<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>burung &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/burung/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "burung"</description>
	<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 12:39:02 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Burung]]></title>
<link>http://pkab.wordpress.com/?p=1275</link>
<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:14:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>pkab</dc:creator>
<guid>http://pkab.wordpress.com/?p=1275</guid>
<description><![CDATA[Peta Konsep Burung
Bayangkan kalau materi biologi tentang Burung sudah dibawakan seperti gambar di a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[caption id="attachment_1276" align="aligncenter" width="500" caption="Peta Konsep Burung"]<a href="http://pkab.files.wordpress.com/2008/07/fig7birds-large.png"><img class="size-full wp-image-1276" src="http://pkab.wordpress.com/files/2008/07/fig7birds-large.png" alt="Peta Konsep Burung" width="500" height="328" /></a>[/caption]
<p>Bayangkan kalau materi biologi tentang Burung sudah dibawakan seperti gambar di atas di dalam kelas. Apalagi sekarang Pemerintah melalui DepDikNas sedang galakkan <a href="http://bse.depdiknas.go.id" target="_blank">BSE</a> (Buku Sekolah Elektronik) yang "memaksa" sekolah-sekolah memiliki peralatan komputer, lcd projector, (plus internet sedapat mungkin, apalagi ada program Telkom Goes to School).</p>
<p>Apa yang lihat oleh siswa berbasis multimedia (animasi, video, suara, foto, dll) dan terstruktur dengan bantuan <span style="color:#ff00ff;"><strong>Peta Konsep</strong></span>.</p>
<p>Source: <a href="http://cmap.ihmc.us/Publications/ResearchPapers/TheoryCmaps/Fig7Birds-large.png" target="_blank">IHMC</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Desa Tanggap Flu Burung]]></title>
<link>http://relawandesa.wordpress.com/?p=219</link>
<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 18:43:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>suryokoco</dc:creator>
<guid>http://relawandesa.wordpress.com/?p=219</guid>
<description><![CDATA[Ditulis Oleh Dibya Presasta
DESA TANGGAP: Memberdayakan Masyarakat Mencegah Flu Burung Masyarakat de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Ditulis Oleh Dibya Presasta</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">DESA TANGGAP: Memberdayakan Masyarakat Mencegah Flu Burung Masyarakat desa yang mempunyai pemahaman yang baik, dapat menjadi benteng paling efektif untuk menghadapi bencana. Jika itu terjadi, yang ada di sekitar kita adalah anggota keluarga dan tetangga. Penyakit flu burung potensial menyebabkan bencana besar. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Flu Burung adalah penyakit yang umumnya menyerang bangsa burung. Penyakit ini disebabkan oleh virus avian influenza subtipe H5N1. <a href="http://www.vet-indo.com/index.php?searchword=flu+burung&#38;option=com_search">Flu burung</a> telah menyita perhatian kita sejak 2003 sampai sekarang, lebih-lebih setelah terbukti menular kepada manusia dan biasanya mematikan. Sampai Juni 2008, 133 orang telah dikonfirmasi positif di Indonesia, 108 meninggal dunia.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Ancaman yang paling dikhawatirkan adalah virus flu burung dapat menjadi pandemi. Penyakit itu menyebar ke seluruh dunia dan tidak ada satu negara pun yang luput darinya. Pandemi influenza pernah terjadi pada tahun 1918. Saat itu, lebih dari 50 juta orang meninggal. Penyakit itu merugikan pendapatan masyarakat dan mengancam kesehatan umat manusia. Jutaan unggas telah mati atau terpaksa dimusnahkan untuk mengerem laju penyebarannya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Untuk Bali, kita yakin, bahwa flu burung dapat mempengaruhi pariwisata, salah satu mesin penggerak ekonomi masyarakat Bali. Flu burung juga dapat mempengaruhi aspek sosial budaya. Karena, unggas menjadi bagian yang penting untuk upacara adat keagamaan, lebih-lebih untuk masyarakat Bali. Unggas dan telurnya diperlukan pada berbagai upacara keagamaan di Bali. Dalam menekan dan mengurangi risiko flu burung, kita percaya, kunci utama adalah peran serta masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu pengetahuan yang benar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Bagaimana pengatahuan mereka tentang flu burung, berikut komentar masyarakat yang sebenarnya. Semua orang harus terlibat secara aktif untuk melakukan kegiatan yang aman flu burung. Untuk itulah Program Desa Percontohan Tanggap Flu Burung ini dikembangkan. Program ini merupakan kerjasama <a href="http://www.komnasfbpi.go.id/" target="_blank">Komnas FBPI</a> melalui Kelompok Kerja Regional Bali dan Perwakilan <a href="http://www.unicef.org/" target="_blank">UNICEF</a> (Badan PBB untuk Dana Anak-anak) dan didanai oleh Pemerintah Kanada.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Program dilaksanakan oleh Yayasan CREATE Bali dan <a href="http://fkh.unud.ac.id/" target="_blank">Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana</a>. Program dilakukan di Takmung – Kabupaten Klungkung, Beraban Kabupaten Tabanan, dan Banyubiru, Kabupaten Jembrana. Ketiga desa itu dipilih dengan alasan tertentu. Takmung mewakili desa dengan padat unggas itik dan banyak pengepul. Beraban merupakan daerah tujuan wisata yang penting di Bali. Banyubiru merupakan daerah pesisir yang rawan penyelundupan unggas. (Footages tentang desa oleh Kades/Kadis masing-masing).</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Hakekat dari program ini adalah penyampaian pesan-pesan nasional secara berulang-ulang dan melalui praktek langsung serta percontohan. Penyampaian pesan dilakukan melalui penyuluhan yang intensif, di semua sekolah dasar, sekolah menengah pertama, atau sederajat, anggota banjar atau dusun, dan anggota PKK desa. Jumlah peserta sosialisasi lebih dari 3600 orang selama kegiatan. Setiap peserta diharapkan dapat mengetok-tularkan pengetahuannya pada rata-rata 3 orang. Penyampaian pesan juga dilakukan melalui baju kaos Gebyar Tanggap Flu Burung, pelatihan vaksinatur dan biosekuriti, pelatihan dokter dan para medis dan pembagian kandang jaring percontohan sebanyak 20 unit.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Program ditutup dengan lokakarya evaluasi dan rencana tindak lanjut, serta peluncuran desa tanggap. Kesenian rakyat dan drama oleh anak-anak sekolah dasar yang dipentaskan pada acara peluncuran juga digunakan untuk penyampaian pesan tanggap flu burung. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang program desa tanggap, berikut beberapa komentar.</span></span></p>
<blockquote><p><em><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Palajaran berharga yang kami petik adalah pelibatan semua masyarakat tidak mudah. Diperlukan usaha-usaha yang terus menerus, sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang aman flu burung.</span></span></em></p></blockquote>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Hal ini terungkap dari hasil jajak pengetahuan dan sikap, baru 80% warga yang mengetahui tentang flu burung pada unggas dan manusia. Pada lokakarya tindak lanjut, terungkap juga bahwa masih diperlukan upaya lanjutan dan sosialisasi yang terus menerus, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Keberhasilan yang sebenarnya baru akan kita ketahui dalam waktu yang lama, yaitu jika terjadi perubahan prilaku yang aman flu burung, Desa tetap aman flu burung, atau jika terjadi kasus, masyarakat dapat mengantisipasi dengan segera sehingga tidak meluas dan tidak menular ’lagi’ ke orang.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;">Sekalipun telah dilakukan secara intensif, kita sadari, bahwa program ini merupakan awal partisipasi aktif masyarakat. Usaha-usaha lanjutan masih tetap diperlukan menjadikan desa-desa itu benar-benar tanggap flu burung.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0.2in;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><a href="http://www.vet-indo.com/Dibya">Dibya Presasta</a> - Yayasan CREATE Bali </span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita tentang Burung-burung dan Monyet-monyet yang Menggigil]]></title>
<link>http://cicykasih.wordpress.com/?p=103</link>
<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 08:30:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>cicykasih</dc:creator>
<guid>http://cicykasih.wordpress.com/?p=103</guid>
<description><![CDATA[Di tepi sungai Godavari, berdiri sebuah pohon yang besar.
Beberapa ekor burung telah mendirikan sebu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;">Di tepi sungai Godavari, berdiri sebuah pohon yang besar.</p>
<p>Beberapa ekor burung telah mendirikan sebuah sarang di lubang pohon ini dan tinggal di sana dengan bahagia.</p>
<p>Pada suatu hari ketika musim hujan, ketika langit berawan tebal, turun hujan dengan keras.</p>
<p>Beberapa ekor monyet yang berada di sekitarnya menjadi basah kuyup dan lari mencari perlindungan di bawah sebuah pohon.</span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;">Mereka menggigil dan merasa sengsara karena kedinginan.</p>
<p>Pada waktu burung-burung melihat ini, mereka merasa sedih terhadap monyet-monyet itu.</p>
<p>Untuk memberi semangat kepada mereka dan untuk membuat mereka merasa lebih baik, burung-burung berkata, "Dengar monyet-monyet! Kami membuat sarang-sarang kami dengan ranting-ranting dan potongan-potongan rumput yang kami ambil dengan paruh kami.</p>
<p>Kalian mempunyai tangan dan kaki, jadi kenapa kamu harus duduk dengan sedih di luar dibawah hujan? Kenapa kalian tidak membuat satu tempat berteduh yang bagus?'</p>
<p>Pada waktu monyet-monyet mendengar ini, mereka merasa sangat marah dan berkata serentak, "Burung-burung ini tidak takut hujan atau angin yang keras. Sambil hidup dengan tenang, mereka mengira bahwa mereka bisa mengkritik kita. </span><a href="http://cicykasih.files.wordpress.com/2008/07/15.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-104" src="http://cicykasih.wordpress.com/files/2008/07/15.jpg?w=67" alt="" width="67" height="96" /></a><br />
<span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;"><br />
Tunggu saja! Kalau hujan, berhenti, kita akan menghukum mereka!".</p>
<p>Tidak lama kemudian, hujan berhenti dan monyet-monyet memanjat pohon itu. Mereka memecahkan telur burung-burung itu dan menghacurkan sarang mereka.</p>
<p>Burung-burung yang malang itu menyesali atas perkataan mereka dan merasa bahwa mereka seharusnya tidak memberi nasihat kalau tidak diminta.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;"><br />
</span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;">oleh<span> </span>G.L. Chandiramani</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gendhel Wurung]]></title>
<link>http://tancepkayon.wordpress.com/?p=57</link>
<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 16:18:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nayantaka</dc:creator>
<guid>http://tancepkayon.wordpress.com/?p=57</guid>
<description><![CDATA[Catatan: Cerita ini kelanjutan dari sini.
