<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>dari-rantau &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/dari-rantau/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "dari-rantau"</description>
	<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 06:59:59 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Andai Brotherhood tidak hanya untuk Minoritas]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/11/18/andai-brotherhood-tidak-hanya-untuk-minoritas/</link>
<pubDate>Sun, 18 Nov 2007 13:23:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/11/18/andai-brotherhood-tidak-hanya-untuk-minoritas/</guid>
<description><![CDATA[Seperti sudah menjadi hukum alam, kaum minoritas
dimanapun selalu akan berusaha kompak. Beda kulit,
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti sudah menjadi hukum alam, kaum minoritas<br />
dimanapun selalu akan berusaha kompak. Beda kulit,<br />
beda bahasa, bahkan beda aliran tidak lagi masalah.<br />
Apalagi kalau beda-nya dikit-dikit... forget it.</p>
<p>"Brotherhood" bagi minoritas rupanya menjadi kebutuhan<br />
dan bukan kewajiban. Saat kebetulan menjadi mayoritas,<br />
maka ajaran brotherhood sekedar di-sakralkan, susah<br />
untuk sekedar dimaklumi, dan mustahil untuk diterapkan.</p>
<p>Membangun kekompakan, atau membangun brotherhood tentu<br />
saja identik dengan niat nambah anggota, nambah brother.<br />
Jika "mayoritas" juga artinya "sudah lebih banyak brother"<br />
maka seperti orang yang sudah kekenyangan makan. Melihat<br />
makanan sedap bergizi tinggi pun akan diabaikan....<br />
Bahkan mungkin lebih suka membuangnya ketempat sampah.</p>
<p>Fenomena "kemustahilan brotherhood di negeri mayoritas"<br />
sama saja dimana-mana, sama untuk ras apapun, agama apapun.<br />
sama-sama mustahil untuk mahluk apapun. Etnis Tiongkok<br />
didaratan China, Islam di Arab atau di Indonesia,<br />
atau bahkan populasi Baboon di Africa.... yang kadung<br />
jadi mayoritas, akan selalu susah dan mustahil menciptakan "brotherhood".</p>
<p>Perbedaan kecil akan menjadi masalah besar. Untung saja<br />
NU dan Muhammadiyah hanya beda lebaran. Hanya mungkin<br />
akan tidak nyaman kalau lebaran kita beda dengan lebaran-nya<br />
orang yang kita cinta.</p>
<p>Tapi lain kalau sedang menjadi minoritas, orang Tiongkok<br />
di Indonesia, atau orang Islam di UK.... ternyata kompak.<br />
Sipit sedikit ketemu di Glodok langsung ditegur kamsiah,<br />
berjenggot sedikit ketemu di London...langsung disapa<br />
assalaamualaikum brother....dengan senyum merekah pula.</p>
<p>Satu-stunya mesjid dikota saya adalah "mesjid" Bangladesh.<br />
Dari total populasi penduduk yang tercatat, 132,328 jiwa,<br />
mesjid lumayan sanggup terisi 60-an orang setiap Jumat.<br />
Dan sekitar 30-40-an kalau solat Ied yang kebetulan selalu<br />
jatuh pada jam dan hari-hari kerja.</p>
<p>Lirik kiri, lirik kanan, maka tampak orang Turkiye, India,<br />
Nigeria, Pakistan, Marokko, Aljazair, Indonesia dan... bule.<br />
Jumlah orang Bangladesh gak usah diabsen tentu saja.</p>
<p>Bahasa pengantar "dipercayakan" kepada mayoritas Bangladesh.<br />
Tapi jangan tanya kita bisa ngerti isi khotbah atau tidak.<br />
Orang India dan pakistan pun..... lebih suka zikir daripada<br />
mendengarkan khotbah. Mereka bilang "Entah bahasa apa....".</p>
<p>Tapi gak apa-apa, dulu saat di Bandung dengar khotbah pake<br />
bahasa`Sunda,`Indonesia campur bahasa Arab, gak ngerti juga.<br />
Soal legitimasi dan keabsahan jumatan tidak tergatung apakah<br />
kita ngerti atau tidak isi kotbah.....  semoga begitu adanya.</p>
<p>Jumatan disini sebagai minoritas, pada tampilannya sama saja<br />
dengan jumatan di Bandung saat berada dalam posisi mayoritas.</p>
<p>Disini double minoritas, minoritas dari jamaah Bangladesh,<br />
juga minoritas dari penduduk sekitar yang lagi weekend.<br />
Di Bandung, jumatan dalam status multi-multi mayoritas.<br />
Pake bahasa Indonesia, jamaahnya berjubel sampai menutup<br />
jalan raya, suara khotbah sampai terdengar ke mesjid lainnya.</p>
<p>Kalau ada perbedaan dalam pagelaran rutin Jumatan,<br />
maka bedanya yaa itu.... soal BROTHERHOOD.<br />
Dari mulai buka hot-line untuk segala info tentang<br />
jadwal puasa, jadwal shalat, ngaji anak, dan tentu juga<br />
kemeriahan krang-kring telepon dimalam takbiran.<br />
Sampai, tawaran dan juga info tempat daging halal....</p>
<p>Dan the last but not least, sapaan "Assalaamualaikum Brother !!".<br />
dengan jabatan telapak tangan menggenggam erat...</p>
<p>serasa mendengar "What A Wonderful World" nya Louis Armstrong...</p>
<p> The colours of the rainbow, so pretty in the sky<br />
 Are also on the faces of people going by<br />
 I see friends shakin' hands, sayin' "How do you do?"<br />
 They're really saying "I love you"</p>
<p>kali ini, saya sebagai minoritas saatnya belajar dan<br />
membiasakan menjawab "I love you too... brother"</p>
<p>Agar nanti jika saya kembali jadi mayoritas, lidah dan<br />
pikiran saya selalu merasa berada ditengah brother.<br />
Dan tidak akan pernah lagi kenyang karena kebanyakan<br />
memiliki brother.</p>
<p>Newport 20071117</p>
<p>DjayaWikarta</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memenuhi panggilan PUSKESMAS]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=229</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 21:21:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=229</guid>
<description><![CDATA[Soal peduli status kesehatan, mungkin saya termasuk orang yang
seperti kata Sister Ken barusan bilan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Soal peduli status kesehatan, mungkin saya termasuk orang yang<br />
seperti kata Sister Ken barusan bilang: "Whatever ....you just<br />
let your body flow.. going somewhere,..... innit ?"</p>
<p>Saya seperti biasa hanya menjawab dengan memamerkan deretan gigi.<br />
Habis mau apalagi, memang gak pernah merasa sakit kok. Juga waktu<br />
di Bandung, dokter yang bolak balik saya datangi hanya dokter gigi.</p>
<p>Mendatangi dokter gigi termasuk "low risk" tapi sekaligus darurat.<br />
Darurat, karena sakit gigi sangat mengganggu MOOD. Low Risk<br />
karena apapun kabar yang akan dikatakan dokter gigi pasti tidak<br />
akan jauh-jauh dari masalah rongga mulut. Masih jauh dari jantung.</p>
<p>Mungkin karena saya lebih takut mendapat kabar saya berpenyakit<br />
daripada betulan saya menderita sakit. Atau juga konon seperti<br />
pepatah Nabi Isa AS, katanya lebih banyak orang mati karena<br />
takut melihat kematian, daripada mati karena nyawanya melayang.</p>
<p>Hampir sebulan yang lalu saya mendapat surat undangan dari Cowes<br />
Medical Centre, puskesmas-nya pemkot Isle Of Wight untuk pemeriksaan<br />
kesehatan. Tapi ada penjelasan yang rada maksa, jika tidak merespon<br />
dalam waktu 5 minggu, maka puskesmas akan menelepon.</p>
<p>Undangan ini rada aneh datang ke saya, karena sejak 7 tahun lalu<br />
pertama masuk negeri ini dan wajib daftar NHS sekalian mendapat<br />
Nomor registrasi National Insurance, saya belum pernah dengan<br />
sengaja mempergunakan salah satu hak saya sebagai pembayar pajak.</p>
<p>Dulu pernah saya sekali mengunjungi St Marry Hospital. Itupun<br />
karena terpaksa. Teman-teman saya mendudukkan saya diatas kursi roda,<br />
lalu mereka rame-rame mendorongnya masuk rumah sakit. Saat itu,<br />
setelah tanya-tanya kepada teman yang ngantar, setelah periksa<br />
air seni, darah, denyut jantung dan X-Ray, dokter-dokter yang<br />
mengerubuti saya cuma bilang "Kamu harus banyak-banyak minum".</p>
<p>NHS itu semacam Dinas Kesehatan Pemerintah di Indonesia, yang<br />
melayani kesehatan masyarakat dengan "gratis". Tapi sesungguhnya<br />
di-dunia-ini tidak ada yang gratis. Pelayanan NHS dibiayai oleh<br />
pajak penghasilan dari setiap kepala. Tapi kualitas pelayanan<br />
sama untuk setiap orang, tidak peduli bayar pajak besar, kecil<br />
atau bahkan bagi yang tidak mampu bayar pajak.</p>
<p>Mungkin mirip istilah pejabat di Indonesia "subsidi silang". Karena<br />
disini berlaku "jika seseorang nganggur maka yang salah pemerintah".<br />
Dan jika lapangan kerja tersedia diseantero negeri, yang artinya<br />
banyak orang yang bayar pajak, maka itu juga karena pemerintah.<br />
Juga saya ingat, sepertinya pemerintah Inggris mengikuti kata-kata<br />
mang Dulloh guru ngaji saya 40 tahun lalu, katanya...<br />
"Dan diantara rejeki kamu terdapat rejekinya orang lain".</p>
<p>Jadi, saya tentu saja "ikhlas". Selalu bayar pajak lumayan badag.<br />
Tapi tidak pernah mempergunakan layanan kesehatan. Boleh jadi,<br />
sekalipun saya sangat menghormati mang Dulloh almarhum, tapi jujur<br />
saya memilih ikhlas semata-mata karena takut dengar temuan dokter.</p>
<p>Saya sampai di Medical Centre jam 3:45, karena sebelumnya sudah<br />
appointment dan waktunya jam 4:00 sore untuk bertemu Sister Ken<br />
nurse senior yang menangani soal-soal medis ecek-ecek. Kalau<br />
soal medis berat.... pasti saya gak akan mau datang. Just kidding.</p>
<p>Siser Ken nanya macam-macam, mulai gaya hidup, apa punya keluhan ?,<br />
apa punya turunan penyakit jantung ?, lalu minta saya ukur tekanan<br />
darah, timbang badan, ukur tinggi, Lalu "Excellent...!!!", katanya.</p>
<p>Sekalipun sangat biasa dengar orang bilang excellent, tetap saja<br />
saya penasaran, " Ya...that's excellent  174 60 110-70...", dia<br />
menjelaskan sambil melihat grafik di layar komputer. Saya serasa<br />
melihat ibu Bidan Sutijah yang sedang melaporkan pertumbuhan bayi.</p>
<p>"Tujuh tahun lalu...berat kamu 54 ", Sister Ken tersenyum. Lalu<br />
"Olahraga rutin kamu apa....? ", dia bertanya sambil tetap<br />
menghadap komputer.</p>
<p>"Saya tidak olah raga....tapi tiap hari saya jalan kaki ke kantor.",<br />
saya bilang sambil tetap mikir.</p>
<p>"That's brilliant.... how long it takes ?"</p>
<p>"Dua kali 30 menitan....kadang pulangnya lifting teman...".</p>
<p>"Brilliant ...excellent...excellent... kamu masih merokok ?"</p>
<p>Dan ini pertanyaan yang sangat saya tidak suka. Mikir sebentar,<br />
"Unfortunately masih....", saya jawab sambil malu-malu.</p>
<p>"Ooooo dear....", seolah dia menyesal telah kadung bilang excellent.</p>
<p>"Tapi...saya juga makan nicorette...", saya bilang maksudnya<br />
sedang berusaha berhenti dengan makan obat anti nikotin.</p>
<p>"Sukses....?", kali ini dia sengaja memajukan kuris mendekat,<br />
penasaran rupanya dia.</p>
<p>"Sekarang 2 bungkus seminggu...", saya jawab sambil berhitung.<br />
Tapi Sister Ken kembali balik menghadap komputer....</p>
<p>"Kok....7 tahun lalu kamu bilang sebungkus seminggu ?", dia<br />
kali ini tertawa betulan.</p>
<p>"Anyway Sister... dulu saya sebungkus sehari, sekarang<br />
sebungkus 3 hari. Tapi kemajuan ini bukan karena Nicorette,<br />
bukan pula karena saya sadar kesehatan. Tapi karena takut<br />
kena denda...". Saya jelaskan kesuksesan saya dengan jujur.</p>
<p>"Ha ha ha... amazing law, amazing government...innit ?"</p>
<p>Khusus soal amazing Law, saya setuju. Tapi kalau bilang setuju<br />
juga amazing government ... itu mah pamali, tabu untuk saya.<br />
Apalagi Isle of Wight dikuasai mutlak partai conservative.</p>
<p>Ya betul, penegakkan hukum dan kejelasan hukum yang menjadikan<br />
negeri ini "maju" seperti sekarang. Tidak peduli pemerintahnya<br />
siapa. Tidak peduli masyarakatnya seperti apa.</p>
<p>Pajak lancar, sekolah gratis, pelayanan kesehatan gratis,<br />
sampah tidak menumpuk, lapangan kerja terus bertambah...<br />
hidup dipaksa lebih sehat... semuanya datang belakangan.</p>
<p>O iya... saya baru kali ini mau, saat dia menawarkan untuk<br />
general chek-up. "Bebas pilih hari...." katanya meyakinkan.</p>
<p>"Kamu mau chek apa saja ...tinggal contreng, isi form dan<br />
kamu datang sendiri ke St Marry Hospital....".</p>
<p>Sekarang saya lagi mikir berat, kalau-kalau nanti ditemukan<br />
ternyata saya penyakitan......   gimana ?.<br />
Bukankah siswa SMA yang sehari-harinya cemerlang pun<br />
belum tentu lulus UAN atau lulus ujian masuk perguruan tinggi ?.<br />
Medical Centre, 20080711<br />
Sutresna</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[diatas Floating Bridge.....saya hidup]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=228</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 21:18:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=228</guid>
<description><![CDATA[Floating Bridge, tapi islander lebih suka menyebutnya &#8220;Chain Ferry&#8221;
karena &#8220;jembat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Floating Bridge, tapi islander lebih suka menyebutnya "Chain Ferry"<br />
karena "jembatan" ini berlayar bolak-balik merambati rantai. Mirip<br />
perahu getek penyebrangan di sungai-sungai Jakarta yang merambati<br />
tali dengan nakhoda yang merangkap sebagi mesin penggerak.</p>
<p>Saya tiap hari pergi ke tempat kerja selalu harus nunggu Chain Ferry<br />
untuk menyebrangi sungai, karena mustahil berenang. Saya tentu saja<br />
senasib dengan ibu-ibu atau anak-anak sekolah di Jakarta yang tiap<br />
hari harus nunggu perahu getek untuk nyebrang sungai banjir kanal.<br />
Saya tidak tahu, apa sekarang perahu-tambang masih beroperasi di<br />
sungai-sungai Jakarta.</p>
<p>Chain Ferry di Isle Of Wight adalah salah satu dari 5 yang tersisa<br />
diseantero Britain. Sudah beroperasi sejak tahun 1859, perahu getek<br />
yang masih beroperasi sekarang merupakan yang ke 9 dan bertenaga<br />
diesel. Tapi awalnya Chain Ferry memanfaatkan tenaga kuda.</p>
<p>Perahu getek yang pertama betul-betul ditarik seekor kuda. Tentu saja<br />
kuda-nya tidak perlu berenang disungai. Rantai dililitkan pada roda<br />
besi dipinggir sungai, dan sang kuda berjalan berkeliling. Lalu<br />
roda besi ikut berputar mengikuti kuda sekaligus menggulung dan menarik<br />
rantainya. Mechanical engineering terkadang sangat sederhana. Cuma saja<br />
untuk jadi manfaat memerlukan sedikit kecerdasan dan keberanian,<br />
keberanian untuk mencoba. Atau pake istilah sekolahan, punya visi.</p>
<p>Perahu getek ini muat sampai 16 mobil sedan ukuran 1300cc-an. Kalau<br />
truk besar juga ikutan masuk, maka jumlah mobil yang bisa diangkut<br />
juga berkurang. Kendaraan bermotor ditarik bayaran, tapi pengendara<br />
sepedah dan pengendara kaki seperti saya gratis. Tapi Umumnya di Inggris<br />
kendaraan bebas emisi seperti sepedah dan jempol kaki selalu gratis.</p>
<p>Floating Bridge berada tepat dimulut muara. Lebar sungai Medina disini<br />
150 meter pada saat highest tide, dan 75 meter pada saat the lowest.<br />
Sungai ini sibuk dengan lalulintas Yacht, motorboat dan kapal laut.<br />
Panjang sungai dari muara di Cowes sampai hulu di Newport sekitar 8 km.</p>
<p>Kapal laut hilir mudik masuk sungai mengangkuti BBM, bahan bangunan<br />
termasuk pasir dan batu, dan juga bahan baku dan hasil industri.<br />
Karena disepanjang aliran sungai menuju Newport dari Cowes ada beberapa<br />
pabrik, diantaranya komponen-komponen kapal, mobil dan pesawat. Serta<br />
yang selalu jadi pusat perhatian, pabrik Turbin Angin pembangkit listrik.</p>
<p>Dulu waktu pertama datang dan melihat Chain Ferry rasanya aneh. Kapal<br />
bermuatan mobil menyebrangi sungai dengan ditarik rantai yang tertambat<br />
dikedua tepi sungai. Sementara kapal dan perahu, santai saja melintasi<br />
sungai tanpa terjerat bentangan rantai.</p>
<p>Baru belakangan, setelah menyaksikan sendiri kejadian ada perahu layar<br />
cukup besar tersangkut rantai, saya bisa faham. Kejadian ini mengheboh<br />
kan, karena banyak penyebrang tertahan di kedua tepi Cowes dan East Cowes.</p>
