada bukit Uhud.”5</p>
<p>Oleh karena itu tidaklah begitu penting tubuh yang besar den kuat, kalau tidak disertai dengan akal pikiran yang cerdas den hati yang jernih. Dahulu penyair Arab mengatakan, “Engkaulihat para pemuda bagaikan kurma dan engkau tidak tahu apa isinya.”</p>
<p>Hasan bin Tsabit pernah mengejek suatu kaum Muslimin dengan mengatakan,</p>
<p>“Tidak mengapalah suatu kaum itu memiliki tubuh yang jangkung atau pendek, berbadan keledai tetapi berhati burung.”</p>
<p>Hal ini bukan berarti bahwa Islam tidak menetapkan suatu penilaian terhadap kekuatan den kesehatan tubuh manusia. Ia sangat peduli dengan kedua hal ini. Bahkan, Allah SWT memuji Thalut dengan firman-Nya:</p>
<p>“… dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa..” (al-Baqarah: 247)</p>
<p>Dalam hadits yang shahih disebutkan:<br />
“Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu.”6</p>
<p> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">“Orang Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang Mu,min yang lemah.”</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">7Akan tetapi, pernyataan-pernyataan ini tidak dijadikan sebagai ukuran keutamaan.</p>
<p>Tubuh yang perkasa dan kuat bukanlah ukuran kelelakian seseorang, dan bukan ukuran keutamaan pada diri manusia. Begitu pula kecantikan paras wajah dan bentuk tubuhnya.</p>
<p>Dalam hadits disebutkan:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kamu, dan bentuk luar kamu, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu.”8</p>
<p>Salah seorang penyair pernah menyampaikan pujiannya kepada Abd al-Malik bin Marwan dengan mengatakan,</p>
<p>“Bila mahkota telah bertengger di atas kepalanya, seakan-akan wajahnya adalah wajah emas.”</p>
<p>Kemudian Abd al-Malik mencemoohkan sang penyair, karena dia memujinya dengan pujian yang menyerupai seorang perempuan cantik, seraya berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak memujiku seperti penyair yang memuji Mush’ab bin Zubair?”</p>
<p>“Sesungguhnya Mush’ab adalah meteor dari Allah, yang<br />
cahayanya menerangi kegelapan. Putusan yang dia tetapkan<br />
sangat kuat, tetapi tanpa mengandung kesewenang-wenangan.”</p>
<p>Memang… lelaki itu dinilai dari ilmu pengetahuan yang ada di otaknya, dan keimanan yang bersemayam di dalam hatinya; serta amalan sebagai buah imannya. Dan sesungguhnya amal perbuatan di dalam Islam ini tidaklah diukur dari besar dan jumlahnya, tetapi ia diukur dari sejauh mana kebaikan dan kualitasnya. Melakukan perbuatan yang baik bukanlah sunat di dalam Islam, tetapi merupakan sebuah fardhu yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang yang beriman, sebagaimana fardhu-fardhu yang diwajibkan atas mereka, seperti puasa dan fardhu-fardhu yang lainnya.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda,</p>
<p> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">“Sesungguhnya Allah menulis (mewajibkan) perbuatan yang baik atas segala sesuatu. Jika kamu mau membunuh binatang, maka bunuhlah dengan baik, dan apabila kamu hendak menyembelihnya, maka sembelihlah dengan menyembelih yang baik. Dan hendaklah salah seorang di antara kamu menajamkan pisaunya, dan mengistirahatkan binatang yang disembelihnya.”9</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p> </p>
<table class="MsoNormalTable" style="background:#adadad;width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#e0dfe3;padding:0.75pt 0.75pt 0;">
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#adadad;border:#ffffff;padding:0;">
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="border-right:#ffffff;border-top:#ffffff;border-left:#ffffff;width:85%;border-bottom:#ffffff;background-color:transparent;padding:3.75pt;" width="85%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;line-height:15.6pt;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Asal mula arti menulis (kataba) di dalam hadits tersebut menunjukkan adanya kewajiban atau fardhu.Selain itu, Rasulullah saw juga bersabda,</p>
<p>“Sesungguhnya Allah mencinlai orang yang apabila melakukan sesuatu dia melakukannya dengan sebaik-baiknya.”10</p>
<p>Dia mencintai perbuatan itu dan juga mencintai orang yang melakukannya.</p>
<p>Bahkan, sesungguhnya al-Qur’an tidak menganggap cukup dengan pelaksanaan yang baik, tetapi menganjurkan mereka untuk melakukan yang terbaik. Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (az-Zumar: 55)</p>
<p>“… Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya…” (az-Zumar: 17-18)</p>
<p>Bahkan, al-Qur’an menganjurkan kita untuk membantah orang-orang yang menentang kita dengan cara yang paling baik.</p>
<p>” … dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik…” (an-Nahl: 125)</p>
<p>Serta menyuruh kita untuk menolak kejahatan itu dengan cara yang baik daripada kejahatan tersebut.</p>
