<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>akhlak-mulia &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/akhlak-mulia/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "akhlak-mulia"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 22:17:31 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Zakat Fitrah, Membesarkan Asma Allah]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/?p=54</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 05:01:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/?p=54</guid>
<description><![CDATA[ 
Zakat  Fithrah
 
Oleh : H Mas’oed Abidin
 
Sasaran akhir puasa Ramadhan adalah la’allakum ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"> </span></h1>
<h1 style="text-align:center;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">Zakat<span>  </span>Fithrah</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Oleh : H Mas’oed Abidin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:36pt;font-family:&#34;">S</span></strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">asaran akhir puasa Ramadhan adalah la’allakum tasykurun, artinya supaya kamu bersyukur.</span><a name="_ftnref1" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:small;"> Tidak sempurna kehidupan bermasyarakat bila kegembiraan rasa syukur ini tidak di iringi dengan peduli kepada orang sekeliling, terutama kepada yang belum bernasib baik, <span>fuqarak wal masakin</span>.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span>            </span>Pembuktiannya adalah dengan mengeluarkan zakat fithrah bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya. Satu bimbingan Islam dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&#34;"><span>            </span></span><span style="font-family:&#34;">Zakat Fithrah, kewajibannya fardhu’ain bagi setiap Muslim. Apabila dia telah memasuki bulan Ramadhan dan memasuki Idul Fithri. Tidak peduli, apakah dirinya sudah akil baligh ataupun belum, berbadan besar ataupun kecil, berkeadaan sanggup ataupun tidak. Sebab seyoyanya dihari itu tidak ada yang mengatakan tidak sanggup. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dibayarkan sebelum <em>salat</em> Idul Fithri. Bila dibayarkan sesudah Idul Fithri, nilainya sama seperti sedekah biasa. Boleh dibayarkan sejak awal Ramadhan. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sebaiknya dengan makanan yang kita makan. Boleh dihitung dengan nilai uang sebesar harga makanan yang dikeluarkan (3 sha’, atau 5,5 kg = sepuluh tekong beras). </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dibayarkan kepada fuqarak wal masakin. Tidak terbatas jumlah boleh menerima.<span>  </span>Sesuai bimbingan Rasulullah <em>SAW,</em> <span>aghnuhum ‘anis-suaal fii hadzal yauma, artinya</span><em> kayakanlah mereka (orang-orang tak berpunya) itu dari masalah minta-meminta pada hari lebaran ini.</em></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&#34;"><span>            </span></span></em><span style="font-family:&#34;">Bila tidak dibayar, puasanya tergantung antara bumi dan langit </span></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">(al Hadist)</span></strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&#34;">Hakikatnya, “</span><em><span style="font-family:&#34;">zakat fithrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang tercela dan dari dosa, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin</span></em><span style="font-family:&#34;">” </span></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">(HR.Abu Daud).</span></strong><span style="font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span>            </span>Perintah agama sangat tegas. Kayakan mereka orang fakir miskin yang tidak sanggup itu, pada hari lebaran idul fithri ini. Bebaskan mereka dari bertawaf, berkeliling meminta-minta dihari besar yang mulai ini. Demikian inti ajaran Islam. Maksudnya supaya satu sama lain saling ringan meringankan. Berat sepikul ringan sejinjing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dihari lebaran terbuka pintu pendapatan insidentil dari setiap orang fuqarak dan masakin. Jangan mereka dihina dan dihardik. Semestinya setiap orang yang berpunya merasa malu dihadapan Allah, bila dikelilingnya berserak orang-orang miskin. Secara alamiah kondisi menjamurnya kemiskinan adalah penggambaran nyata dari kondisi kekayaan orang berada yang<span>  </span>tidak banyak bermanfaat dalam mengurangi jumlah orang miskin dikelilingnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Setiap diri yang berpunya, semestinya sanggup menyalahkan diri sendiri apabila banyak orang miskin disekililingnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mungkin sekali sebahagiannya disebabkan karena yang kaya kurang peduli, dan enggan berzakat secara terarah. Atau karena haknya dirampas dengan prilaku tak terpuji, seperti korupsi, manipulasi, dan sebagainya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pada sehari lebaran Idul Fithri diperintahkan mengeluarkan zakat fithrah untuk tu’matan lil masakin, atau memberi makan orang miskin. Selanjutnya, orang miskin yang dikayakan dihari itu mampu membantu diri dan keluarganya, mampu pula melaksanakan ajaran agamanya secara teguh dan bertanggung jawab. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Zakat fithrah tidak dimaksudkan penumpukan modal oleh lembaga keuangan tetapi bias menjadi sumber modal langsung bagi simiskin yang telah menerimanya tanpa ikatan suatu akad perjanjian. Maka yang diperlukan adalah kesadaran tinggi fuqarak wal masakin itu, agar disamping keperluan konsumptif lebaran, maka dapat dijadikan modal milik sendiri yang akan dikembangkan sebagai penupang peningkatan ekonomi keluarga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dengan kekayaan yang diterima oleh fakir dan miskin, mereka bisa berbelanja. Bisa membeli makanan dan minuman. Bisa membesarkan hari besar jamuan Allah. Mereka bisa pula membayarkan zakat fithrahnya sendiri. Dan pada hari ini semestinya secara ideal, tidak ada lagi orang fakir dan miskin, walaupun hanya dalam bilangan sehari. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pada hari lebaran itu, tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa dirinya berada diatas, dan orang lain yang tidak berpunya (fuqarak wal masakin) menjadi orang dibawah, atau golongan have not any, dan tidak diperhitungkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Bila pada masa-masa yang panjang, yang bisa berzakat hanya si kaya, tetapi di hari Idul Fithri, yang miskin dan faqir juga ikut berzakat, dari pendapatan zakat yang mereka terima. Ini suatu gambaran masyarakat yang memiliki kekuatan ampuh, atau khaira ummah itu. Mudah-mudahan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"><span style="font-size:small;">Membantu<span>  </span>Ummat<span>  </span>Yang<span>  </span>Lemah</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Perangai taqwa dan syukur merupakan satu hal yang tidak terpisah. Saling mengokohkan, ibarat aur dengan tebing. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Taqwa selalu subur dengan syukur. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Syukur akan senantiasa berbuah karena taqwa. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nikmat yang sejati hanya ada pada diri yang selalu bertaqwa dan bersyukur itu. Nikmat seperti itu merupakan kebahagiaan hakiki, yang sanggup dirasakan sepanjang hari, dan menjadi dambaan Mukmin sejati. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Bagaimana mungkin kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat anugerah Allah, pada hari seperti sekarang ini ??</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Akankah kita dapat merasakan nikmatnya bahagia, bila disaat-saat kita semua bergembira ria, kalau disamping kita ada orang yang menangis tersedu-sedu? Sedu sedannya, seakan jeritan tanpa suara.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Padahal, mereka sedang menangis, memikirkan dan merasakan kehampaan hidup, karena tidak berpunya dan tidak punya apa-apa, kecuali<span>  </span>nyawa berbungkus kulit …?</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Akan sirnalah semua kebahagiaan pada hari ini, jika masih ada di keliling kita orang<em> yang</em> <em>dengan nasib dan takdir yang ada padanya</em>, masih menengadahkan tangan mengharap sesuap nasi, untuk dimakan anak beranak, atau karena melihat anak-anak orang lain bergembira berpakaian baru…. Alangkah malangnya nasib badan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Padahal sebenarnya. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan, belum berkemampuan untuk menggantinya, walau agak sepotong. Karena tidak ada sumber pendapatan, hilangnya lowongan pekerjaan, tak ada pula yang mau berbelas kasih. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:&#34;">Membiarkan kondisi ini, dan menganggapnya suatu hal biasa, agaknya kita akan digolongkan kepada orang-orang yang disebut-sebut, </span><em><span style="font-family:&#34;">Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?</span></em><span style="font-family:&#34;"><span>  </span>Na’dzu billah .., Kita dianggap sebagai pendusta kebenaran agama, walau masih menyatakan diri pemeluk agama, tetapi sebenarnya sudah jauh tercampak dari ajaran agama.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Itulah orang yang menghardik anak yatim, yang menyia-nyiakan hak anak yatim. Yang tidak peduli dengan pembinaan generasi. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Yang melecehkan ratapan para dhu’afak. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Yang tidak membantu mengatasi problema kemiskinan. Akan tetapi naifnya, malah selalu berupaya mengintip-intip kesempatan …… mencari kaya dengan memiskinkan orang lain …berladang dipunggung orang<span>  </span>dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. </span><a name="_ftnref2" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[2]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:&#34;">Bahagia Dalam Memberi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran seperti kita rasakan saat ini. Dipagi hari dikala Rasulullah <em>SAW</em> masih hidup, beliau keluar menuju tempat <em>salat</em> ibadah ‘Idul Fithri. Beliau lihat, seorang bocah termenung menyendiri. Dengan tatapan mata menerawang, dan disampingnya ada teman sebaya bergembira ria, berpakaian baru pembelian ayah. Ditangan temannya ada penganan enak buatan ibu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dari jauh si bocah hanya bisa melihat, sambil menikmatinya dengan bermenung. Alangkah indahnya kegembiraan teman sebaya. Ditemani gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri, jauh berbeda. Dikala itu terasa badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta.<span>  </span>Kemana gerangan dicari ibu tempat mengadu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dalam situasi seperti itu, Rasulullah <em>SAW</em> lewat menghampiri. Meletakkan kedua telapak tangan Beliau dikepala si bocah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sambil bertanya Rasul berkata, “<em>Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa, dikau merana sedih menangis, gerangan apakah<span>  </span>yang menyulitkan ?</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Andaikan ada pemimpin zaman sekarang, yang menolehkan pandang kepada silemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini ?.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan kekanakan sibocah lugu menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria, pulang kerumah ada sanak saudara, lelah bermain ada ibu menghibur, duka dihati ada ayah yang menyahuti. </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><em><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sedang diriku wahai Nabi, terasa nian malangnya hidup ini, tiada ibu tempat mengadu, ayahpun sudahlah pergi, badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini……..,”</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih, yang mengharap belas kasih dengan tulus seketika, Rasulullah <em>SAW</em> berkata, “…maukah engkau wahai anak, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Andaikan ada masa kini, pintu rumah terbuka bagi silemah, lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak, tentulah merata bahagia ditengah bangsa ini. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Jawaban spontan Nabi, menjadikan wajah si bocah berseri-seri, walau yang didengar barulah ajakan, tetapi harapan hidup sudah terbuka. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Diri tidak sendiri lagi. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Ada pelindung pengganti bunda. Walaupun ibu dan ayah sudah tiada. Serta merta Nabi memangku si bocah. Mencium kedua pipi sianak yang sudah lama …,<span>  </span>tidak pernah lagi dirasakannya. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Sirnalah air mata yang tadinya terurai lantaran sedih dan hampa. Berganti air mata gembira lantaran bahagia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Demikianlah satu bukti sangat substansil dari sabda Nabi <em>SAW</em> disampaikan Beliau pada <em>Kotbah</em> Wada’ itu, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini <em>(lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)”</em></span></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&#34;"> <strong>(HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).</strong></span><span style="color:black;font-family:&#34;"></span></p>
<h2 style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">Membangun Jembatan Rasa</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Membangun mawaddah fil qurba, mestilah bersih dari kedurhakaan dan kemunafikan. Jembatan rasa akan kokoh kuat, bila di ikat oleh hati dan jiwa dalam kemasan kalimat tauhid.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kesatuan hati dan hati menjadi sumber kekuatan yang ampuh dalam <em>ukhuwah</em> yang integrative. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kita tidak dapat membayangkan betapa rusaknya masyarakat yang berlabel <em>ukhuwah</em> tetapi hati mereka tidak mau bertemu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mempertemukan hati dengan hati hanya mungkin dengan kekuatan tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kekuatan kalimah tauhid, atau kalimatun thayyibah, dapat membentengi ummat dan mampu menjadi kekuatan dalam membina persaudaraan atas dasar <em>ukhuwah</em> imaniyah. Kalimah tauhid adalah seumpama pohon yang kokoh kuat dengan urat menghunjam bumi dan pucuk melembai awan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&#34;">Bentuk kerukunan ummat bertauhid digambarkan oleh Allah SWT..”</span><em><span style="font-family:&#34;">Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat</span></em><span style="font-family:&#34;">”</span></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> (QS.14, Ibrahim : 24-25).</span></strong><span style="font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Disaat yang mulia, dihari jamuan Allah ini, kita besarkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, yang telah menganugerahi kita nikmatNya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&#34;">Supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan<span>  </span>ummat yang lupa diri.</span><em><span style="font-family:&#34;">”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.</span></em></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> (QS.59, Al Hasyr :19).</span></strong><span style="font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Mudah-mudahan pada hari ini, kita semua dapat menciptakan suasana gembira dengan kesederhanaan, serta dapat pula menciptakan kebahagian disekitar lingkungan kita.<span>  </span></span></p>
<h4 style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">‘Izzatun-nafs, Martabat Bangsa</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Ikhlas memberi mampu mengubah sedih menjadi gembira, sanggup mengubah duka menjadi bahagia. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nabi Muhammad <em>SAW</em>. menyebutkan, “<em>Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga</em>” </span></span><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&#34;">(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16).</span></strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&#34;"><span>   </span></span><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hari ini berapa banyak jumlah anak yang bernasib serupa dikeliling kita. Mereka lemah miskin, karena telah dimiskinkan oleh suasana. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Diperlukan saling peduli (ta’awun), yang menjadi alas-dasar pembentukan masyarakat berkualitas, sebagai telah digambarkan dalam salah satu semboyan Nabi <em>SAW</em> “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Meujudkan masyarakat bertangan diatas, dimulai dengan menanam keyakinan akan rahmat Allah sebagai masyarakat berpunya, yang memiliki ‘izzah (harga diri), tidak menggantung nasib kepada keinginan orang lain. <span>         </span>Harkat martabat bangsa amat ditentukan oleh kemandirian, self help bersikap kaya jiwa <em>(ghinan-nafs)</em> yang mampu berdiri dikaki sendiri. Bersedia membuka pintu hati mengulurkan tangan kepada orang lain dalam rangkaian mutual help<span>  </span><em>(man a’thaa wat-taqaa) </em>dan selfless-help<em> (wa shaddaqa bil husnaa)</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sikap budaya dalam adat di Ranah Minang, singkek uleh ma uleh, kok kurang tukuak manukuak. Senyatanya, inilah sebahagian modal dasar daerah kita dalam menghadapi UU Otoda No.22 dan 25/1999. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Satu pelajaran paling berharga, yang dapat kita ambil dari Sunnah Rasulullah <em>SAW</em> “<em>Orang yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling disukai Allah adalah yang menyenangkan sesama orang Muslim (artinya janganlah ditaburkan kemaksiatan yang mengundang lahirnya bencana). Kamu hilangkanlah susahnya. Kamu lunasilah hutangnya. Kamu usirlah laparnya.<span>  </span>Dan Aku, Muhammad SAW, lebih senang bersama saudaraku dalam satu keperluan yang diatasi secara bersama, daripada beri’tikaf dimasjidku ini, yakni Masjid Nabawi di Madinah, selama sebulan penuh</em>”.