<p>Jika selama ini, chain ferry bisa hidup rukun berdampingan secara damai<br />
dengan kapal-kapal yang melintasi rantai, ternyata bukan karena keajaiban.<br />
Juga bukan karena asal-asalan. Tapi semua karena mematuhi aturan. Aturan<br />
yang sebelumnya dibuat dan disusun dengan penuh perhitungan.</p>
<p>Accident, kejadian tersangkutnya kapal layar oleh bentangan rantai Floating<br />
Bridge ternyata karena saat itu si pengemudi kapal layar keasikan ngobrol<br />
dengan sang isteri. Padahal laut sedang surut, air sungai mengalir kearah<br />
laut dan kapal layar sedang keluar dari tempat parkir di Newport menuju laut.<br />
Mungkin saat itu pengemudi kapal layar yang berusia sekitar 70-an asik<br />
fokus ke laut dan lupa-daratan. Juga karena terlalu excited mau berlayar<br />
berdua dengan sang isteri tercinta merayakan ulang tahun perkawinan perak<br />
atau mungkin juga emasnya. Siapa tahu.</p>
<p>Si Fred tetangga saya bilang, accident terbandringnya kapal oleh rantai<br />
rata-rata antara 2 sampai 3 kali dalam setahun. Kejadiannya juga hampir<br />
selalu terjadi disaat musim panas seperti sekarang. Disaat banyak orang<br />
datang ke Isle of Wight untuk Yachting, berlayar bersenang-senang.</p>
<p>Alasan ini pula yang mungkin jadi alasan masyarakat dan pemerintah belum<br />
mau berkeinginan membangun terowongan bawah tanah melintasi sungai. Juga<br />
belum mau membangun jembatan permanen.... biayanya mahal katanya.<br />
Selain itu, Floating Bridge juga menjadi tontonan unik sekaligus<br />
menyediakan lapangan kerja warga pulau dan menjadi sarana "meeting point".</p>
<p>Islander dan juga saya terpaksa harus ikutan bangga sebagai penghuni<br />
Isle Of Wight. Karena pulau ini punya sejarah panjang sebagai "tukang<br />
perahu", juga sebagai rumah bersalin dari kendaraan yang serba amfibi.<br />
Mulai pesawat terbang amfibi sampai Hovercraft, kapal laut amfibi.</p>
<p>Dan dari sejarah "core industri" ini sekarang muncul "spin off", pentalan<br />
berupa keahlian lain, keahlian composite, bahan struktur pengganti logam<br />
dan juga penggati kayu.</p>
<p>Mungkin karena mengikuti budaya pelopor dari kerajaan Inggris, yang selalu<br />
ingin yang pertama. Jika kebetulan bukan yang pertama, maka tanpa malu-<br />
malu kerajaan mengundang sekaligus membiayai para penemu dunia untuk<br />
mempraktekan dan menerapkan temuannya di tanah Inggris.</p>
<p>Dan karena itu Italian Marconi dengan radio telegrafinya, American Graham<br />
Bell dengan teleponnya beruntung dapat "beasiswa" dari kerajaan sekaligus<br />
praktek lapangan di laboratorium in-situ England.</p>
<p>Begitu juga dengan penerapan teknologi material Composite....<br />
pada saat semua orang masih ragu apakah ekonomis, apakah layak composite<br />
dipake untuk strukture utama pesawat besar. Maka perusahaan Inggris yang<br />
ditanah Inggris, di Isle of Wight maksudnya menjadi yang pertama didunia<br />
menerapkan composite untuk rangka sayap pesawat sekelas Hercules.</p>
<p>Saya ingat, dulu teman kuliah sering diskusi memikirkan karir kedepan.<br />
"Apakah kamu mau jadi kepala kucing ataukah pilih jadi buntut macan ?"</p>
<p>Dan teman-teman kuliah saya pada gila, malah mereka jadi kepala macan.</p>
<p>Disini, saya cuma ikut numpang bangga sebagai bulu.....itupun entah<br />
macan, entah singa...juga entah kucing atau malah sekedar bulu tikus.</p>
<p>Tapi, saya selalu telepon ke anak-anak saya, bahwa bapaknya sekarang<br />
sedang menjadi bulu dari "nabi adam" nya harimau. Kalau ternyata<br />
bukan harimau, bapakmu sedang jadi bulu "nabi adam"nya kucing...</p>
<p>kalau juga ternyata bukan kucing....maka nanti akan saya yakinkan<br />
pada anak-anak saya bahwa saya bekerja dengan para pelopor....</p>
<p> </p>
<p>Floating Bridge, 20080713</p>
<p>Sutresna</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membeli Atmosfer Festival Musik Isle Of Wight 2008]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=227</link>
<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 21:29:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=227</guid>
<description><![CDATA[Jika bukan karena The Police, barangkali untuk saya Festival Musik Isle of Wight tahun ini akan sama]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Jika bukan karena The Police, barangkali untuk saya Festival Musik Isle of Wight tahun ini akan sama dengan tahun-tahun kemarin. Atau hanya sekedar menjadi pengetahuan atau bahan bacaan, bahwa dulu disini pernah tampil Jimmy Hendrix, Bob Dylan, Supertramp, Joe Cocker, David Bowie, Donovan, The Who, Chicago, Bryan Adam, Rolling Stone dan ratusan nama-nama "besar" lainnya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Festival Musik Isle Of Wight summer 2008 ini digelar selama 3 hari kemarin mulai Jumat tanggal 13 sampai Minggu 15 Juni. Tempat sama dengan Festival tahun 2007 di areal lapangan luas dipinggir sungai Medina. Dengan gerbang masuk dari Medina Leisure Centre kota Newport. </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ketika dua minggu lalu saya dengan bangga menyebut "orang-orang besar" yang pernah tampil di Festival Isle of Wight. Dan juga dengan antusias memberikan laporan bahwa saya akan nonton Sting dengan The Police dan Sex Pistol, maka diluar dugaan, dari seberang telepon anak saya dengan ringannya memotong,</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">"Mereka itu siapa Pak ?", dengan nada betulan polos tidak tahu. </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kecewa tentu saja, tapi untung saya ingat kata-kata Kahlil Gibran dalam prosa Sang Nabi, bahwa anakmu bukanlah kamu, mereka adalah milik masa depan yang mustahil menengok kamu yang ada dibelakang.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dari 27 penampil di main-stage dan 27 lagi di panggung tertutup tenda biru, terus terang saya hanya kenal nama The Police, </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sex Pistol dan baru belakangan ingat juga nama Iggy &#38; The Stooges, dulu Iggy Pop. Ketiganya konon hidup di jaman Punk-Rock.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Untuk mengobati rasa kecewa, maka saya bacakan saja semua nama yang akan tampil yang tertulis dalam leaflet. Dan ajaib, anak-anak saya dari seberang berteriak-teriak, "Wah asyik dong, ada Sugababe ".</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Juga mereka riuh saat saya sebutkan ada the Zutons, Kaiser Chief, NERD, the Kooks, the Hoosiers, Kate Nash sampai Newton Faulkner.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dan kali ini saya sengaja balas, "Memangnya mereka itu siapa ?".<br />
Tapi anak-anak saya malah berteriak, "Bapak jadul sih..."</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ya boleh jadi, The Police, Sex Pistol dan Iggy sekedar jaman dulu. Sekedar masa lalu tempat saya berdiri terpaku sampai<span>  </span>sekarang. Sementara anak-anak saya selalu bergerak cepat bersama perubahan bahkan mungkin bisa melesat lebih jauh kemasa<span>  </span>depan.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Saya beruntung atau kebetulan dapat tiket Festival karena si Jeff teman kerja saya batal nonton. Dia jual dengan harga aseli<span>  </span>110 Pounds, tiket tanpa camping. Harga tiket tentu saja mahal karena kalau dikurs sama dengan 2 juta rupiah. Tapi kalkulator<span>  </span>didalam<span>  </span>kepala saya sangat cepat berhitung, tiket itu untuk nonton 3 hari dan lebih 50 grup penyanyi.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Apalagi sebelumnya pernah saya dengar, tiket konser tunggal the Police atau Bon Jovi paling murah 45 pounds untuk 2 jam. </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tapi orang Inggris punya kalkulator sendiri dalam menghitung harga tiket. Dulu si Ken, lajang dari Manchester setelah pulang </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">dari cuti nonton Festival Glastonburry bilang "...the atmospher is priceless.."</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Maksudnya si Ken mungkin, harga "atmosfer" sungguh tidak ternilai. Dan dia saat itu seolah ingin mengajari saya untuk memberi harga sangat tinggi untuk sebuah atmosfer. Harga atmosfer yang tidak akan sanggup dibayar dengan rupiah atau pound-sterling berapapun.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dan dengan alasan yang sama, saya juga kemarin anggap saja telah membeli atmosfer-nya Festival Music Isle Of Wight 2008. Bahwa kemudian saya bisa menikmati suara sound system yang berdegup terasa nyaman di-dada, ikut menggoyang-goyangkan kaki<span>  </span>tanpa terasa, turut menunjuk-nunjuk langit, atau juga ikut menepukkan kedua tangan diatas kepala.... itu semua sekedar bonus dari atmosfer.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Juga sekedar bonus lain dari atmosfer ketika selama tiga hari merasakan suasana berada ditengah lautan manusia yang<span>  </span>bersama-sama menggoyang-goyangkan lutut dan kepala. Atau ikut bertepuk dan berteriak setiap kali penyanyi dipanggung meneriakkan kata atau irama yang enak ditelinga.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kebetulan juga selama tiga hari festival, matahari sore terus-terusan terik menyengat. Lapangan rumput yang luas semakin dipadati orang.Orang berlomba untuk buka baju mematangkan kulit. Sekeliling orang memakai kacamata hitam dan sibuk berbaring. Tentu saja kali ini saya tidak ikutan berbaring atau buka baju. Saya memilih duduk dan buka payung.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Menurut berita, council atau Pemda Isle Of Wight hanya mengijinkan 70 ribu manusia boleh berjemur dalam festival ini. Vokalis grup N.E.R.D yang datang dari USA bilang mengaku senang berada diantara 89 ribu orang. Tapi saat diwawancara dalam channel<span>  </span>ITV2, panitia penyelenggara mengaku bahwa pengunjung "cuma" 65 sampai 69 ribu saja, tidak lebih. </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tapi apalah arti besar-kecil jumlah pengunjung dibanding besarnya jumlah atmosfer dan dibanding beragamnya atmosfer yang bisa dinikmati.<br />
Seolah kesenangan yang ternikmati masing-masing orang juga sekaligus menjadi atmosfer yang menyenangkan bagi seluruh orang yang datang.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Atmosfer yang telah saya beli tentulah bukan suara Sting Gordon Summer yang memang masih mantap, bukan celotehan vokalis Sex-Pistol, bukan pula teriakan dan pameran kulit perut keriput dari Iggy yang telanjang dada.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Atmosfer samasekali bukan tontonan, bukan pula mendengarkan lagu atau musik sehingga harus hafal lagu atau kenal penyanyi. Atmosfer bukan pula mencicipi makanan atau minuman, bukan belanja, bukan wisata dan tentu bukan pula sekedar kerumunan orang. </span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Boleh jadi, atmosfer yang dicari orang Inggris sekedar rasa senang yang tak mungkin bisa diceritakan.<br />
Dan pasti, atmosfer samasekali bukan kerusuhan.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Untuk saya, atmosfer Festival Musik Isle Of Wight 2008 adalah perasaan senang saat berada ditengah puluhan ribu manusia yang juga tampak sama-sama senang.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Si Ken benar, sekalipun masing-masing orang tidak terkecuali, tua-muda, kaya-miskin, sakit-sehat pasti ingin senang. Tapi harga atmosfer memang tidak ternilai. Karena atmosfer hanya bisa tercipta dari tekad bersama disaat dan tempat yang sama, untuk sama-sama senang.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Atmosfer, sebenarnya bisa diciptakan dimanapun oleh siapapun tanpa biaya sepeserpun. Dan tiket mahal tampaknya sekedar untuk menjamin agar orang yang datang adalah orang yang sunguuh-sungguh berkeinginan senang.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Newport</span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">, 20080615</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Early Summer In London]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=225</link>
<pubDate>Sun, 11 May 2008 10:31:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=225</guid>
<description><![CDATA[Home Office Inggris mirip departemen dalam negeri nya NKRI, tapi disini
juga berurusan dengan segala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Home Office Inggris mirip departemen dalam negeri nya NKRI, tapi disini<br />
juga berurusan dengan segala kegiatan orang asing. Sebagai TKI, tentu<br />
juga saya harus berkenalan dengan Home Office. Karena itulah, hari<br />
Kamis kemarin saya bersama seorang teman TKI diminta datang ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span><br />
untuk company audit. Karena perusahaan yang mendatangkan pekerja migran<br />
harus diaudit oleh Home Office.</p>
<p>Mungkin kebetulan saja, saya berdua dengan teman terkena sampling<br />
random. Sekedar dua sample mahluk pekerja migran diantara puluhan yang<br />
telah didatangkan perusahaan. Sekalipun dianjurkan untuk santai-santai<br />
saja tidak perlu takut atau tegang, tapi saya dan teman tetap saja full<br />
persiapan. Bukan hanya paspor, segala dokumen kembali dipelajari, visa<br />
dan teruatama ijin kerja dan kontrak dibaca bolak-balik. Untuk urusan<br />
seperti ini, paspor saja terkadang tidak menolong</p>
<p>Jam 7:30 saya sudah antri tiket Ferry sekalian disini pesan tiket<br />
Kereta Api. Lumayan mahal hampir 70 GBP (sekitar 1,3 juta rupiah) untuk<br />
day return dari Cowes – <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Southampton</span> – <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span> dan sebaliknya. Mahal<br />
katanya karena tiket business-day sebelum jam 9. Harga ongkos itu<br />
termasuk discount karena menunjukkan kartu-karyawan, comapany card.<br />
Sebelumnya saya selalu wanti-wanti untuk selalu membawa Company-Card<br />
agar ongkos Ferry dapat kortingan,</p>
<p>Sepuluh menit kemudian saya sudah ngebut diatas jet-ferry, sailing<br />
crossing the Solent perairan dengan tol termahal sa-dunia.  Tidak ada<br />
yang istimewa, semua penumpang tenggelam dengan koran pagi, The<br />
Independent, Trafalgar, Daily Morning atau dengan laptop nya<br />
masing-masing. Sebagian anak anak membuka <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Nintendo DS</span>, dan orang muda<br />
sibuk menggoyang-goyangkan kepala karena kedua kupingnya tersumbat<br />
microphone <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">iPod</span>.. Saya sendiri sibuk chatting dengan pikiran sendiri,<br />
nanti di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span> harus ngomong apa ?.</p>
<p>Deg-degan saya, boleh jadi sama dengan yang dirasakan para TKW yang<br />
bekerja di Timur Tengah setiap kali harus menghadap Petugas dari negara<br />
tuan rumah. Tentu saja tidak ada yang lebih nyaman daripada hidup<br />
nyaman di negeri sendiri. Sekalipun mungkin lebih deg-deg-an jika<br />
mendapat panggilan polisi POLSEK di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bandung</span>. Karena konon anggota POLRI<br />
lebih terampil dan selalu sukses dalam menanyai orang.</p>
<p>Jika kali ini ada yang membuat saya percaya diri, tentulah karena<br />
kemarin saya sudah minta ijin cuti khusus ke line-manager saya, cuti<br />
atas panggilan negara istilah dulu waktu di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bandung</span>. Selebihnya,<br />
sebagaimana ucapan Ida salah seorang TKW yang dulu sempat ketemu di<br />
bandara <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Abu Dhabi</span>, katanya,<br />