<p>“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fushshilat: 34)</p>
<p>Dan al-Qur’an melarang kita untuk mendekati harta kekayaan anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik.</p>
<p>“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat…” (al-An’am: 152)</p>
<p>Selain itu, al-Qur’an menjadikan penciptaan bumi dan isinya, penciptaan mati dan hidup, penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya sebagai ujian bagi orang-orang yang dibebani kewajiban. Semua itu untuk mengetahui siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.</p>
<p>“… siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (al-Kahfi: 7)</p>
<p>Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Kitab Allah (Hud: 7; al-Mulk: 2; dan al-Kahfi: 7) bahwa persaingan di antara mereka bukanlah pada perbuatan baik dan buruk, tetapi antara perbuatan yang baik dan yang paling baik. Perhatian orang Mu’min hendaknya senantiasa tertumpu kepada yang paling baik dan tertinggi nilainya. Dalam sebuah hadits disebutkan:</p>
<p>“Apabila kamu meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena ia surga yang terletak paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya adalah singgasana Tuhan.”11</p>
<p>Dalam hadits yang masyhur berkaitan dengan Jibril a.s. yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang al-ihsan, beliau menjawab:</p>
<p>“Ihsan itu ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan kalau kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”12</p>
<p>Begitulah penafsiran al-ihsan dalam ibadah. Yakni kita mesti senantiasa menjaganya, dan mengikhlaskannya untuk Allah SWT. Amalan-amalan yang diterima di sisi Allah tidak akan dilihat bentuk dan kuantitasnya, tetapi yang dilihat ialah inti dan kualitasnya. Betapa banyak amal yang dari segi lahiriahnya memenuhi syarat, tetapi amal itu kehilangan ruh yang meniupkan kehidupan ke dalamnya. Dan oleh karena itu amal tersebut tidak dianggap oleh agama sebagai amal kebajikan, dan tidak diletakkan di dalam ‘tangan’ timbangan amal kebajikan di akhirat kelak.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya’ (al-Ma’un: 4-6)</p>
<p>Berkenaan dengan puasa, Rasulullah saw pernah bersabda,</p>
<p>“Barangsiapa yang tidak mau meninggalkan perkataan bohong, dan mengerjakan kebohongan, maka Allah tidak perlu darinya meninggalkan makan dan minumnya.”13</p>
<p>“Bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya kecuali lapar, dan kebanyakan orang yang melakukan qiyam lail tidak mendapatkan pahalanya kecuali hanya keterjagaan di malam hari.”14</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, …” (al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Rasulullah saw yang mulia bersabda,</p>
<p>“Sesungguhnya amalan harus disertai dengan niat, dan setiap orang itu akan tergantung kepada niatnya. Maka barangsiapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa berhijrah untuk memperoleh dunia, atau berhijrah untak memperoleh wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk apa yang ia niatkan.”15</p>
<p>Oleh karena itu, para ulama Islam sangat memberikan perhatian kepada hadits tersebut. Bukhari juga membuka kitabnya, al-Jami’ as-Shahih, dengan hadits ini. Sebagian ulama menganggap bahwa niat adalah seperempat amalan Islam; sebagian yang lain menilainya sepertiga; karena niat itu begitu penting dalam hal yang berkaitan dengan diterimanya amalan seseorang. Mereka menganggapnya sebagai timbangan bagi inti amal perbuatan tersebut; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:</p>
<p>“Barangsiapa melakukan suatu amalan, yang tidak ada landasan dari kami, maka amalan itu tidak diterima.”16</p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Abu Ali al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna “amalan yang paling baik” pada firman Allah: ” … siapakah di antara kamu yang paling baik amalannya… ” (Hud: 7), dia menjawab, “Amalan yang paling ikhlash dan paling baik.”</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;">Orang itu bertanya lagi: “Apakah amalan yang paling ikhlas dan paling baik ini?” Dia menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal perbuatan selama ia tidak murni dan baik. Jika amal perbuatan itu baik, tetapi tidak murni untuk-Nya, maka ia tidak diterima. Sebaliknya, jika amalan itu murni tetapi tidak baik, maka ia juga tidak diterima. Kemurnian amal itu hendaknya hanya semata-mata untuk Allah; sedangkan kebaikannya ialah bahwa amal itu hendaknya sesuai dengan apa yang digariskan oleh sunnah Nabi saw.”Itulah makna “perbuatan yang paling baik” dalam urusan agama dan ibadah. Adapun kebaikan dalam urusan dunia ialah tercapainya tingkat kebaikan yang dapat mengalahkan yang lainnya, sehingga ia menjadi yang paling unggul. Dan perbuatan seperti ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang betul-betul serius.</p>
