<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>blog-indonesia &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/blog-indonesia/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "blog-indonesia"</description>
	<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 21:50:13 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[In House Training di SMA N 1 Kadugede]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1761</link>
<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 08:37:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1761</guid>
<description><![CDATA[Hari Rabu kemarin (27-08-2008) saya diundang oleh SMA Negeri 1 Kadugede Kabupaten Kuningan guna meng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Rabu kemarin (27-08-2008) saya diundang oleh SMA Negeri 1 Kadugede Kabupaten Kuningan guna mengisi acara kegiatan In House Training. Saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Bimbingan dan Konseling, dikaitkan dengan penyelenggaraan pendidikan pada Sekolah  Standar Nasional (SSN).</p>
<p>Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat, Bapak Drs. Suhaendi, bahwa mulai tahun  pelajaran 2008-2009 ini SMA Negeri 1 Kadugede telah diberi kepercayaan oleh pemerintah sebagai sekolah Rintisan Standar Nasional.  Kegiatan in house  training yang diselenggarakan pun pada  dasarnya  ditujukan dalam rangka persiapan menuju ke arah sana. Oleh karena itu, dengan adanya in house training ini, kiranya diharapkan Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 1 Kadugede  dapat mengambil peran dan konstribusinya secara signifikan dalam upaya mewujudkan SMA Negeri 1 Kadugede sebagai Sekolah Berstandar Nasional sekaligus juga sebagai "Sekolah Sehat (SMA N 1 Kadugede juga saat ini sedang diikutsertakan dalam kompetisi sekolah sehat Wilayah III Cirebon</p>
<p>Tema (materi) yang saya sampaikan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang telah saya sampaikan  di <a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/21/in-house-trainning-di-sma-n-1-garawangi/">SMA Negeri 1 Garawang</a>i  beberapa waktu yang lalu, yaitu tentang "<strong>Bimbingan dan Konseling di Sekolah: Teori dan Praktik</strong>". Namun sedikit berbeda,  jika di SMA Negeri 1 Garawangi pembicaraan lebih terfokus pada peran guru dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling, mengingat pada waktu itu peserta pelatihan sebagaian besar para guru pengampu mata pelajaran. Sementara, kehadiran saya di SMA Negeri 1 Kadugede atas permintaan dari guru BK setempat, maka pembicaraan pun lebih berfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan teknis pelayanan Bimbingan dan Konseling  yang dilaksanakan oleh guru BK. Kendati demikian, saya pun   tetap mengulas secara umum tentang manajemen BK dan peran guru dalam BK, karena diantara peserta pelatihan hadir juga para wakil kepala sekolah dan beberapa guru setempat yang tampaknya mereka merasa enthusias untuk berusaha memahami hal-hal yang berkenaan dengan pelayanan BK di sekolah.</p>
<p>Setelah dibuka forum tanya jawab, pembicaraan pun semakin berkembang, baik yang sifatnya teknis, seperti  upaya pengentasan kasus-kasus yang muncul, peran guru dalam menangani kasus, maupun tentang strategi pelayanan yang paling tepat sejalan dengan Paradigma Bimbingan dan Konseling yang berbasis pengembangan dan komprehensif (<strong>Developmental-Comprehensive Guidance and Counseling</strong>).</p>
<p>Di antara peserta ada juga yang secara kritis  mempertanyakan tentang prospek dan eksistensi Bimbingan dan Konseling ke depannya. Inilah mungkin pertanyaan yang dianggap cukup sulit untuk dijawab secara pasti, mengingat hingga saat ini harus diakui bahwa laju perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia masih tetap dilalui secara tertatih-tatih  (lihat tulisan : <a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/06/perjalanan-jauh-bimbingan-dan-konseling-sebagai-profesi/">Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi</a>).</p>
<p>Pada kesempatan ini saya menegaskan bahwa kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak semata-mata menjadi tanggugngjawab para guru BK/konselor di sekolah semata, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif seluruh komponen di sekolah (kepala sekolah, guru, staf TU) termasuk juga para orang tua siswa. Dalam hal ini, guru mata pelajaran bukanlah seorang <em>outsider</em>, tetapi justru sebagai <em>insider </em>dalam kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang berupaya untuk saling mengisi guna kepentingan pendidikan dan kebahagiaan siswa. Optimalisasi peran BK di SMA Kadugede sangat bergantung dari usaha kolaboratif tersebut. Selain itu, pada kesempatan ini saya juga berusaha untuk "meluruskan" tentang posisi bimbingan dan konseling yang seolah-olah identik dengan kegiatan Pengembangan Diri dalam KTSP</p>
<p>Meski waktun penyajian relatif sebentar, semoga saja dengan adanya kegiatan pelatihan ini, kiranya  Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 1 Kadugede dapat semakin berkembang jauh dan dapat menunjukkan konstribusinya bagi kemajuan sekolah dan para siswanya. Amin!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konsep Visi Sekolah]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1637</link>
<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 04:42:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1637</guid>
<description><![CDATA[Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan mewujudkan visi yang hendak dicapai dari sekolah tersebut secara eksplisit. Namun, sayangnya upaya <span> </span>perumusan<span> </span>visi yang terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini terkesan masih latah (stereotype) dan sekedar pengulangan dari nilai dan prioritas nasional. Dari beberapa sekolah yang pernah penulis amati, pada umumnya perumusan visi sekolah cenderung menggunakan rumusan dua kata yang hampir sama yaitu “prestasi” dan “iman-taqwa”, <span> </span>Memang bukahlah hal yang keliru jika sekolah hendak mengusung visi sekolah dengan merujuk pada kedua nilai tersebut.<span> </span>Tetapi jika<span> </span>perumusannya menjadi seragam, <span> </span>kurang spesifik serta kurang inspirasional mungkin masih patut untuk dipertanyakan kembali. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Boleh jadi, hal ini mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya, baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam perspektif manajemen, visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (<em>sustainability</em>) organisasi sekolah itu sendiri, Tanpa visi, organisasi dan orang-orang di dalamnya tidak mempunyai<span> </span>arahan yang jelas,<span> </span>tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman, 1998).<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar, hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah, melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins, 1996). Menurut Block (1987), visi adalah masa depan yang dipilih, sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis, kredibel, dan menarik, yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik<span> </span>dari cara yang sudah ada sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Memperhatikan pendapat para ahli di atas, tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat<span> </span>untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. Menurut Blum dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi, mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah, agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kendati demikian, dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara “top-down” yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya . Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. Pembuatan visi adalah tentang <span> </span>keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini, Beare et.al. (1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi, yaitu:</p>
<ol>
<li>Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan.</li>
<li>Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah.</li>
<li>Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum.</li>
<li>Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai.</li>
<li>Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia; (b) tujuan pendidikan dalam sekolah; (c) peran pemerintah, keluarga, masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah; (d)<span> </span>pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran; dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dengan demikian, akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi, nilai dan keyakinan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sumber:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Adaptasi dari Bush dan Coleman. 2008. <em>Kepemimpinan Pendidikan: Manajemen Strategis</em> (ter. Fahrurruzi). Jogjakarta:<span> </span>IRCiSoD.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sekilas Sejarah Pelacuran di Indonesia]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1634</link>
<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 04:35:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1634</guid>
<description><![CDATA[oleh: Wakhudin*))
Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">oleh: <strong>Wakhudin*))</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull; 1997:1-22). Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah. Pada masa itu, konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia <em>(binatara)</em>. Kekuasaan raja Mataram sangat besar. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya, tidak hanya tanah dan harta benda, tetapi juga nyawa hamba sahaya. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Raja mempunyai kekuasaan penuh. Seluruh yang ada di atas Jawa, bumi dan seluruh kehidupannya, termasuk air, rumput, daun, dan segala sesuatunya adalah milik raja. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan; dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota. Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; serta Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur; dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. (Hull, <em>at al.</em> 1997:2).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Makin banyaknya selir yang dipelihara, menurut Hull, <em>at al.</em> (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. Dari sisi ketangguhan fisik, mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam masyarakat yang mempunyai selir. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan, seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Oleh karena itu, status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa, kenyataan juga terjadi di seluruh Asia, di mana perbudakan, sistem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI, dalam Hull; 1997:3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda (Hull; 1997:3). Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu. Perkawinan antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. (Hull; 1997:4).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan “baik-baik”. Pada tahun 1650, “panti perbaikan perempuan” <em>(house of correction for women)</em> didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan “tanpa izin” menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI, dalam Hull; 1997:5).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit <em>syphilis</em> atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8, 9, 10, 11).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga <em>(inrigting voor zieke publieke vrouwen)</em> yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil. Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri. (Hull; 1997:5-6).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dua dekade kemudian tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Peraturan pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Berkaitan dengan aktivitas industri seks ini, penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah. Tetapi terbatasnya tenaga medis dan terbatasnya alternatif cara pencegahan membuat upaya mengurangi penyebaran penyakit tersebut menjadi sia-sia (ENOI dalam Hull; 1997:6).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pengalihan tanggung jawab pengawasan rumah bordil ini menghendaki upaya tertentu agar setiap lingkungan permukiman membuat sendiri peraturan untuk mengendalikan aktivitas prostitusi setempat. Di Surabaya misalnya, pemerintah daerah menetapkan tiga daerah lokalisasi di tiga desa sebagai upaya untuk mengendalikan aktivitas pelacuran dan penyebaran penyakit kelamin. Selain itu, para pelacur dilarang beroperasi di luar lokalisasi tersebut. Semua pelacur di lokalisasi ini terdaftar dan diharuskan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara berkala (Ingleson dalam Hull; 1997:6).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tahun 1875, pemerintah Batavia (kini Jakarta), mengeluarkan peraturan berkenaan dengan pemeriksaan kesehatan. Peraturan tersebut menyebutkan, antara lain bahwa para petugas kesehatan bertanggung jawab untuk memeriksa kesehatan para wanita publik. Para petugas kesehatan ini pada peringkat kerja ketiga (tidak setara dengan eselon III zaman sekarang yaitu kepala biro pada organisasi pemerintahan) mempunyai kewajiban untuk mengunjungi dan memeriksa wanita publik pada setiap hari Sabtu pagi. Sedangkan para petugas pada peringkat lebih tinggi (peringkat II) bertanggung jawab untuk mengatur wadah yang diperuntukkan bagi wanita umumnya yang sakit dan perawatan lebih lanjut. Berdasarkan laporan pada umumnya meskipun telah dikeluarkan banyak peraturan, aktivitas pelacuran tetap saja meningkat secara drastis pada abad ke-19, terutama setelah diadakannya pembenahan hukum agraria tahun 1870, di mana pada saat itu perekonomian negara jajahan terbuka bagi para penanam modal swasta (Ingleson dalam Hull; 1997:6).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Perluasan areal perkebunan terutama di Jawa Barat, pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pendirian perkebunan-perkebunan di Sumatera dan pembangunan jalan raya serta jalur kereta api telah merangsang terjadinya migrasi tenaga kerja laki-laki secara besar-besaran. Sebagian besar dari pekerja tersebut adalah bujangan yang akan menciptakan permintaan terhada aktivitas prostitusi. Selama pembanguna kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyarakta dan Surabaya tahun 1884, tak hanya aktivitas pelacuran yang timbul untuk melayani para pekerja bangunan di setiap kota yang dilalui kereta api, tapi juga pembangunan tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan konstruksi jalan kereta api. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa banyak kompleks pelacuran tumbuh di sekitar stasiun kereta api hampir di setiap kota. Contohnya di Bandung, kompleks pelacuran berkembang di beberapa lokasi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebonjeruk, Kebontangkil, Sukamanah, dan Saritem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Hull juga menambahkan, (1997:7) di Yogyakarta, kompleks pelacuran didirikan di daerah Pasarkembang, Balongan, dan Sosrowijayan. Di Surabaya, kawasan pelacuran pertama adalah di dekat Stasiun Semut dan di dekat pelabuhan di daerah Kremil, Tandes, dan Bangunsari. Sebagian besar dari kompleks pelacuran ini masih beroperasi sampai sekarang, meskipun peranan kereta api sebagai angkutan umum telah menurun dan keberadaan tempat-tempat penginapan atau hotel-hotel di sekitar stasiun kereta api juga telah berubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">*)) Ditulis oleh :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33.1pt;text-align:justify;text-indent:-33.1pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Wakhudin. 2006<em>. Proses Terjadinya Degradasi Nilai Moral<span> </span>pada Pelacur dan Solusinya</em> (Thesis). Bandung: Program Studi Pendidikan Umum. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sekilas tentang Sejarah Pelacuran Dunia]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1631</link>
<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 04:29:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1631</guid>
<description><![CDATA[
oleh: Wakhudin*))
Keberadaan pelacuran sudah sedemikian menyejarah. Hampir setiap peradaban umat ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">oleh: <strong>Wakhudin*))</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Keberadaan pelacuran sudah sedemikian menyejarah. Hampir setiap peradaban umat manusia tidak pernah sepi dari pelacuran. Pada masa Nabi Shale, misalnya, pelacuran terjelma dalam bentuk iming-iming seorang wanita cantik bernama Shaduq binti Mahya kepada Masda bin Mahraj yang berjanji membunuh unta Nabi Shaleh. Langkah ini kemudian diikuti oleh wanita lain yang menyerahkan kehormatan anak gadisnya kepada pemuda Qudar bin Salif (Ihsan: 2004:129-136).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dikemukakan Ihsan, para antropolog menggambarkan bahwa pelacuran merupakan fakta yang tak dapat dielakkan, karena adanya pembagian peran laki-laki dan perempuan yang sudah muncul pada masyarakat primitif. Tugas perempuan diarahkan untuk melayani kebutuhan seks laki-laki. Para antroplog melihat bahwa pelacuran tidak lepas dari peninggalan masyarakat primitif yang berpola matriarkhi. Sedangkan kaum feminis memandang bahwa pelacuran adalah akibat dari kuatnya sistem patriarkhi. Sementara kaum Marxis melihat pelacuran sebagai akibat yang niscaya dari perkembangan kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pelacuran dalam sejarahnya juga bersanding erat dengan kepercayaan keagamaan. Ada istilah “pelacur kuil” <em>(temple prostitutes)</em>. Pelacuran model ini ditemukan di pada kebudayaan zaman Babilonia, Mesir Kuna, Palestina Kuna, Yunani, dan Romawi. Para pelacur ini berkeliaran di jalan-jalan dan di kedai-kedai minuman, mencari mangsa laki-laki. Kemudian, penghasilannya diserahkan kepada para pendeta untuk membantu pembangunan kuil. (Ihsan; 2004:130)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kedudukan pelacur memang naik turun, kata Ihsan selanjutnya (2004:130). Suatu masa, pelacuran ditempatkan tak lebih sebagai perbudakan. Mereka distempel sebagai masyarakat kelas bawah. Biasanya mereka lebih banyak beroperasi di jalan-jalan. Di Yunani, pelacur jalanan disebut <em>pornoi</em>. Masyarakat Yunani Kuna yang merupakan salah satu peradaban purba, jauh-jauh telah mengenal apa yang disebut “pelacuran kuil” –sebuah institusi purba tempat pera pelacur menyumbangkan uang hasil kerjanya untuk kuil Aphrodite demi mendapatkan berkah anugerah dari para dewi. Mereka disebut dengan nama <em>Hierodouli</em>. Kebiasaan-kebiasaan seksual pun telah bertumbuh secara variatif. Mereka telah mempraktikkan gaya-gaya seks seperti vaginal, anal, kontak paha, oral, jilat-jilat klitoris, masturbasi, <em>threesome</em>, gaya 69, sadisme seks, pesta orgi, alat bantu <em>(dildo)</em>, dan seks dengan binatang. Demikian juga praktik-praktik seks sesama jenis seperti lesbian dan gay yang dikenal dengan nama <em>pederasta</em> (Ihsan; 2004:14).