“Ya… kalau sampai diapa-apain mah atuh…. Kita pasrah saja sama Yang<br />
Diatas.”.</p>
<p>Dan saya juga masih terngiang sepenggal syair lagu yang diteriakkan<br />
buruh demonstran yang bernyanyi di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Trafalgar Square</span>, “ … kami tidak<br />
takut bekerja keras….  Kami tidak takut mati…… kami hanya tidak mau<br />
bekerja pada orang yang serakah….!!”.</p>
<p>Dengan bekal quote dari Ida yang TKW, teriakan berani para pekerja yang<br />
sedang berdemo, dan keyakinan bahwa semua manusia menyenangkan pada<br />
dasarnya. Maka saya hentikan segala deg-deg-an dan kecurigaan.</p>
<p>Tidak lebih setengah jam kemudian, jet-ferry merapat di pelabuhan<br />
<span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Southampton</span>. Jaket hitam multi purpose, yang setia menyelimuti saya<br />
selama lebih 3 tahun ini terpaksa dibuka. Karena summer is coming,<br />
karena semua orang juga menenteng jas nya ditangan. Lebih dari itu,<br />
karena pagi ini terasa hangat dan terang benderang.</p>
<p>Berlomba jalan cepat keluar dermaga  menuju bus-stop ternyata punya<br />
cerita sendiri. Saya yang spesialis pedestrian tentu saja unggul lebih<br />
duluan mencapai pintu bus City Link, bus gratis pemkot <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Southampton</span>.<br />
Saya berdiri disamping bapak bule senior seusia Abah saya yang berdiri<br />
dengan sedikit tremor. Saat bunyi joss hidrolik pintu bus mulai<br />
terbuka, saya persilakan si bapak naik duluan….dan,</p>
<p>“Oooo thank you …young man… God bless you”, katanya tersenyum yang<br />
menampakkan deretan gigi abu-abu nya sambil nepuk-nepuk pundak saya.<br />
“No problem….”, saya niru jawaban umum Englishman, “semoga negeri anda<br />
juga tambah makmur dengan kehadiran saya…..”, tapi yang ini dalam hati<br />
saja.</p>
<p>Southampton Central station masih seperti 7 tahun lalu, bangku-bangku<br />
besi cat putih dan lantai platform bergaris kuning tebal yang<br />
memperingatkan calon penumpang supaya tidak berdiri terlalu dekat rel<br />
kereta. Berbagai Kereta datang dan pergi silih berganti. Dengan cat<br />
warna warni, sesuai selera operator, Virgin masih dominan merah, Cross<br />
Country yang baru kombinasi abu putih dan biru, Wessex dan juga<br />
SouthWest Train biru merah yang akan membawa saya ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span>.</p>
<p>Ritual duduk didalam kereta api, rupanya sama dengan ritual duduk di<br />
atas Ferry. Orang-orang buka koran, buka laptop, chatting pake Black<br />
Berry atau <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Nokia</span> atau juga sekedar geleng-geleng kepala dengan penutup<br />
putih di kuping. Cuma saja orang di samping dan di seberang saya sibuk<br />
membuka-buka lembaran kertas HVS dan sama-sama memberi catatan dengan<br />
pinsil, yang satu terbaca <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Dubai</span> draft contract, satunya lagi … Malaysia<br />
Finance ….…. samar-samar.</p>
<p>Tanpa suara, tanpa gemuruh, tanpa lonjakan, tanpa goncangan, kereta<br />
begitu saja meluncur. Terus saja sunyi sampai stasion Waterloo London,<br />
bahkan tidak terdengar percakapan apapun. Kecuali bunyi tik-tik<br />
keyboard dan gemerisik kertas koran dibuka. Sepertinya, jam kerja<br />
dimulai sejak orang duduk di kursi kereta.</p>
<p>Kereta calling for Winchester, singgah maksudnya, dan penumpang yang<br />
naik dari sini yang semuanya tampak lebih perlente membuat gerbong<br />
menjadi penuh. Dan pagelaran lembar HVS yang bertulisan “contract” pun<br />
lebih meriah. Ini pula yang membuat saya lebih nyaman, karena artinya<br />
pasti akan semakin banyak job disini.</p>
<p>Seperti biasa, kereta api Inggris dikenal sebagai kereta karet diantara<br />
perkereta api-an negeri Eropah. Melewati station Vauxhall, speaker<br />
bersuara memecah keheningan dengan suara permintaan maaf sang<br />
masinis…..apologise for 5 minutes late…. Terdengar nyaring dengan suara<br />
tenor yang mantap.</p>
<p>Konon, menurut teman-teman yang bekerja di Jerman, Perancis, dan<br />
Belanda, toleransi keterlambatan KA di negeri-negeri itu 0.0 detik,<br />
entahlah. Tapi dulu waktu saya cerita soal kereta karet Inggris, si Ken<br />
yang orang <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Manchester</span> berkilah, katanya karena British Railway dikelola<br />
manusia, dikelola secara human. Tidak seperti railway nya negara-negara<br />
Eropa daratan yang dikelola oleh Machine….</p>
<p>Pledooi nya si Ken membuat saya sempat takjub. Mungkin karena dikelola<br />
oleh human juga, makanya perkerata-api-an <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span> selalu rugi dan<br />
kumuh. Tapi entahlah.<br />
Karena menurut si Ken, Kereta terlambat 5 menit atau 1 jam, sangat<br />
manusiawi.</p>
<p>Station Waterloo juga ternyata masih seperti dulu, rame serasa di<br />
bandara. Orang-orang pada berdiri begerombol menonton display<br />
elektronik deretan jadwal kereta ke berbagai jurusan Inggris sampai<br />
jadwal Eurostar ke daratan Eropa.</p>
<p>Karena semua orang berjalan selalu cepat, maka saya terpaksa ikutan<br />
jalan cepat, sekalipun belum tahu mau berjalan kearah mana. Teman saya<br />
yang aselinya dari Ciroyom berteriak cukup jauh dibelakang. Dia<br />
menunjukkan papan bergambar bulatan biru yang khas dengan tulisan<br />
Underground merah ditengahnya. Ditengah lalu lalang orang, sangat jelas<br />
terdengar suara teman saya yang sangat berbeda….<br />
“Itu….euy tube…”, kecuali tube, ini teriakan aseli Sunda, bahasa darah<br />
daging saya yang bergema ke seantero Station Waterloo yang beratap<br />
tinggi trusses baja.</p>
<p>Dan saya segera saja menyusul dia menuju station kereta bawah tanah.<br />
Persis pengalaman pertama, kali ini juga sengaja beli karcis dari mesin<br />
yang sama seperti 7 tahun lalu. Seolah berusaha melestarikan sejarah.<br />
Hanya saja kali ini beli tiket pake kartu debit, tidak seperti dulu<br />
mengucurkan recehan coin. Ada kemajuan lah karena teman saya sekarang<br />
berani bayar-bayar apapun pake kartu plastik saja.</p>
<p>Sesuai tujuan ke Finchley Road, maka Jubilee Line adalah jalur tube<br />
yang akan dipergunakan. Dan karena seperti orang Banjaran udik yang<br />
kebetulan traveling ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Jakarta</span>, maka akan bersenagja melihat-lihat<br />
jakarta biarpun sudah berkali-kali. Saya juga aji mumpung, mumpung di<br />
<span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span> sepantasnya lah berkeliling dulu kota <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span>. Untuk itu dipilih<br />
tiket one-day traveler, naik tube sekenyangnya. Ongkosnya 9.4 pounds<br />
(sekitar 170 ribuan). Cukup murah dibanding ongkos-ongkos di tempat<br />
saya Isle of Wight.</p>
<p>Empat baris tangga elevator <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">turun</span> yang menuju platform Jubilee Line<br />
dipenuhi orang. Sadar sedang berada di terowongan raksasa yang dalamnya<br />
sampai 100 m dibawah tanah, selalu saja menerbitkan pikiran-pikiran<br />
buruk. Kalau-kalau listrik mati, elevator mati, lalu gelap pula. Atau<br />
lebih seru lagi kalau-kalau banjir seperti rutin menenggelamkan kota<br />
<span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Jakarta</span>, gimana ?. Tapi orang sini enteng saja, cukup percaya sama<br />
pemerintah saja, atau cukup percaya saja pada tukang-insinyur.</p>
<p>Menunggu kereta datang yang akan keluar dari lubang hitam pekat,<br />
ternyata asyik juga. Tanda-tandanya jika tiba-tiba terasa ada angin,<br />
maka kereta sudah dekat. Karena ukuran penampang kereta mepet sekali<br />
dengan ukuran lubang terowongan. Maka jika kereta bergerak, seperti<br />
plunyer bergerak didalam tabung pompa. Dan kita yang berdiri di<br />
platform merasakan angin hasil pompaan gerbong kereta.</p>
<p>Gerbong Kereta masih menyediakan cukup ruang untuk penumpang berdiri.<br />
Karena mungkin jam 9 orang-orang masih sibuk ditempat kerja, Cukup<br />
kencang kereta melaju dan gemuruh pula. Saat speaker mengumumkan “next<br />
station is Swiss Cotage”, saya mulai pasang kuda-kuda. Karena satu<br />
perhentian lagi akan sampai tujuan. Station Finchley Road berada diatas<br />
tanah, tapi stationnya tetap saja disebut “underground”, dan orang<br />
menyebut keretanya juga masih “tube”.</p>
<p>Sekeluarnya dari station, seperti biasa saya mengajak teman saya untuk<br />
melakukan ritual turis Amerika dan <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Australia</span> yang datang ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span>.<br />
Ritual berteriak, tapi pelan saja, “ Here we are in <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span>..”. Entah<br />
apa maksudnya. Mungkin mereka yang jaman dulu datang ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span> serasa<br />
kembali ke peradabannya setelah hidup dalam pembuangan atau juga<br />
kembali dari penjelajahan.</p>
<p>Kantor tempat bertemu dengan petugas Home Office berada di lantai 5,<br />
yang berupa penthouse. Ternyata saya sampai ditempat masih 2 an jam<br />
lagi sampai pada “moment of truth”. Menunggu memang tidak nyaman.<br />
Apalagi menunggu pemeriksaan, pikiran mencoba menebak-nebak kira-kira<br />
apa yang akan ditanyakan, akan sedetail apa materi pemeriksaan, juga<br />
akan se-sangar apa tampang si pemeriksa. dsb. dsb.</p>
<p>Jam 10 an bel tamu berbunyi, di TV monitor tampak laki-laki bule<br />
setengah baya bicara minta ijin masuk, tapi suaranya tidak terdengar.<br />
Resepsionis menekan tombol remote pembuka pintu. Dan kita dua TKI<br />
segera merapikan diri, sekaligus berlomba ke WC. Sesuai teori<br />
psikologi, konon WC selalu menyediakan perlindungan bagi orang yang<br />
sedang stress.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, tamu bule perlente berjas biru tua bersama 2<br />
temannya sudah sampai dilantai atas. Tapi, kepada resepsionis dia<br />
bilang bahwa dia building manager dari bangunan kantor dan minta ijin<br />
untuk ke atap gedung melalui jendela yang ada disini. Rupanya, mereka<br />
tukang betulin atap, dan bukan petugas Home Office yang sedang<br />
ditunggu-tunggu. Ketegangan di-dada pun me-reda.</p>
<p>Ketika jam menunjukkan 11 kurang 5, bel tamu kembali berbunyi. Dilayar<br />
TV monitor kembali tampak kepala, tapi muda dan rada gundul. Setelah<br />
terdengar suara perempuan, resepsionis memberi tahu, “Now…. They are<br />
Home Office guys..”. Tapi kali ini, saya tidak tegang lagi. Ketegangan<br />
sudah habis oleh tukang betulin atap.</p>
<p>Ketegangan semakin sirna setelah kita bersalaman, mereka berdua laki<br />
dan perempuan yang masih muda-muda. Tentu saja, confident pun naik ke<br />
kepala. Dan saya besemangat untuk maju jadi yang pertama diwawancara.<br />
Betul saja seperti orang bilang, “Jika adu keyakinan, maka usia yang<br />
akan menentukan”. </p>
<p>Saya camkan saja dalam hati, saya puluhan tahun hidup, datang jauh-jauh<br />
kesini untuk cari hidup. Sementara mereka, tidak lebih lama merasakan<br />
hidup tapi sudah sejak lahir disini selalu menikmati hidup. Dan<br />
jampi-jampi ini mujarab. Sejauh ini audit berjalan mulus. Atau seperti<br />
si Jason owner kantor bilang saat neraktir special lunch di restoran<br />
<span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">China</span> …so far so good. Semoga saja begitu hasilnya nanti.</p>
<p>Karena so-far-so-good itu pula, berdua dengan teman TKI saya bisa enjoy<br />
menikmati teriknya summer di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span>. Naik-turun dan keluar masuk lubang<br />
Underground, jeprat sana jepret sini foto-foto. Juga selonjoran di<br />
taman <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Hyde Park</span>. Tapi sementara ratusan atau ribuan orang berjemur<br />
dibawah terik matahari sore, kita ikutan berjemur dibawah pohon rindang<br />
saja. Karena panas-panasan sudah bosen saat di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bandung</span>.</p>
<p>Seolah tidak mau rugi karena telah beli tiket kereta Underground untuk<br />
seharian. Sekalipun dengkul mulai gempor tapi semangat mencicipi Tube<br />
tetap menyala. Lalu lihat buku kecil Tube-Map kembali, Station terdekat<br />
Marble Arch ambil Central Line nanti ganti di Bond Street lalu ambil<br />
Jubilee Line <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">turun</span> di Westminster, karena aneh kalau ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span> kok<br />
tidak menziarahi Big-Ben.</p>
<p>Hampir seribu foto-foto hasil jepretan sejak 2001, mulai kamera film<br />
sampai digital, ternyata isinya Big-Ben, parliament buiding, London<br />
Eyes melulu. Tapi kali ini tetap saja gantian bergaya lagi dengan latar<br />
belakang Big-Ben. Seolah Inggris identik dengan Big-Ben.</p>
<p>Jam 8 petang langit masih terang. Tapi karena dengkul mulai gempor<br />
dipake keluyuran, maka diputuskan untuk mengahiri acara summer in<br />
<span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span>. Waterloo station dekat saja jaraknya dari Westminster.<br />
Keinginan berfoto-foto rupanya mengalahkan “tak mau rugi” telah beli<br />
tiket one-day Underground. Maka dengan kamera tetap ditangan, kita<br />
berjalan kaki menuju station Waterloo.</p>
<p>Gerbang masuk station Waterloo melalui footbridge gedung Shell company.<br />
Perjalanan sangat lambat karena setiap 10 meter kita berpose foto-foto.<br />
Tepat dimulut pintu masuk station ada patung perunggu. Tentu saja<br />
jepret lagi jepret lagi, sampai kedalam hall station yang rangka<br />
atapnya dari trusses baja, juga menarik untuk di jepret. Tapi kali ini,<br />
semangat menjepret harus diakhiri….</p>
<p>Lima orang polisi, celana biru tua, baju putih lengan pendek, berjaket<br />
rompi kuning spotlite menghampiri kita berdua. Komendan nya sambil<br />
mengarahkan matanya kearah kamera yang dipegang teman saya, menyapa<br />
dengan ramah, katanya “You must be in traveling…..”.</p>
<p>Tentu saja seperti semua orang, saya juga senang jika ada yang menyapa<br />
dengan ramah. Dan kita menjawabnya dengan tak kalah ramah. Teman saya<br />
orang Sipil, dengan antusias menjelaskan ketertarikannya dengan<br />
struktur atap station. “Ya…ya,… it’s great structure design…<br />
beautiful…” dan entah apalagi sambil nunjuk-nunjuk ke langit-langit<br />
gedung.</p>
<p>Tapi polisi-polisi itu tidak tertarik dengan keindahan bangunan. Mereka<br />
hanya sedang bertugas mengamankan fasilitas umum dari segala ancaman<br />
teroris. Dan menurut penjelasannya, salah satu yang bisa dianggap<br />
sebagai suspected kelakuan teroris adalah mengambil foto struktur.<br />
Pemerintah Inggris boleh jadi trauma dengan kejadian bom <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span> 7/7<br />
2005. tapi juga sangat hati-hati dengan ekses tertembaknya seorang<br />
warga <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Brazil</span> yang tidak bersalah.</p>
<p>Orang Barzil ini yang bekerja di Inggris ketika itu tidak tahu ada<br />
polisi yang menghampirinya, perhatian dia sedang tertuju ke arah Kereta<br />
Api yang akan dinaikinya. Saat kereta mulai bergerak maju, dia berusaha<br />
lari mengejar. Dan polisi yang bermaksud menanyainya mengira orang ini<br />
melarikan diri dan…di dor lah.<br />
Setelah itu tidak ada lagi polisi di tempat umum yang pegang senjata<br />
api. Juga kali ini, para polisi bertangan kosong. Kalau saya iseng<br />