<p>Di antara hadits Nabi saw yang menunjukkan kepada persoalan ini ialah sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a.</p>
<p>“Barangsiapa yang membunuh kutu pada pijatan pertama, maka akan dituliskan baginya seratus kebaikan. Sedangkan pijatan kedua di bawah tingkatan itu, dan pijatan ketiga di bawahnya lagi.”17</p>
<p>Hadits ini mengarahkan kepada kita mengenai betapa pentingnya melaksanakan suatu pekerjaan dengan baik dan sempurna, walaupun hanya membunuh seekor kutu. Karena hal ini sebetulnya termasuk membunuh dengan cara yang baik, “Apabila kamu menyembelih binatang, maka lakukanlah dengan baik.” Membunuh dengan cara yang cepat membuat binatang yang dibunuh itu tidak merasakan sakit.</p>
<p>Kalau amal perbuatan tidak dapat diukur dengan kuantitas dan besarnya, maka umur manusia tidak dapat diukur dengan lama waktunya.</p>
<p>Ada orang yang berumur panjang, tetapi umurnya tidak membawa berkah; dan ada pula orang yang tidak berumur panjang tetapi orang itu sarat dengan pelbagai kebajikan dan perbuatan yang terbaik.</p>
<p>Sehubungan dengan hal ini, Ibn ‘Atha’illah berkata dalam hikmahnya: “Banyak sekali umur panjang yang diberikan kepada manusia, tetapi sumbangan yang diberikannya sangat sedikit. Dan banyak sekali umur pendek yang diberikan kepada manusia, tetapi sumbangan yang diberikannya sangat banyak. Barangsiapa yang umurnya diberi berkah oleh Allah SWT maka dalam masa yang pendek dia akan mendapatkan berbagai karunia dari-Nya, yang sangat sulit untuk diungkapkan.”</p>
<p>Cukuplah bagi kita sebuah contoh. Yaitu Nabi saw yang mulia, dalam masa dua puluh tiga tahun –yaitu masa setelah beliau diangkat menjadi nabi– beliau diberi berkah oleh Allah SWT. Dalam masa ini beliau berhasil mendirikan agama yang paling mulia, mendidik generasi yang paling baik, menciptakan umat yang terbaik, mendirikan negara yang paling adil, menang terhadap penyembahan berhala orang-orang kafir, Yahudi, serta memberikan warisan abadi kepada umatnya –setelah kitab Allah– sunnah yang menjadi petunjuk, dan sirah yang sempurna.</p>
<p>Begitu pula halnya dengan Abu Bakar r.a. Dalam masa dua tahun setengah, dia berhasil mengalahkan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi-nabi palsu, mengembalikan orang-orang murtad ke pangkuan Islam, mengirimkan tentara untuk menaklukkan Persia dan Romawi, mendidik orang-orang yang enggan membayar zakat, menjaga hak-hak fakir miskin dengan mengambilkan hak mereka pada harta orang-orang kaya, dan merekamkan dalam sejarah kedaulatan Islam bahwa pemerintahannya adalah pemerintahan yang pertama kali berperang untuk membela hak-hak fakir miskin.</p>
<p>Umar bin Khatab dalam masa sepuluh tahun berhasil melakukan pelbagai penaklukan wilayah di luar, dan memantapkan kaidah pemerintahan yang adil berdasarkan musyawarah secara internal. Dia telah menciptakan berbagai tradisi yang baik bagi orang-orang sesudahnya yang dikenal dengan “prioritas Umar.” Dia telah berhasil memancangkan tiang-tiang fiqh sosial, khususnya fiqh kenegaraan, yang disandarkan kepada tujuan, pertimbangan antara pelbagai kemaslahatan, melindungi generasi, serta memberanikan orang untuk memberikan usu1an dan kritik kepada hakim. Dia berkata, “Tidak ada kebaikan pada dirimu selama kamu tidak mau mengatakannya, dan tidak ada kebaikan bagi kami selama kami tidak mendengarkannya.” Selain itu, Umar juga sangat menjauhi dunia, memiliki kemauan yang kuat untuk menjalankan kebenaran, mewujudkan keadilan dan persamaan hak di antara manusia, bahkan bila dia harus melakukan qisas terhadap para gubernur dan anak-anaknya.</p>
<p>Umar bin Abd al-Aziz menjadi khalifah selama tiga puluh bulan. Melalui tangannya, Allah SWT menghidupkan tradisi keadilan dan kecemerlangan, mematikan kezaliman dan kesesatan. Dia menolak berbagai bentuk kezaliman dan memberikan hak-hak kepada orang yang berhak memperolehnya. Dia telah berhasil mengembalikan kepercayaan orang kepada Islam, sehingga semua orang merasa lega, tenang dan tidak merasa ketakutan. Dia memberi makan orang-orang yang lapar, menyebarluaskan kemakmuran, sehingga orang-orang yang berharta berkata, “Di mana kami harus meletakkan zakat, ketika semua manusia telah diberi kekayaan oleh Allah SWT.”</p>
<p>Imam Syafi’i, yang hidup selama lima puluh empat tahun –menurut perhitungan tahun qamariyah– (150-204 H.) tetapi dia mampu memberikan berbagai sumbangan ilmiah yang orisinal.</p>
<p>Imam al-Ghazali, yang hidup selama lima puluh lima tahun (450-505 H.) meninggalkan kekayaan ilmiah yang bermacam-macam.</p>
<p>Imam al-Nawawi, yang hidup selama empatpuluh lima tahun (631-676 H.) meninggalkan warisan yang sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin secara menyeluruh; baik berupa hadits, fiqh; yaitu dari hadits empat puluhnya hingga penjelasannya atas hadits Muslim; dari metodologi fiqh hingga Rawdhah al-Thalibin; dan lain-lain.</p>