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Pesan Nabi <em>SAW</em> juga menegaskan, <em>“Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih. Berilah makanan kepada orang yang lapar. Sebarkanlah salam kepada sesama manusia. Kalian akan masuk sorga dengan selamat”</em> </span><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&#34;">(HR. Tirmidzi (1856), Ahmad (6587, Al Musnad) dan Bukhari (981, Al Adab al-Mufrad)</span></strong><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;"></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Mari kita tumbuhkan kebahagiaan dalam memberi sebagai satu sikap jiwa (mental attitude) yang berguna mengubah dan memberi kecerahan dalam hidup. </span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:18pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">Membesarkan </span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:20pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">Asma Allah</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:36pt;color:black;font-family:&#34;">B</span></strong><em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">erbahagialah kiranya kita pada hari ini</span></em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">, dalam merayakan suatu kemenangan. Kemenangan dari satu perjuangan besar. Mengendalikan diri dan nafsu sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kemenangan dalam merebut taqwa. “</span><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”, </span><strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&#34;">(QS.2, Al Baqarah : 183)</span></strong><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&#34;"></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Bersyukurlah kita kepada Allah Yang Maha Esa</span></em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">, yang mengaruniai kita sekalian dihari raya ini, suatu nikmat besar. Nikmat dapat melaksanakan perintah-perintah Nya. Kemudian dapat menikmati Idul Fithri. <span>            </span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Kembali kepada fithrah yang paling manusiawi. Yang menjadi idaman setiap Mukmin.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Bergembiralah kita semua</span></em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">, pada hari ini. Tatkala kita mampu menghidangkan suasana gembira. Tidak semata-mata teruntuk bagi orang yang telah melaksanakan puasa Ramadhan. Tetapi juga dapat dinikmati oleh orang-orang disekitar kita. Amatlah wajar, kalau kemeriahan hari ini diisi dengan saling bermaafan. Saling berjabat tangan, mengharap redha Allah. Saling memaafkan diantara kita. Dari anak kepada orang tuanya, dari yang kecil kepada yang besar. Dari antara teman sejawat, sekantor dan rekan sebaya. Dari murid terhadap gurunya. </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Dari pemimpin terhadap rakyatnya.<span>  </span>Secara timbal balik. Kepada setiap shaimin, yang baru meninggalkan Ramadhan beberapa jam yang lewat, kita ucapkan pula “minal ‘aidin wal faa izin, wa kullu ‘aamin wa antum bi khairin” …Berbahagialah siapa yang telah kembali dari perjuangan besar, jihadun-nafsi. </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;"><span>            </span>Semoga kemenangan itu selalu membawa kepada keadaan yang lebih baik dalam menanam kebaikan, ditahun-tahun mendatang. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Disamping kegembiraan itu, sepantasnya pula kita selalu mawas diri. Selalu berhati-hati terhadap kriteria yang disebut Rasulullah <em>SAW</em>, …berapa banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang mereka peroleh, kecuali hanya lapar dan haus semata … Na’udzubillah. Mudah-mudahan kita terhindar dari apa yang telah di-gambarkan oleh Rasulullah <em>SAW</em> ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;">Do’a Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Allahumma Yaa Rabbana, Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami semua ummat Mu yang memiliki sibghah, memiliki jati diri. Mememiliki keteguhan ‘izzah nafsi, tahu akan martabat diri. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Yaa Allah, Ya Rabbana, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Dengan hati yang bersih penuh harap, dengan kedua telapak tangan kami menengadah kepada MU, kami bermohon kepada MU ; Jangan Engkau jadikan kami menjadi ummat buih <em>(ghutsa-an ka ghutsa-as-sail)</em>, yang dipermainkan serta diperebutkan oleh orang-orang yang tengah kelaparan, seakan memperebutkan sepiring makanan dihadapan mereka.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Wahai Allah, Yaa Lathief, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Hindarkan bangsa ini, bangsa Indonesia yang besar ini dari penyakit wahn, yakni penyakit hubbud-dunya, mencintai dunianya amat-sangat berlebihan sehingga mau menjual diri dan keyakinan mereka. Yaa ‘Aziiz, hindarkan bangsa ini dari penyakit karahiyatul-maut, penyakit enggan beramal dan berjihad dijalan MU.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Allahumma Yaa Ghaffar, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Kami menyadari sudah banyak nikmat MU kepada kami. Namun terkadang kami selalu lupa mensyukurinya. Kami sadar telah banyak kesalahan dan kezaliman kami lakukan, sadar ataupun tidak, tapi kami lalai memohon ampun. Yaa Rahmanu Yaa ‘Aziizu, ampunilah kami semua. Ampunilah kedua orang tua kami. Bimbing kami dan pemimpin bangsa kami selalu beribadah kepada MU, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Yaa Mujiibu, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Jadikan kami hamba-hamba MU yang selalu beribadah kepada MU, sesuai maksud Engkau menciptakan kami. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Allahumma, Yaa Rahiim, Yaa ‘Aziiz, Yaa Jabbar, Yaa badii’us-samawati wal ardhi, Hindarkan bangsa kami dari keruntuhan karena kelalaian orang-orang bodoh ditengah kami. Berikan kami kekuatan dan ketabahan dalam memikul setiap amanah menciptakan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi secara tauhidik, integralistik. Hindarkan kami wahai Rahman, dari perpecahan dan poergaduhan yang akan menyebabkan hilangnya semerbak kami.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:&#34;">Yaa Malikul Quddus, as Salamul Mukminul Muhaimin, </span><span style="font-family:&#34;">Jadikan kami semua hamba yang mencintai <em>Alquran</em>, dan mampu mengamalkan <em>Alquran</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dengan <em>Alquran</em> ini, Yaa Allah, Engkau telah keluarkan ummat manusia dari kegelapan jahiliyah kealam terang benderang dengan bimbingan hidayah <em>Alquran</em>, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">“<em>Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.</em> </span></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">(QS.14,Ibrahim:1)</span></strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Tiada yang lain tempat kami meminta, hanyalah Engkau semata. Tiada yang lain yang kami sembah, kecuali hanyalah Engkau saja.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<div>
<span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><br />
<hr size="1" /></span></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> bacalah maksud dari firman Allah pada QS.2, al Baqarah: 185</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Lihatlah makna terkandung didalam Qs.107, al Maa’uun: 1-3.</span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memerangi Kemiskinan]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/?p=51</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 04:10:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/?p=51</guid>
<description><![CDATA[Memerangi Kemiskinan

Oleh : H. Mas&#8217;oed Abidin

            Sumatera Barat, dengan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;"><strong><span style="font-size:large;"><span style="font-family:Book Antiqua;">Memerangi Kemiskinan</span></span></strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;"><strong><span style="font-size:large;font-family:Book Antiqua;">Oleh : H. Mas'oed Abidin</span></strong></span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sumatera Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat intens (<em>basitungkin</em>) dalam mengantisipasi berkembangnya kemiskinan. Akan tetapi luas dan letak tanah di Minangkabau sebenarnya kurang bersahabat. </span><a name="_ftnref1" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:&#34;">[1]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Book Antiqua;"><span>            </span>Perlulah pula dimaklumi, sebahagian dari luas lahan dimaksud, sudah didiami anak kemenakan warga transmigrasi. Sejak dari Pasaman, Sitiung, Lunang-Silaut, Solok Selatan. Sebahagiannya pula diolah oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, yang menyebar dari Pasaman hingga ke batas Mandailing (Tapsel). Dari Sijunjung hingga ke batas Jambi dan Riau. Begitu pula mendekat batas Bengkulu, di ujung Pesisir Selatan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Tanah yang tadinya berada dalam status tanah ulayat Nagari, atau dalam sako pusako tinggi, pelan-pelan berangsur tergeser. Mengiring gerak roda pengembangan wilayah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Secara keseluruhan tanah-tanah kosong tadinya, kini mulai ditanami. Pelan-pelan tetapi pasti, menjanjikan mutiara hijau di kepingan wilayah Sumatera Barat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Mulai dari tanaman sawit, karet, cokelat, lada/merica, kulit manis, hingga ketela pohon (ubi kayu).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Masa <em>doeloe</em> seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan anak kemenakan sebagai hutan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Persawahan atau perladangan anak nagari semasa itu, merupakan hasil taruko ninik-mamak. Sawah <em>bajanjang bapamatang</em> dan ladang <em>babiteh babentalak</em>. Dari mamak turun ke kemenakan. Begitulah seterusnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Letaknyapun di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan ada yang berada di keliling rumah tempat diam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Perkembangan dusun menjadi desa, dan <em>nagari masuk lurah</em>, anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu lagi menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan, tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk <em>batagak</em> rumah baru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span><em>Manaruko</em> hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Sebaliknya yang terjadi, mengurangi areal persawahan menjadi lokasi perumahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Di sinilah ditemui kritisnya masalah peternakan jika dikaitkan dengan sumber pendapatan pertanian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Akan tetapi, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada. Yang jelas, mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Keadaan itu memungkinkan, karena adanya peran budaya Minang yang sedari awal intensif mengantisipasi gejala kemiskinan itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Antara lain, bunyi pantun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Karatau madang di ulu,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">ba buwah ba bungo balun,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">marantau-lah buyuang dahulu,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">di rumah paguno balun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau (Sumatera Barat), mencari hidup di lahan orang lain. Modalnya keyakinan, kemauan dan <em>tulang delapan karat</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sementara itu, sang dara (gadis/remaja putri) Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar <em>bertani, merenda, menjahit, menyulam</em>, dan berbagai kepandaian puteri lainnya. Yang sungguhpun, dirasakan bahwa kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kalaulah kemiskinan yang ada, tidak dirasakan sebagai bahaya, itu hanya disebabkan karena pandainya <em>batenggang</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sesuai bunyi pantun;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Alah bakarih samporono,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Bingkisan rajo majopaik,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">tuah basabab bakarano</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">pandai batenggang di nan rumik.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Selanjutnya, kepandaian batenggang itu digambarkan dalam pantun lainnya;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Latiak-latiak tabang ka pinang,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">hinggok di pinang duo-duo,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">satitiak aie dalam piriang,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">di sinan ba main ikan rayo.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Falsafah budaya ini, bukannya menelorkan masyarakat yang statis. Sama sekali tidak. Bahkan melahirkan sikap jiwa yang digjaya. Satu iklim jiwa (<em>mentalclimate</em>) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sifat egoistis, memang kurang diminati dalam budaya Minangkabau. Membiarkan kemelaratan orang lain, dengan menyenangkan diri sendiri, mungkin merupakan sikap yang tak pernah diwariskan. Yang ada, hanyalah tenggang manenggang dan <em>raso jo pareso</em>. Menurut bahasa halusnya alur dan patut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Mengatasi masalah kemiskinan ditengah kelembagaan masyarakat Minangkabau, terlihat dari usaha dan perhatian khusus terhadap kemakmuran lahiriyah (material).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Ungkapan itu jelas tersimak dalam untaian pepatah yang menyibakkan arti kemakmuran itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Rumah Gadang gajah maharam</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Lumbuang baririk di halaman</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Rangkiang tujuah sa jaja</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sabuah si Bajau-bajau</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panenggang anak dagang lalu</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sabuah si Tinjau Lauik</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panenggang anak korong kampuang</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Birawari lumbuang nan banyak</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Makanan anak kamanakan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Manjilih di tapi aie</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mardeso di paruik kanyang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:&#34;"><br /></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;">Berencana Berhemat</span></strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Untuk mewujudkan terpeliharanya kondisi dimaksud, diingatkan sungguh pentingnya perencanaan dan penghematan. Perencanaan yang jauh jangkauannya ke depan, dengan pengkajian potensi yang tengah dimiliki. Penghematan dengan tujuan bisa memahami situasi, untuk mendukung berhasilnya sebuah program yang tengah dikembangkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Perhatian yang dalam maknanya ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Ingek sabalun kanai</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kulimek sabalun abih</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Ingek-ingek nan ka pai</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Agak-agak nan ka tingga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Maka, melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian. Membangun kesejahteraan sebagai upaya mengantisipasi kemiskinan, bertitik tolak pada pembinaan unsur <strong>sumber daya manusia</strong>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Memulainya dengan cara sederhana. Dengan apa yang ada. Yaitu potensi alam yang terbatas, dan menggerakkan potensi yang terpendam di dalam sumber daya manusianya. Terutama di pedesaan-pedesaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Melalui usaha-usaha yang terpadu serta berkesinambungan. Dengan <strong><em>mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat pedesaan</em></strong> dimaksud.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Usaha itu berkelanjutan dengan <strong>mendinamisir daya gerak</strong> serta <strong>memperhalus daya rasa</strong>. Kemudian <strong>meningkat pengembangan daya cipta</strong>, dan <strong>menumbuh bangkitkan daya kemauan mereka</strong>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (<em>self help</em>). Sesuai bimbingan Allah:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 14.15pt 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">"Allah tidak akan memberikan perubahan terhadap apa-apa dengan satu kaum, sampai kaum itu berupaya melakukan perubahan (perbaikan) terhadap sikap jiwa (apa yang ada) dalam diri mereka sendiri.". (Ar Ra'd, 13:11).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kita rasanya tidak perlu segan menyatakan bahwa wangsa Minangkabau hampir seratus persen penganut Islam. Sungguhpun, barangkali satu dua sudah ada yang berpindah keyakinan mereka, karena perpustakaan musim atau pergantian nilai-nilai kebudayaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Begitu eratnya jalinan adat dan agama ini, melahirkan pilinan adatnya bersendi syara', syara' bersendikan Kitabullah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Islam yang mengajarkan nilai-nilai ukhuwah terjalinlah <em>berkulindan</em> dengan kebiasaan luhur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Senteng babilai/Kurang batukuak</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Batuka ba anjak/Barubah basapo.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sebagai pengalaman amar ma'ruf, nahi munkar dalam ajaran agama yang dianut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Anggang jo kekek bari makan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Tabang ka pantai ka duo nyo</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panjang jo singkek pa ulehkan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Makonyo sampai nan dicito.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Adat hidup, tolong manolong. Adat mati, <em>janguak manjanguak</em>. Adat <em>lai, bari mambari</em>. Adat <em>tidak, salang manyalang</em> (<em>basalang tenggang</em>).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Begitulah yang terjadi, sehingga dalam kehidupan seharian, terlihat nyata dalam perbuatan. <em>Karajo baik ba imbauan, Karajo buruak ba hambauan</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kalau dalam perkembangan zaman, kebiasaan-kebiasaan lama ini mengalami proses pergeseran nilai-nilai budaya asing.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Akan tetapi tetap diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minang itu, tidak hilang dan tidak pula habis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Ini jelas merupakan sebuah potensi yang bisa digerakkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dalam kaitannya dengan budaya merantau, terbentuklah pula ikatan-ikatan keluarga di perantauan. Sedari ikatan, dalam hubungan <em>saparuik hingga se taratak, dusun nagari</em>. Sampai kepada lingkungan wilayah yang luas, dari <em>Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo</em>. Artinya meliputi wilayah adat dan nilai budaya Minangkabau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Tujuannya, pada mulanya sekedar <em>ba suo suo</em>. Mempererat hubungan kekeluargaan. Meningkatkan, kepada memikirkan kampuang halaman. Dan berakhir, kepada usaha membangun kampung halaman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Belum terdata dengan akurat, berapa perbandingan jumlah orang Minang yang di rantau itu. Apakah jumlah mereka sama dengan jumlah yang tengah menetap di kampung. Atau barangkali beberapa kali lipat dari penghuni ranah sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau. Malah sering <em>tersua</em>, sirkulasi hidup kampung ditentukan dari rantau. Mulai dari pembinaan pribadi keluarga, membangun rumah, menebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Perencanaan pembangunan nagari, sering tidak dapat dilaksanakan, tanpa diikut sertakan <em>dunsanak</em> yang tinggal di rantau. Begitulah kenyataan yang tersua.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Namun di dalamnya diakui merupakan satu potensi yang bisa dikembangkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>KEKAYAAN orang rantau, mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari). Karena rantau adalah lahan usaha. Umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit yang menggarap usaha pertanian. Karena adanya ungkapan, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Lapangan usaha sebagai <strong>ambtenaar</strong> kata orang <em>saisuak</em>, sangat diminati orang Minang. Mulai berpalingnya kepada managemen perusahaan-perusahaan swasta. Bahkan dalam usaha mandiri, belakangan ini paling banyak digeluti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Lapangan usaha itu, banyak menjanjikan pendapatan yang lumayan. Daripada menanti apa yang ditetapkan berbentuk gaji bulanan. Apalagi lapangan di kantor-kantor pemerintah makin hari makin sempit juga. Dan cepatnya gerak pembangunan bangsa, telah membuka lapangan kerja baru. Kejelian mengkaji kesempatan menyebabkan arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat. Diperlukan sikap jiwa yang matang. Di samping kemauan keras, dan tulang delapan karat, dibawa juga falsafah budaya untuk pedoman mengarungi <strong><em>lautan kehidupan rantau</em></strong>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panggiriak pisau si rauik,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Patunggkek batang lintabung,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Salodang ambiak ka nyiru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Setitiak jadikan lauik,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Alam takambang jadi guru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diarungi. Tidak lain adalah seiring bidal pantun;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Biduak dikayuah manantang ombak</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Laia di kambang manantang angin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nangkodoh ingek kamudi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">padoman nan usah dilupokan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pedoman dalam menempuh kehidupan itu, dikiatkan;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak kayo, badikik-dikik<span>       </span>(hemat)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak tuah, batanua urai<span>          </span>(penyantun)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak mulia, tapek i janji<span>         </span>(amanah)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak luruih, rantangkan tali<span>   </span>(mematuhi peraturan)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak buliah, kuat mancari<span>      </span>(etos kerja yang tinggi)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak namo, tinggakan jaso<span>     </span>(berbudi daya)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak pandai, rajin belajar<span>       </span>(rajin dan berinovasi)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek sakato mangkonyo ada<span>        </span>(kerukunandan partisipatif)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek sakutu mangkonyo maju<span>     </span>(memelihara mitra usaha)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek ameh mangkonyo kameh<span>     </span>(perencanaan masa depan)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-5cm;text-align:justify;margin:0 0 6pt 148.85pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek padi mangkonyo manjadi<span>    </span>(pemeliharaan sumber ekonomi)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi. Dan sesuatu yang paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal. Tidak memilih pekerjaan, dengan motivasi hidup yang tinggi. Kondisi ini membuka peluang kepada percepatan mobilitas <em>vertical</em> dalam bentuk peningkatan pendapatan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan gurun buek ka parak, Nan bancah jadikan sawah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan padek ka parumahan, Nan munggu pandam pakuburan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan gaung katabek ikan, Nan padang kapangimpauan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan lambah kubagan kabau, Nan rawang ranangan itiak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Begitulah pemeliharaan dan pemanfaatan <strong>sumber daya alam</strong>, secara optimal, untuk kesejahteraan ummat manusia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kekayaan nilai-nilai seperti itu, merupakan modal besar. Dan telah memberikan motivasi yang kuat, dalam upaya mengentaskan kemiskinan di ranah ini. Setidak-tidaknya berperan aktif memintasi, agar kemiskinan itu tidak meruyak. Sungguhpun kenyataan bahwa pengentasannya tidak berubah drastis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;">Benteng Tawazunitas</span></strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Perubahan tata kehidupan secara ekonomis, di tengah perkembangan iptek memang satu keharusan. Perubahan itu tidak bisa ditolak, dan dia akan bergerak terus. Karena diyakini, dunia itu berisi perubahan-perubahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Jika manusia menjadi statis di tengah dinamika perkembangan, maka yang akan ditemui adalah <strong>penderitaan</strong>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Yang perlu dipertimbangkan di tengah perubahan-perubahan itu, obyektifitas-nya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Apakah manusia akan menjadi obyek dari perubahan itu? Ataukah, manusia akan berperan aktif memanfaatkan perubahan-perubahan itu, untuk peningkatan mutu kehidupannya. Baik dalam bidang material, ataupun emosional (kejiwaan).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Jawaban ini, akan banyak tergantung dari kesiapan watak, dari manusia yang menghadapi perubahan-perubahan dimaksud.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Yang paling tepat barangkali, adalah manusia memanfaatkan perubahan-perubahan, untuk diri mereka. Dan kurang manusiawi, jika manusia diperbudak oleh perubahan-perubahan itu. Yang lebih maknawi, bahwa manusia akan berusaha memilih dan memilah perubahan (inovasi) yang datang. Terapannya adalah, <strong>tepat guna</strong> dan <strong>bernilai guna</strong>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Ukurannya, dalam manfaat nilai lebih, tanpa mengorbankan nilai-nilai positif yang hakiki, yang sebelumnya telah dipunyai. Dalam kata lain bisa diungkapkan, bahwa perubahan-perubahan (kemajuan) iptek yang mendunia (globalisasi), tidak perlu mengorbankan nilai-nilai adat maupun keyakinan (agama), dari pengendali iptek (manusia) itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Peningkatan tingkat kehidupan (ekonomi), tidak perlu mengorbankan kegotong royongan, umpamanya. Sikap jiwa saling memuliakan, tidak perlu diganti dengan egoistis, (siapa lu, siapa gua). Sebagaimana pernah menjangkiti kehidupan masyarakat lainnya. Akhirnya bisa berkembang kepada hilangnya kepedulian sosial.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kita memerlukan benteng-benteng kejiwaan yang kuat. Di antaranya adalah pemeliharaan <strong>nilai keseimbangan</strong> atau disebut juga tawazunitas, menurut istilah agama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Nilai budaya Minang mengingatkan, "sekali aie gadang sekali tapian barubah". Yang berubah itu hanya tapian saja. Kebiasaan-kebiasaan ketepian, tapi berlaku sebagaimana biasa. Bukan berarti datangnya perubahan (aie gadang), lantas tepian pun ditinggalkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Yang diajarkan adalah perubahan akan selalu ada. Bahkan, dalam menghadapi setiap invasi yang akan datang, selalu diingatkan. Jangan bertemu hendaknya, "Jalan dialih urang lalu. Tepian diasak urang mandi.".</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Untuk ini diperlukan keteguhan sikap dan pendirian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kita tidak dapat membayangkan, bentuk masyarakat macam apa jadinya, kalau nilai-nilai (norma-norma) sudah menipis. Perlu dipertanyakan. Apakah generasi kini, atau yang akan datang masih dipersiapkan memiliki nilai-nilai budaya mereka? Masihkah nilai-nilai (norma) hukum mereka pertahankan?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Masihkah, norma-norma agama (nilai agama) mereka minati? Masihkah, nilai-nilai kebiasaan bermasyarakat menjadi kegandrungan untuk dipelihara? Bagaimana, hubungan riil yang terjadi?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kecemasan ini beralasan sekali. Karena berkembangnya kecenderungan kehidupan serba boleh (<strong><em>permissive society</em></strong>). Yang dipertahankan adalah hak. Dan melupakan pentingnya terlebih dahulu melaksanakan kewajiban. Nilai agama dan budaya, pada dasarnya berisikan "<strong><em>Declaration of Human Duties</em></strong>" itu. Berisikan piagam dasar kewajiban-kewajiban <em>asasi</em> manusia (masyarakat).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>SUNGGUHPUN ukuran kelayakan telah mengalami perubahan, beriring dengan kadar perkembangan. Akan tetapi, ukuran baik dan buruk, boleh dan tidak, acuan kepantasan (normatif, manusiawi, kemasyarakatan), harus tetap dipertahankan. Diantara ukuran yang kita miliki adalah alur dan patut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Jiko mangaji dari alif, jiko babilang dari aso.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Jiko naik dari janjang, jiko turun dari tanggo.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;">Memulai dengan apa yang ada.</span></strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kita wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta 'ala, atas mulai meningkatnya taraf kemakmuran masyarakat, dengan ukuran materi. Tetapi kenaikan pendapatan masyarakat ini, menjadi tidak sebanding, dengan kebutuhan yang meningkat deras. Akibatnya pendapatan yang tadinya sebatas pemenuhan kebutuhan primer (pangan, sandang, papan), terserap oleh kebutuhan lainnya (<em>sekunder, prestise</em>).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pemilihan mana yang pokok menjadi kabur. Tersebab ukuran keseragaman kehidupan, mulai menjalar di tengah kelompok masyarakat (desa).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sering bertemu, <strong>kesalahan arah</strong> dalam menentukan pilihan. Kebutuhan mana yang didahulukan. Sering pula dikaburkan oleh dorongan bisa mendapatkan lebih mudah. Melalui hutang (kredit) tanpa jaminan, yang menjalar hingga ke pelosok-pelosok dusun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Tanpa disadari, bahwa garis yang tadinya dibuat, mau tak mau terlintas. HIngga bayang-bayang tidak lagi sepanjang badan. Dan kemiskinan yang ditakuti itu, kian hari kian tinggi. Dan si miskin pun kian terperosok jauh ke dalam. Jumlahnya pun makin bertambah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Di antara lain, penyebabnya karena tidak adanya sumber penghasilan yang ketat. Kehidupan desa yang tadinya hanya mengandalkan hasil pertanian, besarnya tetap segitu gitu juga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pengentasan hanya dimungkinkan, dengan terbukanya sumber pendapatan yang bervariasi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Misalnya <strong>perkebunan</strong> atau <strong>peternakan</strong>. Bagi daerah-daerah tertentu, bisa dikembangkan pertukangan, kerajinan rumah tangga. Bahkan di pantai-pantai, dapat juga berbentuk nelayan, atau perikanan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Di beberapa daerah (wilayah), kesempatan membuka lahan usaha ini sudah mulai tampak Pasaman sebagai contoh, kini mulai bergerak ke arah perkebunan besar kelapa sawit. Ribuan hektar banyaknya. Perusahaan-perusahaan besar nasional telah lama mulai menggarapnya. Diperbanyak jumlahnya oleh perusahaan agribisnis yang ada di daerah sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Tanahnya tadi adalah tanah ulayat. Diserahkan sebagai konsesi melalui izin usaha. Bahkan ada yang langsung dialihkan dengan pemindahan hak melalui jual beli.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Begitu juga di Sitiung (Sijunjung) daerah transmigrasi. Sekarang mulai dilirik Lunang-Silaut (Pesisir Selatan).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Beberapa daerah lainnya, seperti Alahan Panjang, Bidar Alam, Sungai Kunyit (daerah Solok Selatan) yang berbatasan Jambi, telah pula berkembang ke arah perkebunan Sawit, Karet, Teh dan Cokelat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Daerah Limapuluh Kota misalnya, selain perkebunan teh Halaban, mulai pula ke Baruh Gunung, dan Suliki Gunung Emas. Kebun karet rakyat dan pengempaan gambir, mulai agak bernafas dengan leluasa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Di kaki Gunung Sago dan Gunung talang, mulai bergerak perkebunan rakyat lainnya. Ada yang berbentuk kulit manis, murbei, markisa. Dan juga tanaman palawija, sedari lobak, kentang, bawang merah dan putih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sebenarnya semua ini, adalah penghasilan yang lumayan, bisa berguna dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat pedesaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Idealnya, masyarakat pedesaan itu harus berani memulai. Memulai dengan apa yang ada. Karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai. Potensi besar yang dimiliki, yang ada itu, adalah telapak tangan dan potensi alam anugerah Allah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dengan sedikit bimbingan pengetahuan, dan manajemen perusahaan, semua potensi yang potensial itu, niscaya kalau digerakkan akan merupakan potensi yang riil.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Maka seharusnya dan semestinya-lah perusahaan perkebunan besar di sentra-sentra tadi, mulai membangunkan untuk rakyat pedesaan <strong>warga setempat</strong>, perkebunan-perkebunan mini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Secara selektif, dipilihkan masyarakat desa yang tidak berpunya. Hingga mereka menjadi orang berpunya, (dalam hal ini minimal sebidang perkebunan yang telah jadi).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Ada sebuah gejala yang mulai terlihat mengenaskan. Yaitu, menurunnya tingkat penghidupan penduduk desa, di sekeliling daerah perkebunan atau daerah transmigrasi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Penduduk desa yang tadinya memiliki ulayat, sekarang bahkan ada yang tidak mempunyai sekeping tanahpun, untuk diolah mereka sebagai lahan usaha. Kalaupun ada, modal pengolahan (materil dan pengetahuan) sangat minim sekali.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kehidupan masa depan mereka, jadinya kabur dan mungkin saja hilang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>PROSES kemiskinan bergerak tumbuh lebih cepat dari tumbuhnya komoditas perkebunan yang ditanam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Maka, mengutamakan “peserta” perkebunan, dengan mendahulukan penduduk desa sekelilingnya menjadi lebih mendesak. Hendaknya jangan timbul penduduk “<strong>desa siluman</strong>”, yang memetik hasil dari lingkungan desa, tetapi membiarkan penduduknya tetap merana. Program PIR yang sudah ada, hendaknya lebih selektif disasarkan kepada penduduk yang beul-betul miskin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Melalui program terpadu semacam ini, pengentasan kemiskinan niscaya bisa di-entaskan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Hal yang sama, bisa dikembangkan pula pada sentra lain-lain. Melalui periklanan, nelayan, pertukangan, <em>home industri</em>, atau usaha-usaha serupa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sepanjang ranah pesisir, mulai dari Sikilang Air Bangis hingga mendekat Muko-Muko, bisa diperbaiki kehidupan nelayan. Warga nelayang yang miskin, secara berangsur-angsur bisa memiliki perahu-perahu pemukat, mesin tempel (motor boat), jaring-jaring pukat dan peralatan lainnya yang layak dimiliki oleh kehidupan para nelayan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Peralatan permodalan, berupa mesin jahit, pertukangan, untuk sentra “home industri”, disasarkan juga kepada kelompok miskin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Sungguhpun usaha ini telah dilakukan pemerintah. Tetapi keikut sertaan seluruh unsur masyarakat desa dan rantau perlu lebih dipadukan. Peranan informal leader amat menentukan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Yang penting adalah, membuat kiat bagaimana kesejahteraan itu bermuara di desa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Meningkatnya pendapat masyarakat desa, merupakan sumber pendapatan baru bagi masyarakt kota. Rumus ini tidak perlu diragukan lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Membentuk desa binaan merupakan langkah awal yang perlu diwujudkan. Usaha ini seiring sungguh dengan garisan Allah Subhanahu wa Taala.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>“Berikanlah kepada karib kerabat (masyarakt keliling, sanak keluarga di kampung halaman) haknya. Begitu pula terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menjadi orang “mubadzdzir” (pemboros, dan melakukan tindakan yang tidak bermanfaat, membuang-buang kesempatan). Karena orang-orang pemboros adalah teman dari Syaithan. Dan syaithan itu sangat inkar kepada Tuhannya.”. (QS. Al Isra’, 17:26-27).</span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;"><strong><span style="font-size:large;"><span style="font-family:Book Antiqua;">Bukakan Pintu Hati</span></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Kalau disadari, bahwa di keliling kita terserak sumber daya yang besar dari umat, yang sedang terpelanting dan menderita, ada berbagai kelompok dan kedudukan. Diantaranya, Pelajar dan Mahasiswa, bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil, Militer, pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah), Masyarakat Tani, pedagang kecil dan buruh kecil. Semuanya adalah sumber daya manusia (SDM) yang besar kontribusinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Walaupun diantaranya ada yang invalid, atau yang di tinggalkan oleh yang telah gugur, ada yang menderita tekanan kehidupan, dhu’afak, kehilangan rumah atau pekerjaan. Kesemuanya merupakan kekuatan masyarakat yang perlu di bina untuk ikut berperan aktif dalam proses kehidupan bangsa ditengah bergulirnya roda<span>  </span>pembangunan (development) itu. Untuk menghimpunnya, diperlukan usaha dengan berbagai upaya, baik yang bersifat psychologis<span>  </span>ataupun technis. Langkah pertama, adalah buka kan “<strong>pintu hati</strong>” dan “<strong>pintu rumah</strong>” bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan kehidupan. Tunjukkan minat kepada mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Andaikata belum mampu memberikan bantuan sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril harus diberikan. Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri, dengan hati yang tulus ikhlas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"><span>            </span>Hati yang lebih tulus dan pikiran yang jernih serta lega akan kembali mengisii harapan. Upaya ini niscaya akan menambah <strong>himmah </strong>(gita dan minat)<span>  </span>untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan umat untuk menghindarkan diri dari tindakan menyalahi hukum Syar’iy, maupun urusan duniawi. Sekali-kali jangan ditinggalkan umat dengan bermacam-macam perasaan tak tentu arah. Tanpa pegangan yang pasti, umat akan patah hati dan semangat untuk bisa menjumpai kita kembali.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Kriteria untuk merebut suatu keberhasilan oleh seorang pemimpin, dalam semua level kedudukannya, adalah selalu berada ditangah umat yang di pimpinnya. <strong><em>“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS YANG DIPIMPINNYA”</em></strong><em>(Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar) </em>Begitu peringatan Rasulullah SAW.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Pemikiran (ide) seorang pemimpin walaupun belum selalu komplet dan limitatif, menjadi tidak terbatas bila berpadu dengan pengalaman. Pengalaman disertai kearifan membaca kondisi keliling merupakan pelajaran sangat berharga sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Pengalaman serta daya pikir dan daya cipta, bila dipadukan akan sangat bermanfaat untuk menciptakan kesempurnaan dalam praktek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Sambil berjalan kumpulkan data pengalaman sebanyak mungkin, karena tindakan seperti ini bukan barang lama, tidak pula ilmu baru. Syukurlah,<span>  </span>bila ada kesadaran akan kenyataan bahwa semua hal baru dapat di kerjakan oleh semua orang, asal mau. Semua barang yang lama itu tetap akan baru, selama sesorang belum mengerjakannya. Yang terpenting selalu mencoba untuk membangkitkan kreativitas dalam berusaha. Sebagai upaya inovatif untuk tetap bersemangat dalam menjalani roda kehidupan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"><span>            </span>Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan amal itu seharusnya adalah; <strong><em>“Yang mudah<span>  </span>sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang “tak mungkin” dikerjakan besok”</em></strong> Demikian diantara pesan Bapak DR.Mohamad Natsir (1961).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Dengan mengharapkan hidayat Ilahi, mari kita sahuti panggilan Allah SWT, <strong><em>“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;">Gerakkan Potensi Ummat</span></strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Selalu saja menjadi pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tentang darimana bisa diambilkan dana bagi pengentasan kemiskinan itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berkompeten melaksanakan usaha pengentasan kemiskinan tersebut?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Bagaimana memulainya? Dan apakah kira-kira usaha itu akan berhasil segera? Barangkali, banyak lagi pertanyaan lainya yang mungkin tumbuh sesudah itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Harus diakui secara sadar, bahwa “pengentasan kemiskinan” itu, bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah mengucapkannya. Dan hasilnya, juga tidak bisa cepat, drastis dan sekali jalan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Secara berangsur-angsur, adalah pasti. Sesuai hukum alam, sebagai satu “sunnatullah” yang telah digariskan. Yaitu, “thabaqan ‘an thabaq”, atau “selangkah demi selangkah”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Jika tidak seluruhnya bisa berhasil, bukan berarti pula seluruhnya tidak dikerjakan. Kerjakan juga mana yang mungkin. Inilah dasar dari optimisme cita luhur itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pandangan ajaran Islam lebih tegas lagi. Setiap muslim, tidak dibebaskan membiarkan saudaranya (tetangganya) kelaparan di sampingnya. Sementara dia tidur kekenyangan. Begitu jelasnya ajaran Rasulullah, Shallallahu alaihi wa sallam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Karena itu, tugas ini menjadi beban setiap Muslim yang berada. Fii amwalihim naqqun ma luum. Di dalam hartanya, ada hak orang lain. Hak itu berupa infaq, shadaqah dan zakat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Zakat sebagai sumber dana ummat (Islam), pernah berperan membiayai perjuangan kemerdekaan. Lihatlah, bagaimana gencarnya pengumpulan zakat, untuk pembeli senjata, pemberli pesawat udara (<strong>Seulawah satu</strong>). Dimasa kita berjuang mencapai kemerdekaan dimasa penjajahan kolonial Belanda dahulu (1945).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Jauh sebelumnya, bahkan hingga kini, zakat merupakan satu sumber pembangunan bidang pendidikan (agama). banyak Madrasah, pesantren, yang telah dibangun dengan “dana zakat” itu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Masjid dan Mushalla, barangkali adalah pembuatan toko, kebun, kapal atau pabrik dengan uang zakat. Dan hasilnya diperuntukkan bagi kepentingan si miskin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Untuk melakukan studi banding, beberapa negeri tetangga telah lebih dahulu melakukannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span><strong>Mesir</strong>, sudah lebih dari seribu tahun mengelola uang zakat, untuk penguasaan tana-tanah produktif (pertanian), dan sarana-sarana ekonomi (perdagangan, dan pabrik-pabrik). Hasilnya samapai hari ii, menyantuni lembaga pendidikan tertua Al Azhar. Tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa Institut Al Azhar Mesir ini, merupakan institut terkaya, yang mengelola harta waqaf dan zakat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Bagaimana soalnya dengan kontraktor? Masihkah zakat dikeluarkan sebagai halnya petani? Sebahagiannya, ada yang mempersoalkan bahwa mereka terikat beban hutang dengan bank.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Bagaimana pula dengan bank-bank, yang sekarang telah menjadi perusahaan (PT)? Adakah mereka mengeluarkan zakat?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pertanyaan juga kepada para pegawai, yang jika dihitung, ada yang mendapatkan gaji, rendahnya Rp. 2,4 juta per tahung? Bahan ada yang lebih, hingga 50 sampai 100 juta? Atau yang yang menengah saja, sekitar Rp 12 juta setahun? Masihkah dipersoalkan, bahwa kami masih dihimpit hutang, karana pembelian mobil dan lain-lainnya, sampai dua atau tiga buah?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Secara sederhana, bisa dimulai menghitungnya. Berapa besar DIP yang diberikan pemerintah pusat untuk daerah Sumbar tahun ini. Semuanya jelas dikerjakan oleh kontraktor (perusahaan). Kalaulah 2,5 persen dikeluarkan dalam bentuk zakat, barangkali kita memiliki sumber dana sekian milyar rupiah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Kalaulah 2,5 persen pula dari keuangan perusahaan besar seperti PT Semen Padang, PT Bank-bank, dan PT-PT lainnya, maka akan bertambah pula sekian ratus juta rupiah, pertahunnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Menghitung, memang lebih mudah daripada memungut atau mengeluarkannya. Disinilah peluang kerja bagi BAZIS. Dan, seharusnya BAZIS itu, menjadi perencana, penghitung, pembagi, dan penggerak. Semacam badan perencanaan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penyedia istimewa (sumber pendapatan) bagi orang-orang yang perlu diangkatkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Begitulah angan-angan yang gerangan perlu dikembangkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span><em>GEBU MINANG</em>, bisa juga berperan mulai dari rantau. Badan amal ini bisa bertindak sebagai penggerak pula, untuk mewujudkan <em>Desa-desa Binaan</em>. Mungkin dengan mengeluarkan obligasi dan mengajak pihak-pihak berpunya, untuk menanamkan modalnya bagi kesejahteraan anak kemenakan di kampung halaman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Mungkin sekali, mengajak kerjasama “Bank Muamalat Indonesia”, dalam bentuk syarikat usaha. Berbagai hasil kelaknya, dengan mengawali pada berbagai tugas dan kerjaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Masyarakat Minang terangnya adalah masyarakat muslim, yang bagi mereka adat dan agama Islam berjalin-berkelindan. Adatnya bersendi syara’ , dan syara’ bersendi Kitabullah (Al Quran).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Masjid dan Mushalla, serta Lembaga-lembaga Agama Islam, yang selama ini telah berperan sebagai ujung tombak “pengumpul zakat”. Bisa lebih difungsikan, dengan memberikan mutu dan kualitas ummat Islam sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Akhirnya, “mass-media”, bisa dimintakan partisipasinya pula. Terutama dalam pengumuman dan pelaporan setiap kegiatan pengumpulan dan pemanfaatan dana-dana ummat. Tentu secara berkala dan bertanggung jawab.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>“Apa yang bisa dilakukan di sini” adalah awal dari gagasan tulisan ini. Kalimat itu juga mengakhirinya. Terpulanglah kepada kita, darimana akan dimulai. <strong>Menggerakkan potensi ummat dengan mengharap ridha Allah</strong>, adalah tujuan utamanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>“Allahumma zidha ‘ilman”. Wahai Allah, tambahlah ilmu kami. Ilmu yang bermanfaat yang bisa dikembangkan, bisa diaplikasikan menjadi kenyataan. Karena Engkau tela berfirman,”Sesiapa yang telah Engkau berikan hikmah (yakni ilmu yang bermanfaat, bisa diterapkan untuk menciptakan kemaslahatan ummat banya, atas dasar ridha Engkau). Berarti mereka telah Engkau anugerahkan kebaikan yang besar.”<span>  </span>(Al Quran)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:&#34;"><br /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>PENGENTASAN kemiskinan, dengan pengertian usaha bersama-sama mengurangi tingkat kemiskinan perlu ditampilkan. Perlu dipentaskan. Karena usaha mengatasi kemisikinan di tengah kehidupan ummat, sesungguhnya merupakan usaha yang mulia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Agama Islam, dengan mempedomani Al Quran dan Sunnah Rasulullah selalu memberikan perhatian yang besar serta berkesinambungan terhadap masalah sosial ini. Ajaran Al Quran amat memperhatikan usaha-usaha penanggulangan kemiskinan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Tidak diragukan lagi, ayat-ayat pertama dari Mashhaf Al Quran, memberikan ciri-ciri sifat dan sikap seorang Muttaqin (orang yang bertaqwa). Diantaranya, orang yang percaya kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat serta membelanjakan sebahagian rezekinya (hartanya) untuk kemaslahatan ummat banyak. Artinya, memberikan perhatian penuh terhadap kehidupan orang-orang miskin. Seperti tertera dalam Wahyu Allah, Surat Al Baqarah, 2 : 3 (Al Quran).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Karena itu, seorang Muslim seyogyanya tidak perlu merasa sungkan dan segan, dalam berusaha mementaskan setiap usaha ke arah pengentasan kemiskinan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Al Quran yang menjadi pedoman setiap Muslim (jumlah kita diakui terbanyak di Dunia ini), seyogyanya mengambilkan pelajaran tentang cara-cara yang diajarkannya guna mengentaskan kemiskinan ummat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Karena sudah pasti, yang terbanyak di antara ummat yang berada di bawah garis kemiskinan itu, tentulah Muslim pula.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Al Quran menceritakan, di kala seorang kafir (yang menolak ajaran Allah), dimasukkan ke dalam neraka, mereka ditanya, Apa sebabnya mereka tercampak ke dalam kehinaan (Neraka) ini. Jawabnya karena, <strong>pertama</strong>, Kami bukanlah termasuk golongan orang-orang yang shalat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span><strong>Kedua</strong>, Kami tidak hendak memberi makan orang miskin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span><strong>Ketiga</strong>, Kami asyik membicarkan kebathilan. Tanpa berusaha sedikitpun menghapus kebathilan itu. Habis hari karena berbincang. Tak ada waktu tersisa untuk mengubah kepincangan-kepincangan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span><strong>Keempat</strong>, Kami mendustakan hari pembalasan (hari akhirat). Keyakinan mereka hanya terpaut kepada hal-hal duniawiyah semata. Yang ada hanya pemikiran masa kini, di sini. Tidak ada sama sekali berpikir dan berbuat untuk hari esok. Hari yang pasti didatangi setiap diri. Nanti, setelah mati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Keterangan tersebut jelas diterangkan Allah dalam Firman Nya, Al Quran Surah ke 74, Al Muddatsir ayat 40 - 47.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Yang menjadi titik perbincangan adalah <em>memberi makan orang miskin</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Ruang lingkungan luas. Termasuk memberi makan, juga adalah menyiapkan sumber atau lahan usaha bagi si miskin. Hingga setiap saat mempunyai harapan dari hasil garapannya. Mereka tidak lagi disibukkan mengumpulkan sesuap nasi atau setekong beras untuk makan gari ini. Tapi, sudah mempunyai sumber usaha yang menghasilkan makan setiap hari. Untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya pula. Jadi, usaha melahirkan kemandirian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Secara konvensional, yang disebut <strong>miskin</strong> itu peminta-minta. Dia <em>tidak punya kerja</em>, kecuali hanya meminta-minta. Sungguhpun mereka punya hak untuk meminta-minta kepada orang yang berpunya (lihat Surat Adz Dzariyat, 51:19-20). Tapi sama-sama tidak bermartabat, membiarkan diri selalu menjadi peminta-minta. Atau juga tidak mulia tindakan si kaya yang memupuk terpeliharanya kebiasaan orang yang selalu meminta-minta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dalam sebuah ajaran Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassalam ditegaskan, “Mencari kayu api ke hutan, mengikatnya dan kemudian menjualnya, (berusaha dengan tangan sendiri, memeras keringat), kemudian hasilnya kamu terima, dan kamu makan berserta keluarga di rumah. Usaha demikian itu lebih bermartabat, daripada kamu berkeliling menengadahkan tangan meminta-minta, diberi ataupun tidak diberi oleh orang lain. Allah lebih senang kepada tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah (peminta-minta).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;">Menelurkan Harga Diri.</span></strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Umar bin Khattab, memberikan arahan lebih keras. Tatkala dilihatnya seorang pemuda, duduk mendo’a menengadahkan tangan meminta rezeki. Tanpa berusaha meninggalkan pojok dinding Ka’bah. Sedari pagi hingga malam, hanya berseru dengan nada memelas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>“Wahai Tuhan, berilah aku rezeki harta”. Begitulah yang didengar Umar bin Khattab, keluhan remaja yang memiliki tubuh sehat dan otot perkasa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dengan nada keras, sembari mengancam dengan mata pedang, Umar mengingatkan,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>“Wahai pemuda. Janganlah sekali-kali kamu hanya pandai menengadahkan tangan, meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus tahu, sejak langit berkembang, Allah tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan tanganmu! Allah akan beri kamu rezeki.”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Peringatan keras ini, memiliki ajaran dan pandangan yang sungguh dalam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Larangan meminta-minta. Tumbuhkan sikap berusaha. Melahirkan <strong>etos kerja</strong> yang tinggi. Sebagai pembuka jalan bagi pintu rezeki.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Di sinilah terdapat salah satu kunci. Mengentaskan kemiskinan melalui “pemberian pelajaran”, menunbuhkan “harga diri”. Menumbuhkan “rasa malu” selalu menjadi beban orang lain. Jadi, harus ada program jelas untuk mengubah sikap kebiasaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Orang miskin adalah orang yang serba kekurangan. Orang yang berkekurangan lantaran tidak mempunyai apa-apa. Tidak memiliki mata pencaharian. Tidak mempunyai kepandaian dalam mencari nafkah. Mereka perlu dibantu dan diangkatkan derajatnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Dicarikan baginya lahan dan lapangan pekerjaan. Dibuatkan untuk mereka sumber pengidupan. Dididik mereka untuk bisa berusaha untuk hidup. Ajarkan mereka arti dan makna “madiri” dalam bentuk perbuatan dan kenyataan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Lebih halus ta’rif atau definisi yang diberikan Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana diriwatkan Bukhari Muslim dalam shahihnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>“Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta (sebagai pemulung), agar diberikan kepadanya sesuap nasi atau sebuah dua biji korma. Tapi orang miskin itu, adalah mereka yang hidupnya tidak layak berkecukupan. Kemudian mereka diberi sedekah, dan sesudah itu mereka tidak pergi lagi meminta-minta kepada orang lainnya.”. (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih Insya Allah).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Hadist lainnya menyebutkan;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>“Orang miskin itu, hanyalah orang yang menjaga kehormatannya.”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Mereka perlu mendapatkan perhatian. Terhadap nasib mereka perlu ditumbuhkan kepedulian yang tinggi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Perangi Kemiskinan, </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kemelaratan dan Kebodohan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Pelunturan kadar ummat Islam lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah "kemelaratan" dan "kebodohan", pada sebahagian besar ummat alternatif ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran menyebutkan bahwa posisi ummat itu berada pada papan atas, sesuai Firman Allah ; <em>“Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, wa tu’minuuna billahi”,</em> artinya <span style="text-decoration:underline;">sebenarnya kamu adalah umat terbaik yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia, karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf dan menegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.</span> (QS. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Shibghah (identitas) sebagai "umat terbaik" itu, tidak akan terwujud bila kadar ummat itu tersungkup oleh kemelaratan (baik secara fisik, materiil, dan keyakinan atau keimanan kepada Allah Yang Maha Esa). Kadar ummat itu pun akan luntur tersebab oleh kebodohan yang membelit seperti kebiasaan meniru apa yang ada pada orang lain tanpa memilih dan memilah bentuk yang akan ditiru itu (kerangka piki­ran, pandangan, dan polah tingkah), dalam fenomena kehid­upan aliran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:bl