<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>error-aja &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/error-aja/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "error-aja"</description>
	<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 09:57:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Handphone Siapa yang Bunyi Ya?]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=385</link>
<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 12:50:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=385</guid>
<description><![CDATA[Barusan, shalat isya di masjid deket kantor (halah jadi salehah begini ya). Nah, rakaat pertama, ima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Barusan, shalat isya di masjid deket kantor (halah jadi salehah begini ya). Nah, rakaat pertama, imam bacain surat al-mukminun ayat 1- sekian aku lupa. intinya ada tentang shalat khusyuk. Nah, pada rakaat kedua itu ujian dari Allah itu datang. ada yang henponnya bunyi. suara ringtone nya sih jernih banget bo! tapi, itu mengganggu ketenangan shalat orang lain. dan tidak dengan segera si empunya hp mematikan hpnya. dibiarkan saja terus berbunyi hingga shalat isya berakhir.</p>
<p>Akhirnya, mau tidak mau semua orang terpengaruh, termasuk aku. pikiran buruknya yang segera keluar duluan, Wah, ini orang, lupa sama adab di masjid untuk mematikan hp. ya, jika sekiranya tidak dimatikan, ya di silent lah biar ga berisik. secara di masjid, rumah Allah. trus karena sulitnya khusyuk, akhirnya yang kepikiran adalah, wah bisa diposting di blog nih, soal ini. wakakakak, secara ketauan banget ga khusyuk kan shalatnya.</p>
<p>Selesai shalat, langsung ibu-ibu yang ada disampingku langsung ribut siapa sih-siapa sih. aku sih diam-diam saja sambil membayangkan, wah nanti yang diposting di blog ini, ini, ini, he he he.... dasar ya... segera saja setelah berdoa dan shalat sunnah, langsung cabut balik ke kantor dan inilah hasilnya postingan ... jadi siapa yang punya hp itu sebenernya ga penting.</p>
<p>pesannya adalah, jika anda bawa hp ke mesjid jangan lupa untuk men-silentkannya. karena itu akan mengganggu orang lain. seberapa pentingnya anda, jangan lupa untuk mematikan hape anda ktika shalat di masjid. asli bikin orang yang ga khusyuk jadi semakin tidak khusyuk, dan selesai shalat, percayalah, anda pasti diomelin atau minimal dilirik dengan sinis oleh orang-orang yang ada di sekitar anda.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menulis ...]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=372</link>
<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 09:22:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=372</guid>
<description><![CDATA[
Membaca tulisan Dewi Lestari selalu membuat aku salut kepadanya. Tulisannya membuka pemikiran dan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://i14.photobucket.com/albums/a339/narsica/dee.jpg"><img class="alignnone" src="http://i14.photobucket.com/albums/a339/narsica/dee.jpg" alt="" width="149" height="120" /></a></p>
<p>Membaca tulisan Dewi Lestari selalu membuat aku salut kepadanya. Tulisannya membuka pemikiran dan mengisi sisi-sisi kepalaku yang kehausan tulisan-tulisan semacam itu. Menjadi editor, kadang tidak selalu kita mendapatkan buku yang kita edit memenuhi sisi-sisi "keliaran" berpikir kita. Kadang, malah kita membaca buku yang sangat 'ringan' bahkan mungkin merasa kurang tantangannya. tetapi pada lain waktu, kita membaca buku yang sangat berat ....</p>
<p>Ketika membaca blog Dewi Lestari, aku merasa terpenuhi sisi-sisi otak yang kosong itu. mungkin kalau diibaratkan sulkus dan girus yang ada di otak itu seperti gelas, nah dengan membaca tulisan dewi, salah satu gelas dari ribuan gelas yang ada di otak itu terpenuhi oleh air. kadang kupikir, mungkin Dewi Lestari selalu membaca, membaca dan membaca .... membuat catatan, mengendapkannya dan menuliskannya kembali dalam format yang menurutku sangat cantik. Tulisannya mungkin bagi sebagian orang tidak cukup bisa dimengerti, tapi menurutku tidak seperti itu.</p>
<p>Mbak Dewi teruslah berkarya....</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Last Day]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=366</link>
<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 08:11:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=366</guid>
<description><![CDATA[Berat juga ternyata meninggalkan Bandung. Bandung dengan segalanya. Tempatku bekerja sekarang dan te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Berat juga ternyata meninggalkan Bandung. Bandung dengan segalanya. Tempatku bekerja sekarang dan teman-teman. Baru berasa sedihnya. The Last Day in Bandung.... mau nulis apa lagi. Di kantor dengan teman-teman yang unik-unik. ntar pas pindah di tempat baru gimana ya... pasti bakalan kangen sama lunch bareng di meja rapat. bagi-bagi bekel. semua teman-teman... di ruangan yang musiknya macem-macem ... jalan-jalan, makan, nonton, dll bareng ei. mei, isa, dede.</p>
<p>Di ruangan, Kang Krisna yang sering dititipin tolak angin, norma yang demen banget sama u2, rahmat yang demen banget sama lagu2 jepang spesial naruto dan tidak lupa gubraknya intan (kalo bersenandung.... jelas intonasinya), farah yang jepang banget (padahal lulusan sastra inggris :) )... he he he... dan aku yang sering ngejailin temen2 seruangan...</p>
<p>..............................................</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seulas Lagu Gubrak Intan]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=364</link>
<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 07:43:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=364</guid>
<description><![CDATA[Gubrak - Intan Nuraini
Tak kusangka kamu playboy juga.