Malam semakin larut. Embun mulai turun menyetubuhi bumi. P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan: Cerita ini kelanjutan dari <a href="http://tancepkayon.wordpress.com/2008/06/19/gendhel/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p>Malam semakin larut. Embun mulai turun menyetubuhi bumi. Para tonggo sekapat yang tadi berkerumun di sekeliling rumah sudah mulai beranjak pulang. Tinggal menyisakan beberapa mbok-mbok yang masih ngobrol di dapur, dan sekitar tiga atau empat orang di patehan. Para <em>baju barat</em> yang tadi petang mendampingi aku menghadapi sang bong, sudah mulai terkapar dan terlelap di atas tikar pandan yang digelar di pendopo rumah. Perut mereka yang kenyang oleh gule <em>menthok</em> dan lemper semakin membuat tidur mereka <em>kepati</em>, seperti <em>doso buto mati</em>, peminum arak yang <em>nglempus</em> sehabis menenggak sepuluh sloki. Aku masih klisikan di kamar. Rasa panas dan perih mulai terasa seiring dengan semakin menurunnya pengaruh dry ice pada adik mungilku. Namun, rasa lega dan capai mengalahkan rasa sakit, dan menuntunku menuju alam mimpi. Dan malampun berlalu tanpa ada suatu kejadian yang berarti.</p>
<p>Ayam jantan telah berkokok bersahut-sahutan. Subuh telah tiba. Bedug masjid telah bertalu dihajar tanpa ampun sekuat-kuatnya oleh Lik Daman. Menyeru seluruh warga untuk bangkit dari peraduannya. Terdengar ribut-ribut dari pendopo. Ternyata Kotong yang misuh-misuh tak karuan. Sekali lagi, polah usil Trimin membawa korban. Dia memasukkan pisang raja yang sudah mulai <em>dalu </em>ke dalam celana Kotong sehingga waktu bangun, dubur dan celana Kotong penuh dengan pasta kuning laksana tinja. Trimin cs tertawa cekakakan sambil berlarian menuju ke kali.</p>
<p>Bukan karena suara mereka, atau suara simbok-simbok yang mulai gaduh di dapur, sehingga aku bangun. Seakan-akan ada sesuatu yang membangunkan aku dari dalam tubuhku. Baru aku sadar, di bawah perutku ada sesuatu yang tak nyaman. Ternyata semalam aku menahan pipis, dan kali ini pundi-pundiku telah penuh dan minta dikeluarkan. Aku berjalan<em> edang-edong</em> sambil mengangkat sarungku menuju ke <em>pakiwan</em> di dekat dapur. memasuki pintu dapur, Mbok paijem berteriak:</p>
<blockquote><p>"Eeeee... le, <em>ojo liwat kene</em>! Nanti nglangkahi <em>brambang</em> cilaka kowe!"</p></blockquote>
<p><em>Mak jegagik</em>! <em>Gandrik putune Ki Ageng Selo</em>! Aku baru teringat petuah Pakde Nardi yang melarangku masuk dapur kalau tidak ingin gendhelen. Hiii, siapa yang mau diujung empritnya ada <em>kewar-kewer</em> berair!!! Aku langsung balik kanan, setengah berlari menuju ke pintu samping. Tak mungkin <em>nutut </em>kalau harus memutar ke <em>jedhing</em>. Akhirnya rumpun pisang kepok di samping rumah jadi sasaran melampiaskan hasrat. Srooooot.... Gandrik!!! Sesuatu yang belum pernah kualami terjadi. Air seniku memancar jauh, melewati rumpun pisang, kira-kira dua depa di depanku. Mungkin ini efek pertama setelah topi sang kecil dikelupas. Aku belum berani menceboki kukilaku, sedikit usapan batu hitam aku kira cukup untuk mensucikan si <em>kukila</em>. Dengan edang-edong, aku menuju padasan, ambil wudhu, kemudian kembali ke kamar. Selepas shalat subuh, aku kembali bersembunyi di balik ssarungku sampai akhirnya ibuku membangunkanku.</p>
<blockquote><p>"Le, itu lho sarapanmu sudah siap"</p></blockquote>
<p>Dengan <em>aras-arasen</em> aku membuka mata, menggeliat dan beranjak dari tempat tidur. Aku menatap ke atas meja. <em>Trembelane</em>! Jangankan sisa gule menthok semalam, telur dadar pun tak ada. Hanya nasi putih dan dua potong tempe bakar. Serta segelas air teh bening yang masih mengepulkan uap. Aku memandang ibu dengan tatapan protes.</p>
<blockquote><p>"Ya kalau habis <em>tetak</em>, ya cuma boleh makan itu, biar lukanya cepet kering, dan tak gendhelen"</p></blockquote>
<p>Ya Allah, gendhel lagi! Gendhel bagaikan hantu yang gentayangan memenuhi kepalaku. Gendhel keparat. Begitu banyak larangan hanya karena gendhel, makhluk gelambir berair yang methongkrong di ujung kukila. Namun ancaman gendhel itu masih sangat manjur bagi seorang anak kecil sepertiku. Maka dengan bersungut-sungut, terpaksa aku lahap sepiring nasi putih, dengan tempe bakar yang ternyata tak diberi bumbu apa-apa.</p>
<p>Hari berganti hari. Sudah dua kali bong datang ke rumah mengganti perban. Hampir setiap pagi aku memiliki rutinitas baru. Bersama para "korban" lainnya, Dabul, Ngali dan Lopek, kami jongkok berbaris di sepanjang tepian sungai Progo. Begitu sinar matahari muncul, maka ritual menjemur kukilo pun kami lakukan. Kata orang-orang tua sih akan mempercepat luka kering dan mempercepat proses penyembuhan. Sekaligus mencegah gendhel! Kami manut-manut saja. Biasanya kami mencari <em>watu item</em> yang licin dan mengkilap, kemudian menjemurnya. Setelah itu dipakai untuk alas berjemur sang kukilo. Anget atas bawah!</p>
<p>Seminggu berlalu. Luka telah kering. Alhamdulillah, hal yang paling kutakutkan tak pernah terjadi. Kehinaan itu terelakkan. Tak ada indikasi gendhel keparat hinggap di paruh kukiloku. Aku tak tahu apakah ini buah kepatuhanku untuk tidak sembarangan bludhas-bludhus ke dapur, untuk pasrah dipakani tempe bakar tiap hari, atau memang kebetulan saja. Karena tiga temanku, hampir semua dihinggapi oleh gendhel laknat itu. Bahkan Ngali, sampai liburan sekolah hampir habis, masih juga ada sisa-sisa gendhel diujung kelaminnya. Tapi yang pasti, semua lulus. Tak satupun yang terpaksa mengulang prosesi pagas dari awal. Dan saat kembali masuk sekolah, kami berangkat dengan semangat baru. Semangat seorang laki-laki sejati. <a href="http://wiki.cahandong.org/Lelananging_Jagad" target="_blank">Lelananging jagad</a>.</p>
<p><em><strong>Kosa kata:</strong></em></p>
<p>baju barat = wadyabala, dalam pewayangan biasa dipakai untuk gerombolan anak buah bethari durga<br />
menthok = unggas sebangsa bebek berbulu putih<br />
kepati, nglempus = lelap<br />
doso buto mati = metafora dalam terminologi jawa bagi seorang peminum yang habis sepuluh sloki, dia akan terkapar laksana raksasa mati<br />
dalu = buah yang sudah lewat mateng, menjelang busuk<br />
edang-edong = megal-megol<br />
pakiwan = kamar kecil<br />
ojo liwat kene = jangan lewat sini<br />
brambang = bawang merah<br />
jedhing = kamar mandi<br />
kukila = burung<br />
aras-arasen = malas-malasan<br />
watu item = batu hitam</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tangan, belalai, dan memindahkan kebaikan]]></title>
<link>http://noonathome.wordpress.com/?p=319</link>
<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 05:11:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>noonathome</dc:creator>
<guid>http://noonathome.wordpress.com/?p=319</guid>
<description><![CDATA[Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, lebih baik memberi daripada menerima.  Begitu kata o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, lebih baik memberi daripada menerima.  Begitu kata orang-orang tua kita.  Dengan kata lain, memberi adalah memindahkan suatu kebaikan.  Fungsi tangan dalam memindahkan sesuatu,  pada hewan, tidak serta merta dilakukan oleh tangan mereka.  Seperti pada kelelawar, burung, dan kupu-kupu, fungsi tangan kita tak bisa dianalogikan dengan sayapnya.</p>
<p>Iyalah, semua orang juga tahu kalau sayap burung atau sayap kupu-kupu digunakan untuk terbang, sementara kita, manusia tidak dapat terbang (kecuali numpang di dalam pesawat terbang).  Di manakah letak fungsi 'memindahkan' pada burung atau kupu-kupu?</p>
[wp_caption id="attachment_323" align="alignnone" width="300" caption="Kupu-kupu Euploea camaralzeman dan belalainya"]<a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/07/proboscis_p10002281.jpg"><img class="size-medium wp-image-323" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/07/proboscis_p10002281.jpg?w=300" alt="Kupu-kupu Euploea camaralzeman dan belalainya" width="300" height="222" /></a>[/wp_caption]
<p><!--more-->Sekilas kita perhatikan bahwa banyak tanaman hanyalah sumber makanan enak bagi para herbivore, mulai dari ulat-ulat yang mengunyah dedaunan secara perlahan hingga kambing yang rasa-rasanya mau makan daun apa saja.  Tetapi banyak tanaman juga tak bisa jauh-jauh dari hewan seperti serangga, burung, dan kelelawar dalam menjalankan proses penyerbukannya.  Kesengajaan para penerbang ini dalam mencari nektar, secara tidak sengaja membuat serbuk-serbuk sari menempel dan membawanya pindah ke bunga yang lain.  Kadang tidak perlu jauh-jauh, kehadiran para penerbang mengoyak suatu bunga sudah cukup untuk membantu melekatkan serbuk sari ke tujuannya.  Proses memindahkan serbuk-serbuk sari (pollen) dari satu bunga ke kepala putik (stigma) bunga yang sama atau berbeda inilah yang disebut penyerbukan atau polinasi.</p>
<p>Betul, jangan sepelekan mereka.  Tiga jenis penerbang ini banyak sekali menjalankan fungsi-fungsi ekologis pada lingkungan, salah satunya penyerbukan (<a href="http://www.mbgnet.net/bioplants/pollination.html">polinasi</a>) pada bunga-bunga yang bersifat entomophily (hanya dapat diserbuki oleh serangga) atau zoophily (hanya dapat diserbuki hewan vertebrata seperti burung dan kelelawar).  Coba lihat foto mahluk bersayap sisik alias si kupu-kupu di atas.  Pada situasi tak terpakai, belalai kupu-kupu akan menggulung dan hanya dijulurkan jika sedang mencari manis-manisnya madu. Ini adalah potongan gambaran belalai kupu-kupu <em>Euploea camarelzeman</em> yang sedang berlama-lama pada bunga tumbuhan air <em>Sagittarius</em> spp. yang saya temui di Kebun Raya Bogor minggu lalu.  Belalai yang dijulur ke sana ke mari di antara benang-benang sari pada bunga menyebabkan serbuk-serbuk sari menempel pada belalai dan kaki-kakinya.  Pada saat si kupu-kupu Euploea berpindah ke bunga lainnya, maka serbuk sari turut pula berpindah.  Tidak seefisien lebah memang.</p>
<p>Pada kelelawar pemakan buah juga begitu.  Beberapa teman saya pernah pula menangkap kelelawar jenis ini untuk mengambil serbuk sari yang menempel pada moncongnya.  <em>Eonyteris spelaea</em>, kelelawar yang tinggal di gua-gua di Way Canguk, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan tertangkap basah di sekitar tempat tinggalnya membawa serbuk sari beberapa jenis bakau (Sonneratia spp) yang banyak di rawa mangrove, yang dihitung secara kasar berada sekitar 5 km dari gua-gua itu.  Jarak yang cukup jauh ya untuk mencari nectar.  Kelelawar jenis ini bersama dengan kelelawar lain seperti <em>Cynopterus</em> spp. juga dikenal menyerbuki bunga-bunga durian.</p>