<p>Begitu pula halnya dengan para ulama yang lain; seperti: Ibn Arabi, al-Sarakhsi, Ibn al-Jawzi, Ibn Qudamah, al-Qarafi, Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, al-Syathibi, Ibn Khaldun, Ibn Hajar, Ibn al-Wazir, Ibn al-Hammam, al-Suyuthi, al-Syaukani, dan lain-lain yang memenuhi dunia ini dengan ilmu dan keutamaannya.</p>
<p>Oleh karena itu, ada orang yang meninggal dunia sebelum dia mati. Umurnya telah habis padahal dia masih hidup. Tetapi ada orang yang dianggap masih hidup setelah dia meninggal dunia. Karena dia meninggalkan amal-amal yang shaleh, ilmu yang bermanfaat, keturunan yang baik, murid-murid yang dianggap dapat memperpanjang umurnya.</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<p>1 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasai’ dari Ma’qal bin Yasar, sebagaimana yang dimuat di dalam buku Shahih al-Jami’ as-Shaghir (2940).<br />
2 Muttafaq ‘Alaih, dari Ibn Umar. Lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan (1651).<br />
3 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir wa ad-Dhiya’, dari Salman, dan hadits ini dianggap sebagai hadis hasan di dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (5394)<br />
4 Diriwayatian oleh Muttafaq Alaih dari Abu Hulairah r.a. yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan (1773).<br />
5 Hadits ini shahih dan berasal dari riwayat Ali, yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, Thabrani, dengan rijal hadits yang shahih, selain Ummu Musa yang tsiqat. Selain itu, diriwayatkan pula dari Ibn Mas’ud sendiri yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan Thabrani dari berbagai jalan. Dan juga diriwayatkan dari Qurrah bin Iyas yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani dengan rijal hadits yang shahih. (Majma’ az-Zawa’id, 9:288-289).<br />
6 Muttafaq ‘Alaih dari Abdullah bin Amir.<br />
7 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r a.<br />
8 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564)<br />
9 Diriwayatkan oleh Muslim dari Syidad bin Aus (1955).<br />
10 Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Kulaib, yang dikelompokkan sebagai hadits hasan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (1891).<br />
11 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam “bab at-Tauhid” pada kitab Shahih-nya; yaitu dalam “bab Dan Singgasana Tuhan Berada di atas Air” (al-Fath, 13:404)<br />
12 Muttafaq Alaih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan no. 5; dan diriwayatkan oleh Muslim dari Umar no. 8.<br />
13 Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r. a. dalam kitab al-Shawm, sebagaimana diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan al-Arba’ah.<br />
14 al-Mundziri menulis dalam ar-Targhib “Diriwayatkan oleh Ibn Majah dengan lafal darinya; diriwayatkan oleh Nasai Ibn Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya; dan juga diriwayatkan oleh al-Hakim yang mengatakan “Hadits ini shahih menurut syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dengan lafal sebagai berikut:”Kebanyakan orang yang melakukan puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari bagian puasanya, dan kebanyakan orang yang melakukan qiyam lail hanya mendapattan keterjagaan dari bagian qiyamnya.”<br />
15 Muttafaq ‘Alaih yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab. Hadits nomor satu dalam Shahih al-Bukhari.<br />
16 Diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah dengan lafal tersebut; Sedangkan Muttafaq ‘Alaih meriwayatkan dengan lafal: “Barangsiapa mengadakan sesuatu yang bukan urusan kami, maka amalan itu ditolak.”<br />
17 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majah, dari Abu Hurairah r.a seperti yang tertulis dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir (2460); kemudian baca buku kami al-Muntaqa min at-Targhib wat-Tarhib, dan komentar kami atas hadis no. 1811.</p>
<p>————————-<br />
Dikutip dari: “Fiqh Prioritas, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah”, bab 3, karya Dr. Yusuf Al Qardhawy Robbani Press, Jakarta, 1996</p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://dikedaikopi.net/?p=9" target="_blank"><span><span style="color:#073919;">http://dikedaikopi.net/?p=9</span></span></a></span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://dikedaikopi.net/?p=9" target="_blank"><span><span style="color:#073919;">http://dikedaikopi.net/?p=9</span></span></a></span></p>
<p></span></span> </p>
<p></span><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://dikedaikopi.net/?p=9" target="_blank"><span><span style="color:#073919;">http://dikedaikopi.net/?p=9</span></span></a></span></p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p> </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#adadad;width:85%;border:#ffffff;padding:0;" width="85%" valign="bottom">