lari, paling juga hanya diteriakin.</p>
<p>Pak polisi berulang-ulang menjelaskan bahwa mereka tidak bermaksud<br />
offense. Tapi semata-mata random saja, kebetulan juga kita berdua<br />
menggendong tas yang massive, alias buntelan besar karena berisi jaket<br />
dan perlengkapan kamera.</p>
<p>Tanya jawab lebih mirip obrolan ramah tamah ketimbang interogasi<br />
didepan umum. Tapi tetap saja mereka mengisi form pertanyaan, mulai<br />
nama, alamat, berat dan tinggi badan, pekerjaan sampai wana baju dan<br />
sepatu.</p>
<p>Dan beruntunglah, kita membawa Company-Card, kartu karyawan. Dan waktu<br />
mereka membaca nama perusahaan, mereka pun riuh…..<br />
“Oo… you are aerospace engineer…..this is a big…big company…isn’t<br />
it…”.<br />
Katanya.<br />
Dan sekarang gantian kita berdua yang tercengang.</p>
<p>Sementara saya nungguin teman yang sedang di-“interogasi”, saya tanya<br />
ke polisi satunya lagi, apa saya juga perlu memberi keterangan seperti<br />
teman saya. Setengah bingung, polisi yang lebih senior malah menyuruh<br />
polisi yang lebih muda untuk menanyai saya…. “ You handle him…….”,<br />
katanya kepada si polisi muda.<br />
Lalu mendekati saya dan berbisik…”He is a policeman but he is an<br />
avionic engineer ….as well…”, sambil tersenyum dan ngeloyor pergi.</p>
<p>Polisi muda ini pun menghampiri saya sambil senyum-senyum, dan sebelum<br />
dia nanya, saya tanya duluan…..  “Ah…. you are an avionic<br />
engineer…aren’t you ?”.</p>
<p>Bukannya menginterogasi, si polisi malah cerita pengalaman kerja dia.<br />
Dulu lulusan universitas di Australia. Pernah kerja di perusahaan<br />
avionik, pernah pula jadi orang struktur… status sekarang sebagai<br />
engineer di angkatan udara, yang mulai 6 bulan lalu ditugas rangkapkan<br />
sebagai polisi. Dan, surprisingly, dulu pernah melamar ke perusahaan<br />
tempat saya bekerja sekarang…. But I was failed, katanya.</p>
<p>“How did you get your qualifcation….?”, dia nanya.<br />
“That was my twenty years experience…… I spent almost the half of my<br />
life time for this….. and now I am here”, saya serasa curhat dengan<br />
sesama teman senasib.</p>
<p>Saat dia nanya usia saya, dia rupanya baru sadar tugas dia sebenarnya..<br />
Lalu mengeluarkan form isian dan melanjutkan pertanyaan, “Your birth<br />
day ?”, tanyanya.</p>
<p>Tapi setelah saya jawab, malah dia kembali diam mikir sambil<br />
mengetuk-ngetukan ballpoint ke telapak tangan kirinya. “ 20 tahun kerja<br />
dimana ?”….penasaran dia.</p>
<p>Setelah cukup panjang saya curhat sampai cerita krismon <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span>, dia<br />
menimpali…. “ O…. dear…. I know, that was a bad thing for your<br />
country..”.<br />
Saya ingat betul raut mukanya saat dia mengatakan kata-kata ini.</p>
<p>Dan saya tidak sungkan saat meminta alamat email-nya, barangkali saja<br />
suatu saat dia ingin mendapatkan info tentang perusahaan tempat kerja<br />
saya, yang dulu dia gagal melamarnya. Karena, menurut teman polisi muda<br />
satunya lagi, yang belakangan ikut nimbrung, dia masih berminat kerja<br />
diitempat kerja saya sekarang sebagai orang struktur.</p>
<p>Begitulah, early summer in <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">London</span>.<br />
Polisi, petugas Home Office, supir bus, masinis kereta api, TKW dan TKI<br />
adalah manusia juga. Sekedar menjalani hidup dan selalu berupaya<br />
mencari penghidupan yang lebih baik.</p>
<p><span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Hyde Park</span>,, 20080510</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bacaan, Pemilahan, Timbangan dan Pengulangan]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=222</link>
<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 17:21:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=222</guid>
<description><![CDATA[Bacaan adalah referensi yang tidak berubah,
tidak boleh diubah oleh pikiran, tidak lapuk karena wakt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bacaan adalah referensi yang tidak berubah,<br />
tidak boleh diubah oleh pikiran, tidak lapuk karena waktu.<br />
Dan tidak juga terurai, kecuali menjadi deretan huruf-huruf<br />
mulai alif sampai hamzah iya.... (yang wallahualam artinya  apa<br />
sebagaimana arti alif-lam-mim atau tho-ha).</p>
<p>Bacaan adalah zat dasar, sebagaimana unsur-unsur kimia dalam<br />
daftar periodik unsur-unsur...<br />
Mengurai unsur-unsur hanya akan mendapatkan proton, elektron &#38; netron.<br />
Tapi tidak akan mendapatkan molekul atau materi yang siap telan.</p>
<p>Pemilahan adalah upaya pencarian, pengenalan, pengelompokan,<br />
pemisahan makna-makna unsur yang tergali atau ditemukan. Untuk kemudian<br />
membentuknya, menyusunnya atau membangunnya menjadi rancangan<br />
molekul, benda gas cair padat atau bangunan apapun.</p>
<p>Timbangan adalah neraca, penaksir atau penilai yang dipergunakan untuk<br />
menentukan apakah suatu rancangan molekul, benda atau bangunan memiliki<br />
manfaat besar atau kecil atau malah mudarat.</p>
<p>Hidup ... persis seperti pelajaran "Design Process".<br />
Harus ada DR&#38;O, referensi, philosophy design, harus ada development,<br />
ada preliminary, ada detail, ada CDR dan cek-ricek serta ada iterasi</p>
<p>Bahkan pun setelah masuk proses produksi....harus ada conformity<br />
dan sertifikasi.... dan tetap saja harus ada cek-ricek dan iterasi.</p>
<p>ENGINEER .. tidak akan pernah bicara tentang KEBENARAN Absolut.</p>
<p>Dia hanya berpikir,  bekerja dan bahkan hidup atas dasar kesepakatan-<br />
kesepakatan yang telah mendahuluinya, atas dasar kebenaran relatif<br />
dan sementara. Dan mengolahnya dengan segala kemampuan isi KEPALA.</p>
<p>Dan semua manusia... hakekatnya seorang Engineer, yang sanggup<br />
memBACA, rajin meMILAH, dan selalu tidak lupa meNIMBANG.</p>
<p>Modal "kebenaran" engineer hanya make-sense.<br />
Modal "tukar pikiran" engineer hanya sikap demokratis<br />
Modal "guideline" engineer hanya BERUSAHA konsisten....</p>
<p>Manusia bukan Iblis, karena<br />
Iblis tidak perlu lagi berusaha konsisten, karena SUDAH konsisten.<br />
Iblis tidak perlu demokratis, karena Iblis MERASA tahu ILMU Tuhan.<br />
Iblis tidak perlu make-sense, karena Iblis FAHAM kebenaran Tuhan.</p>
<p>manusia adalah engineer yang tidak tahu persis kebenaran Tuhan,<br />
tapi manusia selalu ingin menjadi kekasih Tuhan.<br />
Iblis adalah seekor mahluk yang yakin tahu persis kebenaran Tuhan.<br />
tapi Iblis tidak ingin dikasihi Tuhan...</p>
<p>Walhasil....<br />
manusia yang tidak make sense, tidak mau demokratis,<br />
dan tidak berusaha konsisten<br />
Maka selain bukan engineer...pasti juga lebih buruk daripada Iblis.</p>
<p>BTW,<br />
Thanks untuk cerita tentang "Adam-Iblis",<br />
ini explorasi baru sekaligus challenge untuk saya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fish and Chips makanan khas Inggris]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=221</link>
<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 13:56:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=221</guid>
<description><![CDATA[&#8220;FISH and Chips&#8230;,&#8221; si Jason menjawab tanpa berani menatap saat dulu
saya tanya mak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"FISH and Chips...," si Jason menjawab tanpa berani menatap saat dulu<br />
saya tanya makanan khas Inggris.</p>
<p>"What?" saya pura-pura kaget, dan si Jason rupanya melihat adanya<br />
maksud ledekan melalui kerutan mata saya. Memang betul saya ingin<br />
meledek. Makanan khas yang konon bisa menjadi ciri budaya suatu bangsa,<br />
kok simple banget.</p>
<p>"Ya...ah...that's it." Begitulah mungkin maksud si Jason. Dia yang<br />
lahir dan besar sebagai orang Inggris tampaknya menyesal kenapa British<br />
tidak sekreatif bangsa-bangsa lain yang memiliki ratusan makanan khas<br />
dengan ribuan rasa yang bisa dibanggakan.</p>
<p>Fish and Chips tentu saja bukan makanan luar biasa, mengolahnya juga<br />
pasti tidak perlu keahlian khusus, tidak perlu rahasia bumbu khusus<br />
seperti bikin lotek <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bandung</span>, gudeg Yogya, rendang <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Padang</span>, rawon Jawa<br />
Timur, lumpia Semarang, sop kaki Betawi, nasi goreng dan ribuan makanan<br />
khas <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span> lainnya.</p>
<p>Fish and Chips makanan khas Inggris tak lebih dari goreng kentang dan<br />
goreng ikan dibalut tepung tawar. Kalaupun ada yang luar biasa atau<br />
aneh karena Fish and Chips disajikan tanpa bumbu apapun. Lidah kita<br />
yang penuh cita-rasa tentu saja serasa berada di ruang hampa. Serasa<br />
dingin biar pun kentang dan ikan panasnya minta ampun.</p>
<p>Berlainan dengan goreng ikan mas atau gurame atau bahkan ikan nila yang<br />
sekali pun tanpa bumbu selalu harum dan terasa lezat, goreng ikan cod<br />
rasanya tawar-tawar saja, juga haddock yang serat dagingnya berbeda,<br />
aroma dan rasanya hanya samar-samar.</p>
<p>Kalaupun ada bumbu yang selalu pelayan tawarkan, bumbu itu hanya cuka.<br />
Makanya, supaya bisa rada lancar makan, saya selalu memastikan untuk<br />
sengaja minta saos tomat dan garam dan wanti-wanti jangan pake vinegar.</p>
<p>Seperti umumnya porsi makanan di sini yang serba jibeuh, Fish &#38; Chips<br />
juga jibeuh. Daging ikan laut cod atau haddock warna putih sebesar<br />
telapak tangan dengan chips potongan kentang yang menggunung hanya<br />
sanggup terlahap setengahnya. Sisanya terpaksalah dibagi-bagi untuk<br />
burung merpati dan camar yang selalu merubung setiap kali kita<br />
menikmati makanan di bangku <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">taman</span>.</p>
<p>Chips Ahoi nama warung Fish &#38; Chips di Victoria Road. Namanya asing<br />
berbau oriental, juga mungkin pemiliknya oriental tapi mulai tukang<br />
masak, pelayan sampai tukang sapunya semua asli lokal islander<br />
Englisman. Setiap petang selalu penuh antrean orang yang membeli<br />
makanan pokok "ikan dan kentang" sebagai makan malam.</p>
<p>Restoran  yang lain adalah tandori-nya orang <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">India</span> yang menyediakan<br />
ayam tika masala. Kalau yang punya orang <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Pakistan</span> atau <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bangladesh</span>,<br />
namanya menjadi tandori halal balti. Restoran <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Thailand</span> juga cukup<br />
banyak disukai orang Inggris. Tapi semua restoran ini hanya<br />
dipergunakan untuk "dinner", makan malam sungguhan, makan malam yang<br />
punya alasan. Berbeda dengan Fish &#38; Chips warung makan-nya British yang<br />
selalu didatangi tiap hari mulai breakfast, lunch sampai supper.</p>
<p>Kuping saya selalu susah menangkap aksen bicara pelayan di sini. Dulu<br />
saat pertamakali mencoba beli Fish &#38; Chips, sekalipun tidak jelas<br />
terdengar tapi saya jawab saja  Yes thank you. Dan lunch di kursi taman<br />
saat kentang dicicipi, langsung saja lidah dan bibir saya mengkeret<br />
karena rupanya seluruh kentang telah basah kuyup oleh vinegar. Vinegar<br />
pengganti cuka yang umumnya di sini terbuat melalui fermentasi buah<br />
apel.</p>
<p>Rupanya tadi yang dibilang Barbara si pelayan Woulf you like vinegar.<br />
Tapi saya kira dia menawarkan air minum, memang jauh artinya. Akhirnya<br />
saya ikhlas saja meneruskan lunch dengan mata dan mulut<br />
dikerut-kerutkan.</p>
<p>Saya rada hapal aroma vinegar karena sama dengan cuka apel. Dulu teman<br />
saya di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bandung</span> pernah bilang, katanya cuka apel <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">obat asam urat</span>. Saya<br />
pernah mencobanya tapi dengan banyak campuran madu. Kalau cerita<br />
khasiat cuka apel ini benar, maka mungkin karena itu pula orang Inggris<br />
tidak ada yang mengeluh asam urat.</p>
<p>Orang Inggris tampaknya juga takut segala macam "zat-kimia" termasuk<br />
asam asetat atau cuka di Indonesia, juga meminimalkan konsumsi natrium<br />
Chloride alias garam dapur dan gula. Ini juga tampak dari iklan-iklan<br />
makanan disini yang menggembar-gemborkan bahwa makanan ini rendah<br />
kandungan garam, bebas gula dan tentu saja rendah lemak.</p>
<p>Mungkin orang Inggris menganut prinsip "tidak semua makanan harus<br />
dimakan", kecuali makanan yang jelas asal muasalnya. Harus ada<br />
kepastian kandungan bahan makanannya. Atau bisa juga ada yang menjamin<br />
kejelasan pembuatnya. Karena itu, istilah Home Made Cake biasanya lebih<br />
laku untuk dibagi-bagi sebagai kue perayaan apapun.</p>
<p>Home made boleh jadi lebih tepat diartikan makanan ini dibuat dengan<br />
sepengetahuan saya. Atau juga boleh diartikan, makanan ini dibuat<br />
dengan penuh perasaan cinta.Karena seperti kemarin teman kerja saya<br />
Edgar ulang tahun, bawa kue-kue yang katanya My beloved wife made, maka<br />
di luar kebiasaan antre, kali ini teman-teman satu grup pada berebut.<br />
Penuh canda dan penuh pujian Nice cake, lovely cake sampai brilliant<br />
cake. Semua kemeriahan dan pujian tentu saja untuk my beloved wife made<br />
alias home-made.</p>
<p>Lain pula ceritanya, ketika si John, manajer saya dapat bingkisan besar<br />
kue-kue dari teman yang baru pulang dari <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">India</span>. Dia seperti biasa kalau<br />
punya makanan suka bagi-bagi. Kali ini pun juga sama, dia tumpuk<br />
kotak-kotak warna-warni yang tampaknya berisi kue-kue lezat di meja<br />
rapat. Lalu orang-orang pada berdatangan. Tapi hanya bergerombol<br />
menonton tumpukan kue. Kemudian bubar meninggalkan kue-kue tetap utuh.</p>
<p>Saya sempat nguping beberapa komentar, "Fabricated cake," katanya<br />
sambil membaca nama pabrik dalam kemasan kue. Dan sepertinya karena<br />
tidak kenal nama pabriknya maka mereka tidak ada yang berani makan kue.</p>
<p>Saya ingat, dulu kakek saya pernah bilang katanya hati-hati dengan<br />
perut kamu, jangan mengisinya dengan sembarang makanan, apalagi diisi<br />
dengan rejeki yang tidak halal. Saya tidak tahu apakah orang Inggris<br />
tahu halal-haram. Tapi yang pasti orang Inggris tidak sembarangan<br />
memasukkan apapun ke dalam perut.</p>
<p>Pemerintah Inggris juga menyayangi perut warganya dengan menerapkan<br />
aturan ketat pengawasan dan sertifikasi makanan.</p>
<p>Soal asam-asaman, hampir segala makanan di sini cenderung asam.<br />
Terutama buah-buahan seperti jeruk mangga, anggur, apel lebih banyak<br />
asamnya daripada manis. Sampai pisang pun terkadang rada-rada kecut.<br />
Buah-buahan yang manis yang biasanya matang justru dijual lebih murah.<br />
Beli satu gratis satu, buy-one-get-one-free, malah kadang dapat tiga.<br />
Saya beruntung karena lebih doyan buah yang manis dan kebetulan lebih<br />
murah.</p>
<p>Saya tidak tahu, apakah rasa asam itu berkorelasi dengan segar dan<br />
alami. Tapi yang jelas, harga sayuran segar di sini selalu labih mahal<br />
daripada makanan olahan atau kalengan. Padahal di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bandung</span>, sayuran<br />
segar ini sering jadi lalaban gratis di restoran-restoran.</p>
<p>Di sini makanan cukup berlimpah, tapi hampir semua bahan makanan hasil<br />
pertanian merupakan produk impor dari berbagai negara. Buah-buahan<br />
segar terutama datang dari Spanyol, Prancis dan Brasil. Beras murah<br />