[wp_caption id="attachment_324" align="alignnone" width="224" caption="Seekor kelelawar Cynopterus"]<a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/07/cynopterus_p80700281.jpg"><img class="size-medium wp-image-324" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/07/cynopterus_p80700281.jpg?w=224" alt="Seekor kelelawar Cynopterus" width="224" height="300" /></a>[/wp_caption]
<p class="MsoNormal">Penerbang yang paling terkenal, bangsa burung, juga menjalankan fungsi ‘memindahkan’ serbuk sari ini.<span> </span>Fungsi ini di antaranya dilakukan oleh burung-burung jenis sesap madu atau sunbird (Nectarinidae), cabean atau flowerpecker (Dicaeidae), dan burung kacamata atau white-eye (Zosteropidae).<span> </span>Cabean bahkan dikenal menyerbuki bunga tumbuhan benalu yang biasa ada di pohon-pohon jambu dan memakan buahnya.<span> </span>Jadi, cabean pun ikut ‘memindahkan’ biji-biji benalu ini ke pepohonan lain.</p>
[wp_caption id="attachment_325" align="alignnone" width="300" caption="Cabe Jawa (Dicaeum trochileum) di balik dedaunan benalu"]<a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/07/cabe_jawa_p10003631.jpg"><img class="size-medium wp-image-325" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/07/cabe_jawa_p10003631.jpg?w=300" alt="Cabe Jawa (Dicaeum trochileum) di balik dedaunan benalu" width="300" height="216" /></a>[/wp_caption]
<p class="MsoNormal">Serbuk sari dapat berpindah melalui apa saja, bahkan angin pun dapat turut membawanya.<span> </span>Jadi, rasa-rasanya gak terlalu susah lah memindahkan kebaikan. Bahkan kadang telinga yang ‘mendengar’ pun cukup membawa kesegaran.<span> </span>Wah, kalau ini jadinya dari tangan pindah ke telinga… :P</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burung Gelatik Jawa Hampir Punah]]></title>
<link>http://asuna17.wordpress.com/?p=73</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 09:11:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>asuna17</dc:creator>
<guid>http://asuna17.wordpress.com/?p=73</guid>
<description><![CDATA[


Burung ini, sebenarnya bukanlah burung asli Sulawesi. Kemungkinan mereka diintroduksi (dibawa mas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="post-body">
<div><img class="alignleft" style="border:0 none;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/148/3091/320/Gelatik%231.jpg" border="0" alt="" width="196" height="320" /></div>
</div>
<p>Burung ini, sebenarnya bukanlah burung asli Sulawesi. Kemungkinan mereka diintroduksi (dibawa masuk) di Sulawesi dan juga di NTB.<br />
Gelatik jawa <em>Padda oryzivora</em>, merupakan salah satu jenis burung yang endemik di Jawa Meskipun demikian, namun jenis ini banyak ditemui secara luas dari Asia tenggara hingga Australia karena diintroduksi. Jenis yang memiliki suara seperti jenis Gelatik batu kelabu <em>Parus major</em> yaitu tik.tik..namun lebih tajam, hingga kini sudah sangat jarang ditemui di habitat aslinya. Namun kalau di pasar-pasar burung, pasti banyak terlihat untuk dijual.</p>
<p>Gelatik jawa telah dimasukkan ke daftar CITES Appendix II pada tahun 1997 dan Perlindungan Indonesia No.7 tahun 1999. Berdasarkan Threatened Birds of Asia (Birdlife, 2001), Gelatik jawa Padda oryzivora terlihat di habitat alaminya terakhir pada tahun 1999 di Jawa tengah (Depok termasuk Babarsari, Nologaten dan Catur Tunggal), Candi Kalasan dan Candi Sari, Paliyan di desa kanogoro, Tepus di desa Purwodadi, Jogjakarta. Namun bberapa tahun terakhir ini tahun 2005 oleh pengamat burung ”Anak Burung dan Peksia-Unair”, kembali melihat jenis ini di Surabaya, tepatnya di Ujung Pangkah, Gresik dan Solokuro, Lamongan dan tahun 2006 oleh Yayasan Kutilang Indonesia dan Bionic-UNJ di Candi Prambanan.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Jenis ini masih begitu banyak terlihat di daerah Jawa Tengah, berbeda dengan daerah Jawa Barat, jenis ini justru terakhir kali terlihat di Tanjung, Banyuresmi,Gunung Guntur pada tahun 1998 dan 1999. Tidak adanya jenis ini di daerah Jawa Barat lebih di akibatkan karena habitat alami dari jenis ini hilang dan perburuan untuk dijual ke pasar-pasar burung.</p>
<p>Berdasarkan data terbaru dari Red Data Book (www.rdb.or.id) jenis ini terakir terlihat pada tanggal 29 April 2005 oleh Iwan Londo dan Uut dari Anak Burung, Surabaya, yang melihat sekitar 4 individu di Dusun Ngulaan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur.</p>
<p><span class="fullpost"></p>
<p></span></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://photos1.blogger.com/blogger/148/3091/1600/Gelatik.jpg"><img style="border:0 none;cursor:pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/148/3091/320/Gelatik.jpg" border="0" alt="" width="320" height="215" /></a></div>
<div style="text-align:center;"></div>
<div style="text-align:center;"><img src="http://static.flickr.com/65/218903290_f0038ea7a3.jpg?v=0" alt="Iwan Londo" width="350" height="317" /></div>
<div style="text-align:center;"></div>
<div style="text-align:center;"><img src="http://pratapapa81.files.wordpress.com/2008/04/bondol-jawa.jpg" alt="http://pratapapa81.files.wordpress.com/2008/04/bondol-jawa.jpg" width="591" height="443" /></div>
<p>Semoga burung gelatik jawa tetap lestari!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burung, Cacing dan Manusia]]></title>
<link>http://dwiheriyanto.wordpress.com/?p=218</link>
<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 03:17:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>herr</dc:creator>
<guid>http://dwiheriyanto.wordpress.com/?p=218</guid>
<description><![CDATA[Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan. Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”. Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--moreBaca selanjutnya-->Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rizki. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing?<br />
Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi?<br />
Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.<br />
Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: salafi-jogja@googlegroups.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[‘Butterfly walking’ di sebuah pulau kehidupan di tengah lautan hunian]]></title>
<link>http://noonathome.wordpress.com/?p=312</link>
<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 15:36:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>noonathome</dc:creator>
<guid>http://noonathome.wordpress.com/?p=312</guid>
<description><![CDATA[Kebun Raya Bogor yang saya ingat adalah pohon kenari dengan akar banirnya yang besar-besar di dekat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/07/krb_dsc02197.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-313 alignleft" style="margin-top:1px;margin-bottom:1px;" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/07/krb_dsc02197.jpg?w=71" alt="" width="71" height="96" /></a>Kebun Raya Bogor yang saya ingat adalah pohon kenari dengan akar banirnya yang besar-besar di dekat gerbang utama.  Dan ternyata masih tetap begitu. Namun kedatangan saya kali ini tak hendak mengamati orang-orang yang duduk di atas banir atau mengamati burung-burung koak malam di pulau kecil di tengah danaunya.  Kali ini saya 'mengejar kupu-kupu'.<!--more--></p>
<p>Gara-gara <a href="http://noonathome.wordpress.com/2008/06/27/mengejar-kupu-kupu/">postingan</a> saya sebelumnya, saya jadi berpikir untuk cari tempat sesuai untuk melaksanakan 'butterlfy walking' dengan lebih serius dan menambah koleksi foto kupu-kupu.  'Jalan-jalan kupu-kupu', kenapa tidak?  Peralatan kurang lebih sama dengan pengamatan burung, teropong, dengan tambahan jaring kupu-kupu.  Persyaratan juga kurang lebih sama, warna baju yang tidak mencolok dan tidak banyak berulah.  Sedikit bedanya, penganut pengamatan kupu-kupu boleh bangun sedikit lebih siang dibanding para penganut burung dan mau berpanas-panas ria sebab pengamatan kupu-kupu dianjurkan antara pukul 9:00 – 15:00, pada saat matahari sedang teriknya.</p>
<p>Kebun Raya Bogor (KRB) memang selama ini acap menjadi tempat latihan pengamatan burung.  Langkah awal, misalnya, cukup berdiri di tepi danau dan mengamati burung-burung koak malam (<em>Nycticorax nyticorax</em>) di pulau kecilnya.  Baru kemudian mulai mencari si burung kepodang atau kutilang.  Di saat Kebun Raya ini makin terisolasi dari hutan terdekat, KRB juga menjadi tempat belajar efek fragmentasi, metapopulasi, dan teori biogeografi pulau.  Memang, saat ini KRB tak ubahnya seperti pulau di tengah lautan hunian manusia.  Beberapa riset telah mendalami, bagaimana KRB berfungsi sebagai 'refugia' tetapi sekaligus mengalami kepunahan lokal.  Ada jenis-jenis burung yang tak dapat bertahan dan menghilang dari 'pulau' ini.</p>
<p>Bagaimana dengan kupu-kupu? Entahlah.  Saya masih bertemu dengan beberapa teman lama seperti si <em>Papilio memnon</em>, si mungil <em>Leptosia nina</em> atau <em>Ypthima baldus</em> yang menyambangi bunga-bunga rumput.  Namun, jalan-jalan santai saya hanya dengan bekal kamera menangkap ada jenis-jenis yang berbeda dengan kupu-kupu yang bertandang ke halaman rumah.  Coba cek <em>Junonia orithya</em> (Blue pansy) yang cantik ini.  Bersama dengan <em>Junonia erigone</em> (Nothern argus), keduanya jinak-jinak merpati.  Di tengah sinar mentari yang terik, keduanyanya suka berjemur di bebatuan jalan setapak yang bila didekati akan terbang tapi tak pernah jauh.  Sementara <em>Junonia erigone</em> bermain-main di sepatu saya tapi tak berkehendak pula untuk didekati dengan kamera, <em>Junonia orithya</em> kelihatan lebih suka menutup sayapnya di terik matahari. Kedua sayapnya akan membuka pada saat sinar mataharinya saya halangi.</p>
<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/07/junonia_orithya_dsc02195.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-314" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/07/junonia_orithya_dsc02195.jpg?w=300" alt="Blue pansy" width="253" height="189" /></a></p>
<p>Kelompok <em>Junonia</em> adalah penghuni tepi hutan, daerah-daerah terbuka, termasuk sekitar hunian manusia.  Tetapi mengapa kedua jenis di atas tidak pernah mampir di halaman rumah saya?  Konon kabarnya, KRB adalah hutan buatan yang telah ada jaman Prabu Siliwangi (1474-1513) dulu.  Yang kemudian dimantapkan statusnya menjadi Kebun Raya Buitenzorg oleh Prof. Dr. C. G. L. Reindwardt tahun 1817 dan tetap dipreservasi dalam bentuk Kebun Raya Bogor sekarang ini.  Jadi, kalau dari umur sudah lebih dari 180 tahun.  Koleksinya mencapai 15.000 tanaman hasil pencariannya ahli botani masa lalu hingga sekarang ini dan barangkali beberapa teman saya telah pula berkontribusi.</p>