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#adadad;width:100%;border:#ffffff;padding:0;" colspan="2" width="100%">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background:#adadad;border:#ffffff;padding:0;" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span></p>
</td>
<td style="background:#adadad;border:#ffffff;padding:0;" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;" align="right"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://myquran.org/forum/index.php?action=reporttm;topic=30835.2;msg=773114"><span><span style="color:#073919;">Laporkan ke moderator</span></span></a>   <a href="http://myquran.org/forum/index.php?action=helpadmin;help=see_member_ip"><span><span style="color:#073919;">Masuk</span></span></a> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"></p>
<hr size="1" noshade="65535" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;line-height:15.6pt;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://ksgnotes1.harvard.edu/Research/wpaper.nsf/rwp/RWP06-011" target="_blank"><span style="color:#073919;"><span style="font-size:15pt;">"We, the Jewish people, control America, and the Americans know it."</span><span> </span></span><span style="font-size:13pt;"><br />
</span><span style="font-size:13pt;"><span style="color:#073919;">(Israeli Prime Minister, Ariel Sharon, October 3, 2001.)</span></span></a></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#e0dfe3;padding:0.75pt 0.75pt 0;">
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#adadad;border:#ffffff;padding:0;">
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="border-right:#ffffff;border-top:#ffffff;border-left:#ffffff;width:16%;border-bottom:#ffffff;background-color:transparent;padding:3.75pt;" rowspan="2" width="16%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><a name="msg776061"></a><strong><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><a title="Lihat profil dari kuringtea" href="http://myquran.org/forum/index.php?action=profile;u=15313"><span><span style="font-size:small;color:#073919;">kuringtea</span></span></a></span></strong><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;margin:0 0 12pt;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">myQ Aktivis<br />
</span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><a title="Pesan Pribadi (Offline)" href="http://myquran.org/forum/index.php?action=pm;sa=send;u=15313"></a></span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">Offline</span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> <span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Kelamin:</p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
Tulisan: 1445</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
Inspirasi "mujahid" dilampu motorku<span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> <span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><a href="http://myquran.org/forum/index.php?action=profile;u=15313"></a><a title="www.perisaidakwah.com" href="http://www.perisaidakwah.com/" target="_blank"></a><a title="Pesan Pribadi (Offline)" href="http://myquran.org/forum/index.php?action=pm;sa=send;u=15313"></a></p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p> </p>
</td>
<td style="border-right:#ffffff;border-top:#ffffff;border-left:#ffffff;width:85%;border-bottom:#ffffff;background-color:transparent;padding:3.75pt;" width="85%" valign="top">
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr style="height:15pt;">
<td style="border-right:#ffffff;border-top:#ffffff;border-left:#ffffff;border-bottom:#ffffff;height:15pt;background-color:transparent;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://myquran.org/forum/index.php/topic,30835.msg776061.html#msg776061"></a></span></p>
</td>
<td style="border-right:#ffffff;border-top:#ffffff;border-left:#ffffff;border-bottom:#ffffff;height:15pt;background-color:transparent;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://myquran.org/forum/index.php/topic,30835.msg776061.html#msg776061"><span><span style="font-size:small;color:#073919;">Re: Kliping Tulisan Fikrah dan Manhaj Tarbiyah</span></span></a></span></strong><strong><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">« <strong>Jawab #3 pada:</strong> </span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">23 November 2007</span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">, </span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">06:22:19 am</span><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> »</span></p>
</td>
