<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>egois &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/egois/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "egois"</description>
	<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 07:13:39 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[AKU ??]]></title>
<link>http://rienakireina.wordpress.com/?p=78</link>
<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 11:52:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>rien_na</dc:creator>
<guid>http://rienakireina.wordpress.com/?p=78</guid>
<description><![CDATA[Aku…
Siapa aku..??
Kenapa aku tak tau..??
Saat aku diam..bersabar.. apa itu aku??…
Saat aku terl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Aku…<br />
Siapa aku..??<br />
Kenapa aku tak tau..??<br />
Saat aku diam..bersabar.. apa itu aku??…<br />
Saat aku terlalu banyak bicara.. tertawa.. apa itu aku??..<br />
Saat aku peduli..apa itu aku??..<br />
Saat aku tak mau tau..apapun..siapapun..apa itu aku??..<br />
Saat aku mau mendengar..dia.. tentangnya.. apa itu aku??<br />
Saat aku egois..egois!!.. apa itu akuu??..<br />
Saat aku jujur pada diriku.. pada hatiku.. apa itu aku??<br />
Saat aku tutupi.. pakai logikaku.. apa itu aku??<br />
Yang mana akuuu???<br />
Aku yang mana??<br />
Ingin aku keluar dari sini..lalu aku beranjak lihat diriku sendiri..<br />
Bagaimana aku??..</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[diam]]></title>
<link>http://ncrit.wordpress.com/?p=23</link>
<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 02:56:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>ncrit</dc:creator>
<guid>http://ncrit.wordpress.com/?p=23</guid>
<description><![CDATA[
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<br />
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indahkah Mimpi Anda?]]></title>
<link>http://fusionlante.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 02:28:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>kandagalantes</dc:creator>
<guid>http://fusionlante.wordpress.com/?p=9</guid>
<description><![CDATA[Dari kecil kita diajarkan untuk bermimpi. Pertanyaan seorang guru kepada muridnya: “Nak, kalau sud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dari kecil kita diajarkan untuk bermimpi. Pertanyaan seorang guru kepada muridnya: “Nak, kalau sudah besar ingin jadi apa?” lalu anaknya menjawab : ”Kalau udah besar saya ingin jadi dokter”.</p>
<p>Ada sebagian orang menganggap bahwa mimpi itu perlu untuk tujuan hidup atau target hidupnya. Tapi pernahkah terfikirkan oleh kita bahwa guru ataupun orang tua telah memaksakan kehendaknya kepada seorang anak untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri. Mereka menganggap bahwa anak belum mampu berfikir dengan betul makanya harus mengikuti kehendaknya.</p>
<p>Kemudian setelah anak mengikuti kehendak mereka sebagian dari mereka gagal sehingga memunculkan stress, penyimpangan prilaku, ataupun menjadi seorang kriminalitas.</p>
<p>Bandingkan dengan yang berhasil, apakah mereka lebih baik dari yang gagal? Secara kenyataannya mereka lebih baik dari materi, ilmu pengetahuan dan kehidupan sosialnya tapi pernahkah anda membayangkan bahwasannya kehidupan mereka itu telah jauh dari yang diharapkan.</p>
<p>Kenapa? Pernahkah kita berfikir bagaimana jadinya seorang dokter yang memiliki jiwa pedagang? Dokter yang memiliki jiwa pedagang maka akan berusaha untuk menjual obat sebanyaknya tanpa harus memperdulikan pasien. Mr.Creb berkata ”pelanggan ialah uang”. Semakin sering pasien datang untuk berobat maka semakin kayalah dokter itu.</p>
<p>Pernahkah anda berfikir apakah ilmu pengetahuan itu hanya sebatas S3? Ataukah ilmu pengetahuan itu hanya sebanyak yang kita ketahui sekarang ini. Jika anda mengatakan ia maka anda telah mengukur tingginya langit setinggi atap rumah anda.</p>
<p>pernahkah terpikir oleh kita bahwa semua orang memiliki otak yang didalamnya terkandung berbagai hal yang berbeda maka alangkah luasnya hasil yang dapat dimunculkan oleh seseorang dan sangat beragamnya ilmu pengetahuan.</p>
<p>Bagi seseorang yang pernah mengalami kuliah entah itu D3, S1, S2 dan S3, maka saat mereka melakukan sidang akhir muncul pertanyaan yaitu “darimana referensi yang anda ambil?”. Mereka (penyidang) selalu bertanya hal-hal seperti itu tanpa mereka pernah berfikir bahwa orang yang di hadapannya mungkin saja jadi presiden di kemudian hari atau betapa jeniusnya orang dihadapannya.<br />
Kalau penyidang itu beranggapan bahwa anda adalah seorang yang cerdas maka mereka bertanya : “bagaimana solusi yang anda buat untuk mengangani masalah ini?”.</p>
<p>Betapa telatnya pendidikan yang telah kita dapatkan. Bukannya kita berhasil membuat referensi malahan hanya jadi pengguna referensi.</p>
<p>var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www.");<br />
document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E"));</p>
<p>var pageTracker = _gat._getTracker("UA-5150793-2");<br />
pageTracker._trackPageview();</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mimpi atau Realita ?]]></title>
<link>http://fusionlante.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 02:27:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>kandagalantes</dc:creator>
<guid>http://fusionlante.wordpress.com/?p=7</guid>
<description><![CDATA[Kebanyakan kita diajarkan untuk bermimpi bukan untuk menggapai mimpi. Kita selalu diiming-imingi ses]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kebanyakan kita diajarkan untuk bermimpi bukan untuk menggapai mimpi. Kita selalu diiming-imingi sesuatu yang indah atau enak. Sebagai contoh: “ayo belajar biar bisa jadi direktur” atau “tamatin puasa entar dikasih mobil”.<br />
Bermimpi membuat kita lupa akan kenyataan. Pendidikan dengan cara bermimpi ini akan membuat mental seseorang selalu dikelilingi oleh untung dan rugi dalam arti seseorang hanya akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan imbalan.</p>
<p>Kalau orang ini sudah terprogram otaknya seperti diatas maka akan berusaha gimana caranya saya bisa mendapatkan lebih banyak imbalan dan Belajar hanya untuk mengejar suatu proyek. Tapi bayangkan apabila dia gagal maka akan mencari pelarian dari stress yang dia buat sendiri.</p>
<p>Mereka tidak menyadari bahwasannya dalam sehari mampu menuntaskan berbagai problema atau mengerjakan banyak hal berguna. Tapi biasanya waktu habis hanya untuk menunggu datangnya proyek, atau imbalan apa yang bisa saya dapatkan dari suatu pekerjaan.</p>
<p>Ada satu istilah di Shaolin yaitu “lakukan sesuatu tanpa melihat hasil”. Karena hasil itu selalu ditangan Tuhan. Oleh sebab itu, kita bisa melihat banyak orang yang mengejar mimpi tapi apa yang terjadi hasilnya selalu jauh dari keinginan.</p>
<p>Coba anda tanyakan kepada diri sendiri “apakah anda punya mimpi?” lalu tanyakan “apakah anda bergerak menuju mimpi anda?”.</p>
<p>Pada saat anda menjawab coba perhatikan berapa lama anda berfikir untuk menjawab hal itu semakin cepat maka anda memiliki mimpi dan semakin lama maka anda memaksakan mimpi itu kediri anda.</p>
<p>Coba perhatikan orang yang dikatakan berhasil oleh kita kebanyakan jika ditanya mimpi maka dia akan menjawab sesuatu yang global seperti: “mimpi saya yaitu menjadi orang sukses”.<br />
Jawaban global seperti ini mengartikan dia hanya berusaha menjawab pertanyaan anda untuk menyenangkan hati anda. Atau seseorang yang berhasil dia ngomong apa aja maka kita serasa ini jawabannya padahal jawaban itu belum tentu sebenarnya dan juga belum tentu cocok dengan anda.</p>
<p>Kebanyakan orang yang telah sukses menurut kita: dia hanya berusaha terus dengan sebaik mungkin, terus berproses dan mengamati proses yang dia kerjakan bukan bermimpi.</p>
<p>Sebagai contoh: petani buah-buahan yang telah mendapatkan kekayaan dari hasil pertaniannya apa mereka pernah sekolah tinggi, dan apa mereka pernah memiliki cita-cita untuk menjadi pejabat?.<br />
Contoh lain : Asep Sunandar Sunarya (dalang) berhasil mendapatkan S2 dari universitas Belanda. Apa dia pernah sekolah di Belanda? Dia hanya terus belajar dan mengerjakan apa yang dia bisa lakukan detik sekarang. Dia mencari guru untuk belajar selain dari orang tuanya tanpa berfikir dengan ilmu ini dia akan menghasilkan uang banyak, artis, dan dapat gelar S2.</p>
<p>anda tidak perlu memiliki jiwa penolong tapi anda jadilah penolong bagi orang yang membutuhkan atau dengan kata lain lakukanlah kebaikan detik sekarang.</p>
<p>var gaJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://ssl." : "http://www.");<br />
document.write(unescape("%3Cscript src='" + gaJsHost + "google-analytics.com/ga.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E"));</p>
<p>var pageTracker = _gat._getTracker("UA-5150793-2");<br />
pageTracker._trackPageview();</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku dan Keegoisanku...]]></title>
<link>http://karafuruworld.wordpress.com/?p=143</link>
<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 14:32:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>karafuruworld</dc:creator>
<guid>http://karafuruworld.wordpress.com/?p=143</guid>
<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaykum Wr. Wb.