<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/07/junonia_erigone_dsc02203.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-315" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/07/junonia_erigone_dsc02203.jpg?w=300" alt="Northern argus" width="256" height="192" /></a></p>
<p>Mari kembali ke halaman rumah saya di Depok yang umur pepohonannya baru sekitar 15 tahunan paling lama.  Barangkali di tahun 1500-an dulu juga hutan.  Tetapi tentu saja alih fungsi Depok menjadi pemukiman juga telah lama berlangsung sejak jaman Belanda dulu.  Sejak <a href="http://kampung-pinggiran.blogspot.com/2005_08_01_archive.html">Cornelius Chastelein</a> (seorang pemuka VOC) membeli kawasan ini di tahun 1696 dan menjadikannya perkebunan, Depok berkembang menjadi karesidenan tersendiri. Bahkan, konon sebelum itupun telah ada dusun terpencil.  Para penghuni asli yang tentunya orang Betawi membuat Depok cukup banyak ditanami jenis-jenis pohon berbuah yang saat ini preservasinya pastinya diserahkan ke masing-masing penghuninya.  Meskipun masih tertinggal berbagai pepohonan buah di sekitar pemukiman asli, dibanding KRB, Depok terlalu jauh jaraknya dari Gunung Gede-Pangrango, sumber kekayaan jenis satwa tertinggi terdekat bagi Bogor dan sekitarnya.  Ini artinya Depok tak bisa berharap mendapat limpahan jenis kupu-kupu dari Gunung Gede-Pangrango, bahkan dari KRB sekalipun.</p>
<p>'Jalan-jalan kupu-kupu' saya selama 4,5 jam berbuah 18 jenis kupu-kupu.  Suatu jumlah yang tertatih-tatih dicapai dari halaman rumah saya.   Beberapa faktor tentunya berpengaruh: 1.  Jarak dari sumber satwa, 2.  Lamanya terisolasi, 3.  Kondisi habitat.  Pada komunitas burung, KRB sendiri mengalami kepunahan lokal untuk jenis-jenis yang terkait dengan pepohonan.  Ini di antaranya disebabkan karena kurangnya habitat sejenis di sekitar KRB.  KRB yang luasnya 87 ha, ternyata tak cukup melindungi jenis burung-burung tadi dan tetap masih perlu didukung dengan koridor dan 'pulau-pulau' habitat kecil di sekitarnya.</p>
<p>Bagaimana dengan kupu-kupu? Kemampuan kupu-kupu menyambangi 'pulau-pulau' tadi barangkali tidak sekuat burung meski kupu-kupu biasa bermain di jalur bawah dan terkait variasi tanaman yang jauh lebih besar.  Pada saat pepohonan nyaris tak ada, kupu-kupu masih dapat memanfaatkan tumbuhan berbunga lainnya seperti yang saya lihat di sekitar lingkungan rumah.  Sayangnya tidak sesederhana ini.  Jika variasi jenis dengan KRB saja sudah berbeda, faktor-faktor tadi pasti berperan juga.  Terlalu dini untuk menyimpulkan apa yang terjadi pada komunitas kupu-kupu.  Untuk saat ini, setidaknya saya cukup puas mengagumi hasil 'jalan-jalan kupu-kupu' saya……… ;)</p>
<p>Mau ikutan?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BURUNGG!!!!!]]></title>
<link>http://alfaridzy.wordpress.com/?p=145</link>
<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 05:02:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>alfaridzy</dc:creator>
<guid>http://alfaridzy.wordpress.com/?p=145</guid>
<description><![CDATA[Ada seorang lelaki tua yang hobbynya memelihara banyak burung. Pada suatu pagi, semua burung kesayan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang lelaki tua yang hobbynya memelihara banyak burung. Pada suatu pagi, semua burung kesayangannya telah hilang. Merasa si pencuri sudah keterlaluan, lelaki tua itu pun membawa masalah ini di pertemuan mingguan di kampungnya.</p>
<p>Lelaki tua : "Siapa disini yang punya burung?"</p>
<p>Seluruh penduduk laki-laki segera berdiri.</p>
<p>Menyadari kesalahannya dalam bertanya, lelaki itu menambah:<br />
"Bukan itu maksud saya, maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung?"</p>
<p>Maka seluruh penduduk wanita berdiri. Karena menyadari pertanyaannya masih tidak betul, maka dengan muka merah padam dia menyambung,<br />
"Maaf, bukan itu maksud saya"</p>
<p>Sekali lagi dia coba bertanya,<br />
"Maksud saya adalah siapa yang pernah lihat burung yang bukan miliknya"</p>
<p>Separuh penduduk wanita berdiri.</p>
<p>Muka lelaki itu makin merah, dan juga makin gugup, segera berkata lagi,</p>
<p>"Maaf sekali lagi, bukan ke arah itu pertanyaan saya, maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung saya?"</p>
<p>Lalu... Isteri lelaki itu pun pun berdiri... dan seorang wanita yang lain... maka kali ini merah padam pula muka si isteri ..!</p>
<p>Lelaki itu pun cabut lari. Menyesal bertanyaa....</p>
<p>buruuunggg!!!!!!!!<a href="http://s231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/?action=view&#38;current=173948.gif" target="_blank"><img src="http://i231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/173948.gif" border="0" alt="Photobucket" /></a><a href="http://s231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/?action=view&#38;current=173948.gif" target="_blank"><img src="http://i231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/173948.gif" border="0" alt="Photobucket" /></a><a href="http://s231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/?action=view&#38;current=173948.gif" target="_blank"><img src="http://i231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/173948.gif" border="0" alt="Photobucket" /></a><a href="http://s231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/?action=view&#38;current=173948.gif" target="_blank"><img src="http://i231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/173948.gif" border="0" alt="Photobucket" /></a><a href="http://s231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/?action=view&#38;current=173948.gif" target="_blank"><img src="http://i231.photobucket.com/albums/ee137/alfaridzy/173948.gif" border="0" alt="Photobucket" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cara Kabur Hewan]]></title>
<link>http://okikuswanda.wordpress.com/?p=111</link>
<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 09:39:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>okikuswanda</dc:creator>
<guid>http://okikuswanda.wordpress.com/?p=111</guid>
<description><![CDATA[


]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://okikuswanda.files.wordpress.com/2008/06/enpabird_resize.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-112" src="http://okikuswanda.wordpress.com/files/2008/06/enpabird_resize.jpg" alt="" width="531" height="376" /></a></p>
<p><a href="http://okikuswanda.files.wordpress.com/2008/06/enpafish_resize.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-113" src="http://okikuswanda.wordpress.com/files/2008/06/enpafish_resize.jpg" alt="" width="531" height="376" /></a></p>
<p><a href="http://okikuswanda.files.wordpress.com/2008/06/enpamouse_resize.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-114" src="http://okikuswanda.wordpress.com/files/2008/06/enpamouse_resize.jpg" alt="" width="531" height="376" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Madsahi, Setia di Pulau Burung]]></title>
<link>http://qizinklaziva.wordpress.com/?p=310</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 09:31:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>qizinklaziva</dc:creator>
<guid>http://qizinklaziva.wordpress.com/?p=310</guid>
<description><![CDATA[
Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2008, mata Madsahi berkaca-kaca saat hendak mengungka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"></p>
<p align="justify">Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2008, mata Madsahi berkaca-kaca saat hendak mengungkapkan suka dukanya selama puluhan tahun bersetia menjaga Kawasan Cagar Alam Pulau Burung (pemerintah menyebutnya Pulau Dua), di Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Kamis (12/6). Lidahnya serasa kelu, hingga kalimat yang keluar dari mulutnya nyaris kalah oleh suara kicau burung di kawasan tersebut.</p>
<p align="justify">Para pejabat Pemkot Serang, termasuk di dalamnya Penjabat Walikota Serang terpaku memandangi pria bertubuh mungil tersebut. Samar-samar, dari mulut Madsahi meluncur kepercayaan dirinya mengabdi menjadi penjaga Pulau Burung. "Saya bangga karena saya ikut menjaga lingkungan," ujarnya.</p>
<p align="justify">Pada awal tahun 70-an, pria berkulit hitam legam tersebut berkenalan dengan kawasan cagar alam ini. Sejak 1979, pria asal Pandeglang ini resmi menjadi relawan penjaga Pulau Burung. Ia setia menjaga kelestarian alam ini. Bahkan sesekali, ia harus berjibaku dengan orang-orang tak bertanggungjawab yang hendak mencuri telur atau anakan burung di kawasan ini.</p>
<p align="justify">Pada 1981, ia baru diterima menjadi pegawai harian dengan penghasilan yang pas-pasan. Namun pendapatan ekonomi itu, tak menyurutkan dirinya untuk terus bergelut untuk menjaga kawasan seluas 30 hektar ini. Ia tetap bersedia, mengusir para pengganggu burung-burung sambil menanami mangrove di pinggir pantai pulau yang kini sudah bersatu dengan garis Pulau Jawa ini.</p>
<p align="justify">Kegigihan Madsahi menjaga Pulau Burung mendapat perhatian. Pemerintah pusat menganugerahi dirinya Kalpataru atas kesetiannya menjaga lingkungan pada 1983. Penghargaan tersebut menghantarkan dirinya menjadi pegawai negeri.</p>
<p align="justify">Hingga kini, Madsahi tetap bersetia rela tubuhnya digigiti nyamuk-nyamuk Pulau Burung. Setiap pagi, dengan sepeda tuanya menyusuri petak-petak tambak untuk menuju Pulau Burung. (qizink)</p>
<p align="justify"> </p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BuRunG OnTa di JaLaN RaYa...]]></title>
<link>http://gambarindu.wordpress.com/?p=350</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 10:45:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>gambarindu</dc:creator>
<guid>http://gambarindu.wordpress.com/?p=350</guid>
<description><![CDATA[Polisinya kerepotan dengan burung onta di jalan raya&#8230;
Awas dipatuk Pak&#8230;

]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Polisinya kerepotan dengan burung onta di jalan raya...</p>
<p>Awas dipatuk Pak...</p>
<p><a href="http://gambarindu.wordpress.com/files/2008/06/121.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-349" src="http://gambarindu.wordpress.com/files/2008/06/121.jpg" alt="" width="479" height="293" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kompleksitas suatu komunitas]]></title>
<link>http://noonathome.wordpress.com/?p=287</link>
<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 01:19:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>noonathome</dc:creator>
<guid>http://noonathome.wordpress.com/?p=287</guid>