<td style="border-right:#ffffff;border-top:#ffffff;border-left:#ffffff;border-bottom:#ffffff;height:15pt;background-color:transparent;padding:0.75pt;" valign="bottom">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0;" align="right"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://myquran.org/forum/index.php?action=post;quote=776061;topic=30835.0;num_replies=35;sesc=c7a5bd5efe2d5b7f4eef4746ecd3f692"><strong><span><span style="color:#073919;">Kutip</span></span></strong></a> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"></p>
<hr size="1" noshade="65535" /></span></div>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;line-height:15.6pt;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><a href="http://myquran.org/forum/index.php/topic,30835.msg773112.html#msg773112"><span><span style="color:#073919;">Kutip dari: Anti Zionist pada 21 November 2007, 08:30:55 pm</span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;margin:0;"><span style="font-size:20pt;color:#0000ff;font-family:Verdana;">Memprioritaskan Kualitas Atas Kuantitas </span><span style="color:#0000ff;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
<span style="font-size:small;">Oleh : Dr. Yusuf Al Qaradhawy</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;line-height:15.6pt;margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
<span style="font-size:small;">SHAHIH ! jangan sampai kita terlena </span></span></p>
</td>
<td style="background-color:transparent;border:#ffffff;" width="0">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Trebuchet MS;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:12.15pt;">
<td style="background-color:transparent;border:#ffffff;padding:0;" width="54">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Trebuchet MS;"> </span></p>
</td>
<td style="border-right:#ffffff;border-top:#ffffff;border-left:#ffffff;border-bottom:#ffffff;height:12.15pt;background-color:transparent;" width="0" height="16"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="background:#adadad;line-height:15.6pt;text-align:center;margin:0 0 12pt;" align="center"><span style="font-size:small;"><strong><span style="color:#000000;font-family:Verdana;">DA’I,  BUKAN CALO</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">   Tiba-tiba hati ini tergerak untuk mengusap sebelah mata, dan tampak dua helai bulu mata menempel di ujung jari. Lalu kutiup, terbang dan hilang. Setiap kali diri ini bertanya, ke mana jatuhnya bulu mata itu? Dan selalu ku jawab, di atas bumi yang fana ini, paling tidak, masih di sekitar diri ini berdiri. Lalu terbayang diri ini begitu lemah dan kerdil  dibanding luas dan buasnya kehidupan dunia. Manusia memang lemah, seperti bulu mataku!   “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah” (QS. An Nisa:28)<br />
   Kucoba bertanya kepada bayang-bayang semu, yang senantiasa menyertai derap langkahku. Siapa Anda? Siapa kalian? Tanyaku. Bayang-bayang menjawab, aku adalah tuan dan nyonya clean (klin). Alhamdulillah, Tuhanku menjadikan aku seperti sekarang, menarik, aktif, bergejolak, supel, n’ sholih –katanya.</p>
<p>   Aah … bayang-bayang itu memuji dirinya sendiri. Apakah dia tidak tahu, keranjang sana masih banyak yang lebih berharga dari dirinya, di mata Tuhannya, yaa … di mata Tuhannya, bukan di mata kawan-kawan seaktifitas yang memuji dirinya sedimikian rupa sehingga dia ghurur atau terpedaya.</p>
<p>    “Kehidupan dunia telah memperdaya mereka” (QS. Al An’am: 130) </p>
<p>   Lalu, dengan malu-malu, kutanya diriku ‘Siapa Anda??’, yaa siapa diriku. Demi Tuhannya Ka’bah, aku malu menjawabnya. Apakah tidak ada pertanyaan lain? Baiklah aku jawab, ya Allah saksikanlah!</p>
<p>   Sebenarnya tidak beda dengan bayang-bayang, aku juga dijuluki tuan dan nyonya klin, yang senantiasa menjaga kebersihan, terlebih kebersihan akhlak dan hati. Jadwal aktifitasku segudang, janji-janjiku selemari, pokoknya sibuk. Ah, aku jadi malu. Dakwah, jihad dan nasehat merupakan pakaian keseharianku, si tuan dan nyonya clean. Pokoknya aku mempunyai sesuatu yang orang lain belum tentu punya, bercita-cita yang belum tentu orang lain punya, sudahlah!!</p>
<p>   “Katakanlah apakah akan Kami beritahukan padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” (QS. Al Kahfi: 103)<br />
   Ya Allah, aku ingin tahu…Kita semua ingin tahu.<br />
   “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 104)</p>
<p> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">   Yaa Rabbi, maafkan hambaMu yang tertipu oleh perbuatannya sendiri.<br />
   Begitulah aku sebagai manusia hanya memandang diri sendiri melalui pas photo close up yang bersih, elok tetapi tidak utuh. Aslinya begitu kotor dan keruh. Sebaliknya memandang orang lain, yang lebih muda, yang jabatannya rendah, yang tidak seaktif kita, dengan pandangan manusia super dan tinggi.</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Sehingga yang lain “tidak seperti aku,” maka harus di”aku”kan seperti aku…dan kita.   Sebaiknya aku tanya bayang-bayang, bagaimana keadaanmu? Tanyaku. So bad, buruk! Belakangan, hampir semua tawaran kegiatanku tak ada yang merespon, sedikit pengunjung. Padahal dana banyak keluar, acara pun dikemas dengan apik. Para pembicara adalah orang-orang yang berbobot. Tapiii…yach! Kurasa aku sudah tidak menarik lagi. Aah..bayang-bayang berkeluh kesah. Apakah dia tidak tahu, di keranjang sana masih banyak yang lebih hebat penderitaannya dibandingkan dirinya.</p>