Minggu-minggu ini adalah salah satu masa yang cukup berat&#8230;
Ujia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu'alaykum Wr. Wb.</p>
<p>Minggu-minggu ini adalah salah satu masa yang cukup berat...</p>
<p>Ujian datang satu per satu...</p>
<ol>
<li>Adanya kesalahan tempat lahir pada transkip nilai kuliah. Harusnya Ciamis malah Cisaga...</li>
<li>Sama sekali belum bisa berbuat banyak di Departemen Ekonomi Gamais untuk mempublikasikan Pass TPB...</li>
<li>Kurangnya SDM dan dana yang menimpa Pembinaan Adik Asuh (PAA) Gamais...</li>
<li>Menjadi panitia Daurah Pra Kampus SMAN 3 Bandung saat acara Masa Bina Cinta (MBC) HME berlangsung...</li>
<li>MBC HME yang cukup banyak tugasnya...</li>
<li>Nggak enak nelen... --&#62; Doain biar nggak sakit, ya! :-)</li>
<li>Penyakit hati mulai timbul (lagi)...</li>
<li>Menyakiti hati seseorang...</li>
<li>Dan banyak lagi...</li>
</ol>
<p>Wah, kalau di <em>list</em> banyak juga, ya? Yang mau dibahas kali ini adalah mengenai poin ke delapan : Menyakiti hati seseorang.</p>
<p>Hanya kurang dari empat jam yang lalu, Karafuru San secara egois mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi orang yang dituju. Keegoisan itu muncul (mungkin) akibat ketidakberterimaan atas apa yang didengar dan dilihat. Entah kenapa penyakit itu tiba-tiba muncul dan menguasai diri.</p>
<p>Sebetulnya inti dari apa yang disampaikan itu baik. Tapi karena keegoismean diri yang lebih diutamakan, maka jadinya... Penyampaiannya tidak seperti apa yang seharusnya, dan akhirnya malah berujung pada penonjolan keegoisan.</p>
<p>Sebagai seseorang yang sebetulnya cukup sering (biasa) menonjolkan keegoisan, hal itu seharusnya bisa ditahan. Tapi kadang, seperti contoh yang dialami tadi sore, adanya kebutaan hati untuk menerima kenyataan dan ketersediaan kebenaran nggak bisa menahannya. Alhasil, saat ini seseorang tadi pasti enggan mengingat pemilik KarafuruWorld ini.</p>
<p>Yah, bagaimanapun juga itu adalah kesalahan pribadi yang egois.</p>
<p>Karakter yang memiliki ego tinggi biasanya nggak bisa menahan perasaan saat ada sesuatu yang mengusik hatinya. Sama seperti pohon pinus yang rapuh jika terkena hujan dan badai, seseorang yang memiliki ego tinggi cenderung untuk memperlihatkan emosinya secara langsung baik tersembunyi ataupun nggak. Kadangkala pemaksaan kehendak pun menjadi salah satu sifat pemilik ego tinggi.</p>
<p>Biasanya, pemilik ego tinggi agak sulit diubah. Kebiasaan yang diturunkan dari salah satu orang tua, adanya lingkungan yang memang bisa cocokuntuk itu, dan tidak adanya minimal seseorang yang selalu mengingatkan menjadi faktor yang menyebabkan sulitnya mengubah ego.</p>
<p>Untuk orang-orang di sekitarnya pun dituntut untuk bisa senggaknya mengingatkan agar mereka bisa terhindar dari perwujudan ego itu...</p>
<p>Ceritanya sama dengan seperti saat kita ingin menyebrangkan sepeda ke seberang jalan. Sepeda merupakan analogi dari sesuatu yang baik. Saat kita hanya melihat ada nggaknya kendaraan dari satu arah saja dan langsung menyeberang, maka kita akan celaka.</p>
<p>Sama, jika kehendak kita (walaupun pada dasarnya amat baik) disampaikan dengan cara yang salah (hanya melihat dari sisi <span style="text-decoration:underline;">apa yang terjadi </span>saat ini, nggak juga melihat apa <span style="text-decoration:underline;">yang akan terjadi </span>setelah ini) maka kita akan celaka tertabrak oleh sebuah kesalahpahaman yang bisa menimbulkan penyesalan...</p>
<p>Semoga siapapun yang memiliki sifat dasar ego yang tinggi bisa mengontrol kehendaknya.</p>
<p>Harapan pribadi, semoga seseorang yang dalam empat jam ini merasa telah tersakiti dapat memaafkan keegoisan yang sangat tampak dari seorang Karafuru San... Afwan, jiddan, ya... Maaf...</p>
<p>Assalamu'alaykum Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ingin anak LAKI atawa PEREMPUAN ??]]></title>
<link>http://limpo50.wordpress.com/?p=521</link>
<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 16:02:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>limpo50</dc:creator>
<guid>http://limpo50.wordpress.com/?p=521</guid>
<description><![CDATA[ISENG-ISENG boleh IKUTAN.
Inilah kalimat yang termasuk sering dijadikan soal pembicaraan. Dan sebagi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>ISENG-ISENG boleh IKUTAN.</p>
<p><a href="http://limpo50.files.wordpress.com/2008/07/logo-sex.jpg"><img src="http://limpo50.wordpress.com/files/2008/07/logo-sex.jpg?w=114" alt="" width="114" height="123" class="alignleft size-medium wp-image-529" /></a>Inilah kalimat yang termasuk sering dijadikan soal pembicaraan. Dan sebagian besar kita mempasrahkan kepada Yang Maha Esa, apapun kehendakNYA terimalah. Hanya sanya... sebagiannya lagi demikian harapnya dengan anak, dalam dirinya lalu terpatri keinginan yang amat sangat tentang LAKI atau PEREMPUAN. <br />
Pakailah  ... .  <!--more--> teori keilmuan yang ada sebagai upaya, tetapi jika anda ingin lagi upaya tambahan, saya memberikan advis yang apa adanya dan tak ada apa-apanya. Apakah itu ?</p>
<ol>
<li>Buanglah keinginan berlebihan tentang apa saja, agar anda siap menghadapi kenyataan.</li>
<li>Jika tak punya pengetahuan yang baik tentang itu, buatlah apa yang anda ketahui saja.</li>
<li>Kurangi sifat mau menang sendiri, Egois, merah ya merah dan sukalah berkompromi suami-istri.</li>
<li>Jika anda sulit mengatakan TIDAK, saya menduga anda akan memperoleh anak PEREMPUAN dengan peluang yang lebih banyak. Tetapi sebaliknya, jika anda sulit memahami orang lain dan hanya mau dimengerti, maka anak LELAKI lebih berpeluang bagi anda.</li>
<li>Maka, kemanakah yang anda condong saat ini ???</li>
</ol>
<p>Maka, HAI gadis dan PERJAKA... .</p>
<p>Jangan takut pada CALON MERTUA yang lebih banyak anaknya PEREMPUAN, sebab sesungguhnya kedua orang tuanya (CAMER tadi) itu punya kelembutan di dalam dirinya yang susah mengatakan TIDAK kendati ia nampak GARANG dan PASANG WIBAWA.</p>
<p>Tetapi,</p>
<p>Jangan anggap ENTENG CAMER itu, kalau anaknya lebih boanyak LELAKI. Ia dapat kurus dan pendiam, tetapi cobalah... Ia adalah BAGAI SANG RAJA ... yang sulit diubah pendiriannya.</p>
<p>Heeeeheeee percaya atauw tidak ... anda sendiri bagaimana ??, teman anda, tetangga anda, guru anda dan ...OKlah.</p>
<p> </p>
<p><!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wisuda Kepentingan Diri]]></title>
<link>http://fiqy.wordpress.com/?p=121</link>
<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 12:49:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>fiqy</dc:creator>
<guid>http://fiqy.wordpress.com/?p=121</guid>
<description><![CDATA[
Tiga puluh tahun lalu, lulus sekolah, yang namanya wisuda, hanya berlaku bagi perguruan tinggi, lul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fiqy.wordpress.com/files/2008/07/wisuda.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-122" src="http://fiqy.wordpress.com/files/2008/07/wisuda.jpg?w=96" alt="" width="96" height="135" /></a></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Tiga puluh tahun lalu, lulus sekolah, yang namanya wisuda, hanya berlaku bagi perguruan tinggi, lulusan setingkat sarjana. Keluaran SD, SMP, SMU cukup puas dengan Selamatan Jenang Abang, home-made. Ibu buat sendiri kue-kue di rumah, jika anak-anaknya naik kelas atau lulus sekolah, sebagai wujud syukur ke hadirat Allah Ta’ala, atas segala prestasi yang telah diraih anak-anaknya. Kue-kue ini dibagikan ke tetangga sebelah dan sanak-saudara.</p>
<p>Saya sendiri tidak pernah merasakan ‘nikmatnya’ mengenakan toga, kecuali setelah mengenyam perguruan tinggi. Tapi, di mana sih sebenarnya kenikmatan hakiki mengenakan toga dan pakaian kebesaran wisuda?<br />
</span><!--more--><br />
<span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> Sejujurnya, saya tidak mengerti. Makanya, ketika keponakan saya wisuda beberapa waktu yang lalu, sementara dia sibuk sekali bangun pagi dan kemas-kemas dengan aneka macam persiapan wisuda, saya cenderung kurang peduli. Saya tidak bisa menutupi diri sendiri, bahwa wisuda semacam ini tidak nampak hikmahnya, kecuali ‘sia-sia’.</p>
<p>Sia-sia. Karena sebelum wisuda, orangtua repot sekali mencari duit Rp 700 ribu untuk membayar keperluan wisuda. Itu besarnya ongkos wisuda untuk perguruan tinggi kelas kabupaten. Kalau saya rinci, bisa meliputi bayaran orang penting yang mewisuda, panitia, konsumsi wisudawan dan undangan, sewa gedung, meja-kursi, dokumentasi dan administrasi. Belum terhitung transportasi!</p>
<p>Banyak sekali? Memang! Namanya juga wisuda. Apalagi untuk tingkatan perguruan tinggi terkenal. Makin bergengsi nama perguruan tingginya, semakin mahal biaya wisudanya. Padahal, sesudah wisuda, apa yang mereka butuhkan, kerja kan?</p>
<p>Bulan-bulan ini banyak sekolah dan perguruan tinggi yang sibuk dengan aneka ragam wisuda. Keponakan saya terlihat senangnya bukan main! “Om, potret ya?” ungkapnya, minta difoto. Tukang rias pun harus datang pagi-pagi hanya untuk urusan sanggul dan jarit. ‘Sudah begitu aturan dari fakultas’, katanya. Belum lagi mencocokkan model dan warna sepatu dengan pakaian yang dikenakan.</p>
<p>Pokoknya: wah!</p>
<p>Sesudah itu, jemputan mobil sewaan datang. Berangkat ramai-ramai! Bapak, ibu, adik, calon suami kalau perlu, dan wisudawati itu sendiri. Semua ikut. Jumlah lulusan 300, yang hadir 3000 orang. Hari itu, benar-benar istimewa.</p>
<p></span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;" lang="NL">Di tingkat pendidikan taman kanak-kanak (TK), tidak kalah serunya! Jalan desa macet hanya karena anak-anak TK mau wisuda. Orangtua disibukkan dengan acara wisuda yang biar kecil-kecilan, urusannya makin ruwet. Mulai dari sepatu, pakaian, makanan kecil, hingga pampers.</p>
<p>Bagi yang kaya, agar lengkap dokumentasi wisudanya, menyewa studio untuk bikin ‘film’ dan di-VCD-kan. Yang nggak mampu, tukang foto amatiran sudah lebih dari cukup. Kalau perlu di-‘klik’ sebelum berangkat.</p>