<description><![CDATA[Sebuah keluarga yang selama ini stabil ternyata mengalami gonjang-ganjing.  Berkurangnya seorang ang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/06/family.jpg"><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-288" style="float:left;" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/06/family.jpg?w=300" alt="" width="174" height="110" /></a>Sebuah keluarga yang selama ini stabil ternyata mengalami gonjang-ganjing.  Berkurangnya seorang anggota keluarga, tak bisa dipungkiri cukup menjungkir balikkan suatu tatanan hierarki yang telah ada berikut dengan kegalauan pikiran dan perasaan.  Semua yang tertinggal berusaha menyesuaikan dan menempatkan diri pada posisi baru dengan tanggung jawab baru.  Bukan proses yang mudah….  Jika semua ini bisa terjadi pada suatu keluarga, maka bayangkan pergolakan yang terjadi pada suatu komunitas.<!--more--></p>
<p>Jadi, jika saya lama tak menampakkan diri di sini untuk sementara waktu, ini pun akibat proses jungkir balik tadi ditambah dengan kepusingan saya menghadapi ilmu ekologi komunitas untuk thesis saya.  Dua hal yang berbeda tetapi nyatanya berlatar belakang sama: adanya gangguan yang menyebabkan bergolaknya suatu sistem. Ilmu 'multi-spesies' ini ternyata gampang-gampang susah, dan susah-susah njelimet (yang jelas lebih kompleks dari suatu sistem keluarga).  Intinya memang menyangkut kekayaan spesies (species richness) dan keragaman (diversity).  Tetapi pada kenyataannya tidak sesederhana ini.</p>
<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/06/birds_sul.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-289" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/06/birds_sul.jpg?w=300" alt="" width="271" height="204" /></a></p>
<p>Ilmu satu ini ternyata tak mandeg di seputaran kekayaan dan keragaman saja.  Komunitas yang tersusun dari spesies berbeda dengan perannya masing-masing bersifat sangat dinamis.  Seperti kepusingan saya menyimpulkan apa yang terjadi pada komunitas burung 10 tahun pasca kebakaran hutan di Sumatra di satu pihak dan menyimpulkan perubahan yang terjadi pada komunitas burung di Buton pada skala waktu yang lebih singkat, 3 tahun, akibat gangguan dengan peringkat yang jauh lebih kecil.  Berbagai komponen dalam ekosistem turut berperan merubah tatanan struktur suatu komunitas.  Gangguan tak hanya menyebabkan populasi dari sebagian jenis bereaksi, tetapi bahkan mengganggu keseluruhan struktur.  Jadi, bicara indeks keragaman dan kekayaan jenis tak ada artinya tanpa membedah lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>Benarkah hanya burung-burung insektivora penghuni lantai hutan yang terpengaruh oleh gangguan?  Benarkah burung-burung frugivora menunggu sambil melihat keadaan, menunggu kesempatan yang lebih baik?  Di jaman sekarang yang tingkat gangguannya telah menciptakan habitat yang tak lagi menyatu dan terpecah-pecah menjadi petak-petak habitat, ekologi komunitas menjadi berurusan dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Metapopulation">metapopulasi</a> dan teori biogeografi pulau.  Dengan kondisi petak habitat yang berbeda-beda, maka yang dicari tidak sekedar indeks keragaman, namun seberapa besar laju kolonisasi dan kepunahan komunitas di habitat tersebut.  Bagaimana suatu komunitas bereaksi terhadap gangguan yang terjadi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali stabil?</p>
<p>Studi yang satu ini seringkali berangkat dari daftar jenis.  Apa saja dan dapat apa?</p>
<ol>
<li>Pergi ke beberapa daerah, lakukan pengamatan burung, dapat daftar jenisnya dan buat perbandingan.  Dari sini diperoleh estimasi kekayaan jenis, keragaman, dan tingkat kesamaan (similarity) komunitas antar daerah.</li>
<li>Ulangi pengamatan di beberapa tahun berikut pada tempat pengamatan yang sama.  Dari perbandingan perubahan komunitas per tahun dapat diperkirakan laju kolonisasi, laju kepunahan lokal, dan laju perubahan kekayaan jenis.</li>
<li>Lakukan analisis struktur vegetasi pada tempat pengamatan yang sama dan dapat diamati efek struktur vegetasi terhadap komunitas dan spesies tertentu.</li>
</ol>
<p>Hal utama yang mempengaruhi kompleksitas suatu komunitas sebenarnya adalah spesies yang menjadi anggota komunitas dengan variasi karakter dan kebutuhannya, serta gradien variasi lingkungan.  Nah, tapi kedua hal tersebut juga saling terkait.  Hutan yang terbakar, misalnya, menyebabkan burung-burung yang menempati tajuk bawah hutan menyingkir.  Namun, hutan yang terbakar juga menyebabkan burung-burung tertentu menjadi lebih mudah terlihat dibanding hutan yang tak terganggu.   Dengan kata lain, kondisi habitat mempengaruhi tingkat deteksi suatu spesies.  Daftar jenis menjadi perlu dicermati jika besarnya usaha pengamatan tak sama.  Ini menyebabkan penghitungan kekayaan jenis dan keragaman haruslah memperhitungkan faktor deteksi karena burung yang tidak kita lihat belum tentu memang raib di lokasi itu.</p>
<p>Bagaimana cerita akhir saya tentang dua komunitas burung di dua tempat berbeda ini?  Ya belum tahu, sebab saya masih gonjang-ganjing memahami dua software untuk menganalisanya.  Kalau suatu keluarga perlu waktu beberapa bulan untuk menjadi stabil kembali, maka pastinya perlu waktu yang lebih lama untuk memahami perubahan yang terjadi pada suatu komunitas burung.   Jadi, jangan harap cerita ini berakhir di sini ya…….</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burung Koak penghuni jalan Ganesha]]></title>
<link>http://waskita.wordpress.com/?p=56</link>
<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 01:35:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>waskita</dc:creator>
<guid>http://waskita.wordpress.com/?p=56</guid>
<description><![CDATA[Ini ada foto burung koak penghuni jalan ganesha. Sayangnya menyebabkan jalan ganesha jadi lumayan ko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini ada foto burung koak penghuni jalan ganesha. Sayangnya menyebabkan jalan ganesha jadi lumayan kotor.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/25813341@N07/2557479012/"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3097/2557479012_3582417532_m.jpg" border="0"></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Unta, Sapi &amp; Burung]]></title>
<link>http://elindasari.wordpress.com/?p=302</link>
<pubDate>Fri, 23 May 2008 00:45:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>elindasari</dc:creator>
<guid>http://elindasari.wordpress.com/?p=302</guid>
<description><![CDATA[
Judul :  Unta, Sapi &amp; Burung
Pelukis :  Bintang
Media :  Kanvas
Size :  120 x 95 cm
Paint :]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-303" src="http://elindasari.wordpress.com/files/2008/05/sapi-domba-kecil.jpg" alt="" width="238" height="162" /></p>
<p style="text-align:center;">Judul :  Unta, Sapi &#38; Burung</p>
<p style="text-align:center;">Pelukis :  Bintang</p>
<p style="text-align:center;">Media :  Kanvas</p>
<p style="text-align:center;">Size :  120 x 95 cm</p>
<p style="text-align:center;">Paint :  Water Colour</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burung itu masih ada]]></title>
<link>http://jalmiburung.wordpress.com/?p=150</link>
<pubDate>Wed, 21 May 2008 10:44:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>jalmiburung</dc:creator>
<guid>http://jalmiburung.wordpress.com/?p=150</guid>
<description><![CDATA[Dulu, burung punai dada abu-abu (Treron griseicauda) mudah sekali dilihat di sekitar Kampus ITB, jug]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, burung punai dada abu-abu (<em>Treron griseicauda</em>) mudah sekali dilihat di sekitar Kampus ITB, juga di taman-taman kota yang lain di Kota Bandung. Burung ini biasanya terlihat dalam satu kumpulan (<em>flock</em>), pernah saya melihat lebih dari 100 individu dalam satu kumpulan. Hanya saja, beberapa bulan terakhir ini terlihat agak jarang, mungkin tidak pernah melihat lagi.</p>
<p><a href="http://jalmiburung.wordpress.com/files/2008/05/grey-cheeked-green-pigeon-2-pm.jpg"><img src="http://jalmiburung.wordpress.com/files/2008/05/grey-cheeked-green-pigeon-2-pm.jpg?w=300" alt="Burung punai dada abu-abu" width="300" height="232" class="aligncenter size-medium wp-image-151" /></a></p>
<p><!--more--></p>
<p>Pun begitu, rekan-rekan pengamat burung dari <a href="http://bicons.wordpress.com">Bicons</a> . Mereka sudah tidak pernah lagi menemukan burung ini untuk waktu yang cukup lama juga. Kami tidak tahu apa sebabnya. Apakah burung ini sudah mulai diburu dan dijadikan kudapan? Atau dijual? Kami berharap kalau mereka hanya bermigrasi ke lokasi lain. Kami menduga burung-burung itu pergi ke tempat lain yang masih ada buah untuk dimakan. Masih ada biji untuk ditelan. </p>
<p>Hari ini, Rabu 21 Mei 2008, pukul 16:45, tanpa diduga, ada satu ekor burung punai sedang hinggap di pohon angsana, dekat Gedung Kuliah Umum Baru, sebelah Kantor BNI ITB.  Awalnya, saya ragu kalau itu adalah burung punai. Karena gelap, habis hujan, saya menduga itu burung tekukur. Hanya saja, instingku berkata, "jangan-jangan burung punai". Lekas saja saya mengambil binokuler tua yang ada di sebelah meja. Beruntung burung itu masih hinggap di tempat yang sama. Setelah <em>ditoong</em>, saya melihat ada warna putih di sayap. Yap, itu burung punai yang selama ini dicari. Cihuy, ternyata burung itu masih ada. <em>Sumber gambar : <a href="http://www.orientalbirdimages.com">www.orientalbirdimages.org</a> </em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akhirnya, Manusia Bisa Terbang dengan Sayap]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/?p=161</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 15:37:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>xarazz</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/?p=161</guid>
<description><![CDATA[JAKARTA, MINGGU - Mimpi manusia untuk terbang bebas seperti burung dengan mengepakkan dua sayapnya m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA, MINGGU</strong> - Mimpi manusia untuk terbang bebas seperti burung dengan mengepakkan dua sayapnya mungkin belum terwujud. Namun, terbang dengan sayap menempel di punggung, setidaknya, sudah dapat dilakukan.</p>
<p style="text-align:center;"><img style="vertical-align:middle;" src="http://freestuff.890m.com/gambar/181157pterbang.JPG" alt="" width="298" height="225" /><br />
Yves Rossy, mantan pilot militer Swiss, terbang menggunakan sayap bermesin jet buatannya di atas Pegunungan Alpen.</p>