<p>   “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al Ma’arij: 19)</p>
<p>   Tiba-tiba tergerak hati ini untuk mengingat-ingat, benar! Telah terjadi peristiwa yang sama antara bayang-bayang semu dengan diriku, si tuan dan nyonya clean! Telah banyak haflah (acara), muhadharah (seminar), dan tabligh aku gulirkan tapi tidak menarik perhatian dan tidak menggerakkan hati dan perasaan orang-orang. Fuhh…aku tahu, ya Allah…. Ternyata peranku “sekedar menggulirkan” dan memposisikan orang-orang adalah “ember” yang harus menampung semua keinginan-keinginan. Geli rasanya –entahlah, ini geli jijik atau geli karena lucu-  melihat diriku, si tuan dan nyonya clean seperti calo di terminal. Menjual karcis dan berteriak-teriak, tetapi tidak pernah memanfaatkan karcis itu untuk dirinya sendiri. Merasa sudah cukup baik dan faham; biarlah kita di luar saja, sedangkan mereka –orang-orang itu- mendengarkan dengan baik dan khusyuk muhadharah, atau tabligh itu. Ya Karim, bila demikian keadaan hati kami berpenyakit, sembuhkanlah, agar tidak menjadi hati-hati yang sombong!</p>
<p>   Menyalahkan orang lain tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat agama, sementara aku, ya..itu tadi, sekedar menggulirkan! Aku tidak sadar, aku ini da’I bukan calo, meminta orang untuk menghadiri majelis nasehat. Sementara aku sibuk dengan kepanitiaannya, urusan administrasinya saja, sekali lagi sekedar menggulirkan. Calo!</p>
<p>   Bukan begitu tuan clean, bukan demikian nyonya clean, sebagaimana mereka butuh nasehat dan ilmu-ilmu agama, kita pun demikian. Bersimpuh bersama mereka, dalam ruangan majelis yang sama, dengan uraian dari ustadz yang sama, malah menambah harmonisnya suasana dan mendekatkan hati, bukan merendahkan kedudukan kita. Imam Malik ra, mau mendengarkan fatwa muridnya sendiri, Imam Syafi’I ra. Aah…kedua imam itu terlalu tinggi dibanding aku, si tuan dan nyonya clean. Sebenarnya, kita juga berhak atas nasehat itu.</p>
<p> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">   “Wahai orang-orang yang beriman kenapa engkau katakan apa-apa yang tidak engkau kerjakan? Sungguh besar kemurkaan Allah bahwa engkau katakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)<br />
   “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Padahal kamu membaca al Kitab? Maka tidaklah kamu berfikir? (QS. Al Baqarah: 44)<span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"> <span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"> </p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;">Manhajut Tatsabbut Wat Tabayyun Fil Harakah (Manhaj Check dan Re-check Informasi dalam Berharakah) (Bag-1)<br />
</span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
<span style="font-size:small;">Al-Ikhwan.net &#124; 27 November 2007 &#124; 17 Dzulqaidah 1428 H &#124;<br />
Abi AbduLLAAH<br />
</span></span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;">إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلَا إِذْ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
(12) </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">الْكَاذِبُونَ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
(13) </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">الدُّنْيَا</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">وَالْآَخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">عَظِيمٌ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
(14) </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">بِأَفْوَاهِكُمْ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">عِنْدَ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">يَكُونُ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">عَظِيمٌ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
(16)<br />
</span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. </span></p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapakah di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata?! Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?! Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita<br />
bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal seperti ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang amat besar.”[1]Ikhwah wa akhwat Ad-Da’iyyat hafizhakumuLLAAH,</p>