dari Amerika dan beras yang sedikit lebih mahal tapi enak datang dari<br />
<span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Thailand</span>.</p>
<p>Hanya sayang, di supermarket dan toko umum di sini tidak terlalu mudah<br />
menemukan bahan makanan yang ada tulisan made-in <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span>. Kita harus<br />
sengaja berburu ke toko Cina yang berada di lain kota. Mi instan, saos<br />
cabe dan kecap buatan pabrik di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Jakarta</span> biasanya selalu tersedia di<br />
toko Cina. Kadang kalau beruntung, kita juga bisa menemukan krupuk<br />
udang Sidoarjo, made-in <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span>.</p>
<p>Kebanyakan bumbu-bumbu khas Nusantara di sini ternyata jelas tertulis<br />
made-in Holland pada kemasannya. Padahal, kalau saya perhatikan,<br />
bungkus kemasannya biasa-biasa saja. Juga bumbu di dalamnya seperti<br />
merica, ketumbar, tumeric, ginger masih beraroma utuh, aroma <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span>.<br />
Kalau pun ada pengolahan paling-paling hanya digerus lembut. Sepertinya<br />
akan lebih pantas kalau tertulis made in <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span> dan digerus oleh<br />
Holland.</p>
<p>Belakangan saya mulai learning by doing, hasil bumi Nusantara pastilah<br />
sangat banyak berkeliaran di tanah Britania. Cuma saja mungkin untuk<br />
mencantumkan made-in <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span>" pada kemasan bumbu dapur atau makanan<br />
yang akan masuk perut orang Inggris, kita  perlu keberanian lebih.<br />
Keberanian untuk menjamin bahwa bumbu atau makanan yang kita jual<br />
adalah makanan yang telah kita olah dengan penuh perasaan dan<br />
kesungguhan pikiran.</p>
<p>Boleh jadi, kalau kita ingin bumbu atau bahan makanan made-in <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Indonesia</span><br />
laku dan disukai  orang Inggris, kita harus membuat bumbu atau bahan<br />
makanan seperti Home Made. Kita harus seperti seorang ibu yang memasak<br />
makanan untuk anak-anaknya tercinta. Atau seperti istrinya si Edgar<br />
yang bikin kue ulang tahun karena dia menyayangi si Edgar.</p>
<p>Orang Inggris sepertinya menganggap bahwa setiap makanan memiliki<br />
pawang, memiliki tuan atau master. Dan yang paham betul kelakuan<br />
makanan tentulah si pawang. Pawangnya ini adalah si pemasak dan juga<br />
yang menyediakan bahan makanan. Kalau makanan yang tidak jelas<br />
pawangnya keburu masuk perut, lalu makanan itu berbuat macam-macam di<br />
dalam perut kita, terus harus mau kemana kita mencari pawang yang bisa<br />
menaklukkan makanan yang mengamuk dalam perut?</p>
<p>Fish and Chips, bisa dianggap sebagai makanan khas sekaligus makanan<br />
pokok. Sekadar makanan yang sangat sederhana tanpa bumbu apapun. Bahan<br />
dan cara membuatnya sangat mudah dikenali. Makanan ini tidak menawarkan<br />
kemeriahan rasa, tapi juga tidak mengundang rasa curiga. Boleh jadi,<br />
Fish &#38; Chips hanya menyediakan gizi yang dibutuhkan, dan rasa kenyang<br />
tentu saja.</p>
<p>Castle Street, 20060410</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mobil Inggris murah tidak perlu Klakson]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=220</link>
<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 18:53:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=220</guid>
<description><![CDATA[MUNGKIN ini tentang keramah-tamahan atau kesabaran &#8220;orang bule&#8221; saat
berkendaraan di jal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>MUNGKIN ini tentang keramah-tamahan atau kesabaran "orang bule" saat<br />
berkendaraan di jalan raya. Atau mungkin juga tentang kekeliruan kita<br />
sebagai orang <span class="yshortcuts">Indonesia</span> yang selalu mengaku dan merasa lebih ramah dan<br />
sabar daripada orang asing.</p>
<p>Cowes, kota kecil yang terletak di pantai utara pulau kecil Isle of Wight. Untuk menyebranginya hanya perlu waktu 30 menit pelayaran ferry kecil atau bisa juga satu jam dengan ferry besar dari <span class="yshortcuts">Southampton</span> kota pelabuhan di selatan <span class="yshortcuts">England</span>.</p>
<p>Pulau Isle of Wight lebih kecil sedikit dari luas Kota Bandung.<br />
Statistik penduduk hanya sekitar 130.000. Tapi setiap akhir minggu atau<br />
liburan musim panas bisa sampai 500.000, dipenuhi turis lokal <span class="yshortcuts">Britain</span><br />
dan orang Eropa daratan.</p>
<p>Hidup di sini serasa berada di perkebunan Malabar dan Pangalengan di<br />
tahun 70-an. Hanya saja di sini lebih sering terasa berada dalam<br />
kulkas. Hidup serba hijau asri, sekalipun lebih banyak hijau lapangan<br />
rumput daripada hamparan hijau teh. Dan tentu juga, pagi disini lebih<br />
meriah oleh kicauan segala jenis burung yang dibiarkan hidup bebas.</p>
<p>Tapi kemiripan kota kecil Inggris dengan perkebunan Malabar baheula<br />
hanya dalam hal lebar jalan yang kecil, kesejukan dan kehijauan. Soal<br />
fasilitas listrik, air, gas, telepon, internet dan tranportasi umum<br />
mungkin terlalu jauh untuk dibandingkan. Bahkan mungkin masih di atas<br />
fasilitas kota <span class="yshortcuts">Jakarta</span>.</p>
<p>Juga tingkat kepemilikan mobil, boleh jadi tidak kalah oleh penduduk<br />
<span class="yshortcuts">Jakarta</span> atau <span class="yshortcuts">Bandung</span>. Cuma saja kemacetan lalu lintas di sini selain<br />
jarang, juga hanya sampai tingkat "padat merayap". Tidak sampai<br />
macet-mati dan tidak sampai macet yang bikin mules seperti <span class="yshortcuts">Bandung</span>.</p>
<p>Harga mobil di sini relatip lebih murah daripada di <span class="yshortcuts">Indonesia</span>, terutama<br />
mobil bekas. Sedan kecil 95-an dibawah 900 GBP. Tapi harga bensin dan<br />
solar turun naik dikisaran 1 GBP, kurang lebih 18500 rupiah seliter.<br />
Juga parkir antara 1-2 GBP per 2 jam, bayar sendiri dan tidak ada<br />
tukang parkir seperti di jalan Banceuy.</p>
<p>Harga mobil semakin terasa murah lagi jika dibandingkan harga makanan<br />
pokok dan Upah Minimum yang 5 GBP per jam. Makanya "kuli bangunan" dan<br />
bin-man alias tukang sampah pun kalau mau bisa "ngantor" pake mobil.</p>
<p>Yang repot di sini kalau kita yang terbiasa nembak ingin punya SIM.<br />
Ujian tertulis sampai ujian praktek tampaknya jauh lebih susah daripada<br />
ujian masuk perguruan tinggi di Indonesia. Juga biaya "bim-bel 5 jam<br />
nyupir" dan biaya bikin SIM nya yang sampai 200 GBP bisa melayang<br />
hangus kalau tidak lulus.</p>
<p>Kakak saya di <span class="yshortcuts">Bandung</span> sempat nanya biaya "SIM tembak", tentu saja di<br />
Inggris tidak ada. Karena seperti dalam urusan apapun, orang Inggris<br />
bukan hanya tidak mau, tapi juga tidak kenal cara-cara NEMBAK, tidak<br />
kenal biaya siluman. Karena mungkin di Inggris tidak ada yang<br />
memelihara siluman.</p>
<p>Tapi sekalipun bikin SIM susah dan mahal, mengendarai mobil di sini<br />
tampaknya jauh lebih mudah dan nyaman. Tidak sedikit penderita cacat<br />
atau disable yang memiliki SIM dan aman-aman saja mengemudikan<br />
kendaraan dalam keramaian.</p>
<p>Dan yang saya suka, karena memarkir mobil dimanapun perlu perjuangan<br />
berat. Maka setiap lahan parkir selalu menyediakan tempat atau space<br />
khusus penderita cacat. Space khusus ini hanya ditandai dengan cat<br />
putih diaspal dan biasanya tersedia untuk 3 atau 4 mobil. Dan jika<br />
orang segar-bugar ikut parkir di tempat khusus disable, maka akan kena<br />
denda lumayan 60 pounds.</p>
<p>Memang betul, untuk mendapatkan SIM Inggris tentu saja tidak perlu<br />
keterampilan mengemudi sekelas Lewis Hamilton. Ketidaklulusan<br />
kebanyakan karena salah membaca rambu. Teman saya tidak lulus karena<br />
terlambat masuk jalur kiri setelah nyalip. Teman yang lain lagi tidak<br />
lulus karena salah tempat saat menunggu lampu merah.</p>
<p>Mengemudi mudah, nyaman, aman dan selamat sampai tujuan betul-betul<br />
menjadi tujuan semua orang. Mudah untuk pengemudi, modalnya faham dan<br />
mematuhi rambu. Tapi pemerintah semacam DLLAJR Inggris sedikit lebih<br />
berat, karena bertanggung jawab menjamin rambu-rambu harus benar, jelas<br />
dan juga jalan tetap terpelihara.</p>
<p>Kalau ada tabrakan hadap-hadapan misalnya, dan ternyata tidak ada rambu<br />
seperti cat putih tanda pemisah jalan, maka pemerintah pasti ikut<br />
disalahkan.</p>
<p>Yang paling saya terkesan, disini hampir tidak pernah mendengar bunyi<br />
KLAKSON. Mungkin hanya setahun sekali saat tahun baru. Sisanya, bunyi<br />
klakson selalu identik dengan kesalahan atau juga bad-news.</p>
<p>Sekalipun klakson menjadi perlengkapan setandar mobil. Tapi klakson di<br />
Inggris lebih berfungsi sebagai indikator kemarahan sopir. Atau<br />
terkadang juga sebagai alat penegur jika sopir melihat mobil lain<br />
melakukan manuver yang membahayakan.</p>
<p>Saking jarangnya klakson dipergunakan, teman kerja saya baru tahu<br />
klakson-nya tidak berfungsi hanya setelah mobil-nya di MOT semacam kir<br />
yang setahun sekali.</p>
<p>Jarangnya klakson berbunyi bukan semata karena lalulintas yang tertib,<br />
tapi lebih mungkin karena tangan orang Inggris tidak segatal orang<br />
<span class="yshortcuts">Indonesia</span> yang sebentar-sebentar membunyikan klakson.</p>
<p>Lebar jalan umum rata-rata hanya cukup dua jalur, termasuk jalur yang<br />
dilewati bus umum. Terkadang malah satu sisi penuh dipake peruntukan<br />
parkir penduduk. Ajaibnya, kondisi serba sempit seperti ini tidak<br />
menimbulkan kemacetan dan tidak juga merangsang orang untuk berlomba<br />
adu bising bunyi klakson.</p>
<p>Di saat kondisi jalan tidak memungkinkan saling berpapasan, malah<br />
pengemudi pada berhenti dan seolah berlomba saling memberi lampu<br />
panjang, nge-dim istilah orang <span class="yshortcuts">Bandung</span>. Arti nge-dim disini ternyata<br />
untuk memberi tahu pengemudi dari arah berlawanan untuk jalan duluan.<br />
Dan supir yang telah diberi jalan, cukup melambaikan tangan yang cukup<br />
dibalas dengan senyuman.</p>
<p>Setiap kali naik bus, saya selalu menyaksikan atraksi saling "nge-dim"<br />
yang menakjubkan. Yang sekaligus menggugurkan pelajaran sekolah...bahwa<br />
saya orang <span class="yshortcuts">Indonesia</span> bangsa yang ramah dan penyabar. Karena puluhan<br />
tahun saya hidup di Indoneia. saya hampir tidak pernah menyaksikan<br />
atraksi "nge-dim", atraksi saling mempersilakan dijalan raya.</p>
<p>Saya lebih merasa sebagai manusia dari bangsa yang sangat doyan<br />
membunyikan klakson. Bangsa yang suka sekali menyuruh manusia lain<br />
untuk minggir.</p>
<p>Sekitar dua tahun lalu saya sempat baca berita konyol. Ada sopir<br />
dianiaya oleh pengemudi mobil didepannya. Gara-gara si korban<br />
sebelumnya membunyikan klakson disaat padat merayap. Konon si-pelaku<br />
merasa tidak marah, tapi merasa terhina semata-mata karena korban<br />
"memarahi" pelaku tanpa sebab. Padahal, si korban hanya membunyikan<br />
klakson.</p>
<p>Mungkin karena saya masih memiliki reflek memainkan klakson, kebiasaan<br />
mengemudi saat di <span class="yshortcuts">Bandung</span>. Saya merasa masih tidak-sabaran, maka saya<br />
sampai sekarang belum berani memiliki mobil. (*)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semangat British membangun taman kota]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/27/semangat-british-membangun-taman-kota/</link>
<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 18:50:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/27/semangat-british-membangun-taman-kota/</guid>
<description><![CDATA[Banyak cara untuk mengenang sekaligus mengabadikan orang tercinta yang
telah tiada. Seperti di tanah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak cara untuk mengenang sekaligus mengabadikan orang tercinta yang<br />
telah tiada. Seperti di tanah air, ada yang dengan membuat monumen. Ada<br />
yang dengan menerbitkan buku biografi. Ada yang cukup dengan mengadakan<br />
pengajian rutin. Ada juga yang menghias batu nisan kuburan, bahkan<br />
konon  tidak sedikit kuburan di Cikadut dibangun lebih mewah daripada<br />
rumah almarhum semasa masih hidup.</p>
<p>Untuk kerabat, mengabadikan orang yang telah tiada ini tentu saja<br />
selalu memiliki nilai tinggi. Karena nilai kecintaan tidak tergantung<br />
murah atau mahalnya biaya yang dikeluarkan.  Ukuran kedalaman cinta<br />
atau  yang bisa menilai besarnya jasa-jasa almarhum semasa hidup<br />
tentunya hanya yang bersangkutan. Dalam hal ini, nilai kenangan juga<br />
berarti sangat pribadi.</p>
<p>Dalam ukuran negara atau bangsa juga mungkin sama. Karena bangsa<br />
merupakan kumpulan orang-orang yang pasti juga memiliki perasaan dan<br />
kecintaan terhadap orang yang telah berjasa.  Perasaaan ‘negara’ dalah<br />
juga perasaan orang-orangnya. Kebiasaan negara <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Britain</span> dan bangsa<br />
British adalah juga kebiasaan Briton.</p>
<p>Dan saya mulai percaya, tampilan baik atau buruk negara kita juga<br />
semata-mata hasil dari kebaikan atau keburukan sikap dari kita-kita<br />
juga.</p>
<p>Saya tidak tahu persis mulai sejak kapan hampir setiap kota Inggris<br />
selalu punya taman kota. Dan anehnya, bentuk kursi taman pun hampir<br />
sama dimana-mana. Juga sama dengan kursi taman yang banyak dijual di<br />
<span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Bandung</span>. Pinggiran besi cor dengan dudukan dari jejeran papan kayu<br />
berukuran 10 centian.<br />
Hanya bedanya, kursi taman di <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Bandung</span> jarang ada ditaman kota. Malah<br />
lebih banyak sebagai kursi hiasan teras rumah.</p>
<p>Disini kita bisa menemukan kursi besi cor ada dimana-mana, ditaman, di<br />
trotoar jalan juga di pinggi-pinggir sungai. Tapi kita kita tidak akan<br />
menemukan kursi besi cor nongkrong dipekarangan rumah. Karena kursi<br />
besi cor sepertinya identik dengan kursi taman kota, kursi khusus<br />
diluar rumah.</p>
<p>Awalnya saya pikir, kok pemerintah daerah rajin sekali dan mau-maunya<br />
menyediakan kursi taman sampai ke pelosok tempat. Bahkan tempat<br />
terpencil yang pasti hanya terlewati orang yang sengaja hiking atau<br />
cross-country. Belakangan saya tahu tanpa sengaja, ternyata tidak semua<br />
kursi taman disediakan oleh pem-kot.</p>
<p>Karena mungkin ikutan orang disini, saya juga jadi doyan jalan kaki.<br />
Acara libur maupun jam kerja atau lembur tetap saja jalan kaki. Dan<br />
banyaknya kursi taman menambah confident setiap orang untuk<br />
memberdayakan kaki. Karena jika kebetulan dengkul terasa copot, maka<br />
kursi besi cor tersedia setiap saat.</p>
<p>Mngkin itu sebabnya, orang di Indonesia jarang mau jalan kaki. Karena<br />
selain gampang keringatan, juga tidak ada jaminan tersedia tempat untuk<br />
sejenak meluruskan kaki. Sangat tidak lucu kalau orang loyo pada duduk<br />
di trotoar.</p>
<p>Kecuali mungkin HM Queen, yang menduduki tahta seumur hidup. Pada<br />
dasarnya orang-orang Inggris tidak suka menduduki kursi terlalu lama,<br />
apalagi kursi publik.. Juga saya jika kebetulan  jalan berkeliling<br />
pulau, tidak akan lama menduduki kursi. Duduk lama di satu kursi, tidak<br />
baik untuk kesehatan.</p>
<p>Karena jarang-lama duduk dikursi taman, maka baru belakangan saya<br />
mendapat titik terang. Siapa lagi selain pemkot yang menyediakan kursi<br />