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Di Romawi, pelacur dianggap penjahat dan pengganggu anak-anak. Di Roma, pelacur diharuskan menggunakan pakaian tertentu untuk membedakan dengan wanita kalangan bangsawan. Lebih ketat lagi, Asysyiria menetapkan pasal hukuman bagi pelacur yang membuka tutup kepalanya sebagai <em>trade mark</em>-nya. Di India Kuna, pelacur rendahan ini disebut <em>khumbhadasi</em>. Pada masyarakat India Kuna, kaum wanita dari golongan rendah hanya diberi dua pilihan, menikah atau menjadi pelacur. Sementara di Cina, pelacuran sudah mulai ditempatkan di rumah-rumah khusus. Pelacur yang berasal dari golongan rendah disebut <em>wa she</em>. Pada masa Dinasti Han, pelacur golongan ini dirumahkan bersama-sama dengan kelompok penjahat, tahanan perang, dan budak. Demikian halnya pada masa-masa awal<span> </span>masyarakat Islam, munculnya <em>harem</em> juga tak bisa dipisahkan dari pelacuran. Sudah mentradisi, orang-orang kaya biasa membeli ratusan budak wanita untuk dijadikan <em>harem</em>. Walaupun pelacuran jelas-jelas dilarang dan pemerintah memiliki <em>muhtasib</em>, polisi susila, diam-diam para budak wanita banyak yang dipekerjakan menjadi pelacur (Ihsan; 2004:131).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pelacur tidak selamanya dipandang sebagai profesi rendahan. Dalam beberapa bangsa dahulu, pelacur justru menempati kedudukan terhormat. Pelacur terhormat ini memberikan pengaruh yang mendalam terhadap politik, seni, sumber inspirasi puisi, dan mode pakaian. Mereka datang dari kelas atas dan menengah. Mereka memilih profesi pelacur, karena waktu itu profesi ini menjadi satu-satunya jalan terbaik untuk meraih kekayaan dan gengsi sosial dalam masyarakat yang dikuasasi oleh kaum laki-laki. Mereka wanita terdidik dan mempunyai fungsi sosial yang besar, di saat kaum wanita dibatasi tinggal di rumah dan tidak diberi tempat dalam ruang publik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menurut Ihsan, (2004:132) pada zaman Babilonia, dikenal nama Kizrete yang disanjung-sanjung sebagai selir terhormat. Cerita-cerita rakyat mengisahkan pelacur terhormat ini juga mewarnai masyarakat Mesir Kuna. Tetapi, di antara bangsa-bangsa Kuna, hanya pada masa Yunanilah pengakuan tertinggi disematkan bagi pelacur. Oleh masyarakat Yunani Kuna, mereka mendapat julukan <em>hetaerae</em>. Di antara <em>hetaerae</em> yang terkenal di masa itu, Thargelia dari Ionia, Aspasia dari Athena, Sang Pecinta dari Perikles, dan Thais dari Athena. Thais dari Athena ini pernah diperistri oleh Alexander Agung. Setelah itu diambil alih oleh Ptolomeus, raja Mesir Kuna, dan dinobatkan sebagai permaisuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Hetaerae</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> juga muncul pada masyarakat Muslim zaman dahulu, kata Ihsan (2004:132-133). Mereka biasanya berperan sebagai penghibur dan kebanyakan berasal dari luar daerah Muslim. Laki-laki yang ingin berhubungan dengan <em>hetaerae</em> harus melalui penghubung dan disewa untuk memberikan pelayanan seksual. Puisi-puisi cinta yang beredar di Timur-Tengah waktu itu banyak yang dikumandangkan untuk menghormati <em>hetaerae</em> ini. Demikian juga bangsa-bangsa seperti India, Cina, dan Jepang juga mengenal penyanjungan terhadap profesi pelacur terhormat ini. Di Jepang populer dengan istilah <em>geisha</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pada masa abad pertengahan, <em>hetaerae</em> paling terkenal adalah Ratu Theodora yang mengubah larangan hak milik bagi pelacur serta membangun penampungan bagi pelacur yang ingin meninggalkan profesinya.Di Venesia, Italia, tercatat nama Veronica Franco yang juga berhasil membangun tempat penampungan bagi pelacur pada 1577 M (Ihsan; 2004:133).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Secara historis, para pelacur berpindah bersama para tentara dan kelompok pekerja ke wilayah-wilayah di mana persediaan wanita sangat terbatas. Di lokasi tersebut para pelacur melakukan pekerjaan-pekerjaan kerumahtanggaan, sekaligus membantu kegiatan seks laki-laki. Beberapa bukti menunjukkan, pada awal-awal berdirinya Amerika Serikat, para pelacur datang dari masyarakat kelas bawah. Namun saat ini, pelacur yang berasal dari kelas menengah maupun dari kelas atas sudah biasa. Sejarah ini menjadi karakteristik zaman Viktoria pada saat perempuan ditempatkan dalam kategori sempit, baik atau buruk, dan pada saat itu kaum laki-laki menggunakan <em>double standard</em> dalam seks akibat terlalu dominannya peran laki-laki. Dalam lingkup kultur yang lain, pelacur berasal dari semua kelas. Di antara mereka bahkan menempati kelas sosial yang relatif tinggi, seperti <em>hetaerae</em> dalam Yunani kuna, <em>devadasis</em> di India, dan <em>geisha</em> di Jepang. Meskipun ada pelacur yang ditempatkan dalam kelas yang demikian, pada umumnya mereka berasal dari kelas bawah (Schafer, S. <em>et al.:</em> 1975:43).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menurut Schafer (1974:43), di Amerika Serikat, pelacuran tidak pernah diterima oleh masyarakat, demikian pula di negara-negara lain. Perlawanan terhadap pelacuran dilakukan secara besar-besaran di AS hingga usai Perang Dunia I, untuk menghindari kekhawatiran wabah sekaligus memprotes perang. Namun perlawanan ini kemudian dioperasi dengan dilakukan penjagaan polisi, meski itu di luar hukum yang berlaku. Pada suatu waktu, saat Wali Kota Chicago dijabat William Hale Thompson, para operator sekitar 2.000 bordil membayar polisi penjaga bordil 100 hingga 750 dolar AS perminggu. Bagaimanapun, dengan meningkatnya penyebaran wabah, investasi di rumah-rumah pelacuran semakin menurun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Selama Perang Dunia II, sekitar 600.000 pelacur bersama jumlah yang sama dari wanita yang siap menjadi pelacur secara <em>part timer</em> diterjunkan. Lalu berapa jumlah pelacur di AS yang sekarang ini beroperasi, tidak diketahui. Bahkan seiring dengan iklim semakin bebasnya hubungan seks, dengan sendirinya kebutuhan pelacur menurun secara tajam. Meskipun para pelacur secara resmi tidak didukung pemerintah, angkatan bersenjata AS diajarkan bagaimana melindungi dan terbebas dari penyakit kelamin. Sebuah studi tentang penyakit kelamin di kalangan tentara AS di Eropa setelah Perang Dunia II menguak, rumah pelacuran yang mendapatkan izin menjadi sumber penyebaran infeksi GI, penyakit kelamin. Laporan lain mencatat bahwa 6% anggota tentara AS yang mengidap infeksi VD, diakibatkan melakukan hubungan seks dengan pelacur profesional, 80% akibat berhubungan dengan pelacur amatir, dan 14% lainnya disebabkan oleh istri-istrinya. Karena berbagai penyakit ini menyebabkan para tentara tidak bisa maju ke medan tempur, para petugas kesehatan ketentaraan AS merekomendasikan melakukan operasi rumah-rumah pelacuran secara kemiliteran sebagai bagian dari sistem operasi <em>Post Exchange</em> (PX) (Schafer, 1974:44).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menurut Truong (1992:147), prostitusi semula merupakan subjek pinggiran. Pelacur bergerak ke daerah pusat politik seksual internasional dengan bangkitnya gerakan menentang rumah-rumah bordil berlisensi dan “perdagangan budak kulit putih”. Pencabangan dari gerakan pemurnian sosial yang lahir di akhir abad XIX di Barat (Inggris, Viktorian, Belanda, Kerajaan Jerman, dan Amerika Serikat), gerakan menentang perbudakan kulit putih diformalkan di tahap global sebagai <em>The International Agreement for the Suppression of the White Slave Traffic</em> (Konvensi Internasional tentang Penghapusan Perdagangan Budak Kulit Putih) pada 1904, serta <em>The International Convention for the Suppression of the White Slave Traffic</em> (Konvensi Internasional tentang Penghapusan Perdagangan Budak Kulit Putih) pada 1910.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Gerakan ini mengerangkai isu pelacuran dalam konteks kejahatan perdagangan, promiskuitas dan ketidakacuhan emosional (Chauvin, 1982). Pada mulanya gerakan tersebut menaruh keprihatinan terhadap para perempuan Barat yang diperdagangkan antara negara-negara Eropa Barat dengan Amerika Serikat, dan dari negara-negara ini ke wilayah-wilayah jajahan. Namun demikian, pengamatan terhadap situasi yang berlangsung di wilayah jajahan secara tak terelakkan mengakibatkan lahirnya toleransi terhadap pelacuran dan rumah bordil berlisensi dalam wilayah jajahan oleh pemerintah kolonial yang sedang mengalami serangan. (Truong; 1992:147-148)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pada bagian lain, Truong mengemukakan, sebuah kajian lintas bentuk-bentuk intervansi negara dalam pelacuran terorganisasi di Asia Tenggara dan wilayah-wilayah lainnya menunjukkan bahwa intervensi negara dalam reproduksi lahir ketika peningkatan mobilitas geografis manusia (urbanisasi, migrasi, militerisasi, perdagangan) mendislokasikan hubungan-hubungan ikatan manusia. Hubungan-hubungan ini digantikan berbagai hubungan baru, yang menciptakan bentuk-bentuk baru hubungan seksual, hasrat dan signifikansi sosial yang diatur oleh hukum pasar. Sebagai hasilnya, keragaman wilayah tercipta melalui mana aspek-aspek sosial dan biologis reproduksi diorganisasikan, dengan berkaitan pada struktur kelas dan kadangkala etnik. Bergantung pada corak rumah tangga, komunitas dan negara, tugas-tugas biologis dapat bersifat integral atau terpisah dari tugas-tugas sosial reproduksi (Truong; 1992:340-341).