Padahal tak sepadan.
Dengan wajahmu yang sang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Gubrak - Intan Nuraini</p>
<p>Tak kusangka kamu playboy juga.<br />
Padahal tak sepadan.<br />
Dengan wajahmu yang sangat standard.</p>
<p>Tiap kali ku jalan denganmu.<br />
Kau lirik sana sini.<br />
Tak bersyukurkah kau tlah punya aku.</p>
<p>Reff :</p>
<p>Sudah cukup ku pusing karnamu.<br />
Jadi cowok janganlah sok ganteng.<br />
Wajah pas pasan tak ada uang.<br />
Bikin aku jadinya gubrakk.</p>
<p>Cepatlah tobat lekas berkaca.<br />
Wajahmu gak ganteng-ganteng amat.<br />
Kalau kau tetap merasa hebat.<br />
Nanti aku jadinya gubrakk.</p>
<p>Tiap kali ku jalan denganmu.<br />
Kau lirik sana sini.<br />
Tak bersyukurkah kau tlah punya aku.</p>
<p>Kisah ini tak penting bagiku.<br />
Tak perlu tunggu kau berubah.<br />
Karna secepatnya ku buang dirimu.</p>
<p><!--more-->Lagu ini  kudengar pertama kali karena tetangga mejaku mendengarkannya ... kutilik-tilik ... lagunya ear catchy juga. dan liriknya itu lho ... ha ha ha ... berasa menghina kaum adam. Sebenarnya engga penting juga ngebahas lagu ini. tapi pengen. membicarakan hal-hal tidak penting... membuat kita bisa jadi ketawa-ketiwi... barengan teman-teman satu ruangan.</p>
<p>Menilik syairnya.... pertanyaan selanjutnya adalah kenapa ceweknya mau ... jadi who say stupid to who ... bukannya ngebela kaum adam atau apa pun.... karena akhirnya ketika satu telunjuk menunjuk ke depan, empat jari lainnya menunjuk kepada orang yang menunjuk....</p>
<p>apa intinya... ga ada ... yang bikin lagunya kurang kerjaan banget he he he he ...</p>
<p>intermezzo sedikit. ...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Percaya dan Mengalahlah...]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=359</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 10:04:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=359</guid>
<description><![CDATA[Akhir-akhir ini rasanya berat untuk melaksanakannya. Aku diam saja. Sampai akhirnya memuncak sore ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini rasanya berat untuk melaksanakannya. Aku diam saja. Sampai akhirnya memuncak sore tadi. Nada suaraku naik. Emosiku naik. Mungkin yang lain juga sama tapi tidak terucap. Tapi aku mengucapkannya juga. Ya aku tau, pasti ada salahku juga di sana, juga salah teman-temanku. Tapi kenapa pada saat terakhir. Memberikan opsi tapi pada akhir tenggat. Tarik napas panjang, istighfar.</p>
<p>Cobalah untuk percaya dan mengalahlah. Nah itu yang sulit. Aku sedang belajar keras untuk menanamkan kedua hal itu kepada diriku sendiri. Percayalah nur. Cobalah untuk percaya. cobalah untuk mengalah. karena jika sama-sama keras tidak akan selesai.</p>
<p>Tuh kan jadi inget. tadi ada yang kelewat lagi.... yah udahlah nambah list dari dosa-dosa editan kan....</p>
<p>Hidup ini begitu indah, Nur. Buka saja matamu dan lihatlah hidup ini begitu indah.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tanpa Mereka ....]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=353</link>
<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 10:01:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=353</guid>
<description><![CDATA[Hari ini adalah hari pertama tanpa mereka bertiga. Sepi, pastinya. Tapi, itu adalah konsekuensi yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini adalah hari pertama tanpa mereka bertiga. Sepi, pastinya. Tapi, itu adalah konsekuensi yang dipilih. dan kita harus siap menerima risikonya. Toh ketika kita bertemu dengan siapa pun, kita sudah harus mempersiapkan diri untuk berpisah. Dan itulah kenyataannya. Semua harus tetap berjalan sebagaimana biasanya. Aktivitas harus berlanjut seperti biasanya. Target-target juga tetap seperti adanya.</p>
<p>Life! itulah hidup. Kalau menurut lagunya vitamin C, Graduation</p>
<p><em>I keep thinking that it’s not goodbye<br />
Keep on thinking it’s a time to fly</em></p>
<p>Buat teman-teman yang pergi, selamat jalan... semoga kita bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.</p>
<p><em>We will still be friends forever</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Hardest Day]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=351</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 03:01:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=351</guid>
<description><![CDATA[One more time, one last look
Before I leave it all behind
And play the role that made for us
Itu dia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>One more time, one last look<br />
Before I leave it all behind<br />
And play the role that made for us</p>
<p>Itu dia, di sana. Play the role that made for us … menjalankan peran yang telah ditetapkan untuk kita. Awalnya kita baik-baik saja, tetapi ketika kita melihat sesuatu yang menyilaukan mata kita, lalu kita terpesona, dan sinar itu membuat kita melihat hal-hal yang indah yang kita pernah inginkan, sehingga ketika kita melihat sinar yang terlalu terang kadang-kadang itu membutakan, kita tidak  bisa melihat hal yang seharusnya kita lihat karena saking silaunya. Terangnya sinar yang menyilaukan mata dan membangkitkan keinginan untuk memilikinya. Karena kita beranggapan jika kita bisa memilikinya, hal itu akan menerangi hidup dan hati kita, padahal di tangan kita ada pegangan tongkat yang selalu menuntun kita. karena mata terpeson melihat silaunya sinar, pegangan pada tongkat itu mengendur, dan berhasrat ingin melepas tongkat itu, padahal tongkat itulah yang sudah menuntun kita pada perjalanan selama ini.<br />
<!--more-->Lah,  berfilsafat gini, lalu apa hubungannya dengan lagu The Corrs. Ini adalah tentang sikap kita sehari-hari. Katakan, ada orang yang  menarik hati kita, kita menyukainya, padahal kita tau kita tidak bisa memilikinya. Tapi orang yang kita sukai itu seperti menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyukai kita. Kita lantas kegeeran menganggap perasaan itu benar. Kita silau dan terlena dengan perasaan kita sendiri. Parahnya lagi, jika kita benar-benar terlena dan menikmati perasaan itu. Jadilah hari-hari dilalui dengan seribu apologi. Yah, kan terakhir. Besok-besok engga lagi deh. Kan, ini Cuma sejenak perjalanan. Yah, ini kan sekadar eskapisme. Ini hanya sejenak. Selesai itu, kita kan tetap memainkan peran kita masing-masing. Tapi jadilah setiap hari one more day, one last look, before I leave it all behind and play the role that made for us.</p>
<p>He he he…. Ada-ada saja ya lagu-lagu itu …</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[jadi mana yang benar dan mana yang salah?]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=344</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 02:37:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=344</guid>
<description><![CDATA[Mungkin aku perlu ke psikolog. posisi yang sering ada di tengah-tengah, kadang-kadang membuat kepala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin aku perlu ke psikolog. posisi yang sering ada di tengah-tengah, kadang-kadang membuat kepalaku jadi mau pecah kalo inget ini dan itu. dan banyak lagi hal lainnya. kalau ingat juga, kadang-kadang tiba-tiba saja ada beban berat di pundak. Ada beberapa orang yang akan pergi. Baiklah, mungkin memang yang terbaik seperti itu, selalu akan ada yang pergi dan bertahan. Jika memang pergi adalah yang terbaik, kenapa tidak. jika pergi akan membuat bahagia kenapa tidak. Aku bilang aku tidak peduli, tapi sebenarnya aku peduli, hanya saja tidak ada yang bisa kulakukan. Ya, itulah. pengennya sih sok hero tapi yang ada malah jadi kacau semuanya.</p>
<p><!--more-->Kadang-kadang aku tidak mengerti, lebih sering tidak mengerti. Ya aku tau, pasti ada salahku juga jadi berprasangka buruk. Tapi, sudahlah... aku mau tutup mata, telinga, dan mulutku. aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa. tapi jika yang kulakukan memang kurang bisa diterima oleh semuanya, aku hanya akan menghormati saja. silakan itu adalah keputusan yang diambil. dan aku juga sudah memutuskan untuk diam.</p>
<p>Kejadian-kejadian kemarin sudah cukup rasanya membuat di pundak ini terasa berat. Sudah cukup.  Sudah cukup. aku tidak akan melarikan diri. aku akan menghadapinya. aku akan menghadapinya dengan caraku sendiri.</p>
<p>Bismillah. Allah, bimbing aku. Rabbana aatina milladunka rahmah, wa hayyi'lana min amriina rasyadaa...</p>
<p>Allahumma arinil haqqo haqqon warzuqnittiba'ah, wa arinil batila batilan... warzuqnattinabaah ....</p>
<p>Tunjukkan padaku ya Allah, bahwa yang benar itu adalah benar dan yang bathil itu adalah bathil...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenapa?]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=343</link>
<pubDate>Thu, 22 May 2008 09:38:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=343</guid>
<description><![CDATA[Ada apa ini?
Hari ini seorang teman mengajukan surat pengunduran diri. Tidak apa. Itu haknya, itu k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ada apa ini?</p>
<p>Hari ini seorang teman mengajukan surat pengunduran diri. Tidak apa. Itu haknya, itu kehidupannya. Aku sudah bersiap-siap sejak lama. Tapi, bagaimana dengan efek dominonya. Aku sudah mati rasa sebenarnya. Ya sudah saja kupikir. Kalau itu memang lebih baik baginya, kenapa tidak. Aku menghormatinya, sangat menghormati keputusan apa pun itu.</p>
<p>Tapi...</p>
<p>Selalu ada tetapi untuk semua hal. Kupikir semua akan lebih baik setelah 3 hari itu. Tetapi kenapa jadi begini akhirnya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika ....]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=316</link>
<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 08:17:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=316</guid>
<description><![CDATA[Ketika kita harus menutup celah yang berlubang, itu adalah hal yang harus dilakukan. karena jika dib]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika kita harus menutup celah yang berlubang, itu adalah hal yang harus dilakukan. karena jika dibiarkan, celah itu akan menjadi lubang dan membuat orang-orang yang ada di sekitarnya terjatuh. Jika kita lalai, atau ada teman kita yang lalai, kita harus mengingatkannya dan demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Pun juga dengan aku.  Ada satu hal, mulanya aku ingin membiarkannya saja, tetapi aku rasa aku perlu mengeceknya. dan benar saja, ada banyak hal yang masih perlu diperbaiki. ini tidak bisa jadi tugas siapa dan tugas siapa. Karena dalam kerja tim, kita adalah partner. dan partner semua tim harus bisa saling melengkapi.</p>
<p>Kurasa celah itu cukup besar, dan jika dibiarkan begitu saja akan ada banyak hal yang seharusnya tidak perlu terjadi menjadi terjadi.</p>
<p>Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. ada banyak hal yang tidak kuketahui, dan lebih banyak hal lagi yang tidak aku mengerti. mengapa orang menjadi begitu sulit? mengapa semua hal menjadi sulit? beginikah hal yang harus dihadapi ketika dewasa?</p>
<p>tanggung jawab, itulah.... yang kadang ketika terasa berat bebannya membuat air mata bercucuran. menangis. mengadukan kepada-Nya, dan bertanya, cukup sanggupkah aku? cukup kuatkah aku?</p>
<p>Bimbing aku ya Allah.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Arus Negatif]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=314</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 09:45:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=314</guid>
<description><![CDATA[Hari ini gelombang negatif itu lumayan besar. Harus banyak-banyak istighfar.
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini gelombang negatif itu lumayan besar. Harus banyak-banyak istighfar.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kontroversi Film Ayat-ayat Cinta]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=311</link>
<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 08:53:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=311</guid>
<description><![CDATA[Dah ada banyak banget tulisan tentang Film ayat-ayat cinta.
Tapi, ternyata masih seru sa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dah ada banyak banget tulisan tentang Film ayat-ayat cinta.</p>
<p>Tapi, ternyata masih seru saja dibahas dimana-mana. aku juga jadi tertarik untuk nulis juga.</p>
<p>Aku pribadi sih dah nonton versi bajakan dan versi bioskop. Tetap ada perbedaan. Kupikir sih, kalaupun ada versi bajakan duluan, itu bisa aja strateginya si produser.</p>
<p>Orang yang penasaran kan, mestinya dia akan membandingkan dengan versi bioskopnya.</p>
<p>Meski, banyak kontroversi, itu akan semakin menguntungkan bagi produser. Film pun akan semakin populer.</p>
<p>Apa artinya .... itu cuma satu PM alias Piti Masuk. Apalagi yang penting buat orang India itu. Apa pun akan dikomersilkan, selama masih bisa dikomersilkan.  So... kenapa harus repot. Jujur saja, kita pun menikmati bajakannya juga koq. Kenapa pula akhirnya harus jadi harus sok bersih, dengan mengkritik ini itu ini itu ....</p>
<p>Sekarang sih, gampang bicara. gampang nulis. ....<br />
Apa yang sulit. Berkarya.... sanggup ga, bikin versi baru ayat2 cinta?</p>
<p>Kalo ada  yang bisa, kenapa engga dicoba ....<br />
Aku bakal jadi yang nonton pertama kali ....<br />
aku mau liat ....<br />
(halah kenapa jadi panas begini)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seandainya Aku Menjadi Istri Hidayat Nurwahid]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=307</link>
<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 13:53:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=307</guid>
<description><![CDATA[Wah, judulnya bombastis juga ya. Kenapa judulnya seperti ini. Sebenarnya ini hanya menanggapi tentan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, judulnya bombastis juga ya. Kenapa judulnya seperti ini. Sebenarnya ini hanya menanggapi tentang meninggalnya istri beliau.</p>
<p>Lalu apa masalahnya?</p>
<p>Ya sebenarnya tidak ada masalah sih. Hanya saja, ini termasuk kejadian langka. Dan semestinya, Pak Hidayat akan mencari penggantinya. Atau jika pun tidak, pastinya anak-anaknya akan mencarikan istri untuk ayahnya dan para orang-orang dekatnya pun akan sepertinya akan mencarikan istri untuk sahabatnya itu.</p>
<p>Dan aku juga yakin, para akhwat tarbiyah atau PKS juga akan banyak yang mengajukan proposal untuk menjadi istri beliau. Nah, pertanyaan selanjutnya, apa lagi masalahnya, toh itu terserah beliau. Tapi menurut salah satu sumber yang dapat dipercaya, seorang yang ditinggalkan istrinya yang ada dalam jamaah tarbiyah, diharuskan untuk menikah lagi. Nah, pertanyaannya adalah siapa yang akan Pak Hidayat pilih untuk menjadi istrinya.</p>
<p>Nah, jika Anda terpilih menjadi istri Pak Hidayat Nur Wahid, apa yang akan Anda Lakukan?</p>
<div ALIGN="center"><strong>Untuk jawaban yang paling oke, akan mendapatkan hadiah sebuah buku Hidayat Nur Wahid for Presiden terbitan dari Madania Prima (Imprin Penerbit Salamadani) Gratis.</strong></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tanggung Jawab Jilid 1]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=305</link>
<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 11:46:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=305</guid>
<description><![CDATA[Hari ini aku tidak fokus. Aku menginput sebuah buku, yang entah kenapa membacanya saja rasanya sudah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini aku tidak fokus. Aku menginput sebuah buku, yang entah kenapa membacanya saja rasanya sudah lelah duluan. Padahal belum apa-apa. Akhir-akhir ini aku memang kehilangan semangatku. Dan pertanyaannya mau berapa lama begini. Ini tidak ada manfaatnya sama sekali. Tidak produktif dan akhirnya akan menghambat cita-cita.</p>
<p><!--more-->Harus melakukan perjalanankah aku?</p>
<p>Atau ini karena pengaruh pembicaraan panjang dengan seorang kawan lama pagi tadi. Percakapan yang membuatku berpikir lagi tentang banyak hal yang sudah kulalui selama ini. Betapa aku harus mulai mengambil peran. Dan itu sudah saatnya. Rasanya ini saat yang tepat. Entah kenapa, tapi perasaan itu ada. Jika kemarin-kemarin rasanya ragu-ragu, saat ini tidak. Ada tanggung jawab besar yang ada di pundakku. Dan itu lebih berat daripada tas yang kusandang setiap harinya. Aku sudah berlatih menyandang tas yang berat setiap hari, dengan maksud, ketika tanggung jawab itu akhirnya harus sampai ke pundakku aku sudah mempersiapkan diri.</p>
<p>Nah, dengan keadaan yang kualami saat ini, semua hal, yang berseliweran di kepalaku, di sekelilingku, dan semua hal yang beririsan dengan mozaik hidupku, ada yang harus kuputuskan, dan ada keegoisan yang harus kubunuh di sana. Keegoisan yang menyenangkan.</p>
<p>Bersambung… ke jilid 2</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Minggu yang sibuk]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=303</link>
<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 22:39:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=303</guid>
<description><![CDATA[Sejak akhir pekan kemarin menginap di kantor. Ada tenggat yang tiba-tiba datang. Panik, dan akhirnya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak akhir pekan kemarin menginap di kantor. Ada tenggat yang tiba-tiba datang. Panik, dan akhirnya semua sibuk. Bahkan untuk posting pun tidak sempat, atau tepatnya tidak menyempatkan diri. Kemarin-kemarin juga aku kesal sama layouter. Kebagian kerja bareng sama layouter yang ga tanggep dan sok kepedean banget. bikin males. akhirnya kemarin sampai puncaknya, aku marah dan itu kuomongkan ke dia. abis gimana lagi. udah kesel aja. untuk hal-hal sepele yang seharusnya diketahui sama seorang layouter aja dia ga tau. parah banget. trus udah sebulan dia kerja. kemana aja, ngapain aja, belajar engga sih. astaghfirullah. ya moga2 aja ada perbaikan ke depan, gimana engga, target berbulan-bulan kedepan bukannya tambah sedikit tapi tambah banyak. kalo dia ga ada progres, ya bisa aja, bulan depan dia harus SG alias say goodbye.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cengeng]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=301</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 09:38:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=301</guid>
<description><![CDATA[Cengeng ini adalah salah satu karakterku. Aku termasuk orang yang mudah menangis, tapi seketika bisa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Cengeng ini adalah salah satu karakterku. Aku termasuk orang yang mudah menangis, tapi seketika bisa berubah tertawa-tawa. Sambil menangis pun, walau tidak konsen, aku masih bisa bekerja. Memikirkan pekerjaan, dan hal-hal lain yang harus dikerjakan. Memang menangis tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya hati akan terasa lebih ringan ketika sudah selesai menangis.</p>
<p>Jadi inget lagunya Dewa...</p>
<p><i>Menangislah... jika harus menangis, karena kita semua manusia  ....</i></p>
<p>Menangis tentu ada sebabnya. dan penyebab itu menoreh hati kita sehingga membuat kita menjadi menangis. Hari ini penyebabnya adalah 3 buah sms, yang sudah kuketahui ujungnya. Itu karena aku berharap lebih saja sebenarnya. Tapi, Allah berkehendak lain. Allah sedang berbicara kepadaku tentang kesabaran dan keikhlasan. Aku menontonnya dari film Ayat-Ayat Cinta kemarin. Ketika Fahri di penjara, dan teman sepenjaranya berbicara kepadanya tentang hal itu. Dan itulah yang terjadi padaku sekarang.</p>
<p>Tapi dengan begini, aku akan jadi lebih kuat dan aku akan mengoptimalkan semua kemampuan yang aku bisa. Aku bisa berhasil di mana pun aku berada.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenapa Jadi Editor?  ]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/23/kenapa-jadi-editor/</link>
<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 03:13:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/23/kenapa-jadi-editor/</guid>
<description><![CDATA[Judul di atas adalah hal yang sering ditanyakan orang kepadaku. Mengingat latar belakang pendidikank]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas adalah hal yang sering ditanyakan orang kepadaku. Mengingat latar belakang pendidikanku yang mungkin tidak nyambung dengan bidang editorial. Selain itu, sayang katanya lulusan magister koq “cuma” jadi editor.</p>
<p>Aku  memilih menjadi editor dengan sengaja menceburkan diri. Jika tidak, kenapa juga susah-susah milih jadi editor, kenapa tidak bekerja di LSM, atau departemen lain yang sesuai dengan latar belakang pendidikan aku. Atau banyak juga yang menawarkan untuk menjadi pengajar, jadi dosen. Kan lebih enak katanya. Kupikir-pikir mungkin iya, tapi entah ada yang tak sreg di hati ini.</p>
<p><!--more-->Aku juga sebenarnya tidak begitu menyukai pertanyaan yang menyudutkan seperti, kenapa lulusan magister jadi editor. Aku berpikir, menjadi seorang editor memang harus cerdas,  harus pintar, dan pendidikan juga harus tinggi. Bukankah “harga” seorang editor ahli itu juga sangat mahal. Selain itu, itu juga bisa jadi jurus pamungkas jika kita menghadapi penulis yang “rewel” karena menganggap naskahnya sudah sempurna dan membodoh-bodohkan editor yang  mengedit bukunya, sambil  berkata, “ah, tau apa editor”. Karena dia menganggap tingkat pendidikannya lebih tinggi. Nah, kalau editor juga punya tingkat pendidikan yang tinggi, bukankah dia akan lebih “dipandang” oleh penulis yang “rewel” tersebut. Ya, bukan bermaksud untuk menang kalah dalam hal ini, tapi itu juga salah satu pertimbangan, bahwa seorang editor harus juga punya pendidikan yang baik, tanpa menafikkan bahwa banyak editor andal dan mumpuni dalam bidangnya, tapi tak terkenal namanya mungkin tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, setinggi buku yang ditulis oleh penulisnya.</p>
<p>Semangaat terusss! Korps Editor Indonesia... Cayo!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Percakapan Imajiner]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=298</link>
<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 12:19:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=298</guid>
<description><![CDATA[Semalam, aku mengetik percakapan imajiner dengan seseorang, dan ternyata percakapan imajiner tersebu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Semalam, aku mengetik percakapan imajiner dengan seseorang, dan ternyata percakapan imajiner tersebut benar-benar terjadi pada keesokan harinya. Pertanyaan yang hampir sama, dan aku berada pada sikap yang sama, persis seperti yang kutuliskan semalam. Adakah hukum tarik menarik lagi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Editor ga baca buku, Aneh kan?]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/18/editor-ga-baca-buku-aneh-kan/</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 06:39:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/18/editor-ga-baca-buku-aneh-kan/</guid>
<description><![CDATA[Rasanya sudah lama sekali tidak membaca buku baru. Editor tidak membaca buku. Nah, aneh kan. Maksudn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya sudah lama sekali tidak membaca buku baru. Editor tidak membaca buku. Nah, aneh kan. Maksudnya di sini adalah buku-buku yang memang aku ingin baca, bukan buku karena memang wajib untuk dibaca. Hah, apa ini.</p>
<p>Sebenarnya ini hanya masalah persepsi saja. Bukankah, seharusnya buku-buku yang diedit itu juga adalah buku yang ingin juga dibaca kan. Jadi sebenarnya sama saja kan, hanya berbeda versi pandangan saja.</p>
<p><!--more-->Bulan ini, aku sudah menghabiskan hampir 500 ribu untuk beli buku. Gila kan. Ada bukunya George Soros yang ingin aku baca. Open Society, sebenarnya buku Soros yang hadiah dari temanku saja belum tamat kubaca. Tamat sih, tapi aku belum mengerti. Yang ada hanya gatal mata saja, lantaran banyak banget yang harus diedit. Mengurangi kenikmatan membaca. Sungguh. Ha ha ha ha… dasar. Padahal buku-buku hasil editannya sendiri belum sempurna. Wha ha ha ha…</p>
<p>Yuk lah kita lihat sebentar… refreshing… secara sekarang sedang mengedit naskahnya Soraya Haque…. (aku ngedit naskahnya Soraya…. Whaaaaw….). Ah, lagi ngomong ini, bahas dulu lah sebentar.</p>
<p>Bocoran aja, sampe nanti diterbitkan oleh salah satu penerbit di Indonesia. Naskahnya kontemplatif banget, sampe-sampe kalo dah siang atau pagi, pokoknya masih ada matahari gitu, ga bisa ngebacanya. Tapi kalo malam, siap-siaplah tissue… untuk membasuh air mata dan ingus dari hidung (ih jorok ya) karena tiba-tiba saja jadi bercucuran air mata ketika membacanya. Itu dari segi konten. Tapi dari segi penulisan, terutama penulisan ayat agak parah karena mau tidak mau harus disesuaikan dengan gaya selingkung penerbit yang ngotsorcin (bahasa apa pula ini?) naskahnya ke aku. Dan banget itu. Jadi isinya belum kubaca banget-banget karena konsen dulu ke hal yang renik-renik dan pelatih kesabaran itu. Belum lagi tanda-tanda kutip yang kebalik-balik… wah pokoknya mah indah sekali lah. (bohong ya… kan harus berpikir positif… jadi membohongi otak untuk ini ga pa pa kan, wakakak).</p>
<p>Nah, sekarang baru pindah ke buku yang lain dulu lah, judulnya how to be an even better manager. Buku kuambil dari fotokopian siang tadi. Wah ketauan ngebajak ya. Tapi ga papalah. Karena kalo beli buku aslinya mahal bok! Yang penting kan isinya. Halah pembelaan diri kan.</p>
<p>Jadi manajer ternyata susah juga ya. Ya, tetapi bukan sesuatu hal yang tidak bisa dilatihkan. Pemimpin. Lagi-lagi yang dibahas adalah kepemimpinan seseorang. Bukan bos. <i>Not a boss, but a leader, that is what we need. </i>Orang bilang begitu.</p>
<p>Ah, ini bahasan berat sebenarnya. Bahasan yang paling malas aku bahas, tapi aku pengen tau banyak. Akhirnyalah, karena ada hukum tarik menarik itu, tepatnya seminggu inilah, kurasakan perkembangan suasana kantor meningkat dan menghangat begitu cepat.</p>
<p>Ah, konflik itu wajar pada setiap perusahaan (emang ada konflik gitu?). Adanya konflik menunjukkan kesehatan pada organisasi tersebut, kata buku itu. Wakakak, lagaknya kayak yang paham. Padahal sih belum tau apa-apa. Secara masih anak kemarin sore di dunia penerbitan. Belum juga dua tahun berkecimpung. Baru 15 bulan. Keur masih banyak melakukan kesalahan-kesalahan keneh. Halah, kenapa jadi beralih ke bahasa sunda begini.</p>
<p>Udah lah...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jealousy --]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/09/jealousy/</link>
<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 03:09:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/09/jealousy/</guid>
<description><![CDATA[Mengantuk sebenarnya, tapi ada tugas yang harus selesai. Aku mau menulis tentang cemburu. Ini adalah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mengantuk sebenarnya, tapi ada tugas yang harus selesai. Aku mau menulis tentang cemburu. Ini adalah reaksi yang wajar kukira. Ketika sahabat kita punya pendamping, sebut saja pacar, maka porsi waktu terbesar yang semula dibagi bersama kita akan hilang. Waktu itu akan menjadi bersama pendampingnya. Ya meskipun kita diajak, tapi tetap saja akan berbeda. Ini yang sedang terjadi denganku. Aku mulai mengambil jarak dengan sahabat-sahabatku. Tidak terlalu jauh, tapi cukup saja untuk menempatkan diri. Aku mendukungnya, karena itulah memang tahapan yang harus kita lalui sebagai salah satu tugas perkembangan emosi dan kehidupan kita. Dan aku selalu paham satu hal, ketika kita bertemu dan berinteraksi dengan seseorang seakrab dan sesohib apa pun, akan tiba waktunya untuk berpisah. Kita seharusnya mempersiapkan diri untuk itu. Dan aku pun demikian.</p>
<p>See, memutuskan jatuh cinta atau mencintai seseorang, kadang tanpa kita sadari kita mengorbankan orang-orang terdekat kita. So, what’s the matter with it? It doesn’t matter. Karena memang sudah seperti itulah seharusnya. Dan itu juga akan terjadi kepada kita ketika kita memutuskan untuk mulai mencintai dan bersama seseorang yang menjadi pendamping kita. Jangankan ditinggal nikah, ditinggal sahabat punya pacar pun rasanya ada bagian dari diri kita yang pergi. Tapi itulah keputusan. Dan itulah kehidupan.<br />
Tapi aku selalu percaya, esa hilang dua terbilang. Akan selalu ada teman-teman baru di sana, yang siap menggantikan sahabat-sahabat kita yang sudah memiliki pasangannya. Meskipun kita tetap bersahabat dengannya, tapi tetap ada yang berbeda. Ada hijab di sana. Hijab yang memisahkan antara kita dan sahabat kita. Meskipun tipis, tapi tetap saja hijab.</p>
<p>Ah, ini hanya omongan ngelantur orang yang sudah mengantuk tentang salah satu sisi kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ignorant]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/08/ignorant/</link>
<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 02:04:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/02/08/ignorant/</guid>
<description><![CDATA[There are many ignorants in this world, nevertheless, don’t let them ruin your day with what they ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>There are many ignorants in this world, nevertheless, don’t let them ruin your day with what they say.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rapor]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=281</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 12:55:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=281</guid>
<description><![CDATA[Jum`at kemarin, tepat tanggal 1 Februari, kami, aku dan teman-temanku dapat rapor. Employee Appraisa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jum`at kemarin, tepat tanggal 1 Februari, kami, aku dan teman-temanku dapat rapor. Employee Appraisal namanya. Aku dapat nilai 73,5. nilainya B. Lumayanlah. Notes dari manajerku adalah, KERJA HARUS FOKUS. Ya, mungkin dan memang disanalah kekurangan aku. he he he. Memang benar itu sebenarnya, dan aku masih harus belajar fokus, fokus, dan fokus. Sulit memang, tapi kalo aku mau maju, aku harus belajar hal itu. Kalo tidak, percayalah, aku ga akan kemana-mana dan akan stay di sana saja, dalam ketidakfokusan aku. Aku jadi teringat akan ucapan seorang teman, dia bilang gini, <strong><i>“Nur, kelebihan kamu itu adalah karena kamu tidak punya kekurangan, dan kekurangan kamu adalah karena kamu tidak punya kelebihan.”</i></strong><br />
Secara tidak langsung sebenarnya dia mau bilang, Nur, sebenernya kamu bisa berhasil di mana saja dan di bidang apa saja, asal kamu mau fokus. Fokus, Nur, Fokus. Itu saja.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mistakes]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=280</link>
<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 08:18:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=280</guid>
<description><![CDATA[Another mistakes again. Rasanya sekarang sudah lengkap semuanya.
Tinggal tunggulah&#8230; dipanggil ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Another mistakes again. Rasanya sekarang sudah lengkap semuanya.</p>
<p>Tinggal tunggulah... dipanggil sama bos besar, kalau beliau udah dateng dari Negeri Seribu Menara sono.</p>
<p>Nur... Nur... seharusnya koreksi... koreksi... koreksi... selalu aktif....</p>
<p>Biar dibilang rewel dan cerewet, tapi kalo itu bisa meminimalisasi kesalahan kenapa tidak?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Total Editing]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2008/01/29/total-editing/</link>
<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 06:30:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2008/01/29/total-editing/</guid>
<description><![CDATA[Istilah ini aku peroleh dari Pak Bambang Trim. Seorang editor harus memainkan strategi total footbal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah ini aku peroleh dari Pak Bambang Trim. Seorang editor harus memainkan strategi total football...eh salah...Total Editing. Semua hal yang berkaitan dengan kelengkapan naskah hingga buku itu terbit. Semuanya. Feeling editor harus jalan, mana yang kurang, mana yang belum. Semua aspeknya. Dari pernik-pernik yang kecil sampai pernak-pernak yang besar…</p>
<p>Luar biasa sebenarnya tanggung jawabnya. Apalagi editor yang multifungsi, ya ngedit, ya ngurusin penulis, ya bikin surat perjanjian, multitasking banget. Belum lagi deadline yang selalu mengintai. Wah betapa indahnya dunia ini.</p>
<p>Editor harus bermain cermat dan cantik dalam total editingnya. Total football juga berarti konsistensi, dan ranah renik-renik copyediting yang kadang njelimet. Ada banyak kasus juga, konsistensi style gaya selingkung oke, tapi renik-renik salah ketik banyak yang terlewat. Renik-renik salah ketik tidak banyak, tapi konsistensinya kurang. Tapi banyak juga yang konsistensi gaya selingkung oke dan renik-renik salah ketiknya juga relatif bersih.</p>
<p>Butuh latihan dan pembelajaran yang luar biasa untuk mengasah feeling, agar ketajamannya tetap terasah sehingga bisa peka terhadap segala jenis kesalahan dan ketidakkonsistenan yang terdapat dalam naskah buku. Sehingga akhirnya buku sampai ke tangan pembaca dengan bersih, kalo bisa malah zero error.</p>
<p>Total editing mungkin juga berarti kecepatan, ketajaman, ketepatan, kecermatan, dan ketelitian, bahkan mungkin masih banyak aspek lainnya. Jadi intinya latihan, alah bisa karena biasa. Practice make perfect.</p>
<p>Dare to do.</p>
<p>Bandung, 19 Oktober 2007<br />
Nurchasanah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Judul buku, judul bab, judul tulisan! Kenapa Penting?]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/?p=278</link>
<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 06:29:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/?p=278</guid>
<description><![CDATA[“Ketika Anda meyakini satu hal, yakinilah hal tersebut dengan sepenuh hati. Jika nilai yang Anda y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div ALIGN="center"><i>“Ketika Anda meyakini satu hal, yakinilah hal tersebut dengan sepenuh hati. Jika nilai yang Anda yakini jelas, keputusan apapun dapat diambil dengan mudah”.<br />
Walt Disney</i></div>
<p>Kemarin (27082007), kami rapat bersama—ya ga full team sih—intinya ngebahas progress hingga saat ini. Operational director kami datang dan ngasih visi dan misi gimana sih seharusnya buku kami. Semuanya dibahas, walaupun belum secara mendetail. Dan aku kena. Kena pas bagian judul kata pengantar, secara aku ngebuatin kata pengantar buat buku yang ku kopiedit. Kata pengantar di buku satu ku juduli dengan meneladani kisah mengambil hikmah, dan buku dua dengan gola gong, kesederhanaan yang membumi. Karena aku yang menjudulinya, aku mengganggap judul itu bagus dan sudah cukup mewakili nyawa buku. Tapi rupanya itu belum cukup. masih terlalu biasa katanya. Ga ada gregetnya. Harusnya judul itu bener-bener catchy. Memancing mata dan otak buat menarik pembaca untuk mau membacanya sampe selesai.</p>
<p>Terlepas dari rasa kesal, dalam hati aku mengaminkan ucapan operational directorku. Ya demikianlah memang adanya. Tapi so what, harusnya gimana? Secara aku juga jarang ke toko buku...ga menyempatkan diri.</p>
<p>Aku juga tahu kalo Sebuah judul itu harus bisa mengeksplor sendi-sendi kalimat hingga ke sumsum kata...alah sok biologi banget kan?</p>
<p>Ini membuatku mengingat kembali akan semua judul-judul tulisan yang pernah kubuat. Termasuk yang ku kirim ke kompas dan akhirnya balik lagi padaku. Aku sudah coba membuat judul yang provokatif. Tapi mungkin memang belum ok untuk dipublikasikan.</p>
<p><strong>I did it my way</strong><br />
Aku bersyukur bisa masuk dalam tim ini, dan entah berapa lama aku bisa bertahan aku tidak tahu. Terlepas dari itu semua, aku akan perform se perform-performnya, bukan buat perusahaan atau bos, tapi buat aku sendiri. Aku akan berbuat sebaik-baiknya. Dan Biarlah Allah dan orang mukmin melihatnya. Bismillah. Aku akan berusaha lebih keras dari yang lainnya.<br />
Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. I did it my way.</p>
<p>“Saya bermimpi, saya menguji mimpi saya dengan keyakinan saya, saya berani mengambil risiko, dan melaksanakan visi saya untuk membuat mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan” – Walt Disney</p>
<p>Kota Kembang, 28 Agustus 2007<br />
Nurcha</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