<p>Untuk pertama kalinya, Yves Rossy, seorang mantan pilot pesawat terbang dari Swiss, mendemonstrasikan terbang dengan sayap segitiga bermesin jet buatannya. Pria berusia 48 tahun yang mendapat sebuta "Fusion Man" itu melompat dari pesawat dengan sayap segitiga selebar 2,5 meter di punggungnya dan terbang melayang di atas Pegunungan Alpen.</p>
<p>Begitu jatuh bebas dari pesawat yang membawanya, ia langsung mengaktifkan empat mesin jet yang ada di bagian belakang sayapnya. Dalam sejak sejak diaktifkan, dorongan jet membuatnya dapat terbang hingga kecepatan 300 kilometer perjam.</p>
<p>Rossy sempat melakukan manuver, meliuk-liuk, terbang menukik, hingga melakukan putaran 360 derajat pada ketinggian 2300 meter. Setelah lima menit menjajal sayap buatanya di udara, ia mematikan mesinnya dan turun dengan parasit.</p>
<p>"Saya belum mencoba semuanya," ujarnya usai turun di sebuah landasan pesawat dekat Danau Jenewa, Rabu (14/5) lalu. Sayapnya baru akan dieksplorasi semua kemampuannya oleh seorang<em> stunt man</em> dan disiarkan langsung dalam sebuah acara televisi.</p>
<p>Namun, Rossy juga telah merencanakan untuk mencoba kembali alat buatannya untuk melintasi Selat Inggris tahun ini. Bahkan ia berharap suatu saat dapat terbang di atas Grand Canyon dengan sayap lebih lebar dan mesin jet lebih besar.</p>
<p>Untuk membuat alat tersebut, Rossy menghabiskan dana 285.000 dollar AS yang disponsori perusahaan jam tangan Swiss Hublot. Sementara untuk baju yang dipakainya tidak perlu didesain khsusu karena seperti baju tahan api yang biasa dipakai petugas pemadam kebakaran.</p>
<p>Sampai saat ini, Rossy belum berencana menjual alat buatannya ke pasaran, namun ia yakin alat serupa akan banyak dikembangkan untuk memberikan pengalaman terbang lebih menyenangkan terutama bari pecinta olahraga parasit.(<a href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/18/1745382/akhirnya.manusia.bisa.terbang.dengan.sayap" target="_blank">kompas.com</a>)</p>
<p><strong>WAH</strong><br />
<strong>Sumber : AP</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burung terbang kok diikuti?]]></title>
<link>http://noonathome.wordpress.com/?p=274</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 04:17:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>noonathome</dc:creator>
<guid>http://noonathome.wordpress.com/?p=274</guid>
<description><![CDATA[
Ada pertanyaan yang muncul baru-baru ini di salah satu milis yang saya ikuti.  Apakah metode untuk ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/05/minivet1_p3050154.jpg"><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-275" style="float:left;" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/05/minivet1_p3050154.jpg?w=300" alt="" width="167" height="127" /></a></p>
<p>Ada pertanyaan yang muncul baru-baru ini di salah satu milis yang saya ikuti.  Apakah metode untuk mengamati perilaku burung?  Nah lho! Burung punya sayap, terbang lebih cepat daripada kita manusia yang paling banter hanya berlari, kok niat-niatnya diikuti?<!--more--></p>
<p>Pada satwa, beberapa metode mengamati perilaku sudah cukup lama dikembangkan.  Salah satu literatur resminya dikeluarkan oleh Altman (1974).  Dua metode yang paling umum diterapkan adalah focal animal sampling dan scan sampling.  Kedua metode ini sebenarnya cukup mirip karena kedua-duanya sama-sama mengikuti suatu individu dari spesies tertentu.  Jika focal animal sampling hanya mengikuti satu individu saja (yang mewakili grup atau pasangan) pada waktu tertentu, maka scan sampling dilakukan dengan mengikuti setiap individu dalam suatu kelompok atau pasangan pada setiap interval waktu tertentu.  Hasilnya akan diperoleh suatu frekuensi perilaku dari jantan atau betina, atau juga frekuensi perilaku dari dua spesies yang masih berdekatan.</p>
<p>Dua metode tersebut, biasanya diterapkan pada primata.  Perilakunya dibedakan menjadi beberapa aktivitas seperti makan, <em>grooming</em>, istirahat, tidur, dsb.  Tidak mudah memang mengikuti tiap individu monyet atau siamang.  Namanya juga satwa, tentunya menghindar dari manusia.  Siamang yang masih takut biasanya berpindah dengan cepat di antara pepohonan atau menyembunyikan diri dalam rerimbunan tajuk pohon.  Percaya atau tidak, bahkan membuka payung secara tiba-tiba di waktu hujan saja dapat membuat suatu kelompok siamang tiba-tiba melarikan diri.  Namun, pembiasaan terhadap kehadiran manusia (habituasi) masih cukup mungkin dilakukan.  Caranya? Ya tentu dengan bangun lebih pagi dari kelompok siamang tersebut, cari atau tunggu di bawah pohon tidurnya dan ikuti terus hingga sang kelompok kembali ke peraduannya (yang sangat mungkin pindah ke lain pohon).  Usaha ini harus dilakukan setiap hari hingga kelompok siamang tersebut menjadi terbiasa dengan hadirnya beberapa orang untuk mengikuti kemana mereka pergi.  Pada siamang, usaha habituasi ini bervariasi lamanya. Ada yang 2 minggu sudah takluk, namun ada yang 2 bulan baru mulai menyerah (dan belum sepenuhnya pula).</p>
<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/05/siamang_p9160167.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-276" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/05/siamang_p9160167.jpg?w=300" alt="" width="240" height="181" /></a></p>
<p>Nah, mungkinkah kondisi yang sama diterapkan pada burung?  Sebenarnya perkembangan teknologi menyediakan alat penjejak dengan menitipkan sebuah transmitter pada burung sehingga ke mana pun ia pergi dapat dideteksi.  Pilihan transmitter juga cukup variatif, termasuk pilihan untuk mengetahui posisi tubuh burung.  Posisi istirahat (dalam keadaan tegak) akan dideteksi berbeda dengan posisi menunduk (biasanya sedang makan).  Namun, tentu saja pilihan ini adalah pilihan yang mahal.</p>
<p>Focal animal sampling dan scan sampling tentunya juga pernah diterapkan pada burung.  Salah seorang mahasiswa saya pernah mengorbankan dirinya sendiri untuk mengikuti beberapa kelompok burung enggang klihingan (<em>Anorrhinus galeritus</em>).  Burung ini adalah enggang bertubuh kecil (dalam satu kelompok dapat berjumlah 7-9 ekor) bersifat territorial yang lebih banyak menempati ruang antar tajuk di dalam hutan.  Alasan inilah yang menjadi dasar pengorbanan diri sang mahasiswa.  Alasan yang cukup jitu namun tetap mengundang resiko.</p>
<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/05/galeritus_p3060190.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-277" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/05/galeritus_p3060190.jpg?w=300" alt="" width="246" height="197" /></a></p>
<p>Apa perlu disebut lagi? Burung punya sayap, terbang lebih cepat daripada kita manusia yang paling banter hanya berlari.  Ini belum ditambah kondisi alam yang tidak mudah, hutan yang rapat, serta topografi yang tidak rata.  Kemampuan mendengar dan mengenali suara burung juga harus ditingkatkan. Banyak kejadian para pengamat tiba lebih lambat di tempat bertengger si burung sehingga perilaku sebenarnya mungkin tak tercatat.  Jadi, mau tidak mau, teknik ini harus dimodifikasi.  Frekuensi perilaku tentunya sulit diperoleh, kecuali terbang dan bertengger.  Namun, teknik modifikasi dengan memetakan ke mana burung bertengger, paling tidak berhasil menggambarkan penggunaan habitatnya, komposisi kelompok, dan perkiraan luas daerah jelajahnya.  Pernah juga saya baca, bahwa burung kuau raja (<em>Argusianus argus</em>) dapat dihabituasi.  Studi ini berhasil mencatat jenis makanan yang dipatuki si Kuau.  Usaha habituasinya tentu jauh lebih sulit karena burung ini memang sangat sensitif terhadap apapun yang berada di dekatnya.  Salah satu cara modifikasi barangkali dengan memenggal waktu pengamatan misalnya hanya di sarangnya.  Tentunya ini akan menghasilkan suatu gambaran proses penjagaan, pencarian dan pemberian makanan ke anak burung yang baru menetas.</p>
<p>Jadi, masih mau mengikuti burung?  Silakan, dan jangan keburu mundur karena sulitnya tetapi barangkali cari tahu dulu segala info tentang burungnya untuk melihat kemungkinan dapat diikuti atau tidak.  Perjelas juga tujuan penelitian kita agar modifikasi teknik dapat disesuaikan dengan jenis burungnya.  Selamat berkorban …. Hehehe…</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Happy Wing]]></title>
<link>http://febriantoedypratama.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 06:35:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Febri</dc:creator>
<guid>http://febriantoedypratama.wordpress.com/?p=15</guid>
<description><![CDATA[

Ini adalah lukisan pertama saya tentang hewan. Di forum indoanime, ada bagian khusus untuk artwork]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://febriantoedypratama.wordpress.com/files/2008/05/happy-wing-small.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-16" src="http://febriantoedypratama.wordpress.com/files/2008/05/happy-wing-small.jpg?w=300" alt="" width="300" height="172" /></a></p>
<p><!--more--></p>
<p>Ini adalah lukisan pertama saya tentang hewan. Di forum <a href="http://indoanime.net/forum">indoanime</a>, ada bagian khusus untuk artwork, di mana para anggotanya dapat memamerkan hasil karya mereka. Saya dan beberapa member lainnya iseng-iseng membuat semacam "tema", jadi kami menggambar sesuatu yang cocok dengan tema yang telah disepakati bersama. Lukisan ini adalah lukisan yang saya buat untuk tema "hewan". Saya membuat dua lukisan, saya akan posting lukisan satunya di blog berikutnya.</p>
<p>Kenapa harus burung? Kenapa burung puffin? Nggak tahu deh. Saya suka burung, dan saya tahu saya akan menggambar burung jika harus menggambar hewan. Jadi saya cari foto referensi yang bagus, dan saya menemukan ini :</p>
<p><a href="http://febriantoedypratama.wordpress.com/files/2008/05/happy-wing-reference.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-17" src="http://febriantoedypratama.wordpress.com/files/2008/05/happy-wing-reference.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Lalu saya gambar deh. Nggak sempurna sih. Bentang sayapnya terlalu lebar. Burung Puffin tidak mempunyai sayap sepanjang itu. Tapi yaah.. saya suka hasil akhirnya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://rickokoswara.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 19:18:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>eventpitalokafm</dc:creator>
<guid>http://rickokoswara.wordpress.com/?p=3</guid>
<description><![CDATA[Simkuring nu paling benten ti nu sanes, cobi wae uninga mastaka simkuring mirip helm hehehehehe. Pam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Simkuring nu paling benten ti nu sanes, cobi wae uninga mastaka simkuring mirip helm hehehehehe. Pami siaran tara nyalira sok di rencangan ku seueuran. diantawisna aya Ma Ocih,Tuan Yansen,Odoy,Ocid dan sebagainya. Pokona pami nu ngadangukeun nuju stress ngadadak beuki gelo.</p>
<p style="text-align:justify;">Simkuring asli urang Ciamis kantos ngalanglang buana ka radio - radio, mung anu karaos nikmatna nya didieu di Radio Pitaloka, Simkuring tiasa bebas berexpresi, nu penting tiasa ngabantun mitra Pitaloka dugi ka gelo. Mantak pami aya nu nyebat ka simkuring gelo anyar , sim kuring mah nyeri hate da tos lami gelona oge. hehehehehe</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulilah simkuring kapungkur kantos ngulik elmu padalangan, nya akhirna gaya dalang anu kaulik kusimkuring di terapkeun dina gaya siaran, Masih keneh panasaran .......... cobi wae dangukeun 88.3 Pitaloka FM, Di jamin dugi ka ngacay</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Maklumat Majelis Standart Burung]]></title>
<link>http://boschaulfa.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 11:26:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>boschaulfa</dc:creator>
<guid>http://boschaulfa.wordpress.com/?p=13</guid>
<description><![CDATA[MAJELIS BURUNG
Maklumat Majelis Standart Burung
Menyatakan SESAT kepada :
Burung dengan ukuran kuran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span class="caps">MAJELIS BURUNG</span></strong></p>
<p><em>Maklumat Majelis Standart Burung</em></p>
<p>Menyatakan <strong>SESAT</strong> kepada :</p>
<blockquote><p>Burung dengan ukuran kurang standart-kami<br />
Burung dengan ukuran melebihi standart-kami</p></blockquote>
<p>Kamilah yang memiliki ukuran burung standart ideal<br />
Barang siapa burungnya berukuran tidak standart-kami!!</p>
<p>Baca selengkapnya di <a href="http://keris.blogs.ie/2008/04/24/maklumat-majelis-standart-burung/">sini</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saling menanam dan menuai berkah. Belajar dari alam]]></title>
<link>http://noonathome.wordpress.com/?p=253</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 01:29:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>noonathome</dc:creator>
<guid>http://noonathome.wordpress.com/?p=253</guid>
<description><![CDATA[Siapa menanam, ia yang menuai hasilnya. Sama saja sih dengan kita menanamkan kebaikan. Tangan Tuhan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa menanam, ia yang menuai hasilnya. Sama saja sih dengan kita menanamkan kebaikan. Tangan Tuhan pasti akan sampai juga entah lewat siapa.  Eh, ini cuma perumpamaan.  Yang jelas banyak hal yang kita bisa pelajari dari alam ini tentang bagaimana mendapat <em>reward</em> atau menuai hasil.  Gak percaya?  Banyak binatang yang dianggap rendah atau tidak dipedulikan oleh manusia (yang katanya khalifah di muka bumi) justeru perilakunya memberi kearifan tentang hidup ini.  Hehehe, terlalu filosofis ya…. Barangkali….  Tapi apa artinya semut-semut yang ada di pepohonan?</p>
<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/04/dsc00129_semut_edit.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-255" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/04/dsc00129_semut_edit.jpg?w=300" alt="Semut-semut" width="126" height="115" /></a><br />
<!--more--></p>
<blockquote><p>"Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka." (QS Sad : 27 )</p></blockquote>
<p>Semut-semut tinggal di pucuk-pucuk pohon <em>Macaranga</em> dan terkena getahnya.  Tetapi ini adalah getah yang memang diharap-harap sang semut sementara si <em>Macaranga</em> mendapat perlindungan dari semut terhadap para pemakan daun yang takut dengan semut.  Jadi kedua pihak mendapat berkahnya.  <em>Macaranga</em> mampu mempertahankan dirinya sebagai tumbuhan perintis, sementara semut-semut dapat hidup tenang dengan pasokan makanan yang teratur.</p>
<p>Masih ingat si <a href="http://noonathome.wordpress.com/2008/03/23/beringin-pasarnya-segala-jenis-mahluk/">pohon beringin</a> yang seringkali dianggap angker itu?  Keangkeran yang tak dipedulikan oleh berbagai satwa tetapi kedatangan para satwa yang menyukai buahnya ini sebenarnya menggambarkan suatu kerjasama yang baik.  Buah beringin mengandung kalsium yang sangat tinggi, bahkan tiga kali lebih tinggi  dari buah jenis lain (baca di <a href="http://findarticles.com/p/articles/mi_m1170/is_2000_Jan-Feb/ai_58186920/pg_1">sini</a> tentang Beringin dan kalsiumnya).  Bayangkan, bahkan sebelum burung rangkong memberikan servisnya kepada si beringin dengan menyebarkan biji-biji beringin di pohon-pohon lain yang ditenggerinya, kandungan kalsiumnya sudah dapat diperolehnya.  Itulah <em>reward</em>nya, yang menjadikan rangkong kuat terbang dan telur-telurnya mendapat pasokan kalsium yang cukup dan menetas dengan baik.</p>
<p>Di malam yang kelam, para kelelawar terbang berseliweran.  Kelelawar penyerbuk mampir ke bunga mangga, petai, atau durian untuk menyesap sedikit madu sambil menyediakan jasa membawa serbuk sari dan menyerbuki bunga di pohon yang lain.  Sedikit madu memang kebutuhan hidup bagi kelelawar.  Tetapi tanpa disadari, ada begitu besar kandungan gula yang ia serap begitu mudahnya.</p>
<p><a href="http://noonathome.files.wordpress.com/2008/04/dsc00422_edit.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-254" src="http://noonathome.wordpress.com/files/2008/04/dsc00422_edit.jpg?w=300" alt="Psychonotis piepersii on Asteraceae weed" width="192" height="164" /></a></p>
<p>Inilah suatu bentuk interaksi dan interaksi adalah salah satu proses <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Co-evolution">ko-evolusi</a>.  Evolusi yang terjadi berbarengan antara dua pihak yang saling mempengaruhi.   Antara bunga, burung, kupu-kupu, dan kelewar ada saling penyesuaian (baca di <a href="http://www.msnbc.msn.com/id/18279819/">sini</a>).  Bunga-bunga yang dikunjungi kelelawar mungkin tak berwarna mencolok, tetapi berbau tajam, mekar di malam hari. Bentuk kepala si burung pijantung kecil (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Little_Spiderhunter"><em>Arachnothera longirostra</em></a>) dengan paruhnya yang melengkung dapat demikian tepatnya dengan bentuk bunga pisang yang tubular, sama seperti hummingbird dengan bunga <em>Heliconia</em>.  Atau si kumpulan bunga soka yang juga berbentuk tubular dan sangat pas bagi belalai penghisap si kupu-kupu <em>Papilio memnon</em>, seperti bunga-bunga Asteraceae bagi si kupu-kupu mungil <em>Psychonotis piepersii</em> di rerumputan.  Keduanya saling terkait, saling mempengaruhi, dan saling membutuhkan.  Satu pihak tak ada, mungkin ada pihak lain yang mengisi ruang itu, tetapi mungkin pula terputus mata rantainya.  Tak ubahnya dengan putusnya suatu rantai kebaikan………</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TERSESAT DI HUTAN BELANTARA]]></title>
<link>http://yahyaali.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 22:36:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>yahyaali</dc:creator>
<guid>http://yahyaali.wordpress.com/?p=3</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ali Yahya
Kelas 5, SD I Bengkulu 
 
            Doni, Boni , Dino dan Firman beren]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoSubtitle" style="margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Oleh: Ali Yahya</span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kelas 5, SD I Bengkulu </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Doni, Boni , Dino dan Firman berencana berkemah di hutan .Hutan itu masih<span>    </span>perawan. Banyak pohon-pohon besar, anggrek, paku, dan beraneka macam tumbuhan liar. Konon, di hutan itu masih banyak berkeliaran berbagai hewan buas seperti harimau, kucing hutan, tikus raksasa dll. Yang lebih mengerikan lagi,<span>  </span>katanya di situ tempat para hantu bergentayangan dan berpesta pora. Namun, para pemberani kecil tidak takut.<!--more--></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Jadi berkemah di hutan angker itu?, tanya Doni.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Tapi gimana ya, katanya banyak hantunya”, kata Boni bergetar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Ala kau Bon, takut amat sih”, timpal Firman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Masak kita takut sama hantu”, kata Doni.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Iya nih, pula apa ada hantu sih”, kata Dino. “Hantu kan tidak kelihatan”. Kata</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>pak Ustad kita lebih mulia. Ngapain kita takut”, Dino sedikit ceramah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Nah, kalau gitu, jadi kan berkemah, kata Doni. “Kita berangkat hari Minggu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>depan”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Boni pun terpaksa ikut. Ia tak mau dikatakan penakut. Mereka pun berkemas. Alat kemah, senter, korek api,<span>  </span>kue, dan makanan kering serta makanan<span>  </span>lainnya. Demikianlah, mereka di pagi hari Minggu pergi ke hutan. Mereka naik angkot sampai di ujung desa Kaba. Dari situ, mereka harus berjalan kaki ke hutan. Udara segar menerpa mereka. Mereka kemudian bermain dan bersenda gurau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Enak kan bermain di sini”, kata Dino.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Lihat, burung apa itu ya”, kata Doni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Wah besar sekali, burung apa ya”, timpal Dino.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Mungkin itu burung garuda”, duga Boni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Masak sih, tapi bentuknya kok tak seperti yang di lambang Garuda Pancasila”,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>kata Firman setengah tak percaya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Foto aja lagi”, Doni berlagak seperti remaja di sinetron. “Nanti tanya ama bu </span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Guru”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya deh”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun bermain sepanjang hari. Mereka lupa memasang tenda. Tanpa sadar mereka telah jauh menusuk ke dalam hutan belantara. Ketika hari mulai gelap, mereka baru tersadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Di mana kita,?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya nih, gimana kita keluar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Aduh, gimana nich”, Boni mulai mewek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam keadaan biasa, mereka pasti ngetawain Boni. Tapi mereka pun telah diliputi kecemasan. Berbagai gambaran khayal mulai bermain-main dalam otak mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Gini, kita dirikan tenda di sini”, kata Firman. “Tempatnya oke”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yah, itu lebih baik”, timpal dino. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Iya, kita harus tenang, masak pemberani masalah kecil gini udah takut”, kata<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Doni sok jago .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>  </span>Mereka pun membagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, mencari kayu bakar untuk api unggun. Ada pula yang mencari sumber air minum. Kebetulan<span>  </span>tak jauh dari situ, ada sebuah mata air bening di bawah pohon raksasa. Entah pohon apa. Tingginya seolah menembus awan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yuk, kita bikin mi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yuk, lauknya apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Aku bawa rendang”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Aku bawa<span>  </span>ikan asin”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun<span>  </span>mengelilingi api unggun sambil makan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Nikmat juga ya, makan di hutan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Lebih nikmat lagi makan sambil baca komik”, kata Boni yang memang sedang asyik baca buku.Boni suka baca komik horor. Rasa takut yang sempat hinggap sudah lenyap entah kemana. Ia duduk di sebuah batu yang unik. Batu itu bentuknya bulat, berwarna agak putih, lalu ada totol-totolnya. Persis seperti telur puyuh. Batu seperti itu berserakan. Ada yang besar, ada pula yang kecil. Sekecil telur puyuh. Bagi mereka batu unik itu tak mengherankan. Karena rumah mereka pun banyak batu<span>  </span>sejenis. Soalnya, banyak dijual orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Hai Boni jangan baca buku terus dong. Bantu nich”, kata Firman. Tolong ambilkan senter dong. Gelap sekali nich”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Baiklah, kata Boni sambil menaruh buku di atas batu yang didudukinya tadi. Tiba-tiba Boni melihat ada bayangan putih di balik pohon yang ada di belakang tenda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Man, aku melihat ada bayangan putih”, kata Boni gemetar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Dimana”?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Itu tuh di balik pohon di belakang tenda”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Firman pun menoleh ke pohon<span>  </span>yang dimaksud Boni. “Nggak ada kok”. Lihat tuh kan nggak ada, kata Firman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tadi ada kok, sumpah, kata Boni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Mungkin kamu salah lihat kali, kata Dino.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Ia betul, kamu memang salah lihat, kata Firman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Sudah malam, ayo kita tidur, kata Doni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun tidur. Boni susah tidur karena memikirkan bayangan putih tadi.Pagi pun menjelang. Mereka menjadi ingat bahwa mereka telah tersesat di hutan belantara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>“Bagaimana nich, caranya pulang”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Kita kan memang mau cari pengalaman di hutan, kata Firman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Betul kata Firman. Kita kan sudah sepakat untuk mengisi liburan<span>  </span>dengan cari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>pengalaman unik”, kata Dino.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka berbenah. Tenda dicabut. Api dipadamkan. Mereka ingat pelajaran pramuka. Kalau meninggalkan tempat kemah jangan lupa matikan api, biar tidak membahayakan lingkungan. Kemudian mereka mencoba mencari jalan keluar. Mereka memang lupa untuk membuat tanda, saking asyiknya mereka bermain. Siang pun menjelang, mereka berhenti sejenak untuk makan sekadarnya. Mereka mulai kehabisan bekal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Jangan-jangan kita tidak bisa pulang. Lihat tuh, bukankah ini tempat kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>berkemah tadi”, kata Doni.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya, ya. Tuh bekas api unggunnya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Kok bisa. Rasanya kita sudah berjalan jauh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Jadi gimana nich”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tenang, tenang. Kata pak Ustad kita harus tenang jika ada masalah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Giman kita bisa tenang Don. Bekal kita sudah habis. Jangan-jangan betul hutan ini berhantu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya nich. Gimana… gimana”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun mulai panik. Tapi pelan-pelan Doni menenangkan teman-temannya. Hari pun menjelang<span>  </span>gelap. Mereka terpaksa mendirikan tenda kembali. Bekal mereka tidak cukup untuk makan malam nanti. Mereka diliputi kecemasan yang dalam. Bulan bulat bersinar berkuningan tak dirasakan indahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Apa boleh buat kita makan seadanya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi besok gimana makannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yah, kita pikirkan<span>  </span>besok deh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yuk makan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Setelah makan mereka pun siap-siap untuk tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tiba-tiba Boni berteriak: “Lihat tuh bayangan putih terlihat lagi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Itu tuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya, ya”. Mereka pun mulai ketakutan. Mereka pun tidur berhimpit-himpitan. Tak terasa, pagipun menjelang. Mereka berkemas-kemas. Dengan perut melilit mereka mencoba mencari jalan keluar. Karena capek, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tuh, pohon itu ada buahnya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi pohon apa ya”. Yuk, kita petik buahnya. Tampaknya manis dan enak”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi, jangan-jangan ada racunnya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi daripada mati kelaparan. Ambil resiko aja deh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun kemudian mengambil buah pohon itu. Rasanya memang enak dan manis. Cukup sudah. Badan mereka pun segar kembali. Tiba-tiba Dino berteriak: “Pohon ini kan pernah kita lewati. Tuh bekas torehan pisauku”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya, ya aku ingat sekarang. Nah itu kan, bekas jejak jejak kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Ya kita ingat, kemarin kita belok ke kanan yang membawa kita kembali ke</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>hutan. Harusnya kita ke kiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya ….. iya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Wajah mereka pun mulai kemerah-merahan, segar, senyum mengambang. Bayangan untuk bisa kembali ke rumah pun membesar. Rasa cemas hilang begitu saja. Dengan bersemangat mereka pun berjalan lagi. Mereka<span>  </span>berusaha mengingat kembali jalan yang pernah mereka lalui sewaktu masuk ke hutan. Akhirnya mereka berhasil keluar hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Akhirnya sampai juga keluar dari hutan ini, kata Boni lega.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yeaah”, yang lainnya pun lega.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Ya Bon, kita berhasil keluar dari hutan, kata Dino gembira.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ternyata di ujung hutan tersebut telah menunggu orang tua mereka. Mereka sangat khawatir anaknya. Mereka pun berhambur memeluk ibunya masing-masing. Yah, petualangan yang menegangkan pun berakhir. Mereka akhirnya selamat. Petualangan yang tak terlupakan. </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setiap Tahun 30 Ribu Orang Tewas Karena Kecelakaan]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/?p=21</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 13:25:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>vinka89</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/?p=21</guid>
<description><![CDATA[TEMPO Interaktif, Jakarta:
Sebanyak 30 ribu orang per tahunnya tewas karena kecelakaan lalu lintas d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;font-size:x-small;"><span style="color:#666666;"><strong>TEMPO <em>Interaktif</em></strong></span>, <span style="color:#666666;"><strong>Jakarta</strong></span>:<br />
Sebanyak 30 ribu orang per tahunnya tewas karena kecelakaan lalu lintas di Indonesia. "Sedangkan kerugian mencapai Rp 41 triliun per tahun," kata Menteri Perhubungan Jusman Syafi Jamal dalam acara Persemian Pekan Nasional Keselamatan Jalan Raya di Monas, Minggu (20/4).</span></p>
<p>Korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas ini, kata Jusman, kebanyakan tenaga kerja usia produktif. 62 persen diantaranya memberikan dampak menurunnya kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Dalam sambutannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan jumlah korban tewas berdasarkan data Asia Development Bank (ADB) ini jauh lebih besar dari korban tewas akibat flu burung,</p>
<p>"Flu burung selalu menjadi perhatian besar di dunia, kita sering dimaki, padahal korban flu burung cuma seratus orang per tahun," kata Kalla.</p>
<p>Kecelakaan lalu lintas yang terjadi, menurut Kalla, adalah akibat beredarnya jumlah motor yang sangat banyak ditambah mobilitas penduduk yang tinggi dan jalan yang rusak.</p>
<p>Saat ini, kata dia, ada sekitar 35 juta sepeda motor beredar per harinya. "Ditambah dengan teknologi kecepatan sepeda motor yang dulu 50 kilometer per jam, sekarang 100 kilometer per jam," kata Kalla.</p>
<p>Solusi untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas, kata Kalla, adalah harmonisasi dari semua pihak. Aturan-aturan, menurutnya, harus diperbarui.</p>
<p>Namun, Kalla berjanji pemerintah juga akan menambah sarana dan pra sarana jalan untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas.</p>
<p>Fanny Febiana<br />
dari: http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008 /04/20/brk,20080420-121630,id.html</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