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam kasus Muangthai, (Truong: 1992:246), ditemukan bahwa di luar gambaran umum turisme, terdapat sejumlah faktor tambahan yang berperan dalam peleburan sistematis pelayanan seksual ke dalam jasa turisme. Ini mencakup karakter hubungan gender yang berakar dalam agama dan struktur kelas serta situasi geo-politik spesifik Asia Tenggara pada periode 1960-an. Penghukuman legal terhadap pelacur hadir hampir-hampir serentak dengan formalisasi legal industri hiburan, akibat kebijakan investasi yang ditujukan untuk menangkap pasar <em>“rest and recreation”</em> semasa konflik Indocina. Dualitas antara pengakuan dan pengingkaran terhadap pelacuran, digandakan dengan kedatangan masif tentara tentara AS, berakibat pada menjamurnya beragam bentuk pelacuran tersamar di dalam industri hiburan. Praktik-praktik <em>ad hoc</em> penyediaan pelacuran perlahan-lahan menjadi sistematis sebagai hasil dari tingginya tingkat akumulasi modal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Basis industri dan pola ketenagakerjaan yang diciptakan semasa periode ini mendapat pukulan hebat ketika tentara AS menarik diri dari Indocina. Lebih jauh lagi, efek turisme <em>Rest and Recreation</em> terhadap anggaran pembelanjaan adalah sangat substansial sehingga ketika pasar ini menyurut, alternatif harus segera ditemukan untuk mempertahankan pengoperasian infrastruktur turisme dalam rangka mengejar pengembalian modal dan keuntunga. (Truong, 1992:346).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kombinasi dari berbagai kepentingan bersama ini mendorong perusahaan-perusahaan untuk meleburkan berbagai pelayanan seksual ke dalam proses produksi yang sangat terorganisasi dengan beragam titik distribusi pada tingkat internasional. Yang paling penting di antaranya adalah tumbuhnya turisme seks kolektif melalui agen penyelenggara tur yang dibeli oleh individu, kelompok, atau perusahaan transnasional sebagai bonus tambahan bagi karyawannya. Ini menunjukkan bahwa terdapat proses berkelanjutan akumulasi modal langsung dalam wilayah reproduksi (pemeliharaan dan pembaharuan kapasitas bekerja manusia) pada skala luas. Dalam kaitan ini, adalah relevan untuk menunjukkan bahwa bentuk paling kental dari jasa reproduksi di bawah hubungan komersial, yakni tur paket seks, mencerminkan sebuah kontradiksi dalam internasionalisasi pembangunan kapitalis. Adalah melalui proses pembangunan kapitalis hubungan-hubungan kekerabatan diberaikan dan selanjutnya jasa-jasa reproduktif difragmentasikan dan dileburkan ke dalam hubungan pasar. Melalui pembangunan kapitalis pula reintegrasi jasa-jasa reproduksi dapat berlangsung sepenuhnya di bawah hubungan pasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">*)) Ditulis oleh :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:33.1pt;text-align:justify;text-indent:-33.1pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Wakhudin. 2006<em>. Proses Terjadinya Degradasi Nilai Moral<span> </span>pada Pelacur dan Solusinya</em> (Thesis). Bandung: Program Studi Pendidikan Umum. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peran Guru sebagai Motivator dalam KTSP]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1625</link>
<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 03:57:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1625</guid>
<description><![CDATA[Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teache]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator.</p>
<p>Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif.<br />
Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: guru) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para siswanya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul. Kendati demikian, dalam praktiknya memang harus diakui bahwa upaya untuk menerapkan teori-teori tersebut atau dengan kata lain untuk dapat menjadi seorang motivator yang hebat bukanlah hal yang sederhana, mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (siswa), baik yang terkait dengan faktor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya.</p>
<p>Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi guru dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa</p>
<p><strong>1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.</strong><br />
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, sebelum proses  pembelajaran dimulai hendaknya guru menjelaskan terlebih dulu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, para siswa pun seyogyanya dapat dilibatkan untuk bersama-sama merumuskan tujuan belajar beserta  cara-cara untuk mencapainya.<br />
<strong> 2. Membangkitkan minat siswa.</strong><br />
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar siswa, diantaranya :</p>
<ul>
<li> Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa. Minat siswa akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian guru perlu enjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan siswa.</li>
<li> Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa. Materi pelaaran yang terlalu sulit untuk dipelajari atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman siswa, akan tidak diminati oleh siswa. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan siswa akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat siswa untuk belajar. Biasanya minat siswa akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar.</li>
<li> Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p><strong> 3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.</strong></p>
<p><strong></strong>Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-sekali dapat melakukan hal-hal yang lucu.</p>
<p><strong>4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa.</strong></p>
<p><strong></strong>Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikanpujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata. Pujian sebagain penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.</p>
<p><strong>5. Berikan penilaian.</strong></p>
<p><strong></strong>Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan  secara objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.</p>
<p><strong>6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa.</strong></p>
<p><strong></strong>Siswa butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah siswa selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.</p>
<p><strong>7. Ciptakan persaingan dan kerja sama.</strong></p>
<p><strong></strong>Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu, guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk siswa yang memang dirasakan tidak mampu untuk bersaing, oleh sebab itu pendekatan cooperative learning dapat dipertimbangkan untuk menciptakan persaingan antarkelompok.</p>
<p>Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar siswa di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan siswa. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.<br />
Sumber:<br />
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teori Belajar Konstruktivisme]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1593</link>
<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 12:11:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1593</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Hamzah*)
A. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme
Salah satu teori atau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Arial;">Oleh: Hamzah<sup>*)</sup></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">A. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget.  Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif.  Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa.  Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.  Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi.  Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran.  Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133).  Pengertian tentang akomodasi<em> </em>yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan.  Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.  Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan <em>skemata</em> yang dimilikinya.  Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental.  Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama.  Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu <em>cluster</em> dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan <em>(equilibration)</em>, proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget<em>,</em> konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik.  Penemuan atau <em>discovery</em> dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62).  Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu<em> </em>atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.  Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3)  peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya.  Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik<em>.</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">B. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa.  Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya.  Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut.  Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna.  Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna.  Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme.  Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.  Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya.  Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain.  Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi<span> </span>yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar<span> </span>tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan<span> </span>dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka.  Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru.  Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">*)    Dr. Hamzah, M.Ed. adalah dosen pada FMIPA Universitas Negeri Makassar</span></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peran Guru sebagai Fasilitator]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1589</link>
<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 07:35:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1589</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Akhmad Sudrajat
Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator semula lebih banyak diterapkan u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Akhmad Sudrajat</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator semula lebih banyak diterapkan untuk kepentingan pendidikan orang dewasa (andragogi), khususnya dalam lingkungan pendidikan non formal. Namun sejalan dengan perubahan makna pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa, belakangan ini di Indonesia istilah fasilitator pun mulai diadopsi dalam lingkungan pendidikan formal di sekolah, yakni berkenaan dengan peran guru pada saat melaksanakan interaksi belajar mengajar. Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi terhadap perubahan pola hubungan guru-siswa, yang semula lebih bersifat “<strong>top-down</strong>” ke hubungan <strong>kemitraan</strong>. Dalam hubungan yang bersifat “top-down”, guru seringkali diposisikan sebagai “atasan”<span> </span>yang<span> </span>cenderung bersifat otoriter, sarat komando, instruksi bergaya birokrat, bahkan pawang, sebagaimana disinyalir oleh Y.B. Mangunwijaya (Sindhunata, 2001). Sementara, siswa<span> </span>lebih diposisikan sebagai “bawahan” yang harus selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki oleh guru.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Berbeda dengan pola hubungan “top-down”, hubungan kemitraan antara guru dengan siswa, guru bertindak sebagai pendamping belajar para siswanya dengan suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan. Oleh karena itu, agar guru dapat<span> </span>menjalankan perannya sebagai fasilitator seyogyanya guru dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar yang dikembangkan dalam pendidikan kemitraan, yaitu bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila:</p>
<ol>
<li>Siswa secara penuh dapat mengambil bagian dalam setiap aktivitas pembelajaran</li>
<li>Apa yang dipelajari bermanfaat dan praktis (<em>usable</em>).</li>
<li>Siswa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuan dan keterampilannya dalam waktu yang cukup.</li>
<li>Pembelajaran dapat mempertimbangkan dan disesuaikan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan daya pikir<span> </span>siswa.</li>
<li>Terbina saling pengertian, baik<span> </span>antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Di samping itu, guru seyogyanya dapat memperhatikan karakteristik-karakteristik siswa yang akan menentukan keberhasilan belajar siswa, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Setiap siswa memiliki pengalaman dan potensi belajar yang berbeda-beda.</li>
<li>Setiap siswa memiliki tendensi untuk menentukan kehidupannnya sendiri.</li>
<li>Siswa lebih memberikan perhatian pada hal-hal menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannnya.</li>
<li>Apabila diminta menilai kemampuan diri sendiri, biasanya<span> </span>cenderung akan menilai lebih rendah dari kemampuan sebenarnya.</li>
<li>Siswa lebih menyenangi hal-hal yang bersifat kongkrit dan praktis.</li>
<li>Siswa lebih suka menerima saran-saran daripada diceramahi.</li>
<li>Siswa lebih menyukai pemberian penghargaan (<em>reward</em>) dari pada hukuman (<em>punishment</em>).</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Selain dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar dan memperhatikan karakteristik individual, juga guru dapat memperhatikan asas-asas pembelajaran sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>Kemitraan</strong>, siswa tidak dianggap sebagai bawahan melainkan diperlakukan sebagai mitra kerjanya</li>
<li><strong>Pengalaman nyata</strong>,<span> </span>materi pembelajaran disesuaikan dengan pengalaman dan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.<strong></strong></li>
<li><strong>Kebersamaan</strong>,<strong> </strong>pembelajaran dilaksanakan melalui kelompok dan kolaboratif.<strong></strong></li>
<li><strong>Partisipasi, </strong>setiap siswa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan sehingga mereka merasa bertanggung jawab atas pelaksanaan keputusan tersebut, sekaligus juga bertanggung atas setiap kegiatan belajar yang dilaksanakannya.<strong></strong></li>
<li><strong>Keswadayaan, </strong>mendorong tumbuhnya swadaya (<em>self supporting</em>) secara optimal atas setiap aktivitas belajar yang dilaksanakannya.<strong></strong></li>
<li><strong>Manfaat, </strong>materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan dapat memberikan manfaat untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa pada masa sekarang mau pun yang akan datang.<strong></strong></li>
<li><strong>Lokalitas, </strong>materi pembelajaran dikemas dalam bentuk yang paling sesuai dengan potensi dan permasalahan di wilayah (lingkungan) tertentu (<em>locally specific</em>), yang mungkin akan berbeda satu tempat dengan tempat lainnya.<strong></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pada bagian lain, Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa untuk mewujudkan dirinya sebagai<span> </span>fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran, dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi para siswanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Terkait dengan sikap dan perilaku guru sebagai fasilitator, di bawah ini dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan guru untuk dapat menjadi <span> </span>seorang fasilitator yang sukses:</p>
<ol>
<li><strong>Mendengarkan dan tidak mendominasi. </strong>Karena siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran, maka sebagai fasilitator guru harus memberi kesempatan agar siswa dapat aktif. Upaya pengalihan peran dari fasilitator kepada siswa bisa dilakukan sedikit demi sedikit.</li>
<li><strong>Bersikap sabar. </strong>Aspek utama pembelajaran adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Jika guru kurang sabar melihat proses yang kurang lancar lalu mengambil alih proses itu, maka hal ini sama dengan guru telah merampas kesempatan belajar siswa.</li>
<li><strong>Menghargai dan rendah hati. </strong>Guru berupaya menghargai siswa dengan menunjukan minat yang sungguh-sungguh pada pengetahuan dan pengalaman mereka<strong></strong></li>
<li><strong>Mau belajar</strong>. Seorang guru tidak akan dapat bekerja sama dengan siswa apabila dia <span> </span>tidak ingin memahami atau belajar tentang mereka<strong>. </strong></li>
<li><strong>Bersikap sederajat. </strong>Guru perlu mengembangkan sikap kesederajatan agar bisa diterima sebagai teman atau mitra kerja oleh siswanya</li>
<li><strong>Bersikap akrab dan melebur. </strong>Hubungan dengan siswa sebaiknya dilakukan dalam suasana akrab, santai, bersifat dari hati ke hati (<em>interpersonal realtionship</em>), sehingga siswa tidak merasa kaku dan sungkan dalam berhubungan dengan guru.<span> </span></li>
<li><strong>Tidak berusaha menceramahi. </strong>Siswa memiliki pengalaman, pendirian, dan<span> </span>keyakinan tersendiri. Oleh karena itu, guru tidak perlu menunjukkan diri <span> </span>sebagai orang<span> </span>yang serba tahu, tetapi berusaha<span> </span>untuk saling berbagai pengalaman dengan siswanya, sehingga diperoleh pemahaman yang kaya diantara keduanya.</li>
<li><strong>Berwibawa. </strong>Meskipun pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang akrab dan santai, seorang fasilitator sebaiknya tetap dapat menunjukan kesungguhan di dalam bekerja dengan siswanya, sehingga siswa akan tetap menghargainya.<strong></strong></li>