<p>Akan dikemanakan anak-anak ini sebenarnya?</p>
<p>Acara wisuda, pemberian gelar: ahli madya, sarjana, pasca sarjana, SPd, ST, Dr , DR, Prof, dan lain-lain, sebenarnya untuk apa? Kalau hanya ingin memberikan penghargaan kepada seseorang sesudah dianggap mampu menguasai ilmu tertentu dan pada waktu tertentu, toh Imam Syafi’i misalnya, yang hafal al-Qur'an pada umur 9 tahun, tanpa gelar apa-apa, tanpa penghargaan apa-apa, namanya juga bisa besar.</p>
<p>Imam Bukhari yang ‘membabat’ 9000 hadits di luar kepala, juga memiliki nama gemilang dan harum, tanpa embel-embel doktor atau profesor. Padahal ilmu cendekiawan muslim itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang banyak. Kajian ilmu mereka bukan hanya sebatas demi kepentingan duniawi. Ilmu mereka menembus kebutuhan manusia hingga hidup sesudah mati. Subhanallah!</p>
<p>Pak Arif dan Pak Zais di kampung kami puluhan tahun sudah menjadi tukang cukur rambut tanpa sekolah. Tapi mereka ahli di bidangnya. Dihargai oleh masyarakat. Berpenghasilan pula. Sementara, yang lulusan sarjana saja sekarang ini banyak yang nganggur.</p>
<p>Atau, Mbak Sri yang hanya berprofesi sebagai tukang pijet. Hampir setiap sore dia dipanggil oleh orang-orang yang butuh sentuhan tangannya untuk melemaskan otot-otot yang kaku. Padahal, sekolah menengah pertama saja dia tidak lengkap.</p>
<p>Jadi, apa artinya pendidikan panjang, bertahun-tahun, formal, penuh teori, dan ditutup dengan pemberian toga, kalau kenyataanya produknya sebagian besar justru ‘kalah’ dengan seorang tukang cukur semacam Pak Arif, atau tukang pijat kayak Mbak Sri?</p>
<p>Pada zaman modern ini, kita telah dicetak untuk membentuk manusia yang menomor-satukan kebutuhan pribadi. Sejak kecil kita sudah mulai terbiasa dididik untuk mementingkan diri sendiri, alias egois. Mementingkan diri sendiri ini dikedepankan oleh sekolah-sekolah kita. Sehingga lulus sekolah seakan-akan identik dengan prestasi, gengsi dan kepentingan diri.</p>
<p>Anak-anak yang lulus sekolah tidak dibiasakan berkonsep, bahwa sekolah sebenarnya hanyalah bagian dari proses belajar yang tidak ada akhirnya. Sekolah-sekolah umumnya mengumbar jutaan janji, bahwa dengan sekolah, mereka bisa ini, itu; memiliki kompetensi ini dan itu, serta segudang sebutan profesi lainnya.</p>
<p>Padahal, di luar gedung sekolah sana, tenaga terampil tak terhitung jumlahnya. Tukang kayu, tukang batu, tukang gergaji, tukang gali, dan sebagainya. Mereka hanya kita sebut: ‘tukang’. Padahal, mereka adalah pasukan yang berdiri di garis terdepan dalam pembangunan rumah dan gedung-gedung, proyek perkantoran, hingga dam-dam pembangkit listrik. Merekalah mestinya yang menyandang insinyur sejati.</p>
<p>Mas Gatot, tetangga sebelah kami, hanya lulusan SD. Setiap hari, orang antri meminta tenaganya, memperbaiki kerusakan listrik dari rumah-ke rumah. Rekan saya, lulusan Elektro ITB, malah jadi budayawan. Biar keren kedengarannya kan?</p>
<p>Tanpa sekolah formalpun, tukang-tukang ini ternyata bisa juga hidup. Dalam arti, mereka bisa jadi ‘manusia’, tumbuh, bekerja, dan berkembang, tanpa harus duduk di bangku sekolah. Itu bukan berarti, bahwa pendidikan di sekolah formal tidak penting. Karena di sekolah yang formallah terdapat laboratorium, perpustakaan dan tenaga-tenaga ahli yang bersertifikat.</p>
<p>Namun demikian, orang-orang yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal ini, bisa juga langsung praktek ke ‘laboratorium terbuka’. Mereka juga bisa mengunjungi ‘perpustakaan hidup’, serta ‘Kuliah Kerja Nyata’ tanpa batas. Mereka tidak butuh sekolah tinggi maupun universitas yang biaya wisudanya bikin bulu kuduk berdiri, untuk mencetak agar mereka jadi manusia yang berguna.</p>
<p>Wisuda dengan segala macam acara ‘ritual’nya, hanyalah satu contoh, betapa kita ini secara sistematik sudah dicetak sebagai manusia-manusia yang belajar mementingkan diri sendiri.</p>
<p>Apakah tidak dikatakan mementingkan diri sendiri, bilamana sesudah wisuda dan menyandang gelar tertentu, lantas kita berani ‘mematok’ harga, berapa seharusnya kita dibayar? Apakah tidak mementingkan diri sendiri namanya, bila sesudah wisuda, kita hanya mau bekerja kalau sesuai selera? Apakah tidak mementingkan diri sendiri namanya, bila sesudah wisuda, tidak mau kerja, karena terlalu berat tantangannya?</p>
<p>Lihatlah orang-orang desa yang serba bisa! Mencangkul di sawa, memanjat pohon kelapa, merawat tanaman di ladang, mengolah kayu untuk jadi bahan bangunan, mencari batu kerikil di sungai, membakar batu bata, menganyam bambu, hingga membangun rumah. Mereka memiliki segudang ilmu dan ketrampilan tanpa gantungan selembar sertifikat pun di ruang tamu mereka.</p>
<p>Mementingkan diri sendiri, egois, atau selfish, berarti meletakkan kepentingan diri sendiri diatas kepentingan orang lain. Di dalam Islam, mementingkan diri sendiri itu bertentangan dengan ajarannya. Hal itu terlihat dari sholat saja misalnya, kita dianjurkan berjamaah. Dengan berjamaah, terkandung nilai-nilai kebersamaan umat. Ringan sama dizinjing, berat sama dipikul.</p>
<p>Sesudah sholat, kalau mau, orang-orang bisa menyelesaikan banyak persolan hidup di dalam masjid. Sedangkan jika sholat sendiri-sendiri, siapa yang bakal membantu kita menyelesaikan masalah, dengan tinggal di rumah yang tertutup?</p>
<p>Susahnya, sudah tahu begitu, kita masih alergi kalau dikatakan egois!</p>
<p>Ketika mengerjakan sholat, kita ucapkan ‘Allahu Akbar’ (Allah Mahabesar). Itu berarti, kita ini kecil sekali dihadapan Allah. Hanya Allah Ta’ala Yang Besar, yang lainnya gurem. Jika sudah merasa kecil-kecil, hingga tidak berarti sama sekali, mestinya kita sadar, bahwa kita ini tidak pantas mementingkan diri sendiri. Dihadapan-Nya, kita bukan apa-apa!</p>
<p>Rasulullah SAW sebelum wafat, menangis tersedu. “Ummati...ummati....!” Kata beliau SAW, sambil berlinang air mata. ‘Umatku...umatku....’. Di sini, menunjukkan betapa kepribadian beliau SAW begitu mulia. Di saat menjemput mautpun, beliau SAW masih sempat memikirkan umatnya. Padahal jarak kita dengan beliau sekarang ini sudah lebih dari 14 abad lamanya. Subhanallah.</p>
<p>Demikian pula ketika Rasulullah SAW hijrah, sahabat-sahabat beliau SAW, begitu besar perhatiannya terhadap kepentingan dan arti kebersamaan sesama muslim, sehingga ada yang rela menceraikan istrinya untuk ‘diberikan’ kepada sahabatnya orang-orang Muhajirin. Beberapa orang sahabat malah menyerahkan separuh lahan pertanian yang dimilikinya sebagai sumber kehidupan sahabatnya yang baru (al-Qur'an, al-Hasyr: 9). Subhanallah!</p>
<p>Kita? Jangankan mau memikirkan orang lain. Sesama saudara kandung saja, makanan sering dihabiskan sendiri. Apalagi jika itu kesukaan kita. Pokoknya, kalau menyangkut yang enak-enak, kita maunya didahulukan. Sedangkan jika sudah giliran yang susah, membersihkan kamar makan, kosek-kosek kamar mandi, atau yang melelahkan, kita tunjuk orang. Kita kedepankan kebutuhan kita, kita kesampingkan keperluan orang lain.</p>
<p>“We do not follow such system,” kata Alaa Tuti, insinyur komputer asal Libya yang ogah mengenakan dasi. ‘Kita telah mengikuti tradisi Barat’, lanjutnya. Ketika menyelesaikan studi, di universitas al-Fatah, Tripoli, salah satu perguruan tinggi terkenal di Libya, rektor universitas cukup menyampaikan ucapan selamat, kemudian menyerahkan ijazah kepada para lulusan. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Demikian pula yang disampaikan Abdul Hakeem, yang menyelesaikan S2 Sastra Arab di India Selatan.</p>
<p>Sedari kecil, anak-anak seharusnya dibiasakan untuk tidak hidup dalam lingkungan yang memupuk pertumbuhan egoismenya. Seringkali kita memberikan puji-pujian kepada anak-anak secara berlebihan, hingga anak-anak akhirnya tumbuh ‘besar’ dan ‘sombong’. Berikan pujian yang sewajarnya, jika mereka menunjukkan prestasi dan kemajuan dalam studi. Berikan dorongan untuk memperbaiki kesalahan, bila hasil ujian mereka menurun. Tekankan untuk tidak mudah putus asa. Jangan pupuk dengan hal-hal yang tidak memberikan manfaat kepada mereka!</p>
<p>Wisuda, bisa dilakukan dengan cara-cara lain yang lebih sederhana, tanpa mengurangi maknanya. Bukannya dengan menghambur-hamburkan uang, tenaga dan waktu. Anak-anak keluaran TK,  SD, SMP, SMU, dan perguruan tinggi, tidak membutuhkan pakaian kebesaran, pesta, serta mahalnya kertas sertifikat. Yang mereka butuhkan adalah, sesudah selesai studi nanti apa yang bisa mereka perbuat di lapangan sebagai manusia. Mampukah kita meyakinkan mereka akan hal ini?</p>
<p>Kita sudah hanyut dalam budaya yang salah. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;" lang="PT-BR">Cara-cara wisuda kita, tidak lebih dari memupuk pola pikir egois generasi muda. Budaya inilah yang tanpa kita sadari, hanya akan melahirkan generasi yang self centered-personality. Generasi yang berorientasi hanya kepada diri sendiri. Generasi yang motonya hanya ingin diperhatikan orang lain, bukannya mengajak memperhatikan orang lain.</p>
<p></span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Wallahu a’lam</p>
<p><em>From : eramuslim/Syaifoel Hardy</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selfish]]></title>
<link>http://ardnahc.wordpress.com/?p=56</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 05:37:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>ardnahc</dc:creator>
<guid>http://ardnahc.wordpress.com/?p=56</guid>
<description><![CDATA[Selfish&#8230; Have you ever being selfish? or let&#8217;s talk about what it is first. Selfish, it ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Selfish... Have you ever being selfish? or let's talk about what it is first. Selfish, it is not the same with sell fish.hehehe... enough with the craps. Okay, selfish is an attitude that reflected someone as an egois person. Don't care about anything but him/her self. I've ever being selfish. For many times. Actually, should i being selfish? It depends on the situation i thing.<!--more--></p>
<p>Sometimes, we need to being selfish. As we need to be grow up, and we need to be selfish to grow up faster. As being careless for anything except for his/her self. As for my experience, many things can inhibit us for developing ourself.</p>
<p>Me, in my life, starts from a couple months ago, being monitored by someone who doesn't like my family. I don't know what is his purpose. He's just a double sided people. He can be a nice people beside my family, but he could be a devil when he is being with someone. He speaks some shit about my family. Last one, he speaks about my life. He thinks that his daugther is the best all over the universe. He ask me (but not to me!!!!), when will you graduate??? Now is my fourth semester, and i'm still not graduated. Well, i'll answer it even i'm sure he can't understand my words since i know he's too stupid to be smart. I'm to fast to move forward i think. When i should go to college, i've got to work, even my parent didn't know about it. When i should playing with my friends, i'm getting busy with my work. And now, my final project isn't getting finished. I quit from all of my job and start focusing on my final project. Back to the stupids, he thought that my family is nothing. YES, it was. So do his family. When he told that i should focusing on my college and not to work, my family just keep in silence. And not so long, he told that her daugther just get a part-time job. What kind of shit is that? He said that children should focusing on her college but he swallowed his shit. Later, he speaks that her daugther got a scholarship, with a 4.00 score, etc etc etc. Well, i'll wait who will be the shit, and who will know what shit is. I just keep in silence from now on.</p>
<p>Back to the topics Selfish. As selfish is not so good enough for our health, i don't recommend it. But it's true that sometimes we need it. In some condition of course. Selfish sill just makes you stupid and more stupid, dumb and dumber. You need to open your mind to the realities of life. There is many shit that you don't know yet. Yes, real life is cruel. So, don't be selfish. Keep in touch with your friends, colleages, etc. Many things would you get along with your life. For your tips, when you have a dream, a so so so so many of hambatan, beign selfish is some way to reach your dream. As being selfish will help you to reach it.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saya beri anda 1 miliar! ]]></title>
<link>http://fantasticdreams5.wordpress.com/?p=86</link>
<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 18:37:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>fantasticdreams5</dc:creator>
<guid>http://fantasticdreams5.wordpress.com/?p=86</guid>
<description><![CDATA[
Weits&#8230;
Satu milliar bukanlah jumlah yang sedikit. Pasti capek benget ngitung uang sebanyak it]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://fractalontology.files.wordpress.com/2007/12/corruption.jpg" alt="" width="424" height="132" /></p>
<p>Weits...</p>
<p>Satu milliar bukanlah jumlah yang sedikit. Pasti capek benget ngitung uang sebanyak itu. Tapi, untung aja ada kita ada di zaman yang serba otomatis. Tinggal cetek...kehitung dah sama komputer.</p>
<p>1 milliar bisa membuat anda menjadi seorang yang kaya raya. Segala keinginan bisa tercapai. Kawin ? Naik Haji? Semua bisa! Bahkan kalau anda bisa mengatur strateginya sedemikian rupa, jadilah uang itu berkali-kali lipat jumlahnya !!!!</p>
<p>Jika anda disodorkan uang 1 milliar, saya yakin anda tidak akan pernah menolak!</p>
<p>Sekarang, 1 milliar ada ditangan anda dalam 1 detik...<!--more--></p>
<p>Tapi, bukan 1 milliar sesungguhnya. Berkhayal sedikit nggak apa-apa!</p>
<p>Anggap dalam rekening atau digenggaman anda ada uang 1 milliar. Tidak perlu susah-susah memikirkan mungkin atau tidak, sekarang yang penting masuki dunia khayalan anda.</p>
<p>Nach...! Apa yang ada dalam benak anda ? Menghabiskan uang itu dalam sekejap ? Atau modal usaha ? <a href="www.hardrock.com" target="_blank">Atau party se-party partynya. </a></p>
<p>Jujur, jika anda menanyakan hal itu maka saya akan jawab:</p>
<ol>
<li>Operasi penyakit kista mama!</li>
<li>Beli komputer baru atau laptop teranyar</li>
<li>Beli rumah. (bosen numpang di rumah ortu. Pengen cepet punya rumah sendiri)</li>
<li>Shopping sama keluarga dan teman</li>
<li>Jalan-jalan keluar negri</li>
<li>Beli tanah, truz ditanami sawit atau karet (buat masa depan)</li>
<li>Nyumbang buat temen2 yang kurang mampu</li>
<li>Bikin panti asuhan atau sekolah</li>
<li>Beli mobil, walaupun nggak bisa nyetir</li>
<li>Bikin labor sendiri...</li>
</ol>
<p>Bagaimana dengan anda ? Pasti sangat jauh berbeda dan bermacam-macam. Sekarang coba anda daftar satu persatu keinginan anda itu hingga sepuluh. Kemudian golongkan yang mana untuk pribadi dan masyarakat. Berapa item yang termasuk golongan kepentingan pribadi ? 7, 8, 9 ? Saya yakin pasti lebih dari 5.</p>
<p>Normalkah ??? Menurut saya hal itu normal dan syah-syah saja mengingat manusia itu makhluk yang di kuasai ego, kecuali yang memiliki hati nurani yang bersih. Tapi manusia yang hati nuraninya masih bersih di zaman sekarang, sama dengan mencari jarum di dalam jerami.  Saya sendiri ada 8 item yang menurut saya egois. Berarti 80% pikiran saya hanya tertuang untuk membahagiakan diri sendiri. Ck..ck...ck....</p>
<p>Tanpa kita sadari, keegoisan kitalah membawa dampak buruk bagi kita sendiri. Niat ingin bahagia, malah celaka. Misalnya, membeli mobil baru. Saya berpikir pasti akan asik jalan-jalan mengendarai mobil sendiri. Egoisnya, saya tidak memikirkan apa dampaknya pada lingkungan. Yang pasti kendaraan bertambah padat yang berarti semakin macet, belum lagi global warming, gara-gara <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Global_warming" target="_blank">global warming</a> banjir, atau <a href="http://akhdian.wordpress.com/2008/07/08/jadwal-pemadaman-listrik-pln-jaya-jakarta/" target="_blank">listrik mati</a> dan masih banyak akibat lainnya.</p>
<p>Kita terbiasa dan tidak pernah bisa menghindar dari sifat dasar manusia yang satu ini. Bahkan kalau sudah lost control kita akan menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang kita inginkan. Apalagi kalau menyangkut lembaran warna-warni di dompet alias doku alias money alias duit alias piti!!! WOW...bahkan pertumpahan darah dan perang saudarapun terjadi...</p>
<p>Semuanya menjadi kacau. Negarapun kacau karena keegoisan pejabatnya yang tak pandang bulu untuk mencukur upeti. Seaakan mencuri itu dihalalkan, secara terbuka negosiasi dengan penjaga peti dan klop...! Tinggal tutup amplop dan tersenyum sebelum pulang. Dan kita rakyatnya, telanjang dari keadilan!</p>
<p>Salahkah ? Entahlah. Tidak pernah ada yang bisa menjawab. Secara alamiah manusia dipenuhi keinginan untuk bahagia, namun apakah perlu mengorbankan kebahagiaan orang lain yang anda belum tahu pasti ia bahagia. Atau meminum darah dan daging saudara sendiri ?</p>
<p>Saya pernah mendengar cerita dari ayah saya yang seorang pengacara salah seorang pelaku korupsi. Ayah bilang "Dia bilang dia korupsi cuma sedikit. Cuma 1 MILLIAR! ". Bayangkan, 1 milliar terhitung sedikit untuk korupsi ? Bagaimana banyak-nya ? Kalau seandainya setiap pejabat korupsi 1 milliar, berapa kerugian negara ??!</p>
<p>Korupsi sudah menjadi budaya. Dulu yang main tangan di bawah meja, kini berani diatas meja bahkan ditengah pasar!!! Ckckck....seberapa parahkah ?</p>
<p>Meskipun saya masih tergolong anak ingusan dibawah umur. Tapi saya sebagai warga negara merasa sangat bangga terhadap negara kita yang terkenal dengan SDA berlimpah, tapi jujur saya malu mengakui diri sebagai warga negara Indonesia. Karena negara kita pemecah rekor ter-KORUP.</p>
<p>Saudaraku, begitu banyak j<a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/10/00221349/pemberantasan.korupsi.perlu.resonansi" target="_blank">alan yang kita tempuh</a> untuk membasmi penyakit menular ini. Tetapi, percuma jika telur-telurnya tidak dibunuh. Apakah kita harus menghilangkan ego  ?? Menurut saya itu sangat tidak mungkin.</p>
<blockquote><p>Namun ada satu jalan, merasalah bahwa saya adalah anda, anda adalah saya, kita adalah satu.</p></blockquote>
<p>Maksudnya, kalau kita warga negara Indonesia merasa satu asa, satu jiwa , dan satu raga pasti semua itu bisa hilang. Bila Sabang terluka, meraukepun merasa perih dan saling mengobati.</p>
<p>Saudaraku, janganlah lekang semangat sumpah pemudah di dada kita masing-masing. Jaga dan rawat layaknya telur emas. Niscaya, ia akan memberimu berkah yang luar biasa!!!!</p>
<p>Percayalah sahabatku, kalau kita merasa satu jiwa maka tidak akan ada perang saudara. Karena jika terjadi, sama dengan melukai tubuh sendiri atau bunuh diri.</p>
<p>Untuk anda yang telah terlanjur korupsi. Cepat obati lukamu sendiri. Jangan biarkan dia bernanah, membusuk dan kemudian infeksi. Jangan sampai amputasi hidup menjadi jalan akhir. Tak terasakah perihnya olehmu ??? Kami akan membantumu membersihkannya jika diizinkan.</p>
<p>Kembalikan BHINEKA TUNGGAL IKA-ku, mu, nya. BHINEKA TUNGGAL IKA kita semua...</p>
<p>Abadi untuk selamanya....</p>
<p>Biarkanlah ombak mengamuk, lepaskan ikatanmu pada tiang nafsu. Selamatkan kapal negara kita, segera perbaiki haluan karena pelabuhan masih dibalik cakrawala...</p>
<p>Unity in Diversity!!!!!</p>
<p>Bagaimana dengan anda ??</p>
<p>Seberapa egoiskah anda???</p>
<p>Adakah cara lain untuk memperbaiki keegoisan yang lost control ?</p>
<p>Silahkan serbu saya...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["aku" yang mati]]></title>
<link>http://lautze.wordpress.com/?p=108</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 06:11:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>lautze</dc:creator>
<guid>http://lautze.wordpress.com/?p=108</guid>
<description><![CDATA[kalau engkau dilupakan, ditelantarkan, atau dengan sengaja tidak diperhatikan..
dan engkau tidak mer]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau engkau dilupakan, ditelantarkan, atau dengan sengaja tidak diperhatikan..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">dan engkau tidak merasa terluka atas penghinaan itu..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">itulah "aku" yang mati</span></div>
<div> </div>
<div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau kebaikanmu diceritakan sebagai kejelekan, keinginanmu dicoret, nasihatmu tidak dianggap..</span></div>
<div><span style="font-family:Kristen ITC;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:x-small;">dan kalau engkau tidak mengizinkan amarah timbul dalam hatimu atau untuk mencoba membela diri, tapi menerima semuanya dengan tenang dan sabar</span><span style="font-size:x-small;">..</span></span></span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">itulah "aku" yang mati</span></div>
<div> </div>
<div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau engkau puas dengan makan apa adanya, dengan cuaca, lingkungan, dan pakaian yang ada..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">dan mengartikannya sebagai anugerah dari Tuhan..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">itulah "aku" yang mati</span></div>
<div> </div>
<div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau engkau sabar bertahan dalam keadaan kacau yang tidak beraturan atau yang menjengkelkan..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau engkau berhadapan dengan kesia-siaan, atau hal-hal yang tidak masuk akal,</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">dan tetap bertahan seperti apa yang DIA lakukan..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">itulah "aku" yang mati</span></div>
<div> </div>
<div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau engkau melihat orang lain menjadi makmur dan dengan jujur bisa bersuka cita tanpa iri hati</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">dan engkau bisa mencukupkan dirimu sendiri..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">itulah "aku" yang mati</span></div>
<div> </div>
<div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau engkau tidak marah namamu tidak disebut dalam percakapan,</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">engkau tidak membuat catatan untuk perbuatan baikmu, dan tidak gatal telinga untuk mendengar pujian,</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">apabila engkau benar-benar menyukai untuk tetap tinggal tanpa dikenal...</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">itulah "aku" yang mati</span></div>
<div> </div>
<div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">kalau engkau dapat menerima kritik dan teguran, meskipun itu dari seseorang yang lebih rendah dari dirimu..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">dan dengan rendah hati menyerahkan dirimu untuk pembetulan'luar dalam' tanpa pemberontakan dalam hatimu..</span></div>
<div><span style="font-size:x-small;color:#0000ff;font-family:Kristen ITC;">itulah "aku" yang mati</span></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara saya, aku dan gw. It's not about alter ego!]]></title>
<link>http://ayamcinta.wordpress.com/?p=23</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 03:04:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ayam Cinta</dc:creator>
<guid>http://ayamcinta.wordpress.com/?p=23</guid>
<description><![CDATA[Ko judulnya kaya yang egois banget ya?
Atw kaya judul novel yang bakalan panjang dengan intrik perci]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ko judulnya kaya yang egois banget ya?<br />
Atw kaya judul novel yang bakalan panjang dengan intrik percintaan yang berbelit2? Hehehehe.... Hiperbola dech.</p>
<p>Sebenernya cuma masih bingung. Bingung tentang blog ini mu dijadiin kaya gimana, mu jadi bentuk tulisan yang kaya gimana. Pem-bahasa-annya yang kaya gimana.</p>
<p>Post awal2 pake saya, lebih umum dan terkesan formal. Toh itu juga mencerminkan dari blog2 yang selama ini saya baca, pembahasaannya formil. eh.... malah diprotes, "bukan lu banget dech!"<br />
Lho kata siapa saya tidak bisa formil? Hehehehe....</p>
<p>Toh akhirnya nurut juga, tapi dirubah jadi apa ya?<br />
Aku? sok akrab amat pake aku, lagian kan aku jarang pake aku. lha?<br />
Akhirnya setelah menimbang2 timbangan yang udah jadul (ga da kerjaan banget), memutusken dipakelah gw. Toh ini yang sering gw pake pas chat. hehehehe....</p>
<p>So, hidup gw! Hidup gw! Sekali gw tetap gw!<br />
(nah ini baru yang namanya egois! Hehehehe)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Egocentric Me..]]></title>
<link>http://pixandmix.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 15:42:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>pixandmix</dc:creator>
<guid>http://pixandmix.wordpress.com/?p=11</guid>
<description><![CDATA[Jujur aja,, abu agak shocked begitu tau motivasi masuk ITB sama cita2 dari beberapa anak2 bridging]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Jujur aja,, <span style="color:#ff6600;">abu</span> agak shocked begitu tau motivasi masuk ITB sama cita2 dari beberapa anak2 bridging program 2008..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><span style="color:#ff6600;">abu</span> langsung ngerasa,, ternyata abu emang bener2 egois..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Dari dulu,, <span style="color:#ff6600;">abu</span> emang udah sadar kalo <span style="color:#ff6600;">abu</span> itu egois,, bisa dibilang,, <span style="color:#ff6600;">abu</span> itu anak sulung paling egois.. Tapi ternyata lebih dari itu..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Alasan <span style="color:#ff6600;">abu</span> masuk ITB adalah karna di ITB ada DKV-nya..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><span style="color:#ff6600;">abu</span> masuk DKV karna <span style="color:#ff6600;">abu</span> mau kerja di PIXAR Animation Studio..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;"><span style="color:#ff6600;">abu</span> mau kerja di sana karena <span style="color:#ff6600;">abu</span> suka film2 animasi-nya PIXAR..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Titik..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Jadi <span style="color:#ff6600;">abu</span> kuliah di ITB cuma berdasarkan "<span style="color:#ff6600;">abu</span> mau" sama "<span style="color:#ff6600;">abu</span> suka"...</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Gak ada tuh cita2 semacem berguna bagi daerah asal, nusa, dan bangsa,, menyangkut Indonesia,, tanah air,, tumpah darah,, dan segala teman2nya itu.. Jangankan mikirin kepentingan Indonesia,, <span style="color:#ff6600;">abu</span> malah berencana minggat dari Indonesia.. Bukannya anti-nasionalis,, tapi,, this is my life.. Ngapain juga <span style="color:#ff6600;">abu</span> musti nyangkut2in cita2 <span style="color:#ff6600;">abu</span> ke bangsa dan teman2nya itu kalo <span style="color:#ff6600;">abu</span> emang ga mau?? Daripada ga enjoy??</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Well,, langsung keliatan jelas kalo <span style="color:#ff6600;">abu</span> emang egosentris..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Cuma mikirin diri sendiri..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Masalahnya,, <span style="color:#ff6600;">abu</span> ngerasa berat kalo cita2 <span style="color:#ff6600;">abu</span> harus dihubung2in sama Indonesia.. Bisa2 malah ga kecapai.. Abstrak banget gak sih cita2 yang "berguna bagi nusa bangsa agama" itu?? Gimana taunya kalo kita udah berguna?? Buat temen2 yg bercita-cita mengharumkan nama Indonesia,, memperkenalkan Indonesia ke dunia Internasional,, dan lain sebagainya,, semoga beruntung.. <span style="color:#ff6600;">abu</span> mah doain aja ya..</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000080;">Let me be me,, and wish me luck!!</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[aku tidak ingin ...]]></title>
<link>http://akudanomk.wordpress.com/?p=40</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 18:56:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>kristiyono</dc:creator>
<guid>http://akudanomk.wordpress.com/?p=40</guid>
<description><![CDATA[aku tidak ingin membuat tim pingpong,
aku tidak ingin membuat tim bulutangkis,
aku tidak ingin membu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>aku tidak ingin membuat tim pingpong,<br />
aku tidak ingin membuat tim bulutangkis,<br />
aku tidak ingin membuat tim futsal,<br />
<!--more--><br />
aku hanya ingin kalian bermain pingpong bersama,<br />
aku hanya ingin kalian bermain bulutangkis bersama,<br />
aku hanya ingin kalian bermain futsal bersama,</p>
<p>supaya kalian bisa menghormati sesama,<br />
supaya kalian bisa bekerJa sama,<br />
supaya kalian bisa sehat,<br />
supaya kalian bisa tertawa lepas,<br />
supaya kalian bisa sejenak melupakan masalah pribadi,<br />
supaya kalian bisa saling menghormati,<br />
supaya kalian bisa saling menghargai,</p>
<p>aku tidak ingin kalian menjadi ekslusif,<br />
aku tidak ingin kalian merasa egois,<br />
aku tidak ingin kalian merasa menang sendiri,</p>
<p>hai...orang-orang,<br />
jangan hakimi aku karena pandangan yang semu dan sempit,<br />
karena aku punya tujuan baik untuk mereka;</p>
<p>hai...orang-orang,<br />
maafkan aku karena perbuatan dan mauku,<br />
semuanya kulakukan karena aku ingin mereka aktif;</p>
<p>hai...orang-orang,<br />
jangan menghakimi aku sebelum engkau bertanya dulu,<br />
jangan menyimpulkan sesuatu berdasarkan pandangan diri sendiri,<br />
jangan pernah memberikan kesimpulan atas dasar kira-kira;</p>
<p>jika aku salah, tegur aku;<br />
jika aku benar, katakan benar.</p>
<blockquote><p>(14 Juni 2008 - maafkan aku jika aku terlalu ketus)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ku dan keinginan ku]]></title>
<link>http://bengkuluutara.wordpress.com/?p=73</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 06:07:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>bengkuluutara</dc:creator>
<guid>http://bengkuluutara.wordpress.com/?p=73</guid>
<description><![CDATA[INGINKU
ini aku
ini juga mau ku
jangan-jangan kau ganggu..
jangan juga kau berdebat dengan ku
jangan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INGINKU</strong></p>
<p>ini aku</p>
<p>ini juga mau ku</p>
<p>jangan-jangan kau ganggu..</p>
<p>jangan juga kau berdebat dengan ku</p>
<p>jangan sekali-kali..</p>
<p>ini,ini masalah ku</p>
<p>bukan masalah mu</p>
<p>sama-samajuga</p>
<p>jangan kau buat aku marah</p>
<p>jangan buat akuk juga tertawa</p>
<p>jangan jangan..</p>
<p>ini mau ku</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[WANNABE SELFISH, MAY I?]]></title>
<link>http://natazya.wordpress.com/?p=226</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 02:33:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>natazya</dc:creator>
<guid>http://natazya.wordpress.com/?p=226</guid>
<description><![CDATA[adakah yang akan mencintaiku bila aku ingin egois sepertiku?
&#8220;Kamu merasa tidak mereka cintai?]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">adakah yang akan mencintaiku bila aku ingin egois sepertiku?</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Kamu merasa tidak mereka cintai?' dia memiringkan kepalanya dan melihat mukaku, lalu dia mengangguk,</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Antara 'tidak cukup' dan 'sama sekali tidak cukup'. Aku selalu kelaparan. Sekali saja, aku ingin bisa mengatakan 'sudah, perutku sudah kenyang, terima kasih'. Cukup sekali saja, sekali saja....Karena itu aku berpikir seperti ini. Aku akan mencari dan mendapatkan orang yang sepanjang tahun bisa mencintaiku seratus persen dengan tanganku sendiri. Ketika aku di kelas 5 atau 6 SD, aku bertekad seperti itu"</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Wah hebat kamu," kataku terkagum-kagum. "Lalu bagaimana? Berhasil?"</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Sulit juga," kata Midori. Lalu ia berpikir sambil melihat asap sebentar. "Mungkin karena aku terlalu lama menunggu, aku jadi mencari-cari sesuatu yang betul-betul sempurna. Karena itu, merepotkan juga"</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Cinta yang sempurna?"</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Bukan!Kalau sampai kesana aku juga tak mencarinya. Yang kucari hanyalah bisa bersikap egois. Egoisme yang sempurna. Misalnya, sekarang aku berkata begini 'aku ingin makan sepotong kue stroberi', dan kamu tetap membiarkan aku dengan kegiatanku lalu berlari pergi untuk membeli kue itu. Lalu ketika kembali dengan napas tersengal-sengal, kamu berkata sambil menyodorkan kue itu 'Ini Midori, kue stroberinya sudah aku beli'. tetapi aku akan berkata 'Huh..aku jadi tak ingin makan kue seperti ini', lalu membuangnya dari jendela. Yang kucari adalah keegoisan seperti itu."</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Sepertinya sama sekali tak ada hubungannya dengan cinta," kataku sedikit kaget.</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Ada. Kamu tak tahu saja," katanya. "Bagi perempuan, kadang-kadang hal seperti itu sangat penting."</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Melempar kue dari jendela itu?"</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Ya, aku ingin pria pasanganku mengatakan 'Maaf Midori, memang aku yang salah. Semestinya aku sudah bisa menduga bahwa kamu pasti tidak jadi mau makan kue stroberi. Aku memang tolol dan bodoh bagaikan tahi keledai. Sebagai tanda permintaan maafku, adakah sesuatu yang lain yang bisa kubelikan? Mau apa? Kue coklat atau keju?"</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Selanjutnya bagaimana?"</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Setelah diperlakukan seperti itu, aku akan mencintainya secara setimpal."</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Rasanya itu cerita yang betul-betul absurd ya."</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Tapi bagiku itulah cinta. Meskipun tidak ada orang yang mau memahaminya," kata Midori sambil menggelengkan kepalanya pelan di atas pundakku. "Bagi sebagian orang, cinta itu dimulai dari hal yang sangat kecil atau dari hal yang sama sekali tidak berguna. Bila tidak berawal dari hal-hal seperti itu, tidak akan muncul rasa cinta."</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Aku baru pertama kali bertemu dengan perempuan yang berpikiran sepertimu," kataku.</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">"Banyak orang yang berkata sepertimu," katanya sambil mengutik-utik kukunya, "Tapi aku hanya bisa berpikir seperti itu, sungguh. Aku hanya berkata jujur" ............................................................................................................................................................................................................ taken from "NORWEGIAN WOOD" by Haruki Murakami...</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">ngga... bukan mau bias gender atau apa...</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">tapi mungkin naluri perempuan buat lebih jadi egois lebih besar daripada pria... posisinya mungkin sama kaya naluri pria buat menjamah?</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">heiuhieheiuheue... maaf... ko jadi bias gender lagih???</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">tapi bukan... naluri kan emang beda yah???</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">i wanna be selfish...</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">anybody??? take this selfish girl????</span></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">=p </span></p>
<p><!--more--></p>
<p>...........................................................................................................................................................................</p>
<p style="text-align:justify;">sbenarnya ini re-post dari <a href="http://natazya.multiply.com/journal/item/5/Sangat_Bermakna..._I_Do_Feel_it_MySelf...">sini</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">di re-post lagi juga bukannya tanpa alasan... tapi karena sedang merasa egoisssssssssssss sekali, dan tetap ingin dimengerti sepenuh penuhnya, tapi bukan tanpa balasan apa apa, setelah itu yang namanya <span style="background-color:#ffff99;font-family:trebuchet ms;color:#009900;">aku akan mencintainya secara setimpal</span> benar benar akan saya lakukan!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">oh ya... im not asking anybody to take me this time... im already taken :D by him.. who i dedicated this post to... by him... whom i asked to accept my selfishness... by him... who sent a <a href="http://www.digitalvei.com/images/Love_Clover.jpg">love clover</a> for me...</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://natazya.wordpress.com/files/2008/06/love_clover.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-229" src="http://natazya.wordpress.com/files/2008/06/love_clover.jpg?w=300" alt="actually this is for my eyes only" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">begitulah ;)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Weak Me Weekend!]]></title>
<link>http://danpram.wordpress.com/?p=85</link>
<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 06:50:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Danang Pramudya</dc:creator>
<guid>http://danpram.wordpress.com/?p=85</guid>
<description><![CDATA[[INTERMEZO: Melodramatic Mode is ON]
Akhir pekan kemaren? Saya ngapain ya? Yang jelas, peribahasa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>[INTERMEZO: <em>Melodramatic Mode is ON</em>]</p>
<p>Akhir pekan kemaren? Saya ngapain ya? Yang jelas, peribahasa "bersakit-sakit dulu , bersenang-senang kemudian" tidak berlaku buat saya sejak 2 hari yang lalu. Justru berlaku hal sebaliknya. Hari sabtu saya mengalami hari yang luar biasa, sedangkan hari minggunya, <em>it's a horrible day</em>.</p>
<p>Ada 3 alasan besar yang ngebuat saya mendeklarasikan hari minggu kemaren sebagai "<em>a day to re-think</em>". Tapi saya hanya akan menceritakan satu alasan saja. Karena hal ini yang sangat menyita porsi terbesar saya dalam berfikir kemaren.</p>
<p>Pernah nggak sih, orang yang suka sama temen-temen mengutarakan isi hatinya kepada temen-temen? Mungkin ada yang sering banget, ada yang pernah aja, atau ada yang kurang beruntung: nggak pernah. Tapi hal ini merubah peta pemikiran saya. Kata tidak beruntung hanya cocok disematkan kepada orang yang sering banget ditembak.</p>
<p>Pernah nggak sih temen-temen merasakan bahwa diri temen-temen itu sama sekali nggak berguna buat siapapun? Itu perasaan yang sangat menyedihkan, memang. Tapi bagaimana jika perasaan itu sering banget muncul di benak temen-temen? Saya rasa, <em>it won't be easy to hand over this feeling</em>. Lalu apa hubungan perasaan seperti ini dengan kenyataan bahwa ada orang yang mengutarakan isi hatinya kepada temen-temen?</p>
<p>Saya berfikir, ini adalah kesalahan saya untuk membiarkan perasaan suka orang lain kepada saya tumbuh <em>bigger and bigger everyday</em>, sementara saya membiarkan begitu saja. Dan akhirnya, ketika terjadilah momen pengutaraan isi hati itu, saya tidak bisa berkata apapun. Diam seribu bahasa. Lalu kemaren saya berusaha untuk mengkonsultasikannya dengan beberapa sahabat saya.</p>
<p><em><strong>Am I Such an Selfish?<br />
</strong></em><br />
Ada seorang sahabat saya bilang saya egois. Sementara saya sudah tahu perasaan orang yang suka sama saya itu sejak lama, tapi saya malah tidak berbuat apa-apa untuk mengatasi perasaan itu terus berkembang. "<em>Don't u know that it hurts her that much?? You're such an selfish person</em>. Sementara lo tau dia suka sama lo, lo bukannya malah menjaga jarak, tapi malah terus nempeeeel aja! Salah lo, Dan! Mending lo bisa buka hati lo buat tuh orang"</p>
<p>Tuh kan, bener dugaan saya. Saya memang orang yang tidak berguna. Kebisaan saya cuma membuat suatu hal menjadi tambah buruk. Lalu melarikan diri ketika hal itu sudah benar-benar buruknya. Argh! Tapi setidaknya, saya punya alasan kenapa saya bukannya malah menjaga jarak, tapi malah mendekat. <em>Cos, i feel comfort with her. She's such a person who can make me warm in this cold world full of cold people</em>. Lalu temen saya ini bilang lagi, "Dasar egois!"</p>
<p><strong><em>I Can't Help It, Indeed!<br />
</em></strong><br />
Lalu saya konsultasi sama seorang sahabat saya yang lain. Dia seorang perempuan yang cukup bijaksana dalam menghadapi banyak masalah. <em>Surprise</em>-nya, dia pernah mengutarakan perasaan sukanya kepada saya dan meminta saya jadi pacarnya, tapi saya tolak. Namun sekarang hubungan kami benar-benar seperti kakak adek (saya adeknya, cos saya lebih muda, hehehe). <a href="http://danpram.wordpress.com/2008/03/02/dont-love-me-just-now/" target="_blank">Pernah saya <em>posting</em> di blog ini</a>, momen saat dia nembak saya itu.</p>
<p>Sahabat saya ini bilang gini ke saya. "Nang, gw ngerti apa yang lo hadapin. Tapi sebenernya lo nggak bisa berbuat apa-apa. Keputusan untuk menyukai kan dari dia. Lo udah buat keputusan untuk nggak nerima dia, lalu sekarang lo cuma bisa nunggu keputusan dia selanjutnya tentang hubungan lo ama dia selanjutnya. Gue tahu ini nggak mudah buat dia, kayak gue dulu waktu lo tolak, hiks, tapi kalo dia emang bener-bener sayang sama lo, dia nggak akan menghancurkan sedikit pun apa yang udah kalian berdua bina sampe saat ini. Dan lo juga nggak akan kabur kemana-mana, Nang! Inget lho!" <em>That's it</em>! Saya merasa agak bangkit setelah denger omongan nih cewek. Di sela-sela kesibukannya sesi foto lah, syuting lah, tapi kemaren dia rela nyediain waktu 2 jam buat ngobrol sama saya lewat telefon.</p>
<p>Tapi yang bikin gue keki adalah <em>statement</em> dia di akhir-akhir pembicaraan seperti ini, "Nang, lo itu gay yah? Abis, perasaan semua cewek lo tolak. Kalo lu <em>straight</em>, pasti lo ga bakal nolak cewek, terutama yang kayak gue! Hehehe. Eh tapi Nang, temen cewek lo banyak, kayaknya lebih banyak dari cowok, lo tau kan? <em>Gay is the best friend of women</em>?"</p>
<p><strong><em>We Are Scorpions, So?<br />
</em></strong><br />
Yang terakhir, saya nelfon cewek gokil nan nyentrik yang kebetulan sangat tertarik dengan dunia astrologi (saya juga sih...). Dia bilang gini, "Eh Nang. Lo begimane sih? <em>Remember, we are scorpions</em>"</p>
<p>"and So?", gue balik tanya.</p>
<p>"Kaum berzodiak scorpio dianugrahi sesuatu yang namanya <em>sex appeal</em>. Kita punya daya tarik yang bisa bikin orang lain kelepek-kelepek kayak ikan di baskom tanpa air, kalo kita gunain tuh jurus. Lo kayaknya udah ngegunain tuh jurus ya?"</p>
<p>Muke gile nih orang. Jurus apaan? Yang gue tahu jurus membuat gugusan pulau di atas bantal doang sih. Nggak ada jurus lain.</p>
<p>"Sejelek-jeleknya orang berzodiak scorpio (maksudnya elo, kalo gw kan cantik jelita), kita bisa buat siapapun bertekuk lutut kepada kita. Tapi kita juga dianugerahi sengat Nang! Yang beracun itu lho"</p>
<p>Seketika, dengan bodohnya gue meraba-raba tulang ekor gue mencari-cari letak tuh sengat, tapi ya jelas aja nggak ada. Terus gue balik nanya, "Ape kata lo sengat?"</p>
<p>"Gini lho Nang. Kalo kita bisa dengan gampang buat orang bertekuk lutut, kita juga bisa buat orang lain benci setengah mati sama kita. Caranya, gunain tuh sengat! Lo pasti ngerti lah".</p>
<p>Terserah dia lah. Jujur saya emang agak-agak ngerti sih maksud dia apa. Tapi saya nggak setuju dengan solusi yang ditawarkan untuk ngebuat orang yang suka sama saya jadi benci sama gue. Kan saya egois!</p>
<p>Akhir kata, dia bilang, "Udah Nang, lo cari kesibukan apa kek? Nyanyi-nyanyi kayak orang gila ato joget-joget dengerin mp3-nya Rihanna, atau tidur sekalian nggak usah bangun-bangun lagi." Ck, ck, ck, ck, ck! Susah banget emang, ngomong sama nih orang.</p>
<p><strong>Pelarian</strong></p>
<p>Tapi akhirnya, saya akhirnya mengikuti sarannya untuk melakukan hal-hal lain. Daripada mumet-mumet mikirin hal yang bisa bikin saya tambah stres (btw, obat penenang saya sudah habis, lho. Tapi males ke dokter lagi buat minta resep.), saya ngapain coba? Yak salah! Yang bener, saya kemaren memutuskan untuk menunjuk pelarian saya kepada 3 keping DVD Lords of The Ring (1, 2, dan 3). Kurang lebih 8 jam non stop. Lumayan lah. Ternyata emang film Narnia kemaren gayanya mirip banget sama LOTR 1 dan 2. Seru-seru!</p>
<p>[INTERMEZO: Melodramatic Mode is OFF]</p>
<blockquote><p><em>Take an ordinary step like usual,<br />
follow the voice of birds singing upon me<br />
and walk through below the sun, the moon and the stars<br />
find a sanctuary to rest my tired heart<br />
and fix my broken wings, promise not to fly again<br />
though it will always fly again someday </em></p>
<p>by Danang Pramudya</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sosok (aku mungkin egois)]]></title>
<link>http://akudanomk.wordpress.com/?p=38</link>
<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 18:36:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>kristiyono</dc:creator>
<guid>http://akudanomk.wordpress.com/?p=38</guid>
<description><![CDATA[ia pintar,
ia jago,
ia berpengalaman,
ia sukses,

pernah aku mengaguminya,
dengan semua mimpi dan ci]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>ia pintar,<br />
ia jago,<br />
ia berpengalaman,<br />
ia sukses,<br />
<!--more--><br />
pernah aku mengaguminya,<br />
dengan semua mimpi dan cita-citanya,<br />
sempat aku bilang: hebat ini orang, memang ini yang mereka dan aku butuhkan</p>
<p>berharap detik ini,<br />
semua mimpiku menjadi kenyataan,<br />
aku pernah yakin saat itu,</p>
<p>tapi, rasanya saat ini,<br />
agak sulit yakin kembali,<br />
orang yang kuharap bisa sejalan, sepikiran<br />
ternyata.....jauh dari harapanku.</p>
<p>pernah aku memberikan nilai hebat kepadanya saat itu,<br />
mengingat akan pengalamanya dan kepintarannya yang luar biasa mengagumkan<br />
tapi saat ini, nilai itupun sudah pudar,<br />
entah kenapa, mungkin karena ke egoisan diriku</p>
<p>mungkin aku terlalu egois dengan mimpiku , dengan harapanku<br />
kadang sempat hampir putus asa,<br />
seolah berjalan sendiri,<br />
ada teman kerja, seolah tiada<br />
ia ada, tapi bagiku tak terguna<br />
ataukah aku terlalu egois,<br />
ataukah aku terlalu idealis,</p>
<p>aku hanya kasihan kepada mereka,<br />
yang menaruh banyak harapan darinya,<br />
berharap bisa menjadi teman bahkan sahabat,<br />
berharap menjadi panutan,<br />
berharap menjadi pelindung,<br />
berharap menjadi tempat bernaung,<br />
berharap sejalan sepikiran,<br />
berharap menerima semua ide-ide gila,<br />
berharap mengurangi kata "tapi",<br />
berharap tidak menggurui, tidak mengatur, tidak memberi perintah<br />
berharap mendengarkan dengan setia,<br />
berharap banyak kata-kata bijak keluar dari hati yang tulus,<br />
berharap menjadi tameng saat diserang,<br />
berharap menjadi payung saat kepanasan atau kehujanan,<br />
berharap menjadi air saat mereka kehausan,</p>
<blockquote><p>(6 Juni 2008 - mungkin aku terlalu egois)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[naek kereta api]]></title>
<link>http://masndoko.wordpress.com/?p=35</link>
<pubDate>Tue, 27 May 2008 10:10:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>masndoko</dc:creator>
<guid>http://masndoko.wordpress.com/?p=35</guid>
<description><![CDATA[Cerita ini q persembahkan unutk q sendiri  yang mengalami bnyak hal selama kepulangan q ke kampung h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini q persembahkan unutk q sendiri :-) yang mengalami bnyak hal selama kepulangan q ke kampung halaman tercinta setelah kurang lebih 1,5 bulan tidak pulang. ceritanya dimulai sejak jam 21.31 WIb tepat setelah aq samapi di stasiun Poncol kota semarang.</p>
<p>--- dari rumah ke stasiun</p>
<p>Setelah beberapa jam sebelum berangkat, q persiapkan semua barang2 yang akan dibawa kerumah (paling isinya cuma baju 2 stel, sikat gigi, charger dan yg paling penting uang). semuanya udah siap didalam tas ransel hitam milikq. jam 9 dengan menunggangi sepeda hitamq, aq dianter temen ke stasiun. nyampe distasiun tepat jam 21.31 dan langsung beli karcis karena jadwal kereta yang ke-kediri adalah jam 21.35 WIB. abis beli karcis dan tanya penjaganya, "pak kereta ke-kediri udah berangkat belom..???" dan bapaknya menjawab "belom mas mungkin terlambat 30-45 menit". waduh bakalan nunggu lagi ini critanya. ndak disangka ternyata benar, aq harus nunggu sekitar 45 menit baru bisa naik kereta api jurusan Semarang-Kediri.</p>
<p>--- pas nyari tempat duduk</p>
<p>Memang jadwal berhenti di stasiun Poncol ini terbilang cukup lama yaitu sekitar 15 menit (kata orang2 sech..). waktu yang lumayan <span style="text-decoration:line-through;">pendek</span> panjang itu q jadikan waktu unutk nyari tempat duduk. setelah menelusuri gerbong penumpang aq ndak dapat tempa duduk juga (sial bnget rasanya..). ternyata setelah q amati baik2 tempa yang sebenarnya kosong diakui masih ada penumpangnya oleh orang yg duduk ditempat itu. tujuannya agar dia bisa lebih leluasa dalam bertingkah polah (kayak tidur misalnya). dalam ahti aq cuma berkata "nie orang ndak punya rasa kasihan apa, masak ada yang mau duduk malah dibohongi...". akhirnya akupun dapat tempat duduk juga, tapi bukan duduk dikursi penumpang melainkan didepan pintu gerbong KA ( nasib..nasib.. :-( )</p>
<p>--- waktu jam tidur ( 22.00 sampe 04.00 ) :-P</p>
<p>Setelah mondar-mandir dan ndak mendapatkan kursi untuk istirahat akhirnya aq pun pasrah dan rela untuk tidur didepan pintu KA dengan pose tidur kayak orang mau duduk. yach benar, tepatnya q tidur dengan duduk. tau sendiri klo didepan KA ndak ada tempat yang luas. kondisi mengenaskan ini terjadi hampir dari jam 22.30 sampe aq turun dari kereta yang kira2  sampe jam 04.15. rasa dingin dan capek karena kaca pintu pecah 1 (mengakibatkan angin berhembus langsung ) dan juga posisi tidur yg ndak layak bagi manusia ini yang jadi penyebabnya. semalam aq ndak bisa tidur karena posisi tidurku yang aneh dan tidak manusiawi bnget itu.</p>
<p>--- sampai juga akhirnya</p>
<p>Setelah berjam-jam mengalami penyiksaan disaat tidur maupun duduk (sama aja dech kayaknya) akhirnya nyampe juga ditempat tujuan yaitu stasiun kota Kediri yang tepatnya jam 04.15. wuih lega bnget rasanya udah nyampe. ini adalah salah satu pengalaman buruk naik kereta apai yang dikarenakan ke-EGOIS-an dari penumpang kereta api yang lain.</p>
<p>--- penutupan</p>
<p>Jika saja semua orang baik hati dan mau berbagi pasti ndak ada yang merasakan malam yang membuat capek dan hampir menjadi penyakit seperti yang q alami. bagi yang kemarin ndak ngasih aq tempat duduk, moga-moga aja mereka bisa tau klo sifat merek itu ndak baik. begitulah cerita hari ini.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Telaga Cermin]]></title>
<link>http://badriafief.wordpress.com/?p=17</link>
<pubDate>Mon, 26 May 2008 09:56:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>badriafief</dc:creator>
<guid>http://badriafief.wordpress.com/?p=17</guid>
<description><![CDATA[Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. <span lang="SV">Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda<br />
terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. “Hei…ada harimau lain yang tinggal di dalam air.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. “Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups.. kakinya<br />
hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. “Hei…ada harimau yang sedang marah di dalam sana,” begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia<br />
menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">“Ah, temanku tadi pasti berbohong.” Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu.” Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah<br />
pantulan dari dirinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">***</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan<br />
dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="SV">Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, “Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam<br />
sana?” Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, “Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?”</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sisi Kelinci]]></title>
<link>http://badriafief.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Sun, 25 May 2008 15:55:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>badriafief</dc:creator>
<guid>http://badriafief.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[Memerinci Cinta
Kelinci termasuk hewan vertebrata herbivora dengan empat tungkai kecil (sekitar 60 s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;" lang="IN">Memerinci Cinta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;" lang="IN">Kelinci</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;" lang="IN"> termasuk hewan vertebrata herbivora dengan empat tungkai kecil (sekitar 60 spesies) berbulu tebal, tanpa atau dengan ekor pendek dan tiga pasang gigi seri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">CINTA</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> itu, kata Sisi, tidak akan pernah<span> </span>mencapai titik optimasi. Seberapa tinggi pun kau daki, ia seolah akan terus menanjak tanpa henti. Sedalam apa pun kau coba untuk selami, iapun akan terus menghilang sampai tak terlihat lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sebaliknya cinta itu pun bisa ternoda, terkotori, dan tercemari jika ia melampui batas, terjebak dalam konsep instan, dan harus berbalas, serta setiap akhir episodenya ditangisi dan disesali. Sebenarnya, masih menurut Sisi, hal itu adalah cerminan dari fitrah manusia, yang mana melampaui batas, tergesa-gesa, dan berkeluh kesah adalah keniscayaan yang senantiasa menyertai sistematika pengambilan keputusan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ketika Riri, adik Sisi kelinci, memutuskan untuk mencintai dirinya sendiri dengan makanan enak tiada henti dan tidak ada lagi sisa yang bisa dikonsumsi, ia tanpa ragu dan disertai dengan ketetapan hati, mencuri dan sebanyak mungkin dari ladang petani. Pada saat-saat paceklik datang, tak putus Riri berkeluh kesah menyesali diri. Menurut Riri, marah, kesal dan mengeluh adalah bagian dari ekspresi yang paling hakiki,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">“Ini adalah ventilasi bagi jiwaku agar tidak kering kerontang karena terbakar kemarau kekecewaan. Tunggu saja pembalasannya. Saat rezeki menghampiri, ia akan kubanjiri dengan segala kosakata puja-puji setiap hari tiada henti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Riri memang berkembang menjadi kelinci yang jauh lebih kuat dari yang semestinya, sekaligus juga ia berkembang menjadi kelinci yang paling tidak sabaran dan mudah kelelahan. Hanya kejelekan yang terpetakan di dalam pikirannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Riri Kelinci lambat laun kehilangan teman, karena tidak ada satu pun temannya yang dapat dipertahankan. Hampir pasti tidak ada. Terutama jika alat untuk mempertahankannya adalah sekadar persamaan kepentingan dan faktor-faktor yang menguntungkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Lalu, jika keluh kesah yang terus membanjiri ladang pikiran, sudah tentu bibit-bibit pohon kekecewaanlah<span> </span>yang akan tumbuh subur dan mendominasi tanaman di dalam hati. Keluh kesah adalah pupuk yang paling subur bagi pokok-pokok pohon kecewa yang biasanya akan tumbuh tinggi dan semakin hari akan semakin rapat dedaunnannya sehingga akan menutupi cahaya matahari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Jika cahaya matahari tidak sampai ke dasar ladang, rumput-rumputdan perdu syukur yang berbunga terima kasih akan mati. Layu dan merana karena tak lagi pernah dipandang, dinikmati, dan dipelihara. Riri Kelinci akan menjadi kelinci yang paling sering merasa putus asa. Terutama jika keluh kesahnya sudah sampai batas hingga tak ada lagi hal yang belum dilabeli sederet kata keluhan. Peristiwa itu akan sering terjadi karena keluhan adalah doa. Jika ia diharapkan akan terjadi, terjadilah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bagaimana degan Sisi? Bagi Sisi, biarlah cinta mengalir seperti anak sungai. Sesekali dibendung untuk mengairi ladang-ladang hati. Di ladang itu ditaburkan benih-benih syukur, lalu larutan cinta akan menggenanginya dan memberikan giizi yang menenangkan . Ketenangan itu terserap dan terbawa kesetiap pori-pori. Dari setiap pori-pori itu tumbuh jamur atau cendawan. Bukan penyakit tetapi cendawan tasbih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Setiap pori yang teraliri larutan<span> </span>cinta akan bertasbih, mengumandangkan senandung-senandung cinta dari seorang hamba yang merindu. Setelah sungau cinta itu dibelokan untuk menghadirkan kerimbunan hutan syukur dan menumbuhkan cendawan buluh perindu, ia akan dialirkan kembali ke batang sungai yang dengan lurus akan berjalan terus menuju sebuah danau. Sebuah danau tempay semua cinta akan bermuara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tidak berlebih dan melampaui batas. Berproses dan melangkah sesuai dengan sistematika. Sabar dan pandai mensyukuri nikmat adalah ikhtiar agar perahu hati kita dapat didayung dengan tenang menghiliri sungai cinta sapai tiba di danau Sang Maha Pencinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:18pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pendayung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">PENDAYUNG yang tenang adalah pendayung yang mengerti hakikat cinta. Pendayung yang tenang adalah pendayung yang tahu kemana ia hendak menuju. Dan pendayung yang tenang adalah pendayung yang akan terus mendayung sebelum ia tiba dipelabuhan yang sesungguhnya. Ia tidak akan pernah menambatkan biduk hidupnya di sebuah dermaga kepalsuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:15pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hikmah</span></strong><span style="font-size:15pt;font-family:Arial;" lang="IN"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Cinta adalah sebuah proses yang aneh. Jika kita ikhlas dalam mencintai dan berbagi, tak berhingga cinta akan datang menghampiri, bergelombang memenuhi hati. Namun sebaliknya, jika kita mencintai diri sendiri dan tidak ikhlas dalam berbagi, sampai kapan pun kita akan terus menerus merasa sendiri.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[NUNDUK]]></title>
<link>http://silbi.wordpress.com/?p=34</link>
<pubDate>Tue, 20 May 2008 07:28:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>silbi</dc:creator>
<guid>http://silbi.wordpress.com/?p=34</guid>
<description><![CDATA[saya pikir saya orang yang suka ambil berat tentang perasaan orang lain. ternyata lagi2 saya muna]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>saya pikir saya orang yang suka ambil berat tentang perasaan orang lain. ternyata lagi2 saya muna'. lihat apa yang saya lakukan sekarang. karena pengen ngehibur diri, saya malah nyakitin orang dan hebatnya, saya ga mau peduli ada orang yang terluka karena itu. saya berpura-pura ga tau kalo ada yang tersakiti, yang ada di otak saya...yang penting saya happy, saya ga peduli ma orang lain. jadi selama mereka ga melemparkan fakta kalo saya nyakiti mereka, saya akan terus berpura2 tak terjadi apapun dan saya berhak membuat diri saya happy bagaimanapun caranya. see? betapa egoisnya saya... :(</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ibu Yang Egois]]></title>
<link>http://nenyok.wordpress.com/?p=347</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 10:27:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>nenyok</dc:creator>
<guid>http://nenyok.wordpress.com/?p=347</guid>
<description><![CDATA[Ini obrolan remeh temeh tak disengaja dengan sahabat sejatiku, rasanya aku juga pernah denger atau b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini obrolan remeh temeh tak disengaja dengan <em><span style="color:#0000ff;">sahabat sejatiku,</span></em> rasanya aku juga pernah denger atau baca tapi lupa entah dimana, jadi kalau ada pemilik cerita ini boleh konfirmasi ya.</p>
<p>Here it is, check it out :)<!--more--></p>
<blockquote><p>Ada seorang Ibu yang begitu cerewet dan perfeksionis soal kebersihan di dalam rumahnya, pokoknya tuh Si Ibu sangat peka  plus sensitif, sensor rasa bersih dan rapihnya langsung bekerja cepat tanggap jika ada salah satu atau bahkan keseluruhan anggota keluarganya yang dianggapnya membuat onar dengan membuat isi rumah tidak bersih dan rapi dan teratur misalnya anak2nya yang tak boleh sesekali membawa mainan ke tempat tidur, tak boleh meremah sedikitpun jika makan dan masih banyak kata2 <em>tidak boleh dan jangan</em> yang didogmakan Sang Ibu bahkan untuk perilaku yang sebenarnya masih wajar dan bisa dimaklumi jika dilakukan anak2. Dan apa yang terjadi sodara2 akibat sikap perfeksionis yang berlebihan itu maka hilanglah keceriaan dan kebahagiaan di rumah itu.</p></blockquote>
<p>Jadi intinya adalah  menurut gw sie <em>kebahagiaan dan keceriaan keluarga  lebih berharga dari sekedar mengedapankan egoisme</em> :) gitu kali ya, atau ada yang lainnya boleh sharing, trims b4</p>
<blockquote><p> </p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak Mau diperbandingkan]]></title>
<link>http://jarwadi.wordpress.com/?p=230</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 23:58:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>jarwadiku</dc:creator>
<guid>http://jarwadi.wordpress.com/?p=230</guid>
<description><![CDATA[


… Aku tak suka perbandingan (dibanding bandingkan) dengan siapapun.
**Ehm … tidak suka perban]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span><br />
</span></p>
<blockquote>
<h1><span style="color:#99cc00;"><span>… Aku tak suka perbandingan (dibanding bandingkan) dengan siapapun.</span></span></h1>
<h1><span style="color:#ff9900;"><span>**Ehm … tidak suka perbandingan atau tidak suka bila kalah dalam perbandingan</span></span></h1>
<h1><span style="color:#99cc00;"><span>… [ jengkel] aku tidak untuk diperbandingkan dengan siapapun</span></span></h1>
<h1><span style="color:#99cc00;"><span>… aku hanya ingin menjadi diriku sendiri</span></span></h1>
<h1><span style="color:#ff9900;"><span>**Loh tetapi kok kamu suka bila merasa lebih baik dengan orang lain</span></span></h1>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span>Sistem manusia (sosial) kayaknya kok lebih mengenali <strong><span style="color:#3366ff;">‘perbandingan’ </span></strong>dibanding kamu. Ah kamu pasti.</span><!--more--><span> Hanya saja kamu sering kalah dalam perbandingan sehingga kamu bilang tidak suka. Bila kamu pemenangnya kamu pasti akan bilang kalau kita hidup disuatu sistem sosial yang kompetitif, ‘I am naturally competitive’. Didn’t you.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span>Tak usah mencari cari alasan, ngga usah bilang kalau fasilitas lebih mendukung mereka, keberuntungan banyak berpihak kepada mereka, mereka lebih ketercukupan secara ekonomi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span>Bisa saja untuk menang mereka tidak hanya harus bersaing dengan kamu saja. Bisa saja selain bertarung dengan kamu, mereka juga harus bersaing menghadapi kangker, ketika kamu sedang kehausan dan butuh air mineral mereka bahkan haus akan kasih sayang orang tua, atau mereka harus menakhlukan kemalasanya terlabih dahulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span>Kalau kamu (tadi) bilang tidak suka perbandingan, mengapa kamu sekarang yang membanding bandingkan diri (dengan oranglain) dan bilang kalau mereka lebih baik dalam fasilitas. </span></p>
<h1><span style="color:#ff99cc;"><span>????</span></span></h1>
<h2><span><span style="color:#00ccff;">[Selamat Pagi … … … ]</span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