<p>Salah satu mawqif (sikap) yang harus dimiliki oleh kader di dalam mengemban amanah dakwah dan jihad menegakkan syari’ah ALLAAH SWT di muka bumi ini adalah sikap ber-husnuzhan (berprasangka baik) kepada saudara kita sesama mu’min - siapapun dia dan dari kelompok apapun mereka - sepanjang ia atau mereka dikenal keikhlasannya dan perjuangannya untuk Islam dan meninggikan kalimatuLLAAH, maka hendaklah kita menahan diri dari berprasangka buruk dan apalagi sampai memfitnah atau menyebar isu.</p>
<p>Hal yang harus lebih menjadi perhatian adalah juga dalam kehidupan berharakah dan berdakwah di jalan ALLAAH, terhadap sesama ikhwah, terhadap qiyadah, terhadap kebijakan yang merupakan hasil syura dan telah memenuhi adab dan syarat syura’ maka hendaklah para da’i dan aktifis dakwah menahan diri dari mencari-cari sisi buruk (tajassus) dan menyebarkan issu (ghibbah dan namimah).</p>
<p>Sesama ikhwah, harakah dan jama’ah adalah kumpulan manusia, maka setiap ijtihad wajib atasnya ihtimal al-khatha’ (mengandung peluang untuk salah), sebagaimana perkataan Imam Asy-Syafi’i -rahimahuLLAAH-: Ra’yi shawaab walakin yahtamilul khatha’ wa ra’yu ghairi khatha’ walakin yahtamilush shawaab (pendapatku benar tapi mungkin saja salah, dan pendapat selainku adalah salah tapi mungkin saja benar). Ikhwah wa akhwat fiLLAAH mencermati banyaknya kader yang saat ini terjatuh ke jurang kehinaan dengan tertimpa penyakit menyebar issu dan fitnah, maka semoga tulisan ini menjadi bermanfaat, nafa’ani waiyyakum…</p>
<p> </p>
<p></span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Pelajaran dari Surah Al-Hujuraat</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">مَا فَعَلْتُمْ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">نَادِمِينَ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Jika Menerima Haditsul-’ifk Maka Wajib Tabayyun/TatsabbutDalam ayat ini ALLAAH SWT memerintahkan kepada orang-orang yang benar-benar shadiq kepada ALLAAH dan Rasul-NYA (shaddaqu liLLAAHI wa rasuliHI), jika ada orang fasik[2] membawa berita tentang sebuah kaum agar dilakukan tabayyun (dalam qira’ah Ahul-Madinah dikatakan tatsabbut), yaitu jangan langsung diterima tanpa dilakukan pengecekan kebenarannya[3].</p>
<p>Sehingga Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa para ulama tidak mau menerima riwayat dari orang yang majhul (tidak dikenal kepribadiannya) karena kuatir adanya kefasikan dalam dirinya[4]. Sementara Imam Al-Alusi menyatakan bahwa makna fasik ialah orang yang masih suka bermaksiat, atau suka melanggar salah satu aturan agama[5]. Dan caranya adalah hendaklah dengan mengecek ke qiyadah (Nabi SAW), atau kepada Kitab wa Sunnah[6].</p>
<p>Pelajaran dari Surah An-Nuur</p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Ada di Kalangan Ikhwah yang Doyan Menyebar Haditsul-’ifk</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;">إِنَّ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Ayat di Al Qur’an surat An-Nur (24 ayat 11) di atas mengindikasikan kepada kita bahwa di antara para penyebar isu itu ada di antaranya di kalangan para ikhwah kita sendiri. Kata-kata ‘ushbah dalam ayat tersebut dimaknai oleh para mufassir sbb:1. Jama’ah di antara kalian[7]</p>
<p>2. Mereka bukan hanya 1 atau 2 orang di antara Jama’ah, melainkan banyak orang yang ikut pula terlibat[8]</p>
<p>3. Mereka lalu menjadi suatu firqah yang memiliki satu kesamaan dan saling bekerjasama menyebar isu tersebut[9]</p>
<p>Hal ini memberikan pelajaran yang berharga pada kaum al-muslimin al-mujahidin al-muttaqin bahwa para penyebar isu tanpa didukung fakta itu sudah pernah terjadi di era terbaik, dan oleh karenanya sangat mungkin terjadi di kalangan ikhwah kita saat ini, dan topik isu juga terjadi berkaitan dengan pribadi qadah (yaitu Nabi SAW) atau saat ini kepada para qiyadah Jama’ah.</p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Haditsul-’ifk Itu Ada Hikmahnya Bagi Jama’ah</p>
<p></span></span></span><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:Verdana;"> </p>
<p></span></span> </p>
<p></span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#000000;">لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:14pt;color:#000000;">لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ</span><span style="font-size:14pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><br />
</span><span style="color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:small;">Maknanya jangan kalian mengira dampak isu tersebut buruk bagi yang terkena fitnah tersebut di sisi ALLAAH dan juga di sisi manusia, bahkan ia baik bagi kalian[10]. Berkata Ibnu Katsir: Baik bagi kalian di dunia dan di akhirat yaitu, bukti kebenaran ALLAAH SWT atas perilaku kalian tersebut di dunia dan kedudukan yang tinggi bagi kalian kelak di akhirat[11]; dan itu berlaku bukan hanya bagi Nabi SAW dan keluarganya, melainkan juga bagi ummat yang lainnya, sebagaimana khithab dalam konteks ayat ini yaitu bagi<br />
Shafwan RA dan juga bagi keluarga Abubakar RA[12].<span