<li><strong>Tidak memihak dan mengkritik. </strong>Di tengah kelompok siswa seringkali terjadi pertentangan pendapat. Dalam hal ini, diupayakan guru bersikap netral dan berusaha memfasilitasi komunikasi di antara pihak-pihak yang berbeda pendapat, untuk mencari kesepakatan dan jalan keluarnya.<strong></strong></li>
<li><strong>Bersikap terbuka. </strong>Biasanya siswa akan lebih terbuka apabila telah tumbuh kepercayaan kepada guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, guru juga jangan segan untuk berterus terang bila merasa kurang mengetahui sesuatu, agar siswa memahami bahwa semua orang selalu masih perlu belajar</li>
<li><strong>Bersikap positif. </strong>Guru mengajak siswa untuk mamahami keadaan dirinya dengan menonjolkan potensi-potensi yang ada, bukan sebaliknya mengeluhkan keburukan-keburukannya. Perlu diingat, potensi terbesar setiap siswa adalah kemauan dari manusianya sendiri untuk merubah keadaan<strong></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Sumber:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22pt;text-indent:-22pt;">Sindhunata. 2001. <em>Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman</em>, Yogyakarta : Kanisius</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22pt;text-indent:-22pt;">Wina Senjaya. 2008. <em>Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan</em>. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22pt;text-indent:-22pt;">Proyek P2MPD. 2000. <em>Fasilitator dalam Pendidikan Kemitraan</em> (Materi IV-4-1). Jakarta.</p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;line-height:normal;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[5 Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1587</link>
<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 07:28:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1587</guid>
<description><![CDATA[Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli,<span> </span>Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>2. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan seharihari, dan juga penerapan konsep.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif,</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>4. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>5. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber:</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-style:normal;">Ari Widodo. (tt).</span> Konstruktivisme dan Pembelajaran Sains<span style="font-style:normal;"> (Makalah)</span></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22pt;text-indent:-22pt;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kumpulan Makalah dan Artikel tentang Pendidikan]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1582</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 11:38:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1582</guid>
<description><![CDATA[Selamat Datang di Let’s Talk About Education!
Dalam situs ini disajikan berbagai tulisan tentang o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:red;">Selamat Datang di</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;font-weight:normal;font-family:Arial;color:#00ccff;"> <a href="../kumpulan-makalah-2/"><strong>Let’s Talk About Education!</strong></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam situs ini disajikan berbagai tulisan tentang opini, issue, trend, dan teori seputar <strong>Bimbingan dan Konseling</strong>,<strong> Psikologi Pendidikan, Kurikulum dan Pembelajaran, Manajemen Pendidikan, dan Filsafat-Sosial Budaya</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Materi dikemas dalam bentuk artikel dan tayangan slide. Sebagian merupakan hasil karya penulis sendiri dan sebagian lagi masih “meminjam“ pemikiran pihak lain, yang menurut hemat penulis sangat layak untuk dipublikasikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Anda bisa mengakses atau men-<em>download</em> seluruh materi/topik yang tersedia, dengan cara meng-klik tautan yang tersedia dalam side bar sebelah kanan halaman ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apabila Anda hendak menggunakannya untuk kepentingan karya tulis atau re-posting dalam Blog/Situs Anda, seyogyanya Anda dapat mencantumkam sumbernya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain itu, penulis berharap pula kiranya Anda berkenan untuk memberikan masukan, komentar dan diskusi atas setiap tulisan yang ada, untuk dijadikan sebagai bahan refleksi dan inspirasi bagi penulisan berikutnya sekaligus demi keberlangsungan situs pribadi ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terima kasih atas kunjungan dan segala masukan, komentar dan diskusi yang telah Anda sampaikan. Semoga bermanfaat!</p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembelajaran Pengayaan dalam KTSP]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1573</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 09:50:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1573</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Depdiknas
Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Depdiknas</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Untuk mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut tidak jarang dijumpai adanya peserta didik yang memerlukan tantangan berlebih untuk mengoptimalkan perkembangan prakarsa, kreativitas, partisipasi, kemandirian, minat, bakat, keterampilan fisik, dsb. Untuk mengantisipasi<span> </span>potensi lebih yang dimiliki peserta didik tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program pembelajaran pengayaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>A. Hakikat Pembelajaran Pengayaan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat<span> </span>melakukannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan<span> </span>kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru<span> </span>bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>B. Jenis Pembelajaran Pengayaan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:</p>
<ol>
<li>Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.</li>
<li>Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.</li>
<li>Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. Pemecahan masalah ditandai dengan: (a) identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan; (b) penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan; (c) penggunaan berbagai sumber; (d) pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan; (e) analisis data; dan<span> </span>(f) penyimpulan hasil investigasi.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan khusus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>C. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu (1) mengidentifikasi kelebihan kemampuan<span> </span>peserta didik, dan (2) memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>1. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>a. Tujuan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:</p>
<ol>
<li>Belajar lebih cepat. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.</li>
<li>Menyimpan informasi lebih mudah Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.</li>
<li>Keingintahuan yang tinggi. Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.</li>
<li>Berpikir mandiri. Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.</li>
<li>Superior dalam berpikir abstrak. Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.</li>
<li>Memiliki banyak minat. Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>b. Teknik</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb.</p>
<ol>
<li>Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.</li>
<li>Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.</li>
<li>Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.</li>
<li>Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.<span> </span><span> </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>2. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:</p>
<ol>
<li>Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.</li>
<li>Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.</li>
<li>Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.</li>
<li>Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Perlu diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran,<span> </span>kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Adaptasi dan disarikan dari :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Depdiknas. 2008.<span> </span><em>Sistem Penilaian KTSP: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pengayaan.</em></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengembangan Indikator dalam KTSP]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1570</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 09:44:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1570</guid>
<description><![CDATA[A. Pengertian
Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Pengertian</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan: (1) tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD; (2) karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah; dan (3) potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu: (1) indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan (2) indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikoator soal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>B. Fungsi Indikator</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan SK-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>1. Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pengembangan materi pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>2. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Desain pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal. Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat dengan strategi discovery-inquiry.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>3. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahan ajar perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>4. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>C. Manfaat Indikator Penilaian</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator Penilaian bermanfaat bagi : (1) guru dalam mengembangkan kisi-kisi penilaian yang dilakukan melalui tes (tes tertulis seperti ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester, tes praktik, dan/atau tes perbuatan) maupun non-tes; (2) peserta didik dalam mempersiapkan diri mengikuti penilaian tes maupun non-tes. Dengan demikian siswa dapat melakukan self assessment untuk mengukur kemampuan diri sebelum mengikuti penilaian sesungguhnya; (3) pimpinan sekolah dalam memantau dan mengevaluasi keterlaksanaan pembelajaran dan penilaian di kelas; dan (4) orang tua dan masyarakat dalam upaya mendorong pencapaian kompetensi siswa lebih maksimal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>D. Mekanisme Pengembangan Indikator</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>1. Menganalisis Tingkat Kompetensi dalam SK dan KD.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam SK dan KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan. Klasifikasi tingkat kompetensi berdasarkan kata kerja yang digunakan disajikan dalam tautan ini [<strong><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/files/2008/08/tabel-tingkat-kompetensi-kata-kerja-operasional.pdf">Tingkat Kompetensi Kata Kerja Operasional]</a></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain tingkat kompetensi, penggunaan kata kerja menunjukan penekanan aspek yang diinginkan, mencakup sikap, pengetahuan, serta keterampilan. Pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi sesuai tendensi yang digunakan SK dan KD. Jika aspek keterampilan lebih menonjol, maka indikator yang dirumuskan harus mencapai kemampuan keterampilan yang diinginkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Klasifikasi kata kerja berdasarkan aspek kognitif, Afektif dan Psikomotorik disajikan dalam tautan ini [<strong><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/files/2008/08/kata-kerja-ranah-kognitif-afektif-dan-psikomotor.pdf">Kata Kerja Ranah Kognitif,<span> </span>Afektif dan Psikomotor]</a></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>2. Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian. Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<table class="MsoNormalTable" style="border:medium none;margin-left:23.4pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height:28.65pt;">
<td style="width:124.05pt;height:28.65pt;padding:0 5.4pt;" width="165">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kelompok Mata Pelajaran</p>
</td>
<td style="width:110.95pt;height:28.65pt;padding:0 5.4pt;" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mata Pelajaran</p>
</td>
<td style="width:137.5pt;height:28.65pt;padding:0 5.4pt;" width="183">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aspek yang Dinilai</p>
</td>
</tr>
<tr style="height:17.95pt;">
<td style="width:124.05pt;height:17.95pt;padding:0 5.4pt;" width="165">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Agama dan Akhlak Mulia</p>
</td>
<td style="width:110.95pt;height:17.95pt;padding:0 5.4pt;" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pendidikan Agama</p>
</td>
<td style="width:137.5pt;height:17.95pt;padding:0 5.4pt;" width="183">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Afektif dan Kognitif</p>
</td>
</tr>
<tr style="height:25.35pt;">
<td style="width:124.05pt;height:25.35pt;padding:0 5.4pt;" width="165">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kewarganegaraan dan Kepribadian</p>
</td>
<td style="width:110.95pt;height:25.35pt;padding:0 5.4pt;" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pendidikan Kewarganegaraan</p>
</td>
<td style="width:137.5pt;height:25.35pt;padding:0 5.4pt;" width="183">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Afektif dan Kognitif</p>
</td>
</tr>
<tr style="height:27.15pt;">
<td style="width:124.05pt;height:27.15pt;padding:0 5.4pt;" width="165">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jasmani Olahraga dan Kesehatan</p>
</td>
<td style="width:110.95pt;height:27.15pt;padding:0 5.4pt;" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penjas Orkes</p>
</td>
<td style="width:137.5pt;height:27.15pt;padding:0 5.4pt;" width="183">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Psikomotorik, Afektif, dan   Kognitif</p>
</td>
</tr>
<tr style="height:26.15pt;">
<td style="width:124.05pt;height:26.15pt;padding:0 5.4pt;" width="165">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Estetika</p>
</td>
<td style="width:110.95pt;height:26.15pt;padding:0 5.4pt;" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Seni Budaya</p>
</td>
<td style="width:137.5pt;height:26.15pt;padding:0 5.4pt;" width="183">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Afektif dan Psikomotorik</p>
</td>
</tr>
<tr style="height:44.5pt;">
<td style="width:124.05pt;height:44.5pt;padding:0 5.4pt;" width="165">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ilmu Pengetahuan dan Teknologi</p>
</td>
<td style="width:110.95pt;height:44.5pt;padding:0 5.4pt;" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Matematika, IPA, IPS</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahasa, dan TIK.</p>
</td>
<td style="width:137.5pt;height:44.5pt;padding:0 5.4pt;" width="183">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Afektif, Kognitif,<span> </span>dan/atau Psikomotorik sesuai karakter mata   pelajaran</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dari mata pelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran bahasa yang terdiri dari aspek mendengar, membaca, berbicara dan menulis sangat berbeda dengan mata pelajaran matematika yang dominan pada aspek analisis logis. Guru harus melakukan kajian mendalam mengenai karakteristik mata pelajaran sebagai acuan mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi mengenai tujuan, ruang lingkup dan SK serta KD masing-masing mata pelajaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik yang unik dan beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar. Oleh karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman tersebut. Peserta didik dengan karakteristik unik visual-verbal atau psiko-kinestetik selayaknya diakomodir dengan penilaian yang sesuai sehingga kompetensi siswa dapat terukur secara proporsional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karakteristik sekolah dan daerah menjadi acuan dalam pengembangan indikator karena target pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi standar minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi. Termasuk sekolah bertaraf internasional dapat mengembangkan indikator dari SK dan KD dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar internasional yang digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi pertimbangan dalam mengembangkan indikator.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>3. Menganalisis Kebutuhan dan Potensi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator juga harus dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>4.<span> </span>Merumuskan Indikator</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator</li>
<li>Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.</li>
<li>Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.</li>
<li>Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.</li>
<li>Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.</li>
<li>Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>5. Mengembangkan Indikator Penilaian</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adaptasi dan disarikan dar: Depdiknas. 2008. <em>Panduan Pengembangan Indikator</em></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penilaian Psikomotorik]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1568</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 09:34:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1568</guid>
<description><![CDATA[Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaska]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:TrebuchetMS;">Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa kompetensi lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ini berarti bahwa pembelajaran dan penilaian harus mengembangkan kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan ranah afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:TrebuchetMS;">Pada umumnya penilaian yang dilakukan oleh pendidik lebih menekankan pada penilaian ranah kognitif. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena pendidik kurang memahami penilaian ranah afektif dan psikomotor. Oleh karena itu Depdiknas telah mengembangkan pedoman pengembangan penilaian ranah psikomotor. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh panduan tersebut, Anda dapat <span> </span>meng-klik tautan di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/files/2008/08/penilaian-psikomotor.pdf"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:TrebuchetMS;">Penilaian Psikomotor (Depdiknas)&#62;&#62;&#62; Klik Disini!</span></strong></a></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penilaian Ranah Afektif]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1566</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 09:32:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1566</guid>
<description><![CDATA[Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:TrebuchetMS;">Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:TrebuchetMS;">Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. Keberhasilan pendidik melaksanakan pembelajaran ranah afektif dan keberhasilan peserta didik mencapai kompetensi afektif perlu dinilai. Untuk itulah Depdiknas telah mengembangkan pedoman pengembangan penilaian ranah afektif. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh panduan tersebut, Anda dapat <span> </span>meng-klik tautan di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/files/2008/08/penilaian-afektif.pdf"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:TrebuchetMS;">Penilaian Afektif (Depdiknas)&#62;&#62;&#62; Klik Disini!</span></strong></a></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengertian, Fungsi, dan Mekanisme Penetapan  Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1562</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 09:26:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1562</guid>
<description><![CDATA[Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam<span> </span>menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan<span> </span>peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang seluk beluk tentang <strong>Kriteria Ketuntasan Minimal</strong> ini, Anda dapat <span> </span>meng-klik tautan di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/files/2008/08/penetapan-kkm.pdf">Penetapan KKM (Depdiknas) &#62;&#62;&#62; Klik Disini!</a></span></strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Daftar Isi Makalah dan Artikel yang Tersedia dalam Situs ini:</strong></p>
<ul>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/bimbingan-dan-konseling/">Kumpulan Makalah dan Artikel Bimbingan dan Konseling</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/psikologi-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Psikologi Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/manajemen-pendidikan/">Kumpulan Makalah dan Artikel Manajemen Pendidikan</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/kurbel/">Kumpulan Makalah dan Artikel Kurikulum dan Pembelajaran</a></li>
<li><a href="../kumpulan-makalah-2/filsafat/">Kumpulan Makalah dan Artikel Filsafat dan Sosial-Budaya</a></li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;color:#00ccff;">=====================================</span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peranan Kepala Sekolah, Guru dan Wali Kelas dalam Bimbingan dan Konseling]]></title>
<link>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1550</link>
<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 11:47:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>AKHMAD SUDRAJAT</dc:creator>
<guid>http://akhmadsudrajat.wordpress.com/?p=1550</guid>
<description><![CDATA[Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, tidak lepas dari peranan berbagai p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;">Keberhasilan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah, tidak lepas dari peranan berbagai pihak di sekolah. Selain Guru Pembimbing atau Konselor sebagai pelaksana utama, penyelenggaraan<span> </span>Bimbingan dan konseling di sekolah, juga perlu melibatkan kepala sekolah, guru mata pelajaran dan wali kelas.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;text-indent:0;"><strong><span style="font-family:Arial;">A. Peran Kepala Sekolah</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span style="font-family:Arial;">Kepala sekolah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah memegang peranan strategis dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Secara garis besarnya, Prayitno (2004) memerinci <span> </span>peran, tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam bimbingan dan konseling, sebagai berikut :</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Arial;">Mengkoordinir segenap kegiatan yang diprogramkan dan<span> </span>berlangsung di sekolah, sehingga pelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis, dan dinamis.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Menyediakan prasarana, tenaga, dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tidak lanjut pelayanan bimbingan dan konseling.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Memfasilitasi guru pembimbing/konselor untuk dapat mengembangkan kemampuan profesionalnya, melalui berbagai kegiatan pengembangan profesi.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Menyediakan fasilitas, kesempatan, dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Bidang BK.</span></li>
</ul>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;text-indent:0;"><strong><span style="font-family:Arial;">B. Peran Guru Mata Pelajaran</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span style="font-family:Arial;">Di sekolah,<span> </span>tugas dan tanggung jawab utama guru adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran siswa. Kendati demikian, bukan berarti dia sama sekali lepas dengan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Peran dan konstribusi guru mata pelajaran tetap sangat diharapkan guna kepentingan efektivitas dan efisien pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Bahkan dalam batas-batas tertentu guru pun dapat bertindak sebagai konselor bagi siswanya. Wina Senjaya (2006) menyebutkan salah satu peran yang dijalankan oleh guru yaitu sebagai pembimbing dan untuk menjadi pembimbing baik guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang<span> </span>dibimbingnya.<span> </span><span> </span>Sementara itu, berkenaan peran guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling, Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan bahwa guru-guru mata pelajaran dalam melakukan pendekatan kepada siswa harus manusiawi-religius, bersahabat, ramah, mendorong, konkret, jujur dan asli, memahami dan menghargai tanpa syarat. Prayitno (2003) memerinci peran, tugas<span> </span>dan tanggung jawab guru-guru mata pelajaran dalam bimbingan dan konseling adalah :</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Arial;">Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Membantu guru pembimbing/konselor mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling, serta pengumpulan data tentang siswa-siswa tersebut.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Mengalihtangankan siswa yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing/konselor</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Menerima siswa alih tangan dari guru pembimbing/konselor, yaitu siswa yang menuntut guru pembimbing/konselor memerlukan pelayanan pengajar /latihan khusus (seperti pengajaran/ latihan perbaikan, program pengayaan).</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru-siswa dan hubungan siswa-siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan pembimbingan dan konseling.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Memberikan kesempatan<span> </span>dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti /menjalani layanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa, seperti konferensi kasus.</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian pelayanan bimbingan dan konseling serta upaya tindak lanjutnya.</span></li>
</ul>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;text-indent:0;"><strong><span style="font-family:Arial;">C. Peran Wali Kelas</span></strong></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Arial;">Sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling, Wali Kelas berperan :</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Membantu guru pembimbing/konselor melaksanakan tugas-tugasnya, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya;</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya;</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa, khususnya dikelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk mengikuti/menjalani layanan dan/atau kegiatan bimbingan<span> </span>dan konseling;</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling, seperti konferensi kasus; dan</span></li>
<li><span style="font-family:Arial;">Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing/konselor.</span></li>
</ul>
<p class="MsoTitle" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sumber:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;font-family:Arial;">Abin Syamsuddin Makmun. 2003. <em>Psikologi Pendidikan</em>. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;font-family:Arial;">Prayitno, dkk. 2004. <em>Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling</em>