taman. Ternyata mereka bukanlah perusahaan besar sponsor, bukan pula<br />
konglomerat. Tapi warga biasa yang telah kehilangan kerabat, kehilangan<br />
isteri, kehilang suami, kehilangan anak, kehilangan orang tua,<br />
kehilangan pacar, bahkan ada pemain gelandang sepakbola yang kehilangan<br />
kipernya.</p>
<p>Menjelang musim dingin tahun kemarin saya belanja bulanan ke kota<br />
<span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Portsmouth</span>. Berlayar melintasi the Solent, selat yang memisahkan pulau<br />
dengan mainland, Pelayaran hanya ada hari Sabtu, berangkat jam 9 pagi<br />
pulang jam 5 sore. Setelah berlayar 1 jam, kapal berlabuh di bawah<br />
Spinnaker. Sementara kita-kita jalan dan belanja didalam kota, kapal<br />
punya urusan sendiri melayani turis berkeliling kantong pelabuhan<br />
melihat kapal-kapal perang.</p>
<p>Berat beban barang belanjaan untuk sebulan, jalan kaki lebih 5 jam,<br />
maka duduk selonjor di kursi taman tentu saja menjadi keharusan.<br />
Menduduki kursi <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">taman</span> saat itu cukup lama, karena sekalian makan nasi<br />
perbekalan. Dan saat itu jari-jari dingin saya tanpa sengaja menyentuh<br />
pelat logam dingin yang menempel di senderan kursi taman. Ternyata ada<br />
tulisan-nya.</p>
<p>Diantaranya saya  saya kutip dari bangku yang saya duduki,:<br />
“Joan Haggar 1933-1999: Loving Wife and Mother, You were the Wing<br />
Beneath The Wing”, <br />
dan dari bangku sebelahnya saya baca:<br />
“Eileen Davids (Pidge) A Loving Wife, Mum and Grandma. This is not<br />
goodbye Pidge just Cheerio”, Love Husband Fred, Kevin, Jayne, Aaron and<br />
Jake.</p>
<p>Rupanya, ratusan bangku <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">taman</span> yang berjejer rapi menghadap laut ini<br />
berfungsi sebagai monumen kenangan untuk almarhum yang dicintai. Juga<br />
berfungsi sebagai batu nisan yang makamnya entah berada dimana.</p>
<p>Berbekal penemuan dari <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Portsmouth</span> itulah, sekarang saya selalu<br />
perhatikan setiap senderan kursi <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">taman</span>, dan dibiasakan membaca seksama<br />
setiap tulisan.<br />
Membaca ungkapan cinta, sekaligus membaca orang yang berjasa membangun<br />
taman-kota….. dengan menyediakan kursi taman dari kayu dan besi coran.</p>
<p>Rupanya, semangat British membangun taman kota….. terbawa kealam baqa.</p>
<p>Salam,<br />
Sutresna</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[British memang cinta KEBEBASAN]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/27/british-memang-cinta-kebebasan/</link>
<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 18:49:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/27/british-memang-cinta-kebebasan/</guid>
<description><![CDATA[RANTING-ranting tanaman pagar hidup sepanjang Whippingham Road pagi ini
mulai menampakkan bintik-bin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>RANTING-ranting tanaman pagar hidup sepanjang Whippingham Road pagi ini<br />
mulai menampakkan bintik-bintik putih dan ungu. Padahal kemarin masih<br />
seperti semua pohon di sini yang hitam gundul meranggas karena<br />
kedinginan.</p>
<p>Seolah alam menugaskan angin untuk menyelamatkan pepohonan dari<br />
sengatan musim dingin. Selama Oktober sampai November, angin musim<br />
gugur telah memaksa pohon-pohon untuk melepaskan semua daun-daunnya.<br />
Lalu selama Desember sampai Februari ini, pepohonan hidup meranggas<br />
tanpa daun.</p>
<p>Karena mungkin, fungsi daun kurang diperlukan saat mendung panjang<br />
musim dingin. Dan tugasnya sebagai penyejuk dan penghijau kota, pun<br />
diliburkan. Tapi pagi ini pohon-pohon seolah memberi tahu saya bahwa<br />
mereka akan memulai bekerja kembali. Dengan menunjukkan kuncup-kuncup<br />
bunganya terlebih dulu di sekujur batang dan ranting. Dan tentu saja,<br />
sebentar lagi saya akan menikmati pohon-pohon penuh bunga tanpa daun di<br />
mana-mana.</p>
<p>Saya ingat hari Sabtu pagi cerah kemarin, tetangga sebelah dengan susah<br />
payah memunculkan kepalanya dari balik pagar halaman belakang. Dan<br />
hanya untuk berteriak, "Spring is coming..isn't it..".</p>
<p>Tentu saya yang sedang terpaku diam pikiran melayang, kaget luar biasa<br />
sampai meloncat.</p>
<p>Muka Pak Kevin, tetangga saya itu yang kelihatan selalu rajin ber-DIY,<br />
do-it-yourself kebun se-emprit-nya, tampak cerah sekali. Dan dia<br />
maklum, kalau saya sedang tersihir oleh tingkah-polah segala jenis<br />
burung. Burung yang hidup bebas merdeka, burung-burung yang tidak<br />
mengenal sangkar.</p>
<p>Rupanya, burung-burung yang rame kemarin di halaman belakang itu sedang<br />
pesta kuncup bunga. Dan ternyata, burung-burung di sini lebih duluan<br />
tahu dan lebih sigap merayakan datangnya musim semi.</p>
<p>Boleh jadi, sekalipun `science dan teknology' telah canggih dalam<br />
meramalkan cuaca dan musim. Malah BMG-nya Inggris hampir selalu tepat<br />
meramalkan cuaca. Tapi untuk datangnya musim semi yang penuh berkah dan<br />
harapan, orang Inggris lebih mempercayai burung, Tentu saja burung yang<br />
bukan di dalam sangkar.</p>
<p>Karena mungkin kita semua hanya bisa mempercayai orang-orang merdeka<br />
daripada mempercayai narapidana yang hidup di dalam sangkar. Maka orang<br />
Inggris juga lebih memilih orang bebas dan burung bebas sebagai teman.</p>
<p>Rumah-rumah di Inggris hanya seemprit saja luasnya. Lebar rumah<br />
rata-rata hanya empat langkah lebih sedikit. Lahan memanjang ke<br />
belakang sekitar 20 meteran. Tapi setengah lahan harus dibiarkan<br />
terbuka, sebagai garden dan jemuran tentu saja. Juga tempat menggantung<br />
segala daleman.</p>
<p>Sekali pun menanam pohon di sini tidak semudah di Indonesia, yang konon<br />
tongkat kayu pun bisa jadi tanaman. Tapi tetap saja banyak orang<br />
Inggris memimpikan punya pohon. Dan untuk Englishman yang mimpi punya<br />
pohon ini saya kadang terenyuh.</p>
<p>Banyak rumah di sini tidak beruntung. Tanah Lembang yang hitam<br />
per-kubik mahal pula harganya. Tapi orang Inggris tidak kehilangan akal<br />
untuk bikin "pohon-pohonan" yang mungkin diharapkan bisa diminati atau<br />
supaya burung-burung berkenan untuk datang bertandang.</p>
<p>"Pohon palsu" ini dari tiang kayu atau besi. Yang penting tingginya<br />
lebih rendah dari ketinggian mata. Di bagian atasnya diberi semacam<br />
ranting dan cabang. Beberapa rumah, terlihat ada yang memasang semacam<br />
Heli-Pad kecil, bahkan ada yang bikin semacam rumah-rumahan boneka<br />
Barbie.</p>
<p>Tentu saja, jika melihat hanya bentuknya, pohon-pohonan, atau pohon<br />
palsu ini tidak menarik. Malah mengganggu pemandangan. Dan untuk supaya<br />
"pohon palsu" ini tampil seindah pohon surga, maka di atas Heli-Pad dan<br />
pada "dahan-dahannya" diberi makanan. Tentu saja harus makanan burung.</p>
<p>Dan "pohon-palsu" akan betul-betul tampil menjadi pohon surga, jika<br />
burung-burung pada berkenan datang. Apalagi sebentar lagi musim semi.<br />
Kita akan menikmati musim semi dengan hiburan murah dan perasaan damai<br />
sempurna. At least, kita akan bisa punya banyak burung segala macam.<br />
Tanpa perlu beli, tanpa perlu sangkar, dan tanpa perlu berdosa<br />
memenjarakan makhluk hidup.</p>
<p>Makanan burung di sini banyak dijual ditoko-toko. Ada yang sudah paket<br />
"multi-burung", isinya macam-macam biji-bijian. Untuk berbagai jenis<br />
burung. Ada makanan burung yang terbungkus kantong jaring kenur,<br />
tinggal menggantungnya di dahan. Burung-burung bisa dengan leluasa<br />
mengambili biji-biji tanpa hawatir tumpah atau berceceran.</p>
<p>Burung-burung boleh datang dan pergi sebebasnya. Burung kecil biasa<br />
mecoba mematuki semua biji sebelum menikmatinya. Tapi jarang yang<br />
berani mematuki temannya. Burung gagak hitam lebih bergaya preman,<br />
berteriak-teriak dan menghardik kesana-kemari. Tapi mereka lebih suka<br />
melahap ceceran dan bekas makanan.</p>
<p>Burung camar dan albatros sekalipun disini banyak, tapi sepertinya<br />
gengsi kalau harus ikutan medatangi pohon kita untuk ikut mencicipi<br />
biji-bijian. Tapi biar saja, karena burung camar lebih kuat terbang<br />
jauh dan tinggi.</p>
<p>Tapi untuk makanan burung, saya memang tidak pengalaman. Toko sayuran<br />
di <span class="yshortcuts">Newport</span> menjual kacang tanah atau suuk. Suuk disimpan dalam karung<br />
besar yang terbuka. Berderet dengan segala macam biji-bijian lain.<br />
Karena sudah lama tidak lihat suuk mentah dan kebetulan saya kangen<br />
makanan lotek. Dan kebetulan lagi harganya murah sekali, maka saya<br />
langsung ambil 2 kg.</p>
<p>Waktu membayar, si ibu kasir mengorek-ngorek suuk belanjaan saya. Lalu<br />
mata biru-nya menatap saya lama. Dan dengan tersenyum bilang.</p>
<p>"Barangkali kamu mau saya tambah dengan biji-bijian lain ?".</p>
<p>"Oh, no thanks...", saya jawab tanpa rasa bersalah, Hanya waktu keluar<br />
toko, saya melewati tumpukan karung suuk lagi. Dan kali ini baru<br />
terbaca, ada tulisan tangan yang asal-asalan...seed for bird, maksudnya<br />
mungkin suuk ini bukan untuk lotek, dan juga mungkin, artinya kacang<br />
kedele ini bukan untuk tahu atau tempe.</p>
<p>Tapi, cerita soal burung liar ini, teman-teman saya di Cimahi suka<br />
protes, "Boro-boro ngasih makan, Yang didalam kandang saja pada mati<br />
kelaperan, apalagi burung yang hidup liar."</p>
<p>Dan ingat reaksi marah kakak saya di <span class="yshortcuts">Bandung</span> , "Malah di-bedil-in...<br />
coba."</p>
<p>Ya, begitulah mungkin, saya tadinya ingin cerita tentang orang Inggris<br />
yang sangat menghormati kebebasan berpikir dan pelopor freedom of<br />
speech . Tapi malah jadi cerita orang Inggris yang suka melihat burung<br />
yang bebas merdeka. Karena mungkin orang Inggris perlu teman menikmati<br />
indahnya spring, dan teman terbaik adalah mahluk-mahluk yang merdeka.</p>
<p>Mudah-mudahan, teman-teman di tanah air bisa bertahap, sekarang sudah<br />
mulai suka membebaskan orang. Nanti akan suka ngasih makan orang. Nanti<br />
jika sudah mulai suka melihat burung bebas, maka pasti nantinya lagi<br />
akan suka juga ngasih makan burung seperti di sini.</p>
<p>Semoga saudara-saudara di tanah air bisa segera mencintai kemerdekaan.<br />
Agar musim hujan dan musim kemarau bisa juga seindah musim semi di<br />
sini.</p>
<p>iow, 20080226</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Archbishop William tidak ngajak berkelahi]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/10/archbishop-william-tidak-ngajak-berkelahi/</link>
<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 12:50:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/10/archbishop-william-tidak-ngajak-berkelahi/</guid>
<description><![CDATA[Konon perang itu &#8220;perkelahian&#8221; diantara dua kekuatan
yang setara.
Jika tidak setara nama]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Konon perang itu "perkelahian" diantara dua kekuatan<br />
yang setara.<br />
Jika tidak setara namanya pembantaian atau penjajahan.</p>
<p>Perang juga hanya hobby dan ciptaan mereka yang kuat.<br />
Tapi pencipta perang tidak pernah ikut berkelahi,<br />
tidak pernah ikutan bertempur, tidak juga terluka.<br />
Yang berkeringat dan berdarah hanya mereka yang lemah.</p>
<p>Karena yang hobbynya berkelahi... .ya hanya yang lemah.<br />
Orang yang lemah ditakdirkan untuk selalu berkelahi...<br />
tapi tidak akan mampu menciptakan peperangan.<br />
Orang yang lemah selalu berkelahi untuk perang yang<br />
bukan miliknya dan bukan ciptaannya.</p>
<p>Uang adalah satu-satunya wujud kekuatan.<br />
Faith, love, fairness, humanism, keinginan berbagi...<br />
adalah sekedar bagian dari cita-cita yang dimiliki manusia.<br />
Cita-cita yang mendorong manusia menolong manusia lain...<br />
sekaligus juga menjadikan manusia tega melukai manusia lain.</p>
<p>Dan UANG, kekuatan yang memainkan keseluruhan cita-cita.<br />
sudah takdirnya... .orang lemah hanya punya cita-cita.<br />
dan sangat mudah untuk disuruh berkelahi demi cita-cita.</p>
<p>Boleh jadi, dunia hanya terbagi dua sayap..</p>
<p>Left-wing yang terdiri dari koalisi marxist, sosialis,<br />
religius apapun (dari anglican, islam, kristen sampai kejawen),<br />
para pekerja dan orang-orag yang sedang merasa terpinggirkan.</p>
<p>Right-wing yang terdiri dari koalisi kapitalis,<br />
bangsawan manapun (dari inggris, arab sampai melayu dan jawa),<br />
orang yang kebetulan sedang berkuasa atau juga orang yang<br />
sedang merasa sukses.</p>
<p>Dunia hanya terbagi dua....<br />
yang lebih beruntung dan yang belum beruntung.<br />
yang lebih kuat dan yang lebih lemah<br />
Sayap-kanan dan sayap-kiri.</p>
<p>Archbishop Willian...hanya salahsatu pemimpin kaum lemah...<br />
pemimpin ummat SAYAP-KIRI yang hanya memiliki cita-cita.<br />
Ajakannya untuk "menyatukan" seluruh ummat sayap-kiri<br />
tentu saja akan merusak tatanan dunia yang selama ini ada.</p>
<p>karena kalau semua umat sayap-kiri.. atau umat yang lemah,<br />
ummat yang hanya bermodal cita-cita mau bersatu<br />
menjadi "kekuatan BARU".<br />
Maka mustahil lagi ada yang bersedia BERKELAHI.<br />
mustahil pula kaum SAYAP-KANAN merancang dan menggelar perang.</p>
<p>Jika ajakan Archbishop William malah melahirkan perkelahian. ..<br />
maka sungguh terbukti...<br />
bahwa MENGANUT AGAMA APAPUN sekedar wujud kelemahan.<br />
dan menjadi permainan empuk penguasa uang, kaum-kanan.</p>
<p>Maka....<br />
jangan pernah mau berkelahi, jangan pernah mau bertempur,<br />
jangan mau buru-buru mati demi cita-cita.</p>
<p>Jadilah penganut agama ... bukan karena lemah.</p>
<p>20080209,<br />
DjayaWikarta</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pendidikan dinegara ini yang kurang bermutu atau]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/06/pendidikan-dinegara-ini-yang-kurang-bermutu-atau/</link>
<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 22:04:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/06/pendidikan-dinegara-ini-yang-kurang-bermutu-atau/</guid>
<description><![CDATA[Bung Jasp wrote in apakabar@:
&gt; Inilah yang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia, mungkin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Jasp wrote in apakabar@:<br />
&#62; Inilah yang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia, mungkin<br />
&#62; mutu yang kurang bagus, mungkin daya serap pasar yang tak bergairah<br />
&#62; dan mungkin juga memang pemerintah tak sanggup menciptakan<br />
&#62; lapangan kerja.<br />
&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;<br />
Saking terbiasanya mendengar "MUTU Pendidikan" atau kalimat<br />
"pendidikan yang bermutu". Sehingga suatu saat saya ditanya,<br />
hanya bisa menjawab otomasti....</p>
<p>"Pendidikan bermutu...jika lulusannya mudah NYARI KERJA".</p>
<p>Dan jika semua lulusan Amrik dan Eropah berbondong-bondong<br />
datang ke Indonesia.... untuk nyari kerja maupun bikin kerjaan....</p>
<p>Maka saya jamin, kita akan mendapat kesimpulan baru...<br />
pendidikan Amrik dan Eropah.... sangat TIDAK BERMUTU.</p>
<p>Saya kira, "mutu pendidikan" atau "pendidikan yang bermutu"<br />
sekedar JARGON KOSONG... selama kalimat ini dikaitkan dengan<br />
penyerapan tenaga kerja.<br />
Atau paling juga sekedar iklan kursus keterampilan menjahit....</p>
<p>Kalaupun harus dipaksakan ... akan lebih tepat kalau dikatakan...<br />
"Sempitnya lapangan kerja di Indonesia adalah akibat dari<br />
BURUKNYA MUTU pendidikan dari ORANG-ORANG PINTER Indonesia.</p>
<p>Pengangguran sekarang adalah akibat BURUKNYA MUTU orang-orang<br />
yang sekarang memiliki pekerjaan dan memiliki penghidupan.</p>
<p>Mereka... yang sekarang menganggur adalah korban dari<br />
kerakusan orang yang berkuasa dan kerakusan kita-kita juga<br />
yang sekarang BERUNTUNG punya kerjaan.</p>
<p>Jika kerakusan "orang-orang beruntung" seperti sekarang<br />
terus ebrlanjut.... maka jangan salahkan kalau sebentar lagi<br />
akan lahir Marxist-Marxist Indonesian yang lebih buruk daripada<br />
sekedar minta pemerataan kesempatan kerja.<br />
_________________</p>
<p>DjayaWikarta</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Re: Megawati: Kenapa Dulu Tidak Pilih Aku?]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/02/re-megawati-kenapa-dulu-tidak-pilih-aku/</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 21:46:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/02/02/re-megawati-kenapa-dulu-tidak-pilih-aku/</guid>
<description><![CDATA[[quote="Bung Jasp"]
Sekarang mau mencalonkan diri lagi ? Masak PDIP nggak punya orang
muda yang memi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#0000ff">[quote="Bung Jasp"]</font></p>
<p><font color="#0000ff">Sekarang mau mencalonkan diri lagi ? Masak PDIP nggak punya orang<br />
muda yang memiliki potensi ? Presiden SBY mungkin saja menari<br />
Poco-poco, tapi kan nggak mengkhianati kader partai pendukungnya ?<br />
Pengkhianat kader partai nggak layak menjadi pemimpin bangsa , ntar<br />
bangsa Indonesia yang dikhianati gimana ? [/quote]</font></p>
<p>Saya masih terkesan dengan kelahiran PDIP.<br />
Seperti bayi raksasa yang dilahirkan ibu rumah tangga.</p>
<p>Bukan salah ibu rumah tangga karena telah melahirkan...  tentu saja.<br />
Siapapun berhak melahirkan, termasuk melahirkan partai.</p>
<p>Kesalahan terletak pada "bapak-bapak nya"... para kader PDIP<br />
yang telah melihat opportunity serta memaksa si ibu melahirkan raksasa....<br />
dan lalu memanfaatkan ke-lugu-an si-ibu yang "teraniaya" penguasa.</p>
<p>Cilakanya, makanan pokok yang telah membesarkan PDIP sehingga<br />
menjadi raksasa di Pemilu 98....hanya BELAS KASIHAN.<br />
Keter-aniaya-an si ibu dan juga keter-aniayaan Sukarno bapaknya si ibu<br />
terus dijadikan modal kampanye oleh kader PDIP.</p>
<p>Jualan BELAS KASIHAN ditengah masyarakat yang "ajeg teraniaya"<br />
tentu saja seperti mengobral Blue Chip di bursa-efek... laku keras.<br />
Tapi... komoditas BELAS KASIHAN adalah NARKOTIC<br />
komoditas yang menggiurkan tapi sekaligus menciptakan halusinasi.</p>
<p>Gaya baru PDIP sekarang, yang selalu offensive...kritik sana-sini<br />
malah terkesan aneh.... karena modal PDIP bukan kritikus....<br />
Kritikus bukan benih yang membuat PDIP lahir.</p>
<p>Menurut saya... bayi raksasa PDIP harus dilahirkan ulang....<br />
supaya gen yang dipenuhi narkoba "teraniaya" ikutan hilang.</p>
<p>Karena memilih pemimpin bangsa dengan alasan "teraniaya"<br />
merupakan pelanggaran bangsa Indonesia terhadap hukum alam..  <br />
Dan para kader yang dulu dengan sadar memanfaatkan keteraniayaan<br />
bolehlah digolongkan telah melakukan kebiadaban alam....    :cry:      </p>
<p>DjayaWikarta</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Re: Suharto harus diadili]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=214</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 19:59:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/?p=214</guid>
<description><![CDATA[bebek rewel wrote:
&gt;&gt;&gt; Lah yang kemaren2 bebek bilang itu apaan =__=&#8221;"&#8221;
&gt;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>bebek rewel wrote:</p>
<p>&#62;&#62;&#62; Lah yang kemaren2 bebek bilang itu apaan =__="""<br />
&#62;&#62;&#62; Kitik2 kasus Soeharto supaya ketemu temen2nya?<br />
 <br />
Jika tujuan kitik-kitik hanya untuk ketemu "temen-temen Suharto"<br />
Bebek ...masih salah</p>
<p>Sekarang sudah ketemu temennya Suharto....<br />
tapi yang model Ron... <br />
Bebek telah menggali-gali lubang tikus.... tapi yang keluar<br />
justeru beruang .... kan cilaka.<br />
Apalagi beliau "orang intelejen", bisa-bisa Bebek nanti di-munir-kan.</p>
<p>"Kasus Suharto" atau kasus apapun harus tetap rajin dikitik-kitik<br />
supaya tetap terbuka.<br />
Supaya anak-anak Bebek bisa belajar sejarah<br />
bukan cuma belajar berenang </p>
<p>Bebek jangan meniru-niru demonstran dan politikus petualang...<br />
yang teriak-teriak hanya karena berbakat pecudang...<br />
tapi memaksakan segala cara supaya menang.</p>
<p>Bukankah korupsi jaman sekarang lebih terang benderang ?.<br />
Karena begitulah teori Inferior Syndrome bilang....<br />
"petruk mundak dadi ratu" jika pecundang yang menang. </p>
<p>Bebek harus meneruskan kitik-kitik...<br />
supaya kita semua bisa juga melihat WUJUD aseli lawan-lawan Suharto...<br />
yang sekarang "sudah hidup sejahtera dan diam tenteram "<br />
maupun yang masih "berkutat menuntut keadilan".</p>
<p>Kita.... tentu saja sekedar generasi PEMBACA SEJARAH<br />
yang akan sangat senang kalau bacaan kita lengkap dan make sense.<br />
Kita sekedar generasi penonton Premier Liga<br />
yang akan hepi jika setiap pertandingan berjalan cantik dan FAIR.</p>
<p>Kebenaran.... bukan monopoli pemenang,<br />
bukan pula monopoli pecundang.</p>
<p>Demikian kata pepatah ulama-ulama agama sepakbola....</p>
<p>_________________<br />
DjayaWikarta</p>
<p>Just Another Ordinary People</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketemu manusia di WC Heathrow]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/01/23/ketemu-manusia-di-wc-heathrow/</link>
<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 23:12:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2008/01/23/ketemu-manusia-di-wc-heathrow/</guid>
<description><![CDATA[Karena saya lebih sanggup menahan lapar dahaga untuk
tidak makan minum selama 10 jam. Tapi selalu pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Karena saya lebih sanggup menahan lapar dahaga untuk<br />
tidak makan minum selama 10 jam. Tapi selalu payah<br />
untuk menahan 5 jam jika ingin buang hajat.<br />
Maka bolehlah saya lebih memimpikan WC atau toilet<br />
sebagai tempat favorit daripada dapur dan dining room.</p>
<p>Terkadang, saya berhayal kalau surga itu harus lebih<br />
banyak menyediakan toilet daripada dipenuhi makanan<br />
yang berlimpah ruah. Dan kayaknya akan lebih nyaman<br />
jika disediakan toilet daripada disediakan bidadari.</p>
<p>Ketika ahir Desember kemarin saya ikut kemeriahan orang,<br />
ikut liburan menjauhkan diri dari musim dingin. Maka<br />
jauh-jauh hari saya melakukan survey WC ... Membayangkan<br />
detail lokasi WC. Membayangkan WC diatas kapal, WC diatas<br />
bus, membayangkan WC di Heathrow dan membayangkan WC<br />
yang bisa terbang.</p>
<p>Setelah semua bayangan WC ditangan, maka saya segera<br />
memesan tiket Coach bus antar kota, pesan tiket pesawat<br />
sekaligus wanti-wanti agar bisa mendapatkan seat aisle.</p>
<p>Hidup memang untuk lebih siap membuang daripada melulu<br />
berharap untuk mendapatkan. Harus lebih siap mengeluarkan<br />
daripada memasukkan. karena menahan buang hajat selalu<br />
lebih tersiksa daripada menahan lapar dan dahaga.<br />
Menahan makanan yang menumpuk dalam perut konon selalu<br />
akan menjadi penyakit.</p>
<p>Tapi entahlah, untuk kekayaan dan harta benda ....<br />
kayaknya kita semua lebih suka menumpuk dan mengumpulkan<br />
daripada mengeluarkan. Sekalipun pasti jadi penyakit.</p>
<p>Terminal Bus bandara Heathrow tidak sesibuk biasanya ketika<br />
pak sopir yang ber-jas dan berdasi itu memberitahukan<br />
agar penumpang memeriksa semua barang bawaan. Dan pak Sopir<br />
seolah tahu kalau saya akan melakukan perjalanan sangat jauh<br />
yang menyenangkan....<br />
"Hope you enjoy your flight.." katanya.</p>
<p>lain pula sambutan suara nyaring speaker berulang-ulang...<br />
"Un-attended lugage will be destroyed...." katanya.</p>
<p>Peringatan ini  sedikit beda dengan pengumuman di terminal<br />
bus Kampung Rambutan....<br />
"Barang yang tidak ditunggui akan dimanfaatkan maling....".</p>
<p>Siang yang berkabut tebal dan dingin yang cukup menggigit<br />
membuat saya harus bergegas turun dan mengabil kopor besar<br />
yang seperti biasanya hanya dipenuhi cokelat pesanan anak.</p>
<p>Sesuai dengan rencana, setelah ransel terpasang nyaman<br />
dipunggung, tas pinggang terikat sempurna dan dompet<br />
passpor menggantung di leher serta kopor besar teronggok<br />
diatas trolley.... maka pikiran saya terfokus ke WC.</p>
<p>WC terminal bus terletak diluar dan dibelakang gedung.<br />
Dengan ganjalan berat diperut dan sedikit bunyi-bunyian<br />
angin dibawah ransel, saya tergopoh mendorong trolley<br />
melintasi ruang tunggu terminal menuju pintu belakang.</p>
<p>Tapi, kopor saya selain beratnya 30 kilo, juga rupanya<br />
terlalu besar untuk bisa melewati pintu areal WC.<br />
Cukup lama saya berpikir dan berjuang mencari akal agar<br />
semua barang bawaan saya bisa ikutan masuk WC...<br />
Saya takut ...cokelat dalam kopor saya akan di destroyed.</p>
<p>Hampir sepuluh menit berkeringat dingin, tersiksa didepan<br />
pintu WC sendirian, mikir supaya kopor bisa masuk...dan<br />
juga isi perut ingin cepat-cepat keluar.</p>
<p>Tiba-tiba, seorang gentleman bule ikut memegang trolley saya.<br />
laki-laki dengan overcoat hijau tua, harum parfume Fahrenheit,<br />
usianya kira-kira 60-an . Dengan aksen BBC, aksen standar<br />
english yang saya fahami....berbisik sambil tersenyum...<br />
"Let me keep your lugage.....you go in...." katanya.</p>
<p>Terus terang, saat saya merelakan kopor untuk di-keep olehnya<br />
bukan karena saya kena hypnotise atau gendam seperti marak<br />
di tanah air. Juga bukan karena saya mempercayai bule....<br />
Tapi semata-mata karena saya kebelet buang hajat...</p>
<p>Cukup lama saya didalam WC, sempat juga terpikir...<br />
kalau-kalau cokelat pesanan anak saya disikat pak bule...<br />
Juga kepikir, kalau pak Bule memasukkan narkoba....<br />
Tapi semua pikiran buruk itu terobati oleh WC yang harum.<br />
Akhirnya saya beruntung bisa ikhlas didalam WC.</p>
<p>Ketika saya tuntas dan keluar WC, tentu juga dengan<br />
perasaan tidak teralu berharap kopor saya masih tersisa<br />
juga tidak berharap si pak Bule masih menunggui-nya...</p>
<p>Tapi, liburan musim dingin saya kali ini betul-betul<br />
penuh barokah..... saya menemukan manusia... real human.</p>
<p>Si bapak Bule masih tersenum-senyum menyambut saya<br />
yang lega keluar WC, tangannya masih erat memegang<br />
stang trolley. Seolah menjaga agar kopor butut saya<br />
tidak di-destroyed oleh SWAT nya bandara Heathrow.</p>
<p>Dan yang terpenting, saya tidak dipungut 1000 perak<br />
untuk membayar penjaga WC.</p>
<p>Saat itu saya hanya bisa berdoa, semoga si bapak Bule<br />
tidak ketinggalan pesawat.<br />
hanya karena menunggui saya yang kelamaan buang hajat.</p>
<p>Semoga juga si Bapak Bule suatu saat kelak akan<br />
mendapatkan toilet terbaik yang paling harum dan paling sehat</p>
<p>Heathrow, 20071223</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Science butuh Tuhan]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/20/science-butuh-tuhan/</link>
<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 20:40:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/20/science-butuh-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[ Dikirim: Kam Desc 20, 2007 8:27 pm
Judul: Re: Kenapa saya masih jadi ateis, tidak juga bertobat?   ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> Dikirim: Kam Desc 20, 2007 8:27 pm<br />
Judul: Re: Kenapa saya masih jadi ateis, tidak juga bertobat?     </p>
<p>--------------------------------------------------------------------------------</p>
<p>Kibroto wrote:<br />
&#62; &#62;&#62;</p>
<p># Dus, tuhan harus ada karena anda ingin terus hidup. Andai ada yang<br />
# bisa nyucup ubun2 tuhan anda, anda ingin euthanasia? </p>
<p>&#62; Agnostic..... definisinya Kibroto..... perahu kertas yang takut air. </p>
<p># Theist definisi sampiyan : tuhan harus ada karena manungsia ingin hidup? </p>
<p>&#62;&#62;&#62;&#62;</p>
<p>Hampir betul ... tapi baru terlihat<br />
dan untuk tepat belun cukup dekat.<br />
tebakan anda seperti jarak telunjuk anda ke bulan.<br />
(mudah-mudahan anda bukan kosmonot atau astronot..) </p>
<p>pengenalan "keberadaan" Tuhan,<br />
tidak ada urusannya dengan keinginan hidup atau mati.<br />
Keinginan hidup lebih karena rasa optimis, dan yang ingin mati<br />
hanya orang yang tidak optimis ...di dunia. </p>
<p>seperti yang mendefinisikan KEMATIAN, ternyata hanya<br />
orang-orag yang masih hidup. Juga yang mendefinisikan Tuhan. </p>
<p>sebagaimana azas demokrasi, setiap orang berhak dengan<br />
kebenarannya sendiri. Maka kita tidak bisa memaksa "orang mati"<br />
ikutan definisi kita yang masih hidup.....<br />
Orang yang "sudah mati"... tentu boleh saja tetap merasa<br />
dan tetap mengaku masih hidup. </p>
<p>Dan... tentu saja, "orang yang sudah mati" punya definisi sendiri<br />
tentang Tuhan. Bahkan dia boleh-boleh saja ngaku telah melihat Tuhan<br />
dengan mata dan kepalanya sendiri.<br />
Ini bukan ilmu agama tentu saja.... tapi ilmu demokrasi. </p>
<p>Dalam hal ini, Atheist selain cupet...juga tidak demokratis.  </p>
<p>Agnostic definisi anda memang "perahu kertas". yang sama sekali<br />
jauh dari "konsesi keyakinan" yang harus dimiliki setiap scientist.<br />
Scientist, adalah perahu yang mau terus berlayar menuju kearah<br />
yang PASTI ... pada saat panca indera-nya belum bisa melihat target.<br />
Kalau "tidak yakin ada"..... seperti definisi anda, pasti bukan scientist. </p>
<p>Scientist tidak akan menghamburkan waktu tidur dan man-hour<br />
untuk sesuatu yang tidak "diyakini akan ada"....<br />
padahal PASTI BELUM ADA. </p>
<p>hanya scientist "pelat merah" di Indonesia yang bekerja nyains...untuk<br />
sesuatu yang sudah ada .... sorry..... but its true. </p>
<p>Dan, ketika tahun lalu nonton tayangan BBC tentang evolusionist<br />
sejati penganut ajaran Darwin di England disatu sisi dengan creationist<br />
di Kentucky US di sisi lain.... yang juga mengaku "jiwaraga Tuhan". </p>
<p>Keduanya sama-sama memperagakan "keyakinan Biggot", cuma saja<br />
berseberangan "tidak ada Tuhan" dan "ada Tuhan". </p>
<p>Diakhir tayangan, saya sangat setuju komentar wartawan BBC.....<br />
"ini bukan soal keyakinan science...juga bukan keyakinan Tuhan.....<br />
tapi keduanya sama..... keyakinan yang sangat menakutkan. </p>
<p>Tapi Keyakinan.... atau ....Tuhan-nya science.... memang harus ada dulu.<br />
Agar nanti setiap PRESTASI...yang mungkin diraih. tidak perlu lagi repot<br />
diyakini sebagai kebenaran sejati..... dan kerja jalan terus.... juga hidup. </p>
<p>O..iya, begadang nya scientist.... tentu bukan untuk membuktikan Tuhan.<br />
karena memang Tuhan tidak perlu dibuktikan....<br />
Tapi di-BUTUHkan....harus ada..... agar science terus berlayar.<br />
Karena science bukan perahu kertas yang mustahil berani masuk air. </p>
<p>_________________<br />
DjayaWikarta </p>
<p>Just Another Ordinary People </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[saya juga tidak mau ITB lagi]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/10/saya-juga-tidak-mau-itb-lagi/</link>
<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 20:02:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/10/saya-juga-tidak-mau-itb-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Sebenarnya, saya sudah cukup lama tidak ITB lagi.
Apalagi tahun 98 saat Pemilu yang lumayan bebas,
s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya, saya sudah cukup lama tidak ITB lagi.<br />
Apalagi tahun 98 saat Pemilu yang lumayan bebas,<br />
saya sudah bisa mencapai prestasi puncak dalam<br />
karier politik.....sebagai ketua KPPS-RW. Ketua<br />
Pelaksana Pemungutan Suara di RW saya di <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Bandung</span>.</p>
<p>Jabatan Ketua KPPS di era demokrasi merupakan kiprah<br />
pengabdian tertinggi saya untuk negara dan bangsa.<br />
Saya membingkai SK pengangkatan yang ditandatangani<br />
Lurah, menggantungnya di ruang tamu. Dan dua foto<br />
copynya saya pajang di rumah mertua dan rumah Abah.</p>
<p>Untuk saya, jabatan Ketua KPPS merupakan "magnum opus",<br />
setara dengan Canon in D Major nya Johann Pachellbel,<br />
atau penggalan Spring dari 4 Season-nya Vivaldi.<br />
Indah dan abadi.</p>
<p>Dulu saya berjuang dan bersaing memperebutkan jabatan<br />
Ketua KPPS, berjuang untuk bisa memberikan pengabdian.<br />
Terus terang saja, saya saat itu main money politik.<br />
Lebih dua kali kandidat lainnya saya traktir makan Bakso.<br />
Dan akhirnya mereka ngalah, hanya jadi ketua pengamanan,<br />
wakil ketua, anggota saja dan penggembira... sisanya.</p>
<p>Tentu, akan selalu ada udang dibalik rempeyek....<br />
Karena mustahil ada "pengabdian" tanpa pamrih, tidak<br />
ada yang pordeo....demikian Abah saya bilang.<br />
Setiap orang punya mimpi yang menemani tidurnya,<br />
dan menjadi penuntun langkah disaat-saat melek-nya.</p>
<p>Dan...bukankah hidup adalah juga perniagaan ?....<br />
Kalau yang ini bukan dari Abah, tapi dari mang Ohan<br />
yang punya kios rokok di jalan Lingkar Selatan<br />
dan buka 7 hari x 24 jam. Suka ngasih utangan.</p>
<p>Menjadi Ketua KPPS....adalah bagian dari upaya mengejar<br />
impian sekaligus arena perniagaan hidup saya.</p>
<p>Dan saya... merasa telah membayar dengan menjadi KPPS.<br />
Hampir 14 hari begadang, mulai rapat di Kecamatan, rapat<br />
di kantor Desa, rapat rutin anggota, sampai menjaga TPS<br />
agar kain blacu dan lembaran plastik bilik suara tidak<br />
di angkut pemulung yang suka keluyuran di pagi buta.</p>
<p>Dan bayaran termahal dari saya, priceless kata orang...<br />
karena saya mencintai jabatan saya sebagai ketua KPPS,<br />
dan Pemilu 98 menjadi tonggak sejara bangsa....harusnya.</p>
<p>Dan semua itu, saya telah membayar untuk bisa mengeluhkan<br />
pengelolaan negara, untuk bisa mengkritik pemerintah,<br />
untuk bisa menilai kerja para pejabat.....bahkan untuk bisa<br />
memaksa pemerintah diganti, sak-mau-maunya saya...<br />
karena saya sudah bayar.</p>
<p>Menjadi ketua KPPS adalah harga yang telah saya bayarkan.<br />
Ikutan pusing mengkritik pemerintah adalah belanjaan saya.</p>
<p>Itu semua...tak lebih dari keinginan saya<br />
supaya tidak menjadi orang ITB.  (Ingin Tau Beres).</p>
<p>Mudah-mudahan saja perniagaan saya sepadan.</p>
<p>NB:<br />
ITB = Ingin Tau Beres adalah FKK-PTDI property right.<br />
pertamakali di launched....saat air liur menetes nunggu uang PHK.</p>
<p>Somerfield Store, 20071210</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akang jangan pusingin Paradox]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/08/akang-jangan-pusingin-paradox/</link>
<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 22:46:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/08/akang-jangan-pusingin-paradox/</guid>
<description><![CDATA[Sudah berbulan-bulan si Akang abang saya tidak mau lagi
bersengaja menghubungi, juga tampak selalu m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah berbulan-bulan si Akang abang saya tidak mau lagi<br />
bersengaja menghubungi, juga tampak selalu menghindar<br />
setiap kali saya telepon untuk sekedar bicara.</p>
<p>Tiga tahun lalu, selepas habis masa bakti jadi ketua<br />
Rukun Warga selama dua periode, saya ikut berdoa agar<br />
dia bersedia menjadi ketua mesjid, ngurus mesjid.<br />
Dulu saat warga meminta dia jadi ketua RW, saya juga<br />
ikutan bergerilya kampanye terselubung, layaknya MI5<br />
atau MI6 Secret Service nya British. Dan semuanya sukses.</p>
<p>Selesai ngurus dunia, sekarang saatnya ngurus akhirat,<br />
itulah kira-kira rancangan global saya untuk si Akang.<br />
Ini juga rada mirip dengan ide sekuler yang saya<br />
fahami. Dunia dan akhirat tidak nyampur seperti gula<br />
dan cokelat dalam air.<br />
Dan tidak diaduk dalam satu sajian otak didalam cangkir<br />
berupa tempurung kepala yang volumenya mungkin<br />
tak lebih dari 240 CC.</p>
<p>Tampaknya ide pemisahan urusan ini OK-OK saja, juga<br />
kami sepakat-sepakat saja.<br />
Kata orang sini...semua has been running well.<br />
Pun..rahmattan lil alamiin....rasanya sudah dalam<br />
rengkuhan.</p>
<p>Tapi, belakangan sempat ada "inner circle" ngasih saya<br />
bocoran. Bebeberapa bulan yang lalu si Akang mengeluh<br />
dihadapan "remaja mesjid" yang mengerubuti-nya...</p>
<p>"Kalian...tidak perlu lagi dengar ocehan adik-ku..".<br />
Maksudnya, jangan mau dengar lagi omongan saya...</p>
<p>Saya ingat, saat si Akang membangun pemerintahan RW<br />
Hampir tiap minggu kami diskusi, bagaimana mengelola<br />
urusan dunia yang berbasis cita-cita luhur "ketuhanan"<br />
asmaul husna untuk rahmattan lil alamiin. Dan sukses.</p>
<p>Dan saya lebih ingat pula, saat si Akang membangun<br />
pengelolaan mesjid. Juga hampir tiap hari diskusi,<br />
bagaimana jalan menuju akhirat harus dibangun secara<br />
profesional agar tidak bolong-bolong karena korupsi.</p>
<p>Keimanan akhirat itu mobil mewah dan agung....tapi<br />
tidak pernah peduli harga aspal, tidak juga peduli<br />
upah pekerja supaya stoom-wals tetap terisi solar<br />
dan tentu juga tidak harus peduli bagaimana batu kali<br />
disusun untuk kekuatan fondasi.</p>
<p>Kemewahan dan kehebatan mobil pastilah amburadul<br />
jika jalan yang dilaluinya tiap hari lebih amburadul.<br />
Karena bukannya aspal dan batu kali dihamparkan...<br />
agar jalan bisa kokoh menahan gilasan...<br />
Tapi... malah habis dimakan sebagai penganan..</p>
<p>Ah, indahnya saat itu...kami sepakat-sepakat saja.<br />
Semua diskusi berbasis make-sense. Dan semua urusan<br />
berjalan lancar karena selalu WELL-ORGANISED.</p>
<p>Sampai, itu tadi ada bocoran dari "the inner circle"<br />
yang mungkin menjadi symptom berakhirnya diskusi.</p>
<p>"Pusing saya mengikutinya...", demikian sumber-sumber<br />
saya melaporkan ucapan yang belakangan sering terlontar<br />
dari  kejengkelan si Akang terhadap saya.</p>
<p>Entah kata-kata saya yang mana yang membuat si Akang pusing.<br />
Entah usulan saya yang mana yang bikin si Akang melarang<br />
anak-anak muda masjid untuk mendengar omongan saya lagi....</p>
<p>Kebetulan saja, Barusan saya terima email dari teman main<br />
sepak-bola saat dulu di pekuburan Maleer Bandung....Juga<br />
teman yang sangat fanatik terhadap ide RAHMATTAN LIL ALAMIIN.</p>
<p>"A...saya sudah usulkan untuk membubarkan segala<br />
bentuk organisasi sektarian....termasuk RW dan DKM mesjid...".</p>
<p>Isi email sebenarnya panjang, tapi tak perlu saya sampaikan<br />
semuanya, karena ada hal private seperti pesanan oleh-oleh<br />
topi dan scarf Liverpool. Dan juga titipan pesan dari temannya<br />
teman....kalau-kalau saya ada dana untuk modal usaha.</p>
<p>Yang bikin saya terpaksa mikir, usulan dia ada benarnya....<br />
Jika cita-citanya untuk kemaslahatan seluruh ummat manusia<br />
kenapa harus ada grouping...kenapa harus ada sektarian<br />
kenapa harus ada ORGANISASI....yang well organised pula ?.<br />
Organisasi yang hanya menguntungkan SEKELUMIT ummat.</p>
<p>Ah....pantesan saja si Akang...pusing.<br />
Well organised untuk kesejahteraan seluruh ummat...<br />
tapi organisasinya, sungguh bukan untuk seluruh ummat</p>
<p>Si Akang lupa ada jurus sakti menangani paradox...<br />
"Eventhough every man die, But not every man really live"<br />
demikian Braveheart....</p>
<p>Si Akang sebelum bilang pusing sebenarnya telah really lived.<br />
Telah punya cita-cita, telah merancang cita-cita,<br />
menjalankan cita-cita...setersedianya pikiran dan tenaga</p>
<p>That's it.</p>
<p>sekalipun RW dan DKM nya nanti tentu saja pasti bubar...<br />
Dan memang....segala apapun hasil akhir memang DIE, mati.</p>
<p>Tapi...really life itu proses dan bukan hasil akhir.</p>
<p>karena itu....Akang jangan pusingin kesimpulan akhir.<br />
I will always love you...Kang.  </p>
<p>-<br />
Thetis Road 20071208</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Queue Cake Eater]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/08/queue-cake-eater/</link>
<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 02:49:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/08/queue-cake-eater/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Cake eater&#8230;.please help your self..&#8221;
Cuma sebaris kalimat itu email announcement ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"Cake eater....please help your self.."<br />
Cuma sebaris kalimat itu email announcement isinya.<br />
dan isi announcement ini jauh lebih manusiawi...<br />
karena biasanya email tanpa isi hanya subjeknya CAKE.</p>
<p>Memang, isi email hanya empat huruf, itupun di subjek.<br />
Tapi sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semua<br />
perkara sekaligus mengundang antrian panjang.</p>
<p>Dan tanpa menunggu komando, hampir 80 an penghuni<br />
ruangan yang tersekat-sekat partisi setinggi perut...<br />
serentak berdiri, ada yang berjinjit ada juga yang<br />
berusaha memanjangkan leher. Semua ingin segera memastikan<br />
dimana tepatnya lokasi Cake ditumpuk.</p>
<p>Lebih cepat tahu lokasi, akan lebih cepat memasuki antrian<br />
dan tentu akan lebih cepat pula mendapatkan Cake favourite.<br />
Siapa yang menyediakan Cake dan karena acara apa ada cake...<br />
biar nanti saja kita tanyakan....itupun kalau sempat.</p>
<p>Tapi soal Cake, semua sudah belajar dari pengalaman. Bisa<br />
dirasa.. ini cake tentang apa. Bisa ditebak dari hari terbit.<br />
Jika terbit antara hari senin sampai kamis....birthday.<br />
Jika terbit jum'at.... pastilah... last day.</p>
<p>Setahun yang lalu, cake lebih banyak terbit antara senin<br />
sampai kamis. Tapi bukan karena setahun belakangan lebih<br />
banyak orang yang lupa tanggal lahirnya sendiri jika<br />
sekarang Cake lebih sering terbit hari jum'at, cake last-day.</p>
<p>"There are plenty of job in mainland....", si Will yang berdiri<br />
nempel punggung saya saat antri, berbisik tapi cukup keras,<br />
mulutnya hampir menggigit daun telinga saya.</p>
<p>"Sekarang cake siapa...?", saya yang sangat berbudaya timur<br />
sangat peduli nasib orang tentu saja. Tapi ...</p>
<p>"Who care...", si Will bergumam keras malah sambil nyerobot<br />
ngambil cake-kacang yang selalu jadi incaran semua orang.</p>
<p>Mungkin sesuai dengan "perjalanan hidup", saya selalu kaget<br />
saat mendengar kata-kata ke-tidak -pedulian terhadap<br />
"last-day"-nya seseorang, terhadap orang yang berhenti kerja.</p>
<p>Tapi belakangan, saya tahu. Sesungguhnyalah disini yang harus<br />
dipedulikan adalah orang yang masih tinggal.... orang yang<br />
masih tetap belum pindah kerja dan belum mendapatkan new-job.</p>
<p>"Who care" nya si Will...sebenarnya juga mewakili suara hati<br />
semua karyawan yang kali ini cuma jadi cake-eater. Eskpresi<br />
"kecemburuan" yang disini biasa diungkapkan selalu terbuka...<br />
sebagai tanda SALUTE kepada orang yang keluar pindah kerja.<br />
"Aku cemburu, he would be better than us" itulah  maksudnya.</p>
<p>Si Will yang Canadian, sama dengan kebanyakan immigrant lain<br />
yang jadi karyawan disini... yang selalu berpikir bahwa<br />
keluar berarti mendapatkan tempat yang lebih baik. Better money.<br />
Pindah ke mainland sama "good money" nya dengan pindah pulang.</p>
<p>"My cake....next two week....hopefully", sambil berjalan ke meja<br />
kerja, dia bicara dengan mulut penuh cake. Dia bekerja disini<br />
baru dua tahun lebih dikit....tapi dia bilang "Too long...".</p>
<p>Lain padang...lain ilalang, lain si Will...lain pula saya.<br />
Si Will selalu merasa kerja disini too long....<br />
saya selalu berharap bisa kerja disini untuk long-life.<br />
Ini semata-mata masalah "perjalanan hidup masing-masing".</p>
<p>Khusus dalam urusan seperti ini, saya suka sekali ikut saran<br />
teman, katanya "cukup jadi dirimu saja, gak usah ikut-ikutan<br />
budaya dan cara pandang orang lain".,<br />
Dan saya selalu camkan baik-baik kalimat ini...</p>
<p>Karena....saat si Will juga bilang untuk alasan dia pulang<br />
" A lot of job in Canada...."</p>
<p>Tentu, saya tidak perlu ikut-ikutan pulang.<br />
Saya tak perlu sedetikpun berpikir untuk ikut-ikutan<br />
menyediakan cake last-day.</p>
<p>Dan seperti umumnya conversation yang balance....akhirnya<br />
pertanyaan yang menakutkan itupun meluncur dari mulut si Will<br />
yang justru tampaknya ingin berbagi harapan dan kesenangan.</p>
<p>"Cake kamu......kapan ?".</p>
<p>"Mmmmm....you know....I prefer to queeu cake here...hopefully".</p>
<p>Dan saat tawa si Will meledak....<br />
saya berbisik tapi dalam hati saja...<br />
saya takut pulang....saya takut nanti ANTRI cari kerja..</p>
<p>--<br />
Whippingham 20071207</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Stupid Stuff]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/07/stupid-stuff/</link>
<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 00:44:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/07/stupid-stuff/</guid>
<description><![CDATA[Si Maiky, anak Aussie di meja sebelah berteriak riang
Melihat saya datang ketempat kerja jauh lebih ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Si Maiky, anak Aussie di meja sebelah berteriak riang<br />
Melihat saya datang ketempat kerja jauh lebih siang</p>
<p>"Where have you been...mate ", Muka putih yang bertabur<br />
tawa renyah-nya menjulur hampir melintasi meja. Aroma<br />
<span style="background:0 0;cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Coca-Cola</span> pun semriwing menyengat penciuman lebih<br />
dari biasa.</p>
<p>Sekalipun flexi-time memungkinkan semua karyawan memiliki<br />
keleluasaan jam masuk kerja. Tapi saya betul-betul merasa<br />
salah tingkah karena pertama kalinya datang siang. Dan ini<br />
pula yang bikin si Maiky sangat riang mendapatkan kesenangan.</p>
<p>Kepalanya masih dalam jangkauan, ketika dia mengangkat dua<br />
kaleng kosong <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Coca-Cola</span> yang telah diremasnya. Lalu...</p>
<p>"Hei...look at me... two cans..... two hours.... where have<br />
you been....?". Dia penasaran nunggu jawaban.</p>
<p>"My mobile didn't work...", saya cuma bisa menggerutu dan<br />
menyorongkan hanphone <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Nokia</span> X-Factor kedekat hidungnya.<br />
Dan muka si Maiky berkerut lucu....tapi juga cerdas.</p>
<p>"WHAT....you rely on that stupid stuff ?", dia tambah girang,<br />
lalu dia mengangkat dan menawarkan tong sampah-nya.<br />
"Put it down here....", tangannya menjulur mau ngambil hanphone.<br />
Tentu saya gak akan mencemplungkan handphone keramat saya.<br />
Hanphone andalan hidup saya...juga ketergantungan saya.</p>
<p>Lebih dua tahun saya "bangun" dan "hidup" hanya dengan<br />
mengandalkan bunyi ring-tone handphone ....a stupid stuff.<br />
"Time to get up, the time is five o'clock", selalu tiap pagi.<br />
Biasanya begitu....dan ratusan hari everything going well.</p>
<p>Dan karena ring-tone itu pula, reliability saya dalam urusan<br />
jam masuk kerja dimata si Maiky hampir perfect. Setiap dia<br />
datang.....saya sudah lebih duluan nongkrong.</p>
<p>Tapi, kali ini seperti "karena hujan satu jam maka basahlah<br />
semua lahan yang telah kering oleh kemarau setahun", atau<br />
juga "karena nila setitik rusak susu se-belanga". ...entahlah.</p>
<p>Yang jelas, kredidibilitas saya sebagai pekerja yang selalu<br />
lebih pagi datang....telah hancur berantakan. Hanya karena<br />
saya tadi malam lupa mijit-mijit handphone.</p>
<p>Dulu....ketika saya untuk beli sebatang Ji-Sam-Soe harus<br />
nabung dua hari.... maka mau tidur atau mau bangun kapanpun<br />
selalu sesuai dengan keinginan tanpa harus perlu bantuan.<br />
Tanpa perlu dering beker, tidak perlu juga kokok ayam.<br />
juga tanpa perlu gedoran tangan Abah di pintu kamar.<br />
Saya bisa bangun tidur bisa tepat sa-menit-menitnya.</p>
<p>Sekarang, saat segala kebutuhan bisa saya miliki...<br />
segala peralatan untuk mempermudah hidup bisa saya punya<br />
pun mungkin seisi toko grosir rokok di jalan Cibadak<br />
bisa saya beli....<br />
Tapi bangun tidur tidak lagi dibawah kendali.</p>
<p>Handphone saya sekalipun hanya bisa SMS dan sekali-sekali<br />
dipake nelepon...dan ada beker-nya tentu saja....rupanya<br />
telah menjadi belahan jiwa.<br />
Sekaligus telah menjadi penjara untuk hidup saya.</p>
<p>Saya tidak bisa pergi keluar dari handphone, biarpun<br />
kehadirannya hanya menggandul membebani kantong celana.<br />
Dan saya ternyata juga mustahil BANGUN tanpa handphone.</p>
<p>Tapi, seperti ajaran yang selalu diamanatkan almarhum Emmak....<br />
Saya masih beruntung... . karena saya tidak punya mobil...<br />
sehingga kaki saya masih bisa bergerak membawa saya<br />
kemanapun keinginan saya pergi....<br />
kecuali mungkin ke Perancis karena harus menyebrangi laut.</p>
<p>Mungkin si Maiky betul....Handphone, Car, dan juga<br />
Computer.... tak lebih dari stupid stuff.<br />
All stuff yang bikin orang stupid....</p>
<p>Atau seperti syair lagu Hotel california nya Eagle....<br />
We are all just prisoners here<br />
Of our own device</p>
<p>Whippingham, 20071205</p>
<p>----- Just another ordinary people ------<br />
---- <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://djayawikarta.wordpress.com/"><font color="#003399">http://djayawikarta .wordpress. com</font></a> ------</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tentang ayat Tuhan]]></title>
<link>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/07/tentang-ayat-tuhan/</link>
<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 00:44:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>djayawikarta</dc:creator>
<guid>http://djayawikarta.wordpress.com/2007/12/07/tentang-ayat-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[&#8212; gigih raditya &lt;diditk@yahoo.com&gt; wrote:
&gt; &gt;&gt;&gt;
&gt; Saya sudah jelas kan se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>--- gigih raditya &#60;<span style="background:#dceeff;cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">diditk@yahoo.com</span>&#62; wrote: